Pembahasan Jurnal
1. Medical Play dalam Menurunkan Respon Kecemasan Anak Usia Prasekolah yang
mengalami Hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Anak
a. Pengertian
Medical play merupakan salah satu terapi bermain yang dapat diberikan pada
anak dengan diberi kesempatan untuk bermain dan mengekplorasi peralatan
medis seperti stetoskop, penlight, termometer, dan lain-lainnya terhadap
tindakan yang mereka alami selama dirumah sakit.
b. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas penerapan atraumatic
care dengan medical play terhadap respon kecemasan anak usia prasekolah yang
mengalami hospitalisasi.
c. Instrumen Pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala Skala ZSAS
(Zung Self Rating Anxiety Scale) yang terdiri dari 20 item terdapat 15
pertanyaan ke arah peningkatan kecemasan dan 5 pertanyaan ke arah penurunan
kecemasan. Rentang penilaian 20-80, dengan pengelompokan antara lain Skor
20-44 (kecemasan ringan), Skor 45-59 (kecemasan sedang), Skor 60-80
(kecemasan berat). Dalam penelitian ini kuesioner skala ZSAS langsung
diberikan kepada pasien untuk langsung di isi, dan langsung di serahkan kepada
peneliti. Jenis skala yang digunakan merupakan skala tertutup dimana jawaban
dari tiap pernyataan sudah disediakan.
d. Rekomendasi selanjutnya juga harus memperhatikan waktu penelitiannya karena
kondisi anak lebih sulit untuk menerima kita sebagai teman dekatnya makanya
dengan waktu yang relatif lama maka pendekatan akan lebih efisien dan cepat
dalam kita melakukan penelitianya. Selanjutnya dapat dikembangkan berbagai
penelitian lain tentang atraumatic care dan medical play.
PICOT
P (Populasi) I (Intervensi) C (Intervensi Outcomes Time Frame
Pembanding)
Populasi pada penerapan atraumatic care dengan Tidak ada adanya efektivitas penerapan Mei-Juli 2018.
penelitian ini adalah medical play terhadap respon pembanding atraumatic care dengan medical
semua pasien anak kecemasan anak usia prasekolah yang Play terhadap respon
dengan hospitalisasi di mengalami hospitalisasi. kecemasan anak usia prasekolah
ruang rawat anak RSU Yang mengalami hospitalisasi
Adhyaksa. Sampel Tindakan yang dapat dilakukan
pada penelitian ini perawat dengan konsep perawatan
berjumlah 26 pasien, atraumatik, salah satunya adalah
Menyediakan aktifitas bermain untuk
mengekspresikan ketakutan, agresif.
Medical play merupakan salah satu
terapi bermain yang dapat diberikan
pada anak. Melalui medical play anak
diberi kesempatan untuk bermain dan
mengekplorasi peralatan medis seperti
stetoskop, penlight, termometer, dan
lain-lainnya dengan boneka terhadap
tindakan yang mereka alami selama
dirumah sakit
2. Upaya Menurunkan Tingkat Stres Hospitalisasi Dengan Aktifitas Mewarnai Gambar
Pada Anak Usia 4-6 Tahun Di Ruang Anggrek RSUD Gambiran Kediri
a. Pengertian
Salah satu cara independent untuk menurunkan stres akibat hospitalisasi pada
anak usia prasekolah adalah dengan terapi bermain. Mewarnai buku gambar
yang merupakan salah satu terapi permainan kreatif untuk mengurangi stres
akibat hospitalisasi serta meningkatkan komunikasi pada anak. Mewarnai buku
gambar sebagai permainan yang kreatif merupakan metode untuk merubah
perilaku anak selama di rawat di rumah sakit. Melalui mewarnai tersebut anak
dapat mengekspresikan pikiran, perasaan, fantasi, dan dapat mengembangkan
kreativitasnya. Dengan bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan
nyaman sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan mengingat
bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya (Aizah & Wati, 2014).
b. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh aktifitas mewarnai gambar
terhadap penurunan tingkat stress hospitalisasi pada anak usia 4-6 tahun di ruang
anggrek RSUD Gambiran Kediri, yang dijabarkan ke dalam tujuan khusus yaitu
dengan diidentifikasinya:
1) tingkat stres hospitalisasi sebelum dilakukan aktifitas mewarnai gambar,
2) tingkat stres
hospitalisasi setelah dilakukan aktifitas mewarnai gambar,
3) pengaruh aktifitas mewarnai gambar terhadap penurunan
tingkat stres hospitalisasi
c. Rekomendasi untuk dijadikan acuan dalam meningkatkan mutu layanan asuhan
keperawatan dengan cara meminimalkan dampak hospitalisasi.
PICOT
P (Populasi) I (Intervensi) C (Intervensi Outcomes Time Frame
Pembanding)
Populasi pada Permainan mewarnai gambar Tidak ada bermain memungkinkan anak terlepas April sampai
penelitian ini adalah adalah satu dari aspek yang pembanding dari ketegangan dan stres yang dialami dengan Mei
seluruh pasien anak paling penting dalam selama hospitalisasi. Ketika anak 2014
usia 4-6 tahun yang kehidupan seorang anak, dan melakukan permainan, anak akan dapat
menjalani rawat inap merupakan salah satu cara mengalihkan rasa sakitnya pada
di Ruang yang paling efektif untuk permainannya (distraksi) dan relaksasi
Anggrek RSUD menghadapi dan mengatasi melalui kesenangannya melakukan
Gambiran Kediri. stress. Menggambar atau permainan. Satu permainan yang cocok
mewarnai adalah sebagai untuk anak pra sekolah (4-6 tahun) yaitu
suatu permainan yang mewarnai gambar, merupaka salah satu
”nondirective” memberikan alat permainan edukatif (APE) karena
kesempatan anak untuk dapat mengembangkan aspek
bebas berekspresi dan sangat perkembangan anak dan mendorong
“therapeutic”. aktifitas dan kreatifitas anak. Metode
Mengekspresi “feeling”nya bermain yang sesuai, pendekatan
dengan perawat dan dukungan orang tua selama
menggambar/mewarnai pemberian terapi bermain juga
gambar, berarti memberikan berpengaruh terhadap reaksi anak
pada anak suatu cara selama tindakan dilakukan. Permainan
untuk berkomunikasi, tanpa yang disukai anak akan membuat
menggunakan kata. anak merasa senang melakukan
permainan tersebut.
3. Pengaruh Terapi Bermain Lilin Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada
Anak Usia Prasekolah Yang Mengalami Hospitalisasi Di Rsud Dr. Soedarso
Pontianak
a. Pengertian
Pada masa prasekolah jenis permainan salah satunya adalah skill play,
dimana jenis permainan ini sering dipilih oleh anak, jenis permainan ini
menggunakan kemampuan motoriknya. Salah satu permainan skill play
adalah bermain lilin. Terapi bermain dengan menggunakan lilin sangat tepat
karena lilin tidak membutuhkan energi yang besar untuk bermain, permainan
ini juga dapat dilakukan di atas tempat tidur anak, sehingga tidak
mengganggu dalam proses pemulihan kesehatan anak.
b. Tujuan
untuk kebutuhan bermain dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar
dan halus yang lebih matang dari anak usia toodler (Supartini, 2012).
Terapi bermain membantu anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab atas
perilaku yang dilakukannya, mengembangkan solusi baru dan kreatif untuk
masalah yang anak hadapi, mengembangkan rasa hormat dan mengerti
terhadap orang lain, belajar untuk mengekspresikan emosi, menumbuhkan
empati dan rasa hormat terhadap pikiran dan perasaan orang lain, belajar
melakukan keterampilan sosial baru dan keterampilan hubungan dengan
keluarga, mengembangkan keyakinan yang lebih baik tentang kemampuan
yang anak miliki.
c. Rekomendasi
Bagi penelitian keperawatan diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan
mengenai pengaruh terapi bermain lilin pada pasien hospitalisasi dengan
menggunakan responden yang jumlahnya lebih besar, serta di buat kelompok
kontrol dan Bagi Masyarakat/orangtua dapat mempertimbangkan
memberikan terapi menggunakan lilin pada anak yang mengalami
kecemasan baik di rumah maupun di rumah sakit.
P (Populasi) I (Intervensi) C (Intervensi Outcomes Time Frame
Pembanding)
Populasi pada Pada masa prasekolah jenis Tidak ada Berdasarkan hasil penelitian dan
penelitian ini adalah permainan salah satunya adalah pembanding pembahasan pengaruh terapi bermain lilin
seluruh anak yang skill play, dimana jenis permainan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada
mengalami ini sering dipilih oleh anak, jenis anak usia prasekolah yang mengalami
hospitalisasi di RSUD permainan ini menggunakan hospitalisasi di RSUD dr. Soedarso
dr. Soedarso kemampuan motoriknya. Salah Pontianak, maka dapat disimpulkan bahwa
Pontianak. satu permainan skill play adalah tingkat kecemasan anak prasekolah sebelum
bermain lilin. Terapi bermain diberikan terapi bermain lilin tertinggi pada
Pada penelitian ini dengan menggunakan lilin sangat tingkat kecemasan sangat berat yaitu
jumlah sampel yang tepat karena lilin tidak dengan jumlah responden 18 responden
digunakan adalah membutuhkan energi yang besar dengan persentase 90 %, tingkat kecemasan
sebanyak 20 anak. untuk bermain, permainan ini anak prasekolah setelah diberikan terapi
Kriteria sampel yang juga dapat dilakukan di atas bermain lilin tertinggi pada tingkat
digunakan adalah anak tempat tidur anak, sehingga tidak kecemasan sedang yaitu dengan jumlah
yang berusia 2-6 mengganggu dalam proses responden 7 responden dengan persentase
tahun, pemulihan kesehatan anak 35 % dan ada pengaruh terapi bermain lilin
terhadap penurunan tingkat kecemasan pada
anak usia prasekolah yang mengalami
hospitalisasi di RSUD dr. Soedarso
Pontianak.