Terapi Multimodal: Pendekatan Holistik
Terapi Multimodal: Pendekatan Holistik
Dosen Pengampu:
Dra. Tri Esti Budiningsih, [Link]., M.A.
Fatma Kusuma Mahanani, [Link]., [Link].
Oleh Kelompok 5:
Ambarita Mumpuni 1511417008
Anandayu Yustisinthea 1511417061
Annisa Dini Nurzalfa 1511417108
Faradila Yosievri Desiana 1511417116
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
1
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... 1
DAFTAR ISI ................................................................................................... 2
A. Konsep Dasar Terapi Multimodal ............................................................. 3
B. Tujuan Terapi Multimodal ........................................................................ 3
C. Pola Hubungan Konselor dan Konseli Dalam Terapi Multimodal ........... 4
D. Teknik Konseling Terapi Multimodal....................................................... 6
E. Pengalaman Konseli Dalam Konseling Terapi Multimodal ..................... 11
F. Tugas dan Peran Konselor Dalam Terapi Multimodal ............................. 14
G. Syarat Khusus Konselor Dalam Terapi Multimodal ................................. 15
H. Karakteristik Konseling Terapi Multimodal ............................................. 18
I. Aplikasi Terapi Multimodal ...................................................................... 18
J. Kelebihan dan Kelemahan Terapi Multimodal ......................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20
LAMPIRAN
2
A. Konsep Dasar Terapi Multimodal
McLeod (dalam Aliyah, 2015) mnyatakan bahwa terapi multimodal adalah
kerangka kerja untuk menyeleksi teknik terapeutik yang komprehensif,
sistematis, dan merupakan pendekatan holistik untuk terapi perilaku yang
dikembangkan oleh Lazarus.
Menurut Nurhayati (2011 dalam Aliyah, 2015) terapi multimodal adalah
suatu pendekatan psikoterapi yang komprehensif yang mencakup tujuh
modalitas interaksi yang dapat mempengaruhi pola sikap hidup manusia yang
terdiri dari Behavior (B), Affect (A), Sensation (S), Imagery (I), Cognitition
(C), Interpersonal relationship (I) dan Drugs atau faktor biologis (D). Terapi
ini menggunakan suatu perspektif pembelajaran sosial yang luas untuk
mencatat perkembangan dan perubahan pribadi.
Bandura (Palmer, 2012 dalam Aliyah, 2015) menyatakan bahwa pendekatan
multimodal adalah pendekatan yang didukung oleh teori belajar sosial dan
kognitif yang luas, hal tersebut diasumsikan bahwa manusia terdiri dari:
behaviour (tindakan dan bereaksi), affect (mengalami respon afektif),
sensation (menanggapi penciuman, sentuhan, visual dan stimuli pendengaran
dari dalam tubuh), imagery (pandangan, suara, dan hal lainnya di dalam
pikiran), cognitive (keyakinan, pendapat, sikap, dan nilai-nilai), dan
interpersonal (toleransi, menikmati atau menderita dalam berbagai hubungan
interpersonal) dan drug/ biology (neurophysiological/ entitas biokimia). Selain
itu, Palmer (2012 dalam Aliyah, 2015) juga menyatakan adanya dimensi-
dimensi kepribadian tersebut biasa dikenal dengan singkatan, BASIC ID
berasal dari huruf pertama dari setiap modalitas, yaitu Behaviour, Affect,
Sensation, Imagery, Cognitive, Interpersonal dan Drug/ Biology.
3
Sedangkan menurut Palmer (2011 dalam Aliyah, 2015) tujuan dari terapi
multimodal adalah membantu klien untuk menjalani kehidupan dengan lebih
bahagia dan mencapai tujuan realistis mereka. Oleh karena itu, tujuan
ditentukan sesuai dengan kapasitas klien. Pada dasarnya terapi ini dapat
digunakan untuk menstruktur kognitif, memperbaiki pola interaksi dalam
lingkungan, pembinaan eksekutif, individu/pembinaan kehidupan, manajemen
stres, pembinaan kesehatan, kehidupan yang lebih bahagia dan mencapai
tujuan realistis mereka.
4
memfasilitasi pemindahan. Penggunaan gaya interpersonal yang sama dengan
semua klien mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dan ekspetasi-ekspetasi para
klien. Para klien yang memilih sebuah pendekatan yang lebih aktif pada
masalah-masalah mereka dan memberikan mereka saran dan arahan yang
konkrit dapat menemukan bahwa pendekatan non-direktif dari terapi berpusat-
orang tidaklah efektif. Para klien yang menginginkan seseorang untuk
mendukung dan mendengarkan mereka mungkin menemukan terapi-terapi
berpusat pada tindakan (misalnya, terapi perilaku) tidaklah membantu dan
tidak sensitif.
Lazarus (2002) mengemukakan bahwa para klien mempunyai kebutuhan-
kebutuhan dan ekspetasi-ekspetasi berbeda dan membutuhkan renatangan
gaya-gaya interpersonal yang luas dari para konselor. Dalam sebuah sesi
konseling multimodal, gaya interpersonal konselor berubah-ubah terhadap satu
klien dengan klien lainnya. Gaya interpersonal fleksibel ini dalam Multimodal
Terapi, khususnya relevan pada konseling lintas-kultural dimana para klien
dari latar belakang kultural berbeda cenderung memegang ekspetasi-ekspetasi
berbeda mengenai hubungan klien-konselor.
Para konselor sangat berhati-hati untuk tidak memasukkan klien yang
bersifat unik dalam program penanganan yang sudah ditentukan sebelumnya.
Melainkan diusahakan secara cermat untuk menetapkan secara cermat untuk
menetapkan secata tepat hubungan dan strategi penanganan apa yang akan
berfungsi paling baik terhadap setiap klien dalam keadaan khusus yang
bagaimana. Asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah bahwa oleh karena
seorang individu mengalami kesulitan yang disebabkan oleh problema khas
yang dihadapi maka dianggap hal yang tepat kalau strategi penanganan ganda
digunakan untuk mendapatkan perubahan. Konselor multimodal terus menerus
menyesuaikan prosedurnya untuk bisa mencapai sasaran klien dalam
konseling. Pada multimodal terapi konselor dapat memilih teknik sesuai
dengan masalah dan ketrampilan dirinya (Hersen & Seldge, 2002).
Konseling bertujuan untuk bisa memenuhi kebutuhan klien, dan bukan
untuk memenuhi kebutuhan konselor, jadi seorang klien tersebut harus
mempunyai tanggung jawab mengenai dirinya dan bisa membuat keputusan
5
berdasarkan alternatif-alternatif yang diberikan konselor. Dan untuk mencapai
tujuan tersebut, maka dalam sebuah konseling harus terjadi rapport antara klien
dan konselor (Hersen & Seldge, 2002).
Rapport adalah suatu hubungan yang ditandai dengan keharmonisan,
kesesuaian, kecocokan, dan saling tarik menarik. Dimulai dengan persetujuan,
kesejajaran, kesukaan, dan persamaan. Dan jika sudah terjadi rapport maka
klien telah membuang keengganannya dan mulai memasuki keterbukaan
(disclosure), dan itu artinya klien sudah ada kepercayaan terhadap konselor
(Hersen & Seldge, 2002).
Hubungan yang saling menumbuhkan menurut Carl Rogers disini adalah
pentingnya penerimaan tanpa syarat, penghargaan dan hubungan yang nyaman
antara konselor dan klien, hubungan dialogis yang memberdayakan klien untuk
mencapai aktualisasi diri. Jadi intinya adalah seorang konselor tersebut
membantu klien untuk melihat dirinya sendiri sebagai seorang yang mampu,
bernilai dan bisa mengarahkan dirinya sendiri dan memberikan semangat
kepada mereka untuk berbuat sesuai dengan persepsi dirinya tersebut (Hersen
& Seldge, 2002).
Seorang klien datang kepada konselor dalam keadaan tidak selaras, yakni
terdapat ketidak cocokan antara persepsi diri dan pengalaman dalam
kenyataan. Pada mulanya, klien boleh jadi mengharapkan terapis akan
menyediakan jawaban-jawaban dan pengarahan atau memandang terapis
sebagai seorang ahli yang bisa menyediakan pemecahan-pemecahan ajaib. Hal-
hal yang mendorong klien untuk menjalani terapi mungkin adalah perasaan
tidak berdaya, tidak kuasa, dan tidak berkemampuan untuk membuat
keputusan-keputusan untuk mengarahkan hidupnya sendiri (Hersen & Seldge,
2002).
6
diberikan pertanyaan mengenai ketujuh modalitas fungsi manusia tersebut
sebagai modifikasi dari proses penilaian berdasarkan pertanyaan Lazarus.
1. Behaviour
Behaviour merujuk pada perilaku terbuka, termasuk didalamnya adalah
tindakan, kebiasaan, dan reaksi yang dapat diamati dan diukur. Beberapa
pertanyaan yang biasanya diajukan adalah “Apa yang ingin Anda ubah?”,
“Seberapa aktif Anda?”, “Seberapa banyak pelaku?”, “Apa yang ingin Anda
mulai lakukan?”, “Apa yang ingin Anda berhenti lakukan?”, “Apa kekuatan
utama Anda?”, “Perilaku spesifik apa yang membuat Anda tidak
mendapatkan apa yang Anda inginkan?” (Ojo, 2010).
2. Affect
Modalitas Affect mengacu pada emosi, suasana hati, dan perasaan yang
kuat. Pertanyaan yang terkadang diajukan meliputi: “Seberapa emosional
Anda?”, “Emosi apa yang paling sering Anda alami?”, “Apa yang membuat
Anda tertawa?”, “Apa yang membuat Anda menangis?”, “Apa yang
membuat Anda sedih, marah, senang, takut?”, “ Emosi apa yang bermasalah
bagi Anda?” (Ojo, 2010).
3. Sensation
Area Sensation mengacu pada lima indera dasar untuk menyentuh,
merasakan, mencium, melihat, dan mendengar. Contoh pertanyaan yang
diajukan adalah: “Apakah Anda menderita sensasi yang tidak
menyenangkan, seperti rasa sakit, sakit, pusing, dan sebagainya?”,
“Seberapa banyak Anda fokus pada sensasi?”, “Apa yang Anda sukai atau
tidak sukai dalam cara melihat, mencium, mendengar, menyentuh dan
mencicipi?” (Ojo, 2010).
4. Imagery
Modalitas Imagery berkaitan dengan cara di mana kita menggambarkan
diri kita sendiri, termasuk pada ingatan dan mimpi. Beberapa pertanyaan
yang diajukan adalah: “Apa saja yang mengganggu dari mimpi yang
berulang dan kenangan yang diingat dari masa lalu?”, “Apakah Anda
terlibat dalam fantasi dan melamun?”, “Apakah Anda memiliki imajinasi
yang jelas?”, “Bagaimana Anda melihat tubuh Anda?”, “Bagaimana Anda
7
melihat diri Anda sekarang?”, ”Bagaimana Anda ingin dapat melihat diri
Anda di masa depan?” (Ojo, 2010).
5. Cognition
Modalitas Congnition mengacu pada wawasan, filosofi, ide, dan
penilaian yang membentuk nilai-nilai, sikap, dan keyakinan mendasar
seseorang. Pertanyaannya meliputi: “Seberapa pemikir kah Anda?”, “Apa
saja cara yang Anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan intelektual
Anda?”, “Bagaimana pikiran Anda dapat memengaruhi emosi Anda?”,
“Apa nilai dan keyakinan yang paling Anda hargai?”, “Apa saja hal-hal
negatif yang pernah Anda katakan pada diri Anda sendiri?”, “Apa yang
menjadi keharusan dan kepastian dalam hidup Anda?” (Ojo, 2010).
6. Interpersonal Relation
Modalitas Interpersonal Relations mengacu pada interaksi dengan orang
lain. Contoh-contoh pertanyaannya meliputi: “Sejauh mana Anda
menginginkan keintiman dengan orang lain?”, “Apa yang Anda harapkan
dari orang-orang penting dalam hidup Anda?”, “Apa yang mereka harapkan
dari Anda?”, “Apakah ada hubungan dengan orang lain yang Anda harap
akan berubah?”, “Jika demikian, perubahan seperti apa yang Anda
inginkan?” (Ojo, 2010).
7. Drugs/Biology
Modalitas Drugs/Biology tidak hanya mencakup obat. Di dalamnya juga
mempertimbangkan kebiasaan gizi seseorang dan pola olahraga. Beberapa
pertanyaan yang diajukan adalah: “Apakah Anda memiliki kekhawatiran
tentang kesehatan Anda?”, “Apakah Anda menebus obat yang telah
dituliskan dalam resep?”, “Apa kebiasaan Anda yang berkaitan dengan diet,
olahraga, dan kebugaran fisik?” (Ojo, 2010).
Pertanyaan awal setiap modalitas fungsi manusia diikuti juga oleh kuesioner
riwayat hidup yang terperinci. Setelah profil utama dari Behaviour, Affect,
Sensation, Imagery, Cognition, Interpersonal Relations, dan Drugs/Biology
seseorang telah ditetapkan, langkah selanjutnya terdiri dari pemeriksaan
interaksi antara berbagai modalitas (Ojo, 2010).
8
Lazarus (2002) menjelaskan bahwa ketika penggunaan penilaian awal
kepada Behaviour, Affect, Sensation, Imagery, Cognition, Interpersonal
Relations, dan Drugs/Biology tidak dapat menyelesaikan masalah, maka ada
tiga prosedur penilaian penting lainnya yang dapat digunakan dalam Terapi
Multimodal. Ketiga prosedur penilaian penting tersebut ialah:
1. Second-Order BASIC I.D. Assessments
Jika ataupun saat treatment mucul jalan buntu, penyelidikan yang lebih
terperinci mengenai behaviors, affective responses, sensory reactions,
images, cognitions, interpersonal factors, dan kemungkinan pertimbangan
biologis mungkin bisa menjelaskan situasi. Lazarus (Ojo, 2010) juga
menambahkan bahwa Second-Order BASIC I.D. Assessments lebih
berkonsentrasi pada detail masalah spesifik, berbeda dengan penilaian awal,
yang lebih melihat gambaran umum.
Sebagai contohnya, seorang klien yang hampir tidak membuat kemajuan
dengan prosedur pelatihan ketegasan, diminta untuk menggambarkan
dirinya sebagai orang yang benar-benar tegas. Kemudian ia diminta untuk
menceritakan bagaimana perilakunya akan berbeda secara biasanya, reaksi
afektif apa yang mungkin dia antisipasi, dan seterusnya yang ada di BASIC
I.D. atau Behaviour, Affect, Sensation, Imagery, Cognition, Interpersonal
Relations, dan Drugs/Biology (Lazarus, 2002).
2. Bridging
Katakanlah seorang terapis tertarik pada respons emosional klien
terhadap suatu peristiwa. Terapis tersebut menanyakan: “Bagaimana
perasaanmu ketika ayahmu membentakmu di depan teman-temanmu?”
Alih-alih mendiskusikan perasaannya, klien justru merespon dengan
intelektualisasi yang defensif dan tidak relevan. “Ayahku memiliki prioritas
aneh dan bahkan sebagai seorang anak, aku dulu mempertanyakan
penilaiannya.”. Sering kali terapis tidak mampu untuk menghadapi klien
yang menunjukkan bahwa klien menghindari pertanyaan dan sepertinya
enggan menghadapi perasaan sejatinya. Dalam situasi seperti ini, Bridging
biasanya efektif. Pertama, terapis sengaja menyesuaikan modalitas pilihan
klien dalam hal ini dengan memilih ranah Cognition. Dengan demikian,
9
terapis mengeksplorasi konten Cognition. “Jadi, kamu melihatnya sebagai
konsekuensi yang melibatkan penilaian dan prioritas. Tolong beri tahu saya
lebih banyak.”. Dengan cara ini, setelah mungkin percakapan selama 5-10
menit, terapis berusaha untuk bercabang ke arah lain yang tampaknya lebih
produktif. “Katakan padaku, sementara kita telah membahas hal-hal ini,
apakah kamu memperhatikan sensasi terhadap lima indera yang ada di
tubuhmu?”. Pergantian mendadak dari Cognition ke Sensation ini mungkin
mulai memperoleh informasi yang lebih relevan (dengan asumsi bahwa
dalam hal ini, input Sensory mungkin kurang mengancam daripada materi
afektif). Klien dapat membahas pada beberapa sensasi ketegangan atau
ketidaknyamanan tubuh pada saat dimana terapis dapat memintanya untuk
fokus pada tubuhnya, hal ini seringkali dilakukan dengan susunan hipnosis
(Lazarus, 2002).
Klien dapat merujuk pada beberapa sensasi ketegangan atau
ketidaknyamanan tubuh pada saat dimana terapis memintanya untuk fokus
pada tubuhnya, seringkali dengan lapisan hipnosis. “Tolong tutup mata
Anda, dan sekarang Anda rasakan ketegangan yang ada leher tersebut.
(Diam sejenak). Sekarang rileks dalam-dalam selama beberapa saat,
bernapaslah dengan nyaman dan mudah, tarik napas dan hembuskan, tarik
napas dan hembuskan, biarkan lah dirimu merasa tenang dan damai.”
Perasaan tegang, kesan mereka, dan kognisi tersebut kemudian dapat
diperiksa. Seseorang kemudian dapat menggunakan Bridge untuk Affect.
“Di bawah dari area sensasi, apakah Anda bisa menemukan perasaan atau
emosi yang kuat? Mungkin perasaan dan emosi tersebut bersembunyi di
bagian terdasar yang tidak Anda sadari.”. Pada titik ini, klien tidak biasa
untuk menyuarakan perasaan mereka. “Aku merasakan kemarahan dan
kesedihan.”. Dengan memulai di mana klien berada dan kemudian
melakukan Bridging pada modalitas yang berbeda, sebagian besar klien
kemudian tampaknya bersedia untuk melintasi area-area yang lebih
emosional yang telah mereka hindari (Lazarus, 2002).
10
3. Triciking The Firing Order
Lazarus (Dwyer, 2000) menjelaskan lebih lanjut mengenai Tricking the
Firing Order. Tricking the Firing Order menunjukkan dengan tepat dimensi
kepribadian di mana masalah dimulai untuk mendapatkan akarnya. Setelah
akar masalah didapatkan dan diidentifikasi, teknik perawatan dapat dipilih
dengn menargetkan asal masalah. Tricking the Firing Order ini dapat
membantu ketakutan komunikasi yang tinggi untuk menentukan asal mula
dan urutan dimensi yang terlibat dalam kecemasan mereka Misalnya,
sehubungan dengan kecemasannya berbicara di depan umum, salah satu
subjek melaporkan: “Tiba-tiba saya merasakan jantung saya berdebar
kencang dan wajah saya memerah sebelum giliran saya memberikan pidato.
Lalu saya berpikir, “Oh, ini mengerikan; Saya kehilangan kontrol, orang
akan melihat betapa gugupnya saya”. Selanjutnya, saya membayangkan diri
saya pingsan di lantai dengan semua orang menatap saya dan kemudian
ketakutan menguasai saya.”
Dalam kasus subjek diatas, ketakutakan komunikasi subjek mulai dengan
dimensi sensasi. Seperti yang disebutkan bahwa, dia secara fisik merasakan
jantungnya berdebar-debar dan wajahnya berubah merah. The Firing Order
atau urutan dimensi yang terlibat dalam kecemasan bicara subjek adalah
sensation, cognition, imagery, dan affect. Ia secara fisik merasakan, pikiran
buruknya bekerja, ia membayangkan, dan ia merasakan (ketakutan). Teknik
yang paling cocok untuk mengelola kecemasan subjek harus ditargetkan
pada asal mula masalah, yaitu pada dimensi sensasi (Lazarus, 2002).
11
Sebelumnya, Ken pernah menjalani terapi pasangan dan telah menemui
berbagai konselor individual dan dokter dari waktu ke waktu, tetapi ia merasa
bahwa manfaat yang ia peroleh sedikit dari konseling dan psikoterapi tersebut.
Selama wawancara awal, langsung terlihat bahwa Ken cenderung
merendahkan dirinya sendiri dan tampaknya ia memiliki harapan yang terlalu
tinggi untuk dirinya sendiri. Masalah-masalah yang ia alami dibahas oleh
terapis dan Ken. Kemudian terapis meminta Ken untuk membaca beberapa bab
pada dua buku yang telah terapis berikan kepadanya, dan ia menyetujuinya.
Buku yang pertama yaitu buku yang ditulis oleh Albert Ellis dan yang kedua
buku yang ditulis terapis bersama putranya. Di akhir wawancara awal, seperti
yang biasa dilakukan oleh klien yang tidak buta huruf, baik klien yang tidak
terlalu tetekan, memiliki sedikit gangguan, dan yang memiliki gangguan,
diminta untuk fokus mengisi kuesioner. Terapis memberikan Ken Multimodal
Life History Inventory (LHI). Multimodal Life History Inventory merupakan
kuesioner yang berisi 15 halaman yang mencakup BASIC ID. Ken diminta
untuk menyelesaikan kuesioner tersebut namun tidak harus menyelesaikannya
dalam satu waktu. Ia juga diminta untuk membawa inventaris yang lengkap
pada pertemuan berikutnya. Selain itu, Ken juga diberikan inventori depresi
dan terapis mengungkapkan bahwa tingkat melankolis Ken berada dalam batas
normal.
Terapis biasanya mempelajari LHI setelah sesi nomor 2, sehingga pada saat
klien kembali untuk sesi ketiga, kesan yang didapat dari inventaris dibahas dan
prioritas untuk perawatan sudah ditetapkan. Namun, sebelum membaca seluruh
dokumen, sudah menjadi kebiasaan terapis untuk beralih ke bagian bawah
halaman 4, yang menanyakan tentang “Harapan Mengenai Terapi” kepada
klien. Ken menulis: “Saya ingin terapis saya mengingat hal-hal yang saya
diskusikan dengannya. Saya juga menghargai seseorang yang akan
mengungkapkan hal-hal terkait tentang dirinya. Saya mencari seseorang untuk
menasihati saya, dan mengarahkan saya ke arah yang benar". Pernyataan Ken
berbanding terbalik dengan harapan klien lain. Klien lain pernah menulis:
"Seorang terapis yang baik adalah pendengar aktif yang hanya sedikit berbicara
tetapi mendengar semuanya". Akan naif untuk menganggap bahwa klien selalu
12
tahu apa yang mereka inginkan dan apa yang terbaik untuk mereka. Jika terapis
lebih menghargai anggapan bahwa klien sering merasakan bagaimana mereka
dapat dilayani dengan sebaik-baiknya, maka lebih sedikit kesalahan yang
mungkin terjadi dalam proses konseling.
Dalam kasus Ken, jalannya terapi jelas ditingkatkan oleh kesediaan terapis
untuk mengungkapkan dirinya seperti pernyataan: “Saya mengungkapkan
strategi yang saya temukan bermanfaat dalam pernikahan saya sendiri dan
dengan anak-anak saya sendiri, dan saya membahas masalah yang saya temui
dalam berbagai situasi kerja dan taktik yang terbukti berguna bagi saya.”.
Pada beberapa kesempatan, terapis melampaui batas klinis, yaitu bertemu
dengan Ken untuk makan siang. Terapis mengungkapkan bahwa Ken
merupakan orang yang sangat ramah. Ken menghargai pernyataan terapis yang
berterus terang dalam memberikan saran kepadanya, seperti: "Saya tidak
melihat sisi negatif dari permintaan Anda untuk dua hal. (1) Pekerjaan yang
lebih menantang. Dan (2) kenaikan gaji”
Beberapa masalah Ken yang saling terkait terungkap satu-persatu.
Perilakunya dicirikan oleh terlalu banyak kepasifan; secara afektif, dia
cenderung menekan dirinya sendiri secara tidak perlu; pada tingkat sensorik,
ketegangan otot secara umum tampak meluas; gambaran mentalnya penuh
dengan gambar-gambar kegagalan masa lalunya; kesadarannya dipenuhi
dengan pernyataan-pernyataan tentang penyangkalan diri, perfeksionisme, dan
imperatif kategoris; dan hubungan interpersonalnya ditandai oleh pola tidak
tegas dan menghindar.
Awalnya strategi terapi perilaku kognitif (CBT) standar digunakan dalam
pelatihan relaksasi, latihan citra positif, restrukturisasi kognitif (terutama
pengajaran antiperfeksi), dan pelatihan ketegasan. Ken membuat kemajuan
yang baik di beberapa dimensi, tetapi tampaknya ada tiga poin penting yaitu:
(1) Ketegangan antara Ken dan teman wanitanya meningkat; (2) dia merasa
lebih marah di tempat kerja karena bosnya begitu jauh dan tidak simpatik; (3)
hubungannya yang tidak memuaskan dengan anak-anaknya tetap menjadi
sumber rasa sakit.
13
A Second - Order BASIC ID. Penilaian dilakukan dengan meminta Ken
untuk menggambarkan dirinya mencapai beberapa tujuan langsungnya. Seperti
mencapai keharmonisan di rumah dengan teman wanitanya, berdamai dengan
bosnya, memperbaiki pagar dengan putra dan putrinya. Situasi-situasi ini
ditangani satu per satu, dan Ken diminta untuk membahas dampak di setiap
modalitas.
Di beberapa sesi, orang terdekat Ken dapat memberikan manfaat dalam
proses konseling. Ken meminta Norma, teman wanitanya, untuk menemaninya
ke sesi konseling berikutnya. Selanjutnya, selama tiga pertemuan dengan Ken
dan Norma, mereka masing-masing dapat mengekspresikan keluhan spesifik
mereka dan belajar bagaimana mendapatkan lebih banyak kepuasan dari
hubungan mereka dengan menghindari jebakan yang cenderung membuat
mereka jatuh. Misalnya, Norma cenderung mengeruk peristiwa negatif dari
masa lalu, Ken cenderung mengatakan "Tidak" terlalu sering bahkan untuk
permintaan sederhana, dan mereka berdua jarang saling memuji. Prosedur
bermain peran yang lebih intensif digunakan untuk memungkinkan Ken
mengambil risiko mendekati bosnya dan mengungkapkan ketidakpuasannya.
Atas inisiatifnya sendiri, Ken mulai aktif mencari pekerjaan baru.
Berkenaan dengan anak-anaknya, mengingat Ken dan anak-anaknya hidup
terlalu jauh, Ken mempertimbangkan untuk melakukan beberapa sesi terapi
keluarga. Namun pada akhirnya ia setuju untuk memanggil mereka. Kemudian
ia menyatakan rasa cintanya kepada mereka dan keinginannya untuk menjalin
hubungan yang lebih baik, dan berkeinginan untuk melanjutkan percakapannya
baik melalui surat maupun surat elektronik. Metode aktif ini mendorong Ken
untuk mendekati semua masalah sekarang dan di masa depan dengan sengaja
mengembangkan modus vivendi yang terus terang, tegas, terbuka, dan tidak
terhindar.
*Multimodal Life History Inventory (LHI) terlampir.
14
intuisi klinisnya. Para konselor menggunakan teknik rangkuman, refleksi,
penjelasan, serta pertanyaan berakhir dengan terbuka. Para konselor behavioral
harus mengasumsikan adanya peran aktif, direktif dalam treatment, karena
mereka menerapkan pengetahuan ilmiah pada penemuan solusi-solusi pada
permasalahan yang dialami. Konselor secara khas bertugas seperti guru,
pengarah, dan ahli dalam mendiagnosa tingkah laku yang tidak tepat dalam
menentukan prosedur-prosedur yang diharapkan, mengarah pada tingkah laku
baru dan lebih baik (Hersen & Seldge, 2002).
Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah modeling konselor untuk klien.
Bandura menunjukkan bahwa sebagian besar belajar yang terjadi melalui
pengalaman langsung dapat juga diperoleh melalui pengamatan terhadap
tingkah laku orang lain. Konselor menambahkan bahwa salah satu dari proses
yang mendasar dimana klien mempelajari tingkah laku baru adalah melalui
peniruan, atau modeling sosial yang diberikan oleh konselor. Konselor sebagai
seorang individu menjadi role model yang penting. Karena klien akan
memandang konselor sebagai worthy emulation, maka klien meniru sikap-
sikap, nilai-nilai kepercayaan, dan tingkah laku konselor. Dengan demikian
konselor harus sadar tentang peran penting yang mereka mainkan dalam proses
pengidentifikasian. Bagi konselor yang tidak menyadari kekuatan yang mereka
miliki dalam mempengaruhi dan membentuk cara berfikir dan bertingkah laku
klien, membuat mereka mengingkari pentingnya kepribadian mereka sendiri
dalam proses terapetik. Bagi konselor, peran dan fungsi yang paling berat
adalah menjadi model bagi klien (Hersen & Seldge, 2002).
15
dengan orang lain, sementara mereka yang rendah tingkat empatinya
menunjukan sifat yang secara nyata dan berarti merusak hubungan antar
pribadi (Hersen & Seldge, 2002).
2. Respek
Respek menunjukkan secara tidak langsung bahwa konselor menghargai
martabat dan nilai konseli sebagai manusia. Hal ini mengandung arti juga
bahwa konselor menerima kenyataan. Setiap konseli mempunyai hak untuk
memilih sendiri, memiliki kebebasan, kemauan dan mampu membuat
keputusannya sendiri (Hersen & Seldge, 2002).
3. Keaslian (Genuiness)
Keaslian merupakan kemampuan konselor menyatakan dirinnya secara
bebas dan mendalam tanpa pura-pura, tidak bermain peran dan tidak
mempertahankan diri. Konselor yang demikian selalu tampak keaslian
pribadinya, sehingga tidak ada pertentangan antara apa yang ia katakan dan
apa yang ia lakukan. Tingkah lakunya sederhana, lugu dan wajar (Hersen &
Seldge, 2002).
4. Kekonkretan (Concreteness)
Kekonkretan menyatakan ekspresi yang khusus mengenai perasaan dan
pengalaman orang lain. Seorang konselor yang memiliki kekonkretan tinggi
selalu memelihara hubungan yang khusus dan selalu mencari jawaban
mengenai apa, mengapa, kapan, dimana dan bagaimana dari sesuatu yang ia
hadapi. Konselor yang memiliki kekonkretan selalu memelihara keserasian
dalam hubungan dengan orang lain dan mencegah konseli melarikan diri
dari masalah yang dihadapinya (Hersen & Seldge, 2002).
5. Konfrontasi (Confrontation)
Konfrontasi terjadi jika terdapat kesenjangan antara apa yang dikatakan
konseli dengan apa yang ia alami, atau antara yang ia katakan pada suatu
saat dengan apa yang ia katakan sebelum itu. Variabel ini tidak dikontrol
sepenuhnya oleh konselor, tetapi hal ini dapat dilaksanakan jika konselor
merasakan cocok untuk dikonfrontasikan. Dalam situasi konseling
umpannya terdapat banyak macam kemungkinan untuk dikonfrontasi
(Hersen & Seldge, 2002).
16
6. Membuka diri (Disclosure)
Membuka diri adalah penampilan perasaan, sikap, pendapat, dan
pengalaman-pengalaman pribadi konselor untuk kebaikan konseli.
Konselor mengungkapkan diri sendiri dan membagikan dirinnya kepada
konseli dengan mengungkapkan beberapa pengalaman yang berarti yang
bersangkutan dengan masalah konseling (Hersen & Seldge, 2002).
7. Kesanggupan (Potency)
Kesanggupan dinyatakan sebagai kharisma, sebagai suatu kekuatan yang
dinamis dan magnetis dari kualitas pribadi konselor. Konselor yang
memiliki sifat potensi ini selalu menampakkan kekuatannya dalam
penampilan pribadinya. Dia dengan jelas tampak menguasai dirinya dan dia
mampu menyalurkan kompetensinya dan rasa aman kepada konseli (Hersen
& Seldge, 2002).
8. Kesiapan (Immediacy)
Kesiapan adalah sesuatu yang berhubungan dengan perasaan diantara
konseli dengan konselor pada waktu kini dan di sini. Tingkat kesiapan yang
tinggi terdapat pada diskusi analisis yang terbuka mengenai hubungan antar
pribadi yang terjadi antara konselor dengan konseli dalam situasi konseling.
Hal ini sangat penting karena variabel ini menyediakan kesempatan untuk
menggerjakan berbagai masalah kesukaran konseli dalam proses hubungan
sehingga konseli dapat mengambil manfaat atau keuntungan melalui
pengalaman ini. Konseli dapat belajar mengatur kembali hubungan
antarpribadinya dan menemukan dirinya sendiri bahwa situasi konseling
memungkinkan ia mengadakan konfrontasi, menunjukkan dirinya sendiri,
dan mengekspresikan perasaanya, baik yang positif maupun negatif kepada
orang lain dengan cukup aman. Dalam hal ini konselor merasa terbuka dan
dapat mendorong konseli untuk berani menghadapi dirinya dan
menunjukkan dirinya secara bebas. Inilah yang menyebabkan konselor
cepat merasa puas (Hersen & Seldge, 2002).
9. Aktualisasi Diri (Self-Actualization)
Dalam penelitian yang sudah lalu, terbukti bahwa aktualisasi diri
memiliki korelasi (hubungan) yang tinggi terhadap keberhasilan konseling.
17
Aktualisasi diri dapat dipakai oleh konseli sebagai model terutama bagi
konseli yang meminta bantuan kepadanya. Aktualisasi diri secara tak
langsung menunjukkan bahwa orang dapat hidup dan memenuhi kebutuhan
hidupnya secara langsung karena dia mempunyai kekuatan dalam dirinya
untuk mencapai tujuan hidupnya. Mereka dapat mengungkapkan dirinya
secara bebas dan terbuka. Konselor yang mampu mengaktualisasikan
dirinya memiliki kemampuan mengadakan hubungan sosial yang hangat,
intim, dan secara umum mereka sangat efektif dalam hidupnya (Hersen &
Seldge, 2002).
18
populasi usia lanjut. Beberapa praktisi memiliki spesialisasi dalam gangguan
spesifik (misalnya gangguan makan, disfungsi seksual, PTSD, panik, depresi,
penyalahgunaan zat, atau skizofrenia) (Hersen & Seldge, 2002).
Mereka yang menggunakan terapi perilaku multimodal akan membawa
bakat mereka pada bidang keahlian khusus mereka dan menggunakan BASIC
ID. Jika masalah atau klien tertentu berada di luar bidang keahlian mereka,
mereka akan berusaha untuk mempengaruhi rujukan ke sumber daya yang
sesuai. Misalnya, jika klien yang hanya bisa berbahasa Spanyol harus dirawat
dengan terapi perilaku multimodal, jelas seorang terapis yang fasih berbahasa
Spanyol akan dipilih. Dengan demikian, tidak ada masalah atau populasi yang
dikecualikan. Satu-satunya kriteria eksklusi adalah yang berkaitan dengan
keterbatasan terapis individu (Hersen & Seldge, 2002).
19
DAFTAR PUSTAKA
20