CAPUNG
1. Neurothemis fluctuans
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthopoda
Class : Insecta
Ordo : Odonata
Subordo : Anisoptera
Family : Libelullidae
Marga : Neurothemis
Spesies : N. fluctuans (Sumber: Rohman, 2012)
Sumber : (Hidayah, 2008)
2. Neurothemis ramburii
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthopoda
Class : Insecta
Ordo : Odonata
Subordo : Anisoptera
Family : Libelullidae
Marga : Neurothemis
(Sumber: [Link])
Spesies : N. ramburii
Sumber : (Hidayah, 2008)
3. Neurothemis terminata
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthopoda
Class : Insecta
Ordo : Odonata
Subordo : Anisoptera
Family : Libelullidae
(Sumber: Rohman, 2012)
Marga : Neurothemis
Spesies : N. terminate
Sumber : (Hidayah, 2008)
Morfologi Capung:
Capung termasuk dalam kelompok serangga dengan ciri-ciri yaitu kepala (caput),
dada (toraks), dan perut (abdomen).
(Sumber: Rahadi dkk, 2013 dalam Rismayani, 2018)
1. Kepala capung memiliki ukuran relatif besar dibanding tubuhnya, bentuknya
membulat ke samping dengan bagian belakang berlekuk ke dalam. Bagian yang
sangat mencolok pada kepala adalah sepasang mata majemuk yang besar yang terdiri
dari banyak mata kecil (ommatidium). Di antara kedua mata majemuk terdapat
sepasang antena pendek, halus seperti benang (Patty, 2006 dalam Rismayani, 2018).
2. Mulut capung berkembang sesuai dengan fungsinya sebagai pemangsa, bagian
depan terdapat labrum (bibir depan), di belakang labrum terdapat sepasang
mandibula (rahang) yang kuat untuk merobek badan mangsanya. Di belakang
mandibula terdapat sepasang maksila yang berguna untuk membantu pekerjaan
mandibula, dan bagian mulut yang paling belakang adalah labium yang menjadi
bibir belakang (Patty, 2006 dalam Rismayani, 2018).
3. Bagian dada (toraks) terdiri dari tiga ruas yaitu protoraks, mesotoraks, dan
metatoraks. Masing-masing toraks tersebut mendukung satu pasang kaki. Menurut
fungsinya kaki capung termasuk dalam tipe kaki raptorial yaitu kaki yang
dipergunakan untuk berdiri dan menangkap mangsanya. Sayap capung memiliki
bentuk yang khas yaitu lonjong/memanjang, tembus pandang, dan terdapat
beberapa capung yang memiliki warna yang menarik seperti coklat kekuningan,
hijau, biru, atau merah. Lembaran sayap ditopang oleh venasi, para ahli
mengidentifikasi dan membedakan capung dengan melihat susunan venasi pada
sayap. sedangkan pada bagian perut (abdomen) terdiri dari beberapa ruas, ramping
dan memanjang seperti ekor atau agak melebar. Ujungnya dilengkapi tambahan
seperti umbai yang dapat digerakkan dengan variasi bentuk tergantung jenisnya
(Patty, 2006 dalam Rismayani, 2018).
Habitat Capung:
Capung menghabiskan sebagian hidupnya sebagai nimpa (sepasin) yang sangat
bergantung pada habitat perairan seperti sawah, danau, kolam atau rawa. Capung dewasa
sering terlihat pada tempat-tempat terbuka, tertama tempat perairan tempat mereka
berbiak dan berburu makanan. Sebagian besar capung senang hinggap pada pucuk
rumput, perdu dan lain-lain yang tumbuh disekitar kolam, sungai, parit, atau genangan
air lainnya. Capung melakukan kegiatan pada siang hari (diurnal). Oleh karena itu pada
siang hari capung akan terbang sangat aktif sulit untuk didekati, sedangkan pada senja
hari dan pada dini hari capung kadang- kadang lebih mudah didekati (Susanti, 1998
dalam Rismayani, 2018).
Daur Hidup Capung:
Daur hidup capung adalah telur, nimfa, dan capung dewasa. Sering kita melihat
sepasang capung dalam posisi tandem, yaitu saat capung jantan mengaitkan ujung
abdomennya ke leher betina. Posisi ini terjadi sebelum kawin dan saat proses peletakan
telur. Capung kopulasi pada saat capung jantan mengaitkan ujung abdomennya ke leher
betina akan membengkokkan abdomennya ke atas dan ujung mengait pada organ genital
jantan di ruas 1-2 abdomen. Setelah kopulasi capung bertelur di air atau disisipkan pada
tanaman air kemudian menetas menjadi larva yang disebut nimfa. Seekor nimfa dapat
hidup di dalam air selama beberapa bulan hingga tahun dan sensitif terhadap kondisi air
yang tercemar. Kondisi air yang baik atau tidak dapat diketahui dari keberadaan nimfa di
suatu perairan. Karena itu capung dapat dijadikan bioindikator pencemaran air. Nimfa
capung memangsa jentik-jentik nyamuk, ikan-ikan kecil dan lain-lain. Nimfa setelah
berganti kulit 10-15 kali menjadi nimfa tua (mature). Nimfa ini kemudian memanjat
batang tanaman air atau benda lain keluar air, dan berhenti bertengger di batang tersebut.
Dalam beberapa hari proses menjadi capung telah sempurna dan capung keluar dengan
menyobek kulit nimfa tua (Rahadi dkk, 2013 dalam Rismayani, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
Hidayah, S.N.I. (2008). Keanekaragaman Dan Aktivitas Capung (Ordo : Odonata) Di
Kebun Raya Bogor. ITB: Bogor
Rohma, A. (2012). Keanekaragaman Jenis dan Distribusi Capung (Odonata) di Kawasan
Kars Gunung Sewu Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah. UNY: Yogyakarta.
Rismayani, Y. (2018). Keanekaragaman Capung (Odonata) Di Kubu Perahu Taman
Nasional Bukit Barisan Selatan. Universitas Lampung: Lampung.