0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan8 halaman

Pohon Masalah Resiko Bunuh Diri

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan keperawatan jiwa mengenai resiko bunuh diri. Terdapat penjelasan mengenai definisi, penyebab, manifestasi klinis, akibat, dan penatalaksanaan resiko bunuh diri. Penatalaksanaannya meliputi psikoterapi, psikofarmaka, pohon masalah, diagnosis keperawatan, dan fokus intervensi keperawatan baik pada pasien maupun keluarga.

Diunggah oleh

azizah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan8 halaman

Pohon Masalah Resiko Bunuh Diri

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan keperawatan jiwa mengenai resiko bunuh diri. Terdapat penjelasan mengenai definisi, penyebab, manifestasi klinis, akibat, dan penatalaksanaan resiko bunuh diri. Penatalaksanaannya meliputi psikoterapi, psikofarmaka, pohon masalah, diagnosis keperawatan, dan fokus intervensi keperawatan baik pada pasien maupun keluarga.

Diunggah oleh

azizah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA

“RESIKO BUNUH DIRI”

Disusun oleh :
Noor Azizah ( 30901501959)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2017
LAPORAN PENDAHULUAN

A. MASALAH
Resiko Bunuh Diri

1. Pengertian

Resiko bunuh diri adalah resiko untuk menciderai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan. Perilaku resiko bunuh diri disebabkan karena stress yang
tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam mekanisme koping yang
digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alas an individu kehidupan adalah
kegagalan dalam beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan
terisolisasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal atau gagal
dalam melakukan hubungan yang berart, perasaan marah atau bermusuhan. (
Stuart, 2008 )

2. Penyebab
Ada beberapa factor penyebab dari resiko bunuh diri
a. Factor predisposisi
1. Diagnostic psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara
bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang
dapat membuat individu beresiko unruk melakukan tindakan bunuh diri
adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizorfrenia
2. Sifat kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya rsiko bunuh
diri adalah antipasti, impilsif, dan depresi
3. Lingkungan psikososial
Factor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan social, kejadian-kejadian
negative dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau bahkan
penceraian.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor
penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunh diri.
5. Factor biokimia
Data menunjukan bahwa pada klien dengan resiko bunh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat didalam otakseperti serotonin,
adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui
rekaman gelombang otak Encephalo Graph ( EEG )
b. Factor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Factor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri. Bagi
individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan
c. Mekanisme koping
Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunh diri, termasuk denial, rasionalisatoin,
regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada
seharusnya tidak direntang tanpa memberikan koping alternative

3. Manifestasi Klinik
a. Sedih
b. Marah
c. Putus asa
d. Tidak berdaya
e. Memberikan isyarat verbal maupun non verbal

4. Akibat
Klien dengan resiko bunuh diri dapat melakukan tindakan-tindakan berbahaya
atau menciderai dirinya sendiri., orang lain maupun lingkungannya, seperti
menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah dll.
Tanda gejala dari akibat resiko bunuh diri :
a. Memperlihatkan permusuhan
b. Keras dan menuntut
c. Mendekati orang lain dengan ancaman
d. Memberi kata-kata ancaman
e. Menyentuh orang lain dengan menakutkan
f. Rencana melukai diri sendiri

5. Penatalaksanaan
1. Psikoterapi
a. Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku distruktif yang dirahkan
pada diri sendiri :
 Kaji tingkatan resiko yang dialami pasien : tinggi, sedang, rendah
 Kaji level long-term risk yang meliputi : life style, dan dukungan
social yang tersedia
b. Berikan lingkungan yang aman berdasarkan tingkatan resiko, menegemen
untuk klien yang memilikiresiko tinggi :
 Mengidentifikasi dan mengamankan benda-benda yang dapat
membahayakan klien misalnya, misalnya : pisau, gunting, tas
plastic
 Membuat kontrak baik lisan maupun tertulis dengan perawat untuk
tidak melakukan tindakan yang menciderai diri
c. Membantu meningkatakan harga diri klien
 Tidak menghakimi dan empati
 Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
 Mendorong berfikir positif dan berinteraksi dengan orang lain
 Berikan jadwal aktifitas harian yang terencana untuk klien dengan
control impuls yang rendah
 Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku yang
diindikasikan
d. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
 Informasi kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien
membutuhkan dukungan social yang adekuat
 Bersama pasien menulis daftar dukungan social yang dipunyai
termasuk jejaring social yang bisa diakses
 Dorong klien untuk melakukan aktifitas sosial
e. Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positif
 Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
 Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh
diri
 Bantu klien untuk mengetahui factor predisposisi
 Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
 Eksplorasi perilaku alternative
 Gunakan modifikasi yang sesuai
 Bantu klien untuk mengidentifikasi pola piker yang negative dan
mengarahkan secara langsung untuk merubahnya yang rasional
f. Initiate health teaching dan rujukan, jika di indikasikan
 Memberikan pelajaran yang menyiapkan orang mengatasi stress
 Mengajari keluarga technique limit setting
 Mengajari keluarga ekspresi perasaan yang konstruktif
2. Psikofarmaka
a. Golongan anti psikotik
Obat-obatan ini digunakan untuk menghilangkan gejala psikotik seperti
waham, halusinasi dan resiko bunuh diri, contohnya :
 Chlorpromazine
 Trifluoperazine
 Fluphenazine
 Pimozide
 olanzapine
b. Golongan anti cemas
Obat ini digunakan untuk rasa cemas
 Gama acid amino biturat
 Diazepam
 Clobazam
 lorazepam
c. Golongan anti depresi
Obat ini sangat dianjurkan untuk klien yang mengalami depresi dan resiko
bunuh diri
 Amitriptyline
 Imipramine
 Clomipramine
 Amoxapime
 Duloxetile
 Paroxetine
 mianserine
d. Golongan anti maniak
Obat ini mengandung toxik dan lethal oleh sebab itu perlu pemantauan
 Diphenhydramine

6. Pohon Masalah

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Resiko bunuh diri

Harga diri rendah

7. Asuhan keperawatan
a. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1. Pengkajian factor resiko perilaku bunuh diri
a. Jenis kelamin : resiko meningkat pada pria
b. Usia : lebih tua masalah semakin banyak
c. Status perkawinan : meninkah dapat menurunkan resiko. Hidup sendiri
merupakan masalah
d. Riwayat keluarga : meningkat apabila ada keluarga dengan percobaan
bunuh diri/penyalahgunaan zat
e. Pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi ) : kehilangan orang yang
dicintai, Pengangguran, mendapat malu dilingkungan
f. Factor kepribadian : lebih sering pada kepribadian introvert/menutup
diri
g. Lain-lain : penelitian membuktikan bahwa Ras kulit putih lebih
beresiko mengalami perilaku bunuh diri
b. Diagnose keperawatan
1. Resiko bunuh diri
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
3. Resiko menciderai orang lain
c. Focus intervensi keperawatan
 Pada pasien
1. SP I p
a. Melakukan kontrak treatment
b. Melatih cara mengendalikan dorongan bunuh diri
c. Mendiskusikan benda-benda yang dapat membahayakan pasien
d. Mendiskusikan cara mengamankan benda-benda yang dapat
membahayakan pasien
2. SP II p
a. Mengidentifikasi aspek positif pasien
b. Mendorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri
c. Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang
berharga
3. SP III p
a. Mengidentufikasi pola koping yang bisa diterapkan pasien
b. Menilai pola koping yang bisa dilakukan
c. Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
d. Mendorng pasien memilih pola koping yang konstruktif
e. Menganjurkan pasien mererapkan pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian
4. SP IV p
a. Membuat rencana masa depan yang merealistis bersama pasien
b. Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis
c. Memberi dorongan pasien melakukan kegiatan dalam rangka
meraih masa depan yang realistis

 Pada keluarga
1. SP I k
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian RBD, tanda dan gejala, serta proses
terjadinya RBD
c. Menjelaskan cara merawat pasien dengan RBD
2. SP II k
a. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan
RBD
3. SP III k
a. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada
pasien RBD
4. SP IV k
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah
termasuk minum obat ( discharge planning )
b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
Daftar pustaka

Achlis ( 2011 ). Praktek pekerjaan social I, Bandung: sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial,
hal. 22

Firestone, Robert W. (2007). Suicide and the inner voice: RISK Assesment, Treatment, and
Case Management. Los Angles: SAGE Publications. Hal.12

CAPTAIN, C, (2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy, volume 6 (3)

Anda mungkin juga menyukai