0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan8 halaman

Dampak Kornea Guttata pada Katarak

Penelitian ini menunjukkan bahwa kerja malam hari dapat memperburuk gejala mata kering dan ketidakstabilan film air mata. Temuan ini dapat berfungsi sebagai alat yang berharga dalam praktik klinis, khususnya, ketika memutuskan untuk melakukan operasi katarak dan cara memberi tahu pasien tentang manfaat dan risiko bedah. Diplopia restriktif merupakan komplikasi potensial setelah eksisi pterigium, terutama

Diunggah oleh

firman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan8 halaman

Dampak Kornea Guttata pada Katarak

Penelitian ini menunjukkan bahwa kerja malam hari dapat memperburuk gejala mata kering dan ketidakstabilan film air mata. Temuan ini dapat berfungsi sebagai alat yang berharga dalam praktik klinis, khususnya, ketika memutuskan untuk melakukan operasi katarak dan cara memberi tahu pasien tentang manfaat dan risiko bedah. Diplopia restriktif merupakan komplikasi potensial setelah eksisi pterigium, terutama

Diunggah oleh

firman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Judul Jurnal : The impact of corneal guttata on the results of cataract surgery

Latar Belakang : Endotelium kornea adalah lapisan terdalam dari kornea dan memiliki
fungsi penting dalam menjaga kornea tetap transparan dengan
memompa kelebihan cairan pada stroma. Guttata kornea sentral primer
dikaitkan dengan ekskresi abnormal dari membran basal dan kolagen
fibrilar yang dihasilkan oleh sel endotelium yang rusak.
Tujuan : Untuk mempelajari dampak guttata kornea pada ketajaman visual
pasca operasi dan fungsi visual yang dinilai sendiri oleh pasien setelah
operasi katarak.
Metodologi : Retrospective dengan study cross-sectional,
Data dari pasien yang menjalani operasi katarak pada tahun 2010
hingga 2017 yang telah mengisi kuesioner Catquest-9SF diperoleh dari
Swedish National Cataract Register. Menggunakan model penelitian
Regresi logistic propotional untuk mengetahui dampak korneal gutata
pada ketajaman visual dan fungsi visual yang dinilai sendiri.
Karateristik yang digunakan adalah Usia, Jenis Kelamin, komorditas
ocular, control ulang, preoperasi corrected distance visual acuity
(CDVA) dan Rasch Person Score. Dengan hasil penelitian berdasarkan
CDVA pasca operasi dan skor orang Rasch yang dihitung dari
kuesioner Catquest-9SF.
Hasil : Data penelitian terdiri dari 33.741 pasien. Operasi katarak sangat
meningkatkan CDVA post operasi dan fungsi visual yang dinilai
sendiri pada pasien dengan dan tanpa kornea guttata. Namun, kornea
guttata secara signifikan dikaitkan dengan ketajaman visual yang lebih
buruk dan fungsi visual yang dinilai sendiri lebih buruk setelah operasi
katarak. Efek negatif dari kornea guttata pada ketajaman visual paling
menonjol selama 3 minggu pertama pasca operasi, tetapi bertahan
setidaknya 3 bulan pasca operasi.
Kesimpulan : Pasien dengan kornea guttata mendapat manfaat besar dari operasi
katarak tetapi memiliki risiko tambahan untuk hasil yang lebih rendah
dibandingkan dengan pasien tanpa kornea guttata.
Rangkuman dan : Temuan ini dapat berfungsi sebagai alat yang berharga dalam praktik
Hasil Pembelajaran klinis, khususnya, ketika memutuskan untuk melakukan operasi
katarak dan cara memberi tahu pasien tentang manfaat dan risiko
bedah.

Judul Jurnal : Identification and Correction of Restrictive Strabismus After


Pterygium Excision Surgery
Latar Belakang : Pterygium adalah proliferasi fibrovaskular superfisial jinak yang
membentang dari konjungtiva ke kornea. Eksisi pterigium umumnya
efektif dalam menghilangkan pertumbuhan dan mengurangi gejala
yang terkait, seperti iritasi permukaan mata dan astigmatisme yang
diinduksi. Strabismus restriktif dan diplopia jarang terjadi setelah
operasi pterigium, namun sedikit yang diketahui tentang komplikasi
ini, dengan hanya beberapa laporan kasus dalam literature.
Tujuan : Untuk melaporkan karakteristik pasien dengan diplopia restriktif
setelah eksisi pterigium dan pendekatan pengobatan yang berhasil
untuk strabismus.
Metodologi : Retrospective dengan study interventional,
Penelitian ini dilakukan pada lembaga akademik tunggal dan termasuk
15 pasien dengan diplopia restriktif setelah eksisi pterigium. Pasien
dengan alasan lain untuk strabismus dikeluarkan. Pasien dievaluasi
untuk defisit dengan perhatian khusus pada tindakan diplopia.
Intervensinya merupakan prosedur gabungan oleh ahli strabismologis
dan ahli bedah okuloplastik untuk memperbaiki diplopia. Pengukuran
hasil utama adalah peningkatan subjektif dan obyektif dari diplopia.
Hasil : Lima belas pasien (usia rata-rata [49 tahun) yang mengalami diplopia
setelah eksisi pterigium dimasukkan. Waktu rata-rata untuk diplopia
adalah 6 bulan. Semua pasien memiliki penglihatan terbatas pada mata
yang dioperasikan sebelumnya yang menyebabkan esotropia di
lapangan penglihatan (mean deviasi [18 prismdiopters). Setelah
intervensi, semua pasien tidak lagi diplopia dalam penglihatan primer.
Di lapangan penglihatan, 11 (73%) pasien memiliki sisa esotropia
sudut kecil (mean deviasi [7 prisma dioptri] hanya di ujung-ipsilateral
ekstrem. Hanya 2 pasien yang memerlukan intervensi bedah tambahan
untuk mengangkat jaringan parut. Tidak ada pasien yang menjalani
resesi rektus medial.
Kesimpulan : Diplopia restriktif merupakan komplikasi potensial setelah eksisi
pterigium, terutama untuk pasien dengan riwayat pterigium rekuren
yang membutuhkan beberapa eksisi. Namun, diplopia setelah eksisi
pterigium pada posisi primer dapat diperbaiki dengan pembedahan
jaringan parut dan rekonstruksi permukaan okular, tanpa perlu resesi
rektus medial.
Rangkuman dan : Mengingat tingginya volume eksisi pterigium, kesadaran mengenai
Hasil Pembelajaran strabismus restriktif pasca operasi dan potensi koreksi sangat penting.
Bekas luka di konjungtiva dan jaringan ikat yang berdekatan dapat
menjadi luas dan menyebabkan penyimpangan horizontal dan vertikal,
tetapi pembedahan/pengangkatan jaringan parut yang luas dan
rekonstruksi permukaan okular dapat menyelesaikan keterbatasan
tanpa memerlukan intervensi pada otot ekstraokular itu sendiri.

Judul Jurnal : Dry eye signs and symptoms in night-time workers


Latar Belakang : Mata kering adalah penyakit multifaktorial dari air mata dan
permukaan okuler yang mengakibatkan gejala ketidaknyamanan, iritasi
pada mata dan gangguan visual. Penyakit ini disertai dengan
peningkatan osmolaritas air mata, ketidakstabilan film air mata dan
peradangan permukaan okuler dengan potensi kerusakan pada
permukaan mata. Kurang tidur dikaitkan dengan perubahan sistem
otonom dan endokrin seperti peningkatan tekanan darah dan penurunan
saraf parasimpatis dan peningkatan sekresi hormon stres seperti
norepinefrin dan kortisol. Karena sekresi air mata berada di bawah
kontrol neuronal dan hormonal, kurang tidur dapat berpotensi merusak
kualitas atau kuantitas film air mata. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengevaluasi gejala mata kering dan perubahan indeks air mata
pada pekerja malam hari.
Tujuan : Untuk menentukan efek kerja malam hari pada tanda dan gejala mata
kering.
Metodologi : cross-sectional study,
Sebanyak 50 subyek sehat menyelesaikan kuesioner dry eye syndrome
dan menjalani pemeriksaan klinis termasuk test Schirmer dan tear
breakup time (TBUT) test pada dua hari berturut-turut, sebelum dan
sesudah shift malam (shift malam 12 jam)
Hasil : Semua dry eye syndrome diperburuk secara signifikan setelah shift
malam (P <0,05). Kemerahan konjungtiva meningkat setelah shift
malam (P ¼ 0,001). TBUT berkurang secara signifikan setelah shift
malam (8,06 vs 10,98 s) (P ¼ 0,001). Schirmer test meningkat setelah
shift malam dibandingkan dengan nilai sebelum shift (19,04 vs 17,34
mm) (P ¼ 0,037).
Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa kerja malam hari dapat
menyebabkan ketidakstabilan film air mata dan eksaserbasi dry eye
syndrome.
Rangkuman dan : Penelitian ini menunjukkan bahwa kerja malam hari dapat
Hasil Pembelajaran memperburuk gejala mata kering dan ketidakstabilan film air mata.
Oleh karena itu, pekerja malam hari perlu perhatian khusus untuk
mencegah timbulnya atau perburukan penyakit. Penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk menilai film air mata dan perubahan biokimia untuk
menggambarkan temuan penelitian ini.
Judul Jurnal : Predictors of Neovascular Glaucoma in Central Retinal Vein Occlusion
Latar Belakang : Central Retinal Vein Occlusion (CRVO) diklasifikasikan dalam jenis
iskemik dan non-iskemik tergantung pada area iskemia retina. Kasus
paling banyak adalah non-iskemik sebanyak 81 % kasus dan beresiko
kecil untuk terjadinya komplikasi neovaskular. Neovaskular Glaucoma
(NVG) terjadi sebanyak 20% pada Central Retinal Vein Occlusion
(CRVO) yang iskemik.
Tujuan : Untuk menentukan faktor risiko terjadinya Neovaskular Galukoma
(NVG) pada pasien Central Retinal Vein Occlusion (CRVO).
Metodologi : Retrospective dengan cohort study.
Data dari rekam medis 646 pasien dengan diagnosis CRVO antara
2013 dan 2017 di Bascom Palmer Eye Institute. Kriteria inklusi: (1)
CRVO dengan onset gejala <90 hari; (2) tidak adanya neovaskularisasi
segmen anterior; (3) tidak ada injeksi intravitreal anti–vascular
endothelial growth factor (anti-VEGF). Pasien yang memenuhi kriteria
inklusi dinilai adanya faktor risiko potensial untuk mengalami NVG.
Risiko mengalami NVG dinilai dengan analisis Kaplan-Meier survival
and Cox proportional hazards models.
Hasil : Tiga belas dari 98 pasien (13%) yang memenuhi kriteria inklusi
mengalami NVG. Waktu yang disesuaikan rata-rata untuk diagnosis
NVG dari timbulnya gejala terkait CRVO adalah 212 hari. Pasien
dengan ketajaman penglihatan yang buruk sejak awal (P [0,034), cacat
aferen pupillary relatif (RAPD) (P [0,002), atau riwayat hipertensi
sistemik (P [0,026) memiliki risiko mengalami NVG. Usia, indeks
massa tubuh, riwayat glaukoma, riwayat diabetes, dan ketebalan retina
sentral tidak signifikan terkait dengan terjadinya NVG.
Kesimpulan : Faktor risiko untuk terjadinya NVG termasuk riwayat hipertensi
sistemik, ketajaman visual yang lebih buruk sejak awal, dan RAPD.
Pasien yang datang dengan temuan ini harus diikuti secara ketat dan
diinformasikan tentang risiko yang lebih besar untuk terjadinya
neovaskularisasi. Terapi anti-VEGF intravitreal dapat menunda tetapi
tidak mencegah NVG.
Rangkuman dan : Neovaskular Glaukoma adalah komplikasi CRVO yang berhubungan
Hasil Pembelajaran dengan hasil visual yang buruk, tetapi hasil kami menunjukkan bahwa
pengukuran ketebalan retina sentral tidak boleh digunakan sebagai
prediktor risiko NVG di masa depan. Faktor-faktor klinis seperti
riwayat hipertensi sistemik, ketajaman visual yang buruk, dan RAPD,
dapat membantu dokter dalam deteksi dini pasien dalam hal risiko
terjadinya NVG. Klasifikasi semacam itu akan membantu
mengidentifikasi mereka yang membutuhkan tindak lanjut lebih sering
atau lebih awal, PRP atau terapi anti-VEGF. Suntikan anti-VEGF,
meskipun efektif dalam memperbaiki edema makula, secara fungsional
dapat menunda timbulnya NVG dan tidak boleh dilihat sebagai terapi
kuratif pada pasien dengan CRVO.

Judul Jurnal : Anti–Vascular Endothelial Growth Factor Therapy for Diabetic


Retinopathy: Consequences of Inadvertent Treatment Interruptions
Latar Belakang : Retinopati Diabetik Proliferatif (PDR) merupakan penyakit progresif,
dan mata yang terkena dapam memberikan dampak yang sangat parah
pada tajam penglihatan, seperti traksi ablasi retina (TRD) dan
glaukoma neovaskular(NVG), kecuali jika pemulihan permanen
tercapai atau pemulihan sementara diperbarui dan dipertahankan
dengan perawatan berkelanjutan. Penelitian telah menunjukkan bahwa
terapi anti-VEGF dapat mencegah perkembangan retinopati diabetik
(DR) dan bahkan mengarah pada perbaikkan skor keparahan retinopati.
Namun, hasil klinis ini diperoleh dalam pengaturan uji klinis acak yang
dikontrol ketat. Sebaliknya, dalam dunia nyata, pasien diabetes sering
tidak melakukan perawatan mata dan rentan terhadap penghentian
pengobatan.
Tujuan : Untuk menggambarkan bahwa pasien dengan retinopati diabetic yang
dirawat secara eksklusif dengan Anti–Vascular Endothelial Growth
Factor (VEGF) dapat mengalami keparahan penyakit yang berdampak
dengan potensi rusaknya daya penglihatan jika pengobatannya
terganggu.
Metodologi : Retrospective, studi multicenter, studi kasus
Ulasan pasien yang pernah dirawat secara eksklusif dengan terapi anti-
VEGF pada proliferatif retinopati diabetik (PDR) atau diabetic
nonproliferatif retinopati diabetik (NPDR), dengan atau tanpa edema
makula diabetik (DME) yang pengobatannya terganggu. Karateristik
penyakit yang mendasari, penyebab dan durasi penghentian
pengobatan, dan perkembangan penyakit,komplikasi, dan hasil yang
didapatkan.
Hasil : Tiga belas mata dari 12 pasien dengan diabetes tipe 2 diidentifikasi.
Usia rata-rata adalah 57 ± 10 tahun, dan 50% adalah perempuan.
Terapi anti-VEGF diindikasikan untuk PDR dengan DME 7
mata(54%), PDR tanpa DME 3 mata(23%) , dan sedang hingga berat
NPDR dengan DME 3 mata (23%). Delapan mata memiliki ketajaman
visual 20/80 atau lebih baik sebelum penghentian pengobatan. Durasi
rata-rata penghentian pengobatan adalah 12 bulan. Alasan untuk
penghentian pengobatan termasuk penyakit menular (31%),
ketidakpatuhan (31%), dan masalah keuangan (15%). Komplikasi
termasuk perdarahan vitreous (9 mata), glaukoma neovaskular (5
mata), dan ablasi retina traksi (4 mata). Meskipun ada pengobatan
untuk komplikasi ini, 77% mata kehilangan baris tajam penglihatan >
3 baris, dengan 46% tajam penglihatan dengan gerakan tangan atau
lebih buruk.
Kesimpulan : Pasien diabetes merupakan subjek susah untuk mengontrol
pengobatannya karena penyakit, kesulitan keuangan, atau
ketidakpatuhan. Pada pasien dengan retinopati diabetik, terutama PDR,
yang dikelola dengan terapi anti-VEGF saja, penghentian pengobatan
yang tidak disengaja dapat mengakibatkan kebutaan yang tidak dapat
disembuhkan.
Rangkuman dan : Terapi anti-VEGF dan PRP adalah modalitas pengobatan yang efektif
Hasil Pembelajaran untuk PDR, konsekuensi yang berpotensi parah dari gangguan dalam
terapi anti-VEGF di mata ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati
ketika membuat keputusan pengobatan awal.

Anda mungkin juga menyukai