0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan30 halaman

Jenis-Jenis Sapi dan Ciri-Cirinya

Dokumen tersebut membahas beberapa jenis sapi lokal Indonesia seperti Sapi Ongole, Sapi Peranakan Ongole, Sapi Madura, Sapi Bali, Sapi Brahman, Sapi Limousin, Sapi Simental, dan Sapi Friesian Holstein. Setiap jenis sapi memiliki ciri khas tersendiri seperti warna bulu, ukuran, dan keunggulan masing-masing. Sapi lokal tersebut memiliki peran penting bagi peternakan di Indonesia.

Diunggah oleh

Fatimah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan30 halaman

Jenis-Jenis Sapi dan Ciri-Cirinya

Dokumen tersebut membahas beberapa jenis sapi lokal Indonesia seperti Sapi Ongole, Sapi Peranakan Ongole, Sapi Madura, Sapi Bali, Sapi Brahman, Sapi Limousin, Sapi Simental, dan Sapi Friesian Holstein. Setiap jenis sapi memiliki ciri khas tersendiri seperti warna bulu, ukuran, dan keunggulan masing-masing. Sapi lokal tersebut memiliki peran penting bagi peternakan di Indonesia.

Diunggah oleh

Fatimah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JENIS-JENIS SAPI

SAPI ONGOLE

CIRI - CIRI :
1. Warna kulit putih kelabu.
2. Berpunuk kecil.
3. Tinggi dan ramping.
4. Bercincin mata hitam di sekitar mata.
5. Moncong, rambut ekor dan kuku berwarna hitam.
6. Gelambir dari bawah mandibula sampai dada.
7. Pada kaki sering tampak lingkaran warna gelap
8. Pita yang mengelilingi bagian di atas kuku.
9. Kepala terangkat
10. Dahi cembung
11. Tanduk pendek.
12. Warna straw biru muda.
KEUNGGULAN :
1. Tahan terhadap panas karena permukaan kulit luas dengan adanya gelambir yang
besar.
2. Berkaki kuat dan lurus.
3. Daya tahan untuk kerja sangat baik.
4. Mampu adaptasi terhadap kualitas pakan yang jelek.

1
Peranakan Ongole (PO)

Dikutip dari laman Kementerian Pertanian Republik Indonesia, diketahui


bahwa Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan sapi hasil persilangan antara pejantan
Sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Jawa yang berwarna putih. Saat ini sapi
Peranakan Ongole yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan
dengan sapi Brahman dan sapi eksotik lainnya, sehingga Sapi Peranakan Ongole sering
diartikan sebagai Sapi Lokal / Sapi Jawa / Sapi Putih. Sapi Peranakan Ongole (PO)
sudah banyak dikenal oleh masyarakat, karena sebaran populasinya tersebar di seluruh
wilayah Indonesia.

Sapi Peranakan Ongole terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja dan
menjadi salah satu primadona utama yang paling banyak dicari di pasaran karena
mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan,
memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal
setelah beranak serta jantannya memiliki kualitas semen yang baik.

Sapi PO telah ditetapkan sebagai salah satu rumpun sapi lokal Indonesia dengan
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2841/Kpts/LB.430/8/2012 tentang Penetapan
Rumpun Sapi Peranakan Ongole. Untuk mendukung usaha pembibitan Sapi Peranakan
Ongole , juga telah dibuat standar bibit Sapi Peranakan Ongole dengan nomor SNI
7356:2008. Standar ini ditetapkan sebagai acuan bagi peternak dalam upaya
mengembangkan Sapi Peranakan Ongole baik kualitas maupun kuantitasnya.

Adapun karakteristik Sapi Peranakan Ongole adalah sebagai berikut:

Penampilan Fisik

2
Secara fisik Sapi Peranakan Ongole mempunyai ciri-ciri yang hampir sama dengan
Sapi Ongole hanya saja ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan Sapi
Ongole. Berikut adalah ciri- ciri fisik dari Sapi Peranakan Ongole :

1. Warna bulunya bervariasi, tetapi kebanyakan berwarna putih atau putih keabu-
abuan

2. Warna bulu putih abu-abu baru muncul ketika lepas sapih

3. Pada jantan kadang dijumpai bercak-bercak berwarna hitam pada lututnya

4. Mata besar dan terang

5. Bulu sekitar mata berwarna hitam

6. Bulu jambul ekor berwarna hitam

7. Bentuk kepala pendek melengkung

8. Telinga panjang dan menggantung

9. Perut agak besar

10. Bergelambir longgar dan menggantung

11. Punuk besar

12. Leher Pendek

13. Tanduk Pendek

Pertumbuhan

Tinggi Sapi Peranakan Ongole jantan berkisar 150 cm dengan berat badan
mencapai 600 Kg. Sementara itu, betina memiliki tinggi badan berkisar 135 cm dan
berat badan 450 Kg. Pertambahan bobot badan Sapi Pernakan Ongole dapat mencapai
0,9 Kg per hari dengan kualitas karkas mencapai 45 – 58%. Rasio daging dengan
tulangnya adalah 1 : 423.

Keunggulan Sapi Peranakan Ongole

3
1. Mampu berdaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan

2. Cepat bereproduksi

3. Tempramen bagus

4. Tahan terhadap ekto dan endoparasit

5. Pertumbuhan relatif cepat

6. Presentase karkas dan kualitas daging baik

7. Aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak

8. Jantannya memiliki kualitas semen yang baik

Sapi Madura

Ada 2 pendapat mengenai asal-usul dari jenis sapi lokal ini (Sapi Madura), yaitu
Pendapat yang pertama, disebutkan bahwa Sapi Madura adalah hasil dari persilangan
antara Bos sondaicus (yang menurunkan ciri-ciri sapi berpunuk) dengan Bos indicus
(yg memberikan warna pada bulu). Pendapat yang kedua Sapi Madura adalah hasil dari
perkawinan silang antara indukan Bos taurus dengan pejantan Bos indicus. Hal ini bisa
kita lihat dengan kemiripan Sapi Madura dengan Bos taurus. Untuk Sapi Madura betina
dengan kualitas bagus mempunyai peran sebagai induk betina untuk diambil anaknya
atau keturunannya.

Ciri-ciri
Berikut ini adalah ciri-ciri sapi madura:

4
1. Baik Sapi madura Jantan maupun betina berwana coklat terang.

2. Pada bagian bawah kaki berwarna putih.

3. Tanduk agak pendek.

4. Pada betina tanduk agak kecil dan pendek biasa nya berukuran sekitar 10
centimeter.

5. Pada sapi madura jantan berukuran 15 - 20 centimeter.

6. Panjang badannya mirip seperti sapi bali tetapi sapi madura mempunyai punuk
walaupun punuknya berukuran kecil.

Beberapa Keunggulan atau Kelebihan Sapi Madura yaitu sebagai berikut:

1. Sapi Madura mudah dipelihara / diternak.

2. Mudah dikembangbiakan

3. Sapi Madura juga sangat tahan terhadap berbagai macam penyakit

4. Warna daging sapi Madura merah cerah, berserat halus, rendah lemak dan
sangat empuk.

Keunggulan / Kelebihan sapi madura lainnya, yaitu : karkas (berat daging tanpa
kepala, jerowan, kaki dan kulit) daging sapi Madura dapat mencapai 48 % dari bobot
badannya.

Sapi BAli

5
Pedet jantan maupun betina sejak lahir hingga berumur 1,5 tahun memiliki
warna bulu sawo matang kemerahan. Namun setelah berumur 1,5 tahun keatas warna
bulu pedet jantan berubah menjadi hitam hingga dewasa. Sedangkan sapi betina tetap
berwarna merah. Warna hitam dapat berubah menjadi merah bata jika dikastrasi,
karena pengaruh hormon testosteron. Sedangkan warna bulu sapi betina tidak akan
berubah.

Pada punggung sapi bali akan selalu ditemukan garis belut, yaitu bulu hitam
yang membentuk garis memanjang dari gumba hingga pangkal ekor, dan ini akan
ditemukan pada sapi jantan maupun betina. Selain itu bulu pada kaki yang berada di
bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih.

Warna bulu putih juga terdapat pada bibir bagian atas dan bawah, ujung ekor
dan tepi daun telinga. Terkadang juga akan dijumpai diantara bulu badan yang
berwarna coklat, berupa bintik putih, namun ini merupakan penyimpangan genetik
yang hanya berkisar 1% dari populasi. Kulit berwarna putih juga akan dijumpai pada
bagian pantat dan paha bagian dalam berbentuk oval (white mirror).

Ciri Fisik

Sapi bali mempunyai ciri badan berukuran sedang dan bentuk badan yang
memanjang, kepala agak pendeh dengan dahi datar, badan padat dengan dada yang
dalam, tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir. Sapi bali berkaki ramping, agak
pendek menyerupai kaki kerbau. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya
berwarna hitam. Tanduk pada sapi bali jantan tumbuh agak keluar kepala, sebaliknya
untuk betina tumbuh condong ke dalam.

6
SAPI BRAHMAN

Ciri – ciri
1. Warna kulit putih atau keabu-abuan.
2. Berpunuk dan gelambir.
3. Bentuk tubuh kekar, kompak dan berotot.
4. Cocok terhadap daerah yang beriklim panas dan bercurah hujan tinggi.
5. Warna straw biru tua.
KEUNGGULAN
1. Tidak mempunyai masalah dalam: melahirkan, penyakit mata dan tahan terhadap
"footroot".
2. Tahan terhadap parasit internal (cacing) dan parasit eksternal (caplak), penyakit
kembung perut (Bloat).

SAPI LIMOUSIN

Ciri – ciri
1. Warna seluruhnya coklat muda, kuning agak kelabu (biege), kisaran merah gelap

7
dan hitam.
2. Badan kompak dan padat
3. Cocok pada daerah dengan curah hujan tinggi.
4. Cocok di daerah dengan iklim sedang.
5. Warna straw pink.
KEUNGGULAN
1. Pertumbuhan cepat dengan pertambahan berat badan harian (PBBH) 1,0 - 1,4 kg.
2. Umur 2 tahun 800 - 900 kg.
3. Dewasa 1.000 - 1.100 kg.
4. Kualitas daging baik.
5. Dikenal dan disukai peternak.
SAPI SIMENTAL

CIRI - CIRI :
1. Muka putih dan badan berwarna merah bata.
2. Berat jantan dewasa 1.000 - 1.200 kg.
3. Berat badan sapi betina 700 - 800 kg.
4. Karkas tinggi dengan sedikit lemak
5. Dual porpose (daging dan susu).7. Berkembang baik hampir di seluruh daerah di

Indonesia.

8
SAPI PFH

1. Bulunya berwarna hitam dengan bercak putih.


2. Bulu ujung ekor berwarna putih.
3. Bulu bagian bawah dari carpus (bagian kaki) berwarna putih atau hitam dari
atas turun ke bawah.
4. Mempunyai ambing yang kuat dan besar
5. Tenang, jinak sehingga mudah dikuasai
6. Berat sapi jantan1.000 kg dan sapi betina 650 kg.
7. Lambat menjadi dewasa
8. Sapi tidak tahan panas, namun mudah untuk beradaptasi.
9. Pada dahinya terdapat warna putih berbentuk segitiga.
10. Kepala panjang dan sempit dengan tanduk pendek dan menjurus ke depan.
11. Pada jenis Brown Holstein, bulunya berwarna coklat atau merah dengan putih.

Sapi Friesian Holstein merupakan jenis sapi perah dengan kemampuan produksi
susu tertinggi dengan kadar lemak lebih rendah dibandingkan bangsa sapi perah lainya.
Produksi susu sapi perah Friesian Holstein di negara asalnya mencapai 6.000-8.000
kg/ekor/laktasi, di Inggris sekitar 35% dari total populasi sapi perah dapat mencapai
8.069 kg/ekor/laktasi.

9
Sapi perah Friesian Holstein masuk ke Indonesia dibawa oleh Hindia Belanda pada
tahun 1891-1893 dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas sapi perah lokal. Sapi
perah Friesian Holstein murni telah ada di Jawa Barat sejak tahun 1900, tepatnya di
daerah Cisarua dan Lembang. Dari kedua daerah inilah sapi perah Friesian Holstein
kemudian menyebar ke beberapa daerah di Jawa Barat.

Sayangnya, produksi susu yang dihasilkan oleh sapi perah Friesian Holstein di
Indonesia ternyata lebih rendah, berkisar antara 3000-4000 liter per laktasi. Produksi
rata-rata sapi perah di Indonesia hanya mencapai 10,7 liter per ekor per hari (3.264 liter
per laktasi).

Susu, adalah hasil akhir dari rangkaian proses fisiologis yang kompleks dan
berulang sehingga terjadi banyak macam interaksi yang berperan dalam menentukan
produksi susu. Interaksi yang mempengaruhi produksi susu di antaranya hereditas dan
lingkungan.

Faktor lingkungan memegang peranan penting terhadap proses fisiologis


dalam tubuh ternak sehingga pada gilirannya akan mempengaruhi kapasitas produksi
susu. Pada daerah tropis produksi yang dihasilkan bergantung pada :
1. Teknis pemeliharaan.
2. Kualitas pakan.
3. Ketinggian tempat sapi tersebut dipelihara (iklim).
4. pembibitan (pemilihan pembibitan dara dan pemilihan pembibitan pejantan).

10
JENIS – JENIS KAMBING

Kambing Etawah

Bangsa kambing perah Etawah atau Jamnampari merupakan kambing popular


dan tersebar luas sebagai kambing perah (susu) di India, Asia Tenggara dan di daerah-
daerah lain. Kambing ini mempunyai telinga yang lebar dan panjang serta
menggantung.

Kambing perah Etawah merupakan kambing perah yang baik dan juga sering
digunakan sebagai produsen daging. Warna bulunya bervariasi dengan warna dasarnya
putih, coklat dan hitam. Telinga menggantung dan panjangnya ± 30 cm. Ambing
biasanya berkembang baik. Berat badannya yang jantan 68-91 kg, sedang yang betina
36-63 kg. produksi susu dapat mencapai 235 kg dalam periode laktasi 261 hari dan
produksi susu tertinggi tercatat 569 kg. kadar lemak rata-rata 5,2% karkas kambing
jantan dan betina umur 12 bulan dapat mencapai 44-45% berat hidup (Blakely,1991).

Kambing PE (Peranakan Etawa)

Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa


dengan kambing lokal/Kacang, dengan tujuan lebih mampu beradaptasi dengan

11
kondisi Indonesia. Kambing ini dikenal sebagai kambing PE (Peranakan
Etawa), dan saat ini juga dianggap sebagai kambing Lokal.

Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif


terhadap lingkungan lokal Indonesia. Tanda-tanda tubuhnya berada diantara
kambing Kacang dan kambing Etawa. Jadi ada yang lebih ke arah kambing
Etawa, dan sebagian ada yang lebih ke arah kambing Kacang.

Kambing ini awalnya tersebar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa,


dan saat ini hampir di seluruh Indonesia. Pejantan mempunyai sex-libido yang
tinggi, sifat inilah yang membedakan dengan kambing Etawa.

Ciri-ciri kambing Peranakan Etawa :

 Warna bulu belang hitam, putih, merah, coklat dan kadang putih.

 Badannya besar sebagaimana Etawa, bobot yang jantan bisa mencapai 91 kg,
sedangkan betina mencapai 63 kg.

 Telinganya panjang dan terkulai ke bawah, bergelambir yang cukup besar

 Dahi dan hidungnya cembung.

 Kambing jantan maupun betina bertanduk kecil/pendek.

 Daerah belakang paha, ekor dan dagu berbulu panjang

 Kambing Peranakan Etawa mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per
hari.

JAMNAFARI

12
Kambing Jamnapari (disebut juga kambing Jamunapari, atau terkenal dengan
nama kambing Etawa di Indonesia) merupakan salah satu nenek moyang kambing
Nubia Amerika. Kambing Nubia ini berasal dari perkawinan silang kambing Jamnapari
dari India dan kambing Zaraibi Mesir dengan kambing asli Inggris, setelah kambing
ini tiba di Inggris dibawa kapal dagang sebagai bagian dari setiap kargo.

Perkawinan silang ini menghasilkan galur kambing Anglo-Nubia.


Selain menjadi nenek moyang kambing Anglo-Nubia (atau kambing Nubia), kambing
Jamnapari juga merupakan nenek moyang kambing Etawa atau Peranakan Etawa (PE)
di Indonesia. Kambing Jamnapari mulai masuk Indonesia pada tahun 1925 ketika
pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan importasi kambing unggul ini untuk
meningkatkan kinerja kambing lokal melalui perkawinan silang dengan kambing
Kacang.

Kambing Jamnapari dikenal sebagai kambing perah terbaik di India. Kambing


Jamnapari juga merupakan galur kambing berbadan paling tinggi dan biasanya dikenal
sebagai kambing Pari di daerah asalnya karena penampilannya yang gagah. Daerah asal
kambing ini dan habitat alaminya adalah daerah Chakarnagar di distrik Etawah di
negara bagian Uttar Pradesh, di sepanjang delta sungai Jamuna dan Chambal, dan
distrik Bhind di negara bagian Madhya Pradesh di sepanjang sungai Kwari, di sebelah
timur New Dehli dan tidak jauh dari Taj Mahal yang terkenal di Agra. Kambing
Jamnapari beradaptasi dengan baik dengan jurang-jurang khas di daerah ini dan
tumbuhan semak dan belukarnya yang lebat.

Habitat Daerah asal kambing Jamnapari terletak di antara 26,8 derajat lintang
utara dan 79,3 derajat bujur timur. Daerah Chakarnagar terletak 24 mil di sebelah
tenggara kota Etawah di sepanjang sungai Jamuna di daerah seluas 34 hektar. Karena
keadaan tanahnya mengalami erosi parah, permukaan tanah di daerah ini bergelombang
tidak merata, membentuk ngarai-ngarai dan jurang-jurang dengan kedalaman 3 hingga
46 meter. Pada musim panas cuacanya kering dan panas dengan temperatur mencapai
66°C. Pada musim dingin, temperaturnya turun hingga 14 sampai 16°C.
Curah hujan per tahun sekitar 456 cm3, yang tersebar selama musim hujan. Ngarai dan

13
jurang tertutup semak lebat dan tumbuhan pohon tahan kering, terutama mesquite
(Prosopis juliflora), plum (Ziziphus jujuba), babul (Acacia nilotica), conkra (Prosopis
spicigera), dan hingota (Balanites aegyptica). Tanaman pepadian utama adalah arhar
yang eksotis (Cassia cacjam), gram (Cassia erientinum) dan bajara (Pennisetum
aegypticum), dan tergantung pada hujan karena tidak ada sarana irigasi di daerah ini.

Anatomi Kambing Jamnapari berbulu putih dan pendek kecuali di bagian paha dan kaki
belakangnya yang berbulu panjang. Ciri utama galur kambing Jamnapari adalah
hidungnya yang sangat cembung dan telinganya yang panjang menggantung. Lehernya
panjang, berotot dan tegak. Pinggangnya kuat tapi biasanya melengkung; ekornya
pendek dan biasanya melengkung keatas.

Panjang telinga sekitar 20 cm pada anak kambing Jamnapari berumur tiga


sampai enam bulan, yang tumbuh hingga 31 cm pada kambing Jamnapari dewasa.
Tanduk mengarah ke belakang dan panjangnya sekitar 23 cm pada kambing Jamnapari
dewasa. Ambingnya cukup besar dibandingkan dengan kambing perah Asia lainnya,
tapi menggantung. Putingnya mudah diperah dengan tangan dan panjangnya 15
cm. Meskipun panjang telinga kambing Jamnapari dewasa sekitar 31 cm, wajah dan
mulutnya lebih pendek sekitar 5 hingga 8 cm daripada telinganya, sehingga
menyebabkan perbandingan kritis dan merugikan 1:4 antara panjang telinga dengan
panjang wajah. Hal ini menyebabkan telinga kambing Jamnapari menyentuh tanah atau
menghambat mulutnya saat berusaha merumput atau makan. Selain itu, matanya juga
bisa tertutup oleh telinganya yang panjang.

Kambing Saanen

14
Kambing Saanen ini aslinya berasal dari lembah Saanen, Swiss
(Switzerland) bagian barat. Merupakan salah satu jenis kambing terbesar di
Swiss dan penghasil susu kambing yang terkenal. Sulit berkembang di wilayah
tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Oleh karena itu di Indonesia jenis
kambing ini disilangkan lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten
terhadap cuaca tropis dan tetap diberi nama kambing Saanen, antara lain dengan
kambing peranakan etawa.

Ciri-ciri kambing Saanen :

 Bulunya pendek berwarna putih atau krim dengan titik hitam di hidung, telinga
dan di kelenjar susu.

 Hidungnya lurus dan muka berupa segitiga.

 Telinganya sederhana dan tegak ke sebelah dan ke depan.

 Ekornya tipis dan pendek.

 Jantan dan betinanya bertanduk.

 Berat dewasa 68-91 kg (Jantan) dan 36kg – 63kg (Betina), tinggi ideal kambing
ini 81 cm dengan berat 61 kg, di saat tingginya 94 cm beratnya 81 kg.

 Produksi susu 740 kg/ms laktasi

kambing Kacang

15
Jenis kambing ini adalah salah satu ras unggul kambing yang pertama kali
dikembangkan di Indonesia. Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia,
kambing ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta
memiliki daya reproduksi yang tinggi pula. Kambing kacang jantan dan betina
keduanya merupakan tipe kambing pedaging.

Ciri-ciri kambing kacang :

 Memiliki tubuh yang relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil.

 Posisi telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek.

 Umumnya memiliki warna bulu tunggal putih, hitam, coklat, atau kombinasi
ketiganya.

 Kambing jantan maupun betina memiliki dua tanduk pendek.

 Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 kg, serta betina dewasa mencapai
25 kg.

 Tinggi kambing jantan 60 – 65 cm, sedangkan yang betina 56 cm.

 Memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada
kambing jantan

 juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai
ekor dan pantat

Kambing Damaskus.

16
Kambing bangsa ini merupakan kambing yang banyak dipelihara di Libang,
Syria,Cyprus. Ciri- ciri Kambing tersebut baik yang jantan maupun betina tidak
bertanduk., warna pada umumnya merah, atau merah dan putih, profil muka konveks,
daun telinga panjang dan menggantung. Tinggi gumba 70-75 cm dan berat badan antara
40-60 kg. produksi susu 3-4 liter perhari dapat mencapai 6 liter, dengan jumlah
produksi 300-600 liter dalam 8 bulan. Kambing Damaskus lebih subur dibandingkan
dengan Saanen, dimana tiap kelahiran rata-rata 1,76 cempe (Prihadi,1997).

17
JENIS – JENIS DOMBA

Domba Garut (Domba Priangan)

Menurut para pakar domba seperti Prof. Didi Atmadilaga dan Prof. Asikin
Natasasmita, bahwa Domba Garut merupakan hasil persilangan segitiga antara domba
lokal (asli Indonesia), Domba Cape/Capstaad (Domba Ekor Gemuk atau Kibas) dari
Afrika Selatan dan Domba Merino dari Asia Kecil. Yang dibentuk kira-kira pada
pertengahan abad ke 19 (±1854) yang dirintis oleh Adipati Limbangan Garut.
Sekitar 70 tahun kemudian yaitu tahun 1926 Domba Garut telah menunjukan suatu
keseragaman, misalnya bentuk tanduk yang besar melingkar diturunkan dari Doa
Merino.

Pada awalnya domba priangan atau domba garut ini berkembang di Priangan
(Jawa Barat), terutama di daerah Bandung, Garut, Sumedang, Ciamis, dan
Tasikmalaya. Namun saat ini sudah berkembang di seluruh pulau Jawa khususnya dan
Indonesia pada umumnya. Domba ini dipelihara selain sebagai domba potong atau
domba pedaging, juga dipelihara sebagai domba aduan.

Ciri-ciri domba garut :

 Bertubuh besar dan lebar, lehernya kuat, dahi konveks.

 Domba priangan jantan memiliki tanduk besar dan kuat, melengkung ke


belakang berbentuk spiral, dan pangkal tanduk kanan dan kiri hampir menyatu.

18
Sedangkan domba betina tidak memiliki tanduk, panjang telinga sedang, dan
terletak di belakang tanduk.

 Domba jantan mempunyai berat 40-80 kg, sedangkan betina 30-40 kg.

 Kadang-kadang dijumpai adanya domba tanpa daun telinga.

 Keunggulan domba priangan ini adalah kulitnya merupakan salah satu kulit
dengan kualitas terbaik di dunia, selain itu dengan leher yang kokoh dan
tubuh yang besar, kuat, domba ini sesuai untuk domba aduan. Keunggulan
lainnya adalah penghasil daging yang sangat baik dan mudah dipelihara.

Domba Ekor Gemuk (Domba Kibas)

Domba Ekor Gemuk dikenal juga dengan nama Domba Kibas (di Jawa), juga
dikenal sebagai domba Donggala, yang sekarang sudah dipatenkan menjadi domba
ekor gemuk lokal Palu dari Sulawesi Tengah. Domba ini berasal dari Asia Barat atau
India yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun
1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu
domba ekor gemuk dari Persia.

Pada awalnya domba Ekor Gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura,


Sulawesi, dan Nusa Tenggara (terutama di Lombok). Namun saat ini sudah
berkembang di seluruh Indonesia. Domba ini beradaptasi dan tumbuh lebih baik di
daerah beriklim kering.

Ciri-ciri domba ekor gemuk :

19
 Bentuk badannya sedikit lebih besar daripada domba lokal lainnya.

 Berat domba jantan mencapai 40-60 kg, sedangkan domba betina 25-50 kg.

 Tinggi badan pada jantan dewasa antara 52 – 65 cm, sedangkan pada betina
dewasa 47 – 60 cm.

 Warna bulu wolnya putih dan kasar.

 Ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan
timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil karena tidak terjadi
penimbunan lemak. Cadangan lemak di bagian ekor berfungsi sebagai sumber
energi pada musim paceklik.

 Dada terlihat serasi dan kuat seperti bentuk perahu, ke empat kakinya kalau
jalan agak lamban karena menanggung berat badan dan ekornya yang gemuk.

 Umumnya domba jantan tidak bertanduk dan hanya sedikit yang mempunyai
tanduk kecil, sedangkan yang betina tidak bertanduk.

 Keunggulan Domba Domba ekor gemuk ini adalah tahan terhadap panas dan
kering.

Domba Ekor Tipis (Domba Gembel)

Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia dan sering disebut
Domba Gembel, dalam Bahasa Inggris disebut Javanesse Thin-Tailed sheep.

20
Pada awalnya domba ini berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat, namun
saat ini sudah berkembang di seluruh pulau jawa khususnya dan Indonesia pada
umumnya.

Ciri-ciri domba ekor tipis :

 Termasuk golongan domba berperawakan kecil, dengan berat badan domba


jantan 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg.

 Bulu wolnya gembel berwarna putih dominan dengan warna hitam di sekeliling
mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain.

 Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak.

 Telinga umumnya medium sampai kecil dan sebagian berposisi menggantung.

 Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina umumnya


tidak bertanduk.

Keunggulan domba ekor tipis ini adalah bersifat prolific (dapat melahirkan anak
kembar 2-5 ekor setiap kelahiran), mudah berkembang biak dan tidak dipengaruhi
musim kawin, serta mampu beradaptasi pada daerah tropis dan makanan yang buruk.

Domba Merino

21
Berikut adalah ciri- ciri domba merino

 Domba merino jantan memiliki tanduk


 Sementara domba merino betina tidak memilik tanduk
 Tergolong domba ynag memiliki ukuran badan yang sedang
 Domba merino jantan deasa dapat mencapai bobot antara 60 s/d 70 kg
Sementara merino betina antara 50 s/d 60 kg

Domba Dorset

Jenis Domba penghasil daging (Domba Dorset) ini dapat dikenali berdasarkan dari
beberapa ciri-ciri seperti dibawah ini:

1. Mempunyai karakteristik sebagai domba tipe dwiguna, Penghasil daging, Woll,


Susu
2. Domba Dorset memiliki bentuk tubuh yang panjang, lebar dan dalam, lebih
berbentuk balok.
3. Domba Dorset jantan dewasa dapat mencapai bobot badan antara 100 kg
sementara Domba Dorset betina dewasa sekitar 80 kg.
4. Domba dorset terdapat 2 kelompok, yaitu kelompok domba dorset jantan dan
domba Dorset betina yang mempunyai tanduk dan kelompok yang kedua yaitu
kelompok domba Dorset jantan dan Domba Dorset betina yang tidak
mempunyai tanduk.

22
Jenis – jenis kerbau

Kerbau Murrah

Sumber Gambar: [Link]

Ciri – ciri

1. Tanduk pendek melengkung, mula-mula ke arah caudolateral, kemudian


membelok dorso-medial dan terus ke mediocranial.
2. Kepala kecil jika dibandingkan dengan badannya yang besar.
3. Telinga kecil menggantung,
4. Leher panjang,
5. Kaki lurus, pendek kuat berkuku hitam besar,
6. Kerangka tubuh kompak, bentuk betina trapesium (seperti sapi perah),
7. Ambing kerbau betina besar, bentuknya baik serta memiliki pembuluh balik
(vena) yang menonjol. Puting ambing bentuknya simetris dan panjang serta
jaraknya baik.
8. Ekor panjang dan ramping sampai mencapai persendian tarsus (pergelangan
kaki) dan biasanya ujung rambut berwarna putih.
9. Badannya besar dan kulitnya berwarna hitam atau kelabu kehitam-hitaman
10. Bobot badan ternak kerbau jantan dewasa rata-rata 544 kg, sedangkan bobot
badan betina dewasa rata-rata 450 kg.

23
11. Kerbau Murrah jantan memiliki ukuran panjang badan 151 cm tinggi pundak
142 cm, lingkar perut 223 cm, panjang muka 53 cm, lebar muka 27 cm dan
panjang telinga 28 cm. Sedangkan pada betina panjang badan 149 cm, tinggi
pundak 133 cm, lingkar perut 220 cm, panjang muka 51 cm, lebar muka 21 cm
dan panjang telinga 28 cm (Cockrill, 1974).

Kerbau Surti

Kerbau jenis banyak dipelihara di India khususnya di Gujarat dan daerah


sekitarnya,
Ciri-Ciri Umum Kerbau Surti Adalah :

 Bentuk tubuhnya sedang


 Tanduk tidak terlalu panjang
 Memiliki Kaki pendek
 Ekornya panjang
 Warna kulit hitam dan putih
 Bobot badan betina dewasa 400 kg dan jantan dewasa 500 kg
 Memproduksi susu 1.700 liter/laktas

Kerbau Zaffarabadi

24
Kerbau Zaffarabadi ini berasal dari Pakistan. Banyak dipelihara di India Barat,
khususnya di daerah Gujarat
Ciri-Ciri Umum Kerbau Zaffarabadi Adalah :

 Kepala bagian depan besar


 Tanduk relatif besar
 Warna kulitnya hitam kadang-kadang warna tampak pada kepala dan kaki
 Bobot badan betina dewasa 450 kg dan jantan dewasa 600 kg
 Menghasilkan susu 4.930 liter/laktasi

Kerbau Nili Ravi

Kerbau Nili Ravi banyak dipelihara di India khususnya di wilayah Punjab di


daerah sepanjang sungai Ravi.

Ciri-Ciri Umum

 Memiliki tubuh dalam dengan panjang yang cukup

 Kepala besar dan kasar

25
 Leher panjang dan pipih

 Tanduk kecil

 Ekornya panjang

 Warna kulitnya hitam dan dan ada kalanya coklat serta bulu disekitar mata
kepala dan bagian ujung mulut memiliki warna putih

 Bobot badan betina dewasa 500 kg dan jantan dewasa 600 kg

 Memproduksi susu 2.500 liter/laktasi

26
JENIS – JENIS BABI

Babi Hereford

Babi Hereford merupakan bangsa babi unggul asal dari Amerika Serikat, dengan ciri-
ciri berikut :

 Warna dasar merah, pada bagian kepala, telinga, tubuh bagian bawah dan
keempat kaki berwarna putih
 Tubuh relatif kecil
 Kepala kecil
 Kaki pendek dan halus

Babi Tamworth

Pada dasarnya ada tiga tipe usaha beternak babi, yakni : 1) dari lepas sapih sampai
siap dipasarkan (penggemukan), 2) dari anak lahir sampai disapih, dan 3) dari anak

27
lahir sampai dipasarkan, namun ada pula yang melakukan kombinasi dari ketiga
kegiatan tersebut.
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memelihara ternak babi dalam kandang
relative sedikit, ada hubungannya dengan tipe perkandangan dan manajemen yang
diterapkan dan juga pengalaman ketrampilan pekerja. Sebagai pegangan di Negara
maju dipakai asumsi bahwa seorang tenaga kerja penuh (full time) berpengalaman
dapat memelihara 80-100 induk dengan anaknya sejak lahir sampai dipasarkan, sedang
yang kurang pengalaman terbatas 50-60 induk saja. Seorang tenaga kerja penuh dapat
menangani 1500-4000 ekor babi gemukan per tahun. Banyak tenaga kerja yang
dibutuhkan tergangung dari ketrampilan dan sistim pemeliharaan babi.
Babi Tamworth merupakan bangsa babi dengan kualitas daging yang bermutu tinggi.
Berasal dari Inggris, di kota Tamworth. Babi ini memiliki ciri-ciri berikut :

 Tubuh yang besar


 Kaki yang sedikit panjang
 Telinga tegak dan berukuran sedang
 Kepala yang lebar yaitu jarak antara telinga lebar
 Moncong panjang dan lurus
 Tubuh berwarna merah tua atau kecoklatan.

Poland China

28
Babi Poland China berasal dari Lembah Miami di Ohio. Babi ini bukan
berasal dari Poland, tetapi nama Poland China diberikan oleh seorang petani Polandia
bernama Mr. Asher. Suatu perkumpulan dibawah pimpinan Mr. Asher tersebut
mengusulkan nama untuk babi baru tersebut Poland China . Babi Poland China
berwarna hitam dengan kaki, muka dan ujung ekornya berwarna putih. Bangsa babi
ini dikembangkanbiakkan dan terkenal karena karkas pahanya yang padat dan
kemampuan tumbuhnya yang baik, mencapai berat maksimal pada umur tertentu.

Landrace

Landrace merupakan babi unggul yang berasal dari Denmark, dengan ciri-ciri
tubuh panjang besar dan dalam, kepala kecil agak panjang, telinga terkulai rebah ke
depan, warna putih dengan bulu halus.
Babi Landrace termasuk bacon type atau babi tipe sedang, dengan ukuran lebar
tubuh sedang dan timbunan lemak sedang dan halus (Mangisah, 2003). Menurut
sejarahnya, babi Landrace awalnya dikembangkan di Denmark, kemudian masuk ke
Amerika Serikat. Babi Landrace berasal dari persilangan antara pejantan babi Large
white dengan babi lokal Denmark. Babi Landrace juga banyak digunakan untuk
program persilangan babi-babi di daerah tropik, terutama di Asia Tenggara
(Reksohadiprodjo, 1995).

29
Ciri-ciri babi Landrace adalah berwarna putih dengan bulu yang halus, badan
panjang, kepala kecil agak panjang dengan telinga terkulai, kaki letaknya baik dan kuat,
dengan paha yang bulat dan tumit yang kuat pula serta tebal lemaknya lebih tipis. Babi
Landrace mempunyai karkas yang panjang, pahanya besar, daging di bawah dagu tebal
dengan kaki yang pendek (Mangisah, 2003). Budaarsa (2012) melaporkan bahwa babi
Landrace menjadi pilihan pertama para peternak karena pertumbuhannya cepat,
konversi makanan sangat bagus dan temperamennya jinak. Lebih lanjut dilaporkan
bahwa babi Landrace yang diberi pakan komersial (ransum yang seimbang), maka
pertambahan berat badannya bisa mencapai 1 kg per hari dengan berat sapih pada umur
35 hari bisa mencapai 15 kg.
Babi Duroc

Babi Duroc merupakan bangsa babi unggul asal Amerika Serikat. Babi
Duroc termasuk babi tipe daging dengan ciri-ciri berikut :

 Tubuh panjang dan besar


 Warna merah sampai dengan merah tua
 Punggung dari mulai leher sampai dengan ekor membentuk busur
 Kepala sedang
 Telinga terkulai
 Muka agak cekung
 Produksi susu cukup baik.
 Peridi

30

Anda mungkin juga menyukai