Quality Control di PT Gaya Indah Kharisma
Quality Control di PT Gaya Indah Kharisma
Fikron Al Choir *)
Email : fikron_ch@[Link]
ABSTRAK
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Bertujuan untuk menganalisis
bagaimana Quality Control produksi yang dilakukan, bagaimana kualitas produk sebuah
perusahaan, dan seberapa besar pelaksanaan Quality Control dalam upaya mencapai
kualitas produk yang maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu; (1)
Check Sheet, (2) histogram, (3) Control chart, (4) diagram pareto, (5) diagam sebab
akibat, (6) scatter diagram,dan diagram proses.
Hasil penelitian ini adalah satu, perusahaan menetapkan standar pengendalian
sebesar 0.03. Hal ini artinya perusahaan hanya menetapkan berdasarkan barang yang
diproduksi. Kecacatan yang terjadi melebihi 14 proses produksi, dan kondisi ini
diangggap wajar oleh perusahaan. Dua, pengendalian kualitas produk berdasarkan
metoda kendali c berkisar 0.03. Kecacatan yang terjadi dan dapat terdeteksi hanya
sekitar 14 proses produksi. Dengan kata lain masih dalam batas normal. Tiga, jika
dibandingkan metode perusahaan dengan metode c-chart, maka lebih efektif
menggunakan metoda dibandingkan dengan perusahaan. Hal ini terlihat dari sedikitnya
barang yang cacat dan dapat digunakan sebanyak 14 proses produksi dibandingkan
metode perusahaan yang melebihi 14 proses. Hal ini tentunya akan dapat merugikan
perusahaan dari segi waktu dan dana yang telah dikeluarkan
ABSTRACT
The type of this research is descriptive qualitative. This research aims to
analyze how Quality Control production, how the quality of a company's products, and
how much the implementation of Quality Control in an effort to achieve maximum product
quality. This research was conducted in several ways; (1) Check Sheet, (2) histogram, (3)
Control chart, (4) pareto diagram, (5) diverse cause and effect, (6) scatter diagram, and
process diagram.
The result of this research is one, the company set the control standard of 0.03.
This means that companies only set based on manufactured goods. Disability that occurs
exceeds 14 production processes, and this condition is considered reasonable by the
company. Two, product quality control based on control method c is 0.03. The defects
that occur and can be detected only about 14 production processes. In other words still
within normal limits. Three, if compared to company method with c-chart method, then
more effective use method compared with company. This can be seen from the least
defective goods and can be used as many as 14 production processes compared to
company methods that exceed 14 processes. This will certainly be detrimental to the
company in terms of time and funds that have been issued
A. Pendahuluan
Pengendalian Kualitas (Quality Control) sangatlah penting karena dapat
menentukan berhasil tidaknya perusahaan dalam mencapai tujuan. Kegiatan
Pengendalian Kualitas (Quality Control) yang kurang efektif yang terus menerus
dapat mengakibatkan banyaknya produk yang rusak atau cacat, target produksi
tidak dapat tercapai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Keadaan tersebut
menghambat bagi perusahaan dan sangat merugikan apabila apabila perlakuan
negative berkepanjangan akan mengganggu kontinuitas perusahaan.
Hasil produksi yang dicapai setiap perusahaan sangat ditentukan oleh
sumber daya yang dimiliki, antara lain modal teknologi dan tenaga kerja. Dalam
proses produksi, teknologi yang digunakan (misalnya mesin- mesin)
dikombinasikan dan saling menggantikan dengan tenaga kerja. Tenaga kerja
merupakan sumber daya yang menggerakkan sumber daya yang lain.
Tantangan untuk meningkatkan pengendalian mutu terhadap hasil produk
hingga sesuai dengan standar mutu juga dihadapi oleh Perusahaan garment PT.
Gaya Indah kharisma Kota Tangerang merupakan salah satu yang bergerak di
bidang industri garment Jenis pakaian yang diproduksi adalah polo shirt , kaos,
celana, jaket, dan Sportwear. Jumlah produksi pakaian yang dihasilkan dalam
setiap hari sebesar 8000 pcs atau 800 pcs perjenis pakaian. Dengan demikian
jumlah produksi untuk 10 jenis pakaian yang dihasilkan pada Garment PT. Gaya
Indah Kharisma Kota Tangerang setiap bulannya sebanyak 192.000 pcs atau
rata-rata 19.200 pcs perjenis.
Fenomena empiris menunjukkan dalam melakukan produksi pakaian
sering terjadi penyimpangan standar mutu yang telah ditetapkan oleh
perusahaan. Hal ini disebabkan oleh kendala-kendala yang dihadapi oleh
perusahaan diantaranya skill atau keahlian, metode atau cara kerja, alat kerja
(mesin), material atau bahan baku, dan lingkungan kerja dan factor eksternal.
Sehingga hasil pakaian yang belum baik, mengakibatkan kerusakan produk.
Menurut informasi dari pihak perusahaan masalah tersebut menyebabkan
kerusakan produk antara 5% - 7%. Kegiatan terbaik yang diharapkan oleh
perusahaan seharusnya kerusakan produk ± 3% atau 0,03. Untuk mengantisipasi
B. Perumusan Masalah
Dalam sub pembahasan ini penulis akan merumuskan masalah yang
menjadi inti dari penelitian dan pembahasan yang dilakukan, berdasarkan latar
belakang masalah dan identifikasi masalah maka perumusan tersebut yaitu.
1. Bagaimana Pelaksanaan Quality Control PT. Gaya Indah Kharisma
2. Bagaimana Kualitas Produk yang dihasilkan [Link] Indah Kharisma.
3. Seberapa besar pengaruh pelaksanaan Quality Control untuk mencapai
Kualitas Produk pada [Link] Indah Kharisma.
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Pelaksanaan Quality Control yang telah dilaksanakan
perusahaan [Link] Indah Kharisma.
2. Untuk mengetahui Kualitas Produk yang dihasilkan pada [Link] Indah
Kharisma.
3. Untuk mengetahui Pengaruh pelaksanaan Quality Contro) untuk mencapai
Kualitas Produk pada [Link] Indah Kharisma.
D. Landasan Teori
Menurut Ricky W Griffin (2003:7) Manajemen ialah suatu rangkaian
aktivitas termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian,
kepemimpinan, dan pengendalian yang diarahkan pada sumber daya organisasi
(manusia, financial, fisik, dan informasi) dengan maksud untuk mencapai tujuan
organisasi secara efektif dan efisien.
Sedangkan menurut Benyamin Molan (2002:92) Manajemen ialah proses
perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian pekerjaan
anggota atau proses pengordinasian dan pengintegralan kegiatan agar dapat
terselesaikan secara efektif dan efisien.
kepada konsumen atau pelanggan dengan cara menciptakan produk baik itu
barang maupun jasa yang berkualitas yang dibutuhkan, diinginkan dan diperlukan
oleh konsumen atau pelanggan baik sekarang maupun dimasa yang akan datang
lalu ditawarkan melalui proses jual beli dan jalur distribusi yang baik supaya dapat
menjadi tujuan organisasi atau perusahaan.
Quality Control atau Pengendalian Kualitas adalah aktifitas pengendalian
proses untuk mengukur ciri-ciri kualitas produk, membandingkan dengan
spesifikasi atau persyaratan, dan mengambil tindakan penyehatan yang sesuai
apabila ada perbedaan antara penampilan yang sebenarnya dan yang standar
(Purnomo, 2004: 26).
Tujuan dari pengendalian kualitas adalah mengendalikan kualitas produk
atau jasa yang dapat memuaskan konsumen. Pengendalian kualitas statistic
merupakan suatu alat tangguh yang dapat digunakan mengurangi biaya,
menurunkan cacat dan meningkatkan kualitas pada proses manufacturing.
Quality Control memerlukan pengertian dan perlu dilaksanakan oleh perancang
bagian inspeksi, bagian produksi sampai pendistribusian produk ke konsumen.
Menurut Reza Nasrullah (1996: 12),
Quality Control adalah suatu kegiatan untuk memastikan apakah kebijakan
dalam hal mutu atau ukuran seberapa dekat sebuah barang atau jasa memiliki
kesesuaian dengan standar-standar yang dicantumkan yang dapat tercermin
dalam hasil akhir atau pengendalian kualitas dapat dikatakan juga sebagai usaha
untuk mempertahankan mutu dan kualitas dari barang yang dihasilkan agar
sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan kebijakan-
kebijakan perusahaan.
Aktivitas pengendalian kualitas meliputi kegiatan-kegiatan seperti berikut
ini (Purnomo 2004:10) :
1. Pengamatan terhadap performansi produk atau proses.
2. Membandingkan performansi yang ditampilkan dengan standar yang berlaku.
3. Mengambil tindakan bila terdapat penyimpangan yang cukup signifikan, dan
jika perlu dibuat tindakan-tindakan untuk mengoreksinya.
tepat dalam memastikan proses dan fungsi quality control dijalankan sesuai
dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan
1. Pengembangan fungsi Quality control dalam mekanisme bisnis
Dalam penetapan bisnis, fungsi masuk kedalam bagian bagian quality cost
artinya biaya yang dikeluakan untuk memastikan proses pemeliharaan terhadap
mutu produk dapat dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang ada.
Fungsi Quality Control memegang strategi yang berperan penting dalam
melakukan proses pengambilan posisi pelanggan, yang mana tahapan ini
merupakan suatu aplikasi yang strategis dalam menjamin konsistensi
kesepakatan dengan pelanggan.
2. Peranan Quality Control dalam posisi langkah perbaikan dalam bisnis
Fungsi Quality Control itu sendiri merupakan suatu bentuk langkah
strategis yang penting dan kuat untuk memastikan bahwa ketidaksesuaian
terdeteksi untuk kemudian ditetapkan sebagai bentuk penetapan langkah tindak
lanjut dalam antisipasi proses pengembangan bisnis khususnya perbaikan
produksi.
3. Penjamin konsistensi operasional
Peranan Quality Control yang memaksa produksi untuk konsisten dapat
membantu perusahaan dalam mengembangkan setting terhadap aspek budget
operasional sesuai standar persyaratan yang telah ditetapkan.
Kualitas barang atau jasa dapat berkenaan dengan keandalan, ketahanan,
waktu yang tepat, penampilannya ,integritasnya, kemurniannya, individualitasnya,
atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut. Uraian diatas menunjukkan bahwa
pengertian kualitas dapat berbeda-beda pada setiap orang pada waktu khusus
dimana kemampuannya (availability), kinerja (performance), keandalan
(reliability), kemudahan pemeliharaan (maintainability) dan karakteristiknya dapat
diukur (Juran,1988). Ditinjau dari sudut pandang produsen, kualitas dapatdiartikan
sebagai kesesuaian dengan spesifikasinya (Juran,1962;Krajewski,1987). Suatu
produk akan dinyatakan berkualitas oleh produsen, apabila produk tersebut telah
sesuai dengan spesifikasinya.
E. Metodologi Penelitian
Penelitian dilakukan pada PT. Gaya Indah Kharisma Jalan Raya M. Toha
Km 4 Kampung Pengasinan Periuk Jaya Kecamatan Priuk Kota Tangerang
Provinsi Banten Indonesia.
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif,
karena bertujuan untuk menggambarkan sifat dari suatu keadaan. Menurut
Istijanto (2009:31) riset deskriptif adalah jenis riset yang bertujuan untuk
menggambarkan suatu hal-hal yang bisa digambarkan dalam riset deskriptif
meliputi karakter pelanggan, sikap konsumen, mengukur persepsi konsumen dan
sebagainya. Penelitian ini dipergunakan untuk mencari fakta dengan interprestasi
yang tepat dan tujuannya adalah untuk mencari deskripsi dan gambaran yang
sistematis dan akurat mengenai faktor-faktor, sifat-sifat antara fenomena yang
diselidiki. Dalam hal ini akan digambarkan mengenai pelaksanaan Quality Control
yang efektif untuk mencapai kualitas produk pada [Link] Indah Kharisma Kota
Tangerang.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive
sampling. Purposive Sampling merupakan suatu teknik pengambilan sampel
dengan menggunakan pertimbangan tertentu. Adapun sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pakaian yang diproduksi PT. Gaya Indah Kharisma
y a n g ditemukan mengalami kerusakan / cacat sehingga tidak sampai ketangan
konsumen.
segala macam pakaian dari bahan tekstil untuk laki-laki, wanita, anak-anak
dan bayi. Bahan bakunya adalah kain yang di pilih langsung oleh costemer dan
produknya antara lain berupa kemeja (shirts), blus (blouses), rok (skirts), kaus (t-
shirts, polo shirt, sport swear), pakaian dalam (underwear) dan lain-lain. PT. Gaya
Indah Kharisma bekerja sama dengan perusahaan lain yang berada di sukabumi
dan daerah jawa tengah tepatnya di daerah temanggung. Adapun costumer yang
ada di di perusahaan ini adalah Columbia, Fila, Millet, Heat, GAP, dan juga
Lafuma.
Pengendalian Kualitas Perusahaan
Pengendalian kualitas terhadap barang jadi dilakukan melalui kegiatan
pemeriksaan/ inspeksi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memeriksa hasil
pakaian yang baru saja jadi apakah terjadi ketidak sesuaian dengan standar yang
sudah di tetapkan costumer/ Buyer dan standar perusahaan atau tidak. Secara
umun criteria pakaian yang sesuai standar kualitas adalah:
Bentuk dan model
Hasil pakaian yang sudah jadi harus di sesuaikan dengan sampel yang telah
di setujui buyer baik dari model ataupun bentunya.
Komponen Accesoris
Bukan hanya bentuk dan model yang harus di sesuaikan tetapi juga
accesoris yang di pakai di pakaian jadi tersebut mulai dari pemakaian
benang, interlining atau kain keras, string atau tali dan sebagainya yang ada
di pakaian tersebut.
Kualitas Hasil Kerja/ Workmentship/
Pakaian yang sudah jadi tentunya harus mengikuti standar yang telah di
tetapkan oleh costumer dan perusahaan, hal ini menyangkut tentang hasil
kualitas dari barang tersebut, mulai dari jahitan yang sesuai, mesin yang
harus di cek setiap harinya dan juga ruang lingkup sioperator tersebut
mempengaruhi kualitas yang akan di capai.
Ukuran/ Measurement
Pakaian yang sudah jadi harus diukur sesuai dengan spec yang sudah di
tetapkan costumer/buyer, jika keluar dari toleransi yang sudah di tetapkan
buyer dan perusahaan bisa jadi barang tersebut tidak layak jual.
Analisis Data
Check Sheet
Langkah pertama yang dilakukan untuk menganalisis pengendalian
kualitas secara statistik adalah membuat table (check sheet) jumlah produksi dan
produk rusak/ tidak sesuai dengan standar mutu. Pembuatan table (check sheet)
ini berguna untuk mempermudah proses pengumpulan data serta analisis.
Sebagai catatan bahwa 1 pakaian jadi bisa saja memiliki lebih dari satu jenis
kerusakan, oleh karena itu jenis kerusakan yang tercatat di pakaian jadi adalah
jenis kerusakan yang dominan. Hasil analisis yang cacat (melintir, jahitan loncat
5164
an ukuran tidak sesuai selama proses pelaksanaan 192000
x 100 = 2,7 % (data
terlampir)
Histogram
Histogram ini dibuat untuk melihat jenis kerusakan yang paling banyak
terjadi. Berikut ini dibuat berdasarkan table
4000
Melintir
2000 Loncat
0 Ukuran
Defect
Dalam histogram diatas, dapat kita lihat jenis kerusakan paling sering
terjadi adalah melintir, loncat, dan ukuran, dengan jumlah kerusakan sebanyak
192.000 Jumlah melintir pada pakaian sebanyak 3061 pcs, loncat sebanyak 1181
pcs dan ukuran tidak masuk toleransi sebanyak 557pcs.
Peta Kendali P (P-chart)
Garis pusat/ Central line adalah garis tengah yang berada diantara batas
kendali atas (UCL) dan batas kendali bawah (LCL). Garis pusat ini merupakan
garis yang mewakili rata-rata tingkat kerusakan dalam suatu proses produksi.
Untuk menghitung garis pusat digunakan rumus :
∑𝑛𝑝
𝐶𝐿 = 𝑝̅ = ∑𝑛
… … … … … … … … … … … (2)
Keterangan :
Ʃnp = jumlah total yang rusak
Ʃn = Jumlah total yang diperiksa
Berdasarkan rumus (2) maka didapatkan Central Line (CL) sebagai
berikut :
∑𝑛𝑝
CL = 𝑝̅ = …………………………………………(2)
∑𝑛
Menghitung batas kendali atas (UCL) dan batas kendali bawah (LCL)
Batas kendali atas dan batas kendali bawah merupakan indicator ukuran
secara statistic sebuah proses bisa dikatakan menyimpang atau tidak. Batas
kendali atas (UCL) dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅
𝑝̅ (1−𝑝̅
𝑈𝐶𝐿 = 𝑝̅ + 3 (√ 𝑛
) … … … … … … … … … … . . (3)
√𝑝̅ (1−𝑝̅ )
√0.0268(1−0.0268)
UCL = 𝑝̅ + 3 ( 𝑛
) = 0.0268 + 3 ( 24
) = 0.0030
Keterangan :
ṕ= rata-rata kerusakan produk
n= Jumlah Produksi
catatan : Jika LCL <0 maka LCL dianggap =0
dari rumus (4) maka dapat diperoleh batas kendali bawas sebesar :
ṕ = 0.0268 dan n = 24
√𝑝̅ (1−𝑝̅ )
√0.0268(1−0.0268)
LCL = 𝑝̅ - 3 ( 𝑛
) = 0.0268 - 3 ( 24
) = - 0. 0029
Setelah nilai dan persentase kerusakan dari setiap grup, nilai CL, nilai
UCL, dan nilai LCL didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah membuat peta
kendali p (p-chart). Peta kendali p dibuat menggunakan bantuan program agar
memudahkan penelitian untuk melihat grup mana sajakah yang keluar dari batas
kendali. Berikut ini p- chart dari hasil olah data:
Diagram Sebab-akibat (Fishbone Diagram)
Diagram sebab-akibat / Fishbone Diagram digunakan untuk menganalisis
untuk menganalisis factor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab kerusakan
produk. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penyebab
kerusakan produk menjadi secara umum dapat digolongkan sebagai berikut:
Pekerjaan (people), yaitu pekerja yang terlibat langsung dalam proses
produksi
Hasil pakaian yang melintir atau twissting disebabkan oleh tenaga kerja
(people) yang kurang berkonsentrasi pada pekerjaannya, karna pada dasarnya
semua pekerjaan akan baik di kerjakan jika tenaga kerja tersebut berkonsentrasi
dan bersungguh-sungguh terhadap pekerjaannya tersebut. Selain itu, factor lain
yang di sebabkan oleh metode atau cara pengerjaannya menyebabkan hasil jadi
pakaian menjadi melintir.
2. Loncat atau Skip
Pakaian yang sudah jadi tentunya harus melewati proses inspeksi atau
pemeriksaan mulai dari benang dan jahitan, hasil pakaian yang loncat atau tidak
sesuai sample tentunya merupakan defect atau cacat. Jahitan loncat disebabkan
oleh banyak hal antara lain mesin yang tidak dirawat dengan baik oleh mekanik,
Tension/ketegangan yang tidak sesuai dengan jenis bahan, dan operator yang
tidak menjaga kebersihan mesin itu sendiri dengan lupa mengganti jarum yang
seusai pemakaian.
3. Ukuran atau Measurement
Ukuran pada pakaian jadi menentukan pakaian tersebut layak jual atau
tidak, ukuran yang tidak ikut toleransi tersebut dapat dikatakan reject atau cacat,
Ukuran dapat disebabkan dari beberapa factor antara lain potongan catting yang
tidak sesuai pola/patrun, cara jahit yang terlalu banyak makan obras, instruksi
kerja yang tidak sesuai, dan suhu ruang yang terlalu panas menyebabkan bahan
cepat susut/ melar.
Pembahasan
Perusahaan industri produksi mempunyai fungsi jaminan kualitas yang
pasti dan resmi. Tanggung jawab perusahaan membantu bagian produksi dalam
memberikan jaminan kualitas untuk suatu produksi perusahaan. Untuk mencapai
kualitas yang baik, perlu rancangan atau kualitas kecocokan. Untuk mencapai
rancangan diperlukan keputusan yang jelas pada rancangan produk atau proses
untuk menjamin syarat-syarat fungsional tertentu akan memuaskan. Peningkatan
kualitas kecocokan kerap kali dibuat dengan mengubah segi tertentujaminan
kualitas, seperti penggunaan prosedur pengendalian proses statistik, mengubah
jenis pemeriksaan yang digunakan dan seterusnya.
Semua kendali mutu harus dimulai dari proses itu sendiri. Sebenarnya,
proses produksi terdiri atas banyak subproses, yang masing-masing memiliki
produk atau jasa antara. Suatu proses dapat berupa sebuah mesin, sekelompok
mesin, atau bagian dari banyak proses klerikal dan adminitratif yang ada dalam
organisasi. Masing-masing proses memiliki pelanggan internalnya sendiri serta
produk atau jasanya sendiri yang dihasilkannya. Pengendalian kualitas Produk
dilakukan oleh PT. Gaya Indah kharisma dilaksanakan untuk memuaskan
pemakai/konsumen. Dalam mengendalikan kualitas atau produk yang akan
dikeluarkan atau dipasarkan, dilakukan inspeksi sebelumnya oleh bagian produksi
sesuai standar pengendalian kualitas yang ditetapkan.
Kesimpulan
Saran yang bisa diterapkan bagi perusahaan dari hasil penelitian ini
adalah satu, lebih memperhatikan pengendalian kualitas produk dari segi kualitas
bahan dan mesin yang digunakan, karena hal ini akan mempunyai dampak
terhadap keuntungan [Link],perusahaan dapat mengecek ulang atau
menggunakan metode yang lebih baik dalam hal ini menggunakan metode
kendali c. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kecatatan barang yang diproduksi
dan dapat menghemat biaya yang dikeluarkan atau dapat menekan kerugian
karena banyaknya barang yang cacat. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah
diharapkan penelitian lain dapat menggunakan alat atau metode SPC yang lain
seperti metode kendali p, sehingga dapat diketahui mana yang paling efektif
(metode c (c-chart) atau metode p (p-chart)) dalam menekan kecacatan dalam
produksi, karena kedua metode ini dapat digunakan untuk atribut produk.
G. DAFTAR PUSTAKA
Ancok, Djamaludin (1987) Teknik Penyusunan Skala Pengukuran,
Yogyakarta : Pusat Penelitian Kependudukan UGM
Hair, Joseph F.,Jr, Bush, Robert P., Ortinau, David J., (2000),
Marketing Research: A Practical Approach for The New Millenium,
International Edition, USA:
McGraw Hill Higher Education