BAB I.
PENDAHULUAN
[Link] Belakang
Jumlah penduduk Indonesia yang meningkat dan peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap pentingnya protein hewani menyebabkan konsumsi protein
hewani, khususnya daging sapi meningkat juga. Permintaan daging sapi yang
meningkat tidak diimbangi peningkatan produksi daging sapi dalam negeri
sehingga ketersediaan daging sapi secara nasional masih kurang, maka
pemerintah melakukan impor sapi dan daging sapi sebesar 35% dari kebutuhan
daging sapi secara nasional (Ditjennak, 2010a).
Pemerintah berkeinginan menyediakan kebutuhan konsumsi daging dari
produksi peternakan sapi dalam negeri secara mandiri. Untuk itu salah satu
kebijakan penting pemerintah, melalui Kementerian Pertanian yaitu swasembada
daging sapi berbasis sumberdaya domestik (Ditjennak, 2010b). Program nasional
ini diharapkan tercapai tahun 2014, dan program ini sebenarnya sudah
dicanangkan pemerintah untuk yang ketiga kalinya.
Berdasarkan simulasi model dinamis sistem ketersediaan daging sapi
nasional, maka skenario I menyatakan bahwa jika kondisi persapian Indonesia
tahun 2008 berlanjut (business as usual scenario), maka pada tahun 2014
Indonesia masih harus mengimpor daging sapi sebesar 35,95 % dari total
kebutuhan konsumsi daging sapi nasional. Hal ini menunjukkan bahwa sasaran
pemerintah bahwa impor sapi dan daging sapi pada tahun 2014 sebesar 10 % dari
total konsumsi daging sapi nasional belum dapat dicapai. Kebijakan swasembada
daging sapi diharapkan berkurangnya ketergantungan impor sampai 10%,
sehingga mampu meningkatkan potensi sapi dalam negeri. Berbagai program
dilakukan pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi lokal sehingga menjadi
sumber daging sapi yang utama antara lain : 1). Pengurangan pemotongan sapi
lokal yang masih produktif, dan 2). Memperluas jangkauan program kawin silang
sapi betina lokal dengan inseminasi buatan (IB), (Ditjennak, 2010c).
Page 1
Produksi daging sapi nasional dipengaruhi oleh populasi dan kualitas sapi.
Kualitas sapi tergantung berat badan dan persentase karkas. Peningkatan kualitas
sapi dilakukan dengan peningkatan produktivitas sapi. Makin besar populasi dan
makin tinggi produktivitas maka kemampuan penyediaan daging sapi nasional
akan semakin tinggi, sehingga akan menentukan keberhasilan swasembada daging
sapi.
Sapi bali adalah komoditas unggulan ternak asli Indonesia yang
mempunyai produktifitas tinggi dengan daya adaptasi yang tinggi di seluruh
Indonesia. Sapi bali diharpakan bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan
daging yang semakin meningkat. Sapi bali ini juga sudah dipelihara oleh
masyarakat sehingga secara tehnis sebagian masyarakat sudah mengetahui cara
pemeliharaan ternak meskipun masih dengan cara tradisional. Namun untuk
meningkatkan produktifitas sapi bali perlu penanganan secara serius untuk
ketersediaan pakan, areal pengembangan maupun sarana dan prasarana
pendukung lainya harus segera dikembangkan salah satunya adalah kawasan
pengembangan peternakan (Ranch).
Untuk memenuhi program tersebut maka harus dilakukan pembangunan
sector kawasan pengembangan peternakan sehingga dalam pengelolaanya dapat
dikontrol dengan baik. Sejak lama sudah direncanakan pengembangan pertanian
dan peternakan melalui model kawasan. Pengembangan kawasan Agribisnis
dimaksudkan untuk dapat menghasilkan prodak yang berkualitas dan sesuai
dengan permintaan dan tuntutan pasar serta mampu bersaing untuk memenuhi
kebutuhan daging nasional, sesui dengan karakteristik dan potensi sumber daya
local yang ada. Sejalan dengan itu, guna mendukung program pemerintah untuk
mencapai swasembada daging yang dimaksud, dewasa ini maka Dinas Pertanian
Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan program melalui
Pekerjaan Penyusunan FSdan DED Pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat
(Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe.
Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan
Page 2
pemenuhan kebutuhan daging di Indonesia khususnya kebutuhan daging di
provinsi Sulawesi tenggara yang semakin meningkat pula. Kawasan ini di
harapkan dapat menjadi kawasan yang menjadi pusat pengembangan peternakan
sapi Bali yang ada Di Sulawesi tenggara, untuk menunjang kebutuhan daging
nasional yang semakin meningkat.
Sulawesi tenggara khususnya kabupaten konawe mempunyai potensi
untuk mengembangkan kawasan peternakan tersebut. Dalam hal ketersediaan
lahan, baik untuk penanaman hijauan makanan ternak maupun untuk areal
pengembangan ternak sapi bali. Sumberdaya alam dan adat budaya di kabupaten
konawe cocok untuk dilakukan introduksi unit pelaksana tehnis peternakan sapi
bali, dimana terdapat lokasi percontohan untuk pengembangan kawasan peternkan
sapi bali.
Dari latar belakang maka perlu disusun suatu pedoman atau acuan bidang
peternakan FS dan DED Pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan
Fasilitas Pendukungnya Kecamatan Puriala bupaten konawe provinsi Sulawesi
tenggara. Melalui SKPD dinas pertanian dan peternakan provinsi Sulawesi
tenggara maka akan dibuat FS dan detail engineering design (DED)
Pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya
Kecamatan Purialalengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya.
[Link] dan Sasaran
1.2.1. Tujuan
Tujuan dari kegiatan pengembangan kawasan FS dan DED Pembangunan
Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan
Purialadi kabupaten konawe provinsi Sulawesi tenggara adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan kegiatan penyusunan FSdan DED yang baik dan terpadu pada
kawasan Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya
Kecamatan Puriala
Page 3
2. Sebagai pedoman dan acuan pembangunan bagi pemerintah provinsi Sulawesi
tenggara maupun pemerintah pusat dalam pengembangan peternakan sapi bali
di Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya
Kecamatan Puriala Kabupate Konawe
3. Mewujudkan program jangka pendek, menengah dan jangka panjang pada
kawasan ranch peternakan wawolemo
4. Mengelolah sumberdaya alam secara berkelanjutan dengan mengusahakan
peternakan sapi bali sebagai hal yang terbaru dalam dunia peternakan untuk
memenuhi kebuhan daging nasional dan mencapai swasembada daging.
1.2.2. Sasaran
Sasaran yang diharapkan dari kegiatan pengembangan kawasan FS dan
DED Pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas
Pendukungnya Kecamatan Puriala ini adalah:
1. Tersedianya FSdan DED pada Pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat
(Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan Puriala yang terstruktur.
2. Tersedianya dokumen FS dan DED secara terstruktu dan terperinci baik
aspek tehnis, pembiayaan, organisasi, manajemen, pengaturan serta aspek
peranan masyarakat, sehingga sistem tersebut dapat dipahami dan siap
untuk diterapkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan pemerintah
provinsi Sulawesi tenggara.
3. Tersedianya rencana program dan investasi sector peternakan di
Kecamatan Puriala.
1.3. Ruang Lingkup Kegiatan
Sesuai dengan maksud dan tujuan dalam pelaksanaan kegiatan ini, maka
ruang lingkup kegiatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Mengevaluasi kondisi eksisting lokasi perencanaan
2. Melaksanakan survey dan pengumpulan data kawasan perencana dan data lain
yang relevan.
Page 4
3. Melaksanakan koordinasi dengan daerah dan instansi terkait di wilayah
perencanaan
4. Melakukan analisa data dan menyusun rekomendasi dan mekanisme FSdan
DED yang meliputi :
a. Konsep rencana FS dan DED Pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat
(Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan Puriala
b. Rekomendasi program pembangunan FS dan DED Pembangunan Usaha
Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan
Puriala
5. Menyelenggarakan rapat/pertemuan/pembahasan dengan para pemangku
kepentingan di daerah untuk menyusun program jangka mengenah
6. Membuat animasi rencana pembangunan Usaha Sapi Potong Terpusat
(Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan Puriala
7. Penyusun laporan seluruh tahap kegiatan
Page 5
BAB III.
PEDEKATAN DAN METODOLOGI
Metodologi pelaksanaan kegitan penyusunan FSdan DED Pembangunan
Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya Kecamatan
Puriala dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Pekerjaan persiapan, berupa studi literature dan pelaksanaan survey lapangan
Pada kegiatan ini akan dilakukan pengumpulan data sekunder dari dinas-dinas
dan stecholder terkait. Data-data akan diperoleh dari Badan Pusat Statistik
Kabupaten Konawe, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, dan Bapeda . selain
data sekunder juga akan diperoleh data primer dari hasil wawancara langsung
dengan masyarakat disekitar lokasi kegiatan.
2. Analisa kondisi eksisting lokasi perencanaan
Pada kegiatan ini akan dilakukan identifikasi kondisi lahan yang menjadi
rencapa pengembangan ranch peternakan sapi. Di samping itu juga akan
mengidentifikasi jenis rumput dan legun yang ada dalam lokasi kegiatan yang
bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak.
3. Pekerjaan survey secara rinci berupa survey lapangan
Pada kegiatan ini akan dilakukan pemetaan untuk penentuan titik-titik
koordinat masing-masing paddock dan lokasi untuk sumber air bagi ternak,
4. Penyusunan program jangka mengenah (Potensi pendanaan APBN, APBD
Prop, APBD Kabupaten, masyarakat swasta)
Penyusunan laporan kegiatan berupa laporan pendahuluan dan laporan akhir
yang akan di seminarkan pada dinas terkait.
5. Rapat/pertemuan/pembahasan dalam penyusunan program jangka mengenah.
Seminar akhir untuk membahas fainalisasi laporan FS perencanaan dan DED
kawasan Usaha Sapi Potong Terpusat (Ranch) dan Fasilitas Pendukungnya
Kecamatan Puriala
Page 6
BAB II
TINJAUAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN RANCH
PETERNAKAN
2.1. Karakteristik Peternakan
Menurut Muladno (2014) kondisi usaha peternakan sapi lokal di Indonesia,
yang sejak zaman kerajaan Majapahit sampai saat ini, peternak tidak memperoleh
keuntungan layak. Belasan juta populasi sapi potong yang kini selalu disampaikan
pemerintah dalam kondisi tidak diurus dengan baik atau dalam kondisi liar.
Peran strategis peternakan yang utama adalah sebagai penyedia pangan
berkualitas, yakni sebagai sumber protein hewani yang turut mencerdaskan bangsa,
khususnya pada anak dan generasi penerus bangsa. Protein hewani merupakan faktor
yang tidak bisa dihilangkan atau digantikan dalam menu makanan kita. Peran
strategis peternakan juga berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan.
Pemerintahan telah menetapkan tiga sasaran utama program penanggulangan
kemiskinan, yakni; menurunnya persentase penduduk yang berada di bawah garis
kemiskinan, terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau, dan
terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu (Muyassir, 2010). Untuk itu telah
diambil langkah-langkah antisipatif berupa pola pengembangan peternakan industri
dan peternakan rakyat secara proporsional.
Karakteristik peternakan di Indonesia terdiri atas: (1) peternakan tradisional
dengan ciri-ciri jumlah ternak sedikit, input teknologi rendah, tenaga kerja keluarga
dan profit rendah (sebagai tabungan), (2) peternakan backyard dengan ciri-ciri
Jumlah ternak sedikit, input teknologi mulai tinggi, tenaga kerja keluarga dan profit
sedang. Ciri ini diwakili oleh peternak ayam ras dan sapi perah, dan (3) peternakan
modern dengan ciri-ciri jumlah ternak banyak, input teknologi tinggi, tenaga kerja
spesifik bidang peternakan dan profit tinggi. Karakteristik ternak adalah
Page 7
usaha/industri yang dikendalikan oleh manusia dimana mencakup 4 komponen yaitu:
manusia sebagai subyek, ternak sebagai obyek, lahan/tanah sebagai basis ekologi
dan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Selanjutnya karakteristik usaha dinamis dalam arti usaha peternakan harus
dikaji dengan analisis dinamis dengan referensi waktu dan penuh dengan
ketidakpastian. Sementara karakteristik produk peternakan adalah karakteristik hasil
utama maupun sampingan usaha peternakan, yaitu bersifat fragile (mudah pecah
secara fisik), perishable (mudah rusak secara kimiawi dan biologi), quality variation
(tingkat variasi yang tinggi dalam kualitas produk) serta bulky (nilai ekonomis hasil
samping berlawanan dengan hasil utama).
Ciri-ciri peternakan di Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara antara lain: (1)
hanya sanggup memelihara 1-3 ekor sapi, (2) terpaksa memelihara karena bukan
milik sendiri, (3) memelihara sebisanya asal tidak mati, (4) produktivitas ternak
rendah, (5) reproduktivitas ternak juga rendah, (6) ternak baik dijual, ternak jelek
dipelihara. Terjadi seleksi negatif, (7) posisi tawar lemah, (9) kondisi sosial ekonomi
sulit berubah, (9) sering diperdaya, (10) tidak dapat berdaya saing, (11) kematian
ternak cukup tinggi dan (12) mereka berusaha sendiri dan tidak berpikir bisnis
(Anonim, 2014).
Sektor peternakan seharusnya menjadi penyangga kekuatan ekonomi Indonesia
karena: (1) Indonesia merupakan negara agraris yang wilayahnya terletak di garis
katulistiwa dan memiliki iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim kemarau dan
musim hujan. Kondisi iklim dan musim yang demikian memungkinkan sebagian
besar jenis ternak ruminansia bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain itu,
setiap wilayah di Indonesia memiliki keunggulan sumber daya masing-masing yang
bisa menjadi penyangga pangan hewani asal ternak bagi semua penduduk Indonesia,
(2) lebih dari 50 persen penduduk Indonesia memilih usaha tani sebagai mata
pencaharian pokok, dan (3) Indonesia memiliki sarjana peternakan yang dapat
diandalkan untuk berperan dalam meningkatkan produksi peternakan, sehingga
masalah suplai daging dapat diatasi dengan baik.
Page 8
Peternakan rakyat dengan skala usaha kecil memasok daging sapi lokal lebih
dari 90%, sehingga efisiensi produksi rendah atau biaya per unit produksi menjadi
tinggi. Apabila besaran impor tidak terkendalikan, akan mengakibatkan harga daging
sapi lokal di pasar tertekan dengan harga impor yang murah sehingga peternak
merugi. Jika hal tersebut terjadi dalam jangka panjang dan dengan keterbatasan
modal, menjadikan peternak tidak bergairah untuk melakukan usaha sapi potong
(Widiati, 2014).
Petani-peternak bersifat rasional sesuai dengan hasil penelitian Maart-Noelck
& Musshoff (2013) yang menyatakan bahwa perilaku petani dalam mengambil
keputusan untuk berinvestasi guna memperluas usahanya adalah belajar dari
investasi sebelumnya dan melakukan pertimbangan nilai yang diperoleh dengan
mengamati dari waktu ke waktu. Jika investasi dari waktu ke waktu dapat
memberikan nilai tambah. Swasembada daging sapi dapat terwujud manakala sistem
dan usaha agribisnis sapi potong dalam negeri dapat produktif, profitable, dan
berkelanjutan. Untuk maksud ini, selain perlu adanya dukungan investasi modal dan
sistem pemasaran yang kondusif menguntungkan bagi peternak, juga diperlukan
adanya dukungan inovasi teknologi produksi sapi potong yang tepat guna, spesifik
lokasi dan kelembagaan tani yang mapan berkaitan dengan agribisnis sapi
potong.
Soemarno (2008) mengemukakan bahwa syarat inovasi teknologi dapat
diadopsi oleh petani antara lain apabila: a) bermanfaat bagi petani secara nyata, b)
lebih unggul dari pada teknologi yang telah ada, c) praktis, nyaman dan ekonomis,
serta d) sesuai dengan sistem usahatani petani.
2.2. Kawasan Peternakan
Pengembangan wilayah merupakan program menyeluruh dan terpadu dari
semua kegiatan dengan memperhitungkan sumberdaya yang ada dan memberikan
kontribusi pada pembangunan suatu wilayah (Rustiadi, 2009). Konsep pengembangan
Page 9
wilayah adalah upaya dalam mewujudkan keterpaduan penggunaan sumberdaya
dengan penyeimbangan dan penyerasian pembangunan antar daerah, antar sektor,
serta pelaku pembangunan dalam mewujudkan tujuan pembangunan daerah (Rustiadi
dkk., 2009).
Kawasan peternakan adalah kawasan yang secara khusus diperuntukan untuk
kegiatan peternakan atau kegiatan yang terpadu dengan usaha lain sebagai komponen
usahatani (berbasis tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura) dan terpadu
sebagai komponen ekosistem tertentu (kawasan hutan lindung atau suaka alam)
(Ditjen PKH, 2014). Pengembangan kawasan peternakan harus memperhatikan
optimalisasi sumberdaya lokal dan strategi kebijakan pembangunan daerah. Dalam
hal ini, pemerintah daerah yang memetakan pengembangan peternakan sapi potong
tersebut kedalam kawasan-kawasan yang dipandang oleh pemerintah daerah bahwa
komoditas sapi potong tersebut merupakan komoditas yang memiliki peran penting
dalam pembangunan ekonomi daerah.
Menurut Ditjen PKH (2015), pengembangan kawasan peternakan sangat
penting perannya dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan teknis dan
ekonomis. Pelayanan teknis seperti IB, Keswan, pakan, bibit dan pelayanan ekonomi
seperti pasar, RPH, perkreditan dan permodalan, sarana dan tenaga menjadi lebih
terfokus untuk satu kawasan (Dirjen PKH, 2015). Cluster memungkinkan pemasaran
hasil ternak lebih ekonomis dalam pelayanan pasar karena dengan cluster
memungkinkan terjadinya pemasaran hasil bersama. Selanjutnya dikatakan bahwa
pengembangan kawasan juga diarahkan kepada peningkatan investasi yang menarik
bagi semua pihak karena sudah tersedia ternak dan pelayananan yang bersifat teknis
dan ekonomis. Sebagai pusat pertumbuhan komoditas peternakan, produksi utama
mengarah kepada keunggulan komparatif suatu wilayah (one village one product).
Sektor peternakan menjadi salah satu andalan pembangunan nasional maupun
regional dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat,
mengurangi kemiskinan, penyediaan produksi kebutuhan pangan dan perolehan
devisa (Juanda, 2002). Pembangunan kawasan peternakan merupakan strategi umum
Page 10
untuk meningkatkan kesejahteraan peternak, meningkatkan daya saing produk
pertanian serta menjaga kelestarian sumberdaya pertanian (Saragih, 2000). Untuk
mewujudkan hal tersebut Pemerintah Daerah telah mendukung masyarakat serta
stakeholder terutama pada daerah potensil untuk pengembangan peternakan.
Pengembangan kawasan peternakan harus memperhatikan optimalisasi
sumberdaya lokal dan strategi kebijakan pembangunan daerah. Dalam hal ini,
pemerintah daerah yang memetakan pembangunan peternakan tersebut ke dalam
kawasan-kawasan yang ada, sehingga apabila dalam pengembangan peternakan di
suatu kawasan dijumpai suatu jenis produksi yang memegang peranan penting, maka
pemerintah daerah dapat mengkhususkan dalam satu jenis komoditas itu saja
(Matitaputtyi dan Kuntoro, 2010).
Menurut Muyassir (2010), pengembangan kawasan peternakan yang
dicanangkan pemerintah memberikan spirit yang sangat besar kepada masyarakat
dalam memacu peningkatan pendapatan dan kesejahteraannya dan sekaligus menjadi
penggerak utama pembangunan ekonomi daerah. Selama satu dasawarsa terakhir
sektor ini menjadi tiang ekonomi daerah, peranannya cukup besar terhadap
pembangunan struktur ekonomi daerah.
Secara umum kawasan peternakan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) lokasi
sesuai dengan agroekosistem dan alokasi tata ruang wilayah, (2) dibangun dan
dikembangkan oleh masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah, (3) ternak sapi
potong dipandang sebagai komoditas ternak unggulan dan atau komoditas strategis,
(4) adanya rencana pengembangan kelompok peternak menjadi kelompok pengusaha
sapi potong, (5) sebagian besar pendapatan masyarakat berasal dari usaha agribisnis
sapi potong, (6) memiliki prospek pasar yang jelas, (7) didukung oleh ketersediaan
teknologi yang memadai, (8) memiliki peluang pengembangan atau diversifikasi
produk yang tinggi, dan (9) didukung oleh kelembagaan dan jaringan kelembagaan
yang berakses ke hulu dan hilir (Ditjen PKH, 2015).
Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan (2003) sarana dan prasarana
pendukung pengembangan kawasan pengembangan sapi potong adalah (1) sarana
Page 11
produksi, adanya industri bibit, industri vaksin, obat, (2) pengamanan budidaya antara
lain tersedianya poskeswan dan pos inseminasi buatan, (3) pengamanan pasca panen
dan pengolahan hasil diperlukan adanya rumah potong hewan, industri pengolah
daging dan produk ternak lainnya, (4) pemasaran, adanya holding ground, pasar
hewan, sarana transportasi, (5) pengembangan usaha, terdapatnya kelembagaan
keuangan (permodalan), penyuluh, koperasi, lembaga peneliti dan kelembagaan
keuangan (permodalan), serta kelembagaan pasar dan (6) tersedianya listrik dan
air.
Page 12
BAB III.
PEDEKATAN DAN METODOLOGI
1.1. Tempat dan waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan di wilayah Kecamatan Puriala, dengan
mengambil sampel di wilayah daratan Kabupaten Konawe. Penetapan kabupaten
lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling dengan pertimbangan: (1)
lokasi penelitian memiliki calon kawasan Ranch peternakan dan pemerintah daerah
setempat telah mengusulkan penetapannya kepada Direktorat Jenderal Peternakan
melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara, (2) lokasi
mewakili daerah di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe,
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah semua peternak yang
termasuk dalam calon kawasan ranch yang telah ditetapkan oleh masing-masing
pemerintah daerah dan telah disulkan kepada Ditjen PKH melalui Dinas Pertanian
dan Peternakan Produksi Sulawesi Tenggara.
Target sasaran pengamatan dikelompokkan menjadi, yaitu:
1. Kawasan ranch peternakan Kecamatan Puriala. Semua kawasan ranch
peternakan dijadikan sebagai target sasaran pengamatan atau dilakukan
secara sensus.
2. Kelompok Peternak. Semua kelompok peternak dan anggotanya yang
terdapat di dalam calon kawasan ranch Kecamatan Puriala
3. Stakeholder lain yang terkait dengan rencana kawasan ranch meliputi:
pengambil kebijakan di dinas/bagian peternakan, penyuluh
pertanian/peternakan dan petugas kecamatan.
Khusus untuk sasaran kelompok peternak dan anggotanya yang jumlahnya
relatif banyak, maka responden yang akan diambil datanya hanya sebagian atau
disampling. Sesuai dengan jenis dan sifat data yang akan diambil, sampel penelitian
Page 13
lebih mengutamakan responden yang mengetahui banyak tentang keadaan kelompok
pada calon kawasan ranch, yaitu pengurus inti kelompok peternak yang terdiri atas
ketua, sekretaris, bendahara dan koordinator bidang.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua jenis,
yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh langsung melalui wawancara dengan responden (petugas
dinas/bagian peternakan yang relevan, penyuluh peternakan, staf kecamatan yang
relevan dan pengurus kelompok peternak). Sementara itu data sekunder diperoleh
melalui studi pustaka berupa buku, laporan tahunan, jurnal, dan atau prosiding yang
relevan dengan kebutuhan data penelitian ini.
3.4. Metode Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei ke seluruh calon kawasan
ranch petrnakan pada lokasi penelitian. Metodologi pelaksanaan kegitan penyusunan
FS dan DED Ranch Kecamatan Puriala dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1. Pekerjaan persiapan, berupa studi literature dan pelaksanaan survey lapangan
Pada kegiatan ini akan dilakukan pengumpulan data sekunder dari dinas-dinas
dan stecholder terkait. Data-data akan diperoleh dari Badan Pusat Statistik
Kabupaten Konawe, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, dan Bapeda . selain
data sekunder juga akan diperoleh data primer dari hasil wawancara langsung
dengan masyarakat disekitar lokasi kegiatan.
2. Analisa kondisi eksisting lokasi perencanaan
Pada kegiatan ini akan dilakukan identifikasi kondisi lahan yang menjadi
rencapa pengembangan ranch peternakan sapi. Di samping itu juga akan
mengidentifikasi jenis rumput dan legun yang ada dalam lokasi kegiatan yang
bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak.
3. Pekerjaan survey secara rinci berupa survey lapangan
Page 14
Pada kegiatan ini akan dilakukan pemetaan untuk penentuan titik-titik
koordinat masing-masing paddock dan lokasi untuk sumber air bagi ternak,
4. Penyusunan program jangka mengenah (Potensi pendanaan APBN, APBD
Prop, APBD Kabupaten, masyarakat swasta)
Penyusunan laporan kegiatan berupa laporan pendahuluan dan laporan akhir
yang akan di seminarkan pada dinas terkait.
5. Rapat/pertemuan/pembahasan dalam penyusunan program jangka mengenah.
Seminar akhir untuk membahas fainalisasi laporan FS dan DED kawasan
ranch Kecamatan Puriala
3.5. Analisis Data
Analisis data dan informasi yang diperoleh selanjutnya akan ditabulasi dan
dilakukan analisis. Analisis data dilakukan dengan dua cara sesuai dengan tujuan dan
sifat data. Untuk menjawab tujuan kesatu sampai dengan tujuan ketiga dianalisis
secara deskriptif. Sedangkan untuk menjawab tujuan keempat dianalsis dengan
analisis SWOT (Rangkuti, 2004). Selanjutnya dilakukan pementaaan dan
perencanaan peddok.
Page 15
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik 2017, Kabupaten Konawe Dalam Angka Tahun 2017.
Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2003. Kawasan Pengembangan Peternakan,
Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 2009, Jakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2014. Pengembangan
Kawasan Peternakan. Makalah disampaikan pada Acara Roundtable
Pengembangan Kawasan. Bandung, 6 Maret 2014
Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2009. Pedoman Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan
(Puskeswan), Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 2009, Jakarta.
Ditjen PKH. 2014. Membangun Kawasan Peternakan. Makalah disampaikan pada
Roundtable Pengembangan Kawasan. Hotel Grand Pasundan, Bandung.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian
Republik Indonesia. Jakarta.
Ditjed Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2015. Pedoman Sentra Peternakan Rakyat
(SPR). Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementerian
Pertanian Republik Indonesia. 2015
Juanda. B. 2002. Pertumbuhan ekonomi dan pergeseran structural dalam
industrialisasi di Indonesia. J. Ekon., Vo.9. IPB., Bogor.
Maart-Noelck S. C. And O. Musshoff. 2013. Measuring the risk attitude of decision-
makers: are there differences between groups of methods and persons?.
Australian Agricultural and Resource Economics Society Inc. and Wiley
Publishing Asia Pty Ltd Volume 58 (3):336–352.
Matitaputtyi, P.R. dan B. Kuntoro, 2010. Potensi dan strategi pengembangan
kawasan peternakan ruminansia dan pemanfaatan limbah tanaman pangan di
kabupaten Maluku Tenggara Barat. Jumal Peternakan Vol 7 (2):70- 81.
Muladno, 2014. IPB gagas Sekolah Peternak Rakyat (SPR) 1111. Antara News,
Bogor, 29 Desember 2014. [Link]
gagas-sekolah-peternak-rakyat/#more-41
Muyassir, 2010. Analisis potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan peternakan
Kabupaten Aceh Besar. Lentera: Vol.10 (1):16-28.
Rangkuti, F., 2004, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT. Graedia,
Jakarta
Rustiadi, E., S. Saefulhakim, D.R. Panuju. 2009. Perencanaan dan Pengembangan
Wilayah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
Rustiadi, E. 2009. “Perencanaan dan Pengembangan Wilayah”. Jakarta: Crestpent
Press, Jakarta.
Page 16
Saragih, B. 2001. Agribisnis Berbasis Peternakan. Kumpulan Pemikiran. Penerbit
Pustaka Wirausaha Muda – Bogor.
Sumarno. 2008. Memfasilitasi Petani untuk Merespon Inovasi Teknologi. Prosiding
Seminar Sehari Pemberdayaan Petani melalui Informasi dan Teknologi
Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur dengan
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur
dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Timur; 1 – 6.
Widiati, R., 2014. Membangun industri peternakan sapi potong rakyat dalam
mendukung kecukupan daging sapi. Wartazoa Vol. 24 (4) 191-203.
Page 17