II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Geologi Regional
Sukanto dan Simanjuntak (1983), menjelaskan bahwa berdasarkan sifat
geologi regionalnya Pulau Sulawesi dan sekitarnya dapat dibagi menjadi beberapa
mandala geologi (Gambar 1) yakni adalah mandala geologi Sulawesi Timur,
mandala geologi Sulawesi Barat, dan mandala geologi Banggai Sula. Mandala
geologi Sulawesi Timur meliputi lengan Tenggara Sulawesi, Bagian Timur
Sulawesi Tengah dan Lengan Timur Sulawesi (Sidarto, 2013).
Lokasi Penelitian
Gambar 1. Pembagian Mandala Geologi Pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya
(Surono, 2010 dalam Sidarto 2013).
1. Geomorfologi
Geologi Lengan Tenggara Sulawesi terdiri dari 5 morfologi (Surono,
2013) (Gambar 2).
a. Morfologi pegunungan
Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini,
terdiri atas Pegunungan Mekongga, Tangkelemboke, Mendoke dan Pegunungan
Rumbia yang terpisah di ujung selatan Lengan Tenggara. Rangkaian pegunungan
dalam satuan ini mempunyai pola yang hampir sejajar berarah barat laut–tenggara.
Arah ini sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola ini
mengindikasikan bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat
hubungannya dengan sesar regional.
Lokasi Penelitian
Gambar 2. Bagian Selatan Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR (Surono, 2013)
b. Morfologi perbukitan tinggi
Morfologi perbukitan tinggi menempati bagian selatan Lengan Tenggara,
terutama di selatan Kendari. Satuan ini terdiri atas bukit-bukit yang mencapai
ketinggian 500 mdpl dengan morfologi kasar. Batuan penyusun morfologi ini
berupa batuan sediman klastika Mesozoikum dan Tersier.
c. Morfologi perbukitan rendah
Morfologi perbukitan rendah melampar luas di Utara Kendari dan ujung
selatan Lengan Tenggara Sulawesi. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah
dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama
batuan sedimen klastika Mesozoikum dan Tersier.
d. Morfologi pedataran
Morfologi dataran rendah dijumpai di bagian tengah ujung selatan Lengan
Tenggara Sulawesi. Tepi selatan Dataran Wawotobi dan Dataran Sampara
berbatasan langsung dengan morfologi pegunungan.
e. Morfologi karst
Morfologi karst melampar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan ini
dicirikan perbukitan kecil dengan sungai di bawah permukaan tanah. Sebagian
besar batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi oleh batugamping
berumur Paleogen dan selebihnya batugamping Mesozoikum.
Daerah penelitian secara geomorfologi berada pada geomorfologi dataran
rendah dan perbukitan rendah, terdiri atas bukit kecil dan rendah dengan
morfologi yang bergelombang.
2. Stratigrafi regional
Stratigrafi Lengan Tenggara Sulawesi berdasarkan Surono 2013, terbagi
dalam 3 kompleks yakni Kompleks ofiolit, Molasa Sulawesi, dan Batuan
Metamorf (Surono, 2013) (Gambar 3).
Lokasi Penelitian
Gambar 3. Peta geologi bagian timur Sulawesi skala 1:250.000( Surono, 2013b).
a. Kompleks Ofiolit
Kompleks Ofiolit di Lengan Tenggara Sulawesi merupakan bagian Lajur
Ofiolit Sulawesi Timur. Batuan pembentuk lajur ini didiminasi oleh batuan
ultramafik dan mafik serta sedimen pelagic. Batuan ultramafik terdiri atas
harzburgit, dunit, werlit, lerzolith, websterit, serpentinit, dan piroksinit (Kundig
1956 ; Simanjuntak dkk., 1993a, b, c; Rusmana dkk., 19931, b). Sementara batuan
mafik terdiri atas gabro, basalt, dolerit, mikrogabro, dan amfibolit. Sedimen
pelagiknya tersusun oleh batugamping laut dalam rijang radiolaria.
b. Molasa Sulawesi
Molasa Sulawesi menyebar luas di Lengan Tenggara Sulawesi dan terdiri
atas batuan sedimen klastik dan karbonat. Batuan sedimen klastik terdiri atas
konglomerat, batupasir, dan batulanau (Formasi Langkowala), batulempung, napal
pasiran (Formasi Boepinang), dan batupasir setempat yang berasosiasi dengan
terumbu koral (Formasi Emoiko). Kemudian Simanjuntak dkk, (1993) membagi
Formasi Langkowala menjadi dua bagian, yaitu: Anggota Batupasir dan Anggota
Konglomerat. Semua satuan batuan dalam Molasa Sulawesi ini berhubungan
saling menjari. Di sekitar Kendari, Molasa Sulawesi dapat dibagi menjadi empat
anggota, yakni: Anggota konglomerat Matarape, Anggota Konglomerat Tolitoli,
Anggota Batupasir, dan Anggota Batugamping Pohara (Surono & Sukarna, 1995
dalam Surono, 2013).
c. Batuan Metamorf
Kompleks batuan malihan menempati bagian tengah Lengan Tenggara
Sulawesi mebentuk Pegunungan Mendoke dan ujung selatannya membentuk
Pegunungan Rumbia. Kompleks ini didominasi batuan malihan yang terdiri atas
sekis, kuarsit, sabak, dan marmer (Simanjuntak dkk, 1993c; Rusmana dkk.,
1993b) dan diterobos aplit dan diabas (Surono, 1986). Batuan malihan dari
kompleks batuan malihan di Lengan Tenggara Sulawesi mengalami dua periode
pemalihan batuan, tua dan muda. Pemalihan tua menghasilkan fasies sekis
galukofan. Pemalihan tua berhubungan dengan penimbunan, sedangkan yang
muda diakibatkan sesar naik. Sangat mungkin sesar naik tersebut terjadi pada
Oligosen - awal Miosen, sewaktu kompleks ofiolit tersesar-naikkan ke attas
kepingan benua (Surono, 2013).
Dalam peta geologi regional, daerah penelitian termasuk dalam lembar
Kolaka dan lembar Lasusua Kendari 1:250.000 (Simanjuntak dkk, 1993). Formasi
batuan penyusun peta geologi regional lembar Kolaka dan lembar Lasusua
diurutkan dari termuda sebagai berikut (Gambar 4):
Gambar 4. Formasi batuan penyusun peta geologi regional lembar Kolaka dan lembar
Lasusua
1) Aluvium (Qa)
Terdiri atas lumpur, lempung, pasir kerikil dan kerakal. Satuan ini
merupakan endapan sungai, rawa dan endapan pantai. Umur satuan ini adalah
Holosen.
2) Formasi Alangga (Qpa)
Terdiri atas konglomerat dan batupasir. Umur dari formasi ini adalah
Plistosen dan lingkungan pengendapannya pada daerah darat-payau. Formasi ini
menindih tak selaras formasi yang lebih tua yang masuk kedalam kelompok
molasa Sulawesi.
3) Formasi Buara (Ql)
Terdiri atas terumbu koral, konglomerat dan batupasir. Umur dari formasi
ini adalah Plistosen-Holosen dan terendapkan pada lingkungan laut dangkal.
4) Formasi Boepinang (Tmpb)
Terdiri atas lempung pasiran, napal pasiran dan batupasir. Batuan ini
berlapis dengan kemiringan perlapisan relatif kecil yaitu < 15o yang dijumpai
membentuk antiklin dengan sumbu antiklin berarah barat daya – timur laut. Umur
formasi ini diperkirakan Pliosen dan terendapkan pada lingkungan laut dangkal
(neritik).
5) Formasi Eemoiko (Tmpe)
Terdiri atas kalkarenit, batugamping koral, batupasir dan napal. Formasi
ini berumur Pliosen dengan lingkungan pengendapan laut dangkal, hubungan
menjemari dengan formasi Boepinang.
6) Formasi Langkowala (Tml)
Terdiri atas konglomerat, batupasir, serpih dan setempat kalkarenit.
Konglomerat mempunyai fragmen beragam yang umumnya berasal dari kuarsa
dan kuarsit, dan selebihnya berupa batu pasir malih, sekis dan ultrabasa. Ukuran
fragmen berkisar 2 cm sampai 15 cm, setempat terutama dibagian bawah sampai
25 cm. Bentuk fragmen membulat – membulat baik, dengan sortasi menengah.
Formasi ini banyak dibatasi oleh kontak struktur dengan batuan lainnya dan
bagian atas menjemari dengan bagian bawah batuan sedimen formasi Boepinang
(Tmpb). Hasil penanggalan umur menunjukkan bahwa batuan ini terbentuk pada
Miosen Tengah.
7) Kompleks Pompangeo (MTpm)
Terdiri atas sekis mika, sekis glaukofan, sekis amphibolit, sekis klorit,
rijang, pualam dan batugamping meta. Sekis berwarna putih, kuning kecoklatan,
kehijauan kelabu; kurang padat sampai sangat padat serta memperlihatkan
perdaunan. Setempat menunjukkan struktur chevron, lajur tekuk (kink banding)
dan augen serta di beberapa tempat perdaunan terlipat. Rijang berwarna kelabu
sampai coklat; agak padat sampai padat, setempat tampak struktur perlapisan
halus (perarian). Pualam berwarna kehijauan, kelabu sampai kelabu gelap, coklat
sampai merah coklat, dan hitam bergaris putih; sangat padat dengan persekisan,
tekstur umumnya nematoblas yang memperlihatkan pengarahan. Persekisan dalam
batuan ini didukung oleh adanya pengarahan kalsit hablur yaag tergabung dengan
mineral lempung dan mineral kedap (opak). Batuan terutama tersusun oleh kalsit,
dolomit dan piroksen; mineral lempung dan mineral bijih dalam bentuk garis.
Wolastonit dan apatit terdapat dalam jumlah sangat kecil. Plagioklas jenis albit
mengalami penghabluran ulang dengan piroksen. Berdasarkan penarikan umur
oleh Kompleks Pompangeo mempunyai umur Kapur Akhir – Paleosen bagian
bawah.
8) Formasi Matano (Km)
Terdiri atas batugamping hablur, rijang dan batusabak. Batugamping
berwarna putih kotor sampai kelabu; berupa endapan kalsilutit yang telah
menghablur ulang dan berbutir halus (lutit); perlapisán sangat baik dengan
ketebalan lapisan antara 10-15 cm; di beberapa tempat dolomitan; di tempat lain
mengandung lensa rijang setempat perdaunan. Rijang berwarna kelabu sampai
kebiruan dan coklat kemerahan; pejal dan padat. Berupa lensa atau sisipan dalam
batugamping dan napal; ketebalan sampai 10 cm. Batusabak barwarna coklat
kemerahan; padat dan setempat gampingan; berupa sisipan dalam serpih dan
napal, ketebalan sampai 10 cm. Formasi Matano diduga berumur Kapur Atas
dengan lingkungan pengendapan pada laut dalam.
9) Kompleks Ultramafik (Ku)
Terdiri atas harzburgit, dunit, wherlit, serpentinit, gabbro, basal, dolerit,
diorit, mafik meta, amphibolit, magnesit dan setempat rodingit. Satuan ini
diperkirakan berumur Kapur.
10) Formasi Meluhu (TRJm)
Terdiri atas batupasir kuarsa, serpih merah, batulanau, dan batulumpur di
bagian bawah; dan perselingan serpih hitam, batupasir, dan batugamping di
bagian atas. Formasi ini mengalami tektonik kuat yang ditandai oleh kemiringan
perlapisan batuan hingga 80o dan adanya puncak antiklin yang memanjang utara
barat daya – tenggara. Umur dari formasi ini diperkirakan Trias.
11) Formasi Laonti (TRJt)
Terdiri atas batugamping malih, pualam dan kuarsit. Kuarsit, putih sampai
coklat muda; pejal dan keras; berbutir (granular), terdiri atas mineral granoblas,
senoblas, dengan butiran dan halus sampai sedang. Batuan sebagian besar terdini
dari kuarsa, jumlahnya sekitar 97%. Oksida besi bercelah diantara kuarsa,
jumlahnya sekitar 3%. Umur dari formasi ini adalah Trias.
12) Kompleks Mekongga (Pzm)
Terdiri atas sekis, gneiss dan kuarsit. Gneiss berwarna kelabu sampai
kelabu kehijauan; bertekstur heteroblas, xenomorf sama butiran, terdiri dari
mineral granoblas berbutir halus sampai sedang. Jenis batuan ini terdiri atas gneiss
kuarsa biotit dan gneiss muskovit. Bersifat kurang padat sampai padat.
3. Struktur Geologi
Struktur geologi yang berkembang di Lengan Tenggara Sulawesi
didominasi oleh sesar berarah barat laut-tenggara, yang utama terdiri atas Sesar
Matano, Kelompok Sesar Kolaka, Kelompok Sesar Lawanopo, dan Kelompok
Sesar Lainea.
Sesar-sesar lainnya terdiri atas Sesar Lemo, Sesar Lameroto, Sesar
Mateupe, Sesar Larumbu, Sesar Lindu, Sesar Lambatu, dan Sesar Tanjungbasi
(Sidarto & Bachri, 2013) (Gambar 5 ).
Lokasi Penelitian
Gambar 5. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya (Sidarto dan Bachri, 2013).
a. Sesar Lemo, Sesar Lameroto, dan Sesar Mateupe
Sesar-sesar ini terletak di ujung selatan Lengan Tenggara. Ketiga sesar itu
berarah barat laut-tenggara dan relatif sejajar dengan sesar utama di lengan ini,
sehingga sesar-sesar ini diduga merupakan sesar mendatar mengiri.
b. Sesar Larumbu
Sesar Larumbu berarah barat-timur dan memotong sesar-sesar utama yang
berarah barat laut-tenggara. Berdasarkan model Riedel, sesar ini termasuk sesar
mendatar mengiri dan sesuai dengan pergeseran sesar yang dipotong.
c. Sesar Lindu
Sesar Lindu berarah utara barat laut-selatan tenggara. Sesar ini dicirikan
kelurusan lembah, bidang sesar yang terjal, dan bentuknya berkelok-kelok. Sesar
ini diduga merupakan sesar normal, blok bagian timur merupakan banging wall.
Berdasarkan arahnya, sesar ini diduga terbentuk setelah kompresi yang
merupakan pelepasan gaya kompresi.
d. Sesar Lambatu
Sesar Lambatu berarah timur laut-barat daya. Berdasarkan bentuk
morfologinya, sesar ini merupakan sesar normal, blok barat merupakan foot wall
yang membetuk danau. Hal ini sesuai dengan model Riedl yang merupakan sesar
normal.
e. Sesar Tanjungbasi
Sesar Tanjungbasi berkembang di pantai barat yang dicirikan kelurusan
bentangalam. Berdasarkan bentuknya dan bidang sesar yang terjal, sesar ini
diduga merupakan sesar normal yang terjadi karena gerakan gravitasi (Sidarto &
Bachri, 2013).
Struktur Geologi yang dijumpai di daerah penelitian meliputi kekar. Kekar
dijumpai hampir seluruh satuan batuan penyusun daerah ini, kecuali alluvium.
B. Dasar Teori
1. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi yang
disebabkan oleh gelombang-gelombang seismik dari sumber gempa di dalam
lapisan kulit bumi. Pusat atau sumber gempa bumi yang letaknya di dalam bumi
disebut hiposentrum. Daerah di permukaan bumi ataupun di dasar laut yang
merupakan tempat pusat getaran bumi merambat disebut episentrum. Gempa bumi
tektonik adalah gempa bumi yang di sebabkan oleh dislokasi atau perpindahan
akibat pergesaran lapisan bumi yang tiba-tiba terjadi pada struktur bumi, yakni
adanya tarikan atau tekanan. Pergeseran lapisan bumi ada 2 macam yaitu vertikal
dan horizontal. Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari
yang sangat kecil hingga yang sangat besar.
Gempa bumi, merupakan suatu peristiwa yang tak lagi umum terjadi di
dunia yang kita tempati. Terlebih, pada Negara-negara yang dilewati oleh jalur
tektonik aktif, salah satunya Negara Indonesia, gempa bumi merupakan hal yang
cukup sering terjadi. Indonesia terletak pada daerah dengan tatanan tektonik dari
pertemuan tiga lempeng besar yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan
lempeng Indo-Australia. Salah satu dampak yang disebabkan oleh gempa bumi
adalah fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa yang
disebut dengan likuifaksi (Taufana, 2013)
2. Likuifaksi
Menurut (Seed 1979, dalam Ligrans, 2016) likuifaksi adalah suatu kondisi
dimana tanah akan mengalami deformasi yang kontinu pada tegangan sisa atau
tahanan sisa yang rendah akibat terbentuknya tekanan air pori yang tinggi yang
mengurangi tekanan efektif hingga menjadi sangat rendah. Peningkatan tekanan
air pori yang menimbulkan likuifaksi dapat disebabkan oleh bekerjanya tegangan
statis atau cyclic, dan kemungkinan terjadinya likuifaksi tergantung pada angka
pori, kepadatan relatif dan tekanan total.
Likuifaksi adalah proses hilangnya kekuatan lapisan pasir jenuh yang
diawali dengan terjadinya getaran gempa. Lapisan pasir mencair sehingga kuat
geser tanah dan daya dukung tanah tidak mampu mendukung beban yang
disalurkan beban bangunan di atasnya (upper structur), akibat beban silik yang
bekerja pada waktu gempa sehingga terkena air pori meningkat mendekati atau
bahkan melampaui tegangan vertical. Karena tekanan air porinya meningkat, jarak
antar partikel pasir menjadi semakin renggang, sehingga bearing capacity
berkurang drastic. Kerugian terbanyak terjadi akibat dari besarnya getaran yang
menyebabkan runtuhnya bangunan (Munirwansyah, dkk 2017)
Likuifaksi terjadi seiring dengan berkurangnya kekuatan geser pasir jenuh
akibat beban seismic saat terjadinya gempa bumi. Menurut Towhata (2008)
seperti yang dikutip dari Munirwansyah, dkk (2017), pasir lepas (tidak padat) dan
jenuh air memiliki potensi terjadinya likuifaksi. Tekanan air meningkat akibat
getaran gempa seperti diperlihatkan dalam (gambar 6). maka pada kondisi seperti
itu tegangan efektif (σ’) tanah berkurang. Hal ini dapat dirumuskan seperti pada
Persamaan 1.
σ’ = σ – u (1)
dimana:
σ’ = tegangan efektif (kN/m2);
σ = tegangan total tanah (kN/m2);
U = tekanan air pori (kN/m2).
Gambar 6. Proses peningkatan air pori karena guncangan yang mengakibatkan
terjadinya likuifaksi; (a) kondisi awal, (b) tegangan kontak partikel
pada saat menerima beban, (c) tegangan air pori meningkat dan
tegangan efektif negative (likuifaksi)
Nilai modulus geser maksimum pasir akan menurun bersamaan dengan
turunnya nilai tegangan efektif. Sehingga tanah pasir jenuh akan mengalami
pencairan (likuifaksi). Nilai tegangan efektif dapat pula menjadi nol bahkan
nilainya dapat menjadi negatif. Kondisi tegangan efektif terjadi ketika gaya
kontak antar butiran pasir dikurangi dengan tegangan air pori. Sehingga partikel
pasir mengalami floating bebas dalam air, sehingga massa pasir mencair. Kondisi
ini menyebabkan tanah tidak mampu mendukung beban dan konstruksi akan
amblas, miring ataupun collapse.
3. Identifikasi Potensi Likuifaksi
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap potensial likuifaksi tanah adalah
sebagai berikut:
a. Jenis tanah
Khusus untuk tanah tidak kohesif seperti pasir lepas, jika bergradasi
seragam maka kerentanan likuifaksinya besar dibandingkan dengan yang
bergradasi baik. Klasifikasi gradasi tanah ditentukan dengan mengetahui distribusi
ukuran butirannya dari sieve analysis.
b. Kerapatan relatif atau angka pori
Untuk jenis tanah dengan angka pori atau kerapatan relatif kecil maka
rentan terhadap likuifaksi. Pada gempa bumi di kota Nigata, Jepang, 1964,
likuifaksi banyak terjadi pada areal tanah berpasir dengan kerapatan relatif 50%
dan tidak terjadi pada areal dengan kerapatan relatif di atas 70%. Untuk berbagai
uji laboratorium faktor tersebut selalu digunakan sebagai parameter uji liquifaksi.
c. Tekanan batas
Potensial likuifaksi tanah menurun dengan meningkatnya tekanan batas.
Sejumlah uji laboratorium menunjukkan bahwa dibutuhkan tegangan yang besar
dengan meningkatnya tekannan batas untuk menyebabkan terjadinya likuifaksi
pada kondisi pembebanan bolak balik di laboratorium.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Potensial Likuifaksi
Soelarno 1986 dalam Marwan 2011 mengemukakan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi potensial likuifaksi pada suatu lapisan tanah pasir adalah
sebagai berikut:
a. Sifat butir tanah, pasir yang uniform (seragam) lebih mudah likuifaksi
dibanding well graded sand (pasir yang bergradasi baik), untuk uniformity
yang sama, butir pasir yang lebih halus akan lebih mudah likuifaksi. Pasir
yang mudah likuifaksi adalah pasir yang mempunyai harga D10 antara 0,01 –
0,25 mm, antara 0,075 – 2,0 mm, D20 antara 0,04 – D50 0,50 mm atau 0,004
– 1,20 mm dengan uniformity coefficient (Cu) antara 2 – 10;
b. Kepadatan relatif (Dr), makin kecil harga Dr makin berpotensi terjadi
likuifaksi;
c. Pengaruh kondisi stress mula-mula di lapangan, makin besar harganya makin
sulit tanah itu mencair (likuifaksi).
5. Kriteria Potensi Likuifaksi
Potensi likuifaksi ditentukan dengan mempertimbangkan kekuatan gempa
yang terjadi dan kondisi lapisan tanah. Lama getaran gempa dipengaruhi oleh
besarnya magnitude gempa karena getaran tersebut akan berlangsung minimal
selama tidak terjadinya geseran pada patahan. Percepatan gempa dan magnitude
gempa mempunyai hubungan-hubungan empiris berikut:
a. Berdasarkan hasil data percepatan gempa di Amerika Serikat, Jepang dan
Papua New Guinea, Donovan menyatakan hubungan seperti pada Persamaan
2 dan Persamaan 3.
a = 1080 e0,5 M / (d+25)1,32 (Donovan, 1970) (2)
a = 1320 e0,58 M / (d+25)1,52 (Donovan, 1972) (3)
b. Menurut rumus yang dikembangkan oleh Esteva berdasarkan rumus A. J.
Hendron Jr. (Newmark, 1968), untuk tanah keras seperti pada Persamaan 4.
a = 1230 e0,8 M / (d+25)2 (4)
c. Menurut rumus Kawasumi hubungan tersebut dapat dilihat pada Persamaan 5.
Log a = M – 5,45 – 0,00084 (d – 100) + log (100/d)*(1/0,43429) (5)
dimana:
M = magnitude gempa (Skala Richter);
a = percepatan gempa di permukaan tanah (gal);
e = bilangan logaritma Napier (2,7182183);
d = jarak hiposentrum dari sumber gempa (km).
6. Evaluasi Potensi Likuifaksi
Potensi likuifaksi pada suatu deposit tanah akan ditentukan oleh kombinasi
beberapa komponen, antara lain :
a. Nilai Indeks properties tanah, seperti modulus dinamis, karakteristik
kelembaban, berat isi, gradasi butiran, kepadatan relatif dan struktur tanah itu
sendiri.
b. Faktor lingkungan, seperti jenis formasi tanah, sejarah seismik dan geologi,
posisi muka air tanah dan tegangan efektif tanah.
c. Karakteristik gempa, seperti intensitas guncangan pada tanah dan lama
getaran.
Gambar 7. Metode Evaluasi Potensi Likuifaksi Tanah (Ground Motion and Soil
Liquefaction During Earthquakes, Seed & Idriss, 1982)
7. Metoda Seed et al. (1976)
Metoda Seed et al, 1976 (Marwan, 1993 : 25) mengemukan bahwa dalam
menganalisis terjadi tidaknya likuifaksi dengan metoda ini perlu diketahui jumlah
getaran yang dibutuhkan untuk mencapai likuifaksi (NL) dan jumlah cycle
ekuivalen dari gempa (Neq). Mula-mula dihitung normalisasi nilai equivalent
shear stress (τeq) dengan nilai tegangan efektif (σ’vo), menghasilkan cyclic stress
ratio. Kemudian lapisan pasir dengan kepadatan relatif (Dr) yang berbeda-beda
memberikan hubungan antara cyclic stress ratio dengan nilai NL seperti yang
terlihat pada (Gambar 8).
Gambar 8. Hubungan Antara rasio tegangan siklis dengan NL, pada nilai
Kepadatan relatif yang berbeda-beda.
Seed et al., 1976 (Soelarno et al., 1984 : 24) juga memberikan suatu
persamaan matematis untuk menghitung nilai NL untuk memudahkan dalam
perhitungan dengan persamaan berikut ini:
(6)
dimana,
NL : jumlah getaran yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan likuifaksi;
Dr : kepadatan relatif ;
σ'vo : tegangan vertikal efektif (kg/cm2);
τeq = tegangan geser ekivalen dari gempa (kg/cm2).
Menurut Seed et al., 1975 (Soelarno et al., 1984 : 19) nilai tegangan geser
siklis ekivalen gempa (τeq) dapat diambil sebesar 65 % dari nilai tegangan geser
gempa maksimum (τmax) dan mengusulkan suatu bentuk persamaan untuk
menghitung nilai tegangan geser gempa maksimum sebagai berikut:
(7)
Maka
(8)
dimana,
τeq : tegangan geser ekivalen dari gempa (kg/cm2);
g : percepatan gravitasi bumi (cm/det²);
τmax : tegangan geser maksimum dari gempa (kg/cm2);
σvo : tegangan total akibat beban yang bekerja pada lapisan deposit (kg/cm2);
amax : percepatan gempa maximum di permukaan tanah (gal);
rd : faktor reduksi tegangan sebagai fungsi dari kedalaman, yang dapat
ditentukan dengan menggunakan (Gambar 9).
Gambar 9. Hubungan nilai reduksi (rd) dan Kedalaman Sumber : Soelarno et al.,
1984 : 19
Berdasarkan pengalaman dalam pengamatan gempa terdahulu, nilai jumlah
cycle ekivalen dari gempa (Neq) dan nilai perioda ekivalen getaran gempa (Teq)
dapat ditentukan dengan suatu pendekatan yang dihubungkan dengan nilai
magnitude gempa yang bersangkutan. Nilai-nilai pendekatan tersebut
diperlihatkan pada Tabel 3.
Tabel 1. Korelasi antara nilai Neq dan Magnitude Gempa (Sumber : Seed et al.,
1976 (Marwan, 1993 : 27)
Magnitude Gempa N eզ Teզ
(Skala Richter)
5,5 - 6 5 8
6,5 8 14
7 12 20
7,5 20 40
8-9 30 60