0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
147 tayangan22 halaman

Pembagian Geologi Pulau Sulawesi

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai geologi regional dan stratigrafi di Lengan Tenggara Sulawesi. Secara ringkas, Lengan Tenggara Sulawesi terbagi atas tiga mandala geologi yakni mandala geologi Sulawesi Timur, mandala geologi Sulawesi Barat, dan mandala geologi Banggai Sula. Secara stratigrafi, batuan di kawasan tersebut terdiri atas Kompleks Ofiolit, Molasa Sulawesi, dan Bat

Diunggah oleh

Muh Hasan Monda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
147 tayangan22 halaman

Pembagian Geologi Pulau Sulawesi

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai geologi regional dan stratigrafi di Lengan Tenggara Sulawesi. Secara ringkas, Lengan Tenggara Sulawesi terbagi atas tiga mandala geologi yakni mandala geologi Sulawesi Timur, mandala geologi Sulawesi Barat, dan mandala geologi Banggai Sula. Secara stratigrafi, batuan di kawasan tersebut terdiri atas Kompleks Ofiolit, Molasa Sulawesi, dan Bat

Diunggah oleh

Muh Hasan Monda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Geologi Regional

Sukanto dan Simanjuntak (1983), menjelaskan bahwa berdasarkan sifat

geologi regionalnya Pulau Sulawesi dan sekitarnya dapat dibagi menjadi beberapa

mandala geologi (Gambar 1) yakni adalah mandala geologi Sulawesi Timur,

mandala geologi Sulawesi Barat, dan mandala geologi Banggai Sula. Mandala

geologi Sulawesi Timur meliputi lengan Tenggara Sulawesi, Bagian Timur

Sulawesi Tengah dan Lengan Timur Sulawesi (Sidarto, 2013).

Lokasi Penelitian

Gambar 1. Pembagian Mandala Geologi Pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya


(Surono, 2010 dalam Sidarto 2013).
1. Geomorfologi

Geologi Lengan Tenggara Sulawesi terdiri dari 5 morfologi (Surono,

2013) (Gambar 2).

a. Morfologi pegunungan

Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini,

terdiri atas Pegunungan Mekongga, Tangkelemboke, Mendoke dan Pegunungan

Rumbia yang terpisah di ujung selatan Lengan Tenggara. Rangkaian pegunungan

dalam satuan ini mempunyai pola yang hampir sejajar berarah barat laut–tenggara.

Arah ini sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola ini

mengindikasikan bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat

hubungannya dengan sesar regional.

Lokasi Penelitian

Gambar 2. Bagian Selatan Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR (Surono, 2013)
b. Morfologi perbukitan tinggi

Morfologi perbukitan tinggi menempati bagian selatan Lengan Tenggara,

terutama di selatan Kendari. Satuan ini terdiri atas bukit-bukit yang mencapai

ketinggian 500 mdpl dengan morfologi kasar. Batuan penyusun morfologi ini

berupa batuan sediman klastika Mesozoikum dan Tersier.

c. Morfologi perbukitan rendah

Morfologi perbukitan rendah melampar luas di Utara Kendari dan ujung

selatan Lengan Tenggara Sulawesi. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah

dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama

batuan sedimen klastika Mesozoikum dan Tersier.

d. Morfologi pedataran

Morfologi dataran rendah dijumpai di bagian tengah ujung selatan Lengan

Tenggara Sulawesi. Tepi selatan Dataran Wawotobi dan Dataran Sampara

berbatasan langsung dengan morfologi pegunungan.

e. Morfologi karst

Morfologi karst melampar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan ini

dicirikan perbukitan kecil dengan sungai di bawah permukaan tanah. Sebagian

besar batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi oleh batugamping

berumur Paleogen dan selebihnya batugamping Mesozoikum.

Daerah penelitian secara geomorfologi berada pada geomorfologi dataran

rendah dan perbukitan rendah, terdiri atas bukit kecil dan rendah dengan

morfologi yang bergelombang.


2. Stratigrafi regional

Stratigrafi Lengan Tenggara Sulawesi berdasarkan Surono 2013, terbagi

dalam 3 kompleks yakni Kompleks ofiolit, Molasa Sulawesi, dan Batuan

Metamorf (Surono, 2013) (Gambar 3).

Lokasi Penelitian

Gambar 3. Peta geologi bagian timur Sulawesi skala 1:250.000( Surono, 2013b).

a. Kompleks Ofiolit

Kompleks Ofiolit di Lengan Tenggara Sulawesi merupakan bagian Lajur

Ofiolit Sulawesi Timur. Batuan pembentuk lajur ini didiminasi oleh batuan
ultramafik dan mafik serta sedimen pelagic. Batuan ultramafik terdiri atas

harzburgit, dunit, werlit, lerzolith, websterit, serpentinit, dan piroksinit (Kundig

1956 ; Simanjuntak dkk., 1993a, b, c; Rusmana dkk., 19931, b). Sementara batuan

mafik terdiri atas gabro, basalt, dolerit, mikrogabro, dan amfibolit. Sedimen

pelagiknya tersusun oleh batugamping laut dalam rijang radiolaria.

b. Molasa Sulawesi

Molasa Sulawesi menyebar luas di Lengan Tenggara Sulawesi dan terdiri

atas batuan sedimen klastik dan karbonat. Batuan sedimen klastik terdiri atas

konglomerat, batupasir, dan batulanau (Formasi Langkowala), batulempung, napal

pasiran (Formasi Boepinang), dan batupasir setempat yang berasosiasi dengan

terumbu koral (Formasi Emoiko). Kemudian Simanjuntak dkk, (1993) membagi

Formasi Langkowala menjadi dua bagian, yaitu: Anggota Batupasir dan Anggota

Konglomerat. Semua satuan batuan dalam Molasa Sulawesi ini berhubungan

saling menjari. Di sekitar Kendari, Molasa Sulawesi dapat dibagi menjadi empat

anggota, yakni: Anggota konglomerat Matarape, Anggota Konglomerat Tolitoli,

Anggota Batupasir, dan Anggota Batugamping Pohara (Surono & Sukarna, 1995

dalam Surono, 2013).

c. Batuan Metamorf

Kompleks batuan malihan menempati bagian tengah Lengan Tenggara

Sulawesi mebentuk Pegunungan Mendoke dan ujung selatannya membentuk

Pegunungan Rumbia. Kompleks ini didominasi batuan malihan yang terdiri atas

sekis, kuarsit, sabak, dan marmer (Simanjuntak dkk, 1993c; Rusmana dkk.,
1993b) dan diterobos aplit dan diabas (Surono, 1986). Batuan malihan dari

kompleks batuan malihan di Lengan Tenggara Sulawesi mengalami dua periode

pemalihan batuan, tua dan muda. Pemalihan tua menghasilkan fasies sekis

galukofan. Pemalihan tua berhubungan dengan penimbunan, sedangkan yang

muda diakibatkan sesar naik. Sangat mungkin sesar naik tersebut terjadi pada

Oligosen - awal Miosen, sewaktu kompleks ofiolit tersesar-naikkan ke attas

kepingan benua (Surono, 2013).

Dalam peta geologi regional, daerah penelitian termasuk dalam lembar

Kolaka dan lembar Lasusua Kendari 1:250.000 (Simanjuntak dkk, 1993). Formasi

batuan penyusun peta geologi regional lembar Kolaka dan lembar Lasusua

diurutkan dari termuda sebagai berikut (Gambar 4):

Gambar 4. Formasi batuan penyusun peta geologi regional lembar Kolaka dan lembar
Lasusua
1) Aluvium (Qa)

Terdiri atas lumpur, lempung, pasir kerikil dan kerakal. Satuan ini

merupakan endapan sungai, rawa dan endapan pantai. Umur satuan ini adalah

Holosen.

2) Formasi Alangga (Qpa)

Terdiri atas konglomerat dan batupasir. Umur dari formasi ini adalah

Plistosen dan lingkungan pengendapannya pada daerah darat-payau. Formasi ini

menindih tak selaras formasi yang lebih tua yang masuk kedalam kelompok

molasa Sulawesi.

3) Formasi Buara (Ql)

Terdiri atas terumbu koral, konglomerat dan batupasir. Umur dari formasi

ini adalah Plistosen-Holosen dan terendapkan pada lingkungan laut dangkal.

4) Formasi Boepinang (Tmpb)

Terdiri atas lempung pasiran, napal pasiran dan batupasir. Batuan ini

berlapis dengan kemiringan perlapisan relatif kecil yaitu < 15o yang dijumpai

membentuk antiklin dengan sumbu antiklin berarah barat daya – timur laut. Umur

formasi ini diperkirakan Pliosen dan terendapkan pada lingkungan laut dangkal

(neritik).

5) Formasi Eemoiko (Tmpe)

Terdiri atas kalkarenit, batugamping koral, batupasir dan napal. Formasi

ini berumur Pliosen dengan lingkungan pengendapan laut dangkal, hubungan

menjemari dengan formasi Boepinang.


6) Formasi Langkowala (Tml)

Terdiri atas konglomerat, batupasir, serpih dan setempat kalkarenit.

Konglomerat mempunyai fragmen beragam yang umumnya berasal dari kuarsa

dan kuarsit, dan selebihnya berupa batu pasir malih, sekis dan ultrabasa. Ukuran

fragmen berkisar 2 cm sampai 15 cm, setempat terutama dibagian bawah sampai

25 cm. Bentuk fragmen membulat – membulat baik, dengan sortasi menengah.

Formasi ini banyak dibatasi oleh kontak struktur dengan batuan lainnya dan

bagian atas menjemari dengan bagian bawah batuan sedimen formasi Boepinang

(Tmpb). Hasil penanggalan umur menunjukkan bahwa batuan ini terbentuk pada

Miosen Tengah.

7) Kompleks Pompangeo (MTpm)

Terdiri atas sekis mika, sekis glaukofan, sekis amphibolit, sekis klorit,

rijang, pualam dan batugamping meta. Sekis berwarna putih, kuning kecoklatan,

kehijauan kelabu; kurang padat sampai sangat padat serta memperlihatkan

perdaunan. Setempat menunjukkan struktur chevron, lajur tekuk (kink banding)

dan augen serta di beberapa tempat perdaunan terlipat. Rijang berwarna kelabu

sampai coklat; agak padat sampai padat, setempat tampak struktur perlapisan

halus (perarian). Pualam berwarna kehijauan, kelabu sampai kelabu gelap, coklat

sampai merah coklat, dan hitam bergaris putih; sangat padat dengan persekisan,

tekstur umumnya nematoblas yang memperlihatkan pengarahan. Persekisan dalam

batuan ini didukung oleh adanya pengarahan kalsit hablur yaag tergabung dengan

mineral lempung dan mineral kedap (opak). Batuan terutama tersusun oleh kalsit,

dolomit dan piroksen; mineral lempung dan mineral bijih dalam bentuk garis.
Wolastonit dan apatit terdapat dalam jumlah sangat kecil. Plagioklas jenis albit

mengalami penghabluran ulang dengan piroksen. Berdasarkan penarikan umur

oleh Kompleks Pompangeo mempunyai umur Kapur Akhir – Paleosen bagian

bawah.

8) Formasi Matano (Km)

Terdiri atas batugamping hablur, rijang dan batusabak. Batugamping

berwarna putih kotor sampai kelabu; berupa endapan kalsilutit yang telah

menghablur ulang dan berbutir halus (lutit); perlapisán sangat baik dengan

ketebalan lapisan antara 10-15 cm; di beberapa tempat dolomitan; di tempat lain

mengandung lensa rijang setempat perdaunan. Rijang berwarna kelabu sampai

kebiruan dan coklat kemerahan; pejal dan padat. Berupa lensa atau sisipan dalam

batugamping dan napal; ketebalan sampai 10 cm. Batusabak barwarna coklat

kemerahan; padat dan setempat gampingan; berupa sisipan dalam serpih dan

napal, ketebalan sampai 10 cm. Formasi Matano diduga berumur Kapur Atas

dengan lingkungan pengendapan pada laut dalam.

9) Kompleks Ultramafik (Ku)

Terdiri atas harzburgit, dunit, wherlit, serpentinit, gabbro, basal, dolerit,

diorit, mafik meta, amphibolit, magnesit dan setempat rodingit. Satuan ini

diperkirakan berumur Kapur.

10) Formasi Meluhu (TRJm)

Terdiri atas batupasir kuarsa, serpih merah, batulanau, dan batulumpur di

bagian bawah; dan perselingan serpih hitam, batupasir, dan batugamping di

bagian atas. Formasi ini mengalami tektonik kuat yang ditandai oleh kemiringan
perlapisan batuan hingga 80o dan adanya puncak antiklin yang memanjang utara

barat daya – tenggara. Umur dari formasi ini diperkirakan Trias.

11) Formasi Laonti (TRJt)

Terdiri atas batugamping malih, pualam dan kuarsit. Kuarsit, putih sampai

coklat muda; pejal dan keras; berbutir (granular), terdiri atas mineral granoblas,

senoblas, dengan butiran dan halus sampai sedang. Batuan sebagian besar terdini

dari kuarsa, jumlahnya sekitar 97%. Oksida besi bercelah diantara kuarsa,

jumlahnya sekitar 3%. Umur dari formasi ini adalah Trias.

12) Kompleks Mekongga (Pzm)

Terdiri atas sekis, gneiss dan kuarsit. Gneiss berwarna kelabu sampai

kelabu kehijauan; bertekstur heteroblas, xenomorf sama butiran, terdiri dari

mineral granoblas berbutir halus sampai sedang. Jenis batuan ini terdiri atas gneiss

kuarsa biotit dan gneiss muskovit. Bersifat kurang padat sampai padat.

3. Struktur Geologi

Struktur geologi yang berkembang di Lengan Tenggara Sulawesi

didominasi oleh sesar berarah barat laut-tenggara, yang utama terdiri atas Sesar

Matano, Kelompok Sesar Kolaka, Kelompok Sesar Lawanopo, dan Kelompok

Sesar Lainea.

Sesar-sesar lainnya terdiri atas Sesar Lemo, Sesar Lameroto, Sesar

Mateupe, Sesar Larumbu, Sesar Lindu, Sesar Lambatu, dan Sesar Tanjungbasi

(Sidarto & Bachri, 2013) (Gambar 5 ).


Lokasi Penelitian

Gambar 5. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya (Sidarto dan Bachri, 2013).

a. Sesar Lemo, Sesar Lameroto, dan Sesar Mateupe

Sesar-sesar ini terletak di ujung selatan Lengan Tenggara. Ketiga sesar itu

berarah barat laut-tenggara dan relatif sejajar dengan sesar utama di lengan ini,

sehingga sesar-sesar ini diduga merupakan sesar mendatar mengiri.


b. Sesar Larumbu

Sesar Larumbu berarah barat-timur dan memotong sesar-sesar utama yang

berarah barat laut-tenggara. Berdasarkan model Riedel, sesar ini termasuk sesar

mendatar mengiri dan sesuai dengan pergeseran sesar yang dipotong.

c. Sesar Lindu

Sesar Lindu berarah utara barat laut-selatan tenggara. Sesar ini dicirikan

kelurusan lembah, bidang sesar yang terjal, dan bentuknya berkelok-kelok. Sesar

ini diduga merupakan sesar normal, blok bagian timur merupakan banging wall.

Berdasarkan arahnya, sesar ini diduga terbentuk setelah kompresi yang

merupakan pelepasan gaya kompresi.

d. Sesar Lambatu

Sesar Lambatu berarah timur laut-barat daya. Berdasarkan bentuk

morfologinya, sesar ini merupakan sesar normal, blok barat merupakan foot wall

yang membetuk danau. Hal ini sesuai dengan model Riedl yang merupakan sesar

normal.

e. Sesar Tanjungbasi

Sesar Tanjungbasi berkembang di pantai barat yang dicirikan kelurusan

bentangalam. Berdasarkan bentuknya dan bidang sesar yang terjal, sesar ini

diduga merupakan sesar normal yang terjadi karena gerakan gravitasi (Sidarto &

Bachri, 2013).

Struktur Geologi yang dijumpai di daerah penelitian meliputi kekar. Kekar

dijumpai hampir seluruh satuan batuan penyusun daerah ini, kecuali alluvium.
B. Dasar Teori

1. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi yang

disebabkan oleh gelombang-gelombang seismik dari sumber gempa di dalam

lapisan kulit bumi. Pusat atau sumber gempa bumi yang letaknya di dalam bumi

disebut hiposentrum. Daerah di permukaan bumi ataupun di dasar laut yang

merupakan tempat pusat getaran bumi merambat disebut episentrum. Gempa bumi

tektonik adalah gempa bumi yang di sebabkan oleh dislokasi atau perpindahan

akibat pergesaran lapisan bumi yang tiba-tiba terjadi pada struktur bumi, yakni

adanya tarikan atau tekanan. Pergeseran lapisan bumi ada 2 macam yaitu vertikal

dan horizontal. Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu

pergeseran lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari

yang sangat kecil hingga yang sangat besar.

Gempa bumi, merupakan suatu peristiwa yang tak lagi umum terjadi di

dunia yang kita tempati. Terlebih, pada Negara-negara yang dilewati oleh jalur

tektonik aktif, salah satunya Negara Indonesia, gempa bumi merupakan hal yang

cukup sering terjadi. Indonesia terletak pada daerah dengan tatanan tektonik dari

pertemuan tiga lempeng besar yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan

lempeng Indo-Australia. Salah satu dampak yang disebabkan oleh gempa bumi

adalah fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa yang

disebut dengan likuifaksi (Taufana, 2013)


2. Likuifaksi

Menurut (Seed 1979, dalam Ligrans, 2016) likuifaksi adalah suatu kondisi

dimana tanah akan mengalami deformasi yang kontinu pada tegangan sisa atau

tahanan sisa yang rendah akibat terbentuknya tekanan air pori yang tinggi yang

mengurangi tekanan efektif hingga menjadi sangat rendah. Peningkatan tekanan

air pori yang menimbulkan likuifaksi dapat disebabkan oleh bekerjanya tegangan

statis atau cyclic, dan kemungkinan terjadinya likuifaksi tergantung pada angka

pori, kepadatan relatif dan tekanan total.

Likuifaksi adalah proses hilangnya kekuatan lapisan pasir jenuh yang

diawali dengan terjadinya getaran gempa. Lapisan pasir mencair sehingga kuat

geser tanah dan daya dukung tanah tidak mampu mendukung beban yang

disalurkan beban bangunan di atasnya (upper structur), akibat beban silik yang

bekerja pada waktu gempa sehingga terkena air pori meningkat mendekati atau

bahkan melampaui tegangan vertical. Karena tekanan air porinya meningkat, jarak

antar partikel pasir menjadi semakin renggang, sehingga bearing capacity

berkurang drastic. Kerugian terbanyak terjadi akibat dari besarnya getaran yang

menyebabkan runtuhnya bangunan (Munirwansyah, dkk 2017)

Likuifaksi terjadi seiring dengan berkurangnya kekuatan geser pasir jenuh

akibat beban seismic saat terjadinya gempa bumi. Menurut Towhata (2008)

seperti yang dikutip dari Munirwansyah, dkk (2017), pasir lepas (tidak padat) dan

jenuh air memiliki potensi terjadinya likuifaksi. Tekanan air meningkat akibat

getaran gempa seperti diperlihatkan dalam (gambar 6). maka pada kondisi seperti
itu tegangan efektif (σ’) tanah berkurang. Hal ini dapat dirumuskan seperti pada

Persamaan 1.

σ’ = σ – u (1)

dimana:

σ’ = tegangan efektif (kN/m2);

σ = tegangan total tanah (kN/m2);

U = tekanan air pori (kN/m2).

Gambar 6. Proses peningkatan air pori karena guncangan yang mengakibatkan


terjadinya likuifaksi; (a) kondisi awal, (b) tegangan kontak partikel
pada saat menerima beban, (c) tegangan air pori meningkat dan
tegangan efektif negative (likuifaksi)

Nilai modulus geser maksimum pasir akan menurun bersamaan dengan

turunnya nilai tegangan efektif. Sehingga tanah pasir jenuh akan mengalami

pencairan (likuifaksi). Nilai tegangan efektif dapat pula menjadi nol bahkan

nilainya dapat menjadi negatif. Kondisi tegangan efektif terjadi ketika gaya

kontak antar butiran pasir dikurangi dengan tegangan air pori. Sehingga partikel

pasir mengalami floating bebas dalam air, sehingga massa pasir mencair. Kondisi

ini menyebabkan tanah tidak mampu mendukung beban dan konstruksi akan

amblas, miring ataupun collapse.


3. Identifikasi Potensi Likuifaksi

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap potensial likuifaksi tanah adalah

sebagai berikut:

a. Jenis tanah

Khusus untuk tanah tidak kohesif seperti pasir lepas, jika bergradasi

seragam maka kerentanan likuifaksinya besar dibandingkan dengan yang

bergradasi baik. Klasifikasi gradasi tanah ditentukan dengan mengetahui distribusi

ukuran butirannya dari sieve analysis.

b. Kerapatan relatif atau angka pori

Untuk jenis tanah dengan angka pori atau kerapatan relatif kecil maka

rentan terhadap likuifaksi. Pada gempa bumi di kota Nigata, Jepang, 1964,

likuifaksi banyak terjadi pada areal tanah berpasir dengan kerapatan relatif 50%

dan tidak terjadi pada areal dengan kerapatan relatif di atas 70%. Untuk berbagai

uji laboratorium faktor tersebut selalu digunakan sebagai parameter uji liquifaksi.

c. Tekanan batas

Potensial likuifaksi tanah menurun dengan meningkatnya tekanan batas.

Sejumlah uji laboratorium menunjukkan bahwa dibutuhkan tegangan yang besar

dengan meningkatnya tekannan batas untuk menyebabkan terjadinya likuifaksi

pada kondisi pembebanan bolak balik di laboratorium.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Potensial Likuifaksi

Soelarno 1986 dalam Marwan 2011 mengemukakan bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi potensial likuifaksi pada suatu lapisan tanah pasir adalah

sebagai berikut:
a. Sifat butir tanah, pasir yang uniform (seragam) lebih mudah likuifaksi

dibanding well graded sand (pasir yang bergradasi baik), untuk uniformity

yang sama, butir pasir yang lebih halus akan lebih mudah likuifaksi. Pasir

yang mudah likuifaksi adalah pasir yang mempunyai harga D10 antara 0,01 –

0,25 mm, antara 0,075 – 2,0 mm, D20 antara 0,04 – D50 0,50 mm atau 0,004

– 1,20 mm dengan uniformity coefficient (Cu) antara 2 – 10;

b. Kepadatan relatif (Dr), makin kecil harga Dr makin berpotensi terjadi

likuifaksi;

c. Pengaruh kondisi stress mula-mula di lapangan, makin besar harganya makin

sulit tanah itu mencair (likuifaksi).

5. Kriteria Potensi Likuifaksi

Potensi likuifaksi ditentukan dengan mempertimbangkan kekuatan gempa

yang terjadi dan kondisi lapisan tanah. Lama getaran gempa dipengaruhi oleh

besarnya magnitude gempa karena getaran tersebut akan berlangsung minimal

selama tidak terjadinya geseran pada patahan. Percepatan gempa dan magnitude

gempa mempunyai hubungan-hubungan empiris berikut:

a. Berdasarkan hasil data percepatan gempa di Amerika Serikat, Jepang dan

Papua New Guinea, Donovan menyatakan hubungan seperti pada Persamaan

2 dan Persamaan 3.

a = 1080 e0,5 M / (d+25)1,32 (Donovan, 1970) (2)

a = 1320 e0,58 M / (d+25)1,52 (Donovan, 1972) (3)

b. Menurut rumus yang dikembangkan oleh Esteva berdasarkan rumus A. J.

Hendron Jr. (Newmark, 1968), untuk tanah keras seperti pada Persamaan 4.
a = 1230 e0,8 M / (d+25)2 (4)

c. Menurut rumus Kawasumi hubungan tersebut dapat dilihat pada Persamaan 5.

Log a = M – 5,45 – 0,00084 (d – 100) + log (100/d)*(1/0,43429) (5)

dimana:

M = magnitude gempa (Skala Richter);

a = percepatan gempa di permukaan tanah (gal);

e = bilangan logaritma Napier (2,7182183);

d = jarak hiposentrum dari sumber gempa (km).

6. Evaluasi Potensi Likuifaksi

Potensi likuifaksi pada suatu deposit tanah akan ditentukan oleh kombinasi

beberapa komponen, antara lain :

a. Nilai Indeks properties tanah, seperti modulus dinamis, karakteristik

kelembaban, berat isi, gradasi butiran, kepadatan relatif dan struktur tanah itu

sendiri.

b. Faktor lingkungan, seperti jenis formasi tanah, sejarah seismik dan geologi,

posisi muka air tanah dan tegangan efektif tanah.

c. Karakteristik gempa, seperti intensitas guncangan pada tanah dan lama

getaran.
Gambar 7. Metode Evaluasi Potensi Likuifaksi Tanah (Ground Motion and Soil
Liquefaction During Earthquakes, Seed & Idriss, 1982)

7. Metoda Seed et al. (1976)

Metoda Seed et al, 1976 (Marwan, 1993 : 25) mengemukan bahwa dalam

menganalisis terjadi tidaknya likuifaksi dengan metoda ini perlu diketahui jumlah

getaran yang dibutuhkan untuk mencapai likuifaksi (NL) dan jumlah cycle

ekuivalen dari gempa (Neq). Mula-mula dihitung normalisasi nilai equivalent

shear stress (τeq) dengan nilai tegangan efektif (σ’vo), menghasilkan cyclic stress

ratio. Kemudian lapisan pasir dengan kepadatan relatif (Dr) yang berbeda-beda

memberikan hubungan antara cyclic stress ratio dengan nilai NL seperti yang

terlihat pada (Gambar 8).


Gambar 8. Hubungan Antara rasio tegangan siklis dengan NL, pada nilai
Kepadatan relatif yang berbeda-beda.

Seed et al., 1976 (Soelarno et al., 1984 : 24) juga memberikan suatu

persamaan matematis untuk menghitung nilai NL untuk memudahkan dalam

perhitungan dengan persamaan berikut ini:

(6)

dimana,

NL : jumlah getaran yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan likuifaksi;

Dr : kepadatan relatif ;

σ'vo : tegangan vertikal efektif (kg/cm2);

τeq = tegangan geser ekivalen dari gempa (kg/cm2).

Menurut Seed et al., 1975 (Soelarno et al., 1984 : 19) nilai tegangan geser

siklis ekivalen gempa (τeq) dapat diambil sebesar 65 % dari nilai tegangan geser
gempa maksimum (τmax) dan mengusulkan suatu bentuk persamaan untuk

menghitung nilai tegangan geser gempa maksimum sebagai berikut:

(7)

Maka

(8)

dimana,

τeq : tegangan geser ekivalen dari gempa (kg/cm2);

g : percepatan gravitasi bumi (cm/det²);

τmax : tegangan geser maksimum dari gempa (kg/cm2);

σvo : tegangan total akibat beban yang bekerja pada lapisan deposit (kg/cm2);

amax : percepatan gempa maximum di permukaan tanah (gal);

rd : faktor reduksi tegangan sebagai fungsi dari kedalaman, yang dapat

ditentukan dengan menggunakan (Gambar 9).


Gambar 9. Hubungan nilai reduksi (rd) dan Kedalaman Sumber : Soelarno et al.,
1984 : 19

Berdasarkan pengalaman dalam pengamatan gempa terdahulu, nilai jumlah

cycle ekivalen dari gempa (Neq) dan nilai perioda ekivalen getaran gempa (Teq)

dapat ditentukan dengan suatu pendekatan yang dihubungkan dengan nilai

magnitude gempa yang bersangkutan. Nilai-nilai pendekatan tersebut

diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 1. Korelasi antara nilai Neq dan Magnitude Gempa (Sumber : Seed et al.,
1976 (Marwan, 1993 : 27)

Magnitude Gempa N eզ Teզ


(Skala Richter)
5,5 - 6 5 8

6,5 8 14

7 12 20

7,5 20 40

8-9 30 60

Anda mungkin juga menyukai