REFLEKSI DIRI
Latar Belakang
Refleksi adalah suatu perilaku yang sangat dibutuhkan oleh seluruh masyarakat,
termasuk yang memiliki latar belakang kesehatan, dalam artian lebih jelas adalah dokter.
Dikarenakan, refleksi diri adalah proses untuk menjadikan pengalaman-pengalaman yang
telah didapatkan, diubah menjadi sebuah pengetahuan (kemampuan cognitive), skill, dan
perilaku (attitude). Hal yang termasuk dalam cakupan refleksi diri adalah ketika seseorang
mengalami suatu masalah dalam hidupnya atau likaliku dalam hidup, maka ia memikirkannya
setelah menyelesaikan masalah itu. Tidak hanya berhenti dengan memikirkan dengan kritis,
tetapi juga ia menjadikan suatu penyelesaian atau bahkan masalah yang telah ia hadapi
tersebut dengan mengubahnya menjadi sebuah pengetahuan dan wawasan untuk menghadapi
rintangan hidup ke depannya. Refleksi diri yang berasal dari pengalaman pribadi menerapkan
keterampilan belajar sepanjang hayat atau lifelong learning. Dengan demikian, pribadi
seseorang tersebut dapat lebih matang ketika dihadapkan dengan permasalahan serupa atau
bahkan lebih rumit dari sebelumnya karena telah melaksanakan sebuah evaluasi dan
membentuk pemahaman yang lebih bijak bagi masa depan atau future.
Dengan melakukan refleksi diri terhadap proses belajar, pengalaman, dan
pencapaiannya diharapkan dapat meningkatkan keinginan dan kemauan untuk belajar
sepanjang hayat atau lifelong learning. Dengan melakukan refleksi diri, tentu seseorang akan
merenungkan, mana yang menjadi kekuatan, dan mana yang menjadi kekurangan dalam
dirinya. Setelah mengetahui kekuatan dan kekurangan dalam dirinya, seseorang tersebut
dapat mencoba untuk memperbaiki kekurangan dalam dirinya dan meningkatkan kekuatan
yang ada. Kemampuan ini diharapkan dapat digunakan terus menerus hingga mendapatkan
gelar dokter dan seterusnya. Melalui refleksi diri seseorang akan dapat menjalankan proses
belajar sepanjang hayat, untuk senantiasa meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya
walaupun sudah tidak lagi duduk di bangku pendidikan formal. (Ronokusumo Sjamsuhidajat,
2012)
Untuk seorang mahasiswa kedokteran, terdapat pendidikan klinik. Yaitu pendidikan
yang terjun langsung ke lapangan, bertemu dengan masyarakat yang menjadi pasiennya. Di
sinilah saat menjalankan teori-teori yang telah dipelajari ketika mengikuti pembelajaran pre-
klinik. Di klinik juga, seorang mahasiwa kedokteran memerlukan waktu untuk memproses
dan memahami pengalaman mereka berdasarkan pengetahuan yang telah didapat sewaktu
pre-klinik dan juga beberapa pengalaman pribadinya. Saat itulah refleksi diri dibutuhkan.
Karena refleksi adalah bentuk pembelajaran dari pengalaman yang telah dilalui. Kemudian,
refleksi memerlukan analitis kritis dan konstruktif terhadap pengalaman tersebut termasuk
pembentukan hungan individu dengan situasi tersebut ataupun membentuk struktur baru yang
mendasari skema pengetahuan. (Susani P., 2009)
Menyadari Keterbatasan
Johari Window menyatakan bahwa setiap orang memiliki 4 kuadran, yaitu:
OPEN AREA BLIND AREA
HIDDEN AREA UNKNOWN AREA
a. Open/free area
Adalah area terbuka yang mana diri sendiri dan orang lain mengetahui tentang sifat dan
karakteristik saya. (known to self and others)
b. Blind area
Adalah area buta yang mana diri saya tidak mengetahui tentang sifat dan karakteristik diri
saya sendiri, tetapi orang lain mengetahuinya. (unknown to self and known to others)
c. Hidden area
Adalah area tersembunyi yang mana saya mengetahui tentang sifat dan karakteristik saya,
tetapi orang lain tidak mengetahuinya.(known to self and unknown to others)
d. Unknown area
Adalah area tersembunyi yang mana saya dan orang lain tidak mengetahui tentang sifat dan
karakteristik saya. (unknown to self and others)
Di antara keempat area di atas, ada suatu area yang bernama blind area. Pada blind
area ini, seseorang tidak mengetahui tentang sifat dan karakteristik dirinya sendiri. Akan
tetapi, orang lain mengetahui tentangnya. Di sinilah pentingnya manusia sebagai makhluk
social. Yang mana seseorang tersebut tidak dapat hanya hidup sendiri, melainkan memiliki
orang lain untuk mengingatkan untuk mengawal diri seseorang itu sendiri. Jadi, sebagai
pribadi social, harus siap untuk menerima kritikan bahkan teguran yang bertujuan baik, yaitu
untuk menasehati diri ketika sedang melakukan suatu tingkah yang itu sebenarnya tidak baik.
Itu justru menyelamatkan diri seseorang tersebut. Karena manusia tidak ada yang sempurna.
Dengan blind area sehingga dapat didapati apa yang tidak bisa dipandang dengan diri sendiri.
Itulah fungsi social, yaitu untuk saling mengingatkan agar selalu melakukan kebaikan dan
tidak menyimpang.
Jendela tersebut adalah jendela yang ideal, johan window. Di dalam jendela tersebut
terdapat bagian unknown area. Yaitu area yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh
diri sendiri. Seharusnya, area ini haruslah diperkecil. Sedangkan, terdapat area terbuka atau
open/free area. Yang mana pada area ini adalah area yang diketahui oleh siapa pun, baik itu
diri sendiri maupun orang lain. Seharusnya pada area inilah yang memiliki luas maksimal.
Karena seseorang harus memiliki sifat terbuka, di samping diri seseorang tersebut
mengetahui dengan baik tentang kelebihan dan kekurang diri sendiri, tetapi harus bersifat
terbuka untuk menerima feedback dari orang lain. Karena pasti ada hal yang dilakukan, tetapi
tidak disadari.
Setelah mempelajari diri sendiri melalui Johari Window, selanjutnya adalah hal-hal
untuk memahami, mengenal, dan mempelajari keterbatasan diri: (Prabandari YS, 2014)
1. Sensitive line
2. Value
3. Kematangan
4. Gaya belajar
5. Mengembangakn kesadaran diri
Definisi Refleksi
Refleksi berasal dari bahasa latin yang berarti “to bend” atau “to turn back”. Refleksi
dalam konteks pendidikan dapat disadari sebagai proses atau tindakan untuk melihat kembali
ke masa lampau dengan tujuan untuk memproses pengalaman yang didapat sehingga dapat
diinterpretasu atau dilakukan analisis.
Refleksi merupakan suatu proses metakognitif yang terjadi sebelum, selama, dan
sesudah situasi tertentu dengan tujuan untuk mengembangakn pemahaman yang lbeih baik
mengenal diri sendiri dan situasi yang dihadapi. Sehingga ketika di masa depan menemui
situasi yang sama dapat dihadapi dan bertindak lebih baik, lalu hasil yang didapat akan lebih
baik pula.
Tujuan Refleksi Kritis
Model Refleksi
Pertanyaan Refleksi
Diadaptasi dari John’s Questions:
1. Jelaskan secara singkat dan jelas tentang pengalaman anda
2. Mengapa anda menganggap
3. Apa yang hendak Anda capai saat itu?
4. Hal atau keputusan klinis apakah yang Anda ambil?
5. Factor-faktor apakah yang mempengaruhi keputusan Anda?
6. Apakah ada alternative dari keputusan yang Anda buat?
7. Gambarkan oerasaan
Dimensi Refleksi
Tingkat Refleksi
Menurut Bain et al. (1999) ada 5 tingkat refleksi, yaitu:
1. Reporting
Mendeskripsikan, menceritakan dengan tambahan berupa observasi atau penambahan
wawasan.
2. Responding
Memberi penilaian terhadap observasi dan perasaan yang terdapat pada diri sendiri.
3. Relating
Mengerti hungan antara pembelajaran dengan pengalaman.
4. Reasoning
Melihat konsep mengapa sesuatu terjadi selama pembelajaran.
5. Reconstructing
Memperoleh hasil secara signifikan dari pembelajaran mereka dan dari rencana yang telah
disusun atau dibuat untuk perkembangan belajar dengan dasar refleksi diri mereka sendiri.
Manfaat Refleksi Diri
1. Membantu seseorang dalam mengeksplorasi pengalamannya sehingga dapat diperoleh
pemahaman dan perspektif baru.
2. Melatih kemampuan berpikir kritis, analitik, dan sistematis.
3. Melatih sikap keterbukaan dan mawas diri.
Pembelajaran Refleksi
Pembelajaran refleksi merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran sepanjang hayat.
Refleksi diri dapat membantu seseorang menyadari apa yang telah mereka kerjakan atau yang
tidak dikerjakan selama kegiatan yang mereka ikuti dan memungkinkan membuat
penyesuaian atau mengubah apa yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan
hasil refleksi.
Belajar Sepanjang Hayat (Lifelong Learning)
Sebuah konsep yang meliputi serangkaian kegiatan inisiasi diri (self-initiated activities-
behaviour aspect), keterampilan mencari informasi (information-seeking skills-capabilities)
yang dilakukan seseorang dengan motivasi (motivation-predisposition) untuk belajar, serta
kemapuan untuk mengenal kebutuhan pembelajarannya sendiri (learning needs-cognitive
aspect). Pembelajaran sepanjang hayat hanya dapat dilakukan oleh seorang adult learner,
yang memilki karakteristik:
1. Rasa ingin tahu
2. Helicopter vision (pandangan luas)
3. Kemampuan mengelola informasi
4. Kemampuan mengelola diri sendiri
5. Memiliki keterampilan belajar
Portofolio
Merupakan kumpulan dari hasil kerja mahasiswa yang menjadi bukti adanya pencapaian
pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan profesionalisme melalui suatu proses refleksi diri
dalam jangka waktu tertentu. Portofolio merupakan suatu alat yang dapat meningkatkan
student awareness, mendorong mahasiswa untuk belajar mandiri dan melakukan refleksi diri
terhadap performanya.
Kelebihan:
Kekurangan:
Penilaian Refleksi