0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan26 halaman

Teknologi ABS dan EBD pada Mobil

Makalah ini membahas tentang Anti-lock Brake System (ABS) dan Electronic Brake Force Distribution (EBD). ABS bekerja untuk mencegah roda terkunci saat pengereman mendadak agar mobil tetap terkendali, sedangkan EBD mengalokasikan tenaga rem secara elektronik untuk mencegah roda belakang terkunci lebih dulu dibanding roda depan.

Diunggah oleh

Gunnery Ngampel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan26 halaman

Teknologi ABS dan EBD pada Mobil

Makalah ini membahas tentang Anti-lock Brake System (ABS) dan Electronic Brake Force Distribution (EBD). ABS bekerja untuk mencegah roda terkunci saat pengereman mendadak agar mobil tetap terkendali, sedangkan EBD mengalokasikan tenaga rem secara elektronik untuk mencegah roda belakang terkunci lebih dulu dibanding roda depan.

Diunggah oleh

Gunnery Ngampel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“ Anti – lock Brake System (ABS), Electronic Brake force Distribution (EBD) ”

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Manajemen Chasis pada
Semester genap tahun 2018/2019 diampu oleh Bapak [Link] ,M.T

Disusun oleh :

Abdul Hadi 1741223008

PROGRAM STUDI TEKNIK OTOMOTIF ELEKTRONIK

JURUSAN TEKNIK MESIN

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Malang, 15 april 2019

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di zaman yang begitu berkembang sangat pesat teknologi nya dan juga
berkembang pula manusia dalam berfikir membuat semua pekerjaan manusia
serasa mudah. Salah satu contoh adalah di bidang transportasi, transportasi sangat
berpengaruh untuk memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan. Mobil
adalah salah satu transportasi yang berjalan didarat dan memudahkan manusia
untuk berpergian dengan jarak yang jauh.
Namun untuk mobil sendiri masih memiliki kekurangan dalam segi
keamanan, kami ambil contoh pada sistem rem. Sistem rem atau Brake adalah
sistem yang berfungsi sebagai pengaman untuk kendaraan dan bekerjanya untuk
mengurangi kecepatan serta membuat berhenti kendaraan ketika melaju dijalan.
Teknologi pada sistem rem di zaman sekarang sudah dikembangkan oleh
produsen mobil untuk meningkatkan keamanan pada kendaraan dan juga
mengurangi tingkat kecelakaan dijalanan yang menyebabkan kematian, baik itu
penumpang atau pengemudi kendaraan tersebut. Ada tiga macam pengembangan
yang dilakukan oleh produsen mobil, yaitu ABS (Anti – lock Brake System), EBD
(Electronic Brake force Distribution).
Maka dari itu tujuan daripada pembuatan makalah ini yaitu untuk
menjelaskan teknologiABS dan EBD tersebut serta komponen apa saja yang
digunakan dan juga bagaimana cara kerja teknologi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Kami telah menulis beberapa rumusan masalah untuk makalah ini :
1. Apa itu ABS dan EBD?
2. Apa saja komponen pada ABS dan EBD?
3. Bagaimana cara kerja ABS dan EBD?
4. kelebihan dan kekurangan ABS dan EBD?

1.3 Tujuan Masalah


Kami telah menulis beberapa tujuan masalah untuk makalah ini :
1. Ingin mengetahui ABS dan EBD.
2. Ingin mengetahui komponen pada ABS dan EBD.
3. Ingin mengetahui cara kerja ABS dan EBD.
4. Ingin mengetahui kelebihan dan kekurangan ABS dan EBD.

1.4 Batasan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah diatas, ada beberapa batasan masalah yaitu:
1. Hanya menjelaskan teknologi, komponen, cara kerja pada sistem rem.
2. Tidak menyinggung sistem yang lain pada kendaraan.
3. Difokuskan pada kendaraan mobil.

BAB II

DASAR TEORI

Pada bab ini akan dibahas mengenai kajian teori yang meliputi (1) ABS, (2)
EBD. Ketiga hal tersebut dijelaskan sebagai berikut.

2.1 ABS ( Anti – lock Brake System)


2.1.1 Sejarah ABS ( Anti – lock Brake System)

Anti-lock Braking System atau ABS sudah menjadi fitur standar hampir
semua jenis mobil. Sistem ini berfungsi mencegah roda terkunci saat
pengereman panic. Karena jika roda terkunci maka mobil akan tergelincir dan
tidak bisa dikendalikan lagi. Jika roda tidak terkunci, maka mobil bisa
dikendalikan menghindari benturan.

Prinsip kerjanya sederhana. Agar roda tidak terkunci saat di pedal rem
diinjak hingga lantai mobil, maka sistem ABS akan menutup dan membuka
aliran tenaga ke rem dengan frekuensi yang sangat cepat. Itulah sebabnya, saat
ABS bekerja terdengar seperti bunyi berisik dibawah. Itu tanda sistem bekerja
bukan tanda adanya masalah.

Pengemudi jaman dulu biasanya mengenal istilah mengocok rem, rem


ditekan-lepas berkali-kali secara cepat. teknik ini butuh skill dan belum tentu
cukup cepat untuk memberikan perlindungan yang efektif. Nah, dengan ABS
tidak perlu lagi skill itu.

ABS dirancang agar mobil tetap terkendali pada saat panic braking, bukan
memperpendek jarak pengereman. Pada beberapa situasi, ABS mungkin akan
memperpendek jarak pengereman di permukaan jalan yang basah atau licin
dibandingkan tanpa ABS. Pada tipe jalan yang tidak keras seperti gravel, pasir,
atau salju yang belum padat, ABS akan memperpanjang jarak pengereman.
Pendek kata, rem ABS tidak berarti lebih pakem, tapi lebih terkendali di jalan
licin.

Teknologi ini awalnya digunakan pesawat tempur pada PD II. Saat itu
sistemnya masih mekanis. Sejak 1950 para insinyur otomotif sudah bermimpi
membawa ABS ke kendaraan roda empat. Teknologi mekanis itu sempat
diaplikasikan di mobil buatan Inggris, Jensen FF tahun 1966. Dibuat dalam
edisi terbatas hanya 320 unit hinggga 1971.

Para insinyur menyadari, untuk menghasilkan teknologi anti-slip yang


efektif, perlu kontrol elektronik yang bergerak cepat. Ford kemudian
memperkenalkan Sure-Track yang dikontrol secara elektronik. Sistem ini
dibuat oleh Kelsey-Hayes dan ditawarkan sebagai fitur opsional pada
Thunderbird dan Continental Mark III pada akhir 1969. Lima tahun kemudian
Sure-Track (yang hanya bekerja pada roda belakang) menjadi fitur standar
Continental Mark IV. Tahun 1971 General Motors memperkenalkan
Trackmaster hanya untuk roda belakang. dan menjadi fitur opsional model-
model keluaran Cadillac dan Oldsmobile. Tahun 1971 Nissan
memperkenalkan EAL (Electro Anti-lock System) sebagai fitur opsional untuk
Nissan Presiden (ABS pertama buatan Jepang), disusul Toyota Crown.

Chrysler kemudian mengaplikasikan sistem ABS elektronik empat roda


pada 1971 Imperial. Inilah cikal bakal teknologi ABS modern. Mercedes-
Benz dengan teknologi ABS buatan Bosch bersikeras mengklaim mereka yang
pertama mencapai fase produksi massal. Mulai 1978, perusahaan yang berbasis
di Stutgart ini memasang ABS dibanyak model premiumnya. Salah satunya
dipasang di limo Mercedes-Benz 450 SEL (cikal bakal S-Class).

Teknologi Bosch yang dipakai Mercedes-Benz memang lebih canggih


dengan control digital. Namum Sure-Brake buatan Bendix yang dipakai
Chrysler Imperial terbukti efektif, seperti dikisahkan Popular Science edisi
November 1970, yang menyimpulkan ‘pengereman kuat dan pakem bahkan di
permukaan es’.

Pada masa-masa awal itu, popularitas sistem ini masih terbatas. Peminat
fitur Sure-Brake pada Chrysler Imperial tidak tibanyak, hanya beberapa ratus
mobil pertahun. Pada 1974, fitur ini dihapus. Salah satu sebabnya bisa jadi
karena harganya yang mahal.

Sejak dekade 90-an ABS semakin banyak dipakai mobil-mobil produksi


masal setelah sebelumnya hanya menjadi fitur mobil premium. Konsumen juga
semakin paham fungsinya. Tapi tidak semua orang mendukung aplikasi
teknologi ini. Mereka yang menentang mengatakan harga yang harus dibayar
konsumen tidak sepadan dengan manfaatnya. Ada juga yang berpendapat,
penerapan ABS justru membuat pengemudi menjadi terlalu percaya diri dan
mengendarai mobilnya ugal-ugalan. Namun uji coba yang dilakukan the
Highway Loss Data Institute menyimpulkan ABS efektif mencegah benturan
dan membantu meningkatkan keamanan berlalulintas.

2.1.2 Definisi ABS ( Anti – lock Brake System)

Merupakan sistem pengereman pada mobil agar tidak terjadi penguncian


roda ketika terjadi pengereman mendadak/keras. Sistem ini bekerja apabila
pada mobil terjadi pengereman keras sehingga salah sebagian atau semua roda
berhenti sementara mobil masih melaju, membuat kendaraan tidak terkendali
sama sekali. Ketika sensornya mendeteksi ada roda mengunci, ia akan
memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan, lalu
mengeraskannya kembali begitu roda berputar. Proses itu berlangsung sangat
cepat, bisa mencapai 15 kali/detik. Efeknya adalah mobil tetap dapat
dikendalikan dan jarak pengereman makin efektif

Manfaat Fitur ABS Kesalahan persepsi pada fungsi rem menyebabkan


redahnya pemahaman konsumen pada manfaat rem ABS (Anti-lock Braking
System). Karena itu, tak mengherankan bila masih banyak konsumen mobil
yang menganggap sepele fungsi fitur rem ABS. Padahal, fitur ABS sangat
besar manfaatnya bagi keselamatan berkendara, terutama saat pengereman
mendadak terlebih dilakukan di jalan yang licin.

Sampai detik ini pun banyak di antara pengemudi yang memahami rem
sebagai penghenti laju kendaraan. Padahal, fungsi rem hanyalah mengurangi
putaran roda. Cobalah Anda bayangkan, mengapa mobil yang berlari kencang
masih meluncur ketika rem sudah diinjak sedemikian dalamnya. Apalagi bila
dilakukan dalam kondisi lintasan basah atau berpasir. Penyebab masih
meluncurnya mobil setelah di rem bukan karena roda yang masih berputar,
tapi diakibatkan gaya sentrifugal. Semakin kencang pergerakan mobil maka
semakin besar potensi gaya sentrifugal yang diterimanya ketika dilakukan
pengentian mendadak. Pada mobil tanpa fitur ABS gaya sentrifugal yang besar
bahkan mampu menyeret ban yang terkunci oleh rem.
Efek dari gaya sentrifugal memang hanya melempar mobil lurus ke depan.
Namun bisa dibayangkan, bagaimana bila ketika gaya sentrifugal diterima
mobil posisi roda depan sedang dalam keadaan miring. Ya, mobil akan
meluncur tak terkendali, bahkan paling fatal mengakibatkan mobil terbalik.
Untuk mengurangi gaya sentrifugal itulah maka tercipta rem ABS. Namun
jauh sebelum ABS ditemukan para pembalap telah menerapkan prinsif kerja
rem ABS secara manual. Para pembalap biasanya melakukan pengereman dari
kecepatan tinggi dengan cara menekan pedal rem secara bertahap, dalam
reflek tinggi dan bobot tekanan yang berbeda-beda. Pengemudi awam kerap
memahami metode ini dengan melakukan tindakan “mengocok” rem. Namun
hampir sebagian besar dari mereka salah menerapkannya. Alhasil, tak ada
manfaat dari tindakannya itu. Sebetulnya, yang dilakukan pembalap tempo
dulu (sebelum ditemukan ABS) sama dengan prinsip sederhana kerja fitur
ABS. ABS melakukan pengurangan laju secara gradual dengan pengereman
bertahap. Metode kerjanya dikontrol secara mekanis. Tujuannya, untuk
menghindari roda terkunci, sehingga potensi gaya sentrifugal yang akan
mendorong mobil ikut terkurangi.

Pada mobil-mobil mahal, sistem ABS sudah dikontrol oleh teknologi


komputer yang cerdas. Beberapa mobil canggih bahkan bisa mengontrol
besaran tekanan rem yang dibutuhkan untuk masing-masing roda.
Namun terkadang, tanpa di sadari, banyak pengendara mobil berfitur ABS
masih memperlakukan gaya pengereman “mengocok”. Tindakan ini sama
sekali tidak dibutuhkan. Sebaliknya bila hal ini dilakukan maka hanya akan
membingungka sensor ABS yang pada ujungnya mengurangi sensitifitas
pengereman.

2.1.2 Komponen pada ABS (Anti – lock Brake System)

1. Master silinder
Fungsi master silinder adalah sebagai pengkonversi gerakan mekanis dari
pedal rem menjadi tekanan hidrolik. Master silinder bekerja dengan menggunakan
piston yang ditekan oleh pedal dan piston ini menekan minyak rem. Minyak rem
bertekanan ini akan disalurkan ke pompa ABS.

2. ABS hydraulic control valve

Katup ABS secara sederhana adalah pintu gerbang minyak rem dari master
silinder menuju silinder roda. Pada sistem rem non-ABS, minyak rem dari master
silinder akan langsung ke silinder roda. Namun pada sistem ABS, katup ini
berfungsi untuk memanipulasi tekanan hidrolik dari master silinder.
Setidaknya ada tiga posisi katup ABS yakni ;

 Posisi satu, katup akan terbuka sehingga tekanan hidrolik minyak rem dari
master silinder bisa dilanjutkan ke silinder roda.

 Posisi dua, katup akan tertutup sehingga aliran minyak rem akan terblokir,
ini bertujuan untuk mencegah tekanan hidrolik terlalu tinggi saat
pengemudi menginjak pedal rem sekuat tenaga. Dengan kata lain, saat
posisi dua ini tekanan hidrolik sebelum katup ABS bisa lebih besar
dibandingkan setelah katup ABS.

 Posisi tiga, katup akan mengurangi sebagian tekanan hidrolik pada silinder
roda untuk menyesuaikan beban pengereman dan mencegah roda terkunci.

Katup ini juga tidak hanya satu, tapi menyesuaikan roda kendaraan. Untuk
mobil maka terdapat empat buah katup yang akan mengatur tekanan hidrolik
masing-masing roda secara independen.

3. ABS pump
Pompa ABS memiliki fungsi untuk mengembalikan tekanan hidrolik pada
silinder roda setelah tekanan hidrolik drop karena pembukaan katup ABS. inilah
yang menyebabkan sistem rem tetap bekerja meski katup ABS bekerja dengan
mengurangi tekanan hidrolik pada silinder roda.
Mekanismenya, saat roda terkunci maka tekanan hidrolik pada roda
tersebut akan dikurangi sampai roda kembali berputar. Ketika roda sudah berhasil
berputar, maka pompa ABS akan mengembalikan tekanan hidrolik dengan cepat.
Begitulah seterusnya mekanisme ini berlangsung, tapi kita tidak merasakan siklus
kerjanya karena dalam satu detik siklus ini bisa berlangsung hingga 5 kali.
Pompa ABS menggunakan motor listrik, sehingga sumber tenaganya jelas dari
aki.

4. ABS control module


Fungsi ABS control module adalah sebagai perangkat “processing unit”
untuk mengatur kapan waktunya, berapa lama interval katup terbuka dan tertutup.
Selain itu, ABS control module ini juga mengatur kapan ABS pump harus bekerja.
Module ini mirip ECM pada sistem efi mesin, bedanya module ini hanya
mengatur pada area sistem pengereman. Jadi ABS control module akan menerima
info dari sensor, lalu melakukan perhitungan dan hasilnya akan digunakan untuk
memberi perintah ke aktuator dalam hal ini valve dan ABS pump.

5. Speed sensor
Ini adalah sensor utama sistem ABS, fungsi speed sensor adalah untuk
mendeteksi kecepatan masing-masing roda. Beberapa orang juga menyebutnya
dengan wheel speed sensor, atau sensor ABS. meski fungsinya untuk mendeteksi
kecepatan roda sensor ini sangat penting keberadaannya untuk sistem ABS.
Karena yang mendeteksi roda terkunci atau selip ya sensor-sensor ini. Cara kerja
sensor ini sama seperti CKP sensor yang memnfaatkan induksi elektromagnet
roda bergerigi dengan pick-up coil. Jumlah sensor ini, juga menyesuaikan jumlah
roda kendaraan.

6. Wheel cylinder

Silinder roda berfungsi untuk mengubah tekanan hidrolik pada minyak


rem menjadi gerakan mekanis yang mendorong kampas rem untuk menjepit ke
piringan. Cara kerjanya juga sama seperti master silinder dengan memanfaatkan
piston, namun piston ini akan ditekan oleh minyak rem dan hasilnya piston akan
menekan kampas rem.

7. Hydraulic brake channels


Saluran hidrolik berfungsi sebagai jalur aliran minyak rem dari master
silinder sampai ke silinder roda. Kalau anda lihat, saluran hidrolik pada sistem
ABS akan lebih rumit karena dari ABS valve terdapat empat buah saluran yang
mengarah ke masing-masing roda secara independen.
Bahan saluran ini, juga tetap mempertahankan material logam karena kuat
terhadap panas, dan kuat juga terhadap gesekan benda tajam.

2.1.3 Diagram Sistem Kerja ABS


Sensor kecepatan akan membaca kecepatan mobil setiap saat, dan
menyampaikan data kecepatan tersebut ke pada kontroler. Untuk mobil berhenti
secara normal di kecepatan 100 kilometer perjam, akan diperlukan waktu selama
5 detik. Tentunya pada saat anda melakukan pengereman normal, tidak akan
terjadi penguncian roda kendaraan. Lain ceritanya jika anda melakukan
pengereman mendadak, maka roda akan terkunci. Waktu yang diperlukan untuk
roda terkunci kurang lebih 1 detik.

Karena kontroler telah di program, untuk dapat menghentikan kendaraan


secara maksimal, terkuncinya roda saat pengereman tidak boleh terjadi. Sebelum
roda terkunci, kontroler akan mendapatkan data dari sensor kecepatan dan akan
memerintahkan katup menghalangi tekanan, dengan cara mengambil katup posisi
dua atau katup posisi 3, sesuai perintah dari kontroler. Setelah putaran roda
terdeteksi oleh sensor kecepatan, kontroler akan memerintahkan katup untuk
mengambil posisi satu, yang membuat tekanan minyak rem kembali dan
diteruskan ke rem. Cara kerja rem ABS diatas terjadi sangat cepat, rata-rata sistem
ABS pada mobil sekarang, mampu melakukan 15 kali proses tersebut dalam 1
detik.
Demikianlah dasar cara kerja rem ABS, tentunya disetiap mobil memiliki
sistem dan komponen yang berbeda, sesuai dengan kemampuan dan performa
mobil dan harga jual dari mobil.

2.1.4 Cara kerja sistem ABS

1. Rem Bekerja Normal (ABS Tidak Berfungsi)

Karena sistem masukan yang berupa putaran rotor dan sensor tidak membaca
terjadinya slip antara putaran masing-masing roda, sehingga control otomatis ABS
tidak bekerja. Sistem pengereman pada proses kerja ini hanya berkerja seperti
kendaraan yang tidak menggunakan ABS. Tekanan dari Master silinder diteruskan
langsung menuju caliper rem.

2. Rem Bekerja (Tekanan Tetap / Roda Mulai Slip)


Sistem rem sudah mulai mengalami slip pada masing-masing roda, akan tetapi
perbedaan putaran antara masing-masing roda tidak memberikan masukan yang
cukup besar. Pengaturan fluida rem ini terjadi oleh pengaturan solenoid karena
tekanan yang tetap pada keempat roda akibat penurunan tekanan oleh roda yang
mulai selip tidak cukup besar. Aliran fluida rem dapat dilihat gambar diatas.

3. ABS Bekerja (Tekanan Menurun / Roda Slip Secara Cepat)


Putaran-putaran roda yang terjadi saat pengereman ini berbeda-beda, sehingga
mengakibatkan roda-roda mengalami selip. Karena terjadinya putaran slip ini
mengakibatkan tekanan yang dari master silinder akan membalik tidak dapat
menuju caliper dan kembali ke by-pass check valve. Putaran yang berbeda
tersebut dibaca oleh wheel speed sensor dan memberikan masukan ke modul ECU
untuk memproses pemberian tekanan akibat perbedaan putaran. ECU yang telah
menerima respon dari wheel speed sensor akan mengaktifkan motor dan pompa,
sehingga tekanan akan disuplai kembali kedalam sistem rem. Akan tetapi
pemberian tekanan ini tidak sepenuhnya tinggi tetapi putaran pompa diatur oleh
ecu unuk berkerja secara fluktuatif agar roda-roda kendaraan tidak terjadi
penguncian. Aliran fluida data dilihat pada gambar.

4. ABS Bekerja (Tekanan Meningkat / Roda Slip Sesaat)


ABS bekerja tekanan meningkat dan roda selip sesaat. Proses kerja ini
terusan dari proses kerja ABS Tekanan Menurun dan Roda Slip Secara Cepat.
Setelah perbedaan putaran dibaca oleh wheel speed sensor mendekati
keseimbangan sensor memberikan input ke ECU dan selanjutnya ECU
memberhentikan atau memutus aliran listrik ke motor dan pompa sehingga
tekanan tinggi hanya disuplai oleh accumulator tanpa pompa dari ABS. Aliran
dapat dilihat gambar diatas.

5. Rem Dilepas

Setelah wheel sensor membaca tidak ada lagi perbedaan putaran antara
masing-masing roda, maka selanjutnya sistem ABS tidak berfungsi. Saat pedal
rem dilepas, tekanan fluida rem dari caliper rem akan kembali lagi menuju master
rem / reservoir tank. Aliran dapat dilihat pada gambar.

Pada dasarnya sistem rem ABS merupakan sistem kontrol otomatis pada
sistem pengereman yang dibuat untuk mempermudah dan memberikan
keselamatan bagi pembawa kendaraan. Prinsip dasar yang diterapkan pada
masing-masing merek pabrikan kendaraan akan sama dan hanya akan terjadi
sedikit perbedaan dari komponen-komponen didalamnya.

Kelebihan rem ABS

Seperti yang telah dijelaskan, rem pada sistem ABS akan memastikan roda
tidak terkunci saat melakukan pengereman sehingga membuat kendaraan mudah
dikendalikan ketika Anda mengerem mendadak. Pengereman juga lebih pakem
ketika kendaraan berada di permukaan yang datar serta lebih cepat dibandingkan
dengan rem biasa.

Kekurangan rem ABS

Meskipun sudah memiliki sistem kelas atas, siapa bilang rem ABS tidak
memiliki kekurangan. Rem ABS terbukti masih kesusahan ketika menghadapi
jalan yang berkerikil atau tidak rata. Misalnya ketika berada di kerikil, pasir, atau
jalan yang bergelombang, rem terkadang menjadi kurang pakem, bahkan
menimbulkan bunyi menggeruk.

Selain itu, biaya yang lebih besar patut menjadi perhatian. Biaya
perawatan relatif meningkat karena sensor pada roda membutuhkan pengecekan
konstan. Sensor mungkin perlu dikalibrasi ulang dari waktu ke waktu. Selain itu,
penambahan ABS pada sistem elektronik mobil meningkatkan kemungkinan
kerusakan sistem.

Sejarah rem ABS

Sejarah rem ABS berawal pada 22 hingga 25 Agustus 1978 dimana


Mercedes-Benz dan Bosch mempresentasikan sistem pengereman anti-lock di
Untertürkheim, Jerman. Sistem ini dijelaskan sebagai sistem pembantu digital
yang didefinisikan sebagai kemitraan antara pengemudi dan mobil.
Mempertahankan kontrol penuh atas kemudi mobil, bahkan di bawah
pengereman darurat karena roda tidak mengunci merupakan pengertian pertama
dari sistem pengereman anti-lock (Anti-Lock Braking System atau biasa dikenal
dengan ABS). Sistem ini dikembangkan di jalur uji coba Daimler-Benz di
Untertürkheim yang disebut sebagai pengantar era teknologi digital pada dunia
otomotif.

Mercedes-Benz menjelaskan dalam brosur 40 tahun lalu, ABS adalah


“Sistem pengereman anti-lockmenggunakan komputer untuk memantau
perubahan kecepatan putaran setiap roda saat pengereman. Jika kecepatan
melambat terlalu cepat (seperti saat pengereman pada permukaan licin) dan resiko
roda mengunci, komputer secara otomatis mengurangi tekanan rem. Roda
berakselerasi lagi dan tekanan rem dinaikkan lagi, sehingga mengerem roda.
Proses ini diulangi beberapa kali dalam hitungan detik.”

ABS debut sebagai tambahan opsional Mercedes-Benz S-Class (model seri


116) pada akhir 1978. Dua tahun kemudian, ABS tersedia opsional pada seluruh
mobil penumpang yang diproduksi merek Stuttgart ini. 1981 menjadi awal
perkenalan ABS untuk kendaraan komersial dan Oktober 1992, ABS harus
dipasang sebagai standar semua mobil penumpang Mercedes-Benz.

2.2 EBD (Electronic Brake force Distribution)

2.2.1 Pengertian EBD (Electronic Brake force Distribution)

EBD merupakan kepanjangan dari Electronic Brake force Distribution


yaitu sistem yang berfungsi untuk mendistribusikan tenaga pengereman ke
semua roda dengan benar sesuai dengan kondisi pengendaraan.
Setiap roda memiliki kebutuhan yang berbeda-beda ketika pengereman,
contohnya saat kendaraan membelok kebutuhan tenaga hidrolik pada sistem
rem antara roda kanan dan kiri berbeda dan juga saat kendaraan membawa
beban berat maka kebutuhan tenaga pengereman antar roda juga akan berbeda.
Oleh sebab itu sistem EBD dibuat untuk mengatur penyaluran tekanan hidrolik
ke sistem rem pada roda sesuai dengan kebutuhan.

Salah satu penyempurnaan dari antilock braking system yang termasuk


sukses adalah electronic brake force distribution (EBD). EBD memiliki prinsip
dasar bahwa tidak semua ban perlu melakukan usaha yang sama dalam
menghentikan kendaraan. EBD juga memiliki prinsip dasar bahwa berat yang
ditopang oleh roda kendaraan terkadang tidaklah terdistribusi dengan baik.
Beberapa roda menerima beban yang lebih berat daripada yang lain dan
membutuhkan usaha pengereman yang lebih besar untuk menghentikan kendaraan
tanpa membuatnya kehilangan control. Untuk selanjutnya, jumlah berat yang
diterima oleh roda selalu bergantian selama proses pengereman, jadi jumlah gaya
yang diperlukan untuk tiap-tiap roda juga akan berganti tiap saat. Sebuah EBD
tidak hanya dapat mendeteksi seberapa banyak beban yang sedang ditanggung
oleh tiap roda, tetapi juga dapat mengganti kekuatan rem yang disalurkan ke tiap-
tiap roda secara instant berdasarkan perhitungan tadi.

Roda itu bekerja berdasarkan gesekan, ketika kita menginjak gas maka
gesekan antara ban dan jalan yang menyebabkan mobil bisa maju, begitu juga
dengan rem, gesekan antara ban dan jalan lah yang membuat kendaraan
melambat. Jika tidak ada gesekan antara ban dan jalan maka mobil akan dengan
mudah selip dan tidak terkontrol.

Sangat penting untuk berkendara aman dengan mempertahankan gesekan


antara ban dengan jalan, dimana ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan
kita kehilangan traksi. Salah satunya berakselerasi di jalanan es tetapi pengereman
yang terlaku keras juga dapat menyebabkan kendaraan kehilangan traksi.
Momentum mobil kedepan dapat menyebabkan kendaraan tetap bergerak dengan
kecepatan signifikan lebih besar daripada kecepatan saat roda berputar. Ini yang
disebut dengan roda terkunci dan ini sering menyebabkan kecelakaan.

Pada saat kendaran melambat, bobot kendaraan itu sendiri akan berpindah
ke depan. Kendaraan yang memiliki mesin di depan mendapatkan bobot extra di
depan yang menyebabkan grip roda depan bertambah dan mengurangi grip roda
belakang. Ini menyebabkan roda belakang sering terkunci saat proses
pengereman. Bagaimanapun juga ABS tidak mampu memberikan solusi ideal
terhadap permasalahan ini.

Maka itu diciptakanlah electronic brake force distribution. Dengan EBD


sebuah computer yang sering disebut electronic control unit (ECU) akan
menentukan slip ratio pada tiap-tiap roda. Jika ECU membaca roda belakang akan
selip, maka ECU akan mengurangi daya pengereman pada roda belakang sambil
mempertahankan (jika diperlukan menambah) daya pengereman untuk roda
depan. EBD juga sangat berguna ketika mobil melakukan pengereman di
tikungan. Ketika menikung, roda bagian terluar akan berputar lebih cepat daripada
roda sisi dalam. Jika gaya pengereman terlalu besar pada ban sisi dalam dapat
menyebabkan ban tersebut terkunci, dan mobil akan oversteer kemudian hilang
kendali. EBD dapat merasakan slip yang terjadi pada roda sisi dalam dan
mengurangi daya pengereman pada roda tersebut tanpa mengurangi daya
pengereman pada roda sisi luar.
2.2.2 Komponen EBD (Electronic Brake force Distributor)

Untuk EBD diperlukan 3 komponen hardware yaitu :

1. Sensor

Yang mana dapat menentukan slip ratio dari roda, system EBD memerlukan 2
informasi yaitu kecepatan roda berotasi dan kecepatan dari mobil. Jika kecepatan
roda berputar lebih lambat daripada kecepatan mobil, itu berarti roda selip. Sebuah
sensor ditaruh di tiap roda untuk mengetahui kecepatan roda. Tidak ada sensor
yang specific untuk mengetahui pergerakan mobil. Kecepatan dari keempat roda
dirata-rata untuk mengetahui perkiraan kecepatan mobil.

2. Brake force modulators

Brake force ini di taruh pada roda dan bekerja secara hidrolis, dengan minyak
rem yang di pompa ke dalam selang rem seperti pneumatic aktif yang
menggerakkan silinder rem. System EBD dapat menentukan jumlah minyak rem
yang dapat mengalir ke setiap roda melalui katup elektroliknya.

3. ECU

ECU merupakan computer kecil yang terintegrasi pada antilock braking


system. Alat ini akan menerima input dari sensor kecepatan, kemudian
menghitung slip ratio roda dan menggunakan brake force modulator untuk
mengatur jumlah gaya pada tiap roda agar slip rationya tetap dalam batasan aman.

2.2.3 Cara kerja EBD (Electronic Brake force Distribution)

Cara kerja EBD “Electonic Braking Distribution’’ adalah ketika terjadi


pengereman mendadak (Panic brake) dan roda menjadi terkunci, maka EBD lah
yang menentukan roda yang akan mendapatkan tekanan rem paling kuat. Sensor
yang ada pada setiap roda memberikan sinyal kepada fitur ABS maupun EBD dan
selanjutnya komputer akan menentukan dan mengatur tekanan hidrolik pada
minyak rem.

Fitur EBD sangat diperlukan pada saat kondisi jalan yang tidak rata,
banyak tanjakan dan turunan serta pada saat kondisi jalan yang memiliki banyak
tikungan karena pada kondisi jalan seperti itulah beban dari masing-masing roda
akan berbeda.

Kelebihan EBD

masih memakai sistem konvensional maka pada saat rem mendadak anda
dapat melakukan pengereman injak lepas dengan tempo yang sangat cepat.
Dengan melakukan hal tersebut roda mobil anda dapat terhindar dari roda
mengunci.

Kekurangan EBD

Kekurangannya hanya jika mobil digunakan untuk kecepatan sangat


tinggi, feeling pengereman jadi agak kacau karena rem tidak bias diperlakukan
ekstrim mobi terasa masih nyelonong saat direm didepan tikungan, makanya
untuk kebutuhan di kecepatan tinggi biasanya EBD dimati. Tetapi untuk
kebutuhan harian dijalan raya yang kecepatannya terbatas.
BAB III

KESIMPULAN

Sistem ABS merupakan sistem rem penyempurna dari sistem rem


konvensional, Pada sistem ABS ini dikendalikan dengan Eleketronik sehingga
lebih efisien. Pada Sistem ABS ini didukung sistem lainnya seperti EBD
( Electronic Brake force Distribution ) sebagai penyempurna dari Sistem ABS.
Dengan seperti ini maka tingkat keamanan dan kenyaman dalam berkendara akan
sangat tinggi terutama dari pengemudi kendaraan itu sendiri.

SARAN

Menurut saran saya dari materi diatas sangat positif bagi kendaraan
didunia dan dapat menanggulangi kecelakaan pada jalanan didunia, dikarenakan
rem yang masih konvensional itu pengeremanya masih banyak kekurangan pada
jalanan.
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

[Link]

[Link]
abs-ebd-dan-ba

[Link]

[Link]

Anonim, mengenal ABS system rem anti terkunci, [Link]


[Link]/2012/05/[Link],
diakses tanggal 29 november 2012

Mitiqo, Panji, Rem ABS (Anti-Lock Braking Sistem),


[Link]
sistem/, diakses tanggal 29 November 2012

[Link]
kelebihan-dan-kekurangannya-aid1974

[Link]

[Link]

[Link]
kelahiran-intelligent-drive-mercedes-benz-aid2432

Anda mungkin juga menyukai