KOMITE FARMASI DAN TERAPI
RUMAH SAKIT
I. PENDAHULUAN
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien,
penyediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu
dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat termasuk pelayanan farmasi klinik. Pelayanan
Kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan
menyelesaikan masalah terkait Obat. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan
mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang
berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada
pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care).
Apoteker khususnya yang bekerja di Rumah Sakit dituntut untuk dapat merealisasikan
perluasan paradigma Pelayanan Kefarmasian dari orientasi produk menjadi orientasi pasien.
Untuk itu kompetensi Apoteker perlu ditingkatkan secara terus-menerus agar perubahan
paradigma tersebut dapat diimplementasikan. Apoteker harus dapat memenuhi hak pasien
agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan termasuk tuntutan hukum. Dengan
demikian, para Apoteker Indonesia dapat berkompetisi dan menjadi tuan rumah di negara
sendiri. Perkembangan di atas dapat menjadi peluang sekaligus merupakan tantangan bagi
Apoteker untuk maju meningkatkan kompetensinya sehingga dapat memberikan Pelayanan
Kefarmasian secara komprehensif dan simultan baik yang bersifat manajerial maupun farmasi
klinik. Strategi optimalisasi harus ditegakkan dengan cara memanfaatkan Sistem Informasi
Rumah Sakit secara maksimal pada fungsi manajemen kefarmasian, sehingga diharapkan
dengan model ini akan terjadi efisiensi tenaga dan waktu. Efisiensi yang diperoleh kemudian
dimanfaatkan untuk melaksanakan fungsi pelayanan farmasi klinik secara intensif.
Persyaratan kefarmasian harus menjamin ketersediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu, bermanfaat, aman, dan terjangkau. Selanjutnya
dinyatakan bahwa pelayanan Sediaan Farmasi di Rumah Sakit harus mengikuti Standar
Pelayanan Kefarmasian sebagaimana diamanahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian juga
dinyatakan bahwa dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
1
Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan Standar Pelayanan Kefarmasian yang
diamanahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang
Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Menurut KepMenKes Nomor
1197/MenKes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Komite
Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf
medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili
spesialisasi-spesialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit,
serta tenaga kesehatan lainnya.
II. PENGERTIAN KOMITE FAR MASI DAN TERAPI RUMAH SAKIT
Berdasarkan Menurut PerMenKes RI Nomor 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit. Dalam pengorganisasian Rumah Sakit dibentuk Tim Farmasi dan
Terapi (TFT) Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
dinyatakan bahwa Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, yang merupakan unit
kerja dalam memberikan rekomendasi kepada Pimpinan Rumah Sakit mengenai kebijakan
penggunaan Obat di Rumah Sakit yang anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili semua
spesialisasi yang ada di Rumah Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta tenaga kesehatan
lainnya apabila diperlukan. TFT harus dapat membina hubungan kerja dengan komite lain di
dalam Rumah Sakit yang berhubungan atau berkaitan dengan penggunaan Obat. (Permenkes,
2014).
Komite Farmasi dan Terapi (KFT) Menurut KepMenKes Nomor
1197/MenKes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Komite
Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf
medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili
spesialisasi-spasialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit,
serta tenaga kesehatan lainnya. Ketua KFT dapat diketuai oleh seorang dokter atau seorang
Apoteker, apabila diketuai oleh dokter maka sekretarisnya adalah Apoteker, begitupun
sebaliknya apabila diketuai oleh Apoteker, maka sekretarisnya adalah dokter. KFT harus
mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali dan untuk Rumah Sakit
besar rapat diadakan sekali dalam satu bulan. Rapat KFT dapat mengundang pakar dari dalam
maupun dari luar Rumah Sakit yang dapat memberikan masukan bagi pengelolaan KFT,
memiliki pengetahuan khusus, keahlian-keahlian atau pendapat tertentu yang bermanfaat bagi
KFT. (Permenkes, 2014).
2
Menurut Charles Siregar dalam bukunya Farmasi Rumah Sakit menyebutkan bahwa
keanggotaan KFT terdiri dari 8-15 orang. Semua anggota tersebut mempunyai hak suara yang
sama. Di rumah sakit umum besar (misalnya kelas A dan B) perlu diadakan suatu struktur
organisasi KFT yang terdiri atas keanggotaan inti yang mempunyai hak suara, sebagai suatu
tim pengarah dan pengambil keputusan. Anggota inti ini dibantu oleh berbagai sub panitia
yang dipimpin oleh salah seorang anggota inti. Anggota dalam sub panitia adalah dokter
praktisi spesialis, apoteker spesialis informasi obat, apoteker spasialis farmasi klinik, dan
berbagai ahli sesuai dengan keahlian yang diperlukan dalam tiap sub panitia (Siregar, 2004).
Selain sub panitia yang pembentukannya didasarkan pada penggolongan penyakit sasaran
obat, di beberapa rumah sakit subpanitia didasarkan pada SMF (Staf Medik Fungsional) yang
ada. KFT dapat juga membentuk subpanitia untuk kegiatan tertentu, misalnya sub panitia
pemantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan, subpanitia evaluasi penggunaan obat, sub
panitia pemantauan resistensi antibiotik, sub panitia formulasi dietetik, atau subpanitia khusus
jika perlu. Dalam sub panitia khusus ini, sering kali melibatakan spesialis yang bukan
anggota KFT (Siregar, 2004).
III. TUJUAN KOMITE FARMASI DAN TERAPI RUMAH SAKIT
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/MenKes/SK/X/2004 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit, tujuan Komite Farmasi dan Terapi yaitu :
1. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta
evaluasinya.
2. Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang
berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai kebutuhan.
IV. FUNGSI DAN RUANG LINGKUP KOMITE FARMASI DAN TERAPI RUMAH
SAKIT
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/MenKes/SK/X/2004 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit, fungsi dan ruang lingkup Komite Farmasi dan Terapi adalah
sebagai berikut :
1. Mengembangkan formularium di Rumah Sakit dan merevisi. Pemilihan obat untuk
dimasukan dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara subjektif terhadap
3
efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam
tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama.
2. Komite Farmasi dan Terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk
obat baru atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.
3. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang termasuk dalam
kategori khusus.
4. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakan-
kebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai
peraturan yang berlaku secara lokal maupun nasional.
5. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan mengkaji medical
record dibandingkan dengan standar diagnosis dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan
untuk meningkatkan secara terus-menerus penggunaan obat secara rasional.
6. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.
7. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan
perawat.
V. KEWAJIBAN KOMITE FARMASI DAN TERAPI RUMAH SAKIT
Kewajiban Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit adalah sebagai berikut :
1. Memberikan rekomendasi pada pimpinan rumah sakit untuk mencapai budaya
pengelolaan dan penggunaan obat secara rasional.
2. Mengkoordinir pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, formularium rumah sakit,
pedoman penggunaan antibiotika dan lain-lain.
3. Melaksanakan pendidikan dalam bidang pengelolaan dan penggunaan obat terhadap
pihak-pihak yang terkait.
4. Melaksanakan pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat dan memberikan umpan
balik atas hasil pengkajian tersebut (Depkes RI, 2004).
VI. KEWENANGAN KOMITE FARMASI DAN TERAPI
Komite Farmasi Dan Terapi berwenang sepenuhnya sistem formularium, merumuskan
dan mengendalikan pelaksanaan semua kebijakan, ketetapan, prosedur, aturan yang berkaitan
dengan obat. Komite ini juga mempunyai wewenang penuh mengadakan, mengembangkan,
menetapkan, merevisi dan mengubah formularium dan menyetujui perubahan kebijakan
4
penggunaan obat dan pelayanan IFRS (Instalasi Farmasi Rumah Sakit). Komite medik adalah
lembaga rumah sakit yang berwenang yang memberdayakan Komite Farmasi Dan Terapi.
Oleh karena itu penting bagi sekretaris Komite Farmasi Dan Terapi memastikan bahwa
anggota komite medik menerima salinan lengkap notulen pertemuan Komite Farmasi Dan
Terapi. Juga penting bagi Komite Farmasi Dan Terapi untuk meminta agar komite medik
secara aktif mengesahkan tindakan Komite Farmasi Dan Terapi. Tindakan Komite Farmasi
Dan Terapi adalah tindakan staf medik, bukan tindakan Instalasi Farmasi Rumah Sakit
(Siregar, 2004).
VII. KEBIJAKAN PANITIA FARMASI DAN TERAPI
Dalam rangka mencegah salah pengertian diantara anggota Komite dan selanjutnya
seluruh staf medik, adalah penting bahwa Komite menetapkan berbagai kebijakan untuk
pengendalian penggunaan obat di rumah sakit. Kebijakan tersebut harus luas dan harus dikaji
secara berkala guna memastikan kemutakhirannya .beberapa kebijakan itu antara lain :
(Siregar, 2004).
1. Pengusulan obat baru Pengusulan suatu obat baru untuk formularium rumah sakit harus
diajukan menggunakan formulir permohonan untuk evaluasi status formularium.
Formulir ini dapat diperoleh dari [Link] yang telah diisi dapat diajukan oleh
setiap anggota staf medik. Komite akan mengevaluasi permohonan dan memberitahu
pengusul tentang keputusan diterima atau ditolak. pengusul mempunyai peluang naik
banding terhadap keputusan Komite.
2. Memberikan rekomendasi pada Pimpinan rumah sakit untuk mencapai budaya
pengelolaan dan penggunaan obat secara rasional.
3. Mengkoordinir pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, formularium rumah sakit,
pedoman penggunaan antibiotika dan lain-lain.
4. Melaksanakan pendidikan dalam bidang pengelolaan dan penggunaan obat terhadap
pihak-pihak yang terkait.
5. Melaksanakan pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat dan memberikan umpan
balik atas hasil pengkajian tersebut.
5
VIII. TUGAS KOMITE FARMASI DAN TERAPI
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 58 Tahun 2014 tentang standar
pelayanan farmasi di rumah sakit, tugas Komite Farmasi danTerapi yaitu :
1. Mengembangkan kebijakan tentang penggunaan Obat di Rumah Sakit.
2. Melakukan seleksi dan evaluasi Obat yang akan masuk dalam formularium Rumah Sakit.
3. Mengembangkan standar terapi.
4. Mengidentifikasi permasalahan dalam penggunaan Obat.
5. Melakukan intervensi dalam meningkatkan penggunaan Obat yang rasional.
6. Mengkoordinir penatalaksanaan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki.
7. Mengkoordinir penatalaksanaan medication error.
8. Menyebarluaskan informasi terkait kebijakan penggunaan Obat di Rumah Sakit.
(Permenkes, 2014)
IX. PERAN APOTEKER DALAM KOMITE FARMASI DAN TERAPI
Peran apoteker dalam Komite ini sangat strategis dan penting karena semua kebijakan
dan peraturan dalam mengelola dan menggunakan obat di seluruh unit di rumah sakit
ditentukan dalam Komite ini. Agar dapat mengemban tugasnya secara baik dan benar, para
apoteker harus secara mendasar dan mendalam dibekali dengan ilmu-ilmu farmakologi,
farmakologi klinik, farmako epidemologi, dan farmako ekonomi disamping ilmu-ilmu lain
yang sangat dibutuhkan untuk memperlancar hubungan profesionalnya dengan para
petugas kesehatan lain di rumah sakit.
X. FORMULARIUM RUMAH SAKIT
Berdasarkan Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit, formularium adalah himpunan obat yang diterima/disetujui oleh
Komite Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap
batas waktu yang ditentukan. Sistem yang dipakai adalah suatu sistem dimana prosesnya
tetap berjalan terus, dalam arti kata bahwa sementara formularium digunakan oleh staf medis,
di lain pihak Komite Farmasi dan Terapi mengadakan evaluasi dan menentukan pilihan
terhadap produk obat yang ada di pasaran dengan lebih mempertimbangkan kesehatan pasien.
6
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium Nasional.
Formularium Rumah Sakit merupakan daftar Obat yang disepakati staf medis, disusun
oleh Komite Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit. (Permenkes,
2014). Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua penulis Resep,
pemberi Obat, dan penyedia Obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap Formularium
Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai kebijakan dan kebutuhan Rumah
Sakit. (Permenkes, 2014) Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan
berdasarkan pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan Obat agar dihasilkan
Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat memenuhi kebutuhan pengobatan
yang rasional. (Permenkes, 2014) Tahapan proses penyusunan Formularium Rumah Sakit :
1. Membuat rekapitulasi usulan Obat dari masing-masing Staf Medik Fungsional (SMF)
berdasarkan standar terapi atau standar pelayanan medik.
2. Mengelompokkan usulan Obat berdasarkan kelas terapi.
3. Membahas usulan tersebut dalam rapat Komite Farmasi dan Terapi, jika diperlukan dapat
meminta masukan dari pakar.
4. Mengembalikan rancangan hasil pembahasan Komite Farmasi dan Terapi,
dikembalikan ke masing-masing SMF untuk mendapatkan umpan balik.
5. Membahas hasil umpan balik dari masing-masing SMF.
6. Menetapkan daftar Obat yang masuk ke dalam Formularium Rumah Sakit.
7. Menyusun kebijakan dan pedoman untuk implementasi.
8. Melakukan edukasi mengenai Formularium Rumah Sakit kepada staf dan melakukan
monitoring. (Permenkes, 2014).
Adapun kriteria pemilihan Obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit :
1. Mengutamakan penggunaan Obat generik.
2. Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita.
3. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.
4. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.
5. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan.
6. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien.
7. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan
biaya langsung dan tidak lansung.
7
8. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based
medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang terjangkau.
(Permenkes, 2014)
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap formularium Rumah Sakit, maka
Rumah Sakit harus mempunyai kebijakan terkait dengan penambahan atau pengurangan Obat
dalam Formularium Rumah Sakit dengan mempertimbangkan indikasi penggunaaan,
efektivitas, risiko,dan biaya. (Permenkes, 2014) Pedoman penggunaan yang digunakan akan
memberikan petunjuk kepada dokter, apoteker, perawat serta petugas administrasi di rumah
sakit dalam menerapkan sistem formularium, meliputi:
1. Membuat kesepakatan antara staf medis dari berbagai disiplin ilmu dengan Komite
Farmasi dan Terapi dalam menentukan kerangka mengenai tujuan, organisasi, fungsi dan
ruang lingkup. Staf medis harus mendukung sistem formularium yang diusulkan oleh
Komite Farmasi dan Terapi.
2. Staf medis harus dapat menyesuaikan sistem yang berlaku dengan kebutuhan tiap-tiap
institusi.
3. Staf medis harus menerima kebijakan-kebijakan dan prosedur yang ditulis oleh Komite
Farmasi dan Terapi untuk menguasai sistem formularium yang dikembangkan oleh
Komite Farmasi dan Terapi.
4. Nama obat yang tercantum dalam formularium adalah nama generik.
5. Membatasi jumlah produk obat yang secara rutin harus tersedia di instalasi farmasi.
6. Membuat prosedur yang mengatur pendistribusian obat generik yang efek terapinya
sama, seperti : Apoteker bertanggung jawab untuk menentukan jenis obat generik yang
sama untuk disalurkan kepada dokter sesuai produk asli yang diminta.
Format formularium sangat penting karena akan menentukan kepraktisan penggunaan
sehari hari dan juga biaya penerbitan. Ada baiknya sebelum memulai pekerjaan dalam
pengembangan forma formularium, dianjurkan agar apoteker mengumpulkan formularium
dari berbagai rumah sakit. Pengalaman telah membuktikan bahwa suatu formularium yang
ukurannya cukup kecil, yang memungkinkannya dibawa dalam saku baju praktik profesional
pelayanan kesehatan dapat menyenangkan, terutama staf medik dan itu meningkatkan
penggunaan obat formularium. (Siregar, 2004) Penampilan dan struktur fisik suatu
formularium yang dicetak mempunyai pengaruh penting pada penggunaannya. Walaupun
pekerjaan seni dari bahan yang rumit dan mahal tidak diperlukan, formularium harus secara
visual menyenangkan, mudah dibaca, dan profesional dalam penampilan. Tata bahasa yang
sesuai, ejaan, dan tanda baca yang benar dan terorganisir, kerapihan sangat perlu diterapkan
8
dalam formularium rumah sakit. (Siregar, 2004) Tidak ada format tunggal atau pengaturan
yang harus dilalui oleh semua formularium. Suatu formularium rumah sakit pada umumnya
mempunyai komposisi seperti tersebut dibawah ini.
1. Sampul luar dengan judul Formularium obat ; nama rumah sakit, tahun berlaku, dan
nomor edisi.
2. Daftar isi.
3. Kata pengantar.
4. Cara menggunakan formularium.
5. Informasi tentang kebijakan dan prosedur rumah sakit tentang obat. (lihat teks)
6. Produk obat yang disetujui Komite Farmasi dan Terapi digunakan dirumah sakit
a. Sediaan obat yang ditambah dan dihapus sejak edisi terdahulu
b. Daftar acuan silang nama generik – dagang
c. Indeks produk obat berdasarkan penggolongan farmakologi /terapi
d. Uraian produk obat disusun berdasarkan abjad nama generik-dagang. Obat nama
dagang tidak diuraikan,cukup diberi catatan : “lihat ... (nama generik)”
7. Lampiran Berisi informasi khusus (lihat teks)
XI. KESIMPULAN
Komite Farmasi dan Terapi (KFT) Menurut KepMenKes Nomor
1197/MenKes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Komite
Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf
medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili
spesialisasi-spasialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit,
serta tenaga kesehatan lainnya. Komite Farmasi Dan Terapi berwenang sepenuhnya sistem
formularium, merumuskan dan mengendalikan pelaksanaan semua kebijakan, ketetapan,
prosedur, aturan yang berkaitan dengan obat.
Berdasarkan Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit, formularium adalah himpunan obat yang diterima/disetujui oleh
Komite Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap
batas waktu yang ditentukan. Sistem yang dipakai adalah suatu sistem dimana prosesnya
tetap berjalan terus, dalam arti kata bahwa sementara formularium digunakan oleh staf medis,
di lain pihak Komite Farmasi dan Terapi mengadakan evaluasi dan menentukan pilihan
terhadap produk obat yang ada di pasaran dengan lebih mempertimbangkan kesehatan pasien.
9
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium Nasional. Formularium
Rumah Sakit merupakan daftar Obat yang disepakati staf medis, disusun oleh Komite
Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit
DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI, Keputusan MenKes RI Nomor 1333/MENKES/SK/XII/1999 tentang Standar
Pelayanan Rumah Sakit, 1999
2. Depkes RI, Keputusan MenKes RI Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, 2004
3. Depkes RI. (2009). UU RI No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI.
4. Siregar, C.J.P., dan Amalia, L., Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta:
Penerbitan Buku Kedokteran EGC, 2004
5. Adikoesoemo, Manajemen rumah sakit Jakarta : pustaka Sinar Harapan, 2003
6. Greef, Judith A., komunikasi kesehatan dan perubahan perilaku. Djokjakarta: Gadjah
Mada University Press., 1996
7. Notoatmojo, Soekidjo, Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta, 1997
8. Muninjaya, Gde AA, Manajemen Kesehatan,ed.2. Jakarta : EGC, 2004
9. Abdul Kadir, Pengenalan Sistem Informasi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003
10. Andri Kristanto, Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya, Penerbit Gava Media,
Yogyakarta, 2003.
11. Jogiyanto H.M., Akt., Ph.D., Analisis Analisis dan Desain Sistem Informasi, Penerbit
Andi, Yogyakarta, 2005.
12. Witarto, Memahami Sistem Informasi, Penerbit Informatika, 2004.
10