Manajemen Berbasis Aktivitas untuk Profitabilitas
Manajemen Berbasis Aktivitas untuk Profitabilitas
yang bertujuan untuk meningkatkan nilai (value) produk atau jasa untuk konsumen,
activity based costing sebagai sumber informasinya. Sementara fokus perhatiannya adalah
efektivitas dan efisiensi aktivitas serta proses kunci bisnis. Penggunaan ABM akan
memberikan manfaat bagi bisnis melalui perbaikan operasi, pengurangan biaya, atau
penciptaan nilai bagi konsumen dengan mengidentifikasi sumber daya yang dikeluarkan
untuk konsumen, produk, atau jasa. ABM membantu manajemen berfokus pada faktor-faktor
sukses perusahaan yang paling penting dan membawa pada keunggulan kompetitif.
Aplikasi ABM dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu ABM operasional
(operational ABM) dan ABM Strategis (strategic ABM). ABM operasional mengarah pada
efisiensi operasi, utilisasi aset, dan penggunaan biaya yang lebih rendah. Fokusnya adalah
mengerjakan sesuatu dengan benar dan melakukan aktivitas dengan cara yang lebih efisien.
perekayasaan proses bisnis (business process reengineering), TQM, dan pengukuran kinerja.
biaya ABC melalui pengendalian biaya dan pembuatan keputusan untuk produksi individual,
layanan, dan konsumen. ABM strategis bekerja melalui pengubahan kombinasi aktivitas
menjauhi aplikasi-aplikasi mahal dan tidak menguntungkan sehingga pendapatan akan lebih
besar daripada biaya aktivitas yang dibutuhkan. ABM strategis memberi petunjuk dalam
ABC (activity based management) telah lama dikenal. ABC merupakan suatu teknik
untuk memahami biaya dan membatasi biaya dalam produk untuk konsumen. ABC sering
disebut sebagai teknik untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu:
proses mendapatkan fakta dalam ABC. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan
based management.
ABC merupakan bagian ABM yang digunakan untuk hal-hal berikut ini.
1. Mendesain produk atau jasa untuk memenuhi bahkan melebihi keinginan konsumen dan
efektif.
7. Meningkatkan nilai produk dan nilai jasa perusahaan.
Manajer harus menyadari bahwa ABC hanyalag sebuah metode perhitungan biaya
sehingga ia dapat menggunakan ABC seperti yang telah disebutkan. ABC memberikan
pandangannya terkait cara menghasilkan pendapatan tidak secara langsung. Oleh karena itu,
manajer harus dapat memicu permintaan konsumen. Bagian pemasaran harus mengestimasi
berbagai faktor, seperti harga, fungsionalitas, fitur-fitur dan kenyamanan yang dapat
menciptakan permintaan produk dan jasa perusahaan. Manajer harus dapat mengombinasi
informasi mengenai pemicu biaya dan ketersediaan produk dan permintaan pasar. Informasi
mengenai pemicu biaya dapat diperoleh dengan menggunakan metode ABC, sementara
informasi ketersediaan produk dan permintaan pasar diperoleh dari bagian pemasaran dan
penjualan.
Penggunaan ABC dalam ABM akan memberikan arah yang tepat dalam perhitungan
biaya produk dan analisis nilai proses. Model ABM memiliki dua dimensi, yaitu dimensi
biaya dan dimensi proses. Dimensi biaya memberikan informasi mengenai sumber daya,
aktivitas, produk, konsumen, dan objek biaya lain yang menjadi perhatian. Dalam model ini,
biaya sumber daya ditelusur kembali pada aktivitas. Kemudian, biaya informasi tentang
aktivitas yang dikerjakan, tujuan dilakukannya aktivitas, dan seberapa baik aktivitas itu
yang berkelanjutan. Untuk memahami sudut pandang proses yang berkaitan dengan
perbaikan berkelanjutan, manajer perlu memahami analisis nilai proses (process value
analysis).
Analisis nilai proses merupakan dasar dalam ABM. Analisis ini lebih fokus pada
pertanggungjawaban aktivitas dan cara memaksimalkan kinerja sistem secara luas daripada
hal-hal yang berhubungan dengan biaya dan kinerja individu. Analisis nilai proses membantu
mewujudkan ABM menjadi basis operasional. Awalnya ABM hanyalah sebuah basis konsep.
Setiap aktivitas memiliki input dan output. Input aktivitas ( aktivity input) adalah sumber
daya yang dikonsumsi oleh aktivitas dalam proses menghasilkan output. Sebagai contoh,
aktivitas membuat meja kayu, alat-alat pertukangan, paku, dan cat. Output aktivitas (activity
output) adalah hasil atau produk sebuah aktivitas. Berdasarkan contoh aktivitas membuat
meja, outputnya adalah sebuah meja kayu berwarna merah. Pengukuran sebuah output
aktivitas adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah aktivitas. Itulah
pengukuran yang dapat dihitung untuk sebuah output. Misalnya, jumlah meja kayu berwarna
merah adalah ukuran yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas membuat meja.
Pengukuran sebuah output akan efektiv apabila yang diukur adalah pemicu aktivitas.
Pemicu aktivitas adalah penyebab timbulnya permintaan sebuah aktivitas. Jika permintaan
atas aktivitas berubah, maka biaya aktivitas juga akan berubah. Misalnya, sebuah pabrik
mebel membuat meja lebih banyak sehingga aktivitas pembuatan meja akan mengonsumsi
lebih banyak input (tenaga kerja, kayu, paku, dan cat). Namun demikian, ukuran output
(jumlah meja) mungkin tidak berkaitan secara langsung dengan akar penyebab biaya
aktivitas. Tenaga kerja, kayu, paku, dan cat hanyalah konsekuensi yang muncul karena
dilakukannya sebuah aktivitas. Tujuan analisis pemicu adalah untuk mengetahui akar
penyebab munculnya suatu aktivitas. Analisi pemicu sendiri diartikan sebagai sebuah usaha
untuk memperluas identifikasi faktor-faktor yang menjadi akar penyebab biaya aktivitas.
adalah tata letak bangunan pabrik setelah melakukan analisis pemicu. Jika penyebab tersebut
dapat diketahui maka manajemen dapat mengambil tindakan untuk meningkatkan kualitas
aktivitas. Misalnya dengan melakukan penataan ulang tata letak bangunan pabrik sehingga
Akar penyebab biaya aktivitas tertensu sering kali menjadi akar penyebab biaya
aktivitas lain yang berkaitan. Misalnya, biaya aktivitas untuk inspeksi bahan baku yang dibeli
dan pemesanan ulang. Akar penyebab munculnya biaya kedua akivitas tersebut mungkin
Aktivitas dengan pertimbangan kedua hal tersebut akan mengarakan perusahaan pada
efisiensi sehingga lebih fokus pada value content. Perusahaan pun menjadi lebih kompertitif
dibandingkan pesaingnya. Oleh karen itu, manajemen harus mampu membedakan antara
aktivitas yang memberi nilai tambah (value added aktivities) dan aktivitas yang tidak
memberi nilai tambah (non-value added activities). Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu
menggunakan analisis aktivitas. Analisis aktivitas (activity analysis) adalah suatu analisis
yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan kandungan nilai suatu aktivitas.
Walaupun aktivitas-aktivitas ini tidak menambah nilai (value) bagi konsumen, tetapi tidak
dapat dihilangkan.
Inti nilai analisis proses adalah analisis aktivitas. Analisis aktivitas adlaah proses
sebuah organisasi. Analisis aktivitas harus menghasilkan empat keluaran berikut ini.
3. Jumlah sumber daya dan waktu yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas.
4. Penentuan nilai aktivitas terhadap organisasi, termasuk rekomendasi untuk memilih dan
Poin pertama sampai tiga penting dalam penentuan biaya. Sedangkan poin keempat
lebih fokus dalam pengurangan biaya daripada pembebanan biaya. Pada tahap inilah aktivitas
dapat dikategorikan sebagai aktivitas bernilai tambah atau tidak bernilai tambah.
konsumen akan berdampak pada pengurangan konsumsi sumber daya. Perusahaan pun
menjadi lebih fokus pada aktivitas yang menungkatkan kepuasan konsumen. Dengan
mengetahui nilai aktivitas, karyawan menjadi tahu bagaimana cara agar pekerjaannya dapat
meningkatkan nilai produk atau jasa untuk konsumen. Penghilangan aktivitas ini secara
otomatis akan menurunkan nilai produk atau jasa untuk konsumen. Aktivitas memotong kain
pada saat membuat baju, memasang paku pada saat membuat rangka atap, dan menuangkan
besi cair pada saat mencetak plat merupakan contoh aktivitas bernilai tambah. Aktivitas
didalam bisnis. Agar dapat disebut sebagai aktivitas bernilai tambah, suatu aktivitas harus
memenuhi minimalnya tiga kriteria, yaitu aktivitas tersebut menyebabkan perubahan bentuk,
perubahan bentuk tidak dapat diperoleh dari aktivitas sebelumnya, dan menyebabkan
Aktivitas tidak bernilai tambah (non-value added activities) adalah suatu aktivitas
yang mengonsumsi waktu, sumber daya, atau tempat tetapi hanya memberikan sedikit nilai
tambah bagi kepuasan konsumen atau bahkan sama sekali tidak memberi nilai tambah. Jika
aktivitas ini dihilangkan, nilai atau kepuasan konsumen tidak akan berkurang, tetapi
konsumen tidak akan menyadarinya. Aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas yang
1. Dapat dihilangkan tanpa memengaruhi bentuk, kenyamanan, atau fungsi produk atau
jasa.
2. Menimbulkan pemborosan dan hanya memberikan sedikit nilai tambah bagi produk atau
4. Pekerjaan ulang atas suatu pekerjaan yang telah dilakukan pada bagian atas departemen
lain.
Sebuah aktivitas dikategorikan sebagai aktivitas tidak bernilai tambah apabila tidak
dapat memenuhi sebagian atau semua kriteria dari tiga kriteria aktivitas bernilai tambah.
Contoh aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas inspeksi pemotongan kain. Aktivitas
hal tersebut, aktivitas ini tidak dapat memenuhi kriteria pertama. Penjahitan ulang akibat
adanya kesalahan menjahit juga bukan merupakan aktivitas bernilai tambah. Aktivitas ini
dilakukan karena ada kesalahan pada saat dilakukan penjahitan pertama kali. Kriteria
aktivitas bernilai tambah yang kedua tidak dapat dipenuhi sebab perubahan bentuk telah
menghilangkan aktivitas tidak bernilai tambah ini karena menyebabkan biaya semakin
tinggi. Pada saat yang sama, perusahaan juga berusaha mengoptimslksn sktivitas bernilai
tambah.
penghapusan pemborosan. Hal yang terpenting adalah cara mengelola penyebab biaya bukan
cara mengelola biaya itu sendiri. Walaupun pengelolaan biaya akan meningkatkan efisiensi
aktivitas tetapi menjadi tidak penting jika aktivitas tersebut dibutuhkan dalam proses
seharusnya dihapus.
dapat bersaing dan unggul di pasar. Dalam perbaikan berkelanjutan terkandung tujuan
pengurangan biaya. Kondisi kompetitif menghendaki agar suatu bisnis dapat menghasilkan
produk tepat waktu, sesuai keinginan konsumen, dan dengan harga terendah yang paling
masuk akal. Berdasarkan hal tersebut, perusahaan harus terus berupaya untuk melakukan
perbaikan biaya. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah penentuan biaya kaizen
(kaizen costing). Kaizen adalah istilah Jepang yang artinya perbaikan berkelanjutan.
melakukan pengurangan terhadap biaya dan bukan pada akurasi perhitungan biaya
produk.
2. Upaya dalam melakukan pengurangan biaya merupakan tanggung jawab dan kerja tim
bukan individu.
3. Frekuensi, bahkan secara batcg per batch, biaya produksi sesungguhnya dihitung,
dibagikan, dan dianalisis oleh pegawai lini depan. Dalam beberapa hal, bukan bagian
akuntansi perusahaan yang bertugas mengumpulkan informasi tersebut tetapi tim yang
sudah dibentuk.
4. Informasi biaya yang dipergunakan oleh tim bersifat khusus sesuai dengan kebutuhan
pengurangan biaya di masa lalu dan target perbaikan di masa yang akan datang. Selain
itu juga membuktikan bahwa inovasi perbaikan selalu membawa dampak baik dan dapat
memiliki otoritas untuk menentukan investasi skala kecil dengan syarat dapat
Analisis aktivitas menjadi elemen kunci dalam metode kaizen. Analisis aktivitas dapat
aktivitas yang tidak menghasilkan nilai tambah atau hanya sedikit memberi nilai tambah
bagi produk, jasa, atau konsumen, dan tidak berdampak terhadap kelangsungan usaha
spesifikasinya. Penggunan komponen yang buruk akan menghasilkan produk akhir yang
kurang memuaskan. Aktivitas ini perlu dilakukan karena rendahnya kinerja perusahaan
pemasok. Solusinya adalah pemilihan pemasok yang berkualitas atau yang bersedia
2. Pemilihan aktivitas ( activity selection). Cara ini dilakukan dengan memilih aktivitas-
aktivitas tertentu yang akan dijadikan satu set aktivitas sesuai dengan strategi kompetisi
yang digunakan oleh perusahaan. Pada kerangka keizen, penggunaan strategi yang
berbeda akan menyebabkan aktivitas yang berbeda pula. Misalnya, strategi desain
produk yang berbeda akan membutuhkan aktivitas produksi yang berbeda pula. Setiap
strategi desain produk akan membutuhkan set aktivitas dan berkaitan dengan biaya
tertentu yang terkait sehingga pemilihan aktivitas dari strategi desain yang berbeda akan
konsumsi waktu dan/atau sumber daya oleh aktivitas. Pendekatan ini dilakukan dengan
yang tidak bernilai tambah. Aktivitas pengesetan merupakan aktivitas yang dibutuhkan
4. Pembagian aktivitas (activity sharing). Cara ini dilakukan dengan melaksanakan aktivitas
meningkatkan penggunaan pemicu biaya tanpa meningkatkan total baya aktivitas. Secara
spesifik, jumlah pemicu biaya tanpa harus menambah total dari biaya aktivitas tersebut.
Misalnya, sebuah produk baru didesain dengan menggunakan komponen yang telah
digunakan oleh produk yang telah ada. Penggunaan komponen produk yang digunakan
juga oleh produk yang telah ada dapat menghindari aktivitas pembuatan komponen baru.
sehingga biaya dapat dikurangi secara bertahap termasuk lini produksi yang sudah matang,
sensitifitas harganya tinggi, dan tidak memerlukan inovasi produk. Kaizen tidak ditujukan
untuk mencapai stabilitas prses produksi yang didasarkan pada standar kerja yang telah
ditentukan sebelumnya.
Informasi mengenai kinerja aktivitas dan proses yang telah dilakukan menjadi dasar
melakukan aktivitas secara lebih baik. Pengukuran kinerja aktivitas berupa ukuran keuangan
dan nonkeuangan. Pengukuran ini desain untuk menentukan sebaik apa sebuah aktivitas
dilakukan dan bagaimana hasil yang dicapainya. Selain itu juga didesain untuk mengungkap
jika terdapat perbaikan-perbaikan yang sudah direalisasi secara konstan. Pengukuran kinerja
aktivitas berpusat pada tiga dimensi utama, yaitu efisiensi, kualitas, dan waktu.
Efisiensi berfokus pada hubungan antara input aktivitas dan output aktivitas. Sebagai
contoh, salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi aktivitas adalah dengan memproduksi
output aktivitas menggunakan biaya input yang lebih murah. Perlu diperhatikan kualitas
konsentrasi dalam melakukan aktivitas (yang dilakukan pertama) dengan benar. Jika output
aktivitas cacat maka aktivitas perlu diulang. Pengulangan tersebut akan mengakibatkan biaya
yang tidak perlu sekaligus mengurangi efisiensi. Waktu yang dihabiskan untuk melakukan
aktivitas pertama dan pengulangan juga perlu dipertimbangkan. Semakin lama waktu yang
digunakan, semakin banyak konsumsi sumber dayanya dan semakin rendah kemampuan
untuk merespons permintaan konsumen. Ukuran waktu menggunakan ukuran nonkeuangan
sedangkan ukuran efisiensi dan kualitas menggunakan ukuran keuangan dan nonkeuangan.
Ukuran keuangan suatu kinerja harus menyediakan informasi yang spesifik tentang
efek rupiah yang diakibatkan perusahaan kinerja. Ukuran keuangan seharusnya juga
efisiensi aktivitas adalah laporan biaya aktivitas bernilai tambah dan tidak bernilai tambah
dan tidak bernilai tambah, laporan trend aktivitas, pengesetan standar keizen, benchmarking,
aktivity flexible budgeting, serta penentuan biaya siklus hidup (life-cycle costing).
Pengurangan biaya tidak benilai tambah merupakan salah satu cara untuk
antara biaya bernilai tambah dan tidak bernilai tambah. Untuk itu, diperlukan sistem yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan biaya yang bernilai
aktivitas bernilai tambah untuk menentukan level aktivitas nonproduktif (aktivitas yang
inefisien) dan tindakan perbaikannya. Dasar untuk mengidentifikasi dan menghitung biaya
bernilai tambah dan tidak bernilai tambah adalah hasil identifikasi ukuran output untuk setiap
aktivitas. Hasil identifikasi ukuran output digunakan untuk menentukan jumlah standar setiap
aktivitas. Biaya bernilai tambah dapat dihitung dengan formula berikut ini.
Sedangkan biaya tidak bernilai tambah dapat dihitung dangan formula berikut ini.
Keterangan:
KA= Kuantitas aktual atau sesungguhnya output sebuah aktivitas yang digunakan (jika
kapasitas aktivitas yang dimiliki (jika sumber daya disediakan terlebih dahulu untuk
digunakan).
bernilai tambah dan tidak bernilai tambah pada PT Pluto. PT Pluto adalah perusahaan yang
bergerak di bidang manufaktur mesin diesel. Pengamatan difokuskan pada empat aktivitas,
yaitu aktivitas penggunaan mesin, aktivitas pengerjaan ulang, aktivitas pengesetan, dan
aktivitas inspeksi (dianggarkan sebesar Rp6.000.000 untuk dua pengawas) dengan data
Pada laporan biaya bernilai tambah mengklasifikasikan biaya dalam empat aktivitas
bernilai tambah atau empat aktivitas tidak bernilai tambah. Aktivitas pegerjaan ulang,
pengesetan, dan inspeksi merupakan aktivitas tidak bernilai tambah. Oleh karena itu, nilai
pada biaya bernilai tambah adalah nol atau tidak ada. Pada laporan biaya bernilai tambah,
manajer dapat melihat adanya biaya tidak bernilai tambah. Konsekuensinya pada bagian
tersebut manajer harus fokus pada peluang perbaikan. Misalnya, manajemen dapat
mengurangi penggunaan mesin karena adanya kerusakan mesin dan kemacetan produksi
denan menempatkan karyawan yang berpengalaman atau menggunakan mesin yang masih
berporasi baik. Dengan pengambilan keputusan yang benar, manajemen dapat mengurangi
biaya penggunaan mesin. Pelatihan karyawan produksi merupakan cara yang dapat
pendesainan ulang produk dan memilih pemasok yang andal merupakan langkah yang dapat
Pelaporan biaya bernilai tambah dan tidak bernilai tambah pada saat yang tepat dapat
memicu manajer untuk mengelola aktivitas secara efektif. Dengan melihat banyaknya
pemborosan, manajer akan mendorong untuk mencari tahu penyebabnya kemudian mencari
cara untuk melakukan efisiensi. Pelaporan biaya ini mungkin dapat membantu manajer
Laporan Trend
perbaikan aktivitas telah membawa hasil. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah
dengan membandingkan setiap biaya setiap aktivitas dari periode ke periode. Tujuan dari
perbaikan aktivitas adalah pengurangan biaya, sehingga akan terlihat penurunan biaya tidak
bernilai tambah dari satu periode ke periode berikutnya. Misalnya, PT Pluto mulai melakukan
perbaikan terhadap empat aktivitas utama tahun 2013. PT Pluto melakukan pendesainan
ulang produk, pemeliharaab mesin terjadwal, pelatihan karyawan untuk tenaga kerja langsung
pada proses perakitan, dan program evaluasi pemasok. Keefektifan program-program tersebut
dapat mengurangi biaya dan bisa dilihat pada Laporan Trend Biaya Tidak Bernilai Tambah
Tahun 2012 digunakan sebagai tahun dasar. Perbandingan antarperiode dapa dilakukan jika
kuantitas standar aktivitas antartahun yang dibandingkan adalah sama. Seandainya kuantitas
Laporan trend pada biaya tidak bernilai tambah menunjukkan bahawa pengurangan
biaya telah terjadi seperti yang diharapkan. Lebih dari sepertiga biaya tidak bernilai tambah
berhasil dikurangi. Masih tersedia banyak ruang untuk melakukan perbaikan aktivitas yang
telah berhasil dilakukan sebelumnya. Melaporkan biaya tidak bernilai tambah tidak hanya
mengungkapkan pengurangan biaya yang telah dilakukan, tetapi juga memberikan informasi
bagi manajer terkait potensi pengurangan biaya yang masih dapat digunakan.
Standar aktivtas bernilai tambah dapat terus berubah seiring dengan menggunakan
teknologi baru, desain baru, serta inovasi-inovasi lain yang dapat mengubah sifat aktivitas
yang dilakukan. Aktivitas yang sebelumnya tidak bernilai tambah dapat menjadi aktivitas
bernilai tambah.
Jika manajemen berfokus pada pengurangan biaya tidak bernilai tambah maka dapat
dibuat sebuah standar interim yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi jumlah perbaikan
yang ditentukan. Rencana perbaikan ditentukan pada angka yang dapat dicapai dan
didefinisikan menjadi sebuah bentuk standar yang dapat dicapai. Perbandingan biaya
sesungguhnya dengan standar yang dapat dicapai dapat memberikan ukuran seberapa baik
Misalnya, sebuah divisi perangkat rekam melakukan inspeksi untuk setiap unit
kamera digital yang dihasilkan. Pada level unit standar, penambah nilai untuk produk ini
adalah nol untuk aktivitas biaya inspeksi Rp0 per unit. Tahun 2012, perusahaan menggunakan
12 menit inspeksi untuk setiap unit kamera dengan biaya Rp60.000 per jam inspeksi sehingga
biaya inspeksi sesungguhnya untuk setiap unitnya adalah Rp12.000 (Rp60.000 x 12/60).
Biaya ini adalah boaya tidak bernilai tambah. Tahun 2013, perusahaan menggunakan sistem
produksi baru yang diharapkan dapat meningkatkan presisi dan kualitas produk yang
dihasilkan. Perubahan tersebut diharapkan dapat mengurangi waktu inspeksi dari 12 menit
menjadi 5 menit. Biaya inspeksi juga diharapkan dapat berkurang sebesar Rp7.000 sehingga
menjadii Rp5.000 (Rp12.000-Rp7.000) per unit kamera yang dihasilkan. Selanjutnya untuk
standar perbaikan biaya aktivitas tidak bernilai tambah tahun 2014 digunakan hasil yang telah
Benchmarking
Pendekatan lain yamg dapat digunakan untuk membuat standar penilaian yang dapat
benchmarking. Benchmarking adalah suatu metode analisis yang dilakukan dengan cara
melakukan perbandingan suatu ukuran unit-unit yang berbeda dalam organisasi yang
melakukan aktivitas sama. Dalam benchmarking, digunakan praktik terbaik (best precties)
sebagai standar evaluasi kinerja. Unit dengan kinerja aktivitas terbaik digunakan sebagai
standar bagi unit lain. Unit tersebut kemudian membagi informasi pada unit lain, bagaimana
mereka mencapai hasil terbaik tersebut. Untuk dapat melakukan hal ini, harus dipastikan
bahwa definisi aktivitas dan pengukuran output aktivitas harus konsisten antar unit yang
berbeda.
Sebuah fasilitas pabrik mengeluarkan biaya pembelian sebesar Rp100.000.000 dengan output
sebanyak 5.000 order pembelian. Jika biaya pembelian dibagi jumlah order pembelian, maka
didapatkan biaya per order sebesar Rp20.000. seandainya biaya terbaik per order sebesar
Rp15.000, maka fasilitas pabrik dengan biaya pembelian Rp20.000 per order masih memiliki
Tujuan pendekatan ini adalah menjadi yang terbaik dalam melakukan aktivitas dan
proses. Idealnya, perbandingan dalam benchmarking dilakukan dengan para pesaing atau
industri lain. Terdapat aktivitas dan proses tertentu yang umum ada di semua organisasi. Jika
sebagai standar untuk memotivasi perbaikan internal. Namun, seringkali terdapat kesulitan
dalam mendapatkan data untuk melakukan brenchmarking dengan pihak eksternal. Hal
tersebut karena data-data yang diperlukan berkaitan atau mengandung rahasia perusahaan
hanya disebabkan oleh satu pemicu biaya (lazimnya menggunakan jam tenaga kerja
langsung). Semua formulasi perhitungan biaya untuk setiap unsur biaya adalah hasil fungsi
dari tenafa kerja langsung yang dilakukan untuk memprediksi besaran biaya beraoaoun
banyaknya aktivitas.
Variasi biaya disebabkan oleh lebih dari satu oemicu.. secara tidak langsung, pemicu-
pemicu tersebut hanya berkorelasi dengan jam tenaga kerja langsung sehingga pada
pendekatan tradisional prediksi biaya aktivitas dapat memberikan arah yang tidak tepat.
dibutuhkan agar manajer lebih berhati-hati dalam melakukan perencanaan dan memonitor
satu pemicu. Agar penyajiannya sederhana dan mudah dipahami, disusun berkelompok
menurut kesamaan aktivitas. Aktivitas yang homogen dijadikan satu dan anggaran setiap
kelompok dibuat menggunakan satu pemicu yang sama. Untuk menentukan formula biaya
terendah/high-low method, least square). Berbagai metode dapat dipilih sepanjang setiap
komponen biaya variabel aktivitas dapat merespons kebutuhan sumber daya pada saat
dibutuhkan dan komponen biaya tetap dapat merespons penggunaan sumber daya yang telah
ada. Biaya ini dapat dibandingkan dengan biaya sesungguhnya untuk menentukan tingket
memprediksi dengan lebih akurat perubahan biaya pada tingkatan penggunaan yang berbeda
lansung
Perlengkapan - 2.5000 25.000.000 50.000.000
Pemeliharaan 60.000.000 2.000 80.000.000 100.000.000
Listrik 30.000.000 1.000 40.000.000 50.000.000
Inspeksi 120.000.000 - 120.000.00 120.000.000
Pengesetan 24.000.000 - 24.000.000 24.000.000
Penerimaan 12.000.000 - 12.000.000 12.000.000
Total 246.000.000 11.500 361.000.000 476.000.000
Terdapat perbandingan antara biaya pada aktivitas dianggarkan dengan biaya yang
sesungguhnya terjadi. Terdapat unsur anggaran yang sesuai dengan target, tetapi beberapa
unsur anggaran yang lain tidak sesuai dengan target. Dengan perbandingan tersebut, manjer
dapat melihat besarnya penyimpanan daro target serta mengetahui dampak penyimpangan
sebesar Rp91.500.000.
langsung
Perlengkapan - 2.5000 25.000.000 50.000.000
Subtotal 0 8.500 85.000.000 170.000.000
barang
Subtotal 60.000.000 2.000.000 180.000.000 210.000.000
Total 606.5000.000 781.000.000
Selain membandingkan antara total biaya dianggarkan dengan total biaya sesungguhnya pada
tingkat aktivitas sesus=ngguhnya setiap aktivitas, juga dapat dilakukan perbandingan biaya
tetap aktivitas sesungguhnya dengan biaya tetap dianggarkan serta biaya variabel aktivitas
sesungguhnya dengan biaya variabel aktivitas dianggarkan. Misalnya, biaya tetap aktivitas
penerimaan) dan biaya variabel aktivitas penerimaan barang sebesar Rp55.000.000, maka
selisih anggaran tetap dan variabel dapat pada tabel perhitungan selisih anggaran
perkomponen.
langsung
Perlengkapan 25.000.000 30.000.000 5.000.000 (R)
Pemeliharaan 81.000.000 75.000.000 6.000.000 (U)
Listrik 40.500.000 38.000.000 2.500.000 (U)
Inspeksi 180.000.000 150.000.000 30.000.000 (U)
Pengesetan 40.000.000 40.000.000 -
Penerimaan barang 180.000.000 120.000.000 60.000.000 (U)
Total 606.500.000 515.000.000 91.500.000 (U)
Keterangan:
*Pada tingkat aktivitas sesungguhnya untuk pemicu 10.000 jam tenaga kerja langsung, 7.000
(Rp) (Rp)
Penerimaan:
Tetap 60.000.000 65.000.000 5.000.000 (R)
Variabel 120.000.000 55.000.000 65.000.000 (U)
Total 180.000.000 120.000.000 60.000.000 (U)
Keterangan:
R= Rugi
U= Untung
Selisih volume mengukur jumlah perbaikan yang mungkin dilakukan melalui analisis dan
oengelolaan aktivitas. Beberapa aktivitas diperoleh dalam ukuran blok, sperti penerimaan
(orang yang menerima barang yang dibeli). Oleh karena itu, perlu diukur kebutuhan aktivitas
Rp5.000.000(R) Rp60.000.000
Selisih Anggaran Total Rp65.000.000 (R)
Keterangan:
*Standar aktivitas penerimaan barang adalah 0 karena aktivitas penerimaan barang bukanlah
R= Rugi
Kapasitas Tersedia Kapasitas Digunkan
Rp60.000.000 Rp48.000.000*
Keterangan:
*Misalnya, biaya tetap penerimaan adalah gaji untuk 3 orang staf penerimaan barang yang
setiap orangnya dapat menangani 25 kali penerimaan. Sedangkan pada periode tersebut
tindakan yang dapat diambil di masa datang. Analisis selisih biaya juga perlu dilakukan
terhadap biaya variabel, misalnya menggunakan aktivitas penerimaan barang. Jika anggaran
Rp120.000.000 merupakan biaya untuk pemindahan barang dan biaya ini merupakan biaya
variabel. Anggaran sebesar Rp120.000.000 adalah untuk 60 kali pemindahan barang, maka
menjadi dua komponen, yaitu selisih pengeluaran variabel dan selisih efisiensi variabel. Pada
komponen variabel tidak ada selisih kapasitas tidak digunakan karena sumber daya baru
didapatkan ketika dibutuhkan. Jumlah aktivitas digunakan selalu sama dengan jumlah
aktivitas sesungguhnya.
Siklus hidup produk (product life-cycle) secara sederhana adalah jangka waktu sejak
sebuah produk dikonsepkan sampai dengan produk tersebut dihentikan. Biaya siklus hidup
(life-cycle cost) adalah semua biaya yang berkaitan dengan seluruh siklus hidup sebuah
produk. Dimulai dari tahapan pengembangan (perencaaan, desain, dan pengujian), tahapan
produksi (aktivitas pengubahan bentuk atau konversi). Di antara asemua aktivitas pada siklus
hidup produk, aktivitas pendesainan sangat menentukan biaya yang terjadi. Biaya terikat
untuk produk pada siklus hidup produk sebagian besar terjadi pada tahapan pengembangan,
kemudian pertambahannya mulai berkurang pada saat memasuki tahapan produksi, dan
Pada tahap konsep pengembangan produk, biaya peluncuran produk dan biaya untuk
mendapatkan konsumen sangat tinggi. Pada tahap ini, manajer harus melihat profitabilitas
sebagai profitabilitas seumur hidup pada produk individual dan konsumen, bukannya
profitabilitas dari tahun ke tahun. Jika profitabilitas dilihat secara tahun ke tahun, maka
produk akan menjadi tidak menarik karen biaya yang sangat tinggo sedangkan pendapatan
Rp5.000.000(R) Rp60.000.000
Selisih Anggaran Total Rp55.000.000 (R)
Keterangan:
*Standar aktivitas penerimaan barang adalah 0 karena aktivitas penerimaan barang bukanlah
Pada kurva biaya terikat, kurang lebih 90% dari biaya produk terjadi pada tahapan
pengembangan sehingga sangat masuk akal jika manajemen memusatkan usahanya untuk
mengurangi biaya produk pada tahapan ini. Peluang sebenarnya untuk mengurangi biaya
produk berada pada tahapan ini. Peluang sebenarnya untuk mengurangi biaya produk berada
pada tahap sebelum proses manufaktur dilakukan. Untuk itu, manajer perlu melakukan lebih
banyak invstasi pada aset pramanufaktur sehingga biaya siklus hidup produk secara
keseluruhan menjadi lebih rendah. Dalam pendekatan tradsional, hal ini sering diabaikan.
Pengabaian ini disebabkan karena pendefinisian biaya produksi (secara tradisional) hanya
biaya pada tahapan produksi saja. Biaya pada tahapan pengembangan dan logistik
dikategorikan sebagai biaya periodik dan diabaikan pada saat menghitung profitabilitas
produk.
pengembangan, ahli desain produk harus memiliki model biaya yang akurat, termasuk biaya
(product sustaining), dn mereka harus bekerja berdasarkan penentuan biaya target (target
Biaya target adalah selisih antara harga jual produk untuk mendapatkan pangsa pasar
yang diinginkan dengan laba per unit yang diinginkan. Penentuan biaya target pada awalnya
menggunakan penentuan biaya target untuk memotivasi para ahli produk untuk memilih
desain yang daoat diproduksi pada biaya yang rendah. Inti penentuan biaya target adalah
2. Berdasarkan harga jual tersebut, tentukan margin laba yang diinginkan perusahaan.
3. Sisa harga jual dikurangi margin laba adalah biaya target produk yang harus diproduksi
Misalnya, harga jual untuk produk kamera digial adalah Rp1.500.000 dengan pangsa pasar
mengingikan laba per unit produk kamera sebesar Rp250.000. biaya target untuk kamera
Jika saat ini biaya produksi per unit untuk produk kamera tersebut sebesar
Rp1.200.000, maka pengurangan biaya untuk mencapai biaya target dan laba yang diinginkan
Biaya target merupakan salah satu tipe standar yang dapat dicapai. Walaupun secara
konseptual berbeda dengan tipe yang telah dibahas terlebih dahulu, tetapi yang membedakan
adalah motivasi yang mendasarinya. Pada standar uang sebelumnya standar yang dapat
dicapai, penentuan standar dimotivasi secara internal oleh keinginan para ahli dan manajer
untuk semakin maju dengan tujuan meningkatkan standar aktivitas bernilai tambah.
Sedangkan biaya target lebih dimotivasi oleh dorongan eksternal dari konsumen yang
Kinerja tidak selalu hanya dapat diukut dari aspek keuangannya saja. Dalam sistem
kinerja juga memiliki peran penting. Pada lingkungan bisnis tradisional yang relatif stabil,
kinerja diukur dengan membandingkan antara hasil yang sesungguhnya dengan standar yang
telah ditentukan sebelumnya. Saat ini, lingkungan bisnis begitu turbulen, sehingga
pengendalian operasional harus lebih cepat merespons (action) suatu kejadian bahkan sebisa
mungkin harus sudah berekasi sebelum terjadinya suatu kondisi. Penggunaan pendekatan
tradisional sering kali memakan waktu karena harus menunggu suatu periode standar selesai
dan kadang butuh waktu beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. Hal tersebut mengakibatkan
membutuhkan evaluasi yang lebih tepat waktu. Untuk mencapai tujuan perubahan
Salah satu cara untuk meningkatkan peran pekerja adalah pengukuran kinerja
operasional. Pengukuran operasional berfokus pada ukuran fisik kinerja aktivitas. Para
direspons dengan lebih cepat sehingga meinigkatkan efisiensi. Ukuran kinerja operasional
harus mewakili ukuran-ukuran yang ada untuk memenangkan persaingan dan dapat
ditranslasikan dalam ukuran-ukuran keuangan. Selain itu, ukuran kinerja operasional harus
1. Efisiensi
2. Kualitas
3. Waktu
Pengukuran Efisiensi
dengan input yang dipergunakan. Pada pengukuran kinerja operasional, lazimnya output
untuk proses produksi diukur dalam satuan unit produksi. Satuan ukuran sangat tergantung
pada aktivitas yang diukur. Ukuran aktivitas penerimaan, misalnya dapat diukur dengan
banyaknya jumlah penerimaan. Hal ini dapat dicapai misalnya dengan mengurangi jumlah
penerimaan barang untuk jumlah pembelian barang yang sama atau dengan jumlah
penerimaan barang untuk jumlah pembelian barang yang sama untuk jumlah pembelian yang
banyak.
Pengukuran Kualitas
Kualitas produk atau jasa secara operasional dapat didefinisi sebagai pemenuhan
harapan atau bahkan melebihi harapan konsumen. Ukuran operasional kualitas sangat
ditentukan oleh jenis aktivitas atau proses dan input yang digunakan. Pada proses produksi
dengan produk barang jadi atau komponen, ukuran operasional yang dapat digunakan
misalnya jumlah unit yang cacat. Jumlah unit cacat dibagi unit total yang diproduksi,
persentase kegagalan eksternal, dan banyaknya bahan sisa sibagi jumlah bahan yang
digunakan.
mencapai kualitas total, yaitu cacat nol (zero defect). Cacat nol adalah kinerja aktivitas tanpa
kesalahan. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mengetahui perkembangan kualitas yang
Pengukuran Waktu
Terdapat dua karakteristik yang berkaitan dengan kinerja waktu, yaitu kenadalan
(reliability) dan daya tanggap (responsiveness). Keandalan berarti ketepatan waktu output
dari aktivitas dapat disampikan pada konsumennya. Ini dapat diartikan sebagai kemampuan
memenuhi waktu pengiriman yang dijanjikan. Daya tanggap mengukur lama waktu tunggu
yang dibutuhkan untuk menghasilkan output yang dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk
konsumen. Terdapat dua ukuran operasional untuk mengukur daya tanggap, yaitu waktu
siklus (cycle time) dan kecepatan. Waktu siklus adalah alamanya waktu yang dibutuhkan
untuk menghasilkan satu unit output dari aktivitas. Pada indsutri manufaktur, waktu siklus
adalah waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk. Kecepatan adalah
jumlah unit yang dapat dihasilkan dalam satu periode yang ditentukan.
Kedua pengukuran tersebut penting untuk pengukuran operasional karena
dalam mengurangi waktu siklus dan meningkatkan kecepatan sering kali digunakan
pemberian insentif. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah dengan mengaitkan
waktu siklus produksi dengan biaya produksi dan memberikan penghargaan kepada manajer
operasional yang berhasil mengurangi biaya. Misalnya, biaya konversi di sebuah sel produksi
dapat dibebankan ke produk dengan dasar banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk melewati
suatu sel produksi. Dengan menggunakan waktu produktif toeritis yang tersedia dalam satu
kurun waktu (dalam menit), sebuah standar biaya bernilai tambah dapat ditentukan dengan
per unit yang dihitung dengan menggunakan waktu siklus sesungguhnya denga biaya per unit
yang dihitung menggunakan waktu siklus teoritis dan optimal. Semakin lama waktu yang
Misalnya, PT Digdaya memiliki data untuk salah satu sel produksinya sebagai berikut.
Waktu konversi sesungguhnya dan teoritis di PT Digdaya dapat dilihat pada tabel perhitungan
biaya konversi, biaya unit dapat dikurangi dari Rp20.000 menjadi Rp12.000 dengan cara mengurangi
waktu siklus dari 10 menit per unit menjadi 6 menit per unit (atau meningkatkan kecepatan dari 6
Pengukuran operasional berbasis waktu lain yang dapat digunakan manajer adalah
menghitung keefektifan siklus produksi atau dikenal sebagai manufacturing cycle efficiency
Waktu bernilai tambah adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah bahan baku
menjadi barang jadi. Waktu untuk aktivitas lain sebenarnya merupakan waktu untuk
melakukan semua aktivitas tidak bernilai tambah (seperti pemindahan bahan, inspeksi, dan
waktu tunggu). Idealnya, waktu yang dibutuhkan oleh aktivitas tidak bernilai tambah adalah 0
sesungguhnya adalah 10 menit sedangkan waktu siklus teoritis adalah 6 menit. Waktu yang
diatributkan pada aktivitas tidak bernilai tambah adalah 4 menit (10 menit – 6 menit),
= 0,6
Banyak perusahaan menjual produk atau jasa yang sama. Di samping harga yang
dianggap menentukan keberhasilan penjualan sebuah produk, ada faktor lain yang juga sangat
menentukan, yaitu kualitas. Bahkan kualitas sering menjadi isu utama. Kualitas yang rendah
dapat menjadikan produk sangat mahal bagi produsen dan konsumennya. Konsekuensi
rendahnya kualitas adalah tingginya biaya produk. Solusi terhadap permasalahan ini adalah
bagaimana menghasilkan produk yang tepat waktu, tepat tempat, tepat barang, tepat layanan,
KUALITAS
Kualitas (quality) dapat diartikan berbeda antara satu orang dan orang lain. Biasanya
2. Memastikan seberapa baik produk dapat memenuhi aspek-aspek teknis dari desain
produk tersebut, kesesuaian kinerja dengan standar yang diharapkan, dan kesesuaian
Harapan konsumen atas produk atau jasa tentu saja berbeda antar satu konsumen dan
konsumen lainnya. Harapan konsumen ini dapat dilihat dari beberapa dimensi yang mewakili
1. Kinerja (performance) adalah tingkat konsistensi dan seberapa baik produk dapat
berfungsi. Kinerja jasa berarti tingkat keberadaan layanan pada saat diminta konsumen.
2. Estetika (aesthetic) adalah tingkat keindahan penampilan produk (seperti kecantikan dan
gaya) dan penampilan dari fasilitas, perlengkapan, personel, dan materi komunikasi
untuk jasa.
4. Fitur (features) adalah karakteristik produk yang membedakan secara fungsional dengan
5. Keandalan (reability) adalah kemungkinan atau peluang produk atau jasa dapat bekerja
Pada industri jasa, kinerja diatributkan dengan ukuran daya tanggap (responsiveness)
jaminan (assurance), dan empati (emphaty). Daya tanggap adalah kemampuan dalam
Jaminan menunjuk pada keyakinan dan pengetahuan pegawai serta kemampuan pegawai
dalam medapatkan kepercayaan dan rasa percaya diri. Sedangkan empati berarti kepedulian
(improving quality) merupakan kewajiban produsen. Oleh karena itu, peningkatan salah satu
atau lebih dari dimensi kualitas merupakan upaya peningkatan kualitas. Penyediaan produk
dengan kualitas yang lebih tinggi akan menghasilkan keunggulan perusahaan. Tidak selalu
semua dimensi kualitas penting bagi konsumen, tetapi perusahaan tidak memiliki sumber
daya yang cukup untuk meningkatkan semua dimensi tersebut. Oleh karena itu, pendekatan
pada dimensi-dimensi tertentu yang menjadi fokus perhatian konsumen lebih tepat waktu itu
dilakukan. Strategi seperti ini disebut kualitas kesuaian (quality of conformance). Dimensi
kualitas yang dipilih kemudian dimasukkan dalam spesifikasi desain produk. Dimensi
kualitas yang dipilih kemudian dimasukkan dalam spesifikasi desain produk. Selanjutnya,
Pendekatan Kualitas
Jika ada produk yang berkualitas maka lawannya adalah produk tidak berkualitas atau
produk cacat (defective product). Produk cacat berarti produk yang tidak memenuhi
spesifikasi. Pendekatan strategis yang digunakan dapat memenuhi spesifikai dapat dipilih
satu dari dua pendekatan, yaitu pendekatan tradisional atau dikenal sebagai pendekatan nilai
target (target value) dan pendekatan kontemporer yang disebut dengan kualitas optimal
(robust quality).
Pendekatan nilai target. Dalam pendekatan ini, kesesuaian kualitas diartikan sebagai
suatu rentang nilai untuk setiap spesifikasi atau karakteristik kualitas. Sebuah nilai
target dengan batasan nilai tertinggi dn terendah ditentukan sebagai rentang variasai
produk yang dapat diterima. Nilai target adalah semua unit yang berada dalam
rentang nilai tersebut dikategori sebagai produk yang tidak cacat atau berkualitas.
Sebagai contoh, sebuah pabrik pipa baja membuat pipa dengan spesifikasi diameter
10,000cm. target kualitas untuk diameter pipa adalah 9,9900cm sampai dengan
dan 10,0154cm maka akan ada dua produk yang cacat, yaitu pipa dengan diameter
9,900cm; dan 10,0150cm. Sedangkan pipa dengan diamter 9,9910cm; dan 9,9955cm;
dan 10,000cm adalah produk yang sesuai dengan kualitas ditentukan (berkualitas).
pada dimensi kesesuaian untuk digunakan (fitness for use). Spesifikasi kualitas
ditentukan dalam nilai tertentu yang sudah teruji tanpa ada torelansi sedikit pun
terhadap penyimpangan (tidak diperbolehkan adanya rentang nilai) setiap kali proses
dilaksanakan harus diperoleh target secara akurat. Pada contoh pabrik pipa baja di
atas, dari semua pipa yang dihasilkan hanya pipa dengan diamter 10,0000cm saja
dapat menjaga produk yang dihasilkan tetap berkualitas tinggi. Dengan adanya pelaporan
biaya kualitas yang terukur secara akurat maka akan diketahui apakah upaya-upaya
peningkatan kualitas yang telah dijalankan sudah sesuai dengan tujuan perusahaan, yaitu
Biaya Kualitas
Biaya kualitas (cost of quality) merupakan biaya yang terjadi atau mungkin akan
terjadi karena adanya kualitas yang rendah. Berdasarkan definisi tersebut maka biaya kualitas
dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu biaya kualitas yang berkaitan aktivitas
pengendalian (control activity) dan biaya yang berkaitan dengan aktivitas kegagalan (failure
Sedangkan aktivitas kegagalan terjadi karena adanya kegagalan dalam menjalankan aktivitas
atau adanya produk yang berkualitas rendah. Pemahaman biaya kualitas akan membantu
perusahaan dalam menganalisis dan meningkatkan kesesuaian kualitas produk yang akan
berguna dalam mengembangkan layanan dan brand image produk. Hal tersebut sangat
Ada dua kelompok biaya kualitas yaitu biaya pengendalian dan biaya kegagalan.
Kedua kelompok tersebut dapat dipecah lagi dalam empat subkelompok biaya, yaitu biaya
pencegahan (prevention cost), biaya penilaian (appraisal cost), biaya kegagalan internal
(internal failure cost), serta biaya kegagalan eksternal (external failure cost). Biaya
pencegahan dan biaya penilaian merupakan subkelompok dari biaya pengedalian, sedangkan
biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal merupakan subkelompok biaya
1. Biaya pencegahan dalah biaya yang terjadi karena adanya usaha untuk mencegah
terjadinya kegagalan dalam menjalankan aktivitas jasa dan/atau produk yang berkualitas
rendah. Pada umumnya, peningkatan biaya pencegahan diharapkan akan menghasilkan
2. Biaya penilaian adalah biaya yang terjadi karena dilakukannya penentuan apakah produk
dan/atau jasa yang dihasilkan telah sesuai dengan permintaan atau kebutuhan konsumen.
3. Biaya kegagalan internal adalah biaya yang terjadi pada saaat produk dan/atau jasa yang
ini terdeteksi pada saat produk masih berada di pahak perusahaan atau sebelum
4. Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi pada saat produk dan/atau jasa yang
dihasilkan tidk sesuai dengan permintaan atau kebutuhan konsumen dan diketahui
Biaya kualitas juga dapat diklasifikasi menjadi dua menurut kemudahan dalam
pengamatannya. Pertama adalah biaya kualitas yang dapat diamati (observable quality cost)
dan kedua biaya kualitas yang tersembunyi (hidden quality cost). Biaya kualitas yang dapat
diamati merupakan biaya kualitas yang secara langsung dapat diukur dan biasanya datanya
tersedia dalam laporan akuntansi perusahaan. Termasuk dalam kelompok ini adalah biaya
pencegahan, penilaian, kegagalan interna, serta biaya yang termasuk dalam subkelompok
kegagalan eksternal, misalnya biaya garansi dan penggantian produk. Sedangkan biaya
kualitas tersembunyi meruapakan biaya atas hilangnya kesempatan yang diakibatkan oleh
rendahnya kualitas. Biaya ini biasanya tidak terdapat dalam laporan akuntansi. Selain itu
biaya ini sulit diukur secara akurat jumlahnya. Sebagai contoh, biaya kehilangan penjualan,
kehilangan pangsa pasar, ketidakpuasan konsumen, dan biaya komplain pelanggan. Tentu
tidak mudah dalam mengukur jumlah biaya-biaya tersebut. Namun, biaya kualitas
tersembunyi bisa jadi jumlahnya signifikan dan menjadi penting dalam proses penentuan
kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, penentuan biaya ini menjadi hal penting.
Pencegahan Penilaian
Pelatihan kualitas Review desain
Pengujian laboratorium
Akseptasi proses
Kegagalan Internal Kegagalan Eksternal
Bahan sisa Biaya garansi
Kehilangan penjualan
Adanya ketiadaan metode yang dapat digunakan untuk mengukur secara akurat biaya
kualitas tersembunyi sehingga cara terbaik untuk menentukan besaran biaya ini adalah
untuk menghitung biaya kegagalan eksternal total. Beberapa pendekatan estimasi yang lazim
digunakan adalah metode multiplier, metode riset pasar, dan metode taguchi quality loss
function.
Metode Multiplier
Berdasarkan metode ini diasumsikan bahwa total biaya kualitas merupakan
multiplikasi dari beberapa ukuran biaya kegagalan sehingga untuk mengestimasi biaya
kegagalan total dapat dilakukan dengan mengalikan dengan menggunakan suatu angka
pengali yang ditentukan dengan biaya kegagalan total yang terobservasi. Hal ini dapat
perusahaan Trigold berhasil menghitung biaya kegagalan eksternal terobervasi tahun 2012
Rp2.000.000).
Metode riset pasar digunakan untuk dapat gambaran jumlah biaya kegagalan total
dilakukan dengan melakukan wawancara terhadapat tenaga pemasaran dan survei konsumen.
Hasilnya akan diperoleh suatu besaran dari rendahnya kualitas terhadap pangsa pasar dan
hilangnya penjualan yang akan bermanfaat dalam memprediksi dampak rendahnya kualitas
Metode ini mengasumsikan bahwa setiap penyimpangan dari target kualitas akan
tersembunyi dan kenaikan biaya kualitas merupakan penguadratan setiap pemyimpangan dari
nilai target. Pandangan dalam metode taguchi ini berbeda dengan pandangan tradional yang
mengizinkan adanya penyimpangan selama masih dalam rentang target. Perhitungan biaya
kegagalan eksternal total dengan metode taguchi dapat diformulasikan sebagai berikut.
L(y) = k( y – T )2
Keterangan:
perusahaan. Simbol k merupakan nilai estimasi dan dihitung dengan membagi nilai biaya
terestimasi dengan pangkat penyimpangan dari nilai target. Simbol k dihitung dengan
cara: k= c: d2
Informasi menjadi dasar penting dalam proses pembuatan keputusan. Pelaporan biaya
kualitas dapat menjadi sumber informasi terpenting dalam pembuatan keputusan perbaikan
kualitas dan penurunan biaya kualitas. Langkah pertama dalam membuat pelaporan biaya
kualitas adalah menentukan biaya kualitas sesungguhnya untuk setiap komponen kualitas.
Supaya penyusunan laporan biaya kualitas mudah dilakukan dan dipahami lazimnya
dibuat dalam bentuk persentase dari penjualan sesungguhnya. Sebagai contoh, PT Arthamas
memiliki laporan biaya kualitas seperti yang disajikan. Pada tahun 2012, PT Arthamas
Arthamas, diketahui bahwa biaya kualitas menyerap 12,5% dari penjualan total tahun 2012.
Berdasarkan praktik bisnis yang baik idealnya biaya kualitas tidak lebih dari 2,5% dari total
pendapatan penjualan. Dari pelaporan ini, PT Arthamas mengetahui bahwa mereka masih
punya peluang untuk meningkatkan laba dengan optimalisasi biaya kualitas. Oleh karena itu,
perlu ditentukan strategi yang akan digunakan untuk optimalisasi biaya kualitas. Terdapat dua
pandangan terkait biaya kualitas optimal, yaitu dalam pandangan tradisional disebut dengan
tingkat kualitas dapat diterima (acceptable quality level), sedangkan pasangan kontemporer
disebut pengendalian kualitas total (total quality control/zero defect). Setiap pandangan
Pandangan Tradisional
Pandangan ini pertama kali dikemukakan oleh J.M Juran yang mengemukakan model
biaya kualitas optimal dalam model ini, kualitas dibagi dalam tiga zona relatif tehadap titik
total biaya kualitas minimum. Aktivitas peningkatan kualitas dipilih pada daerah di bawah
zona kualitas optimal, zona kesempurnaan berada di atasnya, dan diantara keduanya tedapat
zona tidak berbeda (indifference). Pada zona kesempurnaan terdapat banyak permasalahan
untuk mencapai cacat nol (zero deffect) produk. Juran menyarakan untuk melonggarkan
Pada penjelasan lain dalam pendekatan kualitas yang dapat diterima, diasumsikan
sebagai suatu pertukaran biaya pengendalian dengan biaya kegagalan. Jika biaya pengedalian
ditingkatkan maka akan didapatkan penurunan biaya kegagalan. Sepanjang kenaikan biaya
pengendalian lebih rendah dari penurunan biaya kegagalan, atau kenaikan biaya kegagalan
lebih kecil daripada penurunan biaya pengendalian, maka perusahaan dapat meneruskan
upaya optimalisasi biaya kualitas. Kemudian, pada suatu titik akan dicapai nilai optimal
daripada pertukaran kedua biaya tersebut. Disinilah titik keseimbangan yang menunjukkan
tingkat terendah dari biaya kualitas yang disebut sebagai tingkat kualitas dapat diterima atau
Pandangan Kontemporer
Pandangan kontemporer sangat dipengaruhi oleh teori yang dikemukakan oleh ahli
kualitas dari Jepang, Genici Tauchi. Ia memiliki pandangan yang berbeda dengan pandangan
kualitas tradisional. Inti dari pandangan ini adalah untuk mendapatkan manfaat biaya maka
tidak diperbolehkan adanya produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.
Perusahaan yang tidak menghasilkan produk tidak sesuai spesifikasi yang menyimpang dari
target. Tingginya penyimpangan akan semakin memperbesar kerugian yang terjadi. Kerugian
akan tetap terjadi walaupun penyimpangan yang terjadi masih dalam rentang batas, sehingga
variasi dari nilai ideal adalah mahal dan rentang nilai spesifikasi tidak ada manfaatnya. Oleh
karena itu, dalam pandangan ini, tingkat optimal dari kualitas akan terjadi pada kondisi cacat
nol (zero deffect) yang berarti total biaya kualitas terendah dicapai pada saat tidak terjadi
cacat.
tambah dan biaya tidak bernilai tambah. Dengan menggunakan kriteria penentuan biaya
bernilai tambah maka biaya kualitas kelompok penilaian serta kegagalan internal dan
eksternal biaya adalah biaya tidak bernilai tambah. Biaya pencegahan dapat dikategorikan
sebagai biaya bernilai tambah jika aktivitas pencegahan dapat dijalankan secara efisien.
Apabila aktivitas pencegahan tidak dilakukan secara efisien dengan pemilihan, pengurangan,
atau bahkan berbagai aktivitas (sharing of activity) dapat dimanfaatkan untuk menjadikan
Dalam menggunakan ABM untuk kepentingan pengurangan biaya kualitas yang harus
dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi akar penyebabnya atau pemicu (driver) biaya
aktivitas, terutama aktivitas kegagalan. Jika diketahui akar penyebab sebuah aktivitas maka
dilakukan secara bertahap sampai pada titik biaya tidak bernilai tambah sama dengan nol.
Pada aktivitas pengendalian untuk aktivitas yang bernilai tambah, tetapi belum dilakukan
secara efisien maka dilakukan pengurangan aktivitas sampai biaya kualitas yang disebabkan
Analisis Trend
Pelaporan biaya kualitas dapat memberikan gambaran mengenai distribusi biaya kualitas
Perbandigan dilakukan untuk semua komponen biaya kualitas, baik secara total maupun per
komponen. Dengan menggunakan grafik trend akan diketahui perkembangan total dan per
komponen dari periode ke periode. Kemudian, dengan melakukan perbandingan
untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut adalah metode diagram sebab akibat atau
fishbone diagram(karena bentuknya mirip tulang ikan). Metode diagram ini dikemukakan
oleh Ishikawa sehingga sering disebut juga diagram Ishikawa. Digram ini merupakan sebuah
digram kausal (causal diagram) yang penyebab atau alasan adanya ketidaksempurnan adalah
sebagai berikut.
2. Metode adalah cara bagaimana proses dilakukan dan setiap permintaan spesifik untuk
3. Mesin adalah semua peralatan, komputer, atau perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk
melaksanakan pekerjaaan.
4. Bahan adalah bahan baku ataupun bahan penolong untuk menghasilkan produk akhir.
5. Pengukuran adalah data yang diperoleh dari proses yang digunakan untuk mengukur
kualitas.
6. Lingkungan merupakan suatu kondisi, seperti waktu di lokasi, suhu, cuaca, budaya, dan
lingkungannya.
Dalam mencari penyebab terjadinya cacat dengan metode Ishikawa dilakukan dengan
mengidentifikasi semua masalah yang ada pada setiap komponen penyebab satu per satu.
ini?
Metode Sudahkah kotak penyimpanan diberi label yang sesuai?
ini?
Apabila penyebab rendahnya kualitas atau tingginya biaya kualitas telah diketahui,
maka selanjutnya dapat dibuat strategi untuk mengurangi biaya kualitas. Umumnya, strategi
Efisiensi proses adalah kemampuan untuk mengubah input menjadi output antara
(throughput) pada biaya terendah. Efeisiensi proses sangat ditentukan oleh apakah karyawan
telah bekerja ke arah tujuan yang sama. Output antara merupakan jumlah barang atau jasa
yang dihasilkan dan disampaikan pada konsumen pada suatu periode waktu pengukuran
yang diukur dalam ukurang keuangan dan keuangan fisik. Manajer membutuhkannya untuk
mengetahui seberapa baik mereka mengelola proses dan aktivitas dalam organisasi. Pekerja
untuk menciptakan perbaikan agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen pada biaya
terendah.
Organisasi mengelola dua tipe proses, yaitu proses produksi dan proses bisnis. Proses
produksi secara langsung menghasilkan produk atau jasa. Contoh proses produksi
perusahaan roti membuat roti tawar untuk konsumen, dan perusahaan hard disk
memproduksi hard disk mini untuk memputar MP3. Proses bisnis mendukung atau
hard disk.
Ukuran-ukuran yang biasa digunakan untuk efisiensi proses produksi dan bisnis
1. Produktivitas.
PENGUKURAN PRODUKTIVITAS
efisien, dan secara khusus ditujukan pada hubungan antara output dan input untuk
menghasilkan output. Beberapa kombinasi tingkat input dapat digunakan untuk menghasilkan
suatu tingkat output yang ditentukan. Efisiensi produktivitas total terjadi saat dua kondisi
terpenuhi, yaitu: (1) untuk semua perpaduan input yang akan menghasilkan output pada
tingkat ditentukan, tidak ada satu komponen input-pun yang digunakan melebihi yang
ditentukan untuk menghasilkan output tertentu, (2) pada berbagai perpaduan untuk memenuhi
kondisi pertama yang dipilih adalah perpaduan dengan tingkat biaya terendah. Kondisi
pertama disebut efisiensi teknis (technical efficienty) karena dipicu oleh hubungan teknis,
sedangkan kondisi kedua disebut eifisiensi pertukaran (trade-off efficiency). Kondisi kedua
dipicu oleh hubungan harga input secara relatif. Pada kondisi kedua, harag input ditentukan
oleh proporsi relatif dari setiap komponen input yang digunakan untuk menghasilkan output.
Efisiensi Teknis
Jika aktivtas dipandang sebagai input maka kondisi pertama akan menghilangkan
aktivitas tidak bernilai tambah dan hanya melakukan aktivitas bernilai tambah dalam
produktivitas dapat:
1. Menghasilkan output yang ama dengan input lebih sedikit.
Efisiensi Pertukaran
Peningkatan efisiensi juga dapat dicapai dengan melakukan pertukuran antara input
yang lebih mahal dengan input yang lebih murah. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa input
tenaga kerja langsung lebih mahal daripada input peralatan (modal) sehingga mengurangi
input tenaga kerja dan menambah input peralatan untuk menghasilkan output yang sama
Pada pendekatan kedua yang perlu diperhatikan adalah pemilihan kombinasi input
yang optimal. Adanya pendekatan kedua ini akan memberikan peluang peningkatan
Pengukuran produktivitas input demi input satu per satu disebut dengan pengukuran
membandingkan banyaknya output tunggal yang dihasilkan dengan input yang digunakan.
dalam satuan rupiah ataupun dalam satuan fisik. Apabila pengukuran dilakukan dalam satuan
rupiah maka ukuran yang dihasilkan disebut produktivitas finansial. Apabila dilakukan dalam
5.000 jam tenaga kerja. Jika setiap televisi LCD dapat dijual seharag Rp2.500.000 dan tarif
setiap jam kerja adalah Rp100.000 maka produktivitas operasional di perusahaan Enola
adalah 2 (10.000 unit televisi dibagi 5.000 jam tenaga kerja). Artinya, setiap jam tenaga kerja
akan menghasilkan dua buah televisi LCD. Apabila diukur dalam produktivitas finansial
maka hasilnya adalah 50 (dihitung dari nilai jual televisi LCD sebesar Rp25.000.000.000
(10.000 unit x Rp2.500.000) dibagi Rp500.000.000 (5.000 jam tenaga kerja x Rp100.000).
jadi, setiap perusahaan mengeluarkan Rp1 untuk tenaga kerja akan menghasilkan Rp50
penjualan.
pengukuran produktivitas tidak dapat dilakukan pada satu periode waktu saja. Sebaiknya
input tertentu. Selain itu, hasil pengukuran lebih mudah dipahami dan diinterpretasi
tenaga kerja langsung dikaitkan dengan berapa banyak unit yang dihasilkan untuk setiap
jam yang dipergunakn atau berapa banyak unit yang dihasilkan untuk setiap satu unit
dan memahami keterkaitan antara input yang mereka kendalikan dengan output yang
mereka hasilkan. Dengan begitu, mereka dapat memahami dan termotivasi untuk
tertentu makan trend produktivitas akan dapat direkam perkembangammya. Pada tingkat
Pengukuran parsial yang dilakukan dengan cara satu per satu input diukur secara terpisah
dapat memberikan sutau gambaran yang salah tentang produktivitas. Hal tersebut
terhadap input lain. Kinerja suatu input bisa jadi dipengaruhi oleh kinerja input yang lain.
Sebagai contoh, mengubah spesifikasi bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan
output yang sama bisa jadi akan mengakibatkan peningkatan limbah dan bahan sisa,
sedangkan jam tenaga kerja berkurang. Akibatnya kinerja produktivitas tenaga kerja
meningkat sedangkan kinerja produktivitas bahan baku menurun. Jika penghematan dari
peningkatan kinerja tenaga kerja lebih rendah daripada biaya akibat meningkatnya bahan
Produktivitas total didapatkan dengan cara mengukur produktivitas semua input yang
digunakan untuk menghasilkan output. Praktiknya, pengukura semua input dapat menjadi
sangat sulit dan mahal. Oleh karena itu yang diukur hanyalah faktor-faktor yang relevan
untuk menjadi indikator kinerja dan keberhasilan organisasi saja. Jadi, hanya input tertentu
saja yang diukur kinerjnya. Terdapat dua pendekatan pengukuran yang dapat dipergunakan,
Pengukuran Profil
Pengukuran profil dilakukan dengan cara mengukur beberapa input utama yang
menerapkan proses produksi baru tahun 2012. Diasumsikan proses baru hanya
memengaruhi dua input yaitu tenaga kerja dan bahan baku. Berikut ini disajikan data produksi
2011 2012
Jumlah televisi LCD dihasillkan 10.000 12.000
Tenaga kerja dipergunakan 5.000 4.000
Bahan baku dipergunakan 100.000 150.000
merupakan salah satu cara untuk melihat nilai perubahan perubahan produktivitas.
Dengan membandingkan laba tahun dasar dan tahun yang diamati akan diketahui
perubahan laba yang terjadi. Sebagian perubahan laba tersebut merupakan hasil
perubahan produktivitas, manajer akan terbantu dalam memahami arti penting perubahan
produktivitas secara ekonomis. Dampak profit linked productivity dapat dihitung dengan
rumus berikut.
Keterangan:
PQ adalah jumlah input yang dibutuhkan unyuk menghasilkan output pada waktu yang
diamati jika produktivitas sama dengan tahun dasar yang dihitung dengan cara berikut.
Biaya PQ total didapatkan melalui PQ dikalikan dengan biaya per unit input dengan
harga input pada periode amatan dan dijumlahkan untuk semua input. Biaya periode
amatan total dihitung dengan cara mengkalikan input pada periode amayan dengan harga
input pada periode amatan dan dijumlahkan untuk semua input. Sebagai contoh, data
2011 2012
Jumlah televisi LCD dihasillkan 10.000 12.000
Tenaga kerja dipergunakan 5.000 4.000
Bahan baku dipergunakan (unit) 100.000 150.000
Harga jual televisi LCD Rp2.500.000 Rp2.750.000
Upah per jam tenaga kerja Rp500.000 Rp750.000
Biaya per unit bahan baku Rp100.000 Rp110.000
= Rp17.700.000.000 – Rp19.100.000.000
Hasil perhitungan
dengan cara perubahan pendapatan dikurangi perubahan biaya input dengan asumsi tidak
ada perubahan produktivitas. Untuk mengetahui besaran pemulihan harga harus dihitung
terlebih dahulu perubahan laba pada setiap periodenya. Contoh berikut menggunakan data
perusahaan Enola.
= Rp1.400.000.000 – (-Rp1.400.000.000)
= Rp2.800.000.000
Perusahaan Enola mengalami kenaikan laba sebesar Rp1.400.000.000. apabila tidak
ada perubahan produktivitas semestinya perusahaan akan dapat mengalami kenaikan laba
Waktu siklus adalah waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu produk atau
jasa. Pada jasa waktu siklus dihitung sejak konsumen mengajukan permintaan layanan
sampai selesai. Waktu siklus rata-rata setara dengan total waktu proses untuk smeua unit
dibagi dengan unit yang dihasilkan. Agar lebih bermanfaat, waktu siklus rata-rata harus
dimasukkan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengirim semua unit produk dan
pengerjaan ulang atau waktu pembuangan jika terdapat produk cacat atau sisa bahan dan
Dalam ukuran waktu kinerja akan semakin baik jika waktu proses yang dibutuhkan
semakin sedikit. Dengan waktu proses yang lebih cepat maka konsumsi sumber daya juga
dapat dihemat.