Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
1
Prof. Dr. T.G Ratumanan, [Link]., Inovasi Pembelajaran (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm. 248-250
2
Prof. Dr. Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2010), hlm. 197-198
3. Guru dalam pembelajaran berbasis masalah berperan sebagai fasilitator. Sebagai
kebalikan dari model-model yang lebih berorientasi konten (content-oriented
models) di mana guru secara aktif menyebarkan informasi, pembelajaran berbasis
masalah justru mengharuskan guru untuk lebih membantu secara tidak langsung
dengan mengemukakan masalah atau pertanyaan dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang probing dan bermanfaat.
Sedangkan menurut Krajcik, et. al., & Slavin, et. a.l. 3.1. (Arends, 2007,
1997), karakteristik pembelajaran berdasarkan masalah adalah sebagai berikut:
3
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 250-252
Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu.
Sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan
fakta yang jelas.
4
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, [Link]., Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:
Prenada Media Group, 2006), hlm. 214-216
1. Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat
materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
2. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan ketrampilan berpikir rasional
siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang
mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan
pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secaa
objektif.
3. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta
membuat tantangan intelektual siswa.
4. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
5. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan
pernyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan penyataan).
Dalam SPBM, peserta didik dihadapkan pada masalah yang menuntut mereka
berkolaborasi melakukan inquiry untuk menemukan solusi. Peserta didik dihadapkan
pada sebuah skenario permasalahan; mereka mengidentifikasi dan menganalisis
permasaiahan tersebut berdasarkan fakta-fakta, setelah itu mereka merumuskan
hipotesisnya. Pada saat mengusulkan hipotesis, peserta didik mengidentifikasi
informasi yang hiiang, apa yang perlu mereka ketahui untuk menguji solusi mereka
Hal ini memunculkan sebuah fase belajar dan penyelidikan yang self directed. Setelah
itu, peserta didik menerapkan pengetahuan baru mereka, mengevaluasi solusi
permasalahan mereka, mengulang siklusnya untuk melakukan penelitian kembali bila
dianggap perlu, dan akhirnya merefleksikan pengetahuan dan keterampilan yang teiah
mereka dapatkan (Hmelo-Silver, 2004).
Sedangkan menurut Arends (2007, 1997), terdapat tiga tujuan utama dari
pembelajaran berbasis masalah, yakni sebagai berikut.
Problem-Based
Instruction Adults Role Behaviors
D. Tahapan-Tahapan SPBM.
Arends (2007, 1997) mengemukakan Iima fase utama dalam penggunaan
SPBM, yakni (1) orientasi peserta didik pada masalah, (2) mengorganisasikan peserta
didik untuk belajar, (3) memberi bantuan dalam penyelidikan secara mandiri atau
bersama kelompok, (4) mengembangkan dan menyediakan alat, dan (5) menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Aktivitas guru pada setiap fase tersebut dapat tabel berikut ini. Lihat pada
5
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 252-256
Fase Aktivitas Guru
1. Orientasi peserta - Menjelaskan tujuan pembelajaran.
didik pada masalah. - Mendeskripsikan logistis (alat dan bahan)
penting yang dibutuhkan.
- Menyajikan situasi masalah dan membimbing
peserta didik dalam mengidentifikasi masalah.
- Memotivasi peserta didik untuk terlibat pada
kegiatan pemecahan masalah yang dipilihnya.
2. Mengorganisasikan - Membagi situasi masalah yang lebih umum
peserta didik untuk menjadl subtopik-subtopik yang sesuai.
belajar. - Membantu peserta didik untuk menentukan
subtopik mana yang akan mereka selidiki.
- Mengorganisasikan peserta didik ke dalam
kelompok belajar kooperatif
3. Membimbing - Mendorong peserta didik untuk
penyelidikan mengumpulkan informasl yang sesuai dan
secara mandiri dan melaksanakan eksperimen dengan
investigasi menggunakan metode yang tepat.
kelompok - Membimbing peserta didik dalam membangun
hipotesis, penjelasan, dan pemecahan masalah.
- Memfasilitasi terjadinya penukaran ide secara
bebas.
4. Mengembangkan - Membantu peserta didik dalam merencanakan
dan menyajikan dan mempersiapkan karya-karya yang sesuai,
artefak (hasil seperti Iaporan, video, model, dan membantu
karya). peserta didik untuk berbagl tugas dengan
temannya.
- Mengorganisasikan pameran untuk
memamerkan dan mempublikasikan hasil
karya peserta didik tersebut. Pameran dapat
berupa pameran tradisional, dimana setiap
peserta didik memamerkan hasll karyanya
untuk diamati atau dinilai oleh orang Iain, atau
penyajian verbal/visual,dimana terjadi
pertukaran ide dan pemberlan umpan balik.
5. Menganalisis dan - Membantu peserta didik untuk merefleksikan
mengevaluasi hasil investigasi mereka dan proses-proses yang
proses pemecahan digunakan.
masalah.
Fase Deskripsi
Fase 1. Me-review dan menyajikan - Menarik perhatian peserta didik
masalah. dan menarlk mereka ke dalam
Guru me-review pengetahuan yang pembelajaran.
dibutuhkan untuk memecahkan masalah - Secara informal menilai
dan memberi peserta didik masalah pengetahuan awal.
spesifik dan konkret untuk dipecahkan. - Memberikan fokus konkret untuk
pembelajaran .
Fase 2. Menyusun strategi - Memastikan sebisa mungkin
Peserta didik menyusun strategi untuk bahwa peserta didik
memecahkan masalah dan guru menggunakan pendekatan yang
memberikan mereka umpan baIik berguna untuk pemecahan
mengenal strategi. masalah .
6
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 256-258
Guru membimbing diskusi tentang
upaya peserta didlk dan hasil yang
mereka peroleh
1. Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari
peserta didik sesuai dengan taraf kemampuannya.
2. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti,
bertanya, dan lain-lain.
3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dengan dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada
langkah kedua di atas.
4. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini peserta
didik harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin
bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban
sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untkl menguji kebenaran jawaban
itu tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti demonstrasi, tugas,
diskusi, dan lain-lain.
5. Menarik kesimpulan. Artinya peserta didik harus sampai pada kesimpulan
terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.7
Dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan oleh para ahli, maka secara
umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Menyadari Masalah.
7
Dr. Mulyono, M.A., Strategi Pembelajaran (Malang: UIN Maliki Press, 2012), hlm. 109
Implementasi SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah
yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada
kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau
lingkungan sosial. kemampuan yang harus dicapai oleh siswa Pada tahapan
ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang
terjadi dari berbagai fenomena yang ada.
2. Merumuskan Masalah.
Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan
dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan
dengan data-data yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya.
Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa
dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan
pengetahuannya untuk mengkaji, memerinci, dan menganalisis masalah
sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan
dapat dipecahkan.
3. Merumuskan Hipotesis
Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir
deduktif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah
penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan yang diharapkan dari
siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari
masalah yang ingin diselesaikan. Melalui analisis sebab-akibat ini pada
akhirnya siswa diharapkan dapat menentukan berbagai kemungkinan
penyelesaian masalah. Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan
selanjutnya adalah mengumpulkan data yang sesuai dengan hipotesis yang
diajukan.
4. Mengumpulkan Data.
Proses berpikir ilmiah bukan proses berimajinasi akan tetapi proses yang
didasarkan pada pengalaman. Oleh karena itu, dalam tahapan ini siswa
didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang
diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan
data, kemudian memetakan dan menyajikannya dalam berbagai tampilan
sehingga mudah dipahami.
5. Menguji Hipotesis.
Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah
kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat
hubungannya dengan masalah yang dikaji. Disamping itu, diharapkan siswa
dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6. Menentukan Pilihan Penyelesaian.
Menentukan pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM.
Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih
alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat
memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan
alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan
terjadi pada setiap pilihan.8
E. Perencanaan Pembelajaran.
Penggunaan model SPBM dalam pembelajaran membutuhkan persiapan yang
baik. Menurut Arends (2007, 1997), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tugas
perencanaan (planning task) pembelajaran menggunakan SPBM adalah sebagai
berikut.
1. Menetapkan Tujuan (Decide on Objectives).
Penetapan tujuan khusus pada SPBM merupakan salah satu hal yang
perlu dipertimbangkan. Sebelumnya dijelaskan bagaimana SPBM
dirancang untuk membantu pencapaian tujuan dalam meningkatkan
keterampilan Intelektual dan penyelidikan pemahaman dan menolong
peserta didik menjadi mandiri. Beberapa pelajaran yang disampaikan
menggunakan SPBM dapat ditujukan pada pencapaian seluruh tujuan serta
simultan.
2. Merancang Situasi Permasalahan secara Tepat (Design Appropriate
Problem Situations).
SPBM didasarkan pada pernyataan (premise) berupa teka-teki dan
permasalahan yang belum jelas yang dapat meningkatkan keingintahuan
dan selanjutnya digunakan dalam inkuiri. Perumusan masalah yang tepat
dengan menyesuaikan fasilitas yang tersedia merupakan salah satu tugas
penting bagi guru. Beberapa pengembang SPBM yakin bahwa peserta
8
Ibid., Strategi Pembelajaran…., hlm. 217-220
didik akan memiliki keterbukaan dalam mendefinisikan masalah yang
akan diselidiki, sebab proses ini akan membantu perkembangan
penguasaan masalah (Krajcik, 1994). Situasi permasalahan yang baik
sedikitnya memilikt lima kriteria utama, yakni sebagai berikut.
a. Harus autentik (authentic), artinya bahwa masalah hams sesuai
dengan pengalaman dunia nyata peserta didik daripada dengan
prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu.
b. Masalah seharusnya bersifat misteri (mystery) atau tekateki
(puzzlement). Masalah tersebut sebaiknya memberikan tantangan
dan tidak hanya mempunyai jawaban sederhana, serta memerlukan
(mempunyai) solusi alternatif yang masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Dalam hal ini, tentu saja memerluan
dialog dan perdebatan.
c. Masalah harus bermakna bagi peserta didik dan sesuai dengan
tingkat perkembangan intelektual mereka. Masalah yang disajikan
guru harus cukup Iuas sehingga memungkinkan mencapai tujuan
pembelajaran untuk membuat pelajaran sesuai (feasible) dengan
waktu, ruang, dan sumber belajar yang tersedia. Masalah yang
disajikan harus bermanfaat atau menguntungkan bagi usaha
kelompok dan tidak mengganggu usaha kelompok.
3. Mengorganisir sumber belajar serta merencanakan alat dan bahan
(organize resources and plan logistics).
SPBM mendorong peserta didik bekerja dengan menggunakan
berbagai bahan dan alat, sebagian dapat dilakukan di ruang kelas,
perpustakaan, laboratorium komputer, dan juga dapat dilakukan di luar
sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, guru bertanggung jawab
mengorganisasikan sumber-sumber belajar, merencanakan, dan
mempersiapkan (menyediakan) alat dan bahan. Ini akan memungkinkan
peserta didik untuk bekerja dan belajar secara optimal dalam memecahkan
masalah yang dihadapi.9
9
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 258-260
Selanjutnya siswa/peserta sendiri yang mencari dan menemukan cara
pemecahan/penyelesaian dan data yang diperlukan. Guru jika perlu mempertanyakan
pendekatan yang akan digunakan oleh siswa/peserta, tetapi tidak perlu memberikan
saran atau membantu secara langsung pemecahan kasus tersebut. Dalam hal itu, guru
lebih banyak bertindak sebagai bank data, sebagai wasit, dan kritikus, bukan sebagai
pengajar. Karena itu metode SPBM sering disebut dengan diskoveri sesungguhnya
(true discovery).10
Misalkan, akan dibahas materi "air” pada kelas IV SD. Dengan menggunakan
model SPBM, pembelajaran dapat diarahkan sehingga peserta didik dapat
memperoleh informasi mengenai penggunaan air di sekolah, dan dapat
memperkirakan penggunaan air di sekolah dalam satu hari, satu minggu, atau satu
bulan. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan SPBM dimaksud adalah
sebagai berikut.
Fase I
Fase II
Fase III
Fase IV
10
Ibid., Perencanaan Pengajaran….., hlm.198-199
o Guru meminta setiap kelompok peserta didik bekerja sama dalam menuliskan
laporan hasil penyelidikannya.
o Satu kelompok atau beberapa kelompok dimintakan mempresentasikan hasil
kerja kelompoknya.
o Guru mengarahkan diskusi kelas.
Fase V
o Guru membantu peserta didik untuk merefleksikan apakah hasil kerja setiap
kelompok dapat menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan di awal kegiatan
penyelidikan.
o Guru membantu peserta didik untuk merefleksikan kembali proses
pengumpulan data yang dilakukan, apakah sudah tepat? Dengan cara meminta
peserta didik menjelaskan secara rinci tahap yang dilakukan dalam
pengamatan, pengukuran, pencatatan, dan pengolahan data. 11
11
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 260-261
f. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada
siswa bahwa setiap mata pelajaran Matematika, IPA, sejarah dan lain
sebagainya pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus
dimengerti oleh siswa bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-
buku saja.
g. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan
disukai siswa.
h. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk
menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada
siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia
nyata.
j. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa
untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan
formal telah berakhir.
2. Kelemahan.
Di samping keunggulan SPBM juga memiliki kelemahan, diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan
merasa enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan
cukup waktu untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin
pelajari.12
12
Ibid., Strategi Pembelajaran…., hlm. 220-221