0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan19 halaman

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Sistem Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai fokus utama dalam proses pembelajaran. SPBM memiliki tiga karakteristik utama yaitu merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, diarahkan untuk menyelesaikan masalah, dan pemecahan masalah dilakukan secara ilmiah.

Diunggah oleh

Mamila Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan19 halaman

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Sistem Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai fokus utama dalam proses pembelajaran. SPBM memiliki tiga karakteristik utama yaitu merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, diarahkan untuk menyelesaikan masalah, dan pemecahan masalah dilakukan secara ilmiah.

Diunggah oleh

Mamila Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A. Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM.

Pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada pandangan Jon Dewey, yang


menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman (belajar dari pengalaman).
Dewey percaya bahwa anak-anak merupakan para pembelajar aktif secara sosial yang
beIajar dengan cara mengeksplorasi Iingkungan mereka. Sekolah seharusnya
memanfaatkan rasa keingintahuan yang alamiah ini dengan membawa dunia Iuar ke
dalam ruang kelas, dengan membuatnya tersedia dan dapat diakses untuk keperluan
studi (dipelajari). Dewey percaya bahwa pengetahuan yang dipeIajari peserta didik
seharusnya bukan informasi yang banyak terdapat di buku-buku pelajaran atau
disampaikan dalam ceramah-ceramah. Pengetahuan menjadi berguna dan hidup ketika
diterapkan sebagai solusi untuk beberapa masalah (Jacobsen, 2009).
Sistem Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning atau
Problem Based Instruction) didasarkan pada asumsi bahwa situasi teka-teki atau
masalah yang tidak terdefinisi secara ketat akan merangsang rasa ingin tahu peserta
didik sehingga mereka akan termotivasi untuk terlibat secara optimal pada aktivitas
penyelidikan. SPBM merupakan model yang efektif untuk pembelajaran proses
berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses
informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka
sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk
mengembangan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Menurut Arends (1997), pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu
pendekatan pembelajaran di mana peserta didik mengerjakan permasalahan autentik
dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan
inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat Iebih tinggi, mengembangkan kemandirian,
dan percaya diri. Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran
yang lain, seperti ”pembelajaran berdasarkan proyek (project-based instruction),
“pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”,
“pembelajar autentik (authentic Iearning)” dan “pembelajaran bermakna
(meaningful learning)”.
Pada pembelajaran ini, guru berperan untuk mengajukan permasalahan atau
pertanyaan, memberikan dorongan, motivasi, menyediakan bahan ajar dan fasilitas
yang diperlukan. Selain itu guru memberikan scaffolding berupa dukungan dalam
upaya meningkatkan kemampuan inkuiri dan perkembangan intelektual peserta didik.
Scaffolding mengacu kepada pemberian sejumlah bantuan oleh teman sebaya atau
orang dewasa yang berkompeten kepada anak. Menurut Slavin (2009) memberikan
scaffolding berarti memberikan kepada anak sejumlah besar dukungan selama tahap-
tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan dan memberikan
kesempatan kepada anak itu untuk mengambil tanggung jawab yang semakin besar
segera setelah ia mampu melakukan tugas tersebut secara mandiri.1
SPBM juga dapat diartikan suatu bentuk simulasi yang bertujuan untuk
memberikan pengalaman kepada para siswa tentang pembuatan keputusan mengenai
apa yang harus dilakukan lebih lanjut. Dapat juga digunakan dalam rangka melatih
para pekerja sosial tentang studi kasus social, atau latihan-latihan segi aspek efektif
bagi para warga masyarakat umumnya. Basis permasalahannya ditulis berdasarkan
kejadian-kejadian nyata yang telah terjadi dalam kegiatan berbisnis atau dalam
masyarakat. Penulisan mengenai permasalahan tersebut yang relatif mudah karena
menggunakan sumber-sumber informasi ang ada atau telah tersedia. Yang menjadi
masalah adalah memilih keterangan mana yang perlu diambil dan dijadikan sebagai
masalah, dengan maksud menyederhanakan studi itu untuk kepentingan siswa yang
melakukan studi. Masalah-masalah yang akan dipelajari dapat pula dilakukan dengan
menemukan sesuatu kasus. Syaratnya kasus tersebut jangan sampai terlalu sederhana,
harus sesuai dengan minat siswa, bersifat nyata, dan mempunyai dampak
instruksional tertentu bagi siswa.2
Menurut Gijbelc, [Link] dan Lam (dalam Jacobse., [Link], 2009), pembelajaran
berbasis masalah memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
1. Pelajaran dimulai dengan mengangkat suatu permasalahan atau satu pertanyaan
yang nantinya menjadi fokus untuk keperluan usaha investigasi peserta didik.
Dalam kelas komunikasi SMA, pertanyaan tentang tipe, panjang, dan frekuensi
periklanan dapat menjadi fokus utama dalam penelitian peserta didik.
2. Siswa memiliki tanggung jawab utama dalam menyelidiki masalah-masalah dan
memburu pertanyaan-pertanyaan. Tanggung jawab sangat penting, baik secara
instruksional, maupun secara motivasional, karena siswa dalam pembelajaran
berbasis masalah secara literal melakukan learning by doing (Pintrich & Schunk,
2002).

1
Prof. Dr. T.G Ratumanan, [Link]., Inovasi Pembelajaran (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm. 248-250
2
Prof. Dr. Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2010), hlm. 197-198
3. Guru dalam pembelajaran berbasis masalah berperan sebagai fasilitator. Sebagai
kebalikan dari model-model yang lebih berorientasi konten (content-oriented
models) di mana guru secara aktif menyebarkan informasi, pembelajaran berbasis
masalah justru mengharuskan guru untuk lebih membantu secara tidak langsung
dengan mengemukakan masalah atau pertanyaan dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang probing dan bermanfaat.

Sedangkan menurut Krajcik, et. al., & Slavin, et. a.l. 3.1. (Arends, 2007,
1997), karakteristik pembelajaran berdasarkan masalah adalah sebagai berikut:

1. Pengajuan Pertanyaan atau Masalah.


Selain pengorganisasian pelajaran di sekitar prinsip atau keterampilan-
keterampilan akademik tertentu, belajar berdasarkan masalah
mengorganisasikan pembeiajaran di sekitar pertanyaan dan permasalahan, yang
keduanya sangat diperlukan peserta didik. Guru menunjukkan situasi kehidupan
nyata yang jawabannya tidak sederhana dan peserta didik berlomba
menyelesaikannya. Menurut Gallagher & Stephen (Slavin, 2009), tugas-tugas
sekolah sering kali lemah dalam konteks, sehingga tidak bermakna bagi
kebanyakan peserta didik, karena peserta didik tidak dapat menghubungkan
tugas-tugas tersebut dengan apa yang telah mereka ketahui.
2. Keterkaitan dengan disiplin ilmu lain (interdisciplinary focus).
Walaupun SPBM ditunjukkan pada suatu bidang ilmu tertentu (sains,
matematika, penelitian sosial), namun dalam pemecahan masalah-masalah
aktual, peserta didik dapat diarahkan dalam penyelidikan di berbagai bidang
ilmu. Sebagai contoh, masaIah polusi yang meningkat di perairan sekitar
Tanjung Perak Surabaya atau di Teluk Ambon, berkaitan dengan beberapa
pelajaran dan merupakan apiikasl dari biologi, ekonomi, sosiologi, turisme, dan
pemerintahan.
3. Penyelidikan autentik (authentic investigation) .
SPBM mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan-
penyelidikan autentik untuk mencari pemecahan nyata dari suatu permasalahan.
Peserta didik menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan
hipotesis dan meramalkan, mengumpulkan dan menganalisis informasi,
melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan
menyimpulkan. Metode penyelidikan khusus yang digunakan, tentu saja
bergantung pada sifat-sifat masalah yang diselidiki.
4. Menghasilkan ”hasil karya” dan memamerkannya (production of artifacts and
exhibits).
SPBM mengajak peserta didik mengonstruksikan hasil-hasil dalam
bentuk hasil karya dan memamerkannya, yang menjelaskan atau
menggambarkan penyelesaian mereka. Setiap kelompok menyajikan hasil
karyanya di depan kelas, selanjutnya kelompok lain memberikan tanggapan atau
kritikan. Dalam hal ini, guru mengarahkan dan memberi petunjuk kepada
peserta didik agar aktivitas peserta didik lebih terarah.
5. Kolaborasi (collaboration).
Seperti halnya dengan model pembelajaran kooperatif, SPBM juga
menghendaki adanya kerja sama antar peserta didik dalam suatu kelompok
kecil. Kerja sama menimbulkan motivasi untuk mendukung keterlibatan
segenap peserta didik dalam tugas-tugas kompleks, meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah, juga mengembangkan keterampilan berpikir dan
kecakapan sosial. 3

Sehingga SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang


menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah yang
memiliki tiga ciri utama yaitu:

1. SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi


SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. SPBM tidak
mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal
materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM siswa aktif berpikir, berkomunikasi,
mencari, dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. SPBM
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir
deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris.

3
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 250-252
Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu.
Sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan
fakta yang jelas.

B. Hakikat Masalah dan Implementasi SPBM


Hakikat masalah dalam SPBM adalah kesenjangan antara situasi nyata dan
kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang
diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan,
kerisauan, atau kecemasan. Oleh karena itu, materi pelajaran atau topik tidak terbatas
pada materi pelajaran yang bersumber dari buku saja akan tetapi juga dapat bersumber
dari peristiwa-peristiwa tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Di bawah ini
diberikan kriteria pemikiran bahan pelajaran dalam SPBM.
1. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik
(conflict issue) yang bisa bersumber dari berita, rekaman video, dan yang
lainnya.
2. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa,
sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan
kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
4. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau
kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang
berlaku.
5. Bahan yang dipilih sesuai dengan siswa sehingga setiap siswa merasa perlu
untuk mempelajarinya.4

Untuk mengimplementasikan SPBM, guru memilih bahan pelajaran yang


memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut dapat diambil
dari buku teks atau dari sumber-sumber lainnya, misalnya dari peristiwa yang terjadi di
lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga, atau dari peristiwa kemasyarakatan.

Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan:

4
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, [Link]., Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:
Prenada Media Group, 2006), hlm. 214-216
1. Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat
materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
2. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan ketrampilan berpikir rasional
siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang
mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan
pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secaa
objektif.
3. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta
membuat tantangan intelektual siswa.
4. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
5. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan
pernyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan penyataan).

C. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar.


SPBM sebenarnya didesain bukan untuk membantu guru menyampaikan
sejumlah informasi (materi pelajaran) kepada peserta didik. Untuk menyampaikan
informasi dapat digunakan model pengajaran langsung (direct instruction) dan
metode ceramah. Tujuan utama pengembangan SPBM adalah membantu peserta didik
untuk belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting, untuk
mengembangkan proses berpikir peserta didik, dan belajar secara dewasa melalui
pengalaman yang menjadikan peserta didik mandiri. Woolfolk (2008) mengemukakan
adanya dua tujuan pembelajaran berbasis masalah, yakni sebagai berikut.
1. Untuk membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan fleksibel
yang dapat diterapkan pada semua situasi, yang berlawanan dengan inner
knowledge. Inner knowledge adalah informasi yang diingat, tetapi jarang
diterapkan (Cognition and Technology Group at Vanderbilt [CTFV],
1996; Whitehead, 1992).
2. Untuk meningkatkan motivasi intrinsik, keterampiian pemecahan masalah,
kolaborasi, dan belajar seumur hidup yang self directed.

Dalam SPBM, peserta didik dihadapkan pada masalah yang menuntut mereka
berkolaborasi melakukan inquiry untuk menemukan solusi. Peserta didik dihadapkan
pada sebuah skenario permasalahan; mereka mengidentifikasi dan menganalisis
permasaiahan tersebut berdasarkan fakta-fakta, setelah itu mereka merumuskan
hipotesisnya. Pada saat mengusulkan hipotesis, peserta didik mengidentifikasi
informasi yang hiiang, apa yang perlu mereka ketahui untuk menguji solusi mereka
Hal ini memunculkan sebuah fase belajar dan penyelidikan yang self directed. Setelah
itu, peserta didik menerapkan pengetahuan baru mereka, mengevaluasi solusi
permasalahan mereka, mengulang siklusnya untuk melakukan penelitian kembali bila
dianggap perlu, dan akhirnya merefleksikan pengetahuan dan keterampilan yang teiah
mereka dapatkan (Hmelo-Silver, 2004).

Menurut Jacobsen., [Link] (2009), pembelajaran berbasis masalah memiliki tiga


tujuan yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Tujuan dimaksud adalah sebagai
berikut.

1. Mengembangkan Kemampuan Menyelidiki.


SPBM bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
menyelidiki secara sistematik suatu pertanyaan atau masalah. Dengan
berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas berbasis masalah yang terstruktur,
peserta didik belajar bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan
cara yang komprehensif dan sistematis.
2. Self Directed.
SPBM bertujuan mengembangan pembelajaran yanag self directed.
Dengan bertanggung jawab atas investigasi mereka sendiri, siswa belajar
untuk mengatur dan mengontrol pembelajaran mereka sendiri (Meltzer,
2007).
3. Pemerolehan Konten.
SPBM bertujuan pula untuk menguasai konten. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa informasi yang dipelajari menggunakan pembelajaran
berbasis masalah bertahan lebih lama dan tertransfer dengan Iebih baik
(Krishner, Sweller, & Clark, 2006).

Sedangkan menurut Arends (2007, 1997), terdapat tiga tujuan utama dari
pembelajaran berbasis masalah, yakni sebagai berikut.

1. Keterampilan berpikir dan pemecahan masalah (thinking and problem


solving skill).
Berpikir merupakan suatu proses yang melibatkan operasi mental
seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran. Berpikir dapat pula
diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan
mencapai simpulan berdasar pada inferensi, atau pertimbangan yang
seksama.
2. Pemodelan peran orang dewasa (adult role modeling).
Resnik (Arends, 1997) menggambarkan adanya gap antara
bembelajaran sekolah dengan kehidupan nyata, sebagai berikut.
a. Pembelajaran di sekolah berpusat pada kerja peserta didik secara
individual, sedangkan di luar sekolah kerja mental melibatkan kerja
sama dengan orang Iain.
b. Pembelajaran di sekolah berpusat pada proses berpikir tanpa
bantuan, sedangkan aktivitas mental di luar sekolah selalu
melibatkan alat-alat kognitif seperti komputer, kalkulator, dsb.
c. Pembelajaran di sekolah mengembangkan berpikir simbolis
berkaitan dengan situasi hipotesis, sedangkan aktivitas mental di
luar sekolah menghadapkan peserta didik secara langsung dengan
benda dan situasi konkret.
d. Pembelajaran di sekolah memusatkan pada keterampilan umum
(membaca, menulis, dan menghitung) dan pengetahuan umum,
sedangkan di luar sekolah peserta didik diperhadapkan dengan
berpikir situasi khusus.

Pandangan ini memberikan argumentasi kuat bagi SPBM. SPBM


dapat menjembatani gap yang terjadi tersebut. SPBM memberikan
perhatian pada aktivitas mental di luar sekolah, yakni sebagai berikut.

a. SPBM mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas.


b. SPBM memiliki elemen-elemen belajar magang. Hal ini
mendorong pengamatan dan dialog antar peserta didik, sehingga
secara bertahap peserta didik dapat memahami peran panting dari
aktivitas mental, dan mempelajari apa yang terjadi di luar sekolah.
c. SPBM melibatkan peserta didik dalam menyelidiki pilihan mereka
sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasi dan
menjelaskan fenomena dunia nyata, serta membangun
pemahamannya tentang fenomena tersebut.
3. Pebelajar yang otonom (self-regulated learners).
SPBM membantu peserta didik menjadi pebelajar yang independen
dan otonom. Dengan dipandu oleh guru, yang secara berulang-ulang
mendorong dan mengarahkan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan,
dan menyelesaikan masalah nyata, peserta didik belajar untuk
menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara mandiri dalam hidupnya di
kemudian hari.

Arends (2007) menggambarkan hasil belajar yang dapat


ditumbuhkembangkan melalui pembelajaran dengan menggunakan SPBM sebagai
berikut.5

Inquiry and Problem Solving Skill

Problem-Based
Instruction Adults Role Behaviors

Skill for Independent Learning

Gambar 1. Dampak Pembelajaran Model SPBM (PBL)

D. Tahapan-Tahapan SPBM.
Arends (2007, 1997) mengemukakan Iima fase utama dalam penggunaan
SPBM, yakni (1) orientasi peserta didik pada masalah, (2) mengorganisasikan peserta
didik untuk belajar, (3) memberi bantuan dalam penyelidikan secara mandiri atau
bersama kelompok, (4) mengembangkan dan menyediakan alat, dan (5) menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Aktivitas guru pada setiap fase tersebut dapat tabel berikut ini. Lihat pada

5
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 252-256
Fase Aktivitas Guru
1. Orientasi peserta - Menjelaskan tujuan pembelajaran.
didik pada masalah. - Mendeskripsikan logistis (alat dan bahan)
penting yang dibutuhkan.
- Menyajikan situasi masalah dan membimbing
peserta didik dalam mengidentifikasi masalah.
- Memotivasi peserta didik untuk terlibat pada
kegiatan pemecahan masalah yang dipilihnya.
2. Mengorganisasikan - Membagi situasi masalah yang lebih umum
peserta didik untuk menjadl subtopik-subtopik yang sesuai.
belajar. - Membantu peserta didik untuk menentukan
subtopik mana yang akan mereka selidiki.
- Mengorganisasikan peserta didik ke dalam
kelompok belajar kooperatif
3. Membimbing - Mendorong peserta didik untuk
penyelidikan mengumpulkan informasl yang sesuai dan
secara mandiri dan melaksanakan eksperimen dengan
investigasi menggunakan metode yang tepat.
kelompok - Membimbing peserta didik dalam membangun
hipotesis, penjelasan, dan pemecahan masalah.
- Memfasilitasi terjadinya penukaran ide secara
bebas.
4. Mengembangkan - Membantu peserta didik dalam merencanakan
dan menyajikan dan mempersiapkan karya-karya yang sesuai,
artefak (hasil seperti Iaporan, video, model, dan membantu
karya). peserta didik untuk berbagl tugas dengan
temannya.
- Mengorganisasikan pameran untuk
memamerkan dan mempublikasikan hasil
karya peserta didik tersebut. Pameran dapat
berupa pameran tradisional, dimana setiap
peserta didik memamerkan hasll karyanya
untuk diamati atau dinilai oleh orang Iain, atau
penyajian verbal/visual,dimana terjadi
pertukaran ide dan pemberlan umpan balik.
5. Menganalisis dan - Membantu peserta didik untuk merefleksikan
mengevaluasi hasil investigasi mereka dan proses-proses yang
proses pemecahan digunakan.
masalah.

Sedangkan Eggen dan Kauchack (2012) mendeskripsikan tahapan


pembelajaran berbasis masalah dalam empat fase seperti pada tabel berikut.

Fase Deskripsi
Fase 1. Me-review dan menyajikan - Menarik perhatian peserta didik
masalah. dan menarlk mereka ke dalam
Guru me-review pengetahuan yang pembelajaran.
dibutuhkan untuk memecahkan masalah - Secara informal menilai
dan memberi peserta didik masalah pengetahuan awal.
spesifik dan konkret untuk dipecahkan. - Memberikan fokus konkret untuk
pembelajaran .
Fase 2. Menyusun strategi - Memastikan sebisa mungkin
Peserta didik menyusun strategi untuk bahwa peserta didik
memecahkan masalah dan guru menggunakan pendekatan yang
memberikan mereka umpan baIik berguna untuk pemecahan
mengenal strategi. masalah .

Fase 3. Menerapkan strategi - Memberikan peserta didik


Peserta didik menerapkan strategi- pengalaman untuk memecahkan
strategi mereka saat guru secara cermat masalah.
memonitor upaya mereka dan
memberikan umpan balik .
Fase 4. Membahas dan mengevaluasi - Memberikan umpan balik
hasil. terhadap upaya peserta didik. 6

6
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 256-258
Guru membimbing diskusi tentang
upaya peserta didlk dan hasil yang
mereka peroleh

John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan


enam langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah
(problem solving), yaitu:
1. Rumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan
dipecahkan.
2. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis
dari berbagai sudut pandang.
3. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai
kemunculan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan
informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
5. Ujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan
kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang
diajukan.
6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah yaitu langkah siswa
menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil
pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

David Johnson dan Johnson mengemukakan ada 5 langkah SPBM melalui


kegiatan kelompok.
1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu
yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang
akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa minta pendapat dan penjelasan
siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah,
serta mengalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun
faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah.
3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah
dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong
untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang
kemungkinan setian tindakan yang dapat dilakukan.
4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan
tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5. Melakukan evalusi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi
proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan;
sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan
strategi yang diterapkan.

Sedangkan menurut Nana Sudjana langkah-langkah dalam SPBM yaitu:

1. Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari
peserta didik sesuai dengan taraf kemampuannya.
2. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti,
bertanya, dan lain-lain.
3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dengan dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada
langkah kedua di atas.
4. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini peserta
didik harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin
bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban
sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untkl menguji kebenaran jawaban
itu tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti demonstrasi, tugas,
diskusi, dan lain-lain.
5. Menarik kesimpulan. Artinya peserta didik harus sampai pada kesimpulan
terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.7

Dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan oleh para ahli, maka secara
umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah:

1. Menyadari Masalah.

7
Dr. Mulyono, M.A., Strategi Pembelajaran (Malang: UIN Maliki Press, 2012), hlm. 109
Implementasi SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah
yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada
kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau
lingkungan sosial. kemampuan yang harus dicapai oleh siswa Pada tahapan
ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang
terjadi dari berbagai fenomena yang ada.
2. Merumuskan Masalah.
Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan
dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan
dengan data-data yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya.
Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa
dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan
pengetahuannya untuk mengkaji, memerinci, dan menganalisis masalah
sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan
dapat dipecahkan.
3. Merumuskan Hipotesis
Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir
deduktif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah
penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan yang diharapkan dari
siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari
masalah yang ingin diselesaikan. Melalui analisis sebab-akibat ini pada
akhirnya siswa diharapkan dapat menentukan berbagai kemungkinan
penyelesaian masalah. Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan
selanjutnya adalah mengumpulkan data yang sesuai dengan hipotesis yang
diajukan.
4. Mengumpulkan Data.
Proses berpikir ilmiah bukan proses berimajinasi akan tetapi proses yang
didasarkan pada pengalaman. Oleh karena itu, dalam tahapan ini siswa
didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang
diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan
data, kemudian memetakan dan menyajikannya dalam berbagai tampilan
sehingga mudah dipahami.
5. Menguji Hipotesis.
Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah
kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat
hubungannya dengan masalah yang dikaji. Disamping itu, diharapkan siswa
dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6. Menentukan Pilihan Penyelesaian.
Menentukan pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM.
Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih
alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat
memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan
alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan
terjadi pada setiap pilihan.8

E. Perencanaan Pembelajaran.
Penggunaan model SPBM dalam pembelajaran membutuhkan persiapan yang
baik. Menurut Arends (2007, 1997), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tugas
perencanaan (planning task) pembelajaran menggunakan SPBM adalah sebagai
berikut.
1. Menetapkan Tujuan (Decide on Objectives).
Penetapan tujuan khusus pada SPBM merupakan salah satu hal yang
perlu dipertimbangkan. Sebelumnya dijelaskan bagaimana SPBM
dirancang untuk membantu pencapaian tujuan dalam meningkatkan
keterampilan Intelektual dan penyelidikan pemahaman dan menolong
peserta didik menjadi mandiri. Beberapa pelajaran yang disampaikan
menggunakan SPBM dapat ditujukan pada pencapaian seluruh tujuan serta
simultan.
2. Merancang Situasi Permasalahan secara Tepat (Design Appropriate
Problem Situations).
SPBM didasarkan pada pernyataan (premise) berupa teka-teki dan
permasalahan yang belum jelas yang dapat meningkatkan keingintahuan
dan selanjutnya digunakan dalam inkuiri. Perumusan masalah yang tepat
dengan menyesuaikan fasilitas yang tersedia merupakan salah satu tugas
penting bagi guru. Beberapa pengembang SPBM yakin bahwa peserta

8
Ibid., Strategi Pembelajaran…., hlm. 217-220
didik akan memiliki keterbukaan dalam mendefinisikan masalah yang
akan diselidiki, sebab proses ini akan membantu perkembangan
penguasaan masalah (Krajcik, 1994). Situasi permasalahan yang baik
sedikitnya memilikt lima kriteria utama, yakni sebagai berikut.
a. Harus autentik (authentic), artinya bahwa masalah hams sesuai
dengan pengalaman dunia nyata peserta didik daripada dengan
prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu.
b. Masalah seharusnya bersifat misteri (mystery) atau tekateki
(puzzlement). Masalah tersebut sebaiknya memberikan tantangan
dan tidak hanya mempunyai jawaban sederhana, serta memerlukan
(mempunyai) solusi alternatif yang masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Dalam hal ini, tentu saja memerluan
dialog dan perdebatan.
c. Masalah harus bermakna bagi peserta didik dan sesuai dengan
tingkat perkembangan intelektual mereka. Masalah yang disajikan
guru harus cukup Iuas sehingga memungkinkan mencapai tujuan
pembelajaran untuk membuat pelajaran sesuai (feasible) dengan
waktu, ruang, dan sumber belajar yang tersedia. Masalah yang
disajikan harus bermanfaat atau menguntungkan bagi usaha
kelompok dan tidak mengganggu usaha kelompok.
3. Mengorganisir sumber belajar serta merencanakan alat dan bahan
(organize resources and plan logistics).
SPBM mendorong peserta didik bekerja dengan menggunakan
berbagai bahan dan alat, sebagian dapat dilakukan di ruang kelas,
perpustakaan, laboratorium komputer, dan juga dapat dilakukan di luar
sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, guru bertanggung jawab
mengorganisasikan sumber-sumber belajar, merencanakan, dan
mempersiapkan (menyediakan) alat dan bahan. Ini akan memungkinkan
peserta didik untuk bekerja dan belajar secara optimal dalam memecahkan
masalah yang dihadapi.9

Dalam SPBM, guru atau pengajar mempunyai peranan tertentu, yakni


menyajikan suatu kasus dan sejumlah data kepada para siswa atau para pelajar.

9
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 258-260
Selanjutnya siswa/peserta sendiri yang mencari dan menemukan cara
pemecahan/penyelesaian dan data yang diperlukan. Guru jika perlu mempertanyakan
pendekatan yang akan digunakan oleh siswa/peserta, tetapi tidak perlu memberikan
saran atau membantu secara langsung pemecahan kasus tersebut. Dalam hal itu, guru
lebih banyak bertindak sebagai bank data, sebagai wasit, dan kritikus, bukan sebagai
pengajar. Karena itu metode SPBM sering disebut dengan diskoveri sesungguhnya
(true discovery).10

Contoh Penggunaan SPBM dalam Pembelajaran:

Misalkan, akan dibahas materi "air” pada kelas IV SD. Dengan menggunakan
model SPBM, pembelajaran dapat diarahkan sehingga peserta didik dapat
memperoleh informasi mengenai penggunaan air di sekolah, dan dapat
memperkirakan penggunaan air di sekolah dalam satu hari, satu minggu, atau satu
bulan. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan SPBM dimaksud adalah
sebagai berikut.

Fase I

o Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Bersama siswa merumuskan


pertanyaan yang akan dijawab, melalui penyelidikan, misalnya ”berapa
banyak air yang digunakan di sekolah setiap hari?"

Fase II

o Guru mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil.


o Guru membantu peserta didik dalam membuat tabel pengamatan, dan
membantu mengidentifikasi aspek-aspek yang pedu diamati. ‘

Fase III

o Guru membimbing peserta didik mengamati dan mencatat penggunaan air di


sekolah.
o Guru membimbing peserta didik mengukur dan mencatat penggunaan air
untuk masing-masing kegiatan.

Fase IV

10
Ibid., Perencanaan Pengajaran….., hlm.198-199
o Guru meminta setiap kelompok peserta didik bekerja sama dalam menuliskan
laporan hasil penyelidikannya.
o Satu kelompok atau beberapa kelompok dimintakan mempresentasikan hasil
kerja kelompoknya.
o Guru mengarahkan diskusi kelas.

Fase V

o Guru membantu peserta didik untuk merefleksikan apakah hasil kerja setiap
kelompok dapat menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan di awal kegiatan
penyelidikan.
o Guru membantu peserta didik untuk merefleksikan kembali proses
pengumpulan data yang dilakukan, apakah sudah tepat? Dengan cara meminta
peserta didik menjelaskan secara rinci tahap yang dilakukan dalam
pengamatan, pengukuran, pencatatan, dan pengolahan data. 11

F. Keunggulan dan Kelemahan SPBM.


1. Keunggulan.
Sebagai suatu strategi pembelajaran SPBM, memiliki beberapa keunggulan,
diantaranya:
a. Pemecahan masalah (problem solving) lagu merupakan teknik yang cukup
bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa
serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi
siswa.
c. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana
mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam
kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan baru nya dan bertanggung jawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan.

11
Ibid., Inovasi Pembelajaran….., hlm. 260-261
f. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada
siswa bahwa setiap mata pelajaran Matematika, IPA, sejarah dan lain
sebagainya pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus
dimengerti oleh siswa bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-
buku saja.
g. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan
disukai siswa.
h. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk
menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada
siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia
nyata.
j. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa
untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan
formal telah berakhir.
2. Kelemahan.
Di samping keunggulan SPBM juga memiliki kelemahan, diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan
merasa enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan
cukup waktu untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin
pelajari.12

12
Ibid., Strategi Pembelajaran…., hlm. 220-221

Anda mungkin juga menyukai