BAB I
PENDAHULUAN (AP6.2)
A. Latar Belakang
Pemanfaatan radiasi pengion dilakukan pada berbagai bidang yang bertujuan untuk
kesejahteran manusia, salah satunya dibidang kesehatan. Pemanfaatan radiasi pengion
(sinar-x atau sinar gamma) terutama dibidang diagnostik dan radioterapi. Pemanfaatan
radiasi pengion untuk bidang diagnostik dilakukan untuk pembuatan suatu citra (image)
medik yang menggambarkan anatomi dan fungsi tubuh. Citra medik i digunakan untuk
menegakkan diagnose suatu kelainan tubuh. Radiasi pengion selain digunakan untuk
penegakkan diagnosa, juga dapat berfungsi untuk suatu pengobatan atau terapi sel-sel
keganasan (kanker) dalam tubuh. Interaksi radiasi dengan materi menghasilkan proses
yang dapat membunuh sel-sel kanker.
Radiasi pengion selain mempunyai efek yang baik untuk dunia kedokteran, radiasi
pengion juga mempunyai efek yang kurang baik. Efek-efek radiasi yang kurang baik
atau berbahaya secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu efek
stokastik dan non-stokastik. Sebagian besar efek biologis akibat paparan radiasi berada
dalam kategori efek non-stokastik. Efek ini mempunyai ciri nilai ambang batas suatu
dosis minimum harus harus dilampaui sebelum nampak efek-efek khusus. Efek ini juga
bergantung pada besarnya nilai dosis paparan dan efek radiasi akan berbanding lurus
dengan terimaan dosis radiasi. Efek radiasi non-stokastik dikenal juga sebagai efek
ambang (threshold effect).
Efek stokastik dapat terjadi jika sel yang terpapar radiasi pengion mengalami
mutasi. Efek stokastik mempunyai ciri-ciri antara lain tidak mengenal dosis
ambang, timbul setelah masa tenang yang lama, keparahannya tidak bergantung
pada dosis radiasi dan tidak ada penyembuhan spontan. Contoh efek stokastik akibat
paparan radiasi adalah kanker, leukemia, dan efek pewarisan (efek genetik)
Upaya pengurangan bahaya dan akibat negative radisi pengion maka harus dilakukan
suatu usaha untuk melindungi, mencegah dan mengurangi kemungkinan munculnya
efak bahaya radiasi. Upaya atau program ini dikenal dikenal dengan istilah program
proteksi dan keselamatan radiasi. Setiap individu yang bekerja dengan sumber radiasi
pengion di medan radiasi termasuk dalam area instalasi radiologi di rumah sakit harus
selalu memperhatikan prosedur standar proteksi radiasi serta sadar bahwa aktivitas
yang sedang dilakukannya dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi dirinya
maupun lingkungannya bila terjadi paparan yang berlebihan akibat kesalahan atau
kelalain.
B. Tujuan Penyusunan Program Proteksi Dan Keselamatan Radiasi
Penyusunan program proteksi dan keselamatan radiasi mempunyai tujuan sebagai
berikut :
1. Sebagai acuan bagi Instalasi Radiologi RSUD Pandan untuk melaksanakan program
proteksi dan keselamatan radiasi
2. Sebagai tolak ukur untuk evaluasi Instalasi Radiologi RSUD Pandan terhadap
pelaksanaan program proteksi dan keselamatan radiasi
3. Sebagai pedoman dalam upaya pengembangan lebih lanjut terhdap pelaksanaan
program proteksi dan keselamatan radiasi di Instalasi Radiologi RSUD Pandan
BAB II
PENYELENGGARA PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI
A. STRUKTUR ORGANISASI PENYELENGGARA KESELAMATAN RADIASI
Struktur organisasi proteksi dan keselamatan radiasi di Instalasi radiologi RSUD
Pandan disusun berdasarkan Peraturan pemerintah No.63 Tahun 2000. Dalam
peraturan ini salah satunya berisi : Penguasa Instalasi Nuklir harus menerapkan
system menejemen keselamatan radiasi yang meliputi penyusunan organisasi
proteksi radiasi, pemantauan dosis radiasi dan radioaktivitas, penyedian alat proteksi
radiasi, pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi tiap tahun, penyimpanan dokumen
radiasi, jaminan kualitas dan peningkatan sumberdaya manusia petugas dan pekerja
radiasi melalui peningkatan jenjang pendidikan dan pelatihan.
Berikut struktur organisasi proteksi radiasi instaasi radiologi RSUD Pandan
Direktur RS. Akademis
[Link] Indra Susilo
Kepala Instalasi Radiologi
Dr. Ikhwanul Hakim, Sp Rad
Petugas Proteksi Radiasi (PPR)
Iesti Siburian, [Link]
Pekerja Radiasi Pekerja Radiasi Pekerja Radiasi
Gambar 1. Struktur Organisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi
RSUD Pandan
B. Tugas dan Tanggung Jawab Petugas Radiasi
1. Penguasa Instalasi Nuklir
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya dalam keselamatan radiasi.
Pengusaha Instalasi harus melaksanakan tindakan dibawah ini :
a. Membentuk organisasi proteksi radiasi dan menunjuk petugas proteksi
radiasi (PPR) dan bila perlu petugas proteksi radiasi pengganti.
b. Hanya mengizinkan seseorang bekerja dengan sumber radiasi setelah
memperhatikan segi kesehatan, pendidikan dan pengalaman kerja dengan
sumber radiasi
c. Memberitahukan kepada semua semua pekerja radiasi tentang adanya
potensi bahaya radiasi yang terkandung dalam tugas mereka dan
memberikan latihan proteksi radiasi
d. Menyediakan aturan keselamatan radiasi yang berlaku dalam lingkungannya
sendiri, termasuk aturan tentang penanggulangan keadaan darurat.
e. Menyediakan prosedur kerja yang diperlukan
f. Menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan bagi magang dan pekerja radiasi
dan pelayanan kesehatan bagi pekerja radiasi.
g. Menyediakan fasilitas dan peralatan yang diperlukan untuk bekerja dengan
sumber radiasi.
h. Memberitahukan kepada Bapeten atai instansi lain terkait (misalnya
kepolisian dan dinas kebakaran) bila terjadi bahaya radiasi atau keadaan
darurat lainnya.
2. Petugas Proteksi Radiasi (PPR)
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya dalam keselamatan radiasi. Petugas
Proteksi Radiasi (PP) mempunyai tugas dan tanggung jawab seperti tersebut
dibawah ini :
a. Memberi instruksi teknis baik lesan maupun tertulis kepada pekerja radiasi
tentang keselamatan kerja radiasi yang baik, instruksi ini harus mudah
dimengerti dan dapat dilaksanakan.
b. Mengambil tindakan untuk menjamin agar tindakan penyinaran serendah
mungkin dan tidak akan pernah mencapai batas tertinggi yang berlaku serta
menjamin agar pelaksanaan pengelolaan limbah radioaktif sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
c. Mencegah dilakukannya perubahan terhadap segala sesuatu sehingga dapat
menimbulkan kecelakaan radiasi.
d. Mencegah zat radioaktif jatuh ketangan orang yang tidak berhak.
e. Mencegah kehadiran orang yang tidak berkepentingan ke dalam daerah
pengendalian
f. Menyelenggarakan dokumentasi yang berhubungan dengan proteksi radiasi.
g. Menyarankan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja radiasi apabila
diperlukan dan melaksanakan pemonitoran radiasi serta tindakan radiasi.
h. Memberikan penjelasan dan menyediakan perlengkapan proteksi radiasi
yang memadai kepada para pengunjung atau keluarga pasien apabila
diperlukan.
3. Pekerja Radiasi
Seorang pekerja radiasi ikut bertanggung-jawab terhadap keselamatan radiasi di
daerah kerjanya, dengan demikian ia mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a. Mengetahui, memahami, dan melaksanakan semua ketentuan keselamatan
kerja radiasi.
b. Memanfaatkan sebaik-baiknya peralatan keselamatan radiasi yang tersedia,
bertindak hati-hati serta bekerja secara aman untuk melindungi baik dirinya
sendiri maupun pekerja lain.
c. Melaporkan setiap kejadian kecelakaan bagaimanapun kecilnya kepada
Petugas Proteksi Radiasi (PPR)
d. Melaporkan setiap gangguan kesehatan yang dirasakan, yang diduga akibat
penyinaran lebih atau masuknya zat radioaktif ke dalam tubuh.
BAB III
PERSONIL PEKERJA RADIASI DI INSTALASI RADIOLOGI
Instalasi Radiologi merupakan instalasi di rumah sakit yang dalam memberikan
pelayanan kesehatan menggunakan pemanfaatan radiasi. Pemanfaatan radiasi di
instalasi radiologi meliputi pelayanan radiodiagnostik adalah pelayanan untuk
melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi pengion, meliputi antara lain
pelayanan X-ray konvensional, Computed Tomography Scan/CT Scan dan
mammografi serta pelayanan radiologi interventional yaitu pelayanan yang
memberikan informasi diagnosis dan terapi intervensi menggunakan peralatan X-
ray seperti CT atau pesawat Angiografi (DSA).
Tenaga yang melakukan tindakan pelayanan radiologi adalah tenaga dengan
komptensi sesuai aturan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomer 1014/MENKES/SK/2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik
Di Sarana Pelayanan Kesehatan adalah sebagai berikut :
A. Personil Pekerja Radiasi
1. Tenaga Petugas Proteksi Radiasi (PPR)
Tenaga Petugas Proteksi Radiasi (PPR) pendidikan minimal diutamakan yang
berbasis Fisika Medik dengan telah menjalani pelatihan PPR yang
diselenggarakan oleh BATAN atau institusi yang telah terakriditasi untuk
menyelenggarakan pelatihan PPR dan telah dinyatakan lulus dengan
mempunyai surat izin bekerja (SIB) yang dikeluarkan oleh BAPETEN. Berikut
tugas dan fungsi PPR
a. Membuat program Proteksi dan Keselamatan Radiasi.
b. Memantau aspek operasional program Proteksi dan Keselamatan
Radiasi.
c. Memastikan ketersediaan dan kelayakan perlengkapan Proteksi
Radiasi, dan memantau pemakaiannya.
d. Meninjau secara sistematik dan periodik, program pemantauan
disemua tempat di mana Pesawat Sinar-X digunakan.
e. Memberikan konsultasi yang terkait dengan Proteksi dan
Keselamatan Radiasi.
f. Berpartisipasi dalam mendesain fasilitas Radiologi.
g. Memelihara Rekaman.
h. Mengidentifikasi kebutuhan dan mengorganisasi kegiatan pelatihan.
i. Melaksanakan latihan penanggulangan dan pencarian keterangan
dalam hal kedaruratan.
j. Melaporkan kepada Pemegang Izin setiap kejadian kegagalan operasi
yang berpotensi kecelakaan Radiasi.
k. Menyiapkan laporan tertulis mengenai pelaksanaan program
Proteksidan Keselamatan Radiasi, dan verifikasi keselamatan yang
diketahuoleh Pemegang Izin untuk dilaporkan kepada Kepala
BAPETEN.
l. Melakukan inventarisasi zat radioaktif.
2. Dokter Spesialis Radiologi
Dokter Spesialis Radiologi merupakan tenaga medis dengan pendidikan
minimal adalah spesialis ahli radiologi. Dokter Spesialis Radiologi
mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :
a. Menyusun dan mengevaluasi secara berkala SOP tindak medik
radiodiagnostik, imejing diagnostik dan radiologi intervensional
serta melakukan revisi bila perlu.
b. .Melaksanakan dan mengevaluasi tindak radiodiagnostik
imejindiagnostik dan radiologi intervensional sesuai yang telah
ditetapkan dalam SOP.
c. Melaksanakan pemeriksaan dengan kontras dan fluroskopi
bersamadengan radiografer. Khusus pemeriksaan yang
memerlukanpenyuntikan intravena, dikerjakan oleh dokter spesialis
radiologi ataudokter lain/tenaga kesehatan yang mendapat
pendelegasian.
d. Menjelaskan dan menandatangani informed consent / izin
tindakanmedik kepada pasien atau keluarga pasien.
e. Melakukan pembacaan terhadap hasil pemeriksaan
radiodiagnostik,imejing diagnostik dan tindakan radiologi
intervensional.
f. Melaksanakan teleradiologi dan konsultasi radiodiagnostik, imejing
diagnostik dan radiologi intervensional sesuai kebutuhan.
g. Memberikan layanan konsultasi terhadap pemeriksaan yang akan
dilaksanakan.
h. Menjamin pelaksanaan seluruh aspek proteksi radiasi terhadap
pasien.
i. Menjamin bahwa paparan pasien serendah mungkin
untukmendapatkan citra radiografi yang seoptimal mungkin
denganmempertimbangkan tingkat panduan paparan medik
j. Memberikan rujukan dan justifikasi pelaksanaan diagnosis
atauintervensional dengan mempertimbangkan informasi
pemeriksaan sebelumnya.
k. Mengevaluasi kecelakaan radiasi dari sudut pandang klinis.
l. Meningkatkan kemampuan diri sesuai perkembangan IPTEK
Radiologi.
3. Radiografer
Radiografer merupakan tenaga medis dengan basic pendidikan minimal D-III
Radiologi (ATRO) atau pendidikan lanjutan radiologi D-IV dengan penambahan
pelatihan tertentu seperti intervensi, CT maupun MRI. Berikut tugas dan
tanggung jawab radiografer
a. Mempersiapkan pasien, obat-obatan dan peralatan untuk
pemeriksaan dan pembuatan foto radiologi.
b. Memposisikan pasien sesuai dengan teknik pemeriksaan.
c. Mengoperasionalkan peralatan radiologi sesuai SOP. Khusus
untukpemeriksaan dengan kontras dan fluoroskopi pemeriksaan
dikerjakan bersama dokter spesialis radiologi.
d. Melakukan kegiatan processing film ( kamar gelap dan work
station).
e. Melakukan penjaminan dan kendali mutu.
f. Memberikan proteksi terhadap pasien, dirinya sendiri dan
masyarakat disekitar ruang pesawat sinar-X.
g. Menerapkan teknik dan prosedur yang tepat untuk meminimalkan
paparan yang diterima pasien sesuai kebutuhan.
h. Merawat dan memelihara alat pemeriksaan radiologi secara rutin.
4. Fisikawan Medik
Fisikawan Medik merupakan tenaga medik berbasis D-III Radiologi yang
melanjutkan program pendidikan S-1 Fisika Medik atau pendidikan S-2 Fisika
Medik. Berikut adalah tugas dan tanggung jawab Fisika Medik :
a. Pengukuran dan analisa data radiasi dan menyusun tabel data
radiasiuntuk penggunaan klinik.
b. Pelaksanaan aspek teknis dan perencanaan radiasi.
c. Pengadaan prosedur QA dalam radiologi diagnostik, meliput
pelaksanaan diagnosa dan terapi, keamanan radiasi dan kendali mutu.
d. Melakukan perhitungan dosis, terutama untuk menentukan dosis janin
pada wanita hamil.
e. Jaminan bahwa spesifikasi peralatan radiologi diagnostik sesuai
dengan keselamatan radiasi.
f. ”Acceptance test” dari unit yang baru.
g. Supervisi perawatan berkala peralatan radiologi diagnostik.
h. Berpartisipasi dalam meninjau ulang secara terus menerus
keberadaan sumber daya manusia, peralatan, prosedur dan
perlengkapan proteksiradiasi.
i. Berpartisipasi dalam investigasi dan evaluasi kecelakaan radiasi.
j. Meningkatkan kemampuan sesuai perkembangan IPTEK.
5. Tenaga Teknik Elektromedis
Basis pendidikan minimal D-III atau D-IV Elekromedis dengan tugas dan fungsi
sebagai berikut
a. Melakukan perawatan peralatan Radiologi diagnostik, bekerja sama
dengan Fisikawan Medis secara rutin.
b. Melakukan perbaikan ringan.
c. Turut serta dengan supplier pada tiap pemasangan alat baru atau
perbaikan besar.
6. Tenaga Perawat
Tenaga perawat basis pendidikan D-III Keperawatan dengan telah
melaksanakan pelatihan ATCLS. Berikut tugas perawat di instalasi radiologi :
a. Mempersiapkan pasien dan peralatan yang dibutuhkan untuk
pemeriksaan radiologi.
b. Membantu dokter dalam pemasangan alat-alat pemeriksaan dengan
bahan kontras.
c. Membersihkan dan melakukan sterilisasi alat.
d. Bertanggung jawab atas keutuhan dan kelengkapan peralatan
7. Tenaga Administrasi
Tenaga administrasi radiologi basic pendidikan minimal SMA atau yang
sederajat dengan tugas dan fungsi adalah Melakukan pencatatan dan pelaporan
semua kegiatan pemeriksaan yang dilakukan di institusi pelayanan.
B. Tata Cara Pemantauan Dosis Radiasi Personil dan Pemantauan Kesehatan
Pekerja
1. Pemantauan dosis radiasi personil
Pemantuan dosis radiasi personil menggunakan jenis monitoring personal
dosimetri film badge yang digunakan untuk memonitoring terimaan dosis radiasi
yang diterima oleh pekerja /personil radiasi bersifat komulatif pada kurun waktu
tertentu (3 bulan). TLD dikeluarkan oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan
(BPFK) Kementerian Kesehatan atau Pusat Teknologi Keselamatan dan
Metrologi Radiasi (PTKMR) Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Hasil
evaluasi film badge tiap personil dicatat dalam kartu dosis tiap personal.
Perkembangan teknologi pemantuan dosis radiasi personal dimungkin
menggunkan teknologi selain film badge yaitu teknologi TLD (termoluminisence
dose) yang lebih sensitif untuk pengukuran dosis radiasi perorangan. Untuk
pekerja yang berada diruang tindakan radiologi intervensi seperti ruang
pemeriksaan katheterisasi jantung dan ruang radiologi flouroskopy diwajibkan
menggunakan monitoring dosis pembacaan langsung yaitu pendose minimal 2
buah harus disediakan oleh Penguasa Instalasi Radiasi. Untuk pekerja yang
menerima dosis radiasi yang melebihi ambang batas yang diizinkan harus
diistirahatkan atau untuk sementara melakukan dinas kerja diluar medan radiasi
(administrasi)
2. Pemantuan Kesehatan Pekerja
Pemantuan kesehatan pekerja radiasi sesuai aturan yang dikeluarkan oleh
Bapeten adalah dalam bentuk chekup kesehatan minimal dilakukan 1 kali dalam
satu tahun.
BAB IV
FASILITAS SUMBER RADIASI DAN PERLENGKAPAN PROTEKSI RADIASI
INSTALASI RADIODIAGNOSTIK RSUD PANDAN
A. Fasilitas Sumber Radiasi RSUD PANDAN
Fasilitas medik di RSUD PANDAN yang menggunakan sumber radiasi pengion (x-ray)
digunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam rangka penegakkan diagnosis suatu
penyakit. Fasilitas dengan sumber radiasi x-ray meliputi penggunaan pesawat x-ray
meliputi :
1. Mobile X-ray
Pesawat sinar-X radiografi mobile dalam ruangan adalah pesawat sinar-X yang
dilengkapi dengan teknologi baterai charger sebagai power suplay dengan catu
daya tersambung langsung. Pesawat dilengkapi dengan roda memungkinkan
pesawat dapat pindah dari satu tempat ke tempat lain. Peruntukan pesawat ini
biasanya untuk pembuatan pemeriksaan x-ray rutin foto thorax diruang ICU atau
perawatan NICU.
2. Pesawat X-ray Flouroskophy
Pesawat x-ray fluoroskophy adalah pesawat jenis x-ray yang dilengkapi tabir
flouroskophy dengan penguatan II (image intensifeir) fluoroskophy serta dilengkapi
video yang dapat membuat pencitraan secara langsung dan bersifat dynamic
image. Penggunaan pesawat jenis ini untuk pemeriksaan dengan menggunakan
bahan kontras seperti pemeriksaan system pencernaan : esofagografi, maag-
deunedum (MD), colon inloop dan pemeriksaan lainnya. Selain digunakan
pembuatan radiografi dengan teknik flouroskophy pesawat ini sekaligus digunakan
juga untuk pembuatan pemeriksaan x-ray radiografi.
3. Pesawat Mammografi
Pesawat radiografi untuk pemeriksaan khusus payudara secara umum dikenal
dengan istilah X-ray Mammografi. Pesawat ini dirancang khusus untuk dapat
menampilkan struktur anatomis yang terdiri dari jaringan fibroglandula dan glandula
adiposa (fat) dari payudara. Dua struktur jaringan ini menghasilkan kontras subjek
yang rendah. Untuk menampilkanya diperlukan pesawat x-ray dengan desain
menggunakan energi radiasi yang rendah berkisar 20 keV sampai 35 keV. Filter
dirancang terbuat dari bahan molybdenum (Mo) atau rhodium (Ro) dengan ukuran
focal spot berkisar 0,1-0,3 mm.
4. Pesawat Scanning
Computed Tomography (CT) adalah ilmu /pengetahuan untuk membuat citra
(image) cross-sectional dua dimensi berasal dari tiga dimensi struktur tubuh
manusia (anatomi). Proses pencitraan computed tomography (CT) untuk
menghasilkan citra cross-sectional anatomi tubuh menggunakan teknik perhitungan
matematis yang disebut rekonstruksi. Pemahaman untuk mempelajari proses
pencitraan teknik computed tomography (CT) adalah proses matematis. Dasar
pengetahuan sebuah citra dihasil pada teknik computed tomography (CT) adalah
hasil rekonstruksi suatu bagian objek anatomi yang berantakan (breaking apart)
yang berasal dari struktur tiga dimensi menjadi citra dua dimensi yang ditampilkan
pada layar TV monitor (CRT). Tujuan utama pencitraan computed tomography (CT)
adalah memproduksi citra struktur internal tubuh sebagai citra cross-sectional dua
dimensi. Tujuan akhir dari proses pencitraan dengan menggunaakan pesawat
computed tomography (CT) adalah memperbaiki kelemahan yang ditemuai pada
pencitraan radiografi x-ray konventional yaitu menghasilkan citra anatomi tubuh
dengan potongan cross-sectional maka superpossisi objek dapat dihindari serta
mampu memvisualisasikan objek dengan perbedaan kontras subjek yang rendah.
Computed Tomography diperkenalkan pada tahun 1992 dengan teknik dua irisan
dalam satu scan (dual slice), kemudian berkembang menjadi teknik empat irisan
dalam satu scan (quad section technology). Kelebihan technologi MSCT selain
mampu melakukan irisan lebih dari satu potongan/irisan dalam satu kali scan adalah
kecepatan rotasi gantry tiap detik lebih cepat daripada teknologi CT scan
conventional single irisan helical atau spiral. Kecepatan MSCT empat irisan bila
dibandingkan teknologi CT scan conventional single irisan helical atau spiral adalah
satu hingga dua detik tiap putaran gantry. Sedangkan bila dibandingkan dengan
teknologi MSCT sekarang yang sudah mencapai 256 sampai 320 irisan tiap kali
scan kecepatannya lebih cepat delapan kali tiap rotasi gantrynya. Efek yang dapat
diambil dari segi kecepatan scanning ini pada pencitraan CT adalah perbaikan
resolusi temporal, peningkatan resolosi spatial pada sumbu z, peningkatan opasitas
kontras media didalam jaringan pembuluh darah, penurunan noise, effisiensi x-ray
tube yang digunakan dan jangkuan area scan yang lebih luas (peningkatan
coverage). Kesemua faktor kelebihan tersebut secara substansial dapat
meningkatkan akurasi nilai diagnostic dalam setiap pemeriksaan. Teknik MSCT
secara aplikasi klinis lebih cepat dan superior memperlihatkan citra multidimensi
(MPR teknik) sehingga mampu mengevaluasi setiap klinis pemeriksaan. Selain itu
sangat baik untuk aplikasi pemeriksaan jaringan lunak (musculoskeletal
applications), CT myelografi, long coverge dan multiphase , CT Angiography (CTA),
untuk pemeriksaan penentuan plug pada arteri koroner (cardiac scorring), evaluasi
otak dengan teknik CT perfusi dan teknik virtual endoscophy.
B. Perlengkapan Proteksi Radiasi
1. Apron
Apron adalah baju proteksi tubuh yang digunakan untuk pemeriksaan radiografi
atau floruskopy dengan tegangan tabung puncak sinar-x hingga 150 kVp harus
menyediakan sekurang-kurangnya setara 0,5 mm lempeng Pb. Tebal kesetaran
timah hitam harus diberi tanda secara permanen dan jelas pada apron tersebut.
Apron dapat berbentuk khusus untuk perlindungan tyroid saja, sarung tangan dan
perlindungan untuk gonad saja.
2. Monitoring Radiasi
Dosimeter ini sangat menyerupai dosimeter film badge, hanya detektor yang
digunakan ini adalah kristal anorganik thermoluminisensi, misalnya bahan
LiF. Proses yang terjadi pada bahan ini bila dikenai radiasi adalah proses
termoluminisensi. Senyawa lain yang sering digunakan untuk TLD adalah
CaSO4.
Dosimeter ini digunakan selama jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan,
baru kemudian diproses untuk mengetahui jumlah dosis radiasi yang telah
diterimanya. Pemrosesan dilakukan dengan memanaskan kristal TLD sampai
temperatur tertentu, kemudian mendeteksi percikan-percikan cahaya yang
dipancarkannya. Alat yang digunakan untuk memproses dosimeter ini adalah
TLD reader.
Keunggulan TLD dibandingkan dengan film badge adalah terletak pada
ketelitiannya. Selain itu, ukuran kristal TLD relatif lebih kecil dan setelah
diproses kristal TLD tersebut dapat digunakan lagi.
BAB V
PROSEDUR PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI
A. Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Operasi Normal
1. Prosedur pengoperasian pesawat sinar-x
Berikut adalah prosedur pengoperasian pesawat x-ray secara umum :
- Hidupkan pesawat sinar-X dengan menekan tombol line ON /OFF
- Melakukan warming up atau pemanasan dengan melakukan eksposi
beberapa kali pada kondisi eksposi terendah
- Memilih factor eksposi dengan menggunakan kV selector untuk tegangan
yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat ketebalan pasien.
- Memilih nilai mAS untuk arus tabung dan waktu penyinaran yang dibutuhkan,
pemilihan ini disesuaikan kondisi pencucian film
- Untuk melalukan ekspose atau penyinaran tekan tombol ekpose .
- Jika sudah tidak ada pemeriksaan, kV dan mAS selector diposisikan pada
posisi terendah
- Matikan alat dengan menekan tombol line ON/OFF
a. Prosedur pengoperasian pesawat CT Scan
- Menghidupkan alat CT Scan
- Pastikan switch power pada panel listrik dalam posisi “ON”.
- Menghidupkan saklar power pada bagian generator (trafo)
- Menekan tombol warna hijau pada saklar yang tersambung generator/trafo
- Hidupkan UPS dengan menekan tombol “ON/Test” dibagaian depan UPS
selama ± 3 detik (sampai bunyi beep)
- Menghidupkan komputer CIRS dengan menekan tombol power
- Setalah menunggu ± menit, hidupkan komputer HOST dengan menekan
tombol power
- Pilih window examination-Setup-Check-up--exam
- Apabila tidak ada EROR alat sudah dapat berfungsi normal.
b. Melakukan kalibrasi alat
- Klik “Home” lalu gerakan meja (examination table) keluar gantry dan pastikan
tidak ada objek didalam lingkaran gantry
- Klik” Air Calibration”
- Ikuti perintah yang tampak pada layar monitor lalu klik ”OK”
- Kalibrasi dimulai dan tunggu sampai terlihat ”Calibration Complate” lalu klik
”Close”
- Pesawat MSCT siap digunakan
c. Cara melakukan pemeriksaan
- Klik tab Star Study
- Masukkan data-data pasien mulai :
Nomer pemeriksaan
Nama Pasien
Umur/Jenis Kelamin
Pilih jenis pasien : anak-anak/dewasa
Pilih posisi meja
Pilih protocol pemeriksaan
Buat scout/topogram
Lakukan scanning sesuai jenis protocol yang dipilih
Jika pemeriksaan sudah selesai klik end study
Cetak hasil dalam film (filming)
- Cara mematikan alat CT Scan
- Pilih System-End--Shutdown system--Yes komputer akan mati setelah
3 menit
- Tekan tombol ”OF” selama 3 menit pada bagian UPS
- Tekan tombol warna merah yang terdapat trafo untuk mematikan gantry
B. Prosedur Proteksi Radiasi
1. Prosedur proteksi dan keselamatan radiasi untuk personil
Prosedur proteksi dan keselamatan radiasi untuk personil dibuat untuk mencapai
keselamatan optimum, mencegah pekerja radiasi baik radiographer,dokter ahli
radiologi maupun semua pihak yang bekerja di medan radiasi agar tidak
menerima paparan dosis radiasi melebihi nilai NBD (Nilai Batas Dosis) yang
diperkenankan dan mencegah kemungkinan efek radiasi timbul.
Berikut beberapa ketentuan usaha yang dilakukan agar pekerja radiasi
mendapat penerimaaan dosis serendah mungkin :
a. Ruang sinar-x tidak boleh digunakan lebih dari satu pemeriksaan radiologi
secara simultan.
b. Kecuali orang-orang yang berkepentingan,tidak boleh seoarangpun berada di
ruang sianar-x ketika paparan dilakukan.
c. Pekerja radiasi harus selamanya menjaga jarak sejauh mungkin dari berkas
utama. Paparan pekerja yang berasal dari berkas guna tidak diperkenankan
kecuali berkas yang dihamburkan oleh pasien,perlengkapan proteksi dan
layar screen.
d. Semua pekerja radiasi harus menggunakan perlengkapan proteksi yang
tersedia
e. Ahli radiografi harus tetap berada dalam kendali atau dibelakang tabir
proteksi ketika sedang melaksanakan paparan sinar-x. Dalam kasus dimana
ada alas an untuk membuat hal itu tidak praktis, perlengkapan proteksi harus
digunakan.
f. Jika ada keperluan untuk membantu anak-anak atau pasien yang fisiknya
lemah, alat bantu proteksi (apron) harus digunakan. Demikian pula jika
pengantar pasien yang melakukannya, posisi pengantar pasien harus diatur
sedemikian hingga agar tidak terkena berkas utama. Tidak seorangpun
diperbolehkan melakukan tindakan tersebut secara rutin.
g. Apabila apron setara Pb digunakan, dosimeter perseorangan (film bafge atau
TLD) harus digunakan dibawah apron.
h. Semua pintu masuk menuju ruang sinar-x dan ruang ganti harus ditutup
ketika pasien berada di ruang sinar-x.
i. Pesawat sinar-x yang dihidupkan dan siap untuk memancarkan radiasi tidak
boleh ditinggalkan begitu saja. Bila dosis radiasi melebihi 5 % dari NBD yang
diterima oleh pekerja radiasi secara regular, maka langkah perbaikan yang
sesuai harus diambil untuk memperbaiki teknik dan langkah-lanhkah
proteksi.
j. Pesawat sinar-x harus dioperasikan oleh atau dibawah supervise langsung
orang yang mempunyai pendidikan formal dibidang radiografi.
k. Wadah tabung sinar-x tidak boleh dipegang tangan petugas selama operasi.
2. Prosedur proteksi dan keselamatan radiasi untuk pasien
a. Ahli radiografi tidak boleh melaksanakan pemeriksaan apapun jika tidak ada
rujukan dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien tersebut
b. Paparan pasien harus dipertahankan hingga nilai paling yang terendah yang
dapat diterapkan,konsisten dengan tujuan klinis tanpa kehilangan informasi
diagnostik yang penting. Dalam kasus ini ahli radiografi harus bekerja dengan
teliti dan cermat agar dapat menghindari pengulangan paparan radiasi ke
pasien.
c. Berkas sinar-x yang digunakan harus terkolimasi secara baik untuk
membatasi berkas tersebut sebanyak mungkin yang dapat diterapkan
dengan daerah diagnostic yang diinginkan.
d. Ukuran berkas sinar-x harus dibatasi dengan ukuran penerimaaan citra atau
lebih kecil
e. Berkas sinar-x hendaknya tidak diarahkan dengan gonad kecuali berkas
tersebut sangat penting, dalam hal ini penahan radiasi gonad harus
digunakan setiap saat asalkan maksud pemeriksaan tidak terganggu.
f. Jarak target ke kulit harus diupayakan sejauh mungkin, konsisten dengan
teknik radiografi yang baik.
g. Untuk anak kecil, peralatan khusus hendaknya digunakan untuk membatasi
pergerakan
h. Rincian prosedur radiologi (SOP) lengkap yang dilaksanakan harus dicatat
pada rekaman klinis.
3. Prosedur proteksi dan keselamatan radiasi untuk pendamping pasien
a. Jika untuk kepentingan pemeriksaan keluarga pasien perlu mendampingi
pemeriksaan harus menggunakan baju proteksi (apron)
b. Selama mendapingi pasien, keluarga pasien harus diatur sedemikian hingga
tidak terkena berkas utama dan berada pada jarak sejauh mungkin.
c. Pemeriksaan radiologi dengan pendamping pasien harus dilaksanakan
secara cepat dan tepat, sehingga pendamping pasien tidak berada di dalam
medan radiasi yang terlalu lama.
C. RENCANA PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT
1. Potensi keadaan abnormal / darurat
Kondisi abnormal yang mungkin dapat terjadi pada penggunaan sumber radiasi
di lingkungan rumah sakit pada penggunaan pesawat x-ray baik jenis
konventional maupun jenis pesawat x-ray interventional adalah terjadinya
kebocoran radasi pada tabung x-ray. Standar kebocoran minimal adalah tidak
boleh melebihi 1 mGy/jam pada jarak pengukuran 1 m pada kondisi kolimator
tertutup rapat serta nilai faktor eksposi yang digunakan pada kondisi nilai
eksposi tertinggi, misal 100 kV dengan 40 mAs.
2. Rencana penanggulangan kondisi abnormal
Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kondisi abnormal yang dapat
dilakukan adalah upaya preventif/pencegahan adalah melakukan uji kesesuaian
pesawat sinar-X secara rutin setahun sekali. Parameter yang dilakukan meliputi
kolimasi, pembangkitan dan tabung sinar-x didalamnya termasuk uji kebocoran
tabung pesawat sinar-X, informasi dosis radiasi yang diterima pasien dan
paparan radiasi hambur. Pelaksana dilakukan dapat dialkukan oleh fisikawan
medik bila tersedia alat ukur.
BAB V
REKAMAN DAN LAPORAN
Rekaman dan laporan yang dapat dilampirkan dalam penyusunan Program
Proteksi dan Keselamatan Radiasi adalah :
1. Loog book pengoperasian Alat
2. Loog book pemantauan dosis radiasi yang diterima oleh personel
3. Loog book inventerarisasi peralatan radiologi
4. Loog book kebocoran tabung x-ray