Low Back Pain: Tinjauan dan Manajemen
Low Back Pain: Tinjauan dan Manajemen
Oleh:
Pembimbing:
dr. Marcus Anthonius, [Link]
Referat dengan judul Low Back Pain telah diperiksa dan disetujui sebagai
salah satu tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter
Muda di bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di RSAL Dr.
Ramelan Surabaya.
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas berkat
rahmat-Nya, penulis telah berhasil menyelesaikan penulisan referat yang
berjudul “Low Back Pain”.
Penulisan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk kelulusan pada program pendidikan profesi dokter pada Fakultas
Kedokteran Universitas Hangtuah Surabaya yang dilakukan di RSAL Dr.
Ramelan Surabaya. Penulisan referat ini tidak akan terwujud dengan baik
tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam penulisan referat ini, terutama kepada dr. Marcus
Anthonius, [Link] selaku dokter pembimbing yang telah membimbing
dan memberi saran pada penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi
kesempurnaan referat ini. Penulis berharap semoga referat ini bermanfaat
dan menambah pengetahuan bagi para pembaca serta bagi
perkembangan ilmu kedokteran.
iii
DAFTAR ISI
BAB I.......................................................................................................... 6
PENDAHULUAN ........................................................................................ 6
BAB II ......................................................................................................... 7
2.2 Defenisi........................................................................................... 12
2.11 Pencegahan................................................................................ 26
KESIMPULAN .......................................................................................... 29
iv
DAFTAR GAMBAR
v
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
7
Vertebra tipikal memiliki beberapa bagian berikut:
8
Struktur tulang vertebra lumbal
Tulang verterbra lumbal tersusun 5 verterbra yang bersendi satu
sama lain yang berperan dalam menjalankan fungsinya untuk menyangga
tubuh dan alat gerak tubuh. Susunan tulang vertebra secara umum terdiri
dari corpus, arcus, dan foramen vertebra (Kapanji 1990).
1) Korpus
Merupakan bagian terbesar dari vertebra, bentuk silindris yang
mempunyai beberapa facies (dataran), yaitu: facies anterior
berbentuk konvek dari arah samping dan konkaf dari arah cranial
ke caudal. Facies superior berbentuk konkaf pada lumbal 4-5.
2) Arcus
Merupakan lengkungan simetris di kanan-kiri dan berpangkal pada
korpus menuju dorsal. Pangkalnya disebut radik arcus vertebra dan
ada tonjolan ke arah lateral yang disebut procesus spinosus
3) Foramen vertebra
Merupakan lubang yang besar yang terdapat di antara corpus dan
arcus. Bila dilihat dari columna vetebralis, foramen vertebra ini
membentuk suatu saluran yang disebut canalis vetebralis yang
akan terisi oleh medulla spinalis
9
Diskus intervertebralis
Merupakan struktur elastis di antara korpus vertebra. Struktur
diskus bagian dalam disebut nucleus pulposus, sedangkan bagian tepi
disebut annulus fibrosus. Diskus berfungsi sebagai bantalan sendi antara
korpus yang berdekatan sebagai shock breaker pada berbagai tekanan
dalam menumpu berat badan (Kapanji 1990).
Stabilitas
Stabilitas pada vertebra ada dua macam, yaitu stabilitas pasif dan
stabilitas aktif. Untuk stabilitas pasif adalah ligamen yang terdiri dari: (1)
ligament longitudinal anterior yang melekat pada bagian anterior tiap
10
diskus dan corpus vertebrae anterior. Ligamen ini mengontrol gerakan
ekstensi. (2) Ligament longitudinal posterior yang memanjang dan melekat
pada bagian posterior diskus dan posterior korpus vertebra. Ligamen ini
berfungsi untuk mengontrol gerakan fleksi. (3) Ligament flavum terletak di
dorsal vertebra di antara lamina yang berfungsi melindungi medulla
spinalis dari posterior. (4) ligament transfersum melekat pada tiap
procesus transversus yang berfungsi mengontrol gerakan fleksi.
Sedangkan yang berfungsi sebagai stabilitas aktif adalah otot-otot
yang berfungsi untuk penggerak lumbal yang terletak di sebelah anterior,
lateral, maupun posterior. Otot-otot di sebelah anterior dan lateral, antara
lain: musculus rectus abdominis, musculus obliqus internus, musculus
psoas mayor, dan musculus quadratus lumborum. Otot-otot di sebelah
posterior, antara lain: musculus longisimus thorakalis, musculus
liocostalis.
Spinal Cord
Radix syaraf keluar pada level di atas corpus vertebra pada region
cervical (Misal akar syaraf C7 keluar pada level C6-C7) dan dibawah
corpus vertebrapada region Torakal dan lumbar (missal radix syaraf T1
11
keluar pada level T1-T2). Radix syaraf cervicalis mengikuti jalur intraspinal
pendek sebelum keluar. Sebaliknya, karena spinal cord berakhir pada
vertebra L1 Atau L2, Radix syaraf lumbar mengikuti jalur intraspinal
panjang dan dapat tercederai dimana saja dari lumbar atas ke tempat
keluarnya di foramen intervertebral. Contohnya, herniasi diskus pada level
L4-L5 umumnya menghasilkan kompresi radix syaraf S1.
2.2 Definisi
12
2.3 Epidemiologi
2.4 Etiologi
13
berkembang di spinal cord lumbar atau kolumna vertebra lumbar,
pasien merasakan Low Back Pain yang intens.
4. Low Back Pain karena Degenerasi
Degenerasi mengarah pada berkembangnya spondylosis deforman,
degenerasi diskus intervertebralis lumbar, non-spondylolytic lumbar,
Spondylolisthesis, ankylosing spinal hyperostosis, intervertebral
articular low back pain, dan lumbar spinal stenosis.
5. Low Back Pain Karena penyebab lain
Faktor risiko terjadinya Low Back Pain antara lain adalah: usia,
jenis kelamin, indeks masa tubuh (IMT), pekerjaan, aktivitas/olahraga,
faktor psikososial, riwayat cedera punggung sebelumnya, kebiasaan
merokok, dan posisi tubuh.
Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang memperberat terjadinya
Low Back Pain (LBP), sehingga penyakit ini biasanya diderita oleh
orang berusia lanjut karena penurunan fungsi-fungsi tubuhnya
terutama fungsi tulang sehingga tidak lagi elastis seperti pada waktu
muda.
Indeks Masa Tubuh (IMT)
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih risiko
timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena beban pada sendi akan
meningkat seiring bertambahnya berat badan, sehingga dapat
menimbulkan terjadinya nyeri pinggang
14
Riwayat Cedera Punggung Sebelumnya
Satu-satunya alat prediksi terbaik LBP adalah riwayat
cedera/[Link] yang pernah mengalami cedera/trauma
sebelumnya beresiko untuk mengalami LBP dikarenakan faktor
kekambuhan atau karena cedera tersebut berlangsung kronis.
Pekerjaan
Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan
otot rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara
pengangkatan barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh
selama bekerja, getaran, dan kerja statis. Oleh karena itu, riwayat
pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab LBP.
Posisi Tubuh
Posisi lumbar yang berisiko menyebabkan terjadinya Low Back
Pain ialah fleksi ke depan, rotasi, dan mengangkat beban yang berat
dengan tangan yang terbentang.
Aktivitas / Olahraga
Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat
beban pada posisi yang salah dapat menyebabkan nyeri pinggang.
Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau
menekuk ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur
yang tidak menopang spinal. Posisi mengangkat beban dari posisi
berdiri langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi
yang salah, seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok
terlebih dahulu.
Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap
keluhan Low Back Pain sampai umur 60 tahun. Namun pada
kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi
timbulnya LBP, karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi
misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu proses
menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang
15
akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan
terjadinya LBP.
Faktor Psikososial
Berbagai faktor psikologis dan sosial dapat meningkatkan risiko
LBP. Kecemasan, stress, depresi, ketidakpuasan kerja, tanggung
jawab, stress di tempat kerja dapat menempatkan orang-orang pada
peningkatan risiko LBP kronis.
Merokok
Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru
yang diakibatkan adanya kandungan karbon monoksida sehingga
kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai
akibatnya tingkat kesegaran menurun. Apabila yang bersangkutan
melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga maka akan
mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah,
pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi penumpukan asam laktat,
dan akhirnya timbul nyeri otot
2.6 Klasifikasi
Low Back Pain dapat dibagi menjadi akut dan kronis (Bimotiorejo,
2009) :
a. Low Back Pain Akut
Low Back Pain Akut didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi selama
<3 bulan. Penyembuhan sempurna dapat dharapkan hingga 85%
pasien dewasa dengan LBP Akut tanpa nyeri kaki. Kebanyakan
memiliki gejala “mekanis” (eg. Nyeri yang memberat oleh gerakan
dan ringan ketika beristirahat).
b. Low Back Pain Kronis
Adalah nyeri yang berlangsung hingga >12 minggu. Faktor resiko
meliputi obesitas, jenis kelamin perempuan, usia tua, riwayat nyeri
punggung sebelumnya, pergerakan spinal yang terbatas, neri yang
menjalar hingga kaki, stress psikologi level tinggi, aktivitas fisik yang
minimal, merokok, nyeri yang meluas. Kombinasi faktor premorbid
16
ini telah digunakan untuk memprediksi individu LBP Akut mana yang
dapat berkembang menjadi LBP Kronis.
2.7 Patofisiologi
17
ruang gerak kelompok otot yang tersangkut (loss of range of motion) dan
nyeri radikuler yang terbatas pada saraf tepi. Keluhan nyeri sering hilang
bila kelompok otot tersebut diregangkan. Fibromialgia mengakibatkan
nyeri dan nyeri tekan daerah punggung bawah, kekakuan, rasa lelah, dan
nyeri otot .
Penyebab tersering ialah pembebanan atau distorsi mekanik/fisik
seperti mengangkat barang, terutama pada orang dengan otot dinding
perut atau pinggang dan punggung yang kurang kuat. Nyeri terjadi pada
gerakkan ke depan, ke lumbosacral dengan atau tanpa nyeri alih ke
region gluteal. Bila beristirahat, nyeri menghilang (Sjamsuhidajat, R & Wim
2004).
2.9 Diagnosa
1. Anamnesa
Dalam anamnesis perlu ditanyakan kapan dan bagaimana
mulai timbulnya, lokasi nyeri, sifat nyeri, kualitas nyeri, apakah nyeri
yang diderita diawali dengan kegiatan fisik, faktor yang
memperberat atau memperingan, ada riwayat trauma sebelumnya
dan apakah ada keluarga penderita penyakit yang sama. Adanya
riwayat mengangkat beban yang berat dengan sikap tubuh yang
salah dan berulangkali, kegiatan fisik atau olahraga yang tidak
biasa. Sifat nyeri yang tajam, menusuk dan berdenyut, seringkali
bersumber dari sendi, tulang dan ligamen. Sedangkan rasa pegal,
biasanya berasal dari otot. Nyeri yang disertai dengan penjalaran
ke arah tungkai menunjukkan adanya keterlibatan radiks saraf.
Sedangkan nyeri yang berpindah-pindah dan tidak wajar, sangat
mungkin merupakan nyeri psikogenik. Harus pula diperhatikan
adanya gangguan miksi dan defekasi untuk mengetahui gangguan
pada radiks saraf. Hal lain yang perlu diketahui adalah adanya
demam selama beberapa waktu terakhir untuk menyingkirkan
kemungkinan infeksi, misalnya spondilitis. Riwayat penyakit
18
terdahulu dan riwayat pekerjaan harus diketahui untuk
mempertajam penegakan diagnosis.
2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Amati langkah penderita yang pincang, posisi berdiri, adanya
deformitas vertebra (lordosis lumbar, skoliosis) penonjolan
otot (spasme paravertebral), dan sikap penderita.
Palpasi dan perkusi
Palpasi dan perkusi memakai hammer pada penonjolan
(spasme otot) dan prosessus spinosus lumbar untuk mencari
lokasi nyeri atau sumber nyeri.
3. Pemeriksaan Fisik Khusus / Neurologis
Pemeriksaan neurologis ini dilakukan untuk mengetahui
adakah kelainan neurologis yang berperan dalam kejadian LBP
ini.
Tanda rangsangan saraf
a. Tes lasegue (straight leg raising)
Tungkai difleksikan pada sendi coxa sedangkan sendi lutut
tetap lurus. Saraf ischiadicus akan tertarik. Bila nyeri
pinggang dikarenakan iritasi pasa saraf ini maka nyeri akan
dirasakan pada sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari
pantat sampai ujung kaki.
b. Crossed lasegue
Bila tes lasegue pada tungkai yang tidak sakit menyebabkan
rasa nyeri pada tungkai yang sakit maka dikatakan crossed
lasegue positif. Artinya ada lesi pada saraf ischiadicus atau
akar-akar saraf yang membentuk saraf ini.
c. Tes kernig
Sama dengan lasegue hanya dilakukan dengan lutut fleksi,
setelah sendi coxa 90 derajat dicoba untuk meluruskan sendi
lutut
19
d. Patrick sign (FABERE sign)
FABERE merupakan singkatan dari fleksi, abduksi, external,
rotasi, extensi. Pada tes ini penderita berbaring, tumit dari
kaki yang satu diletakkan pada sendi lutut pada tungkai yang
lain. Setelah ini dilakukan penekanan pada sendi lutut
hingga terjadi rotasi keluar. Bila timbul rasa nyeri maka hal
ini berarti ada suatu sebab yang non neurologik misalnya
coxitis.
f. Neri’s sign
Penderita berdiri lurus. Bila diminta untuk membungkuk ke
depan akan terjadi fleksi pada sendi lutut sisi yang sakit.
g. Ober’s sign
Penderita tidur miring ke satu sisi. Tungkai pada sisi tersebut
dalam posisi fleksi. Tungkai lainnya di abduksikan dan
diluruskan lalu secara mendadak dilepas. Dalam keadaan
normal tungkai ini akan cepat turun atau jatuh ke bawah. Bila
terdapat kontraktur dari fascia lata pada sisi tersebut maka
tungkainya akan jatuh lambat.
i. Percobaan Perspirasi
20
Percobaan ini untuk menunjukkan ada atau tidaknya
gangguan saraf autonom, dan dapat pula untuk
menunjukkan lokasi kelainan yang ada yaitu sesuai dengan
radiks atau saraf spinal yang terkena.
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis kasus LBP
biasanya tidak spesifik. Foto rontgen biasa (plain photos) sering
terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai penyempitan
ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan degeneratif,
dan tumor spinal. Pemeriksaan sinar X, magnetic resonance
imaging (MRI) atau computerized tomography scan (CTScan),
dual energy x-ray absorbtiometry (DEXA) atau myelography
dapat dilakukan sesuai dengan indikasi. Namun, pemeriksaan
ini tidak menunjukkan adanya korelasi dengan gejala LBP pada
21
pasien, kecuali pada kondisi tertentu seperti gangguan pada
diskus, kelainan pada tulang belakang, maupun adanya
keganasan (Winata 2014).
2.10 Managemen
22
- Terapi panas dan dingin
Pemanas dan es adalah modalitas yang paling umum dan
mudah tersedia. Setiap tipe terapi membantu mengurangi
spasme otot dan inflamasi. Beberapa pasien merasa
nyerinya semakin ringan dengan terapi panas dengan heat
pack dan lainnya dengan terapi dingin dengan pijat
[Link] terapi diakukan 10-20 menit sekali tiap 2 jam,
dan lebih berguna pada fase awal episode nyeri.
- TENS Units sebagai Elektroterapi
Sebuah unit Transcutaneous Electrical Nerve
Stimulator, menggunakan stimulasi elektrik untuk
memodulasi sensasi Low Back Pain dengan mengutamakan
sinyal nyeri yang dikirim ke otak.
- Ultrasound Diathermy
Adalah bentuk pemanasan dalam yang menggunakan
gelombang suara ke kulit dan penetrasi ke jaringan lunak.
Berguna meringankan nyeri episode akut dan meningkatkan
penyembuhan jaringan.
23
pinggang bawah selama beberapa tahun untuk mengobati
beragam problem nyeri pinggang bawah berdasarkan
temuan diagnosis. Dalam beberapa kasus, program latihan
ini digunakan ketika penyebab gangguan berasal dari facet
joint (kapsul-ligamen), otot, serta degenerasi corpus dan
diskus .
Tujuan dari William Flexion Exercise adalah untuk
mengurangi nyeri, memberikan stabilitas lower trunk melalui
perkembangan secara aktif pada otot abdominal, gluteus
maximus, dan hamstring, untuk menigkatkan fleksibilitas
atau elastisitas pada group otot fleksor hip dan lower back
(sacrospinalis), serta untuk mengembalikan /atau
menyempurnakan keseimbangan kerja antara group otot
postural fleksor & ekstensor. Selain itu juga meningkatkan
kekuatan otot abdominal dan lumbosacral serta mengulur
back ekstensor s.
Indikasi dari William Flexion Exercise adalah
spondylosis, spondyloarthrosis, dan disfungsi sendi facet
yang menyebabkan nyeri pinggang bawah. Kontraindikasi
dari William Flexion Exercise adalah gangguan pada diskus
seperti disc. bulging, herniasi diskus, atau protrusi diskus.
24
Gambar 2. 8 William’s Flexion Exercise
Terapi Operatif
Pada dasarnya terapi operatif dilakukan jika dengan tindakan
konservatif tidak memberikan hasil yang nyata. Atau terhadap kasus
fraktur yang langsung mengakibatkan deficit neurologic, yang dapat
diketahui adalah gangguan fungsi otonom dan paraplegia.
25
Rehabilitasi
Tujuan dari rehabilitasi adalah mengupayakan agar penderita dapat
segera bekerja seperti semula dan tidak timbul LBP lagi di kemudian hari.
Agar penderita tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam
melakukan kegiatan sehari-hari.
2.11 Pencegahan
26
Postur tubuh yang baik akan melindungi dari cedera sewaktu
melakukan gerakan, karena beban disebarkan merata keseluruh
bagian tulang belakang.
g. Berjalan rileks dengan sikap tubuh tegak.
h. Bila mengendarai mobil, jok mobil jangan terlalu digeser ke
belakang hingga posisi tungkai hampir lurus.
i. Kenakan sepatu yang nyaman dan bertumit rendah.
j. Jangan mengangkat dengan membungkuk. Angkat objek dengan
menekuk lutut dan berjongkok untuk mengambil objek. Jaga
punggung lurus dan terus dekatkan objek ke tubuh. Hindari
memutar tubuh saat mengangkat. Lebih baik mendorong daripada
menarik ketika harus memindahkan benda berat. Minta bantuan
orang lain bila mengangkat benda yang berat.
k. Jaga nutrisi dan diet yang tepat untuk mengurangi dan mencegah
berat badan berlebihan, terutama lemak di sekitar pinggang. Diet
harian yang cukup kalsium, fosfor, dan vitamin D membantu
menjaga pertumbuhan tulang baru.
l. Berhenti merokok. Merokok mengurangi aliran darah ke tulang
punggung bagian bawah dan menyebabkan cakram tulang
belakang mengalami degenerasi
27
Gambar 2. 9 Pencegahan Low Back Pain
28
BAB III
KESIMPULAN
29
DAFTAR PUSTAKA
Awaji, M., 2016. Epidemiology of Low Back Pain in Saudi Arabia. Journal
of Advances in Medical and Pharmaceutical Sciences, 6(4), pp.1–9.
Biyani, A. & Andersson, G.B.J., 2004. Low back pain: pathophysiology and
management. The Journal of the American Academy of Orthopaedic
Surgeons, 12(2), pp.106–115.
Cohen, M.J., Jangro, W.C. & Neff, D., 2017. Pathophysiology of Pain. In
Challenging Neuropathic Pain Syndromes: Evaluation and Evidence-
Based Treatment. pp. 1–5.
Dachlan, L.M., 2009. Pengaruh Back Exercise pada Low Back Pain. In
tesis magister program studi pendidikan profesi kesehatan universitas
sebelas maret. surakarta.
Dickerman, R., 2005. Physical Therapy for low back pain Relief. Available
at: [Link]/treatment/physical-therapy-low-back-pain-
relief.
Kapanji, L.A., 1990. The Physiology of Joint volume 3., USA: Churchill
Livingstone.
Sjamsuhidajat, R & Wim, 2004. BUKU AJAR ILMU BEDAH (edisi 3). In
Jakarta ECG 9789790440463. pp. 1–954.
30
Syuhada, A.D., Suwondo, A. & Setyaningsih, Y., 2018. Faktor Risiko Low
Back Pain pada Pekerja Pemetik Teh di Perkebunan Teh Ciater
Kabupaten Subang. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 13(1),
p.91.
31