0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
107 tayangan31 halaman

Low Back Pain: Tinjauan dan Manajemen

Tulang belakang terdiri dari vertebra yang membentuk kolumna vertebral. Tulang belakang bagian bawah terdiri atas 5 vertebra lumbal yang memiliki bagian seperti corpus, arkus, dan foramen untuk menyangga tubuh dan memfasilitasi gerakan.

Diunggah oleh

Silvi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
107 tayangan31 halaman

Low Back Pain: Tinjauan dan Manajemen

Tulang belakang terdiri dari vertebra yang membentuk kolumna vertebral. Tulang belakang bagian bawah terdiri atas 5 vertebra lumbal yang memiliki bagian seperti corpus, arkus, dan foramen untuk menyangga tubuh dan memfasilitasi gerakan.

Diunggah oleh

Silvi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

LOW BACK PAIN

Oleh:

Jhouharotul Faradisah 20190420106

Pembimbing:
dr. Marcus Anthonius, [Link]

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH
RSAL Dr. RAMELAN
SURABAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
LOW BACK PAIN

Referat dengan judul Low Back Pain telah diperiksa dan disetujui sebagai
salah satu tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter
Muda di bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di RSAL Dr.
Ramelan Surabaya.

Surabaya, 05 September 2019


Pembimbing

dr. Marcus Anthonius, [Link]

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas berkat
rahmat-Nya, penulis telah berhasil menyelesaikan penulisan referat yang
berjudul “Low Back Pain”.
Penulisan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk kelulusan pada program pendidikan profesi dokter pada Fakultas
Kedokteran Universitas Hangtuah Surabaya yang dilakukan di RSAL Dr.
Ramelan Surabaya. Penulisan referat ini tidak akan terwujud dengan baik
tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam penulisan referat ini, terutama kepada dr. Marcus
Anthonius, [Link] selaku dokter pembimbing yang telah membimbing
dan memberi saran pada penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi
kesempurnaan referat ini. Penulis berharap semoga referat ini bermanfaat
dan menambah pengetahuan bagi para pembaca serta bagi
perkembangan ilmu kedokteran.

Surabaya, 05 September 2019

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... ii

KATA PENGANTAR .................................................................................. iii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... v

BAB I.......................................................................................................... 6

PENDAHULUAN ........................................................................................ 6

1. 1. Latar Belakang .............................................................................. 6

BAB II ......................................................................................................... 7

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 7

2.1 Anatomi ............................................................................................ 7

2.2 Defenisi........................................................................................... 12

2.3 Epidemiologi ................................................................................... 13

2.4 Etiologi ............................................................................................ 13

2.5 Faktor resiko ................................................................................... 14

2.6 Klasifikasi ........................................................................................ 16

2.7 Patofisiologi .................................................................................... 17

2.8 Manifestasi Klinis ............................................................................ 17

2.9 Diagnosa ........................................................................................ 18

2.10 Managemen .................................................................................. 22

2.11 Pencegahan................................................................................ 26

BAB III ...................................................................................................... 29

KESIMPULAN .......................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 30

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Tulang vertebra ..................................................................... 7


Gambar 2. 2 Anterior dan Posterior Vertebra ............................................ 8
Gambar 2. 3 Vertebra Lumbalis ................................................................. 9
Gambar 2. 4 Diskus intervertebralis ......................................................... 10
Gambar 2. 5 Diskus Intervertebral dan Foramina Intervertebralis............ 10
Gambar 2. 6 Ligamentum Vertebrae Lumbal ........................................... 11
Gambar 2. 7 Brain Spinal Cord ................................................................ 12
Gambar 2. 8 William’s Flexion Exercise ................................................... 25
Gambar 2. 9 Pencegahan Low Back Pain ............................................... 28

v
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang

Low Back Pain (LBP) merupakan masalah muskuloskeletal paling


umum dan merugikan. LBP berkaitan dengan seringnya mengangkat,
membawa, menarik dan mendorong barang berat, sering atau lamanya
membengkokkan badan, membungkuk, duduk atau berdiri lama atau
postur tubuh lain yang tidak natural. Berdasarkan penelitian Syuhada
2018 masa kerja >10 tahun mempunyai risiko 3,2 kali lebih besar
mengalami low back pain dibandingkan dengan masa kerja ≤10 tahun,
postur tidak normal pada saat bekerja mempunyai resiko 2,5 kali lebih
besar berpotensi mengalami low back pain dibandingkan dengan postur
tubuh normal, mengangkat beban lebih berat > 5 kg berisiko 2,3 kali lebih
besar mengalami low back pain dibandingkan dengan mengangkat berat
(Syuhada et al. 2018).
Prevalensi LBP di Indonesia sebesar 18%. Prevalensi LBP
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dan paling sering terjadi
pada usia dekade tengah dan awal dekade empat. Penyebab LBP
sebagian besar (85%) adalah nonspesifik, akibat kelainan pada jaringan
lunak, berupa cedera otot, ligamen, spasme atau keletihan otot. Penyebab
lain yang serius adalah spesifik antara lain, fraktur vertebra, infeksi dan
tumor. (Kemeskes RI, 2018)
Berdasarkan The Global Burden of Disease 2010 Study (GBD
2010), dari 291 penyakit yang diteliti, LBP merupakan penyumbang
terbesar kecacatan global, yang diukur melalui years lived with disability
(YLD), serta menduduki peringkat yang keenam dari total beban secara
keseluruhan, yang diukur dengan the disabilityadjusted life year (DALY).
Pengukuran DALY adalah metrik standar untuk mengukur beban yang
dihitung dengan menggabungkan years of life lost (YLL) dan years lived
with disability (YLD) (Patrianingrum, 2015)

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

Punggung manusia terdiri dari kolumna Vertebra, spinal cord, otot


pendukung, dan jaringan yang menyertai (kulit, jaringan ikat, pembuluh
darah dan syaraf). Secara fungsional, punggung memiliki 3 tugas primer
yakni penyokong, proteksi dan pergerakan
Vertebra
Kolumna vertebra (spine) pada tubuh manusia terdiri dari 33
vertebra yan terdiri dari:
- Cervical: 7 Vertebra
- Thoracic:12 Vertebra
- Lumbar: 5 Vertebra
- Sakrum: 5 vertebra yang menyatu
- Coccyc: 4 Vertebra (Hansen 2014).

Gambar 2. 1 Tulang vertebra

7
Vertebra tipikal memiliki beberapa bagian berikut:

 Arkus Vertebra: dibentuk oleh pedicle dan lamina vertebra


 Prosesus Articularis: 2 Facet superior dan 2 facet inferior
untuk berartikulasi dengan vertebra bawahnya
 Corpus
 Foramen Intervertebralis
 Lamina
 Pedicle
 Foramina Transversalis
 Prosesus transversalis
 Prosesus spinalis
 Foramen Vertebbra (Hansen 2014)

Gambar 2. 2 Anterior dan Posterior Vertebra

8
Struktur tulang vertebra lumbal
Tulang verterbra lumbal tersusun 5 verterbra yang bersendi satu
sama lain yang berperan dalam menjalankan fungsinya untuk menyangga
tubuh dan alat gerak tubuh. Susunan tulang vertebra secara umum terdiri
dari corpus, arcus, dan foramen vertebra (Kapanji 1990).
1) Korpus
Merupakan bagian terbesar dari vertebra, bentuk silindris yang
mempunyai beberapa facies (dataran), yaitu: facies anterior
berbentuk konvek dari arah samping dan konkaf dari arah cranial
ke caudal. Facies superior berbentuk konkaf pada lumbal 4-5.
2) Arcus
Merupakan lengkungan simetris di kanan-kiri dan berpangkal pada
korpus menuju dorsal. Pangkalnya disebut radik arcus vertebra dan
ada tonjolan ke arah lateral yang disebut procesus spinosus
3) Foramen vertebra
Merupakan lubang yang besar yang terdapat di antara corpus dan
arcus. Bila dilihat dari columna vetebralis, foramen vertebra ini
membentuk suatu saluran yang disebut canalis vetebralis yang
akan terisi oleh medulla spinalis

Gambar 2. 3 Vertebra Lumbalis

9
Diskus intervertebralis
Merupakan struktur elastis di antara korpus vertebra. Struktur
diskus bagian dalam disebut nucleus pulposus, sedangkan bagian tepi
disebut annulus fibrosus. Diskus berfungsi sebagai bantalan sendi antara
korpus yang berdekatan sebagai shock breaker pada berbagai tekanan
dalam menumpu berat badan (Kapanji 1990).

Gambar 2. 4 Diskus intervertebralis

Gambar 2. 5 Diskus Intervertebral dan Foramina Intervertebralis


Tempat Keluarnya Akar Saraf

Stabilitas
Stabilitas pada vertebra ada dua macam, yaitu stabilitas pasif dan
stabilitas aktif. Untuk stabilitas pasif adalah ligamen yang terdiri dari: (1)
ligament longitudinal anterior yang melekat pada bagian anterior tiap

10
diskus dan corpus vertebrae anterior. Ligamen ini mengontrol gerakan
ekstensi. (2) Ligament longitudinal posterior yang memanjang dan melekat
pada bagian posterior diskus dan posterior korpus vertebra. Ligamen ini
berfungsi untuk mengontrol gerakan fleksi. (3) Ligament flavum terletak di
dorsal vertebra di antara lamina yang berfungsi melindungi medulla
spinalis dari posterior. (4) ligament transfersum melekat pada tiap
procesus transversus yang berfungsi mengontrol gerakan fleksi.
Sedangkan yang berfungsi sebagai stabilitas aktif adalah otot-otot
yang berfungsi untuk penggerak lumbal yang terletak di sebelah anterior,
lateral, maupun posterior. Otot-otot di sebelah anterior dan lateral, antara
lain: musculus rectus abdominis, musculus obliqus internus, musculus
psoas mayor, dan musculus quadratus lumborum. Otot-otot di sebelah
posterior, antara lain: musculus longisimus thorakalis, musculus
liocostalis.

Gambar 2. 6 Ligamentum Vertebrae Lumbal

Spinal Cord
Radix syaraf keluar pada level di atas corpus vertebra pada region
cervical (Misal akar syaraf C7 keluar pada level C6-C7) dan dibawah
corpus vertebrapada region Torakal dan lumbar (missal radix syaraf T1

11
keluar pada level T1-T2). Radix syaraf cervicalis mengikuti jalur intraspinal
pendek sebelum keluar. Sebaliknya, karena spinal cord berakhir pada
vertebra L1 Atau L2, Radix syaraf lumbar mengikuti jalur intraspinal
panjang dan dapat tercederai dimana saja dari lumbar atas ke tempat
keluarnya di foramen intervertebral. Contohnya, herniasi diskus pada level
L4-L5 umumnya menghasilkan kompresi radix syaraf S1.

Gambar 2. 7 Brain Spinal Cord

2.2 Definisi

Low Back Pain (LBP) merupakan keluhan yang sering dijumpai.


LBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah, dapat
berupa nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya. Nyeri ini terasa
di antara sudut iga terbawah dan lipat bokong bawah yaitu di daerah
lumbal atau lumbosakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke
arah tungkai dan kaki (Dagenais & Haldeman 2012).

12
2.3 Epidemiologi

Low Back Pain mengenai hampir semua usia. Prevalensi seumur


hidup Low Back Pain non spesifik diperkirakan 60-70% di Negara industri
(1 tahun prevalensinya 15-45 %, insiden pada orang dewasa 5 % per
tahun). Angka prevalensi untuk anak-anak dan remaja lebih rendah
daripada orang dewasa, namun angkanya meningkat. Prevalensi
meningkat dan memuncak antara umur 35 dan 55.(Awaji 2016).

2.4 Etiologi

Etiologi Low Back Pain bermacam-macam, yang paling banyak


adalah penyebab sistem neuromuskuloskeletal. Disamping itu, LBP dapat
merupakan nyeri alih dari gangguan sistem gastrointestinal, system
genitourinaria atau sistem kardiovaskuler. Proses infeksi, neoplasma, dan
inflamasi daerah panggul dapat juga menimbulkan Low Back Pain
(Dachlan 2009)
1. Low Back Pain karena Trauma
- Low Back Pain muskular akut (punggung keseleo/sprained back)
terjadi ketika terpapar gaya dari external, seperti tabrakan dengan
seseorang atau ketika mengangkat barang berat,
- Herniasi diskus intervertebral lumbar terjadi ketika diskus
intervertebral hancur dan menekan syaraf didepannya
- Fraktur corpus vertebra traumatik terjadi ketika corpus vertebra
hancur akibat jatuh,dsb.
2. Low Back Pain karena Inflamasi
Spondylitis Tuberculosis atau spondylitis purulen terjadi ketika basili
tuberkel atau bakteri piogenik menghancurkan corpus vertebra atau
diskus intervertebralis. Jika vertebra tehubung seperti bambu, pasien
mengalami ankylosing spondylitis.
3. Low Back Pain karena Tumor
Tumor ganas, seperti kanker paru, kanker lambung, kanker
payudara, kanker prostat, dsb. Terkadang bermetastasis ke kolumna
vertebra lumbar. Ketika tumor seperti neuroma atau angioma

13
berkembang di spinal cord lumbar atau kolumna vertebra lumbar,
pasien merasakan Low Back Pain yang intens.
4. Low Back Pain karena Degenerasi
Degenerasi mengarah pada berkembangnya spondylosis deforman,
degenerasi diskus intervertebralis lumbar, non-spondylolytic lumbar,
Spondylolisthesis, ankylosing spinal hyperostosis, intervertebral
articular low back pain, dan lumbar spinal stenosis.
5. Low Back Pain Karena penyebab lain

Nyeri muncul dari penyakit organ intra abdominal, termasuk liver,


kandung empedu, dan pankreas dan nyeri menjalar juga merupakan
penyakit yang memberikan Low Back Pain. Nyeri juga dapat muncul
dari organ abdomen posterior, seperti uterus, ovarium, dan vesika
urinaria. Keberadaan nyeri psikogenik disertaidengan hysteria dan
depresi juga tidak boleh dilupakan.

2.5 Faktor resiko

Faktor risiko terjadinya Low Back Pain antara lain adalah: usia,
jenis kelamin, indeks masa tubuh (IMT), pekerjaan, aktivitas/olahraga,
faktor psikososial, riwayat cedera punggung sebelumnya, kebiasaan
merokok, dan posisi tubuh.
 Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang memperberat terjadinya
Low Back Pain (LBP), sehingga penyakit ini biasanya diderita oleh
orang berusia lanjut karena penurunan fungsi-fungsi tubuhnya
terutama fungsi tulang sehingga tidak lagi elastis seperti pada waktu
muda.
 Indeks Masa Tubuh (IMT)
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih risiko
timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena beban pada sendi akan
meningkat seiring bertambahnya berat badan, sehingga dapat
menimbulkan terjadinya nyeri pinggang

14
 Riwayat Cedera Punggung Sebelumnya
Satu-satunya alat prediksi terbaik LBP adalah riwayat
cedera/[Link] yang pernah mengalami cedera/trauma
sebelumnya beresiko untuk mengalami LBP dikarenakan faktor
kekambuhan atau karena cedera tersebut berlangsung kronis.
 Pekerjaan
Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan
otot rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara
pengangkatan barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh
selama bekerja, getaran, dan kerja statis. Oleh karena itu, riwayat
pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab LBP.
 Posisi Tubuh
Posisi lumbar yang berisiko menyebabkan terjadinya Low Back
Pain ialah fleksi ke depan, rotasi, dan mengangkat beban yang berat
dengan tangan yang terbentang.
 Aktivitas / Olahraga
Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat
beban pada posisi yang salah dapat menyebabkan nyeri pinggang.
Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau
menekuk ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur
yang tidak menopang spinal. Posisi mengangkat beban dari posisi
berdiri langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi
yang salah, seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok
terlebih dahulu.
 Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap
keluhan Low Back Pain sampai umur 60 tahun. Namun pada
kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi
timbulnya LBP, karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi
misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu proses
menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang

15
akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan
terjadinya LBP.
 Faktor Psikososial
Berbagai faktor psikologis dan sosial dapat meningkatkan risiko
LBP. Kecemasan, stress, depresi, ketidakpuasan kerja, tanggung
jawab, stress di tempat kerja dapat menempatkan orang-orang pada
peningkatan risiko LBP kronis.
 Merokok
Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru
yang diakibatkan adanya kandungan karbon monoksida sehingga
kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai
akibatnya tingkat kesegaran menurun. Apabila yang bersangkutan
melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga maka akan
mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah,
pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi penumpukan asam laktat,
dan akhirnya timbul nyeri otot

2.6 Klasifikasi

Low Back Pain dapat dibagi menjadi akut dan kronis (Bimotiorejo,
2009) :
a. Low Back Pain Akut
Low Back Pain Akut didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi selama
<3 bulan. Penyembuhan sempurna dapat dharapkan hingga 85%
pasien dewasa dengan LBP Akut tanpa nyeri kaki. Kebanyakan
memiliki gejala “mekanis” (eg. Nyeri yang memberat oleh gerakan
dan ringan ketika beristirahat).
b. Low Back Pain Kronis
Adalah nyeri yang berlangsung hingga >12 minggu. Faktor resiko
meliputi obesitas, jenis kelamin perempuan, usia tua, riwayat nyeri
punggung sebelumnya, pergerakan spinal yang terbatas, neri yang
menjalar hingga kaki, stress psikologi level tinggi, aktivitas fisik yang
minimal, merokok, nyeri yang meluas. Kombinasi faktor premorbid

16
ini telah digunakan untuk memprediksi individu LBP Akut mana yang
dapat berkembang menjadi LBP Kronis.

2.7 Patofisiologi

Patofisiologi pada sensasi nyeri punggung bawah dalam hal ini


kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang yang
elastik yang tersusun atas banyak unit vertebrae dan unit diskus
intervertebrae yang diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset,
berbagai ligamen dan otot paravertebralis. Konstruksi punggung yang
unik tersebut memungkinkan fleksibilitas sementara disisi lain tetap
dapat memberikan perlindungan yang maksimal terhadap sum-sum
tulang belakang. Lengkungan tulang belakang akan menyerap
goncangan vertical pada saat berlari atau melompat. Batang tubuh
membantu menstabilkan tulang belakang. Otot-otot abdominal dan
toraks sangat penting ada aktifitas mengangkat beban. Bila tidak
pernah dipakai akan melemahkan struktur pendukung ini. Obesitas,
masalah postur, masalah struktur dan peregangan berlebihan
pendukung tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung.
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia
bertambah tua. Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas
fibrokartilago dengan matriks gelatinus. Pada lansia akan menjadi
fibrokartilago yang padat dan tak teratur. Degenerasi diskus intervertebra
merupakan penyebab nyeri punggung biasa. Diskus lumbal bawah, L4-
L5 dan L5-S6, menderita stress paling berat dan perubahan degenerasi
terberat. Penonjolan diskus atau kerusakan sendi dapat mengakibatkan
penekanan pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis, yang
mengakibatkan nyeri yang menyebar sepanjang saraf tersebut..

2.8 Manifestasi Klinis

Pada umumnya sindroma lumbal adalah nyeri. Sindroma nyeri


muskulo skeletal yang menyebabkan LBP termasuk sindrom nyeri
miofasial dan fibromialgia. Nyeri miofasial khas ditandai nyeri dan nyeri
tekan seluruh daerah yang bersangkutan (trigger points), kehilangan

17
ruang gerak kelompok otot yang tersangkut (loss of range of motion) dan
nyeri radikuler yang terbatas pada saraf tepi. Keluhan nyeri sering hilang
bila kelompok otot tersebut diregangkan. Fibromialgia mengakibatkan
nyeri dan nyeri tekan daerah punggung bawah, kekakuan, rasa lelah, dan
nyeri otot .
Penyebab tersering ialah pembebanan atau distorsi mekanik/fisik
seperti mengangkat barang, terutama pada orang dengan otot dinding
perut atau pinggang dan punggung yang kurang kuat. Nyeri terjadi pada
gerakkan ke depan, ke lumbosacral dengan atau tanpa nyeri alih ke
region gluteal. Bila beristirahat, nyeri menghilang (Sjamsuhidajat, R & Wim
2004).

2.9 Diagnosa

1. Anamnesa
Dalam anamnesis perlu ditanyakan kapan dan bagaimana
mulai timbulnya, lokasi nyeri, sifat nyeri, kualitas nyeri, apakah nyeri
yang diderita diawali dengan kegiatan fisik, faktor yang
memperberat atau memperingan, ada riwayat trauma sebelumnya
dan apakah ada keluarga penderita penyakit yang sama. Adanya
riwayat mengangkat beban yang berat dengan sikap tubuh yang
salah dan berulangkali, kegiatan fisik atau olahraga yang tidak
biasa. Sifat nyeri yang tajam, menusuk dan berdenyut, seringkali
bersumber dari sendi, tulang dan ligamen. Sedangkan rasa pegal,
biasanya berasal dari otot. Nyeri yang disertai dengan penjalaran
ke arah tungkai menunjukkan adanya keterlibatan radiks saraf.
Sedangkan nyeri yang berpindah-pindah dan tidak wajar, sangat
mungkin merupakan nyeri psikogenik. Harus pula diperhatikan
adanya gangguan miksi dan defekasi untuk mengetahui gangguan
pada radiks saraf. Hal lain yang perlu diketahui adalah adanya
demam selama beberapa waktu terakhir untuk menyingkirkan
kemungkinan infeksi, misalnya spondilitis. Riwayat penyakit

18
terdahulu dan riwayat pekerjaan harus diketahui untuk
mempertajam penegakan diagnosis.

2. Pemeriksaan Fisik
 Inspeksi
Amati langkah penderita yang pincang, posisi berdiri, adanya
deformitas vertebra (lordosis lumbar, skoliosis) penonjolan
otot (spasme paravertebral), dan sikap penderita.
 Palpasi dan perkusi
Palpasi dan perkusi memakai hammer pada penonjolan
(spasme otot) dan prosessus spinosus lumbar untuk mencari
lokasi nyeri atau sumber nyeri.
3. Pemeriksaan Fisik Khusus / Neurologis
Pemeriksaan neurologis ini dilakukan untuk mengetahui
adakah kelainan neurologis yang berperan dalam kejadian LBP
ini.
 Tanda rangsangan saraf
a. Tes lasegue (straight leg raising)
Tungkai difleksikan pada sendi coxa sedangkan sendi lutut
tetap lurus. Saraf ischiadicus akan tertarik. Bila nyeri
pinggang dikarenakan iritasi pasa saraf ini maka nyeri akan
dirasakan pada sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari
pantat sampai ujung kaki.

b. Crossed lasegue
Bila tes lasegue pada tungkai yang tidak sakit menyebabkan
rasa nyeri pada tungkai yang sakit maka dikatakan crossed
lasegue positif. Artinya ada lesi pada saraf ischiadicus atau
akar-akar saraf yang membentuk saraf ini.

c. Tes kernig
Sama dengan lasegue hanya dilakukan dengan lutut fleksi,
setelah sendi coxa 90 derajat dicoba untuk meluruskan sendi
lutut

19
d. Patrick sign (FABERE sign)
FABERE merupakan singkatan dari fleksi, abduksi, external,
rotasi, extensi. Pada tes ini penderita berbaring, tumit dari
kaki yang satu diletakkan pada sendi lutut pada tungkai yang
lain. Setelah ini dilakukan penekanan pada sendi lutut
hingga terjadi rotasi keluar. Bila timbul rasa nyeri maka hal
ini berarti ada suatu sebab yang non neurologik misalnya
coxitis.

e. Chin chest maneuver


Fleksi pasif pada leher hingga dagu mengenai dada.
Tindakan ini akan mengakibatkan tertariknya myelum naik ke
atas dalam canalis spinalis. Akibatnya maka akar-akar saraf
akan ikut tertarik ke atas juga, terutama yang berada di
bagian thorakal bawah dan lumbal atas. Jika terasa nyeri
berarti ada gangguan pada akar-akat saraf tersebut

f. Neri’s sign
Penderita berdiri lurus. Bila diminta untuk membungkuk ke
depan akan terjadi fleksi pada sendi lutut sisi yang sakit.

g. Ober’s sign
Penderita tidur miring ke satu sisi. Tungkai pada sisi tersebut
dalam posisi fleksi. Tungkai lainnya di abduksikan dan
diluruskan lalu secara mendadak dilepas. Dalam keadaan
normal tungkai ini akan cepat turun atau jatuh ke bawah. Bila
terdapat kontraktur dari fascia lata pada sisi tersebut maka
tungkainya akan jatuh lambat.

h. Viets dan naffziger test


Penekanan vena jugularis dengan tangan (viets)atau dengan
manset sebuah alat ukur tekanan darah hingga 40
mmhg(naffziger)

i. Percobaan Perspirasi

20
Percobaan ini untuk menunjukkan ada atau tidaknya
gangguan saraf autonom, dan dapat pula untuk
menunjukkan lokasi kelainan yang ada yaitu sesuai dengan
radiks atau saraf spinal yang terkena.

 Pemeriksaan motorik dan sensorik Pemeriksaan motorik


harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan
kedua sisi untuk menemukan abnormalitas motoris yang
seringan mungkin dengan memperhatikan miotom yang
mempersarafinya. Pemeriksaan sensorik akan sangat
subjektif karena membutuhkan perhatian dari penderita dan
tak jarang keliru, tetapi tetap penting arti diagnostiknya
dalam membantu menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai
dengan dermatom yang terkena. Gangguan sensorik lebih
bermakna dalam menunjukkan informasi lokalisasi dibanding
motoris.
 Pemeriksaan refleks Refleks patella terutama
menunjukkan adanya gangguan dari radiks LIV dan kurang
dari LII dan LIII. Refleks tumit predominan dari SI. Harus
dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila
ada hiperefleksia yang menunjukkan adanya suatu
gangguan upper motor neuron (UMN).

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis kasus LBP
biasanya tidak spesifik. Foto rontgen biasa (plain photos) sering
terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai penyempitan
ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan degeneratif,
dan tumor spinal. Pemeriksaan sinar X, magnetic resonance
imaging (MRI) atau computerized tomography scan (CTScan),
dual energy x-ray absorbtiometry (DEXA) atau myelography
dapat dilakukan sesuai dengan indikasi. Namun, pemeriksaan
ini tidak menunjukkan adanya korelasi dengan gejala LBP pada

21
pasien, kecuali pada kondisi tertentu seperti gangguan pada
diskus, kelainan pada tulang belakang, maupun adanya
keganasan (Winata 2014).

2.10 Managemen

Tujuan penatalaksanaan LBP pada prinsipnya adalah untuk


menghilangkan nyeri,mengembalikan aktivitas dan gerakan pada fungsi
sebelumnya dan mencegah untuk kambuh.
Terapi Farmakologi
Terapi farmakologik dengan obat analgesik, penggunaan
narkotika terbatas pada nyeri akut, karena penggunaannya pada
nyeri kronik, akan meningkatkan daya fungsional. Tujuan farmakoterapi
adalah mengurangi nyeri dan inflamasi. Digunakan non steroid anti-
inflamatory drugs (NSAID) nyeri ringan dan sedang. Steroid dapat
digunakan terutama bila ada proses inflamasi. Pemberian steroid injeksi
epidural dapat menghilangkan nyeri, namun terdapat komplikasi. Untuk
mengurangi spasme otot, digunakan muscle relaxants. Untuk LBP yang
berat dapat digunakan kombinasi NSAID, steroid dan muscle relaxants
dengan dosis terbagi. Disamping itu untuk mengatasi nyeri dapat
digunakan terapi non farmakologik seperti ultrasound, short wave ,
TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), Corsets,
Accupunture, Traksi atau manipulasi (latihan fisik) (Dachlan, 2009).

Terapi Fisik untuk penyembuhan Low Back Pain


Bentuk paling umum terapi fisik meliputi:
1. Terapi Fisik Pasif (Modalitas)
Meliputi alat yang diberikan kepada pasien, seperti
penggunaan pemanas, ice pack, dan stimulasi elektrik. Sebagai
contoh: heating pad dapat digunakan untuk menghangatkan otot
sebelum melakukan latihan atau peregangan, dan ice pack dapat
digunakan setelah meringankan otot dan jaringan lunak . Terapi
fisik pasif meliputi (Dickerman 2005):

22
- Terapi panas dan dingin
Pemanas dan es adalah modalitas yang paling umum dan
mudah tersedia. Setiap tipe terapi membantu mengurangi
spasme otot dan inflamasi. Beberapa pasien merasa
nyerinya semakin ringan dengan terapi panas dengan heat
pack dan lainnya dengan terapi dingin dengan pijat
[Link] terapi diakukan 10-20 menit sekali tiap 2 jam,
dan lebih berguna pada fase awal episode nyeri.
- TENS Units sebagai Elektroterapi
Sebuah unit Transcutaneous Electrical Nerve
Stimulator, menggunakan stimulasi elektrik untuk
memodulasi sensasi Low Back Pain dengan mengutamakan
sinyal nyeri yang dikirim ke otak.
- Ultrasound Diathermy
Adalah bentuk pemanasan dalam yang menggunakan
gelombang suara ke kulit dan penetrasi ke jaringan lunak.
Berguna meringankan nyeri episode akut dan meningkatkan
penyembuhan jaringan.

2. Terapi fisik aktif,


Fokus pada latihan dan peregangan spesifik. Untuk terapi
LBP tersering, terapi fisik aktif adalah fokus program terapi fisik
(Dickerman, 2005). Terapi fisik aktif meliputi:
- William Flexion Exercise
William Flexion Exercise banyak ditujukan pada
pasien-pasien kronik LBP dengan kondisi degenerasi corpus
vertebra sampai pada degenerasi diskus. Program latihan ini
telah berkembang dan banyak ditujukan pd laki-laki dibawah
usia 50-an & wanita dibawah usia 40-an yang mengalami
lordosis lumbal yang berlebihan, penurunan space diskus
antara segmen lumbal & gejala-gejala kronik LBP. William
flexion exercise telah menjadi dasar dalam manajemen nyeri

23
pinggang bawah selama beberapa tahun untuk mengobati
beragam problem nyeri pinggang bawah berdasarkan
temuan diagnosis. Dalam beberapa kasus, program latihan
ini digunakan ketika penyebab gangguan berasal dari facet
joint (kapsul-ligamen), otot, serta degenerasi corpus dan
diskus .
Tujuan dari William Flexion Exercise adalah untuk
mengurangi nyeri, memberikan stabilitas lower trunk melalui
perkembangan secara aktif pada otot abdominal, gluteus
maximus, dan hamstring, untuk menigkatkan fleksibilitas
atau elastisitas pada group otot fleksor hip dan lower back
(sacrospinalis), serta untuk mengembalikan /atau
menyempurnakan keseimbangan kerja antara group otot
postural fleksor & ekstensor. Selain itu juga meningkatkan
kekuatan otot abdominal dan lumbosacral serta mengulur
back ekstensor s.
Indikasi dari William Flexion Exercise adalah
spondylosis, spondyloarthrosis, dan disfungsi sendi facet
yang menyebabkan nyeri pinggang bawah. Kontraindikasi
dari William Flexion Exercise adalah gangguan pada diskus
seperti disc. bulging, herniasi diskus, atau protrusi diskus.

24
Gambar 2. 8 William’s Flexion Exercise

Terapi Operatif
Pada dasarnya terapi operatif dilakukan jika dengan tindakan
konservatif tidak memberikan hasil yang nyata. Atau terhadap kasus
fraktur yang langsung mengakibatkan deficit neurologic, yang dapat
diketahui adalah gangguan fungsi otonom dan paraplegia.

25
Rehabilitasi
Tujuan dari rehabilitasi adalah mengupayakan agar penderita dapat
segera bekerja seperti semula dan tidak timbul LBP lagi di kemudian hari.
Agar penderita tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam
melakukan kegiatan sehari-hari.

2.11 Pencegahan

Pencegahan ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang


yang sehat (tetapi memiliki faktor resiko) agar tetap sehat atau mencegah
orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan dapat dilakukan dengan:
a. Lakukan aktivitas yang cukup yang tidak terlalu berat
b. Selalu duduk dalam posisi yang tepat.
Duduk harus tegap, sandaran tempat duduk harus tegak lurus,
tidak boleh melengkung. Posisi duduk berarti membebani tulang
belakang 3-4 kali berat badan, apalagi duduk dalam posisi yang
tidak tepat. Sementara pada posisi berdiri, punggung hanya
dibebani satu setengah kali berat badan normal.
c. Jangan terlalu lama duduk.
Untuk orang normal, cukup satu setengah jam hingga dua jam.
Setelah itu, sebaiknya berdiri dan lakukan peregangan dan duduk
lagi lima menit kemudian.
d. Jangan membungkuk ketika berdiri atau duduk.
Ketika berdiri, jaga titik berat badan agar seimbang pada kaki. Saat
bekerja di rumah atau di kantor, pastikan permukaan pekerjaan
berada pada ketinggian yang nyaman untuk bekerja.
e. Jika tidur, pilih tempat tidur yang baik, misalnya yang memiliki
matras (kasur) yang kuat (firm), sehingga posisi tidur tidak
melengkung. Yang paling baik adalah tidur miring dengan satu
bantal di bawah kepala dan dengan lutut yang dibengkokkan. Bila
tidur terlentang sebaiknya diletakkan bantal kecil di bawah lutut.
f. Lakukan olah raga teratur. Pilih olah raga yang berfungsi
menguatkan otot-otot perut dan tulang belakang, misalnya sit up.

26
Postur tubuh yang baik akan melindungi dari cedera sewaktu
melakukan gerakan, karena beban disebarkan merata keseluruh
bagian tulang belakang.
g. Berjalan rileks dengan sikap tubuh tegak.
h. Bila mengendarai mobil, jok mobil jangan terlalu digeser ke
belakang hingga posisi tungkai hampir lurus.
i. Kenakan sepatu yang nyaman dan bertumit rendah.
j. Jangan mengangkat dengan membungkuk. Angkat objek dengan
menekuk lutut dan berjongkok untuk mengambil objek. Jaga
punggung lurus dan terus dekatkan objek ke tubuh. Hindari
memutar tubuh saat mengangkat. Lebih baik mendorong daripada
menarik ketika harus memindahkan benda berat. Minta bantuan
orang lain bila mengangkat benda yang berat.
k. Jaga nutrisi dan diet yang tepat untuk mengurangi dan mencegah
berat badan berlebihan, terutama lemak di sekitar pinggang. Diet
harian yang cukup kalsium, fosfor, dan vitamin D membantu
menjaga pertumbuhan tulang baru.
l. Berhenti merokok. Merokok mengurangi aliran darah ke tulang
punggung bagian bawah dan menyebabkan cakram tulang
belakang mengalami degenerasi

27
Gambar 2. 9 Pencegahan Low Back Pain

28
BAB III
KESIMPULAN

Low Back Pain (LBP) merupakan keluhan yang sering dijumpai.


LBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah, dapat
berupa nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya.
Etiologi Low Back Pain bermacam-macam, yang paling banyak
adalah penyebab sistem neuromuskuloskeletal. Disamping itu, LBP dapat
merupakan nyeri alih dari gangguan sistem gastrointestinal, system
genitourinaria atau sistem kardiovaskuler.
Tujuan penatalaksanaan LBP pada prinsipnya adalah untuk
menghilangkan nyeri,mengembalikan aktivitas dan gerakan pada fungsi
sebelumnya dan mencegah untuk kambuh, meliputi :
 Terapi Farmakologi
 Terapi Fisik
 Terapi Operatif
 Rehabilitasi

29
DAFTAR PUSTAKA

Awaji, M., 2016. Epidemiology of Low Back Pain in Saudi Arabia. Journal
of Advances in Medical and Pharmaceutical Sciences, 6(4), pp.1–9.

Biyani, A. & Andersson, G.B.J., 2004. Low back pain: pathophysiology and
management. The Journal of the American Academy of Orthopaedic
Surgeons, 12(2), pp.106–115.

Cohen, M.J., Jangro, W.C. & Neff, D., 2017. Pathophysiology of Pain. In
Challenging Neuropathic Pain Syndromes: Evaluation and Evidence-
Based Treatment. pp. 1–5.

Dachlan, L.M., 2009. Pengaruh Back Exercise pada Low Back Pain. In
tesis magister program studi pendidikan profesi kesehatan universitas
sebelas maret. surakarta.

Dagenais, S. & Haldeman, S., 2012. Evidence-Based Management of Low


Back Pain,

Dickerman, R., 2005. Physical Therapy for low back pain Relief. Available
at: [Link]/treatment/physical-therapy-low-back-pain-
relief.

Hansen, Tj., 2014. Netter’s Clinical Anatomy 3rd Edition, Philadelphia:


Elsevier.

Kapanji, L.A., 1990. The Physiology of Joint volume 3., USA: Churchill
Livingstone.

Patrianingrum, M., Oktaliansah, E. & Surahman, E., 2015. Prevalensi dan


Faktor Risiko Nyeri Punggung Bawah di Lingkungan Kerja
Anestesiologi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Jurnal
Anestesi Perioperatif, 3(1), pp.47–56.

Sjamsuhidajat, R & Wim, 2004. BUKU AJAR ILMU BEDAH (edisi 3). In
Jakarta ECG 9789790440463. pp. 1–954.

30
Syuhada, A.D., Suwondo, A. & Setyaningsih, Y., 2018. Faktor Risiko Low
Back Pain pada Pekerja Pemetik Teh di Perkebunan Teh Ciater
Kabupaten Subang. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 13(1),
p.91.

Winata, D.S., 2014. Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyeri Punggung


Bawah dari Sudut Pandang Okupasi. Jurnal Kedokteran Meditek,
20(54), pp.20–27. Available at: [Link]
Full [Link].

31

Anda mungkin juga menyukai