Neuropati Diabetik pada Wanita 67 Tahun
Neuropati Diabetik pada Wanita 67 Tahun
KASUS MEDIK
Disusun oleh:
dr. Erviana Agustiani
Pendamping:
dr. Ken Mardyanah
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesunguhnya.
Pendamping,
3
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat sakit diabetes sejak 4 tahun lalu
Pasien tidak memiliki memiliki sakit darah tinggi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi
Pasien tidak memiliki riwayat jantung
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien menderita kencing manis
5. Riwayat Sosio-Ekonomi
Pasien telah menikah dan mempunyai 2 orang anak. Sekarang ini pasien tinggal
bersama istri dan anaknya.
DAFTAR PUSTAKA :
[Link] R. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : buku ajar ilmu penyakit
dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Jilid III. Edisi V. Jakarta :
InternaPublising, 2009; 1880.
[Link] S. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia
2011. Jakarta : PERKENI, 2011;4.
[Link] J. Elizabeth. Pankreas dan Diabetes Melitus. Dalam : Buku Saku Patofisiologi.
Edisi III; Alih bahasa, Subekti N. Budhi [et. al]editor bahasa [Link]
:EGC,2009.
[Link]. Konsensus Pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia.
2006. Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Jakarta. 2006.
[Link] Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 .2006.
[Link]
[Link].
6. Duby JJ, Campbell RK, Setter SM, dkk. Diabetic neuropathy: an intensive review. Am J
Health-Syst Pharm 2004;61(2):160-76.
7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simandibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid III. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2009
8. Meliala, L; Andradi, S. ; Purba, J.S.; Anggraini, H : Nyeri Neuropati Diabetik dalam :
Penuntun Praktis Penanganan Nyeri Neuropatik. Pokdi Nyeri PERDOSSI, 2000.
9. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : penerbit
FKUI. 2013.
4
10. Hastuti T. Uji Reabilitas Skor DNE untuk menentukan Diagnosis Klinis Neuropti
Diabetika. Yogyakarta; Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada. 2003.
HASIL PEMBELAJARAN :
1. Mengetahui penegakkan diagnosis Neuropati Diabetik
2. Mengetahui penatalaksanaan Neuropati Diabetik
I. SUBJECTIVE
Status Generalis
Kesadaran : kompos mentis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Berat badan : 65 Kg Tinggi badan: 155 cm
BMI : 27,08 (Over weight)
Tanda-tanda vital :
Frekuensi Nadi : 88 kali/menit. kuat angkat, irama teratur, isi cukup,
equal.
Tekanan Darah : 130/70 mmHg
Frekuensi Nafas : 20 kali/menit, teratur
Suhu : 36.7oC (axilla)
Head To Toe
Kepala : normochepal, distribusi rambut merata, warna hitam, tidak mudah dicabut .
5
Wajah : simetris.
Mata : mata tampak tidak cekung, tidak ada konjungtiva anemic, tidak ada sklera
ikterik, kornea jernih, pupil bulat, isokor diameter 3 mm/3mm, shadow test -/- ,reflex cahaya
langsung (+/+), reflex cahaya tidak langsung (+/+)
Hidung : bentuk hidung normal, tidak ada deviasi septum nasi, tidak ada secret.
Telinga : bentuk normal, tidak ada secret.
Mulut : bibir tidak sianotik, mukosa bibir lembab, lidah tidak kotor dan tidak tremor,
gusi tidak membesar, tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis.
Leher : KGB tidak teraba pembesaran. trakea ditengah, tekanan vena jugularis tidak
diukur.
Thoraks: tidak tampak retraksi dada. Simetris saat statis dan dinamis
Paru :
Inspeksi : Tidak Ada retraksi, simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : vocal fremitus simetris kanan kiri.
Perkusi : Sonor dikedua lapang paru
Auskultasi : Bunyi suara nafas vesikuler, wheezing -/- dan ronchi -/-
Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak nampak
Palpasi : Ictus kordis teraba di ICS IV linea midclavicula sinistra
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Bunyi Jantung 1 dan II regular, Tidak ada murmur dan gallop
Abdomen :
Inspeksi : Agak cembung, supel, tidak ada luka / sikatrik / perdarahan.
Auskultasi : Bising usus (+).
Perkusi : Timpani
Palpasi : BU normal, turgor baik, supel, tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien
tidak teraba.
Ekstremitas : Akral hangat, tidak ada sianosis, edema (-), CRT < 2”
Pemeriksaan neurologis:
Refleks fisiologis :
KPR : (+/+) normal Biceps : (+/+) normal
APR : (+/+) normal Triceps: (+/+) normal
6
Refleks patologis :
Babinski: (-) Oppenheim: (-)
Chaddock: (-)
Kekuatan otot ekstremitas atas 5555/5555
Kekuatan otot ekstremitas bawah 5555/5555
Sensorik : baik
Pemeriksaan Penunjang :
IV. PLAN
Medikamentosa
- Metformin 3x500 mg
- Gabapentin 3x300 mg
- Simvastatin 1x10 mg
- Neurodex 2x1
Non Medikamentosa
- Evaluasi medis berkala (cek GDS/GDP setiap 1 bulan sekali)
- Edukasi (pola makan, pemakaian obat, aktivitas fisik)
- Aktivitas fisik sedang dianjurkan 150 menit/ minggu)
[Link]
Qua ad vitam : dubia ad boman
Qua ad fuctionam : dubia ad bonam
Qua ad sanationam : dubia ad bonam
7
VI. TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia (meningkatanya kadar gula darah) yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.
Neuropati diabetik (ND) merupakan salah satu komplikasi kronis paling sering
ditemukan pada diabetes melitus. Resiko yang dihadapi pasien diabetes melitus dengan
neuropati diabetik antara lain ialah infeksi berulang, ulkus yang tidak sembuh-sembuh dan
amputasi jari/kaki.
Neuropati diabetika adalah suatu gangguan pada syaraf perifer, otonom dan syaraf
cranial yang ada hubunganya dengan diabetes melitus. Keadaan ini disebabkan oleh
kerusakan mikrovaskuler yang disebabkan oleh diabetes yang meliputi pembuluh darah yang
kecil-kecil yang memperdarahi syaraf (vasa nervorum). Gangguan neuropati ini termasuk
manifestasi somatik dan atau otonom dari sistem saraf perifer.
2. ETIOLOGI
Nyeri neuropatik dapat timbul dari kondisi yang mempengaruhi system saraf tepi
atau pusat. Gangguan pada otak dan korda spinalis, seperti multiple sclerosis, stroke, dan
spondilitis atau mielopati post traumatic dapat menyebabkan nyeri neuropatik. Gangguan
8
system saraf tepi yang terlibat dalam proses nyeri neuropatik termasuk penyakit pada saraf
spinalis, ganglia dorsalis, dan saraf tepi. Kerusakan pada saraf tepi yang dihubungkan dengan
amputasi, radikulopati, carpal tunnel syndrome, dapat menimbulkan nyeri neuropatik.
Aktivasi nervus simpatetik yang abnormal, pelepasan katekolamin, aktivasi free nerve
endings atau neuroma dapat menimbulkan sympathetically mediated pain. Nyeri neuropatik
juga dapat dihubungkan dengan penyakit infeksius yang paling sering adalah HIV.
Cytomegalovirus, yang sering ada pada penderita HIV, juga dapat menyebabkan low back
pain, radicular pain, dan mielopati. Nyeri neuropati adalah hal yang paling sering dan penting
dalam morbiditas pasien keganasan. Nyeri pada pasien keganasan dapat timbul dari
kompresi tumor pada jaringan saraf atau kerusakan system saraf karena radiasi atau
kemoterapi.
2. Mielopati HIV
3. Multiple sclerosis
4. Penyakit Parkinson
9
6. Mielopati post radiasi
9. Siringomielia
3. KLASIFIKASI
Banyak klasifikasi dari Neurophaty Diabetik yang telah dikemukakan, tetapi untuk
mencapai pendekatan secara klinis, keterlibatan pengertian neurophaty dapat digunakan
untuk menambah diagnosis dan perawatan dari berbagai macam. Dalam sistem seperti ini,
manifestasi Neurophaty Diabetik dibagi kedalam 2 (dua) kategori, somatic dan visceral:
a) Somatic (peripheral) Neurophaty
Jenis neuropati ini merusak saraf di lengan dan tungkai, dimana kaki dan
tungkai biasanya lebih dulu terkena dari pada tangan dan lengan. pada banyak
penderita diabetes mellitus dapat ditemukan gejala neuropati pada pemeriksaan, akan
tetapi penderita tidak merasakanya sama sekali. Gejala biasanya dirasakan lebih berat
pada malam hari. Neuropati perifer juga bisa menyebabkan kelemahan otot dan
hilangnya refleks, terutama refleks tumit yang menyebabkan perubahan cara jalan
dan juga bisa menyebabkan deformitas pada kaki seperti hammertoes dan kollaps
dari midfoot. Bisa terlihat luka-luka pada kaki yang terjadi pada daerah yang kurang
rasa, karena kerusakan yang disebabkan oleh tekanan. Bila tidak diobati dengan
segera, maka bisa terjadi infeksi sampai tulang dan bisa harus dilakukan amputasi.
Ekstremitas bawah: Foot drop, Diabetik amyotrophy; Ekstremitis atas: Carpal-
Tunnel Syndrome (Median Nerve), Clawhand Syndrome (Ulnar Nerve).
b) Visceral neuropathy
Jenis neuropati ini mengenai saraf yang mengontrol jantung, mengurus
tekanan darah dan mengatur kadar gula darah, juga mengenai organ dalam yang
menyebabkan gangguan pencernaan, pernafasan, miksio, respon seksual dan
penglihatan. Selain itu sistem yang memperbaiki kadar gula ke normal setelah terjadi
suatu episode hipoglikemia bisa terkena, sehingga terjadi hilangnya tanda-tanda
peringatan terjadinya hipoglikemi seperti keringat dingin dan palpitasi.
Tidak sadarnya karena suatu hipoglikemia: biasanya akan terjadi gejala-
gejala seperti gemetar, bila gula darah menurun samapi dibawah 70 mg%,
10
sedangkan pada neuropati otonom hal ini tidak terjadi sehingga hipoglikemi
sukar dideteksi. Namun ada problem lain yang bisa menyebabkan ini,
sehingga hal ini tidak selalu berarti adanya kerusakan syaraf.
Jantung dan sistem sirkulator adalah sistem dari kardiovaskuler, yang
mengontrol sirkulasi darah. Kerusakan di sistem kardiovaskuler mengganggu
kemampuan badan untuk mengatur tekanan darah dan denyut jantung
sehingga tekanan darah dapat turun dengan mendadak setelah duduk atau
berdiri dan menyebabkan penderita merasakan kepala yang enteng atau
malahan [Link] pada saraf yang mengatur denyut jantung dapat
menyebabkan denyut yang lebih tinggi(tidak naik dan turun) sebagai respon
terhadap fungsi badan yang normal dan pada latihan.
Sistem pencernaan: Kerusakan pada saraf saluran pencernaan biasanya
menyebabkan konstipasi. Selain itu bisa juga menyebabkan pengosongan
lambung yang terlalu lambat sehingga bisa menyebabkan gasttroparesis.
Gastroparesis yang berat menyebabkan nausea dan muntah yang persisten dan
tidak nafsu makan. Gastroparesis juga bisa menyebabkan fluktuasi gula
darah, disebabkan pencernaan makanan yang abnormal. Kerusakan
oesophagus bisa menyebabkan kesukaran menelan, sedangkan kerusakan
pada usus menyebabkan konstipasi bergantian dengan diare yang sering dan
tidak terkontrol pada malam hari dan problema-problema ini dapat
menyebabkan penurunan berat badan.
Traktus urinarius dan organ reproduksi: neuropati otonom sering kali
mempengaruhi organ-organ yang mengontrol miksio dan fungsi seksual.
kerusakan saraf menghalangi pengosongan sempurna dari kandung kemih
sehingga bakteri dapat tumbuh di dalam kandung kemih dan ginjal sehingga
dapat menyebabkan infeksi pada traktus urinarius. Bila saraf yang mengurus
kandung kemih terganggu dapat terjadi inkotinesia urin karena tidak
merasakan kapan kandung kemih penuh atau tidak bisa mengontrol otot-otot
yang melepaskan urin.
Kelenjar keringat: neuropati otonom dapat mengenai saraf-saraf yang
mengurus keringat. Kerusakan saraf mencegah bekerjanya kelenjar keringat
dengan baik, sehingga badan tidak dapat mengatur suhu tubuh dengan baik
11
dan ini bisa menyebabkan keringat berlebihan pada malam hari atau sewaktu
makan.
b) Neuropati Fokal
- Neuropati cranial
- Radikulopati /pleksopati
- Entrapment neuropati
12
Klasifikasi ND di atas berdasarkan anatomi serabut saraf perifer yang secara umum
dibagi atas 3 sistem yaitu system motorik, sensorik dan system autonom. Manifestasi klinis
ND bergantung dari jenis serabut saraf yang mengalami lesi. Mengingat jenis serabut saraf
yang terkena lesi bisa yang kecil atau besar, lokasi proksimal atau distal, fokal atau difus ,
motorik atau sensorik atau autonom, maka manifestasi klinis ND menjadi bervariasi, mulai
kesemutan ; kebas, tebal ; mati rasa ; rasa terbakar ; seperti ditusuk ; disobek, ditikam.
4. PATOGENESIS
13
a. Faktor metabolik
Proses terjadinya ND berawal dari hiperglikemia yang berkepanjangan. Teori ini
mengemukakan, bahwa hiperglikemia menyebabkan kadar glucose intra seluler
yang meningkat, sehingga terjadi kejenuhan (saturation) dari jalur glikolitik yang
biasa digunakan (normal usedglycolitic pathway). Hiperglikemia persisten
menyebabkan aktivitas jalur poliol meningkat, yaitu terjadi aktivasi enzim
aldose-reduktase, yang merubah glukosa menjadi sorbitol, yang kemudian
dimetabolisasi oleh sorbitol dehidrogenase menjadi fruktosa. Akumulasi sorbitol
dan fruktosa dalam sel saraf merusak sel saraf melalui mekanisme yang belum
jelas. Salah satu kemungkinannya ialah akibat akumulasi sorbitol dalam sel saraf
menyebabkan keadaan hipertonik intraseluler sehingga mengakibatkan edem
saraf. Peningkatan sintesis sorbitol berakibat terhambatnya mioinositol masuk ke
dalam sel saraf. Penurunan mioinositol dan akumulasi sorbitol secara langsung
menimbulkan stress osmotik yang akan merusak mitokondria dan akan
menstimulasi protein kinase C (PKC). Aktivasi PKC ini akan menekan fungsi
Na-K-ATP-ase, sehingga kadar Na intraseluler menjadi berlebihan, yang
berakibat terhambatnya mioinositol masuk ke dalam sel saraf sehingga terjadi
gangguan transduksi sinyal pada saraf.
Reaksi jalur poliol ini juga menyebabkan turunnya persediaan NADPH saraf
yang merupakan kofaktor penting dalam metabolisme oksidatif. Karena NADPH
merupakan kofaktor penting untuk glutathione dan nitric oxide synthase (NOS),
pengurangan kofaktor tersebut membatasi kemampuan saraf untuk mengurangi
radikal bebas dan penurunan produksi nitric oxide (NO).
14
optimal. Tetapi bila kerusakan metabolic ini berlanjut menjadi kerusakan
iskemik, maka kerusakan struktural akson tersebut tidak dapat diperbaiki lagi.
b. Kelainan Vaskular
Penelitian membuktikan bahwa hiperglikemia juga mempunyai hubungan
dengan kerusakan mikrovaskular. Hiperglikemia persisten merangsang produksi
radikal bebas oksidatif yang disebut reactive oxygen species (ROS). Radikal
bebas ini membuat kerusakan endotel vaskular dan menetralisasi NO, yang
berefek menghalangi vasodilatasi mikrovaskular. Mekanisme kelainan
mikrovaskular tersebut dapat melalui penebalan membrana basalis, thrombosis
pada arteriol intraneural, peningkatan agregasi trombosit dan berkurangnya
deformabilitas eritrosit, berkurangnya aliran darah saraf dan peningkatan
resistensi vascular, stasis aksonal, pembengkakan dan demielinisasi pada saraf
akibat iskemia akut. Kejadian neuropati yang didasari oleh kelainan vascular
masih bisa dicegah dengan modifikasi faktor risiko kardiovaskular, yaitu kadar
trigliserida yang tinggi, indeks massa tubuh, merokok dan hipertensi.
15
c. Mekanisme imun
Suatu penelitian menunjukkan bahwa 22% dari 120 penyandang DM tipe 1
memiliki complement fixing antisciatic nerve antibodies dan 25% DM tipe 2
memperlihatkan hasil yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa antibodi tersebut
berperan pada pathogenesis ND. Bukti lain yang menyokong peran antibodi
dalam mekanisme patogenik ND adalah adanya antineural antibodies pada
serum sebagian penyandang DM. Autoantibody yang beredar ini secara langsung
dapat merusak struktur saraf motorik dan sensorik yang bisa di deteksi dengan
imunofloresens indirek. Disamping itu adanya penumpukan antibody dan
komplemen pada berbagai komponen saraf suralis memperlihatkan kemungkinan
peran proses imun pada pathogenesis ND.
5. GAMBARAN KLINIS
16
Akibatnya,mengakibatkan bisul dan infeksi pada kaki dan telapak kaki, yang
dapat menyebabkan amputasi. Demikian juga,bisa mengenai tulang dari
pergelangan kaki, lutut atau kaki, dabersama Charcot. Kehilangan hasil fungsi
motor di dorsofleksi, kontraktur jari-jari kaki, kehilangan fungsi otot interoseus
dan menyebabkan kontraksi dari angka, yang disebut jari kaki palu. Kontraktur ini
terjadi tidak hanya di kaki, tetapi juga di tangan yaitu hilangnya otot yang
membuat tangan tampak kurus dan tulang. Hilangnya fungsi otot progresif.
b. Neuropati otonom
Sistem saraf otonom terdiri dari saraf melayani jantung, sistem pencernaan
dan sistem genitourinari. Neuropati otonom dapat mempengaruhi salah satu
sistem organ. Disfungsi otonom paling umum dikenal pada penderita diabetes
adalah hipotensi ortostatik, atau pingsan saat berdiri. Dalam kasus diabetes
neuropati otonom, itu adalah karena kegagalan jantung dan arteri untuk tepat
menyesuaikan nada denyut jantung dan pembuluh darah untuk menjaga darah
terus-menerus dan sepenuhnya mengalir ke otak. Gejala ini biasanya disertai
dengan hilangnya perubahan yang biasa dalam denyut jantung dilihat dengan
napas normal. Kedua temuan ini menunjukkan neuropati otonom.
Manifestasi saluran pencernaan termasuk gastroparesis, mual, kembung, dan
diare. Karena banyak penderita diabetes minum obat oral untuk diabetes
mereka, penyerapan obat-obatan sangat dipengaruhi oleh pengosongan
lambung tertunda. Hal ini dapat menyebabkan hipoglikemia bila agen
diabetes oral diambil sebelum makan dan tidak bisa diserap sampai jam, atau
kadang-kadang hari kemudian, ketika ada gula darah normal atau rendah
sudah. Gerakan lamban dari usus kecil dapat menyebabkan pertumbuhan
bakteri yang berlebihan, diperparah dengan kehadiran hiperglikemia. Hal ini
menyebabkan kembung, gas dan diare.
Gejala urin meliputi frekuensi, urgensi kemih, inkontinensia dan retensi.
Sekali lagi, karena retensi urin, infeksi saluran kemih sering terjadi. Retensi
urin dapat menyebabkan divertikula kandung kemih, batu, nefropati refluks.
17
c. Mononeuropati
Pada N. Spinalis
Pada N. Kranialis
Neuropati diabetika bisa timbul dalam berbagai bentuk gejala sensorik, motorik
dan otonom, harus dibuat daftar terstruktur untuk anamnesa.
a. Gejala sensorik bisa merupakan gejala negatif atau positif, difus atau lokal.
Gejala sensorik yang negatif adalah rasa tebal, baal, gangguan berupa sarung
tangan/kaus kaki (glove and stocking), seperti berjalan diatas tongkat
jangkungan dan kehilangan keseimbangan terutama bila mata ditutup dan
luka luka yang tidak merasa sakit.2 Gejala sensorik positif adalah rasa seperti
18
terbakar, nyeri yang menusuk, rasa seperti kesetrum, rasa kencang dan
hipersensitif terhadap rasa halus.3
c. Gejala otonom dapat berupa gangguan sudo motorik (kulit kering, keringat
yang kurang, keringat berlebihan pada area tertentu), gangguan pupil
(gangguan pada saat gelap, sensitif terhadap cahaya yang terang), gangguan
kardiovaskuler (kepala terasa enteng pada posisi tertentu, pingsan),
gastrointestinal (diare nokturnal, konstipasi, memuntahkan makanan yang
telah dimakan), gangguan miksi (urgensi, inkontinensia, menetes) dan
gangguan seksual (impotensi dalam ereksi dan gangguan ejakulasi pada pria)
dan tidak bisa mencapai klimaks seksual pada wanita).
19
6. DIAGNOSIS
Polineuropati sensori-motor simetris distal (distal symmetrical sensorymotor
polyneuropathy/DPN) merupakan jenis kelainan ND yang paling sering terjadi. DPN
ditandai dengan berkurangnya fungsi sensorik secara progresif dan fungsi motorik (jarang)
yang berlangsung pada bagian distal yang berkembang kearah proksimal. Diagnosis
neuropati perifer diabetic dalam praktek sehari-hari, sangat bergantung pada ketelitian
pengambilan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Hanya dengan jawaban tidak ada keluhan
neuropati saja tidak cukup untuk mengeluarkan kemungkinan adanya neuropati.
Pada evaluasi tahunan, perlu dilakukan pengkajian terhadap:
1. Reflex motorik
2. Fungsi serabut saraf besar dengan tes kuantifikasi sensasi kulit seperti tes rasa getar
(biotesiometer), dan rasa tekan (estesiometer filament mono semmes- Weintein)
3. Fungsi serabut saraf kecil dengan tes sensasi tubuh
4. Untuk mengetahui dengan lebih awal adanya gangguan hantar saraf dapat dikerjakan
elektromiografi
Bentuk lain ND yang juga sering ditemukan ialah neuropati otonom (parasimpatis dan
simpatis) atau diabetic autonomic neuropathy (DAN)
20
Diabetic Neuropathy Symptom (DNS)
No Anamnesis Skor DNS
1. Jalan tidak stabil Ya = 1, Tidak = 0
Diagnosis Neuropati
2. Kesemutan / terasa tebal
Diabetik ≥ 1
3. Nyeri seperti tertusuk jarum
4. Nyeri terbakar/ nyeri tekan
Pemeriksaan Fisik
1) Reflek motorik
2) Fungsi serabut saraf besar degan tes kuantifikasi sensasi kulit : tes rasa getar
(biotesiometer) & rasa tekan (estesiometer dengan filament mono Semmers-
Weinstein)
3) Fungsi serabut saraf kecil dgn tes sensasi suhu
4) Elektromiografi
5) Uji komponen parasimpatis:
a. Tes respons denyut jantung maneuver valsava
b. Variasi denyut jantung (interval RR) selama napas dalam
6) Uji komponen simpatis diabetic autonomic neuropatic (DAN) dilakukan dengan :
a. Respon tekanan darah terhadap berdiri (penurunan sistolik)
b. Respon tekanan darah terhadap genggaman (peningkatan diastolic)
21
Sensitivitas ibu jari kaki
6 (persepsi getar dengan garpu N/↓/-
tala)
Sensitivitas jari kaki(thdp
7 N/↓/-
tusukan jarum)
Sensibilitas ibu jari (thdp
8 N/↓/-
posisi sendi)
Skor :
0normal Diagnosis skor >3
1 kekuatan otot 3-4, refleks
↓, sensitivitas↓
Pemeriksaan Penunjang:
2 kekuatan otot 0-2, refleks
1) Pemeriksaan laboratorium:
-, sensitifitas - Harus diperiksa laboratorium dan menyingkirkan
kausa-kausa lain dari neuropati. Semua haril-hasil harus normal kecuali gula darah
dan HbA1c pada diabetes yang tidak terkontrol dengan baik atau yang belum
diketahui (undiagnosed diabetes). Eritrosit, leukosit, & diff, Elektrolit, gula darah
puasa dan HbA1c walaupun belum ada korelasi yang langsung antara beratnya
peninggian HbA1c dengan beratnya neuropati diabetika, vitamin B-12 dan kadar
asam folat, thyroid-stimulating hormone dan tiroksin, LED.
2) Pemeriksaan imaging: MRI servikal, torakal atau lumbal untuk menyingkirkan
kausa secunder dari neuropati, CT mielogram adalah suatu pemeriksaan alternatif
untuk menyingkirkan kompresi dan keadaan patologis lain di kanalis spinalis pada
radikulopleksopati lumbosacral dan neuropati torakoabdominal, imaging otak untuk
menyingkirkan aneurisma intracranial, lesi compresi dan infark pada kelumpuhan
[Link].
3) Pemeriksaan elektrofisiologi: Dapat dilakukan pemeriksaan ENMG
(Elektroneuromiografi). ENMG adalah alat elektromedik yg digunakan untuk merekam
kecepatan hantar saraf. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui ada
tidaknya abnormalitas fungsi sistim saraf perifer. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk
menegakan diagnosis penyakit sistem saraf perifer. Dan merupakan kombinasi antara
pemeriksaan Elektro neurografi ( ENG), yang juga disebut pemeriksaan konduksi saraf.
Terdiri dari kecepatan hantar saraf (KHS) motoris, sensasis & respon lambat. Serta
pemeriksaan Elektro miografi (EMG), yang disebut pula pemeriksaan aktifitas listrik.
Pemeriksaan ENMG merupakan perluasan dari pemeriksaan klinis. Pemeriksaan ENMG
membantu menentukan diagnosis topis, patologis, prognosis dari kelainan susunan saraf
22
tepi. Hasil pemeriksaan ENMG dpt membantu menentukan letak lesi apakah pada Motor
neuron, Radiks saraf spinalis, Pleksus, Saraf perifer, Neuro muscular junction, otot.
Pemeriksaan ENMG dpt menentukan apakah lesi mengenai sistim motorik, sensorik atau
keduanya. Dan untuk kelainan saraf perifer juga dapat dibedakan apakah proses aksonal,
demielinating.
7. PENATALAKSANAAN
Strategi pengelolaan pasien DM dengan keluhan neuropati diabetic dibagi menjadi 3
bagian:
1. Diagnosis sedini mungkin
2. Kendali glikemik dan perawatan kaki
3. Pengendalian keluhan neuropati/ nyeri neuropati diabetik setelah strategi kedua
dikerjakan
Perawatan umum
Perawatan pada kulit, jaga kebersihannya, terutama pada kaki, hindari trauma pada
kaki seperti menghindari pemakaian sepatu yang sempit. Cegah trauma berulang pada
neuropati kompresi.
Pada DCCT, kelompok pasien dengan terapi intensif yang berhasil menurunkan
HbA1c dari 9 ke 7%, telah menurunkan risiko timbul dan berkembangnya komplikasi
mikrovaskular, termasuk menurunkan risiko timbulnya neuropati sebesar 60% dalam 5
tahun. Pada studi Kumamoto, suatu penelitian mirip DCCT, tetapi pada DM tipe 2, juga
membuktikan bahwa dengan terapi intensif mampu menurunkan risiko komplikasi, termasuk
23
perbaikan kecepatan konduksi saraf dan ambang rangsang vibrasi. Demikian juga dengan
UKPDS yang memberikan hasil serupa dengan 2 studi sebelumnya
Terapi Medikamentosa
Sejauh ini, selain kendali glikemik yang ketat, belum ada bukti kuat suatu terapi dapat
memperbaiki atau mencegah neuropati diabetik. Namun demikian, untuk mencegah
timbulnya komplikasi kronik DM termasuk neuropati, saat ini sedang diteliti penggunaan
obat-obat yang berperan pada proses timbulnya komplikasi kronik diabetes, yaitu :
Penghambat ACE
Alpha lipoic acid, suatu antioksidan kuat yang dapat membersihkan radikal
hidroksil, superoksida dan peroksil serta membentuk kembali glutation
24
Manifestasi nyeri dapat berupa rasa terbakar, hiperalgesia, alodinia, nyeri menjalar,
dll. Pemahaman terhadap mekanisme nyeri penting agar dapat memberi terapi yang lebih
rasional, meskipun terapi nyeri neuropati diabetik pada dasarnya bersifat simtomatis.
Anti depresan trisiklik (TCA) umumnya merupakan pengobatan yang paling banyak
digunakan pada diabetes neuropati sensorimotor. Mekanisme kerja TCA terutama
mampu memodulasi transmisi dari serotonin dan norepinefrin (NE). Anti depresan
trisiklik menghambat pengambilan kembali serotonin (5-HT) dan noradrenalin oleh
reseptor presineptik. Disamping itu, anti depresan trisiklik juga menurunkan jumlah
reseptor 5-HT (autoreseptor), sehingga secara keseluruhan mampu meningkatkan
konsentrasi 5-HT dicelah sinaptik. Hambatan reuptake norepinefrin juga
meningkatkan konsentrasi norepinefrin dicelah sinaptik. Peningkatan konsentrasi
norepinefrin dicelah sinaptik menyebabkan penurunan jumlah reseptor adrenalin beta
yang akan mengurangi aktivitas adenilsiklasi. Penurunan aktivitas adenilsiklasi ini
akan mengurangi siklik adenosum monofosfat dan mengurangi pembukaan Si-Na.
Penurunan Si-Na yang membuka berarti depolarisasi menurun dan nyeri berkurang.
25
Efek antikolinergik yang dapat timbul adalah mulut kering (xerostomia), sembelit,
pusing, penglihatan kabur, dan retensi urin. Selain itu TCA juga dapat menimbulkan
sedasi dan hipotensi ortostatik.
Karbamazepin
Digunakan dalam neuropati perifer sebagai baris ketiga agen jika semua agen
lain gagal untuk mengurangi gejala neuropati diabetika. Merupakan
antikonvulsan generasi pertama. Kombinasi dengan fenobarbital, fenitoin,
atau primidone dapat menurunkan dosis. Kontra indikasi bila ada
hipersensitivitas dan riwayat gangguan depresi sumsum tulang.
26
Gabapentin
Dalam praktek sehari-hari, jarang ada obat tunggal mampu mengatasi nyeri neuropati
diabetes. Meskipun demikian, pengobatan nyeri umumnya dimulai dengan obat antidepresan
atau antikonvulsan tergantung ada atau tidaknya efek samping. Dosis obat dapat ditingkatkan
hingga dosis maksimum atau sampai efek samping muncul. Kadang-kadang kombinasi
antidepresan dan antikonvulsan cukup efektif. Bila dengan rejimen ini belum atau kurang
ada perbaikan nyeri, dapat ditambahkan obat topical. Bila tetap tidak atau kurang berhasil,
kombinasi obat yang lain dapat dilakukan.
27
Edukasi
Disadari bahwa perbaikan total sangat jarang terjadi, sehingga dengan kenyataan
seperti itu, edukasi pasien menjadi sangat penting dalam pengelolaan seperti ND. Target
pengobatan dibuat serealistik mungkin sejak awal, dan hindari member pengharapan yang
berlebihan. Perlu penjelasan tentang bahaya kurang atau hilangnya sensasi rasa di kaki,
perlunya pemeriksaan kaki secara berkala.
8. PROGNOSIS
Tipe diabetes mellitus yang diberikan akan mempengaruhi diagnosis neuropati
diabetika. Pada NIDDM prognosis tentu lebih baik daripada tipe IDDM. Lama dan beratnya
DM serta lama dan beratnya keluhan neuropati yang di alami, dan apakah sudah mengenai
saraf otonom, semuanya akan menentukan prognosis neuropatik diabetik.
28