Size Reducing Bahan Baku Semen
Disusun oleh :
Hidayat (I0516021)
Refarmita Nur Halimah (I0516037)
Liliana T W (I0517051)
Grace Hana Mawarni (I0517034)
Abdulloh (I0516001)
Program Studi Sarjana Teknik Kimia
Universitas Sebelas Maret
2019
A. PENGERTIAN
Size Reduction adalah suatu metode atau cara pemecahan material (partikel) solid
dengan jalan menghubungkan secara langsung antara material (partikel) yang satu
dengan yang lain atau antara partikel dengan suatu bagian alat yang digerakkan dengan
mesin.
Tujuan Size Reduction:
1. Untuk menghasilkan partikel-partikel solid dengan ukuran tertentu atau
menghasilkan permukaan partikel yang spesifik.
2. Untuk memecahkan bagian-bagian mineral atau kristal dari senyawa kimia yang
komples dalam bentuk padatan atau ukuran tertentu.
Pada industri semen ([Link]) size reduction bahan baku terjadi pada
tahap penyiapan bahan baku, yaitu untuk mereduksi batukapur/limestone dan sandyclay
yang di sebut crushing.
Penghancuran batu kapur/Limestone
Crushers digunakan untuk mereduksi material dalam bentuk bongkahan
hingga ukuran yang cukup kecil (berukuran maksimum 60 mm ) untuk diumpankan
ke pabrik untuk fine grinding. Proses industri semen yang membutuhkan fine
grinding adalah persiapan rawmix, persiapan bahan bakar dan grinding clinker untuk
membuat semen. Ketiganya membutuhkan tahap menghancurkan awal. Crushers
biasanya lebih hemat energi daripada peralatan yang lebih halus. Batubara, seperti
yang digunakan oleh industri semen, jarang perlu dihancurkan. Klinker,
sebagaimana diproduksi oleh kiln statis awal, muncul sebagai bongkahan besar, dan
penghancuran selalu diperlukan sebelum penggilingan dapat terjadi. Rotary kiln
sebaliknya menghasilkan klinker yang biasanya di bawah 50 mm dan tidak perlu
dihancurkan. Namun, setiap rotary kiln kadang-kadang menghasilkan klinker yang
lebih besar, atau mungkin mengandung lembaran besar bahan pelapis kiln, sehingga
beberapa fasilitas untuk penghancuran sesekali diperlukan. Alat yang digunakan
adalah jenis Double Shaft Hummer Crusher (C11-01 K341-CR1) dengan kapasitas
1.000 ton/jam.
Double Rotor Hammer Crusher (C11 – 01 K341 – CR1)
Fungsi : Untuk menghancurkan material keras batu kapur
hasil penambangan menjadi produk umpan raw
mill yang memenuhi spesifikasi tertentu.
Tipe : HDS 2400
Jumlah : 1 unit
Kapasitas : 1.000 ton
Diameter gear : 2.400 mm
Daya motor : 2 x 680 kW
Berat per hammer : 0,150 ton
Kecepatan putar : 987 rpm
Ukuran feed : 1.200 mm
Ukuran produk : max. 60 mm
Kadar air max. : 7 – 10 %
B. TAHAP SIZE REDUCTION
Bahan baku utama yang digunakan dalam proses pembuatan semen adalah batu
kapur dan tanah liat. Kedua bahan baku tersebut diperoleh dari proses penambangan di quarry.
Penambangan bahan baku merupakan salah satu kegiatan utama dalam keseluruhan proses
produksi semen. Perencanaan penambangan bahan baku sangat menentukan pada proses-proses
selanjutnya yang akhirnya bermuara pada kualitas dan kuantitas semen. Penambangan bahan
baku yang tidak terencana dan terkontrol dengan baik akan menyebabkan gagalnya pemenuhan
target untuk tahap produksi selanjutnya yang jika dihubungkan dengan kualitas dan biaya
produksi secara keseluruhan dapat menurunkan daya saing produk terhadap produk yang sama
yang dihasilkan oleh pesaing.
Persyaratan kualitas batukapur & tanah liat dalam proses penambangan adalah sebagai
berikut :
a. Batukapur
52% <Cao< 54% dan MgO < 18%
b. Tanah liat
60%<SiO2 <70% dan 14%Al2O3<17%
Tahapan proses penambangan adalah sebagai berikut:
a. Pengupasan tanah penutup ( Stripping )
b. Pemboran dan peledakan ( Drilling and Blasting )
c. Penggalian/Pemuatan ( Digging/Loading )
d. Pengangkutan ( hauling )
e. Pemecahan ( crushing )
Proses Penambangan Bahan Baku
Kemudian, bahan baku berupa batu kapur dan tanah liat akan dihancurkan untuk
memperkecil ukuran agar mudah dalam proses penggilingan. Alat yang digunakan untuk
menghancurkan batukapur dinamakan Crusher. Dan alat yang digunakan untuk memecah tanah
liat disebut clay cutter.
Pada umumnya Crusher digunakan untuk memecah batu dari ukuran diameter (100 –
1500 mm) menjadi ukuran yang lebih kecil dengan diameter (5 – 300 mm) dengan sistem
pemecahan dan penekanan secara mekanis. Batu Kapur (800 x 800 mm) 18 % H2O masuk
Hopper melewati Wobbler Feeder. Batu Kapur < 90 mm akan lolos tanpa melewati Crusher.
Tanah Liat (500 x 500 mm) 30 % H2O masuk Hopper melewati Apron Feeder dipotong -2
menggunakan Clay Crusher menjadi ukuran 95 % lolos 90 mm. Produk dari Limestone Crusher
dan Clay Crusher bercampur dalam Belt Conveyor dan ditumpuk di dalam Storage Mix. Setelah
itu raw material akan mengalami proses pre-homogenisasi dengan pembuatan mix pile. Tujuan
pre-homogenisasi material adalah untuk memperoleh bahan baku yang lebih homogen.
Proses Penyiapan Bahan Baku
Bahan baku lainnya yang digunakan untuk membuat semen adalah bahan baku penolong
yaitu pasir besi dan pasir silika. Pasir besi berkontribusi pada mineral Fe2O3 dan pasir silika
berkontribusi pada mineral SiO2. Kedua bahan baku penolong tersebut akan dicampur dengan
pile batu kapur & tanah liat masuk ke proses penggilingan awal, dimana jumlahnya ditentukan
oleh raw mix design.
Alat utama yang digunakan dalam proses penggilingan dan pengeringan bahan baku
adalah Vertical Roller Mill (VRM). Media pengeringnya adalah udara panas yang berasal dari
suspention-preheater dengan suhu sebesar 300 – 400 oC. Vertical roller mills merupakan
peralatan yang tepat untuk penggilingan dan pengeringan material yang relatif basah.
Penggilingan & pengeringan dapat dilakukan secara effisien didalam satu unit peralatan.
Vertical roller mill menjalankan 4 fungsi utama didalam satu unit peralatan, yaitu :
a. Penggilingan (Roller & grinding table )
b. Pengeringan (gas buang kiln, cooler, AH1)
c. Pemisahan (Separator)
d. Transportasi (Gas pengering ID Fan)
Bahan baku masuk ke dalam Vertical Roller Mill (Raw Mill) pada bagian tengah (tempat
penggilingan), sementara itu udara panas masuk ke dalam bagian bawahnya. Material yang sudah
tergiling halus akan terbawa udara panas keluar raw mill melalui bagian atas alat tersebut.
Material akan digiling dari ukuran masuk sekitar 7,5 cm menjadi max 90μm. Penggilingan
menggunakan gaya centrifugal di mana material yang diumpankan dari atas akan terlempar ke
samping karena putaran table dan akan tergerus oleh roller yang berputar karena putaran table itu
sendiri.
Kemudian material akan mengalami proses pencampuran (Blending) dan homogenisasi di dalam
Blending Silo. Alat utama yang digunakan untuk mencamnpur dan menghomogenkan bahan
baku adalah blending silo, dengan media pengaduk adalah udara.
Raw Mill Sebagai Tempat Penggilingan Awal
C. CONTOH ALAT SIZE REDUCTION FLSMIDTH
1) Crusher
- EV Hammer Crusher
- Gryatory Crusher
- Strike Bar Crusher
2) Clay Cutter
- Dry Crusher
- Raptor Cone Crusher
3) Vertical Roller Mills
- OKTM Raw Mill
- ATOX Raw Mill
D. Hukum-hukum Size Reduction
a. Hukum Rittinger
Rittinger beranggapan bahwa besarnya energi yang diperlukan
untuk size reduction berbanding lurus dengan luasan baru partikel /
perbandingan luas permukaan [Link] reduksi dibuat model kubik
kubusan dengan volume R x F x P inch. Bila F=F, n=1, maka luasan baru
yang ditimbulkan pada operasi reduksi (3(n-1)F2). Dimisalkan energi
yang dibutuhkan untuk pertambahan luas line BHFE. Energi yang
diperlukan untuk pemecahan kubus:
E = 3 B F2 (F-1)
= 3 B F2
(n-1) F3 = 3 B
(n-1) D
Untuk partikel yang berbentuk kubus, kebutuhan energi yang bisa
dihitung dengan menganggap luasan partikel tersebut mempunyai
perbandingan tertentu (k) dengan partikel pada luasan yang sama / ukuran
sama berbentuk kubus, sehingga :
𝐴𝑃 3𝐵𝐹2𝐾(𝑛 − 1)
𝐾= , 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝐸 =
𝐴𝐾′ 𝐹3
Dimana, AP : luasan partikel
AK : luasan kubus untuk partikel dengan ukuran sama
𝐹
3𝐵𝐾(𝑓 − 1) 3 𝐵𝐾(𝐹 − 𝑓) 1 1
𝐸= = =3𝐵𝐾( − )
𝐹 𝐹−𝑓 𝑓 𝐹
3𝐵𝐾(𝑛 − 1)
𝐸=
𝐹
Dimana, 3 BK=C’=konstanta Rittinger yang besarnya ditentukan oleh
percobaan. Dengan dimasukkan p partikel, persamaan menjadi :
𝐻𝑃 1 1
= 𝐶′( − )
𝑡𝑜𝑛 𝑓 𝐹
Persamaan di atas dikenal dengan persamaan [Link] banyak
terdapat kekurangan dari hasil percobaan zat padat terhadap fraksi-fraksi yang
ukurannya lebih kecil dari hasil yang terletak di Hukum Rittinger.
b. Hukum Kick
Kick beranggapan bahwa energi yang dibutuhkan untuk pemecahan
partikel zat padat adalah berbanding lurus dengan ratio dari feed dengan
produk. Secara matematis dinyatakan dengan:
HP = k log D/d
dimana,
HP : tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan partikel zat
padat atau feed
k : konstanta Kick
D : diameter rata-rata feed
Memecah partikel kubus berukuran lebih dari /2 inch adalah sama
besarnya dengan energi yang dibutuhkan untuk memecah partikel /2 inch
menjadi 1/4 inch.
c. Hukum Bond
Persamaan lain yang bisa digunakan adalah persamaan Bond. Bond
beranggapan bahwa energi yang dibutuhkan untuk membuat partikel dengan
ukuran Dp dari feed dengan ukuran sangat besar adalah berbanding lurus
dengan volume produk. Dengan memecahkan factor sphericity:
Cp / Vp = G / (v). (Dp)
dimana, Cp : luasan partikel produk
Vp : volume partikel produk
υ : sphericity
Tenaga sphericity untuk berbagai macam produk dapat dilihat dari
bermacam buku, misalnya Mc Cabe table 26‐1 halaman 80. Besarnya energi
yang dibutuhkan :
p / M = Kb / (Dp)^0,5
Dimana Kb adalah suatu konstanta yang besarnya sama, tergantung pada tipe
mesin dan material yang akan direduksi. Hubungan antara Kb dan W sebagai
berikut:
Kb = Wi = 0,3162 Wi
Dimana, Wi adalah energi dalam Kwh tiap ton feed yang dibutuhkan untuk
mereduksi feed dengan ukuran yang sangat besar sampai menghasilkan
produk yang 90% mampu melewati saringan 100μ, dimana:
P : dalam satuan kwh
M : dalam satuan ton/jam
Dp: dalam satuan mm
Bila 80% feed mampu melewati screen dengan ukuran Dpa dan 80% produk
mampu melewati screen dengan ukuran, maka gabungan persamaan sebagai
berikut:
1
𝐷 = 0.3162 𝑊𝑖( 1 1)
𝐷𝑝𝑏2 − 𝐷𝑝𝑎 2
Harga indeks tenaga Wi dapat dibaca pada Mc Cabe hal 77 tabel 27‐1.
Persamaan umum : dE = dx/xn
dimana, E : energi yang dibutuhkan
x : ukuran partikel
Bila harga n = 1, maka integrasi akan menghasilkan persamaan Rittinger:
E=C ( 1/xp – 1/xf)
Untuk n = 1,5, maka pada integrasi akan muncul:
1 1
𝐸 = 𝐶( 1 − 1)
𝑥𝑝2 𝑥𝑓2
Sedangkan untuk n>1, secara umum persamaan differensial di atas
mempunyai integrasi :
𝑐 1 1
𝐸= ( 𝑛−1 − 𝑛−1 )
𝑥 𝑥𝑝 𝑥𝑓
Persamaan lain yang harus dicatat adalah grindability suatu bahan.
Didefinisikan sebagai ton/jam bahan yang dapat dihasilkan menjadi ukuran
tertentu dalam pesawat [Link] relatif adalah perbandingan
suatu bahan standar dan data grindabilitas tersebut dapat digunakan untuk
memperkirakan kebutuhan energi mereduksi bahan, memperkirakan ukuran
jenis pesawat.
E. KEBUTUHAN ENERGI PADA SIZE REDUCTION
Energi yang dibutuhkan crusher/grinder digunakan untuk :
a. mengatasi friksi mekanis.
b. Menghancurkan bahan.
Energi ini proporsional terhadap luas permukaan baru yang terbentuk.
Rittinger melakukan percobaan tentang hal ini, menggunakan “ a drop
weight crusher” seperti Fig. 44 (Brown).
Hasil percobaannya dinyatakan dalam :
luas permukaan baru yang terbentuk
rittinger'snumber
energi mekanis yang dibutuhkan
Contoh : quartz , setiap energi 1 kg-cm akan memberikan luas permukaan
baru sebersar 17,56 cm2.
Luas permukaan baru = selisih luas permukaan sebelum dihancurkan
dan setelah dihancurkan.
Energi yang dibutuhkan crusher biasanya lebih besar daripada
kebutuhan yang ditunjukkan pada bilangan rittinger, hal ini
disebabkan energi alat harus mengatasi friksi dan efek enersia.
Total energi alat tergantung dari jenis alat dan beban alat, seperti yang
disajikan di tabel 10 (Brown).
Table 10. Experimental values of new surface produces per unit
energy of quartz
Total weight of ball in ball cm2/(ft. lb)
mill, lb
36 36
71 65
142 82
178 94
249 78
Drop weight method 243
Contoh: Table 10 menyajikan:
Ball mill dengan berat bola=36 lb, setiap 1 Kg cm akan membentuk
luas permukaan baru sebesar 2,6 cm2.
Sedangkan dari percobaan drop weight method, setiap 1 Kg cm
energi akan membentuk luas permukaan sebesar 17,56 cm2.
Rasio perbedaan ini dinyatakan dalam:
luas permukaan baru
crushing effectiveness energi total crusher
luas permukaan baru
energi teoritis Rittinger' s nu.
Rittinger’s nu. Menunjukkan efektivitas maksimum dari crusher.
Contoh : table 10 menunjukkan energi:
Suatu Ball mill (aktual)= 94 cm2/([Link]).
Drop weight method (teoritis) = 243
cm2/([Link]). Jadi efektivas crhusing = 94/243 =
0,387.
Selain hukum Rittinger, ada teori lain yang dapat digunakan untuk
memprediksi energi yang dibutuhkan alat size reduction.
Pada dasarnya, hukum yang digunakan untuk merubah partikel
sebesar dX :
dE C
n (1)
dX X
X = diameter
partikel,
n, C = konstanta tergantung tipe dan ukuran material, serta tipe mesin.
E= energi teorits untuk menghancurkan dan membentuk luas
permukaan baru.
Kondisi batas :
E=0 , X= X1; diameter partikel pada umpan alat.
E= E , X = X2 ; diameter partikel pada arus produk alat.
Efisiensi alat SR: Energi aktual Energi teoritis
effektivitas
Pustaka
Laporan Kerja Praktik Indocement Citeureup Bogor Plant 6/11
Materi Ajar Penanganan Bahan Padat oleh Sperisa Distantina
[Link] (diakses pada 7 Oktober 2019)
[Link] (diakses pada 7 Oktober
2019)
[Link] diakses
pada 10 Oktober 2019)
[Link]
[Link] diakses pada 10 Oktober 2019)
[Link] diakses pada 10 Oktober 2019)
[Link] diakses pada 11 Oktober 2019)