TEORI RASIONAL EMOTIF TERAPI ALBERT ELLIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling
Dosen : Ii Suryaman, [Link], [Link]
Disusun Oleh :
1. Ridwan Gunawan (068.14.0335.18)
2. Taufik Hadi N (068.14.1615.17)
3. Tesa Meisa Putri (068.14.1616.17)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) AT-TAQWA
CIPARAY-BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat serta salam semoga
senantiasa terlimpah curah kepada Rasulullah SAW. Kami bersyukur kepada Illahi
Rabbi yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
Bimbingan Konseling yang berjudul “Teori Rasional Emotif Terapi Albert Ellis”.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penyusunan makalah ini. Atas dukungan moral dan materil yang
diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada Bapak Ii Suryaman, [Link], [Link] selaku Dosen Mata Kuliah
Bimbingan Konseling.
Kami menyadari sepenuhnya di dalam penulisan makalah ini banyak
terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran
demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca serta dapat memahami secara mendalam hal-hal yang berkaitan
dengan “Teori Rasional Emotif Terapi Albert Ellis”.
Bandung, Oktober 2019
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
D. Metode Penelitian 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Biografi Tokoh 3
B. Konsep Pokok Rasional Emotif Terapi 3
C. Proses Konseling 6
D. Tujuan Konseling Rasional-Emotif 6
E. Teknik-teknik Terapi 8
F. Analisis Teori A-B-C-D 11
BAB III PENUTUP 14
A. Kesimpulan 14
B. Saran 14
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di tengah pembangunan pendidikan yang berorientasi pada peningkatan
mutu, maka di sisi lain dunia pendidikan dihadapkan pada berbagai persoalan yang
mengindikasikan adanya perilaku salah suai (malladjusment) pada siswa. Berbagai
perilaku malladjusment pada siswa tersebut, merentang dari mulai yang
dikategorikan ringan sampai kategori berat, seperti membolos, tawuran,
penodongan, pergaulan bebas atau melakukan hubungan seks sebelum nikah,
sampai pada mengkonsumsi narkoba dan zat adiktif lainnya (NAZA).
Adanya fenomena tersebut, merupakan indikasi bahwa pembentukan
pribadi dan pengembangan potensi anak didik dalam prakteknya tidak cukup
dengan menggunakan pendekatan instruksional, tetapi memerlukan intervensi
pendidikan yang menyentuh aspek-aspek psikologis, yang dalam hal ini adalah
layanan bimbingan dan konseling. Orientasi dari intervensi bimbingan dan
konseling ini, mengedepankan prinsip pembelajaran pada klien dengan menyentuh
aspek-aspek psikologis, seperti motivasi, emosi, minat, dan aspek lainnya. Oleh
karena itu, peran dari seorang konselor harus mampu memerankan dirinya sebagai
“Psychoeducator”.
Konseling merupakan satu bentuk hubungan yang bersifat membantu, yakni
interaksi antara konselor dengan konseli sebagai satu kondisi yang membuat
konseli terbantu dalam mencapai perubahan yang lebih baik. Dalam hal ini, Nelson
(1982) yang dikutip Moh. Surya (1998: 1) mengemukakan ada empat alasan bahwa
konseling merupakan proses psikologis, yaitu: (1) Dilihat dari tujuannya, rumusan
tujuan konseling itu berupa pernyataan yang menggambarkan segi-segi psikologis
(perilaku) dalam diri klien, (2) Dilihat dari prosesnya, seluruh proses konseling
merupakan proses kegiatan yang bersifat psikologis, (3) Dilihat dari teori dan
konsep, konseling bertolak dari teoriteori atau konsep-konsep psikologi, (4) Dilihat
dari riset, hampir semua penelitian dalam bidang konseling mempunyai singgungan
dengan penelitian dalam bidang psikologi.
1
2
Dalam praktek konseling, berbagai tokoh atau pakar konseling
mengemukakan berbagai kerangka berpikir dalam proses membantu klien. Masing-
masing teori konseling memiliki kekuatan dan kelemahan, dan dalam hal ini yang
perlu dipertimbangkan oleh konselor atau petugas bimbingan di sekolah adalah
dimilikinya kemampuan untuk menganalisis sifat atau jenis permasalahan yang
dihadapi klien untuk kemudian dipertimbangkan teori konseling mana yang tepat
untuk digunakan. Berangkat dari pemikiran tersebut, teori konseling yang akan
dibahas dalam makalah ini berangkat dari pemikiran yang disumbangkan oleh
Albert Ellis yang dikenal dengan sebutan “Rasional Emotif Terapi”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi tokoh dari teori rasional emotif terapi?
2. Bagaimana konsep pokok teori rasional emotif terapi?
3. Bagaimana proses konseling teori rasional emotif terapi?
4. Bagaimana tujuan konseling teori rasional emotif terapi?
5. Apa saja teknik-teknik teori rasional emotif terapi?
6. Bagaimana analisi teori A-B-C-D?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui biografi tokoh dari teori rasional emotif terapi.
2. Untuk mengetahui konsep pokok teori rasional emotif terapi.
3. Untuk mengetahui proses konseling teori rasional emotif terapi.
4. Untuk mengetahui tujuan konseling teori rasional emotif terapi.
5. Untuk mengetahui teknik-teknik teori rasional emotif terapi.
6. Untuk mengetahui analisi teori A-B-C-D.
D. Metode Penelitian
Dalam penyusunan makalah ini, kami menggunakan metode kualitatif yaitu
dengan mengkaji buku maupun artikel-artikel tentang Teori Rasional Emotif Terapi
Albert Ellis sebagai acuan yang sesuai dengan pembahasan dan browsing data di
internet atau searching di google.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Tokoh
Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1913 di Pittsburgh, Amerika Serikat.
Pada saat mencetuskan teorinya, dia mendapati bahwa teori psikoanalasis yang
dipelopori oleh Freud tidak mendalam dan adalah satu bentuk pemulihan yang tidak
saintifik. Pada awal tahun 1955, beliau telah menggabungkan terapi-terapi
kemanusiaan, fisolofikal dan tingkah laku dan dikenali sebagai teori emosi-rasional
(RET/ Rational Emotive Therapy). Semenjak itu beliau terkenal sebagai Bapak teori
RET dan salah satu tokoh teori tingkah laku kognitif.
B. Konsep Pokok Rasional Emotif Terapi
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional.
Orang berperilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus
bertindak dalam cara itu. Orang mempunyai derajat yang tinggi dalam sugestibilitas
dan emosionalitas yang negatif, seperti kecemasan, rasa berdosa, permusuhan, dsb.
Masalah-masalah emosional terletak dalam berpikir yang tidak logis. Dengan
mengoptimalkan kekuatan intelektualnya, seseorang dapat membebaskan dirinya
dari gangguan emosional. Para penganut teori RET percaya bahwa tidak ada orang
yang disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi setiap orang
bertanggungjawab akan semua perilakunya.
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi
bukan dua proses yang terpisah: pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling
bertumpang tindih, dalam prakteknya kedua hal itu saling berkaitan. Emosi
disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan
diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-
pikiran seseorang dapat menjadi emosi orang tersebut, dan merasakan sesuatu
dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain,
pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran.
3
4
Pandangan yang penting dari teori ini adalah konsep bahwa banyak perilaku
emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau
internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri
tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif.
1. Pandangan Tentang Sifat Manusia
Rasional Emotif Terapi (RET) berasumsi bahwa manusia dilahirkan
dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir
irasional dan jahat. Manusia memiliki dua kecenderungan yakni kecenderungan
yang bersifat positif dan kecenderungan yang bersifat negatif. Kecenderungan
positif seperti kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan
mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain serta tumbuh dan
mengaktualisasikan diri. Kecenderungan negatif seperti menghancurkan diri,
menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan secara tak
berkesudahan, irasional, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri, serta
menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Manusiapun cenderung untuk
terpaku pada pola tingkah laku lama yang disfungsional dan mencari berbagai
cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Dalam pandangan RET, manusia memiliki sumber atau tenaga yang tak
terhingga bagi aktualisasi potensi diri dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan
pribadi dan masyarakatnya. Dalam diri manusia ada kecenderungan untuk
mengaktualisasikan dirinya, dan jika tidak terpenuhi keinginannya tersebut,
maka manusia akan mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.
Manusia berpikir, beremosi dan bertindak secara simultan, dalam pengertian
bahwa jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan
biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Manusia
bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong
oleh nalurinaluri. Tetapi menurut RET, manusia adalah individu unik dan
memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan - keterbatasan, untuk
mengubah pandangan dan nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak
kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk menolak kecenderungan menolak diri
sendiri. Manusia memiliki kesanggupan untuk mengkonfrontasikan sistem-
5
sistem nilainya sendiri dan mereindoktrinasi diri dengan keyakinan-keyakinan,
gagasan-gagasan, dan nilai-nilai yang berbeda. Akibatnya manusia akan
bertingkah laku yang berbeda dengan cara bertingkah laku di masa lampau.
2. Teori Kepribadian
Neurosis yang didefinisikan sebagai “berfikir dan bertingkah laku
irasional” adalah suatu keadaan alami yang pada taraf tertentu menimpa
manusia. Keadaan ini berakar pada kenyataan bahwa manusia dan hidup dengan
manusia-manusia lain dalam masyarakat. Psikopatologi pada mulanya dipelajari
dan diperhebat oleh timbunan keyakinan-keyakinan irasional yang berasal dari
orang-orang yang berpengaruh selama masa kanak-kanak. Emosi adalah produk
pemikiran manusia, dan jika pikiran manusia buruk tentang sesuatu, maka ia pun
akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Dalam pandangan RET,
bahwa menyalahkan adalah inti sebagian besar gangguan emosional. Oleh
karena itu, jika konselor ingin menymbuhkan orang neurotik atau psikopatik,
konselor harus menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang
lain yang ada pada orang tersebut. Dalam hal ini klien harus belajar untuk
menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangannya.
3. Teori A-B-C tentang Kepribadian
Teori A-B-C (Antedence-Believe-Consequence) tentang kepribadian
sangatlah penting bagi teori dan praktek RET. A adalah keberadaan suatu fakta,
suatu peristiwa, tingkah laku, atau sikap seseorang. B adalah keyakinan individu
tentang A, yang menjadi penyebab C, yakni reaksi emosional. C adalah
konsekuensi atau reaksi emosional seseorang; reaksi ini bisa layak dan tidak bisa
layak. Misalnya, seorang siswa mengalami depresi karena tidak lulus memasuki
PTN, buka ketidaklulusan memasuki PTN itu sendiri yang menjadi penyebab
timbulnya reaksi depresif, melainkan keyakinan (Believe) siswa itu sendiri
tentang ketidaklulusan memasuki PTN seabgai sebuah kegagalan, penolakan,
atau kehilangan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi.
Ellis, menandaskan bahwa karena manusia memiliki kesanggupan untuk
berpikir, maka manusia mampu melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau
menghapus keyakinankeyakinan yang menyabotase diri sendiri. Untuk dapat
6
memahami dan mengkonfrontasikan sistem keyakinan diperlukan disiplin diri,
berpikir, dan belajar. RET juga berasumsi bahwa karena keyakinan-keyakinan
dan nilai-nilai irasional orang-orang berhubungan secara kausal dengan
gangguan emosional dari tingkah lakunya, maka cara yang paling efisien untuk
membantu orang tersebut dalam membuat perubahan dalam pribadinya adalah
mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka
sendiri. Dengan demikian, RET mengkonfrontasikan para klien dengan
keyakinan irasionalnya serta menyerang, menantang, mempertanyakan dan
membahas keyakinan yang irasional.
Setelah A-B-C, menyusul D = membahas. Pada dasarnya D adalah
penerapan metode ilmiah untuk membantu para klien menantang keyakinannya
yang irasional yang telah mengakibatkan gangguan-gangguan emosi dan tingkah
laku. Dalam pendekatan ini, prinsip-prinsip logika bisa diajarkan untuk
menghilangkan keyakinan yang irasional pada diri klien.
C. Proses Konseling
Tugas konselor adalah membantu individu yang tidak bahagia dan
menghadapi hambatan, untuk menunjukkan bahwa: (a) kesulitannya disebabkan
oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis; dan (b) usaha
memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Konselor
yang efektif akan membantu klien untuk mengubah pikiran, perasaan, dan perilaku
yang tidak logis. Tujuan utama terapi rasional-emotif adalah menunjukkan kepada
klien bahwa verbalisasi diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya.
Kemudian membantu klien agar memperbaiki cara berpikir, merasa, dan
berperilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami gangguan emosional di masa yang
akan datang.
D. Tujuan Konseling Rasional-Emotif
Berdasarkan pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan
kepribadiannya serta konsep-konsep teoritik dari RET, tujuan utama konseling
rasional-emotif adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan
7
logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualization-
nya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri
seperti: rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan
rasa marah. Sebagai konseling dari cara berfikir keyakinan yang keliru berusaha
menghilangkan dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi
kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan
nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.
Secara lebih khusus Ellis menyebutkan bahwa dengan terapi rasional-emotif
akan tercapai pribadi yang ditandai dengan:
1. Minat kepada diri sendiri
2. Minat sosial
3. Pengarahan diri
4. Toleransi terhadap pihak lain
5. Fleksibelitas
6. Menerima ketidakpastian
7. Komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya
8. Berpikir ilmiah
9. Penerimaan diri
10. Berani mengambil resiko
11. Menerima kenyataan
Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping
relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Aktif-direktif: bahwa dalam hubungan konseling, terapis/ konselor lebih aktif
membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan
masalahnya.
2. Kognitif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada
aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3. Emotif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek
emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional,
8
sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari
gangguan tersebut.
4. Behavioristik: bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong
terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.
5. Kondisional: bahwa hubungan dalam RET dilakukan dengan membuat kondisi-
kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk
mencapai tujuan terapi konseling.
Berikut merupakan gambaran yang harus dilakukan oleh seorang praktisi
rasional-emotif yaitu:
1. Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang
mendasari gangguan emosional dan prilaku.
2. Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.
3. Menunjukan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.
4. Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional
klien.
5. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah “in-operative”
dan bahwa hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan
behavioral dan emosional.
6. Menggunakan absurdity dan humor untuk menantang irasional pemikiran klien.
7. Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat
ditempatkan kembali atau disubstitusikan kepada ide-ide rasional yang harus
secara empirik melatarbelakangi kehidupannya.
8. Mengajar klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah,
objektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk
mengobservasi dan menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional dan deduksi-
deduksi hanya akan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan
yang dapat menghambat perkembangan dirinya.
E. Teknik-Teknik Terapi
Terapi rasional-emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan
dikemukakan beberapa macam teknik yang dipakai dalam rasional-emotif:
9
Teknik-teknik Emotif (afektif):
1. Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan
membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan
perilaku tertentu yang diinginkan
2. Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan
yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang
didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas
mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-
gerakan dramatis.
3. Self Modeling, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji”
atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan
atau perilaku tertentu.
4. Imitasi, yakni teknik yang digunakan di mana klien diminta untuk menirukan
secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi
dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
Teknik-teknik Behavioristik :
Dalam banyak hal, konseling rasional-emotif banyak menggunakan teknik
terapi behavioral terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari
klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis.
Beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:
1. Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong
klien ke arah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan
pujian verbal (reward) ataupun punishment (hukuman).
2. Social Modeling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk
memberikan perilaku-perilaku baru pada klien.
3. Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk
menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi
interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan
memecahkan masalah-masalah.
10
Teknik-teknik Kognitif :
Teknik-teknik konseling atau terapi berdasarkan pendekatan kognitif memegang
peranan utama dalam konseling rasional-emotif. Dengan teknik ini klien didorong
dan dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berpikir dengan cara yang rasional
dan logis sehingga klien dapat bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yg
diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:
1. Home Work Assigments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien
diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta
menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang
diharapkan. Teknik ini sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan
mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri
serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien, serta
mengurangi ketergantungan kepada konselor atau terapis.
2. Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role
playing (bermain peran), rehearsal (latihan), dan social modeling (meniru
model-model sosial). Maksud utama teknik Assertive Training adalah untuk:
a. Mendorong kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang
berhubungan dengan emosinya;
b. Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya
sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;
c. Mendorong kepercayaan pada kemampuan diri sendiri; dan
d. Meningkatkan kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang
cocok untuk dirinya sendiri.
Dalam mengaplikasi berbagai teknik konseling rasional-emotif, Albert
Ellis menganjurkan untuk menggunakan dan menggabungkan beberapa teknik
tertentu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi klien. Hanya Ellis
menyarankan agar teknik Home Work Assigment perlu digunakan sebagai syarat
utama untuk sesuatu terapi atau konseling yang tuntas.
11
Selanjutnya dikatakan oleh Ellis bahwa meskipun pada mulanya terapi
rasional-emotif dimaksudkan untuk mendorong individu yang mengalami
gangguan, akan tetapi dapat pula digunakan untuk membantu orang dalam
mengurangi kecemasan dan permusuhan serta berguna untuk membantu
mewujudkan diri individu. Bagi para konselor sekolah, terapi rasional-emotif
akan sangat membantu karena pada dasarnya terapi rasional-emotif lebih
menggunakan model edukatif daripada model psikodinamik atau model medik.
Dengan demikian para konselor sekolah dapat menggunakannya bagi siswa-
siswa normal di sekolah.
F. Analisis Teori A-B-C-D
Teori ABC dalam RET merupakan cara untuk memahami permasalahan
yang dihadapi oleh klien. Dalam memahami perilaku membolos pada siswa, maka
dapat diuraikan sebagai berikut:
A (Antecendence = peristiwa yang menyebabkan munculnya perilaku pada
klien) adalah upaya untuk memahami mengapa klien menunjukkan perilaku
membolos. Dalam hal ini, konselor tidak memposisikan karakter individu klien
sebagai sumber utama terjadinya perilaku membolos, tetapi mencoba
mengembangkan analisisnya dengan memperhatikan kondisi lingkungan rumah
dan sekolah, serta teman sebaya. Dalam hal ini, konselor harus menginventarisir
kondisi lingkungan siswa. Misalnya dalam lingkungan kelas, harus dilihat
bagaimana kondisi pembelajaran yang diikuti oleh klien, seperti metode belajar
yang digunakan guru, dan tugas yang diberikan guru dan sikap klien terhadap
pelajaran, apakah berpotensi untuk menyebabkan klien membolos. Lingkungan
keluarga klien, perlu dianalisis; apakah orang tua klien mendukung atau
menghambat untuk sekolah, bagaimana beban yang dipikul klien di rumah, dan
seterusnya, yang pada akhirnya harus sampai pada sebuah kesimpulan, kondisi
lingkungan keluarga yang mana yang berpotensi terhadap perilaku membolos klien.
Lingkungan pergaulan dengan teman sebaya klien, perlu ditelusuri; misalnya
dengan siapa saja klien bergaul, siapa teman dekat klien, kegiatan apa yang
dilakukan klien di luar sekolah bersama teman-temanya. Analisis tersebut akan
bermuara pada sebuah kesimpulan, kondisi mana dari lingkungan teman sebaya
12
yang berpotensi untuk menimbulkan perilaku membolos pada klien. Dengan
demikian, pemahaman akan peristiwa yang memunculkan perilaku membolos pada
siswa merupakan langkah awal yang dapat dikerjakan konselor dalam teori RET
ini. Inti dari tahap ini, perhatian konselor belum menyentuh pada permasalahan
perilaku membolos siswa, tetapi berupaya menggali berbagai informasi yang
menyebabkan klien berperilaku membolos.
B (Believe = keyakinan) adalah keyakinan apa yang dimiliki oleh klien
sehingga ia terbiasa dengan perilaku membolos. Dalam hal ini, konselor
mengadakan dialog dengan klien, bagaimana perasaan dirinya ketika ia membolos
dari sekolah, apakah sebagai bentuk penghindaran dari tugas sekolah yang
diberikan dari gurunya, membolos terpaksa dilakukan karena bentuk reaksi
emosional terhadap kehidupan keluarga yang disharmonis atau sebagai bentuk
loyalitas terhadap gang (kelompok bergaul) dengan teman-temannya untuk sama-
sama membolos. Pada tahap ini, konselor harus mampu melakukan konfrontasi
terhadap keyakinan-keyakinan irasional klien yang menyebabkan ia berperilaku
membolos. Keterampilan dalam berargumentasi dengan klien untuk mereduksi
keyakinan-keyakinan irasional merupakan keterampilan mendasar bagi seorang
konselor.
Guna membantu konselor dalam mengkonfrontasikan keyakinan-keyakinan
irasional pada klien yang menyebabkan perilaku membolos tersebut, konselor dapat
menggunakan pendekatan eklektik sistematis. Menurut Moh. Surya (1988: 160),
model eklektik sistematis mempunyai tiga macam bentuk dasar pengalaman, yakni;
1) perasaannya (dimensi afektifnya), 2) pikiran dan kepercayaannya (dimensi
kognitif), dan 3) tindakannya (dimensi perilaku behavioral). Setiap dasar
pengalaman itu saling berinteraksi melengkapi dan mempengaruhi emosi dan
tindakan klien akan saling melengkapi dan mempengaruhi dalam suatu keadaan
yang berkesinambungan. Sebagaimana disebutkan dalam kerangka konseptual RET
di atas, bahwa keyakinan seseorang merupakan penentu utama dalam perasaannya.
Atas dasar pemikiran tersebut, dalam mereduksi perilaku membolos pada
klien tersebut, konselor pertama kali harus menghilangkan keyakinan klien bahwa
membolos merupakan solusi untuk menghindar dari permasalahan. Setelah klien
13
hilang dalam keyakinan irasionalnya, barulah konselor memupuk keyakinan, sikap,
pikiran dan perbuatan yang ra- Aplikasi Rasional Emotif Terapi dalam
Memperbaiki Perilaku Membolos Siswa (Isop Syafei) 221 sional, misalnya dengan
membolos maka dirinya akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh ilmu
pengetahuan.
Secara khusus, konselor yang menggunakan pendekatan eklektik sistematis,
secara terus menerus akan mengajukan tiga pertanyaan kepada dirinya sendiri
selama fase penilaian, sebagai berikut: 1) Masalah-masalah apakah yang paling
dominan dalam diri siswa? 2) Dari unsur-unsur internal atau eksternal sistem
lingkungan siswa, hal-hal manakah yang merupakan penyebab utama timbulnya
masalah? 3) Apakah yang sebaiknya diubah dari sistem lingkungan siswa untuk
memecahkan masalah dan membantu perkembangan pribadi?
C (Consequence = konsekuensi), adalah akibat yang ditimbulkan pada diri
klien sebagai produk dari keyakinan irasional yang ada pada dirinya, yang dalam
hal ini adalah reaksi emosional diri klien atas A (antecendence) yakni dalam bentuk
perilaku membolos. Dalam hal ini harus dipahami oleh konselor bahwa membolos
adalah bentuk reaksi emosional klien atas keyakinan-keyakinan irasional dari
kondisi lingkungannya. Sehingga, implikasinya bagi proses konseling, tidak hanya
terfokus pada upaya memperbaiki perilaku membolos saja pada diri klien, tetapi
berupaya memperbaiki sistem lingkungan perkembangan siswa secara kondusif,
dan secara simultan mereduksi keyakinan-keyakinan irasional untuk diganti dengan
keyakinan-keyakinan rasional, sehingga pada akhirnya potensi yang dimiliki klien
dapat diaktualisasikan secara optimal.
Terakhir adalah D (pembahasan), adalah bagaimana konselor menggunakan
teknik-teknik ilmiah untuk mereduksi keyakinan-keyakinan irasional pada diri
siswa dan sekaligus membangun keyakinan-keyakinan yang rasional. Dalam posisi
seperti ini, konselor dapat menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran, afektif-
direktif, sehingga dapat secara leluasa mengintervensi klien dalam proses
perwujudan potensi dirinya secara optimal.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Munculnya berbagai fenomena perilaku malladjusment pada sebagian
peserta didik dewasa ini, semakin memperkuat asumsi bahwa proses
pembentukan pribadi dan pengembangan potensi peserta didik tidak dapat
dilakukan dengan pendekatan instruksional semata, tetapi memerlukan
intervensi bimbingan konseling sebagai format akumulasi intervensi pendidikan
dan psikologis. Hal tersebut berimplikasi bahwa seorang konselor harus mampu
memerankan dirinya sebagai Psychoeducator.
Teori Rasional Emotif Terapi (RET) merupakan salah satu teknik
konseling yang dapat digunakan untuk memperbaiki perilaku malladjusment
pada diri siswa, seperti halnya perilaku membolos dan perilaku menyimpang
lainnya. Asumsi dasar dari teori RET ini adalah memandang bahwa reaksi
emosional yang ditunjukkan seseorang adalah sebagai produk dari keyakinan-
keyakinan irasionalnya yang menguasai pola pikirnya. Atas dasar tersebut, maka
menjadi keterampilan mendasar bagi seorang konselor yang menggunakan teori
RET untuk mampu mengkonfrontasikan keyakinan-keyakinan irasional pada
diri klien dan sekaligus membangun keyakinan-keyakinan rasional sebagai
instrumen ke arah aktualisasi diri yang optimal.
Teori RET dengan analisa ABCD-nya akan membantu konselor untuk
memahami persoalan klien secara holistik. Untuk memahami permasalahan
yang dialami klien, konselor tidak langsung memperbaiki masalahnya, tetapi
mencoba mendalami faktor-faktor yang menimbulkan munculnya permasalahan
dan sekaligus mereduksi keyakinan-keyakinan irasional pada diri klien.
B. Saran
Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan karya ilmiah
(makalah) ini, baik itu dari kesalahan tanda baca, bahasa dan sebagainya. Maka,
atas dasar kekurangan itu diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun.
Agar ada perubahan yang lebih baik.
14
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. (2009). Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi. Bandung :
Refika Aditama
Mappiare, Andi AT. (2009), Pengantar Konseling dan Psikoterapi, Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada.
Aditama. Surya, Mohamad. (2003). Teori-Teori Konseling. Bandung : Pustaka
Bani Quraisy.
Kardinah dan Tarsono. (2009). Pengantar Teori Konseling dalam Pendidikan.
Bandung : Gunung Djati Press.
Latipun. (2008). Psikologi Konseling. Malang : UPT UMM.
Moh. Surya. (1988), Eklektik Sistematis; Sebuah Pendekatan Pragmatis Untuk
Menterpadukan Metode-metode Konseling (Makalah). Bandung : PPB FIP IKIP.