0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan47 halaman

Geomorfologi dan Stratigrafi Sulawesi

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai geologi regional di Lengan Tenggara Sulawesi. Ada lima satuan morfologi yaitu pegunungan, perbukitan tinggi, perbukitan rendah, pedataran, dan karst. Stratigrafi regional terdiri atas kompleks batuan metamorf, ofiolit, dan molasa Sulawesi. Batuan penyusun terdiri atas formasi-formasi tertentu seperti Langkowala, Boepinang, Eemoiko, dan lain

Diunggah oleh

intan lestary
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan47 halaman

Geomorfologi dan Stratigrafi Sulawesi

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai geologi regional di Lengan Tenggara Sulawesi. Ada lima satuan morfologi yaitu pegunungan, perbukitan tinggi, perbukitan rendah, pedataran, dan karst. Stratigrafi regional terdiri atas kompleks batuan metamorf, ofiolit, dan molasa Sulawesi. Batuan penyusun terdiri atas formasi-formasi tertentu seperti Langkowala, Boepinang, Eemoiko, dan lain

Diunggah oleh

intan lestary
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Geologi Regional

1. Geomorfologi Regional

Geomorfologi regional terdiri dari lima satuan morfologi yang dapat

dibedakan dari citra IFSAR dibagian tengah dan ujung selatan Lengan Tenggara

Sulawesi, yakni Satuan Morfologi Pegunungan, Satuan Morfologi Perbukitan Tinggi,

Satuan Morfologi Perbukitan Rendah, Satuan Morfologi Pedataran dan Satuan

Morfologi Karst (Surono 2013) (Gambar 1).

Gambar 1. Bagian Tenggara Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR


(Surono, 2013).
a. Satuan Morfologi Pegunungan

Satuan Morfologi Pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini, terdiri

atas Pegunungan Mekongga, Pegunungan Tangkelemboke, Pegunungan Mandoke

dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung Selatan Lengan Tenggara (Gambar

1). Puncak tertinggi pada rangkaian Pegunungan Mekongga adalah Pegunungan

Mekongga yang mempunyai ketinggian 1500 mdpl. Satuan morfologi ini mempunyai

topografi yang kasar dengan kemiringan lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam

satuan ini mempunyai pola yang hampir sejajar berarah barat laut-tenggara. Arah ini

sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola ini mengindikasikan

bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat hubungannya dengan sesar

regional.

Satuan pegunungan terutama dibentuk oleh batuan malihan dan setempat oleh

batuan ofiolit. Ada perbedaan yang khas antara kedua penyusun batuan tersebut.

Pegunungan yang disusun oleh batuan ofiolit mempunyai punggung gunung yang

panjang dan lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta kemiringan yang tajam.

Sementaraitu, pegunungan yang dibentuk oleh batuan malihan, punggung gunung

terputus pendek-pendek dengan lereng yang tidak rata walaupun bersujud tajam.

b. Satuan Morfologi Perbukitan Tinggi

Satuan Morfologi Perbukitan Tinggi menempati bagian selatan Lengan

Tenggara Sulawesi, terutama di selatan Kendari (Gambar 1). Satuan ini terdiri atas
bukit-bukit yang mencapai ketinggian 500 mdpl dengan morfologi kasar. Batuan

penyusun morfologi ini berupa batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.

c. Satuan Morfologi Perbukitan Rendah

Satuan Morfologi Perbukitan Rendah melampar luas di utara Kendari dan ujung

selatan Lengan Tenggara Sulawesi (Gambar 1). Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan

rendah dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama

batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.

d. Satuan Morfologi Pedataran

SatuanMorfologi Pedataran dijumpai di bagian tengah ujung selatan Lengan

Tenggara Sulawesi. Tepi selatan dataran Wawotobi dan dataran Sampara berbatasan

langsung dengan morfologi pegunungan. Penyebaran morfologi ini tampak sangat

dipengaruhi oleh sesar geser mengiri (Sesar Kolaka dan Sistem Sesar Konaweha)

(Gambar 1). Kedua sistem ini diduga masih aktif, yang ditunjukan oleh adanya

torehan pada endapan alluvial dalam kedua dataran tersebut. Sehingga sangat

mungkin kedua dataran itu terus mengalami penurunan. Akibat dari penurunan ini

tentu berdampak buruk pada dataran tersebut, diantaranya pemukiman dan pertanian

di kedua dataran itu akan mengalami banjir yang semakin parah setiap tahunnya.

e. Satuan Morfologi Karst

Satuan Morfologi Karst melampar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan

ini dicirikan perbukitan kecil (Gambar 1) dengan sungai dibawah permukaan tanah.
Sebagian besar batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi oleh batugamping

berumur paleogen dan selebihnya batugamping mesozoikum. Batugamping ini

merupakan bagian Formasi Emoiko, Formasi Laonti, Formasi Buara dan bagian atas

dari Formasi Meluhu. Sebagian dari batugamping penyusun satuan morfologi ini

sudah terubah menjadi [Link] ini erat hubungannya dengan pensesar-

naikkan ofiolit keatas kepingan benua.

[Link] Regional

Gambar 2. Peta Geologi Lengan Tenggara Sulawesi (Modifikasi dari Surono, 2013)
Berdasarkan peta geologi Lengan Tenggara Pulau Sulawesi, stratigrafi Lengan

Tenggara Pulau Sulawesi terdiri atas tiga kelompok utama batuan penyusunnya

(Gambar 2), yaitu kompleks Batuan Malihan/Metamorf, Kompleks Ofiolit dan

Molasa Sulawesi (Surono, 2013, dalam Hasria, 2018).

2.1. Kompleks Batuan Metamorf

Batuan tertua sebagai batuan dasar di Lengan Tenggara Sulawesi adalah

kompleks batuan metamorf yang diterobos oleh batuan granitan di beberapa tempat

yang menempati bagian tengah yang membentuk Pegunungan Mendoke dan Rumbia

yang terdiri dari sekis, kuarsit, sabak dan marmer (Simandjuntak dkk, 1994; Rusmana

dkk., 1993 dalam Hasria, 2018). Batuan metamorf yang diterobos oleh aplit dan

diabas yang batuannya dapat dilihat di Sungai Ranteanging (Surono, 2013 dalam

Hasria, 2018). Batuan metamorf di Lengan Tenggara Pulau Sulawesi tersingkap di

sepanjang utara Teluk Bone, Pegunungan Mengkoka hingga ke daerah Kolaka, di

sepanjang Pegunungan Mendoke, menerus ke Pegunungan Rumbia dan juga Pulau

Kabaena (Surono, 2013 dalam Hasria 2018)

2.2. Kompleks Ofiolit

Kompleks Ofiolit di Lengan Tenggara Pulau Sulawesi didominasi oleh batuan

ultramafik, mafik dan sedimen pelagic. Batuan ultramafik terdiri atas harzburgit,

dunit, werlit, lerzolit, websterit, serpentinit, dan piroksinit (Surono, 2013 dalam

Hasria 2018).
Batuan mafik terdiri atas gabro, basalt, dolerite, mikrogabro, dan amfibolit.

Batuan sedimen pelagik terbagi atas batugamping laut dalam dan sisipan rijang merah

(rijang radiolarian) (Hamilton, 1979; Silver dkk., 1983 dalam Hasria, 2018).

2.3. Molasa Sulawesi

Molasa Sulawesi terdiri atas sedimen klastik dan sedimen karbonatan Batuan

Sedimen klastik terdiri atas Formasi Langkowala, Formasi Boepinang dan Pandua

sedangkan batuan karbonat adalah Formasi Eemoiko menyebar setempat. Formasi

Langkowala tersusun atas konglomerat, batupasir, serpih dan setempat batugamping

yang ditindih selaras oleh Formasi Eemoiko dan Formasi Boepinang. (Surono, 2013)

Berdasarkan sratigrafi Lengan Tenggara Pulau Sulawesi, maka batuan

penyusun daerah penelitian terdiri dari 3 (tiga) kelompok batuan penyusun yaitu

Kompleks Batuan Metamorf, Kompleks Ofiolit dan Molasa Sulawesi tetapi umumnya

didominasi oleh Kompleks Ofiolit

Pada geologi regional lembar kolaka yang termasuk dalam Kompleks batuan

Malihan/Metamorf terdiri atas Kompleks mekongga dan Kompleks Pompangeo, pada

Kompleks Ofiolit terdiri atas Kompleks ultramafik, sedangkan pada Molasa Sulawesi

terdiri atas Formasi Boepinang, Formasi Langkowala, dan Formasi Eemoiko. Geologi

regional lembar Kolaka disusun oleh satuan batuan yang dapat dikelompokan ke

dalam batuan Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum. Kelompok Paleozoikum

berumur Perm. Kelompok batuan yang yang termasuk paleozoikum terdiri atas

Komplek Pompangeo, Kompleks Ultramafik dan Kompleks Mekongga. Kelompok

batuan yang termasuk Mesozoikum berumur Trias terdiri atas Formasi Meluhu dan
Formasi Laonti. Sedangkan kelompok batuan yang termasuk Kenozoikum berumur

Miosen Akhir hingga Holosen terdiri atas Formasi Langkowala, Formasi Boepinang,

Formasi Eemoiko, Formasi Buara, Formasi Alangga, dan Aluvium. Berdasarkan

Stratigrafi Lembar Lasusua-Kendari yang dikeluarkan oleh E. Rusmana dalam

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi tahun 1993 maka secara umum

stratigrafi Kabupaten Konawe Utara, dapat dibagi dalam beberapa formasi batuan

sebagai berikut :

a. Batuan Malihan Paleozoikum (Pzm)

Tersusun oleh jenis batuan sekis, gneis, filit, kuarsit, batusabak, dan

sedikit pualam. Berumur Karbon sampai Perm.

b. Pualam Paleozoikum (Pzmm)

Tersusun oleh jenis batugamping dan pualam. Umur satuan ini diperkirakan

Karbon sampai Perm.

c. Batuan Terobosan (PTR(g))

Terdiri atas aplit kuarsa, andesit, dan latit kuarsa. Satuan ini menerobos satuan

batuan malihan Paleozoikum dan diperkirakan berumur Perm.

d. Formasi Tokala (TRJt)

Tersusun oleh jenis batugamping, serpih, kalsilutit, napal, batusabak

dan batupasir. Formasi ini diperkirakan berumur Trias-Jura Awal dengan

lingkungan pengendapan pada laut dangkal (neritik) dengan tebal formasi

diperkirakan lebih dari 1000 m.


e. Formasi Meluhu (TRJm)

Tersusun dari batupasir, kuarsit, serpih hitam, serpih merah, filit, batusabak,

batugamping, dan lanau.

f. Batuan Ofiolit (Ku)

Batuan ofiolit merupakan batuan beku yang tersusun oleh jenis

batuan peridotit, harzburgit, dunit, gabro, dan serpentinit. Satuan batuan ini

diperkirakan berumur Kapur.

f. Formasi Matano (Km).

Tersusun atas kalsilutit yang bersisipan oleh jenis serpih dan rijang. Formasi

Matano diduga berumur kapur akhir dengan lingkungan pengendapan pada laut

dalam dengan tebal sekitar 550 m.

g. Formasi Salodik (Tems)

Terdiri atas kalsiludit dan batugamping oolit. Formasi Salodik diduga

berumur Eosen Akhir – Miosen Awal dengan lingkungan pengendapan pada laut

dangkal dan terbuka.

h. Formasi Pandua (Tmpp)

Terdiri atas konglomerat, batupasir dan batulempung dengan sisipan lanau.

Umur dari formasi ini adalah Miosen Akhir sampai Pliosen.

i. Formasi Alangga (Qpa)

Tersusun oleh jenis batupasir, batulempung dan konglomerat. Umur dari

formasi ini adalah Plistosen dan menindih tak selaras formasi yang lebih tua yang

masuk kedalam kelompok molasa Sulawesi.


j. Terumbu Koral Kuarter (Ql).

Merupakan batugamping terumbu dengan kandungan fosil berupa ganggang

dan cangkang moluska. Umur dari satuan ini adalah Plistosen – Holosen dan

terendapkan pada lingkungan laut dangkal.

i. Endapan Aluvium (Qa).

Endapan Aluvium merupakan endapan sekunder hasil rombakan batuan

di permukaan yangtelah terbentuk sebelumnya. Endapan terdiri dari material

lepas batuan kerikil, kerakal, pasir dan lempung. (Surono, dkk 2013)

2.4 Struktur Regional

Struktur yang terbentuk di Pulau Sulawesi mempunyai berbagai skala (regional

dan lokal) meliputi penunjaman dan zona tumbukan, sesar naik, sesar dan lipatan.

Struktur geologi berskala regional yang berkembang di Sulawesi dan kawasan

sekitarnya adalah parit Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench), Sistem Sesar Palu-

Koro, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Poso, Sesar Walanae, dan pemekaran Samudra di

Selat Makassar.

Struktur geologi yang berkembang di lengan Tenggara Sulawesi dominasi oleh

sesar berarah Barat Laut-Tenggara, yang utama terdiri atas Sesar Matano, kelompok

Sesar Kolaka, kelompok Sesar Lawanopo dan kelompok Sesar Lainea. Berdasarkan

hasil penggambaran struktur regional Sulawesi dan daerah sekitarnya (Surono, 2013).

Daerah penelitian ini merupakan salah satu kawasan daerah yang masih mendapat

pengaruh oleh sesar diantaranya sesar Lasolo.


Gambar 3. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya.
Disederhanakan dari Silver dkk. (1983) dan Rehahult dkk (1991).

Sesar dan kelurusan umumnya berarah barat laut-tenggara searah dengan sesar

geser lurus mengiri Lasolomeliputi daerah Kecamatan Asera, Kecamatan

Molawe,Kecamatan Lasolo, Kecamatan Lembo, sampai Kecamatan Sawa dan

memanjang sampai ke Teluk Lasolo. Sesar Lasolo bahkan masih aktif hingga saat ini.

Sesar tersebut diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada

Kala Oligosen (Simandjuntak, dkk., 1983). Sesar naik ditemukan di daerah Wawo

sebelah barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo yaitu

beranjaknya Batuan Ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga, Formasi Meluhu, dan

Formasi Matano.
Gambar 4. Peta Geologi Lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi Oleh E. Rusmana,
Sukido, D. Sukarna, [Link], (Sumber: Pusat Penelitian Pengembangan
Geologi,1)

B. Dasar Teori

1. Pengertian Sedimen

Sedimen didefinisikan secara luas sebagai material yang diendapkan di dasar

suatu cairan (air dan udara), atau secara sempit sebagai material yang diendapkan

oleh air, angin, atau gletser / es. Sedangkan endapan sedimen adalah akumulasi

mineral dan fragmen batuan dari daratan yang bercampur dengan tulang-tulang

organisme laut dan beberapa partikel yang terbentuk melalui proses kimiawi yang

terjadi di dalam laut (Gross, 1993).


Berdasarkan diameter butiran, Wentworth dalam Rifardi (2008) membagi

sedimen sebagai berikut ini: boulders (batuan) dengan diameter butiran lebih besar

dari 256 mm, gravel (kerikil) diameter 2 sampai 256 mm, very coarse sand (pasir

sangat kasar) diameter 1 sampai 2 mm, coarse sand (pasir kasar) 0,5 sampai 1 mm,

fine sand (pasir halus) diameter 0,125 sampai 0,5 mm, very fine sand (pasir sangat

halus) diameter 0,0625 sampai 0,125 mm, silt (lumpur) diameter 0,002 sampai 0,0625

mm dan dissolved material (bahan-bahan terlarut) diameter lebih kecil dari 0,0005

mm.

Pengendapan sedimen tergantung kepada medium angkut, dimana bila kecepatan

berkurang medium tersebut tidak mampu mengangkut sedimen ini sehingga terjadi

penumpukan. Adanya sedimen kerikil menunjukan bahwa arus dan gelombang pada

daerah itu relatif kuat sehingga sedimen kerikil umumnya ditemukan pada daerah

terbuka, sedangkan sedimen lumpur terjadi akibat arus dan gelombang benar-benar

tenang dan dijumpai pada daerah dimana arus dan gelombang terhalang oleh pulau

(Ompietal, 1990).

Postma (1976) menyatakan bahwa kecepatan pengendapan partikel yang

berdiameter 5 mm dengan densitas yang sama mengendap dengan kecepatan 20

cm/det. Sementara Wotton (1992) mengemukakan bahwa partikel-partikel pasir

memerlukan waktu 1,8 hari agar bisa mengendap pada kedalaman 4.000 m.

sedangkan jenis partikel lumpur yang berukuran lebih kecil membutuhkan waktu

untuk tenggelam kira-kira 185 hari pada kedalam 4.000 m dan jenis partikel tanah

Hat membutuhkan waktu tenggelam kira-kira 51 tahun pada kedalaman yang sama.
hari pada kedalam 4.000 m dan jenis partikel tanah Hat membutuhkan waktu

tenggelam kira-kira 51 tahun pada kedalaman yang sama.

1.1 Mekanisme Transport Sedimen

Ada dua kelompok cara mengangkut sedimen dari batuan induknya ke tempat

pengendapannya, yakni supensi (suspendedload) dan bedload tranport. Di bawah ini

diterangkan secara garis besar ke duanya.

 Suspensi

Dalam teori segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam suspensi,

jika arus cukup kuat. Akan tetapi di alam, kenyataannya hanya material halus

saja yang dapat diangkut suspensi. Sifat sedimen hasil pengendapan suspensi

ini adalah mengandung prosentase masa dasar yang tinggi sehingga butiran

tampak mengambang dalam masa dasar dan umumnya disertai memilahan

butir yang buruk. Ciri lain dari jenis ini adalah butir sedimen yang diangkut

tidak pernah menyentuh dasar aliran.

 Bedload transport

Berdasarkan tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat dibagi menjadi:

1. endapan arus traksi

2. endapan arus pekat (density current) dan

3. endapan suspensi.
Arus traksi adalah arus suatu media yang membawa sedimen didasarnya. Pada

umumnya gravitasi lebih berpengaruh dari pada yang lainya seperti angin atau

pasang-surut air laut.

Sedimen yang dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang

berstruktur silang siur, dengan sifat-sifat:

1. pemilahan baik

2. tidak mengandung masa dasar

3. ada perubahan besar butir mengecil ke atas (fining upward) atau ke

bawah (coarsening upward) tetapi bukan perlapisan bersusun (graded

bedding).

Di lain pihak, sistem arus pekat dihasilkan dari kombinasi antara arus traksi

dan suspensi. Sistem arus ini biasanya menghasilkan suatu endapan campuran antara

pasir, lanau, dan lempung dengan jarang-jarang berstruktur silang-siur dan perlapisan

bersusun.

Arus pekat (density) disebabkan karena perbedaan kepekatan (density) media.

Ini bisa disebabkan karena perlapisan panas, turbiditi dan perbedaan kadar garam.

Karena gravitasi, media yang lebih pekat akan bergerak mengalir di bawah media

yang lebih encer. Dalam geologi, aliran arus pekat di dalam cairan dikenal dengan

nama turbiditi. Sedangkan arus yang sama di dalam udara dikenal dengan nuees

ardentes atau wedus gembel, suatu endapan gas yang keluar dari gunungapi. Endapan
dari suspensi pada umumnya berbutir halus seperti lanau dan lempung yang

dihembuskan angin atau endapan lempung pelagik pada laut dalam.

Kenyataan di alam, transport dan pengendapan sedimen tidak hanya dikuasai

oleh mekanisme tertentu saja, misalnya arus traksi saja atau arus pekat saja, tetapi

lebih sering merupakan gabungan berbagai mekanisme. Malahan dalam berbagai hal,

merupakan gabungan antara mekanik dan kimiawi. Beberapa sistem seperti itu dalah:

 sistem arus traksi dan suspensi

 sistem arus turbit dan pekat

 sistem suspensi dan kimiawi.

Pada dasarnya butir-butir sedimen bergerak di dalam media pembawa, baik berupa

cairan maupun udara, dalam 3 cara yang berbeda: menggelundung (rolling),

menggeser (bouncing) dan larutan (suspension)

1. Klasifikasi Transpor Sedimen

Transpor sedimen diklasifikasikan berdasarkan sumber asalnya dan mekanisme

transpornya. Transpor material dasar adalah transor (pergerakan) material yang

ditemukan di dasar sungai.

 Wash Load: sedimen yang tidak ditemukan di dasar sungai karena

secara permanen tersuspensi.

 Bed Load: sedimen yang secara kontinu berada di dasar sungai,

terangkut secara menggelinding, menggeser, melompat.


 Suspended Load: Sedimen yang tersuspensi oleh turbulensi aliran dan

tidak berada di dasar sungai

Berdasarkan mekanisme transpornya sedimen suspense terbagi menjadi dua yaitu

wash load dan bed material transport. Wash load adalah material yang lebih

halus dibandingkan material dasar saluran. Biasanya ukuran butirannya rata-rata

D 50 = 60 mikrometer untuk mudah membedakan antara wash load dan bed

material load. Transport sedimen secara umum dinyatakan sebagai berat /

volume kering per waktu atau bulk volume yang memasukkan angka pori kedalam

volume tetap per unit [Link] pengukuran ketiga jenis transport sedimen (wash

load, bed load, suspended load) dibutuhkan alat dan metode khusus. Sebelum

mendiskripsikan metode pengambilan dan elaborasi data perlu dipahami perbedaan

ketiga jenis transport sedimen tersebut

a. Bed Load

Sedimen dasar adalah transpor dari butiran sedimen secara menggelinding,

menggeser dan melompat yang terjadi di dasar saluran. Secara umum konfigurasi

dari pergerakan sedimen membentuk konfigurasi dasar seperti dunes, ripple,etc.

Banyak formulasi yang telah dikembangkan untuk mendiskripsikan mekanisme

dari sedimen dasar yang dilakukan dengan eksperimen di laboratorium atau pun

dengan memodelkan fenomena tersebut.


b. Suspended Load

Sedimen layang (suspensi) adalah transpor butiran dasar yang tersuspensi

oleh gaya gravitasi yang diimbangi gaya angkat yang terjadi pada turbulensi

aliran. Itu berarti butiran dasar terangkat ke atas lebih besar atau kecil tapi

pada akhirnya akan mengendap dan kembali ke dasar sungai. Banyak

persamaan sedimen suspensi yangtelah dikembangkan seperti persamaan

Engelund dan Hansen namun persamaan ini tidak memberikan informasi yang

cukup terkait distribusi konsentrasi dari butiran pada arah vertical, besarnya

konsentrasi (C) ditentukan secara teoritik Dalam banyak kasus pengukuran sedimen

supensi dilakukan di lapangan agar diketahui distribusi konsentrasi arah vertikal

untuk berbagai jenis transport sedimen

c. Wash Load

Wash load adalah transpor butiran sedimen yang berukuran kecil dan halus

dibanding dengan sedimen dasar juga sangat jarang ditemukan didasar sungai.

Besarnya wash load banyak ditentukan oleh karakteristik klimatologi dan erosi

dari daerah tangkapan (catchment area). Dalam perhitungan gerusan lokal (local

scouring) wash load tidak begitu penting sehingga diabaikan namun untuk

perhitungan sedimentasi di daerah dengan kecepatan aliran yang rendah seperti:

waduk, pelabuhan, cabangan sungai wash load diperhitungkan.


1.2 Karakteristik Batuan Karbonat

Di dalam pembahasan karakteristik batuan karbonat meliputi beberapa bagian, yaitu

pengertian batuan karbonat, mineralogi dan komposisi kimia batuan karbonat,

tekstur batuan karbonat, dan tipe-tipe porositas pada batuan karbonat.

 Pengertian Batuan Karbonat

Batuan karbonat didefinisikan sebagai batuan dengan kandungan material

karbonat lebih dari 50% dan tersusun atas partikel karbonat klastik yang

tersemenkan atau karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Reijer, 1986).

Sedangkan batugamping itu sendiri adalah batuan yang mengandung kalsium

karbonat hingga 95%, sehingga tidak semua batuan karbonat merupakan

batugamping (Reijer dan Hsu, 1986). Menurut Pettijohn (1975), batuan

karbonat adalah batuan yang jumlah fraksi karbonatnya lebih besar dari fraksi

non karbonat atau dengan kata lain fraksi karbonatnya (>50%). Dalam

prakteknya batuan karbonat adalah batugamping dan dolomit.

 Tekstur Batuan Karbonat

Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral, dan dapat


pula fragmen cangkang, fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. Semua
komponen berupa fragmen tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan
mudah. Untuk komponen berupa mineral, mungkin sulit mengenal jenis
mineralnya, tetapi kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya seperti mineral
lempung yang lunak. Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran
pasir. Menurut Tucker (1991), komponen penyusun batugamping dibedakan
atas non skeletal grain, skeletal grain, matrix dan semen.
1. Non Skeletal grain, terdiri dari :

a. Ooid dan Pisoid


Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang
punya satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti.
Inti penyusun biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker, 1991).
Ooid memiliki ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki ukuran > 2 mm
maka disebut pisoid.
b. Peloid
Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau
merincing yang tersusun oleh mikrit dan tanpa struktur internal. Ukuran
peloid antara 0,1 – 0,5 mm. Kebanyakan peloid ini berasala dari kotoran
(faecal origin) sehingga disebut pellet (Tucker 1991).
c. Agregat dan Intraklas
Agregat adalah kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang
tersemenkan bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat
material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen yang
sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air
lumpur pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker,1991).

2. Skeletal Grain

Skeletal grain adalah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri
dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil-fosil makro.
Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai dalam batugamping
(Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga merupakan penunjuk
pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang waktu geologi (Tucker,
1991).
3. Lumpur Karbonat atau Mikrit
Mikrit adalah matriks yang biasanyaberwarna gelap. Pada batugamping hadir
sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butir kurang dari 4
mikrometer. Pada studi mikroskop elektron menunjukkan bahwa mikrit tidak
homogen dan menunjukkan adanya ukuran kasar sampai halus dengan batas antara
kristal yang berbentuk planar, melengkung, bergerigi ataupun tidak teratur. Mikrit
dapat mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar yang kasar
(Tucker, 1991).
4. Semen
Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan
mengisi rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen dapat
berupa kalsit, silika, oksida besi ataupun sulfat.
1.3 Semen Karbonat (Carbonate Cement)

a. Acicular, merupakan kristal berbentuk jarum, menunjukkan pemadatan lurus,

memiliki ukuran lebar <10 μm, dan panjang sekitar 100 μm. Pada umumnya

berupa aragonit dan mengindikasikan zona marine phreatic.

b. Fibrous, merupakan kristal berbentuk serabut, memiliki rasio panjang dan lebar >

6:1 serta lebar >10 μm. Sering dijumpai pada pori inter-partikel dan intra-partikel.

Umumnya terbentuk pada zona marine phreatic, terkadang dijumpai pada zona

meteoric vadose.

c. Botryoidal, merupakan kristal berbentuk kipas yang saling menyatu dan umumnya

adalah aragonit. Terbentuk di laut (umum dijumpai di gua pada terumbu dan slope

terjal), namun kadang dijumpai pada zona burial.


d. Dog tooth, merupakan kristal yang menajam pada satu titik dengan bentuk

scalenohedral atau rhombohedral. Sering dijumpai pada zona meteorik dan

shallow burial namun juga dijumpai pada zona marine phreatic.

e. Bladed, merupakan kristal yang non-equidimensional dan non-fibrous. Memiliki

rasio panjang dan lebar 1,5:1 hingga 6:1, menunjukkan terminasi seperti pyramid.

Ukuran lebar 10 μm dan panjang < 20 μm hingga 100 μm. Kristal bertambah lebar

seiring dengan bertambahnya panjang. Berupa high Mg-kalsit namun juga

aragonite. Terbentuk pada zona marine phreatic.

f. Meniscus, merupakan semen yang permukaannya seperti kurva di bawah butir dan

menghasilkan pori intergranular yang tampak membundar akibat efek meniscus.

Terbentuk pada zona meteoric vadose dan meteoric phreatic

g. Drusy, semen pengisi pori intergranular dan interkristal, mold dan kekar, bentuk

anhedral hingga subhedral dengan ukuran >10 μm. Ukuran bertambah ke arah

pusat pori. Terbentuk di zona meteoric vadose, meteoric phreatic, dan burial.

h. Granular, merupakan semen kalsit yang terdiri dari kristal-kristal kecil

equidimensional yang mengisi pori, umumnya pada pori interpartikel. Terbentuk

pada zona meteoric vadose, meteoric phreatic, dan burial. Dapat juga terbentuk

sebagai hasil rekristalisasi dari semen yang ada sebelumnya.

i. Blocky, merupakan semen kalsit yang terdiri dari kristal berukuran sedang hingga

kasar antara puluhan mikron hingga beberapa milimeter, sering menunjukkan

perbedaan bentuk batas kristal. Berupa high-Mg kalsit dan low- Mg kalsit.
Terbentuk pada zona meteoric vadose, meteoric phreatic, dan burial. Hasil

rekristalisasi dari semen yang ada sebelumnya.

2. Klasifikasi Batuan Karbonat

2.1 Klasifikasi Dunham (1962)

Klasifikasi ini didasarkan pada fabrik batuan, tekstur, proporsi kandungan

mud dalam batuan, dan kerangka penyusun batuan baik secara mekanik maupun

biologi (lihat gambar dibawah). Penggunaan klasifikasi ini lebih umum

dikarenakan sistem yang lebih sederhana dan lebih lengkap. Pada klasifikasi ini,

perbedaan penting mengenai tingkat energi pengendapan tiap jenis batuan sangat

jelas teramati karena lebih detail. (Tucker, 1990).

Gambar 5. Klasifikasi batuan karbonat (Dunham 1962)

3. Lingkungan Pengendapan

Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik, kimia

dan biologi yang menjadi tempat material sedimen terakumulasi (Krumbein dan

Sloss, 1963). Lingkungan pengendapan juga merupakan tempat akumulasi endapan


material sedimen dengan kondisi fisik, kimia, dan biologi yang dapat mencirikan

mekanisme pengendapan yang terjadi. (Gould, 1972). Lingkungan pengendapan

dapat didefiniskan secara fisik, biologi, dan kimia. Menurut Boggs (1995) lingkungan

pengendapan adalah karakteristik dari suatu tatanan atau sistem geomorfik dengan

proses fisik, kimia dan biologi berlangsung akan menghasilkan suatu jenis endapan

sedimen tertentu.

Lingkungan pengendapan terjadi pada unit geomorfologi tertentu. Setiap unit

geomorfologi memiliki proses fisik, kimia, dan biologi dengan karakteristik proses

dan intensitas yang berbeda. Hal tersebut membuat keragaman karakteristik dari

material pengendapan yang terbentuk. Karakteristik material sedimen yang terbentuk

dominan akan dipengaruhi oleh intensitas dan mekanisme proses pengendapan

meliputi durasi atau lama pengendapan (Pettijhon, 1957). Jadi, dapat disimpulkan

bahwa proses pengendapan pada lingkungan pengendapan tersebut akan

menghasilkan jenis endapan tertentu yang dicirikan sebagai bentuk lahan.

Pemilihan lokasi kajian di lingkungan pengendapan matarombeo bertujuan

untuk memberikan variasi jenis lingkungan pengendapan. Menurut Boggs (2006),

lingkungan pengendapan secara umum terbagi atas 3 klasifikasi yaitu lingkungan

pengendapan darat (continental), transisi dan laut (ocean). Lingkungan darat dapat

ditemukan proses fluvial untuk membentuk dataran alluvial. lingkungan pengendapan

transisi merupakan endapan yang terdapat di daerah antara darat dan laut seperti
delta,laguna, dan litorial. Lingkungan pengendapan laut juga merupakan tipe

endapan-endapan neritik, batial, dan abisal yang berada di dasar laut.

3.1Macam-macam lingkungan pengendapan

Secara sederhana lingkungan pengendapan tersebut dapat diklasifikasikasn

menjadi tiga kelompok utama ,yaitu :

 Lingkungan pengendapan darat (continental)

 Lingkungan pengendapan transisi

 Lingkungan pengendapan laut (marine)

Tabel 2.1 Klasifikasi Lingkungan Pengendapan (Selley,2000)

Terestrial - Gurun

Darat Berair (aqueous) - Glacial

( continental) - Fluvial

- Paludal (rawa)

- Danau

Transisi - Delta

- Estuary

- Laguna

- Daerah pasang surut

(intertidal)
Laut (marine) - Terumbu

- Neritik (batas pasang

surut -200 m )

- Batial (200-2.000 m)

- Abisal ( lebih dalam

dari 2000 m)

1) . Lingkungan Pengendapan Darat

Fasies yang terendapkan pada lingkungan pengendapan darat kebanyakan berupa

endapan silisklastik, yang dicirikan langkanya fosil dan tidak adanya fosil laut, serta

berupa endapan nonsilisklastik seperti batugamping air tawar. Dalam jumlah yang

lebih sedikit endapan evaporates juga dijumpai pada lingkungan pengendapan darat.

 Gurun

Ciri utama iklim didaerah gurun pasir ialah tingkat evaporasi(penguapan)

pasir lebih besar dibandingkan tingkat presipitasi ( pengendapan larutan).Pada

lingkungan gurun pasir tersebut terdapat sublingkungan berupa kipas alluvial.

Media transportasi sedimen didaerah gurun yang utama ialah

[Link] air terkadang hadir ,tetapi peran air relative sangat kecil.

Proses pengangkutan material sedimen oleh angin sama halnya dengan yang

disebabkan oleh air, yaitu melalui tiga cara: traksi,saltasi dan suspensi.
 Glacial

Tubuh es yang bergerak karena berat massanya sendiri disebut dengan

glacier. Glacier bisa terbentuk bila akumulasi salju di satu titik melebihi

ablasinya ( proses pencairan dan penyublim).

Glacier dapat dibagi menjadi tiga zona , yaitu zona akumulasi,zona

ablasi yang keduanya dipisahkan oleh zona [Link] yang

memungkinkan proses glacier tersebut dapat terjadi di dua daerah utama,yaitu

di pegunungan glacier dan es penutup kutub(Nichols,2009).

 Fluvial

Endapan fluvial meliputi endapan yang terbentuk akibat aktivitas sungai

dan proses-proses aliran gravitasi yang masih [Link] ada

banyak klasifikasi mengenai mengenai setting alluvial dan sublingkungan dari

system fluvial yang dikenal,kebanyakan endapan fluvial purba dapat

dimasukkan kedalam satu atau dua setting lingkungan pengendapan,yaitu

kipas aluvial dan [Link] lingkungan ini dapat saling berhubungan dan

saling bertampalan (Boggs, 2006).

- Kipas Aluvial

Kipas Aluvial merupakan suatu bentukan seperti corong (cones), mempunyai

geometri cembung keatas pada profil sayatan vertical,dan tersusun oleh

endapan rombakan yang terbentuk pada tekuk lereng pada suatu dataran

alluvial.
- Sungai

System sungai mempunyai variasi bentuk yang sangat banyak (Nichols ,

2009) mengidentifikasi variasi tersebut dibedakan berdasarkan tingkat

pembelokkan saluran ,kehadiran endapan pada saluran, dan jumlah

percabangan [Link] klasifikasi yang lebih sederhana ,sungai

dikelompokkan kedalam 3 tipe dasar berdasarkan bentuk salurannya ,yaitu

sungai berkelok (meandering,saluran tunggal) ,sungai teranyam

(brainded,saluran banyak),dan anastomosing.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pada tingkat pembelokkan saluran

(meandering) dan keteranyaman (baraiding) ialah pasokan sungai,kemiringan

saluran,ukuran butir,kekasaran dasar aliran,jumlah dan jenis beban sedimen

(bedload atau suspended load) , dan stabilitas dari cabang-cabal kanal

(Boggs,2006)

 Danau

Proses sedimentasi didanau menjadi sangat penting karena proses kimia pada

danau sangat peka terhadap kondisi iklim sehingga endapan danau bermanfaat

sebagai penunjuk iklim pada masa lalu.

Umumnya danau terisi oleh air tawar,dengan proses pengendapan yang

dipengaruhi beberapa factor bbaik kondisi iklim maupun factor fisika ,kimia

dan [Link] hal mekanisme sedimentasinya , danau dapat dibedakan

menjadi danau terbuka dan danau [Link] terbuka ialah danau yang
mempunyai aliran air keluar dengan garis pantai yang relative stabil dan

memiliki keseimbangan antara masuknya air dan pengendapan seimbang

dengan aliran air kluar dan [Link] tertutup mempunyai hidrologi

terbatas .Proses yang dominan berjalan pada danau tertutup ialah proses

kimiawi dan biokimia pada air yang menjadikan air asin akibat tingginya

evaporasi.

2) . Lingkungan Pengendapan Transisi

Lingkungan pengendapan transisi menace pada zona yang dipengaruhi oleh

factor sedimentasi (fisika,kimia dan biologi) dari darat dan laut,terletak disepanjang

batas antara lingkungan darat dan [Link] pengendapan yang termasuk

kedalam zona ini ialah delta,estuary,laguna,dan area pasang surut.

 Delta

Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama

Herodotus pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang

segitiga yang dibentuk oleh oleh alluvial pada muara Sungai Nil.

Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen fluvial

(sungai) pada “lacustrine” atau “marine coastline”. Delta merupakan sebuah

lingkungan yang sangat komplek dimana beberapa faktor utama mengontrol

proses distribusi sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor tersebut adalah

regime sungai, pasang surut (tide), gelombang, iklim, kedalaman air dan

subsiden (Tucker, 1981). Untuk membentuk sebuah delta, sungai harus


mensuplai sedimen secara cukup untuk membentuk akumulasi aktif, dalam

hal ini prograding system. Secara sederhana ini berarti bahwa jumlah sedimen

yang diendapkan harus lebih banyak dibandingkan dengan sedimen yang

terkena dampak gelombang dan pasang surut. Dalam beberapa kasus,

pengendapan sedimen fluvial ini banyak berubah karena faktor diatas,

sehingga banyak ditemukan variasi karakteristik pengendapan sedimennya,

meliputi distributary channels, river-mouth bars, interdistributary bays, tidal

flat, tidal ridges, beaches, eolian dunes, swamps, marshes dan evavorites flats

(Coleman, 1982).

Ketika sebuah sungai memasuki laut dan terjadi penurunan kecepatan

secara drastis, yang diakibatkan bertemunya arus sungai dengan gelombang,

maka endapan-endapan yang dibawanya akan terendapkan secara cepat dan

terbentuklah sebuah delta.

 Estuarin

Beberapa ahli geologi mengemukakan beberapa pengertian yang

bermacam-macam tentang estuarin. Pritchard, 1967 (Reineck & Singh, 1980)

mengemukakan bahwa estuarin adalah “a semi-enclosed coastal body of water

which has a free connection with the open sea and within which sea water is

measurably diluted with fresh water derived from land drainage”. Ada dua

faktor penting yang mengontrol aktivitas di estuarin, yaitu volume air pada

saat pasang surut dan volume air tawar (fresh water) serta bentuk estuarin.
Endapan sedimen pada lingkungan estuarin dibawa dua aktivitas, yaitu oleh

arus sungai dan dari laut terbuka. Transpor sedimen dari laut lepas akan

sangat tergantung dari rasio besaran tidal dan disharge sungai.

Estuarin diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu :

1. Marine atau lower estuarin, yaitu estuarine yang secara bebas berhubungan

dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah

ini.

2. Middle estuarin, yaitu daerah dimana terjadi percampuran antara fresh

water dan air asin secara seimbang.

3. Fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin dimana fresh water lebih

mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh (harian)

Marine atau lower estuarin adalah estuarine yang secara bebas berhubungan

dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah ini.

Daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan air asin secara seimbang

disebut middle estuarin. Sedangkan fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin

dimana fresh water lebih mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh

(harian). Friendman & Sanders (1978) dalam Reineck & Singh mengungkapkan

bahwa pada fluvial estuarin konsentrasi suspensi yang terendapkan lebih kecil

(<160mg/l) dibanding pada sungai yang membentuk delta. System lingkungan

pengendapan estuarin yang sangat dipengaruhi gelombang (Dalrymple, 1992)

Berdasarkan aktivitas dari tidal yang mempengaruhinya, estuarin dapat

diklasifikasikan menjadi tiga (Hayes, 1976 dalam Reading, 1978), yaitu :


1. Mikrotidal estuarin

2. Mesotidal estuarin

3. Makrotidal estuarin

Pada mikrotidal estuarin, perkembangan daerahnya sering ditandai dengan

kemampuan disharge dari sungai untuk menahan arus tidal yang masuk ke

dalam sungai, meskipun kadang-kadang pada saat disharge sungai sangat

kecil, arus tidal dapat masuk sampai ke sungai. Pada mesotidal estuarin,

efektivitas dari tidal lebih efektif dibanding pada mikrotidal, khususnya ini

terjadi pada sungai bagian bawah. Pada makrotidal estuarin sering ditemukan

funnel shaped dan linier tidal sand ridges. Arus tidal sangat efektif dalam

sirkulasi daerah ini, serta endapan suspensi umumnya diendapkan pada

dataran (flats) intertidal pada daerah batas estuarin (Reading, 1978). Endapan

pada daerah estuarin umumnya aggradational dengan alas biasanya berupa

lapisan erosional hasil scour pada mulut sungai. Hal ini berbeda dengan

endapan delta yang umumnya progadational yang sering menunjukan urutan

mengkasar keatas. Pada daerah estuarin yang sangat dipengaruhi oleh tidal,

endapannya akan sangat sulit dibedakan dengan daerah lingkungan

pengendapan tidal, untuk membedakannya harus didapat informasi dan

runtunan endapan secara lengkap (Nichols, 1999).


 Tidal Flat

Tidal flat merupakan lingkungan yang terbentuk pada energi gelombang

laut yang rendah dan umumnya terjadi pada daerah dengan daerah pantai

mesotidal dan makrotidal. Pasang surut dengan amplitudo yang besar

umumnya terjadi pada pantai dengan permukaan air yang sangat besar/luas.

Danau dan cekungan laut kecil yang terpisah dari laut terbuka biasanya hanya

mengalami efek yang kecil dari pasang surut ini, seperti pada laut mediterania

yang ketinggian pasang surutnya hanya berkisar dari 10 – 20 cm. Luas dari

daerah tidal flat ini berkisar antara beberapa kilometer sampai 25 km (Boggs,

1995).

3). Lingkungan Pengendapan Laut

Lingkungan laut merupakan bagian dari lautan atau samudra yang berada

mulai dari zona yang dipengaruhi oleh proses pantai sampai kea rah laut dalam

(Boggs,2006).Berdasarkan morfologinya , lingkungan bawah laut dibedakan

menjadi dua bagian, yakni tepi benua (continental margin) dan dasar laut samudra

(ocean basin).Kedua bagian ini selanjutnya dibagi menjadi beberapa bagian ,

yaitu continental shelf (paparan samudra)continental slope (lereng tepi benua)

continental rise,dan abyssal plain( dataran laut dalam ).Bagian dasar samudra

yang berupa pemekaran dengan cirri khas adanya berbukitan volcanic disebut

sebagai mid-oceanic ridge,dan pada bagian batas lempeng yang aktif lereng tepi

benua bisa masuk lebih dalam dan menjadi trench laut dalam.
Berdasarkan kedalamanya,lautan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu zona

neritik,bathial,dan abyssal ( Selley,2000).Zona neritik memiliki kedalaman yang

relative dangkal (0-200m) dab berada di sepanjang garis pantai sampai shelf

break,sedangkan zona laut dalam yang terdiri atas bathial (200-4000 m) dan

abyssal mempunyai kedalaman lebih dari 4000 m.

4). Lingkungan Laut Dalam

Sebenarnya lingkungan pengendapan non laut dan lingkungan laut dangkal

menepati wilayah yang kecil dibandingkan lingkungan laut dalam di permukaan

[Link] Boggs (2006), sekitar 65% permukaan bumi ditempati oleh lereng

benua (continental slope),continental rise,palung laut dalam(deep-sea trench),dan

dasar lantai samudra(deep ocean floor).Meskipun demikian, pembahasan mengenai

endapan laut dalam ini umumnya masih sederhana,kemungkinan karena secara

keseluruhan endapan sedimen laut dalam kebanyakan jarang terekam dalam kondisi

singkapan yang baik sebagaimana endapan laut dangkal.

Dari segi kuantitas,endapan laut dalam juga relative sedikit karena secara

keseluruhan kecepatan sedimentasi pada lingkungan kaut dalam lebih lambat,kecuali

pada lingkungan kipas laut yang dekat dengan dasar lereng dimana kecepatan

sedimentasi berasal dari arus turbit ata arus keruh yang mencapai 10m/1.000 tahun

dan endapan sedimen turbidit bisa mencapai ketebalan ribuan meter

(Bouma,Normark,dan Barnes,1985).

Endapan sedimen yang terekam pada laut dalam bia hancur akibat adanya

subduksi yang terjadi pada [Link] sedimen laut dalam itu melepaskan diri
dari subduksi melalui sesar yang luas dan mengangkat atau membawanya keatas

menuju permukaan air sehingga dapat terlihat.

3.2 Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat.

Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen beserta

kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme pengendapan

tertentu (Gould, 1972). Interpretasi lingkungan pengendapan dapat ditentukan dari

struktur sedimen yang terbentuk. Struktur sedimen tersebut digunakan secara meluas

dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini terbentuk

pada tempat dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria yang

sangat berguna untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Terjadinya struktur-

struktur sedimen tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta

lingkungan pengendapan tertentu.

Zona marine phreatic

Sedimen berada pada lingkungan zona marine phreatic bila semua rongga

porinya terisi oleh air laut yang normal,umumnya karbonat diendapkan dan melalui

sejarah diagenesisnya pada lingkungan marine phreatic. Lingkungan ini dapat dibagi

menjadi dua, yaitu lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air sedikit,

dicirikan oleh kehadiran mikritisasi dan sementasi setempat lingkungan kedua berupa

lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air yang baik dimana tingkat

sementasi intergranular dan mengisi rongga lebih intensif. Semen aragonik berserabut

dan Mg Kalsit merupakan ciri lain dari lingkungan ini.


Zona Mixing

Zona mixing merupakan percampuran lingkungan freswater phreatic dan

freswater padose dengan karakteristik adanya air payou dan bersipat diam seluruh

rongga yang semula terisi air lautakan mulai tergantikan oleh air tawar dolomitisasi

merupakan salah satu penciri lingkungan ini jika salinitas air sekitarnya rendah. Jika

salinitasnya tinggi akan terbentuk Mg kalsit yang menjarum.

Zona Meteoric phreartic

Zona ini terletak di bawah zona meteoric padose dan zona mixing. Semua

ruang pori batuan di isi air meteoric yang mengandung material karbonat hasil

pelarutan dengan kadar yang berpariasi. Lingkungan ini di cirikan oleh proses

pencucian, neomorfisme butir yang diikuti atau tanpa diikuti sementasi kalsit secara

intensif.

Zona Meteoric vadose

Zone meteoric vadose terletak dibawah permukaan dan diatas muka air tanah

yang menyebabkan rongga pada batuan terisi oleh udara dan air meteoric. Proses

utama yang terjadi di lingkungan ini berupa pelarutan yang menghasilkan porositas

sekunder vug dan saturasi yang membentuk semen pendan dan meniscus akibat air

yang jenuh kalsit maupun penguapan CO2.

Zona vadose dibedakan menjadi zona elarutan (soil zone) dan zona presipitasi

(capillary fringe zone).Batas dari zona ini gradasional dan dapat berubah-ubah dalam

periode waktu yang singkat sebagai hasil dari jatuhan air hujan.
Zona pelarutan berada di bagian atas dari zona vadose dari puluhan sampai ratusan

meter tergantung dari kondisi muka air tanah dan seberapa cepat air meteoric menjadi

jenuh [Link] diagenesis yang aktif di zona ini adalah pelarutan CaCO3,

yang dikontrol oleh beberapa factor antara lain :

 Respon air hujan yang tidak jenuh akan CaCO3

 Hidrolisis CO2 di soil zone yang menaikkan tekanan parsial CO2 dalam

air,sehingga menaikkan jumlah CaCO3 yang dapat terus bertahan dalam

larutan.

Gambar 6 . Pembagian primer dari lingkungan meteoric diagenesis (Scholle


dan Ulmer-Scholle, 2003).

Vadose zone atau disebut sebagai undersaturated zone berada paling dekat

dengan permukaan yang dibagi lagi menjadi dua area yaitu zona bagian atas

merupakan daerah infiltrasi dan zona bagian bawah merupakan daerah


[Link] zone menumpang diatas zona freatik (saturated zone) ,di bagi

berdasarkan muka air tanah ( James dan Choquette, 1984 dalam Scholle dan Ulmer-

Scholle, 2003).

Zona Burial

Zona burial merupakan zona diagenesis dimana pada umumnya pori pada batuan

akan terisi oleh brines [Link] yang tinggi juga menyebabkan terjadinya

kompaksi yang menyebabkan solusi dan sementasi di zona kedalaman yang dalam

dan mengurangi porositas dan permeabilitas yang ada. Dibawah ini merupakan

gambar kompaksi mekanik dan kimiawi yang terjadi pada zona burial.

Gambar 7. Kompaksi mekanik dan kimiawi yang terjadi pada zona burial
( Scholle dan Ulmer Scholle ,2003)

Diagenesis menyebabkan pengurangan nilai porositas .Kompaksi kimia berperan

cukup dominan karena me nambahkan kalsium karbonat dalam bentuk solusi yang
akan dipresipitasikan di dalam ruang pori antar butir selama tahap burial diagenesis(

Scholle dan Ulmer Scholle ,2003)

Umumnya semen yang berkembang di zona ini adalah semen kalsit dan semen

dolomite dan proses yang dapat terjadi adalah dolomitisasi,dedolomitisasi dan

[Link] yang tinggi juga dapat menyebabkan penambahan porositas dan

permebilitas akibat terjadinya fracturing dan disolusi dari [Link] dan geometri

pori yang sering hadir antara lain fracture,vuggy,dan styloporosity (Scholle dan

Ulmer-Scholle ,2003).

4 . Klasifikasi Lingkungan Pengendapan

Boltovskoy & Wright (1976) membuat klasifikasi lingkungan pengendapan

berdasarkan keterdapatan fosil bentonik dan kedalamanya yang dibagi menjadi

beberapa zona, antara lain :

1. Intertial zone : Ammonia beccarii, Elphidium, Discorbis, Buliminella, dan

Cibicides.

2. Inner neritic (shelf) zone (0-30 m) : Elphidium, Ammonia, Quinqueloculina,

dan Cibicides, Poroeponides.

3. Middle neritic (shelf) zone (30-100 m): Textularia, Trochammina, Ammonia,

Elphidium, Quinqueloculina, Triloculina, Priroculina, Discorbis,Buliminella,

Amphistegina, Peneroplis, Archaias, Haterostegina dan Bucella.


4. Outer neritic (shelf) zone (100-130 m): Lagena, Bulimina, Cibicides

Nonionella Uvigerina, Cassidulina. Nonionella, Uvigerina, Fussenkoina dan

Pullenia.

5. Upper and Middle Bathyal zone (130-1000 m): Bolivina, Uvigerina,

Cassidulina, Gyroidina, Pyrgo, Bulimina, Pullenia dan Cibicides.

6. Lower Bathyal zone (1000-3000 m): Oridorsalis, Stilostomella,

Pleurostomella, Melonis, Gyroidina, Globocassidulina, Cibicides,

Epistominella. Pyrgo, dan Egrella.

7. Abyssal zone (3000-5000 m): Bathysiphon, Cyclammina, Haplophragmoides,

Rhabdammina, dan Cribrostomoides

Gambar 8. Klasifikasi lingkungan pengendapan (Boltovskoy & Wright (1976).


C. Foraminifera

Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (Protista) yang memiliki

cangkang atau test (cangkang internal). Foraminifera mempunyai populasi yang

melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga ditemukan hampir di semua

lingkungan laut. Diversitas dari foraminifera bervariasi pada kondisi lingkungan yang

berbeda (Boltovskoy & Wright, 1976). Beberapa spesies melimpah hanya di laut

dalam, sedangkan beberapa spesies lainnya hanya ditemukan di terumbu karang, dan

sebagian yang lain hidup di muara sungai yang bersifat payau atau lingkungan rawa

pasang surut (Valchev, 2003). Mendes, dkk (2004) menyimpulkan didalam

penelitiannya bahwa jumlah foraminifera bentonik dan indeks diversitas berhubungan

dengan batimetri.

Penentuan lingkungan pengendapan dengan menggunakan fosil foraminifera

sebelumnya telah diteliti oleh peneliti terdahulu. Keseluruhan peneliti membuat

klasifikasi kedalaman laut berdasarkan bathymetric-biofacies, yaitu pembagian dasar

laut berdasarkan kedalaman dan asosiasi fauna mikronya. Salah satu yang dapat

digunakan adalah analisis kuantitatif foraminifera menggunakan rasio foraminifera

plangtonik dan bentonik kecil. Penelitian pertama mengenai rasio foraminifera

plangtonik dan bentonik dalam sedimen pada bagian tepi continental dilakukan oleh

Israelsky (1949) dan Phleger (1951) .

Boltovskoy (1976; Yasuhara 2017) menegaskan bahwa adanya perubahan

signifikan didalam distribusi vertikal foraminifera bentonik secara kuantatif, bahwa


jumlah foraminifera bentonik akan turun selaras dengan semakin dalamnya laut. Hal

ini disebabkan karena di zona batimetri yang lebih dalam, cahaya semakin berkurang,

temperature dan salinitas cenderung stabil, nutrisi semakin jarang, dan komposisi

cangkang kalsium karbonat akan mulai terlarut. Dalam penentuannya, rasio ini hanya

mempertimbangkan jumlah individu dari foraminifera plangtonik dan bentonik tanpa

memerlukan nama genus (spesies).

1). Foraminifera Bentonik

A. Family, Genus Dan Spesies Foraminifera Benthonik

Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara hidup

secaravagile (merambat/merayap) dan sessile (menambat). Alat yang digunakan

untuk merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia. Terdapat yang semula

sesile dan berkembangmenjadi vagile serta hidup sampai kedalaman 3000 meter di

bawah permukaan laut. Material penyusun test merupakan agglutinin, arenaceous,

khitin, gampingan. Foraminifera benthoniksangat baik digunakan untuk indikator

paleoecology dan bathymetri, karena sangat pekaterhadap perubahan lingkungan

yang terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekologi dariforaminifera benthonic

ini adalah :Kedalaman lautSuhu/temperatureSalinitas dan kimia airCahaya matahari

yang digunakan untuk fotosintesisPengaruh gelombang dan arus (turbidit,

turbulen)Makanan yang tersediaTekanan hidrostatik dan [Link] salinitas

dapat dipergunakan untuk mengetahui perbedaan tipe dari lautan yangmengakibatkan

perbedaan pula bagi ekologinya. Streblus biccarii adalah tipe yang hidup padadaerah
lagoon dan daerah dekat pantai. Lagoon mempunyai salinitas yang sedang

karenamerupakan percampuran antara air laut dengan air sungai. Foraminafera

benthos yang dapatdigunakan sebagai indikator lingkungan laut secara umum

(Tipsword 1966) adalah :

 Pada kedalaman 0– 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak

dijumpaigenus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella,

Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari

pasiran.

 Pada kedalaman 15 – 90 m (3-16º C), dijumpai genus Cilicides,

Proteonina,Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina.

 Pada kedalaman 90– 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus,

Nonion,Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia.

 Pada kedalaman 300– 1000 m (5-8º C),Ø dijumpai Listellera, Bulimina,

Nonion,Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina

Macam-macam genus dari foraminifera benthos yang sering dijumpai :

 Genus Ammobaculites Chusman. Termasuk famili Lituolidae, dengan

cirri-ciri test pada awalnya terputar, kemudian menjadi uniserial lurus,

komposisi test pasiran,aperture bulat dan terletak pada puncak kamar

akhir. Muncul pada karbon resen.


 Genus Amondiscus Reuses 1861. Termasuk famili Ammodiscidae dan

ciri– ciri testmonothalamus, terputar palnispiral, kompisisi test

pasiran, aperture pada ujunglingkaran. Muncul Silur Resent.

 Genus Amphistegerina d’ Orbigny 1826 Famili berbentuk lensa,

trochoid, terputarinvolut, pada ventral terlihat surture bercabang tak

teratur, komposisi test gampingan, berpori halus, aperture kecil pada

bagian ventral kecil pada bagian ventral

 Genus Bathysiphon Sars 1972ü. Termasuk famili Rhizamminidae

dengan testsilindris, kadang-kadang lurus, monothalamus, komposisi

test pasiran, aperture di puncak berbentuk pipa. Muncul Silur-Resent.

 Genus Bolivina. Termasuk famili Buliminidae dengan test

memanjang, pipih agakruncing, beserial, komposisi gampingan,

berposi aperture pada kamar akhir, kadang berbentuk lope, muncul

Kapur- Resent.

 Genus d’ Orbigny 1826ü Termasuk famili Buliminidae, test

memanjang, umunyatriserial, berbentuk kamar sub globular,

komoposisi gampingan [Link] Cibicides Monfortü 1808.

Termasuk famili Amonalidae, dengan ciri – ciri test planoconvex

rotaloid, bagian dari dorsal lebih rata, komposisi gampingan

berporikasar, aperture di bagian ventral, pemukaan akhir sempit dan

memanjang.
 Genus Decalina d’ Orbigny 1826ü Termasuk famili Lageridae, dengan

ciri– ciri test pilythalamus, uniserial, curvilinier, suture menyudut,

komposisi test gampingan berpori halus, aperture memancar, terletak

pada ujung kamar akhir.

 Genus Elphidium Monfortü 1808. Termasuk famili Nonionidae

dengan ciri – ciri test planispiral, bilateral simetris, hampir seluruhnya

involute, hiasan suture bridge danumbilical, komposisi test gampingan

berpori, aperture merupakan sebuah lubang/lebih pada dasar

pemukaan kamar akhir.

 Genusü Nodogerina Chusman 1927. Termasuk famili Heterolicidae,

degan testmemanjang, kamar tersusun uniserial lurus, kompisi test

gampingan berpori halus,aperture terletak di puncak membulat

mempunyai leher dan bibir. Muncul Kapur– Resen.

 Genus Nodosaria Lamark 1812ü. Termasuk famili Lagenidae degan

test lurusmemajang, kamar tersusun uniserial, suturenya tegak lurus,

terhadap sumbu, pada pemulaaan agak bengkok kemudian lurus,

komposisi gampingan berpori, aperture di puncak berbentuk radier,

muncul Karbon – Resent.

 Genus Nonion Monfort 1888ü. Termasuk famili Nonionidae dengan

test cenderunginvolute, bagian tepi membulat, umumnya dijumpai


umbilical yang dalam, komposisigampingan berpori , aperture

melengkung pada kamar akhir. Muncul Yura – Resent.

 Genus Rotalia Lanmark 1804. Umumnya suture menebal pada bagian

dorsal, bagianventral suturenya tertekan ke dalam, komposisi test

gampingan berpori, aperture pada bagian ventral membuka dari

umbilical pinggir.

 Genus Saccamina M. Sars 1869. Termasuk famili Sacanidae degan

test globular,komposisi test dari material kasar, biasanya oleh khitin

berwarna coklat, aperture di puncak umumnya dengan leher. Muncul

Silur – Resent.

 Genus Textularia Derance 1824ü. Termasuk famili Textularidae test

memanjangkamar tersusun biserial, morfologi kasar, komposisi

pasiran, aperture sempitmemanjang pada permukaan kamar akhir.

Muncul Devon – Resent.

 Genus Uvigerina d’ Obigny 1826ü Termasuk famili uvigeridae degan

test fusiform,kamar triserial, komposisi berpori, aperture di ujung

dengan leher dan bibir. Muncul Eosen – Resent.

[Link] Kamar Foraminifera Benthos

 Susunan kamar foraminifera benthonik memiliki kemiripan dengan

foraminifera planktonik, susunan kamar dan bentuknya dapat

dibedakan menjadi :
 Monothalamus

Monothalamus yaitu susunan dan bentuk kamar-kamar akhir

foraminifera yang hanya terdiri dari satu kamar. Macam-macam dari

bentuk monothalamus antara lain adalah

1. Bentuk globular atau bola atau spherical, terdapat pada

kebanyakansubfamily saccaminidae. Contohnya: Saccammina

Gambar 9 : Saccammina

2. Berbentuk botol (flarkashaped), terdapat pada kebanyakan

subfamily proteonaniae. Contoh: Lagena.

Gambar 10 : Lagena
3. Berbentuk tabung (tabular), terdapat pada kebanyakan

subfamilyHyperminidae. Contoh: Hyperammina, Bathysiphon.

Gambar 11 : Hyperammina

4.

Anda mungkin juga menyukai