II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Geologi Regional
1. Geomorfologi Regional
Geomorfologi regional terdiri dari lima satuan morfologi yang dapat
dibedakan dari citra IFSAR dibagian tengah dan ujung selatan Lengan Tenggara
Sulawesi, yakni Satuan Morfologi Pegunungan, Satuan Morfologi Perbukitan Tinggi,
Satuan Morfologi Perbukitan Rendah, Satuan Morfologi Pedataran dan Satuan
Morfologi Karst (Surono 2013) (Gambar 1).
Gambar 1. Bagian Tenggara Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR
(Surono, 2013).
a. Satuan Morfologi Pegunungan
Satuan Morfologi Pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini, terdiri
atas Pegunungan Mekongga, Pegunungan Tangkelemboke, Pegunungan Mandoke
dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung Selatan Lengan Tenggara (Gambar
1). Puncak tertinggi pada rangkaian Pegunungan Mekongga adalah Pegunungan
Mekongga yang mempunyai ketinggian 1500 mdpl. Satuan morfologi ini mempunyai
topografi yang kasar dengan kemiringan lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam
satuan ini mempunyai pola yang hampir sejajar berarah barat laut-tenggara. Arah ini
sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola ini mengindikasikan
bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat hubungannya dengan sesar
regional.
Satuan pegunungan terutama dibentuk oleh batuan malihan dan setempat oleh
batuan ofiolit. Ada perbedaan yang khas antara kedua penyusun batuan tersebut.
Pegunungan yang disusun oleh batuan ofiolit mempunyai punggung gunung yang
panjang dan lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta kemiringan yang tajam.
Sementaraitu, pegunungan yang dibentuk oleh batuan malihan, punggung gunung
terputus pendek-pendek dengan lereng yang tidak rata walaupun bersujud tajam.
b. Satuan Morfologi Perbukitan Tinggi
Satuan Morfologi Perbukitan Tinggi menempati bagian selatan Lengan
Tenggara Sulawesi, terutama di selatan Kendari (Gambar 1). Satuan ini terdiri atas
bukit-bukit yang mencapai ketinggian 500 mdpl dengan morfologi kasar. Batuan
penyusun morfologi ini berupa batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.
c. Satuan Morfologi Perbukitan Rendah
Satuan Morfologi Perbukitan Rendah melampar luas di utara Kendari dan ujung
selatan Lengan Tenggara Sulawesi (Gambar 1). Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan
rendah dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama
batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.
d. Satuan Morfologi Pedataran
SatuanMorfologi Pedataran dijumpai di bagian tengah ujung selatan Lengan
Tenggara Sulawesi. Tepi selatan dataran Wawotobi dan dataran Sampara berbatasan
langsung dengan morfologi pegunungan. Penyebaran morfologi ini tampak sangat
dipengaruhi oleh sesar geser mengiri (Sesar Kolaka dan Sistem Sesar Konaweha)
(Gambar 1). Kedua sistem ini diduga masih aktif, yang ditunjukan oleh adanya
torehan pada endapan alluvial dalam kedua dataran tersebut. Sehingga sangat
mungkin kedua dataran itu terus mengalami penurunan. Akibat dari penurunan ini
tentu berdampak buruk pada dataran tersebut, diantaranya pemukiman dan pertanian
di kedua dataran itu akan mengalami banjir yang semakin parah setiap tahunnya.
e. Satuan Morfologi Karst
Satuan Morfologi Karst melampar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan
ini dicirikan perbukitan kecil (Gambar 1) dengan sungai dibawah permukaan tanah.
Sebagian besar batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi oleh batugamping
berumur paleogen dan selebihnya batugamping mesozoikum. Batugamping ini
merupakan bagian Formasi Emoiko, Formasi Laonti, Formasi Buara dan bagian atas
dari Formasi Meluhu. Sebagian dari batugamping penyusun satuan morfologi ini
sudah terubah menjadi [Link] ini erat hubungannya dengan pensesar-
naikkan ofiolit keatas kepingan benua.
[Link] Regional
Gambar 2. Peta Geologi Lengan Tenggara Sulawesi (Modifikasi dari Surono, 2013)
Berdasarkan peta geologi Lengan Tenggara Pulau Sulawesi, stratigrafi Lengan
Tenggara Pulau Sulawesi terdiri atas tiga kelompok utama batuan penyusunnya
(Gambar 2), yaitu kompleks Batuan Malihan/Metamorf, Kompleks Ofiolit dan
Molasa Sulawesi (Surono, 2013, dalam Hasria, 2018).
2.1. Kompleks Batuan Metamorf
Batuan tertua sebagai batuan dasar di Lengan Tenggara Sulawesi adalah
kompleks batuan metamorf yang diterobos oleh batuan granitan di beberapa tempat
yang menempati bagian tengah yang membentuk Pegunungan Mendoke dan Rumbia
yang terdiri dari sekis, kuarsit, sabak dan marmer (Simandjuntak dkk, 1994; Rusmana
dkk., 1993 dalam Hasria, 2018). Batuan metamorf yang diterobos oleh aplit dan
diabas yang batuannya dapat dilihat di Sungai Ranteanging (Surono, 2013 dalam
Hasria, 2018). Batuan metamorf di Lengan Tenggara Pulau Sulawesi tersingkap di
sepanjang utara Teluk Bone, Pegunungan Mengkoka hingga ke daerah Kolaka, di
sepanjang Pegunungan Mendoke, menerus ke Pegunungan Rumbia dan juga Pulau
Kabaena (Surono, 2013 dalam Hasria 2018)
2.2. Kompleks Ofiolit
Kompleks Ofiolit di Lengan Tenggara Pulau Sulawesi didominasi oleh batuan
ultramafik, mafik dan sedimen pelagic. Batuan ultramafik terdiri atas harzburgit,
dunit, werlit, lerzolit, websterit, serpentinit, dan piroksinit (Surono, 2013 dalam
Hasria 2018).
Batuan mafik terdiri atas gabro, basalt, dolerite, mikrogabro, dan amfibolit.
Batuan sedimen pelagik terbagi atas batugamping laut dalam dan sisipan rijang merah
(rijang radiolarian) (Hamilton, 1979; Silver dkk., 1983 dalam Hasria, 2018).
2.3. Molasa Sulawesi
Molasa Sulawesi terdiri atas sedimen klastik dan sedimen karbonatan Batuan
Sedimen klastik terdiri atas Formasi Langkowala, Formasi Boepinang dan Pandua
sedangkan batuan karbonat adalah Formasi Eemoiko menyebar setempat. Formasi
Langkowala tersusun atas konglomerat, batupasir, serpih dan setempat batugamping
yang ditindih selaras oleh Formasi Eemoiko dan Formasi Boepinang. (Surono, 2013)
Berdasarkan sratigrafi Lengan Tenggara Pulau Sulawesi, maka batuan
penyusun daerah penelitian terdiri dari 3 (tiga) kelompok batuan penyusun yaitu
Kompleks Batuan Metamorf, Kompleks Ofiolit dan Molasa Sulawesi tetapi umumnya
didominasi oleh Kompleks Ofiolit
Pada geologi regional lembar kolaka yang termasuk dalam Kompleks batuan
Malihan/Metamorf terdiri atas Kompleks mekongga dan Kompleks Pompangeo, pada
Kompleks Ofiolit terdiri atas Kompleks ultramafik, sedangkan pada Molasa Sulawesi
terdiri atas Formasi Boepinang, Formasi Langkowala, dan Formasi Eemoiko. Geologi
regional lembar Kolaka disusun oleh satuan batuan yang dapat dikelompokan ke
dalam batuan Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum. Kelompok Paleozoikum
berumur Perm. Kelompok batuan yang yang termasuk paleozoikum terdiri atas
Komplek Pompangeo, Kompleks Ultramafik dan Kompleks Mekongga. Kelompok
batuan yang termasuk Mesozoikum berumur Trias terdiri atas Formasi Meluhu dan
Formasi Laonti. Sedangkan kelompok batuan yang termasuk Kenozoikum berumur
Miosen Akhir hingga Holosen terdiri atas Formasi Langkowala, Formasi Boepinang,
Formasi Eemoiko, Formasi Buara, Formasi Alangga, dan Aluvium. Berdasarkan
Stratigrafi Lembar Lasusua-Kendari yang dikeluarkan oleh E. Rusmana dalam
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi tahun 1993 maka secara umum
stratigrafi Kabupaten Konawe Utara, dapat dibagi dalam beberapa formasi batuan
sebagai berikut :
a. Batuan Malihan Paleozoikum (Pzm)
Tersusun oleh jenis batuan sekis, gneis, filit, kuarsit, batusabak, dan
sedikit pualam. Berumur Karbon sampai Perm.
b. Pualam Paleozoikum (Pzmm)
Tersusun oleh jenis batugamping dan pualam. Umur satuan ini diperkirakan
Karbon sampai Perm.
c. Batuan Terobosan (PTR(g))
Terdiri atas aplit kuarsa, andesit, dan latit kuarsa. Satuan ini menerobos satuan
batuan malihan Paleozoikum dan diperkirakan berumur Perm.
d. Formasi Tokala (TRJt)
Tersusun oleh jenis batugamping, serpih, kalsilutit, napal, batusabak
dan batupasir. Formasi ini diperkirakan berumur Trias-Jura Awal dengan
lingkungan pengendapan pada laut dangkal (neritik) dengan tebal formasi
diperkirakan lebih dari 1000 m.
e. Formasi Meluhu (TRJm)
Tersusun dari batupasir, kuarsit, serpih hitam, serpih merah, filit, batusabak,
batugamping, dan lanau.
f. Batuan Ofiolit (Ku)
Batuan ofiolit merupakan batuan beku yang tersusun oleh jenis
batuan peridotit, harzburgit, dunit, gabro, dan serpentinit. Satuan batuan ini
diperkirakan berumur Kapur.
f. Formasi Matano (Km).
Tersusun atas kalsilutit yang bersisipan oleh jenis serpih dan rijang. Formasi
Matano diduga berumur kapur akhir dengan lingkungan pengendapan pada laut
dalam dengan tebal sekitar 550 m.
g. Formasi Salodik (Tems)
Terdiri atas kalsiludit dan batugamping oolit. Formasi Salodik diduga
berumur Eosen Akhir – Miosen Awal dengan lingkungan pengendapan pada laut
dangkal dan terbuka.
h. Formasi Pandua (Tmpp)
Terdiri atas konglomerat, batupasir dan batulempung dengan sisipan lanau.
Umur dari formasi ini adalah Miosen Akhir sampai Pliosen.
i. Formasi Alangga (Qpa)
Tersusun oleh jenis batupasir, batulempung dan konglomerat. Umur dari
formasi ini adalah Plistosen dan menindih tak selaras formasi yang lebih tua yang
masuk kedalam kelompok molasa Sulawesi.
j. Terumbu Koral Kuarter (Ql).
Merupakan batugamping terumbu dengan kandungan fosil berupa ganggang
dan cangkang moluska. Umur dari satuan ini adalah Plistosen – Holosen dan
terendapkan pada lingkungan laut dangkal.
i. Endapan Aluvium (Qa).
Endapan Aluvium merupakan endapan sekunder hasil rombakan batuan
di permukaan yangtelah terbentuk sebelumnya. Endapan terdiri dari material
lepas batuan kerikil, kerakal, pasir dan lempung. (Surono, dkk 2013)
2.4 Struktur Regional
Struktur yang terbentuk di Pulau Sulawesi mempunyai berbagai skala (regional
dan lokal) meliputi penunjaman dan zona tumbukan, sesar naik, sesar dan lipatan.
Struktur geologi berskala regional yang berkembang di Sulawesi dan kawasan
sekitarnya adalah parit Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench), Sistem Sesar Palu-
Koro, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Poso, Sesar Walanae, dan pemekaran Samudra di
Selat Makassar.
Struktur geologi yang berkembang di lengan Tenggara Sulawesi dominasi oleh
sesar berarah Barat Laut-Tenggara, yang utama terdiri atas Sesar Matano, kelompok
Sesar Kolaka, kelompok Sesar Lawanopo dan kelompok Sesar Lainea. Berdasarkan
hasil penggambaran struktur regional Sulawesi dan daerah sekitarnya (Surono, 2013).
Daerah penelitian ini merupakan salah satu kawasan daerah yang masih mendapat
pengaruh oleh sesar diantaranya sesar Lasolo.
Gambar 3. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya.
Disederhanakan dari Silver dkk. (1983) dan Rehahult dkk (1991).
Sesar dan kelurusan umumnya berarah barat laut-tenggara searah dengan sesar
geser lurus mengiri Lasolomeliputi daerah Kecamatan Asera, Kecamatan
Molawe,Kecamatan Lasolo, Kecamatan Lembo, sampai Kecamatan Sawa dan
memanjang sampai ke Teluk Lasolo. Sesar Lasolo bahkan masih aktif hingga saat ini.
Sesar tersebut diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada
Kala Oligosen (Simandjuntak, dkk., 1983). Sesar naik ditemukan di daerah Wawo
sebelah barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo yaitu
beranjaknya Batuan Ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga, Formasi Meluhu, dan
Formasi Matano.
Gambar 4. Peta Geologi Lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi Oleh E. Rusmana,
Sukido, D. Sukarna, [Link], (Sumber: Pusat Penelitian Pengembangan
Geologi,1)
B. Dasar Teori
1. Pengertian Sedimen
Sedimen didefinisikan secara luas sebagai material yang diendapkan di dasar
suatu cairan (air dan udara), atau secara sempit sebagai material yang diendapkan
oleh air, angin, atau gletser / es. Sedangkan endapan sedimen adalah akumulasi
mineral dan fragmen batuan dari daratan yang bercampur dengan tulang-tulang
organisme laut dan beberapa partikel yang terbentuk melalui proses kimiawi yang
terjadi di dalam laut (Gross, 1993).
Berdasarkan diameter butiran, Wentworth dalam Rifardi (2008) membagi
sedimen sebagai berikut ini: boulders (batuan) dengan diameter butiran lebih besar
dari 256 mm, gravel (kerikil) diameter 2 sampai 256 mm, very coarse sand (pasir
sangat kasar) diameter 1 sampai 2 mm, coarse sand (pasir kasar) 0,5 sampai 1 mm,
fine sand (pasir halus) diameter 0,125 sampai 0,5 mm, very fine sand (pasir sangat
halus) diameter 0,0625 sampai 0,125 mm, silt (lumpur) diameter 0,002 sampai 0,0625
mm dan dissolved material (bahan-bahan terlarut) diameter lebih kecil dari 0,0005
mm.
Pengendapan sedimen tergantung kepada medium angkut, dimana bila kecepatan
berkurang medium tersebut tidak mampu mengangkut sedimen ini sehingga terjadi
penumpukan. Adanya sedimen kerikil menunjukan bahwa arus dan gelombang pada
daerah itu relatif kuat sehingga sedimen kerikil umumnya ditemukan pada daerah
terbuka, sedangkan sedimen lumpur terjadi akibat arus dan gelombang benar-benar
tenang dan dijumpai pada daerah dimana arus dan gelombang terhalang oleh pulau
(Ompietal, 1990).
Postma (1976) menyatakan bahwa kecepatan pengendapan partikel yang
berdiameter 5 mm dengan densitas yang sama mengendap dengan kecepatan 20
cm/det. Sementara Wotton (1992) mengemukakan bahwa partikel-partikel pasir
memerlukan waktu 1,8 hari agar bisa mengendap pada kedalaman 4.000 m.
sedangkan jenis partikel lumpur yang berukuran lebih kecil membutuhkan waktu
untuk tenggelam kira-kira 185 hari pada kedalam 4.000 m dan jenis partikel tanah
Hat membutuhkan waktu tenggelam kira-kira 51 tahun pada kedalaman yang sama.
hari pada kedalam 4.000 m dan jenis partikel tanah Hat membutuhkan waktu
tenggelam kira-kira 51 tahun pada kedalaman yang sama.
1.1 Mekanisme Transport Sedimen
Ada dua kelompok cara mengangkut sedimen dari batuan induknya ke tempat
pengendapannya, yakni supensi (suspendedload) dan bedload tranport. Di bawah ini
diterangkan secara garis besar ke duanya.
Suspensi
Dalam teori segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam suspensi,
jika arus cukup kuat. Akan tetapi di alam, kenyataannya hanya material halus
saja yang dapat diangkut suspensi. Sifat sedimen hasil pengendapan suspensi
ini adalah mengandung prosentase masa dasar yang tinggi sehingga butiran
tampak mengambang dalam masa dasar dan umumnya disertai memilahan
butir yang buruk. Ciri lain dari jenis ini adalah butir sedimen yang diangkut
tidak pernah menyentuh dasar aliran.
Bedload transport
Berdasarkan tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat dibagi menjadi:
1. endapan arus traksi
2. endapan arus pekat (density current) dan
3. endapan suspensi.
Arus traksi adalah arus suatu media yang membawa sedimen didasarnya. Pada
umumnya gravitasi lebih berpengaruh dari pada yang lainya seperti angin atau
pasang-surut air laut.
Sedimen yang dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang
berstruktur silang siur, dengan sifat-sifat:
1. pemilahan baik
2. tidak mengandung masa dasar
3. ada perubahan besar butir mengecil ke atas (fining upward) atau ke
bawah (coarsening upward) tetapi bukan perlapisan bersusun (graded
bedding).
Di lain pihak, sistem arus pekat dihasilkan dari kombinasi antara arus traksi
dan suspensi. Sistem arus ini biasanya menghasilkan suatu endapan campuran antara
pasir, lanau, dan lempung dengan jarang-jarang berstruktur silang-siur dan perlapisan
bersusun.
Arus pekat (density) disebabkan karena perbedaan kepekatan (density) media.
Ini bisa disebabkan karena perlapisan panas, turbiditi dan perbedaan kadar garam.
Karena gravitasi, media yang lebih pekat akan bergerak mengalir di bawah media
yang lebih encer. Dalam geologi, aliran arus pekat di dalam cairan dikenal dengan
nama turbiditi. Sedangkan arus yang sama di dalam udara dikenal dengan nuees
ardentes atau wedus gembel, suatu endapan gas yang keluar dari gunungapi. Endapan
dari suspensi pada umumnya berbutir halus seperti lanau dan lempung yang
dihembuskan angin atau endapan lempung pelagik pada laut dalam.
Kenyataan di alam, transport dan pengendapan sedimen tidak hanya dikuasai
oleh mekanisme tertentu saja, misalnya arus traksi saja atau arus pekat saja, tetapi
lebih sering merupakan gabungan berbagai mekanisme. Malahan dalam berbagai hal,
merupakan gabungan antara mekanik dan kimiawi. Beberapa sistem seperti itu dalah:
sistem arus traksi dan suspensi
sistem arus turbit dan pekat
sistem suspensi dan kimiawi.
Pada dasarnya butir-butir sedimen bergerak di dalam media pembawa, baik berupa
cairan maupun udara, dalam 3 cara yang berbeda: menggelundung (rolling),
menggeser (bouncing) dan larutan (suspension)
1. Klasifikasi Transpor Sedimen
Transpor sedimen diklasifikasikan berdasarkan sumber asalnya dan mekanisme
transpornya. Transpor material dasar adalah transor (pergerakan) material yang
ditemukan di dasar sungai.
Wash Load: sedimen yang tidak ditemukan di dasar sungai karena
secara permanen tersuspensi.
Bed Load: sedimen yang secara kontinu berada di dasar sungai,
terangkut secara menggelinding, menggeser, melompat.
Suspended Load: Sedimen yang tersuspensi oleh turbulensi aliran dan
tidak berada di dasar sungai
Berdasarkan mekanisme transpornya sedimen suspense terbagi menjadi dua yaitu
wash load dan bed material transport. Wash load adalah material yang lebih
halus dibandingkan material dasar saluran. Biasanya ukuran butirannya rata-rata
D 50 = 60 mikrometer untuk mudah membedakan antara wash load dan bed
material load. Transport sedimen secara umum dinyatakan sebagai berat /
volume kering per waktu atau bulk volume yang memasukkan angka pori kedalam
volume tetap per unit [Link] pengukuran ketiga jenis transport sedimen (wash
load, bed load, suspended load) dibutuhkan alat dan metode khusus. Sebelum
mendiskripsikan metode pengambilan dan elaborasi data perlu dipahami perbedaan
ketiga jenis transport sedimen tersebut
a. Bed Load
Sedimen dasar adalah transpor dari butiran sedimen secara menggelinding,
menggeser dan melompat yang terjadi di dasar saluran. Secara umum konfigurasi
dari pergerakan sedimen membentuk konfigurasi dasar seperti dunes, ripple,etc.
Banyak formulasi yang telah dikembangkan untuk mendiskripsikan mekanisme
dari sedimen dasar yang dilakukan dengan eksperimen di laboratorium atau pun
dengan memodelkan fenomena tersebut.
b. Suspended Load
Sedimen layang (suspensi) adalah transpor butiran dasar yang tersuspensi
oleh gaya gravitasi yang diimbangi gaya angkat yang terjadi pada turbulensi
aliran. Itu berarti butiran dasar terangkat ke atas lebih besar atau kecil tapi
pada akhirnya akan mengendap dan kembali ke dasar sungai. Banyak
persamaan sedimen suspensi yangtelah dikembangkan seperti persamaan
Engelund dan Hansen namun persamaan ini tidak memberikan informasi yang
cukup terkait distribusi konsentrasi dari butiran pada arah vertical, besarnya
konsentrasi (C) ditentukan secara teoritik Dalam banyak kasus pengukuran sedimen
supensi dilakukan di lapangan agar diketahui distribusi konsentrasi arah vertikal
untuk berbagai jenis transport sedimen
c. Wash Load
Wash load adalah transpor butiran sedimen yang berukuran kecil dan halus
dibanding dengan sedimen dasar juga sangat jarang ditemukan didasar sungai.
Besarnya wash load banyak ditentukan oleh karakteristik klimatologi dan erosi
dari daerah tangkapan (catchment area). Dalam perhitungan gerusan lokal (local
scouring) wash load tidak begitu penting sehingga diabaikan namun untuk
perhitungan sedimentasi di daerah dengan kecepatan aliran yang rendah seperti:
waduk, pelabuhan, cabangan sungai wash load diperhitungkan.
1.2 Karakteristik Batuan Karbonat
Di dalam pembahasan karakteristik batuan karbonat meliputi beberapa bagian, yaitu
pengertian batuan karbonat, mineralogi dan komposisi kimia batuan karbonat,
tekstur batuan karbonat, dan tipe-tipe porositas pada batuan karbonat.
Pengertian Batuan Karbonat
Batuan karbonat didefinisikan sebagai batuan dengan kandungan material
karbonat lebih dari 50% dan tersusun atas partikel karbonat klastik yang
tersemenkan atau karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Reijer, 1986).
Sedangkan batugamping itu sendiri adalah batuan yang mengandung kalsium
karbonat hingga 95%, sehingga tidak semua batuan karbonat merupakan
batugamping (Reijer dan Hsu, 1986). Menurut Pettijohn (1975), batuan
karbonat adalah batuan yang jumlah fraksi karbonatnya lebih besar dari fraksi
non karbonat atau dengan kata lain fraksi karbonatnya (>50%). Dalam
prakteknya batuan karbonat adalah batugamping dan dolomit.
Tekstur Batuan Karbonat
Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral, dan dapat
pula fragmen cangkang, fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. Semua
komponen berupa fragmen tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan
mudah. Untuk komponen berupa mineral, mungkin sulit mengenal jenis
mineralnya, tetapi kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya seperti mineral
lempung yang lunak. Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran
pasir. Menurut Tucker (1991), komponen penyusun batugamping dibedakan
atas non skeletal grain, skeletal grain, matrix dan semen.
1. Non Skeletal grain, terdiri dari :
a. Ooid dan Pisoid
Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang
punya satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti.
Inti penyusun biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker, 1991).
Ooid memiliki ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki ukuran > 2 mm
maka disebut pisoid.
b. Peloid
Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau
merincing yang tersusun oleh mikrit dan tanpa struktur internal. Ukuran
peloid antara 0,1 – 0,5 mm. Kebanyakan peloid ini berasala dari kotoran
(faecal origin) sehingga disebut pellet (Tucker 1991).
c. Agregat dan Intraklas
Agregat adalah kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang
tersemenkan bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat
material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen yang
sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air
lumpur pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker,1991).
2. Skeletal Grain
Skeletal grain adalah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri
dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil-fosil makro.
Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai dalam batugamping
(Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga merupakan penunjuk
pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang waktu geologi (Tucker,
1991).
3. Lumpur Karbonat atau Mikrit
Mikrit adalah matriks yang biasanyaberwarna gelap. Pada batugamping hadir
sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butir kurang dari 4
mikrometer. Pada studi mikroskop elektron menunjukkan bahwa mikrit tidak
homogen dan menunjukkan adanya ukuran kasar sampai halus dengan batas antara
kristal yang berbentuk planar, melengkung, bergerigi ataupun tidak teratur. Mikrit
dapat mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar yang kasar
(Tucker, 1991).
4. Semen
Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan
mengisi rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen dapat
berupa kalsit, silika, oksida besi ataupun sulfat.
1.3 Semen Karbonat (Carbonate Cement)
a. Acicular, merupakan kristal berbentuk jarum, menunjukkan pemadatan lurus,
memiliki ukuran lebar <10 μm, dan panjang sekitar 100 μm. Pada umumnya
berupa aragonit dan mengindikasikan zona marine phreatic.
b. Fibrous, merupakan kristal berbentuk serabut, memiliki rasio panjang dan lebar >
6:1 serta lebar >10 μm. Sering dijumpai pada pori inter-partikel dan intra-partikel.
Umumnya terbentuk pada zona marine phreatic, terkadang dijumpai pada zona
meteoric vadose.
c. Botryoidal, merupakan kristal berbentuk kipas yang saling menyatu dan umumnya
adalah aragonit. Terbentuk di laut (umum dijumpai di gua pada terumbu dan slope
terjal), namun kadang dijumpai pada zona burial.
d. Dog tooth, merupakan kristal yang menajam pada satu titik dengan bentuk
scalenohedral atau rhombohedral. Sering dijumpai pada zona meteorik dan
shallow burial namun juga dijumpai pada zona marine phreatic.
e. Bladed, merupakan kristal yang non-equidimensional dan non-fibrous. Memiliki
rasio panjang dan lebar 1,5:1 hingga 6:1, menunjukkan terminasi seperti pyramid.
Ukuran lebar 10 μm dan panjang < 20 μm hingga 100 μm. Kristal bertambah lebar
seiring dengan bertambahnya panjang. Berupa high Mg-kalsit namun juga
aragonite. Terbentuk pada zona marine phreatic.
f. Meniscus, merupakan semen yang permukaannya seperti kurva di bawah butir dan
menghasilkan pori intergranular yang tampak membundar akibat efek meniscus.
Terbentuk pada zona meteoric vadose dan meteoric phreatic
g. Drusy, semen pengisi pori intergranular dan interkristal, mold dan kekar, bentuk
anhedral hingga subhedral dengan ukuran >10 μm. Ukuran bertambah ke arah
pusat pori. Terbentuk di zona meteoric vadose, meteoric phreatic, dan burial.
h. Granular, merupakan semen kalsit yang terdiri dari kristal-kristal kecil
equidimensional yang mengisi pori, umumnya pada pori interpartikel. Terbentuk
pada zona meteoric vadose, meteoric phreatic, dan burial. Dapat juga terbentuk
sebagai hasil rekristalisasi dari semen yang ada sebelumnya.
i. Blocky, merupakan semen kalsit yang terdiri dari kristal berukuran sedang hingga
kasar antara puluhan mikron hingga beberapa milimeter, sering menunjukkan
perbedaan bentuk batas kristal. Berupa high-Mg kalsit dan low- Mg kalsit.
Terbentuk pada zona meteoric vadose, meteoric phreatic, dan burial. Hasil
rekristalisasi dari semen yang ada sebelumnya.
2. Klasifikasi Batuan Karbonat
2.1 Klasifikasi Dunham (1962)
Klasifikasi ini didasarkan pada fabrik batuan, tekstur, proporsi kandungan
mud dalam batuan, dan kerangka penyusun batuan baik secara mekanik maupun
biologi (lihat gambar dibawah). Penggunaan klasifikasi ini lebih umum
dikarenakan sistem yang lebih sederhana dan lebih lengkap. Pada klasifikasi ini,
perbedaan penting mengenai tingkat energi pengendapan tiap jenis batuan sangat
jelas teramati karena lebih detail. (Tucker, 1990).
Gambar 5. Klasifikasi batuan karbonat (Dunham 1962)
3. Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik, kimia
dan biologi yang menjadi tempat material sedimen terakumulasi (Krumbein dan
Sloss, 1963). Lingkungan pengendapan juga merupakan tempat akumulasi endapan
material sedimen dengan kondisi fisik, kimia, dan biologi yang dapat mencirikan
mekanisme pengendapan yang terjadi. (Gould, 1972). Lingkungan pengendapan
dapat didefiniskan secara fisik, biologi, dan kimia. Menurut Boggs (1995) lingkungan
pengendapan adalah karakteristik dari suatu tatanan atau sistem geomorfik dengan
proses fisik, kimia dan biologi berlangsung akan menghasilkan suatu jenis endapan
sedimen tertentu.
Lingkungan pengendapan terjadi pada unit geomorfologi tertentu. Setiap unit
geomorfologi memiliki proses fisik, kimia, dan biologi dengan karakteristik proses
dan intensitas yang berbeda. Hal tersebut membuat keragaman karakteristik dari
material pengendapan yang terbentuk. Karakteristik material sedimen yang terbentuk
dominan akan dipengaruhi oleh intensitas dan mekanisme proses pengendapan
meliputi durasi atau lama pengendapan (Pettijhon, 1957). Jadi, dapat disimpulkan
bahwa proses pengendapan pada lingkungan pengendapan tersebut akan
menghasilkan jenis endapan tertentu yang dicirikan sebagai bentuk lahan.
Pemilihan lokasi kajian di lingkungan pengendapan matarombeo bertujuan
untuk memberikan variasi jenis lingkungan pengendapan. Menurut Boggs (2006),
lingkungan pengendapan secara umum terbagi atas 3 klasifikasi yaitu lingkungan
pengendapan darat (continental), transisi dan laut (ocean). Lingkungan darat dapat
ditemukan proses fluvial untuk membentuk dataran alluvial. lingkungan pengendapan
transisi merupakan endapan yang terdapat di daerah antara darat dan laut seperti
delta,laguna, dan litorial. Lingkungan pengendapan laut juga merupakan tipe
endapan-endapan neritik, batial, dan abisal yang berada di dasar laut.
3.1Macam-macam lingkungan pengendapan
Secara sederhana lingkungan pengendapan tersebut dapat diklasifikasikasn
menjadi tiga kelompok utama ,yaitu :
Lingkungan pengendapan darat (continental)
Lingkungan pengendapan transisi
Lingkungan pengendapan laut (marine)
Tabel 2.1 Klasifikasi Lingkungan Pengendapan (Selley,2000)
Terestrial - Gurun
Darat Berair (aqueous) - Glacial
( continental) - Fluvial
- Paludal (rawa)
- Danau
Transisi - Delta
- Estuary
- Laguna
- Daerah pasang surut
(intertidal)
Laut (marine) - Terumbu
- Neritik (batas pasang
surut -200 m )
- Batial (200-2.000 m)
- Abisal ( lebih dalam
dari 2000 m)
1) . Lingkungan Pengendapan Darat
Fasies yang terendapkan pada lingkungan pengendapan darat kebanyakan berupa
endapan silisklastik, yang dicirikan langkanya fosil dan tidak adanya fosil laut, serta
berupa endapan nonsilisklastik seperti batugamping air tawar. Dalam jumlah yang
lebih sedikit endapan evaporates juga dijumpai pada lingkungan pengendapan darat.
Gurun
Ciri utama iklim didaerah gurun pasir ialah tingkat evaporasi(penguapan)
pasir lebih besar dibandingkan tingkat presipitasi ( pengendapan larutan).Pada
lingkungan gurun pasir tersebut terdapat sublingkungan berupa kipas alluvial.
Media transportasi sedimen didaerah gurun yang utama ialah
[Link] air terkadang hadir ,tetapi peran air relative sangat kecil.
Proses pengangkutan material sedimen oleh angin sama halnya dengan yang
disebabkan oleh air, yaitu melalui tiga cara: traksi,saltasi dan suspensi.
Glacial
Tubuh es yang bergerak karena berat massanya sendiri disebut dengan
glacier. Glacier bisa terbentuk bila akumulasi salju di satu titik melebihi
ablasinya ( proses pencairan dan penyublim).
Glacier dapat dibagi menjadi tiga zona , yaitu zona akumulasi,zona
ablasi yang keduanya dipisahkan oleh zona [Link] yang
memungkinkan proses glacier tersebut dapat terjadi di dua daerah utama,yaitu
di pegunungan glacier dan es penutup kutub(Nichols,2009).
Fluvial
Endapan fluvial meliputi endapan yang terbentuk akibat aktivitas sungai
dan proses-proses aliran gravitasi yang masih [Link] ada
banyak klasifikasi mengenai mengenai setting alluvial dan sublingkungan dari
system fluvial yang dikenal,kebanyakan endapan fluvial purba dapat
dimasukkan kedalam satu atau dua setting lingkungan pengendapan,yaitu
kipas aluvial dan [Link] lingkungan ini dapat saling berhubungan dan
saling bertampalan (Boggs, 2006).
- Kipas Aluvial
Kipas Aluvial merupakan suatu bentukan seperti corong (cones), mempunyai
geometri cembung keatas pada profil sayatan vertical,dan tersusun oleh
endapan rombakan yang terbentuk pada tekuk lereng pada suatu dataran
alluvial.
- Sungai
System sungai mempunyai variasi bentuk yang sangat banyak (Nichols ,
2009) mengidentifikasi variasi tersebut dibedakan berdasarkan tingkat
pembelokkan saluran ,kehadiran endapan pada saluran, dan jumlah
percabangan [Link] klasifikasi yang lebih sederhana ,sungai
dikelompokkan kedalam 3 tipe dasar berdasarkan bentuk salurannya ,yaitu
sungai berkelok (meandering,saluran tunggal) ,sungai teranyam
(brainded,saluran banyak),dan anastomosing.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pada tingkat pembelokkan saluran
(meandering) dan keteranyaman (baraiding) ialah pasokan sungai,kemiringan
saluran,ukuran butir,kekasaran dasar aliran,jumlah dan jenis beban sedimen
(bedload atau suspended load) , dan stabilitas dari cabang-cabal kanal
(Boggs,2006)
Danau
Proses sedimentasi didanau menjadi sangat penting karena proses kimia pada
danau sangat peka terhadap kondisi iklim sehingga endapan danau bermanfaat
sebagai penunjuk iklim pada masa lalu.
Umumnya danau terisi oleh air tawar,dengan proses pengendapan yang
dipengaruhi beberapa factor bbaik kondisi iklim maupun factor fisika ,kimia
dan [Link] hal mekanisme sedimentasinya , danau dapat dibedakan
menjadi danau terbuka dan danau [Link] terbuka ialah danau yang
mempunyai aliran air keluar dengan garis pantai yang relative stabil dan
memiliki keseimbangan antara masuknya air dan pengendapan seimbang
dengan aliran air kluar dan [Link] tertutup mempunyai hidrologi
terbatas .Proses yang dominan berjalan pada danau tertutup ialah proses
kimiawi dan biokimia pada air yang menjadikan air asin akibat tingginya
evaporasi.
2) . Lingkungan Pengendapan Transisi
Lingkungan pengendapan transisi menace pada zona yang dipengaruhi oleh
factor sedimentasi (fisika,kimia dan biologi) dari darat dan laut,terletak disepanjang
batas antara lingkungan darat dan [Link] pengendapan yang termasuk
kedalam zona ini ialah delta,estuary,laguna,dan area pasang surut.
Delta
Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama
Herodotus pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang
segitiga yang dibentuk oleh oleh alluvial pada muara Sungai Nil.
Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen fluvial
(sungai) pada “lacustrine” atau “marine coastline”. Delta merupakan sebuah
lingkungan yang sangat komplek dimana beberapa faktor utama mengontrol
proses distribusi sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor tersebut adalah
regime sungai, pasang surut (tide), gelombang, iklim, kedalaman air dan
subsiden (Tucker, 1981). Untuk membentuk sebuah delta, sungai harus
mensuplai sedimen secara cukup untuk membentuk akumulasi aktif, dalam
hal ini prograding system. Secara sederhana ini berarti bahwa jumlah sedimen
yang diendapkan harus lebih banyak dibandingkan dengan sedimen yang
terkena dampak gelombang dan pasang surut. Dalam beberapa kasus,
pengendapan sedimen fluvial ini banyak berubah karena faktor diatas,
sehingga banyak ditemukan variasi karakteristik pengendapan sedimennya,
meliputi distributary channels, river-mouth bars, interdistributary bays, tidal
flat, tidal ridges, beaches, eolian dunes, swamps, marshes dan evavorites flats
(Coleman, 1982).
Ketika sebuah sungai memasuki laut dan terjadi penurunan kecepatan
secara drastis, yang diakibatkan bertemunya arus sungai dengan gelombang,
maka endapan-endapan yang dibawanya akan terendapkan secara cepat dan
terbentuklah sebuah delta.
Estuarin
Beberapa ahli geologi mengemukakan beberapa pengertian yang
bermacam-macam tentang estuarin. Pritchard, 1967 (Reineck & Singh, 1980)
mengemukakan bahwa estuarin adalah “a semi-enclosed coastal body of water
which has a free connection with the open sea and within which sea water is
measurably diluted with fresh water derived from land drainage”. Ada dua
faktor penting yang mengontrol aktivitas di estuarin, yaitu volume air pada
saat pasang surut dan volume air tawar (fresh water) serta bentuk estuarin.
Endapan sedimen pada lingkungan estuarin dibawa dua aktivitas, yaitu oleh
arus sungai dan dari laut terbuka. Transpor sedimen dari laut lepas akan
sangat tergantung dari rasio besaran tidal dan disharge sungai.
Estuarin diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu :
1. Marine atau lower estuarin, yaitu estuarine yang secara bebas berhubungan
dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah
ini.
2. Middle estuarin, yaitu daerah dimana terjadi percampuran antara fresh
water dan air asin secara seimbang.
3. Fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin dimana fresh water lebih
mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh (harian)
Marine atau lower estuarin adalah estuarine yang secara bebas berhubungan
dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah ini.
Daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan air asin secara seimbang
disebut middle estuarin. Sedangkan fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin
dimana fresh water lebih mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh
(harian). Friendman & Sanders (1978) dalam Reineck & Singh mengungkapkan
bahwa pada fluvial estuarin konsentrasi suspensi yang terendapkan lebih kecil
(<160mg/l) dibanding pada sungai yang membentuk delta. System lingkungan
pengendapan estuarin yang sangat dipengaruhi gelombang (Dalrymple, 1992)
Berdasarkan aktivitas dari tidal yang mempengaruhinya, estuarin dapat
diklasifikasikan menjadi tiga (Hayes, 1976 dalam Reading, 1978), yaitu :
1. Mikrotidal estuarin
2. Mesotidal estuarin
3. Makrotidal estuarin
Pada mikrotidal estuarin, perkembangan daerahnya sering ditandai dengan
kemampuan disharge dari sungai untuk menahan arus tidal yang masuk ke
dalam sungai, meskipun kadang-kadang pada saat disharge sungai sangat
kecil, arus tidal dapat masuk sampai ke sungai. Pada mesotidal estuarin,
efektivitas dari tidal lebih efektif dibanding pada mikrotidal, khususnya ini
terjadi pada sungai bagian bawah. Pada makrotidal estuarin sering ditemukan
funnel shaped dan linier tidal sand ridges. Arus tidal sangat efektif dalam
sirkulasi daerah ini, serta endapan suspensi umumnya diendapkan pada
dataran (flats) intertidal pada daerah batas estuarin (Reading, 1978). Endapan
pada daerah estuarin umumnya aggradational dengan alas biasanya berupa
lapisan erosional hasil scour pada mulut sungai. Hal ini berbeda dengan
endapan delta yang umumnya progadational yang sering menunjukan urutan
mengkasar keatas. Pada daerah estuarin yang sangat dipengaruhi oleh tidal,
endapannya akan sangat sulit dibedakan dengan daerah lingkungan
pengendapan tidal, untuk membedakannya harus didapat informasi dan
runtunan endapan secara lengkap (Nichols, 1999).
Tidal Flat
Tidal flat merupakan lingkungan yang terbentuk pada energi gelombang
laut yang rendah dan umumnya terjadi pada daerah dengan daerah pantai
mesotidal dan makrotidal. Pasang surut dengan amplitudo yang besar
umumnya terjadi pada pantai dengan permukaan air yang sangat besar/luas.
Danau dan cekungan laut kecil yang terpisah dari laut terbuka biasanya hanya
mengalami efek yang kecil dari pasang surut ini, seperti pada laut mediterania
yang ketinggian pasang surutnya hanya berkisar dari 10 – 20 cm. Luas dari
daerah tidal flat ini berkisar antara beberapa kilometer sampai 25 km (Boggs,
1995).
3). Lingkungan Pengendapan Laut
Lingkungan laut merupakan bagian dari lautan atau samudra yang berada
mulai dari zona yang dipengaruhi oleh proses pantai sampai kea rah laut dalam
(Boggs,2006).Berdasarkan morfologinya , lingkungan bawah laut dibedakan
menjadi dua bagian, yakni tepi benua (continental margin) dan dasar laut samudra
(ocean basin).Kedua bagian ini selanjutnya dibagi menjadi beberapa bagian ,
yaitu continental shelf (paparan samudra)continental slope (lereng tepi benua)
continental rise,dan abyssal plain( dataran laut dalam ).Bagian dasar samudra
yang berupa pemekaran dengan cirri khas adanya berbukitan volcanic disebut
sebagai mid-oceanic ridge,dan pada bagian batas lempeng yang aktif lereng tepi
benua bisa masuk lebih dalam dan menjadi trench laut dalam.
Berdasarkan kedalamanya,lautan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu zona
neritik,bathial,dan abyssal ( Selley,2000).Zona neritik memiliki kedalaman yang
relative dangkal (0-200m) dab berada di sepanjang garis pantai sampai shelf
break,sedangkan zona laut dalam yang terdiri atas bathial (200-4000 m) dan
abyssal mempunyai kedalaman lebih dari 4000 m.
4). Lingkungan Laut Dalam
Sebenarnya lingkungan pengendapan non laut dan lingkungan laut dangkal
menepati wilayah yang kecil dibandingkan lingkungan laut dalam di permukaan
[Link] Boggs (2006), sekitar 65% permukaan bumi ditempati oleh lereng
benua (continental slope),continental rise,palung laut dalam(deep-sea trench),dan
dasar lantai samudra(deep ocean floor).Meskipun demikian, pembahasan mengenai
endapan laut dalam ini umumnya masih sederhana,kemungkinan karena secara
keseluruhan endapan sedimen laut dalam kebanyakan jarang terekam dalam kondisi
singkapan yang baik sebagaimana endapan laut dangkal.
Dari segi kuantitas,endapan laut dalam juga relative sedikit karena secara
keseluruhan kecepatan sedimentasi pada lingkungan kaut dalam lebih lambat,kecuali
pada lingkungan kipas laut yang dekat dengan dasar lereng dimana kecepatan
sedimentasi berasal dari arus turbit ata arus keruh yang mencapai 10m/1.000 tahun
dan endapan sedimen turbidit bisa mencapai ketebalan ribuan meter
(Bouma,Normark,dan Barnes,1985).
Endapan sedimen yang terekam pada laut dalam bia hancur akibat adanya
subduksi yang terjadi pada [Link] sedimen laut dalam itu melepaskan diri
dari subduksi melalui sesar yang luas dan mengangkat atau membawanya keatas
menuju permukaan air sehingga dapat terlihat.
3.2 Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat.
Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen beserta
kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme pengendapan
tertentu (Gould, 1972). Interpretasi lingkungan pengendapan dapat ditentukan dari
struktur sedimen yang terbentuk. Struktur sedimen tersebut digunakan secara meluas
dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini terbentuk
pada tempat dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria yang
sangat berguna untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Terjadinya struktur-
struktur sedimen tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta
lingkungan pengendapan tertentu.
Zona marine phreatic
Sedimen berada pada lingkungan zona marine phreatic bila semua rongga
porinya terisi oleh air laut yang normal,umumnya karbonat diendapkan dan melalui
sejarah diagenesisnya pada lingkungan marine phreatic. Lingkungan ini dapat dibagi
menjadi dua, yaitu lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air sedikit,
dicirikan oleh kehadiran mikritisasi dan sementasi setempat lingkungan kedua berupa
lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air yang baik dimana tingkat
sementasi intergranular dan mengisi rongga lebih intensif. Semen aragonik berserabut
dan Mg Kalsit merupakan ciri lain dari lingkungan ini.
Zona Mixing
Zona mixing merupakan percampuran lingkungan freswater phreatic dan
freswater padose dengan karakteristik adanya air payou dan bersipat diam seluruh
rongga yang semula terisi air lautakan mulai tergantikan oleh air tawar dolomitisasi
merupakan salah satu penciri lingkungan ini jika salinitas air sekitarnya rendah. Jika
salinitasnya tinggi akan terbentuk Mg kalsit yang menjarum.
Zona Meteoric phreartic
Zona ini terletak di bawah zona meteoric padose dan zona mixing. Semua
ruang pori batuan di isi air meteoric yang mengandung material karbonat hasil
pelarutan dengan kadar yang berpariasi. Lingkungan ini di cirikan oleh proses
pencucian, neomorfisme butir yang diikuti atau tanpa diikuti sementasi kalsit secara
intensif.
Zona Meteoric vadose
Zone meteoric vadose terletak dibawah permukaan dan diatas muka air tanah
yang menyebabkan rongga pada batuan terisi oleh udara dan air meteoric. Proses
utama yang terjadi di lingkungan ini berupa pelarutan yang menghasilkan porositas
sekunder vug dan saturasi yang membentuk semen pendan dan meniscus akibat air
yang jenuh kalsit maupun penguapan CO2.
Zona vadose dibedakan menjadi zona elarutan (soil zone) dan zona presipitasi
(capillary fringe zone).Batas dari zona ini gradasional dan dapat berubah-ubah dalam
periode waktu yang singkat sebagai hasil dari jatuhan air hujan.
Zona pelarutan berada di bagian atas dari zona vadose dari puluhan sampai ratusan
meter tergantung dari kondisi muka air tanah dan seberapa cepat air meteoric menjadi
jenuh [Link] diagenesis yang aktif di zona ini adalah pelarutan CaCO3,
yang dikontrol oleh beberapa factor antara lain :
Respon air hujan yang tidak jenuh akan CaCO3
Hidrolisis CO2 di soil zone yang menaikkan tekanan parsial CO2 dalam
air,sehingga menaikkan jumlah CaCO3 yang dapat terus bertahan dalam
larutan.
Gambar 6 . Pembagian primer dari lingkungan meteoric diagenesis (Scholle
dan Ulmer-Scholle, 2003).
Vadose zone atau disebut sebagai undersaturated zone berada paling dekat
dengan permukaan yang dibagi lagi menjadi dua area yaitu zona bagian atas
merupakan daerah infiltrasi dan zona bagian bawah merupakan daerah
[Link] zone menumpang diatas zona freatik (saturated zone) ,di bagi
berdasarkan muka air tanah ( James dan Choquette, 1984 dalam Scholle dan Ulmer-
Scholle, 2003).
Zona Burial
Zona burial merupakan zona diagenesis dimana pada umumnya pori pada batuan
akan terisi oleh brines [Link] yang tinggi juga menyebabkan terjadinya
kompaksi yang menyebabkan solusi dan sementasi di zona kedalaman yang dalam
dan mengurangi porositas dan permeabilitas yang ada. Dibawah ini merupakan
gambar kompaksi mekanik dan kimiawi yang terjadi pada zona burial.
Gambar 7. Kompaksi mekanik dan kimiawi yang terjadi pada zona burial
( Scholle dan Ulmer Scholle ,2003)
Diagenesis menyebabkan pengurangan nilai porositas .Kompaksi kimia berperan
cukup dominan karena me nambahkan kalsium karbonat dalam bentuk solusi yang
akan dipresipitasikan di dalam ruang pori antar butir selama tahap burial diagenesis(
Scholle dan Ulmer Scholle ,2003)
Umumnya semen yang berkembang di zona ini adalah semen kalsit dan semen
dolomite dan proses yang dapat terjadi adalah dolomitisasi,dedolomitisasi dan
[Link] yang tinggi juga dapat menyebabkan penambahan porositas dan
permebilitas akibat terjadinya fracturing dan disolusi dari [Link] dan geometri
pori yang sering hadir antara lain fracture,vuggy,dan styloporosity (Scholle dan
Ulmer-Scholle ,2003).
4 . Klasifikasi Lingkungan Pengendapan
Boltovskoy & Wright (1976) membuat klasifikasi lingkungan pengendapan
berdasarkan keterdapatan fosil bentonik dan kedalamanya yang dibagi menjadi
beberapa zona, antara lain :
1. Intertial zone : Ammonia beccarii, Elphidium, Discorbis, Buliminella, dan
Cibicides.
2. Inner neritic (shelf) zone (0-30 m) : Elphidium, Ammonia, Quinqueloculina,
dan Cibicides, Poroeponides.
3. Middle neritic (shelf) zone (30-100 m): Textularia, Trochammina, Ammonia,
Elphidium, Quinqueloculina, Triloculina, Priroculina, Discorbis,Buliminella,
Amphistegina, Peneroplis, Archaias, Haterostegina dan Bucella.
4. Outer neritic (shelf) zone (100-130 m): Lagena, Bulimina, Cibicides
Nonionella Uvigerina, Cassidulina. Nonionella, Uvigerina, Fussenkoina dan
Pullenia.
5. Upper and Middle Bathyal zone (130-1000 m): Bolivina, Uvigerina,
Cassidulina, Gyroidina, Pyrgo, Bulimina, Pullenia dan Cibicides.
6. Lower Bathyal zone (1000-3000 m): Oridorsalis, Stilostomella,
Pleurostomella, Melonis, Gyroidina, Globocassidulina, Cibicides,
Epistominella. Pyrgo, dan Egrella.
7. Abyssal zone (3000-5000 m): Bathysiphon, Cyclammina, Haplophragmoides,
Rhabdammina, dan Cribrostomoides
Gambar 8. Klasifikasi lingkungan pengendapan (Boltovskoy & Wright (1976).
C. Foraminifera
Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (Protista) yang memiliki
cangkang atau test (cangkang internal). Foraminifera mempunyai populasi yang
melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga ditemukan hampir di semua
lingkungan laut. Diversitas dari foraminifera bervariasi pada kondisi lingkungan yang
berbeda (Boltovskoy & Wright, 1976). Beberapa spesies melimpah hanya di laut
dalam, sedangkan beberapa spesies lainnya hanya ditemukan di terumbu karang, dan
sebagian yang lain hidup di muara sungai yang bersifat payau atau lingkungan rawa
pasang surut (Valchev, 2003). Mendes, dkk (2004) menyimpulkan didalam
penelitiannya bahwa jumlah foraminifera bentonik dan indeks diversitas berhubungan
dengan batimetri.
Penentuan lingkungan pengendapan dengan menggunakan fosil foraminifera
sebelumnya telah diteliti oleh peneliti terdahulu. Keseluruhan peneliti membuat
klasifikasi kedalaman laut berdasarkan bathymetric-biofacies, yaitu pembagian dasar
laut berdasarkan kedalaman dan asosiasi fauna mikronya. Salah satu yang dapat
digunakan adalah analisis kuantitatif foraminifera menggunakan rasio foraminifera
plangtonik dan bentonik kecil. Penelitian pertama mengenai rasio foraminifera
plangtonik dan bentonik dalam sedimen pada bagian tepi continental dilakukan oleh
Israelsky (1949) dan Phleger (1951) .
Boltovskoy (1976; Yasuhara 2017) menegaskan bahwa adanya perubahan
signifikan didalam distribusi vertikal foraminifera bentonik secara kuantatif, bahwa
jumlah foraminifera bentonik akan turun selaras dengan semakin dalamnya laut. Hal
ini disebabkan karena di zona batimetri yang lebih dalam, cahaya semakin berkurang,
temperature dan salinitas cenderung stabil, nutrisi semakin jarang, dan komposisi
cangkang kalsium karbonat akan mulai terlarut. Dalam penentuannya, rasio ini hanya
mempertimbangkan jumlah individu dari foraminifera plangtonik dan bentonik tanpa
memerlukan nama genus (spesies).
1). Foraminifera Bentonik
A. Family, Genus Dan Spesies Foraminifera Benthonik
Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara hidup
secaravagile (merambat/merayap) dan sessile (menambat). Alat yang digunakan
untuk merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia. Terdapat yang semula
sesile dan berkembangmenjadi vagile serta hidup sampai kedalaman 3000 meter di
bawah permukaan laut. Material penyusun test merupakan agglutinin, arenaceous,
khitin, gampingan. Foraminifera benthoniksangat baik digunakan untuk indikator
paleoecology dan bathymetri, karena sangat pekaterhadap perubahan lingkungan
yang terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekologi dariforaminifera benthonic
ini adalah :Kedalaman lautSuhu/temperatureSalinitas dan kimia airCahaya matahari
yang digunakan untuk fotosintesisPengaruh gelombang dan arus (turbidit,
turbulen)Makanan yang tersediaTekanan hidrostatik dan [Link] salinitas
dapat dipergunakan untuk mengetahui perbedaan tipe dari lautan yangmengakibatkan
perbedaan pula bagi ekologinya. Streblus biccarii adalah tipe yang hidup padadaerah
lagoon dan daerah dekat pantai. Lagoon mempunyai salinitas yang sedang
karenamerupakan percampuran antara air laut dengan air sungai. Foraminafera
benthos yang dapatdigunakan sebagai indikator lingkungan laut secara umum
(Tipsword 1966) adalah :
Pada kedalaman 0– 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak
dijumpaigenus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella,
Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari
pasiran.
Pada kedalaman 15 – 90 m (3-16º C), dijumpai genus Cilicides,
Proteonina,Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina.
Pada kedalaman 90– 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus,
Nonion,Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia.
Pada kedalaman 300– 1000 m (5-8º C),Ø dijumpai Listellera, Bulimina,
Nonion,Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina
Macam-macam genus dari foraminifera benthos yang sering dijumpai :
Genus Ammobaculites Chusman. Termasuk famili Lituolidae, dengan
cirri-ciri test pada awalnya terputar, kemudian menjadi uniserial lurus,
komposisi test pasiran,aperture bulat dan terletak pada puncak kamar
akhir. Muncul pada karbon resen.
Genus Amondiscus Reuses 1861. Termasuk famili Ammodiscidae dan
ciri– ciri testmonothalamus, terputar palnispiral, kompisisi test
pasiran, aperture pada ujunglingkaran. Muncul Silur Resent.
Genus Amphistegerina d’ Orbigny 1826 Famili berbentuk lensa,
trochoid, terputarinvolut, pada ventral terlihat surture bercabang tak
teratur, komposisi test gampingan, berpori halus, aperture kecil pada
bagian ventral kecil pada bagian ventral
Genus Bathysiphon Sars 1972ü. Termasuk famili Rhizamminidae
dengan testsilindris, kadang-kadang lurus, monothalamus, komposisi
test pasiran, aperture di puncak berbentuk pipa. Muncul Silur-Resent.
Genus Bolivina. Termasuk famili Buliminidae dengan test
memanjang, pipih agakruncing, beserial, komposisi gampingan,
berposi aperture pada kamar akhir, kadang berbentuk lope, muncul
Kapur- Resent.
Genus d’ Orbigny 1826ü Termasuk famili Buliminidae, test
memanjang, umunyatriserial, berbentuk kamar sub globular,
komoposisi gampingan [Link] Cibicides Monfortü 1808.
Termasuk famili Amonalidae, dengan ciri – ciri test planoconvex
rotaloid, bagian dari dorsal lebih rata, komposisi gampingan
berporikasar, aperture di bagian ventral, pemukaan akhir sempit dan
memanjang.
Genus Decalina d’ Orbigny 1826ü Termasuk famili Lageridae, dengan
ciri– ciri test pilythalamus, uniserial, curvilinier, suture menyudut,
komposisi test gampingan berpori halus, aperture memancar, terletak
pada ujung kamar akhir.
Genus Elphidium Monfortü 1808. Termasuk famili Nonionidae
dengan ciri – ciri test planispiral, bilateral simetris, hampir seluruhnya
involute, hiasan suture bridge danumbilical, komposisi test gampingan
berpori, aperture merupakan sebuah lubang/lebih pada dasar
pemukaan kamar akhir.
Genusü Nodogerina Chusman 1927. Termasuk famili Heterolicidae,
degan testmemanjang, kamar tersusun uniserial lurus, kompisi test
gampingan berpori halus,aperture terletak di puncak membulat
mempunyai leher dan bibir. Muncul Kapur– Resen.
Genus Nodosaria Lamark 1812ü. Termasuk famili Lagenidae degan
test lurusmemajang, kamar tersusun uniserial, suturenya tegak lurus,
terhadap sumbu, pada pemulaaan agak bengkok kemudian lurus,
komposisi gampingan berpori, aperture di puncak berbentuk radier,
muncul Karbon – Resent.
Genus Nonion Monfort 1888ü. Termasuk famili Nonionidae dengan
test cenderunginvolute, bagian tepi membulat, umumnya dijumpai
umbilical yang dalam, komposisigampingan berpori , aperture
melengkung pada kamar akhir. Muncul Yura – Resent.
Genus Rotalia Lanmark 1804. Umumnya suture menebal pada bagian
dorsal, bagianventral suturenya tertekan ke dalam, komposisi test
gampingan berpori, aperture pada bagian ventral membuka dari
umbilical pinggir.
Genus Saccamina M. Sars 1869. Termasuk famili Sacanidae degan
test globular,komposisi test dari material kasar, biasanya oleh khitin
berwarna coklat, aperture di puncak umumnya dengan leher. Muncul
Silur – Resent.
Genus Textularia Derance 1824ü. Termasuk famili Textularidae test
memanjangkamar tersusun biserial, morfologi kasar, komposisi
pasiran, aperture sempitmemanjang pada permukaan kamar akhir.
Muncul Devon – Resent.
Genus Uvigerina d’ Obigny 1826ü Termasuk famili uvigeridae degan
test fusiform,kamar triserial, komposisi berpori, aperture di ujung
dengan leher dan bibir. Muncul Eosen – Resent.
[Link] Kamar Foraminifera Benthos
Susunan kamar foraminifera benthonik memiliki kemiripan dengan
foraminifera planktonik, susunan kamar dan bentuknya dapat
dibedakan menjadi :
Monothalamus
Monothalamus yaitu susunan dan bentuk kamar-kamar akhir
foraminifera yang hanya terdiri dari satu kamar. Macam-macam dari
bentuk monothalamus antara lain adalah
1. Bentuk globular atau bola atau spherical, terdapat pada
kebanyakansubfamily saccaminidae. Contohnya: Saccammina
Gambar 9 : Saccammina
2. Berbentuk botol (flarkashaped), terdapat pada kebanyakan
subfamily proteonaniae. Contoh: Lagena.
Gambar 10 : Lagena
3. Berbentuk tabung (tabular), terdapat pada kebanyakan
subfamilyHyperminidae. Contoh: Hyperammina, Bathysiphon.
Gambar 11 : Hyperammina
4.