REVIEW JURNAL
“MORFOLOGI CITRA”
DOSEN PENGAMPU:
DINA ANGGRAENI, [Link]., [Link]
DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD MIFTAHUL ANUAR (J1B117024)
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
A. Identitas Jurnal
1. Judul : Otomatisasi Penghitungan Kanopi Sawit Pada Foto Udara
Format Digital (Kasus Kanopi Pohon Kelapa Sawit Di
Perkebunan Sawit Ksp Inti Pontianak Kalimantan Barat)
Tahun : 2006
Penulis : Rahmi Agtasari
2. Judul : Restorasi Citra dalam Rekayasa Biomedik
Tahun : 2012
Penulis : Muhammad Kusban
3 Judul : Aplikasi Operasi Himpunan Dan Matematika Morfologi
Pada Pengolahan Citra Digital
Tahun : 2016
Penulis : V. Y. I. Ilwaru1; Y. A. Lesnussa; E. M. Sahetapy; Z. A.
Leleury4t
B. Morfologi Citra
Pengolahan citra digital adalah teknologi visual, digunakan untuk
mengamati, mengolah dan menganalisis suatu obyek tanpa berhubungan langsung
dengan obyek tersebut. Teknik pengolahan citra digital untuk mengenal ciri secara
akurat, cepat, praktis dan dalam jumlah besar tanpa merusak bahan tersebut
merupakan salah satu pilihan proses sortasi produk segar hortikultura.
Permintaan terhadap akurasi dan kualitas dari suatu interpretasi dan
klasifikasi citra foto udara membutuhkan presisi posisi maupun ketepatan informasi
spektral. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan peningkatan kemampuan satelit atau
wahana yaitu sensor baru yang lebih perkasa baik dalam kemampuan spektral
maupun spasial, atau dengan pengembangan teknik pemrosesan citra. Pilihan kedua
memberikan alternatif yang secara signifikatif lebih murah. Metode fusi citra
dikembangkan untuk menanggapi alternatif kedua dari pilihan tersebut.
Bagaimanapun pengembangan peningkatan kemampuan dari sensor, penggunaan
fusi citra tetap relevan.
Morfologi, merupakan sarana dalam bidang pemrosesan citra guna
menghasilkan bentuk luaran yang lebih dapat diterima oleh indera penglihatan
untuk menjadikan citra digital lebih kontras serta mengurangi derau yang ada.
1
Morfologi merupakan teknik atau proses yang digunakan untuk mengolah citra
yang didasarkan atas prinsip morfologi matematika . Dalam pemrosesan citra, hasil
yang diharapkan didasarkan atas bentuk atau struktur citra asal.
C. Metode Penelitian
Penelitian pada jurnal 1 dilakukan dalam lima langkah, yaitu:
Langkah 1: Penyusunan Model
Langkah 2: Interpretasi Manual Foto Udara
Langkah 3: Penghitungan Otomatis Kanopi
Langkah 4: Uji Model
Langkah 5: Analisis Perbandingan Hasil penelitian ini akan diuji
Pada langkah 3, eliminasi efek iluminsi tak seragam pada Foto Udara
dilakukan melalui operasi morfologi Opening pada citra biner yaitu Citra asli
dilakukan operasi erosi yang dilanjutkan dengan dilatasi seperti pada gambar
dibawah :
Selanjutnya citra kemudian disubstraksi dan dikonversi. Untuk
menghilangkan gangguan citra dilakukan operasi closing. Gangguan citra disini
dapat berupa obyek yang bukan tegakan tetapi diidentifikasikan berupa tegakan
atau bernilai nol. Tegakan diidentifikasikan sebagai kesatuan nilai 1 pada citra yang
memiliki dimensi area tertentu. Obyek yang diidentifikasikan sebagai tegakan
dengan ukuran yang berbeda dibandingkan ukuran tegakan pada umumnya akan
dihilangkan pada tahap ini.
2
D. Erosi dan Closing
Sebuah algorithma yang efesien untuk operasi morfologi adalah dengan
menggunakan elemen terstruktur dengan nilai random, dengan asumsi kode yang
digunakan selama proses bernilai biner. Dalam proses morfologi untuk
mendapatkan keluaran citra b[m,n] dari masukan citra a[m,n] dapat dilakukan
melalui serangkaian proses penambahan atau pengurangan nilai biner dengan
sekelompok nilai biner lainnya atau yang dikenal structured element (SE).
Penataan elemen merupakan bentuk umum yang digunakan dalam proses
morfologi citra seperti halnya konvolusi kernel yang sering digunakan dalam proses
linear filter suatu citra. Saat penataan elemen ditempatkan dalam citra biner,
masing-masing piksel-nya bertautan dengan piksel ketetanggaan citra asal.
Notasi untuk erosi dinyatakan sebagai berikut.
dengan ⊖ operator, proses erosi berakibat penyusutan ukuran objek citra sehingga
dapat digunakan untuk memisahkan objek yang saling gandeng satu sama lain.
Sedangkan closing merupakan proses morfologi dengan cara melakukan operasi
dilasi yang diteruskan dengan operasi erosi dengan menggunakan penataan elemen
yang sama. Ditulis dengan notasi sebagai berikut.
Metode closing digunakan bila ingin menutup lubang objek dengan tetap
mempertahankan bentuk aslinya. Dalam banyak hal, citra dalam kedokteran
membutuhkan batas antara satu organ tubuh dengan batas organ tubuh lainnya
sehingga semakin memudahkan untuk analisanya. Dengan kata lain, erosi membuat
citra menjadi lebih tipis, sedangkan closing menutup celah-celah yang hilang serta
memperhalus citra.
E. Operasi Refleksi
Dalam matematika morfologi, citra biner didefinisikan sebagai himpunan
vektor (koordinat) dalam ruang Euclid 𝐸𝑁: komposisi dari hitam dan putih dalam
𝑁-dimensi. 𝐸𝑁menunjukkan himpunan semua titik 𝑝=(𝑥1,𝑥2,⋯,𝑥𝑁) di ruang
Euclid berdimensi N. Setiap himpunan 𝐴 sesuai dengan citra biner; yaitu dimensi
𝑁 dalam warna hitam dan putih, dimana titik 𝑝 adalah hitam pada gambar jika dan
hanya jika 𝑝∈𝐴; sebaliknya, 𝑝 adalah putih. Sebuah citra biner dalam 𝐸2 adalah
siluet, satu himpunan mewakili daerah foreground (atau piksel hitam). Sebuah citra
3
biner dalam 𝐸3 adalah solid, satu himpunan mewakili permukaan dan interior
benda. Citra biner berkorelasi dengan piksel hitam dan putih untuk sistem koordinat
cartesius untuk citra biner.
citra biner (binary image) adalah citra yang hanya mempunyai dua nilai
derajat keabuan: hitam dan putih. Pixelpixel objek bernilai 1 dan pixel-pixel latar
belakang bernilai 0. Pada waktu menampilkan gambar, 0 adalah putih dan 1adalah
hitam. Jadi, pada citra biner, latar belakang berwarna putih sedangkan objek
berwarna hitam.
Citra biner tersebut bisa direpresentasikan menjadi suatu himpunan A =
{(1,1), (1,2), (1,3), dst.} sehingga berlaku pula operasi himpunan kepada suatu citra
biner ini. Semua operasi himpunan bisa dilakukan terhadap citra biner ini, namun
operasi dasar yang dibutuhkan hanya beberapayaitu gabungan, irisan, selisih, dan
komplemen. Adapula operasi dasar untuk citra biner yaitu refleksi, namun dia tidak
menggunakan operasi dasar himpunan tetapi mengubah setiap elemen himpunan
pada citra biner menjadi yang diinginkan. Operasi refleksi pada citra biner berarti
memutar A sebesar 180 derajat terhadap titik origin dari citra. Sehingga 𝑨̂={ b | b
= -a, a ∈ A }. Origin citra diasumsikan di tengah tengah matriksnya sehingga
membentuk seperti koordinat kartesius.
Contoh kasus : Misalkan 𝐴 menunjukkan suatu himpunan (atau citra biner) seperti
gambar dibawah, maka tentukan hasil operasi refleksi dari A
4
Jawab : Karena operasi refleksi berarti memutar A sebesar 180 derajat , maka 𝑨̂
akan tampak seperti gambar berikut