ANALISIS CITRAAN PADA KUMPULAN SAJAK ASMARADANA KARYA
GOENAWAN MOHAMAD
A. Citraan Bentuk
1.
KABUT
Siapakah yang tegak di kabut ini
Atau Tuhan,atau kelam:
Bisik-bisik lembut yang sesekali
Mengusap wajahnya tertahan-tahan
Kepada siapakah kabut ini
Telah turun perlahan-lahan:
Kepada pak tua,atau kami
Kepada kerja atau sawah sepi di tinggalkan
Pada judul puisi di atas terdapat citraan perabaan yang terletak pada bait pertama baris keempat yaitu
“mengusap wajahnya tertahan-tahan”. Pada kalimat ini penulis menggambarkan seolah merasakan
rabaan dengan mengusap wajah penulis.
2.
PERTEMUAN
Meniti tasbih
Malam pelan-pelan
Dan burng kedasih
Mengaris gelap di kejauhan
Kemudian adalah pesona:
Wajahnya tersandar ke kaca jendela
Memandang kita,memandang kita lama-lama
Demikianlah sunyi di telah turunkan
Dan demikianlah nabi telah di titahkan
Dan demikian pula manusia
Dikirim ke bumi yang terbentang,
Dari sorga
Yang telah [Link] kini tinggalah
Cinta
Memancar-mancar dari sunyi kaca jendela
Pada judul puisi di atas terdapat citraan pengelihatan yang terletak pada bait pertama baris ketujuh
yaitu “memandang kita, memandang kita lama-lama”. Pada kalimat ini penulis menggambarkan
seolah ada sosok tuhan yang memandangnya. Peneliti dapat berkesimpulan bahwa yang memandang
adalah sosok tuhan karena dari baris sebelumnya terdapat kata Nya yang menggambarkan penulisan
untuk tuhan dan pada bait kedua baris kedua terdapat kata Nabi yang menunjukkan bahwa Nabi itu
merupakan utusan Tuhan.
MALAM YANG SUSUT KELABU
Malam yang susut kelabu
Adakah kau dengar itu, kekasihku
Seperti kau dengar sauh
Tenggelam dalam dasar yang jauh
Adakah kau dengar suara
Antara langit yang gaib dan gerimis reda
Yang dekat berbisik pada kita
Dan akan berbisik pada dunia
Ketika itu angin telah mati dan dingin
Akan lalu
Ketika kumandang hilang dalam
Diriku
Tetapi mengapa kita bisa menerkanya,
Seketika
Bahwa kasih turun merendah,dan kita hanya
Gema
Pada judul puisi di atas terdapat citraan pendengaran yang terletak pada bait pertama baris kedua yaitu
“adakah kau dengar itu, kekasihku”. Pada kalimat ini penulis menggambarkan seolah-olah atau benar
dia mendengarkan suara dan bertanya kepada kekasihnya mengenai suara ynag didengarnya. Terletak
juga pada bait kedua baris pertama yaitu “adakah kau dengar suara”.
4.
GEMURUH LAUT MALAM HARI
Gemuruh laut malam hari adalah
gemuruh cemara.
Di siang, di padang-padang
bertahan sepi antara daun dan cabang....
Dan sepi itu satu aja, satu suara
tak menyebut nama-nama....
Gemuruh laut malam hari adakah ia cinta?
Gemuruh angkasa
gemuruh kereta-kereta larut senja?
Barangkali seseorang memandang jauh di sana....
Tapi tak ada pernah menyapa:
Hanya angin yang turun
Di bahunya.
Pada judul puisi di atas terdapat citraan pengelihatan yang teletak pada bait kedua baris keempat yaitu
“Barangkali seseorang memandang jauh disana”. Pada kalimat ini penulis menggambarkan seolah-
olah ada sesorang yang berada jauh sedang memandang atau melakukan pengelihatan.
5.
DONGENG SEBELUM TIDUR
"Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsense."
Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada
malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap
merayap antara sendi dan sprei.
"Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi."
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan
kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin,
meskipun ia mengecup rambutnya.
Esokhari permaisuri membunuh diri dalam api.
Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus
melarikan diri -- dengan pertolongan dewa-dewa entah dari
mana -- untuk tidak setia.
"Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku?
Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari
kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?"
Pada judul puisi di atas terdapat citraan pencecapan yang terletak pada bait keempat baris ketiga yaitu
“meskipun ia mengecup rambutnya”. Pada kalimat ini penulis menggambarkan bahwa seorang
Anglingdarma sedang melakukan kecupan di rambut seorang permaisurinya.
6.
ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di
antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Pada judul puisi di atas terdapat beberapa citraan yaitu pendengaran, pengelihatan, dan gerakan.
Citraan pendengaran terdapat pada bait pertama baris pertama yaitu “Ia dengar kepak sayap kelelawar
dan guyur sisa hujan dari daun”. Pada penggalan puisi ini penulis menggambarkan seolah-olah atau
benar terjadi bahwa ada seseorang yang mendengar suara kepak sayap dan sisa hujan dari daun.
Citraan pengelihatan terdapat pada bait pertama baris kelima yaitu “pedati ketika langit bersih
kembali menampakkan bimasakti”, pada penggalan puisi tersebut penulis menggambarkan seolah-
olah langit yang bersih dapat memperlihatkan bimasakti. Citraan gerakan terdapat pada bait ketiga
baris ketiga yaitu “ pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh keutara”, pada penggalan puisi
tersebut penulis menggambarkan seolah-olah sebuah tapak dapat melakukan gerakan menjauh
keutara.
7.
REKES
Pada judul puisi di atas terdapat citraan penciuman terletak pada bait pertama baris kedua “kucium”.
Pada penggalan puisi tersebut penulis menggambarkan ingin mencium tangan Tuhan. Citraan
intelektual terletak pada bait kedua
“Kehendak-Mu
memang jadi: hari ini
hanya nasi basi
tak ada amnesti”
dari penggalan puisi di atas didalam satu bait tersebut memiliki intelektual tentang pemahaman
penulis tentang agama.
8.
SAJAK ANAK-ANAK MATI
Tiga anak menari
tentang tiga burung gereja.
Kemudian senyap
disebabkan senja.
Tiga lilin kuncup
pada marmer meja
Tiga tik-tik hujan tertabur
Seperti tak sengaja.
"Bapak, jangan menangis"
Padajudul puisi di atas terdapat citraan gerakan terletak pada bait pertama baris pertama yaitu “tiga
anak menari”. Pada penggalan puisi tersebut penulis menggambarkan ada tiga orang anak yang
melakukan gerakan menari.
9.
POTRET TAMAN UNTUK ALLEN GINSBERG
Ia menebak dari warna kulit saya
dan berkata, 'Tuan pasti dari dunia ke-3.'
Lalu ia, dari dunia pertama, mengunyah makan pagi
seraya mengutip Mao Tse-tung
dan sebuah sajak gunung - ramah sekali.
Bisakah ia tidur
sebelum anggur
lalu mungkin mimpi
di lindungan malaikat masehi?
Ia telah jalan dalam angin
dan mengucup es-krim
dan membaca berita di halaman pertama
tentang sebuah perang
di Asia Tenggara
Ia kini duduk bersila
di bangku taman kota praja
mungkin semadi
mungkin aku tidak mengerti
karena ia berkata:
'Di Vietnam tak ada orang mati'
'Tak ada Vietnam dan Orang tak mati.'
Lalu ia mencari kepak burung
ia mencari merpati
ia mencari lambang
ia mencari makna hari.
Ia mencari seakan ia tahu apa yang ia
ingin temukan dan tiba-tiba ia menuliskan:
'Revolusi, Revolusi, Tak bisa Dipesan Hari Ini.'
Lalu ia bangkit ia mual ia mencium
bau biasa dari kakus umum;
ia basah oleh tangis dan ia meludah:
'Kencingilah kaum borjuis!'
Adakah ia Nabi?
Tuhan. Di taman ini orang juga ngelindur
tentang perempuan-perempuan berpupur
dan sebuah mulut berahi kudengar memaki:
'Bangsat, kenapa aku di sini!'
Atau mungkin ia ngelindur tentang sebuah dusun
yang hancur dan sisa infantri dan mayat
dan ulat dan ruh dan matahari?
Aku dengar seorang-orang tua, yang kesal dan
berkata: 'Di sekitar hari Natal, pernah terjadi
hal yang tak masuk akal. Misalnya mereka
membom Hanoi sebelum (bukan sesudah) aku minum
kopi.'
1973
Pada judul puisi di atas terdapat citraan pencecapan yang terletak pada bait ketiga baris kedua yaitu “
dan mengecup es-krim”. Pada penggalan puisi tersebut penulis menggambarkan ada seseorang yang
sedang melakukan pencecapan dengan mengecup sebuah es krim.
10.
LAGU ORANG PERAHU
Trinh, kulihat bintang berlari, bercerai
menyeberang kontinen malam.
Tapi ingin selesai, laut lerai
dan kau katakan, "Ada burung hitam di buritan".
Trinh, kuingat pohon-pohon kota Saigon
dan nyanyian di ranting-rantingnya.
Kusebut namamu, terkubur di setiap sekon
laut lama akan tak mengingatnya.
1990
Pada puisi di atas terdapat citraan pengelihatan yang terletak pada bait pertama baris pertama yaitu
“Trinh, kulihat bintang lari, bercerai”. Pada penggalan puisi tersebut penulis menggambarkan seolah-
olah dia melakukan pengelihatan yaitu melihat sebuah bintang yang sedang berlari.
[Link] pengelihatan (visual imagery)
Makna yang terkandung pada citraan pengelihatan ini menggunakan alat indera pengelihatan sebagai
sarana untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan dari isi puisi yang tertuju pada
objek penelitian ini. Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan pengelihatan untuk
menyampaikan makna pada penelitian ini:
1. “memandang kita, memandang kita lama-lama”
(Judul Puisi : PERTEMUAN)
Pada kutipan puisi di atas citraan pengelihatan digunakan sebagai penyampaian makna yang
digambarkan seolah-olah atau benar terjadi bahwa penulis sedang merasakan bahwa ada yang
memandang atau melihat dirinya.
2. “Barangkali seseorang memandang jauh disana”
(Judul Puisi : GEMURUH LAUT MALAM HARI)
Pada kutipan puisi di atas citraan pengelihatan digunakan sebagai penyampaian makna yang
digambarkan seolah-olah atau benar terjadi bahwa penulis merasakan dan menyangka ada yang
memandang dirinya.
3. “pedati ketika langit bersih kembali menampakkanbimasakti”
(Judul Puisi : ASMARADANA)
Pada kutipan di atas citraan pengelihatan digunakan sebagai penyampaian makna yang digambarkan
seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya langit memperlihatkan bimasakti.
4. “Trinh, kulihat bintang lari, bercerai”
(Judul Puisi : LAGU ORANG PERAHU)
Pada kutipan puisi di atas citraan pengelihatan digunakan sebagai penyampaian makna yang
digambarkan seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya penulis melihat bintang yang dapat berlari.
[Link] pendengaran (auditory imagery)
Makna yang terkandung pada citraan pendengaran ini menggunakan alat indera pendengaran sebagai
sarana yang digunakan untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan pada objek
penelitian ini. Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan pendengaran untuk menyampaikan
makna pada penelitian ini :
1. “adakah kau dengar itu, kekasihku”
(Judul Puisi : MALAM YANG SUSUT KELABU)
Pada kutipan di atas citraan pendengaran digunakan sebagai penyampaian makna yang digambarkan
seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya penulis mendengarkan sesuatu.
2. “Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujandari daun”
(Judul Puisi : ASMARADANA)
Pada kutipan puisi di atas citraan pendengaran digunakan sebagai penyampaian makna yaitu
digambarkan seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya penulis menunjukkan seseorang
mendengarkan kepak sayap kalelawar dan guyur sisa hujan dari daun.
[Link] gerakan (movement imagery)
Makna yang terkandung pada citraan gerakan ini menggunakan pergerakan sebagai sarana yang
digunakan untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan pada objek penelitian ini.
Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan gerakan untuk menyampaikan makna pada penelitian
ini :
1. “ pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauhkeutara”
(Judul Puisi : ASMARADANA)
Pada kutipan puisi di atas citraan gerakan digunakan sebagai penyampaian makna yaitu digambarkan
seolah-oalah atau benar terjadi bahwasanya penulis menunjukkan ada tapak yang bergerak menjauh
keutara.
2. “tiga anak menari”
(Judul Puisi : SAJAK ANAK_ANAK MATI)
Pada kutipan puisi di atas citraan gerakan digunakan sebagai penyampaian makna yaitu digambarkan
seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya ada tiga orang anak sedang melakukan gerakan menari.
D. Citraan Perabaan (thermal imagery)
Makna yang terkandung pada citraan perabaan ini menggunakan alat indera peraba sebagai sarana
yang digunakan untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan pada objek penelitian
ini. Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan perabaan untuk menyampaikan makna pada
penelitian ini :
1. ”mengusap wajahnya tertahan-tahan”
(Judul Puisi : KABUT)
Pada kutipan puisi di atas citraan perabaan digunakan sebagai penyampaian makna yaitu digambarkan
seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya penulis melakukan rabaan dengan mengusap wajah.
[Link] Penciuman (smeel imagery)
Makna yang terkandung pada citraan penciuman ini menggunakan alat indera penciuman sebagai
sarana yang digunakan untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan pada objek
penelitian ini. Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan penciuman untuk menyampaikan
makna pada penelitian ini :
1. “kucium”
(Judul Puisi : REKES)
Pada kutipan puisi di atas citraan penciuman digunakan sebagai penyampaian makna yaitu
digambarakan seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya penulis ingin mencium tangan Tuhan.
[Link] pencecapan (taste imagery)
Makna yang terkandung pada citraan pencecapan ini menggunakan alat indera pencecap sebagai
sarana yang digunakan untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan pada objek
penelitian ini. Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan pencecapan untuk menyampaikan
makna pada penelitian ini :
1. “meskipun ia mengecup rambutnya”
(Judul Puisi : DONGENG SEBELUM TIDUR)
Pada kutipan puisi di atas citraan pencecapan digunakan sebagai penyampaian makna yaitu
digambarkan seolah-olah atau benar terjadi bahwasanya tokoh Angglingdarma melakukan kecupan di
rambut seorang permaisurinya.
[Link] intelektual (intelectuall imagery)
Makna yang terkandung pada citraan intelektual ini menggunakan intelek dan pemahaman seseorang
sebagai sarana yang digunakan untuk dapat menyampaikan makna beserta maksud dan tujuan pada
objek penelitian ini. Berikut kutipan puisi yang menggunakan citraan intelektual untuk
menyampaikan makna pada penelitian ini :
1. “Kehendak-Mu
memang jadi: hari ini
hanya nasi basi
tak ada amnesti”
(Judul Puisi : REKES)
Pada kutipan puisi di atas citraan intelektual digunakan sebagai penyampaian makna yaitu tentang
pemahaman penulis tentang agama.