0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan20 halaman

Perbedaan Pendahuluan dan Latar Belakang

Bab 1 pendahuluan menjelaskan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik untuk komunikasi yang efektif. Bab ini juga mengemukakan rumusan masalah yang akan dibahas meliputi pengertian diksi, makna denotatif dan konotatif, makna umum dan khusus, serta tujuan makalah.

Diunggah oleh

afifah dhiniah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan20 halaman

Perbedaan Pendahuluan dan Latar Belakang

Bab 1 pendahuluan menjelaskan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik untuk komunikasi yang efektif. Bab ini juga mengemukakan rumusan masalah yang akan dibahas meliputi pengertian diksi, makna denotatif dan konotatif, makna umum dan khusus, serta tujuan makalah.

Diunggah oleh

afifah dhiniah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan karena selain digunakan sebagai alat
komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara
tulisan. Harus diakui, kecenderungan orang semakin mengesampingkan pentingnya penggunaan
bahasa, terutama dalam tata cara pemilihan kata atau diksi.
Terkadang kita pun tidak mengetahui pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik
dan yang benar, sehingga ketika kita berbahasa, baik lisan maupun tulisan,
sering mengalami kesalahan dalam penggunaan kata, frasa, paragraf, dan wacana.
Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman yang baik ihwal
penggunaan diksi atau pemilihan kata dirasakan sangat penting, bahkan mungkin vital,
terutama untuk menghindari kesalapahaman dalam berkomunikasi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang makalah di atas, maka yang menjadi rumusan dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Apa Pengertian Diksi?
2. Apa Pengertian Makna Denotatif dan Konotatif ?
3. Apa Pengertian Makna Umum dan Khusus ?
4. Apa Pengertian Kata Konkret dan Kata Abstrak?
5. Apa Pengertian Sinonim?
6. Apa pengertian Pembentukan Kata?
7. Bagaimana Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata?
8. Apa Pengertian Idiomatik?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Diksi
2. Mengetahui Makna Denotatif dan Konotatif
3. Mengetahui Makna umum dan Khusus
4. Mengetahui Kata Konkret dan Kata Abstrak
5. Mengetahui Pengertian Sinonim
6. Mengetahui Pengertian Pembentukan Kata
7. Mengetahui Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata
8. Mengetahui Pengertian Idiomatik

1
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN DIKSI


Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan
sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur yang sangat penting, baik dalam dunia karang-
mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya
untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu
ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata, makna kata yang tepatlah yang diperlukan.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin
disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai
dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu.

2.2 MAKNA KATA DENOTATIF DAN KONOTATIF


Makna Denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini
adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung
sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan,
misalnya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata
makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap
sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.
Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu
kepada kamar yang kecil (denotatif), tetapi kamar kecil berarti jamban (konotatif). Dalam hal ini,
kita kadang-kadang lupa apakah suatu makna kata itu adalah makna denotatif atau konotatif
Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada makna
denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah
makna yang berkaitan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.
Misalnya:
Rumah gedung, wisma, graha
Penonton pemirsa, pemerhati
Dibuat dirakit, disulap
Sesuai harmonis
Tukang ahli, juru

2
Pembantu asisten
Pekerja pegawai, karyawan
Bunting hamil, mengandung
Makna konotatif dan denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakaian bahasa.
Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya,
sedangkan makna konotatif adalah makna yang mempunyai tautan pikiran, perasaan, dan lain-
lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang
bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.
Denotatif : Dia adalah wanita cantik
Konotatif : Dia adalah wanita manis
Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian disebut idiom
atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata yang bermakna
konotatif.
Misalnya :
banting tulang,
keras kepala,
panjang tangan,
sakit hati, dan sebagainya.

2.3 KATA UMUM DAN KHUSUS


Kata umum (superordinat) adalah kata yang acuannya lebih luas, sedangkan kata yang
acuannya lebih khusus disebut kata khusus (hiponim)
Contoh kata bermakna umum adalah bunga. Kata bunga memiliki acuan lebih luas
daripada mawar. Bunga bukan hanya mawar, melainkan juga melati, dahlia, dan anggrek.
Sebaliknya, melati pasti sejenis bunga; anggrek juga tergolong bunga. Kata bunga yang
memiliki acuan yang lebih luas disebut kata umum, sedangkan kata melati, dahlia, anggrek
memiliki acuan yang lebih khusus dan disebut kata khusus.

2.4 KATA KONKRET DAN ABSTRAK


Kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret, seperti
meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah

3
diserap pancaindra, kata itu disebut kata abstrak, seperti ide, gagasan, kesibukan,keinginan,
angan-angan, kehendak, dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan
gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang bersifat teknis dan
khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu
karangan, karangan itu dapat menjadi samar dan tidak cermat.
2.5 SINONIM
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama,
tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau
kemiripan.
Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada tempat tertentu
sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang
bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang dan mengonkretkan bahasa seseorang
sehingga kejelasan komunikasi (lewat bahasa itu) akan terwujud. Dalam hal ini pemakai bahasa
dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat untuk dipergunakannya, sesuai dengan
kebutuhan dan situasi yang dihadapinya.
Contoh kata cerdas dan cerdik. Kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut
tidak persis sama benar. Contoh lain ialah :
Agung, besar, raya
Mati, mangkat, wafat, meninggal
Cahaya, sinar
Dan lain-lain.
Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna
konotatif suatu kata.

4.6 Pembentukan Kata


Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar Bahasa Indonesia. Dari
dalam Bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan
dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
Dari dalam Bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya :
tata daya serba
tata buku daya tahan serba putih
tata Bahasa daya pukul serba plastik
tata rias daya Tarik serba kuat

4
tata cara daya serap serba tahu
hari tutup lepas
hari sial tutup tahun lepas tangan
hari jadi tutup buku lepas pantai
hari besar tutup usia lepas landas
Dari luar Bahasa Indonesia terbentuk kata – kata melalui pungutan kata, misalnya :
bank wisata
kredit santai
valuta nyeri
televisi candak kulak
Kita sadar bahwa kosakata Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh Bahasa asing.
Kontak Bahasa memang tidak dapat dielakkan karena kita berhubungan dengan bangsa lain.
Oleh sebab itu, pengaruh – mempengaruhi dalam hal kosakata pasti ada. Dalam hal ini perlu
ditata kembali kaidah penyerapan kata – kata itu. Oleh sebab itu, pedoman umum pembentukan
istilah yang kini telah beredar di seluruh Nusantara sangat membantu upaya itu.
Kata – kata pungut adalah kata yang di ambil dari kata – kata asing. Hal ini di sebabkan
oleh kebutuhan kita terhadap nama dan penamaan benda atau situasi tertentu yang belum
dimiliki oleh Bahasa Indonesia. Pemungutan kata – kata asing yang bersifat internasional sangat
kita perlukan karena kita memerlukan suatu komunikasi dalam dunia dan teknologi modern, kita
memerlukan komunikasi yang lancer dalam segala macam segi kehidupan.
Kata – kata pungut itu ada yang dipungut tanpa di ubah, tetapi ada juga yang diubah.
Kata – kata pungut yang sudah disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia di sebut bentuk
serapan.
Bentuk – bentuk serapan itu ada empat macam :
1) Kita mengambil kata yang sudah sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia. Yang termasuk kata
– kata itu ialah :
bank
opname, dan
golf.
2) Kita mengambil kata dan menyesuaikan kata itu dengan ejaan Bahasa Indonesia. Yang
termasuk kata – kata itu ialah :
subject subjek,
apotheek apotek,
standard standar, dan
university universitas.

5
3) Kita menerjemahkan dan memadankan. Istilah – istilah asing kedalam Bahasa Indonesia.
Yang tergolong ke dalam bentuk ini ialah :
Starting point titik tolak
Meet the press jumpa pers
Up to date mutakhir
Briefing taklimat, dan
Hearing dengar pendapat
4) Kita mengambil istilah yang tetap seperti aslinya karena sifar ke universal annya. Yang
termasuk golongan ini ialah :
De facto
Status quo
Cum laude
Ad hoc
5) Kita dapat juga menyerap kata dari Bahasa daerah
6) Berikut ini di daftarkan beberapa kata serapan
List senarai
Pavilion anjungan
Established mapan
General rehearsal geladi bersih
Image citra
Sophisticated canggih
Mach kurapan
Gap kesenjangan
ambiguous taksa
supervision penyelia
full time purnawaktu
Dalam menggunakan kata, terutama dalam situasi resmi, kita perlu memerhatikan beberapa
ukuran.
a) Kata yang lazim dipakai dalam bahasa tutur atau bahasa setempat dihindari.
Misalnya: nongkrong
raun
Kata-kata itu dapat dipakai kalau sudah menjadi milik umum.
Contoh:
ganyang anjangsana
lugas kelola
heboh pamrih
santai
b) Kata-kata yang mengandung nilai rasa hendaknya dipakai secara cermat dan
hati-hati agar sesuai dengan tempat dan suasana pembicaraan.
Contoh:
tunanetra buta
tunarungu tuli

6
tunawicara bisu
c) Kata yang tidak lazim dipakai dihindari, kecuali kalau sudah dipakai oleh
masyarakat.
Contoh:
konon puspa
bayu lepau
lascar didaulat
Di bawah ini akan dibicarakan beberapa penerapan pilihan kata. Sebuah kata dikatakan baik
kalau tepat arti dan tepat tempatnya, saksama dalam pengungkapan, lazim, dan sesuai dengan
kaidah ejaan.
Beberapa contoh pemakaian kata di bawah ini dapat dilihat.
a) Kata raya tidak dapat disamakan dengan kata besar, agung. Kata-kata itu tidak selalu dapat
dipertukarkan.
Contoh: masjid raya, rumah besar, hakim agung.
b) Kata masing-masing dan tiap-tiap tidak sama dalam pemakaiannya.
Kata tiap-tiap harus diikuti oleh kata benda, sedangkan kata masing-masing tidak boleh
diikuti oleh kata benda.
Contoh yang benar:
1) Tiap-tiap kelompok terdiri atas tiga puluh orang.
2) Berbagai gedung bertingkat di Jakarta memiliki gaya arsitektur masing-masing.
3) Masing-masing mengemukakan keberatannya.
4) Para pemimpin negara APEC yang hadir di Jakarta masing-masing dijaga ketat oleh
pengawal kepresidenan Indonesia.
c) Pemakaian kata dan lain-lain harus dipertimbangkan secara cermat. Kata dan lain-lain
sama kedudukannya dengan seperti, antara lain, misalnya.
Misalnya:
Bentuk yang Salah
Dalam ruang itu kita dapat
menemukan barang-barang, seperti
meja, buku, bangku, dan lain-lain
Bentuk yang Benar
a) Dalam ruang itu kita dapat
menemukan meja, buku, bangku, dan
lain-lain
b) Dalam ruang itu kita dapat
menemukan barang-barang, seperti
meja, buku, dan bangku.

7
d) Pemakaian kata pukul dan jam harus dilakukan secara tepat. Kata pukul menunjukkan
waktu, sedangkan kata jam menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
Seminar tentang kardiologi yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia berlangsung selama 4 jam, yaitu dari jam 8.00 s.d. 12.00. (Salah)
Seminar tentang kardiologi yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia berlangsung selama 4 jam, yaitu dari pukul 8.00 s.d. pukul 12.00.
(Benar)
e) Kata sesuatu dan suatu harus dipakai secara tepat. Kata sesuatu tidak diikuti oleh kata
benda, sedangkan kata suatu harus diikuti oleh kata benda.
Contoh:
1) Ia mencari sesuatu
2) Pada suatu waktu ia datang dengan wajah berseri-seri
f) Kata dari dan daripada tidak sama pemakaiannya. Kata dari dipakai untuk menunjukkan
asal sesuatu, baik bahan maupun arah.
Contoh:
1) Ia mendapat tugas dari atasannya.
2) Cincin itu terbuat dari emas.
Kata daripada berfungsi membandingkan.
Contoh:
1) Duduk lebih baik daripada berdiri.
2) Indonesia lebih luas daripada Malaysia.
g) Kata di mana tidak dapat dipakai dalam kalimat pernyataan. Kata di mana tersebut harus
diubah menjadi yang, bahwa, tempat dan sebagainya.

4.7 KESALAHAN PEMBENTUKAN DAN PEMILIHAN KATA


Pada bagian berikut akan diperlihatkan kesalahan pembentukan kata, yang sering kita
temukan, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Setelah diperlihatkan bentuk
yang salah, diperlihatkan pula bentuk yang benar, yang merupakan perbaikannya.
a. Penanggalan Awalan meng-
Penanggalan awalan meng- pada judul berita dalam surat kabar diperbolehkan. Namun,
dalam teks beritanya awalan meng- harus eksplisit. Di bawah ini diperlihatkan bentuk
yang salah dan bentuk yang benar.
1) Amerika Serikat luncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (Salah)
 Amerika Serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (Benar)
2) Jaksa Agung, Hendarman Supandji, periksa mantan Presiden Soeharto. (Salah)
 Jaksa Agung, Hendarman Supandji, memeriksa mantan Presiden Soeharto.
(Benar)
b. Penanggalan Awalan ber-
Kata-kata yang berawalan ber- sering menanggalkan awalan ber-. Padahal, awalan ber-
harus dieksplisitkan secara jelas. Di bawah ini dapat dilihat bentuk salah dan benar dalam
pemakaiannya.

8
1) Sampai jumpa lagi. (Salah)
 Sampai berjumpa lagi. (Benar)
2) Pendapat saya beda dengan pendapatnya. (Salah)
 Pendapat saya berbeda dengan pendapatnya. (Benar)
3) Kalau Saudara tidak keberatan, saya akan meminta saran Saudara tentang
penyusunan proposal penelitian. (Salah)
 Kalau Saudara tidak berkeberatan, saya akan meminta saran Saudara tentang
penyusunan proposal penelitian. (Benar)
c. Peluluhan bunyi /c/
Kata dasar yang diawal bunyi /c/ sering menjadi luluh apabila mendapat awalan meng-.
Padahal, sesungguhnya bunyi /c/ tidak luluh apabila mendapat awalan meng-
Di bawah ini diperlihatkan bentuk salah dan bentuk benar.
1) Wakidi sedang menyuci mobil. (Salah)
 Wakidi sedang mencuci mobil. (Benar)
2) Eka lebih menyintai Boby daripada menyintai Roy. (Salah)
 Eka lebih mencintai Boby daripada mencintai Roy. (Benar)
d. Penyengauan Kata Dasar
Ada lagi gejala penyengauan bunyi awal kata dasar. Penyengauan kata dasar ini
sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya,
pencampuradukan antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata
yang salah dalam pemakaian. Kita sering menemukan penggunaan kata-kata, mandang,
ngail, ngantuk, nabrak, nanam, nulis, nyubit, ngepung, nolak, nyabut, nyuap, dan nyari.
Dalam bahasa Indonesia baku tulis, kita harus menggunakan kata-kata memandang,
mengail, mengantuk, menabrak, menanam, menulis, mencubit, mengepung, menolak,
mencabut, menyuap, dan mencari.
e. Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang Berimbuhan meng-/peng-
Kata dasar yang bunyi awalnya /s/, /k/, /p/, atau /t/ sering tidak luluh jika mendapat
awalan meng- atau peng-. Padahal, menurut kaidah baku bunyi-bunyi itu harus lebur
menjadi bunyi sengau. Di bawah ini dibedakan bentuk salah dan bentuk benar dalam
pemakaian sehari-hari.
1) Eksistensi Indonesia sebagai negara pensuplai minyak sebaiknya dipertahankan.
(Salah)
 Eksistensi Indonesia sebagai negara penyuplai minyak sebaiknya dipertahankan.
(Benar)
2) Bangsa Indonesia mampu mengkikis habis paham komunis sampai ke akar-akarnya.
(Salah)
 Bangsa Indonesia mampu mengikis habis paham komunis sampai ke akar-
akarnya. (Benar)
3) Semua warga negara harus mentaati peraturan yang berlaku (Salah)
 Semua warga negara harus menaati peraturan yang berlaku (Benar)
Kaidah peluluhan bunyi s, k, p, dan t tidak berlaku pada kata-kata yang dibentuk dengan
gugus konsonan. Kata traktor apabila diberi berawalan meng-, kata ini akan menjadi

9
mentraktor bukan menraktor. Kata proklamasi apabila diberi awalan meng-, kata itu
akan menjadi memproklamasikan.
f. Awalan ke- yang Keliru
Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter- sering diberi
berawalan ke-. Hal itu disebabkan oleh kekurangcermatan dalam memilih awalan yang
tepat. Umumnya, kesalahan itu dipengaruhi oleh bahasa daerah (Jawa / Sunda). Di bawah
ini dipaparkan bentuk salah dan bentuk benar dalam pemakaian awalan.
1. Pengendara motor itu meninggal karena ketabrak oleh metro mini (salah)
Pengendara motor itu meninggal karena tertabrak oleh metro mini (benar)
2. Mengapa kamu ketawa terus? (salah)
Mengapa kamu tertawa terus ? (benar)
Perlu diketahui bahwa awalan ke- hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di
depan kata bilangan, awalan ke tidak dapat dipakai. Pengecualian terdapat pada kata kekasih,
kehendak, dan ketua. Oleh sebab itu, kata ketawa, kecantol, keseleo, kebawa, ketabrak bukanlah
bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk yang benar ialah kedua, ketiga, keempat,
kesepuluh, keseribu, dan seterusnya.
g. Pemakaian Akhiran -ir
Pemakaian akhiran -ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.
Padahal, dalam bahasa indonesia baku, untuk padanan akhiran -ir adalah -asi atau -isasi. Di
bawah ini diungkapkan bentuk yang salah dan bentuk yang benar.
1) Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu. (Salah)
Saya sanggup mengoordinasi kegiatan itu. (benar)
2) Sakarno-Hatta memproklamirkan negara Republik Indonesia. (Salah)
Sukarno-Hatta memproklamasikan negara Republik Indonesia (benar)
Kata lainnya seperti :
Akomodir akomodisasi
Intimidir intimidasi
Legalisir legalisasi
Lokalisir lokalisasi
Realisir realisasi
Perlu diperhatikan, akhiran -asi atau -isasi pada kata- kata lelenisasi, turinisasi,
neonisasi, radionisasi, pompanisasi, dan koranisasi merupakan bentuk yang salah karena kata
dasarmya bukan kata serapan dari bahasa asing. Kata-kata itu harus peldiungkapkan menjadi

10
usaha peternakan lele, usaha penanaman turi, usaha pemasangan meon, gerakan
memasyarakatkan radio, gerakan pemasangan pompa, dan usaha memasyaralkatkan koran.
h. Padanan yang Tidak Serasi
Karena pemakai bahasa kurang cermat memilih padanan kata yang serasi, yang muncul
dalam pembicaraan sehari-hari adalah padanan yang tidak sepadan atau tidak serasi. Hal itu
terjadi karena dua kaidah bahasa bersilang, atau bergabung dalam sebuah kalimat. Di bawah ini
dipaparkan bentuk salah dan bentuk benar,terutama dalam memakai ungkapan penghubung
intrakalimat.
1) Karena modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh
kredit (salah)
Karena modal di bank terbatas, tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.
(benar)
Modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit
(benar)

2) Walaupun malam tadi bertugas siskamling, tetapi ia masuk kantor juga seperti biasa
(salah)
Walaupun Malam tadi ia bertugas siskamling, ia masuk kantor juga seperti biasa (benar)
Walaupun tadi ia bertugas siskamling, tetapi ia masuk kantor juga seperti biasa (benar)
Bentuk-bentuk di atas adalah bentuk yang menggabungkan kata karena dan sehingga,
kata apabila dan maka, dan kata walaupun dan tetapi. Penggunaan dua kata itu dalam sebuah
kalimat tidak diperlukan.
Bentuk-bentuk lainnya yang merupakan padanan yang tidak serasi adalah disebabkan
karena, dan lain sebagainya, karena. . maka, untuk .. . maka, meskipun. .. tetapi, kalau. maka,
dan sebagainya.
Bentuk yang baku untuk mengganti padanan itu adalah disebabkan oleh, dan lain-lain,
atau dan sebagainya; karena/untuk kalau saja tanpa diikuti maka, atau maka saja tanpa
didahului oleh karenajuntuk/kalau, meskipun saja tanpa disusul tetapi atau tetapi saja tanpa
didahului meskipun.
i. Pemakaian Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian di, ke, dari, bagi, dan daripada sering
dipertukarkan. Di bawah ini dipaparkan bentuk benar dan bentuk salah dalam pemakaian kata
depan.
1.) Putusan daripada pemerintah itu melegakan hati rakyat. (salah)
a.) Putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat. (benar)
2.) Meja ini terbuat daripada kayu. (salah)

11
Meja ini terbuat dari kayu. (benar)
j. Pemakaian Akronim (singkatan)
kita membedakan istilah “singkatan” dengan “bentuk singkat”. Yang dimaksud dengan
singkatan ialah hasil menyingkat atau memendekkan berupa huruf atau gabungan huruf seperti
PLO, UI, DPR, KPP, KY, MK, MA, KBK, dan KTSP. Yang dimaksud dengan bentuk singkat
ialah kontraksi bentuk kata sebagaimana dipakai dalam ucapan cepat, seperti lab (laboratorium),
memo (Memorandum), demo (demonstrasi) dan lain – lain. Pemakaian akronim dan singkatan
dalam Bahasa Indonesia kadang – kadang tidak teratur. Singkatan IBF mempunyai dua makna,
yaitu Internasional Boxing Federation dan Internasional Badminton Federation. Oleh sebab itu,
pemakaian akronim dan singkatan sedapat mungkin di hindari karena menimbulkan berbagai
tafsiran terhadap akronim atau singkatan itu. Singkatan yang dapat dipakai adalah singkatan
yang sudah umum dan maknanya telah mantap. Walaupun demikian, agar tidak terjadi
kekeliruan kalau hendak dipergunakan bentuk akronim atau singkatan dalam suatu artikel atau
makalah serta sejenis dengan itu, akronim atau singkatan itu lebih baik di dahului oleh bentuk
lengkapnya.
k. Penggunaan Kesimpulan, Keputusan, Penalaran, dan Pemukiman
Kata – kata kesimpulan bersaing pemakaiannya dengan kata simpulan; kata keputusan
bersaing pemakaiannya dengan kata putusan; kata Pemukiman bersaing dengan kata
Permukiman; kata penalaran bersaing dengan Pernalaran. Lalu, bentukan yang manakah yang
sebenarnya yang paling tepat? Apakah yang tepat Keputusan dan yang salah putusan, ataukah
sebaliknya. Mana yang benar penalaran ataukah pernalaran; kata pemukiman ataukah
Permukiman

Pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti pola yang rapi dan
konsisten. Kalau kita perhatikan dengan saksama, bentukan – bentukan kata itu memiliki
hubungan antara yang satu dan yang lain. Dengan kata lain, terdapat korelasi di antara berbagai
bentukan tersebut. Perhatikanlah. Misalnya, verba yang berawalan meng- dapat dibentuk menjadi
nomina yang bermakna ‘proses’ yang berimbuhan peng – an, dan dapat pula dibentuk menjadi
nomina yang bermakna ‘hasil’ yang berimbuhan –an. Perhatikanlah keteraturan pembentukan
kata berikut.

Verba dasar Verba Aktif Pelaku Proses Hasil atau yang di

Anut menganut penganut Penganutan anutan

Tulis menulis penulis penulisan tulisan

Pilih memilih Pemilih pemilihan pilihan

Mukim memukimkan pemukim pemukiman mukiman

12
Ada lagi pembentukan kata yang mengikuti pola berikut.

Verba dasar Verba aktif pelaku Hal

Tani bertani petani pertanian

Mukim bertinju petinju pertinjuan

Silat bersilat pesilat persilatan

Kelompok kata di bawah ini mengikuti cara yang lain.

Satu, bersatu mempersatukan pemersatu persatuan

Solek besolek mempersolek pemersolek persolekan

Oleh beroleh memperoleh pemeroleh perolehan

Berdasarkan kaidah di atas, bentukan – bentukan berikut dipandang kurang konsisten.

1.) Karya ilmiah harus mengandung bab pendahuluan, analisis, dan kesimpulan. (salah)

1a) Karya ilmiah harus mengandung bab, pendahuluan, analisis, dan simpulan. (benar)

2.) Sesuai dengan keputusan pemerintah, bea masuk barang mewah dinaikkan menjadi 20%
(salah)

2a) Sesuai dengan putusan pemerintah, bea masuk barang mewah dinaikkan menjadi 20%.
(benar)

l. Penggunaan Kata Yang Hemat

Salah satu ciri pemakaian Bahasa yang efektif adalah pemakaian Bahasa yang hemat
kata, tetapi padat isi. Namun, dalam komunikasi sehari – hari sering di jumpai pemakaian
kata yang tidak hemat (boros). Berikut ini di daftar kata yang sering digunakan tidak hemat
itu.

Boros Hemat

1. Sejak dari sejak atau dari


2. Demi untuk demi atau untuk

13
3. Apabila…, maka apabila…, tanpa kata penghubung maka
4. Walaupun…, namun walaupun…, tanpa kata namun

Perbandingan pemakaian kata yang boros dan hemat berikut :

1) Apabila suatu reservoar masih mempunyai cadangan minyak, maka diperlukan tenaga
dorong buatan untuk memproduksi minyak lebih besar. (boros, salah)

1a) Apabila suatu reservoar masih mempunyai cadangan minyak, diperlukan tenaga dorong
buatan untuk memproduksi minyak lebih besar. (Hemat, benar)

2) Untuk mengekspolari dan mengeksploitasi minyak dan gas bumi di mana sebagai sumber
devisa negara diperlukan tenaga ahli yang terampil di bidang geologi dan perminyakan.
(salah)

2a) Untuk mengekspolari dan mengeksploitasi minyak dan gas bumi yang merupakan
sumber devisa negara diperlukan tenaga ahli yang terampil di bidang geologi dan
perminyakan.

Pemakaian kata yang boros seperti sejak dari, adalah merupakan, demi untuk, agar
supaya, dan zaman dahulu kala juga harus di hindari

m. Analogi

Di dalam dunia olahraga terdapat istilah petinju. Kata petinju berkorelasi dengan kata
bertinju. Kata petinju berarti ‘orang yang (biasa) bertinju’, bukan ‘orang yang (biasa)
meninju.’

Dewasa ini dapat dijumpai banyak kata yang sekelompok dengan petinju, seperti
pesenam, pesilat, pegolf, peterjun, petenis, dan peboling. Akan tetapi, apakah semua kata
dibentuk dengan cara yang sama dengan pembentukan kata petinju? Jika harus dilakukan
demikian, akan tercipta bentukan seperti berikut :

Petinju ‘orang yang bertinju’

Peski ‘orang yang berski’

Peboling ‘orang yang berboling’

Kata bertinju, bersenam, dan bersilat mungkin biasa digunakan, tetapi kata bergolf,
berterjun, bertenis, dan berboling bukan kata yang lazim. Oleh sebab itu, maka muncul kata :

Peski

Pegolf

14
Peboling

Pada dasarnya tidak dibentuk dari

Berski (yang suka bermain ski)

Berselancar (yang baku bermain selancar)

n. Bentuk Jamak dalam Bahasa Indonesia

Dalam pemakaian sehari – hari kadang – kadang orang salah menggunakan bentuk jamak
dalam Bahasa Indonesia sehingga terjadi bentuk yang rancu atau kacau. Bentuk jamak dalam
Bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1) Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan, seperti :


Kuda – kuda
Meja – meja, dan
Buku – buku
2) Bentuk jamak dengan menambah kata bilangan, seperti
Beberapa meja,
Sekalian tamu,
Semua buku,
Dua tempat, dan
Sepuluh computer
3) Bentuk jamak dengan menambah kata bantu jamak. Seperti para tamu.
4) Bentuk jamak dengan menggunakan kata ganti orang, seperti :
Mereka, kita, dan
Kami kalian.

Dalam pemakaian kata sehari – hari orang cenderung mmilih bentuk jamak asing dalam
menyatakan jamak dalam Bahasa Indonesia. Dibawah ini beberapa bentuk jamak dan bentuk
tunggal dari Bahasa asing.

Bentuk tunggal Bentuk Jamak

Datum data

Alumnus alumni

Alim ulama

Dalam Bahasa Indonesia bentuk datum dan data yang dianggap baku ialah data yang
dipakai sebagai bentuk tunggal. Bentuk alumnus dan alumni yang dianggap baku ialah bentuk
alumni yang dipakai sebagai bentuk tunggal. Bentuk alim dan ulama kedua – duanya dianggap

15
baku yang dipakai masing – masing sebagai bentuk tunggal. Oleh sebab itu. Tidak salah kalau
ada bentuk :

Beberapa data

Tiga alumni, dan seterusnya.

o. Penggunaan di mana, yang mana, hal mana.

Kata di mana tidak dapat dipakai dalam kalimat penyataan, kata di mana tersebut harus
diubah menjadi yang, bahwa, tempat, dan sebagainya.

4.8 UNGKAPAN IDIOMATIK

Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu Bahasa yang salah satu
unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti. Ungkapan idiomatik adalah kata – kata yang
mempunyai sifat idiom yang terkena kaidah ekonomi Bahasa.

Ungkapan yang bersifat idiomatik terdiri atas dua atau tiga kata yang dapat memperkuat
diksi di dalam tulisan.

Beberapa contoh pemakaian ungkapan idiomatik adalah sebagai berikut.

Menteri Dalam Negeri bertemu Presiden SBY. (salah)

Menteri Dalam Negeri bertemu dengan presiden SBY. (benar)

Yang benar ialah bertemu dengan.

Di samping itu, ada beberapa kata yang berbentuk seperti itu, yaitu

Sehubungan dengam

Berhubungan dengan

Sesuai dengan

Bertepatan dengan

Sejalan dengan

Ungkapan idiomatik lain yang perlu di perhatikan ialah

Salah Benar

Salah terdiri atas/ dari

16
Terjadi atas terjadi dari

Tergantung kepada bergantung pada

Antara… dengan antara… dan

Tidak… melainkan tidak… tetapi

Kata Tidak Baku Kata baku

Analisa analisis

Jadual jadwal

Prosentase persentase
4.9 Peranti Penyempitan dan Perluasan Makna Kata
Bahasa yang hidup itu selalu berkembang. Perkembangan yang terjadi terhadap entitas
kebahasaan bisa bermacam – macam, diantaranya adalah ihwal penyempitan makna kata. Sebuah
kata dapat dikatakan mengalami penyempitan makna apabila di dalam kurun waktu tertentu
maknanya bergeser dari semula yang luas ke makna yang sempit atau sangat terbatas.
Adakalanya, penyempitan makna yang demikian ini memang merupakan tuntutan
kehidupan dan perkembangan Bahasa. Oleh karena itu, tidak dapat dengan serta merta dikatakan
bahwa penyempitan makna kata ini merupakan symbol kematian sebuah bentuk kebahasaan.
Jadi, kehadiran makna – makna baru dari sebuah bentuk kebahasaan seperti yang di sebutkan
itu adalah karena tuntutan kespesifikan atau kekhususan.
Tuntutan yang demikian itu hadir karena adanya dinamika Bahasa. Bahasa yang hidup
pasti terus berdinamika. Sebagai imbangan dari penyempitan makna kata adalah perluasan
makna kata. Sebuah makna kebahasaan dikatakan akan meluas jika dalam kurun waktu tertentu
maknanya akan bergeser dari yang semula sempit ke makna yang lebih luas. Perluasan makna
yang demikian ini juga tidak dapat dikatakan sebagai sebuah symbol dari kesuburan Bahasa.
Makna kata dalam sebuah Bahasa akan meluas juga karena tuntutan. Pemakai Bahasa yang dari
waktu ke waktu bertambah dan berkembang bagi sebuah Bahasa yang berdinamika progresif
akan menyebabkan peluasan makna – makna kebahasaan.
Contoh :
1) Dalam Bahasa Jawa, sebutan ‘biyung’ bermakna kata ‘Ibu’ sekarang menyempit
digunakan untuk menyebut kata ‘Pembantu Rumah Tangga’.
2) Kata ‘Bapak’ dan ‘Ibu’ dalam pengertian sempit awal mulanya hanya digunakan untuk
menyebut orang tua oleh seorang anak. Tetapi sekarang makna tersebut meluas bisa
untuk panggilan pimpinan atau atasan.
5.0 Peranti Ameliorasi dan Peyorasi

17
Diksi juga mengajarkan kepada kita ihwal ‘peyorasi’ dan ‘ameliorasi’. Adapun yang
dimaksud dengan ameliorasi adalah proses perubahan makna dari yang lama ke yang baru
ketika bentuk yang baru dianggap dan dirasakan lebih tinggi dan lebih tepat nilai rasa serta
konotasinya dibandingkan dengan yang lama.
Nah, sebagai imbangan dari ‘ameliorasi’ adalah ‘peyorasi’. Maksudnya adalah perubahan
makna dari yang baru ke yang lama ketika yang lama dianggap masih tetap lebih tinggi danlebih
tepat nilai rasa serta konotasinya dibandingkan dengan makna yang baru. Beberapa orang
mungkin sekali merasa sedikit aneh, lho kenapa makna kebahasaan bisa bolak-balik demikian itu.
Sekali lagi, inilah sesungguhnya bukti dari dinamika Bahasa yang bermartabat.
Bahasa yang bermartabat itu selalu berdinamika untuk menentukan hal-hal kebahasaan baru
yang lebih tepat. Jika ternyata ketepatan makna itu harus dilakukan dengan kembali kepada
bentuk kebahasaan yang lama, maka jadilah proses kembali ke makna yang lama itu.

Contoh Ameliorasi dalam kalimat :

1) Sudah saat nya wanita disejajarkan haknya dengan pria dalam prestasi kerja.

Contoh Peyorasi dalam kalimat :

1) Artis berinisial AN diseret KPK ke pengadilan.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kreativitas dalam memilih kata merupakan kunci utama pengarang dalam menulis
gagasan atau ungkapan. Penguasaan dalam pengolahan kata juga merupakan kunci utama dalam
menghasilkan tulisan yang indah, dapat dibaca serta ide yang ingin disampaikan penulis dapat
dipahami dengan baik.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin
disampaikannya baik secara lisan maupun dengan tulisan. Pemilihan kata juga harus sesuai
dengan situasi kondisi dan tempat penggunaan kata–kata itu. Pembentukan kata atau istilah
adalah kata yang mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas dalam
bidang tertentu.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa diksi mempunyai
persamaan yaitu sama-sama penulis ingin menyampaikan sesuatu di hasil karya tulisannya
dengan maksud agar pembaca dapat memahami maksud dan tujuan penulis.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, kami berharap para mahasiswa bisa mengerti tentang diksi
dan dengan mempelajari diksi diharapkan para mahasiswa memiliki ketetapan dalam
menyampaikan dan menyusun suatu gagasan agar yang disampaikan mudah dipahami dengan
baik.

19
Daftar Pustaka
 Arifin, E. Zainal dan Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan
Tinggi. Cetakan ke-6. Jakarta: Akademika Pressindo.
 Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.
Jakarta: Erlangga
 Dr. Dendy Sugono. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama

20

Anda mungkin juga menyukai