0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan54 halaman

Rujukan dan Keparahan Cedera Kepala

Proposal skripsi ini membahas hubungan antara lama waktu rujukan dengan tingkat keparahan pada pasien cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini akan menggunakan desain penelitian korelasi untuk mengetahui hubungan antara lama waktu rujukan dan tingkat keparahan cedera kepala. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan54 halaman

Rujukan dan Keparahan Cedera Kepala

Proposal skripsi ini membahas hubungan antara lama waktu rujukan dengan tingkat keparahan pada pasien cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini akan menggunakan desain penelitian korelasi untuk mengetahui hubungan antara lama waktu rujukan dan tingkat keparahan cedera kepala. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA LAMA WAKTU RUJUKAN DENGAN

TINGKAT KEPARAHAN PADA PASIEN CEDERA KEPALA


DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD ULIN
BANJARMASIN

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH :
FENNY NOORHAYATI WAHYUNI
NPM. 1614201120645

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN 2019
HUBUNGAN ANTARA LAMA WAKTU RUJUKAN DENGAN
TINGKAT KEPARAHAN PADA PASIEN CEDERA KEPALA
DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD ULIN
BANJARMASIN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan


Pada Program Studi S.1 Keperawatan

OLEH
FENNY NOORHAYATI WAHYUNI
NPM 1614201120645

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2019
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal ini dengan judul Hubungan Antara Lama Waktu Rujukan dengan Tingkat
Keparahan pada Pasien Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin
Banjarmasin oleh Fenny Noorhayati Wahyuni, NPM 1614201120645 telah
diperiksa dan disetujui oleh pembimbing, dan akan dipertahankan di hadapan
Dewan Penguji Seminar Proposal Skripsi Program S.1 Keperawatan Fakultas
Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.

Banjarmasin, 01 Maret 2019

Pembimbing 1

Novia Heriani, Ns., [Link]


NIDN. 1106118802

Pembimbing 2

Syamsul Firdaus, SKp., [Link]


NIP. 196609231989031001

Mengetahui,
Ketua Program Studi S.1 Keperawatan

Hj. Ruslinawati, Ns., [Link]


NIDN. 1107097801
PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI

Proposal Skripsi ini berjudul Hubungan Antara Lama Waktu Rujukan dengan
Tingkat Keparahan pada Pasien Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD
Ulin Banjarmasin oleh Fenny Noorhayati Wahyuni, NPM 1614201120645 telah
diujikan di depan tim penguji pada Seminar Proposal Skripsi Program Studi S.1
Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin pada
tanggal 18 Maret 2019.

DEWAN PENGUJI:
Penguji 1:

Novia Heriani, Ns., [Link] (Pimpinan Sidang)


NIDN. 1106118802

Penguji 2 :

Syamsul Firdaus, SKp., [Link] (Anggota)


NIP. 196609231989031001

Mengesahkan di : Banjarmasin
Tanggal : 28 Maret 2019

Mengetahui,
Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Ketua Program Studi
Kesehatan S.1 Keperawatan

M. Syafwani, [Link]., [Link]., [Link] Hj. Ruslinawati, Ns., [Link]


NIDN. 1110097101 NIDN. 1107097801
PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama : Fenny Noorhayati Wahyuni
NPM : 1614201120645
Prodi : S.1 Keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan Antara Lama Waktu Rujukan dengan Tingkat
Keparahan pada Pasien Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat
RSUD Ulin Banjarmasin

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa proposal skripsi ini merupakan hasil


karya cipta sendiri dan bukan plagiat, begitu pula hal yang terkait di dalamnya baik
mengenai isinya, sumber yang dikutip/dirujuk, maupun teknik di dalam pembuatan
dan penyusunan proposal skripsi ini.

Pernyataan ini akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya, apabila di kemudian


hari terbukti bahwa proposal skripsi ini bukan hasil karya cipta saya atau flagiat
atau jiblakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut
berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 25
(2) dan pasal 70.
Dibuat di : Banjarmasin
Pada tanggal : 05 Maret 2019

Saya yang menyatakan,

Fenny Noorhayati Wahyuni

Kutipan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:


Pasal 25 (2) : Lulusan Perguruan Tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk
memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan
jiblakan akan di cabut gelarnya
Pasal 70 : Lulusan Perguruan Tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk
mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana
dimaksud dalam pasal 25 (2) terbukti merupakan jiblakan dipidana
dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda
paling banyak Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah)
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama : Fenny Noorhayati Wahyuni
NPM : 1614201120645
Prodi : S.1 Keperawatan
Jenis Karya : Proposal Skripsi

Sebagai civitas akademika Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Fakultas


Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, yang turut serta mendukung pengembangan ilmu
pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Hak Bebas Royalti atas
karya ilmiah saya yang berjudul:

”Hubungan Antara Lama Waktu Rujukan dengan Tingkat Keparahan pada Pasien
Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin”

Dengan adanya Hak Bebas Royalti ini maka, Universitas Muhammadiyah


Banjarmasin Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan mempunyai kebebasan
secara penuh untuk menyimpan, melakukan editing, mengalihkan ke format/media
yang berbeda, melakukan kelolaan berupa database, serta melakukan publikasi
tugas akhir saya ini dengan pertimbangan dengan tetap mencantumkan nama
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta dengan segala perangkat yang ada
(bila diperlukan)
Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Banjarmasin
Pada tanggal : 05 Maret 2019

Saya yang menyatakan,

Fenny Noorhayati Wahyuni


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang tiada pernah
berhenti dicurahkan kepada semua hamba-Nya yang mau berdoa dan berusaha tiada
henti. Shalawat dan salam tidak lupa pula penulis haturkan pada junjungan kita
Nabi besar Muhammad SAW, atas kekuatan dan kemampuan yang diberikan-Nya
akhirnya penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi ini.

Selesainya proposal skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin, [Link] Rektor Universitas
Muhammadiyah Banjarmasin
2. Bapak M. Syafwani, [Link]., [Link]., [Link] Dekan Fakultas Keperawatan dan
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.
3. Ibu Hj. Ruslinawati, Ns., [Link] Ketua Program Studi S.1 Keperawatan
Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin.
4. Ibu Novia Heriani, Ns., [Link] Pembimbing I yang telah banyak memberikan
petunjuk dan arahan, bimbingan dan perbaikan dalam hal materi maupun saran
kepada penulis.
5. Bapak Syamsul Firdaus, SKp., [Link] Pembimbing II tentang metodologi
penelitian sekaligus pembimbing teknik penulisan yang telah memberikan
bimbingan dengan penuh kesabaran.
6. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar beserta Staf Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin yang selama ini banyak memberikan bekal pengetahuan kepada
penulis dan telah membantu demi lancarnya segala urusan dalam proposal
skripsi ini.
7. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin beserta seluruh staf yang telah memberikan
kesempatan dan fasilitas kepada penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi
ini.
8. Orang tua tercinta; Rifan Yunani dan Nelly Fitri Wahyuni Sibarani serta seluruh
keluarga yang tak bisa disebutkan satu persatu yang terus memberikan cinta,
kasih sayang, dan doa serta pengorbanan tiada henti, memberikan dukungan
serta memfasilitasi untuk keberhasilan penulis untuk menyelesaikan proposal
skripsi ini.
9. Teman-teman mahasiswa/i Program Studi S1 Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Banjarmasin yang tiada hentinya memberikan semangat dan
selalu ada dalam keadaan suka maupun duka, khususnya teruntuk sahabat-
sahabat saya yaitu; Nur Hikmah, Adelia Ramadhanti, Bella Aldila Erlida, Anita
Karomah, Siti Niswatim Hasanah dan Saidah.
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan kemudahan bagi penulis yang
tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa proposal skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penulis mengucapkan mohon maaf atas segala kekurangan yang ada
dalam penyusunan proposal skripsi ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan proposal skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih dan semoga ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan penulis sendiri khususnya.

Banjarmasin, 05 Maret 2019

Fenny Noorhayati Wahyuni


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL SKRIPSI ..................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI ...................................... iii
PERNYATAAN ORISINILITAS PENELITIAN ........................................ iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................................... v
KATA PENGANTAR .................................................................................. vi
DAFTAR ISI ................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ......................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................ 4
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 4
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................... 5
1.5 Penelitian Terkait ................................................................. 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Cedera Kepala ...................................................................... 8
2.2 Lama Waktu Rujukan .......................................................... 22
2.3 Tingkat Keparahan ............................................................... 27
2.4 Kerangka Konsep ................................................................. 29
2.5 Hipotesis............................................................................... 29

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian .................................................................. 30
3.2 Definisi Operasional............................................................. 30
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling ........................................... 32
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian .............................................. 33
3.5 Alat Pengumpul Data .......................................................... 34
3.6 Teknik Pengambilan Data .................................................... 35
3.7 Teknik Pengolahan Data ...................................................... 36
3.8 Teknik Analisis Data ............................................................ 36
3.9 Etika Penelitian……………………………. ....................... 37

DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Skala GCS (Glasgown Coma Scale) ...................................................... 10
2.2 Revised Trauma Score (RTS) ................................................................. 28
3.1 Variabel dan Definisi Operasional Penelitian.......................................... 31
3.2 Kegiatan dan Jadwal Penelitian........................... ................................... 33
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Kerangka Konsep ................................................................................... 29
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
1. Surat Permohonan Ijin Studi Pendahuluan dari Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin
2. Surat Ijin Studi Pendahuluan dari RSUD Ulin Banjarmasin
3. Lembar Konsultasi Pembimbing 1
4. Lembar Konsultasi Pembimbing 2
5. Rencana Jadwal Penelitian
6. Permohonan Menjadi Responden
7. Informed Consent
8. Lembar Observasi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan
utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat
sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya (Tobing,
2011).

Insiden cedera kepala secara global terus mengalami peningkatan seiring


bertambahnya peningkatan penggunaan kendaraan bermotor. World Health
Organization (WHO) menjelaskan bahwa setiap tahunnya di seluruh dunia
terdapat sekitar 1,2 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas dan
50 juta lainnya mengalami luka-luka. WHO memperkirakan bahwa pada
tahun 2020 kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan cedera kepala menjadi
penyebab penyakit dan trauma ketiga terbanyak di dunia. Insiden cedera
kepala di Eropa pada tahun 2010 adalah 500 per 100.000 populasi (Lingsma,
2010). Menurut Shiroma (2010), terdapat lebih dari 1,1 juta orang Amerika
Serikat menderita cedera kepala setiap tahunnya. Cedera karena trauma
maupun benturan merupakan salah satu penyebab kematian utama pada usia
di bawah 44 tahun di Amerika Serikat.

Berdasarkan data Riskesdas (2018), di dapatkan bahwa data kasus cedera


kepala di Indonesia sebanyak 11,9% jiwa. Kasus cedera kepala di Provinsi
Kalimantan Selatan 8,6% jiwa dimana kecelakaan di jalan raya menjadi
tempat penyebab cedera kepala dengan persentasie 31,4%.

Berdasarkan studi pendahuluan penyakit di IGD RSUD Ulin Banjarmasin


dalam periode 3 tahun terakhir, data pada tahun 2016 terdapat 430 jiwa,

1
2

tahun 2017 ada 453 jiwa, dan tahun 2018 ada 314 jiwa, sehingga totalnya
1.197 jiwa dengan pasien meninggal dunia berjumlah 59 jiwa. Data dalam
3 bulan terakhir dari bulan oktober-desember berjumlah 182 jiwa dengan
pasien meninggal dunia (intra hospital) berjumlah 13 jiwa dan data pasien
yang meninggal sebelum sampai ke RSUD Ulin Banjarmasin berjumlah 13
jiwa.

Penyebab cedera kepala sering terjadi karena kecelakaan kendaraan


bermotor (50%), seperti sepeda motor, mobil, truk, sepeda dan pejalan kaki
yang tertabrak kendaraan. Kecelakaan dapat saja terjadi pada setiap saat dan
di mana saja. Penyebab utama cedera kepala bermacam-macam berdasarkan
usia. Jatuh merupakan penyebab utama untuk usia diatas 65 tahun,
sedangkan kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama
untuk usia dibawah 65 tahun. Pada tahun 2012 diperkirakan angka kejadian
cedera kepala yang berhubungan dengan olahraga dan rekreasi pada anak
anak (usia 19 atau lebih muda) sekitar 329.290 tiap tahun (CDC, 2017).

Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis pada cedera kepala adalah


penanganan di lokasi kejadian, transportasi di rumah sakit, penilaian dan
tindakan di ruang IGD (Tobing, 2011). Hal penting dalam pelayanan
rujukan dikenal dengan “The Golden Time”, pasien yang dapat selamat dari
situasi emergency adalah pasien yang tiba dirumah sakit dan mendapatkan
perawatan lanjutan dalam waktu satu jam memliki kesempatan hidup lebih
besar daripada pasien yang terlambat tiba dirumah sakit. (Oktaviani et al.
2013).

Salah satu faktor keberhasilan penanganan cedera kepala adalah jarak


tempuh tempat kejadian dengan rumah sakit rujukan. Jarak transfer pasien
antar rumah sakit dapat mempengaruhi pola cedera. Hal ini karena masalah
yang sering timbul dalam melakukan rujukan adalah jarak kejadian
kecelakaan pasien cedera kepala dengan rumah sakit rujukan yang terdekat.
3

Jauhnya jarak tempuh rujukan mempengaruhi kondisi pasien setibanya di


rumah sakit rujukan. (Yatto et al. 2009)

Masalah tersebut dapat diatasi dengan sistem transportasi yang adekuat,


sehingga alat transportasi merupakan sarana terpenting dalam perawatan pre
hospital. Proses transportasi menggunakan ambulan akan mempercepat
korban kecelakaan dari tempat kejadian ke tempat pelayanan kegawat
daruratan. Namun pelayanan pre hospital di Indonesia menjadi kendala
dalam penggunaan alat transportasi adekuat yang diberikan kepada korban
kecelakaan. Kendala tersebut juga dialami di wilayah Kalimantan Selatan
yang belum maksimalnya pelayanan pre-hospital care khususnya bagi
korban kecelakaan. (Wibowo, 2016).

Cedera kepala merupakan keadaan yang serius. Oleh karena itu, diharapkan
dengan penanganan yang cepat dan akurat dapat menekan morbiditas dan
mortilitas penanganan yang tidak optimal dan terlambatnya rujukan dapat
menyebabkan keadaan penderita semakin memburuk dan berkurangnya
pemilihan fungsi (Tarwoto et al, 2007)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti ingin melakukan


penelitian untuk menganalisa hubungan lama waktu rujukan dengan tingkat
keparahan pasien cedera kepala di RSUD Ulin Banjarmasin.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumusan masalah sebagai berikut
"Adakah Hubungan Antara Lama Waktu Rujukan dengan Tingkat
Keparahan pada Pasien Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD
Ulin Banjarmasin?”
4

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Penulisan ini secara umum bertujuan untuk mengetahui Hubungan
Antara Lama Waktu Rujukan dengan Tingkat Keparahan Pasien
Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan Khusus dalam penelitian yakni:
[Link] Mengidentifikasi lama waktu rujukan pada pasien cedera
kepala di RSUD Ulin Banjarmasin.
[Link] Mengidentifikasi tingkat keparahan pada pasien cedera
kepala di RSUD Ulin Banjarmasin.
[Link] Menganalisis hubungan lama waktu rujukan dengan tingkat
keparahan pasien cedera kepala di RSUD Ulin
Banjarmasin.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian ini antara lain:
1.4.1 Bagi Profesi Perawat
Memperoleh wawasan tentang hubungan lama waktu rujukan
dengan tingkat keparahan psien cedera kepala, serta perawat dapat
memperoleh ilmu tentang kegawatdaruratan yang berhubungan
dengan rujukan.
1.4.2 Bagi Institusi
Hasil penelitian dapat memberi gambaran atau informasi bagi
institusi terutama tentang hubungan lama waktu rujukan dengan
tingkat keparahan psien cedera kepala.
1.4.3 Bagi RSUD Ulin Banjarmasin
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai alat evaluasi lama waktu
rujukan pasien dan pengaruhnya terhadap tingkat keparahan pasien
cedera kepala.
5

1.4.4 Bagi Peneliti


Sebagai pengalaman awal dan referensi dalam melakukan penelitian
dan sebagai masukan untuk peneliti selanjutnya.

1.5 Penelitian Terkait


Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang berhubungan dengan
penelitian ini adalah :
1.5.1 Penelitian Doni Wibowo (2016) tentang “Hubungan Antara Faktor
Pre-hospital Stage Dengan Komplikasi Sekunder Pada Pasien
Cedera Kepala Berat Setelah Kedatangan Pasien Di IGD RSUD Ulin
Banjarmasin”. Jenis penelitian kuantitatif, non eksperimental
menggunakan metode deskriptif observasional. Bentuk rancangan
penelitian secara cross sectional. Jumlah sampel adalah 31, uji
statistik Chi-Square dan Regresi Logistik. Dari hasil penelitian ini
dikatakan bahwa adanya hubungan antara penolong pertama, lama
penanganan pertama, dan alat transportasi pasien dengan
komplikasi sekunder dengan nilai p < 0,05. Berdasarkan uji regresi
logistik diketahui bahwa variabel yang paling berhubungan dengan
komplikasi sekunder adalah lama penanganan pertama dengan nilai
Exp(B) 22.708. Persamaan penelitian ini dengan penelitian
terdahulu terletak pada tempat penelitian yaitu di “IGD RSUD Ulin
Banjarmasin”.

Adapun perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian


ini terletak pada variabel dependen dimana pada penelitian
sebelumnya variabel yang digunakan peneliti adalah pada pasien
cedera kepala berat. Perbedaan lainnya juga terdapat pada waktu
penelitian dimana penelitian sebelumnya dilakukan pada tahun
2016.
6

1.5.2 Penelitian Nanang Bagus Sasmito, Titin Andri Wihastuti, dan Heri
Kristianto (2017) tentang “Analisis Faktor Yang Berhubungan
Dengan Outcome Pasien Cedera Kepala Yang Dirujuk Di IGD
RSUD Dr. Iskak Tulungagung Melalui Pendekatan Model
Interpersonal Nursingheldegrad E. Peplau”. Metode dalam
penelitian ini adalah analitik komparatif dengan pendekatan cross-
sectional. Jumlah sampel sebanyak 78 responden dengan
menggunakan purposive sampling. Dari hasil penelitian ini uji
regresi logistik menunjukkan faktor kondisi pasien yang paling
dominan berhubungan dengan outcome pasien cedera kepala yang
dirujuk (p value 0,001 dan nilai OR 16.184). Pasien cedera kepala
mengalami penurunan nilai GCS pada saat dirujuk merupakan
petunjuk bahwa terjadi perburukan kondisi pasien, sehingga nilai
GCS menjadi parameter yang penting utnuk diperhatikan. Sehingga
apabila dalam setiap fase dalam interpersonal nursing dapat
dilaksanakan dengan baik pada pasien cedera kepala yang dirujuk,
maka outcome cedera kepala dengan penilaian glasgow outcome
scale akan baik.

Adapun perbedaan dengan penelitian sebelumnya dengan penelitian


ini terletak pada lokasi penelitian dimana pada penelitian ini,
lokasinya terletak di IGD RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Perbedaan
lainnya juga terletak pada waktu penelitian, penelitian ini dilakukan
pada tahun 2017.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cedera Kepala


2.1.1 Definisi Cedera Kepala
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak
yang disertai atau tanpa disertai pendarahan interstital dalam
substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. Cedera
kepala merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan
kematian (Tarwoto et al, 2007)

Cedera kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma


baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit neurologis
terjadi karena robeknya substansi alba, iskemia dan pengaruh
massa karena hemoragik, serta edema serebral disekitar jaringan
otak (Muttaqin, 2008).

Cedera kepala terjadi karena adanya kekuatan mekanis terhadap


cranium dan struktur didalamnya yang meyebabkan terjadinya
kerusakan sementara atau menetap (Arifin & Risdianto, 2013)

2.1.2. Menurut Brain Injury Association of Michigan, dalam Nurarif


(2016) klasifikasi cedera kepala yaitu:
[Link] Berdasarkan patologi:
a. Cedera kepala primer
Merupakan akibat cedera awal. Cedera awal
menyebabkan gangguan integritas fisik, kimia, dan
listrik dari sel diarea tersebut, yang menyebabkan
kematian sel.

7
8

b. Cedera kepala sekunder


Cedera ini merupakan cedera yang menyebabkan
kerusakan otak lebih lanjut yang terjadi setelah trauma
sehingga meningkatkan TIK yang tak terkendali,
meliputi respon fisiologis cedera otak, termasuk edema
serebral, iskemia serebral, hipotensi sistemik, dan
infeksi lokal atau sistemik.
[Link] Menurut jenis cedera
a. Cedera kepala terbuka dapat menyebabkan fraktur
tulang tengkorak dan laserasi duameter. Trauma yang
menembus tengkorak dan jaringan otak.
b. Cedera kepala tertutup dapat disamakan pada pasien
dengan gegar otak ringan dengan cedera serebral yang
luas.
[Link] Menurut berat ringannya berdasarkan GCS (Glasgown
Coma Scale)
a. Cedera kepala ringan/minor
1) GCS 14-15
2) Dapat terjadi kehilangan kesadaran, amnesia,
tetapi < 30 menit
3) Tidak ada fraktur tengkorak
4) Tidak ada kontusia serebral, hematoma
b. Cedera kepala sedang
1) GCS 9-13
2) Kehilangan kesadaran dan asam anamnesa lebih
dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam
3) Dapat mengalami fraktur tengkorak
4) Diikuti contusia serebral, laserasi dan hematoma
intrakranial
9

c. Cedera kepala berat


1) GCS 3-8
2) Kehilangan kesadaran dan terjadi amnesia lebih
dari 24 jam
3) Juga meliputi kontusia serebral, laserasi atau
hematoma intrakranial

Tabel. 2.1 Skala GCS (Glasgown Coma Scale)

Dewasa Respon Bayi dan anak-anak


Buka Mata (Eye)
Spontan 4 Spontan
Berdasarkan perintah verbal 3 Berdasarkan suara
Berdasarkan rangsangan nyeri 2 Berdasarkan rangsangan nyeri
Tidak memberi respon 1 Tidak memberi respon
Respon Verbal
Orientasi baik 5 Senyum, orientasi terhadap obyek
Percakapan kacau 4 Menangis tapi dapat ditenangkan
Kata-kata kacau 3 Menangis tapi tidak dapat
ditenangkan
Mengerang 2 Mengerang dan agitatif
Tidak memberi respon 1 Tidak memberi respon
Respon Motorik
Menurut perintah 6 Aktif
Melokalisir rangsangan nyeri 5 Melokalisir rangsangan nyeri
Menjauhi rangsangan nyeri 4 Menjauhi rangsangan nyeri
Fleksi abnormal 3 Fleksi abnormal
Ekstensi abnormal 2 Ekstensi abnormal
Tidak memberi respon 1 Tidak memberi respon

Skor GCS:
14 - 15 : Nilai normal/composmentis/sadar penuh
12 - 13 : Apatis/ acuh tak acuh
11 - 12 : Samnolen
10

8 - 10 : Stupor
<5 : Koma

2.1.3 Etiologi
Mekanisme cedera kepal meliputi cedera akselerasi, deselarasi,
akselerasi-deselerasi, coup-countre coup dan cedera ratasional
(Satyanegara, 2010)
[Link] Cedera Akselerasi terjadi jika objek bergerak
menghantam kepala yang tidak bergerak (misalnya, alat
pemukul menghantam kepala atau peluru yang
ditembakkan kekepala)
[Link] Cedera Deselerasi terjadi jika kepala yang bergerak
membentur obyek diam, seperti pada kasus jatuh atau
tabrakan mobil ketika kepala membentur kaca depan
mobil.
[Link] Cedera akselerasi-deselerasi sering terjadi dalam kasus
kecelakaan kendaraan bermotor dan kekerasan fisi
[Link] Cedera Coup-countre coup terjadi jika kepala terbentur
yang menyebabkan otak bergerak dalam ruang kranial dan
dengan kuat mengenai area tulang yang berlawanan serta
area kepala yang pertama kali terbentur. Sebagai contoh
pasien dipukul dibagian belakang kepala.
[Link] Cedera rotasional terjadi jika pukulan/benturan
menyebabkan otak berputar dalam rongga tengkorak,
yang mengakibatkan peregangan atau robeknya neuron
dalam subtansia alba sera robeknya pembuluh darah yang
memfiksasi otak dengan bagian dalam rongga tengkorak.

2.1.4 Epidemiologi
Di Amerika Serikat setiap tahun, 1,4 juta orang mengalami cedera
kepala. Ini merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan
pada anak-anak dan dewasa muda, dan sekitar 52.000 (atau
11

sepertiga) dari semua kematian di akibat karena mengalami cedera


kepala. Kira-kira dua kali jumlah ini menderita defisit neurologis
permanen. Tingkat keparahan cedera kepala dikategorikan
berdasarkan skor GCS. Cedera kepala berat (Skor GCS dari 3
hingga 8) terdiri dari sekitar 10% dari cedera kepala, cedera kepala
sedang (skor GCS dari 9 hingga 12) mencakup sekitar 10% lainnya,
dan sebagian besar cedera kepala (80%) diklasifikasikan sebagai
cedera kepala ringan. Dalam 30 tahun terakhir, program trauma
khusus telah menunjukkan bahwa program pra-rumah sakit yang
agresif mengurangi morbiditas dan kematian dari cedera kepala
(Stiver et al, 2008)

2.1.5 Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan
glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel
saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak
mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke
otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi.
Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar
metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg%, karena akan
menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari
seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa
plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala-gejala permulaan
disfungsi cerebral.

Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi


kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat
menyebabkan dilatasi pembuluhan darah. Pada kontusio berat,
hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat
akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis
metabolik.
12

Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 – 60


ml/menit/100gr. Jaringan otak, yang merupakan 15% dari cardiac
output. Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung
sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan
vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel
adalah perubahan gelomvang T dan P dan disritmia, filbrilasi
atrium dan vebtrikel, takikardia.

Akibat adanya pendarahan otak akan mempengaruhi tekanan


vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan
pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persarafan
simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol
otak tidak begitu benar. (Musliha, 2010)

2.1.6 Manifestasi Klinis


Menurut Smeltzer, Suzanna, dalam Nurarif (2016) Pada
pemeriksaan klinis biasa yang dipakai untuk menentukan cedera
kepala menggunakan pemeriksaan GCS yang dikelompokkan
menjadi cedera kepala ringan, sedang, dan berat seperti diatas.
Nyeri yang menetap atau setempat, menunjukkan adanya fraktur.
[Link] Fraktur kubah kranial menyebabkan bengkak pada sekitar
fraktur.
[Link] Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika cairan cerebro
spinal keluar dari telinga dan hidung.
[Link] Laserasi atau kontusio otak ditunjukkan oleh cairan spinal
berdarah hematom pada cedera kepala :
a. Epidural hematom (EDH) : hematom antara
durameter dan tulang, biasanya sumber
perdarahannya adalah robeknya arteri meningica
media. Ditandai dengan penurunan kesadaran
dengan ketidaksamaan neurologis sisi kiri dan kanan
(hemiparesis/plegi, pupil anisokor, reflek patologis
13

satu sisi). Gambaran CT scan area hiperdens dengan


bentuk bikonvek diantara 2 sutura. Jika perdarahan >
20 cc atau > 1 cm midline shift> 5mm dilakukan
operasi untuk menghentikan perdarahan.
b. Subdural hematom (SDH) : hematom dibawah
lapisan durameter dengan sumber perdarahan dapat
berasal dari bridging vein, arteri atau vena cortical
sinus venous. Subdural hematom adalah
terkumpulnya darah antara durameter dan jaringan
otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat
pecahnya pembuluh darah vena, perdarahan lambat
dan sedikit. Periode akut dapat terjadi dalam waktu
48 – 2 hari, 2 minggu atau beberapa bulan. Gejala –
gejalanya adalah nyeri kepala, binggung,
mengantuk, berpikir lambat, kejang dan udem pupil
dan secara klinis ditandai dengan penurunan
kesadaran, disertai adanya lateralisasi yang paling
sering berupa hemiparese/plegi. Pada pemeriksaan
CT Scan didapatkan gambaran hiperdens yang
berupa bulan sabit (cresent). Indikasi operasi jika
perdarahan tebalnya > 1cm dan terjadi pergeseran
garis tengah > 5mm.
c. Intraserebral hematom (ICH) : perdarahan
intraserebral adalah perdarahan yang terjadi pada
jaringan otak biasanya akibat robekan pembuluh
darah yang ada dalam jaringan otak. Pada
pemeriksaan CT Scan indikasi dilakukan operasi
adanya daearah hiperdens, diameter > 3cm, perifer,
adanya pergeseran garis tengah.
14

d. Kelainan Cedera Kepala


Adanya benturan pada kepala akan menyebabkan
terjadinya cedera pada daerah yang terkena benturan
dan dapat menyebabkan cedera dengan pola tertentu
sesuai dengan lokasi dan besarnya benturan (Arifin
& Risdianto, 2013). Hal-hal yang dapat terjadi
diantaranya:
1) SCALP hematom
Kulit dan subkutis mampu meneruskan dan
meredam benturan yang mengenainya tanpa
menyebabkan kerusakan pada struktur
dibawahnya, tetapi jika benturan terlalu besar
sehingga SCALP tidak mampu meredam maka
akan terjadi hematom di SCALP.
2) Fraktur Linier
Ketika tulang tengkorak terkena benturan,
kemungkinan akan terjadi deformitas tulang
tengkorak berupa serpihan tulang ke dalam atau
keluar. Jika benturan melebihi kekuatan dan
elastisitas tulang seperti pada tulang yang sudah
matur dan kaku kemungkinan dapat
menyebabkan terjadinya fraktur linier.
3) Fraktur Depresi
Ketika benturan mengenai tulang kepala dengan
luas tertentu dan kekuatan benturan melebihi
kekuatan dan elastisitas tulang, maka benturan
tersebut dapat menyebabkan terpisahnya
fragmen tulang pada daerah tersebut dan masuk
ke struktur di bawahnya melebihi kedalaman
fragmen tulang lain. Kondisi ini disebut fraktur
depresi. Fragmen tulang yang masuk dapat
15

menyebabkan terjadinya robekan dan


pendarahan struktur di bawahnya.
4) Perdarahan ekstradura
Fragmen tulang yang fraktur yang masuk atau
keluar struktur tulang membentuk permukaan
yang tajam sehingga dapat merobek vasa darah
dibawahnya, seperti pada arteri meningea media
yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
ekstradura.
5) Perdarahan subdural
Perdarahan subdural terjadi akibat adanya
robekan pada pembuluh darah vena antara otak
dan sinus venosus yang merupakan
“penggantung” otak. Akibat adanya inertia yang
menyebabkan aselerasi dan deselerasi dapat
merobek pembuluh darah vena ini.
6) Perdarahan intra serebri
Perdarahan intra serebri dapat berupa kontusio
coup (sesuai jejas benturan) atau counter coup
(berlawanan dengan jejas benturan). Dapat pula
berupa perdarahan yang lebih besar seperti pada
perdarahan intra selebri (ICH). Terjadi karena
aselerasi dan deselerasi antara otak dan tulang
kepala yang mengakibatkan benturan di otak
(Arifin & Risdianto. 2013).

2.1.7 Komplikasi
Perawatan cedera kepala dihadapkan pada masalah lamanya hari
perawatan, ditambah lagi dengan keadaan penderita yang sering
koma menyebabkan tingginya angka kejadian komplikasi, untuk
mempermudah pemahaman dan penatalaksanaan, dalam hal ini
16

komplikasi dalam cedera kepala dibagi menjadi dua yaitu


komplikasi bedah dan non bedah (Iskandar, 2004).
[Link] Komplikasi bedah
a. Hematom intrakranial
b. Hidrosefalus
c. Subdural hematoma kronis
d. Cedera kepala terbuka
e. Kebocoran CSS (cairan serebrospinal)
[Link] Komplikasi non bedah
a. Kejang post traumatika
b. Infeksi
c. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
d. Gangguan gastrointestinal
e. Neurogenic Pulmonary Edema (NPE)

2.1.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita cedera kepala dilakukan secara terpadu
sesuai satuan penanggulangan/penanganan gawat darurat terpadu
(SPGDT) atau basic trauma cardiac life support (BTCLS) dan
advanced trauma life support (ATCLS). Dimulai dengan primary
survey, resusitasi dan penatalaksanaan, secondary survey,
stabilisasi dan transport. Resusitasi dapat dilakukan secara
simultan pada saat primary survey (Muttaqin, 2008).
Prinsip – prinsip umum penatalaksanaan cedera kepala adalah
sebagai berikut :
[Link] Primary survey (ABCDE)
a. Airway (jalan napas), yaitu membersihkan jalan napas
dengan memperhatikan kontrol servikal. Sebelum
melakukan manipulasi, anggaplah ada fraktur servikal
pada setiap penderita multi trauma, terlebih bila ada
penurunan kesadaran atau jejas di atas (rostral) dari
17

klavikula. Pasang servikal kollar untuk immobilisasi


servikal, sampai terbukti tidak ada cedera servikal.
Bersihkan jalan napas dari segala sumbatan, benda
asing, darah dari fraktur maksilofasial, gigi yang patah,
dan lain – lain. Terutama pada pasien yang tidak sadar
dengan lidah jatuh ke belakang, harus segera dipasang
mayo (gudle), darah dan lendir (sekret) segera
disuction untuk menghindari aspirasi. Jika pasien sadar
dan bisa berbicara, maka airway dianggap baik tapi
tetap perlu reevaluasi. Lakukan intubasi (orotracheal
tube) jika apnea dan GCS < 8, pertimbangan intubasi
juga untuk GCS 9 dan 10 jika saturasi oksigen tidak
mencapai 90% (PaO2 < 60 mmHg), atau ada bahaya
aspirasi akibat perdarahan dari fraktur maksilofasial
yang hebat. Selalu upayakan pemasangan intubasi
dilakukan oleh dua orang (Iskandar, 2004).
b. Breathing dengan ventilasi yang baik. Proses
pernapasan yang baik harus dipenuhi oleh pertukaran
oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.
Ventilasi ditentukan oleh paru, dinding dada dan
diafragma, oleh sebab itu masing – masing komponen
harus dievaluasi. Evaluasi tersebut meliputi inspeksi
terhadap bentuk dan pergerakan dada, palpasi terhadap
kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu
ventilasi, perkusi untuk menentukan adanya darah atau
udara dalam rongga pleura, auskultasi untuk
memastikan masuknya udara ke dalam paru (Iskandar,
2004).
c. Circulation dengan kontrol perdarahan. Pasien trauma
sering mengalami hipovolemia karena perdarahan.
Pengenalan hipovolemia dapat dilakukan dengan nadi
18

dan tekanan darah. Adanya takikardi disertai hipotensi


mengarah pada kecurigaan shock hipovolemik. Shock
hipovolemik secara umum dibatasi dengan tekanan
darah kurang dari 90 mmHg. Penurunan tekanan darah
ini berpengaruh terhadap tingkat kinerja otak. Mean
arterial pressure (MAP) 70 mmHg merupakan batas
minimal selama melakukan resusitasi pasien trauma.
Tetapi pada pasien dengan cedera kepala berat disertai
dengan kecurigaan kenaikan tekanan intrakranial MAP
yang diharapkan 90 mmHg (Arifin & Risdianto. 2013)
d. Disability dengan pemeriksaan mini neurologis, hal ini
meliputi pemeriksaan :
1) GCS setelah resusitasi.
2) Bentuk, ukuran, dan refleks cahaya pupil.
Bandingkan pula kedua pupil, isokor atau tidak.
Hati-hati, cedera langsung juga dapat
menimbulkan dilatasi pada pupil yang
bersangkutan.
3) Nilai kekuatan motorik kiri dan kanan, apakah ada
parese atau tidak (Iskandar, 2004).
f. Eksposure dengan menghindarkan hipotermia. Semua
pakaian yang menutupi tubuh penderita harus dilepas
atau dibuka agar tidak ada cedera terlewatkan selama
pemeriksaan. Pemeriksaan bagian punggung harus
dilakukan secara “log – rolling”. Harus dihindarkan
terjadinya hipotermia terutama penderita yang
diresusitasi cairan kristaloid dalam jumlah besar dan
cepat. Hipotermia dapat memicu terjadinya
koagulopati dan gangguan irama jantung (Iskandar,
2004).
19

g. Penatalaksanaan pasien cedera kepala yang


mengalami perdarahan dapat dilakukan beberapa
tindakan untuk menghentikan perdarahan baik yang
bersifat sementara atau permanen, yaitu :
a. Akses intravena
Pada tahap resusitasi awal, akses intravena
sangat penting untuk dilakukan. Akses 2 jalur
dengan abbocath no.16 akan memberikan jalur
yang aman untuk akses intravena. Jalur akses ini
dapat dilakukan di vena mediana cubiti, akses
lain yang dapat dipilih adalah vena jugularis
eksterna, vena femoralis, ataupun vena subclavia
jika akses vena perifer susah dilakukan. Pilihan
lain yang dapat dilakukan pada pasien pediatrik
adalah pemberian cairan intraoseus atau dengan
melakukan vena seksi pada vena perifer
(Krisanty, 2009).
b. Jenis cairan yang diberikan
NaCl 0,9% merupakan rekomendasi utama untuk
resusitasi cairan pada pasien dengan cedera
kepala. Cairan ini memiliki osmolaritas 308
moms/l karena itu bersifat isotonis. Osmolaritas
ini penting untuk mencegah terjadinya edema
serebri akibat pemberian cairan. Terapi resusitasi
dengan cairan ini juga dapat menyebabkan
terjadinya hipotermia, asidosis dan koagulopati.
Pemberian cairan hipoosmolar seperti Ringer
Laktat dapat menyebabkan edema serebri karena
adanya ekstravasasi cairan ke dalam sel-sel otak.
Pemberian cairan Dextrose 5% merupakan
kontraindikasi untuk resusitasi karena bersifat
20

hipoosmolar dan memiliki efek hiperglikemia


yang dapat memperburuk cedera kepala yang
terjadi (Arifin & Risdianto. 2013)
c. Identifikasi dan kontrol perdarahan
Setiap perdarahan eksternal harus segera
dihentikan dengan tampon atau penjahitan.
Perdarahan dari SCALP dapat dilakukan tampon
sementara atau dilakukan penjahitan jika
memungkinkan. Adanya fraktur dapat direposisi
dan difiksasi eksternal untuk tindakan sementara
(Satyanegara, 2010).
d. Transfusi pada perdarahan
Indikasi transfusi pada perdarahan pasien cedera
kepala adalah jika dengan Resusitasi 2-3 liter
cairan tidak mampu mengatasi shock, kehilangan
darah diperkirakan >30% volume tubuh atau
kira-kira 1500cc pada orang dewasa, Hematokrit
<30% untuk memperbaiki rheology darah dan
meningkatkan oksigenasi otak. Transfusi darah
dianjurkan dengan Packed Red Cell (Arifin &
Risdianto. 2013)
e. Monitoring resusitasi
Monitoring resusitasi dapat dilakukan dengan
penilaian GCS dan tandavital pasien. Secara
umum kenaikan GCS dan tanda vital yang
mendekati nilai normal menunjukkan tindakan
resusitasi berhasil. Tetapi pada pasien cedera
kepala berat, pasien dengan tekanan intrakranial
yang tinggi, pasien dengan hipovolemia sering
kali menunjukkan cushing response yang
menyebakan terjadinya hipertensi sistolik dan
21

bradikardi sehingga sering mengacaukan


penilaian kondisi pasien. (Purwadianto.A, 2013).

Menurut Aprilia (2017), keterlambatan dalam penanganan kasus cedera


kepala ini dapat mengakibatkan kematian. Cedera kepala ini menimbulkan
resiko yang tidak ringan. Resiko utama pasien cedera kepala adalah
kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon
tubuh terhadap cedera dan akan menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial akan mempengaruhi perfusi
serebral dan menimbulkan distorsi dan herniasi otak. Manifestasi klinis
cedera kepala meliputi gangguan kesadaran, konfusi, abnormalitas pupil,
awitan tiba-tiba defisit neurologik, dan perubahan tanda - tanda vital.
Gangguan penglihatan dan pendengaran, disfungsi sensori, kejang otot,
sakit kepala, vertigo, gangguan pergerakan, kejang dan banyak efek
lainnya juga mungkin terjadi pada pasien cedera kepala.

Instalasi Gawat Darurat merupakan gerbang utama penanganan kasus


gawat darurat di rumah sakit memegang peranan sangat penting dalam
upaya penyelamatan hidup pasien khususnya cedera kepala. Unit tersebut
berperan penting sebagai pintu pertama dalam menyelamatkan kondisi
pasien. Kondisi spesifik di IGD yaitu harus cepat dan tanggap dalam
memberikan pelayanan, maupun dalam mengambil keputusan untuk bisa
memberikn tindakan medis dan keperawatan secara tepat, cepat, aman dan
efektif (Aprilia, 2017).

2.2 Lama Waktu Rujukan


Penanganan awal terhadap cedera kepala dapat meminimalkan cedera
yang berjalan seiring waktu. Pada penanganan pasien trauma, termasuk
cedera kepala, dikenal istilah ”Golden Hour’, yaitu satu jam pertama
setelah cedera yang merupakan waktu terbaik untuk memberikan
pertolongan. Jika tindakan dilakukan dalam 1 jam pertama setelah cedera,
22

maka angka kematian dan kesakitan dapat di minimalkan (Stiver et al,


2008).

Menurut Robert & Sheridan (2004), konsep " Golden Hour’," satu jam
pertama setelah cedera ketika intervensi medis akut paling penting dan
bermanfaat, lebih lanjut untuk perawatan pra-rumah sakit mencoba
meningkatkan waktu respons dan mempercepat transportasi pasien ke
pusat trauma. Tim penyelamat tidak boleh membuang waktu ketika
memiliki akses yang memadai. R Adams Cowley adalah seorang ahli
bedah Angkatan Darat AS, mengembangkan ide-ide dari pengalaman
militernya perawatan cepat dari orang yang terluka parah. Dia
menciptakan frasa "Golden Hour" menggambarkan periode cedera serius
di mana medis harus cepat dan terkoordinasi perawatan untuk bisa
menyelamatkan nyawa pasien.
Beberapa faktor yang mempengaruhi lama waktu rujukan pada pasien
cedera kepala yaitu :
2.2.1 Jarak tempuh rujukan
Jarak tempuh rujukan merupakan salah satu faktor pertimbangan
dalam merujuk pasien, hal ini karena jarak tempuh dapat
mempengaruhi kondisi pasien. Jarak tempuh yang jauh dengan
pasien yang mengalami cedera kepala akan mempersempit
kesempatan pasien untuk tertolong, oleh karena itu dalam merujuk
pasien cidera kepala harus memahami letak geografis, penguasaan
informasi jalan yang terdekat menuju rumah sakit rujukan, serta
mengetahui refrensi rumah sakit yang tepat untuk merujuk yaitu
memiliki keyakinan bahwa rumah sakit rujukan mampu menangani
pasien cedera kepala (Pusponegoro, 2012). Dasar prinsip
meminimalkan cedera adalah mengurangi lama waktu dan
memaksimalkan jarak. (Robert & Sheridan 2004),
23

Dalam penelitian Wibowo (2016), kepadatan jalan mengakibatkan


timbulnya kemacetan apabila kepadatan jalan tersebut melampaui
kapasitas ruas jalan yang ada yang menyebabkan jarak menuju
tempat rujukan menjadi panjang. Perlunya pengembangan sistem
penentuan rute optimal menuju lokasi pelayananan gawat darurat
untuk mempercepat waktu tempuh. Data yang digunakan dalam
sistem penentuan rute disimpan dan diolah menggunakan aplikasi
Geographic Information Sistem (GIS). Pengolahan data
menggunakan network analyst mampu membantu untuk
menemukan rute optimal diantara dua tempat. Hasil pencarian rute
optimal menuju lokasi pelayananan gawat darurat dapat digunakan
sebagai pendukung proses mitigasi gawat darurat.

Jadi jarak perjalanan yang semakin lama akan menyebabkan


perubahan sistemik pada pasien cedera kepala. Perubahan sistemik
yang sering terjadi adalah hipotensi dan penurunan nilai GCS
disebabkan karena kehilangan darah, cedera sistemik dan herniasi
otak yang diakibatkan dari pasien cedera kepala tidak secara cepat
mendapatkan penangan yang baik. (Wibowo, 2016).

2.2.2 Transportasi yang digunakan


Saat ini, tidak ada standar nasional yang konsisten untuk
transportasi, tetapi setidaknya satu akreditasi lembaga
nonpemerintah (Komisi Akreditasi Medis Sistem Transportasi)
telah mengakui bahwa tingkat perawatan dan kendaraan
transportasi, harus menjadi yang focus utama untuk evaluasi
layanan transportasi perawatan kritis (Robert & Sheridan, 2004)

Menurut Duchesne et al (2018), pasien dievakuasi secepatnya


dengan tujuan mencapai bedah peduli dalam "Golden Hour" dari
cedera. Transportasi selalu diinginkan datang lebih cepat, ini
penting untuk menyadari bahwa jalan napas atau bernafas hampir
24

selalu dalam 15 menit pertama yang disebut platinum, bila tidak


akan menyebabkan kematian. Dalam trauma tujuannya adalah
untuk tiba di ruang bedah perawatan sesegera mungkin. Pasien
dengan cedera yang kritis mengakibatkan tanda-tanda vital yang
tidak stabil memerlukan rute transportasi tercepat.

Menurut Oktaviani et al (2013), kecepatan ambulan sangat


dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas yang terkait dengan aktivitas
dan kegiatan masyarakat sehari-hari. Kasus emergensi yang terjadi
di jalan raya memiliki durasi response time yang lebih singkat jika
dibandingkan dengan kasus emergensi yang terjadi di daerah
pemukiman. Hal ini terkait dengan aksesibilitas dan kejelasan
lokasi kejadian dibandingkan di daerah pemukiman yang cendrung
padat, sempit dan alamat yang tidak spesifik. Pemenuhan response
time pada kasus emergensi di pemukiman perkotaan harus
menghadapi tantangan yang berkenaan dengan kondisi rumah atau
bangunan yang bertingkat untuk menjangkau pasien/korban.

Penempatan ambulan yang hanya berada pada lokasi-lokasi


tertentu berpengaruh juga terhadap lama waktu rujukan. Ada dua
masalah yang diindetifikasi dapat mengurangi durasi lama waktu
rujukan yaitu, masalah pengiriman ambulan dan masalah
penempatan ambulan. Masalah pengiriman ambulan dapat diatasi
dengan baik bila ambulan ditempatkan pada lokasi yang strategis.
Ambulan ditempatkan secara dinamis dengan memperhatikan
lokasi-lokasi yang tercatat memiliki kasus emergensi dengan
resiko tinggi. Penempatan ambulan secara dinamis sesuai dengan
memperhatikan lokasi dan waktu kejadian, memperkirakan lokasi
kejadian yang potensial berdasarkan waktu kejadian dapat
mengurangi lama waktu rujukan (Oktaviani et al, 2013).
25

2.3 Tingkat Keparahan


Revised Trauma Score adalah sistem penilaian fisiologis, dengan tinggi
realibilitas antar penilai dan akurasi ditunjukkan dalam memprediksi
kematian. Kondisi serius dari hasil RTS maka kondisi perlu diperhatikan
untuk melakukan tindakan intensif, Semakin rendah RTS maka akan
semakin memperburuk keadaan pasien. Kondisi kritis mengharuskan
melakukan tindakan cepat, tepat, dan akurat, dalam penanganan untuk
meminimalisir terjadinya angka mortalitas yang terjadi dalam trauma otak.
(Aprilia, 2017).

Hasil penelitian dari Khayat, Sharifipoor, Rezaei, et al dalam Aprilia (2017),


Revised Trauma score memiliki aplikasi universal di bidang pra-rumah sakit
dan memberikan gambaran tentang keadaan fisiologis pasien trauma,
beberapa studi menunjukan keandalan Revised Trauma Score prediksi
konsekuensi berikutnya kecelakaan. Salah satu penting dari aplikasi seperti
skala adalah memprediksi angka kematian pada pasien trauma dan pilihan
lebih kritis untuk pengobatan dan perawatan pasien trauma yang khusus.

Kematian akibat kecelakaan lalu lintas diperkirakan meningkat 83 % di


negara berkembang, akibat trauma berupa kecacatan fisik, psikologis dan
ekonomi. RTS adalah sebuah skor fisiologis keparahan cidera dan data yang
diperoleh terdiri dari Glasgow coma scale (GCS), Sistolik Blood Presure
(SBP) dan tingkat Respirasi (RR). Sistem ini paling banyak digunakan
sistem penilaian fisiologis, RTS ini menggabungkan nilai GCS dengan laju
respirasi dan tekanan darah sistolik (Salim, 2015).

Glasgow Coma Score adalah alat diagnostik yang sudah sejak lama menjadi
alat untuk mengevalusi tingkat kesadaran pasien, menilai status klinis
pasien, dan menjadi alat prognosis untuk pasien cedera kepala. Skor GCS
menjadi standar pengukuran fungsi neurologis pada pasien dengan
perubahan status mental oleh karena penyebab apapun, termasuk cedera
kepala. Glasgow Coma Score merupakan faktor penting yang harus diukur
26

pada pasien cedera kepala. Selain digunakan untuk mengukur tingkat


kesadaran pasien secara kuantitatif, GCS juga digunakan untuk
memprediksi risiko kematian di awal trauma (Ristanto, et al 2016).

Tekanan darah adalah salah satu indikator penting dalam prognosis pasien
dengan cedera kepala. Sehingga tekanan darah adalah salah satu parameter
yang harus dipantau/diobservasi oleh petugas kesehatan dalam tatalaksana
pasien cedera kepala. Tekanan sistolik adalah tekanan darah pada saat
terjadi kontraksi otot jantung. Penurunan tekanan darah sistolik (<90
mmHg) dapat berdampak langsung pada penurunan tekanan perfusi otak
Tekanan perfusi otak yang rendah akan menyebabkan timbulnya iskemik
dan infark pada jaringan otak, hal ini menuntut agar tekanan perfusi otak
dipertahankan dalam rentang normal untuk mencegah terjadinya iskemik
jaringan cerebral (Ristanto, et al 2016).

Perubahan frekuensi pernafasan menyebabkan saturasi oksigen dalam darah


menurun yang diikuti perfusi jaringan yang menurun juga. Perfusi jaringan
otak yang rendah pada otak dapat menyebabkan perburukan kondisi pasien
cedera kepala, sehingga pasien memiliki outcome yang buruk. Semakin
tinggi perfusi oksigen ke otak maka outcome pasien cedera kepala semakin
baik. Frekuensi nafas <10x/menit berhubungan dengan prognosis buruk
karena penurunan oksigenasi dan perfusi ke otak atau menandakan telah
terjadinya kompresi cerebral akibat peningkatan tekanan intrakranial
terutama pada fase awal cedera kepala. Frekuensi pernafasan <12x/menit
atau >24x/menit meningkatkan resiko kematian pada pasien cedera kepala,
dengan kata lain memiliki outcome yang buruk (Ristanto, et al 2016).

Kondisi stabil pada pasien, apabila menunda dalam penanganan terhadap


pasien baik dalam kategori sedang dan ringan untuk hal ini bisa dapat
meningkatkan status kondisi pasien dari kondisi sedang ke berat apabila
penanganan kurang tepat. Revised trauma score telah divalidasi sebagai
metode penilaian untuk membedakan pasien memiliki prognosis baik atau
27

buruk. Penilaian RTS dapat mengidentifikasi lebih dari 97% orang yang
akan meninggal jika tidak dilakukan perawatan (Aprilia, 2017).

Berdasarkan nilai GCS, SBP, RR setelah di kali dengan nilai konstantanya.


Lalu di jumlah dan menemukan hasil Revised Trauma Score. Dari hasil
penjumlahan akan menemukan resiko terjadi keburukan seseorang (Jin,
Shao, He, et al, 2006).

Tabel 2.2 Revised Trauma Score (RTS)

Keterangan Rata-Rata Skore


Glasgow Coma Scale 13-15 4
(GCS) 9-12 3
6-8 2
4-5 1
3 0
Systolic Blood >89 4
Pressure (SBP) 76-89 3
50-75 2
1-49 1
0 0
Respiratory Rate 10-29 4
(RR) >29 3
6-9 2
1-5 1
0 0
(Jin, Shao, He, et al 2006)

Keterangan:
Rumus perhitungan RTS:
RTS = Skor GCS + Skore SBP + Skore RR

Berdasarkan nilai GCS, SBP, RR setelah di kali dengan nilai kontantanya.


Lalu di jumlah dan menentukan hasil revised trauma [Link] hasil
penjumlahan akan menentukan resiko terjadi keburukan seseorang dengan
28

nilai antara lain serius (Nilai < 6), berat (Nilai 6 – 7), sedang (Nilai 8-10),
ringan (Nilai 11-12) (Jin, Shao, He, et al 2006).

Nilai untuk revised trauma score berada di kisaran 0-12. Revised trauma
score sangat mempertimbangkan terhadap glasgow coma scale untuk
memprediksi cedera kepala berat tanpa cedera tambahan atau perubahan
fisiologis utama. Sebuah ambang RTS <6 telah diusulkan untuk
mengidentifikasi pasien yang harus dirawat disebuah intensive care,
meskipun nilai ini mungkin agak rendah (Jin, Shao, He, et al 2006).

2.4 Kerangka Konsep


Kerangka Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat
dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan
antarvariabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti),
(Nursalam, 2014).

Variabel Independen Variabel Dependen

Lama Waktu Rujukan :

1. Jarak tempuh Tingkat Keparahan

rujukan pada Pasien Cedera

2. Transportasi yang Kepala

digunakan

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

2.5 Hipotesis Penelitian


Pada penelitian ini untuk melihat hubungan antara lama waktu rujukan
dengan tingkat keparahan pada pasien cedera kepala di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Ulin Banjarmasin, maka penulis mengambil kesimpulan
sementara bahwa:
29

Hₐ : Ada hubungan antara lama waktu rujukan dengan tingkat keparahan


pada pasien cedera kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin
Banjarmasin.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Rancangan penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan
yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian
bisa diterapkan. Rancangan adalah suatu pola atau petunjuk secara umum
yang dapat aplikasikan pada beberapa penelitian (Nursalam, 2014)

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa korelasi


observasional dengan pendekatan cross-sectional yaitu jenis penelitian yang
menekankan waktu pengukuran/observasi data variabel independen dan
dependen hanya sekali pada satu saat (Nursalam, 2014).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama waktu


rujukan dengan tingkat keparahan pada pasien cedera kepala di Instalasi
Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2019.

3.2 Definisi Operasional


Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati
(diukur) yang memungkinkan peneliti melakukan observasi atau
pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau penomenal yang
kemudian dapat diulangi lagi oleh orang lain. Jadi definisi operasional
dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi, dan replikasi
(Nursalam, 2014).

30
31

Tabel 3.1 Variabel dan Definisi Operasional Penelitian


Variabel Definisi Parameter Alat Ukur Skala Hasil Ukur
Operasional
Variabel Waktu yang The Golden Lembar Ordinal 1. Waktu
Independen : menghambat Hour observasional terbaik
Lama Waktu pasien cedera satu jam yang terdiri 2. Waktu
Rujukan kepala tidak pertama dari dua terburuk
secara cepat setelah cedera kriteria
mendapatkan penentuan :
merupakan
penangan ≤ 1 jam
waktu terbaik
yang baik > 1 jam
untuk
memberikan
pertolongan
Variabel Kondisi 1. Serius Lembar Ordinal Nilai skor 0-
Dependen : pasien 2. Berat Observasi 12. Nilai
Tingkat setelah 3. Sedang RTS = Skore tertinggi 12
Keparahan mengalami GCS + Skore dan terendah
4. Ringan
cedera SBP + Skore 0.
kepala saat RR Hasil Ukur :
sampai di 1. Serius (<
IGD RSUD 6)
Ulin 2. Berat (7-
Banjarmasin 8)
3. Sedang
(9-10)
4. Ringan
(11-12)
32

3.3 Populasi, Sampel dan Sampling


3.3.1 Populasi

Populasi merupakan unit dimana suatu hasil penelitian


akanditerapkan. Idealnya penelitian dilakukan pada populasi, karen
dapat melihat gambaran seluruh populasi sebagai unit dimana hasil
penelitian akan diterapkan. Populasi adalah keseluruhan subjek yang
memenuhi kriteria yang telah ditentukan (Nursalam, 2014).

Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien cedera kepala di ruang


IGD RSUD Ulin Banjarmasin berdasarkan register pada saat penelitian.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sekelompok individu yang merupakan bagian dari


populasi terjangkau dimana peneliti langsung mengumpulkan data
atau melakukan pengamatan/pengukuran pada unit ini. Sampel
adalah bagian populasi terjangkau yang dapat digunakan sebagai
subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2014).

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien cedera kepala yang di


rawat ruang IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Dengan kriteria bersedia
menjadi responden.

3.3.3 Sampling

Sampling merupakan proses penyeleksi porsi dari populasi untuk


dapat mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara
yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh
sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek
penelitian (Nursalam, 2014). Teknik sampling pada penelitian ini
menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode
accidental sampling yaitu dilakukan dengan mengambil responden
33

yang kebetulan ada atau tersedia disuatu tempat dengan keadaan


tertentu sesuai konteks penelitian (Notoatmodjo, 2010).

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian


3.4.1 Lokasi Penelitian

Lokasi adalah tempat yang digunakan untuk pengambilan data


selama penelitian berlangsung (Notoatmojo, 2010). Lokasi
penelitian ini dilaksanakan di RSUD Ulin Banjarmasin.

3.4.2 Waktu penelitian

Penelitian ini dimulai dari akhir Maret sampai akhir April 2019

Tabel 3.2 Kegiatan dan Jadwal Penelitian

No Kegiatan Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug

1. Memilih dan
mengajukan
topik/judul

2. Studi Pendahuluan

3. Menyusun Proposal

4. Seminar Proposal

5. Revisi Prpoposal

6. Pelaksanaan
Penelitian

7. Penyusunan Laporan

8. Seminar Skripsi

9. Revisi Skripsi
34

10. Pengumpulan
Naskah Skripsi

3.5 Alat Pengumpulan Data


Instrumen atau alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
berupa:
3.5.1 Instrumen lama waktu rujukan

Pengkajian lama waktu rujukan dengan menggunakan Lembar


observasional yang terdiri dari dua kriteria penentuan : ≤ 1 jam dan
> 1 jam. Pada penanganan pasien trauma, termasuk cedera kepala,
dikenal istilah ”Golden Hour’, yaitu satu jam pertama setelah cedera
merupakan waktu terbaik untuk memberikan pertolongan. Jika
tindakan dilakukan dalam 1 jam pertama setelah cedera, maka angka
kematian dan kesakitan dapat di minimalkan (Stiver et al, 2008).

3.5.2 Instrumen tingkat keparahan

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keparahan seseorang apakah


dalam keadaan serius, berat, sedang dan ringan peneliti bisa
menggunakan Revised Time Score (RTS). Terdiri dari Glasgow
Coma Scale (GCS), Systolic Blood Pressure (SBP) dan Respiratory
Rate (RR). RTS = Skor GCS + Skor SBP + Skor RR. Hasil
penjumlahan akan menentukan resiko yang akan terjadi keburukan
seseorang dengan nilai antara lain serius (Nilai <6), berat (Nilai 6-
7), sedang (Nilai 8-10) dan ringan (Nilai 11-12). (Jin, Shao, He, et
al 2006).
35

3.6 Teknik Pengambilan Data


Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan
proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu
penelitian (Nursalam, 2014). Dalam penelitian ini pengambilan data
dilakukan dengan teknik observasi yang terkait dengan masalah yang ingin
diteliti di ruang IGD RSUD Ulin Banjarmasin, dengan prosedur
pengambilan penelitian ini sebagai berikut:
3.6.1 Peneliti mengajukan surat ijin penelitian kefakultas.

3.6.2 Peneliti mengajukan surat pengantar surat ijin ke RSUD Ulin


Banjarmasin.

3.6.3 Penelitian dilaksanakan setelah mendapat surat ijin dari RSUD Ulin
Banjarmasin.

3.6.4 Menentukan responden dengan cara peneliti melihat rekam medik


responden dan mengobservasi langsung sesuai dengan masalah yang
ingin diteliti peneliti.

3.6.5 Memberikan penjelasan tentang tujuan, manfaat dan prosedur


penelitian yang akan dilaksanakan kepada keluarga responden.

3.6.6 Meminta keluarga responden untuk mendatangi lembar persetujuan


menjadi responden setelah menyetujui sebagai partisipan dalam
penelitian yang akan dilakukan.

3.6.7 Melakukan telaah rekam medik dan observasi untuk mendapatkan


data penelitian.

3.6.8 Memeriksa dan mengoreksi kembali data yang didapat apabila ada
kekurangan dari kelengkapan data.
36

3.7 Teknik Pengolahan Data


Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus
ditempuh (Hidayat, 2014). Berikut langah-langkah dalam proses
pengolahan data antara lain:
3.7.1 Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap
pengumpulan data atau setelah data terkumpul.
3.7.2 Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numeric (angka)
terhadap data yang terdiri atas beberapa katagori. Pemberian kode
ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan
komputer. Biasanya dalam pemberian code dibuat juga daftar kode
dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan
kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel.
3.7.3 Entri data
Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah
dikumpulkan ke dalam master table atau database computer,
kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga
dengan membuat table kontingensi.
3.7.4 Melakukan teknik analisis
Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan
menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan
yang hendak dianalisis.

3.8 Teknik Analisis Data


Analisis data dalam penelitian ini dibedakan menjadi:
3.8.1 Analisis Univariat
AnalisisUnivariat adalah untuk satu variabel penelitian bertujuan
untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karateristik setiap variabel
penelitian (Notoatmojo, 2010). Data yang terkumpul dianalisis
37

secara deskriptif dalam bentuk narasi, persentase, dan tabel distribusi


frekuensi variabel-variabel penelitian. Analisis univariat dalam
penelitian ini variabel independen adalah lama waktu rujakan
dengan variabel dependen adalah tingkat keparahan.
3.8.2 Analisis Bivariat
Analisa bivariat adalah analisis terhadap dua variabel untuk melihat
hubungan antar variabel. Analisa bivariat berguna untuk
menganalisis hubungan masing-masing variabel (Notoatmojo,
2010). Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini untuk
mengetahui antara variabel dependen terhadap variabel independen
digunakan uji Spearman Rho.
Pengambilan keputusan:
a. Ha ditolak: jika p value > 0.05, artinya tidak ada hubungan
variabel independen dengan variabel dependen.
b. Ha diterima: jika p value < 0.05, artinya ada hubungan variabel
independen dengan variabel dependen.

3.9 Etika Penelitian


Menurut Nursalam (2014), Secara umum prinsip etika dalam
penelitian/pengumpulan data dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
prinsip manfaat, prinsip menghargai hak-hak subjek, dan prinsip keadilan.
3.9.1 Prinsip manfaat
[Link] Bebas dari penderitaan
Penelitian ini dilaksanakan tanpa mengakibatkan
penderitaan kepada responden, baik fisik maupun psikis.
Khususnya jika menggunakan tindakan khusus.
[Link] Bebas dari eksploitasi
Partisipasi responden dalam penelitian, responden
dihindarkan dari keadaan yang tidak menguntungkan.
Responden diyakinkan bahwa partisipasinya dalam
penelitian dan informasi yang telah diberikan, tidak akan
38

dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan


responden dalam hal apapun.
[Link] Resiko (Benefit ratio)
Peneliti hati-hati mempertimbangkan resiko dan
keuntungan yang akan berakibat kepada responden dalam
setiap tindakan.
3.9.2 Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)
[Link] Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (right to self
determination).
Responden diperlakukan secara manusiawi, responden
mempunyai hak untuk memutuskan apakah mereka
bersedia menjadi responden atau tidak, tanpa ada sanksi
apapun atau atau akan berakibat terhadap
kesembuhannya, jika mereka seorang pasien.
[Link] Hak untuk mendapat jaminan dari perlakuan yang
diberikan ( right to full disclosure )
Peneliti memberikan penjelasan secara terperinci serta
bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada
responden.
[Link] Informed consent
Responden mendapatkan penjelasan secara lengkap
tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan,
mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak
menjadi responden. Pada informed consent juga perlu
dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan
digunakan untuk pengembangan ilmu.
3.9.3 Prinsip keadilan (right to justice)
[Link] Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in
fair treatment).
Responden diperlakukan secara adil baik sebelum, selama
dan sesudah keikutsertaan dalam penelitian tanpa ada
39

diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau


dikeluarkan dari penelitian.
[Link] Hak dijaga kerahasiaannya (right to privacy)
Responden mempunyai hak untuk meminta bahwa data
yang berikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya
tanpa nama (anonymity) dan rahasia (confidentiality).
DAFTAR RUJUKAN

Aprilia, Hanura. 2017. Gambaran Status Fisiologis Pasien Cedera Kepala Di IGD
RSUD Ulin Banjarmasin. Jurnal Dinamika Kesehatan, Vol. 8 No. 1, Juli
2017

Arifin & Risdianto. 2013. Cedera Kepala. Jakarta: Sagung Seto.

Centers for Disease Control and Prevention. Get the Facts of Traumatic Brain
Injury and Concussion, United States, 2007-2013. 2017 [cited 2017 Aug 1].
Available from:
[Link]

Duchesne, Inaba, Khan. 2018. Damage Control in Trauma Care-Spinger. ISBN


978-3-319-72606-9. Springer International Publishing AG, part of Springer
Nature 2018

Hidayat, A.A. (2014). Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknis Analisis Data.
Jakarta : Salemba Medika.

Iskandar, J. (2004). Cedera kepala. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.

Jin J, Shao J, He X and Yao M. (2006). Application of revised trauma program in


emergency treatment of multiple injury. Chinese Med J. March 2006 Vol.
119 Issue 5

Krisanty.P, M. W. (2009). Asuhan Keperawatan gawat darurat. Jakarta: Trans Info


media.

Lingsma.H.F. (2010). Early prognosis in traumatic brain injury : from prophecies


to predictors. Lancet Neurol , 9, p. 543-554.

Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika.

40
41

Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Nurarif, Amin Huda. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis. Jilid 1. Jogjakarta:


Mediaction.

Nursalam. 2014. Konsep dan Penerapan Metedologi Penelitian Ilmu Keperawatan.


Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Oktaviani, Sanjaya, Hasanbasri. 2013. Sentralisasi Layanan Emergensi Sebagai


Upaya Peningkatan Durasi Response Time. Seminar Nasional Sistem
Informasi Indonesia, 2 – 4 Desember 2013.

Purwadianto.A, S. (2013). Pedoman penatalaksanaan praktis kedaruratan medis;


disertai contoh kasus klinis. Jakarta: Binarupa Aksara

Pusponegoro, D Aryono. 2010. Buku Panduan Basic Trauma and Cardiac Life
Support. Jakarta : Diklat Ambulance AGD 118

Rekam Medik RSUD Ulin Banjarmasin. 2016-2018.

Riskesdas. 2018. Proporsi Cedera Yang Mengakibatkan Kegiatan Seharihari


Terganggu Menurut Provinsi, 2007-2018.

Ristanto, Indra, Poeranto, Setyorini. 2016. Akurasi Revised Trauma Score Sebagai
Prediktor Mortality Pasien Cedera Kepala. Jurnal Kesehatan Hesti Wira
Sakti, Volume 4, Nomor 2, Oktober 2016. Hlm. 76-90

Robert & Sheridan. 2004. The Trauma Handbook of The Massachusetts General
Hospital. USA: Lippincott Williams & Wilkins.

Sasmito, Wihastuti, Kristianto. 2017. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan


Outcome Pasien Cedera Kepala Yang Dirujuk Di IGD RSUD Dr. Iskak
42

Tulungagung Melalui Pendekatan Model Interpersonal Nursingheldegrad


E. Peplau. [Link], Vol.3 No.2, Oktober 2017, hlm 91-104

Satyanegara. 2010. Ilmu bedah saraf. Jakarta: Gramedia.

Shiroma, E.J. 2010. Prevalence of traumatic brain injury in an offonder population.


Head Trauma Rehabil , 27, p. 1-10.

Stiver, Shirley. I. (2008). Prehospital Management of Traumatic Brain Injury.


California : Journal of neurosurgery. Vol 25 Oktober 2008.

Tarwoto, Wartonah, Suryati. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Sagung Seto

Tobing, H.G. 2011. Sinopsis Ilmu Bedah Saraf Departemen Bedah Saraf FKUI-
RSCM. Jakarta : Sagung Seto.

Wibowo, Doni. 2016. Hubungan Antara Faktor Pre-Hospital Stage Dengan


Komplikasi Sekunder Pada Pasien Cedera Kepala Berat Setelah
Kedatangan Pasien Di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Jurnal Dinamika
Kesehatan Vol. 7 No. 2 Desember 2016

Yattoo, Tabish, Afzal, Altaf Kirmani. 2009. Factors Influencing Outcome of Head
Injury Patients at A Tertiary Care Teaching Hospital in India. Journal List
International Journal of Health Sciences (Qassim). 2009 Jan; 3(1): 59–62.
Available from: [Link]

Anda mungkin juga menyukai