0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan58 halaman

Teori Keperawatan Middle-Range

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang teori middle-range dalam keperawatan. 2. Teori middle-range merupakan level kedua dari teori keperawatan yang cukup spesifik untuk memberikan petunjuk riset dan praktik. 3. Dokumen tersebut menjelaskan definisi, hubungan dengan level teori lain, pengelompokan, ciri-ciri, perkembangan, dan penggunaan teori middle-range.

Diunggah oleh

Sukma Widyandari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan58 halaman

Teori Keperawatan Middle-Range

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang teori middle-range dalam keperawatan. 2. Teori middle-range merupakan level kedua dari teori keperawatan yang cukup spesifik untuk memberikan petunjuk riset dan praktik. 3. Dokumen tersebut menjelaskan definisi, hubungan dengan level teori lain, pengelompokan, ciri-ciri, perkembangan, dan penggunaan teori middle-range.

Diunggah oleh

Sukma Widyandari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEORI KEPERAWATAN MIDDLE-RANGE

KELOMPOK 3
1. DESAK MADE SERINADI 1914101008
2. SRI MASDININGSIH UTAMI 1914101009
3. I MADE RAI MAHARDIKA 1914101010
4. NI MADE AYU SUKMA WIDYANDARI 1914101011
5. MADE MILA PASTINIARI 1914101017

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


ITEKES BALI
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teori Middle Range yang merupakan level kedua dari teori keperawatan. Teori Middle Range
cukup spesifik untuk memberikan petunjuk riset dan praktik, cukup umum pada populasi klinik
dan mencakup fenomena yang sama. Sebagai petunjuk riset dan praktek, middle range theory
lebih banyak digunakan dari pada grand theory, dan dapat diuji dalam pemikiran empiris.

Perlu diyakini bahwa penerapan suatu teori keperawatan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan akan berdampak pada peningkatan kualitas asuhan keperawatan. Pelayanan
keperawatan sebagai pelayanan profesional akan berkembang bila didukung oleh teori dan
model keperawatan serta pengembangan riset keperawatan dan diimplementasikan didalam
praktek keperawatan.

Pelayanan keperawatan merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan yang bersifat
komprehensif meliputi biopsikososiokultural dan spiritual yang ditujukan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat, baik dalam keadaan sehat maupun sakit dengan
pendekatan proses keperawatan. Pelayanan keperawatan yang berkualitas didukung oleh
pengembangan teori dan model konseptual keperawatan. Asuhan keperawatan merupakan
pendekatan ilmiah dan rasional dalam menyelesaikan masalah keperawatan yang ada, dengan
pendekatan yang dilakukan tersebut bentuk penyelesaian masalah keperawatan dapat terarah
dan terencana dengan baik, dimana dalam asuhan keperawatan terdapat beberapa tahap yaitu
pengkajian, penegakkan diagnosa, perencanaan, implimentasi tindakan, dan evaluasi.

Model konseptual keperawatan dikembangkan oleh para ahli keperawatan dengan harapan
dapat menjadi kerangka berpikir perawat, sehingga perawat perlu memahami konsep ini
sebagai kerangka konsep dalam memberikan askep dalam praktek keperawatan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah definisi dari middle range theory?
b. Bagaimanakah hubungan middle range theory dengan level teori lain?
c. Bagaimanakah pengelompokan dari middle range theory?
d. Apakahkah ciri-ciri dari middle range theory?

1
e. Bagaimanakah perkembangan middle range theory?
f. Bagaimanakah penggunaan middle range theory?
g. Bagaimanakah kontroversi mengenai middle range theory?
h. Siapa saja tokoh-tokoh dari middle range theory?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui
konseptual model middle range theory dalam teori keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini yakni:
a. Untuk mengetahui definisi dari middle range theory
b. Untuk mengetahui hubungan middle range theory dengan level teori lain
c. Untuk mengetahui pengelompokan dari middle range theory
d. Untuk mengetahui ciri middle range theory
e. Untuk mengetahui perkembangan middle range theory
f. Untuk mengetahui penggunaan middle range theory
g. Untuk mengetahui kontroversi middle range theory
h. Untuk mengetahui tokoh-tokoh dari middle range theory

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu mahasiswa diharapkan:
a. Memahami konseptual model dalam teori keperawatan.
b. Memahami middle range theory dalam teori keperawatan.

2
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Middle Range Theories

Middle range theories dapat didefinisikan sebagai serangkaian ide/ gagasan yang saling
berhubungan dan berfokus pada suatu dimensi terbatas yaitu pada realitas keperawatan (Smith
dan Liehr, 2008).

Teori-teori ini terdiri dari beberapa konsep yang saling berhubungan dan dapat digambarkan
dalam suatu model. Middle range theories dapat dikembangakan pada tatanan praktek dan riset
untuk menyediakan pedoman dalam praktik dan riset/penelitian yang berbasis pada disiplin
ilmu keperawatan.

2.2 Perbandingan dengan Level Teori yang Lain

Dalam lingkup dan tingkatan abstrak, middle range theory cukup spesifik untuk memberikan
petunjuk riset dan praktik, cukup umum pada populasi klinik dan mencakup fenomena yang
sama. Sebagai petunjuk riset dan praktek, middle range theory lebih banyak digunakan
daripada grand theory, dan dapat diuji dalam pemikiran empiris. Teori Middle-Range memiliki
hubungan yang lebih kuat dengan penelitian dan praktik. Hubungan antara penelitian dan
praktik menurut Merton (1968), menunjukkan bahwa Teori Mid-Range sangat penting dalam
disiplin praktik, selain itu Walker and Avant (1995) menyatakan bahwa mid-range theories
menyeimbangkan kespesifikannya dengan konsep secara normal yang nampak dalam grand
teori.

Mid-range teori memberikan manfaat bagi perawat, mudah diaplikasikan dalam praktik dan
cukup abstrak secara ilmiah. Teori Middle Range, tingkat keabstrakannya pada level
pertengahan, inklusif, diorganisasi dalam lingkup terbatas, memiliki sejumlah variabel
terbatas, dapat diuji secara langsung. Kramer (1995) mengatakan bahwa mid-range theory
sesuai dengan lingkup fenomena yang relatif luas tetapi tidak mencakup keseluruhan fenomena
yang ada dan merupakan masalah pada disiplin ilmu.

Bila dibandingkan dengan grand teori, middle range theory ini lebih konkrit. Merton (1968)
yang berperan dalam pengembangan middle range theory, mendefinisikan teori ini sebagai

3
sesuatu yang minor tetapi penting dalam penelitian dan pengembangan suatu teori. Sependapat
dengan Merton, beberapa penulis keperawatan mengemukakan middle range theory jika
dibandingkan dengan grand theory:

a. Ruang lingkupnya lebih sempit


b. Lebih konkrit, fenomena yang disajikan lebih spesifik
c. Terdiri dari konsep dan proposisi yang lebih sedikit
d. Merepresentasikan bidang keperawatan yang lebih spesifik/ terbatas
e. Lebih dapat diuji secara empiris
f. Lebih dapat diaplikasikan secara langsung dalam tatanan praktik

2.3 Pengelompokan Teori

Berdasarkan pengelompokkannya Middle Range Theory dikelompokkan oleh beberapa


penyusun buku menurut:

2.3.1. Peterson & Bredow (2004) mengklasifikasikan middle range theories ke dalam tipe-
tipe :
1. Tipe fisiologis
2. Tipe kognitif
3. Tipe emosional
4. Tipe sosial
5. Tipe integrative

2.3.2. Tomey & Alligood (2006), berdasar tema masing-masing teori:

1. Illness trajectory (Wiener & Dodd, 1993)


2. Tidal Model (Phil Barker, 2001)
3. Comfort (Kolcaba, 1992)
4. Peacefull end of life (Ruland & More, 1998) dan sebagainya

2.4 Ciri Middle Range Theory

2.4.1. Menurut Mc. Kenna h.p. (1997) :

1. Bisa digunakan secara umum pada berbagai situasi


2. Sulit mengaplikasikan konsep ke dalam teori

4
3. Tanpa indikator pengukuran
4. Masih cukup abstrak
5. Konsep dan proposisi yang terukur
6. Inklusif
7. Memiliki sedikit konsep dan variabel
8. Dalam bentuk yang lebih mudah diuji
9. Memiliki hubungan yang kuat dengan riset dan praktik
10. Dapat dikembangkan secara deduktif, retroduktif. Lebih sering secara induktif
menggunakan studi kualitatif
11. Mudah diaplikasikan ke dalam praktik, dan bagian yang abstrak merupakan hal ilmiah
yang menarik
12. Berfokus pada hal-hal yang menjadi perhatian perawat.
13. Beberapa di antaranya memiliki dasar dari grand teori
14. Teori Mid-range tumbuh langsung dari praktik.

2.4.2. Menurut Meleis, A. I. (1997) :

1. Ruang lingkup terbatas,


2. Memiliki sedikit abstrak,
3. Membahas fenomena atau konsep yang lebih spesifik, dan
4. Merupakan cerminan praktik (administrasi, klinik, pengajaran)

2.4.3. Menurut Whall (1996) :

1. Konsep dan proposisi spesifik tentang keperawatan


2. Mudah diterapkan
3. Bisa diterapkan pada berbagai situasi
4. Proposisi bisa berada dalam suatu rentang hubungan sebab akibat

2.5 Perkembangan Middle Range Theory

Liehr & Smith (1999) menjelaskan bahwa perkembangan middle range theory bersumber pada
proses intelektual yang meliputi:

a. Teori induktif yang membangun teori melalui riset


b. Teori deduktif yang berasal dari grand theory

5
c. Kombinasi dari teori keperawatan dan non keperawatan
d. Sintesa teori yang berasal dari penelitian yang telah terpublikasi
e. Mengembangkan teori dari pedoman praktik klinik

2.6 Penggunaan Middle Range Theory

Middle range theory telah digunakan dalam bidang praktik dan penelitian. Teori ini mampu
menstimulasi dan mengembangkan pemikiran rasional dari [Link] membimbing
dalam pemilihan variable dan pertanyaan penelitian.(Lenz,1998.p.26) Teori middle-range
dapat membantu praktik dengan memfasilitasi pemahaman terhadap perilaku klien dan
memungknkan untuk menjelaskan beberapa efektifitas dari intervensi.

Review terhadap beberapa penelitian yang dipublikasikan mengungkapkan penggunaan Teori


middle-range dalam penelitian keperawatan masih cukup luas. Dan sebagian besar Teori
middle-range berasal dari disiplin ilmu [Link] ini sangat jelas ketika kita membandingkan
seberapa sering Teori middle-range dan Grand Teori dikutip dalam literatur penelitian
keperawatan. Dari 173 penelitian, yangdiidentifikasi menggunakan teori adalah 79 (45%). Dan
dari 79 penelitian tersebut diidentifikasi hanya 25 penelitian yang benar-benar menggunakan
teori keperawatan dan 54 lainnya menggunakan mengadopsi dari disiplin ilmu lainnya dan
kebanyakan dari ilmu psikologi.

2.7 Kontroversi Tentang Middle Range Theory

Identifikasi teori middle-range cukup jelas. Disisi lain, Chenitz, seorang penulis utama dari
“Entry into a Nursing Home as Status Passage”, memasukan teori ini ke dalam praktikal teori
ini, sedangkan yang lainnya memasukkan ke dalam middle range theory. Dalam analisis dasar
Teori middle-range “Pertanyaan tentang Teori middle-range bukanlah merupakan sesuatu
pernyataan hitam dan putih namun memiliki definisi yang jelas. Teori middle-range
mengandung nilai abstrak, tidak terlalu luas namun juga tidak terlalu sempit, tetapi berada pada
kondisi dipertengahan. Untuk mencegah salah penafsiran dalam pemahaman terhadap teori,
para penemu teori harus memberikan identitas teori terhadap komponen konsep dalam teori
tersebut.

6
Ketidakakuratan dari teori middle-range hanya salah satu dari sekian banyak kritik terhadap
teori ini. Selain hal tersebut, ketidakjelasan definisi teori middle-range telah dikritisi untuk
membedakannya dengan Grand Teori,karena mampu untuk diuji meggunakan ide postif –
logis.

2.8 Tokoh-tokoh Middle Range Theory

2.8.1. Ramona T. Mercer

A. Sumber Teori

Teori Mercer Maternal Role Attainment berdasarkan pada penelitiannya pada awal tahun
1960 an. Profesor dan mentor Mercer yaitu Reva Rubin dari University of Pittsburg
merupakan stimulus utama bagi kedua penelitian dan teori perkembangan. Rubin terkenal
dengan kerjanya dalam mendefinisikan dan mendeskripsikan pencapaian peran ibu sebagai
suatu proses ikatan yang mendalam, atau yang melekat pada anak dan mencapai identitas
peran ibu atau melihat dirinya sendiri dalam peran dan mempunyai perasaan nyaman tentang
hal tersebut. kerangka kerja Mercer lebih jelas banyak menggunakan konsep Rubin.

Selain menggunakan kerja Rubin, penelitian Mercer juga berdasarkan pada kedua teori yaitu
teori peran dan perkembangan. Mercer lebih banyak mengandalkan pada pendekatan
interaksionis dari teori peran, penggunaan teori Mead (1934) yaitu teori role enactment (teori
pengundangan peran) dan teori Turner (1978) Teori Core Self (teori Inti diri). Selain itu, teori
penerimaan peran Thorton dan Nardi (1975) yang juga membantu bentuk teori Mercer. Teori
perkembangan Werner (1957) juga berkontribusi terhadap teori Mercer ini. Disamping itu,
kerja Teori Mercer dipengaruhi oleh Teori Sistem general Bertalanffy (1968). Model teori
pencapai peran ibu menggunakakan lingkaran sarang burung Bertalanffy yang berarti sebagai
gambaran interaksi lingkungan mempengaruhi peran ibu.

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Untuk pencapaian peran ibu, Mercer (1981, 1986a, 1995)menetapkan beberapa asumsi:

a) inti diri yang relative stabil, diperoleh melalui sosialisasi seumurhidup, menentukan
bagaimana ibu mendefiniskan dan merasakanevent-event sebagai seorang ibu,

7
persepsinya terhadap bayinya dantanggapan lain terhadap ibunya, dengan situasi
hidupnya yangmana dia berespon (Mercer, 1986a)
b) Disamping pada sosialisasi ibu, tingkat perkembangannya dankarakteristik kepribadian
bawaan juga mempengaruhiresponperilakunya (Mercer, 1986a).c)
c) Partner peran ibu, bayinya, akan mencerminkan kemampuan ibudalam berperan
sebagai ibu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan (Mercer, 1986a).d)
d) Bayi (infant) dianggap sebagai partner aktif dalam proses pengambilan peran sebagai
ibu, mempengaruhi dan dipengaruhioleh perannya (Mercer, 1981).e)
e) Ayah atau partner ibu lainnya yang dekat dapat menyumbangkan pencapaian peran
dalam cara yang tidak dapat diduplikasikandengan pendukung lainnya (Mercer 1995).f)
f) Identitas maternal berkembang bersamaan dengan ikatan keibuandan saling
ketergantungan satu sama lainnya (Mercer, 1995; Rubin1977)

Ramona T. Mercer mengembangkan salah satu model konseptual keperawatan yang mendasari
keperawatan meternitas yaitu Maternal Role Attainment-Becoming a Mother. Fokus utama dari
teori ini adalah gambaran proses pencapaian peran ibu dan proses menjadi seorang ibu dengan
berbagai asumsi yang mendasarinya. Model ini juga menjadi pedoman bagi perawat dalam
melakukan pengkajian pada bayi dan lingkungannya, digunakan untuk mengidentifikasi
kebutuhan bayi, memberikan bantuan terhadap bayi dengan pendidikan dan dukungan,
memberikan pelayanan pada bayi yang tidak mampu untuk melakukan perawatan secara
mandiri dan mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

Konsep teori Mercer ini dapat diaplikasikan dalam perawatan bayi baru lahir terutama pada
kondisi psikososial dan emosional bayi baru lahir masih sering terabaikan. Model konseptual
Mercer memandang bahwa sifat bayi berdampak pada identitas peran ibu. Respon
perkembangan bayi baru lahir yang berinteraksi dengan perkembangan identitas peran ibu
dapat diamati dari pola perilaku bayi.

Model pencapaian peran maternal yang dikemukakan oleh Mercer dengan menggunakan
konsep Bronfenbrenner’s (1979), memperlihatkan bagaimana lingkungan berpengaruh
terhadap pencapaian peran ibu.

C. Paradigma Keperawatan
a) Keperawatan

8
Marcer (1995) menyatakan, keperawatan adalah profesi kesehatan yang memiliki
interaksi yang panjang dan sering dengan wanita dalam siklus maternitas. Perawat
bertanggung jawab dalam promosi kesehatan terhadap keluarga dan anak. Mercer
mengatakan bahwa perawat merupakan pioner dalam pengembangan dan strategi
pengkajian pada pasien-pasien ibu dan anak.
Definisi menurut Mercer menunjukkan komunikasi personal sebagaimana berikut ini:
Keperawatan adalah profesi yang dinamis dengan berfokus pada tiga pokok, yaitu: 1)
Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, 2) pelaksanaan perawatan bagi mereka
yang membutuhkan tenaga professional untuk mencapai fungsi kesehatan pada
tingkat yang optimal., 3) penelitian untuk melakukan perubahan, ilmu pengetahuan
berdasarkan kepada asuhan keperawatan yang terbaik. Perawat memberikan asuhan
keperawan untuk individu, keluarga dan komunitas. Melakukan pengkajian situasi
dan lingkungan klien, perawat mengidentifikasi tujuan bersama klien, memberikan
bantuan kepada klien melalui pembelajaran, dukungan, melaksanakan perawatan
klien yang tidak dapat melakukan perawatan sendiri dalam konteks lingkungan klien.
Dalam tulisannya Mercer (1995) mengatakan pentingnya asuhan keperawatan.
Walaupun ia tidak menyebutkan secara spesifik dalam bukunya Becoming a Mother:
Research on Maternal from Rubbin to The Present. Mercer menekankan bahwa ketiga
bantuan atau perawatan yang diterima bagi seorang wanita selama kehamilan dan
tahun pertama kelahiran dapat memberikan dampak yang penjang terhadap ibu dan
[Link] dalam tatanan keperawatan ibu dan anak memegang peranan yang
luas di dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan memberikan informasi selama
periode tersebut (Mercer, 2004 cit Alligood & Tommey, 2014)
b) Individu (person)
Mercer (1985) tidak mendefinisikan secara spesifik tentang individu tetapi ia berpusat
pada diri sendiri. Ia memandang bahwa diri sendiri merupakan bagian terpisah dari
peran yang dilaksanakannya. Peran ibu merupakan bagian dari perjalanan hidup
manusia yang berfokus pada interaksi bayi dan ayah, mereka saling mempengaruhi
antara satu dan yang lain. Inti pada diri sendiri berasal dari konteks budaya sesuai
dengan pemahaman terhadap lingkungan dan pengembangannya. Konsep Harga diri
dan Percaya diri merupakan hal penting dalam melaksanakan peran seorang ibu. Ibu,
ayah dan anak serta anggota keluarga saling berinteraksi dan mempengaruhi satu dan
lainnya (Mercer,1995)

9
c) Kesehatan
Dalam teorinya Mercer mengartikan status kesehatan sebagaimana persepsi Ibu atau
ayah mengenai kesehatan masa lalu, saat ini dan yang akan datang, resisten terhadap
kemungkinan timbulnya penyakit, cemas akan kesehatan, orientasi terhadap
pemulihan penyakit. Status kesehatan Bayi Baru Lahir tergantung kepada penyakit
yang menyertai bayi sejak lahir dan status kesehatan bayi melalui suatu rentang
perawatan kesehatan seluruhnya. Status kesehatan keluarga mempunyai dampak
negatif terhadap stress antepartum. Status kesehatan dipengaruhi oleh pemeliharaan
bayi oleh keluarga. Kesehatan juga di pandang sebagai hasil yang dipengaruhi oleh
variable ibu dan anak. Mercer menekankan pentingnya perawatan kesehatan selama
proses melahirkan dan masa kanak-kanak.
d) Lingkungan
Konsep lingkungan berasal dari definisi Bronfrenbrenner yaitu dari lingkungan
ekologi dan didasarkan dalam model pertamanya (Gambar 2.1) yang menjelaskan
tentang interaksi ekologi lingkungan dimana peran ibu berkembang. Perkembangan
dari peran seseorang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, ada suatu akomodasi
mutualisme antara perkembangan seseorang dan perubahan properti tatanan di
sekitarnya, hubungan antara tatanan, dan konteks yang terbesar dimana tatanan
dilaksanakan. Stress dan dukungan lingkungan sosial mempengaruhi peran ibu dan
pola pengasuhan serta peran pengembangan anak.

2.8.2. Katharine Kolcaba

A. Sumber Teori

Kolcaba memulai diagram teoritis praktik keperawatannya di awal studi doktoral. Ketika
Kolcaba menyajikan kerangkanya untuk perawatan demensia muncul pertanyaan, apakah
sebelumnya Kolcaba telah melakukan analisis konsep kenyamanan. Kolcaba menjawab bahwa
dia tidak melakukannya tapi itu akan menjadi langkah berikutnya. Pertanyaan ini memulai
investigasi panjangnya ke dalam konsep kenyamanan.

Langkah pertama, analisis konsep yang dijanjikan, dimulai dengan tinjauan ekstensif dari
literatur tentang kenyamanan dari disiplin ilmu keperawatan, kedokteran, psikologi, psikiatri,
ergonomi, dan Inggris (khusus penggunaan shakespeare tentang kenyamanan dan kamus

10
Oxford English [OED]). Dari OED, Kolcaba belajar bahwa definisi asli dari kenyamanan
adalah "untuk mempererat". Definisi ini memberikan alasan yang bagus bagi perawat untuk
memberikan kenyamanan kepada pasien sehingga pasien akan lebih baik dan perawat akan
merasa lebih puas.

Berbagai studi mengenai kenyamanan dalam keperawatan sangatlah banyak. Kolcaba


mengembangkan teori kenyamanan diinspirasi dari pernyataan Nightingale yang menyatakan
“Kenyamanan seharusya tidak boleh lepas dari observasi atau tujuan utama”. Hal ini bukan
menjadi suatu hal yang tidak berguna, melainkan untuk menyelamatkan kehidupan dan untuk
meningkatkan status kesehatan dan kenyamanan (Alligood, 2014). Dari tahun 1900 sampai
1929, kenyamanan adalah tujuan utama keperawatan dan medis karena melalui kenyamanan,
pemulihan dapat dicapai (Mcllveen & Morse, 1995 dalam Alligood, 2014). Perawat memiliki
peranan untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi kenyamanan pasien. Aikens (1908)
dalam Alligood (2014) mengusulkan bahwa kenyamanan pasien adalah pertimbangan pertama
dan terakhir perawat. Seorang perawat yang baik memiliki tujuan untuk mencapai kenyamanan
pasien, dan pandangan atas pencapaian kenyamanan adalah fakor penting yang dimiliki oleh
perawat.

Harmer (1926) menyatakan bahwa asuhan keperawatan memberikan suasana kenyamanan dan
perawatan pribadi pasien termasuk kebahagiaan, kenyamanan, dan kemudahan, fisik dan
mental, disamping istirahat dan tidur, gizi, kebersihan, dan eliminasi. Goodnow (1935)
mengabadikan sebuah bab dalam bukunya teknik keperawatan, kenyamanan pasien. Goodnow
menulis, "Seorang perawat adalah seorang hakim yang selalu dengan kemampuannya dapat
membuat pasiennya merasa nyaman, kenyaman itu baik fisik dan mental, dan tanggung jawab
seorang perawat tidaklah berakhir pada perawatan fisik". Dalam buku teks tahun 1904, 1914,
dan 1919, kenyamanan emosional disebut juga kenyamanan mental dan kebanyakkan dicapai
dengan menyediakan kenyamanan fisik dan modifikasi lingkungan pasien (Mcllveen & Morse,
1995 dalam Alligood, 2014).

Berdasarkan literatur tersebut diatas dicontohkan bahwa kenyamanan bersifat positif dan
diperoleh dengan adanya bantuan perawat, dan pada beberapa kasus hal tersebut sebagai
indikasi adanya kemajuan dari status atau kondisi sebelumnya. Intuisi, kenyamanan dikaitkan
dengan memelihara aktivitas mengasuh atau merawat (nurturing activity). Dari bahasa dasar
kenyamanan, Kolcaba menjelaskan kenyamanan adalah suatu yang menguatkan, dan dari
ergonomis berkaitan langsung dengan penampilan dalam bekerja. Namun arti ini tidak secara

11
implisit, ada konteks lainnya dan masih bersifat ambigu. Konsep tersebut dapat diartikan
sebagai kata kerja, kata benda, kata sifat, kata keterangan, proses dan hasil.

Kolcaba mengenalkan teori kenyamanan sebagai middle range theory karena mempunyai
tingkat abstraksi yang rendah dan mudah diaplikasikan dalam praktik keperawatan. Struktur
taksonomi memberikan peta konten ranah mengenai kenyamanan. Hal ini diteliti oleh banyak
peneliti untuk merancang instrument selanjutnya, seperti pembuatan pertanyaan yang
dikembangkan dari taksonomi instrumen sebelumnya (Kolcaba, Dowd, Steiner, & Mitzel, 2004
dalam Alligood, 2014).

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Teori Comfort dari Kolcaba ini menekankan pada beberapa konsep utama beserta definisinya,
antara lain :

1. Health Care Needs


Kolcaba mendefinisikan kebutuhan pelayanan kesehatan sebagai suatu kebutuhan akan
kenyamanan, yang dihasilkan dari situasi pelayanan kesehatan yang stressful, yang tidak
dapat dipenuhi oleh penerima support system tradisional. Kebutuhan ini meliputi
kebutuhan fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan, yang kesemuanya membutuhkan
monitoring, laporan verbal maupun non verbal, serta kebutuhan yang berhubungan dengan
parameter patofisiologis, membutuhkan edukasi dan dukungan serta kebutuhan akan
konseling financial dan intervensi.
2. Comfort
Comfort merupakan sebuah konsep yang mempunyai hubungan yang kuat dalam
keperawatan. Comfort diartikan sebagai suatu keadaan yang dialami oleh penerima yang
dapat didefinisikan sebagai suatu pengalaman yang immediate yang menjadi sebuah
kekuatan melalui kebutuhan akan keringanan (relief), ketenangan (ease), and
(transcedence) yang dapat terpenuhi dalam empat kontex pengalaman yang meliputi aspek
fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan.
Beberapa tipe Comfort didefinisikan sebagai berikut:
a) Relief, suatu keadaan dimana seorang penerima (recipient) memiliki pemenuhan
kebutuhan yang spesifik
b) Ease, suatu keadaan yang tenang dan kesenangan
c) Transedence, suatu keadaan dimana seorang individu mencapai diatas masalahnya.

12
Kolcaba, (2003) kemudian menderivasi konteks diatas menjadi beberapa hal berikut :

a) Fisik, berkenaan dengan sensasi tubuh


b) Psikospiritual, berkenaan dengan kesadaran internal diri, yang meliputi harga diri,
konsep diri, sexualitas, makna kehidupan hingga hubungan terhadap kebutuhan lebih
tinggi.
c) Lingkungan, berkenaan dengan lingkungan, kondisi, pengaruh dari luar.
d) Sosial, berkenaan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan hubungan sosial
3. Comfort Measures
Tindakan kenyamanan diartikan sebagai suatu intervensi keperawatan yang didesain untuk
memenuhi kebutuhan kenyamanan yang spesifik dibutuhkan oleh penerima jasa, seperti
fisiologis, sosial, financial, psikologis, spiritual, lingkungan, dan intervensi fisik.
4. Enhanced Comfort
Sebuah outcome yang langsung diharapkan pada pelayanan keperawatan, mengacu pada
teori comfort ini.
5. Intervening variables
Didefinisikan sebagai kekuatan yang berinteraksi sehingga mempengaruhi persepsi
resipien dari comfort secara keseluruhan. Variable ini meliputi pengalaman masa lalu,
usia, sikap, status emosional, support system, prognosis, financial, dan keseluruhan elemen
dalam pengalaman si resipien.
6. Health Seeking Behavior (HSBs)
Merupakan sebuah kategori yang luas dari outcome berikutnya yang berhubungan dengan
pencarian kesehatan yang didefinisikan oleh resipien saat konsultasi dengan perawat.
HSBs ini dapat berasal dari eksternal (aktivitas yang terkait dengan kesehatan), internal
(penyembuhan, fungsi imun,dll.)
7. Institusional integrity
Didefinisikan sebagai nilai nilai, stabilitas financial, dan keseluruhan dari organisasi
pelayanan kesehatan pada area local, regional, dan nasional. Pada sistem rumah sakit,
definisi institusi diartikan sebagai pelayanan kesehatan umum, agensi home care, dll.

Kolcaba mengembangkan Teori Kenyamanan melalui tiga jenis pemikiran logis antara lain:

1. Induksi
Induksi terjadi ketika penyamarataan dibangun dari suatu kejadian yang diamati secara
spesifik. Di mana perawat dengan sungguh-sungguh melakukan praktek dan dengan

13
sungguh-sungguh menerapkan keperawatan sebagai disiplin, sehingga mereka menjadi
terbiasa dengan konsep Implisit atau eksplisit, terminologi, dalil, dan asumsi pendukung
praktek mereka.
2. Deduksi
Deduksi adalah suatu format dari pemikiran logis di mana kesimpulan spesifik berasal dari
prinsip atau pendapat yang lebih umum; prosesnya dari yang umum ke yang spesifik.
3. Retroduksi
Retroduksi adalah suatu format pemikiran untuk memulai ide. Bermanfaat untuk memilih
suatu fenomena yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan diuji. Pemikiran jenis ini
diterapkan di (dalam) bidang di mana tersedia sedikit teori. Teori ini melibatkan semua
aspek (holistik) yang meliputi fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial kultural. Namun
untuk menilai semua aspek tersebut dibutuhkan komitmen tinggi dan kemampuan perawat
yang trampil dalam hal melakukan asuhan keperawatan berfokus kenyamanan (pengkajian
hingga evaluasi), yang di dalamnya dibutuhkan teknik problem solving yang tepat.

C. Paradigma Keperawatan
a) Keperawatan
Keperawatan adalah pengkajian yang sengaja dilakukan untuk pemenuhan
kenyamanan, merancang pengukuran kenyamanan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, dan mengkaji ulang tingkat kenyamanan pasien setelah implementasi serta
membandingkannya dengan target sebelumnya. Pengakajian awal dan pengkajian
ulang dapat bersifat subjektif atau intuitif atau kedua-duanya. Pengkajian dapat dicapai
melalui administrasi analog visual atau daftar pertanyaan, atau kedua-duanya. Menurut
Kolcaba dalam Tomey dan Alligood (2006), untuk memberikan kenyamanan pasien
setidaknya memerlukan tiga jenis intervensi kenyamanan, yaitu:
1) Teknik mengukur kenyamanan (technical comfort measures) adalah intervensi
yang didesain untuk mempertahankan homeostasis dan manajemen nyeri, seperti
monitor tanda-tanda vital dan hasil kimia darah darah. Termasuk juga dalam
pemberian obat anti nyeri. Pengukuran kenyamanan didesain untuk (1) membantu
pasien mempertahankan atau memulihkan fungsi fisik dan kenyamanan, dan (2)
mencegah terjadinya komplikasi.
2) Pembinaan (coaching), termasuk intervensi yang didesain untuk membebaskan
rasa nyeri dan menyediakan penenteraman hati dan informasi, membangkitkan
harapan, mendengar, dan membantu perencanaan yang realistis untuk pemulihan,
integrasi, atau meninggal sesuai budayanya.
3) ”Comfort Food” untuk jiwa, meliputi intervensi yang tidak dibutuhkan pasien saat
ini tetapi sangat berguna bagi pasien. Intervensi kenyamanan ini membuat pasien
merasa lebih kuat dalam kondisi yang sulit diukur secara personal. Target
intervensi ini adalah transcendence meliputi hubungan yang mengesankan antara

14
perawat dan pasien, keluarga, atau kelompok. Sugesti kenyamanan ini dapat
diberikan dalam bentuk pijatan, lingkungan yang adaptif yang menciptakan
kedamaian dan ketenangan, guided imagery, terapi musik, mengenang masa lalu,
dan sentuhan terapeutik.
b) Pasien
Pasien adalah penerima perawatan, dapat perorangan, keluarga, lembaga, atau
komunitas yang membutuhkan pelayanan kesehatan.\
c) Lingkungan
Lingkungan adalah semua aspek luar (fisik, politis, kelembagaan, dan lain-lain) dari
pasien, keluarga, lembaga yang dapat dimanipulasi oleh perawat atau seseorang yang
dicintai untuk meningkatkan kenyamanan.
d) Kesehatan
Kesehatan adalah fungsi optimum yang diperlihatkan oleh pasien baik individu,
keluarga, kelompok, atau komunitas.

2.8.3. Pamela [Link] (Teori Self Transendensi)

A. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Pamella G. Reed (2003) yang teorinya merupakan sintesa dari tiga sumber. Ketiga sumber yang
dimaksud antara lain (1) bahwa perkembangan manusia sebagai proses sepanjang hayat dalam
mencapai kedewasaan termasuk didalamnya proses menua dan proses menjelang ajal, (2)
adanya factor kontekstual terhadap terjadinya ketidakseimbangan antara manusia dan
lingkungan sebagai sesuatu yang penting dalam pengembangan, dan (3) berdasarkan
pengalaman klinik dan riset yang mengindikasikan secara klinik dilaporkan bahwa depresi
pada lansia lebih sedikit disebabkan oleh penurunan sumber pengembangan dan perasaan
sejahtera akibat penurunan kemampuan fisik dan kognitif daripada kelompok kesehatan lansia.

Reed (1991) mengembangkan teori tentang self-transcendence dengan menggunakan strategi


“deductive reformulation“. Strategi ini digunakan untuk membangun middle range theory
menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari teori non keperawatan yang kemudian di
reformulasi secara deductive dari model konsep keperawatan. Teori non keperawatan yang
dipergunakan adalah life-span theory pada social kognitif dan pengembangan transpersonal
orang dewasa. Prinsip dari teori life-span adalah merupakan reformulasi dari prespektif
keperawatan dari Martha E. Rogers tentang konsep kesatuan system manusia.

Konsep kunci self transcendence theory


1. Vulnerability

15
Kesadaran seseorang akan adanya kematian, Konsep vulnerable meningkatkan kesadaran
akan situasi mendekati kematian termasuk di dalamnya adalah keadaan gawat seperti
disabilitas, penyakit kronik, kelahiran, dan pengasuhan.

2. Self-Transcendence
Transendensi diri berarti suatu gerak melampaui apa yang telah dicapai, suatu gerak dari yang
kurang baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebih baik.

3. Well-Being
Didefiniskan sebagai perasaan sehat secara menyeluruh baik fisik, psikologis, sosial, budaya
dan spiritual yang menunjukkan suatu kesejahteraan dan keadan yang baik.

4. Moderating-Mediating Factors
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses transendensi diri yang berkontribusi terhadap
kondisi yang baik, misalnya : usia, jenis kelamin, kemamapuan kognitif, pengalaman hidup,
persepsi spiritual, lingkungan sosial, dan riwayat masa lalu.

5. Point of Intervention
Berdasarkan teori transendensi diri, terdapat dua poin intervensi.

1) Tindakan keperawatan secara langsung berfokus pada sumber-sumber yang berasal dari
dalam diri seseorang terhadap transendensi diri

2) Tindakan yang berfokus pada beberapa faktor personal dan kontekstual yang
mempengaruhi hubungan antara transendensi diri dan vulnerabel hubungan antar
transendensi diri dan keadaan baik/sehat.

B. Paradigma Keperawatan
a) Keperaawatan
Peran Keperawatan adalah mendampingi orang-orang melalui proses interpersonal
dan manajemen terapeutik pada lingkungannya dengan membutuhkan keterampilan
untuk mendukung kesehatan (health)dan Kesejahteraan (well-being)
b) Kesehatan
Sehat didefinisikan secara mutlak sebagai proses kehidupan dari dua hal yaitu
pengalaman negative dan positif dimana individu menciptakan nilai-nilai unik yang
mendukung kesejahteraan.

16
c) Individu
Person dipahami sebagai perkembangan masa kehidupannya dengan orang lain dan
perubahan lingkungan yang kompleks yang dapat berkintribusi secara positiv dan
negaif terhadap kesehatan dan keadaan baik.
d) Lingkungan
Keluarga,jaringan,lingkungan fisik,dan komunitas adalah lingkungan yang secara
signifikan berkontribusi pada proses kesehatan dimana perawat mempengaruhi
mengatur interaksi yang terapeutik antaran individu dan aktivitas keperawatan.

2.8.4. Carolyn L Wiener

A. Sumber Teori

Teori Trajectory Illness membahas tentang perangkap teoritis tersebut dengan membingkai
fenomena ini dalam perspektif sosiologis yang menekankan pengalaman gangguan yang
berkaitan dengan penyakit dalam konteks perubahan proses interaksional dan sosiologis yang
pada akhirnya mempengaruhi respons seseorang terhadap gangguan tersebut. Pendekatan
teoritis ini mendefinisikan kontribusi teori ini terhadap keperawatan, yaitu koping bukanlah
fenomena stimulus-respons sederhana yang dapat dipisahkan dari konteks kehidupan yang
kompleks. Kehidupan berpusat pada tubuh yang hidup, oleh karena itu gangguan fisiologis
penyakit merasuki konteks kehidupan lainnya untuk menciptakan cara baru untuk hidup, dan
perasaan yang baru terhadap diri sendiri. Tanggapan terhadap gangguan yang disebabkan oleh
penyakit terjalin kedalam berbagai konteks yang dihadapi dalam kehidupan seseorang dan
interaksi dengan pelaku lain dalam situasi kehidupan tersebut.

Dalam kerangka sosiologis ini, Wiener dan Dodd menanggapi kekhawatiran serius mengenai
atribusi konseptual berlebihan pada peran dari ketidakpastian untuk memahami tanggapan
terhadap kehidupan dengan gangguan penyakit (Wiener & Dodd, 1993). Pepatah lama
mengatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam kehidupan yang pasti, kecuali kematian dan pajak.
Hidup penuh dengan ketidakpastian, namun penyakit (terutama penyakit kronis) menimbulkan
ketidakpastian dengan cara yang mendalam. Sakit kronis melebih-lebihkan ketidakpastian
hidup bagi mereka yang dikompromikan (yaitu, karena penyakit) dalam kemampuan
mereka untuk menanggapi ketidakpastian ini. Jadi, walaupun konsep ketidakpastian
memberikan lensa teoretis yang berguna untuk memahami trajectory illness, tidak dapat
diposisikan secara teoritis sehingga dapat membayangi secara konseptual konteks dinamis

17
hidup dengan penyakit kronis. Dengan kata lain, trajectory illness didorong oleh pengalaman
penyakit yang hidup dalam konteks yang secara inheren tidak pasti dan melibatkan diri dan
orang lain. Aliran konteks kehidupan yang dinamis (biografi dan sosiologis) menciptakan arus
ketidakpastian dinamis yang menggunakan berbagai bentuk, makna, dan kombinasi saat hidup
dengan penyakit kronis. Dengan demikian, menoleransi ketidakpastian adalah untaian teoritis
kritis dalam Teori trajectory illness.

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Asumsi Utama

Manusia adalah fokus dari teori Wiener dan Dodd tentang trajektori sakit. Teori ini
menjelaskan asumsi utama yang mencerminkan turunannya dalam sebuah perspektif sosiologis
Teori ini meliputi tidak hanya komponen fisik dari penyakit, tetapi “total organisasi kerja yang
dilakukan selama perjalanan penyakit” (Wiener&Dodd, 1993 dalam Alligood, 2014).
Trajektori sakit secara teoritis berbeda dari perjalanan suatu penyakit. Dalam teori ini, trajektori
sakit tidak terbatas pada orang yang menderita penyakit. Sebaliknya, organisasi keseluruhan
melibatkan orang sakit, keluarga, dan professional perawatan kesehatan yang memberikan
perawatan (Alligood, 2014).

Teori ini menjelaskan penggunaan istilah kerja. “Para pemain yang bervariasi dalam organisasi
memiliki berbagai jenis pekerjaan; namun, pasien adalah pekerja sentral dalam trajektori sakit”.
Pekerjaan yang hidup dengan penyakit menghasilkan konsekuensi tertentu yang menyerap
kehidupan orang-orang yang terlibat. Pada gilirannya, konsekuensi dan konsekuensi timbal
balik berada diseluruh organisasi, melibatkan organisasi, melibatkan organisasi keseluruhan
dengan pekerja pusat (yaitu, pasien) melalui trajektori hidup dengan penyakit. Hubungan antara
para pekerja di dalam trajektori adalah sebuah atribut yang “memengaruhi baik manajemen
dari perjalanan penyakit itu, maupun nasib orang yang sakit” (Wiener & Dodd, 1993, dalam
Alligood, 2014).

Hidup disituasikan dalam konteks biografi, konsepsi diri berakar pada kondisi fisik dan
diformulasikan berdasarkan kemampuan menerima untuk membentuk kebiasaan atau aktifitas
yang diharapkan dalam mencapai tujuan dari aturan yang berbeda. Interaksi dengan orang lain
adalah pengaruh utama (major influence) untuk membentuk suatu konsep diri. Sebagai ragam

18
peran perilaku, seseorang memonotor reaksi orang lain dan merasakan dirinya merupakan
bagian yang terintegrasi dari proses yang dibentuk/dihasilkan.

Identity/Identitas, temporality/hal keduniawian dan tubuh adalah elemen kunci dalam konteks
biografi yang dijelaskan sebagai berikut:

a) Identity : Pembentukan diri sendiri yang memberikan waktu utnuk menyatukan


multtipel aspek dari diri dan situasi didalam tubuh kita.
b) Temporality : Biografi waktu yang direfleksikan didalam aliran kehidupan terhadap
pembelajaran kejadian, persepsi masa lalu,saat ini dan masa depan untuk
membentuk diri
c) Body : Aktifitas kehidupan dan pembentukan persepsi berdasarkan pada tubuh.
Pengalaman tentang sakit selalu ditempatkan alam konteks biografi oleh karena itu kondisi
sakit adalah pengalaman yang masih berlanjut. Domain dari kondisi sakit adalah berhubungan
dengan ketidakpastian bervariasi dalam dominasi di lintasan penyakit melalui aliran dinamis
dari persepsi tentang diri dan interaksi dengan orang lain. Aktifitas dari hidup dan kehidupan
seseorang dalam kondisi sakit merupakan bentuk kerja. Lingkungan dari kerja termasuk
individu dan yang lainnya dengan semua interaksi, termasuk keluarga dan pelayanan
kesehatan. Semua komponen yang berperan tersebut disebut total organisasi. Seorang yang
sakit (pasien) merupakan pekerja utama namun semua pekerjaan yang diambil didalamnya
dipengaruhi oleh total organisasi.

Tipe pekerjaan yang diorganisasikan meliputi 4 line dari lintasan kerja yang dibentuk oleh
pasien dan keluarganya :

a) Illness related work : diagnostic, manajemen gejala,regimen perawatan dan pencegahan


krisis
b) Everyday life work : Aktifitas sehari, kegiatan rumah tangga, mempertahankan suatu
kemampuan kerja, hubungan yang berkesinambungan dan rekreasi.
c) Biografical work : Pertukaran informasi,ekspresi dari emosi, divisi tugas,termasuk
interaksi dengan total organisasi
d) Uncertainty abatement work : aktifitas berlaku untuk mengurangi dampak
ketidakpastian temporality,body dan identity.
Keseimbangan dalam tipe kerja adalah responsive dan dinamis, fluktuatif seiring waktu,
situasi, persepsi dan beberapa variasi player dalam total organisasi dalam rangka mengatasi
masalah ketidakseimbangan. Semua itu saling mempengaruhi tipe kerja membentuk tekanan

19
yang ditandai dengan bagian yang paling dominan dari tipe kerja. Diseluruh lintasan. Ingatlah,
meskipun konteks biografi bersumber dari tubuh,perubahan tubuh melalui perjalanan penyakit
dan penanganannya,kapasitas untuk membentuk kepastian tipe kerja mengharuskan satu
identitas telah terbentuk.

Itulah yang membuat strategi mempengaruhi pembentukan diri termasuk dipantau respon lain
terhadap strategi ketika mereka mencoba untuk mengatur kehidupan seseorang yang menderita
penyakit.

C. Paradigma Keperawatan
a) Keperawatan
Memahami ketidakpastian pada pasien agara pasien mampu berintegrasi pada
keadaannya
b) Manusia
Manusia disituasikan dalam konteks biografi dimana kondisi fisik,interaksi dengan
orang lain dan kemampuan penerimaan terhadap suatu kondisi dapat mempengaruhi
konsep individu.
c) Kesehatan
Pengalaman tentang sakit selalu ditempatkan dalam konteks biografi dimana kondisi
sakit adalah pengalman yang masih berlanjut berhubungan dengan kepastian yang
tidak beragam melalui persepsi tentang diri dan orang lain.
d) Lingkungan
Lingkungan sekitar individu,keluarga,dan termasuk didalamnya mempengaruhi
pengalaman sehat sakit seseorang.

D. Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Theory of Illness Trajectory pada


Pasien Kanker

Sesuai dengan tingkatannya sebagai middle range teori keperawatan, teori trajectory
illness sudah dapat diterapkan secara langsung dalam praktik keperawatan. Teori tersebut
memiliki karakteristik khusus sebagai middle range theory, yaitu terdapat scope tertentu dalam
penerapannya. Menurut Murray (2005), pasien dengan kanker merupakan satu dari tiga
cakupan teori trajectory illness yaitu yang termasuk dalam kategori periode singkat penurunan
fungsi. Pasien dengan kanker mengalami penurunan fungsi yang cukup drastis.

20
Implikasi keperawatan yang muncul dari fenomena tersebut adalah bagaimana perawat dan
tenaga kesehatan lainnya dapat mempersiapkan kematian yang terbaik bagi pasien, sesuai
dengan konsep perawatan paliatif. Adanya kebutuhan akan pemberian asuhan yang
berkelanjutan pada pasien kanker, teori trajectory illness banyak dikembangkan, salah satunya
oleh Christensen (2015). Kelebihan dari modifikasi teori trajectory illness adalah teori
tersebut memiliki struktur pengkajian, intervensi, dan management goal yang lengkap dan
komprehensif, serta mencakup seluruh fase yang mungkin muncul pada pasien dengan
penyakit terminal. Struktur perawatan tersebut dapat membantu memudahkan perawat dalam
mengetahui kebutuhan fokus pasien di setiap fase, sehingga perawat dapat memenuhi
kebutuhan pasien dengan tepat.

Kerangka kerja dari teori trajectory illness juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan
perilaku penderita kanker dalam menjalani kehidupannya, seperti yang dilakkan oleh Klimmek
& Wenzel (2013). Hasil pengamatan tentang perilaku pasien dengan kanker juga dapat
menberikan peringatan bagi perawat agar mampu mengenali gejala ketidakpastian pasien
dengan penyakit kanker lebih awal, agar pasien terhindar dari keadaan keputusasaan.

Namun kembali pada prinsip bahwa teori trajectory illness ini hanya memberikan gambaran
konseptual, pasien tidak boleh hanya dimasukkan ke dalam kategori yang ditetapkan tanpa
melakukakn tinjauan kondisi. Pasien memiliki kemungkinan untuk meninggal pada tahap yang
berbeda dengan pasien yang lain, serta memiliki tingkat perkembangan penyakit bisa saja
bervariasi. Seorang pasien bisa saja memiliki penyakit penyerta lain selain kanker sehingga
prioritas dan kebutuhannya berubah. Kekurangan dari teori trajectory illness ini juga masih
membutuhkan pengembangan terhadap poin-poin pengkajian yang lebih aplikatif, seperti
pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam pengkajian yang disatukan menjadi intrumen
pengkajian. Namun karena beragamnya jenis pengkajian yang dibedakan berdasarkan fase,
maka pada fase tertentu perawat tidak bisa menggunakan pengkajian dari fase yang lain. Hal
ini menjadi kekurangan karena perawat harus bisa mengidentifikasi terlebih dahulu seorang
pasien sedang berada di fase apa, lalu menentukan jenis pengkajian serta intervensi apa yang
tepat digunakan pada pasien tersebut.

2.8.5. Cheryl Tatano Beck, DNSc, CNM, FAAN

Teori Depresi Postpartum/ Postpartum Depression Theory

21
A. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Depresi Postpartum adalah gangguan mood yang secara historis sering diabaikan dalam
perawatan kesehatan, membiarkan ibu menderita dalam ketakutan, kebingungan, dan
keheningan. Jika hal ini tidak terdiagnosa, dapat mempengaruhi hubungan ibu-bayi dan
menyebabkan masalah emosional jangka panjang bagi anak. Teori ini membedakan depresi
postpartum dari gangguan mood dan kecemasan postpartum lainnya dan aspek-aspek depresi
postpartum: gejala, prevalensi, faktor risiko, intervensi, dan efek pada hubungan dan
perkembangan anak. Juga dibahas tentang Instrumen yang tersedia yang digunakan untuk
skrining depresi postpartum. Cheryl menegaskan bahwa depresi merupakan hasil dari
kombinasi stres fisiologis, psikologis, dan lingkungan dan bahwa gejala bervariasi dan
kemungkinan akan muncul beberapa gejala.

Cheryl memperkenalkan NURSE program untuk menangani depresi postpartum. NURSE


program ini meliputi 5 aspek perawatan yang diperlukan untuk menyembuhkan depresi
postpartum, yaitu:
1. Nourishment and needs (nutrisi dan kebutuhan lain)
2. Understanding (pemahaman)
3. Rest and relaxation (istirahat dan relaksasi)
4. Spirituality (spiritualitas)
5. Exercise (latihan)

Masing-masing aspek didiskusikan secara terpisah dan dikolaborasikan dengan ibu yg


bersangkutan. Mereka seringkali hanya bisa berfokus pada satu atau dua aspek dalam satu
waktu, namun program ini harus diselesaikan dalam setiap tahap penyembuhan mereka.

B. Paradigma Keperawatan
a) Keperawatan
Keperawatan sebagai profesi yang memiliki filosofi caring. Caring diberikan kepada
individu yang dirawat dan sesamanya. Interaksi personal antara perawat dan pihak yang
dirawat adalah langkah utama dalam pencapaian status sehat dan utuh.
b) Manusia
Individu dideskripsikan sebagai suatu keutuhan baik dalam komponen biologis,
sosiologis dan psikologis. Terlebih adanya pemahaman bahwa individu atau hubungan
antar individu dipahami di dalam konteks keluarga dan komunitas.
c) Kesehatan

22
Definisi sehat mencakup pandangan tradidional mengenai sehat fisik dan mental. Sehat
adalah konsekuensi respon seseorang perempuan dalam kehidupannya dan
[Link] sehat adalah vital untuk dipahami dalam berbagai isu
kesehatan.
d) Lingkungan
Beck mendifinisikan lingkungan dalam arti luas yang mencakup factor individu serta
dunia luar setiap orang. Lingkungan luar mencakup kejadian, situasi, budaya, ekosistem
fisik dan sosio politik. Selain itu ada pemahaman bahwa dalam periode proses
melahirkan memerlukan perawatan dan lingkungan tenaga kesehatan terstruktur dalam
model medis dan dengan ideology patriakal.

2.8.6. Merle Helaine Mishel

Teori Keraguan terhadap penyakit / Uncertainty in Illness Theory

A. Sumber Teori

Merle Mishel menemukan idenya ketika ayahnya meninggal karena kanker kolon. Mishel
menyadari bahwa ayahnya tidak dapat menemukan apa yang terjadi pada dirinya. Waktu itu,
dokter tidak mberkomunikasi secara efekti terhadap pasien. Ayah mishel berusaha untuk
mengontrol sebagian aspek ketika sedang berusaha menghadapi ketidakpastian dari sakitnya
ini. Mishel tidak menyadari keadaan ini sebagai sebuah ketidakpastian tetapi sebagai sesuatu
yang ambigu. Setelah itu ketika dia menjalani studi doktoralnya, mishel kembali ke ide ini dan
menggunakannya untuk disertasi. Mishele membuat sebuah skala untuk menguji ambigu yang
diterima dalam penyakit. Skala ini kemudian dinamakan menjadi Mishel Uncertainty in Ilness
Scale.

Ketidakpastian merupakan aspek bersama dalam pengalaman terhadap penyakit. Penyakit


dapat mengganggu stabilitas kehidupan yang diterima, dan hasil penyakit ini dapat menjadi
tidak bisa diprediksi. Banyak aspek yang mempengaruhi peraaan ketidakpastian, dalam hal ini,
mempengaruhi pengaruh psikologis terhadap pengalaman. Untuk menjelaskan fenomena inilah
[Link] Mishel mengembangkan Uncertainty in Illness Theory.

Pada saat Mishel memulai penelitian Uncertainty, konsep belum diterapkan dalam kesehatan
dan konteks illness. Teori Uncertainty in Ilness original menggambarkan informasi –
pengolahan models (Warburton, 1979) dan penelitian kepribadian (Budner, 1962) dari disiplin

23
psikologi, karakteristik dari Uncertainty merupakan skema kognitif atau representasi internal
dari situasi atau kejadian. Mishel attributes yang mendasari stres – coping – kerangka adapatasi
dalam teori kerja original Lazarus dan Folman (1984). Aspek unik adalah aplikasi kerangka
Uncertainty sebagai stressor dalam konteks penyakit. Kerangka teori di atas sangat bearti untuk
keperawatan.

Teori rekonseptualisasi, Mishel (1990) mengakui bahwa pendekatan barat terhadap ilmu
pengetahuan mendukung pandangan mekanistik dalam penekanan pada kontrol dan
prediktabilitas. Dengan menggunakan teori sosial kritis, Mishel mengakui bias dalam teori
aslinya, orientasi terhadap kepastian dan adaptasi. Kemudian Mishel menggunakan prinsip-
prinsip dari teori chaos yang berfokus sistem terbuka. Dengan menggunakan teori chaos
memungkinkan untuk menginterpretasikan ketepatan mengenai penyakit kronis. Suatu
ketidakseimbangan menjadikan orang-orang dalam ketidakpastian secara terus-menerus dalam
menemukan makna baru dalam penyakit.

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Teori asli Mishel tentang Uncertainty in Illness, pertama kali dipublikasikan tahun 1988,
termasuk beberapa asumsi mayor, yang pertama dikonsepi dari teori spikologi informasi dan
model proses. sebagai berikut :
a) Ketidakpastian adalah kondisi kognitif, mewakili ketidak adekuatan dari kondisi kognitif
yang mengintepretasikan kondisi terkait sakit
b) Ketidakpastian didasari dari pengalaman netral, baik pengalaman yang mengenakkan atau
tidak.

Mishel mengungkapkan bahwa Ketidakpastian merupakan kondisi kognitif yang ada untuk
mendukung interpretasi dari kejadian-kejadian yang berhubungan dengan penyakit dan juga
merupakan pengalaman yang netral.

Teori ini menjelaskan bahwa keraguan dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk
beradaptasi pada suatu penyakit. Keraguan terhadap penyakit berhubungan dengan
penyesuaian yang buruk, dan sering perlu dinilai sebagai ancaman yang memiliki efek
merusak. Dalam populasi sakit, keraguan terhadap penyakit terkait dengan kepekaan yang
meningkat terhadap nyeri dan toleransi yang menurun terhadap rangsangan nyeri. Keraguan
terhadap penyakit juga terkait dengan koping maladaptif, distress psikologis yang lebih tinggi,
dan penurunan kualitas hidup.

24
C. Paradigma Keperawatan
a) Perawat
Sebagai fondasi bagi studi intervensi keperawatan dimana perawat harus mampu
mengidentifikasi fenomena dari pengalaman mereka dalam merawat pasien-
pasiennya
b) Kesehatan
Penilaian ketidakpastian melibatkan dua proses yaitu intepretasi dan ilusi
c) Individu
Dialami oleh individu yang sakit akut dan sakit kronis
d) Lingkungan
Dukungan social yang ditunjukan secara langsung memiliki pengaruh ketidakpstian
dengan mengurangi komplesitas dan secara tidak langsung mempengaruhi pola gejala
yang dipridiksi

2.8.7. Phil Barker

A. Konsep Mayor dan Definisi

a) Tidal model adalah pendekatan filosofis pada penemuan kesehatan mental ini
menekankan membantu orang kembali kisah pribadi tekanan mental, dengan
memulihkan suara mereka.. Dengan menggunakan bahasa mereka sendiri, metafora
dan cerita pribadi orang mulai untuk mengekspresikan sesuatu dari makna hidup
mereka Ini adalah langkah pertama menuju membantu kembali kontrol atas kehidupan
mereka ".. – Barker.

Tidal model adalah sebuah model pemulihan untuk promosi kesehatan mental yang
dikembangkan oleh Profesor Phil Barker, Poppy Buchanan-Barker dan rekan-rekan
mereka. Tidal model berfokus pada proses perubahan yang ada pada semua orang.
Model ini berusaha untuk mengungkapkan arti dari pengalaman seseorang,
menekankan pentingnya suara mereka sendiri dan kebijaksanaan melalui kekuatan
metafora. Ini bertujuan untuk memberdayakan seseorang untuk memimpin
pemulihannya sendiri bukannya diarahkan oleh para profesional.

25
Filosofi yang mendasari model ini awalnya terinspirasi oleh penelitian selama lima
tahun tentang apa yang dibutuhkan untuk perawatan kesehatan jiwa yang dilakukan
oleh Prof. Dr. Chris Barker dan Stevenson di Universitas Newcastle , Inggris. Sejak
tahun 2000, model ini telah dipraktekkan di Inggris dan luar negeri.

Karena karyanya di bidang ini, Phil Barker sering disebut sebagai teoris kontemporer
yang menonjol dalam keperawatan kesehatan jiwa.

b) Sumber Teoritis Phill barker

Model pasang surut menarik metafora filosofis inti dari teori chaos, seperti yang tak
terduga - namun dibatasi - sifat perilaku manusia dan pengalaman dibandingkan
dengan aliran dinamis dan kekuatan air dan gelombang pasang laut. (Barker P, 2001)

Tidal model diaplikasikan melalui enam kunci asumsi filosofis yaitu:

a. keyakinan tentang keingintahuan dalam arti positif


b. pengakuan atas kekuatan sumberdaya, daripada berfokus pada masalah,
kekurangan atau kelemahan
c. menghormati keinginan seseorang, bukannya paternalistik
d. penerimaan paradoks krisis sebagai peluang
e. mengakui bahwa semua tujuan berfokus pada seseorang
f. keutamaan mengejar elegan dengan cara sederhana yang mungkin harus dicari

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Perawat terlibat dalam proses bekerja dengan orang, lingkungan, dan status kesehatan, serta
kebutuhan mereka. Teori pasang surut pada asumsinya bahwa ada semacam "hal-hal" sebagai
kebutuhan kejiwaan dan keperawatan membutuhkan beberapa cara untuk memenuhi
kebutuhan mereka. orang yang berada di sekitar mereka memiliki solusi untuk masalah
keperawatan hidup mereka.

Dua asumsi dasar yang mendasari model pasang surut. Pertama, perubahan adalah satu-satunya
ketetapan. Semua pengalaman manusia melibatkan orang yang terus berubah. Kedua, orang
yang membicarakan mereka. Kisah Orang selalu dihiasi dengan cerita tentang bagaimana
orang ini datang dan berada di sini mengalami "masalah hidup" mencari solusi.

26
Model pasang surut mengasumsikan bahwa ketika orang terjebak dalam badai psikis "kegilaan"
itu adalah "seolah-olah" mereka berisiko tenggelam dalam kesulitan atau tenggelam di
kekerasan, itu adalah "seolah-olah" mereka telah ditumpangi oleh bajak laut dan telah
dirampok, itu adalah "seolah-olah" mereka telah terdampar di pantai pada beberapa pantai
terpencil, jauh dari rumah dan terasing dari semua yang mereka tahu dan mengerti.

Nilai Tidal model dapat diringkas menjadi sepuluh komitmen yang perlu diperhatikan:

1. Value the voice (menghargai suara). Mendengarkan cerita seseorang adalah yang hal yang
terpenting.
2. Respect the language (hormati bahasa). Memungkinkan orang untuk mengekspresikan,
menggambarkan, dan mendeskripsikan pengalaman hidup mereka menggunakan cara dan
bahasa mereka sendiri.
3. Develop genuine curiosity (mengembangkan rasa ingin tahu). Menunjukkan ketertarikan
dan rasa ingin tahu tentang cerita orang tersebut.
4. Become the apprentice (menjadi apprentice). Menempatkan diri dalam cerita tersebut dan
belajar serta mengambil hikmah dari cerita orang yang anda bantu (klien).
5. Reveal personal wisdom (mengungkapkan kebijaksanaan). Pada dasarnya setiap orang
memiliki sikap bijaksana dalam menghadapi setiap pengalaman hidupnya. Praktisi atau
tenaga penolong mempunyai tugas untuk membantunya mengungkapkan kebijaksanaan
tersebut yang akan membantu dalam proses pemulihannya.
6. Be transparent (jadilah transparan atau terbuka). Baik klien maupun praktisi atau tenaga
penolong profesional berada dalam posisi istimewa dan harus menjadi model yang percaya
diri, dengan cara setiap saat menjadi transparan atau terbuka dan membantu untuk
memastikan klien tersebut memahami apa yang sebenarnya sedang dilakukannya.
7. Use the available toolkit (gunakan sumberdaya yang ada). Cerita seseorang berisi
informasi yang berharga untuk mengetahui sumberdaya mana yang dapat digunakan untuk
membantu proses pemulihan dan mana yang tidak dapat digunakan.
8. Craft the step beyond (menentukan langkah). Praktisi atau tenaga penolong bersama-sama
dengan klien membangun sebuah apresiasi dan menentukan langkah apa yang harus
dilakukan "sekarang" karena langkah awal merupakan langkah yang penting.
9. Give the gift of time (berikan waktu). Tidak ada yang lebih berharga daripada waktu yang
dihabiskan praktisi dan klien bersama-sama. Pertanyaan yang harus ditanyakan bukan
“Berapa banyak waktu yang masih kita punya?” melainkan "Bagaimana kita menggunakan
waktu yang ada saat ini?".

27
10. Know that change is constant (ketahuilah bahwa perubahan adalah konstan). Hal ini
merupakan pengalaman umum bagi semua orang.

Tidal model berawal dari empat poin penting, yaitu:

1. Fokus terapeutik yang utama dalam kesehatan jiwa ialah dalam komunitas. Manusia hidup
di “lautan pengalaman” dan krisis kejiwaan hanyalah satu dari sekian banyak hal yang
dapat “menenggalamkan” mereka. Tujuan keperawatan atau asuhan kesehatan jiwa ialah
untuk mengembalikan mereka ke “lautan pengalaman” tersebut sehingga mereka dapat
melanjutkan perjalanan hidup mereka.
2. Perubahan merupakan proses yang terus berjalan dan konstan. Manusia akan terus
berubah, namun kadang mereka tidak menyadarinya. Salah satu tujuan utama intervensi
yang dilakukan ialah untuk membantu klien membangun kesadaran bahwa sekecil apapun
perubahan itu akan membawa dampak yang besar bagi hidupnya.
3. Kekuatan terletak pada proses asuhan. Perawat membantu klien untuk mengidentifikasi
bagaimana ia dapat lebih berperan ddalam hidupnya dan mengontrol hidupnya serta
pengalaman yang didapatnya.
4. Perawat dan klien adalah satu, tidak dapat dipisahkan seperti penari dalam sebuah tarian.

C. Paradigma Keperawatan

a. Keperawatan
Perawatan berubah terus menerus, secara internal dan dalam kaitannya dengan profesi
lain, dalam respon terhadap perubahan kebutuhan dan perubahan struktur sosial. Sifat
hubungan Barker dengan pengguna jasa mengkonfirmasi apresiasi dari keperawatan
sebagai sosial, bukan professional. Jika ada satu hal mendefinisikan keperawatan,
global, itu adalah konstruksi sosial dari perawat "peran “. Keperawatan yang
mengasuh, hanya ada bila kondisi yang diperlukan untuk promosi pertumbuhan atau
pengembangan. Perawatan adalah kegiatan antarpribadi berupa abadi manusia
melibatkan fokus pada promosi pertumbuhan dan perkembangan.

Keperawatan siap saat kondisi yang diperlukan untuk promosi pertumbuhan dan
perkembangan. Keperawatan adalah aktivitas manusia interpersonal dan berfokus
pada promosi dari pertumbuhan dan perkembangan.

28
Keperawatan adalah orang yang memberikan pelayanan kepada orang lain yang
membutuhkan. Di sana terdapat kekuatan yang dinamis pada keahlian dari
keperawatan. Seseorang mempunyai tugas untuk merawat orang lain. Praktek
keperawatan berfokus pada identifikasi kebutuhan pasien saat ini, melakukan
kolaborasi dan mengembangan system pada human care. Focus yang tepat dari
keperawatan adalah kebutuhan akan perasaan oleh orang yang dirawat,yang
didefenisikan sebagai fungsi hubungan antara orang dengan kebutuhan perawatan dan
orang yang mencari kebutuhan itu. Respon ini adalah focus fenomena keperawatan,
yakni respon baik actual maupun potensial terhadap masalah kesehatan dan adanya
rentang silang antara manusia, lingkungan perilaku, emosi, kepercayaan,identitas,
kemampuan dan spiritual. Eskplorasi keperawatan dari konteks menusia adalah
CARING.

b. Manusia
Dalam tidal teori perhatiannya adalah fenomena secara langsung memandang bahwa
manusia menceritrakan kehidupan dan riwayat hidupnya. Manusia adalah filosofi
alami dan pembuat arti, membaktikan hidup mereka untuk menetapkan makna dan
nilai dari pengalaman [Link] harus bisa menghargai perspektif
[Link] menceritrakan riwayat hidup, perasaan hidupnya.

Manusia merupakan orang yang mengalami status perubahan yang menetap dan terjadi
secara terus menerus. Mereka hidup dalam dunianya dan mengalami 3 dimensi yaitu ;
[Link] sendiri dan orang lain. Model pasang surut memegang sedikit asumsi
tentang latihan hidup yang sesuai sepanjang hidup manusia. Manusia didefenisikan
dalam hubungan/relasi sebagai contoh dengan ayah,ibu, anak. Saudara dan juga
dengan perawat.

c. Kesehatan
Kesehatan adalah tugas personal yang sukses diselesaikan yang merupakan hasil dari
kesadaran diri, disiplin diri, dan ditemukan dari masing-masing orang yang bisa
mengatur ritme hidup, diet dan sexual. Kesehatan merupakan sesuatu yang
dikejar,diperoleh dan [Link] merupakan bagian dari kehidupan social,
ekonomi,cultural dan spiritual. Pada pandangan yang holistic orang-orang
menganggap bahwa kesehatan dan sakit adalah sesuatu yang bernilai.

29
Perawat melibatkan orang-orang untuk belajar menceritrakan riwayat
hidupnya,memahami situasi yang terjadi termasuk kondisi sehat dan sakit yang
dialami seseorang. Sakit adalah orang yang mengalami masalah social, psikologi dan
medikasi/obat-obatan. Keperawatan pada model pasang surut berfokus pada sumber
daya dan kemungkinan untuk mempertahankan orientasi kesehatan.

d. Lingkungan
Lingkungan adalah social yang luas di alam, konteksnya dari perjalanan hidup
seseorang dalam samudra pengalaman, perawat menciptakan tempat untuk bisa
bertumbuh dan berkembang. Hubungan teraupetik digunakan sebagai jalan dalam
membina relasi seseorang dengan lingkungannya. Masalah manusia mungkin berasal
dari interaksi yang kompleks antara seseorang dang lingkungan. Orang-orang yang
tinggal di lingkungan social mempunyai interaksi dengan orang lain, kelompok dan
organisasi, keluarga, kultur. Relasi adalah bagian integral dalam lingkungan. Dalam
lingkungan terdapat tempat tinggal, pembiayaan, okupasi, stirahat, merasakan cinta.

Banyak perawat psikiater menata Ruangan rawat di rumah sakit seperti tempat tinggal
dimana di ruangannya terdapat ruang makan, ruang dapur. Lingkungan yang disiapkan
aman dan nyaman untuk ditempati. Kondisi ini membuat orang-orang yang mengalami
gangguan mental merasa seperti tinggal di rumah mereka sendiri.

2.8.8. Kristen Swanson

Theory of Caring Oleh Kristen Swanson

A. Sumber Teori

Asal teori Swanson dapat ditemukan dalam wawancaranya yang dilakukannya pada wanita
yang mengalami keguguran, orangtua yang memiliki anak di unit perawatan intensif, dan ibu
yang secara sosial berisiko dan telah melalui system untuk menerima berbagai macam bentuk
perawatan kesehatan (Potter et al. 2005).

Melalui wawancara ini, Swanson mampu memahami ruang lingkup caring secara keseluruhan
dan pada saat yang sama menguraikan dimensi spesifik dari apa yang diperlukan seorang
perawat untuk merawat pasien. Salah satu hal paling penting yang memberikan kontribusi pada
teori keperawatan dalam hal ini, yaitu argumen bahwa pasien seharusnya tidak hanya dilihat
sebagai individu yang terpisah, melainkan sebagai manusia seutuhnya, yang saat ia menulis

30
"berada di tengah-tengah dan yang menjadi keutuhan dibuat nyata dalam pikiran, perasaan dan
perilaku "(Swanson, 1993). Hal yang menarik tentang pengertian pasien ini adalah bahwa
Swanson selalu menempatkan peran perawat dalam proses becoming tersebut. Jadi dalam
aspek kesehatan becoming tersebut, perawat tidak hanya menjadi dispenser pengobatan medis,
tetapi juga merupakan mitra dalam membantu pasien lebih dekat dengan tujuannya (well-
being).

Teori caring Swanson menyajikan permulaan yang baik untuk memahami kebiasaan dan proses
karakteristik pelayanan. Teori caring Swanson menjelaskan tentang proses caring yang terdri
dari bagaimana perawat mengerti kejadian yang berarti di dalam hidup seseorang, hadir secara
emosional, melakukan suatu hal kepada orang lain sama seperti melakukan terhadap diri
sendiri, memberi informasi dan memudahkan jalan seseorang dalam menjalani transisi
kehidupan serta menaruh kepercayaan seseorang dalam menjalani hidupnya.

Swanson (1991) menjelaskan middle range theory of caring. Caring didefinisikan sebagai ´a
nurturing way of relating to a valued other toward whom one feels a personal sense of
commitment and responsibility`. Kata kunci dari definisi tersebut adalah memberikan asuhan
keperawatan yang bernilai kepada klien dengan penuh rasa komitment dan tanggung jawab.

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Asumsi dasar dari teori ini ditemukan dalam gagasan caring yang dijelaskan Swanson.
Menurut Swanson, caring adalah proses multifaset yang terus ada dalam dinamika hubungan
pasien-perawat. Ada yang melihat proses ini sebagai hubungan yang linear, namun juga harus
dianggap sebagai hubungan siklik, dan proses yang terjadi harus selalu diperbarui karena peran
perawat untuk membantu klien mencapai kesehatan dan kesejahteraan.

Secara umum, proses yang terjadi sebagai berikut, pertama perawat membantu klien
mempertahankan keyakinannya, yang berarti bahwa perawat mendorong pasien dan membantu
untuk memperkuat harapan mereka mengatasi kesulitan saat ini. Hal ini sangat penting
terutama dalam kasus di mana pasien menghadapi penyakit yang mengancam nyawa seperti
kanker, atau peristiwa yang sangat traumatis seperti keguguran (Swanson & Wojnar, 2004).

Sebagai pelengkap dan langkah berikutnya dalam proses untuk mempertahankan keyakinan,
adalah "knowing". Dalam proses “knowing”, perawat berusaha untuk memahami apa arti situasi
yang terjadi saat ini bagi pasien, hal ini muncul dalam bentuk latihan sebagai seorang perawat,

31
yang menciptakan seseorang dengan rasa tertentu bagaimana kondisi fisik dan psikologis dapat
mempengaruhi seseorang secara keseluruhan. Dengan mengetahui apa yang dialami pasien,
perawat kemudian dapat melanjutkan proses "do for", ada untuk memberikan tindakan terapi
dan intervensi bagi pasien. Proses “do for”, diikuti dengan proses "enabling" yang
memungkinkan pasien untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraannya.

Menurut Swanson ada lima dimensi yang mendasari konsep Caring, diantaranya :
1. Maintaining Belief
Yaitu menumbuhkan keyakinan seseorang dalam melalui setiap peristiwa hidup dan masa-
masa transisi dalam hidupnya serta menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan,
meyakini kemampuan orang lain, menumbuhkan sikap optimis, membantu menemukan arti
atau mengambil hikmah dari setiap peristiwa, dan selalu ada untuk orang lain dalam situasi apa
pun. Tujuannya adalah untuk memungkinkan orang lain terbantu dalam batas-batas
kehidupannya sehingga mampu menemukan makna dan mempertahankan sikap yang penuh
harapan. Memelihara dan mempertahankan keyakinan nilai hidup seseorang adalah dasar
dari caring dalam praktek keperawatan.
 Subdimensi:
a. Believing in
Perawat menanggapi apa yang klien rasakan dan percaya bahwa perasaan – perasaan
tersebut bisa terjadi dan wajar terjadi pada siapapun yang sedang dalam masa transisi.
b. Offering a hope-filled attitude
Menunjukkan perilaku bahwa perawat sepenuhnya peduli/care terhadap masalah yang
dialami dengan sikap tubuh, kontak mata dan intonasi bicara perawat.
c. Maintaining realistic optimism
Menjaga dan menunjukan optimisme perawat dan harapan terhadap apa yang menimpa
klien secara realistis dan berusaha mempengaruhi agar klien mempunyai optimisme dan
harapan yang sama.
d. Helping to find meaning
Membantu klien menemukan makna akan masalah yang terjadi sehingga klien perlahan -
lahan menerima bahwa setiap orang dapat mengalami apa yang dialami klien.
e. Going the distance (menjaga jarak)
Semakin jauh menjalin/menyelami hubungan dengan tetap menjaga hubungan sebagai
perawat-klien yang tujuan akhir dalam tahap ini adalah kepercayaan klien sepenuhnya
terhadap perawat dan responsibility serta caring secara total oleh perawat kepada klien.

32
2. Knowing
Knowing adalah berjuang untuk memahami peristiwa yang memiliki makna dalam kehidupan
klien. Mempertahankan kepercayaan adalah dasar dari caring keperawatan, knowing adalah
memahami pengalaman hidup klien dengan mengesampingkan asumsi perawat mengetahui
kebutuhan klien, menggali/menyelami informasi klien secara detail, sensitive terhadap
petunjuk verbal dan non verbal, fokus kepada satu tujuan keperawatan, serta melibatkan orang
yang memberi asuhan dan orang yang diberi asuhan dan menyamakan persepsi antara perawat
dan klien. Knowing adalah penghubung dari keyakinan keperawatan terhadap realita
kehidupan.
 Subdimensi:
a. Avoiding assumptions
Menghindari asumsi-asumsi
b. Assessing thoroughly
Melakukan pengkajian menyeluruh meliputi bio psiko sosial spitual dan kultural
c. Seeking clues
Perawat menggali informasi - informasi secara mendalam
d. Centering on the one cared for
Perawat berfokus pada klien dalam melakukan asuhan keperawatan
e. Engaging the self of both
Melibatkan diri sebagai perawat secara utuh dan bekerja sama dengan klien dalam
melakukan asuhan keperawatan yang efektif.

3. Being With
Being with maksudnya tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga komunikasi, berbagi perasaan
tanpa beban dan secara emosional bersama – sama klien dengan maksud menawarkan kepada
klien dukungan, kenyamanan, pemantauan dan mengurangi intensitas perasaan yang tidak
diinginkan.
 Subdimensi:
a. Non-burdening
Perawat bekerjasama dengan klien tanpa memaksa kehendak kepada klien dalam
melakukan tindakan keperawatan
b. Convering availability

33
Menunjukan kesediaan perawat dalam membantu klien dan memfasilitasi klien untuk
mencapai tahap kesejahteraan / well being.
c. Enduring with
Bersama-sama berkomitmen dengan klien berusaha dalam meningkatkan kesehatan klien
d. Sharing feelings
Berbagi pengalaman bersama klien yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesehatan
klien.
Dengan “Being with” perawat dapat menunjukkan dengan cara kontak mata, bahasa tubuh,
nada suara, mendengarkan serta memiliki sikap positif dan bersemangat yang dilakukan
perawat, akan membentuk sesuatu suasana keterbukaan dan saling mengerti.

4. Doing For
Doing for berarti bersama – sama melakukan sesuatu tindakan yang bisa dilakukan,
mengantisipasi kebutuhan yang diperlukan, kenyamanan, menjaga privasi dan martabat klien.
 Subdimensi:
a. Comforting ( memberikan kenyamanan)
Dalam melakukan tindakan keperawatan dilakukan dengan memberikan kenyamanan
pada klien dan menjaga privasi klien.
b. Performing competently ( menunjukkan ketrampilan)
Tidak hanya berkomunikasi dan memberikan kenyaman dalam
tindakannya, perawat juga menunjukkan kompetensi atau skill sebagai perawat
professional
c. Preserving dignity (menjaga martabat klien)
Menjaga martabat klien sebagai individu atau memanusiakan manusia.
d. Anticipating ( mengatisipasi )
Perawat dalam melakukan tindakan selalu meminta persetujuan klien dan keluarga
e. Protecting (melindungi)
Melindungi hak-hak pasien dalam memberikan asuhan keperawatan dan tindakan medis

5. Enablings
Enabling adalah memampukan atau memberdayakan klien, memfasilitasi klien untuk melewati
masa transisi dalam hidupnya dan melewati setiap peristiwa dalam hidupnya yang belum
pernah dialami dengan memberi informasi, menjelaskan, mendukung dengan focus masalah
yang relevan, berfikir melalui masalah dan menghasilkan alternative pemecahan masalah
34
sehingga meningkatkan penyembuhan klien atau klien mampu melakukan tindakan yang tidak
biasa dia lakukan dengan cara memberikan dukungan, memvalidasi perasaan dan memberikan
umpan balik / feedback.
 Subdimensi:
a. Validating (memvalidasi)
Memvalidasi semua tindakan yang telah dilakukan
b. Informing (memberikan informasi)
Memberikan informasi yang berkaitan dengan peningkatan kesehatan klien dalam rangka
memberdayakan klien dan keluarga klien.
c. Supporting (mendukung)
Memberikan dukungan kepada klien dalam mencapai kesejahteraan / well being sesuai
kapasitas sebagai perawat
d. Feedback (memberikan umpan balik)
Memberikan umpan balik terhadap apa yang dilakukan oleh klien dalam usahanya
mencapai kesembuhan / well being
e. Helping patients to focus generate alternatives (membantu pasien untuk focus dan
membuat alternative)
Menolong pasien untuk selalu fokus dan terlibat dalam program peningkatan kesehatannya
baik tindakan keperawatan maupun tindakan medis. (Potter & Perry, 2009)

C. Paradigma Keperawatan
a) Manusia
Asumsi Swanson tentang caring sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Watson
(1985) bahwa manusia merupakan makhluk yang unik dan utuh yang memiliki
pemikiran, perasaan dan tingkah laku. Pengalaman hidup dari setiap orang dipengaruhi
oleh warisan genetik, anugerah spiritual, dan kebebasan memilihnya.

a) Kesehatan
Perawat tidak hanya berfokus bagaimana klien sembuh dari penyakitnya tetapi perawat
membantu klien untuk dapat mencapai, memelihara, atau mendapatkan kembali tingkat
kesehatan atau kesejahteraan hidupnya yang optimal. Pada saat perawat berfokus pada
kesehatan sebagai suatu kesejahteraan hidup, perawatan yang diberikan haruslah
meliputi manusia sebagai manusia yang utuh yaitu menjadi seseorang, bertumbuh,

35
merefleksikan diri dan selalu berusaha untuk dapat berhubungan dengan sesamanya
(Swanson, 1993).

Untuk dapat mengalami kesejahteraan adalah dengan hidup sebagai subjektif, memiliki
arti, berpengalaman sebagai manusia seutuhnya. Utuh melibatkan adanya pengertian
integrasi dan menjadi seseorang berarti semua aspek menjadi seseorang bebas untuk
diekspresikan. Aspek yang di maksud adalah : spiritualitas, pemikiran, perasaan,
inteligen, kreativitas, hubungan, feminine, maskulin dan seksualitas (Swanson, 1993).

b) Lingkungan
Lingkungan didefiniskan sebagai sesuatu yang situasional. Di dalam keperawatan
sendiri, lingkungan adalah suatu konteks yang mempengaruhi atau yang terpengaruh
oleh klien. Pengaruh itu sendiri ada beberapa termasuk budaya, politik, ekonomi, sosial,
biofisik, psikologi dan spiritual. Pada saat kita mencari tahu tentang pengaruh
lingkungan terhadap seseorang, ada baiknya untuk mempertimbangkan tuntutan,
kendala dan sumber – sumber yang membawa kepada situasi tersebut dan lingkungan
di sekitarnya (Klausner, 1971).

c) Perawat
Swanson (1991,1993) mendefinisikan keperawatan atau pemberian pelayanan
keperawatan untuk mencapai kesejahteraan individu. Swanson meyatakan bahwa ilmu
keperawatan dibentuk dari ilmu pengetahuan keperawatan ilmu pengetahuan lain
seperti etika, kepribadian, estetika yang dijadikan nilai-nilai dan harapan individu dan
social secara manusiawi dan berdasarkan pengalaman.

D. Perilaku Caring dalam Praktik Keperawatan

Pandangan Swanson (1993) tentang keperawatan adalah siapa yang kita layani, bagaimana kita
memberikan pelayanan dan kenapa kita terus untuk melayani merupakan keharusan bagi
perawat untuk dapat mengintegrasikan ilmu pengetahuan, diri sendiri, fokus pada kemanusian
dan caring. Yang kemudian disempurnakan dengan adanya transaksi antara keperawatan,
setiap perawat dan klien bahwa perawat adalah profesi yang memiliki komitmen caring,
pemeliharan akan martabat manusia dan meningkatkan kesehatan.

Swanson (1991) mempelajari tentang klien dan profesi pemberi layanan dalam usahanya untuk
membuat teori tentang caring dalam praktik keperawatan yang bermanfaat dalam memberikan

36
petunjuk bagaimana membangun strategi caring yang berguna dan efektif. Teori caring
Swanson ini juga menyajikan permulaan yang baik untuk memahami kebiasaan dan proses
karakteristik pelayanan yang berisi lima kategori atau proses.

Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang
lain, pengawasan dengan waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau
menyayangi. Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan karena caring merupakan suatu
cara pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk lebih meningkatkan
kepeduliannya kepada klien. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting
terutama dalam praktik keperawatan (Nanda Sartika, 2010).

Tindakan caring bertujuan untuk memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil
meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien. Kemudian caring juga menekankan harga diri
individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai
klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien sehingga bisa memberikan
pelayanan kesehatan yang tepat. Penilaian terhadap seorang perawat dapat terlihat dari perilaku
Caring yang dimiliki perawat. Teori Caring Swanson menyajikan permulaan yang baik untuk
memahami kebiasaan dan proses karakteristik pelayanan. Teori Caring Swanson (1991)
menjelaskan tentang proses Caring yang terdiri dari bagaimana perawat mengerti kejadian yang
berarti di dalam hidup seseorang, hadir secara emosional, melakukan suatu hal kepada orang
lain sama seperti melakukan terhadap diri sendiri, memberi informasi dan memudahkan jalan
seseorang dalam menjalani transisi kehidupan serta menaruh kepercayaan seseorang dalam
menjalani hidup. (Potter & Perry, 2009)

2.8.9. Shirly M. Moore

Dikenal dengan Teori Hidup damai di akhir.

A. Sumber Teoritis

Akhir Hidup Damai / End of Life (EOL). Teori ini adalah informasi oleh sejumlah kerangka
teoritis. Hal ini didasarkan terutama pada model klasik Donabedians struktur, proses dan hasil
(Ruland & Moore, 1998) yang sebagian, dikembangkan dari teori besar pengaruh systems.
Dalam teori EOL, pengaturan struktur adalah sistem keluarga (pasien sakit parah dan semua
orang lain yang signifikan) yang menerima perawatan dari profesional pada unit rumah sakit
perawatan akut.

37
Proses didefinisikan sebagai tindakan-tindakan (intervensi keperawatan) yang dirancang untuk
mempromosikan positif hasil dari berikut:

a. bebas dari rasa sakit,


b. mendapatkan penghiburan,
c. mendapatkan martabat dan rasa hormat,
d. berada dalam kedamaian dan
e. mengalami kedekatan kepada orang lain yang signifikan dan mereka yang peduli.

B. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Seperti halnya teori middle range yang lainnya teori EOL ini yaitu akhir kehidupan klien
dengan penuh damai (peaceful end of life).Teori ini berasal dari standar perawatan dari ahli
yang berpengalaman di praktek. Teori ini berfokus kepada fenomena keperawatan yang
komplek, perawatan secara holistik untuk mendukung individu dalam menghadapi kematian
secara damai.

Ada dua asumsi Roland dan Moore (1998) identifikasi teori sebagai berikut :

1. Pengalaman kejadian dan perasaan pada masa akhir hidup merupakan bersifat pribadi dan
individual
2. Asuhan keperawatan mempunyai peranan sangat penting dalam menciptakan pengalaman
untuk menghadapi kematian dengan damai.

C. Paradigma Keperawatan

a) Perawat
Perawat melakukan pengkajian danmenginterpretasikan isyarat yang mereflesikan
pengalaman seseorangdalam menghadapi kematian dan mengintervensi dengan tepat
untukmemperoleh atau mempertahankan pengalaman yang damai. Bahkansekalipun
pasien yang akan menghadapi kematian dengan keadaan tidakdapat komunikasi verbal.

b) Individu
Pengalaman kejadian dan perasaan pada masa akhir hidup merupakan bersifat pribadi
dan individual. Mengikutsertakan pasien dan orang terdekat dalam proses pengambilan
keputusan terkait pelayanan keperawatan yang diberikankepada pasien,
memberlakukan pasien dengan martabat, empati danhormat, dan bersikap atentif

38
terhadap kebutuhan pasien, harapan untukmembuat pasien merasa bermartabat dan
dihormati

c) Kesehatan
Fokus pelayanan end of life adalah bukan mengoptimalkan pelayanan dengan cara
teknologi terbaik melainkan untuk memaksimalkan pelayanan demi mencapai kualitas
hidup dan kematian yang penuh kedamaian.

d) Lingkungan
Membantu memberi kenyamanan fisik, membantu istirahat, relaksasi dan mencegah
komplikasi yang berkontribusi pada pengalaman merasa nyaman. Keluarga, yang
mencangkup orang lain yang berarti bagi pasien merupakan bagian penting dalam
perawatan klien dengankeadaan menjelang kematian.

D. Penggunaan Bukti Empiris

Teori EOL damai didasarkan pada bukti empiris yang berasal dari kedua pengalaman langsung
dari perawat ahli dan mengkaji secara menyeluruh literatur menangani beberapa komponen
teori. Para standart perawatan terdiri dari praktek terbaik berdasarkan bukti penelitian yang
diturunkan di bidang nyeri, kenyamanan gizi manajemen, dan teori preskriptif relaxation.
Ruland dan Moore (1998) mengidentifikasi enam pernyataan teoritis untuk teori mereka
sebagai berikut:

a. Monitoring dan mengelola rasa sakit dan menerapkan intervensi farmakologis dan
nonpharmacologic kontribusi dari pengalaman pasien tidak sakit.
b. Mencegah, pemantauan dan menghilangkan ketidaknyamanan fisik, memfasilitasi
istirahat, relaksasi dan kepuasan, dan mencegah komplikasi berkontribusi dengan
pengalaman pasien kenyamanan.
c. Termasuk yang lain pasien dan signifikan dalam pengambilan keputusan tentang
perawatan pasien, memperlakukan pasien dengan martabat, empati dan rasa hormat dan
menjadi perhatian terhadap pasien menyatakan kebutuhan, keinginan, dan preferensi
berkontribusi dengan pengalaman pasien martabat dan rasa hormat.
d. Memberikan dukungan emosional, pemantauan dan pertemuan pasien menyatakan
kebutuhan untuk obat antiansietas, kepercayaan inspirasi, memberikan yang lain pasien
dan signifikan dengan bimbingan dalam masalah-masalah praktis dan memberikan

39
kehadiran fisik orang lain peduli apakah berkontribusi diinginkan untuk pengalaman
pasien merasa damai.
e. Fasilitasi dan berpatisipasi signifikan dalam perawatan pasien, empati kesedihan orang
lain, kekhawatiran dan pertanyaan dan memfasilitasi peluang untuk kedekatan keluarga
kepada orang lain yang signifikan atau orang yang peduli.
f. Pengalaman pasien tidak sakit, kenyamanan, martabat, dan rasa hormat yang damai,
kedekatan dengan orang lain yang signifikan atau orang-orang yang peduli berkontribusi
sampai akhir hidup damai.

2.8.10. Georgene Gaskill Eakes

A. Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Teori penderitaan kronik (Chronic sorrow) merupakan salah satu teori middle
range keperawatan yang berfokus pada stress dan adaptasi yang berhubungan dengan
penderitaan kronik yang dialami individu sehingga timbul kesedihan dan rasa berduka yang
berkepanjangan (Alligood, 2014).

Asumsi yang mendasari Eakes ,Burke & Hainsworth mengidentifikasikan diagnosa kesedihan
kronis dan intervensi terhadap hal tersebut merupakan salah satu implementasi dari praktik
keperawatan. Peran utama perawat adalah empati, educator, caring dan kompetensi dalam
[Link] perawat mampu memberikan pedoman mencegah kejadian kesedihan
kronis.

Peran utama dari perawat menurut teori ini mencakup bersikap empati, menjadi pendidik yang
baik, memberi perhatian dan bersikap professional. Penerapan teori ini dalam pemberian
asuhan keperawatan dapat membantu klien yang menderita penyakit kronik maupun keluarga
serta orang di sekitarnya untuk meningkatkan kemampuan mekanisme koping eksternal dalam
menghadapi proses kehilangan yang terjadi (Peterson and Bredow 2013).

Konsep chronic sorrow berasal dari karya Olshansky pada tahun 1962 yang selanjutnya
dikembangkan oleh tim Eakes, Burke dan Hainsworth dalam NCRCS. Karya Olshansky
terkait chronic sorrow sebagai hasil observasi pada orangtua yang memiliki anak dengan
retardasi mental dan orangtua tersebut menunjukkan respon kesedihan yang mendalam dan
terus-menerus dan disebut dengan terminologi chronic sorrow. chronic sorrow digambarkan
sebagai respon psikologis terhadap situasi tragis. Penelitian terkait chronic

40
sorrow berkembang sekitar tahun 1980 dengan temuan reaksi kesedihan berkepanjangan pada
orangtua dan pengalaman berduka dalam berhubungan dengan kondisi anak dengan disabilitas
fisik dan mental (Eakes, Burke, & Hainsworth, 1998 ; Alligood, 2014).

Chronic sorrow merupakan respon normal manusia yang berhubungan dengan disparitas
berkelanjutan sebagai akibat dari situasi kehilangan. Kondisi ini merupakan siklus yang terjadi
secara alamiah. Dalam kondisi tersebut terdapat pencetus yang memperberat respon berduka,
bersifat internal maupun eksternal yang dapat diprediksi. Manusia memiliki strategi koping
yang efektif dalam mencapai keseimbangan saat mengalami chronic sorrow. Pada dasarnya,
chronic sorrow disebabkan oleh disparitas antara kondisi harapan dan kenyataan (Eakes et al.,
1998; Alligood, 2014).

Dalam Middle Range Theory Chronic Sorrow terdapat beberapa konsep utama dan definisi
yaitu sebagai berikut:

a. Chronic Sorrow

Disparitas secara terus menerus sebagai akibat dari proses kehilangan, ditandai dengan duka
mendalam dan terus menerus. Gejala dari peristiwa berduka terjadi secara periodik dan gejala
ini mungkin terus berkembang/meningkat.

b. Loss

Kehilangan terjadi sebagai akibat dari disparitas antara situasi ideal yang diinginkan dengan
situasi nyata yang terjadi. Sebagai contoh orang tua berharap untuk memiliki anak yang
sempurna dan situasi nyata yang dialami adalah orang tua memiliki anak dengan disabilitas.

c. Trigger Events

Yaitu situasi, kondisi yang berlangsung dan kondisi yang menjadi fokus dari pengalaman atau
perasaan kehilangan dan dapat mencetuskan atau mengeksaserbasi (memunculkan kembali)
reaksi perasaan berduka.

d. Management Methods

Hal ini berkaitan dengan respon individu untuk berdamai dengan dukacita yang ia rasakan atau
perasaan chronic sorrow yang dialami. Respon ini dapat bersifat internal yaitu strategi koping
yang individu susun atau bersifat eksternal yaitu dengan melibatkan intervensi dari tenaga
kesehatan profesional.

41
e. Ineffective Management

Manajemen ini merupakan hasil dari strategi yang meningkatkan ketidaknyamanan individual
atau yang memperberat perasaan chronic sorrow yang dialami individu tersebut.

f. Effective Management

Hal ini dihasilkan dari strategi yang meningkatkan kenyamanan dan mempengaruhi individu.

B. Paradigma Keperawatan
a. Perawat
Diagnosis penderitaan kronik dan memberikan intervensi sesuai dengan lingkup
praktik keperawatan, perawat dapat memberikan antisipasi berduka pada individu yang
beresiko. Peran utama perawat meliputi menunjukan rasa empati, ahli / profesional,
caring dan pemberi asuhan keperawatan yang kompeten

b. Individu
Manusia mempunyai persepsi yang idealis pada proses kehidupan dan kesehatan.
Orang membandingkan pengalamannya dengan kedua kenyataan tadi sepanjang
kehidupannya. Walaupun setiap orang pengalaman dengan kehilangan adalah unik dan
umumnya kehilangan dapat diramalkan atau diketahui sehingga dapat diantisipasi
reaksi dari kehilangan tersebut.

c. Kesehatan
Kesehatan adalah bila seseorang berfungsi normal, kesehatan seseorang tergantung atas
bagaimana seseorang beradaptasi terhadap kehilangan. Koping yang efektif akan
menghasilkan respon yang normal akibat dari kehilangan

d. Lingkungan
Interaksi yang terjadi di dalam suatu masyarakat, yang mana meliputi lingkungan
keluarga, sosial, lingkungan kerja dan lingkungan perawatan kesehatan. Respon
individu di kaji berdasarkan hasil interaksi individu terhadap norma-norma sosial.
(Eakes, Burke, & Hainsworth, 1998)

42
BAB 3

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dibahas pada tinjauan teori, teori middle-range adalah suatu
pengembangan teori pada tingkat yang lebih kongkret daripada ground theory, karena pada
ground theory lebih berfokus pada fenomena pusat dari disiplin ilmu seperti individu sebagai
sistem adaptif, defisit perawatan diri, kesatuan manusia, atau menjadi manusia. Ground theory
yang kerangkanya terdiri dari konsep-konsep dan pernyataan relasional yang menjelaskan
fenomena abstrak. Sedangkan middle range theory diorganisasi dalam lingkup terbatas,
memiliki sejumlah varibel terbatas, dapat diuji secara langsung. Teori Middle-Range memiliki
hubungan yang lebih kuat dengan penelitian dan praktik. Hubungan antara penelitian dan
praktik menurut Merton (1968), menunjukkan bahwa Teori Mid-Range amat penting dalam
disiplin praktik.

Pengembangan Middle Range Theory bisa bersumber dari Grand Teori, atau dapat pula
bersumber dari hasil penelitian klinis langsung, hal ini dapat kita lihat dari pernyataan beberapa
ahli. Mungkin ada hubungan yang eksplisit antara beberapa grand teori dan teori middle-range.
Sebagai contoh, (teori middle-range) Reed (1991) transendensi-diri dan (1988) teori Barrett
kekuasaan secara langsung terkait dengan Ilmu Rogers dari Kesatuan Manusia. Teori Middle
range lainnya mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan grand teori. Dalam hal
ini,asumsi-asumsi filosofis yang mendasari teori middle-range dapat berada pada tingkat
paradigma, bukan dari Grand Teori. Namun demikian, hubungan ini penting untuk menetapkan
validitas sebagai teori.

Jika kita bandingkan dengan filosofi teori dan Grand teori,teori middle-range dapat digunakan
langsung dalam tatanan praktik, karena memiliki variable yang spesifik misalnya kita ambil
contoh dari Teori Trajectory illness dari Wiener dan Dodd, teori ini lahir dari bentuk studi
kualitatif yang dilakukan pada khusus penderita kanker,kemudian juga teori Cheryl [Link]
yang mengkhususkan teori pada tatanan praktik yang diaplikasikan pada Post Partum
Depresion.

Middle range theory adalah bagian dari struktur disiplin ilmu keperawatan. Teori ini
menjelaskan fenomena spesifik yang terkait dengan praktek keperawatan. Kajian analisis teori
transendensi-diri menjelaskan bagaimana penuaan atau mendorong kerentanan manusia

43
melampaui batas-batas untuk diri intrapribadi fokus pada makna kehidupan, interpersonal pada
koneksi dengan orang lain dan lingkungan, temporal untuk mengintegrasikan masa lalu,
sekarang, dan masa depan, dan transpersonally untuk terhubung dengan dimensi di luar fisik
realitas. Transendensi-diri ini terkait dengan kesejahteraan atau penyembuhan, salah satu dari
diidentifi kasi fokus dari disiplin keperawatan. Teori ini telah diuji dalam penelitian dan
digunakan untuk memandu praktik keperawatan. Dengan ekspansi teori middle-range
memperkaya disiplin ilmu keperawatan.

Dari beberapa ciri yang dimiliki teori middle-range ada beberapa aspek yang menjadi catatan
penting yaitu posisi Teori middle-range berada pada lingkaran tengah, semi konsep semi
praktis. Dapat dilakukan ditarik keatas mendekati tatanan konsep dapat pula ditarik kebawah
lebih mendekati praktik klinik, tergantungan penggunaan konsep-konsep dan aplikasinya. Hal
ini dapat kita lihat pada beberapa cirri yang diungkapkan oleh beberapa ahli yang menyatakan
Teori middle-range dipengaruhi oleh penggunaannya yang mampu diaplikasikan dalam
berbagai situasi, masih memiliki suatu unsur abstrak ,namun lebih mudah diaplikasikan ke
dalam praktik dibandingkan dengan Grand Teori.

44
Tokoh Teori Asumsi Paradigma Penekanan
Keperawatan Kesehatan Individu Lingkungan
Ramona T. Maternal Inti dari sebuah konsep peran Profesi yang Mendefinisikan Tidak Definisi Maternal Role
Mercer Role diri yang stabil, diperoleh dinamis dengan tiga status kesehatan mendefinisikan lingkungan yang Attainment -
Attainment – melalui proses sosialisasi fokus utama yaitu dari orang tua secara spesifik dikemukakan Becoming A
Becoming a yang berlangsung seumur promosi kesehatan, sebagai persepsi mengenai oleh Mercer Mother ini
Mother hidup seorang ibu, mencegah kesehatan konsep manusia diadaptasi dari penting
mempengaruhi bagaimana kesakitan dan mereka yang namun definisi Bronfen diaplikasikan
seorang ibu mampu menyediakan lalu, kesehatan mengarah pada brenner’s tentan dalam
mengartikan dan layanan saat ini, harapan diri dan inti diri. g ekologi melakukan
mempersepsikan suatu keperawatan bagi tentang memandang diri lingkungan dan pendekatan pada
peristiwa, persepsi ibu tentang yang memerlukan kesehatan, sebagai bagian berdasarkan praktek
respon bayi dan orang lain untuk mendapatkan resiko terhadap dari peran yang teori awalnya. keperawatan
mengenai peran keibuannya, kesehatan yang penyakit, dimainkan. Mercer maternitas
dengan kondisi optimal serta kekhawatirkan Wanita sebagai menjelaskan
lingkungannya yang ada, penelitian untuk dan perhatian individu dapat tentang
adalah sebuah kenyataan yang memperkaya dasar tentang berperan perkembangan
direspon ibu. pengetahuan bagi kesehatan, menjadi orang tidak dapat
pelayanan orientasi pada tua jika telah menjadi bagian
keperawatan. penyakit dan melalui mother- dari lingkungan,
Pengkajian penyembuhanny infant dyad. terdapat
selanjutnya pada a, status akomodasi
klien dan kesehatan bayi mutual antara
lingkungan, baru lahir perkembangan
perawat dengan tingkat individu dan
mengidentifikasi kehadiran perubahan sifat
tujuan klien, penyakit dan dengan segera.
menyediakan status kesehatan Stress dan
layanan pada klien bayi oleh orang dukungan sosial
yang meliputi tua pada dalam
dukungan, kesehatan secara lingkungan
pendidikan dan menyeluruh. mempengaruhi

45
pelayanan Kesehatan untuk mencapai
keperawatan pada dipandang peran maternal
klien yang tidak sebagai dan paternal
mampu merawat keinginan yang serta
dirinya sendiri. ditunjukkan perkembangan
untuk bayi. anak.
Mercer
mengemukakan
bahwa stress
suatu proses
yang
memerlukan
perhatian
penting selama
perawatan
persalinan dan
proses kelahiran.

Katharine Comfort 1. Manusia mempunyai Keperawatan Kesehatan Teori Kolcaba Lingkungan Untuk
Kolcaba Theory tanggapan/respon holistik adalah penilaian adalah fungsi menjelaskan adalah berbagai memberikan
terhadap stimulus yang kebutuhan akan optimal dari bahwa manusia aspek dari kenyamanan
kompleks. kenyamanan, pasien, keluarga, sebagai pasien, keluarga, pasien
2. Kenyamanan adalah suatu perancangan pemberi penerima asuhan atau institusi setidaknya
hasil holistik yang kenyamanan pelayanan keperawatan yang dapat memerlukan tiga
diinginkan yang mengacu digunakan untuk asuhan mungkin dapat dimanipulasi jenis intervensi
pada disiplin keperawatan mengukur suatu kesehatan atau berupa individu, oleh perawat, kenyamanan,
3. Manusia bekerja keras kebutuhan, dan komunitas keluarga, orang yang yaitu:
untuk memenuhi penilaian kembali dalam konteks institusi atau dicintai, atau a. Teknik
kebutuhan dasar digunakan untuk individu atau komunitas yang institusi untuk mengukur
kenyamanan mereka. mengukur kelompok. membutuhkan meningkatkan kenyamanan
kenyamanan Pasien yang asuhan kenyamanan. (technical

46
4. Kenyamanan yang akan setelah dilakukan menunjukkan keperawatan. Integritas comfort
ditingkatkan pada pasien implementasi. kesadaran terkait Perawat institusi measures)
harus melibatkan health- Pengkajian dan kesehatan mungkin juga didasarkan oleh adalah
seeking behaviors (HSBs) evaluasi dapat dirinya yang bisa sebagai orientasi sistem intervensi
pilihan mereka. dinilai secara tinggi cenderung penerima nilai penerima yang didesain
5. Pasien yang dianjurkan subjektif, seperti memiliki intervensi terkait asuhan untuk
secara aktif untuk HSBs, ketika perawat kepuasan kenyamana begitupun sama mempertahan
merasa puas dengan menanyakan tersendiri dilingkungan pentingnya kan
pelayanan kesehatan kenyamanan dengan asuhan tempat kerja dengan promosi homeostasis
mereka. pasien, atau secara yang diperoleh. ketika ada kesehatan, dan
6. Integritas kelembagaan objektif, misalnya inisiatif untuk asuhan holistik manajemen
berdasar pada sistem nilai observasi terhadap meningkatkan dalam konteks nyeri.
yang berorientasi pada penyembuhan luka, kondisi kerja. keluarga dan b. Pembinaan
penerima perawatan. perubahan nilai Setiap individu pemberi asuhan (coaching),
laboratorium, atau menunjukkan termasuk
perubahan perilaku. respons holistik intervensi
Penilaian juga terhadap yang didesain
dapat dilakukan stimulus untuk
melalui rangkaian kompleks yang membebaska
penilaian skala diterimanya n rasa nyeri
(VAS) atau daftar yang akan dan
pertanyaan mempengaruhi menyediakan
(kuesioner), yang keyamanan. penenterama
mana keduanya Kenyamanan n hati dan
telah adalah informasi,
dikembangkan oleh kebutuhan dasar membangkit
Kolcaba. manusia yang kan harapan,
dibutuhkan dan mendengar,
harus dipenuhi dan
oleh setiap membantu
individu. perencanaan
Sehingga yang realistis

47
pencapaian untuk
keyamanan pemulihan,
seorang individu integrasi,
akan atau
memberikan meninggal
kekuatan bagi sesuai
pasien dalam budayanya.
membentuk c. ”Comfort
sikap kesadaran Food” untuk
terkait kesehatan jiwa,
dirinya meliputi
intervensi
yang tidak
dibutuhkan
pasien saat
ini tetapi
sangat
berguna bagi
pasien.
Target
intervensi ini
adalah transc
endence meli
puti
hubungan
yang
mengesankan
antara
perawat dan
pasien,
keluarga,

48
atau
kelompok.
Pamela Self Pamella G. Reed (2003) yang Peran Keperawatan Sehat Person dipahami Keluarga,jaringa Menekannkan 2
[Link] Trancendenc teorinya merupakan sintesa adalah didefinisikan sebagai n,lingkungan Hal dalam
y Theory dari tiga sumber. Ketiga mendampingi secara mutlak perkembangan fisik,dan Intervensi:
sumber yang dimaksud antara orang-orang sebagai proses masa komunitas [Link]
lain (1) bahwa perkembangan melalui proses kehidupan dari kehidupannya adalah keperawatan
manusia sebagai proses interpersonal dan dua hal yaitu dengan orang lingkungan yang yang langfsung
sepanjang hayat dalam manajemen pengalaman lain dan secara signifikan berfokus pada
mencapai kedewasaan terapeutik pada negative dan perubahan berkontribusi sumber-sumber
termasuk didalamnya proses lingkungannya positif dimana lingkungan yang pada proses dari dalam diri
menua dan proses menjelang dengan individu kompleks yang kesehatan sendiri.
ajal, (2) adanya factor membutuhkan menciptakan dapat dimana perawat [Link] dari
kontekstual terhadap keterampilan untuk nilai-nilai unik berkintribusi mempengaruhi beberapa faktor
terjadinya ketidakseimbangan mendukung yang secara positiv mengatur dari luar atau
antara manusia dan kesehatan mendukung dan negaif interaksi yang lingkungan.
lingkungan sebagai sesuatu (health)dan kesejahteraan. terhadap terapeutik
yang penting dalam Kesejahteraan kesehatan dan antaran individu
pengembangan, dan (3) (well-being) keadaan baik. dan aktivitas
berdasarkan pengalaman keperawatan.
klinik dan riset yang
mengindikasikan secara klinik
dilaporkan bahwa depresi
pada lansia lebih sedikit
disebabkan oleh penurunan
sumber pengembangan dan
perasaan sejahtera akibat
penurunan kemampuan fisik
dan kognitif daripada
kelompok kesehatan lansia.

49
Carolyn L Trajectory Teori ini menjelaskan asumsi Memahami Pengalaman Manusia Lingkungan Peningkatan
Wiener Illness utama yang mencerminkan ketidakpastian pada tentang sakit disituasikan sekitar kemampuan
Theory turunannya dalam sebuah pasien agara pasien selalu dalam konteks individu,keluarg toleransi pasien
perspektif sosiologis mampu berintegrasi ditempatkan biografi dimana a,dan termasuk terhadap kondisi
pada keadaannya dalam konteks kondisi didalamnya ketidakpastian
biografi dimana fisik,interaksi mempengaruhi yang
kondisi sakit dengan orang pengalaman memunculkan
adalah lain dan sehat sakit kehilangan
pengalman yang kemampuan seseorang. kontrol pada
masih berlanjut penerimaan individu.
berhubungan terhadap suatu
dengan kondisi dapat
kepastian yang mempengaruhi
tidak beragam konsep individu.
melalui persepsi
tentang diri dan
orang lain.
Cheryl Postpartum Cheryl menegaskan bahwa Keperawatan Definisi sehat Individu Beck NURSE
Tatano Depression depresi merupakan hasil dari sebagai profesi mencakup dideskripsikan mendifinisikan program ini
Beck, Theory kombinasi stres fisiologis, yang memiliki pandangan sebagai suatu lingkungan meliputi 5 aspek
DNSc, psikologis, dan lingkungan filosofi caring. tradidional keutuhan baik dalam arti luas perawatan yang
CNM, dan bahwa gejala bervariasi Caring diberikan mengenai sehat dalam yang mencakup diperlukan untuk
FAAN dan kemungkinan akan kepada individu fisik dan mental. komponen factor individu menyembuhkan
muncul beberapa gejala. yang dirawat dan Sehat adalah biologis, serta dunia luar depresi
1. gangguan mood postpartum sesamanya. konsekuensi sosiologis dan setiap orang. postpartum,
postpartum depresi Interaksi personal respon psikologis. Lingkungan luar yaitu:
nonpyschotic utama disoder antara perawat dan seseorang Terlebih adanya mencakup 1. Nourishment
depresi dengan distingushing pihak yang dirawat perempuan pemahaman kejadian, situasi, and needs
kriteria diagnostik, depresi adalah langkah dalam bahwa individu budaya, (nutrisi dan
postpartum sering dimulai utama dalam kehidupannya atau hubungan ekosistem fisik kebutuhan
sedini 4 weks setelah lahir pencapaian status dan antar individu dan sosio politik. lain)
sehat dan utuh. lingkungannya.k dipahami di Selain itu ada

50
2. meternity blues jangka onteks sehat dalam konteks pemahaman 2. Understandin
waktu terbatas yang relatif adalah vital keluarga dan bahwa dalam g
sementara dan diri jika untuk dipahami komunitas. periode proses (pemahaman
melankolis dan perubahan dalam berbagai melahirkan )
suasana hati selama periode isu kesehatan. memerlukan 3. Rest and
postpartum awal. perawatan dan relaxation
3. postpartum psyhotic lingkungan (istirahat dan
gangguan psikotik karakter tenaga kesehatan relaksasi)
dari halusinasi, imajinasi, terstruktur 4. Spirituality
untuk tidur panjang. dalam model (spiritualitas
medis dan 5. Exercise
dengan ideology (latihan)
patriakal.
Merle Uncertainty Mishel mengungkapkan Sebagai fondasi Penilaian Dialami oleh Dukungan social
Kejadian
Helaine in Illness bahwa Ketidakpastian bagi studi ketidakpastian individu yang yang ditunjukan
penyakit,
Mishel Theory merupakan kondisi kognitif intervensi melibatkan dua sakit akut dan secara langsung ketidakpastian ,
yang ada utk mendukung keperawatan proses yaitu sakit kronis memiliki penilaian ,
interpretasi dari kejadian- dimana perawat intepretasi dan pengaruh koping dan
kejadian yang berhub dengan harus mampu ilusi ketidakpstian
adaptasi
penyakit dan juga merupakan mengidentifikasi dengan memiliki
pengalaman yang netral fenomena dari mengurangi hbungan yang
pengalaman komplesitas dan
linier dan satu
mereka dalam secara tidak
arah, bergerak
merawat pasien- langsung dari situasi-
pasiennya mempengaruhi
situasi yang
pola gejala yang
mempromosikan
dipridiksi ketidakpastian
menuju adaptasi
Phil Barker Tidal Model Teori pasang surut pada Perawatan berubah Kesehatan Dalam tidal teori Lingkungan Tidal model
asumsinya bahwa ada terus menerus, adalah tugas perhatiannya adalah social berawal dari
semacam "hal-hal" sebagai secara internal dan personal yang adalah yang luas di empat poin
kebutuhan kejiwaan dan dalam kaitannya sukses fenomena secara alam, penting, yaitu:

51
keperawatan membutuhkan dengan profesi lain, diselesaikan langsung konteksnya dari 1. Fokus
beberapa cara untuk dalam respon yang merupakan memandang perjalanan hidup terapeutik
memenuhi kebutuhan mereka. terhadap perubahan hasil dari bahwa manusia seseorang dalam yang utama
orang yang berada di sekitar kebutuhan dan kesadaran diri, menceritrakan samudra dalam
mereka memiliki solusi untuk perubahan struktur disiplin diri, dan kehidupan dan pengalaman, kesehatan
masalah keperawatan hidup sosial. Sifat ditemukan dari riwayat perawat jiwa ialah
mereka. hubungan Barker masing-masing hidupnya. menciptakan dalam
dengan pengguna orang yang bisa Manusia adalah tempat untuk komunitas
jasa mengatur ritme filosofi alami bisa bertumbuh 2. Perubahan
mengkonfirmasi hidup, diet dan dan pembuat dan merupakan
apresiasi dari sexual. arti, berkembang. proses yang
keperawatan Kesehatan membaktikan Hubungan terus berjalan
sebagai sosial, merupakan hidup mereka teraupetik dan konstan.
bukan professional. sesuatu yang untuk digunakan Manusia
Jika ada satu hal dikejar,diperole menetapkan sebagai jalan 3. Kekuatan
mendefinisikan h dan [Link] makna dan nilai dalam membina terletak pada
keperawatan, merupakan dari pengalaman relasi seseorang proses
global, itu adalah bagian dari [Link] dengan asuhan.
konstruksi sosial kehidupan harus bisa lingkungannya. 4. Perawat dan
dari perawat "peran social, menghargai Masalah klien adalah
“. Keperawatan ekonomi,cultura perspektif manusia satu, tidak
yang mengasuh, l dan spiritual. [Link] mungkin berasal dapat
hanya ada bila Pada pandangan a menceritrakan dari interaksi dipisahkan
kondisi yang yang holistic riwayat hidup, yang kompleks seperti penari
diperlukan untuk orang-orang perasaan antara seseorang dalam sebuah
promosi menganggap hidupnya. dang tarian.
pertumbuhan atau bahwa kesehatan lingkungan.
pengembangan. Per dan sakit adalah Orang-orang
awatan adalah sesuatu yang yang tinggal di
kegiatan bernilai. lingkungan
antarpribadi berupa social
abadi manusia mempunyai

52
melibatkan fokus interaksi dengan
pada promosi orang lain,
pertumbuhan dan kelompok dan
perkembangan organisasi,
keluarga, kultur.
Relasi adalah
bagian integral
dalam
lingkungan.
Dalam
lingkungan
terdapat tempat
tinggal,
pembiayaan,
okupasi, stirahat,
merasakan cinta.
Kristen Theory of Menurut Swanson Perawat tidak Asumsi Lingkungan Teori Caring
Swanson Caring Swanson, caring adalah (1991,1993) hanya berfokus Swanson didefiniskan Swanson (1991)
proses multifaset yang terus mendefinisikan bagaimana klien tentang caring sebagai sesuatu menjelaskan
ada dalam dinamika hubungan keperawatan atau sembuh dari sesuai dengan yang situasional. tentang proses
pasien-perawat. Ada yang pemberian penyakitnya apa yang Di dalam Caring yang
melihat proses ini sebagai pelayanan tetapi perawat dinyatakan oleh keperawatan terdiri dari
hubungan yang linear, namun keperawatan untuk membantu klien Watson (1985) sendiri, bagaimana
juga harus dianggap sebagai mencapai untuk dapat bahwa manusia lingkungan perawat
hubungan siklik, dan proses kesejahteraan mencapai, merupakan adalah suatu mengerti
yang terjadi harus selalu individu. Swanson memelihara, makhluk yang konteks yang kejadian yang
diperbarui karena peran meyatakan bahwa atau unik dan utuh mempengaruhi berarti di dalam
perawat untuk membantu ilmu keperawatan mendapatkan yang memiliki atau yang hidup seseorang,
klien mencapai kesehatan dan dibentuk dari ilmu kembali tingkat pemikiran, terpengaruh oleh hadir secara
kesejahteraan. pengetahuan kesehatan atau perasaan dan klien. Pengaruh emosional,
keperawatan ilmu kesejahteraan tingkah laku. itu sendiri ada melakukan suatu
pengetahuan lain hidupnya yang Pengalaman beberapa hal kepada orang

53
seperti etika,
optimal. Pada hidup dari setiap termasuk lain sama seperti
kepribadian, saat perawat orang budaya, politik, melakukan
estetika yang
berfokus pada dipengaruhi oleh ekonomi, sosial, terhadap diri
dijadikan nilai-nilai
kesehatan warisan genetik, biofisik, sendiri, memberi
dan harapan
sebagai suatu anugerah psikologi dan informasi dan
individu dan socialkesejahteraan spiritual, dan spiritual. Pada memudahkan
secara manusiawi hidup, kebebasan saat kita mencari jalan seseorang
dan berdasarkan
perawatan yang memilihnya. tahu tentang dalam menjalani
pengalaman diberikan pengaruh transisi
haruslah lingkungan kehidupan serta
meliputi terhadap menaruh
manusia sebagai seseorang, ada kepercayaan
manusia yang baiknya untuk seseorang dalam
utuh yaitu mempertimbang menjalani hidup.
menjadi kan tuntutan, (Potter & Perry,
seseorang, kendala dan 2009)
bertumbuh, sumber – sumber
merefleksikan yang membawa
diri dan selalu kepada situasi
berusaha untuk tersebut dan
dapat lingkungan di
berhubungan sekitarnya
dengan (Klausner,
sesamanya 1971).
(Swanson,
1993).
Shirly M. End of Life Ada dua asumsi Roland dan Perawat melakukan Fokus pelayanan Pengalaman Membantu Penekanan
Moore Theory Moore (1998) identifikasi pengkajian end of life kejadian dan memberi tindakan-
teori sebagai berikut : danmenginterpretas adalah bukan perasaan pada kenyamanan tindakan
1. Pengalaman kejadian dan ikan isyarat yang mengoptimalkan masa akhir hidup fisik, membantu (intervensi
perasaan pada masa akhir mereflesikan pelayanan merupakan istirahat, keperawatan)
pengalaman dengan cara bersifat pribadi relaksasi dan yang dirancang

54
hidup merupakan bersifat seseorangdalam teknologi terbaik dan individual. mencegah untuk hasil
pribadi dan individual menghadapi melainkan untuk Mengikutsertaka komplikasi yang positif
2. Asuhan keperawatan kematian dan memaksimalkan n pasien dan berkontribusi diantaranya:
mempunyai peranan sangat mengintervensi pelayanan demi orang terdekat pada a. bebas dari
penting dalam dengan tepat mencapai dalam proses pengalaman rasa sakit,
menciptakan pengalaman untukmemperoleh kualitas hidup pengambilan merasa nyaman. b. mendapatkan
untuk menghadapi atau dan kematian keputusan Keluarga, yang penghiburan,
kematian dengan damai. mempertahankan yang penuh terkait mencangkup c. mendapatkan
pengalaman yang kedamaian. pelayanan orang lain yang martabat dan
damai. keperawatan berarti bagi rasa hormat,
Bahkansekalipun yang pasien d. berada dalam
pasien yang akan diberikankepada merupakan kedamaian
menghadapi pasien, bagian penting e. mengalami
kematian dengan memberlakukan dalam perawatan kedekatan
keadaan tidakdapat pasien dengan klien kepada orang
komunikasi verbal martabat, empati dengankeadaan lain yang
danhormat, dan menjelang signifikan
bersikap atentif kematian dan mereka
terhadap yang peduli.
kebutuhan
pasien, harapan
untukmembuat
pasien merasa
bermartabat dan
dihormati
Georgene Chronic Eakes ,Burke & Hainsworth Diagnosis Kesehatan Manusia Interaksi yang Penerapan teori
Gaskill Sorrow mengidentifikasikan diagnosa penderitaan kronik adalah bila mempunyai terjadi di dalam ini dalam
Eakes Theory kesedihan kronis dan dan memberikan seseorang persepsi yang suatu pemberian
intervensi terhadap hal intervensi sesuai berfungsi idealis pada masyarakat, asuhan
tersebut merupakan salah satu dengan lingkup normal, proses yang mana keperawatan
implementasi dari praktik praktik kesehatan kehidupan dan meliputi dapat membantu
keperawatan. Peran utama keperawatan, seseorang kesehatan. lingkungan klien yang

55
perawat adalah empati, perawat dapat tergantung atas Orang keluarga, sosial, menderita
educator, caring dan memberikan bagaimana membandingkan lingkungan kerja penyakit kronik
kompetensi dalam antisipasi berduka seseorang pengalamannya dan lingkungan maupun
[Link] perawat pada individu yang beradaptasi dengan kedua perawatan keluarga serta
mampu memberikan pedoman beresiko. Peran terhadap kenyataan tadi kesehatan. orang di
mencegah kejadian kesedihan utama perawat kehilangan. sepanjang Respon individu sekitarnya untuk
kronis. meliputi Koping yang kehidupannya. di kaji meningkatkan
menunjukan rasa efektif akan Walaupun setiap berdasarkan kemampuan
empati, ahli / menghasilkan orang hasil interaksi mekanisme
profesional, caring respon yang pengalaman individu koping eksternal
dan pemberi asuhan normal akibat dengan terhadap norma- dalam
keperawatan yang dari kehilangan kehilangan norma sosial. menghadapi
kompeten adalah unik dan proses
umumnya kehilangan yang
kehilangan dapat terjadi
diramalkan atau
diketahui
sehingga dapat
diantisipasi
reaksi dari
kehilangan
tersebut

56
DAFTAR PUSTAKA

Alligood, M.R. (2014). Nursing theories and their work. 8th edition. Singapore. Elsevier Singapore
Pte Ltd
Alligood, M.T. (2014). Inroduction to nursing theory : Its history significance and analysis. In
A.M. Tomey & M. R. Alligood (Eds), Nursing theorist and their work (8th ed, pp. 3-15).
St. Louis : Elsevier
Kolcaba. 1997. Comfort Theory and Practice. [Link]. Diunduh tanggal 24
September 2014, jam 20.15
McKenna, Hugh.1997. Nursing Theories and Models. New York: Routledge.
Meleis, Afaf Ibrahim. [Link]: middle-range and situation specific theories in
nursing research and practice. New York: SpringerPublishingCompany.
Parker,Marilyn E. & Smith, Marlaine Cappelli. 2010. Nursing theories and nursing practice. 3rd
ed. Philadelphia: F. A. Davis Company.
Peterson,Sandra J. & Bredow, Timothy S.2009. Middle Range Theories, Application to Nursing
Research. Second edition. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins.
Sieloff, Christina Leibold and Frey, Maureen A. 2007. Middle Range Theory Development Using
King’s Conceptual System. New York: Springer Publishing Company .
Smith,Mary Jane & Liehr, Patricia R. 2008. Middle range theory for nursing. 2nd ed. New York:
Springer Publishing Company.
Tomey, Alligood. 2006. Nursing Theorist and Their Work. Sixth edition. Toronto: The CV Mosby
Company St. Louis

57

Common questions

Didukung oleh AI

Tokoh-tokoh kunci dalam pengembangan Middle Range Theory termasuk Ramona T. Mercer yang mengembangkan teori Maternal Role Attainment . Kristen Swanson juga memainkan peran penting dengan Theory of Caring yang menganggap pentingnya proses caring dalam hubungan pasien-perawat . Kontribusi dari tokoh-tokoh ini membantu menempatkan Middle Range Theory dalam konteks praktis dan penelitian keperawatan yang lebih luas .

Middle Range Theory dalam keperawatan adalah serangkaian ide atau gagasan yang saling berhubungan dan berfokus pada dimensi terbatas pada realitas keperawatan, dengan penerapan yang lebih spesifik pada praktik dan penelitian dibandingkan dengan grand theory . Teori ini memiliki tingkat keabstrakan yang moderat dan mencakup konsep-konsep yang saling berhubungan dan dapat diaplikasikan pada praktik untuk memandu keputusan klinis dan meningkatkan kualitas pelayanan .

Middle Range Theory memberikan dasar untuk pengembangan asuhan keperawatan dengan menyediakan panduan yang jelas dan teruji untuk praktik klinis, sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan . Dengan fokus pada konsep dan proposisi yang terukur, Middle Range Theory memungkinkan perawat untuk merencanakan dan mengevaluasi intervensi keperawatan dengan cara yang lebih sistematis .

Middle Range Theory diklasifikasikan oleh Peterson & Bredow ke dalam tipe fisiologis, tipe kognitif, tipe emosional, tipe sosial, dan tipe integratif . Sementara itu, Tomey & Alligood mengklasifikasikan berdasarkan tema spesifik teori seperti Illness Trajectory, Tidal Model, Comfort, dan Peaceful End of Life, di antara beberapa lainnya .

Middle Range Theory bermanfaat bagi mahasiswa keperawatan karena memberikan kerangka kerja konseptual yang dapat diimplementasikan dalam praktik keperawatan sehari-hari . Pemahaman tentang Middle Range Theory membantu mahasiswa dalam melakukan analisis dan sintesis informasi teoritis untuk penerapan praktis, serta membantu mereka beradaptasi dengan berbagai situasi klinis .

Implikasi filosofis dari penerapan Middle Range Theory dalam keperawatan meliputi pandangan holistik tentang manusia dan kesehatan, di mana kesehatan dianggap sebagai hasil dari kesadaran diri serta faktor sosial, budaya, dan spiritual . Middle Range Theory mendorong perawat untuk melihat kesehatan lebih daripada sekadar ketiadaan penyakit dan lebih kepada kesejahteraan holistik manusia sebagai makhluk yang utuh dan terhubung dengan lingkungan mereka .

Middle Range Theory dikembangkan melalui kombinasi pendekatan induktif dan deduktif, sering dimulai dari penelitian yang telah dipublikasikan dan panduan praktik klinis . Teori ini digunakan untuk memfasilitasi pemahaman perilaku klien dan menjelaskan efektivitas intervensi dalam praktik keperawatan . Teori ini terbukti sangat berguna dalam praktik keperawatan nyata karena kemampuannya untuk menjelaskan dan memandu pemilihan variabel penelitian serta pertanyaan penelitian .

Menurut Mc. Kenna, Middle Range Theories memiliki karakteristik inklusif, dapat diuji secara langsung, memiliki hubungan kuat dengan riset dan praktik, dan sedikit konsep serta variabel . Meleis menekankan bahwa Middle Range Theories memiliki ruang lingkup terbatas, sedikit abstrak, dan membahas fenomena yang lebih spesifik serta mencerminkan praktik .

Kontroversi Middle Range Theory terutama terkait dengan definisinya yang tidak selalu jelas, membedakannya dengan Grand Theory yang kadang sulit . Selain itu, ada kritik terhadap ketidakakuratan atau ketidakjelasan dari teori ini karena posisinya di antara teori-teori yang lebih besar dan lebih kecil, kurang abstrak namun tidak terlalu praktikal .

Middle Range Theory berperan sebagai pengisi celah antara grand theory, yang sangat abstrak dan umum, dengan praktikal teori, yang lebih terfokus dan terapan. Meski Middle Range Theory lebih konkret daripada grand theory, ia tetap mempertahankan elemen-elemen konseptual yang signifikan yang diperlukan dalam penelitian dan praktik . Menurut Merton, Middle Range Theory lebih konkrit dan dapat diuji secara empiris, membuatnya relevan dan berguna dalam memberikan pedoman yang langsung bisa diterapkan pada praktik klinis .

Anda mungkin juga menyukai