Panduan Diagnostik Penyakit Mata
Panduan Diagnostik Penyakit Mata
MATA
i
ii
iii
DAFTAR ISI
Halaman
DRY EYE SYNDROME (Kode : HO4.1) 1
ENDOFTALMITIS 4
KERATITIS 7
KONJUNGTIVITIS 10
PTERIGIUM 13
SELLULITIS ORBITA AKUT 16
ULKUS KORNEA 18
MYOPIA 21
HIPERMETROPIA 23
ASTIGMATISMA 26
PRESBIOPIA 29
HIFEMA PADA RUDAPAKSA TUMPUL 31
RUDAPAKSA TAJAM BOLA MATA 33
OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMALIS 35
RETINOBLASTOMA 37
KATARAK KONGENITAL 40
RETINOPATHY OF PREMATURITY 42
KATARAK SENILIS 44
AGE RELATED MACULAR DEGENERATION (AMD /ARMD) 53
OKLUSI VENA RETINA SENTRALIS 55
RETINOPATI DIABETIK 57
OKLUSI ARTERI SENTRALIS RETINA (CRAO) 60
ABLATIO RETINA 62
KARSINOMA SEL BASAL 65
iv
DRY EYE SYNDROME
(Kode : HO4.1)
PENGERTIAN
Sindrom mata kering adalah suatu gangguan pada permukaan mata yangditandai dengan
ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan air mata.
1
goblet ditemukan padaksus keratokonjungtivitis sicc, trachoma, pemphigoid mata
cicatrix,sindrom stevens johnson, dan avitaminosis A.
Pemulasan Flourescein
Menyentuh konjungtiva dengan secarik kertas kering berflourescein adalah indikator baik
untuk derajat basahnya mata, danmeniskus air mata mudah terlihat. Flourescein akan
memulas daerah-daerah tererosi dan terluka selain defek mikroskopik pada epitelkornea.
Pemulasan Bengal Rose
Bengal rose lebih sensitif dari flourescein. Pewarna ini akanmemulas semua sel epitel non-
vital yang mengering dari korneakonjungtiva.
Penguji Kadar Lisozim Air Mata
Penurunan konsentrasi lisozim air mata umumnya terjadi pad awal perjalanan sindrom
Sjorgen dan berguna untuk mendiagnosis penyakitini. Air mata ditampung pada kertas
Schirmer dan diuji kadarnya. Cara paling umum adalah pengujian secara spektrofotometri.
Osmolalitas Air Mata
Hiperosmollitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitissicca dan pemakaian
kontak lens dan diduga sebagai akibat berkurangnya sensitivitas kornea. Laporan-laporan
menyebutkanbahwa hiperosmolalitas adalah tes paling spesifik bagikeratokonjungtivitis
sicca. Keadaan ini bahkan dapat ditemukan pada pasien dengan Schirmer normal dan
pemulasan bengal rose normal.
Lactoferrin
Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien denganhiposekresi kelenjar
lakrimal. Kotak penguji dapat dibeli dipasaran.
DIAGNOSIS BANDING
Sindrom Sjorgen
TERAPI
Fungsi utama pengobatan ini adalah penggantian cairan. Pemulian musinadalah tugas yang
lebih berat. Tahun-tahun belakangan ini, ditambahkan polimer larut air dengan berat molekul
tinggi pada air mata buatan, sebagai usahamemperbaiki dan memperpanjang lama pelembaban
[Link] lain termasuk Na-hialuronat dan larutan dari serum pasien
sendirisebagai tetesan mata. Jika mukus itu kental, seperti pada sindrom Sjorgen, agenmukolitik
(mis, acetylcystein 10%) dapat menolong.
Topikal cyclosporine A
Topikal corticosteroids
Topikal/sistemik omega-3 fatty acids: Omega-3 fatty acids menghambatsintesis dari
mediator lemak dan memblok produksi dari IL-1 and TNF-alpha
EDUKASI
Sindroma mata kering bukanlah air mata menjadi kering, tetapi komposisi dari air mata tersebut
ada yang berkurang atau hilang pada air mta, dan komposisi tersebut adalah lipid, sehingga
mengebabkan mata menjadi sering terasa perih dan tidak nyaman.
2
PROGNOSIS
Secara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengansindrom mata kering baik.
KEPUSTAKAAN
1. [Link] 22 Juli 2012
2. http//[Link]/health/dryeyes/DS00463/DSECTION=causes, 22 juli
2012
3. S a l m o n , J F . 2 0 1 3 . Lid Lacrimal Apparatus and [Link] General Ophthalmology
Vaughan D, Asbury T, Rordian Eva [Link] McGraw-Hill ED 17 : 95-98
4. K a n s k i , J a c k J , 2 0 1 2 Kanski Clinical Ophthalmology A Systematic Approach.Ed_6.
Elsevier;151, 205-212.
5. Khurana, A K. 2007. Diseases of the Lacrimal Apparatus In ComprehensiveOphthalmology
Fourth Edition. India: New Age Internationa; 363-366.
-----------------------------------------
3
ENDOFTALMITIS
PENGERTIAN
Endoftalmitis adalah keradangan dalam bola mata, disertai terjadinya abses pada badan kaca.
KRITERIA DIAGNOSIS
- Trapping/ aspirasi badan kaca dan bilik mata depan
- Kultur
- Tes sensitivitas
DIAGNOSIS BANDING
Sulit membedakan endoftalmitis oleh karena bakteri, jamur atau oleh keradangan intra okuler
yang lain.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Metode kultur merupakan langkah yang sangat diperlukan karena bersifat spesifik untuk
mendeteksi mikroorganisme penyebab. Teknik kultur memerlukan waktu 48 jam – 14 hari.
Bahan-bahan yang dikultur diambil dari Cairan dari COA dan corpus vitreous. Pada
endoftalmitis, biasanya terjadi kekeruhan pada corpus viterous. Oleh sebabitu, bila dengan
pemeriksaan oftalmoskop, fundus tidak terlihat, maka dapat
dilakukan pemeriksaan USG mata. D e n g a n p e m e r i k s a a n i n i d a p a t d i t e n t u k a n
a p a k a h a d a b e n d a a s i n g d a l a m b o l a mata, menilai densitas dari vitreitis yang
terjadi dan mengetahui apakah infeksi telah mencapai retina.
Pemeriksaan penunjang lainnya dilakukan untuk mengetahui dengan
p a s t i k u m a n penyebab endoftalmitis, terutama bila ada penyakit sistemik yang
dapat menimbulkan endoftalmitis, melalui penyebaran secara hematogen.
Pemeriksaan penunjang tersebut dapat berupa Pemeriksaan darah lengkap, LED, kadar
nitrogen, urea darah, kreatinin.
Foto rontgen thoraks
USG jantung
Kultur darah, urin, LCS, sputum, tinja
4
TERAPI
1. Endoftalmitis tipe ringan ( lambat )
- Nyeri ringan
- Visus >3/60
- Biasanya terjadi hari ke 7-14 post operasi
- Kultur sering positif mengandung staphylococcus epidermidis, bila negative harus
waspada : infeksi lain, bahan racun atau iritasi
2. Endoftalmitis akut tipe berat (cepat )
- 1-4 hari post operasi
- Visus <3/60
- Nyeri (keluhan jelas)
- Kuman penyebab : staphylococcus aureus , gram (-),serratia,proteus,pseudomonas
3. Endoftalmitis kronis
- Onset dan tanda-tanda sangat bervariasi
- Visus baik
- Nyeri minimal
- Hipopion sangat jarang
- Kuman penyebab tersering :
6 minggu post op : [Link] dengan tanda-tanda radang granulomaus, kp dan
hipopyon ringan
3 bulan post op : candida albicans
3 bulan – 2 tahun post op : [Link] dengan tanda-tanda radang granulomatous, KP
dan hipopion ringan, dapat juga oleh karena tindakan laser kapsulotomi
1. Dilakukan pemberian antibiotic pre operasi pada palpebra dan konjungtiva pada
penderita dengan resiko tinggi ; missal blefaritis, gangguan lakrimal, konjungtivitis
sikatrikalis, pemakai protesis, diabetes mellitus dan penderita dengan imunosupresif
2. Pemberian povidon-jodium 5%
3. Drapping yang baik (pemberian irigasi antibiotic dan subkonjungtiva memberikan hasil
yang tidak pasif)
PENATALAKSANAAN
- Terapi endoftalmitis sangat tergantung pada tipe lambat / cepat, derajat keradangan dan
luasnya keradangan
- Pada kasus dengan visus LP (+) : Vitrektomi dan pemberian antibiotic intravitreal
memberikan hasil yang lebih baik dari pada biopsy
- Gram (+)
- Vancomysin
- Gram (-)
- Aminoglikosida : gentamicyn, tobramicyn,amikacyn ( ketiga obat ini toksik untuk retina ),
sefalosporin
- Flouroquinolon oral dikenal mempunyai penetrasi yang baik intraokuler. Dan mempunyai
potensi yang baik untuk bakteri ( kecuali untuk streptokokus dan bakteri gram (+) hanya
mempunyai potensi terbatas.
5
Cara pemberian :
1. Topikal
2. Sub-konjungtiva : Vancomicyn / cephalosporine
3. Intraokuler/intravitreous : Vancomicyn, Amikacyn dan Amphoterisin-B
4. Pada kasus candida : dengan oral Fluconazol dan topical Flucitocyn (buku lain mengatakan :
intravitreal amikacyn/cephalosporin tidak memberikan hasil yang bermakna)
EDUKASI
Selalu menjaga kebersihan mata dan segera ke poli mata agar di tangani dengan lebih lanjut
PROGNOSIS
Prognosa tergantung pada berbagai factor, khususnya kondisi awal penderita ketika masuk
rumah sakit
KEPUSTAKAAN
1. Vaughan D, Asbury T : General Opthalmology, 17th ed, Lange Medical Publication, 2013,
pp.69,183-184.
2. American Academy of Ophthalmology : Intra Ocular Inflamation and Uveitis, section 9, San
Fransisco, 2013,pp 208.
3. [Link] (di akses 3
maret 2014 )
-----------------------------------
6
KERATITIS
PENGERTIAN
Keratitis adalah peradangan pada salah satu dari kelima lapisan kornea
ANAMNESIS
Gejala keratitis jamur umumnya tidak seakut keratitis bakterial. Gejala awal dapat berupa rasa
mengganjal di mata dengan peningkatan rasa nyeri. Tanda klinis yang paling sering ditemukan
pada pemeriksaan lampu celah juga umum ditemukan pada keratitis mikrobial seperti supurasi,
injeksi konjungtiva, defek epitel, infiltrasi stroma, reaksi radang di bilik mata depan atau
hipopion.
Tanda dan gejala klinis keratitis bakterial bergantung kepada virulensi organism dan durasi
infeksi. Tanda utama adalah infiltrasi epitel atau stroma yang terlokalisir ataupun difus.
Umumnya terdapat defek epitel di atas infiltrat stromal nekrotik yang berwarna putih-keabu-
abuan. Tampilan umum lainnya adalah abses stroma di bawah epitel yang intak. Infiltrat dan
edema kornea dapat terletak jauh dari lokasi infeksi primer. Ulserasi kornea dapat berlanjut
menjadi neovaskularisasi.
PEMERIKSAAN FISIK
- Mata sakit, gatal, silau
- Gangguan penglihatan visus menurun
- Mata merah dan bengkak
- Hiperemi konjungtiva
- Merasa kelilipan
- Gangguan kornea
- Fotofobia, Lakrimasi, Blepharospasme
- Pada kelopak terlihat vesikel
KRITERIA DIAGNOSIS
Diagnosis keratitis dibuat oleh dokter mata (seorang dokter yang mengkhususkan diri dalam
penyakit dan bedah mata) melalui sejarah dan pemeriksaan fisik. Sejarah terdiri dari pertanyaan
mendokumentasikan sejarah medis dan okular masa lalu dan gejala khusus untuk kunjungan
saat ini. Pemeriksaan mata akan terdiri dari memeriksa lapang pandangan dan pemeriksaan
yang cermat terhadap kornea menggunakan lampu celah, yang merupakan mikroskop dengan
pencahayaan yang sangat baik dan perbesaran untuk melihat permukaan mata dan kornea
secara rinci. Pewarna khusus dalam bentuk obat tetes mata dapat ditempatkan di mata untuk
membantu pemeriksaan.
DIAGNOSIS BANDING
1. Ulkus kornea
2. Laserasi kornea
3. keratokonjungtivitis
7
PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemulasan Flourosence
- Kerokan kornae yang kemudian di pulas dengan pulasan gram maupun giemsa
- Kultur untuk bakteri dan fungi
- Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % terhadap kerokan kornea
- Test Schrimer
- Tear film break up time
EDUKASI
Tidak di anjurkan untuk memberikan obat-obatan yang mengandung steroid topical karena
penggunaannya masih kontroversi.
PROGNOSIS
Baik
KEPUSTAKAAN
8
5. Thygeson P. "Superficial Punctate Keratitis". Journal of the American
MedicalAssociation.2012. 144:1544-1549. Available at :[Link]
[Link]/ dept/service/cornea/[Link] (accessed: Juli 2011)
6. KK. 2012. Thygeson's SPK photos. Nova Southeastern University College of Optometry 3200 South
University Drive Ft. Lauderdale, Florida Available at : [Link]
(accessed: Juli 2011)
--------------------------------
9
KONJUNGTIVITIS
PENGERTIAN
Konjungtivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva.
10
TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
Kebanyakan orang-orang yang mengalami konjungtivitis dapat membaik tanpa terapi. Namun,
beberapa infeksi, terutama yang disebabkan oleh bakteri, dapat menetap untuk waktu lama jika
tidak diobati.
Sekret yang terakumulasi pada kelopak mata harus dibersihkan dengan air dan handuk bersih
atau tissue sekali pakai. Pemberian kompres hangat atau dingin terkadang dapat meringankan
rasa tidak nyaman pada mata.
Antibiotika hanya membantu untuk konjungtivitis bakteri. Namun, karena infeksi bakteri dan
virus sulit untuk dibedakan, maka terkadang antibiotika tetap diberikan. Antibiotika yang
diberikan dapat berupa tetes mata atau salep, misalnya ciprofloxacin atau polymyxin, yang
efektif untuk banyak bakteri. Antibiotika ini digunakan selama 7-10 hari. Sediaan tetes mata
biasanya efektif, tetapi sediaan salep terkadang digunakan karena dapat bertahan lebih lama.
Namun, sediaan salep dapat membuat penglihatan menjadi buram.
Konjungtivitis gonococcal dapat diobati dengan pemberian suntikan ceftriaxone. Obat tetes
mata kortikosteroid dapat diberikan untuk beberapa orang dengan konjungtivitis berat yang
disebabkan oleh adenovirus, terutama jika peradangan mata sampai mengganggu aktivitas
penting sehari-hari. Obat tetes mata antivirus tidak dapat membantu untuk sebagian besar
konjungtivitis virus, kecuali pada konjungtivitis virus yang disebabkan oleh herpes, maka dapat
diberikan obat tetes mata antivirus, seperti trifluridine, atau diberikan obat antivirus minum,
seperti acyclovir.
Untuk memperbaiki posisi kelopak mata atau membukan saluran air mata yang tersumbat,
mungkin perlu dilakukan pembedahan.
EDUKASI :
Selalu jaga kebersihan mata
Pemakaian obat yang teratur
PROGNOSIS :
Baik
KEPUSTAKAAN
1. R, Melvin. Infectious Conjunctivitis. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.
[Link]
infectious_conjunctivitis.html
2. Vaughan D, Asbury T : General Ophthalmology, 18th ed, Lange Medical Publication, Maruzen
Asia, 2013,pp. 156-158.
3. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2010
4. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2013
5. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
2011
6. [Link], tentang conjunctivitis ( di akses 21 mei 2012 )
7. [Link]/disease ( di akses 21 mei 2012)
11
8. [Link]/afp//AFPprinter/980215ap/[Link] ( di akses 21 mei 2012 )
----------------------------
12
PTERIGIUM
PENGERTIAN
Pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva
menuju kornea pada daerah interpalpebra. Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan salah
satu faktor resiko terjadinya pterigium.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Slit lamp
EDUKASI
Hindari paparan sinar ultra violet langsung mengenai mata, dan lebih baik menggunakan
kacamata hitam yang mengandung anti sinar ultraviolet pada siang hari.
PROGNOSIS
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik, rasa tidak nyaman pada hari
pertama postoperasi dapat ditoleransi, kebanyakan pasien setelah 48 jam post operasi dapat
beraktivitas kembali.
Rekurensi pterygium setelah operasi masih merupakan suatu masalah sehingga untuk
mengatasinya berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan dengan antimetabolit atau
antineoplasia ataupun transplantasi dengan konjungtiva. Pasien dengan rekuren pterygium
dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva autograft atau transplantasi
membran amnion. Umumnya rekurensi terjadi pada 3 – 6 bulan pertama setelah operasi .
Pasien dengan resiko tinggi timbulnya pterygium seperti riwayat keluarga atau karena terpapar
14
sinar matahari yang lama dianjurkan memakai kacamata sunblock dan mengurangi terpapar
sinar matahari.
KEPUSTAKAAN
1. Ilyas, S. Pterigium. In : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2012. p.
116-7
2. Anonim. Pterygium (Conjunctiva). [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
3. Pope, DB. Pterygium and Pinguecula. [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
4. Tim Pengajar Oftamologi FKUH. Pterigium. Makassar: FKUH. 2012
5. The College Of Optometrists. Pterygium. [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
6. Lisegang JL, Scuta GL, Cantor LB, editors. External Disease and Cornea. In: Basic and Clinical
Science Course. American Academy of Ophthalmology. The Eye M.D. Association. 2011-2012
7. Fisher, J. Pterygium. [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
8. Garbaulet A., Limbergen EV. Pterygium. [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
2002%20Pterygium%20Print_proc.pdf
9. Nemeth SC and Shea C. Conjuctiva, Episclera, and Sclera. [online] 2012 [cited 2012 July 7th].
Available from: [Link]
10. Anonim. Pterygium. [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
11. Olver J and Cassidy L, Editors. More on the Red Eye. In : Ophthalmology at a Glance.
Massachusetts : Blackwell Science Ltd. 2011. p. 34-5
12. Anonim. Pterygium. [online] 2012 [cited 2012 July 5th]. Available from:
[Link]
---------------------------
15
SELLULITIS ORBITA AKUT
PENGERTIAN
Suatu keradangan akut dari jaringan orbita yang disebabkan oleh kuman.
DIAGNOSIS BANDING
1. Pseudotumor orbita
Penyakit ini terjadinya lebih lambat dengan gejal klinis yang hamper sama tetapi lebih
ringan. Teraba suatu massa pada palpasi sedangkan pada sellulitis akan teraba fluktuasi bila
terjadi anses. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan biopsy tumor menunjukkan suatu
pseudotumor.
2. Ofthalmopai tiroid
Pada ofthalmopati tiroid gejala yang mencolok adalah retraksi kelopak mata atas yang terjadi
90-100% penderita. Tidak teraba fluktuasi atau massa pada [Link] pemeriksaan
ultrsonografi maupun CT scan terlihat pembesaran dari otot ekstraokuler
3. Trombosis sinus kavernosus
Trombosis sinus kavernosus mungkin terjadi bilateral tetapi pada selulitis orbita hamper
selalu unilateral. Penurunan visus dapat terjadi dengan cepat dengan tidak adanya reflex
pupil dan disertai papil edema.
EDUKASI
Jaga dengan baik kebersihan mata
PROGNOSIS
Baik apabila tidak di sertai dengan penyakit penyerta lainnya
KEPUSTAKAAN
1. Krohel G, Steward W: Orbita Disease, A Practical Approach, New York, Grune & Stratton Inc,
2012, pp, 133-136.
2. Spencer W.H. : Ophthalmic Pathology, An Atlas and Textbook, Vol III, Third Ed, WB Saunders
Co, Philadelphia, 2013, pp.2812-2818.
3. Vaughan D Asbury T : General Ophthalmology, 10thed, Lange Medical Publication,2012, pp,
138-139.
-----------------------------
17
ULKUS KORNEA
PENGERTIAN
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kerusakan jaringan kornea,
yang ditandai dengan adanya infiltrasi supuratif disertai defek kornea bergaung, dan
diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari lapisan eitel sampai lapisan stroma
DIAGNOSIS BANDING
1. Ulkus kornea akibat jamur, stromal herpes simplex
2. Peripheral ulseratif keratitis
18
EDUKASI DAN INFORM CONSENT
Perlu, terutama bila terjadi komplikasi karena ulkus kornea ini mengancam kebutaan
PROGNOSIS
Prognosisnya bergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat perawatan,
jenis mikroorganisme penyebabnya dan ada tidaknya komplikasi yang terjadi. Semakin tinggi
tingkat keparahan dan lambatnya mendapat perawatan dan timbul komplikasi prognosis
semakin buruk.
KEPUSTAKAAN
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012, Jakarta. Diunduh dari
website:[Link]
canangkan-hari-pemberantasan-gangguan- [Link]
tanggal 12 Oktober 2012
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012, Jakarta. Diunduh dari
website:[Link] penglihatan-masih-
[Link]. pada tanggal 12 Oktober 2012
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012, Jakarta. Diunduh dari
website:[Link]
4. [Link]. pada tanggal 12 Oktober 2012
5. Suhardjo, Widodo F, dan Dewi MU. Artikel Tingkat Keparahan Ulkus Korneadi RS Dr. Sardjito
Sebagai Tempat Pelayanan Mata Tertier. Bagian SMFPenyakit Mata RS Dr. Sardjito,
Yogyakarta 2011.
Diunduh dari website :[Link]
6. Anonimous Ulkus Kornea Dikutip [Link].com2012
7. Biswell R. Ulserasi Kornea. Dalam: Riordan-Eva P, Whitcher JP, [Link] &
Asbury Oftamologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC, 2013; 126-138.
8. Whitcher JP. Corneal ulceration in the developing world—a silent epidemic.B M J 1 9 9 7 ;
81:622-623 doi:10.1136/bjo.81.8.622. Available
f r o m : [Link]
9. Ilyas S. Tukak (Ulkus) Kornea. Dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3, BalaiPenerbit FKUI, Jakarta,
2012. 159-167
10. Wong YT, Corneal Ulcers. Dalam :The Opthalmology Examination [Link]: World
Scientific Printers, 2011. 114-117
11. Kumpulan Blog Dokter Indonesia. 2012. Ulkus Kornea. Di unduh dari web
site:[Link] tanggal 13
Oktober 2012.
12. Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, Ulkus Kornea dalam : IlmuPenyakit Mata
Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke 2,Penerbit Sagung Seto, Jakarta,2012
13. Murillo-Lopez FH. Corneal Ulcer. New York: The Medscape from WebMDJo u rnal of
M e d icine ; [ up d at e d 2 0 1 1 , N o v 1 3 ; cit ed 2 0 1 2 , Oct o be r 14 ] . Available
from:[Link]
19
14. Wijana. [Link] Kornea. Dalam: Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke -4,
2011.Jakarta1 5 .Kan ski JJ. D iso rd e r o f Co rne a and Scle ra . In : Clin ical
Op t h a lmo lo gy A systematic Approach. Edisi 6: 2012 page.100-149.
15. Ilyas S. Trauma Kimia. Dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3, Balai PenerbitFKUI, Jakarta, 2011.
271-273
--------------------------------
20
MYOPIA
PENGERTIAN
Myopia adalah banyangan dari benda yang terletak jauh berfokus di depan retina pada mata
yang tidak berakomodasi
DIAGNOSIS BANDING
Astigmatisma
Diplopia
Degenerasi macula
21
TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
Kacamata
Kacamata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki refraksi.
Lensa kontak
Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa kontak keras yang terbuat
dari bahan plastik polimetilmetacrilat (PMMA) dan lensa kontak lunak terbuat dari
bermacam-macam plastik hidrogen. Lensa kontak keras secara spesifik diindikasikan untuk
koreksi astigmatisma ireguler, sedangkan lensa kontak lunak digunakan untuk mengobati
gangguan permukaan kornea. Salah satu indikasi penggunaan lensa kontak adalah untuk
koreksi miopia tinggi, dimana lensa ini menghasilkan kualitas bayangan lebih baik dari
kacamata. Namun komplikasi dari penggunaan lensa kontak dapat mengakibatkan iritasi
kornea, pembentukan pembuluh darah kornea atau melengkungkan permukaan kornea.
Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan berkala pada pemakai lensa kontak.
Bedah keratoretraktif
Bedah keratoretraktifmencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan
permukaan anterior bola mata diantaranya adalah keratotomy radial, keratomileusis,
keratofakia, epikeratofakia.
Lensa intraoculer
Penanaman lensa intraokuler merupakan metode pilihan untk koreksi kesalahan refraksi
pada afakia.
Ekstraksi lensa jernih
Ekstraksi lensa bening telah banyak dicobakan oleh ahli bedah di dunia pada pasien dengan
miopia berat karena resiko tindakan yang minimal.
EDUKASI
Pemeriksaan mata sebaiknya di lakukan setiap 6 bulan sekali
PROGNOSIS
Diagnosis awal pada penderita miopia adalah sangat penting karena seorang anak yang sudah
positif miopia tidak mungkin dapat melihat dengan baik dalam jarak jauh.
KEPUSTAKAAN
1. American Optometric Association Care of the Patient with Miopia Diakses
dar i[Link] Oktober 2012
2. Vaughan, DG. Asbury, T. Neurooftalmogy. Oftalmologi Umum edisi 14. 2000; 389-406
3. Bintang, Nasrul. 2012. Miopia [Link]
astigmat-hipermetropy-dan-presbiopy/. Pebruari 2013
4. Riordan-Eva P, White OW. Optik & Refraksi. Oftalmologi Umumm. Jakarta:Widya Medika;
2012. p. 399-401
5. Khurana A. Comprehensif Opthalmologi. New Delhi: New Age International Publisher; 2012. p. 26-27.
--------------------------
22
HIPERMETROPIA
PENGERTIAN
Hiperopia (hipermetropia, penglihatan jauh/farsighteness) adalah keadaanmata yang tidak berakomodasi
memfokuskan bayangan di belakang retina.
DIAGNOSIS BANDING
Presbiopia
EDUKASI
Pemeriksaan mata sebaiknya di lakukan setiap 6 bulan sekali
24
PROGNOSIS
Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang
diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya
matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.
KEPUSTAKAAN
1. Khurana A. Comprehensif Opthalmologi. New Delhi: New Age International Publisher; 2012. p. 28-32.
2. Riordan-Eva P, White OW. Optik & Refraksi. Oftalmologi Umumm. Jakarta:Widya Medika;
2012. p. 401-2.
3. Lang GK. Opthalmology a short textbook. New York: Thieme; 2012. p. 436-40.
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI; 2012. p. 78-80
------------------------------
25
ASTIGMATISMA
PENGERTIAN
Astigmatisma adalah kelainan refraksi yang mencegah berkas cahaya jatuh sebagai suatu fokus
titik di retina karena perbedaan derajat refraksi di berbagai meridian kornea atau lensa
kristalina.
[Link] refraksii.
Subjektif
Optotipe dari Snellen & Trial lensMetode yang digunakan adalah dengan Metoda µtrial and
error¶ Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu Snellen yangdiletakkan
setinggi mata penderita, Mata diperiksa satu persatu dibiasakanmata kanan terlebih dahulu
Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata. Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan
lensa sferis positif, biladengan lensa sferis positif tajam penglihatan membaik atau mencapai
5/5,6/6, atau 20/20 maka pasien dikatakan menderita hipermetropia, apabiladengan
pemberian lensa sferis positif menambah kabur penglihatankemudian diganti dengan lensa
26
sferis negatif memberikan tajam penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien menderita
miopia.
Bila setelah pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam penglihatanmaksimal
mungkin pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat. Padakeadaan ini lakukan uji pengaburan
(fogging technique).
Objektif
Autorefraktometer Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi
denganmenggunakan komputer. Penderita duduk di depan autorefractor,cahaya dihasilkan
oleh alat dan respon mata terhadap cahaya [Link] ini mengukur berapa besar kelainan
refraksi yang harus dikoreksidan pengukurannya hanya memerlukan waktu beberapa detik.
KeratometriAdalah pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radiuskelengkungan
kornea.11 Keratometer dipakai klinis secara luas dansangat berharga namun mempunyai
keterbatasan.
3) Uji pengaburan
Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya dikaburkan
dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu Snellen, misalnya
denganmenambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta melihat kisi-kisi juringastigmat, dan
ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila garis juring pada 90° yang jelas, maka
tegak lurus padanya ditentukan sumbulensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan
sumbu 180°.Perlahan-lahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-
kisi astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua juring
sama jelasnya bila dilihat dengan lensasilinder ditentukan yang ditambahkan. Kemudian pasien
diminta melihatkartu Snellen dan perlahan-lahan ditaruh lensa negatif sampai pasienmelihat
jelas.
4) Keratoskop
Keratoskop atau Placido disk digunakan untuk pemeriksaan [Link]
memerhatikan imej ring´ pada kornea pasien. Padaastigmatisme regular, ring´ tersebut
berbentuk oval. Pada astigmatismeirregular, imej tersebut tidak terbentuk sempurna.
5) Javal ophtalmometer
Boleh digunakan untuk mengukur kelengkungan sentral dari kornea,diaman akan menentukan
kekuatan refraktif dari kornea.
DIAGNOSIS BANDING
Myopia
Hypermetropia
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ophthalmoskop
27
Dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa [Link] dengan koreksi lensa
cylinder penderita astigmatismus akan dapatmembiaskan sinar sejajar tepat diretina, sehingga
penglihatan akan bertambah jelas.
Orthokeratology
Orthokeratology adalah cara pencocokan dari beberapa seri lensa kontak, lebihdari satu
minggu atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar danmenurunkan myopia.
Kekakuan lensa kontak yang digunakan sesuai denganstandar. Pada astigmatismus
irregular,dimana terjadi pemantulan dan pembiasan sinar yang tidak teratur pada dataran
permukaan depan kornea makadapat dikoreksi dengan memakai lensa kontak. Dengan
memakai lensa kontak maka permukaan depan kornea tertutup rata dan terisi oleh film air
mata.
Bedah refraksi
Methode bedah refraksi yang digunakan terdiri dari:
- Radial keratotomy (RK)Dimana pola jari-jari yang melingkar dan lemah diinsisi di
[Link] yang lemah dan curam pada permukaan kornea dibuat rata. Jumlahhasil
perubahan tergantung pada ukuran zona optik, angka dan kedalamandari insisi.
- Photorefractive keratectomy (PRK)Adalah prosedur dimana kekuatan kornea ditekan dengan
ablasi laser pada pusat kornea. Kornea yang keruh adalah keadaan yang biasa terjadi
setelah photorefractive keratectomy dan setelah beberapa bulan akan kembali [Link]
tanpa bantuan koreksi kadang-kadang menyatakan penglihatannyalebih baik pada waktu
sebelum operasi.
EDUKASI
Pemeriksaan mata sebaiknya di laukan tiap 6 bulan sekali
PROGNOSIS
Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang
diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya
matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.
KEPUSTAKAAN
1. Riordan P. Optics and Refraction. In: Vaughan D, Asbury T, Riordan P, editors General
Ophtalmology 15th ed. Canada: Prentice Hall International Inc; 2012. p. 355 – 69
2. Fredrick DR. Myopia. British Medical Journal [serial online] 2012 May 18 [cited 2005 July 21].
324 :1195 – 1199 Available from: URL: HYPERLINK
3. Astigmatisma. [cited 2012 July 21]. Available from: URL: HYPERLINK
[Link]
4. Riordan P, Whitcher P John Eva. Optik dan refraksi dalam: Vaugandan
Asbury Oftalmologi Umum. Edisi 18. Jakrta : EGC.2013. Hal 30, 393-98
---------------------------
28
PRESBIOPIA
PENGERTIAN
Presbiopi adalah keadaan berkurangnya daya akomodasi pada usia lanjut.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding adalah hipermetropi dan low vision jika hipermetropinya lebih dari 3 dioptri.
29
EDUKASI
Pada presbiopia hampir tidak mungkin penglihatan normal kembali hanya dapat di bantu
dengan kacamata, terutama kacamata baca, dan sebaiknya kontrol untuk memeriksa mata
setiap 6 bulan.
PROGNOSIS
Karena kelainan ini disebakan karena proses degenerasi, maka prognosisnya cukup jelek.
KEPUSTAKAAN
1. Eva RP. Anatomi dan embriologi mata. In: Vaughan DG, Asbury T, Eva RP,
[Link] umum. 16th ed. Jakarta: Penerbit Widya Medika. 2013. 7-15
2. American Academy of Opthalmology Basic and Clinical Course 2012 –2013. Section 3 Optic
Refraction and Contact Lenses. San Francisco, California 1992 : 112-113
3. Kansky Jack J, Clinical Ophalmology, A Sistemic Approach. Third [Link]-Heinem
ann Ltd. Oxford, London, Boston. Munich, New Delhi, Singapore, Sydney, Tokyo, Toronto,
Wellington, 2012; 234-284
-----------------------------
30
HIFEMA PADA RUDAPAKSA TUMPUL
PENGERTIAN
Perdarahan dalam bilik mata depan (BMD) yang berasal dari pecahnya pembuluh darah pada
iris atau badan silier akibat rudapaksa tumpul/trauma tumpul.
PROGNOSIS :
Prognosa tergantung pada berbagai factor, khususnya kondisi awal penderita ketika masuk
rumah sakit.
KEPUSTAKAAN
1. Danny M, (ed), 2011-2012, Basic and Clinical Sciences Course, External Disease and Cornea,
sect. 7, American Academy of Ophthalmology, p.364-368.
2. Paton & Goldberg, 2012, Management of Ocular Injuries, 10th ed., WB Saunders Co.
USA,p.188-198.
3. Roper Hall MJ., 2013, Eye Emergencies, Churchill Livingston New York, p.88-90.
4. Rhee,JD,PyferMF., (ed), 2013, Office and Emergency Room, Diagnosis and Treatment of Eye
Disease, The Wills Eye manual, 3th ed., Lippincott Williams & Wilkins, p.32-37
5. Vaughan D, General ophthalmology, 2013, 17th ed., Lange Medical Publication, Maruzen
Asia,p.351.
-------------------------------
32
RUDAPAKSA TAJAM BOLA MATA
PENGERTIAN
Rudapaksa oleh benda tajam yang merusak sebagian atau seluruh ketebalan dinding luar bola
mata ( sklera atau kornea) dapat berupa titik sampai laserasi.
DIAGNOSIS BANDING
- Infeksi sekunder
- Simpatetik oftalmia
- Katarak traumatika
33
b. Antibiotik profilaksis ( terutama diberikan pada kasus trauma tembus dan fraktur orbita )
secara sistemik (iv), berspektrum luas, dosis tunggal, diberikan preoperasi.
c. Laserasi konjungtiva : robek > 1cm dijahit dengan polyglactine 8.0
d. Laserasi sklera : jahit dengan Nylon/ virgin silk 8.0
e. Laserasi kornea : dijahit dengan nylon 10.0, jahitan interrupted, jarak antara jahitan 2 mm,
secara lameler dengan menggunakan mikroskop.
f. Kapsul lensa pecah, maka pengeluaran lensa dilakukan setelah penjahitan primer
g. Prolaps iris > 24 jam dapat di lakukan iridektomi
h. Prolaps vitreous > 24 jam dapat dilakukan vitrektomi.
EDUKASI
Pada kasus ini sebaiknya di tangani di rumah sakit
PROGNOSIS
Prognosis tergantung dari beberapa faktor. Pasien dengan laserasi korneosklera
yang kecil tanpa trauma intraokular lain memiliki prognosis yang lebih baik
dibandingkan p a s i e n d e n g a n t r a u m a i n t r a o k u l a r l a i n , b e n d a a s i n g
i n t r a o k u l a r , e n d o f t a l m i t i s , penanganan yang terlambat ataupun pasien yang
memiliki trauma yang lain.
KEPUSTAKAAN
1. Danny M, (ed) 2011-2012, Basic and Clinical Sciences Course, External Disease and Cornea,
sect.7, American Academy of Ophthalmology, p.371- 382.
2. Paton & Goldberg, 2010, Management of ocular injuries, 7thed., WB Saunders Co. USA,
p.133-170.
3. Roper Hall MJ., 2010, Eye Emergencies, Churchill Livingston NewYork, p.91-92,99-100
4. Rhee,JD,Pyfer MF. (ed) 2011, Office and Emergency Room, Diagnosis and Treatment of Eye
Disease, The Wills Eye manual, 3thed., Lippincott Williams & Wilkins,p.46-48
5. Vaughan D, General Ophthalmology, 2013, 18thed., Lange Medical Publication, Maruzen
Asia,p.349-350.
-----------------------------
34
OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMALIS
PENGERTIAN
Obstruksi sistem drainase saluran lakrimalis yang disebabkan blok dari katup Hasner yang
menutupi bagian akhir dari saluran nasolakrimalis. Sering pada kasus kongenital 50 % pada bayti
baru [Link] besar obstruksi terbuka spontan 4 – 6 minggu setelah kelahiran
DIAGNOSIS BANDING
- Prmary or secondary punctal stenosis
- Canalicular obstruction
EDUKASI
Pada kasus ini sebaiknya di periksa di rumah sakit
PROGNOSIS
Baik
KEPUSTAKAAN
1. Kanski, Jack J. Lacrimal Drainage System. Clinical Ophtalmology sixthedition. 2012
2. Ilya s, Si d art a , P ro f . d r. St e n o sis d an Ob st ru ksi Du kt u s
N a so lakrimal. Penuntun Ilmu Penyakit Anak edisi kedua. FKUI. 2013.
3. S a st r o s ato mo , e t al l. P e n an gan an Gan g gu an Si st e m E kskr e si La kr ima [Link]:
RSCM. 2011
4. [Link]
5. [Link]
----------------------------
36
RETINOBLASTOMA
PENGERTIAN
Tumor ganas dalam bola mata pada anak dan bayi sampai umur 5 tahun.
DIAGNOSIS BANDING
- Katarak
- Persistent hyperplastic primary vitreus
37
- Retinopathy of prematury
- Ablasi retina
- Panofthalmitis
EDUKASI
Warna keputihan pada pupil anak dan berkilau seperti mata kucing merupakan salah satu
indicator dari retinoblastoma,apabila tampak langsung bawa ke dokter mata .
PROGNOSIS
Bila masih terbatas di retina, kemungkinan hidup 95%
Bila metastase ke orbita, kemungkinan hidup 5%
Bila metastase ke tubuh kemungkinan hidup 0 %
KEPUSTAKAAN
1. Peyman, Apple, Sander : Intraocular tumor Appleton Century, Crot TS, New
York,2012,pp,235-285.
2. Spencer W.H : Opthalmic Pathology, An Atlas and Textbook, Vol II 3 rd ed, WB Saunders,
2011,pp,1292-1351.
3. Vaughan D, Asbury T : General Opthalmology, 12thed, Lange Medical Publication California,
2012, pp.187-188.
4. Tso M. Retinal Disease Biomedical Foundations and Clinical Management. J.B. Lippincott
Company. New York, 2013: 441-443.
5. Prijanto, Hendrian D. Retinoblastoma dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit
Mata. FK UNAIR RS dr. Soetomo. Surabaya, 2013: 65-67.
6. Ilyas S. Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit mata. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2012: 159-161.
7. Clinical opthalmology, an asian perspective, a publication of singapore national eye centre,
2012 : 687-696
8. Khurana AK. Disease of the Orbit. Comprehensive Ophthalmology. Fourth Edition: 280-83
9. America Academy of Ophthalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus in Basic and
Clinical Science Course. Section 6. 2012-13 : 390-99
10. Kanski J Jack. Sixth Nerve in Clinical Ophthalmology A Systematic Approach. 8th ed. 2012
:542-50
38
11. Yanoff M, Fine BS. Chapter 18 Retinoblastoma and Pseudoglioma: Retinoblastoma. Ocular
Pathology: 686-98.
12. Rahman A. Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Retinoblastoma. Majalah Kedokteran
Andalas. Padang, 2012 : 57-62.
------------------------------
39
KATARAK KONGENITAL
PENGERTIAN
Kekeruhan lensa yang terjadi sejak lahir
DIAGNOSIS BANDING
1. Retinoblastoma : tumor ganas yang menyerang retina yang ditandai dengan gejala mata
kucing ( amaurotic cat’s eye ) yang disertai dengan strabismus, glaucoma.
2. Retrolental fibroplasias : timbul akibat pemberian oksigen yang berlebihan pada bayi
premature.
EDUKASI
Informed concern kepada orang tua dan keluarga sangat perlu
40
PROGNOSIS
Baik apabila operasi lebih cepat dilaksanakan sesuai prosedur untuk mencegah terjadinya
ambliopia,dan yang diharapkan penglihatan pasien maju tetapi tidak menjamin penglihatan
dapat melihta dengan jelas seperti orang normal, tergantung penyulit yang didapat.
KEPUSTAKAAN
1. Vaughan D, Asbury : General Opthalmology, 18th ed, lange medical publication, California
,2012, pp. 30-36
2. Basic and Clinical Course : Lens and Cataract, The Foundation of The American Academy Of
Opthalmology, 2011-2012, pp 30-36
----------------------------------
41
RETINOPATHY OF PREMATURITY
PENGERTIAN
Retinopati karena gangguan pada pembentukan pembuluh darah retina pada bayi prematur.
Suatu retinopati yang berat ditandai dengan proliferasi pembuluh darah retina, pembentukan
jaringan parut dan pelepasan retina.
KRITERIA DIAGNOSIS
Berdasarkan lokasi yang terlibat , dibagi :
Zona I : garis lingkaran imaginer dua kali jarak antara optik disc dengan makula
Zina II : garis konsentris imaginer dari zona I sampai ke nasal ora serrata
Zona III: sampai ketemporal dari zona II
DIAGNOSIS BANDING
1. Retinoblatoma
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Funduskopi indirek
B-scan ultrasonografi
Retcam
42
EDUKASI
Informed concern yang jelas keluarga si anak sangat di perlukan pada kasus ini, semakin tinggi
stage kerusakan pada retina maka semakin buruklah penglihatan si anak untuk kedepannya.
PROGNOSIS
Prognosis ROP sangat bergantung pada stadiumnya. Stadium I dan stadium II prognosisnya
[Link] III – V dengan atau disertai dengan “Plus disease” memiliki hasil akhir tajam
penglihatan buruk.
KEPUSTAKAAN
1. Fielder AR, Haines L, Scrivener R, Wilkinson AR, Pollock JI on behalf of the Royal Colleges of
Ophthalmologists and Paediatrics and Child Health and the British Association of Perinatal
Medicine. Retinopathy of prematurity in the UK II: audit of national guidelines for screening
and treatment. Eye 2012; 16(3):285-291.
2. Mathew MR, Fern AI, Hill R. Retinopathy of prematurity: are we screening too many babies?
Eye 2012; 16(5):538-542.
3. Gilbert C, Fielder A, Gordillo L, Quinn G, Semiglia R, Visintin P et al. Characteristics of infants
with severe retinopathy of prematurity in countries with low, moderate, and high levels of
development: implications for screening programs. Pediatrics 2013; 115(5): e518-e525.
4. Section on Ophthalmology. American Academy of Peditrics, American Academy of
Ophthalmology, American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus.
Screening Examination of Premature Infants for Retinopathy of Prematurity. Pediatrics
2013; 117(2):572-576. Erratum in: Pediatrics. 2013;118(3):1324.
5. Flynn JT, Chan-Ling T. Retinopathy of prematurity: two distinct mechanisms that underlie
zone 1 and zone 2 disease. Am J Ophthalmol 2012; 142(1):46-59.
---------------------------
43
KATARAK SENILIS
PENGERTIAN
Setiap kekeruhan lensa yang terjadi pada usia lanjut
DIAGNOSIS BANDING
1. Refleks senile : pada orang tua pada lampu senter tampak warna pupil keabu-abuan mirip
katarak, tetapi pada pemeriksaan reflex fundus positif.
2. Katarak komplikata : katarak terjadi sebagai penyuli dari penyakit mata ( missal : uveitis
anterior ) atau penyakit sistemik ( missal diabetes mellitus ).
3. Katarak karena penyebab lain : missal obat-obatan ( kortikosteroid ), radiasi dan lain - lain
4. Kekeruhan badan lensa
5. Ablasi retina
44
TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
1. Pencegahan sampai saat ini belum ada
2. Pembedahan : dilakukan apabila kemunduran tajam penglihatan penderita telah
mengganggu pekerjaan sehari – hari dan tidak dapat dikoreksi dengan kacamata.
3. Pembedahan pada ekstraksi katarak yang dapat dikerjakan dengan cara :
a. Intrakapsuler : massa lensa dan kapsul di keluarkan seluruhnya
b. Ekstra kapsuler : Massa lensa dikeluarkan dengan merobek kapsul bagian anterior dan
meninggalkankapsul bagian posteriorn.
c. Fakoemulsifikasi : Inti lensa dihancurkan didalam kapsul dan sisa massa lensa
dibersihkan dengan irigasi danaspirasi.
4. Koreksi afakia ( mata tanpa lensa )
5. Implantasi intraokuler : Lensa intra okuler di tanam setelah lensa mata diangkat.
6. Kacamata : kekurangan nya adalah cukup besar dan lapangan pandang terbatas. Kekeruhan
lensa yang dibeikan sekitar + 10 D bila sebelumnya emetrop.
7. Lensa kontak : diberikan pada afakia monokuler dimana penderita koperatf, terampil dan
kebersihan terjamin. Kacamata dan lensa kontak diberikan bila pemasangan lensa intra
okuler tidak dapat dipasang dengan baik atau merupakan kontra indikasi
EDUKASI :
Katarak belum dapat di sembuhkan dengan obat-obatan, hanya dapat di perbaiki dengan cra
operasi.
PROGNOSIS
Baik
KEPUSTAKAAN
1. Vaughan D, Asbury : General Opthalmology, 15th ed, lange medical publication, California
,2012, pp 160 -16o, 164-165
2. Basic and Clinican scienece course : Lense and katarak, the foundsation The America,
academy of othalmology , Academy og ophyhalmology, 2012 – 2013, pp 40pp, 40-45, 96 –
110
3. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology 3rd,Ed. Oxford: Butterworth-Heinemann; 2012. 234-248.
4. Khaw T, Shah P, Elkington AR. ABC of Eyes 4th Edition. London: BMJ Publishing Group; 2013.
52-59.
5. Ariston E, Suhardjo. Risk Factors for Nuclear, Cortical and Posterior Subcapsular Cataract in
Adult Javanese Population at Yogyakarta territory. Ophthalmologica Indonesiana
2012;321:59.
6. Shock JP, Harper RA. Lensa. Dalam: Oftalmologi Umum Ed 14. Alih Bahasa: Tambajong J,
Pendit BU. General Ophthalmology 17th Ed. Jakarta: Widya Medika; 2012.176-177
--------------------------------
45
PRIMARY OPEN ANGLE GLAUCOMA
PENGERTIAN
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap ditandaioleh peninggian
tekanan intraokular, penggaungan dan degenerasi papil saraf optik serta dapat menimbulkan
skotoma ( kehilangn lapangan pandang).2
Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor akueus dan tahanan
terhadap aliran keluarnya dari mata. Tekanan intraokular dianggap normal bila kurang dari 20
mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer aplanasi yang dinyatakan dengan tekanan air
raksa.2
Glaukoma sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak ditemukan dan ditandai
dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaukoma sudut terbuka ini diagnosisnya dibuat
bila ditemukan glaukoma pada kedua mata pada pemeriksaan pertama, tanpa ditemukan
kelainan yang dapat merupakan penyebab.2,3
ANAMNESIS
Glaukoma disebut sebagai “ pencuri penglihatan “ karena berkembang tanpa ditandai dengan
gejala yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaukoma tidak menyadari bahwa
mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya nanti diketahui disaat penyakitnya sudah lanjut
dan telah kehilangan penglihatan.2,5,7
Glaukoma primer yang kronis dan berjalan lambat sering tidak diketahui bila mulainya, karena
keluhan pasien amat sedikit atau samar. Misalnya mata sebelah terasa berat, kepala pening
sebelah, kadang-kadang penglihatan kabur dengan anamnesis tidak khas. Pasien tidak
mengeluh adanya halo dan memerlukan kacamata koreksi untuk presbiopia lebih kuat
dibanding usianya. Kadang-kadang tajam penglihatan tetap normal sampai keadaan
glaukomanya sudah berat.3
Pada akhirnya akan terjadi penyempitan lapang pandang yang menyebabkan penderita sulit
melihat benda-benda yang terletak di sisi lain ketika penderita melihat lurus ke depan ( disebut
penglihatan terowongan).4
PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan tekanan bola mata 3,6,8
Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan tonometer.
Pemeriksaan tekanan yang dilakukan dengan tanometer pada bola mata dinamakan tonometri.
Tindakan ini dapat dilakukan oleh dokter umum dan dokter spesialis lainnya.
Pengukuran tekanan bola mata sebaiknya dilakukan pada setiap orang berusia di atas 20 tahun
pada saat pemeriksaan fisik medik secara umum. Dikenal beberapa alat tonometer seperti alat
tonometer Schiotz dan tonometer aplanasi Goldman.
a. Tonometri Schiotz
Tonometer Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana. Pengukuran tekanan bola mata
dinilai secara tidak langsung yaitu dengan teknik melihat daya tekan alat pada kornea karena itu
dinamakan juga tonometri indentasi Schiotz. Dengan tonometer Schiotz dilakukan indentasi
penekanan terhadap kornea.
46
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan posisi horizontal dan mata ditetesi
dengan obat anestesi topikal atau pantokain 0,5%. Penderita diminta melihat lurus ke suatu titik
di langit-langit, atau penderita diminta melihat lurus ke salah satu jarinya, yang diacungkan, di
depan hidungnya. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan penderita. Dengan ibu jari tangan kiri
kelopak mata digeser ke atas tanpa menekan bola mata; jari kelingking tangan kanan yang
memegang tonometer, menyuai kelopak inferior. Dengan demikian celah mata terbuka lebar.
Perlahan-lahan tonometer diletakkan di atas [Link] Schiotz kemudian diletakkan di
atas permukaan kornea, sedang mata yang lainnya berfiksasi pada satu titik di langit-langit
kamar penderita.
Jarum tonometer akan menunjuk pada suatu angka di atas skala. Tiap angka pada skala
disediakan pada tiap tonometer. Apabila dengan beban 5,5 gram (beban standar) terbaca angka
3 atau kurang, perlu diambil beban 7,5 atau 10 gram. Untuk tiap beban, table menyediakan
kolom tersendiri.
b. Tonometer aplanasi
Cara mengukur tekanan intraokular yang lebih canggih dan lebih dapat dipercaya dan cermat
bias dikerjakan dengan Goldman atau dengan tonometer tentengan Draeger.
Pasien duduk di depan lampu celah. Pemeriksaan hanya memerlukan waktu beberapa detik
setelah diberi anestesi. Yang diukur adalah gaya yang diperlukan untuk mamapakan daerah
kornea yang sempit.
Setelah mata ditetesi dengan anestesi dan flouresein, prisma tonometer aplanasi di taruh pada
kornea. Mikrometer disetel untuk menaikkan tekanan pada mata sehingga gambar sepasang
setengah lingkaran yang simetris berpendar karena flouresein tersebut. Ini menunjukkan bahwa
di semua bagian kornea yang bersinggungan dengan alat ini sudah papak ( teraplanasi). Dengan
melihat melalui mikroskop lampu celah dan dengan memutar tombol, ujung dalam kedua
setengah lingkaran yang berpendar tersebut diatur agar bertemu yang menunjukkan besarnya
tekanan intraokular. Dengan ini selesailah pemeriksaan tonometer aplanasi dan hasil
pemeriksaan dapat dibaca langsung dari skala mikrometer dalam mmHg.
c. Tonometri Digital
Pemeriksaan ini adalah untuk menentukan tekanan bola mata dengan cepat yaitu dengan
memakai ujung jari pemeriksa tanpa memakai alat khusus (tonometer). Dengan menekan bola
mata dengan jari pemeriksa diperkirakan besarnya tekanan di dalam bola mata. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Penderita disuruh melihat ke bawah
Kedua telunjuk pemeriksa diletakkan pada kulit kelopak tarsus atas penderita
Jari-jari lain bersandar pada dahi penderita
Satu telunjuk mengimbangi tekanan sedang telunjuk lain menekan bola mata.
Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat menyatakan tekanan mata
N+1, N+2, N+3 atau N-1, N-2, N-3 yang menyatakan tekanan lebih tinggi atau lebih rendah
daripada normal.
Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau dinilai seperti
pada sikatrik kornea, kornea irregular dan infeksi kornea. Cara pemeriksaan ini memerlukan
pengalaman pemeriksaan karena terdapat faktor subyektif.
47
[Link] 3,6,8
Pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata dengan goniolens.
Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut bilik mata, juga
untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata seperti benda asing. Dengan
gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaukoma penderita apakah glaukoma terbuka atau
glaukoma sudut tertutup dan malahan dapat menerangkan penyebab suatu glaukoma
sekunder.
[Link] 3,6
Oftalmoskopi, pemeriksaan ke dalam mata dengan memakai alat yang dinamakan oftalmoskop.
Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf optik di dalam mata dan akan dapat ditentukan apakah
tekanan bola mata telah mengganggu saraf optik. Saraf optik dapat dilihat secara langsung.
Warna serta bentuk dari mangok saraf optik pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada
kerusakan akibat glaukoma yang sedang diderita.
Kelainan pada pemeriksaan oftalmoskopi dapat dilihat : 8
Kelainan papil saraf optik
- saraf optik pucat atau atrofi
- saraf optik tergaung
Kelainan serabut retina, serat yang pucat atau atrofi akan berwarna hijau
Tanda lainnya seperti perdarahan peripapilar.
5. Tes provokasi 6
Tes minum air
Penderita disuruh berpuasa, tanpa pengobatan selama 24 jam. Kemudian disuruh
minum 1 L air dalam 5 menit. Lalu tekanan intraokular diukur setiap 15 menit selama 1,5
jam. Kenaikan tensi 8 mmHg atau lebih, dianggap mengidap glaukoma.
Pressure Congestive test
Pasang tensimeter pada ketinggian 50-60 mmHg, selama 1 menit. Kemudian ukur tensi
intraokularnya. Kenaikan 9 mmHg, atau lebih mencurigakan, sedang bila lebih dari 11
mmHg pasti patologis.
Kombinasi tes air minum dengan pressure congestive test
48
Setengah jam setelah tes minum air dilakukan pressure congestive test. Kenaikan 11
mmHg mencurigakan, sedangkan kenaikan 39 mmHg atau lebih pasti patologis.
Tes steroid
Diteteskan larutan deksametason 3-4 dd g 1, selama 2 minggu. Kenaikan tensi
intraokular 8 mmHg menunjukkan glaukoma.
tahun atau lebih, penderita diabetes mellitus, pengobatan kortikosteroid lokal atau sistemik
yang lama dan dalam keluarga ada penderita glaukoma, miopia tinggi.2,3,4,6,8
Pemeriksaan Tonometri bila antara kedua mata, selalu terdapat perbedaan tensi intraokular
4 mmHg atau lebih, maka itu menunjukkan glaukoma sudut terbuka.6
Pemeriksaan lapang pandangan 6
Pada glaukoma yang masih dini, lapang pandangan perifer belum menunjukkan kelainan,
tetapi lapang pandangan sentral sudah menunjukkan adanya bermacam-macam skotoma.
Jika glaukomanya sudah lanjut, lapang pandangan perifer juga memberikan kelainan berupa
penyempitan yang dimulai dari bagian nasal atas.
Pemeriksaan oftalmoskopi 6
Pada glaukoma sudut terbuka, didalam saraf optik didapatkan kelainan degenerasi yang
primer, yaitu disebabkan oleh insufisiensi vaskuler.
Pemeriksaan gonioskopi 6
Pada glaukoma sudut terbuka sudutnya normal. Pada stadium yang lanjut, bila telah timbul
goniosinechiae ( perlengketan pinggir iris pada kornea atau trabekula ) maka sudut dapat
tertutup.
Tes provokasi 6
tes minum air kenaikan tensi 8-9 mmHg, mencurigakan, 10 mmHg pasti patologis
tes steroid kenaikan 8 mmHg menunjukkan glaukoma
pressure congestive test kenaikan 9 mmHg atau lebih, mencurigakan . sedangkan 11
mmHg pasti patologis.
DIAGNOSIS BANDING
49
tidak menyembuhkan penyakitnya. Minum sebaiknya sedikit-sedikit. Tak ada bukti bahwa
tembakau dan alkohol dapat mempengaruhi glaukoma.
Obat-obat yang dipakai :
[Link] : miotikum, memperbesar outflow
a. Pilokarpin 2-4%, 3-6 dd 1 tetes sehari
b. Eserin ¼-1/2 %, 3-6 dd 1 tetes sehari
Kalau dapat pemberiannya disesuaikan dengan variasi diurnal, yaitu diteteskan pada waktu
tekanan intraokular menaik. Eserin sebagai salep mata dapat diberikan malam hari.
Efek samping dari obat-obat ini; meskipun dengan dosis yang dianjurkan hanya sedikit yang
diabsorbsi kedalam sirkulasi sistemik, dapat terjadi mual dan nyeri abdomen. Dengan dosis yang
lebih tinggi dapat menyebabkan : keringat yang berlebihan, salivasi, tremor, bradikardi,
hipotensi.
50
Prinsip operasi : fistulasi, membuat jalan baru untuk mengeluarkan humor akueus, oleh karena
jalan yang normal tak dapat dipakai lagi.
2. Trabekulektomi
Pada glaukoma masalahnya adalah terdapatnya hambatan filtrasi (pengeluaran ) cairan mata
keluar bola mata yang tertimbun dalam mata sehingga tekanan bola mata naik.
Bedah trabekulektomi merupakan teknik bedah untuk mengalirkan cairan melalui saluran yang
ada. Pada trabekulektomi ini cairan mata tetap terbentuk normal akan tetapi pengaliran
keluarnya dipercepat atau salurannya diperluas.
Bedah trabekulektomi membuat katup sklera sehingga cairan mata keluar dan masuk di bawah
konjungtiva. Untuk mencegah jaringan parut yang terbentuk diberikan 5 fluoruracil atau
mitomisin. Dapat dibuat lubang filtrasi yang besar sehingga tekanan bola mata sangat menurun.
Pembedahan ini memakan waktu tidak lebih dari 30 menit. Setelah pembedahan perlu diamati
4-6 minggu pertama. Untuk melihat keadaan tekanan mata setelah pembedahan.
51
4. Siklodestruksi
Tindakan ini adalah mengurangkan produksi cairan mata oleh badan siliar yang masuk ke dalam
bola mata. Diketahui bahwa cairan mata ini dikeluarkan terutama oleh pembuluh darah di
badan siliar dalam bola mata. Pada siklodestruksi dilakukan pengrusakan sebagian badan siliar
sehingga pembentukan cairan mata berkurang.
Tindakan ini jarang dilakukan karena biasanya tindakan bedah utama adalah bedah filtrasi.
EDUKASI
Pada dasarnya penyakit glaucoma seperti penyakit hipertensi dan diabetes mellitus, apabila
terdiagnosis glaucoma,maka selamanya akan terdiagnosa glaucoma. Pengobatan yang
dilakukan untuk mengontrol tekanan intra oculi untuk menjadi normal, sehingga resiko
kerusakan pada saraf mata yang lebih lanjut dapat di minimalisasi, tetapi bukan untuk
menyembuhkan sehingga pengobatan ini merupakan pengobatan seumur hidup.
PROGNOSIS 5
Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan glaukoma, pada kebanyakan kasus
glaukoma dapat dikendalikan. Glaukoma dapat dirawat dengan obat tetes mata, tablet, operasi
laser atau operasi mata. Menurunkan tekanan pada mata dapat mencegah kerusakan
penglihatan lebih lanjut. Oleh karena itu semakin dini deteksi glaukoma maka akan semakin
besar tingkat kesuksesan pencegahan kerusakan mata.
KEPUSTAKAAN
1. Vaughan, D.G. Asbury, T. Riodan-Eva, P. Glaukoma. dalam : Oftalmologi Umum, ed. Suyono
Joko, edisi 15, Jakarta, Widya Medika, 2013, hal : 220-232
2. Yulia, glaucoma, diunduh dari [Link] dipublikasikan 3
Desember 2012.
3. Ilyas Sidartha, dkk. Glaukoma. dalam: Ilmu Penyakit Mata, edisi 3, Jakarta,Balai Penerbit
FKUI, 2012, hal 212-217.
4. Anonim, Glaukoma, diunduh dari http: //[Link]/images/[Link] &
imgreful , dipublikasikan tahun 2012.
5. Anonim, Glaukoma, diunduh dari [Link] ,
dipublikasikan Tahun 2012.
6. Wijaya Nana. Glaukoma. dalam : Ilmu Penyakit Mata, ed. Wijaya Nana, cet.6, Jakarta, Abadi
Tegal, 2013, hal : 219-232.
7. Anonim, Macam-Macam Penyakit, diunduh dari [Link] ,
dipublikasikan Tahun 2012.
8. Ilyas, Sidarta, Glaukoma. edisi 3, Jakarta, Sagung Seto, 2012, hal 57-60, 121-139.
----------------------------
52
AGE RELATED MACULAR DEGENERATION
(AMD /ARMD)
PENGERTIAN
Kelainan pada makula yang menyebabkan hilangnya tajam penglihatan pada usia diatas 50
tahun
DIAGNOSIS BANDING
53
EDUKASI
1. Hindari merokok
2. Selalu control apabila memiliki riwayat hipertensi
PROGNOSIS
Penanganan yang tepat sasaran , vitamin dan mineral dapat memperlambat AMD kebentuk
yang lebih lanjut. Wet AMD tidak dapat diobati tetapi progresifitasnya dapat diperlambat
dengan tindakan laser, photodinamik dan injeksi intravitreal.
KEPUSTAKAAN
1. Seddon JM, Willett WC, Speizer FE, Harkinson SE. A prospective study of cigarette smoking
and age-related macular degeneration in women. JAMA 2013; 276:1141-6.
2. Vingerling JR, Hofman A, Grobbee DE, et al. Age-related macular degeneration and smoking.
The Rotterdam Study. Arch Ophthalmol 2013; 114:1193-6.
3. Christen WG, Glynn RJ, Manson JE, et al. A prospective study of cigarette smoking and risk
of age-related macular degeneration in men. JAMA 2013; 276:1147-51.
4. American Optometric Association,care of the patient with aged macular degeneration
2012,243 N. Lindbergh Blvd., St. Louis, MO 63141-7881
5. Murphy RP. Age-related macular degeneration. Ophthalmology
2013; 93:969-71.
---------------------------------
54
OKLUSI VENA RETINA SENTRALIS
PENGERTIAN
Kelainan retina akibat penyumbatan vena retina sentralis yang mengakibatkan gangguan
perdarahan didalam bola mata ditandai dengan hilangnya penglihatan mendadak
DIAGNOSIS BANDING
1. Oklusi arteri retina sentralis
2. Okular iskemia sindrom
55
Follow up :
Untuk oklusi non iskemik : initial follow up selama 3 bulan. Pasien diinstruksikan untuk
segera kontrol bila penglihatan terasa memburuk atau ada tanda2 merah dan nyeri
neovaskularisasi
tipe iskemik : follow up setiap bulan selama 6 bulan untuk deteksi neovaskularisasi segment
anterior
EDUKASI
Pada kasus ini sebiknya di tangani di rumah sakit
PROGNOSIS
Umumnya jelek terutama untuk kemajuan visusnya. Fluoresens angiografi menunjukkan dua
jenis respon ; tipe noniskemik dengan dilatasi dan edema pembuluh darah; dan tipe iskemik
dengan daerah – daerah non perfusi kapiler yang luas atau bukti adanya neovaskularisasi
segmen anterior atau retina.
Jika edema dan perdarahan retina dapat diserap kembali oleh tubuh maka akan dapat
memperbaiki visus.
KEPUSTAKAAN
1. Fonrose, Mark. Retinal Vein Occlusion. Diakses dari
[Link] pada tanggal 30 Maret 2012 pukul 23.00 WIB
2. Dugdale, David C. 2012. Retinal vein occlusion. Diakses dari [Link] padatanggal 30
Maret 2012 pukul 23.00 WIB
3. Tien Y. Wong, and Ingrid U. Scott. 2010. Retinal-Vein Occlusion. N Engl J Med
2010;363:2135-2144
4. Wijana, N. 2013. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Perpustakaan Nasional
5. Trans Am Ophthalmol Soc. 2012; 98;133-143
---------------------------------
56
RETINOPATI DIABETIK
PENGERTIAN
Suatu mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerisakan dan sumbatan pembuluh –
pembuluh darah halus retina akibat komplikasi dari diabetes. Kelainan patologi yang paling dini
adalah perubahan membran basal endotel kapiler dan penurunan jumlah perisit.
57
atau vitreus
PDR dgn HRC NVD ≥ standar photograph 10 A,
atau
Less extensive NVD bila terdapat
perdarahan vitreus atau preretina,
atau
NVE ≥1/2 disc area, bila terdapat
perdarahan vitreus atau preretina
Advanced PDR Extensive vitreus hemorhage
precluding grading, retnal
detachment involving macula or
pthisis bulbi or enucleation
secondary to a complication of DR
Fokal makulopati
Tanda : penebalan retina yang difuse dengan gambaran cystoid. Pada fluorescein angiografi
tampak hiperfluoresensi yang difus dan pola flower-petal
DIAGNOSIS BANDING
1. Retinopati hipertensi
2. CRVO
58
1. Modifikasi gaya hidup : kontrol kgd pengobatan terhadap hiperglikemia dan hipertensi,
olahraga teratur
2. Laser argon fokal pada titik kebocoran retina yang secara klinis menunjukkan edema
bermakna dan dapat memperkecil resiko penurunan penglihatan
EDUKASI
Usahakan untuk selalu mengontrol penyakit diabetes pasien, agar mencegah kerusakan retina
mata menjadi bertambah parah
PROGNOSIS
Pada mata yang mengalami edema makular dan iskemik yang bermakna akan memiliki
prognosa yang lebih jelek dengan atau tanpa terapi laser , daripada mata dengan edema dan
perfusi yang relatif lebih baik.
KEPUSTAKAAN
1. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR, Ofthalmologi Umum, Edisi 18, Widya Medika, Jakarta, 2012,
hal 211-214
2. Nema HV, Text book of Ophtalmology, Edition 8, Medical Publishers, New Delhi, 2012, Page
249-251
3. Freeman WR, Practical Atlas Of Retinal Disease And Therapy, Edition 6, Lippincott-Raven,
Hongkong, 2011, Page 199-213
4. Basic and Clinical Science Course Retinal And Vitreous, Section 12, American Academy Of
Ophthalmology, United State 2012, Page 71-86
5. Langston D, Manual of Ocular Diagnosis and Therapy, Edition 8, Deborah Pavan-Langston,
United State, 2012, Page 192-196
6. Ilyas S, Ilmu Penyakit Mata, Edisi 2, FK UI, Jakarta 2003, Hal 224-227
------------------------------
59
OKLUSI ARTERI SENTRALIS RETINA (CRAO)
PENGERTIAN
Sumbatan pada arteri sentralis retina. Tempat tersumbatnya biasanya di lamina kribosa. Arteri
retina sentralis merupakan cabanng dari arteri oftalmika yang dapat menyebabkan iskemia
retina bagian dalam dan biasanya hanya mengenai satu mata saja.
DIAGNOSIS BANDING
1. Sumbatan vena retina sentralis
2. Retinopati akibat oklusi arteri karotis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Funduskopi
- Fluorescein angiogarfi
- Elekroretinografi
EDUKASI
Kasus seperti ini sebaiknya di tangani di rumah sakit
60
PROGNOSIS
Secara umum prognosis oklusi arteri retina sentralis kurang begitu bagus karena kerusakan
retina yang irreversibel dalam 90 menit. Namun tidak menutup kemungkinan terjadinya
perbaikan visus , bergantung pada letak dan lamanya oklusi.
KEPUSTAKAAN
1. Fonrose, Mark. Retinal Vein Occlusion. Diakses dari
[Link] pada tanggal 30 Maret 2012 pukul 23.00 WIB
2. Dugdale, David C. 2012. Retinal vein occlusion. Diakses dari [Link] padatanggal 30
Maret 2012 pukul 23.00 WIB
3. Tien Y. Wong, and Ingrid U. Scott. 2010. Retinal -Vein Occlusion. N Engl J Med
2010;363:2135-2144
4. Wijana, N. 2013. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Perpustakaan Nasional
5. Trans Am Ophthalmol Soc. 2012; 98;133-143
------------------------------
61
ABLATIO RETINA
PENGERTIAN
Lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen
ANAMNESIS
- Gejala dini : floaters, fotoplasia
- Gangguan lapang pandangan
- Melihat seperti tirai
- Visus menurun tanpa disertai rasa sakit
PEMERIKSAAN FISIK
- Visus menurun
- Gangguan lapang pandangan
- Pada pemeriksaan fundus okuli tampak retina yang terlepas bewarna pucat dengan
pembuluh darah retina yang berkelok – kelok disertai / tanpa adanya robekan retina
62
Selain untuk pemeriksaan, alat ini juga dipakai untuk foto koagulasi retina (dengan
laser)
d. Lensa Hruby dengan biomikroskop
Kekuatan leans : - 55 dioptri
Hanya untuk pemeriksaan bagian sentral dari fundus okuli
e. Lensa +78D ,+80D, +90D dengan biomikroskop, dapat untuk evaluasi fundus okuli
sampai perifer
3. Ditentukan lokalisasi ablasi retina (75% temporal atas )
4. Dicari dan ditentukan lokalisasi dari semua robekan retina
5. USG mata
Harus diperiksa kedua mata, karena ablasi retina merupakan penyakit mata yang cenderung
bilateral.
DIAGNOSIS BANDING
1. Retinoskisis senile : terlihat lebih transparan
2. Separasi koroid : terlihat lebih gelap , dapat melewati ora serrata
3. Tumor koroid ( melanoma maligna ) : perlu pemeriksaan ultrasonografi ( USG )
EDUKASI
Ablasio retina paling sering disebabkan akibat trauma pada mata, apabila setelah terjadi trauma
pasien mengeluhkan penglihatannya menurun dengan drastis, sangat di anjurkan untuk
memeriksakan langsung ke dokter mata.
PROGNOSIS
Prognosa tergantung pada berbagai faktor, khususnya kondisi awal penderita ketika masuk ke
rumah sakit. Tetapi terkadang sewaktu datang ke rumah sakit kebanyakan pasien telah
mengalami kerusakan retina yang berat, sehingga prognosa nya menjadi buruk.
63
KEPUSTAKAAN
1. Benson W.E : Retinal Detachment : Diagnosis and Management, 2nd ed, JB Lipincott Co,
Philadhelpia, London, Mexico City, 2012,pp.113-137.
2. Hollowich F : Ophthalmology a short Textbook, 2012,pp.225-229.
3. Hilton G.F,McLean E.B,Norton E.W : Retinal Detachment a Manual prepared for the Use of
Graduate in Medicine 8thed,AmericanAcademy of Ophthalmology, San Fransisco,
2013,pp.42-46,58,77-91.
4. Vaughan D, Asbury T : General Ophthalmology, 17th ed, Lange Medical Publication, Maruzen
Asia, 2013,pp. 156-158.
5. Suhendro G.,Moestidjah, Suparyadi T., Sasono W.;Pedoman Diagnostik dan Terapi,Bag/SMF
Ilmu Penyakit Mata, Divisi Retina, RSU Dr. Soetomo, tahun 2012.
---------------------------------
64
KARSINOMA SEL BASAL
PENGERTIAN
Karsinoma sel basal berasal dari lapisan basal epitel kulit atau dari lapis luar sel folikel rambut.
Berupa benjolan yang transparan, kadang dengan pinggir yang seperti mutiara. Bagian sentral
benjolan tersebut lalu mencekung dan halus, seakan-akan menyembuh. Tumbuhnya lambat
dengan ulserasi. Jenis ulkus rodiens tumbuh lebih cepat dan dapat menyebabkan kerusakan
hebat disekitarnya.
DIAGNOSIS BANDING
Melanoma maligna
65
TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
Biopsi diperlukan untuk mengkonfirmasi kecurigaan secara klinis dari karsinoma sel basal.
Diagnosis yang sangat akurat bisa dijamin jika pada setiap 66istol insisional jaringan yang akan
diperiksa:
1. Mewakili keadaan lesi secara klinis
2. Ukuran yang tepat untuk pemeriksaan secara histopatologi
3. Tidak menambah trauma atau kerusakan
4. Mengikutsertakan jaringan normal di bagian pinggir sekitar daerah yang dicurigai
Biopsi insisi merupakan salah satu prosedur yang bisa digunakan untuk menkonfirmasi
kecurigaan terhadap tumor ganas. Area dari 66istol insisi seharusnya di potret atau di gambar
dengan pengukuran sehingga daerah asal tumor menjadi tidak sulit untuk ditemukan pada saat
prose pengangkatan tumor berikutnya.
Biopsi eksisi bisa menjadi pertimbangan ketika lesi di kelopak mata kecil dan tidak terlibatnya
daerah di pinggir kelopak mata atau saat lesi di pinggir kelopak mata yang berlokasi di sentral
jauh dari kantus lateral atau pungtum lakrimal. Biopsi eksisi harus diarahkan secara 66istolog
sehingga tidak terjadi traksi pada kelopak mata. Jika pinggir dari daerah kelopak mata yang di
eksisi positif terdapat sel tumor, maka area yang terlibat harus di reeksisi secara pembedahan
dengan teknik Mohs micrographic untuk mengetahui batas bawah atau teknik frozen-section
untuk mengetahui batas samping.
Untuk menatalaksana karsinoma sel basal dapat ada beberapa pilihan terapi, diantaranya :
Bedah
Dilakukan dengan mengeksisi tumor sampai dengan benar-benar meninggalkan sisa. Pilihan
terapi bedah :
Eksisi dengan potong beku (frozen section)
Bedh mikrografi Mohs
Bedah dengan laser CO2
Eksisi tanpa potong beku
Bedah merupakan pilihan terapi dari karsinoma sel basal di kelopak mata. Bedah eksisi
memberikan keuntungan dari diangkatnya tumor secara keseluruhan dengan batas areanya
dikontrol secara 66istology. Tingkat kekambuhan tumor pada terapi bedah lebih sedikit dan
lebih jarang jika dibandingkan jika diterapi dengan modalitas terapi lain.
Ketika karsinoma sel basal bertempat di daerah kantus medial, 66istol aliran air mata juga bisa
terangkat jika dilakukan eradikasi tumor secara komplet. Jika 66istol drainase air mata telah
terangkat setelah proses eradikasi tumor, rekonstruksi 66istol aliran keluar air mata tidak bisa
dilakukan sampai pasien benar-benar bebas dari tumor. Beberapa tumor bisa menyebar ke
daerah subkutan dan tidak dapat diketahui sebelum operasi
Kambuhnya tumor yang sudah diangkat secara total, infiltrasi yang lebih dalam, atau tumor tipe
morphea dan tumor yang berada di kantus medial dikelola dengan cara bedah mikrografi Mohs.
Jaringan diangkat secara lapis demi lapis dan dibuat tipis yang dilengkapi dengan gambar 3
dimensi untuk mengangkat tumor. Reseksi tumor secara mikrografik Mohs paling sering
digunakan untuk mengeksisi karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa.
Mikrografi eksisi bisa menjamin secara maksimal jumlah jaringan yang sehat untuk tidak terlibat
sehingga hanya area tumor yang terangkat secara komplet. Kekurangan dari bedah mikrografi
66
Mohs ini adalah dalam mengidentifikasi batas tumor ketika tumor sudah menginvasi daerah
orbita.
Setelah dilakukan reseksi tumor, kelopak mata seharusnya direkonstruksi dengan prosedur
okuloplastik yang terstandar. Rekonstruksi ini penting walaupun bukan merupakan hal yang
mendesak, pembedahan awal bertujuan untuk melindungi secara maksimal bola mata lalu
diikuti dengan memperbaiki sisa kelopak mata yang masih baik. Jika rekonstruksi tidak bisa
dilakukan segera, kornea harus dilindungi dengan cara menempelkan atau sementara dengan
cara menutup kelopak mata. Jika defeknya kecil, maka granulasi jaringan secara spontan bisa
menjadi 67istology67a terapi.
Untuk lesi yang nodular, angka kekambuhan jika diterapi dengan cryotherapy lebih besar
daripada setelah diterapi secara pembedahan. Saat cryotherapy digunakan untuk menangani
diffuse sclerosing lesion, angka kekambuhan tinggi. Selain itu, secara 67istology pinggir area
tidak bisa dievaluasi dengan cryotherapy. Akibatnya, modalitas terapi ini dihindari untuk lesi
yang kambuh, lesi dengan diameter lebih dari 1 cm, dan lesi tipe morphea. Lagipula,
cryotherapy menimbulkan depigmentasi dan atropi pada jaringan. Maka dari itu, cryotherapy
untuk karsinoma sel basal pada kelopak mata dijadikan cadangan terapi untuk pasien yang
intoleran terhadap pembedahan seperti pasien yang sangat tua yang aktifitasnya terbatas di
tempat tidur, atau pasien dengan kondisi medis yang serius yang kontraindikasi untuk dilakukan
intervensi bedah.
Jika tumor terbatas pada adneksa dilakukan eksisi 3-5 mm dari batas makroskopis. Sedangkan
jika tumor sudah menginvasi orbita, maka ada dua pilihan terapi secara eksentrasi yaitu dengan
mengangkat seluruh bola mata disertai dengan adneksa mata dengan meninggalkan bagian
tulang saja, selain itu juga bisa dilakukan radioterapi. Jika sudah menginvasi 67istology67al
harus dikonsultasikan ke bagian bedah saraf.
Non bedah
Dilakukan jika lokasi cukup sulit untuk dilakukan pembedahan, respon dari terapi non bedah
cukup bagus tetapi memiliki efek samping yang cukup banyak. Pilihan terapi non bedah yaitu :
Radioterapi
Kemoterapi
Interferon
Terapi radiasi juga bisa dipertimbangkan sebagai terapi paliatif tetapi untuk lesi periorbita
sebaiknya dihindari. Seperti cryotherapy, terapi radiasi juga tidak bisa digunakan untuk
memantau area pinggir tumor secara 67istology. Angka kekambuhan jika diterapi dengan
radiasi juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan terapi pembedahan. Ditambah lagi,
kekambuhan setelah radiasi sulit untuk dideteksi. Kekambuhan ini timbulnya lebih lama setelah
terapi awal dan lebih sulit untuk menangani secara pembedahan karena telah terjadi
perubahan dari struktur jaringan yang telah diradiasi sebelumnya.
Komplikasi yang terjadi akibat terapi radiasi diantanya adalah timbulnya sikatrik pada kelopak
mata, pembentukan scar pada drainase air mata disertai dengan obstruksi, keratitis sica. Radiasi
juga merangsang timbulnya keganasan baru atau cedera pada bola mata yang timbul jika bola
mata tidak dilindungi selama terapi.
67
EDUKASI
Karsinoma sel basal merupakan tumor ganas, seemakin cepat penangaan dan perbaikan maka
semakin baik pula hasilnya.
PROGNOSIS
Baik apabila berlum terjadi metastase yang luas
KEPUSTAKAAN
1. Anonim. Eyelid Disorders : Diagnosis and Management. Available from : [Link]. ( di
akses 21 Mei 2012 )
2. Anonim. Eyelid Skin Cancer. Available from : [Link]. ( di akses 21 Mei 2012 )
3. Ilyas. S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. FK UI. Hal : 1-2. ( di akses 21 Mei 2012 )
4. Vaughan, D, etc. Oftalmologi Umum. Jakarta. Widya Medika. Hal :17-20. ( di akses 21 Mei
2012 )
5. Anonim. Basal Cell Carcinoma. Available from : [Link] ( di akses 21 Mei 2012
)
-----------------------------
68