Pengaruh Herbal pada Kualitas Daging Ayam
Pengaruh Herbal pada Kualitas Daging Ayam
oleh
Kepada
Temulawak mengandung zat utama yaitu kurkumin dan minyak atsiri berwarna
kuning muda dengan bau yang berkarakteristik dengan rasa yang tajam serta bersifat
antiseptik dan penggunaannya sebagai pewarna makanan. Kurkumoid jauhlebih unggul
dari temu-temuan lainnya (Liang dkk., 1985).
Temulawak memiliki kandungan kurkumin yang ekstraknya sangat manjur untuk
pengobatan penyakit hati, menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan untuk menjaga
serta menyehatkan hati (lever) atau istilah medisnya hepatoprotektor (Sinar Harapan,
2002).
Temulawak adalah beberapa jenis tanaman yang bisa kita gunakan untuk
menggantikan antibiotik sintetik. Temulawak memiliki kandungan senyawa aktif atau
bioaktif yang memiliki fungsi seperti bahan- bahan kimia pada antibiotik sintetik.
Senyawa aktif tersebut adalah kurkumin dan xanthorizol. Menurut Rukayadi dan
Hwang (2006) efektifitas xanthorrhizol yang diisolasi dari temulawak khasiatnya sama
dengan antijamur komersil jenis amphotericin B.
Rimpang temulawak mempunyai berbagai khasiat yaitu sebagai analgesik,
antibakteri, antijamur, antidiabetik, antidiare, antiinflamasi, antihepatotoksik,
antioksidan, antitumor, depresan, diuretik, hipolipidemik, dan insektisida (Purnomowati
2008). Sidik et al (1995) melaporkan, komposisi kimia rimpang temulawak tersusun
atas pati sebanyak 48 - 59.64%, kurkuminoid 1.6 - 2.2%, dan minyak atsiri 1.48 -
1.63% . Pati tersusun atas abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kurkuminoid,
kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, mangan dan kadniu. Sedangkan untuk
komponen minyak atsiri temulawak tersusun atas feladren, kamfer, tumerol,
tolilmetilkarbinol, ar-kurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron, ß-tumereon dan
xantorizol (Rahardjo & Rostiana, 2005).
2.6 Konsumsi Ransum
Suprijatna et al., (2005) menyatakan bahwa pakan starter diberikan pada
ayam berumur 0-3 minggu, sedangkan ransum finisher diberikan pada waktu ayam
berumur empat minggu sampai panen. Konsumsi pakan merupakan jumlah pakan
yang dimakan dalam jangka waktu tertentu. Pakan yang dikonsumsi ternak digunakan
untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat nutrisi lain. Konsumsi pakan tiap ekor
ternak berbeda-beda. Konsumsi diperhitungkan sebagai jumah makanan yang
dimakan oleh ternak (Tillman et al., 1991) dan bila diberikan adlibitum (Parakkasi,
1999). Wahju (2004) menyatakan bahwa besar dan bangsa ayam, temperatur lingku
ngan, tahap produksi dan energi dalam pakan dapat mempengaruhi konsumsi. Saat
cuaca panas, ayam berusaha mendinginkan tubuhnya dengan cara bernafas secara cepat
(panting). Tingkah laku dapat peredaran darah banyak menuju ke organ pernafasan,
sedangkan peredaran darah pada organ pencernaan mengalami penurunan sehingga
bisa mengganggu pencernaan dan metabolisme. Pakan yang dikonsumsi tidak bisa
dicerna dengan baik dan nutrien dalam pakan banyak yang dibuang dalam bentuk feses
(Bell dan Weaver, 2002). Penelitian Kusnadi (2006) menunjukkan bahwa konsumsi
pakan ayam broiler berumur 5 minggu pada suhu 240 C sebesar 1918 g/ekor, sementara
pada suhu 320 C konsumsi pakan
sebesar 1667 g/ekor. Konsumsi pakan ayam broiler strain CP 707 yang dipelihara
pada suhu nyaman pada umur lima minggu adalah 2967 g/ekor.
2.7 Konsumsi Air Minum
Air minum merupakan bagian yang sangat esensial bagi ayam jantan tipe petelur
dan kekurangan air dapat menyebabkan penurunan yang nyata dalam efisiensi
penggunaan ransum. Menurut Scott et al. (1982), air mempunyai fungsi sebagai
berikut : (1) zat dasar darah, cairan intraseluler dan intraseluler yang bekerja aktif
dalam transformasi zat-zat makanan, (2) penting dalam mengatur suhu tubuh karena air
mempunyai sifat menguap, (3) membantu mempertahankan homeostatis dengan ikut
dalam reaksi dan perubahan fisiologis yang mengontrol pH, tekanan osmos dan
konsentrasi elektrolit.
Wahju (2004) menambahkan, kehilangan air tubuh sebanyak 10% dapat
menyebabkan kerusakan yang sangat hebat dan kehilangan air tubuh 29% akan
menyebabkan kematian. Kebutuhan air bagi ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu faktor ransum yang diberikan, faktor lingkungan, kesanggupan menahan air,
aktifitas ternak dan kondisi fisiologis ternak (Amin, 2015).
2.8 Konversi Ransum
Konversi ransum merupakan salah satu cara mengevaluasi performans ternak,
diperoleh dari banyaknya makanan yang dikonsumsi (dalam gram) dibagi dengan
pertambahan bobot badan hasil pengukuran. Rasyaf (1999) menyatakan salah satu
ukuran efisiensi adalah dengan membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan
(input) dengan hasil yang diperoleh baik itu daging atau telur (output). Nilai suatu
ransum selain ditentukan oleh nilai konsumsi ransum dan tingkat pertambahan bobot
badan juga ditentukan oleh tingkat konversi ransum, dimana konversi ransum
menggambarkan banyaknya jumlah ransum yang digunakan untuk pertumbuhannya
(Wiradisastra, 1986).
Semakin rendah angka konversi ransum berarti kualitas ransum semakin baik.
Anggorodi (1980) menyatakan bahwa nilai konversi ransum dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah suhu lingkungan, laju perjalanan ransum melalui
alat pencernaan, bentuk fisik dan konsumsi ransum. Nilai konsumsi ransum
berhubungan dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum karena semakin tinggi
konversi ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang
dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin
tinggi. Nilai konversi ransum yang tinggi menunjukkan jumlah ransum yang
dibutuhkan untuk menaikan bobot badan semakin meningkat dan efisiensi ransum
semakin rendah.
2.9 Pertambahan Bobot Badan
Produksi ternak sangat ditentukan oleh pertumbuhan. Pertumbuhan
mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk
tulang, otot dan lemak. Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan dalam bentuk
dan jaringan seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan tubuh lainnya
(Anggorodi, 1980). Untuk mendapatkan pertambahan bobot badan yang maksimal
maka sangat perlu diperhatikan keadaan kuantitas ransum. Ransum tersebut harus
mengandung zat nutrisi dalam keadaan cukup dan seimbang sehingga dapat menunjang
pertumbuhan maksimal (Herlina, 2015).
Kecepatan pertumbuhan mempunyai variasi yang berbeda-beda. Keadaan ini
bergantung pada jenis kelamin, galur, tatalaksana, temperatur, lingkungan dan kualitas
ransum (Anggorodi, 1980). Keseimbangan zat-zat nutrisi, terutama imbangan energi
dan protein nyata mempengaruhi pertumbuhan. Pada umumnya semua ternak unggas,
khususnya ayam jantan tipe petelur termasuk golongan yang memiliki pertumbuhan
cepat.
Pada masa pertumbuhan, ayam harus mengkonsumsi ransum yang banyak
mengandung protein, zat ini berfungsi sebagai penambahan jumlah sel (hyperplasia)
dan pengganti sel yang rusak sehingga adanya penambahan ukuran (hypertropi) pada
ayam. Kebutuhan protein perhari ayam yang sedang bertumbuh dibagi menjadi tiga
bentuk kebutuhan yaitu protein dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan, protein untuk
hidup pokok dan protein untuk pertumbuhan bulu (Wahju, 2004).
BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakasanakan di kandang penelitian unggas Fakultas Peternakan
Universitas Nusa Cendana, Kupang selama satu bulan.
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian berlansung selama 4 minggu yang terdiri dari 1 minggu penyesuaian dan 3
minngu pengumpulan data.
3.3 Materi Penelitian
1. Ternak penelitian
Ternak ayam yang digunakan dalam penelitian ini ayam broiler Day Old
Chick (DOC) strain CP707 sebanyak 80 ekor produksi PT Charoen Pokphand
Indonesia.
2. Kandang
Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang sistem litter
yang dibagi dalam 24 petak kandang.
3. Peralatan.
Peralatan yang digunakan terdiri dari tempat pakan, tempat air minum, lampu
pijar, termometer suhu ruangan, timbangan dengan kapasitas 1200 gram dengan
kepekaan 1 gram, timbangan duduk berkapasitas 5 kg dan beberapa alat lainnya
seperti sapu, ember serta gayung.
4. Ransum
Pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan komersial yaitu CP-
11 untuk ayam fase starter danCP-12 untuk ayam fase finisher yang diproduksi dari
PT Charoen Pokphan, tepung kunyit dan tepung jahe.
Tabel 1. Komposisi nutrisi dari masing-masing bahan pakan
Bahan pakan Kandungan nutrisi
PK (%) LK (%) SK (%) EM (kkal/kg)
konsentrat (a) 21,5-23,5 5,00 5,00 300-3100
Tepung Kunyit (b) 8,39 2,84 10,85 0
Tepung Jahe (c) 12,30 4,50 10,30 0
Tepung Temulawak (d) 9,68 3,25 22,7 0
(a) (b)
Label produksi pakan PT. Charoen Pokphand; Bintang 2005, (c) Ravindran et
al,2005, (d)
3.4 Variabel Yang Diukur
[Link] Ransum
Jumlah konsumsi ransum dihitung dengan cara menimbang ransum yang
diberikan dikurangi ransum sisa dibagi dengan jumlah ayam setiap hari selama
penelitian. Jumlah konsumsi ransum ayam (gram/ekor/minggu) dapat diketahui
berdasarkan rumus:
jumlah ransum yang diberikan (g) − sisa ransum (g)
Jumlah ternak tiap perlakuan (ekor)
[Link] Air Minum
Konsumsi air minum diperoleh dari mengurangi jumlah air minum yang
diberikan dengan sisa air minum setiap hari (ml). Jumlah konsumsi air minum ayam
(ml/ekor/hari) dapat diketahui berdasarkan rumus:
[Link] Ransum
Konversi ransum merupakan pembagian antara konsumsi ransum pada minggu
itu dengan pertambahan berat badan yang dicapai pada minggu yang sama dapat
diketahui berdasarkan rumus:
Jumlah konsumsi pakan (gram)
PBB(Kg)
[Link] Bobot Badan
Pertambahan bobot badan ayam broiler diperoleh dengan menghitung selisih
bobot badan akhir dengan bobot badan awal (g) setiap minggu. Pertambahan bobot
badan dapat dihitung dengan rumus:
Bobot badan akhir – Bobot badan awal
Lama waktu penelitian
3.5 Metode Penelitian.
Metode penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Setiap
unit percobaan diisi 4 ekor ayam broiler :
R0 : Pakan komersial tanpa penambahan tepung kunyit, tepung temulak dan tepung jahe
R1 : Pakan komersial + tepung kunyit 16 gr/kg
R2 : Pakan komersial + tepung temulawak 16 gr/kg
R3 : Pakan komersial + tepung jahe 16 gr/kg
3.6 Prosedur Penelitian
1) Persiapan kandang penelitian
Sebelum penelitian, kandang dan semua peralatan kandang disterilkan dengan
larutan antiseptik, kemudian dilakukan penebaran sekam sebagai litter dan memasang
alat pemanas dan lampu penerang.
2) Pengacakan nomor perlakuan
Pengacakan dimulai dengan kertas digunting sebanyak 24 lembar, kemudian
kertas tersebut diberi nomor sesuai jumlah perlakuan dan ulangan. Kertas yang sudah
diberi nomor kemudian dimasukkan ke dalam kotak untuk diundi. Setiap petak diberi
satu gulungan kertas yang sudah diacak dengan prosedur yang ditetapkan.
3) Pembuatan tepung kunyit dan tepung jahe
Prosedur pembuatan tepung kunyit :
1. Kunyit dicuci dengan air hingga bersih
2. Kunyit diiris tipis lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering (kadar
air berkurang ditandai dengan berat menyusut selama penjemuran)
3. Setelah kering, digiling menjadi tepung
Prosedur pembuatan tepung jahe :
1. Jahe dicuci dengan air hingga bersih
2. Jahe diiris tipis lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering (kadar air
berkurang ditandai dengan berat menyusut selama penjemuran)
3. Setelah kering, digiling menjadi tepung
Prosedur pembuatan tepung temulawak :
1. Temulawak dicuci dengan air hingga bersih
2. Temulawak diiris tipis lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering
(kadar air berkurang ditandai dengan berat menyusut selama penjemuran)
3. Setelah kering, digiling menjadi tepung
Prosedur pencampuran ransum
Kunyit, jahe dan temulawak dihaluskan dengan cara pengilingan hingga
menjadi tepung. Tepung kunyit, jahe dan temulawak ditimbang sesuai perlakuan yang
dipakai untuk dicampurkan dicampurkan dengan pakan
3.7 Persiapan kandang sebelum DOC masuk
a. kandang DOC dilengkapi lampu pemanas sekaligus penerang dengan kapasits 75 watt
dan digantung 15 cm diatas lantai kandang
b. kandang dibagi dalam 24 petak
c. sebelum DOC tiba, beberapa hal yang dilakukan yaitu:
1. sanitasi kandann
2. pencucian tempat pakan dan minum
3. kandang di semprot dengan desinfektan dan ditaburi dengan kapur.
4. liter yang digunakan dari sekam padi yang sudah kering dan bersih
3.8 Analisis Data
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisys of variance
(ANOVA), (Yitnosumarto, 1993). Apabila perlakuan berpengaruh nyata, akan
dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1991 dalam Praktini,
2010). Adapun model Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah: Yij = μ + ɑi + ɛij
Keterangan:
Yij : Nilai pengamatan perlakuan ayam ke-i dan memperoleh ulangan ke-j
μ : Nilai rata-rata sebenarnya atau nilai tengah umum
ɑi : Pengaruh perlakuan ke-i
ɛij : Perlakuan galat percobaan pada ayam jantan petelur ke-i dan memperoleh
ulangan ke-j.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, S. 2015. Pengaruh Penambahan Larutan Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica) dalam
Air Minum Terhadap Kualitas Telur Burung Puyuh. Fakultas Pertanian. Universitas
Djuanda Bogor. Bogor. Jurnal Peternakan Nusantara 1 (2) 115-125.
Bell, D.D. and W.D. Weaver, 2002. Commercial Chicken Meat and Egg Production.
Academic Pub-lisher, United States of America.#
Chen et al., (2010). Are Family Firms More Tax Aggressive Than Non-Family Firms?Journal
of Financial Economics, 41-61.
Dalimartha. S. 1991. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1-2. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Herlina, Betty. 2015. Pengaruh Jenis dan Waktu Pemberian Ransum terhadap Peformans
Pertumbuhan dan Produksi Ayam Broiler. Fakultas Pertanian Universitas Musi
Rawas. Lubuklinggau. Jurnal Sain Peternakan Indonesia 10 (2) 107-113.
Murdiati, T. B. 1997. Pemakaian antibiotika dalam usaha peternakan. Wartazoa 6(1): 18-22.
Natsir, hasnah dkk., 2013, Kimia Organik, UPT MKU Universitas Hasanuddin,Makassar
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press). Jakarta.
Riyadi, Slamet. 2009. Diktat Space Vector Modulation. Unika Soegijapranata Semarang.
Rostiana, 2005. Budidaya Tanaman Jahe. Buletin Sirkuler (11). Pp: 1-13
Soeharsono H., Adriani L., Safitri R., Sjofjan O., Abdullah S., Rostika R., Lengkey H.A.W.,
and Musawwir A., 2010. Probiotik ; Basis Ilmiah, Aplikasi, dan Aspek Praktis. Widya
Padjadjaran. Bandung.
Sudarsono, 1996. Tanaman Kunyit Manfaat Khasiat Dan Kandungan Bagi Kesehatan.
Diakses dari [Link] Diakses tanggal 27 Maret 2010.
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Ternak Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakartafv
Wiradisastra, M.D.H. 1986. Efektivitas Keseimbagan Energi dan Asam Amino dan Efisiensi
Absorbsi Dalam Menentukan Persyaratan Kecepatan Tubuh Ayam Broiler. Disertasi,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Wreda. [Link]., Eko. W dan Osfar. S. 2013. Pengaruh penambahan kombinasi tepung jahe
merah, kunyit dan meniran dalam pakan terhadap kecernaan zat makanan dan energy
metabolis ayam pedaging. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 24 (1): 1 – 8