0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan21 halaman

Pengaruh Herbal pada Kualitas Daging Ayam

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit, jahe, dan temulawak terhadap kualitas fisik daging ayam broiler. Tanaman herbal seperti jahe, temulawak, dan kunyit diketahui memiliki manfaat untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan ayam. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pemanfaatan sumber daya alam setempat sebagai bahan pakan ternak.

Diunggah oleh

Separow
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan21 halaman

Pengaruh Herbal pada Kualitas Daging Ayam

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit, jahe, dan temulawak terhadap kualitas fisik daging ayam broiler. Tanaman herbal seperti jahe, temulawak, dan kunyit diketahui memiliki manfaat untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan ayam. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pemanfaatan sumber daya alam setempat sebagai bahan pakan ternak.

Diunggah oleh

Separow
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KUNYIT, TEPUNG JAHE DAN TEPUNG

TEMULAWAK TERHADAP TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING AYAM


BROILER

Usulan penelitian untuk skripsi S-1

oleh

FRANSISKUS WAKE DJEN


1505030087

Kepada

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
JULI, 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ayam broiler merupakan ternak yang paling cepat pertumbuhannya karena
merupakan hasil budidaya yang menggunakan teknologi maju, sehinggga memiliki sifat
sisat ekonomi yang menguntungkan. Oleh karena itu, peternakan unggas khususnya
ayam broiler merupakan subsektor yang sampai saat ini masih diandalkan untuk
memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat
Di Indonesia banyak peternak percaya bahwa produksi ternak hampir tidak
mungkin berhasil tanpa penggunaan antibiotika sebagai perangsang pertumbuhan. Oleh
karena itu sejak tahun 1970-an pada saat peternakan mulai berkembang di Indonesia,
muncul penggunaan antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dan untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan pakan. Namun masalah yang timbul ialah pemanfaatan antibiotika
sebagai feed additive (imbuhan) walaupun aplikasi ini bukan diterapkan pada manusia,
namun penggunaan antibiotika untuk ternak ini memiliki dampak terhadap kesehatan
manusia (Soeharso dkk, 2010). Oleh karena itu perlu dicari pemecahan masalah tersebut
dengan cara menggunakan tanaman herbal sebagai antibiotik.
Tanaman herbal yang berpotensi berperan sebagai antibiotik adalah kelompok
tanaman rimpang seperti jahe (Zingiber officinale), temulawak (Curcuma Xanthorrizha
Roxb) dan kunyit (Curcuma domestica).
Pemberian jahe (Zingiber officinale) secara mandiri dengan cara diekstrak dan
ditambahkan pada air minum ayam pedaging dapat meningkatkan nafsu makan,
meningkatkan kerja organ pencernaan, ternak menjadi lebih sehat (tidak mudah terserang
penyakit ), pertumbuhan dan produktivitasnya optimal dan kandang tidak menimbulkan
bau yang menyengat, mempertahankan daya tahan tubuh ternak, dan meningkatkan
efisiensi pakan (Sudarsono, 1996).
Pada ternak kunyit (Curcuma domestica) dapat digunakan sebagai bahan pakan
tambahan yang dapat meningkatkan nafsu makan, meningkatkan kerja organ pencernaan,
merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang
keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase, dan protease yang
berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan
protein, sehingga ternak menjadi lebih sehat, mempertahankan daya tahan tubuh ternak,
pertumbuhan dan produktivitasnya optimal, meningkatkan efisiensi pakan, aroma karkas
tidak amis. Disamping itu minyak atsiri yang dikandung kunyit dapat mempercepat
pengosongan isi lambung (Sudarsono, 1996).
Temulawak (Curcuma Xanthorrizha Roxb) dan kunyit megandung zat warna
yang berasal dari pigmen rimpangnya yang mengandung zat warna kuning (kurkumoid).
Zat warna ini diduga dapat menambah cerah warna pada daging ayam broiler. Penelitian
yang dilakukan oleh Masni et al (2010) memperlihatkan bahwa ayam broiler yang diberi
ekstrak temulawak dan kunyit pada ransumnya sebanyak 3% akan menghasilkan daging
dengan tingkat kecerahan terbaik yaitu sebesar 3,08 – 4,36 dan keempukan yang berkisar
antara 3,52 – 4,48 dari nilai rata – rata perlakuan. Hasil penelitian ini berbeda dengan
yang disampaikan oleh Yunilas et al (2005) yang menyatakan bahwa pemberian tepung
temulawak dan kunyit pada ransum ayam broiler sebesar 4% tidak memberikan pengaruh
terhadapa warna daging dan keempukan dari daging yang dihasilkan. Perbedaan hasil ini
kemungkinan besar disebabkan karena perbedaan dosis dan bentuk dari temulawak dan
kunyit yang diberikan kepada ternak.
Penggunaan tanaman herbal sebagai imbuhan dalam pakan (feed additive) harus
berhati-hati jika tidak didahului penelitian yang intensif. Meskipun banyak pendapat
menyatakan bahwa tanaman herbal bersifat organik dan aman, beberapa kasus yang
timbul akibat penggunaan tanaman herbal adalah keracunan karena mengandung
komponen yang bersifat toksik.
Dalam penelitian Wreda et al (2013) menyatakan bahwa dengan penambahan
kombinasi tepung jahe merah, kunyit dan meniran 16 g/kg dalam pakan meningkatkan
pencernaan protein namun tidak dapat meningkatkan pencernaan lemak, energi metabolis
semu dan energi metabolis semu terkoreksi nitrogen.
Berdasarkan latar belakang diatas maka akan dilakukan penelitian dengan judul.
“Pengaruh penambahan tepung kunyit dan jahe pada pakan ternak terhadap
performa ayam broiler”
1.2 Rumusan Masalah
Apakah penggunaan tepung kunyi, tepung tepung jahe, dan tepung temulawak
dalam pakan mempengaruhi performa ayam broiler?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui kualitas ayam broiler yang diberikan pakan dengan campuran
tepung kunyit, jahe dan tepung temulawak
1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai salah satu sumber informasi bagi pemerintah dalam memanfaatkan sumber
daya alam daerah contoh pemanfaatan tepung kunyit, jahe dan tepung temulawak
dalam pakan untuk melihat kualitas dari ayam broiler
2. Sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat dan industri peternakan bahwa
jahe dan kunyit atau sumber daya alam dapat di manfaatkan sebagai bahan bahan
pakan.
3. Sebagai suatu pengetahuan baru bagi pengembangan ilmu peternakan khususnya
pemeliharaan unggas dalam dunia pendidikan.
1.5 Hipotesis
H0 : Pengaruh penambahan tepung kunyit, jahe dan tepung temulawak pada pakan
ternak berpengaruh terhadap performa ayam broiler.
H1 : Pengaruh penambahan tepung kunyit jahe dan tepung temulawak pada pakan
ternak tidak berpengaruh terhadap performa ayam broiler.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Broiler
Ayam pedaging digolongkan kedalam kelompok unggas penghasil daging,
artinya dipelihara khusus untuk menghasilkan daging. Umumnya memiliki ciri-ciri
sebagai berikut : kerangkatubuh besar, pertumbuhan badan cepat, pertumbuhan bulu
yang cepat, lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging. Ayam pedaging
adalah galur ayam hasil rekayasa genetik yang memiliki karakter ekonomis dengan ciri
khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, masa panen pendek, menghasilkan
daging berserat lunak, timbunan daging baik, dada lebih besar, dan kulit licin (Rasyaf,
2008). Ayam broiler merupakan ayam jantan atau ayam betina yang berumur di bawah
8 minggu ketika dijual dengan bobot tubuh tertentu, mempunyai pertumbuhan yang
cepat dan fantasis, yaitu mampu mencapai 1-2 kg dalam waktu 5-6 minggu (Rasyaf
,1992). Karakteristik broiler bersifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan ayam
cepat, bulu merapat ke tubuh ternak kulit ayam putih, dan produksi telur rendah
(Suprijatna et al., 2008).
2.2 antibiotik
Di Indonesia banyak peternak percaya bahwa produksi ternak hampir tidak
mungkin berhasil tanpa penggunaan antibiotika sebagai perangsang pertumbuhan. Oleh
karena itu sejak tahun 1970-an pada saat peternakan mulai berkembang di Indonesia,
muncul penggunaan antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dan untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan pakan. Namun masalah yang timbul ialah pemanfaatan antibiotika
sebagai feed additive (imbuhan) walaupun aplikasi ini bukan diterapkan pada manusia,
namun penggunaan antibiotika untuk ternak ini memiliki dampak terhadap kesehatan
manusia (Soeharso dkk, 2010).
Penggunaan antibiotik sebagai obat antistress akibat cekaman panas dinilai
kurang baik digunakan karena menimbulkan residu dan membahayakan konsumen.
Penggunaan antibiotik dapat meningkatkan penyakit infeksi yang resistan terhadap
antibiotik pada manusia (Murdiati, 1997; Saleha et al., 2009). Penggunaan antibiotika
secara berlebihan dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan mikroorganisme
dalam saluran pencernaan serta resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik (An den
bogaard dan Stobberingh, 2000).
2.3 jahe
Jahe merupakan tanaman berbatang semu, tinggi 30 cm sampai dengan 1 m,
tegak, tidak bercabang, tersusun atas lembaran pelepah daun, berbentuk bulat, berwarna
hijau pucat dan warna pangkal batang kemerahan. Akar jahe berbentuk bulat, ramping,
berserat,berwarna putih sampai coklat terang. Tanaman ini berbunga majemuk berupa
mulai muncul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur yang sempit, dan
sangat tajam (Salim, 1990). Tanaman jahe membentuk rimpang yang ukurannya
tergantung pada jenisnya. Bentuk rimpang pada umumnya gemuk agak pipih dan tampak
berbuku-buku. Rimpang jahe berkulit agak tebal yang membungkus daging rimpang,
yang kulitnya mudah dikelupas. (Dalimartha, 1991).
Jahe putih besar mempunyai rimpang besar berkuku, berwarna putih kekuningan dengan
diameter 8,47-8,50 cm, aromanya kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,30-11,30 cm, warna
daun hijau muda, kadar minyak atrisi didalam rimpang 0,82-2,8%. Jahe emprit mempunyai rimpang
kecil berlapis-lapis, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,47-4,05 cm, aromanya tajam,
tinggi dan panjang rimpang 6,38-11,10 cm, warna daun hijau muda, kadar minyak atrisi didalam
rimpang 1,50-3,50%. Jahe merah aromanya tajam dan rasanya sangat pedas, mempunyai rimpang
kecil berlapis, berwarna putih kekuningan dengan diameter 4,20-4,26 cm, aromanya sangat tajam,
tinggi dan panjang rimpang 5,26-10,40 cm, warna daun hijau muda, kadar minyak atrisi didalam
rimpang 2,58-3,90% (Rostiana, 2005).
Kandungan nutrisi pada jahe
No. Jenis nutrisi Jumlah
1 Kalori 80 kcal
2 Karbohidrat 17,77 gr
3 Air 78,89 gr
4 Protein 1,82 gr
5 Glukosa 1,7 gr
6 Serat kasar 1,7 gr
7 Lemak kasar 0,75 gr
8 Vitamin A,C, D, E, 0 ug, 5 mg
9 Vitamin B2 (riboflavin) 3%
10 Vit. B1 ( Thiamine) 2%
11 Vit. B3 (Niacin) 5%
12 Vit B5 (panthothenic) 4%
13 Vit. B9 (folat) 3%
14 Kalsium ( Ca ) 2%
15 Zat besi 5%
16 Posphor 5%
17 Kalium 9%
18 Sodium 1%
19 Seng ( Zinc) 4%
Itulah beberapa kandungan zat yang terdapat didalam jahe, nutrisinya lengkap
sehingga banyak dimanfaatkan untuk menjaga stamina serta mengobati ayam peliharaan,
adapun manfaat jahe yang perlu kita ketahui :
Manfaat jahe untuk ayam :
Beberapa manfaat jahe untuk ternak ayam broiler, ataupun ayam bangkok menurut
(Wisnu, 2018) adalah seperti berikut :
1. Melancarkan system pencernaan
Khasiat jahe yang mungkin belum banyak diketahui oleh para peternak
pemula adalah sebagai obat alami yang dapat membantu melancarkan system
pencernaan, yaitu untuk membersihkan usus besar dan mengeluarkan gas beracun
dalam tubuh ayam.
2. Mengobati pembekakan dan peradangan.
Jahe juga mengandung senyawa atau zat anti peradangan yang dipercaya
sangat ampuh dapat mengurangi gejala pembengkakan serta meredakan rasa nyeri
pada sendi dan otot, sehingga sangat cocok untuk mengobati ayam lumpuh.
3. Membantu menetralkan suhu tubuh
Air rebusan jahe juga di yakini mampu memeberikan rasa hangat pada tubuh
ayam, apabila pada saat cuaca dingin atau musim hujan yaitu untuk meningkatkan
stamina serta system kekebalan tubuh ayam, sehingga sangat cocok diberikan pada
ayam yang masih anakan (DOC).
Jahe dapat digunakan sebagai antibiotik alami karena mempunyai kemampuan
dalam menekan mikroba patogen, memberikan kekebalan dan daya tahan tubuh,
memperbaiki penampilan produksi dan sebagai appetizer. Bahkan Jahe selain
mengandung minyak atsiri juga mengandung dua enzim pencernaan yang sangat
penting, yaitu protease dan lipase. Protease berfungsi memecah protein dan lipase
berfungsi memecah lemak. Senyawa aktif yang terdapat dalam jahe dan kunyit
seperti minyak atsiri, kurkumin dan oleoresin rentan hilang, berkurang atau bahkan
rusak akibat penggilingan dan pemanasan (Natsir et al., 2013).
2.4 kunyit
Kunyit merupakan salah satu tanaman rempah yang berasal dari wilayah Asia
khususnya Asia tenggara. Senyawa yang terkandung dalam tanaman kunyit adalah
senyawa kurkuminoid yang memberi warna kuning pada kunyit. Kurkuminoid ini
kebanyakan berupa kurkumin yang mempunyai kegunaan sebagai anti oksidan, anti
inflamasi, efek pencegah kanker, serta menurunkan resiko serangan jantung (Rostiana,
2005).
Kunyit mengandung beberapa senyawa aktif yang biasa digunakan sebagai bahan
baku farmasi, selain sebagai bahan baku obat juga dipakai sebagai bumbu dapur dan zat
pewarna alami. Tanaman ini mengahasilkan rimpang berwarna kuning jingga, kuning
jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan. Rimpang terdiri dari rimpang induk
dan anak rimpang, rimpang induk berbentuk bulat telur, disebut empu. Anak rimpang
bentuknya seperti jari, panjang rimpang 2-10 cm, diameter 1-2 cm (Rahardjo, 2005).
penggolongan dan tata nama tumbuhan adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantarum
Divisio : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Zingiberaces
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma domestica
Berikut ini kanddungan nutrisi kunyit:
No Jenis Nutrisi Jumlah
1 Jumlah per 100 ɡ
2 Kalori (kcal) 354
3 Jumlah lemak 10 ɡ
4 Lemak jenuh 3,1 ɡ
5 Lemak tak jenuh ganda 2,2 ɡ
6 Lemak tak jenuh tnggal 1,7 ɡ
7 kolestrol 0 mɡ
8 Natrium 38 mɡ
9 Kalium 2,525 mɡ
10 Jumlah karbohidrat 65 ɡ
11 Serat pangan 21 ɡ
12 Gula 3,2 ɡ
13 Protein 8ɡ
14 Vitamin A 0 IU
15 Kalsium 183 mɡ
16 Vitamin D 0 IU
17 Vitamin B12 0 µɡ
18 Vitamin C 25,9
19 Zat besi 41,4
20 Vitamin B6 1,8 mɡ
21 Magnesium 193

Menurut Riyadi (2009), rimpang tanaman kunyit bermanfaat sebagai anti


inflamasi, anti oksidan, anti mikroba dan kunyit dapat meningkatkan kerja organ
pencernaan. Kunyit dapat merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan
empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amylase,
lipase dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti
karbohidrat, lemak, dan protein. Disamping itu minyak atsiri yang dikandung kunyit
dapat mempercepat pengosongan isi lambung. Berdasarkan atas kondisi di atas maka
perlu dilakukan penelitian penggunaan kunyit sebagai feed additive pada ransum ayam
broiler.
Kunyit dapat digunakan sebagai antibiotik alami karena mempunyai kemampuan
dalam menekan mikroba patogen, memberikan kekebalan dan daya tahan tubuh,
memperbaiki penampilan produksi dan sebagai appetizer kunyit dilaporkan dapat
digunakan untuk menangkal virus flu burung (Chen et al., 2010). Kunyit mengandung
zat kurkumin yang mempunyai khasiat sebagai antibakteri dan dapat merangsang
dinding kantung empedu untuk mengeluarkan cairan empedu sehingga dapat
memperlancar metabolisme lemak.
2.5 Temulawak
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia
dengan nama sinonim Curcuma javanica (BPOM RI, 2004). Di Indonesia temulawak
sering disebut temulawak atau temu putih di daerah jawa di sebut temulawak di daerah
sunda dengan sebutan koneng gede sedangkan di daerah madura di sebut temulabak
(Thomas, 1989).
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) termasuk jenis tumbuh-tumbuhan
herbal berbatang semu yang tumbuh di tempat terbuka atau di bawah tegakan pohon
tahunan, misalnya jati, mahoni atau sengon. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian
5-1500 meter di atas permukaan laut (BPOM RI, 2004). Temulawak banyak ditemukan
di hutan-hutan daerah tropis di tanah tegalan sekitar pemukiman terutama pada tanah
yang gembur sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar (Agoes,
2010).
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman semusim
berbatang basah dengan tinggi dapat mencapai lebih dari 2,5 meter. Daunnya berwarna
hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, yang menjadi ciri khasnya adalah di
atas tulang daun terdapat garis abstrak berwarna kecoklatan. Akar rimpangnya
bercabang kuat dan berwarna hijau gelap. Tiap batang biasanya mempunyai daun 2-9
helai dengan bentuk lanset memanjang. Bunga tersusun secara lateral atau menyamping
dengan tangkai ramping dan sisik berbentuk garis. Kelopak bunga berwarna hijau muda
dan mahkota bunga berbentuk tabung dengan ujung berwarna merah dadu atau merah.
Bagian tanaman ini yang dipanen dan dipergunakan untuk bahan obat dan makanan
adalah rimpang yang beraroma tajam dengan daging rimpang berwarna kuning
kejinggaan sampai coklat kejinggaan (BPOM RI, 2004).
Divisi : Spermatophyte
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb
No Nutrien (per 100 gram) Jumlah
1 Air 12.85 ɡ
2 Energi 312 Kcal
3 Protein 9.68 ɡ
4 Total lipid (lemak) 3.25 ɡ
5 Karbohidrat 67.14 ɡ
6 Serat 22.7 ɡ
7 Gula total 3.21 ɡ
8 Kalsium, Ca 168 mɡ
9 Besi, Fe 55 mɡ
10 Magnesium, Mg 208 mɡ
11 Phosphorus, P 299 mɡ
12 Potassium, K 2080 mɡ
13 Sodium, Na 27 mɡ
14 Zinc, Zn 4.5 mɡ
15 Vitamin C, ascorbic acid 0.7 mɡ
16 Thiamin 0.058 mɡ
17 Riboflavin 0.15 mɡ
18 Niacin 1.35 mɡ
19 Vitamin B-6 0.107 mɡ
20 Asam folat 20 µɡ
21 Vitamin B-12 0 µɡ
22 Vitamin A, RAE 0 µɡ
23 Vitamin A, IU 0 IU
24 Vitamin E (alpha-tocopherol) 4.43 mɡ
25 Vitamin D (D2 + D3) 0 µɡ
26 Vitamin D 0 IU
27 Vitamin K (phylloquinone) 13.4 µɡ
28 Fatty acids, total saturated 1.838 ɡ
29 Fatty acids, total monounsaturated 0.449 g
30 Fatty acids, total polyunsaturated 0.756 ɡ
31 Fatty acids, total trans 0.056 ɡ

Temulawak mengandung zat utama yaitu kurkumin dan minyak atsiri berwarna
kuning muda dengan bau yang berkarakteristik dengan rasa yang tajam serta bersifat
antiseptik dan penggunaannya sebagai pewarna makanan. Kurkumoid jauhlebih unggul
dari temu-temuan lainnya (Liang dkk., 1985).
Temulawak memiliki kandungan kurkumin yang ekstraknya sangat manjur untuk
pengobatan penyakit hati, menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan untuk menjaga
serta menyehatkan hati (lever) atau istilah medisnya hepatoprotektor (Sinar Harapan,
2002).
Temulawak adalah beberapa jenis tanaman yang bisa kita gunakan untuk
menggantikan antibiotik sintetik. Temulawak memiliki kandungan senyawa aktif atau
bioaktif yang memiliki fungsi seperti bahan- bahan kimia pada antibiotik sintetik.
Senyawa aktif tersebut adalah kurkumin dan xanthorizol. Menurut Rukayadi dan
Hwang (2006) efektifitas xanthorrhizol yang diisolasi dari temulawak khasiatnya sama
dengan antijamur komersil jenis amphotericin B.
Rimpang temulawak mempunyai berbagai khasiat yaitu sebagai analgesik,
antibakteri, antijamur, antidiabetik, antidiare, antiinflamasi, antihepatotoksik,
antioksidan, antitumor, depresan, diuretik, hipolipidemik, dan insektisida (Purnomowati
2008). Sidik et al (1995) melaporkan, komposisi kimia rimpang temulawak tersusun
atas pati sebanyak 48 - 59.64%, kurkuminoid 1.6 - 2.2%, dan minyak atsiri 1.48 -
1.63% . Pati tersusun atas abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kurkuminoid,
kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, mangan dan kadniu. Sedangkan untuk
komponen minyak atsiri temulawak tersusun atas feladren, kamfer, tumerol,
tolilmetilkarbinol, ar-kurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron, ß-tumereon dan
xantorizol (Rahardjo & Rostiana, 2005).
2.6 Konsumsi Ransum
Suprijatna et al., (2005) menyatakan bahwa pakan starter diberikan pada
ayam berumur 0-3 minggu, sedangkan ransum finisher diberikan pada waktu ayam
berumur empat minggu sampai panen. Konsumsi pakan merupakan jumlah pakan
yang dimakan dalam jangka waktu tertentu. Pakan yang dikonsumsi ternak digunakan
untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat nutrisi lain. Konsumsi pakan tiap ekor
ternak berbeda-beda. Konsumsi diperhitungkan sebagai jumah makanan yang
dimakan oleh ternak (Tillman et al., 1991) dan bila diberikan adlibitum (Parakkasi,
1999). Wahju (2004) menyatakan bahwa besar dan bangsa ayam, temperatur lingku
ngan, tahap produksi dan energi dalam pakan dapat mempengaruhi konsumsi. Saat
cuaca panas, ayam berusaha mendinginkan tubuhnya dengan cara bernafas secara cepat
(panting). Tingkah laku dapat peredaran darah banyak menuju ke organ pernafasan,
sedangkan peredaran darah pada organ pencernaan mengalami penurunan sehingga
bisa mengganggu pencernaan dan metabolisme. Pakan yang dikonsumsi tidak bisa
dicerna dengan baik dan nutrien dalam pakan banyak yang dibuang dalam bentuk feses
(Bell dan Weaver, 2002). Penelitian Kusnadi (2006) menunjukkan bahwa konsumsi
pakan ayam broiler berumur 5 minggu pada suhu 240 C sebesar 1918 g/ekor, sementara
pada suhu 320 C konsumsi pakan
sebesar 1667 g/ekor. Konsumsi pakan ayam broiler strain CP 707 yang dipelihara
pada suhu nyaman pada umur lima minggu adalah 2967 g/ekor.
2.7 Konsumsi Air Minum
Air minum merupakan bagian yang sangat esensial bagi ayam jantan tipe petelur
dan kekurangan air dapat menyebabkan penurunan yang nyata dalam efisiensi
penggunaan ransum. Menurut Scott et al. (1982), air mempunyai fungsi sebagai
berikut : (1) zat dasar darah, cairan intraseluler dan intraseluler yang bekerja aktif
dalam transformasi zat-zat makanan, (2) penting dalam mengatur suhu tubuh karena air
mempunyai sifat menguap, (3) membantu mempertahankan homeostatis dengan ikut
dalam reaksi dan perubahan fisiologis yang mengontrol pH, tekanan osmos dan
konsentrasi elektrolit.
Wahju (2004) menambahkan, kehilangan air tubuh sebanyak 10% dapat
menyebabkan kerusakan yang sangat hebat dan kehilangan air tubuh 29% akan
menyebabkan kematian. Kebutuhan air bagi ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu faktor ransum yang diberikan, faktor lingkungan, kesanggupan menahan air,
aktifitas ternak dan kondisi fisiologis ternak (Amin, 2015).
2.8 Konversi Ransum
Konversi ransum merupakan salah satu cara mengevaluasi performans ternak,
diperoleh dari banyaknya makanan yang dikonsumsi (dalam gram) dibagi dengan
pertambahan bobot badan hasil pengukuran. Rasyaf (1999) menyatakan salah satu
ukuran efisiensi adalah dengan membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan
(input) dengan hasil yang diperoleh baik itu daging atau telur (output). Nilai suatu
ransum selain ditentukan oleh nilai konsumsi ransum dan tingkat pertambahan bobot
badan juga ditentukan oleh tingkat konversi ransum, dimana konversi ransum
menggambarkan banyaknya jumlah ransum yang digunakan untuk pertumbuhannya
(Wiradisastra, 1986).
Semakin rendah angka konversi ransum berarti kualitas ransum semakin baik.
Anggorodi (1980) menyatakan bahwa nilai konversi ransum dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah suhu lingkungan, laju perjalanan ransum melalui
alat pencernaan, bentuk fisik dan konsumsi ransum. Nilai konsumsi ransum
berhubungan dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum karena semakin tinggi
konversi ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang
dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin
tinggi. Nilai konversi ransum yang tinggi menunjukkan jumlah ransum yang
dibutuhkan untuk menaikan bobot badan semakin meningkat dan efisiensi ransum
semakin rendah.
2.9 Pertambahan Bobot Badan
Produksi ternak sangat ditentukan oleh pertumbuhan. Pertumbuhan
mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk
tulang, otot dan lemak. Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan dalam bentuk
dan jaringan seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan tubuh lainnya
(Anggorodi, 1980). Untuk mendapatkan pertambahan bobot badan yang maksimal
maka sangat perlu diperhatikan keadaan kuantitas ransum. Ransum tersebut harus
mengandung zat nutrisi dalam keadaan cukup dan seimbang sehingga dapat menunjang
pertumbuhan maksimal (Herlina, 2015).
Kecepatan pertumbuhan mempunyai variasi yang berbeda-beda. Keadaan ini
bergantung pada jenis kelamin, galur, tatalaksana, temperatur, lingkungan dan kualitas
ransum (Anggorodi, 1980). Keseimbangan zat-zat nutrisi, terutama imbangan energi
dan protein nyata mempengaruhi pertumbuhan. Pada umumnya semua ternak unggas,
khususnya ayam jantan tipe petelur termasuk golongan yang memiliki pertumbuhan
cepat.
Pada masa pertumbuhan, ayam harus mengkonsumsi ransum yang banyak
mengandung protein, zat ini berfungsi sebagai penambahan jumlah sel (hyperplasia)
dan pengganti sel yang rusak sehingga adanya penambahan ukuran (hypertropi) pada
ayam. Kebutuhan protein perhari ayam yang sedang bertumbuh dibagi menjadi tiga
bentuk kebutuhan yaitu protein dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan, protein untuk
hidup pokok dan protein untuk pertumbuhan bulu (Wahju, 2004).
BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakasanakan di kandang penelitian unggas Fakultas Peternakan
Universitas Nusa Cendana, Kupang selama satu bulan.
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian berlansung selama 4 minggu yang terdiri dari 1 minggu penyesuaian dan 3
minngu pengumpulan data.
3.3 Materi Penelitian
1. Ternak penelitian
Ternak ayam yang digunakan dalam penelitian ini ayam broiler Day Old
Chick (DOC) strain CP707 sebanyak 80 ekor produksi PT Charoen Pokphand
Indonesia.
2. Kandang
Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang sistem litter
yang dibagi dalam 24 petak kandang.
3. Peralatan.
Peralatan yang digunakan terdiri dari tempat pakan, tempat air minum, lampu
pijar, termometer suhu ruangan, timbangan dengan kapasitas 1200 gram dengan
kepekaan 1 gram, timbangan duduk berkapasitas 5 kg dan beberapa alat lainnya
seperti sapu, ember serta gayung.
4. Ransum
Pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan komersial yaitu CP-
11 untuk ayam fase starter danCP-12 untuk ayam fase finisher yang diproduksi dari
PT Charoen Pokphan, tepung kunyit dan tepung jahe.
Tabel 1. Komposisi nutrisi dari masing-masing bahan pakan
Bahan pakan Kandungan nutrisi
PK (%) LK (%) SK (%) EM (kkal/kg)
konsentrat (a) 21,5-23,5 5,00 5,00 300-3100
Tepung Kunyit (b) 8,39 2,84 10,85 0
Tepung Jahe (c) 12,30 4,50 10,30 0
Tepung Temulawak (d) 9,68 3,25 22,7 0
(a) (b)
Label produksi pakan PT. Charoen Pokphand; Bintang 2005, (c) Ravindran et
al,2005, (d)
3.4 Variabel Yang Diukur
[Link] Ransum
Jumlah konsumsi ransum dihitung dengan cara menimbang ransum yang
diberikan dikurangi ransum sisa dibagi dengan jumlah ayam setiap hari selama
penelitian. Jumlah konsumsi ransum ayam (gram/ekor/minggu) dapat diketahui
berdasarkan rumus:
jumlah ransum yang diberikan (g) − sisa ransum (g)
Jumlah ternak tiap perlakuan (ekor)
[Link] Air Minum
Konsumsi air minum diperoleh dari mengurangi jumlah air minum yang
diberikan dengan sisa air minum setiap hari (ml). Jumlah konsumsi air minum ayam
(ml/ekor/hari) dapat diketahui berdasarkan rumus:

Jumlah air yang diberikan (ml) − air sisa (ml)


Jumlah ternak tiap perlakuan (ekor)

[Link] Ransum
Konversi ransum merupakan pembagian antara konsumsi ransum pada minggu
itu dengan pertambahan berat badan yang dicapai pada minggu yang sama dapat
diketahui berdasarkan rumus:
Jumlah konsumsi pakan (gram)
PBB(Kg)
[Link] Bobot Badan
Pertambahan bobot badan ayam broiler diperoleh dengan menghitung selisih
bobot badan akhir dengan bobot badan awal (g) setiap minggu. Pertambahan bobot
badan dapat dihitung dengan rumus:
Bobot badan akhir – Bobot badan awal
Lama waktu penelitian
3.5 Metode Penelitian.
Metode penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Setiap
unit percobaan diisi 4 ekor ayam broiler :
R0 : Pakan komersial tanpa penambahan tepung kunyit, tepung temulak dan tepung jahe
R1 : Pakan komersial + tepung kunyit 16 gr/kg
R2 : Pakan komersial + tepung temulawak 16 gr/kg
R3 : Pakan komersial + tepung jahe 16 gr/kg
3.6 Prosedur Penelitian
1) Persiapan kandang penelitian
Sebelum penelitian, kandang dan semua peralatan kandang disterilkan dengan
larutan antiseptik, kemudian dilakukan penebaran sekam sebagai litter dan memasang
alat pemanas dan lampu penerang.
2) Pengacakan nomor perlakuan
Pengacakan dimulai dengan kertas digunting sebanyak 24 lembar, kemudian
kertas tersebut diberi nomor sesuai jumlah perlakuan dan ulangan. Kertas yang sudah
diberi nomor kemudian dimasukkan ke dalam kotak untuk diundi. Setiap petak diberi
satu gulungan kertas yang sudah diacak dengan prosedur yang ditetapkan.
3) Pembuatan tepung kunyit dan tepung jahe
Prosedur pembuatan tepung kunyit :
1. Kunyit dicuci dengan air hingga bersih
2. Kunyit diiris tipis lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering (kadar
air berkurang ditandai dengan berat menyusut selama penjemuran)
3. Setelah kering, digiling menjadi tepung
Prosedur pembuatan tepung jahe :
1. Jahe dicuci dengan air hingga bersih
2. Jahe diiris tipis lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering (kadar air
berkurang ditandai dengan berat menyusut selama penjemuran)
3. Setelah kering, digiling menjadi tepung
Prosedur pembuatan tepung temulawak :
1. Temulawak dicuci dengan air hingga bersih
2. Temulawak diiris tipis lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering
(kadar air berkurang ditandai dengan berat menyusut selama penjemuran)
3. Setelah kering, digiling menjadi tepung
Prosedur pencampuran ransum
Kunyit, jahe dan temulawak dihaluskan dengan cara pengilingan hingga
menjadi tepung. Tepung kunyit, jahe dan temulawak ditimbang sesuai perlakuan yang
dipakai untuk dicampurkan dicampurkan dengan pakan
3.7 Persiapan kandang sebelum DOC masuk
a. kandang DOC dilengkapi lampu pemanas sekaligus penerang dengan kapasits 75 watt
dan digantung 15 cm diatas lantai kandang
b. kandang dibagi dalam 24 petak
c. sebelum DOC tiba, beberapa hal yang dilakukan yaitu:
1. sanitasi kandann
2. pencucian tempat pakan dan minum
3. kandang di semprot dengan desinfektan dan ditaburi dengan kapur.
4. liter yang digunakan dari sekam padi yang sudah kering dan bersih
3.8 Analisis Data
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisys of variance
(ANOVA), (Yitnosumarto, 1993). Apabila perlakuan berpengaruh nyata, akan
dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1991 dalam Praktini,
2010). Adapun model Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah: Yij = μ + ɑi + ɛij
Keterangan:
Yij : Nilai pengamatan perlakuan ayam ke-i dan memperoleh ulangan ke-j
μ : Nilai rata-rata sebenarnya atau nilai tengah umum
ɑi : Pengaruh perlakuan ke-i
ɛij : Perlakuan galat percobaan pada ayam jantan petelur ke-i dan memperoleh
ulangan ke-j.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, S. 2015. Pengaruh Penambahan Larutan Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica) dalam
Air Minum Terhadap Kualitas Telur Burung Puyuh. Fakultas Pertanian. Universitas
Djuanda Bogor. Bogor. Jurnal Peternakan Nusantara 1 (2) 115-125.

Anggorodi, R. 1980. Kemajuan Muthakir Dalam Makanan Ternak Unggas. Universitas


Indonesia Press, Jakarta.

Bell, D.D. and W.D. Weaver, 2002. Commercial Chicken Meat and Egg Production.
Academic Pub-lisher, United States of America.#

Bintang. I. A. K. Dan A. G. Nataamijaya. 2005. Pengaruh Penambahan Tepung Kunyit


(Curcuma Domestica) Dalam Ransum Broiler. Balai Penelitian Ternak Bogor.

Chen et al., (2010). Are Family Firms More Tax Aggressive Than Non-Family Firms?Journal
of Financial Economics, 41-61.

Dalimartha. S. 1991. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1-2. Trubus Agriwidya. Jakarta.

Herlina, Betty. 2015. Pengaruh Jenis dan Waktu Pemberian Ransum terhadap Peformans
Pertumbuhan dan Produksi Ayam Broiler. Fakultas Pertanian Universitas Musi
Rawas. Lubuklinggau. Jurnal Sain Peternakan Indonesia 10 (2) 107-113.

Kusnadi, E. [Link] vitamin Csebagai penangkal cekaman panas pada ayam


[Link] 11 (4): 249-253

Murdiati, T. B. 1997. Pemakaian antibiotika dalam usaha peternakan. Wartazoa 6(1): 18-22.

Natsir, hasnah dkk., 2013, Kimia Organik, UPT MKU Universitas Hasanuddin,Makassar
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press). Jakarta.

Rahardjo, 2005. Budidaya Tanaman Kunyit. Badan Penelitian dan Pengembangan


Peternakan. Sirkuler (11). Pp: 1-13
Rasyaf , Muhamad. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Jakarta : Penerbit Penebar
Swadaya
Ravindran, P.N., Babu, K. N. 2005. Ginger The Genus Zingiber. CRC Press. New york

Riyadi, Slamet. 2009. Diktat Space Vector Modulation. Unika Soegijapranata Semarang.

Rostiana, 2005. Budidaya Tanaman Jahe. Buletin Sirkuler (11). Pp: 1-13

Salim.1990. Ramuan Obat-Obatan Tradisional Kuno. [Link].

Soeharsono H., Adriani L., Safitri R., Sjofjan O., Abdullah S., Rostika R., Lengkey H.A.W.,
and Musawwir A., 2010. Probiotik ; Basis Ilmiah, Aplikasi, dan Aspek Praktis. Widya
Padjadjaran. Bandung.

Sudarsono, 1996. Tanaman Kunyit Manfaat Khasiat Dan Kandungan Bagi Kesehatan.
Diakses dari [Link] Diakses tanggal 27 Maret 2010.

Suprijatna, E. U, Atmomarsono. R, Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar


Swadaya: Jakarta

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosoekojo.


1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan kelima. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Saleha, A. A., T. T. Myaing, K. K. Ganapathy, I. Zulkifli, R. Raha and K. Arifah. 2009.


Possible effect of antibiotik-suplemented feed and enviroment on the occurrence of
multiple antibiotik resistant escherichia coli in chickens. Int. J. Poult. Sci. 8(1): 28-31
Van Den Bogaard, A.E., N. Bruinsma, and [Link]. 2000. The effect of banning
avopracin on VRE carriage in the Netherlands (five abattoirs) and Sweden.
[Link]. Chemother.

Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Ternak Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakartafv

Wiradisastra, M.D.H. 1986. Efektivitas Keseimbagan Energi dan Asam Amino dan Efisiensi
Absorbsi Dalam Menentukan Persyaratan Kecepatan Tubuh Ayam Broiler. Disertasi,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Wreda. [Link]., Eko. W dan Osfar. S. 2013. Pengaruh penambahan kombinasi tepung jahe
merah, kunyit dan meniran dalam pakan terhadap kecernaan zat makanan dan energy
metabolis ayam pedaging. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 24 (1): 1 – 8

Anda mungkin juga menyukai