100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
311 tayangan329 halaman

Tutorial Konvolusi

Tutorial Konvolusi Impulse Response

Diunggah oleh

DEGREE
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
311 tayangan329 halaman

Tutorial Konvolusi

Tutorial Konvolusi Impulse Response

Diunggah oleh

DEGREE
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DASAR TEKNIK

ELEKTRO
Jilid 1
Rangkaian Listrik

Oleh:
Prof. Ir. Budiono Mismail, M.S.E.E., Ph.D
Perpustakaan Nasional : Katalog dalam Terbitan (KDT)
DASAR TEKNIK ELEKTRO
Jilid 1 - Rangkaian Listrik

© UB Press

Cetakan Pertama, 2011


Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved

Penulis : Prof. Ir. Budiono Mismail, M.S.E.E., Ph.D


Perancang Sampul : Tim UB Press
Penata Letak : Tim UB Press
Pracetak dan Produksi : Tim UB Press
E-book : Dwi Andiyas K., STP

Penerbit:

Universitas Brawijaya Press (UB Press)


Penerbit Elektronik Pertama dan Terbesar di Indonesia
Jl. Veteran, Malang 65145 Indonesia
Telp: 0341-551611 Psw. 376
Fax: 0341-565420
e-Mail: ubpress@[Link]
[Link]

ISBN: 978-602-203-54-6 (e-book)


x + 315 hal, 15.5 cm x 23.5 cm

Dilarang keras memfotokopi atau memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini tanpa
seizin tertulis dari penerbit
Prakata

Buku ini disusun untuk menunjang mata kuliah Dasar Teknik Elektro yang
diberikan di perguruan tinggi tingkat akademi dan strata satu. Sistematikanya
mendekati silabus baku untuk program pendidikan teknik elektro strata satu
yang disusun oleh Konsorsium Teknologi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Buku ini merupakan buku acuan yang disusun sejauh mungkin
mengikuti perkembangan penerapan Teknik elektro di Indonesia.
Berdasarkan pertimbangan praktis bagi pemakai dan agar harganya
terjangkau, buku ini sengaja diterbitkan dalam tiga jilid. Buku ini diawali
dengan tinjauan tentang sejarah teknik elektro, rangkaian listrik dan
pengantar elektronika dasar. Buku kedua akan membahas kelanjutan teknik
elektronika dan sistem tenaga listrik yang berakhir pada transformator. Buku
ketiga menguraikan prinsip elektromekanika dan mesin-mesin berputar. Buku
ketiga juga memperkenalkan konsep sistem, sistem instrumentasi, sistem
kendali otomatis, sistem komunikasi, dan diakhiri dengan masalah
keselamatan dan keselamatan dan kesehatan kerja.
Pendekatan yang ditempuh adalah menumbuhkan proses bagi mahasiswa
untuk mengenal, menghargai, dan memahami masalah-masalah yang akan
dihadapi dalam teknik elektro. Untuk mencapai tujuan tersebut, intuisi
kadang-kadang lebih penting daripada analisis matematika, tetapi seperti
halnya teori dengan praktikum, keduanya erat berkaitan; tidak mungkin kita
meninggalkan salah satu. Bahannya pun disajikan begitu rupa agar mudah
dipahami mahasiswa tahun pertama setelah mereka mendapat pengetahuan
fisika dan matematika dari sekolah menengah atas.
Setiap bab dalam buku ini diawali dengan pendahuluan dan tujuan
instruksional bab yang bersangkutan. Dalam setiap bab diberikan contoh-
contoh yang diperlukan untuk meningkatkan pemahaman pembaca tentang
masalah yang dibahas. Di akhir bab selalu diberikan soal-soal untuk
dikerjakan sebagai latihan. Buku ini tidak memerlukan prasyarat apa-apa bagi
mahasiswa teknik, sehingga dapat diberikan pada tahun pertama di perguruan
tinggi.
Sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat ilmiah, sistem satuan
yang digunakan dalam buku ini adalah Sistem Internasional.
Dalam menyiapkan buku ini penulis merasa sangat berterima kasih kepada Ir.
Soemarwanto, Ir. Hari Santoso, M.S., Dr. Rini Nurhasanah dari Jurusan
Teknik Elektro Universitas Brawijaya atas berbagai saran dan komentarnya.
Berkat Program Academic Recharging (PAR) Gelombang 2 Tahun anggaran
Prakata

2009 yang diselenggarakan oleh Direktorat Ketenagaan, Direktorat Jenderal


Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,
penulis berkesempatan untuk melanjutkan penulisan buku ini ke the
University of Melbourne dan the University of Wollongong di Australia.
Penulis sangat berterima kasih kepada Associate Professor Jamie Evan dari
the University of Melbourne dan Professor Darmawan Sutanto dari the
University of Wollongong yang telah memberikan pengarahan dalam
penyempurnaan buku ini.
Dalam perjalanan penyempurnaan buku ini penulis juga banyak mendapat
masukan dari para mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya dan para mahasiswa Angkatan 2008 Program Studi
Teknik Industri Universitas Ma Chung. Penulis sangat menghargai saran dan
amsukan mereka.
Penulis berharap semoga buku yang masih jauh dari sempurna ini dapat
membantu memperkaya khazanah kepustakaan teknik, khususnya di bidang
teknik elektro.
Akhirnya, sebagaimana tiada gading yang tak retak, penulis menyadari
keterbatasannya sebagai manusia, dan penulis mohon saran dan kritik demi
perbaikan buku ini di masa mendatang. Penulis dapat dihubungi melalui
email [Link]@[Link].

Malang, Juli 2011

ii
Daftar Isi
JILID 1

Prakata ............................................................................................................ i
Daftar Isi........................................................................................................ iii
Bab 1 Pendahuluan........................................................................................ 1
1.1 Perkembangan Teknik Elektro .................................................................. 5
1.2 Sifat Listrik Materi .................................................................................. 11
1.3 Perubahan Tenaga.................................................................................... 13
1.4 Gaya dan Medan ...................................................................................... 14
1.5 Rangkaian Listrik .................................................................................... 15
1.6 Alat dan Sistem........................................................................................ 16
1.7 Model....................................................................................................... 17
1.8 Proses Penyusunan Model ....................................................................... 18
1.9 Profesi Teknik Elektro ............................................................................. 19
1.10 Susunan Buku Ini................................................................................... 20
Soal-Soal........................................................................................................ 22
Bab 2 Besaran dan Unsur-Unsur Rangkaian Listrik .............................. 25
2.1 Satuan Sistem Internasional..................................................................... 26
2.2 Besaran dalam Teknik Listrik.................................................................. 29
2.3 Sumber Dan Unsur Rangkaian ................................................................ 40
2.4 Resistansi: Hukum Ohm .......................................................................... 43
2.5 Induktansi ................................................................................................ 50
2.6 Kapasitansi .............................................................................................. 56
Soal-soal ........................................................................................................ 62
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik.................................................... 67
3.1 Hukum Kirchhoff .................................................................................... 68
3.2 Penggunaan Hukum Dasar Secara Langsung .......................................... 72
3.3 Transformasi Y- .................................................................................... 88
3.4 Sumber Dengan Rangkaian Setaranya..................................................... 91
3.5 Penguat kerja ........................................................................................... 95
Soal-soal ........................................................................................................ 98
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik .............................................. 103
4.1 Metode Tegangan Simpul ...................................................................... 104
4.2 Metode Arus Mata jala .......................................................................... 108
4.3 Persamaan Simpul Dan Mata Jala Dengan Sumber Tak Bebas............. 112
4.4 Prinsip Superposisi ................................................................................ 115
4.5 Teorema Thévenin dan Norton .............................................................. 119
Soal-soal ...................................................................................................... 128
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-Balik ......................................................... 133
5.1 Impedansi dan Tanggapan Unsur Rangkaian ........................................ 135

iii
Daftar Isi

5.2 Hubungan Antara Rangsangan Eksponensial Dengan Rangsangan


Konstan.................................................................................................. 142
5.3 Fungsi Sinusoida ................................................................................... 143
5.4 Nilai Rata-Rata Dan Nilai Efektif.......................................................... 148
5.5 Rangsangan Sinusoida Dalam Unsur Rangkaian .................................. 151
5.6 Metode Bilangan Kompleks .................................................................. 154
5.7 Metode Fasor ......................................................................................... 159
Soal-soal ...................................................................................................... 168
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-Balik ............................ 175
6.1 Penyederhanaan rangkaian .................................................................... 179
6.2 Metode Tegangan Simpul dan Arus Mata Jala ...................................... 183
6.3 Teorema Thévenin ................................................................................. 187
6.4 Fungsi jala-jala ...................................................................................... 191
6.5 Analisis Fourier ..................................................................................... 199
6.6 Tanggapan Frekuensi ............................................................................. 206
6.7 Penyaring ............................................................................................... 209
6.8 Resonansi ............................................................................................... 213
Soal-soal ...................................................................................................... 217
Bab 7 Gejala Sentara................................................................................. 221
7.1 Persamaan Sistem Orde Satu ................................................................. 222
7.2 Persamaan Sistem Orde Dua ................................................................. 232
7.3 Sentara Pada Resonansi ......................................................................... 238
7.4 Sentara Rangkaian Terbuka ................................................................... 241
7.5 Keadaan Awal Dalam Rangkaian .......................................................... 243
Soal-soal ...................................................................................................... 246
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik.................................. 251
8.1 Daya Rata-Rata ...................................................................................... 252
8.2 Daya Dalam Unsur Rangkaian .............................................................. 254
8.3 Daya Kompleks ..................................................................................... 258
8.4 Perbaikan Faktor Daya .......................................................................... 264
8.5 Teorema Penyaluran Daya Maksimum ................................................. 267
8.6 Rangkaian fasa tiga................................................................................ 271
8.7 Daya dalam sistem fasa tiga .................................................................. 276
Soal-Soal...................................................................................................... 282
Daftar Kata ................................................................................................ 287
Lampiran .................................................................................................... 299
A) Satuan Sistem Internasional ................................................................... 299
B) Kostanta Fisika ....................................................................................... 301
C) Huruf Yunani .......................................................................................... 302
Daftar Pustaka ........................................................................................... 303
Indeks.......................................................................................................... 309
Biodata Penulis .......................................................................................... 315

iv
Daftar Isi

JILID II

Prakata ............................................................................................................ i
Daftar Isi........................................................................................................ iii
Bab 9 Elektronika Ruang Hampa ............................................................ 316
9.1 Gerak Elektron....................................................................................... 318
9.2 Tabung Sinar Katode ............................................................................. 325
9.3 Penghantaran Elektron Dalam Ruang Hampa ....................................... 330
9.4 Tabung Elektron .................................................................................... 332
9.5 Lampu Listrik ........................................................................................ 334
Soal-Soal...................................................................................................... 340
Bab 10 Elektronika Zat Padat .................................................................. 342
10.1 Penghantaran Elektron Dalam Benda Padat ........................................ 345
10.2 Semikonduktor .................................................................................... 348
10.3 Semikonduktor tercemar...................................................................... 351
10.4 Perembesan .......................................................................................... 355
10.5 Diode Semikonduktor .......................................................................... 356
10.6 Transistor ............................................................................................. 363
10.7 Transistor Pengaruh-Medan ................................................................ 367
10.8 Thyristor .............................................................................................. 369
10.9 Rangkaian Terpadu .............................................................................. 370
Soal-Soal...................................................................................................... 374
Bab 11 Model Komponen Elektronika .................................................... 376
11.1 Diode ................................................................................................... 378
11.2 TransistorSebagai Penguat dan Sebagai Saklar ................................... 386
11.3 Transistor Sambungan Bipolar (BJT) .................................................. 389
11.4 Transistor Pengaruh-Medan (FET) ...................................................... 397
11.5 Model Sinyal Kecil .............................................................................. 400
Soal-Soal...................................................................................................... 417
Bab 12 Penguat Elektronika ..................................................................... 419
12.1 Macam-Macam Penguat ...................................................................... 420
12.2 Penguat Praktis .................................................................................... 424
12.3 Tanggapan Frekuensi Penguat Sinyal Kecil ........................................ 428
12.4 Penguat Tanpa Tala Bertingkat ........................................................... 443
Soal-Soal...................................................................................................... 447
Bab 13 Rekayasa Sistem............................................................................ 449
13.1 Rekayasa Sistem .................................................................................. 450
13.2 Sistem Umpan Balik Dasar.................................................................. 451
13.3 Diagram Blok ...................................................................................... 453
13.4 Umpan Balik Positif ............................................................................ 459
13.5 Osilator ................................................................................................ 461
13.6 Pengaruh Umpan Balik Negatif ........................................................... 463
Soal-Soal...................................................................................................... 476

v
Daftar Isi

Bab 14 Penguat Kerja dan Penggunaanya .............................................. 479


14.1 Penguat Kerja ...................................................................................... 481
14.2 Penguat Pembalik ................................................................................ 482
14.3 Penguat Tak-Membalik ....................................................................... 483
14.4 Penguat Selisih .................................................................................... 488
14.5 Pengubah Impedansi Negatif ............................................................... 489
14.6 Pengubah Tegangan Menjadi Arus...................................................... 491
14.7 Penyaring Aktif.................................................................................... 492
14.8 Rangkaian Penguat Kerja Sebagai Operator Matematika .................... 493
14.9 Komputasi Analog ............................................................................... 497
14.10 Komputer Analog Elektronik ............................................................ 499
14.11 Keterbatasan Fisik Penguat Kerja...................................................... 502
Soal-Soal...................................................................................................... 503
Bab 15 Peralatan Tak-linear dan Penggunaannya ................................. 505
15.1 Penyearah ............................................................................................ 508
15.2 Penyaring ............................................................................................. 512
15.3 Regulator Tegangan Diode Zener ........................................................ 521
15.4 Osilator ................................................................................................ 523
15.5 Pembentukan Gelombang .................................................................... 532
15.6 Modulasi dan Demodulasi ................................................................... 536
Soal-Soal...................................................................................................... 541
Bab 16 Elektronika Daya .......................................................................... 543
16.1 Klasifikasi Peralatan Elektronika Daya ............................................... 547
16.2 Klasifikasi Rangkaian Elektronika Daya ............................................. 553
16.3 Penyearah Terkendali .......................................................................... 556
16.4 Inverter ................................................................................................ 561
16.5 Penggerak Motor Listrik ...................................................................... 565
Soal-Soal...................................................................................................... 572
Bab 17 Rangkaian Logika Dasar ............................................................. 573
17.1 Sistem Analog dan Digital ................................................................... 578
17.2 Aljabar Boole dan Rangkaian Logika.................................................. 581
17.3 Saklar Elektronik ................................................................................. 587
17.4 Rangkaian Terpadu Digital .................................................................. 597
17.5 Rangkaian Logika Superkonduktor ..................................................... 599
Soal-Soal...................................................................................................... 600
Bab 18 Komponen Sistem Digital............................................................. 601
18.1 Komponen Kombinasi ......................................................................... 603
18.2 Rangkaian Logika Urutan .................................................................... 614
18.3 Flip-Flop .............................................................................................. 615
18.4 Register ................................................................................................ 624
18.5 Penghitung ........................................................................................... 626
18.6 Jam Digital........................................................................................... 630
Soal-Soal...................................................................................................... 631

vi
Daftar Isi

Bab 19 Sistem Komputer Digital .............................................................. 633


19.1 Sistem Komputer ................................................................................. 634
19.2 Organisasi Sistem Komputer ............................................................... 639
19.3 Arsitektur Komputer Mikro ................................................................. 645
19.4 Mikroprosesor...................................................................................... 648
19.5 Perintah Mikroprosesor ....................................................................... 651
19.6 Jaringan Komputer .............................................................................. 653
19.7 Internet ................................................................................................. 658
19.8 Protokol Internet (TCP/IP) .................................................................. 660
Soal-Soal...................................................................................................... 662
Daftar Pustaka ........................................................................................... 665
Indeks.......................................................................................................... 671
Lampiran .................................................................................................... 681
A) Satuan Sistem Internasional ................................................................... 681
B) Konstanta Fisika ..................................................................................... 683
C) Huruf Yunani .......................................................................................... 684
D) Baterai .................................................................................................... 685
E) Sandi Warna............................................................................................ 695
F) Determinan dan Aturan Cramer .............................................................. 701
G) Bilangan Kompleks Sebagai Vektor ...................................................... 704
H) Sistem Bilangan...................................................................................... 706
Tentang Penulis ......................................................................................... 711

vii
Daftar Isi

JILID III

Prakata ............................................................................................................ i
Daftar Isi........................................................................................................ iii
Bab 20 Sistem Tenaga Listrik................................................................... 713
20.1 Sejarah Sistem Tenaga Listrik ............................................................. 716
20.2 Sumber Tenaga .................................................................................... 719
20.3 Pembangkit Tenaga Listrik .................................................................. 725
20.4 Sistem Tenaga Listrik di Indonesia ..................................................... 729
20.5 Generator ............................................................................................. 731
20.6 Transformator Tenaga ......................................................................... 734
20.7 Gardu Induk ......................................................................................... 735
20.8 Sistem Transmisi ................................................................................. 737
20.9 Sistem Distribusi.................................................................................. 739
20.10 Kawat Penghantar .............................................................................. 740
20.11 Sistem Pentanahan ............................................................................. 741
20.12 Pengamanan Sistem Tenaga .............................................................. 742
20.13 Pusat Pengendalian Tenaga ............................................................... 745
20.14 Pelistrikan Desa ................................................................................. 746
Soal-Soal...................................................................................................... 750
Bab 21 Elektromagnet ............................................................................... 753
21.1 Medan Magnet ..................................................................................... 756
21.2 Rangkaian Magnet ............................................................................... 767
21.3 Bahan Magnet ...................................................................................... 778
Soal-Soal...................................................................................................... 781
Bab 22 Transformator............................................................................... 785
22.1 Induktansi bersama .............................................................................. 787
22.2 Penyimpanan Tenaga ........................................................................... 792
22.3 Unjuk Kerja Transformator ................................................................. 795
22.4 Model Linear Transformator ............................................................... 799
22.5 Transformator Praktis .......................................................................... 806
Soal-Soal...................................................................................................... 807
Bab 23 Prinsip Elektromekanika ............................................................. 811
23.1 Pengubah Translasi .............................................................................. 812
23.2 Pengubah Rotasi .................................................................................. 818
23.3 Pengubah Besi-Bergerak ..................................................................... 826
Soal-Soal...................................................................................................... 833
Bab 24 Unjuk Kerja Mesin Berputar ...................................................... 835
24.1 Generator Arus Searah......................................................................... 837
24.2 Motor Arus Searah............................................................................... 845
24.3 Alternator ............................................................................................. 854
24.4 Motor Serempak .................................................................................. 860
24.5 Motor Induksi ...................................................................................... 867

viii
Daftar Isi

Soal-Soal...................................................................................................... 880
Bab 25 Sistem Instrumentasi .................................................................... 883
25.1 Instrumen Penunjuk ............................................................................. 885
25.2 Pengukuran Arus Searah ..................................................................... 886
25.3 Instrumen Penunjuk Elektronik ........................................................... 895
25.4 Osiloskop ............................................................................................. 897
25.5 Transduser Instrumentasi ..................................................................... 901
25.6 Sistem Akuisisi Data ........................................................................... 906
25.7 Telemetri.............................................................................................. 908
25.8 Instrumen Biomedis............................................................................. 910
Soal-Soal...................................................................................................... 912
Bab 26 Sistem Kendali Otomatis .............................................................. 915
26.1 Karakteristik Sistem Kendali ............................................................... 918
26.2 Fungsi Alih .......................................................................................... 921
26.3 Tanggapan Dinamik ............................................................................ 926
26.4 Sistem Kendali Umpan Balik .............................................................. 933
26.5 Mekatronika ......................................................................................... 940
26.6 Robotika .............................................................................................. 947
Soal-Soal...................................................................................................... 950
Bab 27 Sistem Komunikasi Analog .......................................................... 953
27.1 Sejarah Telekomunikasi ...................................................................... 954
27.2 Pengiriman Informasi .......................................................................... 959
27.3 Kanal Komunikasi ............................................................................... 961
27.4 Sistem Telepon Tetap .......................................................................... 967
27.5 Sistem Radio ........................................................................................ 971
27.6 Sistem Radio Modulasi Amplitudo ..................................................... 974
27.7 Penerima Radio AM ............................................................................ 977
27.8 Sistem Modulasi Frekuensi ................................................................. 981
27.9 FM Stereo ............................................................................................ 987
27.10 Pesawat Penerima FM ....................................................................... 989
27.11 Sistem Televisi .................................................................................. 990
Soal-Soal...................................................................................................... 995
Bab 28 Sistem Komunikasi Digital........................................................... 997
28.1 Sistem Komunikasi Digital ................................................................ 1001
28.2 Pengubahan Analog ke Digital .......................................................... 1003
28.3 Modulasi Sandi-Pulsa (PCM – Pulse-Code Modulation) .................. 1009
28.4 Multipleks Waktu Sinyal Digital ....................................................... 1010
28.5 Spektrum Tersebar ............................................................................. 1014
28.6 Komunikasi Jalur Ultra-Lebar ........................................................... 1016
28.7 Penyandian Sumber ........................................................................... 1017
28.8 Pengendalian Galat ............................................................................ 1019
28.9 Sandi Digital ...................................................................................... 1022
28.10 Transmisi Data................................................................................. 1025

ix
Daftar Isi

28.11 Telepon Seluler ................................................................................ 1029


Soal-Soal.................................................................................................... 1032
Bab 29 Antena dan Satelit....................................................................... 1035
29.1 Sejarah Perkembangan Antena .......................................................... 1036
29.2 Jenis Antena....................................................................................... 1040
29.3 Parameter Dasar Antena .................................................................... 1042
29.4 Antena Praktis ................................................................................... 1049
29.5 Sejarah Satelit .................................................................................... 1051
29.6 Hukum Kepler ................................................................................... 1057
29.7 Orbit Satelit ....................................................................................... 1059
29.8 Sistem Satelit Komunikasi................................................................. 1061
29.9 Alokasi Frekuensi Satelit ................................................................... 1066
29.10 Penggunaan Satelit .......................................................................... 1067
Soal-Soal.................................................................................................... 1069
Bab 30 Keselamatan dan Kesehatan Kerja ........................................... 1071
30.1 Sistem Keselamatan Kerja ................................................................. 1074
30.2 Kecelakaan Karena Listrik ................................................................ 1076
30.3 Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ............................................. 1083
30.4 Gangguan Kesehatan Karena Komputer ........................................... 1084
Soal-Soal.................................................................................................... 1090
Daftar Pustaka ......................................................................................... 1093
Daftar Kata .............................................................................................. 1097
Indeks........................................................................................................ 1109
Lampiran .................................................................................................. 1119
A) Satuan Sistem Internasional ................................................................. 1119
B) Konstanta Fisika ................................................................................... 1121
C) Huruf Yunani ........................................................................................ 1122
D) Baterai .................................................................................................. 1123
E) Sandi Warna.......................................................................................... 1133
F) Determinan dan Aturan Cramer ............................................................ 1139
G) Bilangan Kompleks Sebagai Vektor .................................................... 1142
H) Sistem Bilangan.................................................................................... 1144
Riwayat Penulis ....................................................................................... 1148

x
Bab 1 Pendahuluan

R ekayasa (engineering) adalah seni pemanfaatan sumber tenaga dan


benda di alam untuk kebaikan umat manusia dan benda di alam
untuk kebaikan umat manusia. Karena rekayasa itu merupakan seni,
tentu saja tidak dapat dikuasai dalam waktu empat tahun selama kuliah di
fakultasteknik. Tahap pertama untuk menjadi seorang ahli rekayasa adalah
menguasai dengan baik dasar-dasar matematika dan fisika serta dasar-dasar
ilmu teknik yang merupakan prinsip-prinsip dasar mengenai masalah
rekayasa. Setelah itu perlu diikuti dengan praktik dan pengalaman untuk
mencapai status insinyur profesional.
Kegiatan profesional insinyur teknik elektro mempengaruhi kehidupan
sehari-hari hampir semua manusia di dunia. Rancangan dan pengembangan
pemancar dan penerima radio dan televisi, sistem jaringan telepon, sistem
komputer, pembangkitan dan penyaluran daya listrik, merupakan tanggung
jawab insinyur teknik elektro.
Teknik elektro pada dasarnya berhubungan dengan gejala yang meliputi
muatan listrik dan gaya magnet, khususnya gaya antar muatan dan pertukaran
tenaga di antara keduanya. Dalam beberapa hal, tenaga merupakan besaran
yang penting dan dalam beberapa hal yang lain tenaga hanyalah merupakan
sarana untuk menyalurkan informasi. Dalam konversi daya air yang jatuh
menjadi daya listrik pada suatu pusat listrik tenaga air, transmisi dengan
tegangan tinggi ke pusat beban dan penggunaan listrik untuk keperluan
penerangan, motor dan industri, tenaga merupakan besaran yang penting.
Bagi suatu satelit penyelidik yang mengubah data ke dalam bentuk digital
dan dalam melakukan perhitungan awal serta mengirimkan hasilnya ke bumi,
tenaga hanyalah merupakan sarana untuk mengolah informasi. Secara umum,
seorang ahli teknik elektro bertanggung-jawab atas pengelolaan optimum
pembangkitan, penyimpanan, pengiriman, pengendalian, dan konversi tenaga
listrik maupun informasi.
Teknik elektro merupakan bidang ilmu yang sangat dinamik, selalu berubah
dan berkembang dalam waktu yang [Link] cakupan bidang ilmu ini
di antaranya tercermin dengan tersedianya berbagai topik bahasan yang
merupakan judul Transactions (transaksi) yang diterbitkan oleh the Institute
of Electrical and Electronic Engineers (IEEE – yang dilafalkan sebagai ai-
tripel-i), suatu organisasi internasional nirlaba yang mewadahi profesional di
bidang teknik elektro untuk kemajuan teknologi yang lahir pada 1884.
Menurut tradisi sampai saat ini, studi teknik elektro dapat dikelompokkan
menjadi tujuh bidang utama, yaitu:
Bab 1 Pendahuluan

1. Teknik tenaga;
2. Elektromagnetika;
3. Komunikasi;
4. Rekayasa komputer;
5. Elektronika;
6. Sistem;
7. Teknik kendali.

Teknik tenaga berhubungan dengan


pembangkitan, penyaluran, dan
distribusi tenaga listrik. Sistem tenaga
listrik ini terdiri atas generator,
transformator, saluran transmisi dan
distribusi, motor, serta unsur-unsur
lainnya. Bidang ini merupakan bidang
yang tertua dan tidak akan pernah
ketinggalan jaman, karena manusia
modern tidak akan mungkin lepas dari
Gambar 1.1 Teknik tenaga ketergantungannya terhadap tenaga
berkaitandengan sistem tenaga listrik.
listrik yang kompleks Elektromagnetika merupakan
[Link] jembatan antara penerapan penyaluran
tenaga dengan bidang-bidang lainnya
terutama yang terkait dengan transfer informasi. Elektromagnetika
berhubungan dengan interaksi antara medan magnet, medan listrik, dan aliran
arus listrik. Kumparan yang dialiri arus
listrik akan menghasilkan medan magnet,
sepotong besi yang berada di dekatnya akan
mengalami gaya. Hal itu yang menuntun ke
arah penggunaan motor listrik dan peralatan
elektromagnet yang lain.
Pada arus searah (frekuensi nol) dan arus
bolak-balik dengan frekuensi rendah
(sampai beberapa ratus hertz), interaksi
antara listrik dan magnet terbatas pada
kawasan di dekat kumparan yang dialiri
arus itu. Dengan meningkatnya frekuensi,
meningkat pula penggunaannya. Tenaga Gambar 1.2 Komunikasi
memancar dari kawat dan menjalar ke memanfaatkan gelombang
ruang bebas sebagai gelombang elektromagnet
elektromagnet. Gelombang itu
memungkinkan komunikasi radio, televisi, radar, dan berbagai sistem

2
Bab 1 Pendahuluan

komunikasi tanpa kawat [Link] elektromagnet yang sama juga


dapat dipergunakan untuk memasak makanan dalam oven gelombang mikro
(microwave oven).
Gelombang elektromagnet menjalar di ruang bebas dengan kecepatan cahaya,
c, 3  108 meter per detik.
Cahaya itu sendiri merupakan
gelombang elektromagnet dengan
rentang frekuensi tertentu,
frekuensi tertentu dalam rentang
itu menentukan warna.
Komunikasi berhubungan dengan
rekayasa dan ilmu yang
diperlukan untuk memancarkan
informasi dari suatu tempat ke
tempat lain. Telepon seluler,
radio, televisi, dan Internet
merupakan beberapa contoh Gambar 1.3 Pemanfaatan teknik
system komunikasi. Sistem elektro untuk sarana hiburan di
komunikasi elektronik rumah
memanfaatkan gelombang [Link]
elektromagnet untuk menyalurkan
informasi termasuk yang menggunakan kawat telepon, kabel koaksial,
bumbung gelombang, atau serat optik.
Rekayasa komputer merupakan kekhususan yang berkembang pesat dan terus
berkembang semakin pesat dalam teknik elektro. Di samping komputer mikro
(PC – personal computer) yang telah merupakan bagian dari sarana
pembelajaran bagi mahasiswa, berbagai komputer khusus telah merasuk ke
peralatan sehari-hari seperti pengendali suhu ruang, dan berbagai alat kendali
dalam mobil seperti pengatur pengapian, pemasukan bahan bakar, dan lain-
lain. Rekayasa komputer ini meliputi perancangan dan pengembangan sistem
perangkat keras dan perangkat lunak yang mengendalikan perangkat keras
itu.
Elektronika berhubungan pemanfaatan berbagai bahan dan konfigurasi atau
susunan tertentu sehingga membuat suatu komponen dapat ‘menghidupkan’
atau ‘mematikan’ aliran arus listrik. Komponen itu dapat dirangkai dengan
komponen-komponen rangkaian listrik lainnya untuk melakukan fungsi-
fungsi kompleks seperti yang digunakan dalam perangkat keras komputer.
Rekayasa sistem memanfaatkan prinsip-prinsip matematika untuk membuat
model dan menguraikan sistem yang kompleks serta meramalkan unjuk kerja
suatu sistem berdasarkan analisis rekayasa.
Teknik kendali merupakan kelas khusus dalam rekayasa sistem. Sistem
kendali umumnya merupakan sistem elektronik yang dirancang untuk

3
Bab 1 Pendahuluan

memberikan pengaturan secara cepat dan tepat dapat bagian sistem yang lain.
Robotika merupakan pengembangan nyata bidang sistem kendali.
Bidang teknik elektro yang baru, fotonika (photonics), merupakan bidang
yang diperkirakan menggantikan peralatan komputer, pengolahan sinyal,
sensor, dan komunikasi. Bidang ini mengkaji foton seperti halnya dengan
bidang elektronika yang mengkaji tentang elektron. Fotonika meliputi
pembangkitan cahaya oleh laser dan diode pemancar cahaya (LED – light
emitting diode), penjalaran cahaya melalui komponen optik, pengalihannya
(switching), modulasi, penguatan, penyidikan, dan pengendaliannya oleh
peralatan berdasarkan listrik, akustik, atau foton. Penggunaan saat ini
meliputi pembaca cakram DVD dan Blu-ray Disk (BD), hologram, dan
sistem komunikasi serat optik. Penggunaannya di masa mendatang meliputi
komputer optik, sarana penyimpan holografik (holographic memory), dan
peralatan kedokteran.
Ilmu teknik elektro selalu berkembang karena inovasi teknologi yang terjadi
selama manusia hidup dan berkembang semakin cepat. Rekayasawan teknik
elektro dituntut untuk selalu senantiasa belajar sepanjang hayat untuk
memahami hal-hal yang baru karena peralatan dan sistem yang terkait dengan
teknik elektro selalu berkembang. Tetapi teknik elektro mempunyai
seperangkat konsep dan prinsip dasar yang memungkinkan pemahaman
terhadap inovasi yang terjadi. Buku ini mencoba memberikan kesetimbangan
antara pengetahuan dasar yang diperlukan dengan tinjauan tentang hal-hal
yang baru dan aplikasi teknologi yang penting.
Ilmu Teknik Elektro berdasarkan pada beberapa hukum dasar fisika yang
diperoleh dari percobaan. Prinsip dan konsep yang mendasari cara kerja serta
perilaku berbagai alat listrik sering sama meskipun bentuk dan susunan
alatnya berbeda. Sekali hukum-hukum dasar itu dipelajari dan dipahami, akan
diperoleh cakrawala yang luas. Selanjutnya, hal ini dapat membantu kita
untuk memahami cabang-cabang ilmu teknik tersebut setelah berbagai
hukum yang bersesuaian memberikan landasannya. Pengamatan,
penyelidikan, dan penelitian selama lebih dari 200 tahun itu telah tersedia
bagi kita dalam bentuk prinsip-prinsip dasar yang sangat sederhana. Dengan
prinsip-prinsip dasar itu telah dikembangkan metode-metode untuk
diterapkan guna melakukan analisis, dan dalam penemuan serta penciptaan
rancangan-rancangan baru. Gabungan prinsip-prinsip dasar dan kiat-kiat
efektif tersebut merupakan pokok bahasan buku ini.
Bagian pertama buku ini adalah teori rangkaian listrik karena rangkaian
listrik merupakan landasan untuk memahami bidang-bidang teknik elektro
yang [Link] penerima televisi adalah suatu rangkaian listrik, sistem
distribusi tenaga listrik yang menjalankan peralatan listrik di rumah kita
adalah juga rangkaian listrik. Perangkat keras merupakan rangkaian listrik

4
Bab 1 Pendahuluan

yang rumit. Peralatan-peralatan listrik yang canggih dapat dengan mudah


diuraikan dalam bahasa dan metode rangkaian listrik.
Dalam buku ini akan dijumpai hal-hal yang termasuk pada salah satu atau
lebih kategori berikut:
 Fakta hasil percobaan – kenyataan yang diperoleh dan ditentukan
berdasarkan pengamatan dan percobaan.
 Definisi – hal-hal yang benar karena telah disepakati setiap orang
bahwa itu memang merupakan kebenaran.
 Hubungan yang diturunkan – hal-hal yang dapat dibuktikan
kebenarannya melalui fakta hasil percobaan dan definisi, serta secara
logika dapat disimpulkan kebenarannya.
 Pembahasan – hal-hal yang menurut penulis merupakan tinjauan
dan akan memberikan pengertian lebih mendalam bagi pembaca.
Pembaca diharapkan dapat selalu mengingat kategori tersebut dan berusaha
untuk menempatkan setiap pernyataan dalam buku ini ke dalam kategori
yang [Link] membantu pembaca, definisi sering secara jelas
dinyatakan sebagai definisi atau kalau ada istilah baru dicetak dalam huruf
tebal pada tempat kata itu didefinisikan atau pertama kali dipakai.
Pembaca diingatkan agar menghindari kebiasaan untuk memperlakukan
setiap pernyataan matematika sebagai suatu ‘rumus’ yang fungsinya hanya
menggantikan setiap variabelnya dengan bilangan dan mendapatkan hasilnya.
Setiap pernyataan itu adalah definisi atau hubungan yang diturunkan dan
harus diperlakukan sebagaimana mestinya.
Dalam menyelesaikan persoalan, perlu ditekankan upaya mencari pemecahan
bukan berusaha mencari ‘rumusnya.’ Cara sederhana untuk menghindari hal
tersebut adalah jangan menggunakan suatu persamaan kecuali bila pembaca
tahu definisinya, atau jangan menggunakan hubungan yang diturunkan
kecuali jika pembaca dapat menurunkannya sendiri.
Setelah menyelesaikan bab ini, pembaca diharapkan dapat
 mengetahui sejarah perkembangan teknik elektro;
 mengetahui sifat listrik materi;
 mengenal sifat tenaga dan macam-macam tenaga;
 mengetahui gaya, medan listrik dan magnet;
 membedakan antara medan listrik dan rangkaian listrik;
 mengenal alat dan sistem;
 mengenal model dan proses penyusunan model

1.1 Perkembangan Teknik Elektro


Meskipun gejala listrik dan magnet telah dikenal sejak awal sejarah
manusia, tetapi baru pada abad kesembilan belas kemajuan yang besar terjadi
dalam penyusunan rancangan konsepnya.

5
Bab 1 Pendahuluan

Gejala listrik pertama yang tercatat dalam sejarah adalah kemampuan damar
yang membatu (elektron dalam bahasa Yunani)
untuk menarik benda-benda kecil dan ringan
setelah damar yang membatu itu digosok.
Penemuan itu terjadi di Yunani dan direkam oleh
Thales dari Miletus pada tahun 600 sebelum
Masehi. Sekitar tahun 450 sebelum Masehi,
Democritus, filsuf Yunani, mengemukakan teori
atom yang serupa dengan teori atom modern yang
menyatakan bahwa semua benda terdiri atas
atomos (yang artinya tidak dapat dibagi
lagi).Kira-kira dua ribu tahun kemudian Sir
William Gilbert (1540-1603) – dokter pribadi
Ratu Elizabeth I dari Inggris – menemukan bahwa
Gambar 1.4 Thales
ada bahan selain damar yang membatu itu yang
[Link]
dapat dilistrikkan. SelanjutnyaGilbert membuat
daftar bahan-bahan yang dapat dilistrikkan dan yang tidak [Link]
seratus limapuluh tahun kemudian, berbagai cara untuk melistrikkan benda
dengan cara gesekan disempurnakan dan hasilnya diselidiki oleh beberapa
peneliti, di antaranya adalah Von Guericke, Stephen Gray, Charles François
de Cisternay Du Fay, dan Benjamin Franklin. Pada tahun 1785, Charles A.
Coulomb(1736-1806) dari Perancis dan – secara terpisah – Cavendish dari
Inggris mendapatkan listrik dengan cara yang telah dilakukan oleh Thales
dalam upayanya menetapkan hukum tentang benda-benda bermuatan listrik.
Von Guericke membuat suatu bola belerang yang diputar sehingga dapat
menghasilkan muatan listrik yang lebih besar
ketimbang yang pernah dihasilkan sebelumnya.
Ia juga menemukan jika suatu benda bermuatan
ditarik oleh bola belerang dan tersentuh bola itu,
maka benda tersebut akan ditolakkan kembali oleh
bola belerang itu.
Gray menemukan kenyataan bahwa ada bahan
yang dapat digolongkan sebagai penghantar dan
bukan-penghantar muatan listrik, tergantung
apakah bahan itu membuat muatan lepas dari benda
yang telah dilistrikkan. Gambar 1.5
Couloumb
Du Fay menemukan fakta bahwa bahan yang
[Link]
dilistrikkan dengan gesekan dapat menimbulkan
gaya tarik-menarik, dan dalam hal yang lain dapat menimbulkan gaya tolak-
menolak. Untuk menjelaskan kenyataan tersebut Fay menawarkan suatu teori
yang menyatakan bahwa ada dua zat alir misterius yang dapat merembes ke
semua bahan. Salah satunya disebut listrik vitreous (bersifat seperti kaca),

6
Bab 1 Pendahuluan

dan yang lain dinamakan resinous (bersifat seperti damar). Suatu benda
berlistrik adalah benda yang mengandung kelebihan salah satu zat alir
tersebut. Jika dua benda yang masing-masing mengandung kelebihan zat
listrik yang sama, keduanya saling tolak-menolak, tetapi jika salah satu
mengandung kelebihan listrik vitreous dan yang lain mengandung kelebihan
listrik resinous, maka keduanya akan saling tarik-menarik.

Gambar 1.6 Percobaan Von Guericke


[Link]

Dalam abad kedelapan belas, pakar-pakar listrik sangat terbatas ruang


geraknya karena hanya mesin gesek Von Guericke itulah satu-satunya
sumber muatan yang tersedia. Mesin itu terus dikembangkan dan dengan
penemuan botol Leyden pada tahun 1745, memungkinkan muatan listrik
untuk disimpan. Botol Leyden adalah hasil temuan fisikawan Belanda Pieter
van Musschenburg dari Universitas Leyden dan Ewald Georg von Kleist dari
Pomerania, dan merupakan kapasitor pertama yang sederhana. Gray dan
Franklin membuktikan kemungkinan penyaluran listrik pada jarak tertentu
dengan menggunakan benang linen yang dibasahi. Benang itu berfungsi
sebagai penghantar. Tetapi arus yang mengalir itu hanya sesaat, berhenti
sesegera muatan yang terkumpul tersebut dinetralisir.

Gambar 1.7 Botol Leyden


[Link]

7
Bab 1 Pendahuluan

Benjamin Franklin, di samping sebagai seorang negarawan, juga merupakan


pakar percobaan listrik. Percobaannya pada tahun 1750 membuktikan bahwa
petir identik dengan listrik yang dihasilkan karena gesekan. Franklin
mengusulkan suatu teori tentang zat alir tunggal. Teori itu menyatakan bahwa
suatu benda netral mengandung sejumlah zat alir tertentu. Kelebihan zat alir
itu akan mengakibatkan suatu jenis muatan tertentu dan kekurangan zat alir
itu akan mengakibatkan jenis muatan yang lain.

Gambar 1.8 Franklin


[Link]

Percobaan Gilbert dan Von Guericke, Du Fay dan


Franklin dapat ditirukan dalam laboratorium dan
percobaan-percobaan itu membentuk dasar
elektrostatika, suatu bahasan yang berkaitan
dengan muatan listrik dalam keadaan [Link]
listrik pertama dibuat oleh Alessandro Volta (1745-
1827), fisikawan Italia, yang mengikuti penemuan
temannya, Luigi Galvani, yang merangsang otot
kaki katak dengan menyentuhkan kawat logam ke
saraf kaki katak itu. Galvani mengira bahwa
rangsangan itu disebabkan oleh ‘listrik binatang.’
Volta pada awalnya cenderung menyetujui hal itu,
tetapi kajian dan percobaan selanjutnya meyakinkan Gambar 1.9 Volta
[Link]
Volta bahwa pengaruh itu adalah karena listrik yang
disebabkan oleh logam. Dalam tahun 1799 Volta menemukan baterainya
yang terdiri atas keping-keping tembaga dan seng yang diatur berselang-
seling dan dipisahkan oleh kertas yang dibasahi asam.
Penemuan tersebut memungkinkan penyaluran arus listrik secara mantap
melalui kawat. Hal itu memperluas dan mempercepat perkembangan ilmu
teknik listrik.

8
Bab 1 Pendahuluan

Pada saat itu belum disadari bahwa listrik yang


dihasilkan oleh baterai Volta tersebut identik
sifatnya dengan yang dihasilkan oleh gesekan.
Volta menunjukkan bahwa kedua listrik itu
memberikan pengaruh yang sama dan telah
membuktikan kesamaannya.
Magnet alam (lodestone) telah dikenal sejak jaman
purba, dan jarum magnetik telah digunakan oleh
pelaut Eropa pada abad kedua belas. Studi ilmiah
tentang magnet yang pertama dikerjakan oleh
Gilbert, yang pada tahun 1600 menerbitkan uraian
Gambar 1.10 Ørsted dengan judul De Magnete. Gilbert adalah peneliti
[Link] ilmiah kelas satu yang telah bekerja dalam bidang
listrik dan magnet. Tampaknya ia tidak menyadari bahwa kedua gejala
tersebut saling berhubungan.
Istilah magnet itu sebenarnya berasal dari catatan Thales yang mengamati
adanya gaya tarik antara kepingan batu di
suatu tempat yang bernama Magnesia.
Jadi sampai penutup abad kedelapan belas
telah dikenal tiga gejala yang belum diketahui
bahwa ketiganya saling berkaitan: listrik
gesekan, listrik yang mengalir dan magnet.
Hubungan antara listrik dan magnet pertama
kalinya ditunjukkan oleh fisikawan Denmark,
Hans Christian Ørsted (1777-1851), pada
tahun 1820.
Ørsted menemukan bahwa suatu jarum Gambar 1.11 Ampère
[Link]
magnet, bila diletakkan di bawah suatu kawat
yang dialiri arus listrik, akan menerima gaya yang mempunyai arah tegak
lurus terhadap kawat tersebut.
Sebaliknya, kawat yang dialiri oleh arus listrik akan menerima gaya bila
diletakkan di dekat suatu magnet. Dari penemuan Ørsted tersebut, kemajuan
pengetahuan tentang listrik berkembang dengan sangat cepat.
Seorang pakar bangsa Perancis yang bernama André-Marie Ampère (1775-
1836) mengulangi percobaan Ørsted, dan dalam waktu yang sangat singkat
menemukan hukum yang merupakan dasar elektrodinamika, yang
berhubungan dengan arus listrik dan gaya yang ditimbulkannya.

9
Bab 1 Pendahuluan

Beberapa tahun kemudian, Michael Faraday


(1791-1867), dari Inggris, membuktikan bahwa
arus listrik dapat ditimbulkan dalam suatu gelang
kawat bila ada magnet yang dilewatkan di tengah
gelang kawat tersebut.
Penemuan itu juga dibuat oleh Joseph Henry
(1797-1878), seorang Amerika yang bekerja
tanpa mengetahui apa yang telah dilakukan oleh
Faraday. Jadi pada tahun 1832 hubungan antara
listrik dan magnet telah diketahui dan pada tahun
1837 sejumlah motor dan generator telah dibuat.
James Clerk Maxwell(1831-1879), fisikawan
Skot, menawarkan suatu teori yang menyatukan
semua fakta tentang listrik. Teori Maxwell yang
dirumuskan pada tahun 1864 berdasarkan Gambar 1.12 Faraday
[Link]
hasil-hasil
pendahulunya, yaitu Coulomb, Ørsted, Ampère, Ohm, dan Faraday. Maxwell
membuktikan bahwa penemuan-penemuan tersebut dapat disatukan dalam
satu teori matematika yang memberikan kerangka berpikir untuk menjelaskan
semua gejala listrik dan magnet. Secara khusus teori itu meramalkan
penjalaran gelombang elektromagnet di ruang bebas. Bukti keberadaan
pancaran gelombang elektromagnet itu diberikan oleh Heinrich Rudolf Hertz
(1857-1894), ilmuwan Jerman, pada tahun 1887.
Penerapan listrik sebagai teknologi dimulai dalam
bidang telekomunikasi. Samuel Morse
menemukan telegraf dan digunakan secara
komersial sejak tahun 1844. Tahun 1876
Alexander Graham Bell menemukan telepon.
Pembangunan penerangan listrik dan industri daya
listrik dapat dikatakan baru mulai pada tahun
1883 dengan penemuan lampu pijar oleh Thomas
Alva Edison dengan kawan-kawannya. Setelah itu
teknik listrik berkembang pesat dengan penemuan
tabung elektron (electron tube) oleh Lee De
Forest pada tahun 1906 yang menuntun ke
Gambar 1.13 Maxwell pertumbuhan industri radio dan televisi.
[Link] Kemajuan teknologi komputer diawali dengan
penemuan transistor di tahun 1948 oleh John Bardeen, Walter Brattain dan
William Shockley. Dengan dibuatnya chip rangkaian terpadu pertama pada
tahun 1970 yang terdiri dari beberapa transistor, perkembangan menuju
miniaturisasi tampak jelas dalam bidang elektronika mikro
(microelectronics).

10
Bab 1 Pendahuluan

Bulan November 1971, Intel, suatu perusahaan yang bergerak di bidang


elektronika di Amerika Serikat, memperkenalkan 4004, suatu ‘komputer
dalam satu chip.’
Pada suatu iklan sederhana dalam
majalah Electronic News dengan judul
yang disarankan oleh Gordon Moore –
yang pada tahun 1996 menjadi
pemimpin Intel: ‘Mengumumkan Era
Baru Elektronika Terpadu’. Memang
4004 itu meluncurkan suatu jaman baru.
Mikroprosesor itu mempunyai
kemampuan yang sama seperti ENIAC,
komputer elektronik yang pertama di
dunia. Dibandingkan dengan ENIAC Gambar 1.14 Bell
[Link]
yang memenuhi ruangan seluas sekitar
2
20 m dengan 18 000 tabung elektron, 4004 menggunakan 2300 transistor
dalam kemasan yang lebih kecil dari perangko. Revolusi yang telah dimulai
pada tahun 1971 masih terus berlanjut sampai kini.
Moore pada tahun 1961 meramalkan bahwa banyaknya transistor yang dapat
diletakkan dalam satu chip tunggal akan menjadi dua kali lipat setiap 18
bulan, dan itu dikenal sebagai Hukum Moore. Sebagai gambaran, pada tahun
1971 mikroprosesor 4004 menggunakan 2300 transistor, tahun 1978 Intel
8086 menggunakan 29 000 transistor, tahun 1982 Intel 80286 menggunakan
134 000 transistor, tahun 1985 Intel 386 menggunakan 275 000 transistor,
tahun 1984 Intel 486 menggunakan 1,2 juta transistor, tahun 1993 Intel
Pentium menggunakan 3,1 juta transistor, tahun 1995 Intel Pentium Pro
menggunakan 5,5 juta transistor, tahun 1997 Intel Pentium II menggunakan
7,5 juta transistor, tahun 1999 Intel Pentium III dengan 9,5 juta transistor, dan
tahun 2001 Intel Pentium 4 dengan 42 juta transistor yang selanjutnya
disempurnakan di tahun 2002 dengan 55 juta transistor. Produk Intel yang
terbaru (Juni 2009) adalah Intel® Core™ i7 sudah tidak mempersoalkan
berapa banyak transistor di dalamnya.

1.2 Sifat Listrik Materi


Teori listrik modern datang sebagai hasil penelitian pada akhir abad sembilan
belas oleh J.J. Thomson, H.A. Lorentz, E. Rutherford, dan [Link]
dan atom yang membentuk semua benda bukanlah merupakan unsur dasar.
Keduanya tersusun dari unsur-unsur yang lebih sederhana. Hal itu telah
terbukti, dalam batas-batas tertentu, bahwa atom dapat diuraikan dan
dipelajari pengaruhnyaa.
Sepotong kawat wolfram yang dipanaskan dalam lampu pijar atau dalam
tabung gambar televisi akan memancarkan partikel-partikel yang bukan atom

11
Bab 1 Pendahuluan

wolfram itu sendiri, tetapi partikel yang sangat lebih kecil dan sangat lebih
ringan serta mempunyai sifat saling tolak-menolak di antaranya dengan gaya
yang cukup berarti. Partikel tersebut adalah elektron dan dikatakan
bermuatan listrik negatif. Elektron itu pertama kali ditemukan oleh J.J.
Thomson pada tahun 1895.
Elektron merupakan partikel yang
paling ringan dengan massa 9,1  10–
25
kg, dan garis tengahnya sekitar 10–
10
m. Salah satu sifat elektron yang
paling penting adalah gaya tolak-
menolak di antara dua elektron. Gaya
tersebut disebut gaya listrik dan sifat
elektron yang menimbulkan gaya itu
disebut muatan listrik.
Setiap elektron mempunyai muatan
Gambar 1.15 Thomson listrik yang sama yaitu sebesar –1,6 
[Link]
10–19 coulomb. Atom, bila kehilangan
atau mendapat tambahan elektron, akan menjadi bermuatan dan disebut
sebagai ion. Benda apa pun, asalkan terpisah dari sekelilingnya, dapat
menjadi bermuatan karena kehilangan elektron atau menerima elektron
sehingga melebihi kuota normalnya. Karena muatan elektron didefinisikan
mempunyai muatan negatif, maka benda yang kelebihan elektron akan
bermuatan negatif, dan yang kekurangan elektron akan bermuatan positif. Hal
tersebut kelihatannya sesuai dengan teori yang diusulkan oleh Benjamin
Franklin. Zat alir yang diusulkan Franklin itu semata-mata teori, sedangkan
elektron mempunyai bukti konkret keberadaannya.
Beberapa macam partikel dapat dilepaskan dari atom. Yang ditemukan
pertama kali bersamaan dengan elektron adalah proton. Proton, seperti
halnya dengan elektron, bersifat tolak-menolak di antaranya, tetapi menarik
elektron dengan gaya yang sama besarnya seperti pada saat menolak proton
yang lain. Oleh karena itu muatan proton dikatakan positif dan merupakan
kebalikan muatan elektron yang negatif. Massa proton hampir identik dengan
massa atom hidrogen, yaitu sebesar 1,67  10–27 kg. Dalam tahun 1932
ditemukan neutron, suatu partikel dengan massa yang sama seperti proton
tetapi tidak bermuatan listrik. Ketiga unsur tersebut: elektron, proton, dan
neutron merupakan unsur-unsur dasar pembentuk atom.
Umumnya elektron berhubungan erat dengan atomnya dan sulit untuk
dilepaskan. Tetapi dalam logam, ada beberapa elektron yang dapat
meninggalkan atomnya dan mengembara di antara atom-atom logam tersebut.
Elektron-elektron semacam itu disebut elektron bebas dan itulah yang dapat
menjelaskan mengapa arus listrik dapat mengalir dalam logam.

12
Bab 1 Pendahuluan

1.3 Perubahan Tenaga


Pada dasarnya setiap gejala fisika dan kimia, misalnya pengangkatan beban,
pembakaran minyak, perputaran roda, selalu berhubungan dengan tenaga.
Tenaga sering didefinisikan sebagai kemampuan melakukan kerja. Jadi bila
suatu beban diangkat, yang berarti dipisahkan dari muka bumi pada jarak
tertentu, maka benda itu akan mampu memasukkan paku ke kayu atau
menghancurkan benda lain hanya dengan jatuh. Benda tersebut dikatakan
mempunyai tenaga potensial karena letaknya terhadap permukaan bumi.
Untuk mengangkat benda itu dari muka bumi tentu saja diperlukan kerja, dan
tenaga potensial dapat dipandang sebagai kerja yang tersimpan. Pada saat
benda itu jatuh ke bumi tenaga potensialnya seakan-akan hilang. Sebenarnya
tenaga itu tidak hilang karena berat benda yang jatuh itu masih mampu
melakukan kerja. Apa yang terjadi adalah bahwa benda itu mendapat
kecepatan yang lebih besar pada waktu jatuh, dan tenaga potensial itu
berubah menjadi tenaga kecepatan atau tenaga gerak. Kedua jenis tenaga itu
dijumpai dalam mekanika.
Suatu benda dapat juga mempunyai tenaga karena suhunya, yaitu tenaga
panas. Tenaga gerak dapat diubah menjadi tenaga panas dengan gesekan,
seperti yang terjadi pada saat meteor terbakar karena bergesekan dengan
atmosfer bumi atau mata bor menjadi panas pada saat menembus benda kerja.
Perpindahan yang sebaliknya (dari tenaga panas menjadi tenaga gerak)
diperoleh dalam motor bakar. Tenaga panas
paling sering dijumpai dalam pembakaran
bahan bakar. Bahan bakar itu merupakan
penyimpan tenaga kimia, dan peristiwa
pembakaran tidak lain adalah perubahan
menjadi bentuk panas.
Telah diuraikan sebelumnya bahwa tenaga itu
dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk
yang lain. Umumnya tenaga yang digunakan
Gambar 1.16 Einstein dalam teknik dapat dilacak asalnya dari
[Link] matahari dan mencapai bumi dalam bentuk
pancaran atau tenaga pancar(radiasi). Sebagian dari tenaga pancar tersebut
mencapai bumi dalam bentuk panas dan menguapkan air dari laut atau danau.
Uap air itu naik ke atas hingga mengalami perubahan menjadi air kembali
karena memberikan panasnya ke lapisan atas atmosfer yang lebih dingin. Air
itu kemudian mempunyai tenaga potensial dan jatuh ke bumi dalam bentuk
air hujan atau salju. Melalui sungai air tersebut menuju ke waduk suatu pusat
listrik tenaga air. Tenaga potensial air dalam waduk itu kemudian diubah
menjadi tenaga mekanik oleh turbin air, dan selanjutnya tenaga mekanik
tersebut diubah menjadi tenaga listrik oleh generator listrik.

13
Bab 1 Pendahuluan

Penyimpan tenaga terbesar di alam semesta ini adalah inti (nucleus) atom.
Pelepasan tenaga nuklir itu meliputi penghancuran massa suatu benda, yang
dianggap tidak mungkin oleh para fisikawan abad kesembilan belas. Massa
itu sendiri merupakan bentuk tenaga. Pada tahun 1905, Albert Einstein
membuktikan bahwa hal itu menurut teori dapat terjadi, dan percobaan yang
membuktikannya baru dapat dilakukan pada tahun 1932. Setelah digunakan
dalam bentuk bom atom pada tahun 1943, proses fisi (fission – artinya
pemecahan) nuklir digunakan dalam masa damai sebagai pembangkit tenaga
listrik.
Tenaga pancar dari matahari diyakini berasal dari suatu proses fusi (fusion –
artinya penggabungan) nuklir yang mengubah inti atom hidrogen menjadi inti
atom helium dengan disertai hilangnya massa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tenaga tidak dapat diciptakan
atau dihilangkan, dan ilmu teknik pada dasarnya memanfaatkan rancangan
konsep yang mengikuti prinsip kekekalan tenaga.
Teknik listrik telah banyak menyumbangkan peralatan pengubah tenaga.
Generator adalah pengubah tenaga mekanik menjadi tenaga listrik yang
efisien dan motor listrik mengubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanik.
Peralatan yang mengubah tenaga kimia menjadi tenaga listrik (baterai) masih
belum terlalu murah. Termokopel dapat mengubah tenaga panas menjadi
tenaga listrik, tetapi tidak luas penggunaannya karena tenaga yang
dihasilkannya kecil sekali dan secara ekonomis tidak menguntungkan.
Peralatan yang mengubah tenaga listrik menjadi panas (setrika, kompor
listrik) mungkin yang paling dikenal dan banyak digunakan.
Sel surya, yang mengubah tenaga pancar menjadi tenaga listrik, pada
awalnya digunakan untuk sumber daya satelit sekarang sudah dimanfaatkan
untuk pelistrikan desa. Telah diuraikan sebelumnya bahwa tenaga dapat
dipancarkan dari suatu tempat ke tempat lain melalui ruang hampa dalam
bentuk tenaga pancar. Telah dikenal peralatan yang mengubah tenaga panas
menjadi tenaga pancar (lampu pijar) dan dari tenaga listrik menjadi tenaga
pancar (antena gelombang radio).

1.4 Gaya dan Medan


Muatan listrik didefinisikan oleh gaya yang bekerja pada muatan tersebut;
menurut percobaan gaya itu bergantung pada besar muatan, kedudukan
relatifnya, dan kecepatannya. Gaya yang timbul karena kedudukan muatan
disebut gaya listrik, dan yang disebabkan oleh kecepatan muatan disebut
gaya magnet. Semua gejala listrik dan magnet yang menarik dalam teknik
elektro dapat dijelaskan dengan gaya-gaya antar muatan.

14
Bab 1 Pendahuluan

Gejala listrik dan magnet itu dicirikan oleh ‘aksi jarak jauh’ seperti gaya
gravitasi antara dua benda seperti bumi dengan bulan atau bumi dengan
semua benda di dekat permukaannya.
Kekuatan medan gravitasi atau kuat medan gravitasi didefinisikan sebagai
gaya per satuan massa; demikian pula kuat medan listrik didefinisikan
sebagai gaya per satuan muatan dan kuat medan magnet didefinisikan
sebagai gaya per satuan momentum muatan (muatan dikalikan dengan
kecepatan). Dalam kedua hal itu medan merupakan suatu konsep yang
memudahkan dan penentuannya biasanya merupakan langkah perantara
dalam proses perhitungan untuk beberapa besaran dan bukan merupakan
akhir perhitungan itu sendiri.
Dalam tabung-gambar televisi, elektrodanya dirancang sedemikian rupa
untuk memberikan percepatan dan membelokkan medan listrik guna
mengatur jalur elektron dalam pembentukan gambar. Dalam motor listrik,
gabungan jangkar besi dengan kumparan tembaga membentuk suatu medan
magnet yang kuat yang selanjutnya dipotong oleh penghantar untuk
menghasilkan momen puntir. Itu semua adalah karakteristik medan yang
didistribusikan dalam suatu kawasan dan harus dianalisis dalam dua atau tiga
dimensi.

1.5 Rangkaian Listrik


Berbeda dengan medan, sifat suatu rangkaian dapat secara lengkap
diuraikan dalam satu dimensi. Dalam suatu rangkaian listrik variabel yang
menjadi pusat perhatian adalah tegangan dan arus di berbagai titik
sepanjang rangkaian itu. Dalam semua rangkaian yang tegangan dan arusnya
konstan (tidak berubah menurut waktu), arusnya hanya dibatasi oleh resistor.
Dalam hal pengisian baterai oleh suatu generator, kawat tembaga sepanjang
25 meter dapat memberikan suatu resistansi tertentu yang membatasi aliran
arusnya. Pengaruh resistansi yang sama juga dapat diperoleh dari kawat arang
0,25 meter atau 2 sentimeter.
Bila ukuran suatu komponen tidak penting dan pengaruh keseluruhannya
dapat dipandang terpusat pada suatu titik, maka komponen itu dapat diwakili
oleh suatu parameter terpusat. Sebaliknya perilaku kawat tembaga 25 meter
sebagai suatu antena bergantung pada dimensi dan cara bagaimana tegangan
dan arus tersebar sepanjang antena tersebut;suatu antena harus diwakili oleh
parameter tersebar. Dalam buku ini hanya akan dibahas parameter terpusat.
Analisis rangkaian listrik bukan hanya merupakan dasar untuk mengkaji
rekayasa teknik listrik, tetapi juga memperluas wawasan dan membantu
memahami disiplin ilmu yang lain. Konsep-konsep yang berlaku dalam
rangkaian listrik dapat diperluas untuk mencakup masalah-masalah di bidang
mekanika dan bahkan ilmu sosial.

15
Bab 1 Pendahuluan

Rangkaian listrik analog (setara) dengan system aliran zat alir (fluida).
Baterai atau sumber tegangan yang lain analog dengan pompa dan muatan
analog dengan zat alir itu sendiri. Penghantar (yang umumnya dibuat dari
kawat tembaga) bersesuaian dengan pipa tanpa gesekan. Arus listrik
merupakan padanan dengan debit (banyaknya zat alir yang mengalir per
satuan waktu) dan tegangan sepadan dengan perbedaan tekanan antara dua
titik dalam rangkaian zat alir. Saklar serupa dengan kran. Resistansi analog
dengan penyempitan dalam pipa yang menimbulkan turbulensi dan
mengubah tenaga menjadi panas.
Perlu diingat bahwa arus listrik adalah ukuran aliran muatan melalui suatu
penampang melintang rangkaian dan tegangan diukur di antara ujung-ujung
unsur rangkaian atau di antara dua titik dalam rangkaian.

1.6 Alat dan Sistem


Rangkaian listrik merupakan sarana penting dalam menuntun tenaga listrik
dalam alat dan juga ke atau dari alat-alat yang tergabung dalam sistem. Alat-
alat listrik mengerjakan tugas seperti pembangkitan, penguatan, modulasi,
dan penyidikan (detection) sinyal. Pada suatu stasiun pemancar radio,
modulator mengubah amplitudo gelombang yang dipancarkan sesuai dengan
gelombang suara guna menghasilkan suatu modulasi amplitudo. Transduser
adalah alat yang mengubah tenaga atau informasi dari suatu bentuk ke bentuk
yang lain; mikrofon adalah transduser yang mengubah tenaga akustik dalam
bentuk gelombang suara sebagai masukan menjadi tenaga listrik pada
keluarannya dalam bentuk arus listrik.
Sistem meliputi rangkaian dan alat untuk melakukan tugas guna
menghasilkan tujuan yang diharapkan. Sistem komunikasi meliputi suatu
mikrofon sebagai transduser, osilator yang menyediakan gelombang
pembawa dengan frekuensi tinggi agar dapat memancar dengan efisien, suatu
modulator untuk menumpangkan sinyal suara pada gelombang pembawa itu,
suatu antena yang memancarkan gelombang elektromagnet ke udara, antena
penerima, suatu detektor untukmemisahkan sinyal yang diinginkan dari
gelombang pembawanya, berbagai penguat dan catu daya, dan pengeras suara
sebagai transduser yang mengubah arus listrik menjadi salinan sinyal akustik
aslinya. Sistem pengendali pesawat ruang angkasa terdiri atas suatu
transduser untuk mengubah arah yang diinginkan menjadi sinyal listrik, suatu
penyidik galat (kekeliruan, kesalahan, atau cacat) yang membandingkan arah
sebenarnya dengan arah yang diinginkan, suatu penguat yang menguatkan
selisih itu, suatu aktuator yang mengaktifkan jet pengendali, suatu sensor
untuk menentukan arah sebenarnya, dan suatu rangkaian umpan-balik yang
memungkinkan pembandingan yang diperlukan.

16
Bab 1 Pendahuluan

1.7 Model
Rangkaian listrik merupakan suatu hal yang penting karena sering amat
memudahkan untuk mewakili suatu alat atau sistem secara keseluruhan
dengan suatu model rangkaian. Andaikanlah sepotong kawat tembaga
sepanjang 25 meter digulung membentuk suatu kumparan dengan lilitan
majemuk kemudian diberi tegangan dengan frekuensi yang dapat diubah-
ubah. Jika perbandingan antara tegangan yang dikenakan, V, dengan arus
yang mengalir, I, diukur sebagai fungsi frekuensi, hasilnya akan berupa
seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.17.

104

103

V () 102
I

10 A
B
C
1
1 10 102 103 104 105 106
Frekuensi (Hz)

Gambar 1.17 Karakteristik kumparan kawat tembaga

Sepanjang rentang A kumparan dapat diwakili oleh sebuah parameter terpusat


tunggal (resistansiR); dengan perkataan lain, hasil yang diperoleh dari
rangkaian pada Gambar 1.18a kira-kira sama dengan hasil yang diperoleh
dari kumparan kawat yang sebenarnya. Demikian pula perilaku kumparan
dalam rentang B dapat diwakili oleh rangkaian pada Gambar 1.18b yang
mengandung sebuah parameter terpusat lainnya (induktansiL). Untuk
mewakili kumparan dalam rentang frekuensi yang lebih luas, sebuah
parameter tambahan (kapasitansiC) diperlukan dan digunakan model
rangkaian seperti pada Gambar 1.18c. (Ketiga besaran ini akan didefinisikan
dalam Bab Dua).
Teknik pewakilan, secara mendekati, untuk suatu peralatan fisik yang rumit
dengan suatu model yang relatif sederhana merupakan suatu bagian yang
penting dalam teknik elektro. Salah satu keunggulan model semacam itu
adalah karena dapat diterima untuk dianalisis dengan menggunakan metode
matematika yang telah dikenal dengan baik.
Pewakilan rangkaian untuk transistor, seperti pada Gambar 1.19, disebut
model fungsional karena perilaku luarnya serupa dengan transistor yang
diwakilinya. Sebagai contoh lainnya, ‘gas sempurna’ didefinisikan oleh
persamaan matematika PV = NkT merupakan suatu model fungsional ideal

17
Bab 1 Pendahuluan

dari gas sesungguhnya. Sebaliknya, teori kinetik gas memberikan suatu


model fisik yang memberikan hubungan antara perilaku luar gas dengan
gerakan fisik di dalamnya.

R R

R C

L L

(a) (b) (c)

Gambar 1.18 Model rangkaian untuk kumparan kawat pada Gambar


1.14

Model fisik transistor juga tersedia tetapi lebih rumit dan hanya digunakan
jika model-model yang sederhananya tidak lagi memadai.

ib ic
C

Emiter Kolektor B r  ib
Basis
E

(a) Benda fisik (b) Lambang diagram (c) Model rangkaian

Gambar 1.19 Pewakilan transistor

1.8 Proses Penyusunan Model


Model atom yang diusulkan pada tahun 1913 oleh fisikawan Denmark, Niels
Bohr, sangat berguna untuk menjelaskan berbagai gejala listrik bahan. Bohr
mengemukakan bahwa elektron negatif dalam lintasannya di sekeliling inti
positif memiliki tenaga yang bersesuaian dengan tingkat tenaga tertentu yang
berhubungan dengan jari-jari lintasannya.
Bila sebuah elektron berpindah dari lintasan dengan tenaga yang lebih tinggi
ke lintasan dengan tenaga yang lebih rendah, maka suatu kuantum tenaga
elektromagnetik berbentuk foton akan dipancarkan. Bermula dari atom yang
paling sederhana, hidrogen, semua unsur dapat dipandang mempunyai inti
pejal yang mengandung proton dan neutron, dikelilingi oleh elektron ringan
yang tersusun dalam sederetan lintasan atau kulit atom secara sistematik.
Konduktivitas suatu logam seperti tembaga dapat dijelaskan dengan
mengatakan bahwa sebuah elektron pada kulit luar model atomnya relatif

18
Bab 1 Pendahuluan

bebas, sehingga mudah berperan dalam penghantaran listrik. Elektron-


elektron dalam unsur isolator, misalnya belerang, mengisi penuh kulit
luarnya sehingga tidak dapat bebas bergerak. Model atom Bohr ini ternyata
tidak cukup untuk menjelaskan beberapa proses penting mengenai konduksi
listrik dalam bahan semikonduktor.
Proses penyusunan model merupakan suatu bagian yang penting dalam
kemajuan ilmu dan pengembangan [Link] ilmuwan mula-mula
mengamati gejala alam dan melakukan sejumlah percobaan yang
direncanakan olehnya secara cermat.
Berdasarkan keterangan yang diperolehnya, ia mengusulkan suatu model
percobaan untuk satuan fisik yang diselidikinya. Dengan menggunakan
model tersebut ia meramalkan perilakunya dalam berbagai keadaan dan terus
melanjutkan penelitiannya dengan model hipotesis tersebut di laboratorium.
Suatu hipotesis yang cukup teruji disebut teori. Suatu teori yang berulang-
kali diterapkan dalam berbagai keadaan tanpa menimbulkan kontradiksi
disebut hukum. Proses penalaran dari pengamatan spesifik menuju suatu
hukum disebut induksi. Hal ini penting dalam semua penemuan ilmiah.
Para ilmuwan menggunakan penalaran induktif untuk menetapkan suatu
kebenaran yang baru. Mereka juga menggunakan proses deduksi,
penggunaan hukum umum untuk suatu kasus khusus.
Pewakilan transistor dengan suatu model rangkaian memungkinkan
penggunaan hukum rangkaian yang telah dikenal dalam meramalkan perilaku
transistor yang sebenarnya. Sebagai contoh lain, sebab dari perilaku tak-stabil
dalam suatu sistem kendali proses kimia dapat dikenali sebagai suatu
umpan-balik positif. Pewakilan proses itu dengan model yang sesuai,
mungkin dengan pertolongan suatu komputer analog, dapat menunjukkan
adanya perubahan parameter sistem yang dapat dikendalikan untuk
menghilangkan ketak-stabilan tersebut.

1.9 Profesi Teknik Elektro


Insinyur Profesional teknik elektro adalah sarjana teknik elektro yang telah
menekuni pekerjaan dalam bidang rekayasa teknik elektro dan menjadi
anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
Persatuan Insinyur Indonesia adalah organisasi profesi yang menghimpun
para sarjana teknik dan pertanian di Indonesia. Insinyur Profesional itu
mendapat pengakuan setelah memperoleh sertifikat profesional berdasarkan
kemampuan kerjanya. Kemampuan kerja itu antara lain dinilai berdasarkan
pengalaman kerjanya. Sertifikat profesional itu merupakan surat keterangan
jaminan mutu dari Persatuan Insinyur Indonesia yang menerbitkan sertifikat
tersebut. Penilaian itu antara lain didasarkan atas dasar pengetahuan profesi
yang dibuktikan dengan ijasah kesarjanaannya, pengalaman profesi yang

19
Bab 1 Pendahuluan

dibuktikan dengan rekam jejak pengalaman sesuai


dengan profesinya sekurang-kurangnya tiga tahun.
Sertifikasi adalah proses penilaian untuk
mendapatkan pengakuan terhadap klasifikasi dan
kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha
di bidang jasa yang berbentuk usaha orang
perseorangan atau badan usaha; atau proses
penilaian kompetensi dan kemampuan profesi
ketrampilan kerja dan keahlian kerja seseorang di
bidang jasa menurut disiplin keilmuan dan
ketrampilan tertentu dan keahlian tertentu. Gambar 1.20 Logo
PII
Sertifikasi profesi itu merupakan upaya
pembakuan mutu tenaga ahli dengan keahlian dan ketrampilan di bidang
kompetensi profesinya sehingga mampu bersaing secara global (nasional
maupun internasional).
Insinyur Profesional Indonesia tidak hanya diakui dalam negeri saja, tetapi
juga diakui di negara-negara di lingkungan ASEAN dan APEC, sehingga
terbuka lapangan kerja bagi para insinyur profesional Indonesia di negara-
negara tersebut.

1.10 Susunan Buku Ini


Buku ini disusun sedemikian hingga menghantarkan mahasiswa untuk
menguasai dasar-dasar teknik elektro sehingga mempunyai kemampuan
untuk menerapkan pengetahuan tentang matematika, sains, dan ilmu rekayasa
dan mulai dapat memahami penerapan dan penyelesaian masalah-masalah
rekayasa khususnya di bidang teknik elektro.
Buku ini juga mengajak mahasiswa untuk memahami sejarah perkembangan
dalam teknik elektro, khususnya yang terkait dengan keadaan di Indonesia,
dan aturan-aturan yang akan ditemuinya nanti setelah lulus dalam profesinya
sebagai sarjana teknik elektro.
Susunan buku ini mencerminkan tekanan pada rangkaian, alat, dan sistem.
Dalam bagian pertama, rangkaian listrik, dirancang untuk mengembangkan
prinsip-prinsip dasar dan kiat-kiat penting yang diperlukan untuk
meramalkan perilaku berbagai jenis rangkaian listrik. Dalam pembahasannya
juga meliputi rangkaian-rangkaian lain yang terdiri dari unsur-unsur
mekanika, panas, dan hidrolika. Rangkaian listrik dimulai dengan
mendefinisikan parameter-parameter rangkaian dan satuannya. Selanjutnya,
didefinisikan dan dibahas tiga unsur rangkaian listrik – resistor, induktor, dan
kapasitor. Rangkaian yang mengandung unsur-unsur tersebut umumnya
linear, meskipun akan dibahas juga beberapa unsur yang tak linear.

20
Bab 1 Pendahuluan

Hukum-hukum dasar rangkaian dan metode analisis rangkaian diberikan dan


diikuti dengan penerapannya untuk rangkaian arus bolak-balik. Pada bagian
ini dibahas juga mengenai gejala sentara dengan memperkenalkan sistem
orde satu dan orde dua dalam analisis kawasan waktu. Bagian ini diakhiri
dengan pembahasan tentang daya dalam rangkaian arus bolak-balik.
Rangkaian listrik merupakan pokok bahasan pertama karena merupakan
landasan bagi semua cabang teknik elektro, merupakan ‘bahasa’ teknik
elektro.
Dalam kedua membahas tentang elektronika, dengan diawali oleh
pembahasan tentang elektronika ruang hampa dan elektronik zat padat. Bab
selanjutnya membahas tentang model komponen elektronika yang disusul
dengan penguat elektronika. Dalam bagian ini juga diperkenalkan tentang
rekayasa sistem. Berbagai alat elektronika juga diberikan dalam bagian ini
dan diakhiri dengan perkenalan tentang elektronika daya.
Sistem logika merupakan bagian yang memperkenalkan tentang dasar-dasar
rangkaian logika digital. Bagian ini membahas tentang komponen dan sistem
komputer digital.
Bagian keempat memperkenalkan sistem tenaga listrik dan dalam bagian ini
diperkenalkan prinsip-prinsip yang mendukung sistem tenaga listrik itu.
Prinsipelektromagnet, transformator, prinsip elektromekanik, dan unjuk kerja
mesin berputar diberikan dalam bagian ini..
Dalam bagian terakhir, sistem, penekanannya dititikberatkan pada gabungan
rangkaian dan alat yang saling bekerjasama untuk suatu penggunaan tertentu.
Di sini hubungan antar alat lebih penting ketimbang rincian kerja alat.
Dengan menggunakan hukum-hukum rangkaian, karakteristik alat yang
diketahui, dan kiat-kiat khusus, perilaku sistem yang rumit dapat diramalkan,
dan bila perlu diubah. Dalam bagian ini diperkenalkan sistem instrumentasi,
sistem kendali otomatis, dan sistem komunikasi. Sistem komunikasi meliputi
komunikasi analog dan digital, dan diakhiri dengan perkenalan tentang sistem
antena dan satelit.
Buku ini diakhiri dengan pembahasan tentang keselamatan dan kesehatan
kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan pokok bahasan yang luas
dan beragam. Dalam bagian terakhir buku ini hanyalah merupakan
pengenalan tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja itu
khususnya yang berhubungan dengan listrik dan peralatan listrik serta
penggunaan komputer dengan baik dan benar.
Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran yang memuat daftar Satuan Sistem
Internasional, konstan fisika, dan huruf Yunani. Dalam lampiran juga
disertakan pembahasan tentang baterai sebagai salah satu sumber tenaga
listrik, sandi warna yang dipakai dalam teknik elektro, determinan dan aturan
Cramer untuk menyelesaikan persamaan serentak dengan tiga variabel yang
tidak diketahui, bilangan kompleks, dan sistem bilangan.

21
Bab 1 Pendahuluan

Meskipun buku ini terutama berhubungan dengan gejala listrik, banyak


prinsip, kiat, dan pendekatan yang dibahas itu berlaku juga untuk bidang
rekayasa yang lain.
Pemanfaatan Internet sebagai sumber pengetahuan dan informasi merupakan
bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Situs-situs Web
yang diberikan sebagai acuan dalam buku ini dapat dipakai sebagai titik awal
untuk menjelajah lebih dalam ke dunia teknik elektro. Banyak situs yang
menyediakan tutorial yang dapat dipakai sebagai bahan tambahan
pembelajaran.

Soal-Soal
1.1 Kunjungi situs web IEEE, dan tulislah semua judul transaksi yang
diterbitkannya.
1.2 Sebutkan alasan-alasan mengapa teknik tenaga listrik tidak akan
ketinggalan jaman.
1.3 Berilah beberapa contoh penggunaan frekuensi nol, frekuensi rendah,
dan frekuensi tinggi.
1.4 Uraikan inovasi dalam teknik elektro yang terjadi saat ini.
1.5 Mengapa rangkaian listrik sangat penting dalam pemahaman ilmu
teknik elektro?
1.6 Uraikan apa sumbangan tokoh-tokoh berikut dalam ilmu teknik
elektro: Gilbert, Von Guericke, Gray, Du Fay, Franklin, Volta,
Galvani, Ørsted, Ampère, Faraday, dan Morse?
1.7 Apa yang membedakan antara listrik statik dan listrik dinamik?
1.8 Jelaskan pelistrikan dengan gesekan dengan menggunakan teori
modern tentang sifat listrik benda. Apa beda teori tersebut dengan
yang diusulkan oleh Du Fay?
1.9 Mengapa lebih sulit untuk menjawab pertanyaan ‘apakah listrik itu,’
ketimbang pertanyaan ‘apakah tembaga itu’? Pertanyaan mana yang
lebih mendasar?
1.10 Selidikilah dari buku-buku lain, partikel apa saja – di samping yang
diuraikan dalam buku ini – yang terdapat dalam atom
1.11 Buktikan bahwa partikel seperti elektron memang benar-benar ada.
Bagaimanakah sifat-sifat elektron?
1.12 Selidiki kebenaran pernyataan ‘setiap benda lebih banyak terdiri dari
ruang kosong’.
1.13 Sebutkan berbagai bentuk tenaga yang disebut dalam teks. Buatlah
daftartenaga itu dalam bentuk berpasang-pasangan.

22
Bab 1 Pendahuluan

1.14 Sebutkan alat pengubah tenaga yang mengubah dari satu jenis ke
jenis pasangannya yang lain selain yang telah disebutkan dalam buku
ini.
1.15 Betulkah listrik itu merupakan bentuk tenaga? Jelaskan.
1.16 Apa beda antara gaya dengan medan?
1.17 Faktor apa yang menyebabkan adanya perbedaan antara parameter
terpusat dan parameter tersebar?
1.18 Uraikan definisi suatu sistem, dan berilah contoh suatu sistem sesuai
dengan definisi itu.
1.19 Mengapa model sangat diperlukan dalam dunia ilmu?
1.20 Uraikan proses penyusunan model.

23
Bab 2 Besaran dan Unsur-Unsur
Rangkaian Listrik

R angkaian listrik adalah model matematika sempurna untuk rangkaian


fisik. Unsur-unsur rangkaian juga merupakan model matematika
sempurna untuk unsur-unsur rangkaian fisik. Sebelum mempelajari
rangkaian listrik, pertama-tama harus didefinisikan besaran yang
berhubungan dengan hal yang akan ditinjau dan disepakati untuk
menggunakan bakuan satuan, lambang dan singkatan untuk besaran-besaran
tersebut. Bahasan bab ini kebanyakan merupakan tinjauan ulang mengenai
fisika dasar, tetapi memerlukan perhatian yang besar karena menyangkut
‘bahasa’ yang akan digunakan dalam teknik listrik.
Dengan ‘bahasa’ itu dapat diuraikan bagaimana cara menyajikan buah
pikiran, membentuk konsep, dan menyatakan kesimpulan. Variabel-variabel
listrik – tegangan dan arus – perlu diketahui
baik secara matematika maupun menurut
perasaan.
Di samping itu, juga harus dikenal unsur-
unsur rangkaian – resistansi, induktansi, dan
kapasitansi – beserta satuan, lambang, dan
singkatan yang berhubungan dengan unsur-
unsur tersebut. Selanjutnya, harus pula
diketahui bagaimana cara menjabarkan
konsep rangkaian listrik itu sampai ke
Gambar 2.1 Lord Kelvin awalnya yang paling sederhana.
[Link] Setelah hal tersebut di atas dikenal, nantinya
akan dapat diselidiki hubungan antara tegangan dan arus dalam unsur
rangkaian tersebut. Agar pola dan cara kerja alat penerima radio, alat
pengendali tegangan otomatis, dan sebagainya diketahui, harus dikenal
hubungan antara tegangan dan arus dalam rangkaiannya pada setiap saat di
masing-masing unsurnya.
Lord Kelvin (1824-1907) pernah mengatakan bahwa:
‘Bila Anda dapat mengukur apa yang Anda bicarakan dan
menyatakannya dalam bilangan, Anda tahu tentang hal itu; bila Anda
tidak dapat menyatakannya dalam bilangan, pengetahuan Anda hanya
sedikit dan tidak memuaskan; mungkin itu adalah awal dari
pengetahuan tetapi belum mencapai tingkat ilmu (science).’
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Oleh karena itu sebelum kita dapat mengukur sesuatu, perlu didefinisikan
dimensi dan disediakan satuan baku atau acuan dalam besaran yang dapat
dinyatakan dalam bilangan.
Dimensi mendefinisikan karakteristik fisik, misalnya panjang, massa, waktu,
muatan, arus listrik adalah dimensi. Satuan merupakan bakuan atau acuan
yang dapat menyatakan dimensi dalam bilangan. Jadi, meter adalah satuan
panjang untuk menyatakan panjang dan detik adalah satuan untukmenyatakan
waktu.
Perlu juga diperhatikan perjanjian penulisan besaran yang dipergunakan
dalam buku ini. Huruf miring (italic) menyatakan suatu variabel, huruf
kapital (huruf besar) menyatakan suatu nilai yang tetap tidak tergantung pada
waktu dan huruf kecil merupakan fungsi waktu. Huruf tebal (bold)
menyatakan vektor. Huruf biasa, kapital atau huruf kecil, digunakan untuk
menyatakan dimensi, satuan, atau awalan satuan.
Setelah menyelesaikan bab ini, pembaca diharapkan dapat:
 mengetahui tujuh satuan dasar Sistem Internasional;
 mengenal awalan-awalan satuan dalam Sistem Internasional;
 menurunkan besaran-besaran listrik dan magnet dari besaran-besaran
fisika dasar;
 melakukan pengujian dengan analisis dimensi;
 mengenal sumber-sumber dalam rangkaian listrik: sumber sempurna
dan sumber tak bebas;
 mengenal unsur-unsur rangkaian: resistansi, induktansi, dan
kapasitansi.

2.1 Satuan Sistem Internasional


Dalam ilmu dan teknologi, setiap gejala fisik
harus dapat diuraikan secara kuantitatif
dengan satuan yang sama untuk setiap orang.
Untuk itu diperlukan suatu himpunan satuan
baku yang seragam dan dapat ditiru di mana
pun di dunia ini. Sistem satuan yang
digunakan dalam hal ini adalah Sistem
Internasional (Système International
d’Unités) yang lazim disingkat sebagai SI.
Konferensi Internasional Mengenai Berat
dan Ukuran yang kesebelas pada tahun 1960
telah menetapkan tujuh satuan dasar:
Gambar 2.2 Kilogram
panjang, massa, waktu, arus listrik, suhu,
baku yang disimpan di
banyaknya substansi, dan kuat [Link]
Sèvres, Perancis
[Link] konferensi-konferensi selanjutnya, definisi
untuk satuan-satuan itu disempurnakan dan

26
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

berikut ini diberikan ketentuannya yang berlaku saat ini:


a. Satuan panjang dalam meter (m). Panjang itu sama dengan lintasan yang
ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama 1 detik.
299 792 458
b. Satuan massa dalam kilogram (kg). Berat itu sama dengan berat kilogram
baku yang berupa massa platina-iridium yang disimpan di Sèvres,
Perancis.
c. Satuan waktu dalam detik (second – s) sama dengan yang diperlukan
9 182 631 770 periode radiasi yang bersesuaian dengan transisi antara dua
tingkat hyperfine keadaan sesium-133. Detik itu sebelumnya didefinisikan
sebagai 1 bagian rata-rata hari berdasarkan matahari. Kecepatan
86 400
putaran bumi secara bertahap menurun, sedangkan transisi atom (Ce-133)
lebih konstan sehingga saat ini acuan itu yang dipilih. Selisih antara kedua
bakuan itu kira-kira satu detik per tahun.
d. Satuan arus listrik dalam ampere (A) adalah yang mengalir dalam dua
kawat sejajar dengan panjang tidak terhingga dalam ruang hampa yang
terpisah sejauh satu meter dan menghasilkan gaya sebesar 2 × 107 newton
per meter.
e. Satuan suhu dalam kelvin (K). Suhu ini sama dengan 1 titik tripel
273,16
air (atau titik tripel air sama dengan 273,16 K). Satuan kelvin ini
mempunyai rentang yang sama dengan rentang suhu dalam derajat Celsius
(ºC), artinya 0ºC sama dengan –273,16 K dan 10ºC = –263,16 K.
f. Mole (mol) adalah satuan untuk banyaknya substansi yang terkandung
dalam suatu sistem yang mengandung banyaknya unsur zat yang sama
banyak dengan banyaknya atom yang terkandung dalam 0,012 kilogram
karbon-12. Dalam penggunaannya unsur zat itu dapat berupa atom,
molekul, ion, elektron, atau partikel lain harus dinyatakan secara jelas.
g. Satuan kuat cahaya dalam kandela (candela – cd) sama dengan kuat
cahaya yang dipancarkan pada arah tertentu dari seuatu sumber yang
memancarkan radiasi monokhromatik dengan frekuensi 540 × 1012 hertz
dan mempunyai intensiatas radiasi pada arah tersebut sebesar 1 watt
683
per steradian.
Kilogram merupakan satu-satunya satuan yang masih didefinisikan
berdasarkan objek fisik, berbeda dengan bakuan satuan yang lain yang
didasarkan atas konstanta fisika.

27
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Di samping itu masih ada sejumlah satuan lain yang merupakan satuan-
satuan yang diturunkan dari ketujuh satuan dasar tersebut. Daftar satuan
Sistem Internasional yang lebih lengkap diberikan pada Lampiran A.

Daftar 2.1 Awalan satuan


Kelipatan Awalan Lambang
1024 yota (yotta) Y
1021 zeta (zetta) Z
1018 eksa (exa) E
1015 peta P
1012 tera T
109 giga G
106 mega M
103 kilo k
102 hekto (hecto) h
10 deka (deca) da
10–1 desi (deci) d
10–2 senti (centi) c
10–3 mili (milli) m
10–6 mikro (micro) µ
10–9 nano n
10–12 piko (pico) p
10–15 femto f
10–18 ato (atto) a
10–21 zepto z
10–24 yokto (yocto) y

Empat dari tujuh satuan dasar tersebut – meter, kilogram, detik, dan ampere –
adalah satuan-satuan yang penting dalam kajian teknik elektro dan akan
ditinjau lebih lanjut. Tiga yang lain, kelvin, mol, dan kandela, jarang dipakai
dalam bahasan buku ini dan tidak diulas lebih lanjut.
Pada umumnya rentang cakupan suatu satuan dapat sangat luas. Untuk
mempermudah pemakaiannya, digunakan awalan satuan yang menunjukkan
kelipatan satuan. Misalnya, dalam satuan panjang dikenal milimeter yang
artinya seperseribu meter atau 10–3 meter, kilogram dalam satuan massa
berarti seribu gram dan sebagainya. Daftar 2.1 memberikan awalan satuan
menurut SI.

28
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Besaran-besaran yang akan banyak dijumpai dalam teknik listrik adalah arus,
tegangan, dan daya. Kecuali arus, tegangan dan daya merupakan besaran
yang diturunkan. Besaran-besaran tersebut dan besaran-besaran lain yang
terkait akan dibahas dalam bagian berikut ini.

2.2 Besaran dalam Teknik Listrik


Seluruh teori listrik sebenarnya dapat diungkapkan dalam besaran-besaran
dasar saja, massa dan arus serta kedudukannya dalam ruang dan waktu,
tetapi hal itu akan mengundang kesulitan.
Untuk mengatasi hal tersebut akan diperkenalkan sejumlah konsep abstrak
seperti daya, tenaga, tegangan, resistansi, induktansi, dan kapasitansi.
Masing-masing konsep itu dapat diuraikan dalam istilah yang lebih sederhana
atau menurut hubungannya dengan satuan dasar. Sebagai contoh,
kecepatan,u, didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh sebuah benda dibagi
dengan waktu tempuhnya. Jadi kecepatan merupakan besaran yang lebih
rumit daripada panjang dan waktu yang membentuknya. Demikian pula
percepatan,a, didefinisikan sebagai selisih kecepatan dibagi dengan selang
waktu pengamatan. Pernyataan tersebut lebih rumit lagi dan definisinya dua
langkah lebih jauh daripada konsep satuan dasarnya, tetapi dalam
penggunaannya memudahkan penjelasan perilaku sistem fisiknya.
Dalam mempelajari perilaku benda pejal di alam, diamati bagaimana
kecepatannya berubah; yaitu bagaimana benda tersebut mengalami
percepatan. Bila sebuah bola dijatuhkan, percepatannya dapat dihitung dari
persamaan yang mengandung massa bola dan massa bumi serta jarak antara
kedua massa tersebut.
Demikian pula halnya dengan dua elektron yang diletakkan berdekatan dalam
ruang bebas akan mengalami percepatan saling menjauhi dengan perubahan
kecepatan yang dapat diramalkan dari besar muatan dan letak pusat massa
kedua elektron tersebut. Akan sangat panjang-lebar untuk menguraikannya
secara rinci alasan guna mendapatkan ungkapan pernyataan percepatan massa
itu seluruhnya dengan massa dan muatan dalam sistem tersebut. Akan lebih
mudah bila diciptakan suatu sebab dan menamainya sebagai gaya.
Selanjutnya dikatakan bahwa percepatan adalah akibat gaya yang bekerja
pada suatu massa. Untuk menjelaskan pengertian tersebut perlu diberikan
hubungan kuantitatifnya, atau definisinya, sebagai
d (mu)
f 
dt
dengan m adalah massa benda dan u kecepatannya. Bila massanya konstan,
maka definisi gaya di atas menjadi

29
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

du
f m  ma (2.1)
dt
Jadi, gaya sama dengan massa kali percepatan. Persamaan ini dikenal sebagai
Persamaan Newton yang mendefinisikan gaya sebagai suatu besaran abstrak
yang menghasilkan suatu percepatan yang dapat diamati. Jika gaya penyebab
suatu percepatan diketahui, misalnya dalam hal ini adalah dua massa yang
saling tarik-menarik, maka percepatannya dapat dihitung; demikian pula
gayanya jika dipergunakan Persamaan (2.1). Sebagai contoh, gaya tarik-
menarik yang bekerja pada dua massa, m1 dan m2, diberikan oleh
m1m2
f K (2.2),
r2
dengan K adalah konstanta pembanding dan r adalah jarak pisah kedua massa
tersebut. Demikian pula untuk gaya tolak-menolak antara dua muatan sejenis
menurut Hukum Coulomb diberikan oleh
Q1Q2
f k (2.3)
r2
dengan k adalah konstanta pembanding dan Q
menyatakan muatan.
Dalam SI, satuan untuk gaya adalah
kilogram·meter per detik pangkat dua dan
disebut newton (N). Satuan newton diambil
dari nama ilmuwan, ahli astronomi, dan ahli
matematika Inggris, Sir Isaac Newton (1642-
1727). Newton telah menetapkan hukum
gravitasi universal, sifat gelombang untuk
cahaya, dan berbagai penemuan yang
[Link] perhitungan rekayasa teknik
sering dijumpai kesalahan dalam
menyelesaikan perhitungan. Salah satu cara
Gambar 2.3 Newton untuk menghindari kesalahan tersebut adalah
[Link]
dengan melakukan suatu pengujian
berdasarkan suatu pendekatan yang dikenal sebagai analisis dimensi. Dalam
menyatakan dimensi, huruf M merupakan dimensi massa, L untuk dimensi
panjang, T untuk dimensi waktu, dan Q untuk dimensi muatan listrik.
Dimensi-dimensi itu dapat diperoleh dari setiap persamaan yang
melibatkan variabel, mengabaikan besaran tanpa dimensi seperti bilangan
murni dan tanda-tanda turunan dan integral. Dimensi kecepatan selalu sama,

30
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

dx
tidak peduli apakah berasal dari u  2 gh , atau u  , ataukah
dt
u   a dt  U 0 adalah LT-1. Dimensi untuk gaya dinyatakan sebagai MLT–2.
Pengujian dimensi didasarkan atas kenyataan bahwa suatu persamaan analitis
harus mempunyai dimensi yang homogen. Setiap suku dalam persamaan itu
harus mempunyai dimensi yang sama. Jika suatu persamaan telah diturunkan
untuk kecepatan, setiap sukunya harus mempunyai dimensi LT –1. Jika tidak,
pasti telah terjadi kesalahan dalam persamaan tersebut.

Contoh 2.1
Untuk suatu sistem mekanika yang menghasilkan persamaan gaya telah
diturunkan menjadi
M du
f   Du  K  u dt
2 dt
dengan u adalah kecepatan dalam m·s–1, M adalah massa, dan K adalah
konstanta pegas dalam m·N–1. Bagaimana dengan satuan untuk D?
Periksalah apakah persamaan di atas telah memenuhi syarat menurut
dimensinya.
Jawab
Karena ruas kiri persamaan itu adalah gaya dengan dimensi MLT –2,
maka setiap suku pada ruas kanannya juga harus mempunyai dimensi
yang sama. Oleh karena itu, untuk suku yang mengandung D,
MLT2  [ D]LT 1
atau
MLT2
[ D]  1
 MT1
LT
dan satuan D dalam SI adalah kilogram per detik atau kg·s–1.
Dimensi suku pertama ruas kanan adalah
LT 1
M  MLT2
T

yang benar merupakan dimensi gaya. Tampak bahwa tidak ada


konfirmasi mengenai keabsahan faktor ½, dan harus diuji dengan cara
lain.
Satuan K adalah m·N–1, sehingga dimensi suku terakhir ruas kanan itu
adalah

31
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

L
2
 LT 1  T  M 1LT 2  MLT2
MLT
Ternyata dimensi tersebut bukan dimensi gaya dan, oleh karena itu,
suku terakhir tersebut tidak benar. (Perubahan apa yang harus
dilakukan untuk membetulkannya?)
Dengan bantuan definisi gaya, selanjutnya
dapat dirumuskan konsep kerja dan tenaga.
Misalkan, suatu gaya f bekerja pada sebuah
benda dan benda itu bergerak sejauh d
searah dengan arah gayanya. Maka kerja
sebesar w = fd dikatakan bekerja pada
benda tersebut. Jadi, ada tenaga yang
menimbulkan kerja.
Tenaga dapat mempunyai bentuk yang
beraneka ragam: kecepatan suatu massa,
penekanan pegas (kerja melawan gaya-
gaya molekul dalam logam), pengangkatan
Gambar 2.4 Joule beban (pemisahan massa bumi yang
[Link] menarik massa benda yang diangkat itu),
panas (tenaga kinetik molekul-molekul
yang bergerak), radiasi elektromagnet, dan yang paling hebat adalah massa
itu sendiri E = mc2 (prinsip tenaga atom). Salah satu sifat tenaga yang
menarik adalah bahwa tenaga dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk
lainnya.
Konsep tenaga ini sangat penting karena
salah satu hukum alam dasar dapat secara
sederhana dinyatakan dengan
menggunakan konsep tenaga. Sangat sukar
merumuskan hukum pertama
termodinamika, yang menyatakan bahwa
tenaga keseluruhan dalam suatu sistem
tertutup adalah konstan, tanpa
menggunakan konsep tenaga.
Satuan tenaga adalah newton-meter
dengan dimensi ML2T–2 yang menurut SI
disebut joule (J). Nama satuan itu
mengikuti nama fisikawan Inggris, James Gambar 2.5 Watt
[Link]
Prescott Joule (1818-1889), yang ikut
menemukan hukum kekekalan tenaga dan membantu menetapkan bahwa
panas merupakan salah satu bentuk tenaga.

32
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Daya mengukur kecepatan perubahan tenaga yang dipergunakan, yaitu


banyaknya kerja yang dilakukan dalam satu satuan waktu. Dalam SI
dinyatakan sebagai joule per detik dengan dimensi ML2T–3, dan dinamakan
watt (W). Pada umumnya, kesan mengenai daya tersebut lebih mendalam
dalam kehidupan sehari-hari karena bola lampu listrik, kompor listrik, motor
listrik, dan berbagai peralatan lain yang menggunakan tenaga listrik
umumnya dinyatakan dalam ukuran penyerapan dayanya atau keluarannya
dalam satuan watt.
Nama satuan daya itu diberikan untuk menghormati James Watt (1736-1819),
ahli rekayasa teknik Skotlandia yang pertama kali membuat mesin uap
praktis dan memicu Revolusi [Link] arus terhadap waktu adalah
muatan listrik, suatu konsep yang sangat berguna dalam menyatakan gejala-
gejala fisik. Muatan dikatakan ‘konservatif’ karena muatan itu tidak dapat
diciptakan maupun dimusnahkan. Muatan dikatakan terkuantisasikan
karena muatan sebuah elektron merupakan ukuran muatan terkecil di alam.
Menurut SI, muatan adalah satuan yang diturunkan dan disebut coulomb (C)
yang sama dengan ampere·detik. Muatan sebuah elektron adalah sebesar
0,1602 aC (= 0,1602 x 10–18 coulomb). Nama satuan itu dipilih untuk
menghormati Charles Agustin de Coulomb, ilmuwan, penemu, dan ahli
rekayasa teknik militer Perancis yang merupakan pelopor dalam hal gesekan,
listrik dan magnet.

y
q = 2 x 10 -6 C
+ +
x
Q1= 3 x 10 -6 C F1
2m
(a)

y
q = 2 x 10 -6 C
+ +
F1 x
Q1= 3 x 10 -6 C 1m
2m
- 81,47o
Q2= -5 x 10 -6 C

F2 F

(b)

Gambar 2.6 Gambar untuk Contoh 2.2

33
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Contoh 2.2
Tentukan gaya yang ditimbulkan oleh suatu muatan sebesar Q1 = 3 C
pada muatan q = 2 C bila kedua muatan itu dipisahkan sejauh 2 m dalam
ruang bebas seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6a. Konstanta
pembanding k untuk ruang bebas dalam SI adalah 9  109. Jika
ditambahkan suatu muatan Q2 = –5 C ke sistem itu sejauh 1 m di bawah
q seperti pada Gambar 2.6b, hitunglah gaya yang dirasakan oleh q.
Jawab
Sistem koordinat segi empat seperti yang ditunjukkan pada gambar itu
memberikan kedudukan muatan-muatan dan arah gayanya. Gaya pada
Q1yang bekerja terhadap q adalah pada arah sumbu x positif dan menurut
Persamaan (2.3) diberikan oleh
Qq
F1  k 12
r1
3  10 6  2  10 6
 9  109  1,35  10 2 N
22
Dengan menambahkan Q2 seperti yang diberikan oleh Gambar 2.5b
menambah sumbangan gaya pada q dengan arah y negatif karena Q2 dan q
berlawanan tandanya. Besar gaya itu adalah
Q2 q
F2  k
r22
5  10 6  2  10 6
 9  10 9 2
 9  10 2 N
1
Gabungan vektor F1 dan F2 memberikan gaya keseluruhan yang bekerja
pada q sebagai
F  F12  F22
 (1,35  102 ) 2  (9  102 ) 2  9,1 102 N
Gaya itu mengarah ke bawah dengan sudut sebesar

F2
  tan 1
F1
9  10 2
 tan 1  81,47
1,35  10 2
Konsep arus listrik lebih sederhana ketimbang konsep gaya atau tenaga. Arus
listrik didefinisikan sebagai banyaknya muatan yang melewati suatu luas
penampang tertentu per satuan waktu

34
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

dq (2.4)
i
dt
Secara umum, muatan positif maupun negatif dapat melewati luas
penampang itu dalam dua arah. Arus adalah kecepatan perubahan aliran
muatanpositif bersih (netto), yang merupakan besaran skalar. Perjanjian
mengenai arah arus itu mengikuti keputusan yang diambil oleh Benjamin
Franklin di tahun 1752. Keputusan Franklin itu dibuat sebelum listrik dikenal
ada hubungannya dengan elektron, dan sebelum elektron dan sifat muatan
listrik diketahui. Sebenarnya elektron yang mengalir dari kutub negatif ke
kutub positif, yang berlawanan dengan perjanjian yang telah ditetapkan oleh
Franklin. Dalam penghantar logam, misalnya dalam kawat tembaga, arus
sepenuhnya merupakan gerakan elektron bebas dalam kawat itu. Karena
elektron bermuatan negatif, muatan itu bergerak pada arah yang berlawanan
dengan arah arus yang ditetapkan. Pada Gambar 2.7 arus positif sepanjang
kawat penghantar itu adalah ke kanan dan nilai numerik i positif jika aliran
elektron dari kanan ke kiri dan bernilai negatif jika aliran elektron dari kiri ke
kanan.
Bila dalam suatu hal khusus, misalnya dalam cairan atau gas, muatan positif
dapat bergerak ke kanan dan muatan negatif bergerak ke kiri sehingga
pengaruh bersih pada kedua peristiwa itu adalah muatan positif yang
bergerak ke kanan. Arus yang mengalir ke kanan adalah
dq  dq 
i  (2.5)
dt dt
Dalam larutan elektrolit misalnya, semua ion positif bergerak ke kanan dan
semua elektron dan ion negatif ke kiri, menyebabkan arus mengalir ke kanan.
Satuan arus menurut SI adalah ampere yang merupakan salah satu satuan
dasar, sama dengan coulomb per detik dengan dimensi T–1Q.

Gambar 2.7 Arah arus berdasarkan acuan yang ditetapkan

Nama satuan arus listrik itu dipilih untuk menghormati André Marie Ampère
(1775-1836) yang menemukan hubungan antara arus listrik dan induksi
magnet.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai dua macam arus listrik, arus
bolak-balik (ac – alternating current) dan arus searah (dc – direct current),
yang ditunjukkan sebagai fungsi waktu dalam Gambar 2.8. Arus bolak-
balik, seperti pada Gambar 2.8a, merupakan arus listrik yang dapat dijumpai

35
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

di setiap rumah tangga yang dibangkitkan oleh PLN. Bentuk arus bolak-balik
itu tidak selalu berbentuk sinusoida, dapat berbentuk segi tiga atau segi
empat, atau bentuk lainnya. Arus bolak-balik itu digunakan untuk
menghidupkan lampu listrik, setrika, mesin cuci, dan lain-lain. Dalam arus
bolak-balik, mula-mula muatan mengalir dalam suatu arah dan kemudian
berbalik ke arah yang lain untuk selanjutnya mengulangi daur tersebut dalam
periode tertentu. Baterai untuk lampu senter dan aki yang digunakan pada
kendaraan bermotor merupakan sumber-sumber arus searah, seperti yang
ditunjukkan oleh Gambar 2.8b.
Dalam arus searah, aliran muatan hanya mengalir ke satu arah saja untuk
sepanjang waktu pengamatan. Bentuk arus searah tidak harus berupa garis
linear konstan, tetapi dapat mempunyai bentuk yang lain. Bentuk-bentuk arus
yang lain itu ditunjukkan pada Gambar 2.9.

i i
ampere ampere
Im I

0 Periode t 0 t
detik detik

(a) (b)

Gambar 2.8 Bentuk gelombang arus bolak-balik dan arus searah

Konsep aliran arus itu, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dapat
dirasakan berhubungan erat dengan aliran massa dalam zat alir pada sistem
hidrolika dan kecepatan dalam mekanika.
Seperti halnya dengan muatan listrik, arus listrik juga menimbulkan gaya.
Gaya yang dihasilkan oleh arus-arus listrik dikatakan sebagai gaya magnet
dan mempunyai sifat yang serupa dengan batang magnet permanen.
Jika ada arus listrik yang mengalir maka harus ada kerja. Elektron
mempunyai massa dan harus diberi tenaga agar dapat bergerak. Di samping
itu, pada saat arus listrik mengalir dalam suatu penghantar, elektron itu terus-
menerus mengalami tumbukan dengan molekul logam sehingga terpental ke
arah yang tidak semestinya. Jadi, diperlukan kerja untuk membetulkan arah
tersebut. Dengan demikian, untuk mengalirkan sejumlah arus perlu diketahui
berapa tenaga yang diberikan agar muatan dapat bergerak dari suatu
kedudukan ke kedudukan lainnya.

36
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Untuk mengetahui berapa besarnya tenaga tersebut digunakan konsep


tegangan atau potensial yang didefinisikan sebagai tenaga yang diperlukan
satu satuan muatan untuk bergerak dari suatu titik ke titik lain karena
pengaruh gaya listrik. Dengan kata lain, tegangan adalah kerja per satuan
muatan. Lambang yang dipergunakan untuk menyatakan tegangan adalah v
atau e. (Pada umumnya dipergunakan v untuk menyatakan tegangan suatu
beban atau bagian yang menerima dan mempergunakan tenaga listrik dan e
untuk sumber tenaga listrik. Tetapi perbedaan tersebut tidak terlalu
dipersoalkan dalam buku ini.) Jadi
dw
v (2.6)
dq
dengan w menyatakan tenaga yang diperoleh muatan q bila muatan itu
bergerak antara dua titik dengan beda potensial sebesar v. Satuan potensial
menurut SI adalah joule per coulomb dengan dimensi ML2T–2Q–1 yang
disebut volt (V). Nama satuan volt dipakai untuk menghormati Alessandro
Volta (1745-1827), ahli fisika Italia yang menemukan baterai listrik.

i i
ampere ampere

0 t 0 t
detik detik

Gelombang segi tiga bolak-balik Gelombang segi empat bolak-balik


i i
ampere ampere

0 t 0 t
detik detik
Gelombang segi tiga searah Gelombang segi empat searah

Gambar 2.9 Bentuk gelombang arus yang lain

Jika suatu kerja dikenakan ke satu satuan muatan, maka tenaga potensialnya
akan naik dari a ke b, mengakibatkan suatu tegangan naik dengan arah dari a
ke b. Sebaliknya tegangan jatuh terjadi dengan arah dari b ke a. Selisih
tegangan yang berhubungan dengan sumber tenaga listrik (konversi tenaga,
misalnya seperti dalam baterai yang mengubah tenaga kimia menjadi tenaga
listrik) disebut gaya gerak listrik – ggl.
Konsep tegangan ini analog dengan gaya dalam sistem mekanika, tekanan
(pressure), dan tinggi terjun (head) dalam sistem hidrolika.

37
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Jika ada arus mengalir dalam rangkaian maka akan timbul medan gaya lain di
sekitar rangkaian tersebut. Medan ini disebut medan magnet, yang muncul
sekaligus bersamaan dengan medan listrik yang ditimbulkan oleh
muatannya.
Jika di dekat rangkaian itu terdapat rangkaian lain, maka pengaruh medan
magnet tersebut dapat menimbulkan suatu tegangan padanya yang dikenal
sebagai tegangan imbas.
Medan merupakan konsep yang memudahkan dalam menghitung gaya-gaya
listrik dan magnet. Di sekeliling suatu muatan listrik dapat dibayangkan ada
suatu kawasan yang terkena pengaruh adanya muatan tersebut. Kawasan itu
disebut sebagai medan listrik. Kuat medan listrikE, suatu besaran vektor,
didefinisikan oleh besar dan arah gaya f yang bekerja pada suatu satuan
muatan positif dalam medan tersebut. Dalam bentuk vektor, persamaannya
adalah

f = qE (2.7)
dengan E dinyatakan dalam newton per coulomb dengan dimensi MLT–2Q–1.
Tetapi, dengan mengingat definisi tenaga dan tegangan, tampak bahwa:

gaya gaya  jarak tenaga tegangan


  
muatan muatan  jarak muatan  jarak jarak

dan kuat medan listrik dalam newton per coulomb sama dan berlawanan
besarnya dengan gradien tegangan atau
dv
E  V·m–1 (2.8)
dl
Di sekeliling suatu muatan yang bergerak atau arus dapat dibayangkan ada
suatu kawasan yang terpengaruh adanya muatan yang bergerak atau arus
listrik tersebut. Kawasan itu dikenal sebagai medan magnet. Dalam magnet
batang, arus itu adalah elektron yang berpusing dalam atom besi; pengaruh
arus ini terhadap elektron yang berpusing dalam besi lain yang tak bermagnet
akan menghasilkan gaya tarik yang serupa. Intensitas pengaruh magnet itu
ditentukan oleh rapat fluks magnet B, suatu vektor yang mempunyai besar
dengan arah yang sama dengan gaya f yang bekerja pada muatan q yang
bergerak dalam medan dengan kecepatan u.
Dalam bentuk vektor, persamaan itu dapat ditulis sebagai
f = quB (2.9)
Suatu gaya sebesar 1 newton akan bekerja pada suatu muatan sebesar 1
coulomb yang bergerak dengan kecepatan 1 meter per detik tegak lurus

38
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

terhadap rapat fluks magnet sebesar 1 tesla


(T). Dimensi untuk rapat fluks magnet adalah
MT–1Q–1. Nama satuan itu mengikuti nama
ahli rekayasa teknik Amerika-Kroasia, Nikola
Tesla (1856-1943), yang menemukan sistem
daya arus bolak-balik fasa tiga, motor
induksi, dan lain-lain.
Pada masa lampau, medan magnet sering
dinyatakan dalam garis gaya atau
fluks(dinyatakan demikian karena mirip
dengan garis aliran dalam fluida yang
bergerak). Fluks magnet dinyatakan dalam
Gambar 2.10 Tesla weber (Wb) dengan dimensi ML2T–1Q–1.
[Link]
Fluks itu diperoleh dengan mengintegrasikan
rapat fluks magnet pada suatu luasan.
Persamaannya adalah
   B  dA (2.10)
Rapat fluks magnet sering kali dipandang
sebagai besaran yang diturunkan dan dinyatakan
dalam weber per meter persegi. Nama weber
diambil dari nama fisikawan Jerman, Wilhelm
Eduard Weber (1804-1891), yang banyak
meneliti gejala magnet.
Masalah umum yang dijumpai dalam rangkaian
Gambar 2.11 Weber
listrik adalah meramalkan perubahan daya dan [Link]
tenaga dalam tegangan dan arus yang
dw dq
diharapkan. Karena menurut definisi, v  dan i  , daya sesaat akan
dq dt
diberikan oleh
dw dw dq
p   vi (2.11)
dt dq dt
sehingga tenaga keseluruhannya adalah
w   p dt   vi dt (2.12)

Contoh 2.3
Motor pengasut (starter) mobil menarik arus awal sebesar 100 A. Aki
yang dipergunakan adalah 12 V. Hitunglah daya yang diperlukan oleh
pengasut itu.

39
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Jika arus dalam aki itu berkurang secara seragam menjadi nol dalam
waktu 2 detik (ditunjukkan pada Gambar 2.12), hitunglah tenaga yang
diberikan kepada pengasut [Link] dimensi pada kedua ruas
persamaan daya dan tenaga yang menentukannya.

100

ampere

t 2
detik

Gambar 2.12 Arus sebagai fungsi waktu untuk Contoh 2.3

Jawab
Dengan menerapkan Persamaan (2.10),
p = vi = 12  100 = 1200 W
Dimensi untuk p di ruas kiri persamaan di atas adalah ML2T–3, v
dan i di ruas kanannya berturut-turut adalah ML2T–2Q–1 dan T–1Q,
maka
ML2T–2Q–1·T–1Q = ML2T–3
Arus sebagai fungsi waktu dapat dinyatakan sebagai
i = 100 – 50t A untuk 0  t  2 s
dan dengan menerapkan Persamaan (2.11),
w   vi dt
2 2
600t 2
  12(100  50t )dt  1200t 
0
2 0

 2400  1200  1200 J

Dimensi untuk w adalah ML2T–2 sehingga ML2T–3·T untuk daya


kali waktu memberikan dimensi yang benar.

2.3 Sumber Dan Unsur Rangkaian


Suatu rangkaian listrik umumnya dicirikan oleh adanya satu atau lebih
sumber yang dihubungkan dengan satu atau lebih beban sebagai penerima

40
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

tenaga listrik. Suatu sumber sempurna akan memberikan tegangan tetap


atau arus tetap. Suatu sumber tegangan sempurna adalah sumber yang
tegangannya tidak bergantung kepada beban yang dipasangkan pada kutub-
kutubnya. Gambar 2.13a menunjukkan lambang untuk sumber tegangan
sempurna dengan tegangan v, yang pada umumnya merupakan suatu fungsi
waktu. Tegangan naik adalah dari kutub yang bertanda ‘–’ ke kutub yang
bertanda ‘+’ jika fungsi v(t) atau V positif.

(a) (b)
Gambar 2.13 Lambang-lambang untuk sumber sempurna

Sumber arus sempurna diperlihatkan pada Gambar 2.13b. Pada gambar


tersebut arah anak-panah menunjukkan arah arus positif. Sumber arus
sempurna dicirikan oleh sumber yang arusnya tidak bergantung pada
sambungan yang dipasangkan di antara kutub-kutubnya. Dalam praktik tidak
akan terdapat baik sumber tegangan maupun sumber arus yang
sempurna,tetapi dalam beberapa hal pengandaian sempurna itu masih dapat
dipakai untuk memenuhi kebutuhan analisis teknik.
Sumber-sumber sempurna itu juga dikatakan sebagai sumber bebas, karena
sumber tegangan tidak bergantung pada arus yang mengalir dalam unsur itu
dan dalam sumber arus bebas arus yang mengalir tidak bergantung pada
tegangan antara sumber tersebut.

i1 i1
+ + + +
v1 v = v1 v = ri1 v1 i = gv1 i = i1
- -
- -
(a) (b) (c) (d)
Gambar 2.14 Lambang-lambang untuk sumber tak bebas

Sumber kelas dua adalah sumber tegangan atau sumber arus yang tegangan
atau arusnya merupakan fungsi tegangan atau arus yang berada di bagian lain
rangkaian. Contoh sumber tak bebas adalah generator listrik dan transistor.
Pada generator, tegangan imbas pada salah satu lilitannya merupakan fungsi

41
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

arus dalam lilitan lainnya. Dalam transistor, arus yang keluar sebanding
dengan arus yang masuk. Pada Gambar 2.14 diperlihatkan empat jenis
sumber tak bebas yakni sumber tegangan yang dikendalikan oleh
tegangan (Gambar 2.14a), sumber tegangan yang dikendalikan oleh arus
(Gambar 2.14b), sumber arus yang dikendalikan oleh tegangan (Gambar
2.14c) dan sumber arus yang dikendalikan oleh arus (Gambar 2.14d).
Perlu diperhatikan bahwa pada masing-masing sumber kelas dua ini sumber
dan variabel pengendalinya ditunjukkan pada lambangnya.
Dalam suatu baterai, arus selalu mengalir dari kutub yang bertanda positif
menuju ke beban dan kembali menuju ke kutub yang bertanda negatif. Tanda
positif dan negatif untuk tegangan dan tanda panah untuk arah arus
merupakan tanda acuan dan arah acuan.
Bila polaritas suatu sumber bersesuaian dengan tanda acuan maka tegangan
itu positif, bila sebaliknya maka tegangan itu negatif. Demikian pula halnya
untuk arah arus, bila arus mengalir searah dengan arah acuan maka arus
tersebut positif dan bila berlawanan maka arus itu negatif.
Komponen-komponen yang menjadi beban adalah bagian rangkaian listrik
yang menerima tenaga dari sumber yang disebut unsur atau parameter
rangkaian. Hubungan antara tegangan dengan arus dalam unsur rangkaian itu
telah ditetapkan berdasarkan percobaan.
Ada tiga jenis hubungan yang mengakibatkan terdapat tiga macam unsur
rangkaian yang terlibat di dalamnya. Hubungan dan jenis ketiga unsur
rangkaian yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikut ini adalah:
1. Unsur rangkaian yang memerlukan tegangan sebanding dengan arus yang
mengalir di dalamnya. Konstanta pembandingnya disebut resistansi.
Konstanta atau parameter rangkaian tersebut erat hubungannya dengan
penggunaan tenaga sebagai panas dalam rangkaian.
2. Unsur rangkaian yang membutuhkan tegangan sebanding dengan turunan
waktu atau kecepatan perubahan arus yang mengalir di dalamnya.
Konstanta pembandingnya disebut induktansi. Parameter rangkaian
tersebut erat hubungannya dengan medan magnet yang timbul dalam
rangkaian tersebut.
3. Unsur rangkaian yang memerlukan arus sebanding dengan turunan waktu
tegangan di antara kutub-kutubnya. Konstanta pembandingnya disebut
kapasitansi. Parameter rangkaian tersebut erat hubungannya dengan
medan listrik rangkaian.
Rangkaian listrik selalu mengandung gabungan ketiga jenis unsur rangkaian
tersebut, tetapi dalam pemakaian tidak semuanya dianggap berperan dalam
setiap rangkaian.

42
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

2.4 Resistansi: Hukum Ohm


Unsur rangkaian jenis pertama seperti yang telah disebutkan dalam bagian
sebelum ini memerlukan tegangan antara kutub-kutubnya yang berbanding
lurus dengan arus yang melaluinya.

Resistor sistem elektronik


[Link]

Resistor sistem tenaga


[Link]

Gambar 2.15 Berbagai macam resistor

Secara kuantitatif, tegangan diberikan oleh


v  Ri volt (2.13)
dengan i adalah arus dalam ampere. Konstanta pembandingnya adalah R,
resistansi unsur tersebut, dan dalam SI dinyatakan dalam ohm (disingkat
dengan huruf kapital Yunani omega – ).
Dimensi untuk R adalah ML2T–1Q–2. Hubungan antara tegangan dan arus
seperti yang dinyatakan oleh Persamaan (2.13) dikenal sebagai Hukum
Ohm. Benda fisik yang ciri utamanya adalah resistansi disebut resistor.
Gambar 2.15 menunjukkan berbagai jenis resistor, baik yang berukuran kecil
untuk keperluan bidang elektronika maupun yang berukuran besar untuk
bidang sistem tenaga listrik.
Resistor yang umum dijumpai adalah resistor komposisi karbon, resistor
gulungan kawat, dan resistor film Resistor komposisi karbon merupakan
resistor yang dulu paling banyak digunakan karena andal tersedia dalam
berbagai ukuran, dan murah harganya. Kelemahannya adalah tidak awet dan
toleransinya di atas 5%. Resistor gulungan kawat umumnya dipakai dalam
sistem tenaga dan bekerja pada daya yang tinggi. Resistor ini juga digunakan
sebagai resistor presisi karena kestabilannya. Kelemahan utama resistor ini
adalah mahal harganya dan hanya bekerja pada frekuensi rendah.
Resistor jenis film merupakan resistor yang banyak dipakai saat ini karena
stabil, akurat, dan murah. Nilai resistansi suatu resistor, khususnya yang

43
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

dipakai untuk sistem elektronik biasanya diberikan dalam sandi warna seperti
yang diberikan dalam Daftar E.1 dalam Lampiran E.
Georg Simon Ohm (1787-1854), fisikawan
Jerman, yang namanya dipakai sebagai
satuan resistansi itu telah merumuskan
hubungan arus-tegangan untuk resistor
berdasarkan percobaan yang dilakukannya
pada tahun 1826.
Lambang rangkaian dan arah acuan arus
dan tegangan untuk resistor diberikan pada
Gambar 2.17. Karena resistor adalah unsur
pasif maka hubungan yang berlaku pada
Persamaan (2.13) hanya berlaku dengan
tanda dan arah acuan seperti yang
ditunjukkan oleh gambar itu.
Resistor yang nilai resistansinya dapat
diubah-ubah disebut sebagai resistor Gambar 2.16 Ohm
[Link]
variabel dan lambangnya diberikan pada
Gambar 2.18. Resistor dengan resistansi
yang dapat diubah-ubah itu dapat berupa gulungan kawat atau, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.18, dari karbon. Dalam kemasan logam pada
gambar itu terdapat cakram dengan lapisan arang pada cakramnya.
Kutub 1 dan 3 merupakan ujung-ujung resistor itu dan kutub tengah
dihubungkan ke lengan yang dapat bergerak yang terhubung dengan elemen
resistor melalui kontak logam. Bila poros diputar, kontak itu akan bergerak
sepanjang elemen resistor dan embmerikan resistansi yang berbeda-beda. Hal
yang sama berlaku juga untuk tiga resistor geser berwarna hijau seperti yang
ditunjukkan pada bagian tengah Gambar 2.15.

i R

+ v -
Gambar 2.17 Lambang resistor dengan tanda dan arah acuan untuk
tegangan dan arusnya

Pada saat kontak mendekati ke salah satu kutubnya, resistansi di antaranya


akan berkurang. Antara kutub-kutub 1 dan 3 resistansi tetap dan maksimum.
Umumnya resistor karbon yang dapat dibuah-ubah resistansinya itu
mempunyai resistansi maksimum antara 1 kΩ sampai 5 MΩ, dengan daya

44
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

antara 0,5 sampai 2 W. Resistor yang dapat diubah-ubah dengan dua kutub
disebut reostat (rheostat) dan dengan tiga kutub disebut potensiometer
(potentiometer). Reostat umumnya digunakan untuk mengatur besarnya arus
dan potensiometer umumnya digunakan untuk mengubah-ubah tegangan
antara tegangan kutub tengah dengan kutub-kutub ujungnya. Reostat
umumnya berupa gulungan kawat dan digunakan untuk daya yang besar.
Karena R merupakan konstanta, Persamaan (2.13) adalah persamaan suatu
garis lurus. Dengan alasan ini resistornya disebut resistor linear. Grafik v
terhadap i diperlihatkan pada Gambar 2.18. Grafik ini berupa sepotong garis
lurus melalui titik-asal dengan lereng (kemiringan) R.

v
volt

R
=
ng
e re
L

-i i
ampere

-v
Gambar 2.18 Pewakilan grafik untuk hukum Ohm

Resistor yang resistansinya tidak tetap konstan untuk berbagai arus yang
berbeda dikenal sebagai resistor tak-linear. Resistansi untuk resistor
semacam itu merupakan fungsi arus yang mengalir di dalamnya. Salah satu
contoh sederhana untuk resistor semacam itu adalah lampu pijar. Contoh
karakteristik tegangan-arus untuk resistor tak linear diperlihatkan pada
Gambar 2.19, di situ tampak bahwa grafiknya bukan lagi merupakan
sepotong garis lurus. Karena R tidak konstan, analisis rangkaian yang
mengandung resistor semacam itu menjadi lebih rumit.
Daya yang dipergunakan dalam resistansi, sesuai dengan Persamaan (2.11):
v v2
p  vi  ( Ri )i  i 2 R  v  (2.14)
R R
Bila arus listrik mengalir dalam suatu resistor, maka ada kerja yang dilakukan
dalam resistor tersebut. Elektron-elektron pembawa muatan mendapatkan
tenaga dari sumber tegangan dan menyerahkan tenaga itu pada saat

45
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

bertumbukan dengan molekul penghantar. Tenaga itu diubah menjadi gerak


acak yang dikenal sebagai panas. Dalam suatu resistor semua tenaga yang
digunakan untuk memaksa aliran arus muncul sebagai kenaikan suhu
penghantar tersebut atau sebagai aliran panas yang meninggalkannya.

v
volt

-i i
ampere
-v

Gambar 2.19 Grafik resistor tak-linear

Persamaan (2.13) memberikan tegangan antara kutub-kutub resistor sebagai


fungsi arusnya. Hubungan kebalikannya memberikan arus dinyatakan dalam
tegangannya. Hubungan tersebut sering mempunyai arti yang penting dalam
hal-hal tertentu. Akibatnya, hukum Ohm sering dinyatakan sebagai
i = Gv ampere (2.15)
dengan
1
G  (2.16)
R
Kebalikan resistansi, G, disebut konduktansi yang diukur dalam mho atau
siemens (S) menurut SI; dimensinya adalah M–1L–2TQ2. Pernyataan daya
dalam konduktansi adalah
i2
p  vi  v (Gv)  v G 
2
(2.17)
G

Contoh 2.4
Misalkan antara ujung sebuah resistor 3  terdapat tegangan 12 V.
Tentukan dayanya dan periksa daya tersebut jika dipergunakan
konduktansi.

46
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Jawab
Menurut hukum Ohm,
v
i
R
12
  4A
3
p = vi = 12 x 4 = 48 W
1
Menurut Persamaan (2.16), G = S, sehingga
3
p = v2G
1
= 122x = 48 W
3

Parameter resistansi pada dasarnya merupakan suatu konstanta geometri, dan


telah ditemukan oleh Ohm dalam penyelidikannya. Dalam analogi dengan
persamaan penghantaran panas Fourier, Ohm menunjukkan bahwa resistansi
suatu penghantar dengan dimensi yang seragam berbanding lurus
denganpanjangnya, berbanding terbalik dengan luas penampangnya, dan
bergantung pada sifat penghantaran fisik bahannya. Jadi,
l
R (2.18)
A
dengan  adalah resistivitas bahan yang dinyatakan dalam ohm-meter, l
panjang penghantar dalam meter, dan A luas penampang penghantar dalam
meter pangkat dua. Nilai resistivitas beberapa bahan pada suhu kamar (27C
atau 300 K) diberikan dalam Daftar 2.2.
Emas dan perak memiliki resistivitas yang terendah, tetapi keduanya sangat
mahal untuk dipergunakan sebagai kawat saluran transmisi dan distribusi
tenaga listrik. Oleh karena itu penghantar tersebut umumnya terbuat dari
tembaga dan aluminium. Karena umumnya logam mempunyai resistivitas
yang rendah, maka logam dinamakan konduktor.
Isolator adalah bahan dengan resistivitas yang sangat tinggi, biasanya dalam
orde ribuan megaohm atau lebih. Contoh isolator antara lain adalah gelas,
mika, dan udara dalam keadaan tertentu. Isolator digunakan untuk membatasi
agar arus listrik tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan (yaitu, dalam
konduktor). Jalur itulah yang disebut rangkaian listrik, dan analog dengan
sistem pipa penyalur dalam zat alir. Resistansi dapat dibandingkan dengan
gesekan pipa dalam sistem zat alir atau gesekan dalam sistem mekanika.

47
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Daftar 2.2 Resistivitas Beberapa Bahan


Bahan Resistivitas pada 27C [·m]
Penghantar
Aluminium 2,73 x 10–8
Emas 2,27 x 10–8
Konstantan 44,00 x 10–8
Nikhrom 112,00 x 10–8
Perak 1,63 x 10–8
Tembaga 1,72 x 10–8
Wolfram 5,44 x 10–8
Semikonduktor
Silikon (tergantung kepada
10–8 sampai 1
ketidak-murniannya
Isolator
Gelas 1 x 1012
Kuarsa >1021
Teflon 1 x 1019

Beberapa bahan tidak sebaik konduktor tetapi juga bukan isolator. Karbon
(arang) dan berbagai paduan logam dapat digunakan sebagai bahan pembuat
resistor. Unsur rangkaian itu mempunyai resistansi dengan nilai yang berkisar
antara kurang dari satu ohm sampai beberapa megaohm. Komponen tersebut
diletakkan dalam rangkaian listrik jika diinginkan untuk membatasi aliran
arus dalam rangkaian.
Berbagai hasil percobaan membuktikan bahwa resistansi dari hampir semua
penghantar berubah menurut suhu. Jika resistansi suatu penghantar pada suhu
t1 adalah R1, maka untuk rentang suhu yang wajar, resistansinya pada suhu t2
diberikan oleh

R2  R1[1 (t 2 t1 )] (2.19)


dengan  adalah koefisien suhu resistor dan suhunya diukur dalam derajat
Celsius.

48
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Daftar 2.3 Koefisien suhu resistansi beberapa logam


Logam Koefisien suhu
resistansi
Aluminium 0,004
Baja 0,006
Besi tuang 0,001
Konstantan (paduan tembaga, nikel dan aluminium) 0,000005
Manganin (paduan tembaga, nikel dan mangan) 0,00005
Nikelin (paduan tembaga, nikel dan seng) 0,0003
Nikhrom (paduan nikel, khrom, besi dan mangan) 0,00016
Perak 0,0035
Platina 0,0032
Tembaga 0,004
Wolfram 0,0045

Nilai  untuk beberapa bahan diberikan pada Daftar 2.3. Penyelidikan


menunjukkan bahwa variasi linear pada resistansi berkisar dalam rentang
suhu kira-kira dari –500C hingga 2000C. Dalam rentang suhu ini dapat
dipergunakan hubungan yang lebih memudahkan daripada yang diberikan
oleh Persamaan (2.19). Hubungan itu diberikan oleh
R2 T  t 2
 (2.20)
R1 T  t1
T adalah konstanta yang ditentukan dari grafik seperti pada Gambar 2.20.
Nilai T untuk tembaga adalah 234,5 dan untuk aluminium 228.

Suhu

t2

t1

R1 R2
Resistansi
-T

Gambar 2.20 Resistansi penghantar logam sebagai fungsi suhu

49
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Contoh 2.5
Tentukan resistansi sepotong kawat baja yang dipanasi sampai
2300C jika resistansinya pada 300C adalah 120 .

Jawab
Menurut Persamaan (2.12) dan Daftar 2.3 diperoleh
R2 = 120[1 + 0,006(230 – 30)] = 121,2 

2.5 Induktansi
Jenis unsur rangkaian kedua memerlukan tegangan antara kutub-kutubnya
yang adalah sebanding dengan kecepatan perubahan arus yang melaluinya.
Secara kuantitatif, tegangan tersebut
adalah
i L di
v L volt (2.21)
dt
Konstanta pembanding L adalah
+ v - induktansi diri atau cukup disebut
Gambar 2.21 Lambang sebagai induktansi. Jika v, i dan t
rangkaian untuk induktansi berturut-turut dinyatakan dalam volt,
dengan tanda dan arah acuan ampere dan detik, induktansi dinyatakan
untuk tegangan dan arusnya dalam henry (H) dengan dimensi
ML2Q–2. Tegangan jatuh v dalam
Persamaan (2.21) adalah tegangan jatuh pada arah arusnya. Lambang
induktansi dengan arus dan tegangannya yang berkaitan diperlihatkan pada
Gambar 2.21. Induktansi berkaitan dengan medan magnit arus yang
menghasilkannya.
Benda fisik yang ciri utamanya adalah
induktansi disebut induktor. Nama satuan
itu dipakai untuk menghormati fisikawan
Amerika, Joseph Henry (1797-1878).
Berbagai macam induktor ditunjukkan pada
Gambar 2.23. Induktor adalah unsur
penyimpan tenaga dalam bentuk medan
magnit dan akan melepas kembali ke
rangkaian bila sumber yang mengisinya
tidak ada lagi.
Jika tegangan antara induktor diketahui dan
arusnya merupakan besaran yang dicari, Gambar 2.22 Henry
maka Persamaan (2.21) dapat ditulis sebagai [Link]

50
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

1
L
i v dt ampere (2.22)

Persamaan (2.22) menunjukkan bahwa arus dalam induktor tidak bergantung


pada nilai sesaat tegangannya, melainkan pada nilai sejak awal hingga saat
tegangan diamati, yaitu integral atau jumlah hasil kali volt-detik untuk
seluruh waktu hingga saat diamati. Jika diinginkan untuk mengetahui arus
induktor yang mengikuti peristiwa pengalihan yang biasanya terjadi pada
sebarang saat, misalnya t = 0, maka Persamaan (2.22) dapat ditulis sebagai
1
L
i v dt  i (0) A (2.23)

i(0) adalah arus yang sudah ada pada saat pengalihan itu terjadi dan
merupakan besarnya arus induktor yang telah berlalu sampai terjadinya
peristiwa pengalihan tersebut.

Gambar 2.23 Berbagai macam induktor


[Link]

Induktansi kawat penghubung umumnya kecil dan dapat diabaikan. Alat


seperti induktor, kumparan peredam, dan kumparan induksi, digunakan
dalam rangkaian listrik untuk mendapatkan pengaruh induktansi. Rentang
nilai induktansi ini sangat luas; sepotong kawat lurus sepanjang 2,5 cm dapat
mempunyai induktansi sebesar 10–8 H. Kumparan besar dengan inti besi
dapat mempunyai nilai beberapa ribu henry.

51
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Suatu induktor linear adalah induktor yang parameter induktansinya tidak


bergantung pada [Link] diuraikan sebelumnya,induktansi
berhubungan erat dengan medan magnet; induktor merupakan suatu unsur
rangkaian yang dapat menyimpan tenaga dalam bentuk medan fluks magnet.
Pada saat arus mengalir melalui suatu induktor, arus itu menimbulkan fluks
ruang. Bila fluks itu menembus udara, ia akan menimbulkan suatu
kesebandingan antara arus dengan fluks tersebut sehingga parameter
induktansi tetap konstan untuk setiap nilai arus. Lukisan selisih potensial
antara kumparan sebagai fungsi turunan waktu terhadap arus ditunjukkan
pada Gambar 2.24.

L
n =
n ga
iri
Kem

di/dt

Gambar 2.24 Pewakilan grafik parameter induktansi L

Bila fluks dibuat agar menembus besi, timbul gangguan terhadap


kesebandingan hubungan antara arus dengan fluks yang dihasilkannya.
Dalam hal itu induktor dikatakan tak-linear dan grafiknya bukan lagi
merupakan sepotong garis lurus.
Karena pengaruh induktansi menentang perubahan arus, induktansi analog
dengan massa atau kelembaman dalam sistem mekanika atau massa fluida
dalam hidrolika. Induktansi, sesuai dengan Persamaan (2.21), memerlukan
tegangan tak-hingga untuk menimbulkan perubahan sesaat pada arus; tepat
seperti massa mobil mencegah mobil untuk bergerak atau berhenti secara
tiba-tiba.
Daya yang berhubungan dengan induktansi dalam rangkaian adalah
di
p  vi  Li watt (2.24)
dt
dan tenaganya

52
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

di
w  pdt  Li dt  Lidi  12 Li 2 joule (2.25)
dt
Tidak seperti tenaga dalam resistansi yang berubah menjadi panas, tenaga
induktif tersebut disimpan dalam medan magnet seperti halnya dengan tenaga
kinetik yang disimpan dalam massa yang bergerak. Dari Persamaan (2.25),
tampak bahwa nilainya hanya bergantung pada besar arusnya saja tidak
bergantung pada bagaimana arus itu mencapai nilai tersebut. Tenaga induktif
yang tersimpan itu akan muncul kembali dalam rangkaian pada saat arus
menjadi nol. Misalnya, jika suatu saklar dibuka pada suatu rangkaian induktif
pembawa arus, maka arus akan berkurang dengan cepat tetapi tidak
mendadak dalam satu saat. Sesuai dengan Persamaan (2.21), suatu tegangan
yang relatif tinggi akan muncul di antara kontak saklar dan mungkin akan
timbul loncatan bunga-api listrik. Loncatan bunga-api itu memungkinkan
tenaga yang tersimpan tersebut dipergunakan sebagai panas dalam bunga-api
dan resistor rangkaiannya.

+
i(t) v 10 H
-

Gambar 2.25 Rangkaian untuk Contoh 2.3

Contoh 2.6
Induktansi pada Gambar 2.25 dicatu oleh suatu sumber arus
sempurna. Lengkungan (yang dinamakan bentuk-gelombang) arus
sebagai fungsi waktu diberikan pada Gambar 2.21a. Lukislah
bentuk gelombang tegangan v, daya sesaat p, dan tenaga yang
tersimpan w sebagai fungsi waktu.
Jawab
Dari Gambar 2.26a dapat disimpulkan bahwa persamaan arus yang
diberikan oleh sumber adalah
0 A untuk t  0 s
2t A untuk 0  t  1 s

i  2 A untuk 1  t  3 s
 2t  8 A untuk 3  t  4 s

0 A untuk t  4 s

53
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Arus
2A

(a)
Tegangan 0,5 1 t s
20 V

(b)
Muatan 0,5 1 t s
1C

(c)
0,5 1 t s
Daya
20 W

(d)
0,5 1 t s
Tenaga
5J

(e)
0,5 1 t s
Gambar 2.26 Bentuk gelombang untuk Contoh 2.4

Tegangan diperoleh dari Persamaan (2.21), yaitu induktansi


dikalikan dengan turunan waktu arus itu,
0 V untuk t  0 s
20 V untuk 0  t  1 s
di 
v  L  0 V untuk 1  t  3 s
dt 
 20 V untuk 3  t  4 s

0 V untuk t  4 s
Bentuk gelombang tegangan itu diberikan pada Gambar 2.21b.
Bentuk gelombang daya (Gambar 2.21c) dan tenaga (Gambar
2.21d) masing-masing diperoleh dari Persamaan (2.24) dan (2.25)
sebagai berikut:

54
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

0 W untuk t  0 s
40t W untuk 0  t  1 s
di 
p  Li  vi  0 W untuk 1  t  3 s
dt 40t  160 W untuk 3  t  4 s

0 W untuk t  4 s
0 J untuk t  0 s
20t 2 J untuk 0  t  1 s


w   p dt  20 J untuk 1  t  3 s
20t 2  160t  320 J untuk 3  t  4 s

0 J
 untuk t  4 s
Tampak bahwa jika arus dalam induktor itu konstan (dalam selang
1 sampai dengan 3 detik), maka tegangan dan dayanya sama
dengan nol. Selama selang itu tenaganya tersimpan dalam sistem.
(Periksa mengapa besar tenaga pada persamaan matematika untuk
t> 1 s bentuknya adalah seperti itu.)

Tegangan jatuh antara kutub suatu induktor dapat dinyatakan menurut


Persamaan (2.21), tetapi tegangan jatuh yang sama dapat diturunkan menurut
hukum Faraday melalui fluks yang dihasilkan arus dan banyaknya lilitan N
pada kumparan induktor. Sesuai dengan hal itu, dapat dituliskan.
di d
v L N V (2.26)
dt dt
sehingga
d
L N H (2.27)
di
Dalam hal fluks  berbanding lurus dengan arus (yaitu dalam induktor
linear), persamaan terakhir ini menjadi
N weber  lilitan
L (2.28)
i ampere
Di sini parameter induktansi mempunyai pernyataan gabungan karena
sebagian dinyatakan dalam variabel rangkaian i dan sebagian lagi dalam
variabel medan . Untuk menghindari hal tersebut fluks dapat digantikan
oleh pernyataan setaranya, yaitu
ggm NI
  (2.29)
reluktansi magnet 

55
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

ggm adalah gaya gerak magnet (ggm) yang menghasilkan fluks  dalam
rangkaian magnet yang mempunyai reluktansi. Gambar 2.27
memperlihatkan sebuah induktor yang terdiri atas N buah lilitan yang
digulung di sekitar inti besi berbentuk gelang. Jika inti besi diandaikan
mempunyai panjang menengah l meter dengan luas penampang A meter2,
maka reluktansi magnetnya dapat dibuktikan besarnya sama dengan
l
= (2.30)
A
dengan  adalah sifat fisik bahan magnet yang disebut permeabilitas.
Tampak adanya kemiripan antara Persamaan (2.30) di atas dengan Persamaan
(2.18)

N lilitan

Gambar 2.27 Induktor linier dengan inti besi

Dengan menyisipkan Persamaan (2.29) dan (2.30) ke dalam Persamaan


(2.28) akan dihasilkan pernyataan parameter induktansi untuk rangkaian pada
Gambar 2.20 sehingga
N 2 A
L henry (2.31)
l
Seperti halnya dengan resistansi, induktansi juga bergantung pada geometri
dimensi fisik dan sifat magnet mediumnya. Hal ini penting karena ia
menyatakan apa yang dapat dilakukan untuk mengubah nilai L tersebut. Jadi,
untuk induktor yang dilukiskan pada Gambar 2.27, parameter induktansinya
dapat dinaikkan nilainya dengan empat cara: memperbanyak lilitannya,
menggunakan inti besi dengan permeabilitas yang lebih tinggi, mengurangi
panjang intinya, atau memperbesar luas penampang intinya.

2.6 Kapasitansi
Jenis unsur rangkaian ketiga memerlukan arus yang melaluinya sebanding
dengan turunan waktu tegangan antara kutub-kutubnya. Secara kuantitatif,
arus tersebut adalah

56
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

dv
iC A (2.32)
dt
Tegangan unsur itu dapat diturunkan dari Persamaan (2.32) di atas sebagai
1
C
v i dt V (2.33)

Gambar 2.28 Berbagai macam kapasitor untuk sistem elektronik


[Link]
Konstanta pembanding C menyatakan sifat penyimpanan muatan dalam
unsur itu yang disebut kapasitansi. Menurut SI, satuan untuk kapasitansi
adalah farad (F) dan mempunyai dimensi M–1L–2T2Q2. Karena farad
merupakan suatu besaran fisik yang sangat besar, C sering dinyatakan dalam
mikrofarad (1 F = 10–6 F) atau dalam pikofarad (1 pF = 10–12 F). Nama farad
diambil dari nama ahli kimia dan fisika Inggris, Michael Faraday (1791-
1867), yang menemukan induksi elektromagnet.
Benda fisik yang ciri utamanya adalah kapasitansi disebut kapasitor.
Gambar 2.28 menunjukkan berbagai macam kapasitor yang digunakan dalam
sistem elektronik. Tidak seperti halnya dengan resistor, kapasitor sempurna
menyimpan tenaga selama proses pengisian dan melepaskan tenaga ke
rangkaian pada saat mengosongkan muatannya. Kapasitor menyimpan tenaga
itu dalam bentuk medan listrik.
Terdapat dua jenis utama kapasitor: kapasitor elektrolitik dan kapasitor
elektrostatik. Kapasitor elektrolitik meliputi jenis aluminium dan tantalum
dan digunakan bila diperlukan nilai kapasitansi yang besar. Kapasitor
elektrostatik antara lain adalah kapasitor plastik, keramik, mika dan gelas
umumnya kapasitansinya relatif kecil.
Kapasitor elektrolitik aluminium dibuat dari dua lembaran aluminium yang
dipisahkan oleh kertas berpori, digulung dan direndam dalam larutan
elektrolit, kapasitansinya dapat mencapai 1 F. Kapasitor tantalum pada

57
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

prinsipnya sama dengan kapasitor aluminium, tetapi unjuk kerjanya lebih


baik dan harganya lebih mahal. Kapasitor jenis ini mempunyai polarisasi
sehingga dalam penggunaannya tidak boleh dibalik. Keduanya hanya bekerja
pada frekuensi rendah sampai maksimum 20 kHz, tetapi karena harga yang
murah dengan ukuran yang relatif kecil untuk kapasitansi yang tinggi,
umumnya dipakai sebagai penyaring catu daya.

1/C
=
g an
n
miri
K e


i dt

Gambar 2.29 Pewakilan grafik parameter kapasitansi

Kapasitor elektrostatik mempunyai karakteristik listrik yang baik dan mampu


bekerja dengan tegangan dan frekuensi yang lebih tinggi ketimbang kapasitor
elektrolitik.

i C

+ v -
Gambar 2.30 Lambang rangkaian untuk kapasitansi

grafik dari Persamaan (2.33). Gambar 2.30 adalah lambang kapasitor dengan
arah acuan arus dan tegangannya. Tegangan jatuh pada arah arusnya
dinyatakan oleh v. Dengan membandingkan Persamaan (2.22) dengan (2.32)
tampak adanya kemiripan antara induktansi dan kapasitansi serta
pengaruhnya terhadap arus dan tegangan. Bila induktansi melawan perubahan
arus, kapasitansi menentang perubahan tegangan. Kapasitansi, dalam hal ini
analog dengan konstanta pegas dalam mekanika.

58
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Suatu kapasitor terdiri dari dua keping penghantar yang dipisahkan oleh
bahan dielektrik. Kapasitor merupakan unsur penyimpan tenaga dalam
bentuk medan listrik. Bila suatu baterai dihubungkan ke suatu kapasitor,
sejumlah muatan positif diberikan oleh baterai ke salah satu keping kapasitor
tersebut dan sejumlah muatan yang sama besarnya tetapi berlawanan
tandanya diberikan ke keping yang lain. Muatan-muatan tersebut akan tetap
tersimpan dalam kapasitor itu meskipun baterai yang mengisinya itu telah
dilepaskan dari rangkaiannya.
Daya yang berhubungan dengan pengaruh kapasitansi adalah
dv
p  vi  Cv W (2.34)
dt
dan tenaganya
dv
w  pdt  Cv dt  Cvdv  12 Cv 2 J (2.35)
dt
Tenaga yang dinyatakan oleh Persamaan (2.35) disimpan dalam kapasitor
seperti pegas yang ditekan atau direntang menyimpan tenaga potensial.
Nilainya hanya bergantung pada besarnya tegangan dan tidak bergantung
pada bagaimana besar tegangan itu dicapai.
Tenaga yang tersimpan menurut Persamaan (2.35) muncul kembali dalam
rangkaian pada saat tegangannya menjadi nol. Misalnya, jika suatu kapasitor
dikosongkan dengan jalan menghubung-singkatkan kutub-kutubnya, maka
suatu arus mengalir dalam unsur yang dihubung-singkat itu sampai seluruh
tenaga yang tersimpan tersebut habis dipergunakan sebagai panas dalam
resistansi rangkaian dan dalam bunga-api listrik yang mungkin timbul.

+
i(t) v 0,1 F
-

Gambar 2.31 Rangkaian untuk Contoh 2.7

Contoh 2.7
Kapasitansi 0,1 F pada Gambar 2.31. mempunyai sumber arus
sempurna sebagai pembangkitnya. Bentuk gelombang sumber itu
berupa pulsa (denyut) yang bernilai 2 A dalam selang waktu antara
0 dan 0,5 detik, dan nol ampere untuk waktu lainnya (lihat Gambar
2.32a). Lukis bentuk gelombang tegangan kapasitansi v, muatan q,

59
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

daya p, dan tenaga w yang tersimpan dalam kapasitor sebagai


fungsi waktu.
Jawab
Dengan cara yang serupa seperti yang diberikan pada Contoh 2.6,
hasil yang diinginkan disajikan pada Gambar 2.32. Tegangan
(Gambar 2.32b) diperoleh
dari Persamaan (2.33). Muatan (Gambar 2.32c) diperoleh dari
dq
i atau q   i dt coulomb b(2.36)
dt
sehingga menurut Persamaan (2.27)
q
v atau q  Cv C (2.37)
C

Arus
2A

Tegangan 1 2 3 4 t s
(a)
20 V

1 2 3 4 t s
-20 V
(b)
Daya
40 W

1 2 3 4 t s
-40 W
(c)
Tenaga
20 J

1 2 3 4 t s
(d)
Gambar 2.32 Bentuk-bentuk gelombang untuk Contoh 2.7

60
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Daya (Gambar 2.32d) dan tenaga (Gambar 2.32e) berturut-turut


diperoleh dari Persamaan (2.34) dan (2.35).
Tampak bahwa setelah pulsa arus itu hilang, kapasitor masih
mengandung muatan dengan adanya tegangan antara kutub-
kutubnya dan tenaganya tersimpan dalam medan listriknya. Tenaga
ini tentu saja dapat dipergunakan dengan menghubungkan suatu
beban antara kutub-kutub kapasitansi tersebut.
Telah ditunjukkan pada Contoh 2.5 di atas bahwa banyaknya
muatan yang terkumpul dalam kapasitor, menurut Persamaan
(2.37), adalah q = Cv.

Menurut teorema fluks Gauss, muatan yang terkumpul itu juga dapat
dinyatakan dalam besaran medan listrik sebagai
q  AE C (2.38)
dengan E adalah kuat medan listrik, permitivitas (konstanta dielektrik
spesifik) bahan antara keping-keping kapasitor dan A mewakili luas
penampang keping tersebut. Untuk memperjelas, akan ditinjau sebuah
kapasitor berbentuk dua keping sejajar dengan jarak pemisah sebesar d meter.
Kuat medan listriknya, dalam satuan volt per meter, dapat dinyatakan sebagai
v
E V/m (2.39)
d
Dengan menyisipkan persamaan di atas ke dalam Persamaan (2.38) diperoleh
v
q  A (2.40)
d
Kemudian dengan menyamakan Persamaan (2.37) dengan (2.40) untuk
muatan yang terdapat dalam keping kapasitor itu dengan suatu tegangan v
didapatkan
A
Cv   v
d
atau
A
C (2.41)
d
Jadi, Persamaan (2.41) memberikan definisi kapasitansi dalam konfigurasi
fisiknya dan sifat bahan yang terletak antara keping-kepingnya. Meskipun
persamaan ini diturunkan untuk suatu kapasitor dengan dua keping sejajar,
hubungan ini berlaku umum untuk setiap kapasitor. Parameter kapasitansi
sebanding dengan konstanta dielektrik bahannya, berbanding terbalik dengan

61
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

jarak antara keping-kepingnya, dan berbanding lurus dengan luas penampang


kepingnya.
Tampak adanya kemiripan uraian geometri resistansi, induktansi, dan
kapasitansi. Dengan membandingkan Persamaan (2.18), (2.28) dan (2.41)
tampak bahwa dalam masing-masingunsur rangkaian selalu terlibat sifat fisik
bahannya; ρuntuk resistansi µ untuk induktansi, dan Ɛ untuk kapasitansi.
Juga pada masing-masing unsur tersebut selalu terdapat perbandingan antara
panjang dan luasnya.

Soal-soal
2.1 Turunkan satuan SI untuk konstanta K dalam Persamaan (2.2) dan k
dalam Persamaan (2.3). Tentukan pula dimensi untuk keduanya.
2.2 Periksalah dimensi persamaan-persamaan berikut dan bila terjadi
kesalahan upayakan pembetulannya:
 Rt 
t

a. v  RIe RL
cos 
 2L 
2C 4C 2
b. t    LC 
G G
2.3 Seseorang dengan massa 65 kg berlari sejauh 10 km dalam waktu 1
jam. Tentukan berapa tenaga dalam joule yang dikeluarkannya dan
berapa daya rata-rata dalam watt yang digunakan untuk berlari itu
2.4 Sebuah tabung gelas dengan luas penampang 10–2 m2 mengandung
gas yang diionisasikan. Kerapatan muatan dalam gas itu adalah 1013
ion positif per m3 dan 1011 elektron bebas per m2. Di bawah pengaruh
suatu tegangan yang dikenakan, ion positif bergerak dengan
kecepatan rata-rata yang searah dengan sumbu tabung adalah 5 x 103
m s–1. Pada titik yang sama kecepatan rata-rata elektron searah sumbu
itu adalah 2000 kalinya. Hitunglah arus listriknya. Gunakan analisis
dimensi untuk memeriksa kebenaran hasilnya.
2.5 Dua muatan listrik sejenis sebesar 50 µC dan 300 µC terpisah sejauh
10 cm di ruang hampa. Tentukan besar gaya yang bekerja antara
kedua muatan tersebut.
2.6 Buktikan bahwa gaya yang bekerja pada dua muatan listrik yang
masing-masing besarnya 1 C sejauh 1 m kira-kira adalah satu juta
ton.
2.7 Dua muatan yang sama besarnya dan berlawanan tanda sebesar 7 
10-9 C terpisah sejauh 15 m. Tentukan gaya keseluruhan yang bekerja

62
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

pada suatu muatan positif q = 7  10-9 C yang terletak di antara kedua


muatan tersebut.
2.8 Dua muatan terletak tetap pada sistem koordinat segi empat dengan
satuan meter. Muatan Q1 = 3  10-9 C terletak di titik (0,0) dan
muatan Q1 = –2  10-9 C di titik (4,0). Tentukan tegangan vab antara
titik a (1,0) dan titik b (4,0).
2.9 Sebuah lampu pijar berteraan 60 W, 220 V.
a. Berapa muatan listrik yang mengalir melalui serat pijar (filament)
lampu itu selama 12 jam?
b. Berapa banyaknya elektron yang mengalir selama 12 jam itu?
c. Berapa rupiah yang harus dibayar untuk operasi 12 jam tersebut
bila harga listrik per kilowatt·jam adalah Rp 121,00?
2.10 Berapa joule panas yang dihasilkan oleh kumparan pemanas air yang
dibuat dari nikhrom sepanjang 10 m dengan luas penampang 0,5
mm2 yang bekerja dengan tegangan 220 V selama 10 menit?
2.11 Jelaskan perbedaan antara resistansi, resistor, dan resistivitas bahan.
2.12 Sebuah pemanas listrik menarik 1000 W dari suatu sumber 220 V.
Berapa resistansi pemanas tersebut? Berapa daya yang ditariknya jika
tegangan pada pemanas itu turun menjadi 208 V?
2.13 Suatu kumparan kawat tembaga mempunyai resistansi sebesar 12 
pada 25°C dipakai sebagai induktor. Setelah induktor itu bekerja
untuk beberapa saat, resistansi kumparannya ternyata naik menjadi
13,4  berapa suhu induktor itu sekarang?
2.14 Suatu resistor dialiri arus listrik dengan bentuk gelombang seperti
yang ditunjukkan oleh Gambar 2.17a. Lukislah bentuk gelombang
tegangan, daya dan tenaga yang diserap oleh resistor tersebut.
2.15 Apa perbedaan antara induktansi, dan induktor?
Sinusoida
Linear
2A

0 1 2 3 4s t
Gambar 2.33 Bentuk gelombang untuk Soal 2.16

2.16 Arus yang mengalir melalui induktansi 10 mH adalah


i  3e10 t A
6 2

63
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

Berapa tegangan v antara kutub induktansi tersebut?


2.17 Lukis bentuk gelombang tegangan, daya dan tenaga pada induktansi
sebesar 5 mH yang dialiri arus seperti yang diberikan oleh Gambar
2.33.

3A Eksponensial

0 1 2 3 4s t
Gambar 2.34 Bentuk gelombang untuk Soal 2.17

2.18 Suatu arus seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.32 mengalir
melalui suatu kumparan dengan resistansi 0,5  dan induktansi
sebesar 4 H. Tentukan bentuk gelombang tegangan, daya, dan tenaga
dalam masing-masing unsur tersebut.
2.19 Lukislah v(t), p(t), dan w(t) pada induktansi yang dialiri oleh i(t) yang
bentuk gelombangnya ditunjukkan pada Gambar 2.28.

6V

0 1 2 3 4 5 6s t

-6 V

Gambar 2.35 Bentuk gelombang untuk soal 2.21


Gambar 2.25 Bentuk gelombang untuk Soal 2.21

2.20 Kumparan seperti pada Gambar 2.18 mempunyai 100 lilitan. Panjang
menengah inti diketahui sebesar 0,2 m. Nilai permeabilitas intinya
adalah 10–3. Luas penampangnya 1 cm2.
a. Tentukan induktansi kumparan itu
b. Bila suatu tegangan arus searah dikenakan pada induktor itu maka
ada arus mengalir sebesar 0,1 A. Berapa besar tenaga yang
tersimpan dalam induktor itu?
2.21 Apa perbedaan antara kapasitansi dan kapasitor?
2.22 Jika arus sebesar
i = 120 cos(314t + 30°) A
mengalir dalam sebuah kapasitor sebesar 22 pF, tentukanlah berapa
tegangan di antara kutub-kutubnya.

64
Bab 2 Besaran dan Unsur-unsur Rangkaian Listrik

3V

0 1 2 3 4 5 6s t
-2 V

Gambar 2.36 Bentuk gelombang untuk Soal 2.22

2.23 Lukislah bentuk gelombang arus, daya, dan tenaga pada kapasitor
sebesar 100 F yang diberi tegangan v(t) seperti yang diberikan oleh
Gambar 2.29.
2.24 Lukislah i(t), p(t), dan w(t), pada kapasitor sebesar 22 F yang diberi
tegangan v(t) seperti yang diberikan oleh Gambar 2.35.
2.25 Suatu tegangan berbentuk
v = 0 V untuk t 0
v = t V untuk 0t1
v = 1/t V untuk 1t
dikenakan pada kapasitor sebesar 5 mF. Hitung arus yang mengalir
selama masing-masing selang dan gambar tegangan dan arus tersebut
sebagai fungsi t.
2.26 Kapasitansi sebesar 100 mF menyimpan tenaga 60 J. Berapa lamakah
waktu yang diperlukan untuk mengisi tenaga sebesar itu ke dalam
kapasitor tersebut dengan arus sebesar 2 mA?
2.27 Tentukan kapasitansi dua keping lempeng logam sejajar yang
dipisahkan oleh 0,1 mm lapisan mika dan mempunyai luas 0,113 m2.
Andaikanlah mika itu mempunyai permitivitas sebesar 10.
2.28 Apakah persamaan w = ½Li2 berlaku jika L merupakan fungsi waktu?
Selidiki juga untuk persamaan w = ½Cv2 jika C merupakan fungsi
waktu.
2.29 Tunjukkan karakteristik geometri yang serupa pada resistansi,
induktansi, dan kapasitansi.
2.30 Apa yang dimaksud dengan permeabilitas dan permitivitas?

65
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

alam Bab Dua telah didefinisikan variabel-variabel rangkaian,

D tegangan, dan arus serta diuraikan tentang unsur rangkaian, dan


dijelaskan hubungan antara unsur rangkaian dengan variabel
rangkaian. Dalam bab ini akan dibahas bagaimana hukum dasar
rangkaian mendasari gabungan dan interkoneksi beberapa unsur dalam suatu
rangkaian. Akan dijumpai dua hukum dasar, yang satu menguraikan tentang
bagaimana hubungan arus bila beberapa unsur rangkaian bertemu di satu titik
dan yang kedua mengenai bagaimana beberapa tegangan bergabung bila
semua unsur rangkaian dihubungkan secara berurutan. Selanjutnya, akan
diselidiki hubungan seri dan paralel beberapa resistor, induktor, dan
kapasitor.
Dalam bab ini juga akan ditinjau penguat kerja (operational amplifier),
sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana cara memperoleh sumber tak-
bebas yang telah disinggung di Bagian 2.3.
Dalam membahas hukum-hukum dasar itu titik berat pembahasan bab ini
akan dibatasi pada rangkaian yang unsur rangkaiannya hanya terdiri dari
resistor. Hal ini dilakukan agar pusat perhatian tertuju pada teori rangkaian
itu sendiri yang bebas dari berbagai kerumitan yang bakal timbul dengan
adanya bilangan kompleks jika induktansi dan kapasitansi terlibat dalam
rangkaian tersebut. Pendekatan semacam ini tidak akan menghilangkan sifat
umum analisis rangkaian. Kelak dalam Bab Lima dan Enam akan
ditunjukkan bahwa teori yang sama juga berlaku untuk rangkaian yang
mengandung ketiga unsur tersebut dengan kombinasi apapun.
Bab ini bertujuan menurunkan rumusan persamaan yang diperlukan untuk
menyelesaikan berbagai persoalan rangkaian secara bertahap; juga untuk
menyelidiki teknik yang memungkinkan suatu rangkaian dapat dinyatakan
dengan rangkaian setaranya yang lebih sederhana.
Setelah menyelesaikan bab ini, pembaca diharapkan dapat
 mengenal dan dapat menerapkan Hukum Kirchhoff untuk arus
dan tegangan;
 menggunakan hukum-hukum dasar rangkaian listrik secara
langsung;
 menyederhanakan rangkaian seri dan paralel;
 melakukan transformasi Y-∆ guna menyederhanakan rangkaian;
 mengenal penguat kerja.
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

3.1 Hukum Kirchhoff


Hukum-hukum dasar rangkaian secara rasional mengikuti sifat besaran listrik
yang telah dibahas dalam Bab Dua. Hukum-hukum ini secara langsung
memberikan tuntunan menuju cara yang sistematik dalam pembahasan
masalah rangkaian listrik. Hukum-hukum tersebut dinyatakan pada tahun
1847 oleh ahli fisika Jerman Gustav R. Kirchhoff, dan dikenal sebagai
Hukum-Hukum Kirchhoff.
Hukum pertama:Hukum Arus. Jumlah
aljabar semua arus yang menuju ke suatu
titik-hubung sama dengan [Link]
matematika hukum ini dituliskan sebagai
berikut
i1 + i2 + i3 + … + in = 0 i  0 (3.1)
Suatu titik-hubung, atau simpul, dalam
rangkaian adalah titik dengan dua atau lebih
unsur dan/atau sumber bertemu.
Bukti Hukum Arus Kirchhoff tersebut sudah
jelas karena dalam hal ini tidak ada muatan
yang tertimbun pada simpul dan tidak ada
Gambar 3.1 Kirchhoff arus yang mengalir ke luar simpul menuju ke
[Link]
ruang bebas. Jadi, paling sedikit harus ada
satu jalur yang membawa muatan ke luar dari
simpul itu. Sehingga dengan mengacu pada Gambar 3.2a, jika
i1 + i2 + i3 + i4 = 0
satu atau lebih arus itu harus bernilai negatif. Perjanjian tanda untuk arus
dalam rangkaian adalah sebagai berikut: Tetapkan suatu arah sebarang
dengan pertolongan anak-panah dalam cabang tempat arus itu mengalir dan
katakan arus itu positif. Jika ternyata arus yang sebenarnya mengalir
berlawanan arah dengan tanda anak-panah yang telah ditetapkan itu maka
dikatakan bahwa arus itu arus negatif.
Dalam penggunaan Hukum Kirchhoff tampak bahwa arus di suatu simpul
adalah nol jika diandaikan bahwa arah positif adalah arah arus yang menuju
ke simpul dan arah negatif untuk arus yang meninggalkan simpul tersebut
(atau sebaliknya). Jadi, dengan mengacu kepada Gambar 3.2,
Simpul a: +i1 + i2 + i3–i4 = 0
Simpul b: –i5 – i6 + i7 = 0
Simpul c: +i8 – i9 = 0
Untuk simpul c tampak bahwa i8 = i9. Secara umum, jika hanya ada dua unsur
rangkaian yang terhubung pada suatu simpul, arus yang mengalir di
dalamnya akan sama. Arus mengalir dalam salah satu unsur rangkaian dan

68
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

akan keluar melalui yang lain, sehingga cukup ditetapkan satu arus untuk
kedua unsur rangkaian yang terhubung melalui suatu simpul tersebut.

i3
i2 Simpul b Simpul c

i5 i7 i8
i1 Simpul a
i6 i9
i4

Gambar 3.2 Titik-hubung (simpul) rangkaian

i1
- v3 +
i3
1
i2

i4
Gambar 3.3 Rangkaian untuk Contoh 3.1

Contoh 3.1
Arus-arus pada rangkaian yang terlukis dalam Gambar 3.3. adalah
i1 = 5 A, dan i2 = 10 A, serta tegangan v3 = 4 V.
Tentukan berapa i4.
Jawab
Menurut Persamaan (2.13), v = Ri, maka
v3
i3 
R
4
 4A
1
Menurut Persamaan (3.1)
i1  i2  i3  i4  0
i4  i1  i2  i3
 5  10  4  19 A

69
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Arus i diandaikan positif jika arahnya menuju simpul, jadi i4 yang


bernilai negatif itu meninggalkan simpul.
Pembatasan berlakunya Hukum Kirchhoff tersebut adalah tidak boleh ada
muatan yang tertimbun dalam simpul.
Hukum Kedua: Hukum Tegangan. Jumlah aljabar semua tegangan
yang diambil menurut arah tertentu sepanjang jalur yang tertutup
adalah sama dengan nol.
Setiap tegangan, termasuk tegangan imbas oleh arus yang berubah di luar
rangkaian, harus disertakan. Secara matematika, Hukum Kirchhoff tegangan
tersebut dapat dituliskan sebagai
v1 + v2 + v3 + ... + vn = 0 v 0 (3.2)
Hukum kedua ini merupakan akibat dari prinsip kekekalan tenaga yang setara
dengan kesetimbangan tenaga dalam hal tenaga yang diberikan sama dengan
tenaga yang diserap oleh rangkaian. Dalam menuliskan persamaan hukum ini
arah yang dipilih boleh sebarang, tegangan jatuh adalah tegangan yang
mempunyai perubahan potensial dari + ke – dalam rangkaiannya dan
tegangan naik adalah dari – ke +. Dalam menerapkan Hukum Tegangan
Kirchhoff dalam buku ini digunakan tegangan naik yang bernilai positif
untuk tegangan naik.
Dengan mengacu kepada Gambar 3.4, menurut Hukum Tegangan Kirchhoff,
akan diperoleh persamaan-persamaan berikut:
Jalur 1 atau rangkaian tertutup 1: +va – vb – vc = 0
Jalur 2 atau rangkaian tertutup 2: +vc + vd – ve = 0
Jalur 3 atau rangkaian tertutup 3: –va + vb – vd + ve = 0

vb 
+ + vd 
B D
+ + +
va A C vc E ve
 Jalur 1  Jalur 2 

Jalur 3

Gambar 3.4 Jalur-jalur untuk penerapan Hukum Tegangan Kirchhoff

Tampak bahwa tegangan vc bertanda negatif di Jalur 1 tetapi bertanda positif


di Jalur 2, karena arah yang diambil di Jalur 1 berlawanan dengan arah yang
diambil di Jalur 2. Demikian pula halnya bila unsur-unsur rangkaian di Jalur
3 dibandingkan dengan yang ada di Jalur 1 dan Jalur 2, semuanya berlawanan

70
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

tanda karena arah perjalanan yang diambil di Jalur 3 berlawanan arah dengan
arah putaran jarum jam dan dua jalur lainnya searah dengan arah putaran
jarum jam.
Kotak-kotak berhuruf besar dalam Gambar 3.4 itu dapat mewakili sumber
atau unsur rangkaian dalam rangkaian tersebut.
Secara umum, penyelesaian persoalan rangkaian meliputi penentuan arus dan
tegangan dalam unsur rangkaian tertentu jika arus atau tegangan dalam unsur
lainnya diketahui. Arah dan polaritas variabel arus dan tegangan dapat secara
bebas ditentukan. Biasanya dipakai aturan-aturan tertentu untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya kesalahan. Jadi, variabel arus dan tegangan pada
resistansi R, induktansi L, dan kapasitansi C harus sesuai dengan yang telah
diberikan berturut-turut pada Gambar 2.17, 2.21, dan 2.30; sedangkan untuk
sumber sesuai dengan yang telah diberikan oleh Gambar 2.13 dan 2.14.
Ketentuan tersebut akan diikuti dalam buku ini.

+ v1 

+ +
v2 10  v4
 i4 
+ v3 
a
i3 5 

Gambar 3.5 Rangkaian untuk Contoh 3.2

Contoh 3.2
Rangkaian tertutup dalam Gambar 3.5 memperlihatkan sebagian
dari suatu jala-jala listrik. Dalam bagian itu diketahui v1 = 4 V, v2 =
3 V dan i3 = 2 A. Tentukan arus i.
Jawab
Untuk rangkaian tertutup seperti yang diperlihatkan oleh Gambar
3.5, Hukum Tegangan Kirchhoff memberikan persamaan (mulai
dari suatu titik tertentu yang dapat ditetapkan secara sebarang, dan
dalam hal ini dipilih titik a dengan arah yang sesuai dengan arah
putaran jarum jam untuk memudahkan):

71
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

v3 + v2 – v1 – v4 = 0
Tegangan v1 dan v2 telah diketahui. Tegangan v3 menurut
Persamaan (2.6) adalah
v3 = 5 x 2 = 10 V
Sehingga tegangan v4 adalah
v4 = 10 + 3 – 4 = 9 V
Arus i4 ditentukan menurut Persamaan (2.13)
9
i4  A
10
Hukum Kirchhoff pertama dan kedua ini tidak berlaku untuk frekuensi yang
sangat tinggi yang mengakibatkan rangkaian yang ditinjau itu mempunyai
ukuran dalam orde panjang-gelombangnya. Tinjauan untuk frekuensi tinggi
merupakan konsep dalam teori medan elektromagnet.

3.2 Penggunaan Hukum Dasar Secara Langsung


Pada umumnya, suatu rangkaian listrik terdiri dari banyak rangkaian tertutup
yang mempunyai banyak simpul dengan satu atau lebih sumber. Besaran
yang diketahui pada umumnya berupa tegangan pada sumber tegangan atau
arus dari sumber arusnya. besaran yang tidak diketahui meliputi arus yang
mengalir dalam sumber tegangan, tegangan pada sumber arus, dan tegangan,
serta arus dalam unsur-unsur rangkaiannya.
Persamaan yang digunakan untuk menentukan besaran yang tidak diketahui
itu terdiri dari tiga kategori: Hukum Arus Kirchhoff, Hukum Tegangan
Kirchhoff, dan hubungan volt-ampere dalam masing-masing unsur rangkaian
yang terlibat itu. Jumlah persamaan bebas haruslah sama dengan jumlah
besaran yang tidak diketahui. Persamaan bebas yang tersedia itu adalah
sebagai berikut:
1. Jumlah persamaan bebas untuk hubungan volt-ampere unsur sama
dengan jumlah unsur dalam rangkaian.
2. Jumlah persamaan bebas menurut Hukum Arus Kirchhoff sama dengan
jumlah simpul dalam rangkaian dikurang satu.
3. Jumlah persamaan bebas menurut Hukum Tegangan Kirchhoff sama
dengan jumlah rangkaian tertutup bebas.
Rangkaian tertutup bebas adalah rangkaian yang persamaannya menurut
Hukum Tegangan Kirchhoff mengandung paling sedikit salah satu
tegangannya yang tidak termasuk dalam persamaan yang lain.
Metode penggunaan langsung ini meliputi penentuan variabel arus dan
tegangan yang sesuai, penulisan ketiga jenis persamaan di atas, dan
penyelesaian persamaan itu untuk besaran yang dicari. Penentuan variabel
yang tidak diketahui dapat dilakukan secara sebarang, tetapi dengan cara

72
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

yang tersusun dan rapi dapat mempermudah dan menyederhanakan


penyelesaiannya. Tegangan dan arus pada resistor ditentukan sesuai dengan
Gambar 2.17, pada induktor seperti pada Gambar 2.21, dan pada kapasitor
menurut Gambar 2.30, sehingga hubungan volt-ampere dalam unsur
rangkaian selalu positif. Ada dua bentuk rangkaian yang dapat membantu
mempermudah penentuan variabel ini. Yang satu, adalah bagian rangkaian
seri seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.6. Arus yang mengalir dalam
masing-masing unsur atau sumber yang dihubungkan secara berurutan itu
sama, sesuai dengan hukum Kirchhoff untuk arus, sehingga hanya ada arus
tunggal i yang mengalir dalam rangkaian tersebut.

v1 v v2
- +
i R1 i i R2 i

Gambar 3.6 Bagian rangkaian seri

Bentuk rangkaian yang kedua adalah bagian rangkaian paralel, seperti yang
tampak pada Gambar 3.7. Dalam bentuk ini variabel tegangan tunggal
terpasang untuk semua unsur dan sumbernya.

i1 + i0 i +
2
R1 v1 R2 v1
- -

Gambar 3.7 Bagian rangkaian parallel

Suatu rangkaian dengan sebuah rangkaian tertutup yang terdiri dari sebuah
sumber tegangan bebas dengan tiga unsur berupa resistor ditunjukkan pada
Gambar 3.8a. Unsur itu dihubungkan secara seri dan dalam rangkaian itu
jelas bahwa menurut hukum Kirchhoff arus semua unsur dalam rangkaian itu
akan mengalirkan arus yang sama sebesar i ampere.
Penerapan Hukum Tegangan Kirchhoff, Persamaan (3.2), pada rangkaian
dalam Gambar 3.8a akan memberikan suatu aturan sederhana untuk berbagai
rangkaian seri. Dengan menggunakan aturan yang disebutkan sebelum ini,
untuk tegangan naik dan tegangan jatuh, sehingga dapat ditulis
v –iR1 – iR2 – iR3 = 0 (3.3)

73
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Dengan mengaturnya kembali didapatkan


v = i(R1 + R2 + R3) (3.4)
+ R1 -
i i i i
+ + + +
v R2 v Rs
- - - -
- R3 +
i
(a) (b)
Gambar 3.8 Rangkaian seri dengan rangkaian setaranya

Arus i dapat dikeluarkan dari dalam tanda-kurung pada ruas kanan karena
nilainya sama untuk setiap resistansi itu. Akibatnya, besaran dalam tanda-
kurung dapat digantikan oleh suatu resistansi setara
Rs = R1 + R2 + R3 (3.5)
Dengan demikian Persamaan (3.4) dapat disederhanakan menjadi
v = iRs (3.6)

i
i
+ i1 + i2 + i3 + + +
v R1 R2 R3 v Rp
- - - - - -

(a) (b)

Gambar 3.9 Rangkaian paralel dengan rangkaian setaranya

dan Rs menyatakan resistansi setara seri untuk rangkaian itu. Selanjutnya,


dari analisis ini bentuk rangkaian aslinya, Gambar 3.8a dapat digantikan oleh
suatu rangkaian setara seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.8b.
Secara umum, jika terdapat n buah resistor yang dihubungkan seri dalam
suatu rangkaian, maka resistansi setara serinya diperoleh dengan
menjumlahkan masing-masing resistansi dalam rangkaian itu. Secara
matematika, ditulis
Rs = R1 + R2 + ... + Rn = R (3.7)
Unsur rangkaian dapat juga dijumpai dalam hubungan paralel. Di rumah,
semua lampu listrik dipasang dengan jalur paralel terhadap sumber

74
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

tegangannya. Resistansi R1, R2, dan R3 dalam Gambar 3.9a tersusun dalam
hubungan paralel.
Kembali dengan pertolongan analisis rangkaian, kombinasi paralel ketiga
resistor itu dapat diwakili oleh suatu besaran setaranya. Hukum arus
Kirchhoff menyatakan bahwa arus yang memasuki sebuah simpul sama
dengan arus yang meninggalkannya. Dalam bentuk persamaan, untuk
rangkaian pada Gambar 3.9a itu, diperoleh
i = i1 + i2 + i3 (3.8)
Dan menurut Hukum Ohm yang berhubungan dengan masing-masing
resistor, Persamaan (3.8) dapat ditulis kembali dalam bentuk
v v v
i=   (3.9)
R1 R2 R3
Kembali dengan mengumpulkan variabel-variabel yang sama, yang dalam hal
ini adalah tegangan v, didapatkan
 1 1 1
i = v    (3.10)
 R1 R2 R3 
Pernyataan dalam tanda-kurung dapat digantikan oleh suatu besaran setara
yang didefinisikan sebagai
1 1 1 1
   (3.11)
Rp R1 R2 R3
Rp menyatakan resistansi setara paralel. Dengan memasukkan Persamaan
(3.11) ke dalam Persamaan (3.10) diperoleh suatu persamaan yang
disederhanakan untuk rangkaian tersebut, yakni
v
i= (3.12)
Rp
Gambar 3.9b merupakan pewakilan rangkaian untuk Persamaan (3.12) dan
dapat dipandang sebagai rangkaian setara untuk rangkaian yang diberikan
oleh Gambar 3.9a.
Pernyataan umum untuk prosedur di atas menyatakan bahwa resistansi setara
n buah resistansi yang dihubung paralel sama dengan jumlah kebalikan
masing-masing resistansi itu. Bentuk persamaannya adalah
1 1 1 1 1
   ...   (3.13)
Rp R1 R2 Rn R
Persamaan (3.13) berhubungan dengan kebalikan resistansi, yang dikenal
sebagai konduktansi, seperti yang telah diberikan pada Persamaan (2.16),
sehingga

75
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Gp = G1 + G2 + ... + Gn = G (3.14)
Suatu bentuk rangkaian yang sering dijumpai adalah kombinasi paralel dua
buah resistor seperti yang tampak pada Gambar 3.9. Penerapan Persamaan
(3.13) pada rangkaian ini memberikan
1 1 1
 
R p R1 R2
yang dapat ditulis sebagai
R1 R2
Rp  (3.15)
R1  R2
Perlu diperhatikan di sini bahwa Persamaan (3.15) yang menyatakan hasil
kali resistor dibagi dengan jumlah resistor hanya berlaku untuk dua
resistansi seri saja, tidak berlaku untuk lebih dari dua resistor yang
dihubung paralel.

R1 R2

Gambar 3.10 Dua resistor dalam hubungan paralel

Hubungan seri dan paralel untuk kapasitor sering dijumpai dalam rangkaian
elektronika – lebih sering daripada di bidang lain dalam teknik elektro.

i + i
+ v1 C1 +
v - v Cs
+
- v2 C2 -
- -

(a) (b)
Gambar 3.11 Rangkaian kapasitor seri dengan rangkaian setaranya

Gambar 3.11a memperlihatkan rangkaian yang mengandung dua kapasitor


dengan kapasitansi C1 dan C2 yang dihubungkan seri. Bila suatu tegangan
dikenakan antara ujung gabungan tersebut, maka kedua kapasitor itu akan
mempunyai perpindahan muatan yang sama besar. Beda potensial antara

76
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

ujung masing-masing kapasitor ini akan berbeda bila C1 tidak sama dengan
C2. Hukum tegangan Kirchhoff menyatakan bahwa kedua tegangan itu harus
dijumlahkan agar sama dengan tegangan sumbernya.
Jadi
v = v1 + v2 (3.16)
Untuk tegangan awal kapasitor yang sama dengan nol, menurut Persamaan
(2.27)
v1 = 1  i dt
1
C2 
dan v2 = i dt (3.17)
C1
Dengan memasukkan Persamaan (3.17) di atas ke dalam Persamaan (3.16)
didapatkan
v = 1  i dt  1  i dt
C1 C2
atau
 1 1
v =     i dt (3.18)
 C1 C2 
Pernyataan ini dapat disederhanakan dengan memperkenalkan pernyataan
pengganti
1 1 1
  (3.19)
Cs C1 C2
atau, seperti halnya dengan dua resistansi paralel
C1C2
Cs  (3.20)
C1  C2
Cs menyatakan kapasitansi setara dua kapasitor yang dihubungkan seri (sekali
lagi di sini hanya berlaku untuk dua kapasitor yang dihubung seri dan tidak
berlaku untuk lebih dari dua kapasitor yang dihubung seri). Maka Persamaan
(3.18) menjadi
1
Cs 
v= i dt (3.21)

sehingga Gambar 3.11a dapat digantikan oleh suatu rangkaian setara yang
sesuai dengan Persamaan (3.21). Rangkaian setara itu diperlihatkan pada
Gambar 3.11b.
Pernyataan umum kapasitansi setara dari n buah kapasitor yang dihubungkan
seri adalah
1 1 1 1 1
   ...   (3.22)
Cs C1 C2 Cn C

77
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Jadi, kapasitor-kapasitor yang dihubungkan seri dapat dinyatakan seperti


resistansi yang resistornya dihubungkan paralel.
Sesuai dengan kesimpulan di atas dapat diharapkan bahwa perilaku kapasitor
yang dihubungkan secara paralel akan bersikap seperti resistor dalam
hubungan seri. Kebenaran pernyataan ini dapat dibuktikan dengan
menerapkan Hukum Arus Kirchhoff dalam rangkaian pada Gambar 3.12a.
Karena
i = i1 + i2 (3.23)
sedangkan menurut Persamaan (2.32)
dv dv
i1 = C1 dan i 2 = C2 (3.24)
dt dt
maka Persamaan (3.23) menjadi
dv dv
i = C1  C2 (3.25)
dt dt

i i
+ i1 i2 +
v - v Cp
C1 C2
- -

(a) (b)
Gambar 3.12 Rangkaian kapasitor paralel dengan rangkaian setaranya

Dengan mengumpulkan semua suku yang sama, maka


i = (C1  C2 ) dv (3.26)
dt
Dengan memasukkan pernyataan
Cp = C1 + C2 (3.27)
dengan Cp adalah kapasitansi setara untuk gabungan paralel, ke dalam
Persamaan (3.26) didapatkan
dv
i = Cp (3.28)
dt
Bila terdapat n buah kapasitor yang dihubung paralel, kapasitansi setara
paralelnya dapat dinyatakan sebagai
Cp = C1 + C2 + ... + Cn = C (3.29)
Karena Persamaan (3.29) bentuknya identik dengan Persamaan (3.7),
kesimpulan yang mengikutinya juga serupa.

78
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Pada Gambar 3.13a tampak suatu rangkaian yang mempunyai dua induktor
dalam hubungan seri. Sumber tegangannya diandaikan berubah menurut
waktu sehingga menimbulkan arus yang berubah menurut waktu mengalir
dalam kedua induktor tersebut. Menurut Hukum Tegangan Kirchhoff,
di di
v = L1  L2 (3.30)
dt dt
Dengan mengumpulkan suku-suku yang sama, didapatkan
di
v = ( L1  L2 ) (3.31)
dt
Dengan memisalkan
Ls = L1 + L2 (3.32)
kemudian menyisipkannya ke dalam Persamaan (3.31) menghasilkan
v = Ls di (3.33)
dt

L1
i i
+ +
v L2 v Ls
- -

(a) (b)
Gambar 3.13 Rangkaian induktor seri dengan rangkaian setaranya

Ls menyatakan induktansi setara untuk hubungan seri induktor.


Gambar 3.13b memperlihatkan suatu rangkaian setara menurut Persamaan
(3.33). Tampak bahwa induktansi hubungan seri dapat diperlakukan seperti
resistansi hubungan seri.
Secara umum, n buah induktor yang dihubungkan seri dalam suatu rangkaian
dapat digantikan oleh induktansi setara yang besarnya sama dengan jumlah
masing-masing induktansi tersebut. Jadi
Ls = L1 + L2 + ... + Ln = L (3.34)
Tinjau hubungan paralel dua induktor pada Gambar 3.14a. Menurut Hukum
Arus Kirchhoff,
i = i1 + i2 (3.35)
Menurut Persamaan (2.16), dengan pengandaian arus awal pada masing-
masing induktansi itu sama dengan nol,

79
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

i1 = 1  v dt i2 = 1
L1
dan
L2  vdt (3.36)

i i
+ i1 i2 +
v v Lp
L1 L2
- -

(a) (b)
Gambar 3.14 Rangkaian induktor paralel dengan rangkaian setaranya

Dengan menyisipkan persamaan di atas ke dalam Persamaan (3.35),


menghasilkan
 
i =  1  1   v dt (3.37)
 L1 L2 
atau
1
i=
Lp  v dt (3.38)

dengan
1 1 1
  (3.39)
L p L1 L2
atau
L1 L2
Lp  (3.40)
L1  L2
Besaran Lp adalah induktansi setara untuk hubungan paralel induktor.
Persamaan (3.40) itu hanya berlaku untuk dua induktor yang dihubung
paralel dan tidak berlaku untuk lebih dari dua induktor yang dihubung
paralel.
Untuk hal yang umum bila terdapat n buah induktor yang dihubungkan
paralel, Persamaan (3.39) menjadi
1 1 1 1 1
   ...   (3.41)
L p L1 L2 Ln L
Persamaan (3.41) menunjukkan bahwa perilaku induktansi dalam hubungan
paralel sama seperti perilaku resistansi dalam jenis hubungan yang sama.

80
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Contoh 3.3
Rangkaian pada Gambar 3.15a tersusun dari gabungan tiga buah
resistor dalam hubungan paralel yang dihubungkan seri dengan
resistor R1. R1 = 40 , R2 = 20 , R3 = 33,33  dan R4 = 50
.Tentukan arus yang mengalir dari sumbernya.
Jawab
Sebagai langkah pertama dalam prosedur ini ditentukan dahulu
resistansi setara gabungan paralel R2, R3, dan R4. Menurut
Persamaan (3.13),
1 1 1 1 1 1 1 1
       S
R p R2 R3 R4 20 33,33 50 10
Jadi Rp = 10 Ω
Selanjutnya, rangkaian aslinya dapat diwakili oleh rangkaian
setaranya seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.15b, yang
merupakan suatu rangkaian seri sederhana. Menurut Hukum
Tegangan Kirchhoff
100 –IR1 – IRp = 0
sehingga
100
I= =2A
40  10

Contoh 3.4
Tentukan selisih potensial antara kutub ab dalam rangkaian pada
Gambar 3.15.
a a
R1 R1
+ +
100 V R2 R3 R4 100 V Rp
- -
I I
b b
(a) (b)

Gambar 3.15 Rangkaian untuk Contoh 3.3 dan 3.4

Jawab
Dengan berpedoman pada Gambar 3.15b, menurut Hukum Ohm
tegangan jatuh antara ab adalah
Vab = IRp = 2 x 10 = 20 V

81
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

dengan I telah dihitung dalam Contoh 3.3.


Karena arus I sama dalam kedua resistor itu, maka dapat diperoleh
suatu penyelesaian tanpa harus menghitung arus itu secara
tersendiri. Secara umum, tegangan jatuh antara ab dapat ditulis
sebagai
Vab = IRp (3.42)
Selanjutnya, menurut Hukum Tegangan Kirchhoff, pada rangkaian
dalam Gambar 3.15b adalah
V = I(R1 + Rp) (3.43)
Jika Persamaan (3.42) dibagi dengan Persamaan (3.43), maka suku
arus akan lenyap dan menghasilkan suatu pernyataan untuk
tegangan jatuh antara ab sebagai
Rp
Vab = V
R1  R p
(3.44)
Dengan memasukkan nilai-nilai yang telah diketahui untuk
parameter-parameter dalam Persamaan (3.44) maka didapati
10
Vab = 100 = 20 V
10  40
Persamaan (3.44) sering digunakan dalam analisis rangkaian. Dalam bentuk
umum, suatu rangkaian yang terdiri dari n buah resistor yang dihubungkan
seri dengan suatu sumber v, tegangan vk yang terdapat antara kutub resistor Rk
adalah
Rk
vk = v (3.45)
R1  R2    Rk
Persamaan (3.45) dikenal sebagai teorema pembagi tegangan.

x g e c a

+ 0,5  0,5  1
Sumber 12  4 10  8
- 0,5  0,5  1
y h f d b
Saluran Beban Saluran Beban Saluran Beban

Gambar 3.16 Rangkaian untuk Contoh 3.5

82
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Contoh 3.5
Rangkaian yang ditunjukkan pada Gambar 3.16 adalah suatu
rangkaian kutub-dua. Kutub x dan y dihubungkan ke suatu sumber.
Tiga beban dalam rangkaian itu dihubungkan oleh saluran pencatu,
resistansi beban; saluran pencatunya diberikan pada diagram.
Untuk menentukan kebutuhan arus yang ditarik dari sumber
diperlukan suatu rangkaian pengganti resistansi beban dan saluran
dengan sebuah resistansi setara. Tentukan nilai resistansi setara itu.
Jawab
Untuk menentukan resistansi ini akan diikuti suatu proses
penyederhanaan rangkaian yang pada dasarnya meliputi
pemakaian Persamaan (3.7) dan (3.13) untuk gabungan resistansi
seri dan paralel yang diawali dari sepasang kutub yang terjauh dari
sumbernya. Dalam persoalan ini ialah kutub ab.

x g e c a

+ 0,5  0,5 
Sumber 12  4 10  Rab
- 0,5  0,5 
y h f d b
x g e c

+ 0,5  0,5 
Sumber 12  4 Rcd
- 0,5  0,5 
y h f d
x g e

+ 0,5 
Sumber 12  4 Ref
- 0,5 
y h f
x g

+ 0,5 
Sumber Rgh
- 0,5 
y h
x

+
Sumber Rxy
-

Gambar 3.17 Penyelesaian bertahap untuk Contoh 3.5

83
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Karena resistansi saluran pencatu dan beban di kutub ab


berhubungan seri, maka resistansi setaranya dilihat dari kiri ab
adalah
Rab = 1 + 8 + 1 = 10 Ω
Resistansi setara Rab ini selanjutnya paralel dengan beban 10 Ω
yang terletak di kiri ab. Resistansi di kanan kutub cd, menurut
Persamaan (3.15), adalah
10  10
Rcd = =5Ω
10  10
Kembali sekarang Rcd merupakan bagian resistansi seri dan
resistansi saluran pencatu di kirinya. Resistansi setara dilihat dari
kiri ef
Ref = 0,5 + 5 + 0,5 = 6 Ω
Resistansi Ref ini paralel dengan dua resistansi beban 4 Ω dan 12 Ω
Resistansi setara
Rgh bila dilihat dari kiri adalah
1 1 1 1
Ggh =   = S
6 4 12 2
atau
Rgh = 2 Ω
Resistansi setara Rgh ini berhubungan seri dengan resistansi saluran
pencatu, dua kali 0,5 . Resistansi setara Rxy yang akan
menggantikan seluruh rangkaian dari ujung kanan sampai ke kutub
seluruh rangkaian dari ujung kanan sampai ke kutub xy adalah
Rxy = 0,5 + 2 + 0,5 = 3 Ω
Diagram pelaksanaan penyederhanaan rangkaian tersebut
diperlihatkan pada Gambar 3.17

Resistansi Rxy pada Contoh 3.5 adalah resistansi setara rangkaian terhadap
sumber. Resistansi ini sering disebut sebagai resistansi masukan atau
resistansi titik-penggerak suatu rangkaian. Resistansi masukan suatu
rangkaian merupakan besaran yang menunjukkan akibat yang dihasilkan oleh
rangkaian terhadap sumbernya.
Sebagai aturan umum, resistansi masukan atau resistansi titik-penggerak
hanya berlaku untuk rangkaian dengan unsur pasif – dalam hal ini adalah
resistor. Ada hal khusus dalam hal resistansi ini berlaku pula untuk rangkaian
yang mengandung satu atau lebih sumber tergantung yang keluarannya
berbanding lurus dengan arus atau tegangan di dalam rangkaian yang

84
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

disederhanakan itu. Dalam hal ini, yang sangat penting artinya dalam
rangkaian elektronika, resistansi setara rangkaian diperoleh dengan
menghitung perbandingan antara tegangan masukan dengan arusnya, jadi
tidak dari penyederhanaan itu sendiri. Teknik tersebut diperjelas dengan
contoh berikut.

+ 3 2I
V 4 10 
- I1

Gambar 3.18 Rangkaian untuk Contoh 3.6

Contoh 3.6
Tentukan resistansi masukan pada rangkaian dalam Gambar 3.18.
Jawab
Arus I1 menurut Hukum Arus Kirchhoff pada simpul tengah
rangkaian adalah
I1 = I + 2I = 3I
dan persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff untuk rangkaian
tertutup di sebelah kiri adalah
V = 3I + 4(3I) = 15I
dan
V
R= = 15 Ω
I

+ V1 - a A b

+ I1 20  +
140 V 6 V2 5 18 A
- I2 - I3

c B d
Gambar 3.19 Rangkaian untuk Contoh 3.7

85
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Contoh 3.7
Tentukan tegangan dan arus yang belum diketahui dalam rangkaian
pada Gambar 3.19. Rangkaian ini mengandung sebuah sumber
tegangan tetap sebesar 140 V pada rangkaian tertutup di sebelah
kiri dan pada rangkaian di kanan sebuah sumber arus tetap sebesar
18 A.
Tuliskan juga kesetimbangan daya yang menunjukkan banyaknya
daya yang diserap oleh semua resistansinya sama dengan daya yang
diberikan oleh kedua sumber.
Jawab
Langkah pertama adalah menentukan arah acuan untuk tegangan
dan arus yang belum diketahui. Tampak bahwa sumber tegangan
140 V berhubungan seri dengan resistor 20 Ω, sehingga kedua
unsur ini mempunyai arus yang sama sebesar I1. Arah untuk
tegangan V1 sesuai dengan yang ditunjukkan pada Gambar 3.19.
Karena resistor 6 Ω dan 5 Ω berhubungan paralel, maka tegangan
pada masing-masing resistor ini sama sebesar V2. Arus I2 dan I3
ditentukan sesuai dengan pola yang telah diberikan oleh Gambar
2.10. Dengan demikian semua variabel telah tertentu.
Himpunan persamaan pertama adalah hubungan volt-ampere dalam
unsurnya. Karena ada tiga resistor dalam rangkaian ini, maka
terdapat tiga persamaan menurut Hukum Ohm:
V1 = 20I1 (3.46)
V2 = 6I2 (3.47)
V2 = 5I3 (3.48)

I1 A 18 A
I2 I3
6 5

B
Gambar 3.20 Bagian rangkaian pada Gambar 3.19 untuk simpul
A dan B

Langkah berikutnya adalah menuliskan Hukum Arus Kirchhoff


untuk arus. Dalam menentukan jumlah simpul tampak bahwa ujung
a dan b adalah simpul A, sedangkan ujung c dan d adalah simpul B.
Bila bagian rangkaian tersebut dilukis kembali, seperti yang

86
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

diperlihatkan pada Gambar 3.20, terbukti hanya ada dua simpul.


Jadi hanya ada satu persamaan yang dapat ditulis. Untuk simpul A:
I1 – I2 – I3 + 18 = 0 (3.49)
Berikutnya, dituliskan persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff.
Tampak bahwa rangkaian tertutup yang bebas hanyalah yang
terletak di sebelah kiri, dua lainnya masing-masing hanya
mengandung dua unsur sehingga persamaan tegangannya implisit
dengan adanya tegangan V2. Jadi, hanya terdapat satu persamaan
bebas, yakni
140 – V1 – V2 = 0 (3.50)
Kelima persamaan di atas dapat diselesaikan secara serentak. Cara
apapun yang dipakai, tetap perlu diperhatikan urutan
penyelesaiannya. Umumnya hubungan volt-ampere disisipkan baik
ke dalam persamaan arus maupun persamaan tegangan untuk
menghilangkan variabel arus atau tegangannya. Persamaan (3.46)
sampai dengan (3.48) bila disisipkan ke dalam Persamaan (3.49)
memberikan
1 1 1
V1  V2  V2  18 = 0 (3.51)
20 6 5
Persamaan (3.50) dan (3.51) dapat disusun kembali menjadi
V1 + V2 = 140
–3V1 + 22V2 = 1080
sehingga diperoleh V1 = 80 V dan V2 = 60 V. Arus diperoleh dari
Persamaan (3.46) sampai dengan (3.48), yaitu:
I1 = 4 A, I2 = 10 A, dan I3 = 12 A.
Pembuktian kesetimbangan daya adalah sebagai berikut. Daya yang
hilang dalam resistor ditentukan dengan Persamaan (2.10) dan daya
yang diberikan oleh sumber menurut Persamaan (2.9).

Daya yang diserap oleh rangkaian:


Resistansi 5 Ω : P = I2R = 122 × 5 = 720 W
6Ω : 102 × 6 = 600 W
20 Ω: 42 × 20 = 320 W
Daya keseluruhan yang diserap 1640 W
Daya yang diberikan sumber ke rangkaian:
Sumber 140 V: P = VI = 140 x 4 = 560 W
Sumber 18 A: 60 × 18 = 1080 W
Daya keseluruhan yang diberikan 1640 W

87
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Contoh di atas melukiskan penggunaan hukum dasar rangkaian secara


langsung, cara ini dapat dipermudah dan diperingkas dengan dua
penyederhanaan. Yang pertama adalah dengan menyatakan arus dalam
variabel tegangan (atau sebaliknya). Dengan penyederhanaan ini Persamaan
(3.49) dalam contoh di atas dapat langsung ditulis seperti Persamaan (3.51)
tanpa perlu secara khusus menuliskan persamaan Hukum Ohm untuknya.
Harus diperhatikan bahwa Hukum Ohm tetap diperlukan dan pernyataan itu
telah tercakup dalam Persamaan (3.51) karena pernyataan arusnya telah
ditulis dalam suku-suku tegangan.
Penyederhanaan kedua memperjelas apa yang diperlukan dalam penulisan
persamaan Hukum Kirchhoff baik untuk arus maupun tegangan dengan
memilih variabelnya sebagai gabungan variabel yang telah dipilih
sebelumnya. Misalnya, dalam Contoh 3.7 di atas pada Persamaan (3.50),
tegangan V1 adalah (140 – V2) yang dapat langsung ditulis pada diagramnya.
Akibatnya, Persamaan (3.51) dapat langsung ditulis sebagai
1 1 1
(140 –V2) – V2 – V2 + 18 = 0
20 6 5
Tampak bahwa jumlah persamaan dalam rangkaian ini dapat dikurangi
sehingga yang tertinggal hanya satu persamaan saja.
Contoh di atas juga membuktikan kebenaran hukum kekekalan tenaga yaitu
semua daya yang diberikan sumber sama dengan daya yang diserap sumber
(apa hubungan antara daya dan tenaga?).

3.3 Transformasi Y-


Ada bentuk rangkaian tertentu yang tidak dapat disederhanakan dengan
hanya menggunakan kombinasi seri-paralel. Konfigurasi semacam itu sering
dapat ditangani dengan menggunakan transformasi Y- Transformasi ini
memungkinkan tiga resistor yang dihubungkan dalam bentuk Y digantikan
oleh tiga resistor lain dalam bentuk , dan sebaliknya. Rangkaian pada
Gambar 3.21 adalah rangkaian Y dan  tersebut.
Jika kedua rangkaian itu harus setara maka resistansi antara setiap pasangan
kutubnya harus sama juga, baik untuk bentuk Y maupun . Tiga persamaan
serentak dapat ditulis untuk menyatakan kesetaraan ketiga pasang resistansi
kutub tersebut. Untuk pasangan kutub x dan y, resistansi setara  adalah Rc
dalam hubungan paralel dengan kombinasi seri Ra dan Rb, dan resistansi
setara untuk bentuk Y pada pasangan kutub tersebut adalah kombinasi seri R1
dan R2. Jadi, dapat ditulis
R ( R  Rb )
Rxy = R1 + R2 = c a
( Ra  Rb )  Rc

88
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Dua persamaan pasangan kutub serupa dapat pula ditulis untuk kedua
pasangan kutub lainnya.

x x

R1
Rb Rc
R2
R3
z y z Ra y

Gambar 3.21 Rangkaian setara Y dan 

Ketiga persamaan tersebut dapat diselesaikan secara serentak untuk nilai :


Ra, Rb dan Rc, atau untuk nilai Y: R1, R2, dan R3. Hasilnya adalah
Rb Rc
R1 = (3.52)
Ra  Rb  Rc
Ra Rc
R2 = (3.53)
Ra  Rb  Rc
Ra Rb
R3 = (3.54)
Ra  Rb  Rc
atau
R1 R2  R2 R3  R3 R1
Ra = (3.55)
R1
R1 R2  R2 R3  R3 R1
Rb = (3.56)
R2
R1 R2  R2 R3  R3 R1
Rc = (3.57)
R3
Hubungan resistansi Y -  yang diberikan oleh Persamaan (3.52) sampai
dengan (3.57) di atas tentu saja dapat dinyatakan dalam kebalikan resistansi
atau konduktansi. Dengan proses yang sama didapatkan
Ga Gb  Gb Gc  Gc Ga
G1 = (3.58)
Ga

89
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Ga Gb  Gb Gc  Gc Ga
G2 = (3.59)
Gb
Ga Gb  Gb Gc  Gc Ga
G3 = (3.60)
Gc
dan
G2 G3
Ga = (3.61)
G1  G2  G3

G1G3
Gb = (3.62)
G1  G2  G3
G1G2
Gc = (3.63)
G1  G2  G3

a
4 5

R1 R2
b 4 d
e R3

8 10 
c
(a)
a
1 5

b d
2 e

2 10 
c
(b)
Gambar 3.22 Rangkaian untuk Contoh 3.8 sebelum dan sesudah
transformasi

Contoh 3.8

90
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

Tentukan resistansi setara tunggal yang menggantikan rangkaian


pada Gambar 3.22 antara kutub b dan d.
Jawab
Dalam rangkaian pada Gambar 3.22a, tidak terdapat resistor dalam
hubungan seri maupun paralel. Tampak bahwa bagian bac dan dac
membentuk rangkaian ; salah satunya boleh diubah menjadi setara
Y, seperti yang diperlihatkan pada bagian bac dengan garis
terputus-putus. Nilai setaranya adalah
4 8
R1 = =2Ω
4  4 8
44
R2 = =1Ω
4  4 8
4 8
R3 = =2Ω
4  4 8
Rangkaian yang dihasilkan dengan menggantikan rangkaian bac
dengan rangkaian Y setaranya diperlihatkan pada Gambar 3.22b.
Dalam rangkaian itu Rea dan Rad membentuk hubungan seri dan
demikian pula Rec dan Rcd. Jadi
Read = 1 + 5 = 6 Ω
dan
Recd = 2 + 10 = 12 Ω
Karena resistansi Read dan Recd berhubungan paralel, maka dapat
digantikan oleh resistansi setaranya
6  12
Red = =4Ω
6  12
Resistansi setara dari b ke d sekarang merupakan kombinasi seri
antara Rbe dengan Red,
Rbd = 2 + 4 = 6 Ω

3.4 Sumber Dengan Rangkaian Setaranya


Konsep sumber tegangan sempurna dan sumber arus sempurna telah
diberikan dalam Bagian 2.3. Sumber nyata mungkin dapat mendekati
keadaan sempurna itu, tetapi tidak akan pernah mencapainya. Misalnya suatu
sumber tegangan sempurna harus tetap mempunyai tegangan konstan
meskipun dibebani dengan resistansi nol, yang tentunya memerlukan arus tak
terhingga – suatu hal yang jelas tidak mungkin terjadi. Suatu sumber nyata
karakteristik volt-amperenya dapat dinyatakan seperti yang diperlihatkan

91
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

pada Gambar 3.23. Karakteristik ini menyatakan bahwa suatu sumber dengan
tegangan Vrt pada saat rangkaian terbuka (I = 0) dengan nilai tegangan V
menurun secara linear jika arus yang diambil dari sumber meningkat;
karakteristik semacam itu dapat dituliskan secara matematika sebagai
V = Vrt – RtI (3.64)
dengan Rt adalah perbandingan antara tegangan rangkaian terbuka dengan
arus hubung-singkatnya. Rangkaian setara untuk sumber pada Gambar
3.23diperlihatkan oleh Gambar 3.24. Dinamakan rangkaian setara sumber
tegangan karena persamaan tegangannya menurut hukum kedua Kirchhoff
memenuhi Persamaan (3.64).

I
+
Sumber V Beban
-

(a)

Tegangan

Vrt

0 Ihs Arus
(b)

Gambar 3.23 Sumber dengan karakteristiknya

Pernyataan lainnya dapat diperoleh dengan menuliskan persamaan


karakteristik linear pada Gambar 3.23b dalam bentuk dengan arusnya
bergantung pada tegangan; persamaan itu adalah
I = Ihs – GtV (3.65)
dengan Ihs adalah arus hubung-singkat dan Gt perbandingan antara arus
hubung-singkat itu dengan tegangan rangkaian terbuka. Rangkaian setara
lainnya untuk sumber pada Gambar 3.23 diperlihatkan pada Gambar 3.25;
persamaan Hukum Arus Kirchhoff pada rangkaian setara itu sesuai dengan
Persamaan (3.65). Karena rangkaian pada Gambar 3.24 dan 3.25 mempunyai
karakteristik volt-ampere yang memenuhi lengkungan pada Gambar 3.23b,
maka salah satu dari kedua rangkaian setara itu dapat digunakan untuk
menyatakan sumber sebenarnya. Pemilihan rangkaian setara mana yang akan
dipakai dalam suatu persoalan ditentukan berdasarkan pada cara penyelesaian

92
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

yang sesuai untuk rangkaian dengan sumber tersebut dipasang. Mengenai


cara penyelesaian yang’ sesuai itu akan dibahas dalam Bab Empat.

Rrt

+ I +
Vrt V
- -

Gambar 3.24 Rangkaian setara sumber tegangan untuk sumber pada


Gambar 3.23

+
Ihs Gt V
-

Gambar 3.25 Rangkaian setara sumber arus untuk sumber pada


Gambar 3.23

Karena kedua rangkaian pada Gambar 3.24 dan 3.25 mewakili suatu sumber
fisik yang sama, karakteristik kutubnya identik sehingga model yang satu
dapat menyatakan model yang lain. Untuk mengubah pernyataan sumber
tegangan menjadi sumber arus, Persamaan (3.64) harus diselesaikan untuk
arusnya, yang memberikan
Vrt V
I=  (3.66)
Rt Rt
Dengan membandingkan Persamaan (3.65) dengan (3.66) dapat disimpulkan
bahwa rangkaian dalam Gambar 3.24 dan 3.25 akan mempunyai karakteristik
volt-ampere yang sama jika

Ihs = i(t) G C L (3.67)

dan

93
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

1
Gt = (3.68)
Rt

Hasil serupa dapat pula diperoleh jika Persamaan (3.65) diselesaikan untuk
tegangan, yang memberikan
I hs I
V=  (3.69)
Gt Gt
Bandingkan dengan Persamaan (3.64) menunjukkan bahwa kedua rangkaian
ini setara bila
Vrt = IhsRt (3.70)
dan
1
Rt = (3.71)
Gt

Persamaan (3.67) sampai dengan (3.71) di atas dapat dipergunakan untuk


mengubah pernyataan suatu sumber menjadi pernyataan sumber yang lain.

+
56 V 2A 4
- 2

(a) (b)
Gambar 3.26 Pernyataan sumber untuk Contoh 3.9

Contoh 3.9
Ubahlah pernyataan sumber tegangan pada Gambar 3.26a menjadi
pernyataan sumber arus setaranya dan pernyataan sumber arus pada
Gambar 3.26b menjadi sumber tegangan setaranya.
Jawab
Dalam rangkaian pada Gambar 3.26a
Vrt = 56 V dan Rt = 2 Ω
Menurut Persamaan (3.67) dan (3.68)

94
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

56
Ihs = = 28 A
2
1
Gt = = 0,5 S
2
Untuk rangkaian pada Gambar 3.26b
1
Ihs = 2 A dan Gt =
= 0,25 S
4
Sesuai dengan Persamaan (3.70) dan (3.71) didapatkan
2
Vrt = =8V
0,25
1
Rt = =4Ω
0,25

-
2
8V
0,5 S
+ 4

(a) (b)
Gambar 3.27 Hasil perubahan dari Gambar 3.24

Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 3.27. Arah arus pada Gambar
3.27a sesuai dengan tegangan naik pada Gambar 3.26a dan
tegangan naik pada Gambar 3.27b sesuai dengan arah sumber arus
pada Gambar 3.26b.

3.5 Penguat kerja


Pada Bagian 2.3 telah ditinjau sumber tak bebas. Di sini akan dibahas suatu
peralatan elektronika yang sangat berguna dalam pembentukan suatu sumber
tak bebas dan mempunyai model matematika yang sederhana dan anggun.
Peralatan itu disebut penguat kerja.
Lambang yang akan dipakai untuk mewakili suatu penguat kerja adalah
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.28. Penguat kerja sebenarnya adalah
suatu peralatan elektronika dengan kutub jamak, tetapi untuk kepentingan
analisis rangkaian hanya akan ditunjukkan tiga kutubnya saja. Kutub 1

95
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

(bertanda –) adalah kutub masukan terbalik(inverting input), kutub 2


(bertanda +) adalah kutub masukan tak-terbalik(noninverting input), dan
kutub 3 adalah kutub keluaran. Kutub lainnya yang tidak ditunjukkan
adalah sambungan daya searahdan kutub offsetnull. Semua kutub yang sisa
ini tidak dibahas karena di sini hanya akan dibahas perilakunya ditinjau dari
segi rangkaian listriknya saja.

1 -
3
2 +

Gambar 3.28 Lambang penguat kerja

Penguat kerja pada umumnya dijumpai dalam bentuk rangkaian terpadu


dan biasanya dibuat dalam suatu kemasan yang mempunyai 8 sampai 14
kutub yang mengandung satu sampai empat penguat kerja.
Penguat kerja mempunyai berbagai karakteristik penting bagi seorang
perancang, tetapi model penguat kerja sempurna hanya mempunyai dua sifat
yang diperlukan dalam analisis rangkaian: arus yang masuk ke kedua kutub
masukannya sama dengan nol, dan tegangan antara kedua kutub masukan
tersebut sama dengan nol.

ig a
+
d

- i
+
vg + v2 - +
b R3 v3
- R2
+ -
v1 R1
-
c

Gambar 3.29 Rangkaian dengan penguat kerja

Sebagai contoh, tinjau suatu rangkaian yang mengandung penguat kerja pada
Gambar 3.29. Diinginkan untuk mencari arus i dan tegangan v3, dengan
menganggap vg sebagai suatu sumber tegangan yang diketahui. Selanjutnya,
akan ditulis Hukum Tegangan Kirchhoff sepanjang rangkaian tertutup abca
yang melalui sumber tersebut. Karena tegangan antara kutub a dan b adalah
nol, maka
v1 – vg = 0 (3.72)

96
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

atau v1 = vg. Dengan menerapkan Hukum Arus Kirchhoff pada simpul b dan
memperhatikan bahwa arus yang mengalir ke kutub negatif penguat kerja
sama dengan nol, diperoleh
v1 v 2
 =0 (3.73)
R1 R2
atau
R2 R2
v2 = – v1 = – v (3.74)
R1 R1 g
Selanjutnya, menurut Hukum Tegangan Kirchhoff sepanjang rangkaian
tertutup cbdc yang melalui resistor R3, didapatkan

-v1 + v2 + v3 = 0 (3.75)
atau
v3 = v1 – v2
R1  R2
v3 = vg (3.76)
R1
Akhirnya, dengan Hukum Ohm diperoleh
v3 R  R2
i= = 1 v (3.77)
R3 R1 R3 g

ig = 0
i
+ + +
vg vg R3 v3
- - -

Gambar 3.30 Rangkaian setara untuk rangkaian pada Gambar 3.29

Sebagai hasil sampingan, tampak bahwa ig = 0 (arus masukan penguat kerja)


dan v3 sesuai dengan yang diberikan oleh Persamaan (3.75). Jadi, dapat
dilukis suatu rangkaian setara yang melibatkan vg, ig dan i seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 3.30. Analisis rangkaian setara ini menghasilkan
v3 dan i yang sama untuk vg dan ig sama seperti rangkaian pada Gambar 3.29.
Jadi, penguat kerja ini dapat digunakan untuk mendapatkan suatu sumber tak

97
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

R1  R2
bebas dengan penguatan sebesar   . (Dalam hal ini sumber tak
R1
bebas itu adalah sumber tegangan yang dikendalikan oleh tegangan, dengan
vg mengendalikan v3.)
Perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa penguat kerja yang dipakai dalam
rangkaian pada Gambar 3.29 dioperasikan dalam cara yang disebut umpan-
balik, dengan keluaran v3 pada simpul d dikembalikan ke kutub masukan
terbalik melalui resistor R2. Penguat kerja merupakan suatu peralatan dengan
penguatan yang sangat tinggi dan umumnya tidak pernah digunakan tanpa
umpan-balik. Kalau umpan balik hanya diberikan ke salah satu masukannya,
maka selalu diberikan ke kutub masukan terbalik karena kalau tidak
penguat kerja itu tidak dapat bekerja. Hal ini merupakan konsekuensi
perencanaannya dan tidak akan dibahas lebih lanjut dalam bab ini.
Penguat kerja ini akan dbahas lebih lanjut dalam Bab 14.

Soal-soal
3.1 Dengan menggunakan Hukum Kirchhoff, tentukan tegangan pada
rangkaian dalam Gambar 3.49

+ 5 6 +
170 V 10  76 V
- -

Gambar 3.31 Rangkaian untuk Soal 3.1

3.2 Tiga buah resistor yang masing-masingnya mempunyai resistansi 10


Ω, 20 Ω, dan 30 Ω dihubungkan secara seri. Hitunglah resistansi
setaranya.
3.3 Ketiga resistansi pada Soal 3.2 sekarang dihubungkan secara paralel
dengan tegangan antaranya sebesar 12 V. Tentukan berapa arus yang
ditarik dari sumber itu dan berapa yang mengalir dalam masing-
masing resistansi tersebut.
3.4 Resistansi suatu miliammeter arus searah adalah 20 Ω. Simpangan
pada skala meternya sebanding dengan arus dalam kumparannya;
simpangan maksimumnya dihasilkan oleh arus sebesar 10 mA.
Miliammeter tersebut akan digunakan sebagai voltmeter arus searah
dengan memasangkan resistor yang sesuai (disebut pengali –
multiplier). Tegangan untuk simpangan maksimum yang diinginkan

98
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

adalah 300 V. Tentukan berapa resistansi resistor pengali yang


diperlukan itu.
3.5 Untuk rangkaian pada Gambar 3.32, hitunglah berapa besar i.
3.6 Tentukan berapa daya yang diserap dalam masing-masing resistor
pada Gambar 3.32 dan bandingkan dengan daya yang dikeluarkan
oleh kedua sumbernya.

+ 2 9 8
40 V 10  4 1A
-

Gambar 3.32 Rangkaian untuk Soal 3.5 dan 3.6

3.7 Untuk rangkaian pada Gambar 3.14, tentukan arus yang mengalir
dalam resistor R2, R3, dan R4, serta periksa juga kesetimbangan daya
antara daya yang diberikan oleh sumber, 100 V dengan daya yang
diserap dalam semua resistornya.
3.8 Pembagi arus pada Gambar 3.33 merupakan suatu rangkaian
berguna yang sering dijumpai. Turunkan pernyataan untuk arus
keluaran i2 dalam suku-suku arus masukan i, konduktansi G1 dan G2.

+
i1 i2
i v G1 G2

Gambar 3.33 Rangkaian untuk Soal 3.8 dan 3.9

3.9 Tentukan berapa besar i1 jika i = 10 A dan G1 = 0,2 S dan G2 = 0,01 S


pada Gambar 3.33. Periksa juga kesetimbangan dayanya.
3.10 Jembatan Wheatstone yang tampak pada Gambar 3.34 adalah
rangkaian yang digunakan untuk mengukur resistansi yang tidak
diketahui. Tentukan berapa besar Rx bila rangkaian tersebut dalam
keadaan setimbang (meter menunjukkan arus sebesar 0 A).
3.11 Tentukan resistansi setara di antara kutub ab untuk rangkaian pada
Gambar 3.35.

99
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

3.12 Jika kutub ab pada Gambar 3.35 dihubungkan ke suatu sumber


tegangan sempurna sebesar 100 V, tentukan arus yang mengalir
dalam resistor 4 .

+ R1 R2
M
V
-
R3 Rx

Gambar 3.34 Rangkaian untuk Soal 3.10

7 2 2
a
6
6 4
9 6
b
6

Gambar 3.35 Rangkaian untuk Soal 3.11 dan 3.12

3.13 Untuk rangkaian yang diperlihatkan pada Gambar 3.36, tentukan arus
yang ditarik dari sumber dan arus yang mengalir dalam resistansinya
yang paling kanan.
15  15  15 

+ 75  75 
30 V 150 
- 75  75 

15  15  15 
Gambar 3.36 Rangkaian untuk Soal 3.13

3.14 Tentukan kapasitansi setara pada Gambar 3.37.


3.15 Jika pada kutub ab dalam rangkaian pada Gambar 3.37 dipasangkan
suatu sumber tegangan sempurna sebesar 100 V, tentukan berapa
muatan listrik dalam masing-masing kapasitornya, tenaga

100
Bab 3 Hukum Dasar Rangkaian Listrik

keseluruhan yang tersimpan dalam semua kapasitor dan tenaga yang


tersimpan dalam masing-masing kapasitor tersebut.

a
12 F 6 F 3 F
1 F 4 F 6 F

b
Gambar 3.37 Rangkaian untuk Soal 3.14 dan 3.15

3.16 Tiga induktor yang dihubungkan secara seri berturut-turut


mempunyai tegangan antara kutubnya sebesar 20 V, 30 V, dan 50 V,
bila arus dalam rangkaian itu berubah dengan kecepatan 100 ampere
per detik. Tentukan induktansi setaranya.
3.17 Induktansi setara untuk dua induktor yang dihubungkan seri adalah
20 henry. Jika kedua induktor tersebut dihubungkan secara paralel
maka induktansi setaranya adalah 4 henry. Tentukan besar induktansi
masing-masing induktor tersebut.
3.18 Untuk rangkaian pada Gambar 3.37, tentukan berapa besar daya yang
diberikan pada resistor 8  .
3.19 Tentukan arus i1 dan i2 pada Gambar 3.38
3.20 Ubahlah kedua sumber pada Gambar 3.38 menjadi setaranya masing-
masing.
6
i2 i1 +
4A 2 16 V
-

Gambar 3.38 Rangkaian untuk Soal 3.19 dan 3.20

101
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

ab Tiga telah menjelaskan hukum-hukum dasar rangkaian dan

B pemakaiannya secara langsung. Dalam bab ini akan dipelajari cara


sistematik untuk merumuskan dan menyelesaikan sistem persamaan
yang diperoleh dalam analisis rangkaian yang lebih rumit. Akan
ditinjau dua metode umum; yang satu berdasarkan Hukum Arus Kirchhoff
dan yang lainnya menurut Hukum Tegangan Kirchhoff. Akan tampak nanti,
bahwa Hukum Arus Kirchhoff umumnya menuntun untuk memberikan
sistem persamaan dengan tegangan yang tidak diketahui, dan Hukum
Tegangan Kirchhoff memberikan sistem persamaan dengan arus yang tidak
diketahui. Cara pertama dikenal sebagai kiat analisis tegangan simpul, dan
yang kedua sebagai analisis arus mata jala. Selanjutnya, juga akan dibahas
prinsip superposisi serta teorema Thévenin dan Norton.
Seperti dalam bab sebelum ini, dalam membahas berbagai kiat analisis, titik
berat pembahasan bab ini akan dibatasi pada rangkaian yang unsur
rangkaiannya hanya terdiri dari resistor. Hal ini dilakukan agar pusat
perhatian tertuju pada teori rangkaian itu sendiri yang bebas dari berbagai
kerumitan yang bakal timbul dengan adanya bilangan kompleks jika
induktansi dan kapasitansi terlibat dalam rangkaian tersebut. Pendekatan
semacam ini tidak akan menghilangkan sifat umum analisis rangkaian. Kelak
dalam Bab Lima dan Bab Enam akan ditunjukkan bahwa teori yang sama
juga berlaku untuk rangkaian yang mengandung ketiga unsur tersebut dengan
kombinasi apapun.
Bab ini bertujuan menurunkan rumusan persamaan yang diperlukan untuk
menyelesaikan berbagai persoalan rangkaian secara bertahap; juga untuk
menyelidiki kiat yang memungkinkan suatu rangkaian dapat dinyatakan
dengan rangkaian setaranya yang lebih [Link] menyelesaikan bab
ini, pembaca diharapkan dapat
 mengenal dan dapat menggunakan Metode Tegangan Simpul;
 mengenal dan dapat menggunakan Metode Arus Mata Jala;
 mengenal dan dapat menggunakan Prinsip Superposisi;
 mengenal dan dapat menggunakan Teorema Thévenin dan Norton;
 mengenal proses penyepadanan resistansi.
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

4.1 Metode Tegangan Simpul


Metode Tegangan Simpul dalam analisis rangkaian adalah suatu cara dengan
memanfaatkan Hukum Tegangan Kirchhoff secara implisit pada diagram
rangkaiannya, sehingga hanya dengan persamaan Hukum Arus Kirchhoff saja
yang perlu diselesaikan untuk mencari tegangan yang tidak diketahui.
Dengan cara ini dimungkinkan untuk menentukan banyaknya variabel
tegangan sesedikit mungkin. Metode ini akan dibahas dengan mempelajari
penyelesaian tegangan pada rangkaian dalam Gambar 4.1. Dalam rangkaian
itu dipilih dua tegangan yang tidak diketahui, VA dan VB. Tegangan VA dipilih
sebagai tegangan naik dari simpul C ke simpul A; VB juga dipilih sebagai
tegangan naik dari simpul C ke simpul B. Karena simpul C adalah titik
hubung dengan tegangan yang tidak diketahui itu dibandingkan, simpul itu
disebut sebagai simpul acuan.

A G2 B
+ + V  V- +
A B

I1 VA G1 G3 VB I2

- -
C
Gambar 4.1 Rangkaian untuk Metode Tegangan Simpul

Tegangan naik dari simpul B ke simpul A adalah tegangan ketiga yang tidak
diketahui dalam rangkaian itu. (Dengan menyatakan sebagai tegangan naik,
dalam hal ini diandaikan bahwa tegangan simpul A lebih tinggi ketimbang
tegangan di simpul B.) Tegangan tersebut dapat diperoleh dari persamaan
Hukum Tegangan Kirchhoff sebagai
VAB = VA – VB (4.1)
Ada tiga simpul dalam rangkaian ini; sehingga terdapat dua persamaan bebas
Hukum Arus Kirchhoff yang dapat ditulis. Yang pertama, ditulis untuk
simpul A sebagai
A : VA (G1  G2 )  VB G2  I1 (4.2)
dan yang kedua untuk simpul B sebagai
B :  VAG2  VB (G2  G3 )   I 2 (4.3)
Dengan mengatur kembali suku-suku pada Persamaan (4.79) dan (4.80) di
atas, didapatkan

104
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

A: V A (G1  G2 )  VB G2  I 1
(4.4)
B :  V AG2  VB (G2  G3 )   I 2
Kedua persamaan pada Persamaan (4.4) menunjukkan suatu pola yang
memungkinkan suatu himpunan persamaan sejenis itu langsung ditulis
berdasarkan pengamatan pada diagram rangkaiannya. Pada Persamaan (4.4),
yang ditulis untuk simpul A, koefisien VA adalah jumlah positif semua
konduktansi yang terhubung di simpul A; koefisien VB adalah jumlah negatif
semua konduktansi yang terhubung antara simpul A dengan simpul B; ruas
kanan persamaan ini adalah jumlah semua sumber yang mencatu simpul A.
Selanjutnya, pada Persamaan (4.4) yang ditulis simpul B, didapati bahwa
berlaku hal yang serupa: koefisien VB adalah jumlah positif semua
konduktansi yang terhubung dengan simpul B; koefisien VA adalah negatif
jumlah semua konduktansi yang terhubung antara simpul B dengan simpul A;
ruas kanan persamaan adalah jumlah semua sumber arus yang memberikan
arusnya ke simpul B. (I2 negatif arus itu karena meninggalkan simpul
tersebut.) Kenyataan bahwa kedua persamaan tersebut serupa bukanlah
merupakan suatu kebetulan, melainkan karena mengikuti persamaan Hukum
Arus Kirchhoff dan cara pemilihan berbagai variabel tegangannya.
Prosedur formal untuk menuliskan persamaan sejenis yang diberikan oleh
Persamaan (4.4) disebut Metode Tegangan Simpul. Proses pelaksanaannya
dapat disimpulkan menurut langkah-langkah berikut:
1. Setiap sumber yang dinyatakan sebagai sumber tegangan sempurna
dengan resistansi seri harus diubah menjadi sumber arus sempurna
dengan konduktansi paralel, dengan menggunakan prosedur yang
telah diberikan pada Bagian 3.4. Rangkaian itu kemudian dilukis
kembali.
2. Pilih sebuah simpul acuan O; pemilihan ini dapat dilakukan secara
sebarang. Simpul lainnya dalam rangkaian yang telah dilukis
kembali itu diberi nama dengan huruf-huruf A, B, ... , N dan
tegangan yang tidak diketahui, vA, vB, ... , vN, dipilih sebagai
tegangan naik dari simpul O ke simpul-simpul A, B, ... , N.
3. Persamaan simpul (hukum arus Kirchhoff) ditulis secara berurutan
untuk simpul A, B, ..., N. Hasilnya berbentuk seperti berikut:
A: GAAvA – GABvB – ... – GANvN = iA
B: –GBAvA + GBBvB – ... – GBNvN = iB
....................................….
N: –GNAvA – GNBvB – ... + GNNvN = iN
GXX = jumlah semua konduktansi yang terhubung ke simpul X

105
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

GXY = jumlah semua konduktansi yang dihubungkan di antara


simpul X dengan simpul Y.
iX = jumlah semua sumber arus yang mencatu simpul X.
4. Sistem persamaan di atas kemudian diselesaikan untuk tegangan
simpul yang diinginkan. Tegangan lainnya dapat ditentukan dengan
pertolongan Hukum Tegangan Kirchhoff dan arusnya ditentukan
menurut Hukum Ohm.

+ V1 -
10 
A 2 B 1 C
I2 +
+
56 V 5 4 V2 2A
-
I1 2  -
O
Gambar 4.2 Rangkaian untuk Contoh 4.1 dan 4.2

Contoh 4.1
Gunakan metode tegangan simpul untuk menentukan tegangan V1
dan arus I1 dalam rangkaian pada Gambar 4.2.
Jawab
Sumber 56 V 2 Ω yang terhubung antara simpul O dengan simpul A
pada Gambar 4.2 diubah menjadi sumber arus dengan konduktansi
simpang, sesuai dengan yang telah diuraikan dalam Bagian 3.4, dan
hasilnya dilukiskan kembali seperti pada Gambar 4.3. Tampak
bahwa semua resistansi dalam Gambar 4.2 telah dinyatakan sebagai
konduktansi dalam Gambar 4.3.
Simpul O dipilih sebagai simpul acuan dengan tegangan VA, VB, dan
VC dipilih sebagai variabel. Persamaan tegangan simpulnya adalah
A: (0,5 + 0,5 + 0,1)VA – 0,5VB – 0,1VC = 28
B: –0,5VA + (0,5 + 0,2 + 1,0)VB – 1,0VC = 0
C: –0,1VA – 1,0VB + (0,1 + 1,0 + 0,25)VC = –2
atau
A: 1,1VA – 0,5VB – 0,1VC = 28
B: –0,5VA + 1,7VB –1VC = 0
C: –0,1VA –1VB + 1,35VC = –2

106
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

Salah satu cara sistematik untuk menyelesaikan sistem persamaan


serentak ini adalah dengan menggunakan determinan menurut
aturan Cramer. (Periksa juga Lampiran E.) Untuk tiga persamaan
a11x1 + a12x2 + a13x3 = b1
a21x1 + a22x2 + a23x3 = b2
a31x1 + a32x2 + a33x3 = b3
dengan tiga variabel x1, x2, dan x3, masing-masing variabel dapat
diperoleh sebagai hasil bagi dua determinan, yaitu
b1 a12 a13 a11 b1 a13
b2 a 22 a 23 a 21 b2 a 23
x1 = b3 a 32 a 33 x2 = a 31 b3 a 33
a11 a12 a13 a11 a12 a13
a 21 a 22 a 23 a 21 a 22 a 23
a 31 a 32 a 33 a 31 a 32 a 33

a11 b1 a13
a 21 b2 a 23
x3 = a 31 b3 a 33
a11 a12 a13
a 21 a 22 a 23
a 31 a 32 a 33
Dalam contoh ini
28  0,5  0,1
0 1,7  1,0
VA = = 36 V
 2  1,0 1,35
11
,  0,5  0,1
 0,5 1,7  1,0
 0,1  1,0 1,35
dengan cara yang sama didapatkan VB = 20 V dan VC = 16 V.
Dengan diketahuinya ketiga tegangan simpul tersebut dapat
ditentukan tegangan yang lain atau arus dalam rangkaian itu. Jadi,
tegangan V1 dalam rangkaian pada Gambar 4.2 dan 4.3 adalah
V1 = VA – VC = 36 – 16 = 20 V
Arus I1 dalam rangkaian pada Gambar 4.2, yang tidak terdapat pada
Gambar 4.3, dapat diperoleh dengan mengingat bahwa tegangan
antara simpul A dan O untuk kedua rangkaian itu (pada Gambar 4.2
dan 4.3) adalah sama, jadi

107
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

56 – 2I1 = VA = 36 V
atau
I1 = 10 A
0,1 S

A 0,5 S B 1S C
+ + +
0,5 S 0,2 S
28 A VA 0,2 S VB VC 2A

-
O
Gambar 4.3 Rangkaian pada Gambar 4.2 setelah diubah

Metode tegangan simpul ini merupakan suatu metode yang terunut


rapi untuk menyelesaikan persoalan rangkaian dengan
menggunakan persamaan Hukum Arus Kirchhoff sebagai dasarnya.
Dengan pertolongan komputer, persamaan serentak yang jumlahnya
sama banyak dengan jumlah simpul dalam rangkaian dikurang satu,
dapat dengan mudah dan cepat dipecahkan.

4.2 Metode Arus Mata jala


Metode Arus Mata jala merupakan cara lain untuk menyelesaikan persoalan
rangkaian dengan persamaan Hukum Arus Kirchhoff terlukis secara implisit
pada diagram rangkaiannya dan persamaan untuk tegangan ditulis secara
eksplisit serta harus diselesaikan untuk arus yang tidak diketahui.
Dalam buku ini, pembahasan rangkaian dibatasi hanya pada rangkaian planar,
yaitu rangkaian yang dapat dilukis pada suatu bidang datar sedemikian
hingga tidak ada unsur rangkaian yang melangkahi unsur rangkaian yang
lain. Suatu mata jala adalah suatu kasus khusus rangkaian tertutup, yaitu
rangkaian tertutup yang tidak mengandung unsur rangkaian di tengahnya.
Rangkaian pada Gambar 4.4 merupakan suatu rangkaian planar dengan dua
mata jala. Mata jala A mengandung R1, R3, dan V1; mata jala B mengandung
R3, R2 dan V2. Pada metode ini arus mata jala yang tidak diketahui diandaikan
mengalir dalam setiap mata jala pada rangkaian tersebut. Arus mata jala itu
dapat merupakan keseluruhan arus yang mengalir dalam suatu unsur atau
hanya merupakan sebagian arus yang mengalir dalam satu unsur. Misalnya,
dalam rangkaian pada Gambar 4.4, arus IA dan IB adalah arus mata jala

108
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

dengan arah seperti pada gambar. Arus unsur dalam R1 sama dengan arus
mata jalanya, tetapi arus unsur dalam R3 merupakan gabungan kedua arus
mata jala dalam rangkaian tersebut; sedangkan arus dalam R2 berlawanan
arahnya dengan arus mata jalanya. Ciri lain yang harus diperhatikan untuk
arus mata jala adalah bahwa semuanya dipilih berarah sama, dalam hal ini
searah dengan arah putaran jarum jam. Pemilihan arah yang sama untuk arus
mata jala menghasilkan suatu matriks yang mudah diingat dalam persamaan
hasilnya.

I1 R1 R2 I2

+ IB +
V1 A R3 B V2
- IA -

Gambar 4.4 Rangkaian untuk metode arus mata jala

Jika persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff ditulis untuk mata jala A dan B
pada rangkaian dalam Gambar 4.4 itu, hasilnya adalah
A: R1IA + R3(IA – IB) = V1 (4.5)
untuk mata jala A dan
B: –R3(IA – IB) + R2IB = –V2 (4.6)
untuk mata jala B
Dengan menyusun kembali Persamaan (4.5) dan (4.6), didapatkan
A: IA(R1 + R2) – IBR3 = V1
B: –IAR3 + IB(R2 + R3) = –V (4.7)
Kedua persamaan di atas menunjukkan pola yang serupa dengan pada kedua
persamaan arus untuk metode tegangan simpul. Dalam Persamaan (4.7) yang
ditulis untuk mata jala A, koefisien IA adalah jumlah positif semua resistansi
yang membentuk mata jala A; koefisien IB adalah jumlah negatif. Semua
resistansi yang dimiliki bersama antara mata jala A dan B, dan ruas kanan
persamaan tersebut adalah jumlah positif sumber tegangan naik yang diambil
searah dengan arah putaran jarum jam dalam mata jala itu. Komentar serupa
berlaku pula untuk Persamaan (4.7) yang meliputi mata jala B.
Prosedur formal untuk menuliskan setiap persamaan seperti pada Persamaan
(4.7) itu disebut metode arus mata jala. Langkah untuk prosedur tersebut
adalah sebagai berikut:

109
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

1. Sumber yang dinyatakan sebagai kombinasi paralel antara sumber


arus sempurna dengan konduktansi simpangnya digantikan dengan
kombinasi seri antara sumber tegangan sempurna dengan resistansi.
Cara perubahan ini telah diuraikan dalam Bagian 3.4.
2. Pilih arus mata jala menurut arah putaran jarum jam. Pemilihan arus
ini mengakibatkan arus unsur berupa arus mata jala atau selisih
aljabar dua arus mata jala.
3. Persamaan mata jala (hukum tegangan Kirchhoff) ditulis secara
berturutan untuk mata jala A, B, ... , N. Hasilnya berbentuk seperti
berikut.
A: RAAiA – RABiB – ... – RANiN = vA
B: –RBAiA + RBBiB – ... – RBNiN = vB
N: –RNAiA – RNBiB – ... + RNNiN = vN
RXX = jumlah semua resistansi yang membentuk mata jala X.
RXY = jumlah semua resistansi yang dimiliki bersama oleh mata jala
X dan mata jala Y.
vX = jumlah semua sumber tegangan naik dalam mata jala X pada
arah putaran jarum jam.
4. Sistem persamaan tersebut kemudian diselesaikan untuk arus mata
jala yang diinginkan. Arus lainnya dan tegangan dalam rangkaian
itu dapat ditentukan dengan menggunakan Hukum Arus Kirchhoff
dan Hukum Ohm.

10 

IC
2 B 1
A C
+ IB -
56 V A B 8V
IA 5
- +

2 O 4
Gambar 4.5 Rangkaian pada Gambar 4.2 setelah diubah

Contoh 4.2
Gunakan metode arus mata jala untuk menentukan arus I2 dan V2
dalam rangkaian pada Gambar 4.2.

110
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

Jawab
Langkah pertama dalam persoalan ini adalah mengubah sumber
arus 2 A yang paralel dengan resistor 4 Ω menjadi rangkaian
setaranya yang berupa tegangan sempurna dalam hubungan seri
dengan resistor tersebut. Langkah ini telah ditunjukkan dalam
Contoh 4.1. Selanjutnya, rangkaian pada Gambar 4.2 itu dilukis
kembali seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4.5.
Tiga arus mata jala IA, IB, dan IC dipilih sesuai dengan mata jala A,
B, dan C searah dengan arah putaran jarum jam. Persamaan yang
diperoleh adalah
A: IA(2 + 5 + 2) – 5IB – 2IC = 56
B: –5IA + IB(5 + 1 + 4) – 1IC = 8
C: –2IA – 1IB + IC(2 + 1 + 10) = 0
atau
A: 9IA – 5IB – 2IC = 56
B: –5IA + 10IB – IC = 8
C: –2IA – IB + 13IC = 0
Penyelesaian serentak sistem persamaan di atas memberikan
IA = 10 A
IB = 6 A
IC = 2 A
Arus unsur I2, merupakan selisih dua arus mata jala
I2 = IC – IB = 2 – 6 = –4 A
Tegangan V2 dalam rangkaian pada Gambar 4.2 adalah tegangan
naik dari simpul O ke C pada Gambar 4.5 dan nilainya adalah
V2 = 4IB – 8 = 4 (6) – 8 = 16 V
yang tentu saja sama seperti yang telah diperoleh dalam Contoh
4.1. Metode arus mata jala ini juga dikenal sebagai Cara Maxwell.

Dari pembahasan di atas dan sebelumnya tampak bahwa metode tegangan


simpul dan metode arus mata jala saling melengkapi. Cara tegangan simpul
menggunakan persamaan Hukum Arus Kirchhoff yang ditulis dengan
tegangan simpul yang tidak diketahui sebagai variabelnya; jumlah persamaan
yang diperlukan sama banyaknya dengan jumlah simpul dalam rangkaian
dikurangi satu. Dalam metode arus mata jala persamaan Hukum Tegangan
Kirchhoff ditulis dalam faktor arus mata jala yang tidak diketahui; jumlah
persamaan yang diperlukan dalam hal ini sama banyaknya dengan jumlah
mata jala dalam rangkaiannya. Keputusan untuk menggunakan metode mana

111
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

yang terbaik biasanya didasarkan atas banyaknya persamaan yang diperlukan.


Yang dipilih adalah yang paling sedikit, menurut pertimbangan pribadi atau
gabungan keduanya.

4.3 Persamaan Simpul Dan Mata Jala Dengan Sumber Tak Bebas
Dua sifat dasar sumber tak bebas memungkinkan perluasan penggunaan
metode tegangan simpul pada Bagian 4.6 dan metode arus mata jala pada
Bagian 4.7 untuk rangkaian yang mengandung sumber tak bebas. Sifat
pertama adalah bahwa kutub suatu sumber tak bebas mempunyai perilaku
yang sama seperti sumber biasa dan penggunaan hukum arus dan tegangan
Kirchhoff berlaku identik untuk kedua jenis sumber tersebut.

0,5 S

2,5I1
I1 A B
+ +
0,2 S VA 9A VB 0,5 S
- 10 A -

Gambar 4.6 Rangkaian untuk Contoh 4.3

Sifat kedua adalah bahwa besarnya sumber tak bebas bergantung pada nilai
tegangan atau arus di bagian lain pada rangkaian tersebut. Untuk
memasukkan pengaruh ketergantungan itu ke persamaan hukum arus atau
tegangan Kirchhoff memerlukan persamaan kendala. Persamaan kendala
dipergunakan untuk menghubungkan tegangan atau arus pengatur dengan
variabel tegangan atau arus yang dipilih untuk persamaan tegangan simpul
atau arus mata jala yang ditulis. Gabungan antara persamaan kendala dengan
persamaan hukum arus atau tegangan Kirchhoff yang sesuai menghasilkan
persamaan tegangan simpul atau arus mata jala yang meliputi rangkaian
secara keseluruhan. Contoh berikut dipergunakan untuk menjelaskan
penyelesaian persamaan rangkaian yang mengandung sumber tak bebas.

Contoh 4.3
Tentukan tegangan VA dan VB dalam rangkaian pada Gambar 4.6.
Jawab
Di sini akan dipergunakan metode tegangan simpul. Sebagai
langkah pertama, penyelesaiannya adalah dengan menuliskan
persamaan Hukum Arus Kirchhoff seperti yang telah diuraikan

112
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

dalam Bagian 4.6, dengan memperlakukan sumber tak bebas


sebagai sumber biasa. Persamaannya adalah
(0,2 + 0,5)VA – 0,5VB = 9 – 2,5I1
–0,5VA + (0,5 + 0,5)VB = 10 + 2,5I1
berturut-turut untuk simpul A dan simpul B.

10 
14  4
0,5 V1
+ I1 +
110 V V1 2 6
- I2
-
Gambar 4.7 Rangkaian untuk Contoh 4.4

Selanjutnya, tuliskan persamaan kendala untuk sumber tak bebas.


Hal ini mengharuskan I1 dinyatakan dalam suku-suku variabel VA
dan VB. Dari Gambar 4.6 itu tampak bahwa.
I1 = 0,2VA
Dengan menyisipkan persamaan kendala itu ke dalam sistem
persamaan aslinya dan menggabungkan semua faktor yang sama,
didapatkan
1,2VA – 0,5VB = 9
–1,0VA + 1,0VB = 10
Penyelesaian serentak kedua persamaan di atas menghasilkan
VA = 20 V dan VB = 30 V

Contoh 4.4
Tentukan arus I1 dan I2 dalam rangkaian pada Gambar 4.7.
Jawab
Untuk menyelesaikan persoalan ini akan digunakan cara arus mata
jala. Pertama-tama sumber arus yang dikendalikan oleh tegangan
dengan resistansi simpang diubah menjadi sumber tegangan yang
dikendalikan oleh tegangan dengan resistansi seri. Sumber yang
diubah itu mempunyai nilai
0,5V1x 10 = 5V1
Resistansi serinya adalah 10 Ω. Rangkaian yang telah diubah itu
diberikan pada Gambar 4.8.

113
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

Persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff untuk rangkaian pada


Gambar 4.8 mula-mula ditulis dengan memperlakukan semua
sumber secara sama:
(14 + 4 + 2)I1 – 2I2 = 110
–2I1 + (2 + 10 + 6)I2 = –5V1

5 V1
14  4 + - 10 

+ I1 + I2
110 V V1 2 6
- -

Gambar 4.8 Rangkaian pada Gambar 4.7 setelah diubah

Hubungan antara variabel V1 dengan variabel I1 dan I2 diberikan


oleh persamaan kendala
V1 = (I1 – I2)2
Gabungan antara persamaan kendala itu dengan persamaan mata
jala aslinya setelah suku-sukunya dikendalikan kembali adalah
20I1 – 2I2 = 110
8I1 + 8I2 = 0
Sehingga didapatkan
I1 = 5 A dan I2 = –5 A

Contoh 4.3 dan Contoh 4.4 di atas melukiskan pemakaian metode tegangan
simpul dan arus mata jala untuk rangkaian yang mengandung sumber tak
bebas. Ciri-ciri utama dari metode yang diberikan pada kedua contoh tersebut
dapat disimpulkan dalam empat langkah berikut:
1. Tulis persamaan tegangan simpul atau arus mata jala dengan
memperlakukan semua sumber tak bebas sebagai sumber bebas.
Langkah ini meliputi perubahan semua sumber tegangan dengan
resistansi seri menjadi sumber arus dengan konduktansi simpang
untuk metode tegangan simpul dan perubahan yang sebaliknya
untuk metode arus mata jala.
2. Kenali semua sumber tak bebas yang ada dan tuliskan persamaan
kendala untuk masing-masing sumber tersebut.
3. Gabungkan persamaan kendala itu dengan persamaan yang
diperoleh dari Langkah 1. Susun kembali suku-sukunya bila
diperlukan sehingga hasilnya merupakan bentuk yang sederhana
untuk diselesaikan.

114
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

4. Selesaikan sistem persamaan yang dihasilkan tersebut untuk variabel


tegangan atau arus yang tidak diketahui.

4.4 Prinsip Superposisi


Dalam setiap rangkaian listrik, tegangan dan arus dalam suatu unsur adalah
akibat yang ditimbulkan oleh adanya sumber yang dikenakan pada rangkaian
tersebut. Jika suatu rangkaian mempunyai beberapa sumber maka setiap
tegangan dan arus pada unsur-unsurnya dapat dipandang sebagai jumlah
beberapa komponen dengan masing-masing komponen merupakan akibat
dari sebuah sumber. Prinsipsuperposisi, jika diterapkan pada suatu
rangkaian dengan resistansi konstan, menyatakan bahwa arus atau tegangan
di setiap cabang rangkaian yang dihasilkan oleh beberapa sumber yang
dikenakan secara serentak adalah jumlah aljabar arus atau tegangan yang
dihasilkan pada cabang itu oleh masing-masing sumber tersebut secara
tersendiri. Prinsip ini berdasarkan pada kenyataan bahwa arus dalam
resistansi berbanding lurus dengan tegangannya. Superposisi dapat berlaku
untuk setiap sistem (listrik, mekanik dan sebagainya) yang mempunyai
hubungan sebab-akibat y = f(x) sedemikian hingga
f(x1) + f(x2) = f(x1 + x2) (4.8)
Setiap sumber yang bekerja dalam rangkaian dapat dianggap berdiri sendiri
dan sumber yang lain dianggap sama dengan nol. Komponen tegangan atau
arus yang dihasilkan oleh masing-masing sumber dihitung sendiri, dan
tanggapan keseluruhan pada setiap cabangnya adalah jumlah aljabar semua
komponen tanggapannya. Jadi, secara umum, prinsip superposisi untuk
rangkaian listrik dapat dinyatakan sebagai berikut:
Dalam suatu jala-jala linear yang mengandung lebih dari pada satu
sumber (arus atau tegangan), tanggapannya dapat diperoleh dengan
menjumlahkan semua tanggapan yang diperoleh dari masing-masing
sumber itu secara tersendiri, dengan semua sumber lainnya dibuat
sama dengan nol (hubung-singkat untuk sumber tegangan, dan
rangkaian terbuka untuk sumber arus).

Contoh 4.5
Gunakan prinsip superposisi untuk menentukan arus I1, I2, dan I3
dalam rangkaian pada Gambar 3.18 dalam Contoh 3.7.
Jawab
Rangkaian pada Gambar 4.18 dengan sumber 140 V dihilangkan
(dihubung-singkat), ditunjukkan pada Gambar 4.9a. Cara tegangan
simpul dapat dipergunakan untuk rangkaian ini. Persamaannya
menurut Hukum Arus Kirchhoff adalah

115
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

 1 1 1
Va'     = 18
 20 6 5
sehingga diperoleh
Va' = 43,2 V
dan
43,2
I 1' =  = –2,16 A
20
43,2
I 2' = = 7,20 A
6
43,2
I 3' = = 8,64 A
5

A
I1' 20 
0V 6 5 18 A
I2' I3 '

(a)

A 0A

+ I1" 20  Ib
Ia
140 V 6 5
- I2 " I3 "

(b)
Gambar 4.9 Rangkaian pada Gambar 4.18 dengan (a) sumber tegangan
140 V dihilangkan dan (b) sumber arus 18 A dihilangkan

Rangkaian pada Gambar 4.18 selanjutnya dilukis kembali seperti


yang diperlihatkan pada Gambar 4.9b dengan sumber arus 18 A
dihilangkan (dengan rangkaian terbuka). Di sini akan digunakan

116
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

metode arus mata jala. Dengan arus mata jala Ia dan Ib seperti pada
gambar, persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff adalah
26Ia – 6Ib = 140
–6Ia + 11Ib = 0
sehingga Ia = 6,16 A dan Ib = 3,36 A
I 1" = Ia = 6,16 A
I 2" = Ia – Ib = 2,80
Arus yang diperoleh dari penggunaan kedua sumber secara
bersama-sama adalah jumlah dari semua komponen yang telah
diperoleh di atas. Jadi
I1 = I 1'  I 1" = –2,16 + 6,16 = 4,00 A
I2 = I 2'  I 2" = 7,20 + 2,80 = 10,00 A
I3 = I 3'  I 3" = 8,64 + 3,36 = 12,00 A
yang tentu saja sama dengan yang telah didapatkan pada Contoh
3.7.

12 V
- +

I
3
1 + 6A
2I V
-

Gambar 4.10 Rangkaian untuk Contoh 4.6

Contoh 4.6
Tentukan besar tegangan antara resistor 3 Ω dalam rangkaian pada
Gambar 4.10.
Jawab
Rangkaian pada Gambar 4.10 dilukis kembali menjadi seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 4.11. Dengan mengandaikan V1 sebagai
komponen tegangan yang dinyatakan bila hanya sumber 12 V yang
bekerja (Gambar 4.11a) dan V2 adalah komponen karena sumber 6
A sendiri (Gambar 4.11b), maka didapatkan, seperti pada contoh
sebelum ini,

117
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

V = V1 + V2

12 V
- +

I1
3
1 +
2I1 V
-

(a)

I2
3
1 + 6A
2I2 V
-

(b)
Gambar 4.11 Rangkaian pada Gambar 4.11 dengan (a) sumber arus
dibuka (b) sumber tegangan dihubung singkat

Tampak bahwa arus I yang mengendalikan sumber tak bebas juga


mempunyai dua komponen yang ditandai sebagai I1 dan I2 masing-
masing karena sumber 12 V dan 6 A secara tersendiri. Dengan
menyelesaikan V1 dalam Gambar 4.11a dan V2 dalam Gambar
4.11b didapatkan
V1 = 6 V
dan
V2 = 9 V
Sehingga
V = V1 + V2 = 6 + 9 = 15 V

Paling sedikit ada dua hal yang dilukiskan pada Contoh 4.10 dalam
menjelaskan prinsip superposisi, yaitu hanya sumber bebas saja yang dapat
dihilangkan sedangkan sumber tak bebas dapat dihilangkan pengaruhnya.
Yang kedua adalah bahwa prinsip superposisi sering merupakan cara yang
kurang cocok untuk memecahkan persoalan rangkaian yang mengandung
sumber tak bebas karena masing-masing rangkaian dengan masukan tunggal

118
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

sering tidak lebih mudah untuk diselesaikan. Misalkan, pada Contoh 4.10 di
atas terdapat dua mata jala dalam rangkaian aslinya, pada Gambar 4.10, dan
sebuah arus mata jalanya telah diketahui. Dalam hal ini diperlukan hanya
sekali pemakaian Hukum Tegangan Kirchhoff sepanjang mata jala yang
mengandung resistor 2  saja.
Tampak bahwa prinsip superposisi berlaku untuk arus dan tegangan, tetapi
dayanya tidak dapat digabungkan dengan cara yang sama. Misalnya, tinjau
perhitungan daya pada suatu rangkaian linear yang mengandung dua atau
lebih sumber. Di sini arus dalam masing-masing cabangnya dapat dihitung
secara superposisi. Misalnya diinginkan untuk menghitung daya yang diserap
dalam salah satu cabang dengan menganggap bahwa cabang itu menyerap
daya dari masing-masing sumber, kemudian semua daya tersebut
dijumlahkan. Hasilnya, jelas akan lebih kecil daripada daya yang diserap oleh
cabang tersebut bila semua sumber terpasang seluruhnya. Hal ini disebabkan
karena hubungan antara sumber dan daya yang diserap tidaklah linear. Dalam
Contoh 3.7, daya yang diserap oleh resistansi 5 Ω adalah
P = I 32 R = 122x 5 = 720 W
Perhitungan daya dengan menggunakan arus karena masing-masing sumber
secara tersendiri menurut Contoh 4.10 akan menghasilkan
P = I 3' R  I 3" R = 8,642x 5 + 3,362x 5 = 429,7 W
2 2

berbeda dari yang dihitung menurut Contoh 3.7.


Prinsip superposisi memungkinkan perhatian dipusatkan pada hanya salah
satu sebab (atau sumber), sehingga mempermudah proses pemikiran
mengenai sifat rangkaian dalam keadaan yang bermacam-macam. Di
samping itu, prinsip superposisi mendasari teorema rangkaian yang lain.

4.5 Teorema Thévenin dan Norton


Dalam Bagian 4.4 telah ditinjau analisis
rangkaian dengan menggunakan prinsip
superposisi. Dan telah ditunjukkan pada contoh
terakhir bagian itu bahwa penggunaan
superposisi saja tidak akan mengurangi
keruwetan persoalan. Dalam bagian ini akan
dibahas teorema Thévenin dan teorema Norton
yang dalam banyak hal dapat diterapkan dan
sangat menyederhanakan rangkaian untuk
dianalisis.
Léon Charles Thévenin (1857-1926), insinyur Gambar 4.12
telegraf bangsa Perancis, mengusulkan teorema Thévenin
penyetaraan rangkaian. Untuk rangkaian [Link]

119
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

resistansi, teorema Thévenin menyatakan bahwa setiap rangkaian kutub-dua


linear yang terdiri dari resistor dan sumber (baik yang bebas maupun yang
tak bebas), seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4.14a dapat dinyatakan
sebagai suatu rangkaian setara berupa sebuah sumber tegangan dengan
resistor serinya, yang disebut rangkaian setara Thévenin (Gambar 4.14b).
Rangkaian dalam Gambar 4.14a juga dapat diwakili oleh sebuah sumber arus
dengan konduktansi simpangnya, yang dikenal sebagai rangkaian setara
Norton (Gambar 4.14c). Rangkaian Norton merupakan kembaran (dual)
rangkaian Thévenin. Edward Lawry Norton (1898-1983) adalah insinyur di
Bell Labs, Amerika Serikat.
Karakteristik volt-ampere rangkaian-rangkaian yang diperlihatkan pada
Gambar 4.14 telah diberikan oleh Gambar 3.22 dan dinyatakan oleh
persamaan
V = V0 – IR0 (4.9)
Atau
I = I0 – VG0 (4.10)
dengan
1 V
R0 = = 0 (4.11)
G0 I0
Tikalas (subscript) 0 pada V dan R berturut-
turut sama dengan rt dan t pada Bagian 3.4 serta
I dan G sama dengan hs dan t.
Pembahasan teorema Thévenin dan Norton ini
membuktikan bahwa karakteristik volt-ampere
Gambar 4.13 Norton suatu rangkaian umum pada Gambar 4.14a
[Link] mempunyai bentuk yang sama seperti yang
diberikan oleh Persamaan (4.9) dan (4.10).
Karakteristik ini diperoleh dengan menerapkan prinsip superposisi.
Rangkaian pada Gambar 4.14a dilukiskan kembali pada Gambar 4.15a;
antara kutub-kutub terbuka itu mempunyai tegangan sebesar V0. Karena
rangkaiannya terbuka maka arus keluarannya sama dengan nol. Gambar
4.15b memperlihatkan rangkaian yang sama dengan sebuah sumber tegangan
yang besarnya sama dengan tegangan rangkaian terbuka V0 dan dipasangkan
pada kedua kutubnya. Karena tegangan sumber tepat mengimbangi tegangan
rangkaian terbuka tersebut maka arus keluaran I tetap sama dengan nol. Arus
nol ini merupakan arus cabang keluaran yang dihasilkan oleh semua sumber
dalam rangkaian dan sumber luar V0.
Prinsip superposisi menyatakan bahwa arus di setiap cabang rangkaian adalah
jumlah komponen-komponen arus cabang yang disebabkan oleh masing-
masing sumber dalam rangkaian secara sendiri-sendiri. Arus I dalam

120
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

rangkaian pada Gambar 4.15b adalah arus semacam itu dan besarnya sama
dengan nol. Jadi penambahan suatu sumber lain (V1 dalam Gambar 4.15c)
akan menghasilkan suatu arus I1 dalam cabang keluarannya yang dapat
diperoleh juga dengan menghilangkan semua sumber dalam rangkaian seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 4.15d.

+
Rangkaian I
resistansi linear V
kutub-dua
-
(a)
R0
+
+ I
V0 V
-
-
(b)
+
I
I0 G0 V

-
(c)
Gambar 4.14 (a) Rangkaian resistansi linear dengan (b) rangkaian
setara Thévenin dan (c) rangkaian setara Norton

Dengan semua sumber yang dihilangkan, rangkaian tanpa sumber pada


Gambar 4.15d dapat ditandai oleh sebuah resistansi masukan R0 dan
V1 = I1R0
menurut Hukum Ohm. karena, menurut Gambar 4.15c

V = V0 – V1
maka
V = V0 – I1R0
yang sama dengan Persamaan (4.9). Jadi, pewakilan pada Gambar 4.14b dan
4.14c boleh digunakan untuk menggantikan rangkaian pada Gambar 4.14a.
Secara ringkas teorema Thévenin dapat diungkapkan sebagai berikut:
1. Nilai V0 dalam rangkaian setara pada Gambar 4.15b adalah tegangan
rangkaian terbuka pada kutub keluaran rangkaian.

121
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

2. Nilai I0 dalam rangkaian setara pada Gambar 4.15c adalah arus


hubung-singkat yang mengalir di antara kutub keluaran rangkaian
tersebut.
3. Nilai R0 adalah resistansi masukan rangkaian dengan semua sumber
bebas dihilangkan atau menurut Persamaan (4.11), perbandingan
antara tegangan keluaran rangkaian-terbuka dengan arus keluaran
hubung-singkatnya.
4. Hubungan ketiga nilai di atas mengikuti apa yang telah dibahas di
Bagian 3.4 untuk perubahan sumber.
Teorema Norton, yang merupakan kembaran teorema Thévenin,
mengikuti alur pikiran yang sama dan rangkaian yang terbentuk berupa
sebuah sumber arus setara Norton yang dihubungkan paralel dengan
konduktansi setara simpangnya.

I=0 I=0
+
Rangkaian +
resistansi linear V0 V0
kutub-dua -
-
(a) (b)
I = I1 + 0 I1
+ + Hubung- +
V0 - singkat V0
Rangkaian yang
menghasilkan -- --
arus nol Rangkaian
V1 terbuka
V1
+ +
(c) (d)
Gambar 4.15 Theorema Thévenin

Kegunaan utama teorema Thévenin dan Norton adalah memungkinkan suatu


rangkaian digantikan dengan sepasang kutub keluaran dan hasilnya dapat
dipergunakan untuk menghitung pengaruh suatu beban yang dipasangkan
pada kutub keluaran itu, atau akibat yang diperoleh beban karena sifat
rangkaian tersebut.

122
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

20 

+
140 V R 5 18 A
-

Gambar 4.16 Rangkaian untuk Contoh 4.7

Contoh 4.7
Tentukan resistansi R yang menyerap daya maksimum dari
rangkaian pada Gambar 4.16. Juga tentukan berapa besar daya
maksimum tersebut.
Jawab
Untuk menentukan daya dalam suatu unsur, perlu diketahui berapa
arus yang mengalir di dalamnya dan berapa resistansi unsur
tersebut. Oleh karena itu, harus dicari suatu persamaan dengan arus
I sebagai fungsi resistansi R.
Karena resistansi R yang diselidiki, maka resistornya dikeluarkan
dari rangkaian dan dibentuk suatu rangkaian setara Thévenin untuk
rangkaian sisanya. Rangkaian dengan R yang dikeluarkan itu
ditunjukkan pada Gambar 4.17a. Tegangan rangkaian terbuka V0
dihitung kemudian. Sumber 140 V 20 Ω diubah menjadi rangkaian
setaranya yang berupa sumber arus dengan konduktansi simpang
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.17b. Persamaan Hukum
Arus Kirchhoff pada rangkaian tersebut adalah

 1 1 = 7 + 18
  V0
 20 5
Atau

V0 = 100 V

Untuk menentukan resistansi setara R, kedua sumber dalam rangkaian ini


dibuat sama dengan nol. Rangkaian yang dihasilkan dengan menghilangkan
kedua sumber itu (yaitu dengan menghubung-singkatkan sumber tegangan
dan rangkaian sumber arus dibiarkan terbuka) diperlihatkan pada Gambar
4.17c. Resistansi 20 Ω paralel dengan resistansi 5 Ω terhadap kutub terbuka
adalah resistansi setara Thévenin yang besarnya, menurut Persamaan (3.15)
adalah

123
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

20 

+
140 V 5 18 A
-

(a)

7A 0,05 S 0,2 S 18 A

(b)

20  5

(c)

Gambar 4.17 Rangkaian pada Gambar 4.16 dalam proses pembentukan


setara Théveninnya

20  5
R0 = =4Ω
20  5
Rangkaian setara Thévenin untuk rangkaian pada Gambar 4.17a di
antara kutub terbuka adalah sebuah sumber tegangan 100 V dengan
resistansi seri 4 Ω. Jika resistor R dipasangkan kembali, hasilnya
adalah rangkaian pengganti yang diperlihatkan pada Gambar 4.18.
Persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff pada Gambar 4.18 adalah
100 – 4I – RI = 0
atau
100
I=
4 R
Daya yang diserap oleh resistor R, menurut Persamaan (2.14),
adalah
10000 R
P = I2R =
(4  R) 2

124
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

4

+
140 V R
-

Gambar 4.18 Rangkaian setara Thévenin untuk rangkaian pada


Gambar 4.16

Untuk menentukan resistansi dengan daya maksimum,


diferensiasikan daya ini terhadap resistansi dan turunannya
disamakan dengan nol, yaitu

dP 10000(4  R) 2  20000 R(4  R)


= =0
dR (4  R) 4
yang memberikan
R=4Ω
Arus beban menjadi
100
I= = 12,5 A
44
Pmaks = 12,52 x 4 = 625 Ω

P
Pmaks

0 1 R
R0

Gambar 4.19 Grafik penyaluran daya maksimum

Rangkaian pada Contoh 4.7 identik dengan Contoh 3.7, kecuali resistansi 6
Ω pada
Contoh 3.7 telah digantikan oleh suatu resistor variabel R. Contoh ini
melukiskan karakteristik suatu rangkaian terhadap sebuah unsur tunggal yang

125
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

dapat ditentukan dengan teorema Thévenin. Tampak bahwa resistansi


keluaran R untuk penyaluran daya maksimum sama dengan resistansi setara
sumber jika dilihat dari kutub R. Hal ini bukan merupakan suatu kebetulan,
melainkan suatu kebenaran umum. Resistansi sumber setara itu disebut
resistansi keluaran dan proses penyepadanan resistansi keluaran dengan
resistansi beban dikenal sebagai penyepadanan resistansi (resistance
matching). Hal itu ditunjukkan pada Gambar 4.19 bahwa daya maksimum
tercapai untuk nilai R yang sama dengan R0.

10  a
+
+ I1 I2
80 V 5I1 A 5  V0
-
-
b
Gambar 4.20 Rangkaian untuk Contoh 4.12

Contoh 4.8
Tentukan rangkaian setara Thévenin dan Norton pada kutub ab
untuk rangkaian dalam Gambar 4.20.
Jawab
Rangkaian yang mengandung sumber tak bebas harus diperlakukan
secara berbeda dari rangkaian yang hanya mengandung sumber
bebas. Pendekatan umum yang dipakai di sini adalah dengan
menentukan tegangan rangkaian terbuka V0 dan arus hubung-
singkat I0; resistansi setara R diperoleh menurut Persamaan (4.11).
Tegangan rangkaian-terbukanya ditentukan sebagai berikut.
Persamaan Hukum Arus Kirchhoff pada simpul a adalah
I2 = I1 + 5I1 = 6I1
Hukum Tegangan Kirchhoff pada rangkaian tertutup yang meliputi
sumber tegangan dan resistansi 10 Ω dan 5 Ω memberikan
10I1 + 5I2 = 10I1 + 5(6I1) = 80
sehingga I1 = 2 A dan I2 = 12 A. Maka
V0 = 5I2 = 60 V
Rangkaian ini dilukis kembali pada Gambar 4.21 dengan kutub-
kutub keluarannya dihubung singkat. Akibat hubung-singkat ini
tegangan keluaran dan juga arus pada resistansi 5 Ω menjadi sama

126
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

dengan nol. Persamaan rangkaian menurut Hukum Tegangan


Kirchhoff dan arus adalah
10I1 = 80
atau
I1 = 8 A
dan
I0 = I1 + 5I1 = 6I1 = 48 A
Nilai R0 menurut Persamaan (4.11) adalah
V0 60
R0 = = = 1,25 Ω
I0 48
atau
1
G0 = = 0,8 S
R0
10  a

+ I1 I2 I0
80 V 5I1 A 5
-

b
Gambar 4.21 Rangkaian pada Gambar 4.20 dengan kutub keluaran
yang dihubung-singkat

Rangkaian setara Thévenin dan Norton-nya diberikan pada Gambar 4.22.

+ R1
V1
- R4 R5
V2 - - V3
+ + R2 R6

R3

Gambar 4.22 Rangkaian untuk Soal 4.1 dan 4.2

127
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

Soal-soal
4.1 Dalam rangkaian yang diperlihatkan pada Gambar 4.22, V1 = 4 V, V2
= 12 V, V3 = 8 V, R1 = 11 Ω, R2 = 9 Ω, R3 = 5 Ω, R4 = 15 Ω, R5 = 2
Ω, dan R6 = 6 Ω. Hitunglah masing-masing arus yang mengalir dalam
setiap unsur rangkaian ini dengan menggunakan metode arus mata
jala.
4.2 Ulangi Soal 4.1 dengan menggunakan metode tegangan simpul.
4.3 Dengan menggunakan metode tegangan simpul, tentukan tegangan V
jika unsur X pada Gambar 4.23 adalah sebuah sumber tegangan
sempurna sebesar 12 V yang dihubungkan seri dengan resistansi 1 Ω
dan kutub positifnya terletak di atas.

i(t) G C L

Gambar 4.23 Rangkaian untuk Soal 4.3, 4.4, dan 4.20

4.4 Ulangi Soal 4.3 jika unsur X adalah sebuah sumber arus sebesar 6 A
yang dihubungkan paralel dengan resistansi 1 Ω dan arah arusnya ke
bawah
4.5 Dengan metode arus mata jala, tentukan arus I dalam rangkaian pada
Gambar 4.24.
4.6 Ulangi Soal 4.5 dengan menggunakan metode tegangan simpul.

RS Galvanometer
1,5 V
B

+ 5
3V 7500 
A +
-
1V
-
O
Gambar 4.25Rangkaian untuk Soal 4.7 dan 4.8

128
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

4.7 Rangkaian pada Gambar 4.25 adalah susunan khas suatu


potensiometer yang digunakan untuk mengukur tegangan. Tentukan
berapa tegangan titik A terhadap O dan hitung arus galvanometer jika
resistansi AB = 300Ω dan resistansi OA = 450 .
4.8 Ulangi Soal 4.3 dengan menggunakan metode arus mata jala jika
unsur X adalah sebuah sumber tegangan tak bebas sebesar 6V volt
yang dihubungkan seri dengan resistansi 1 ohm dan kutub positifnya
terletak di bawah.
4.9 Dengan metode tegangan simpul, tentukan V dalam rangkaian pada
Gambar 4.26.
4.10 Ulangi Soal 4.9 dengan metode arus mata jala dan bandingkan
hasilnya.

3 12 V
+ -
+
6A V 2 6 2V A
-
Gambar 4.26 Rangkaian untuk Soal 4.9 dan 4.10

4.11 entukan daya yang dikirimkan ke resistor 4 Ω dalam rangkaian pada


Gambar 4.25 dengan menggunakan metode arus mata jala.

1

2
+
0,25V A 4
-
2A 2

Gambar 4.27Rangkaian untuk Soal 4.11 dan 4.12

4.12 Ulangi Soal 4.11 dengan menggunakan teorema Thévenin dan


bandingkan hasilnya. Tentukan pula berapa resistansi yang
menggantikan resistansi 4Ω tersebut agar daya yang diberikan ke
resistansi itu maksimum.

129
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

4.13 Dengan menggunakan metode tegangan simpul, tentukan tegangan


pada resistansi beban dalam rangkaian pada Gambar 4.28. Tentukan
juga berapa arus i.
4.14 Nyatakan v2 dalam v1 dan G untuk rangkaian pada Gambar 4.29
dengan menggunakan metode tegangan simpul.
4.15 Ulangi Soal 4.14 untuk rangkaian yang diberikan pada Gambar 4.30.
4.16 Tentukan resistansi masukan Ri dalam resistansi rangkaian pada
Gambar 4.31.

- i
+
3 cos 4t V 2 k
- 2 k
1 k

Gambar 4.28 Rangkaian untuk Soal 4.13

G4 G5
G1 G2
+ -
+
v1 G3 +
v2

- -
Gambar 4.29 Rangkaian untuk Soal 4.14

Dengan teorema superposisi, ulangi Soal 4.13.


4.17 Ulangi Soal 4.24 dengan teorema superposisi.
4.18 Dengan teorema superposisi ulangi Soal 4.17.
4.19 Tentukan rangkaian setara Thévenin untuk rangkaian pada Gambar
4.23 dengan mengeluarkan unsur X.

130
Bab 4 Metode Analisis Rangkaian Listrik

G5 G4 G6

G2
+ - G3
-
+ +
v1 G1 +
v2

- -

Gambar 4.30 Rangkaian untuk Soal 4.15


R2

Ri R1 -

R3 R4

Gambar 4.31 Rangkaian untuk Soal 4.16

131
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-Balik

harles P. Steinmetz (1865-1923), menyelesaikan disertasi doktornya

C dalam bidang matematika di Universitas Breslau, Jerman. Ia


kemudian lari ke Swiss dan akhirnya ke Amerika Serikat pada tahun
1889 karena masalah politik di negerinya. Di Amerika, ia bekerja di
suatu perusahaan yang menghasilkan transformator. Pada tahun 1893
perusahaan itu dibeli oleh General Electric Company. Tahun itu juga,
Steinmetz mengusulkan penggunaan bilangan kompleks untuk
menyelesaikan masalah baru yang terkait dengan sinusoida yang berubah
menurut waktu. Suatu masalah yang sangat sulit diselesaikan pada saat itu.
Steinmetz membuktikan bahwa suatu fungsi waktu dapat diubah menjadi
sautu kombinasi antara amplitudo konstan dan sudut fasa, yang disebutnya
sebagai fasor (phasor). Dengan penggunaan fasor itu berbagai masalah
analisis arus bolak-balik dapat dengan mudah dapat diselesaikan.
Dengan menggunakan inovasi matematika itu memungkinkan insinyur
elektro untuk merancang motor listrik berdasarkan analisis matematika
sebelum membuatnya. Suatu kemajuan yang luar biasa, karena sebelumnya
motor listrik dibangun berdasarkan coba-coba (trial and error). Pada tahun
1897, Steinmetz menerbitkan buku Theory and Calculation of AC
Phenomena (Teori dan Perhitungan Gejala Arus Bolak-Balik).
Sampai dengan Bab Empat, semua pembahasan dibatasi pada rangkaian
listrik yang hanya mengandung resistor. Meskipun rangkaian semacam itu
penting, rangkaian yang tegangan dan
arusnya berubah menurut waktu lebih
penting lagi. Arus bolak-balik yang
dijumpai di rumah kita berubah arah
dua kali setiap seperlima-puluh detik;
arus dan tegangannya merupakan
fungsi sinusoida. Dalam elektronika
akan dijumpai berbagai bentuk
gelombang, antara lain gelombang
pulsa (denyut), segi empat, gigigergaji,
dan eksponensial maupun
gabungannya. Gambar 5.1
menunjukkan beberapa jenis
gelombang tersebut. Di antara semua
bentuk gelombang itu, gelombang Gambar 5.1 Steinmetz
[Link]
eksponensial dan sinusoida merupakan
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

bentuk gelombang yang paling mudah dibangkitkan dan juga paling mudah
dianalisis. Bentuk sinusoida dan arus searah dapat diturunkan dari fungsi
eksponensial. Cara-cara yang dikembangkan dalam bab ini akan memberikan
analisis umum untuk tanggapan rangkaian terhadap rangsangan berupa fungsi
eksponensial. Di samping itu, menurut matematika, bentuk eksponensial
adalah bentuk yang paling memudahkan karena baik turunannya maupun
integralnya mempunyai bentuk yang sama seperti fungsi aslinya. Sifat ini
memungkinkan persamaan integrodiferensial yang dihasilkan oleh hukum
Kirchhoff dapat dinyatakan sebagai persamaan aljabar biasa yang akan
mempermudah perhitungan selanjutnya. Dengan demikian apa yang telah
dicapai sampai dengan Bab Empat akan dapat diperluas dengan melibatkan
induktansi dan kapasitansi di samping resistansi dalam analisis rangkaian.

t 0 t 0 t

t 0 t 0 t

Gambar 5.2 Beberapa bentuk gelombang

Pokok bahasan bab ini adalah mengenai tanggapan terpaksa, yaitu tanggapan
terhadap rangsangan luar yang dikenakan pada rangkaian. Dalam hal ini
rangsangannya berupa sumber arus atau tegangan sinusoida. Rangsangan
sinusoida merupakan suatu rangsangan yang penting. Sinusoida merupakan
salah satu fungsi matematika berulang yang paling sederhana. Tegangan dan
arus sinusoida mudah dibangkitkan baik dalam sistem tenaga maupun
elektronika. Sinyal sinusoida dengan frekuensi yang berubah-ubah adalah
salah satu sinyal yang paling banyak digunakan dalam uji-coba peralatan
elektronika. Hampir semua fungsi berulang dapat dinyatakan sebagai jumlah
sederetan fungsi sinusoida, dan dengan teknik tertentu fungsi sinusoida juga
dapat mewakili fungsi tak-berulang. Di samping itu, menurut persamaan
Euler ejx = cos x + jsin x, fungsi sinusoida merupakan salah satu kasus khusus
bagi fungsi eksponensial.

134
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Dalam bab ini akan ditinjau terlebih dahulu karakteristik dan penjelasan
matematika mengenai fungsi berulang dengan tekanan khusus pada fungsi
sinusoida. Selanjutnya akan dibahas metode fasor untuk analisis rangkaian
yang telah dibahas dalam Bab Tiga untuk rangsangan sinusoida.
Dengan menyelesaikan bab ini, pembaca diharapkan dapat
 mengenal dan memahami konsep impedansi;
 mengenal dan memahami hubungan antara rangsangan eksponensial
dengan rangsangan konstan;
 mengenal rangsangan berbentuk fungsi sinusoida;
 mengenal nilai rata-rata dan nilai efektif gelombang sinusoida;
 mengenal rangsangan sinusoida dalam tiga unsur rangkaian;
 mengenal metode bilangan kompleks dan menggunakan metode fasor
dalam unsur-unsur rangkaian.

5.1 Impedansi dan Tanggapan Unsur Rangkaian


Fungsi eksponensial merupakan fungsi yang mudah untuk dianalisis karena
turunan dan integralnya mempunyai bentuk yang sama. Di samping itu
bentuk gelombang eksponensial juga mudah untuk dibangkitkan.
Tegangan dan arus yang berubah secara eksponensial menurut waktu dapat
ditulis sebagai
v  V0 e st (5.1)
dan
i  I 0 e st (5.2)
dengan V0 dan I0 adalah nilai tegangan dan arus pada saat t = 0. Jika s positif,
tegangan atau arus ini akan meningkat menurut waktu; jika s negatif akan
menyusut menurut waktu dan bila s = 0, tegangan atau arus ini akan konstan.
Gambar 5.3 menunjukkan ketiga hal tersebut.
Fungsi eksponensial juga dapat ditulis sebagai
t

v  V0 e T
(5.3)
dan
t

i  I 0e T
(5.4)
dengan
1
s
T

135
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

tanda plus dan minus dipilih sedemikian sehingga T selalu positif. Satuan
untuk T adalah detik dan s kebalikan-detik (s–1). Konstanta T, yang disebut
konstantawaktu, merupakan ukuran kecepatan perubahan fungsi
eksponensial waktu tersebut.

s>0

s=0
V0
s<0
0 t
Gambar 5.3 Fungsi eksponensial v = V0est dengan nilai-nilai syang
berlainan

Dalam rangkaian pada Gambar 5.4, sumber arus i(t) digunakan untuk
mendapatkan tegangan sebesar V0est pada masing-masing unsur
rangkaiannya. Arus yang mengalir dalam setiap unsur tersebut dapat
ditentukan menurut hubungan volt-ampere yang sesuai, seperti yang telah
dibahas dalam Bab Dua. Jadi
iG (t )  Gv(t )  GV0 e st
(5.5)
 I G e st
dv(t )
iC (t )  C  CsV0 e st
dt (5.6)
 I Ce st

1 1
iL (t ) 
L  v(t )dt  V0 e st
Ls (5.7)
 I Le st

Setiap arus yang melalui ketiga unsur itu, yang diberikan oleh Persamaan
(5.5) sampai dengan (5.7), merupakan bentuk eksponensial yang
eksponennya sama seperti pada tegangan antara unsur tersebut. Hubungan
antara amplitudo arus dengan amplitudo tegangan dalam masing-masing
unsur rangkaian itu adalah

136
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

IG
I G  GV0 atau G (5.8)
V0
I C  CsV0 atau IC
 Cs (5.9)
V0
1
IL  V0 atau
IL 1
 (5.10)
Ls V0 Ls

i(t) G C L

Gambar 5.4 Rangkaian GLC paralel

Hubungan pada Persamaan (5.9) dan (5.10) mempunyai bentuk yang serupa
dengan hukum Ohm yang memberikan Persamaan (5.8). Karena ketiga
persamaan tersebut merupakan perbandingan antara arus dengan tegangan,
1
besaran G, Cs, dan mempunyai dimensi yang sama yaitu M–1L–2TQ2
Ls
dengan satuan siemens (S). Jika G adalah konduktansi, suatu istilah umum
untuk menyatakan perbandingan antara arus dengan tegangan adalah
admitansi dengan lambang Y(s). Perlu diperhatikan bahwa admitansi
merupakan fungsi variabel frekuensi kompleks, s.
Untuk pemakaian yang lain, lebih disukai perbandingan antara tegangan dan
arus pada sepasang kutub yang disebut impedansi. Impedansi ini dinyatakan
dengan lambang Z(s) dengan satuan ohm () menurut SI. Z(s) merupakan
kebalikan dari Y(s) yang juga merupakan fungsi s, dimensi impedansi adalah
ML2T–1Q–2.
Dalam rangkaian pada Gambar 5.4, sumber tegangan v(t) digunakan untuk
mendapatkan arus sebesar I0est pada masing-masing unsur rangkaiannya.
Tegangan pada setiap unsur tersebut dapat ditentukan menurut hubungan
volt-ampere yang sesuai,
vR (t )  Ri (t )  RI 0 e st
(5.11)
 VR e st

137
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

1 1
C
vC (t )  i (t )dt  I 0 e st (5.12)
Cs
 VC e st
di (t )
vL (t )  L  LsI0 e st (5.13)
dt
 VL e st
Serupa seperti sebelumnya, setiap tegangan antara ketiga unsur itu, yang
diberikan oleh Persamaan (5.11) sampai dengan (5.13), merupakan bentuk
eksponensial yang eksponennya sama seperti pada tegangan antara unsur
tersebut. Impedansi masing-masing unsur rangkaian itu adalah
VR
VR  RI 0 atau R (5.14)
I0
1 VC 1
VC  I0 atau  (5.15)
Cs I 0 Cs

VL  LsI0 VL
atau  Ls (5.16)
I0
Hubungan volt-ampere impedansi dan admitansi yang secara umum
merupakan fungsi s disebut pernyataan kawasan frekuensiunsur rangkaian.
Sumber arus i(t) pada Gambar 5.4 dapat dihitung dengan pertolongan hukum
arus Kirchhoff. Jadi,
i (t )  iG (t )  iC (t )  iL (t )
(5.17)
dv(t ) 1
 Gv(t )  C   v(t )dt
dt L
Jika Persamaan (5.5) sampai dengan (5.7) disisipkan ke dalam Persamaan
(5.17) dan menggabungkan suku-sukunya yang sama, akan dihasilkan
 1 
i(t )   G  Cs  Ve st
 Ls  (5.18)
 Ie st
Pada Persamaan (5.18) tampak bahwa arus dari sumber tersebut juga
merupakan fungsi eksponensial dengan eksponen yang sama seperti
eksponen tegangan yang dihasilkannya. Dapat disimpulkan, bahwa suatu
rangsangan eksponensial akan menghasilkan tanggapan yang berupa
eksponensial dengan eksponen yang sama.
I
Perbandingan adalah admitansi rangkaian, Y(s); impedansinya, Z(s),
V
V
adalah perbandingan . Dalam hal ini
I

138
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

I 1
Y ( s)   G  Cs  (5.19)
V Ls
dan
V 1
Z(s)   (5.20)
I G  Cs  1
Ls
Dari Persamaan (5.19) tampak bahwa Y(s), yang menyatakan admitansi tiga
unsur dalam hubungan paralel, dapat diperoleh dengan menjumlahkan
admitansi masing-masing unsurnya dengan cara yang sama seperti pada
konduktansi paralel dalam rangkaian resistif. Hal yang serupa berlaku pula
untuk impedansi dalam hubungan seri seperti resistansi dalam hubungan seri
dan akan diberikan pada Contoh 5.1.
Daftar 5.1 memberikan ringkasan hubungan simetri antara impedansi dan
admitansi unsur rangkaian tersebut.

Daftar 5.1 Impedansi dan admitansi unsur terhadap rangsangan


eksponensial
Unsur rangkaian Impedansi Admitansi
Resistansi R G
1
Kapasitansi Cs
Cs
1
Induktansi Ls
Ls

Contoh 5.1
Tentukan besar sumber tegangan v(t) jika arus yang mengalir dalam
rangkaian pada Gambar 5.5 adalah I(t) = 2e3t ampere.

i(t) 2H

+
v(t) 1
F
3
-

8
Gambar 5.5 Rangkaian untuk Contoh 5.1

139
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Jawab
Rangkaian pada Gambar 5.5itu merupakan rangkaian RLC seri.
Menurut hukum tegangan Kirchhoff:
di 1
v  vL  vC  vR  L   idt  Ri
dt C
1
 Lsi  i  Ri  Z L i  Z C i  Z R i
Cs
 ( Z L  Z C  Z R )i  Z ( s )i
Seperti halnya dengan rangkaian resistif seri, persoalan rangkaian
ini dapat diselesaikan dengan penyederhanaan rangkaian setelah
impedansi masing-masing unsur tersebut ditentukan. Dengan
mengetahui bahwa s = 3,
ZL = Ls = 2 x 3 = 6 Ω
1 1
ZC   1
Cs 1  3
3
ZR = R = 8 Ω
Jadi,
Z(s) = ZL + ZC + ZR = 6 + 1 + 8 = 15 Ω
sehingga
v = Z(s)i = 15 x 2e3t = 30e3t V
Pada contoh di atas tampak adanya suatu eksponensial yang meningkat.
Dalam praktik tidak mungkin dijumpai suatu sistem fisik dengan tegangan
atau arus yang dapat meningkat terus seperti itu.

i(t)

+
v(t) 10 k 1 F
-

Gambar5.6 Rangkaian untuk Contoh 5.2

Contoh 5.2
Dalam rangkaian pada Gambar 5.6 diketahui bahwa v = 100e–50t
volt. Tentukan i.
Jawab
Konstanta waktu pada fungsi eksponensial ini adalah

140
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

1
T  0,02 s
50

v(t)

v = Ae -t/T

0,368A

0 T t

Gambar5.7 Fungsi eksponensial menyusut

Jadi tegangan yang dikenakan itu berkurang amplitudonya dengan


1
faktor (kira-kira 37%) dalam setiap selang 0,02 s, seperti yang
e
ditunjukkan pada Gambar 5.7.

v(t)

v = Ae -t/T

0 T t

Gambar 5.8 Fungsi eksponensial yang berawal pada t = 0

Impedansi rangkaian ini dapat dengan mudah diperoleh dengan


hukum kombinasi paralel atau, lebih mudah lagi, dengan admitansi
paralel yang dapat langsung dijumlahkan. Dengan s = –50,
didapatkan

141
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Y  YR  YC  G  sC
 10  4  (50 10 6 )  05 10  4 
sehingga
i  Yv  (0,5     e t
 e t 
Perlu diperhatikan, bahwa dalam contoh di atas tidak praktis untuk
mengandaikan tegangan harus mencapai takhingga untuk waktu negatif yang
besar. Suatu hal yang lebih praktis adalah dengan mengandaikan bahwa
tegangan sama dengan nol sampai suatu waktu tertentu dan kemudian
berubah menjadi suatu fungsi eksponensial menurun, seperti yang dilukiskan
pada Gambar 5.8. Saat tertentu itu biasanya dipilih pada saat pengamatan
mulai dilakukan, yaitu pada saat t = 0

5.2 Hubungan Antara Rangsangan Eksponensial Dengan


Rangsangan Konstan
Metode analisis rangkaian eksponensial meliputi tanggapan rangkaian RLC
terhadap rangsangan konstan sebagai salah satu kasus khususnya. Misalnya
untuk pernyataan umum bagi suatu tegangan
v = V0est
dengan s dibuat sama dengan nol. Nilai eksponensialnya akan sama dengan 1
dan didapatkan suatu tegangan konstan sebesar V0 volt. Untuk tegangan
konstan ini tiga impedansi dasar bagi unsur R, L, dan C berturut-turut, sesuai
dengan daftar 5.1, menjadi R, 0, dan . Jadi arus yang mengalir dalam
masing-masing unsur itu adalah
V0
iR 
R
iL = 
iC = 0
Untuk arus dalam resistor, hal itu merupakan pengulangan hukum Ohm; arus
dalam induktor dan kapasitor memerlukan sedikit komentar.
Persamaan dasar rangkaian untuk L menurut Persamaan (2.26) adalah
di
vL
dt
di V0
Tampak bahwa setiap saat arus akan meningkat dengan kecepatan  ,
dt L
arus tersebut tidak perlu sama dengan takhingga. Tetapi perhitungan
impedansi dengan s sama dengan nol menghasilkan i takhingga. Hal ini

142
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

terjadi karena metode impedansi pada suatu fungsi eksponensial est terdefinisi
untuk seluruh selang waktu. Dengan s = 0, tegangan v dianggap sama dengan
V0 untuk selamanya. Jadi kenaikan arus dengan kecepatan tertentu yang
terbatas selama selang waktu takhingga harus menghasilkan suatu arus
takhingga. Dalam keadaan yang sebenarnya, bila suatu sumber tegangan
dikenakan antara kutub-kutub induktor, tidak benar untuk diandaikan
demikian. Arus akan meningkat dari nol dengan suatu kecepatan tertentu
pada saat disambungkan. Jauh sebelum arus itu menjadi takhingga, arus itu
akan dibatasi oleh resistansi (betapapun kecilnya) yang selalu terdapat dalam
setiap rangkaian yang sebenarnya.
Metode impedansi meramalkan arus nol mengalir dalam suatu kapasitansi
yang dihubungkan ke suatu tegangan tetap. Begitu tegangan antara keping-
keping kapasitor menjadi sama dengan tegangan yang dipasangkan, tidak
akan ada lagi arus yang mengalir karena jika ada, hal itu akan menaikkan
tegangan kapasitor di atas tegangan yang dikenakan sehingga akan
berlawanan dengan hukum tegangan Kirchhoff.

5.3 Fungsi Sinusoida


Gelombang sinusoida, sinus atau kosinus, merupakan salah satu bentuk
gelombang yang sangat penting dalam teknik elektro. Salah satu alasannya
adalah karena daya listrik di Indonesia selalu disalurkan dalam bentuk
gelombang tegangan dan arus sinusoida dengan frekuensi 50 Hz. Tetapi
alasan yang lebih penting lagi adalah karena setiap fungsi berulang menurut
waktu selalu dapat diwakili sebagai jumlah takhingga sinusoida dengan deret
Fourier. Dengan demikian setiap sumber tegangan atau arus yang nilainya
berupa fungsi berulang selalu dapat
diwakili oleh jumlah sumber-sumber
sinusoida, dan dengan teorema superposisi
dapat ditentukan sumbangan masing-
masing komponen sinusoida itu pada
tegangan atau arus dalam cabang rangkaian
tertentu. Di samping itu, fungsi waktu tak
berulang pun dapat diwakili oleh jumlah
takhingga sinusoida dengan integral
Fourier, sehingga setiap fungsi waktu dapat
dipandang terdiri dari komponen-komponen
sinusoida. Oleh karena itu tidak diperlukan
untuk mencari penyelesaian khusus bagi
tegangan atau arus dalam suatu cabang
Gambar 5.9 Hertz yang disebabkan oleh suatu sumber dengan
[Link] rangsangan sebarang. Dengan mengetahui
penyelesaian untuk gelombang sinusoida,

143
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

semua masalah dapat diatasi.


Jika suatu fungsi f(t) mempunyai bentuk gelombang (yaitu lengkungan f(t)
yang dilukis terhadap sumbu waktu) sedemikian hingga
f (t )  f (t  T ) (5.21)

maka fungsi itu dikatakan berulang dengan periodeT.


Fungsi semacam itu diperlihatkan pada Gambar 5.9. Gambar ini
menunjukkan dua ciri fungsi berulang: mempunyai suatu bentuk gelombang
yang berulang pada setiap selang waktu T detik dan mempunyai nilai untuk
seluruh waktu. Bagian bentuk gelombang yang berada dalam satu periode
disebut satu daur. Banyaknya daur setiap detik adalah frekuensi (f),
gelombang tersebut. Satuan frekuensi menurut SI adalah hertz (Hz) dan
mempunyai dimensi T–1. Heinrich Rudolf Hertz (1857 – 1894) adalah ahli
fisika Jerman yang menguraikan teori elektromagnet tentang cahaya yang
diberikan oleh Maxwell.

-1
T

Gambar 5.10 Fungsi sinusoida

Terbukti bahwa
1
f  Hz (5.22)
T
Telah diuraikan di depan bahwa gelombang sinus atau kosinus merupakan
salah satu bentuk gelombang yang sangat penting dalam teknik elektro. Pada
Gambar 5.10 diperlihatkan suatu arus listrik dengan bentuk kosinus.
Persamaan arus itu menurut fungsi waktu adalah
i(t )  I m cos t (5.23)
dengan i(t) adalah nilai sesaat arus untuk setiap saat t dan Im adalah nilai
maksimum atau amplitudonya. Bagian gelombang dalam selang T pada
Gambar 5.10 merupakan satu daur yang besarnya adalah 2 radian atau 360º.

144
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Gambar 5.11, arus i pada Persamaan


(5.23) dapat dilukiskan sebagai fungsi waktu t dalam satuan detik atau sudut
ωt dalam satuan radian atau derajat. Besaran ω adalah kecepatan sudut dan
dinyatakan dalam radian per detik(rads–1). Kecepatan sudut dapat ditulis
sebagai
2
  2f (5.24)
T
dan Persamaan (5.23) dapat dinyatakan dalam bentuk lain sebagai
2
i  I m cos t  I m cos 2ft  I m cos t (5.25)
T

i(t) = Im cos t
Im

0  
    t rad
   
    ts

90o 180o 270o 360o t


-Im

Gambar 5.11 Fungsi arus kosinus

Pada Gambar 5.11, titik-asal waktu atau sumbu acuan waktu dipilih pada titik
dengan arus yang mempunyai nilai maksimum yang positif.

Pada umumnya dalam suatu rangkaian, gelombang tegangan dan arus tidak
selalu mencapai nilai nol atau maksimum pada saat yang sama melainkan
terpisah oleh suatu sudut fasa. Gambar 5.12 menunjukkan gelombang
tegangan dan arus yang tidak sefasa atau mempunyai simpangan berbeda
pada saat t sama dengan nol; persamaan gelombang masing-masingnya
adalah
v  Vm cos(t   ) (5.26)
i  I m cos(t   ) (5.27)
Beda sudut fasa antara kedua gelombang itu adalah Ɵ = ß – α. Gelombang
tegangan yang mencapai puncaknya sebelum gelombang arus dikatakan
mendahului arus sebesar Ɵ; sebaliknya dalam hal ini arus tertinggal dari
tegangan sebesar Ɵ. Perlu diperhatikan bahwa besaran ωt pada argumen
kosinus adalah dalam radian, sehingga nilai-nilai α dan ß pada Persamaan

145
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

(5.6) dan (5.7) juga dalam radian. Tetapi dalam praktik sering dipakai ωt
dalam radian dan α atau ß dinyatakan dalam derajat. Alasannya adalah
karena dalam perhitungan teknik, yang akan diperjelas pada Bagian 5.7,
sudut fasa lebih penting daripada pergeseran fasa secara keseluruhan. Oleh
karena itu, sering Persamaan (5.26) dan (5.27) ditulis sebagai v = Vm cos(ωt –
º) dan i = Im cos(ωt – º), ketakseragaman satuan dalam argumen ini harus
diterima dengan alasan di atas.
Istilah rangsangan sinusoida yang dipergunakan dalam buku ini berarti suatu
rangsangan yang bentuk gelombangnya berupa sinusoida tanpa memandang
kapan nilai maksimum rangsangan itu tercapai. Jadi, tegangan dan arus yang
dinyatakan oleh Persamaan (5.26) dan (5.27) disebut fungsi sinusoida dan
rangkaian dengan rangsangan sinusoida sering disebut sebagai rangkaian
arus bolak-balik; sedangkan rangkaian dengan rangsangan konstan disebut
rangkaian arus searah.


 
Vm
v(t) = Im cos(t – )
Im
i(t) = Im cos(t – 

0
t

-Im

-Vm

Gambar 5.12 Gelombang tegangan dan arus sinusoida

Jika fungsi tegangan dan arus pada Persamaan (5.26) dan (5.27) menyatakan
tegangan dan arus dalam suatu rangkaian arus bolak-balik, maka daya sesaat
pada rangkaian, menurut Persamaan (2.11), adalah
p = vi
yakni hasil kali tegangan dengan arus; bentuk gelombangnya diperlihatkan
pada Gambar 5.13. Perlu diperhatikan bahwa meskipun v dan i negatif dalam
setengah daurnya, daya p lebih banyak positif (kecuali jika Ɵ = 90º). Jadi
tegangan dan arus bolak-balik juga merupakan cara yang efektif untuk
menyalurkan daya dan tenaga. Selama bagian daur daya sama dengan sudut
fasa antara arus dan tegangan, Ɵ, daya tersebut menjadi negatif sehingga arah
penyalurannya terbalik. Dibandingkan dengan arus searah, keadaan ini
merupakan suatu kerugian sebagaimana halnya dengan daya sesaatnya yang
tidak tetap besarnya. Tetapi kerugian tersebut dapat ditutup dengan kenyataan
bahwa tegangan dan arus bolak-balik memungkinkan dipergunakannya

146
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

transformator. Transformator tersebut memungkinkan pembangkitan tenaga


listrik itu pada tegangan yang paling ekonomis, penyaluran dayanya pada
tegangan yang paling menguntungkan dan penggunaan tenaga listrik pada
tegangan yang paling bermanfaat dan tidak membahayakan. Keunggulan
yang diperoleh tersebut sedemikian besarnya sehingga sampai saat ini tenaga
listrik selalu dibangkitkan dan disalurkan dalam bentuk arus bolak-balik. Jika
diinginkan arus searah untuk penggunaan tertentu, dengan mudah dapat
diperoleh dengan mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah di titik
penggunaannya.

p(t) = v(t)i(t)

Vm
v(t) = Vm cos(t – )
Im
P
i(t) = Im cos(t – 

0
t

-Im
-Vm

Gambar 5.13 Gelombang daya sinusoida

Contoh 5.3
PLN menghasilkan tenaga listrik berbentuk sinusoida dengan
frekuensi 50 hertz dan tegangan maksimum 310 volt yang dicapai
pada saat t = 0. Tentukan tegangan sesaatnya.
Jawab
Menurut Persamaan (5.26), fungsi gelombang sinusoida
tegangannya adalah
v(t) = Vm cos (ωt – α) = 310 cos (2x 50 xt – α)
Tegangan ini mencapai nilai maksimumnya pada saat t = 0, maka
v(0) = 310 = 310 cos (0 + α)
dan
α = 0º
jadi
v(t) = 310 cos 100t V

147
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

5.4 Nilai Rata-Rata Dan Nilai Efektif


Persamaan (5.26) dan (5.27) merupakan bentuk lengkap tegangan dan arus
sinusoida. Persamaan tersebut tidak menjelaskan secara langsung
kemampuan penyaluran tenaga arus bolak-balik sebagaimana halnya pada
arus searah. Untuk itu diperlukan spesifikasi lain yang menunjukkan
kemampuan arus dan tegangan dalam menyalurkan tenaganya.
Mengingat arus rata-rata identik dengan suatu nilai searah (konstan) dan
merupakan suatu ukuran yang berguna dalam menentukan perpindahan
tenaga pada rangkaian yang melibatkan arus searah, maka berikut akan
dibahas kegunaannya dalam situasi yang melibatkan fungsi perangsang
sinusoida.
Definisi umum nilai rata-rata setiap fungsi f(t) sepanjang selang tertentu
antara t1 dan t2, secara matematika dinyatakan sebagai
t
1 2
t2  t1 t1
Frata-rata = f (t )dt (5.28)

Dalam hal bila f(t) merupakan fungsi berulang dengan suatu periode T detik,
Persamaan (5.28) menjadi
T
1
T 0
Frata-rata = f (t )dt (5.29)

Jika periodenya 2π (T = 2 π) dan argumen fungsi dinyatakan dalam radian,


maka bentuk lain untuk menyatakan nilai rata-rata fungsi adalah
2
1
Frata-rata =
2  f (t )dt
0
2
1
=
2  f ( )d
0
5.30)

Dengan menggunakan Persamaan (5.30), dapat ditentukan nilai rata-rata


tegangan sinusoida yang diberikan oleh Gambar 5.12. Jadi
2
1
2 0 m
Vrata-rata = V cos(t   )d (t   )

2
1
2 0 m
= V cos(   )d

dengan ϕ = ωt . Hasil integrasinya adalah


Vm 2
Vrata-rata = sin(   ) ]
2 0

148
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

sin(2   )  sin(0   ) = 0
Vm
= (5.31)
2
Jadi nilai rata-rata suatu gelombang sinusoida terhadap satu daur lengkap
sama dengan nol. Dengan mengamati bentuk gelombangnya jelas bahwa
untuk satu daur luas daerah di atas sumbu mendatar sama dengan luas daerah
di bawah sumbu, sehingga luas keseluruhannya sama dengan nol.
Meskipun kriteria nilai rata-rata pada arus searah menjelaskan dengan baik
kemampuan pemindahan tenaga, nilai rata-rata untuk fungsi berulang yang
simetri terhadap sumbu datarnya tidak mempunyai arti karena berdasarkan
hasil di atas nilainya selalu sama dengan nol. Oleh karena itu diperlukan
suatu spesifikasi yang lain.
Dasar penyusunan spesifikasi tersebut berhubungan dengan kemampuan
tenaga atau daya pada fungsi berulang. Menurut hukum Joule, panas yang
ditimbulkan oleh arus searah I dalam resistor R adalah
P = I2R (5.32)
dan besarnya tetap, tidak bergantung pada waktu. Untuk arus yang
merupakan fungsi waktu, dayanya adalah
p = i2(t)R (5.33)
yang juga merupakan fungsi waktu. Daya rata-rata untuk satu daur penuh
sama dengan nol karena penyerapan daya selalu positif; baik bila arus yang
mengalir itu ke arah positif maupun sebaliknya dalam rangkaian tersebut.
Besar daya rata-rata diberikan oleh
T
1 2 1 T 
Prata-rata =  i (t ) Rdt    i 2 (t )dt  R (5.34)
T0 T 0 
Jika panas yang dihasilkan oleh arus searah dan arus tak-tetap dibandingkan,
maka daya panas rata-rata dalam arus tak-tetap haruslah sama dengan arus
pangkat dua dikalikan dengan resistansi. Besaran dalam tanda kurung persegi
haruslah sama dengan arus pangkat dua; jadi, dapat diartikan bahwa besaran
tersebut adalah arus efektif pangkat dua, yang bila dikalikan dengan R akan
menghasilkan daya rata-rata. Secara matematika, arus efektif dinyatakan
sebagai
T
1 2
T 0
Ief = i (t )dt (5.35)

Pernyataan serupa berlaku pula untuk tegangan. Dengan mengganti i dengan


v akan diperoleh nilai efektif untuk tegangan yang berupa fungsi berulang
terhadap waktu. Nilai efektif juga dikenal sebagai nilai rms – root-mean-
square sesuai dengan definisinya, yang jika dibaca dari belakang akan
memberikan garis besar proses perhitungannya; mula-mula ordinat

149
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

gelombang dipangkat-duakan (square), kemudian dihitung nilai rata-rata


(mean) ordinat gelombang yang telah dipangkat-duakan itu, dan akhirnya
hasil tersebut diambil akar pangkat-duanya (root).
Nilai efektif arus sinusoida adalah
2
1 Im
Ief =
2 I
0
2
m cos(2 ft )dt 
2
 0,707 A (5.36)

i(t)

+
v(t) R
-

(a)

v(t) = Vmcos(t –  )
Vm

Im
i(t) = Imcos(t –  )

0
t

-Im

-Vm

(b)

Gambar 5.14 Rangkaian resistor dengan bentuk gelombang arus dan


tegangannya

Meskipun pembahasan yang menghasilkan Persamaan (5.35) didasarkan atas


panas yang dihasilkan, penggunaan nilai efektif untuk menyatakan
kemampuan arus dan tegangan tidak hanya terbatas pada hal tersebut. Pada
dasarnya, kegunaan setiap rangkaian listrik adalah untuk menyalurkan daya
dan tenaga di mana keduanya berbanding lurus dengan hasil kali tegangan
dengan arusnya, atau untuk parameter rangkaian konstan sebanding dengan
pangkat dua arus atau pangkat dua tegangannya. Oleh karena itu, nilai efektif
tersebut sangat sesuai sehingga selalu dipergunakan untuk menyatakan besar
arus dan tegangan bolak-balik secara umum. Jadi, untuk rangkaian
penerangan rumah 230 V berarti tegang efektifnya sama dengan 230 V.
Demikian pula, transformator 220/6 V artinya transformator itu dapat
menurunkan tegangan dari 230 V efektif menjadi 6 V efektif. Di samping itu,
hampir semua alat ukur arus bolak-balik selalu menunjukkan nilai efektif
besaran yang diukurnyaUmumnya tikalas ef dihilangkan dan tegangan atau
arus efektif ditunjukkan dengan lambang V atau I saja. Lambang Vm dan Im
tetap dipakai untuk menunjukkan nilai maksimumnya. Kedua fungsi waktu
pada Persamaan (5.26) dan (5.27) dapat ditulis kembali sebagai

150
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

v  2V cos(t   ) (5.37)

i  2I cos(t   ) (5.38)

5.5 Rangsangan Sinusoida Dalam Unsur Rangkaian


Dalam resistor seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.14a, v = iR dan R
merupakan suatu konstanta. Tanda polaritas dan arah anak-panah
menunjukkan arah positif tegangan naik dan arah positif arusnya, seperti
halnya dalam arus searah. Arus yang berbentuk sinusoida akan menghasilkan
tegangan sinusoida dan demikian pula sebaliknya. Karena R berupa suatu
konstanta, maka tidak ada pergeseran fasa antara arus dan tegangan tersebut.

i(t)

+
v(t) L
-

(a)

v(t) = Vmcos(t –  + /2)


Vm
i(t) = Imcos(t –  )
Im

0
t

-Im

-Vm

(b)

Gambar 5.15 Rangkaian induktor dengan bentuk gelombang arus dan


tegangannya

jadi jika
i  I m cos(t   ) (5.39)
maka
v  iR
(5.40)
 I m R cos(t   )  Vm cos(t   )
Persamaan (5.39) dan (5.40) dilukiskan pada Gambar 5.14b.

151
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

di
Dalam induktansi, v  L , jika arus yang mengalir di dalamnya sama
dt
seperti pada Persamaan (5.39), maka

vL
d
I m cos(t   )  LI m sin(t   ) (5.41)
dt
dengan manipulasi trigonometri sederhana diperoleh
 
v  LI m cos t    
 2
(5.42)
 
 Vm cos t    
 2

i(t)

+
v(t) C
-

(a)

v(t) = Vmcos(t – /2)


Vm
i(t) = Imcos(t – X)
Im

0
t

-Im

-Vm

(b)

Gambar 5.16 Rangkaian kapasitor dengan bentuk gelombang arus dan


tegangannya


Fungsi arus tertinggal dari tegangan sebesar radian atau 90º. Jadi, arus
2
baru mencapai nilai maksimumnya pada saat seperempat daur setelah
tegangannya mencapai nilai maksimumnya. Gambar 5.15 menunjukkan
rangkaian yang mengandung induktansi dengan bentuk gelombang tegangan
dan arusnya.

152
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

v
Perhatikan bahwa perbandingan bukan lagi merupakan suatu konstanta
i
tetapi berubah dengan kotangens waktu. Hal serupa juga dijumpai pada
rangkaian yang mengandung kapasitor. Rangkaian bersangkutan bersama
bentuk gelombang untuk tegangan dan arusnya diperlihatkan pada Gambar
5.16.
Untuk kapasitor dengan arus seperti pada Persamaan (5.39), didapatkan
tegangan
1 1
C
v I cos(t   ) dt  I m sin(t   )
C
m

atau
1  
v I m cos t    
C  2
(5.43)
 
 Vm cos t    
 2

Di sini fungsi arus mendahului tegangan sebesar radian atau 90º.
2

i(t) L

+
v(t) R
-

Gambar 5.17 Rangkaian untuk Contoh 5.4

Contoh 5.4
Dalam rangkaian pada Gambar 5.17, diketahui bahwa i(t) = 2 cos 3t
A, L = 5 H dan R = 3 Ω. Tentukan v.
Jawab
Menurut hukum tegangan Kirchhoff
di
v  vL  vR  L  Ri
dt
 5(6 sin 3t )  3(2 cos 3t )
 6 cos 3t  30 sin 3t V

153
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Tegangan ini merupakan jumlah dua fungsi sinusoida dengan


frekuensi yang sama sehingga dengan sendirinya tegangan juga
merupakan sinusoida.
Jika pada contoh di atas yang diketahui adalah tegangannya sedangkan
arusnya yang harus ditentukan, maka penyelesaiannya tidak sesederhana itu.
Dalam hal ini, konsep impedansi dalam penyelesaiannya adalah perlu.

5.6 Metode Bilangan Kompleks


Dalam melibatkan impedansi untuk analisis rangkaian, diperlukan metode
bilangan kompleks bagi rangsangan
sinusoida.
Menurut kalkulus, setiap fungsi dapat
diuraikan menjadi suatu deret takhingga.
Misalnya, diperoleh uraian deret

2 4 6
cos   1      (5.44)
2! 4! 6!
dan
3 5 7
sin         (5.45)
3! 5! 7!

Sedangkan
Gambar 5.18 Euler
[Link] x 2 x3 x 4
e  1  x      (5.46)
x

2! 3! 4!
Jika x digantikan oleh j, dengan j =  1 , maka
j 2 3 4 5 6
e  1  j  j  j    (5.47)
2! 3! 4! 5! 6!
sehingga berlaku
e j  cos   j sin  (5.48)
yang dikenal sebagai persamaan Euler (diucapkan ‘oiler’). Leonhard Euler
(1707 – 1783) adalah seorang ahli matematika dan fisika Swiss.
Suatu rangkaian listrik seri secara umum dapat dilukiskan seperti yang
tampak pada Gambar 5.19. Rangkaian ini mengandung resistor, induktor, dan
kapasitor, serta sebuah sumber tegangan yang berubah menurut waktu. Jika
hukum tegangan Kirchhoff diterapkan pada rangkaian tersebut, akan
didapatkan

154
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

v(t )  vR  vL  vC  0 (5.49)
Bila tegangan pada R, L, dan C dinyatakan dalam suku arus, maka
1 di
v(t )  Ri 
C  i dt  L
dt
(5.50)

Jika dituliskan
i = in + jik
dengan j =  1 , dan jika bilangan kompleks i tersebut dimasukkan ke
Persamaan (5.50) sebagai ganti i, akan didapatkan bahwa v juga akan
merupakan suatu bilangan kompleks,
v  vn  jvk
karena R, L dan C adalah bilangan-bilangan nyata. Jadi
 di 1   di 1 
v   Rin  L n   in dt   j  Rik  L k   ik dt  (5.51)
 dt C   dt C 
Tikalas n menyatakan bagian nyata dan k menyatakan bagian khayal. Jadi,
dengan menggunakan bilangan kompleks untuk i, arusnya terdiri dari dua
bagian: bagian nyata, in, dan bagian khayalnya, ik. Dalam menyamakan dua
bilangan kompleks, a + jb = c + jd, syarat kesamaannya adalah a = c dan b =
d. Jadi persamaan integrodiferensial pada Persamaan (5.51) menjadi
din 1
dt C 
vn  Rin  L  in dt (5.52)

di 1
vk  Rik  L k   ik dt (5.53)
dt C

i(t) R

+
v(t) L
C
-

Gambar 5.19 Rangkaian RLC seri

Persamaan integrodiferensial aslinya dalam v dan i diturunkan menurut teori


rangkaian listrik untuk bilangan nyata; yakni tegangan dan arusnya bernilai
nyata. Tetapi, telah ditunjukkan dari sifat persamaan kompleks di atas, jika i

155
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

dan juga v, dirumuskan sebagai bilangan kompleks, maka bagian nyata dan
khayal fungsi ‘tegangan’ dan ‘arus’ kompleks juga memenuhi persamaan
integrodiferensial fisik aslinya; karena bagian nyata dan khayal, in dan ik,
suatu ‘arus kompleks’ berupa bilangan nyata yang juga berubah sesuai
dengan arus fisik aslinya.
Dengan kata lain, arus kompleks dapat menggantikan arus nyata, dengan
menganggap bahwa bagian nyata atau khayalnya sebagai arus fisik
sebenarnya. Dalam hal ini cukup diambil salah satunya.
Dalam praktiknya, persoalan umum yang diselesaikan dengan metode
bilangan kompleks adalah yang meliputi in = Im cos ωt dan ik = Im sin ωt. Dan
seperti sebelumnya, dengan kombinasi tersebut persamaan tegangan vn adalah
tegangan yang akan mengakibatkan arus in mengalir, sedangkan vk adalah
tegangan yang menyebabkan ik mengalir. Alasan untuk menggunakan
kombinasi bagian nyata dan khayal pada arus kompleks tersebut, meskipun
yang diperlukan hanyalah salah satunya, adalah jika bentuk arus kompleks itu
sebagai berikut
i  in  jik  I m cos t  jI m sin t (5.54)
yang menurut persamaan Euler dapat ditulis dalam bentuk eksponensial
kompleks
i  I me jt (5.55)
Variasi arus ini, meskipun kompleks, sekarang tampak sebagai eksponensial.
Dengan metode impedansi, penyelesaian persamaan integrodiferensial
rangkaian RLC seri itu dapat dengan mudah diselesaikan. Jadi, dengan
i  I me st (5.56)
s = jω, tegangan jatuh antara resistornya adalah
v R  Ri (5.57)
pada induktor
v L  sLi  jLi (5.58)
dan kapasitor
1 1
vC  i= i (5.59)
sC jC
Jadi, persamaan integrodiferensial untuk rangkaian seri dengan rangsangan
eksponensial kompleks menghasilkan
 1 
v   R  jL  i  Zi (5.60)
 jC 
atau

156
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

v  ZI m (cos t  j sin t ) (5.61)


Bagian nyata v adalah tegangan yang menghasilkan fungsi arus nyata Im cos
ωt dan bagian khayal v itu adalah tegangan yang menyebabkan arus khayal Im
sin ωt mengalir.

i(t) 1

+
v(t) 1
F
2
-

Gambar 5.20 Rangkaian untuk Contoh 5.5

Contoh 5.5
Dalam rangkaian pada Gambar 5.20 diketahui bahwa v = 10 cos 2t
V. Tentukan arus i yang mengalir dalam rangkaian tersebut dan
tentukan pula tegangan antara unsur-unsurnya.
Jawab
Dalam menyelesaikan persoalan di atas, ditetapkan suatu tegangan
kompleks
v  10 cos 2t  j10 sin 2t V
Karena bagian nyata v itu adalah tegangan sebenarnya dalam
rangkaian tersebut, maka bagian nyata arus kompleks i adalah arus
yang diinginkan. Bagian khayal sengaja dibuat sedemikian,
sehingga dengan pertolongan persamaan Euler v dapat dituliskan
sebagai
v  10e j 2t V
Ini adalah tegangan eksponensial dengan s = jω= j2, sehingga
impedansi rangkaian ini, yang berhubungan seri, adalah
1 1
Z  R  R
sC jC
1
 1  1 j 
1
j  2
2
Dengan menerapkan Persamaan (5.61), didapatkan

157
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

v
i
Z
10 cos 2t  j10 sin 2t 10(cos 2t  j sin 2t )(1  j )
 
1 j 2
 (5 cos 2t  5 sin 2t )  j (5 cos 2t  5 sin 2t ) A
Bagian nyata fungsi arus kompleks ini adalah
in  5(cos 2t  sin 2t ) A
Bentuk penyelesaian di atas agak kurang disukai karena kurang
memberikan informasi secara langsung. Dalam penyelesaian
tersebut tidak jelas besar dan fasanya. Dengan sistem koordinat
kutub hal di atas akan tampak lebih jelas. Impedansi (1 – j) dalam

j
4
koordinat kutub dapat dinyatakan sebagai 2e , sehingga

10e j 2t j 2t  j
i 
 5 2e 4
A
j
4
2e
Bagian nyatanya adalah
 
in  5 2 cos 2t   A
 4
yang menunjukkan dengan jelas bahwa besar arusnya adalah 5 2

ampere dengan fasa yang mendahului sebesar radian atau 45º
4
dari tegangannya.
Untuk mendapatkan tegangan pada masing-masing unsur, kembali
dipergunakan tegangan dan arus kompleks tersebut dalam
persamaan
v R  Z R i  Ri

j 2t  j
 1 5 2e 4
V
bagian nyatanya adalah
 
vR  5 2 cos 2t   V
 4
atau
  
vR  5 2  cos 2t cos  sin 2t sin  V
 4 4
Untuk persamaan

158
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

vC  Z C i
1
 i   ji
jC
  
j j 2t  j j 2t  j
e 2
 5 2e 4
 5 2e 4
V
bagian nyatanya adalah
  
vC  5 2  cos 2t cos  sin 2t sin  V
 4 4
Dan ternyata bahwa v = vR + vC

5.7 Metode Fasor


Metode fasor merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan
rangkaian jika rangsangan arus atau tegangan yang dikenakan pada rangkaian
berupa sinusoida dengan frekuensi sama (bila berbeda frekuensinya, metode
ini masih dapat dipakai dengan menggunakan prinsip superposisi).
Dalam metode ini fungsi arus dan tegangan dinyatakan sebagai eksponensial
kompleks dan dapat dilukiskan sebagai vektor. (Hubungan antara besaran
kompleks dengan vektor ini diuraikan dalam Lampiran F.)

t=0

Gambar 5.21 Diagram fasor

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bentuk umum suatu tegangan


sinusoida adalah
v  Vm cos(t   ) (5.62)
yang merupakan bagian nyata dari suatu tegangan eksponensial kompleks
v  Vme j (t  ) (5.63)
Besaran kompleks tersebut dapat dilukis dalam bentuk polar, seperti yang
tampak pada Gambar 5.21, dengan besar atau panjang vektor sama dengan
Vm dan sudutnya adalah fasa sesaat (ωt + α). Karena waktu t selalu
meningkat, maka demikian pula halnya dengan sudut fasa v. Pada Gambar
5.21 tersebut v dilukis untuk t = 0. Untuk t yang besar, vektornya akan

159
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

2
mengitari titik-asal sekali setiap t sama dengan . Proyeksi vektor tersebut

pada sumbu nyata merupakan fungsi tegangan sebenarnya, yang sama dengan
Vm cos (ωt + α). Dalam melukis vektor tegangan kompleks tersebut perlu
dipilih suatu nilai waktu tertentu; biasanya dipilih untuk t = 0 seperti pada
Gambar 5.21 itu. Sudut antara vektor tersebut dengan sumbu nyata
merupakan sudut fasa tegangan. Diagram vektor semacam itu dikenal sebagai
diagram fasor. Jadi, jika v = Vm cos (ωt + α) adalah suatu tegangan fisik,
maka tegangan kompleksnya yang sesuai adalah seperti yang diberikan oleh
Persamaan (5.63) atau
v  Vme j e jt (5.64)
Diagram fasor tegangan tersebut adalah lukisan Vmejα, dan besaran ini
dinamakan fasor tegangan. Fasor tersebut, yang dicirikan oleh besar dan fasa,
merupakan pewakilan suatu besaran sinusoida. Untuk menuliskan besaran
kompleksnya secara lengkap, fasor itu harus dikalikan dengan ejωt. Untuk
menyingkat penulisan, fasor Vmejα sering ditulis sebagai Vm = Vm/α ,‘Vm
dengan sudut α’. Jadi
v  Vm e jt (5.65)
Dalam perhitungan rangkaian kompleks yang pada umumnya dikerjakan
dengan metode fasor, faktor ejωt yang menyertainya harus selalu diingat tetapi
tidak perlu dituliskan.
Pewakilan besaran sinusoida dengan besaran fasor di atas ditentukan
berdasarkan fungsi kosinus, meskipun fungsi sinus dapat pula dinyatakan
sebagai fasor. Misalnya, fungsi
v = 8 sin(3t + 30º)
dengan mudah dapat diubah menjadi
v = 8 cos(3t + 30º – 90º) = 8 cos(3t – 60º)
dan persyaratan fasornya
V = 8/– 60º
Selanjutnya, tinjau suatu rangkaian fasor umum dengan dua kutub, seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 5.22. Jika tegangan dan arus pada kedua
kutub diberikan menurut
v  Vm cos(t   )
dan
i  I m cos(t   )
maka besaran fasor untuk tegangan dan arus di kedua kutub rangkaian itu
adalah

160
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Vm  Vm /  (5.66)
dan
Im  Im /  (5.67)
Perbandingan antara tegangan fasor dengan arus fasor itu didefinisikan
sebagai impedansi rangkaian yang dinyatakan sebagai Z, jadi
Vm
Z (5.68)
Im
yang menurut Persamaan (5.66) dan (5.67) adalah
Vm
Z /    Z / (5.69)
Im
dengan |Z| adalah besar impedansi dan Ɵ sudut Z. Terbukti bahwa
Vm
Z  dan    
Im

I
+
Rangkaian
V
fasor
-

Gambar 5.22 Rangkaian fasor kutub dua

Perlu ditekankan di sini bahwa impedansi adalah suatu bilangan kompleks,


bukan fasor, karena tidak mempunyai fungsi eksponensial waktu, seperti
halnya dengan fasor tegangan dan arus.
Impedansi Z telah dinyatakan dalam bentuk polar dalam Persamaan (5.69);
dalam bentuk koordinat segi empat biasanya ditulis sebagai
Z  R  jX (5.70)
dengan R = Re[Z] yaitu komponen resistif atau resistansi, dan X = Im[Z]
yaitu komponen reaktif atau reaktansi. Secara umum, telah diketahui
bahwa impedansi merupakan fungsi frekuensi kompleks dan dalam hal ini
yang diminati adalah bagian khayal frekuensi kompleks, sehingga dapat

161
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

ditulis Z = Z(jω). Z adalah fungsi kompleks dari jω sedangkan R dan X adalah


fungsi-fungsi nyata dari ω. Telah diuraikan dalam Bagian 5.1 bahwa satuan
untuk impedansi menurut SI adalah ohm () sehingga demikian pula satuan
untuk komponen-komponennya.
Terbukti bahwa dengan membandingkan Persamaan (5.69) dengan (5.70)
X
Z  R2  X 2   tan (5.71)
R
dan
R  Z cos  X  Z sin  (5.72)
Hubungan ini secara grafik diperlihatkan pada Gambar 5.23

½Z½
X

R
Gambar 5.23 Hubungan antara impedansi dengan resistansi dan
reaktansi suatu rangkaian

Contoh 5.6
Andaikan dalam Gambar 5.22 diketahui bahwa V = 10/56,1º V dan
I = 2/20º A. Tentukan berapa impedansi, resistansi, dan reaktansi
rangkaian tersebut.
Jawab
Menurut Persamaan (5.69),
10/ 56,1
Z
2/ 20
 5/ 36,1 
dan menurut Persamaan (5.54), resistansinya
R  5 cos 36,1
4
dan reaktansinya
X  5 sin 36,1
3
sehingga impedansi dalam bentuk segi empat adalah

162
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Z  4  j3 
Dengan mudah dapat dibuktikan bahwa impedansi resistor, induktor dan
kapasitor berturut-turut adalah
ZR  R
Z L  jL  L / 90 (5.73)
1 1 1
ZC   j  /  90
jC C C
Dalam suatu resistor, impedansinya bersifat resistif murni dan reaktansinya
sama dengan nol. Impedansi induktor dan kapasitor adalah reaktif murni
dengan komponen resistifnya sama dengan nol. Reaktansi induktif
dinyatakan oleh
X L  L (5.74)
sehingga
Z L  jX L (5.75)
dan reaktansi kapasitif oleh
1
XC  (5.76)
C
sehingga
ZC  jX C (5.77)
Karena ω, L dan C selalu positif, tampak bahwa reaktansi induktif selalu
positif dan reaktansi kapasitif selalu negatif. Dalam pernyataan umum
menurut Persamaan (5.43), dapat terjadi X = 0 yang membuat rangkaian
tampak resistif; X  0 reaktansinya induktif dan X  0 reaktansinya kapasitif.
Ketiga hal tersebut dapat terjadi bila resistansi, induktansi dan kapasitansi
ketiganya hadir dalam rangkaian. Dalam Contoh 5.6, telah didapatkan bahwa
X = 3 Ω, reaktansinya bersifat induktif. Dalam semua kasus rangkaian pasif,
resistansi R tak negatif.

i(t) 2H

+
v(t) 5
-

Gambar 5.24 Rangkaian untuk Contoh 5.7

163
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Contoh 5.7
Dalam rangkaian pada Gambar 5.24 diketahui bahwa i = 10
cos (3t + 30º) ampere. Tentukan v.
Jawab
i  10e j (3t 30)
 10e j 30e j 3t A
Z  sL  R  jL  5
 j  3 2  5  5  j6 
Dalam bentuk polar
Z  7,8e j 50, 2 
sehingga
v  Zi
 7 ,8e j 50,2  10e j 30e j 3t  78e j 80 2e j 3t  78e j  3t 80 2 V
dan
v  78 cos(3t  80,2) V
Dalam bentuk fasor
I  10/ 30 A Z  7,8/ 80,2 
V  ZI
 7 ,8/ 50,2  10/ 30  78/ 802 V
v  78 cos(3t  80,2) V
Dengan membandingkan kedua hasil di atas tampak kembali bahwa
ejωt merupakan suatu faktor yang tidak perlu ditulis tetapi harus
diingat karena untuk menuliskan dari bentuk fasor ke bentuk
aslinya, yang berupa tegangan atau arus sebenarnya, ωt haruslah
selalu ditulis

Kebalikan impedansi, seperti yang telah diberikan dalam Bagian 5.1, adalah
admitansi yang dinyatakan sebagai
1
Y (5.78)
Z
Jelas, karena Z adalah bilangan kompleks, Y juga merupakan bilangan
kompleks dan pernyataan bakunya dalam bentuk segi empat adalah
Y  G  jB (5.79)

164
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Besaran G = Re[Y] dan B = Im[Y] berturut-turut disebut konduktansi dan


suseptansi yang dihubungkan dengan semua komponen impedansi oleh
Y  G  jB
1 1
 
Z R  jX
Menurut SI, satuan untuk Y, G, dan B adalah siemens (S).
Dengan menyamakan bagian nyata dan khayal pada admitansi dan impedansi
didapatkan
R
G (5.80)
R  X2
2

dan
X
B (5.81)
R X2
2

V
Vsin

V2sin
V2

 
V1sin V1


V2cos V1cos Vcos

Gambar 5.25 Penjumlahan dua fasor

Nyata bahwa R bukan kebalikan G dan sebaliknya, kecuali dalam hal


impedansi resistif murni atau admitansi konduktif murni (X = 0 atau B = 0).
Demikian pula halnya dengan X dan B juga bukan merupakan kebalikan
kecuali dalam hal dengan R = 0 atau G = 0, dan keduanya merupakan
kebalikan negatif.
Bilangan kompleks merupakan penolong yang baik dalam perhitungan fungsi
sinusoida. Tinjau penjumlahan
v  V1 cos(t  1   V2 cost   2 
Kedua komponen sinusoida ini akan menghasilkan suatu tegangan
v  V cos(t   
yang juga merupakan sinusoida dengan frekuensi yang sama. Tanpa
menggunakan bilangan kompleks, besar dan fasa hasil jumlah ini dapat

165
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

diperoleh dengan menguraikan kosinus tersebut memakai hubungan


trigonometri cos(α + ß) = cos α cos ß – sin α sin ß. Suku-sukunya kemudian
digabung dan V serta α dapat diperoleh dalam suku-suku V1, V2, α1, dan α2.
Cara yang lebih sederhana adalah dengan menjumlahkan fasor-fasor:
V  V1 /  1  V2 /  2
secara grafik, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.25, atau secara aljabar
sebagai berikut
V  V1 cos 1  jV1 sin 1  V2 cos  2  jV2 sin  2
 (V1 cos 1  V2 cos  2 )  j (V1 sin 1  V2 sin  2 )
 V /
dengan

V  V1 cos 1  V2 cos  2 2  V1 sin 1  V2 sin  2 2


dan
V1 sin 1  V2 sin  2
  tan 1
V1 cos 1  V2 cos  2
Sesuai dengan yang diperoleh menurut grafik pada Gambar 5.25

+
I V YG YC YL
-

Gambar 5.26 Rangkaian untuk Contoh 5.8

Contoh 5.8
Gunakan diagram fasor untuk menentukan arus sumber I yang
diperlukan guna mendapatkan tegangan V = 10/0º volt dalam
rangkaian GLC paralel pada Gambar 5.26, dengan YG = 0,3 S, YC =
j0,6 S, dan YL = -j0,2 S
Jawab
Arus IG, IC, dan IL masing-masing diperoleh melalui hubungan volt-
amperenya, yakni

166
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

I G  YGV
 0,3  10 / 0  3/ 0 A
I C  YCV
 j 0,6  10 / 0  0,6 / 90  10 / 0  6 / 90  j 6 A
I L YLV
  j 0,2  10 / 0  0,2 /  90  10 / 0  2 /  90   j 2 A
Diagram fasor yang menunjukkan tegangan V, tiga arus dalam
masing-masing unsur rangkaian, dan jumlah ketiganya
diperlihatkan pada Gambar 5.27. Menurut hukum arus Kirchhoff
I  IG  IC  I L
 5/ 53,1 A
sehingga didapatkan
i  5 cos(t  53,1) A

IC = j6 A

IL + IC = j4 A I = IG + IL + IC
= 3 + j4 A
=5/53,1o A

53,1o
IG = 3 A V = 10/0o V

IL = -j2 A
Gambar 5.27 Diagram fasor untuk Contoh 5.8

Hasil di atas diperoleh secara grafik dan dapat diuji kebenarannya


dengan cara aljabar yang dapat dicoba sendiri.
Diagram fasor pada Gambar 5.26 memperlihatkan tiga buah fasor arus dan
satu fasor tegangan. Tampak bahwa jumlah IG, IC, dan IL merupakan
penjumlahan fasor yang menghasilkan I. Juga diperlihatkan bahwa IRberimpit
dengan V (dikatakan sefasa) IC 90° di atas V (dikatakan ICmendahuluiV)
dan IL 90° di bawah V (dikatakan ILtertinggal oleh V). Secara umum, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Arus dalam resistor sefasa dengan tegangan antara resistor tersebut.

167
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

2. Arus dalam induktor tertinggal dari tegangan antara induktor


dengan sudut fasa sebesar 90°.
3. Arus dalam kapasitor mendahului tegangan antara kapasitor dengan
sudut fasa sebesar 90°.
5. Arus atau tegangan rangkaian dapat dijumlahkan secara grafik
menurut hukum Kirchhoff, dengan pertolongan diagram fasor.
Selanjutnya, dalam bab berikut ini akan dibahas penggunaan teknik analisis
rangkaian yang diuraikan dalam Bab Tiga untuk rangkaian resistif guna
diterapkan dalam rangkaian arus bolak-balik secara umum dengan metode
fasor.

Soal-soal
5.1 Jika pada rangkaian dalam Gambar 5.28 diketahui bahwa v = V0e5t,
hitunglah Z(s) rangkaian ini dan lukislah Z sebagai fungsi s untuk
nilai-nilai s negatif dan positif.
5.2 Tentukan arus yang mengalir dari sumber pada Soal 5.1.
0,8 H

+
v(t) 4 0,05 F
-

Gambar 5.28 Rangkaian untuk Soal 5.1 dan 5.2

5.3 Jika pada rangkaian dalam Gambar 5.29 diketahui bahwa v = V0est,
berapakah admitansi rangkaian itu? Lukislah variasi admitansi
terhadap s.
5.4 Dengan menggunakan rangkaian pada Gambar 5.29, tentukan arus i
jika v = 15e3t dan tentukan pula tegangan antara konduktansinya itu.

i(t) 2F

+
v(t) 6S 3F
-

Gambar 5.29 Rangkaian untuk Soal 5.3, 5.4, dan 5.5

168
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

5.5 Untuk rangkaian pada Gambar 5.28, tentukan Z(s) = v/i dengan
mengandaikan suatu variasi tegangan umum v = V0est; dengan hasil
itu tentukan besar arusnya bila v mempunyai nilai konstan sebesar 10
V.
5.6 Buktikan untuk rangkaian pada Gambar 5.29 bahwa jika v2 adalah
tegangan antara Z2
v2 Z2

v1 Z1  Z2

i(t) Z1
+
+
v(t) Z2 v2
-
-
Gambar 5.30 Rangkaian untuk Soal 5.6

5.7 Dalam rangkaian pada Gambar 5.32 buktikan bahwa


i2 Y2

i1 Y1  Y2

i2(t)

i1(t) Y1

Gambar 5.31 Rangkaian untuk Soal 5.7

5.8 Dalam rangkaian pada Gambar 5.32, jika v = 100et, berapakah nilai s
agar i = 5 A pada saat t = 0? Dan berapa t untuk nilai s tersebut bila i
= 10 A?
5.9 Dalam rangkaian pada Gambar 5.33 tentukan arus tanggapan alamiah
i terhadap t, jika i = 7 A pada saat t sama dengan nol dan lukislah
grafiknya.

169
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

10 mH

+
v(t) 10 
-

Gambar 5.32 Rangkaian untuk Soal 5.8 dan 5.12

3

+
v(t) = 0 4 2,5 mH
-

Gambar 5.33 Rangkaian untuk Soal 5.9

5.10 Dengan menggunakan Gambar 5.34 tentukan arus tanggapan alamiah


i terhadap t, jika pada saat t = 0, i = 10 A. Menurut hukum arus
Kirchhoff dan bentuk simetri rangkaian tersebut, berapakah arus yang
mengalir dalam resistansinya.
1 F

+
v(t) = 0 0,1 M 1 F
-

Gambar 5.34 Rangkaian untuk Soal 5.10

5.11 Tentukan arus tanggapan alamiah pada rangkaian dalam Gambar 5.29
bila v = 0.
5.12 Ulangi Soal 5.11 untuk rangkaian pada Gambar 5.32.
5.13 Jika diketahui
v1 = 10 cos 4t
v2 = 20 (cos 4t + 3 sin 4t)
Tentukan apakah v1 mendahului ataukah tertinggal dari v2 dan berapa
derajat?

170
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

5.14 Tentukan nilai rata-rata dan nilai efektif untuk kedua fungsi t pada
Soal 5.13 di atas.
5.15 Suatu sumber sinusoida sebesar v(t) = 170 sin 314t dikenakan pada
suatu rangkaian RL seri. Arus yang mengalir besarnya i(t) = 17 sin
(314t – 57º). Hitunglah nilai impedansi, resistansi, serta
induktansinya.
5.16 Dengan menggunakan acuan Bagian 5.5, buktikan kebenaran
Persamaan (5.73)
5.17 Jika pada Gambar 5.35 diketahui i = 100 cos 314t mA, tentukan
berapa frekuensi dan berapa v. Lukislah v dan i sebagai fungsi waktu.

i(t) 4

+
v(t) 1H
0,25 F
-

Gambar 5.35 Rangkaian untuk Soal 5.17

5.19 Tentukan nilai i untuk rangkaian pada Gambar 5.34 jika sumber
tegangan mempunyai tegangan sebesar v(t) = 10 cos ωt volt dengan:
a. ω = 4 rad s–1
b. ω = 2 rad s–1
Kesimpulan apakah yang dapat ditarik untuk impedansi yang
dirasakan oleh sumber pada b?
5.20 Suatu sumber tegangan sebesar v(t) = 141 sin 314t V dikenakan ke
suatu rangkaian paralel dua cabang. Persamaan waktu untuk arus
dalam cabang pertama adalah
ia(t) = 7,07 sin(314t – π/3) A
dan dalam cabang kedua adalah
ib(t) = 10 sin(314t + π/6) A
a. Hitunglah arus keseluruhan yang ditimbulkan oleh sumber
tegangan dalam fungsi waktu.
b. Nyatakan arus keseluruhan tersebut dalam bentuk fasor dan
bandingkan hasilnya bila penjumlahan kedua fasor arus yang
diketahui itu dilakukan secara grafik.
c. Hitunglah resistansi dan reaktansi masing-masing cabang
tersebut.

171
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

5.21 Hitunglah nilai i dan v1 dalam rangkaian pada Gambar 5.36.


5.22 Sebuah tegangan Vm sin ωt V, sebuah resistor R Ω dan sebuah
induktor L H dihubungkan seri. Tentukan arus i yang mengalir
dengan dua cara berikut:
a. Dengan memperlihatkan bahwa
Vm sin ωt = Vm cos (ωt – 90°)
gunakan rangsangan kompleks Vmej(ωt – 90º) kemudian
ambillah bagian nyata tanggapan arus kompleksnya.
b. Dengan memperhatikan bahwa
Vm sin ωt = Im[Vmejωt]
gunakan rangsangan kompleks Vmejωt kemudian ambillah
bagian khayal tanggapan arus kompleksnya. Bandingkan
hasilnya dengan yang diperoleh pada a.
0,5 H 1H

i(t)
2H
+ +
o
v(t) = 4 cos(t + 15 ) V v1(t) 0,5 F
- -
1F

Gambar 5.36 Rangkaian untuk Soal 5.21

2 4
a

+
v(t) = 100/0o 8 j12 
-
b
Gambar 5.37 Rangkaian untuk Soal 5.23

5.23 Dalam rangkaian pada Gambar 5.37, tentukan impedansi di kanan


garis ab, impedansi masukan rangkaian, dan arus yang diberikan oleh
sumbernya.
5.24 Tentukan tegangan v untuk rangkaian pada Gambar 5.38.
5.25 Suatu tegangan efektif sebesar 100 volt dikenakan pada suatu
rangkaian dua impedansi paralel Z1 = R1 + jX1Ω dan Z2 = R2 + jX2Ω.

172
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

Dengan mengandaikan bahwa R1 = 3 Ω dan R2 = 4 Ω serta besar


kedua arus cabangnya sama, tentukan nilai-nilai X1, X2, dan arus yang
keluar dari sumber itu.
0,5 H 0,05 H

+
i(t) = 4 cos 20000t mA v(t) 0,05 F 1 k
-
Gambar 5.38 Rangkaian untuk Soal 5.24

5.26 Tentukan tegangan antara kutub a dan b dalam rangkaian pada


Gambar 5.39.

a
+
v(t) = 5 sin 2t V
-
2,25 H
4,25 

b
Gambar 5.39 Rangkaian untuk Soal 5.26

5.27 Tentukan nilai v untuk rangkaian pada Gambar 5.40.


1 k 3 k

+ ++
v(t) = 6 cos 40000t V 0,025 F v1 5v1 0,1 H
- - -

Gambar 5.40 Rangkaian untuk Soal 5.27

5.28 Tentukan arus i pada rangkaian pada Gambar 5.41 jika vg = 2 cos 40
000t.

173
Bab 5 Rangkaian Arus Bolak-balik

1 k

0,25 F

1 F

+ - i(t)

+
vg 2 k

Gambar 5.41 Rangkaian untuk Soal 5.28

174
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus
Bolak-Balik

ebagian besar masalah teknik elektro berhubungan dengan tegangan

S dan arus yang mempunyai makna informasi yang dikenal sebagai


sinyal. Sebagai gambaran, transduser pada motor bakar penggerak
mobil memberikan sinyal-sinyal listrik yang mewakili suhu, kecepatan,
posisi pedal gas, dan posisi poros engkol mesin. Sinyal-sinyal itu diolah
untuk menentukan pengapian yang tepat untuk masing-masing silinder mobil
itu dan akhirnya pulsa listrik diberikan ke masing-masing busi pada silinder
itu.
Elektrokardiogram
(electrocardiogram – Elektrokardiogram
ECG
ECG)) adalah hasil cetak
rekaman detak jantung
yang merupakan sinyal
listrik yang ditimbulkan
oleh jantung. Dengan alat
perekam detak jantung
itu, dan dengan bantuan
komputer, dokter dapat
mengetahui keadaan
jantung pasiennya dan Gambar 6.1 Pasien dengan
melakukan tindakan yang elektrokardiogramnya
diperlukan untuk pasien [Link]
tersebut.
Pengolahan sinyal berhubungan dengan manipulasi sinyal untuk
mendapatkan data dan menggunakan data itu untuk menghasilkan informasi
yang diperlukan untuk melakukan tindakan lainnya. Bab ini belum
membahas lebih lanjut mengenai hal itu dan hanya menghantarkan pembaca
untuk mengenali konsep-konsep dan rangkaian-rangkaian penting yang
nantinya diperlukan untuk pengolahan sinyal.
Sebelum membahas masalah di atas, dan sebagai kelanjutan dari bab
sebelumnya tentang arus bolak-balik, bab ini dimulai penyederhanaan
rangkaian dan metode analisis rangkaian yang telah dibahas dalam Bab Tiga
untuk rangsangan sinusoida.
Rangkaian yang rumit dan lebih umum disebut jala-jala dan prinsip penting
yang dapat diterapkan padanya secara umum dinamakan teorema jala-jala.
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Teorema ini berguna untuk menyederhanakan analisis jala-jala rumit tersebut.


Di samping itu, teorema ini juga sangat berguna untuk menyimpulkan
perilaku suatu jala-jala.
Dalam mencari tanggapan suatu sistem jala-jala listrik yang rumit, sering
membantu jika jala-jala itu dipisah-pisahkan atas sejumlah unit yang saling
berhubungan. Unit-unit itu disebut blok, diberi nama sesuai dengan
peranannya dalam hubungannya dengan sistem secara keseluruhan. Misalnya,
suatu penguat audio dapat dipandang sebagai suatu urutan tahapan; keluaran
masing-masing tahapan mencatu masukan tahapan berikutnya. Satu tahapan
jala-jala masih dapat diuraikan lebih lanjut, yang dapat berupa sebuah
transistor sebagai suatu unit, yang diikuti oleh sebuah rangkaian gandengan
RC yang mencatu transistor lain sebagai unit pada tahapan berikutnya. Secara
umum, rangkaian semacam itu dapat dipandang mempunyai dua kutub
masukan tempat tegangan atau arus sinyal dipasangkan, dan dua kutub
keluaran tempat keluarnya sinyal yang telah diubah oleh rangkaian tersebut.
Hubungan antara sinyal masukan dengan keluarannya merupakan fungsi
rangkaian yang mengolahnya dan dapat dinyatakan dalam bentuk matematika
sebagai suatu fungsi jala-jala. Fungsi ini memungkinkan kita membahas
suatu blok dengan karakteristik tertentu dan meninjau pengaruhnya terhadap
bagian jala-jala lain tanpa harus terlibat dalam rincian unsur yang membentuk
jala-jala tersebut.
Bab ini akan menguraikan sifat suatu blok dan membahas bagaimana suatu
tanggapan dapat diperluas untuk jala-jala yang mempunyai lebih dari satu
pasangan kutub. Dalam pembahasan ini rangsangan yang diberikan adalah
dalam bentuk eksponensial.
Sinyal informasi umumnya tidak pernah berupa sinusoida murni. Bahkan
listrik PLN dapat menjadi tidak sinusoida murni bila dibebani dengan beban-
beban tidak linear seperti lampu tabung dan penggerak dan pengendali motor
listrik yang menggunakan elektronika daya.
Pada awal Bab Lima telah ditunjukkan beberapa macam fungsi berulang. Di
antara fungsi-fungsi berulang itu, misalnya fungsi sinusoida, mempunyai
perilaku yang baik dan pernyataan matematika yang sederhana. Fungsi-fungsi
berulang lainnya seperti gelombang segi empat, gelombang segi tiga dan
gelombang gigi-gergaji, yang merupakan bentuk-bentuk gelombang penting
dalam teknik elektro, tidaklah sesederhana fungsi sinusoida. Ahli matematika
Perancis, Jean-Baptise Joseph Fourier (1768-1830), sewaktu mempelajari
persoalan aliran panas pada tahun 1822 membuktikan bahwa setiap fungsi
berulang sebarang dapat diwakili oleh suatu deret sinusoida takhingga.
Salah satu pendekatan dalam analisis rangkaian adalah menguraikan suatu
fungsi masukan menjadi jumlah komponen-komponen sinusoida dengan
frekuensi, fasa dan amplitudo yang berlainan. Setelah komponen-komponen
semacam itu diperoleh maka konsep fasor dan teorema superposisi dapat

176
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

diterapkan untuk mendapatkan tanggapan rangkaian tersebut. Masing-masing


komponen sinusoida menghasilkan suatu komponen terpaksa pada keluaran
yang juga merupakan suatu sinusoida dengan frekuensi yang sama, namun
amplitudo dan fasanya yang berbeda. Dengan menjumlahkan tanggapan-
tanggapan sinusoida yang bersesuaian dengan masing-masing komponen
sinusoida masukannya, maka keluaran keseluruhan rangkaian itu dapat
ditentukan.
Analisis kawasan frekuensi, atau yang dikenal juga sebagai analisis Fourier
sangat banyak diterapkan dalam berbagai cabang ilmu. Analisis Fourier
untuk komponen medan listrik dan magnet merupakan dasar uraian
gelombang dalam gelombang-pendek (microwave). Spektrum frekuensi
gelombang radio yang diterima dari matahari dan planet dianalisis menurut
metode Fourier untuk mendapatkan informasi mengenai kecepatan putaran
dan kecepatan aliran partikel-partikel matahari. Analisis spektrum optik
untuk penentuan komposisi materi dalam antariksa (astronomi) dan dalam
laboratorium adalah berdasarkan analisis Fourier pada radiasi optik. Bahkan
dalam tata-niaga dan ekonomi, analisis Fourier digunakan untuk mencari
variasi berkala dalam indeks-indeks penting.
Salah satu sifat rangkaian listrik yang paling menarik dan berguna adalah
kemampuannya menanggapi secara cermat rangsangan yang diberikan
dengan frekuensi berbeda. Misalnya, sebuah pesawat penerima radio yang
dapat ditala untuk menerima sinyal sebuah stasiun pemancar yang bekerja
pada frekuensi 670 kHz, tidak akan menanggapi stasiun pemancar lain yang
bekerja pada frekuensi 680 kHz. Penerima itu mampu membedakan kedua
sinyal tersebut karena adanya perbedaan frekuensi. Stasiun pemancar yang
dipilih itu mengimbaskan arus
i1 = I1cos(2π x 670 000t + α) A
pada kutub-kutub antena pesawat penerima, sedangkan pemancar yang tidak
dipilih mengimbaskan arus
i2 = I2cos(2π × 680 000t + α) A
Beda utama antara kedua gelombang tersebut adalah frekuensi sudutnya, ω1
dan ω2, yang tidak sama. Sesuai dengan prosedur yang telah diberikan dalam
bab sebelum ini, arus imbas ini dapat dinyatakan sebagai eksponensial
kompleks i = Iest, yang berarti bahwa tanggapan rangkaian pesawat penerima
bergantung pada nilai s = σ + jω . Bahasan bab ini hanyalah dibatasi untuk
menyelidiki fungsi jala-jala yang berhubungan dengan rangsangan sinusoida,
dengan s = j ω Perilaku rangkaian dalam menanggapi perubahan s ini disebut
tanggapan frekuensi rangkaian.
Persoalan tanggapan frekuensi ini sangat luas. Dalam suatu penguat audio,
rangkaian yang digunakan dirancang untuk menanggapi dengan baik rentang
frekuensi dari 20 hingga 20.000 Hz, tetapi tidak untuk frekuensi yang lebih
rendah atau lebih tinggi daripada itu. Dalam pemancar radio, rangkaian

177
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

gandengan antena digunakan untuk melewatkan frekuensi keluaran tunggal


yang diinginkan tanpa melalukan harmonisa-harmonisanya. Tanggapan
frekuensi tidaklah hanya terbatas pada sistem listrik; pengertian tanggapan
frekuensi ini membantu pula
dalam analisis tanggapan
frekuensi suatu sistem
mekanik, terutama mengenai
resonansinya.
Bila suatu sistem fisik yang
mempunyai tanggapan alamiah
sinusoida dirangsang pada atau
di dekat salah satu frekuensi
alamiahnya, maka sistem itu
akan bereaksi dengan hebat,
kadang-kadang dahsyat. Dalam
hal ini sistem berperilaku sama
Gambar 6.2 Jembatan gantung di
seperti kita. Yaitu, bila kita
Tacoma Narrows pada saat hancur
didesak untuk mengerjakan
karena resonansi.
sesuatu yang secara alamiah [Link]
kita inginkan, kita akan sangat
bersemangat untuk menanggapinya.
Jembatan gantung yang melintasi Tacoma Narrows di negara bagian
Washington, Amerika Serikat, menunjukkan kecenderungan untuk berayun
naik-turun selama masa pembangunannya sehingga diberi gelar ‘Galloping
Gertie’. Pada tanggal 7 November 1940, hanya beberapa bulan setelah
peresmiannya, ayunan itu meningkat di bawah tiupan angin yang sedang
besarnya dan kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi gerak yang meliuk-
liuk. Dalam waktu satu jam gerak dahsyat itu menghancurkan jembatan
seharga 6 juta dolar itu menjadi berkeping-keping. Gejala tersebut dikenal
sebagai resonansi, suatu gejala yang merupakan karakteristik struktur atau
sistem orde dua dengan rugi-rugi yang kecil.
Gejala resonansi terjadi pada semua jenis getaran atau gelombang. Sistem
resonansi dapat digunakan untuk menghasilkan getaran pada suatu frekuensi
tertentu atau untuk mengambil suatu frekuensi tertentu dari suatu getaran
kompleks yang mengandung banyak frekuensi.
Resonansi ini diketemukan oleh Galileo Galilei sewaktu meneliti tentang
bandul dan dawai musik di awal tahun 1602.
Pada suatu frekuensi resonansi tertentu, impedansi atau admitansi sistem
kecil sedangkan tanggapan terpaksanya menjadi sangat besar meskipun gaya
atau tegangan yang diberikan tidaklah besar. Resonansi mempunyai berbagai
penerapan dalam bidang teknik. Dalam motor bakar, pengaruh resonansi
dimanfaatkan untuk meningkatkan banyaknya campuran udara-bahan bakar

178
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

yang disemburkan ke dalam silindernya dengan kecepatan tinggi pada pipa-


isap yang ditala. Dalam pesawat penerima radio, rangkaian resonansi
digunakan untuk memilih sebuah sinyal tunggal di antara sekian banyak
gelombang radio yang ditangkap antenanya. Dalam sistem tenaga listrik,
resonansi sangat dihindari.
Dengan menyelesaikan bab ini,
pembaca diharapkan dapat
 menyelesaikan
penyederhanaan rangkaian
untuk arus bolak-balik;
 menerapkan Metode
Tegangan Simpul dan
Metode Arus Mata Jala
untuk rangkaian arus bolak-
balik;
 menerapkan Metode
Thévenin untuk rangkaian
dengan rangsangan
sinusoida;
 mengenal fungsi jala-jala;
 mengenal analisis Fourier;
Gambar 6.3 Galileo Galilei (1564-  mengenal tanggapan
1642) frekuensi dan resonansi.
[Link]

6.1 Penyederhanaan rangkaian


Dalam rangkaian resistif, metode menyederhanakan suatu rangkaian rumit
menjadi resistansi setara tunggal merupakan sarana yang sangat berguna
dalam analisis rangkaian. Sarana yang sama juga tersedia untuk rangkaian
arus bolak-balik yang mengandung resistor, induktor, dan kapasitor.
Impedansi titik penggerak atau impedansi setara yang dilihat sumber dari
kutub a dan b dalam Gambar 6.4 besarnya adalah
V
Z
I
dan admitansi setaranya
1 I
Y 
Z V
Secara umum, impedansi dan admitansi merupakan operator fasor yang
mempunyai bagian nyata dan khayal.

179
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

a Rangkaian
+
V mengandung
- b R, L, dan C

Gambar 6.4 Rangkaian RLC dengan sumbernya

Rangkaian setara suatu impedansi atau admitansi kompleks dapat dengan


mudah diperoleh dari persamaan di atas.
Jadi
V  IZ  IR  jIX (6.1)
dan
I  VY  VG  jVB (6.2)

I R I

+ +
V jX V G jY
- -

(a) (b)
Gambar 6.5 Rangkaian setara (a) impedansi dan (b) admitansi

Arus yang sama besarnya yang terdapat dalam R maupun X pada Persamaan
(6.1) menunjukkan bahwa cabang R dan X merupakan suatu hubungan seri.
Sebaliknya, tegangan yang sama yang terdapat antara G dan B menunjukkan
suatu rangkaian paralel. Kedua pernyataan tersebut dilukiskan dalam Gambar
6.5. Suku-suku X dan B ditunjukkan sebagai suatu segi empat yang
menyatakan bahwa segi-empatnya dapat induktif atau kapasitif. Reaktansi
induktif, XL, selalu positif, dan reaktansi kapasitif, XC, selalu negatif.
Sebaliknya, suseptansi induktif, BL, selalu negatif dan suseptansi kapasitif,
BC, selalu positif.

180
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Semua teknik yang telah dibahas dalam Bagian 3.2 dapat diterapkan pada
rangkaian arus bolak-balik jika resistansi dan konduktansi dalam Bagian 3.2
digantikan oleh impedansi dan admitansi kompleks. Beberapa contoh berikut
akan memperjelas hal ini.

b’ 40  a’

10 

Z 0,001 F 30 

1H

b a
Gambar 6.6 Rangkaian untuk Contoh 6.1

Contoh 6.1
Tentukan impedansi masukan dari rangkaian pada Gambar 6.6 jika
frekuensi sudut fungsi perangsangnya adalah 10 radian per detik.
Jawab
Dari kutub-kutub a'a ke kanan, resistor 30  berhubungan paralel
dengan kombinasi seri resistor 10  dengan induktor 1 H.
Impedansi kombinasi seri tersebut adalah
10  j1  10  j10  14,14/ 45 
sehingga admitansinya adalah
1
 0,07 /  45  0,05  j 0,05 S
14,14/ 45
Admitansi dari kutub-kutub a'a ke kanan adalah
1
Ya  (0,05  j 0,05)   0,083  j 0,05
30
 0,097 /  31 S

181
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

1
Za 
Za
1
  10,31/ 31  8,84  j 5,31 
0,097 /  31
Impedansi dari kutub-kutub b'b ke kanan adalah
Z b  40  (8,84  j5,31)  48,84  j5,31
 49,13/ 6,2 
1
Yb 
Zb
 0,02/  6,2  0,02  j 0,002 S
Admitansi kapasitansi 0,001 F adalah
YC  j  0,001  j  10  0,001
 j 0,01 S
sehingga admitansi masukan yang ditanyakan, yang merupakan
gabungan antara admitansi kapasitansi tersebut dengan admitansi
kutub-kutub b'b ke kanan, adalah
Y  j 0,01  (0,02  j 0,002)  0,02  j 0,008
 0,022/ 21,8 S
Jadi, impedansi masukannya adalah
1
Z
Y
1
  46,42/  21,8 
0,02/ 21,8
Penyelesaian Contoh 6.1 di atas menunjukkan bahwa impedansi merupakan
suatu fungsi frekuensi. Jika nilai-nilai reaktansi dan suseptansi yang
diberikan mengandaikan bahwa sumbernya menggunakan frekuensi konstan
maka nilai-nilai yang diberikan itu benar untuk frekuensi tersebut.

Contoh 6.2
Tentukan arus i pada rangkaian dalam Gambar 6.7.
Jawab
Untuk rangkaian pada Gambar 6.7 impedansi yang dilihat dari
kutub-kutub sumber tersebut adalah

182
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

(3  j3)( j3)
Z  1  4  j3
3  j3  j3
 5/  36,9 
sehingga didapatkan

1 i(t)

i1(t)
3
+
1
v(t) = 5 cos 3t 9 F
-
1H

Gambar 6.7 Rangkaian untuk Contoh 6.2

5/ 0
I1   1/ 36,9 A
5/  36,9
dan menurut teorema pembagi arus
3  j3
I I1  2 / 81,9 A
3  j3  j3
atau dalam bentuk aslinya adalah
i  2 cos(3t  81,9) A

6.2 Metode Tegangan Simpul dan Arus Mata Jala


Pada umumnya, suatu sistem transmisi dan distribusi tenaga listrik yang
besar mempunyai lebih dari pada satu sumber untuk mencatu jaringannya.
Pusat beban yang penting biasanya dicatu paling sedikit melalui dua saluran
transmisi dan distribusi. Untuk sistem elektronika, baik sistemnya sendiri
maupun peralatannya yang merupakan komponen sistem, umumnya
mengandung banyak cabang rangkaian. Hal-hal di atas mengakibatkan
rangkaian setara untuk sistem semacam itu menjadi sangat rumit. Metode
tegangan simpul dan metode arus mata jala yang telah dibahas dalam Bagian
3.6 dan Bagian 3.7 untuk rangkaian resistif dapat diterapkan pada analisis
rangkaian arus bolak-balik yang rumit. Cara-cara tersebut mempunyai
keunggulan dalam sistematik dan aturannya yang rapi. Kembali, dalam hal

183
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

ini, akan diperlukan persamaan fasor dengan impedansi dan admitansi


kompleks dalam penyelesaiannya.

Contoh 6.3
Gunakan metode tegangan simpul untuk menentukan tegangan V1
dan V2 dalam rangkaian pada Gambar 6.8.
-j5  j10 

+ +
+
o
5/30 A V1 10  V2 20/90o V
-
- -

(a)

j0,2 S
1 2
+ +
5/30o A V1 0,1 S V2 -j0,1 S 2/0o A
- -

(b)

Gambar 6.8 Rangkaian untuk Contoh 6.3

Jawab
Cabang sumber tegangan 20/90º V dengan impedansi seri sebesar
j10 Ω harus diubah menjadi sumber arus setaranya dengan
admitansi simpang yang sesuai. Dari Bagian 3.4, sumber arus
tersebut mengalirkan arus sebesar
20/ 90
I  2,0/ 0 A
10/ 90
paralel dengan admitansi simpangnya sebesar
1
Y   j 0,1 S
j10
Setelah rangkaian pada Gambar 6.8a diubah sesuai dengan
perhitungan di atas, rangkaian setaranya ditunjukkan pada Gambar
6.8b.
Dengan garis alas diambil sebagai simpul acuan, hukum Kirchhoff
untuk arus memberikan persamaan untuk simpul 1 dan 2:
(0,1  j 0,2)V1  ( j 0,2)V2  5/ 30
 ( j 0,2)V1  ( j 0,2  j 0,1)V2  2/ 0

184
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Penyelesaian serentak kedua persamaan ini memberikan


V1  38,8/ 80,1 V dan V2  58,0/ 76,7 V

Contoh 6.4
Gambar 6.9 adalah rangkaian pengganti suatu beban dengan Zbeban =
11,66 + j8,75 Ω yang dicatu oleh dua sumber melalui dua saluran
transmisi. Generator sumber didekati dengan suatu sumber
tegangan sempurna; impedansi saluran transmisi yang mencatu
beban masing-masing adalah seperti pada gambar di atas. Tegangan
kutub sumber 1 dan 2 berturut-turut adalah 460 V dan 451 V. Fasa
tegangan generator 2 tertinggal dari generator 1 sebesar 5º.
Gunakan metode arus mata jala untuk menentukan berapa besar
tegangan beban, arus beban dan masing-masing arus yang diberikan
oleh kedua generator.

1,4 – j1,6  0,8 – j1,0 


+
Ib

+ +
460/0o V G1 Zbeban G2 451/-5o V
- -

Gambar 6.9 Rangkaian untuk Contoh 6.4

Jawab
Arus mata jalanya ditetapkan sebagai arus I1 dan I2 dengan arah
yang sama dengan arah putaran jarum jam, mengikuti pola yang
telah diberikan dalam Bagian 4.2. Persamaan hukum Kirchhoff
untuk tegangan pada mata jala 1, yang mengandung generator 1,
adalah

I1[(1,4  j1,6)  (11,66  j8,75)]  I 2 (11,66  j8,75)  460/ 0


dan untuk mata jala 2,

185
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

 I1 (11,66  j8,75)  I 2 [(11,66  j8,75)  (0,8  j1,0)]  451/  5

atau
(13,06  j10,35) I1  (11,66  j8,75) I 2  460/ 0
 (11,66  j8,75) I1  (12,46  j9,75) I 2  451/  5
Penyelesaian serentak kedua persamaan di atas (dengan mengingat
bahwa kedua persamaan tersebut adalah dalam besaran fasor)
menghasilkan
I1  19,5/  5,2 A
dan
I1  17,8/  76,4 A
sehingga arus bebannya adalah
I b  I1  I 2
 30,4/  38,9 A
dan tegangan bebannya adalah
Vb  I b Z beban
 30,4/  38,9  (11,66  j8,75)  144/ 2 V
Jadi, besar tegangan beban 144 V, dan arus beban 30,4 A.
Generator 1 memberikan 19,5 A dan generator 2 memberikan 17,8
A ke beban tersebut.
Contoh 6.4 membuktikan bahwa meskipun hanya diperlukan besar arus dan
tegangan, masih diperlukan penggunaan aljabar kompleks dalam
penyelesaiannya. Hal ini terutama tampak bahwa penjumlahan secara aljabar
arus I1 dan I2 tidak akan memberikan arus beban yang sebenarnya.

0,125 F
a
+ i
+
3 cos 4t A v1 4 0,5v1
- -

Gambar 6.10 Rangkaian untuk Contoh 6.5

186
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Contoh 6.5
Tentukan arus i pada rangkaian dalam Gambar 6.10.
Jawab
Untuk simpul a dapat ditulis persamaan
V1  12 V1
I  3/ 0
 j2
Menurut hukum Ohm
V1  4 I
yang bila disisipkan ke dalam persamaan sebelumnya memberikan
 j 2 I  12 (4 I )   j 6
atau
P

p(t)

0 dt t
T

sehingga didapatkan
i  1 12 2 cos(4t  45) A
Dalam contoh di atas sengaja tidak dipergunakan metode tegangan simpul
karena penyelesaian di atas ternyata lebih sederhana tanpa harus mengubah
sumber tegangan tak bebas menjadi sumber arus tak bebas.

6.3 Teorema Thévenin


Telah dibuktikan bahwa metode yang berlaku untuk rangkaian resistif juga
berlaku untuk rangkaian arus bolak-balik. Pengecualiannya adalah bahwa
tegangan dan arus pada rangkaian arus bolak-balik harus diselesaikan secara
fasor, dengan unsurnya diperlukan sebagai impedansi atau admitansi
kompleks. Penggantian ini berlaku pula untuk transformasi Y - ∆, prinsip
superposisi dan persoalan rangkaian lain seperti yang telah dibahas dalam
Bab Tiga.
Khusus untuk teorema Thévenin, empat langkah yang diberikan dalam
Bagian 4.5 akan diterapkan pada rangkaian arus bolak-balik. Tegangan
rangkaian terbuka V0 dan impedansi setara Z0 sekarang harus ditetapkan
dalam bentuk polar atau kompleks segi empat. Proses tersebut akan
diperlihatkan dalam dua contoh berikut sekaligus untuk melukiskan
penerapan strategi arus searah pada sejumlah persoalan rangkaian dengan
rangsangan bolak-balik.

187
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Contoh 6.6
Dengan menggunakan teorema Thévenin, tentukan tegangan V1
dalam rangkaian pada Contoh 6.3.
Jawab
Rangkaian untuk persoalan ini telah diperlihatkan dalam Gambar
6.11a. Karena yang diinginkan tegangan V1, maka rangkaian di
sebelah kanan V1 akan digantikan oleh setara Théveninnya.
Mula-mula sumber arus dihilangkan dan dicari tegangan rangkaian
terbuka V0. Rangkaiannya diperlihatkan pada Gambar 6.11a. Arus
I, yang juga merupakan arus mata jala dalam rangkaian tersebut,
adalah

-j5  j10  -j5  j10 

+
+
V0 10  20/90o V Z0 10 
I -
-

(a) (b)

Gambar 6.11 Proses penyelesaian untuk Contoh 6.6

+
v Z/= R + jX
-
Gambar 6.12 Rangkaian setara Thévenin untuk Contoh 6.6 setelah
sumber arus dikembalikan

20/ 90º
I  1,78 / 63,4 A
10  j5  j10
sehingga tegangan rangkaian terbuka V0 adalah

188
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

V0  10 I
 17,8/ 63,4 V
Impedansi setara Thévenin untuk rangkaian tersebut diperoleh
dengan menghilangkan sumber tegangannya, seperti yang tampak
pada Gambar 6.11b. Impedansi Z0 diperoleh dengan menerapkan
Persamaan (3.15) untuk impedansi

10  ( j 5  j10)
Z0 
10  ( j 5  j10)
 4,47 / 63,4 
Sekarang rangkaian Théveninnya telah terbentuk dan sumber
arusnya dikembalikan lagi. Hasilnya diperlihatkan pada Gambar
6.12. Karena rangkaian hasil tersebut merupakan sebuah rangkaian
tertutup tunggal, maka arusnya sama dengan yang diberikan oleh
sumber arus tersebut. Tegangan V1 diperoleh dengan menerapkan
hukum Kirchhoff

V1  5/ 30  4,47 / 63,4  17,8/ 63,4


 38,8 / 80,1 V

-j10 

I 200  5I

+
100/0 Vo j20 
-

Gambar 6.13 Rangkaian untuk Contoh 6.7

Contoh 6.7
Tentukan rangkaian setara Thévenin untuk rangkaian pada Gambar
6.13.
Jawab

189
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Karena rangkaian tersebut mengandung sumber tergantung,


impedansi Thévenin untuk rangkaian ini akan dicari sebagai
perbandingan antara tegangan rangkaian terbuka dengan arus
hubung-singkatnya. Pertama, akan dilakukan perubahan sumber
bagi sumber tak bebas dan menggambarkan kembali rangkaian
tersebut menjadi seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.14.
Tegangan rangkaian terbukanya sekarang dapat dihitung.
(Perhatikan bahwa arus dalam rangkaian tertutup di sebelah kanan
adalah nol karena rangkaiannya terbuka.) Persamaan untuk
rangkaian itu adalah
(200  j 20) I  100/ 0
dan
V0  j 20 I  ( j50 I )
 j 70 I
sehingga
V0  35,0/ 84,3 V

i(t)
0 p(t) = v(t)i(t)
t

v(t)

Gambar 6.14 Rangkaian pada Gambar 6.13 setelah diubah

Arus hubung-singkatnya diperoleh dari rangkaian pada Gambar


6.14 dengan menghubung-singkatkan sepasang kutub di sebelah
kanan seperti yang ditunjukkan oleh garis terputus-putus pada
gambar tersebut. Jika arus I dipandang sebagai arus mata jala untuk
mata jala di sebelah kiri, dan I0 sebagai arus mata jala untuk mata
jala di kanan pada rangkaian dalam Gambar 6.14, maka persamaan
mata jala sebelah kiri adalah
(200  j 20) I  j 20 I 0  100/ 0
dan untuk mata jala sebelah kanan
P

i(t)
p(t) = v(t)i(t)
0
t v(t)

190
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Bentuk sederhananya adalah


v(t)

p(t) = v(t)i(t)
P
i(t)
0 t

Penyelesaiannya untuk I0 adalah


I 0  3,0/ 31,0 A
Dari hasil V0 dan I0 di atas diperoleh impedansi Thévenin
V0
Z0 
I0
35,0/ 84,3º
  10,63 / 53,3 
3,0/ 31,0º

P
i(t)
0 t
p(t) = v(t)i(t)

v(t)

Gambar 6.15 Jawaban untuk Contoh 6.7

Rangkaian hasilnya diperlihatkan pada Gambar 6.15.


Setara Norton dapat diperoleh dari setara Thévenin dan mengubahnya
menjadi kembarannya.

6.4 Fungsi jala-jala


Untuk menunjukkan sifat umum suatu jala-jala sebarang yang seluruhnya
terdiri dari unsur-unsur rangkaian pasif, jala-jala itu dapat diwakili dengan
melambangkannya sebagai suatu blok. Jika sebuah penghantar disambungkan
ke salah satu simpul dalam jala-jala itu dan dikeluarkan dari blok tersebut,
ujung penghantar itu dikenal sebagai kutub (terminal). Kutub itu diperlukan
untuk menghubungkan rangsangan bagi jala-jala tersebut, untuk
menghubungkan jala-jala itu ke jala-jala yang lain, atau untuk melakukan
pengukuran terhadap jala-jala tersebut. Banyaknya kutub yang berguna
paling sedikit adalah dua. Kutub-kutub itu selalu berpasangan, sepasang
untuk perangsangnya, pasangan yang lain untuk beban, dan seterusnya.
Gambar 6.16a menunjukkan suatu pewakilan jala-jala dengan sepasang kutub
yang lazim disebut sebagai jala-jala kutub-dua. Sepasang kutub itu
umumnya dihubungkan ke suatu sumber tenaga yang merupakan gaya

191
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

penggerak jala-jala tersebut. Gambar 6.16b menunjukkan suatu jala-jala


kutub-empat. Pasangan kutub dengan tanda 1-1' diandaikan terhubung ke
sumber tenaga yang dinamakan pasangan kutub masukan, dan pasangan
kutub 2-2' dihubungkan dengan beban yang disebut pasangan kutub
keluaran. Gambar 6.16c memperlihatkan suatu pewakilan jala-jala dengan
tiga pasangan kutub. Untuk bentuk rangkaian yang lain, pasangan kutub itu
dapat diperluas menjadi jala-jala kutub-n. Umumnya pasangan kutub
sebelah kiri (atau yang ditandai dengan angka 1) merupakan pasangan kutub
masukan dan yang kanan atau yang lain merupakan keluarannya. Dalam
Gambar 6.16b tampak bahwa kutub 1 dan 2 saling terhubung yang
menunjukkan bahwa sebenarnya rangkaian tersebut merupakan rangkaian
tiga kutub karena salah satu kutub dari kedua pasangan kutub itu dimiliki
bersama. Transistor, transformator, dan saluran transmisi merupakan
rangkaian kutub-2 semacam itu.

3' 3 I3
+ V3 -
I I1 I2 I1 I2
1' 1' 2' 1' 2'
+ C + C + + C +

V R L V1 R L V2 V1 R L V2

- - - - -
1 1 2 1 2

(a) (b) (c)

Gambar 6.16 Jala-jala kutub-dua, kutub-empat, dan kutub-banyak

Seperti halnya dengan yang telah dibahas dalam Bab Tiga, dua pasangan
kutub-dua dikatakan setara jika keduanya mempunyai karakteristik v-i yang
sama. Dua rangkaian kutub-2 pasif setara jika keduanya mempunyai
impedansi masukan atau admitansi masukan yang sama; untuk rangsangan
dan tanggapan sinusoida hal itu berarti keduanya mempunyai Z atau Y yang
sama.
Fungsi impedansi, yang telah dibahas dalam bab sebelum ini, merupakan
perbandingan antara tegangan dengan arus untuk suatu jala-jala dalam
keadaan awal tanpa tenaga, tanpa sumber arus atau sumber tegangan kecuali
sumber tak bebas. Fungsi impedansi tersebut dapat ditulis sebagai
V ( s)
Z ( s)  (6.3)
I (s)
Bila I(s) adalah perangsangfrekuensi kompleks, dan V(s) tanggapan untuk
jala-jala tersebut, maka Z(s) adalah fungsi jala-jalanya. Jika V(s) adalah
perangsangnya, dan I(s) tanggapannya, maka fungsi jala-jalanya adalah
fungsi admitansi

192
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

I ( s)
Y ( s)  (6.4)
V ( s)
Impedansi atau admitansi yang diperoleh pada pasangan kutub yang sama
disebut impedansi (atau admitansi) titik penggerak.

Ii Io
+ +
H(s)
Vi Vo

- -

Gambar 6.17 Fungsi pemindah

Fungsi pemindah digunakan untuk menjelaskan jala-jala yang mempunyai


paling sedikit dua buah pasang kutub. Fungsi ini ditentukan berdasarkan
pengandaian bahwa besaran masukan (perangsang) dan besaran keluarannya
(tanggapannya) berubah secara eksponensial, seperti halnya dengan
pengandaian yang telah diberikan untuk fungsi impedansi dan admitansi.
Fungsi pemindah tersebut menguraikan perilaku suatu jala-jala melalui
persamaan diferensial yang menghubungkan variabel masukan dengan
variabel keluarannya. Fungsi pemindah ini dinyatakan oleh H(s). Fungsi
impedansi, fungsi admitansi, dan fungsi pemindah, secara umum dinamakan
fungsi jala-jala.
Terdapat empat kemungkinan yang terjadi untuk suatu jala-jala tertentu,
sesuai dengan empat kombinasi masukan dan keluaran untuk suatu kutub-
empat seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.17. Dengan berpedoman
pada gambar tersebut diperoleh fungsi pemindah tegangan:
Vo ( s)
H vv ( s)  (6.5)
Vi ( s)

Fungsi pemindah arus:


I o ( s)
H ii ( s)  (6.6)
I i ( s)
Admitansi pemindah:
I o ( s)
H iv ( s)  (6.7)
Vi ( s)

193
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Impedansi pemindah:
Vo ( s)
H vi ( s)  (6.8)
I i ( s)
Pada umumnya, dalam menuliskan fungsi jala-jala, tikalas (subscript) yang
menyertainya tidak dituliskan.
Fungsi impedansi titik penggerak menghubungkan tegangan masukan dengan
arus masukan; sedangkan impedansi pemindah menghubungkan tegangan
keluaran dengan arus masukan.

R
Z(s) L
C

Gambar 6.18 Rangkaian untuk Contoh 6.8


Contoh 6.8
Tentukan fungsi jala-jala untuk rangkaian RLC seri seperti yang
diperlihatkan oleh Gambar 6.18.
Jawab
Karena dalam hal ini hanya terdapat sepasang kutub dan telah
diketahui bahwa rangkaian berhubungan seri, maka impedansi titik
penggerak jala-jala ini adalah
R 1
s2  s 
1 s 2 LC  sRC  1 L LC
Z ( s)  R  sL   L
sC sC s
Pembilang polinomial impedansi titik penggerak ini berorde dua
karena pangkat s tertingginya adalah dua, sedangkan penyebutnya
berorde satu.

R
Y(s) C L

Gambar 6.19 Rangkaian untuk Contoh 6.9


Contoh 6.9
Tentukan fungsi jala-jala untuk rangkaian pada Gambar 6.19.
Jawab

194
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Admitansi titik penggerak jala-jala ini adalah

R 1
s2  s
1 s LC  sRC  1
2
L LC
Y ( s)  sC   C
R  sL sL  R s
R
L
Impedansi titik penggeraknya adalah kebalikan admitansi di atas,
atau
R
s
1 L
Z ( s) 
C s2  R s  1
L LC

I
+ +
R
V1 C V2
- -

Gambar 6.20 Rangkaian untuk Contoh 6.10

Contoh 6.10
Tentukan fungsi pemindah jala-jala untuk rangkaian pada Gambar
6.20
Jawab
Jala-jala tersebut mempunyai V1(s) sebagai tegangan masukan, dan
V2(s) sebagai tegangan keluaran. Jala-jala ini berlaku sebagai suatu
rangkaian pembagi tegangan. Tanpa adanya arus yang mengalir di
antara kutub-kutub keluarannya, persamaan tegangannya adalah
1
RI ( s)  I ( s)  V1 ( s)
sC
1
I ( s)  V2 ( s)
sC
Perbandingan kedua persamaan di atas adalah fungsi pemindah

195
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

1 1
I ( s)
V2 ( s) sC
H ( s)    RC
V1 ( s)  1  1
R   I ( s) s 
 sC  RC

Z1 Z2 Z3

Z Y1 Y2 Y3

Gambar 6.21 Jala-jala tangga

Salah satu kelas khusus dalam susunan jala-jala listrik yang menarik adalah
yang dikenal sebagai jala-jala tangga, yang bentuk umumnya diperlihatkan
pada Gambar 6.21. Jika setiap impedansi atau admitansi dalam suatu jala-jala
hanyalah terdiri dari sebuah unsur, jala-jala itu dinamai jala-jala tangga
sederhana. Secara umum, setiap admitansi atau impedansi tersebut dapat
terdiri dari beberapa unsur yang tersusun secara seri atau paralel. Untuk
menyederhanakan pembahasan, cabang seri dikatakan sebagai impedansi, dan
cabang simpangnya sebagai admitansi.
Seperti halnya dalam penyederhanaan rangkaian, perhitungan dimulai dari
kutub yang terjauh dari perangsangnya. Untuk suatu jala-jala tangga yang
terdiri dari tiga impedansi dan tiga admitansi, perhitungannya dimulai dari Y3.
Admitansi ini harus dibalik agar dapat digabungkan dengan Z3. Selanjutnya
jumlah tersebut dibalik untuk digabungkan dengan Y2. Pola itu diteruskan
sampai proses tersebut selesai. Hasilnya adalah impedansi sebesar
1
Z  Z1  (6.9)
1
Y1 
1
Z2 
1
Y2 
1
Z3 
1
Y3 

Persamaan (6.9) dikenal sebagai pecahan sinambung. Persamaan ini dapat
disederhanakan untuk menentukan Z suatu jala-jala tangga yang diketahui.

196
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Contoh 6.11
Tentukan impedansi titik penggerak untuk jala-jala yang
ditunjukkan oleh Gambar 6.22.
1H 1H

Z 1F 1F

Gambar 6.22 Rangkaian untuk Contoh 6.11


Jawab
Sesuai dengan Persamaan (6.9), impedansi yang dicari adalah
1
Z (s)  s 
1
s
1
s
s
Setelah disederhanakan, dengan dimulai dari suku terakhir serta
menggabungkannya suku demi suku, diperoleh
s 4  3s 2  1
Z ( s) 
s 3  2s
Dari keempat contoh di atas tampak bahwa orde tertinggi pada polinomial
impedansi atau admitansi itu ditentukan oleh banyaknya unsur penyimpan
tenaga (induktor dan/atau kapasitor) dalam rangkaian tersebut.

I L R I
+

V
-

Gambar 6.23 Rangkaian seri sebagai jala-jala kutub empat

Perbandingan antara arus dengan tegangan (atau sebaliknya) pada suatu jala-
jala kutub-dua dapat diperlakukan sebagai suatu jala-jala kutub empat.
Misalnya, rangkaian RL seri pada Gambar 6.23 dapat dipandang sebagai
suatu jala-jala kutub-empat dengan kutub-kutub keluarannya yang dihubung-
singkat mengalirkan arus yang sama dengan arus masukannya. Jadi, fungsi

197
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

admitansi, dan fungsi impedansi titik-penggeraknya merupakan kasus khusus


untuk fungsi jala-jala H(s) itu.
Sering besaran masukan suatu jala-jala berubah menurut waktu secara
sebarang. Jika tidak diinginkan untuk menyebutkan masukan dan keluaran
secara khusus, apakah berupa tegangan atau arus, masukannya cukup
dikatakan sebagai fungsi pemaksaf(t), dan keluarannya sebagai fungsi
tanggapanr(t). Fungsi tanggapan dan fungsi pemaksa ini secara umum
dihubungkan oleh suatu persamaan diferensial. Dalam hal khusus dengan
fungsi pemaksanya berupa eksponensial, f(t) = Apest, tanggapannya juga
berupa eksponensial, r(t) = Atest. Dan, fungsi jala-jala yang menghubungkan
keduanya adalah
r (t ) At
H ( s)   (6.10)
f (t ) Ap
Fungsi jala-jala H(s) ini tidak bergantung pada masukan karena ia merupakan
fungsi dari unsur-unsur rangkaian, dan bentuk susunan unsur tersebut. Secara
umum, karena s dapat berupa suatu bilangan kompleks, H(s) merupakan
suatu fungsi kompleks. Oleh karena itu, H(s) dalam bentuk polar dapat ditulis
sebagai
H(s) = |H(s)|/ (6.11)
dengan |H(s)| adalah besarnya H(s), dan  adalah sudut fasanya.
Fungsi pemindah suatu jala-jala kutub-empat, seperti yang telah ditunjukkan
dalam Gambar 6.17, memberikan hubungan antara fungsi pemaksa dengan
fungsi tanggapannya secara lengkap sebagaimana halnya dengan fungsi
admitansi atau impedansi pada suatu jala-jala kutub-dua yang
menghubungkan arus dengan tegangan pada jala-jala tersebut. Oleh karena
itu, untuk mewakili jala-jala tersebut cukup dilukiskan suatu blok dengan
menunjukkan hubungan luarnya saja sebagai ganti diagram rangkaian
lengkap dan terincinya. Fungsi jala-jala dapat dituliskan untuk blok tersebut.
Secara umum, fungsi jala-jala merupakan suatu pecahan polinomial dalam s
berbentuk
s m    a2 s 2  a1s  a0
H ( s)  K n (6.12)
s    b2 s 2  b1s  b0
atau
( s  z1 )(s  z2 ) ( s  zm )
H ( s)  K (6.13)
( s  p1 )(s  p2 ) ( s  pn )

198
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

6.5 Analisis Fourier


Persoalan utama dalam analisis kawasan frekuensi adalah mencari
komponen-komponen sinusoida yang jika dijumlahkan akan memberikan
bentuk-gelombang yang diketahui. Dalam bab ini pendekatan yang dipakai
adalah dengan meninjau suatu fungsi f(t) yang berulang dengan periode T;
yaitu
f(t) = f(t + T) (6.14)
Telah dibuktikan oleh Fourier bahwa jika f(t) memenuhi persyaratan
Dirichlet, yaitu: fungsinya bernilai terhingga untuk setiap nilai variabelnya,
mempunyai maksima dan minima yang terhingga banyaknya dalam setiap
periodenya, ketaksinambungan yang terhingga banyaknya dalam setiap
periodenya dan integral mutlak dalam selang periodenya terhingga, maka
fungsi itu dapat diwakili oleh jumlah komponen sinusoida yang takhingga
banyaknya:
f (t )  12 a0  a1 cos 0t  a2 cos 20t    b1 sin 0t  b2 sin 20t  
Secara ringkas ditulis sebagai

f (t )  12 a0   (an cos n 0t  bn sin n 0t ) (6.15)
n1

2
dengan 0 = disebut frekuensi sudut dasar. Deret pada Persamaan
T
(6.15) disebut deret Fourier trigonometrif(t). Koefisien-koefisien a dan b
disebut koefisien Fourier yang besarnya bergantung pada f(t). Suku a0
disebut ordinat rata-rata atau komponen searah gelombang f(t). Suku
a1cos ω0t + b1sin ω0t
adalah komponen dasar yang mempunyai frekuensi dan periode sama
seperti gelombang aslinya. Suku-suku berikutnya diambil berpasangan dalam
bentuk
ancos n ω0t + bnsin n ω0t
disebut komponen harmonisa ke-n pada fungsi tersebut.
Nilai koefisien a dan b dapat ditentukan dengan mengintegrasikan kedua ruas
Persamaan (6.15) sepanjang periodenya; yaitu
T T  T 
 f (t )dt   12 a 0 dt    (a n cos n 0 t  bn sin n 0 t )dt 
0 0 n 1  0 

Karena T = , setiap suku dalam penjumlahan itu sama dengan nol
0
menurut Butir 2 dalam Daftar 6.1 ( = 0), sehingga

199
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

T
2
T 0
a0  f (t )dt (6.16)

Selanjutnya bila Persamaan (6.15) dikalikan dengan cos m0t, dengan m


adalah bilangan bulat, kemudian diintegrasikan, maka hasilnya adalah
T T

 f (t ) cos m tdt  
0
0
0
1
2 a0 cos m 0tdt

 T
  an  cos m 0t cos n 0tdt
n1 0

 T
  bn  cos m 0t sin n 0tdt
n 1 0

Selanjutnya bila Persamaan (6.15) dikalikan dengan cos m0t, dengan m


adalah bilangan bulat, kemudian diintegrasikan, maka hasilnya adalah
T T

0
f (t ) cos m 0tdt   12 a0 cos m 0tdt
0

 T
  an  cos m 0t cos n 0tdt
n1 0

 T
  bn  cos m 0t sin n 0tdt
n 1 0

Menurut Butir 2, 4 dan 5 pada Daftar 6.1 dengan  =  = 0, setiap suku pada
ruas kanan persamaan di atas sama dengan nol kecuali untuk suku dengan m
= n dalam penjumlahan yang pertama. Suku itu diberikan oleh
T
π T
an  cos 2 n0tdt  an  an
0
0 2
sehingga
T
2
T 0
an  f (t ) cos n 0tdt n = 1, 2, ... (6.17)

Terakhir, dengan mengalikan Persamaan (6.15) dengan sin mω0t, kemudian


mengintegrasikannya serta memanfaatkan Daftar 6.1 didapatkan

200
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

T
2
T 0
bn  f (t ) sin n 0tdt n = 1, 2, ... (6.18)

Tampak bahwa Persamaan (6.16) merupakan kasus khusus Persamaan (6.17)


dengan n = 0 (dan itulah alasannya mengapa digunakan 12 a0 , bukannya a0
sebagai suku konstantanya). Juga dapat dibuktikan bahwa integrasi sepanjang
setiap selang T, misalnya dari t0 sampai dengan t0 + T untuk setiap t0,
memberikan pula hasil yang sama. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
koefisien-koefisien Fourier diberikan oleh
t0 T
2
a0 
T  f (t )dt
t0

t0 T
2
an 
T  f (t ) cos n tdt
t0
0 n = 1, 2,(6.19)

t0 T
2
bn 
T  f (t ) sin n tdt
t0
0 n = 1, 2,...

Daftar 6.1 Integral fungsi sinusoida dan hasil kalinya




f(t)
 f (t )dt , ω ≠ 0
0

1 sin(ω + α), cos(ω + α) 0


2 sin(n ω + α), cos(n ω + α) 0
π
3 sin2(ω + α), cos2(ω + α)

4 sin(m ω + α)cos(n ω + α) 0

 0 mn
5 cos(m ω + α)cos(n ω + α) 
π cos    mn

 

m dan n adalah bilangan bulat

Dengan demikian, semua koefisien Fourier dapat ditentukan. Penggunaan


ketiga persamaan pada Persamaan (6.19) di atas akan dilukiskan dalam
contoh berikut.

201
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

f(t) 

 0  t



Gambar 6.24 Gelombang gigi gergaji untuk Contoh 6.12

Contoh 6.12
Uraikan fungsi yang bentuk-gelombangnya diperlihatkan pada
Gambar 6.24 menjadi suatu deret Fourier.
Jawab
Fungsi gelombang gigi-gergaji ini dapat ditulis sebagai
f(t) = t – π< t<π
(6.20)
f(t + 2π) = f(t)

Karena T = 2, didapatkan ω0 = = [Link] dipilih t0 = –π ,maka
T
persamaan pertama pada Persamaan (6.19) memberikan
π
1
π π
a0  tdt  0

Untuk n = 1, 2, 3,…, dengan menggunakan persamaan kedua dan


ketiga pada Persamaan (6.19), diperoleh
π π
1 1
an  
π π
t cos ntdt  2 (cos nt  nt sin nt )  0
n π π

dan
π
2 cos nπ 2(1) n 1
π
1 1
bn  
π π
t sin ntdt  2 (sin nt  nt cos nt )  
n π π n

n
Dari hasil di atas, deret Fourier dari fungsi pada Persamaan (6.20),
adalah

 sin t sin 2t sin 3t  sin nt
f (t )  2      2 (1) n1 (6.21)
 1 2 3  n 1 n

202
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

f(t)  f(t) 

 0  t  0  t

 

(a) (b)

f(t)  f(t) 

 0  t  0  t

 

(c) (d)

Gambar 6.25 Bentuk gelombang jawaban Contoh 6.12

Komponen dasar dan harmonisa kedua dan ketiga serta hasil


penjumlahan ketiganya diperlihatkan pada Gambar 6.25a. Jika
sejumlah suku-suku pada Persamaan (6.21) dengan jumlah yang
cukup dijumlahkan, hasilnya akan sangat mendekati f(t). Gambar
6.25b menunjukkan hasil jumlah tujuh harmonisa pertamanya,
Gambar 6.25c lima belas harmonisa, dan Gambar 6.25d tiga puluh
harmonisa pertama.

f(t)
6

2 1 0 1 2 t
Gambar 6.26 Gambar fungsi untuk Contoh 6.13

Contoh 6.13
Uraikan fungsi

203
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

0  2  t  1

f (t )  6 1  t  1
0 1 t  2

f(t + 4) = f(t)
Jawab
Fungsi ini ditunjukkan pada Gambar 6.26, tampak memiliki T = 4
2 
dan ω0 =  . Jika diambil t0 = 0 pada Persamaan (6.19),
T 2
maka integralnya harus dipisahkan menjadi tiga bagian karena
dalam selang dari 0 sampai 4, f(t) berturut-turut bernilai 0, 6 dan 0.
Jika t0 = –1, integralnya hanya perlu dibagi menjadi dua bagian
karena f(t) = 6 dari –1 sampai 1 dan f(t) = 0 dari 1 sampai 3. Oleh
karena itu, untuk memudahkan dipilih t0 = –1 sehingga diperoleh
1 3
2 2
a0  
4 1
6dt   0dt  6
41
dan
1 3
2 nπt 2 nπt 12 nπ
an  
4 1
6 cos
2
dt   0 cos
41 2
dt  sin
 2
serta
1 3
2 nπt 2 nπt
bn  
4 1
6 sin
2
dt   0 sin
41 2
dt  0

Jadi, deret Fourier yang dicari adalah


12  πt 1 3πt 1 5πt 
f (t )  3   cos  cos  cos  
π 2 3 2 5 2 
Deret ini dapat diringkaskan bentuknya sebagai berikut
 (2n  1) π 
(1) n 1 cos 
 
12
f (t )  3    2  (6.22)
π n 1 2n  1
Gambar 6.27a menunjukkan komponen dasar dan dua harmonisa
ketiga, ketiga dan kelima serta hasil penjumlahan empat suku yang
pertama pada Persamaan (6.22) di atas. Gambar 6.27b
menunjukkan hasil penjumlahan 40 suku pertama persamaan
tersebut.

204
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

f(t) 6

1 0 1 3 5 t

(a)

f(t) 6

t
1 0 1 3 5
(b)

Gambar 6.27 Bentuk gelombang untuk Contoh 6.13

Dari kedua contoh di atas tampak terdapat sejumlah koefisien Fourier yang
bernilai nol. Dapat dibuktikan bahwa hal tersebut merupakan akibat simetri
tertentu pada fungsinya. Informasi ini dapat diperoleh langsung dari bentuk-
gelombangnya tanpa harus menghitung integralnya yang akan memberikan
nilai nol.

Jika suatu simetri terhadap sumbu tegak atau titik-asal, maka perhitungan
koefisien-koefisien Fouriernya akan menjadi lebih sederhana. Suatu fungsi
f(t) yang simetri terhadap sumbu tegak dikatakan fungsi genap dengan sifat
f(t) = f(–t) (6.22)
2
untuk setiap t. Sebagai contoh, fungsi t dan cos t. Bentuk khas fungsi genap
diperlihatkan pada Gambar 6.28a.

f(t) f(t)

0 t 0

(a) (b)

Gambar 6.28 Fungsi genap dan fungsi ganjil

205
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Fungsi f(t) yang simetri terhadap titik-asal dikatakan fungsi ganjil dan
mempunyai sifat
f(t) = –f(–t) (6.23)
Salah satu contoh fungsi ganjil ditunjukkan pada Gambar 6.28b, dan contoh
lainnya adalah t dan sin t.
Dalam melakukan analisis suatu bentuk-gelombang dengan acuan waktu
yang harus dipilih, hendaklah pemilihan itu dilakukan sedemikian sehingga
memudahkan penentuan koefisien-koefisien Fouriernya. Sebaiknya dipilih
sedemikian sehingga menghasilkan suatu fungsi genap atau ganjil.
Analisis Fourier adalah kiat matematika untuk mendapatkan amplitudo,
frekuensi dan fasa komponen-komponen suatu bentuk gelombang. Dalam
buku ini tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai hal itu, tetapi perlu
diperhatikan bahwa semua sinyal selalu dapat diuraikan dalam komponen-
komponen sinusoida.

6.6 Tanggapan Frekuensi


Secara umum setiap fungsi jala-jala H(jω) merupakan suatu fungsi kompleks
yang terdiri dari bagian nyata dan khayal yang bila dituliskan dalam
koordinat segi empat berbentuk
H(jω) =Re[H(jω)] + Im[H(jω)] (6.24)
Dengan Re[ ] menyatakan bagian nyata dan Im[ ] menyatakan bagian
khayalnya, dan dalam bentuk polar dapat ditulis sebagai
H(jω) =H(jω)ej(ω) (6.25)
atau
H(jω) = |H(jω)|/( ω (6.26)
|H(jω)| adalah besar atau tanggapan amplitudo, dan (ω) adalah
tanggapan fasa fungsi jala-jala H(jω). Hubungan kedua tanggapan ini
dengan bagian nyata dan khayalnya diberikan oleh
H ( j )  Re 2 [ H ( j )]  Im2 [ H ( j )] (6.27)
dan
Im[ H ( j )]
 ( )  tan 1 (6.28)
Re[ H ( j )]
Karena pada kedua tanggapan di atas variabel bebasnya adalah frekuensi,
maka keduanya merupakan tanggapan frekuensi.

206
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

I
+

V R L C

Gambar 6.29 Rangkaian untuk Contoh 6.14

Contoh 6.14
Tentukan tanggapan frekuensi dari rangkaian RLC paralel pada
Gambar 6.29.
Jawab
Impedansi masukan yang kebetulan sama dengan impedansi
pemindah untuk jala-jala ini adalah
V ( s) 1
H ( s)   Z ( s) 
I ( s) 1 1
 sC 
R sL
atau
1
s
H ( s)  C (6.29)
1 1
s2  s
RC LC
untuk s = jω , diperoleh
1
H ( j )  (6.30)
1  1 
 j  C  
R  L 
sehingga tanggapan amplitudonya adalah
1
H ( j )  (6.31)
2 2
1  1 
   C  
R  L 
dan tanggapan fasanya adalah
 1 
 ( )   tan 1 RC   (6.32)
 L 

207
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

R

2 |()|
0,707R
|H(j)|

0 c10 c2


2

Gambar 6.30 Tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa rangkaian RLC


paralel

Karena R, L, dan C dalam Contoh 6.14 ini berupa konstanta, maka


maksimum besar tanggapan frekuensi untuk rangkaian ini akan tercapai pada
suatu frekuensi ω = ω0 yang menjadikan penyebut Persamaan (6.31)
minimum. Tampak bahwa hal ini terjadi bila
1
 0C  0
0 L
atau
1
0 
LC
(6.33)
Karena itu,
|H(jω)|max =|H(jω0)| = R
Dari Persamaan (6.31) tampak jelas bahwa |H(jω)|  0 bila ω. Oleh
karena itu, tanggapan amplitudo untuk rangkaian pada Contoh 6.14
mempunyai bentuk seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.30. Dan pada
gambar itu juga ditunjukkan tanggapan fasanya. Tampak di situ bahwa (ω0)
π π
= 0, sedangkan (ω) = pada saat ω = 0, dan (ω)  – pada saat ω.
2 2
Jika masukan untuk rangkaian pada Gambar 6.27 berupa suatu fungsi
kawasan waktu
i(t) = Imcos ωt
maka fasor masukannya adalah Im/0º dan fasor keluarannya menjadi
V = IZ = IH

208
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Jadi besar keluaran itu adalah besar fungsi jala-jala tersebut dikalikan dengan
suatu konstanta (yang merupakan besaran masukannya). Oleh karena itu
sebenarnya tanggapan fungsi jala-jala itu juga memberikan informasi
sebagaimana yang dapat diperoleh dari tanggapan keluarannya. Dengan
alasan tersebut dan dengan alasan bahwa fungsi jala-jala itu hanya
bergantung kepada susunan jala-jalanya saja, bukan kepada bagaimana jala-
jala itu dirangsang, menyebabkan peninjauan terhadap tanggapan frekuensi
pada fungsi jala-jala merupakan hal yang penting.

6.7 Penyaring
Mengacu ke Gambar 6.30, tampak bahwa frekuensi-frekuensi di sekitar
1 1
0  rads–1 atau f 0  Hz, bersesuaian dengan amplitudo
LC 2π LC
yang besar; sedangkan untuk ω di dekat nol dan yang lebih besar dari ω0
bersesuaian dengan amplitudo yang relatif kecil. Jadi, Gambar 6.29
merupakan salah satu contoh rangkaian penyaring pelewat-jalur, yang
melewatkan jalur frekuensi yang berpusat di sekitar ω0, dan meredam sinyal-
sinyal di luar jalur frekuensi tersebut.
Secara umum, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.30, dikatakan
bahwa ω0, yaitu frekuensi yang memberikan amplitudo maksimum, sebagai
frekuensi pusat. Jalur frekuensi yang dilewatkan atau jalur pelewat
didefinisikan sebagai
ωc1ωωc2 (6.34)
dengan ωc1 dan ωc2 disebut titik-titik potong yang didefinisikan sebagai
1
frekuensi yang amplitudonya sebesar kali amplitudo maksimum. Titik-
2
titik itu juga dikenal sebagai frekuensi daya-setengah. Lebar pelewat jalur
itu diberikan oleh
B = ωc2 – ωc1 (6.35)
yang disebut lebar-jalur.

Contoh 6.15
Rangkaian pada Gambar 6.31 adalah suatu penyaring pelewat-
tinggi sederhana. Lukislah tanggapan frekuensi rangkaian tersebut.
Jawab
Fungsi pemindah tegangan untuk rangkaian ini adalah
V2 sL
H (s)  
V1 R  sL

209
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Dengan mengambil s = jω, didapatkan


L
j
H ( j )  R
L
1  j
R
Tanggapan amplitudonya, dengan demikian, adalah
L

H ( j )  R
2
 L
1   
 R
dan tanggapan fasanya adalah
R
 ( )  tan 1
L
beberapa titik kunci adalah:
di ω = 0

|H(jω)| = 0  ( ) 
2
R
di ω = = ωco
L
1 
|H(j ω)| = = 0,707  ( ) 
2 4
di ω
|H(jω)|  1 (ω)  0
Lengkungan tanggapannya diberikan pada Gambar 6.32.

1
 |H(j)|
2
0,707


4
|()|

0 co 

Gambar 6.32 Tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa rangkaian pada


Gambar 6.31

210
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Rangkaian pada contoh di atas disebut penyaring pelewat tinggi karena


meredam frekuensi rendah dan melewatkan frekuensi tinggi. Frekuensi
R
potongnya, yang merupakan frekuensi daya-setengah, adalah ωco = .
L
I
+ +
R

V1 C V2

 

Gambar 6.33 Rangkaian untuk Contoh 6.16

Contoh 6.16
Rangkaian pada Gambar 6.33 adalah rangkaian penyaring pelewat-
rendah. Lukislah tanggapan frekuensinya.
Jawab
Dengan mengikuti Contoh 16.15, akan diperoleh tanggapan
amplitudonya yang berupa
1
H ( j ) 
1  RC 
2

dan tanggapan fasanya adalah


 ()  tan1 (RC )
beberapa titik kunci adalah:
di ω = 0
|H(jω)| = 1  ( )  0
1
di ω = = ωco
RC
1
|H(jω)| = = 0,707
2
di ω
π
|H(jω)|  0 (ω)  
2

211
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Lengkungan tanggapannya diberikan pada Gambar 6.34.

0,707

|H(j)|

0 co 

|()|


2

Gambar 6.34 Tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa rangkaian pada


Gambar 6.33

Berlawanan dengan Contoh 6.15, fungsi amplitudo tersebut terus


menurun dengan meningkatnya ω karena pembilangnya konstan
sedangkan penyebutnya meningkat dengan kenaikan frekuensi.
Tanggapan amplitudo tersebut mencapai nilai maksimum yang
sama seperti pada contoh sebelumnya, sebesar |H|max = 1, pada saat
ω = 0. Rangkaian tersebut melewatkan frekuensi rendah dan
menolak frekuensi tinggi.

|H(j)|
1

0,707

0 c1 0 c2 

Gambar 6.35 Tanggapan frekuensi penyaring penolak jalur

Seperti halnya dengan contoh sebelumnya, hanya terdapat satu titik potong,
dan titik potong itu, yang merupakan titik daya-setengah, terletak di ωco. Jadi,
jalur frekuensi yang dilewatkan adalah jalur frekuensi rendah: 0 ωωco.
Masih banyak lagi jenis penyaring selain yang diuraikan di atas. Di antaranya
adalah penyaring penolak jalur, yang melewatkan semua frekuensi kecuali

212
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

yang terletak dalam suatu jalur tertentu. Tanggapan amplitudonya adalah


seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.35. Frekuensi pusat jalur yang
ditolak itu adalah ω0 dengan lebar jalurnya B = ωc2 – ωc1.

6.8 Resonansi
Didefinisikan bahwa suatu jala-jala dengan rangsangan sinusoida mengalami
resonansi bila amplitudo fungsi jala-jala itu mencapai suatu nilai maksimum
atau minimum yang pasti. Frekuensi yang menimbulkan resonansi itu
dinamakan frekuensi resonansi.
I
+
R

V L

C

Gambar 6.36 Rangkaian RLC seri

Rangkaian RLC paralel, seperti yang pada Gambar 6.29, berada dalam
1
keadaan resonansi bila frekuensi jala-jalanya adalah ω0 = . Kenyataan
LC
ini telah diperlihatkan pada Bagian 6.6, yaitu bahwa amplitudo fungsi jala-
jalanya maksimum untuk ω0. Tanggapan amplitudo yang diberikan oleh
Gambar 6.28 adalah khas dengan puncak yang relatif tinggi pada frekuensi
resonansinya. Rangkaian RLC paralel mempunyai arti penting sehingga
istilah resonansi paralel diberikan untuk keadaan resonansi tersebut.
Untuk suatu rangkaian RLC seri, seperti pada Gambar 6.36, yang dirangsang
oleh suatu sumber fasor tegangan V, dengan fasor arus I sebagai keluarannya,
maka
I ( j ) 1
H ( j )   Y ( j )  (6.39)
V ( j )  1 
R  jL  
 C 
dengan Y adalah admitansi masukan bila dilihat dari sumbernya. Karena
rangkaian seri dan paralel merupakan kembaran satu dengan yang lainnya,
1
maka resonansi seri terjadi pada saat ω0 = , yang menghasilkan suatu
CL

213
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

1
amplitudo maksimum sebesar G = . Dalam peristiwa resonansi tersebut
R
pengaruh unsur penyimpan tenaga dalam rangkaian saling menghapuskan
sehingga sumber tenaga yang dipasangkan merasakan rangkaian tersebut
seakan-akan terdiri unsur resistif murni.

vL
vR = iR

0 t

vC

Gambar 6.37 Bentuk gelombang arus dan tegangan pada rangkaian


dalam Gambar 3.36

Penjelasan fisik resonansi pada rangkaian RLC seri itu dapat diperoleh
dengan meninjau tegangan di antara unsur-unsurnya secara terinci. Jika arus
yang mengalir dalam rangkaian pada Gambar 6.36 itu adalah
i = Imcos(ω0t + )
maka didapatkan
vR = Ri = RImcos(ω0t + )
di
vL  L   0 LI m sin( 0t   )
dt
1 I
vC   idt  m sin( 0t   )
C  0C
Bentuk gelombang masing-masing tegangan itu diperlihatkan pada Gambar
6.37. di situ tampak bahwa fasa tegangan antara L mendahului i sebesar 90,
sedangkan antara C fasa tegangannya tertinggal 90 dari i. Karena itu,
1
tegangan antara L dan C berlawanan fasanya. Pada frekuensi ω0 = ,
LC
1
v 0L = , keduanya mempunyai amplitudo yang sama sehingga saling
 0C
menghapuskan; tegangan yang dipasangkan itu tepat diimbangi oleh
tegangan jatuh iR di antara resistansinya. Pada saat resonansi tersebut kedua
reaktansinya tidak menimbulkan pengaruh apa pun kepada aliran arus

214
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

sinusoida tak-teredam yang mengalir di dalamnya meskipun terdapat besar


tenaga yang tersimpan dalam induktor dan kapasitor itu. Karena arus yang
mengalir dalam ketiga unsur itu sama, besar tegangan di antara L adalah
0 L  L
ω0LIm, atau kali tegangan di antara resistansinya. Perbandingan 0
R R
ini disebut Q0, atau faktor mutu rangkaian seri tersebut. Pada saat resonansi,
baik L maupun C mempunyai tegangan yang besarnya Q0 kali tegangan yang
diberikan. Dikatakan bahwa terdapat kenaikan tegangan resonansi pada
induktor dan kapasitor tersebut.
Perlu diperhatikan bahwa faktor mutu di atas,
0 L
Q0  (6.40)
R
adalah untuk rangkaian seri; sedangkan untuk rangkaian paralel, sesuai
dengan prinsip kembaran,
 0C
Q0 p  (6.41)
G
yang dapat dibuktikan merupakan kebalikan faktor mutu untuk rangkaian
seri.

i
+
R
v1
 + L
V v2 C

Gambar 6.38 Rangkaian untuk Contoh 6.17

Contoh 6.17
Gambar 6.38 memperlihatkan suatu rangkaian RLC seri dengan
rangsangan berupa dua sumber tegangan yang frekuensinya
berlainan. Kedua rangsangan tersebut dikenakan sekaligus.
Tegangan masing-masing sumber itu adalah v1 = cos 2t,dan v2 = cos
3t. Besar masing-masing unsurnya adalah R = 1 Ω , L = 5 H, dan C
= 0,05 F. Tentukan berapa tegangan keluaran v3.
Jawab
Frekuensi sudut resonansi rangkaian seri ini adalah

215
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

1 1
0    2 rads–1
LC 5  0,05
yang kebetulan sama dengan frekuensi sudut sumber pertama.
Tegangan keluaran v3 adalah
v3 = Ri
Sesuai dengan teorema superposisi, v3 merupakan perpaduan
pengaruh masing-masing sumber tegangan secara terpisah. Dengan
memandang V1 sebagai satu-satunya sumber tunggal, akan
didapatkan
 1   1 
Z1  R  jL    1  j 2  5    1
 C   2  0,05 
sehingga komponen arus karena rangsangan V1 adalah
V1
I1   V1
Z1
atau
i1 = v1 = cos 2t A dan v31 = i1R = cos 2t V
Begitu pula, dengan V2 sebagai satu-satunya sumber tunggal, akan
diperoleh
 1 
I 2  1  j 3  5    1  j8,33 Ω
 3  0,05 
sehingga
V2
I2  = 0,119/–83,2º
Z2
atau
i2 = 0,119 cos(3t – 83,2º) A
Tegangan v3 karena v2 adalah
v32 = i2R = 0,119 cos(3t – 83,2º) V
Tampak bahwa meskipun besar v1 dan v2 sama-sama sebesar 1 volt,
tanggapan v3 terhadap v2 hanyalah 11,9% dari tanggapannya
terhadap v1. Sifat pemilih itulah yang membuat rangkaian resonansi
tersebut menjadi sangat penting.

216
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

Soal-soal
6.1. Tentukan nilai i(t) pada rangkaian dalam Gambar 6.39.

0,5 H 1H

i(t)
2H
+ +
v(t) = 4 cos(t + 15o) V v1(t) 0,5 F
- -
1F

Gambar 6.39 Rangkaian untuk Soal 6.1, 6.2, 6.3, dan 6.4

6.2. Untuk rangkaian pada Gambar 6.39, tentukan nilai v1 dengan


menggunakan metode tegangan simpul.
6.3. Ulangi Soal 6.2 dengan menggunakan metode arus mata jala dan
bandingkan hasilnya dengan yang diperoleh pada Soal 6.2.
6.4. Ulangi Soal 6.12 dengan menggunakan teorema Thévenin dan
bandingkan hasilnya.
6.5. Dengan metode tegangan simpul, tentukan berapa arus yang mengalir
dalam resistor 8 Ω pada rangkaian dari Gambar 6.40.
6.6. Ulangi Soal 6.4 dengan menggunakan metode arus mata jala.
6.7. Ulangi Soal 6.4 dengan menggunakan metode Thévenin.

4 2
a

+
v(t) = 220/0o 8 j12 
-
b
Gambar 6.40 Rangkaian untuk Soal 6.5, 6.6, dan 6.7

6.8. Suatu jala-jala kutub-dua mempunyai fungsi impedansi


1
Z (s)  . Jika suatu tegangan sebesar v = t2 + 3 cosh 2t V
2s  3

217
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

dikenakan pada jala-jala itu, tentukanlah arus yang mengalir.


Bagaimanakah bentuk rangkaian dengan fungsi impedansi tersebut?
6.9. Untuk suatu jala-jala kutub-dua dengan fungsi
s
impedansi Z ( s)  , tentukanlah persamaan diferensial yang
s 2
2

menghubungkan tegangan dan arusnya.


6.10. Untuk rangkaian pada Gambar 6.41, tentukanlah fungsi impedansi
dan persamaan diferensial yang menghubungkan tegangan dan
arusnya.
6.11. Untuk rangkaian Gambar 6.42, tentukanlah:
a. Fungsi pemindah tegangannya,
b. Fungsi pemindah arusnya,
c. Impedansi pemindahnya,
d. Admitansi pemindahnya.
6.12. Apa gunanya menguraikan suatu sinyal menjadi deret Fourier dalam
analisis rangkaian listrik? Jelaskan dan berikan contoh
penggunaannya.

i R
+

v C L

-
Gambar 6.41 Rangkaian untuk Soal 6.13

6.13. Gambar 6.43 menunjukkan gelombang sinusoida yang disearahkan


setengah gelombang. Deret Fourier untuk gelombang tersebut adalah
n
1
1 1 2 2 2(1) 2
f (t )   cos 2πt  cos 4πt  cos 8πt    cos 2nπt  
π 2 1 3  π 3 5 π (n  1)(n  1) π
dengan n adalah bilangan bulat genap. Gambarlah bentuk
gelombangnya dengan program komputer yang Anda ketahui untuk n
= 60 dan –0,5 ≤ t ≤ 1,5 s. Bandingkan hasilnya dengan Gambar 6.43
itu.
6.14. Tentukan tanggapan frekuensi untuk rangkaian pada Gambar 6.42
dengan mengandaikan bahwa f(t) adalah masukan dan r(t) adalah

218
Bab 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-balik

keluarannya. Gambarlah tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa


untuk Soal 6.17.
6.15. Andaikan suatu sinyal masukan
v1(t) = 5 cos 500t + 5 cos 1000t + 5 cos 2000t
diberikan ke penyaring pelewat rendah pada Gambar 6.33 dengan R
= 330 Ω dan C = 1 µF, tentukan tanggapan amplitudo dan tanggapan
fasanya.
6.16. Jelaskan beberapa penggunaan praktis filter yang Anda ketahui.

f(t)

t
0 0,5 1,0 s

Gambar 6.43 Bentuk gelombang sinusoida yang disearahkan setengah


gelombang untuk Soal 6.16

6.17. Apakah semua resonansi bersifat merugikan? Berilah contoh


resonansi yang diinginkan dan resonansi yang harus dihindari.

R
+ +

f(t) C L r(t)

- -
Gambar 6.42 Rangkaian untuk Soal 6.14 dan 6.17

219
Bab 7 Gejala Sentara

ika suatu sumber tegangan dengan secara tiba-tiba dikenakan ke suatu

J rangkaian, misalnya dengan menutup saklar, atau sebaliknya dari suatu


rangkaian yang terhubung dengan sumber tiba-tiba dilepaskan dari
sumbernya, maka semua teori yang telah dibahas terdahulu tidak dapat
menerangkan apa yang terjadi. Selama ini diandaikan bahwa suatu tanggapan
terjadi karena adanya rangsangan pemaksa yang telah ada jauh sebelumnya
dan rangkaian itu telah ‘membereskan’ tanggapannya terhadap pengaruh
awal pada saat sumber dipasangkan. Begitu pula yang dibahas hanyalah
penyelesaian dalam keadaan mantap(steady state). Telah diperlihatkan
bahwa penyelesaiannya selalu memenuhi persamaan diferensial yang
mendefinisikannya tetapi, secara umum, bukan merupakan penyelesaian yang
berlaku untuk seluruh kawasan waktu.
Secara umum, perilaku suatu rangkaian listrik atau sistem fisik lainnya dapat
diuraikan menurut suatu persamaan integrodiferensial. Dalam rangkaian
listrik, persamaan yang menguasainya itu dapat diperoleh dengan
menerapkan hukum yang didapatkan dari berbagai hasil percobaan dengan
unsur rangkaian dan kombinasi unsur tersebut dengan memperhitungkan pula
sumber tenaga luar dan dalam.
Pada saat suatu rangkaian listrik dipasangkan pada sumber, kapasitor dan
induktor dalam rangkaian itu tidak akan secara mendadak menyimpan tenaga,
diperlukan waktu untuk mengisinya. Demikian pula sebaliknya, pada saat
sumber dilepaskan dari rangkaiannya, diperlukan waktu untuk melepaskan
tenaga yang tersimpan dalam kapasitor dan induktor yang ada dalam
rangkaian tersebut.
Dalam bab ini akan ditinjau pengaruh yang terjadi pada saat awal suatu
rangkaian diberi rangsangan dan hubungan pengaruh tersebut dengan
tanggapan terpaksa dan tanggapan alamiah. Tanggapan alamiah adalah
tanggapan yang terjadi bila sumber yang memaksanya tidak ada dan
sepenuhnya bergantung kepada unsur-unsur rangkaian pasif yang ada dalam
rangkaian itu. Akan dijumpai nanti bahwa tanggapan selama selang waktu
peralihan yang cepat, atau dikenal sebagai masa sentara (transient), begitu
suatu saklar ditutup, akan sangat berbeda dengan tanggapan yang terjadi
beberapa saat setelah saklar itu ditutup. Pembahasan mengenai tanggapan
seperti ini sering dikenal sebagai analisis kawasan waktu.
Setelah menyelesaikan bab ini, pembaca diharapkan dapat
 memahami gejala sentara;
 mengenal persamaan sistem orde satu dan orde dua;
Bab 7 Gejala Sentara

 mengenal tanggapan alamiah;


 mengenal sentara pada resonansi;
 mengenal keadaan awal dalam rangkaian.

7.1 Persamaan Sistem Orde Satu


Contoh pengaruh sentara yang paling sederhana adalah yang terjadi dalam
suatu rangkaian RL seri yang dihubungkan ke suatu sumber tegangan searah
dengan menutup saklar pada suatu saat tertentu yang dinamakan t = 0, seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 7.1. Sebelum t = 0, tidak ada arus yang
mengalir dalam rangkaian tersebut karena rangkaian itu dalam keadaan
terbuka.
i
V
R

0 t

Gambar 7.1 Arus sentara

Dalam bagian ini diperkenalkan suatu notasi untuk membedakan dua keadaan
dari rangkaian ini. Dalam waktu acuan, t = 0, satu atau lebih saklar bekerja.
Diandaikan saklar itu bekerja dengan selang waktu sama dengan nol. Untuk
membedakan antara waktu tepat sebelum saklar itu bekerja dan segera
sesudahnya digunakan tanda – dan + . Jadi, waktu pada saat tepat sebelum
saklar itu bekerja ditunjukkan sebagai t = 0– dan segera setelah saklar itu
bekerja sebagai t = 0+.

R
t=0
+
V L

Gambar 7.2 Rangkaian sentara RL seri

Setelah saklar itu ditutup, arus akan mengalir dengan suatu kecepatan yang
ditentukan oleh V dan nilai induktansinya. Arus tersebut tidak akan dapat

222
Bab 7 Gejala Sentara

V
melampaui nilai sehingga arus batas ini hanyalah didekati secara asimtotis
R
V
seperti ditunjukkan oleh Gambar 7.2. Arus batas itu adalah arus yang
R
mengalir bila sumbernya selalu terpasang dan disebut arus keadaan mantap.
Selang waktu setelah saklar ditutup kemudian arus mengatur dirinya untuk
mencapai keadaan mantap disebut masa sentara. Definisi sentara yang pasti
tidaklah jelas karena arus tersebut tidak pernah mencapai nilai asimtotnya.
Tetapi keadaan sentara ini dapat dipandang berakhir bila selisih antara arus
sebenarnya dengan nilai asimtotnya dapat diabaikan.

i
V
R

0 Masa sentara Keadaan mantap


t
Gambar 7.3 Tanggapan lengkap untuk rangkaian pada Gambar 7.1

Tanggapan lengkap rangkaian terhadap rangsangan yang dikenakan secara


tiba-tiba dapat dibagi menjadi dua bagian. Tanggapan terpaksa adalah
komponen yang dihasilkan karena rangsangan dari luar dan tanggapan
alamiah merupakan komponen yang diperlukan untuk menghubungkan
keadaan awal sebelum rangkaian itu diberi rangsangan luar sampai tanggapan
akhir yang disebabkan oleh rangsangan tersebut. Secara umum, tanggapan
terpaksa itu mempunyai bentuk yang ditentukan oleh sifat rangsangan, dan
besarnya ditentukan oleh kekuatan rangsangan dan parameter rangkaian
tersebut. Tanggapan alamiah mempunyai bentuk yang hampir seluruhnya
ditentukan oleh sifat rangkaian, dan besarnya ditentukan oleh derajat
ketidaksesuaian antara keadaan sebelum dan sesudah mendapat rangsangan.
Gambar 7.3 menunjukkan tanggapan lengkap yang terdiri atas tanggapan
terpaksa dan tanggapan alamiah untuk rangkaian RL seri yang diberikan pada
Gambar 7.1. Masa sentara adalah waktu penyesuaian yang diperlukan
rangkaian untuk berubah dari keadaan mantap sebelumnya sampai keadaan
mantap berikutnya.
Dalam beberapa hal, penyelesaian keadaan mantap sudah cukup memuaskan
karena masa sentara jauh lebih singkat dibandingkan terhadap selang waktu
lainnya sehingga masa sentara dapat diabaikan. Tetapi untuk hal-hal yang

223
Bab 7 Gejala Sentara

lain masa sentara perlu diperhitungkan karena suatu fungsi pemaksa dengan
selang waktu yang pendek memerlukan tanggapan lengkap yang terdiri atas
tanggapan alamiah dan tanggapan terpaksa.
Untuk rangkaian RL seri pada Gambar 7.1, persamaan diferensialnya untuk
t> 0 pada saat sumber tegangan searah itu terpasang adalah
di
V  Ri  L (7.1)
dt
Dari persamaan ini tampak bahwa segera setelah saklar ditutup, sebelum i
menunjukkan nilai yang teramati, tegangan jatuh Ri dalam R sama dengan
nol; mula-mula semua tegangan yang dikenakan itu tersedia untuk
di V
mengakibatkan kenaikan arus  dalam induktansi itu. Oleh karena itu,
dt L
arus mulai meningkat dengan kecepatan tersebut, sesuai dengan yang
ditunjukkan oleh Gambar 7.2. Segera setelah arus meningkat, tegangan jatuh
Ri dalam resistansi itu mulai terasa sehingga tegangan yang tersedia untuk
meningkatkan arus dalam induktansi itu menurun menjadi (V – Ri) dan
di V  Ri

dt L
Jadi, pada saat arus itu meningkat, kecepatan penambahannya berkurang.
V
Arus tersebut tidak akan dapat terus meningkat melebihi nilai karena
R
resistor akan menyerap semua tenaga yang diberikan, sehingga tidak ada arus
yang tersisa untuk mencatu induktor tersebut.
Untuk rangkaian sederhana itu, arusnya dapat dicari dengan memecahkan
persamaan diferensialnya. Persamaan ini disebut persamaan diferensial orde
satu, karena derajat tertinggi turunannya adalah satu. Mula-mula Persamaan
(7.1) diatur kembali sehingga terbentuk
di
V  Ri  L
dt
kemudian dipisahkan suku-suku i dan tnya,
Ldi
 dt
V  Ri
Dengan mengintegrasikan kedua ruas tersebut didapatkan
L di
V  1 R i 
 dt

V
yang memberikan

224
Bab 7 Gejala Sentara

L  R 
 ln 1  i   t  konstanta
V  V 
Dari persamaan di atas didapatkan
V  t  konstanta 
R
i  1  e L 

R 
Konstantanya tertentukan dengan mengetahui keadaan awal rangkaian.
Dalam hal ini, pada saat t = 0+, diketahui arus masih tetap sama dengan nol.
Jadi
V
0 (1  e 0konstanta)
R
sehingga konstantanya harus sama dengan nol. Dengan demikian, bentuk
akhir pernyataan arus adalah
V  t 
R
i  1  e L  (7.2)
R 
Penyelesaian persamaan diferensial secara langsung seperti di atas hanyalah
dapat dikerjakan dengan mudah untuk sistem yang sederhana. Oleh karena
itu, perlu dicari pendekatan yang lebih umum namun sederhana. Dengan
mengamati Persamaan (7.2), tampak bahwa penyelesaiannya terdiri dari dua
V
suku. Yang pertama, adalah arus terpaksa yang timbul bila saklar selalu
R
dalam keadaan tertutup. Jika tegangan sumber dipandang sebagai suatu
tegangan eksponensial Vest dengan s = 0, komponen terpaksa arus
tanggapannya adalah
Ve st
iF  (7.3)
R  sL
Dengan s = 0 karena sumber konstan dengan sendirinya akan menghasilkan
V
iF 
R
Suatu rangsangan eksponensial memang akan selalu menghasilkan tanggapan
eksponensial pula. Dalam hal ini, tegangan terpaksa tersebut menghasilkan
tanggapan berupa arus
V
iF  (7.4)
Z
meskipun rangsangan itu baru saja dipasangkan. Sebelum saklar ditutup tentu
saja tidak ada arus yang mengalir. Kembali, dengan mengamati Persamaan

225
Bab 7 Gejala Sentara

R
 t
L
(7.2), tampak bahwa suku kedua arus berbentuk I 0 e , dengan I0 sama
V
dengan . Suku tersebut merupakan tanggapan alamiah rangkaian.
R
Komponen arus semacam itu dapat mengalir tanpa memerlukan tegangan luar
yang dipasangkan ke rangkaian tersebut.

+
v (s) = 0 Z(s) sL

Gambar 7.4 Perhitungan nol rangkaian RL seri

Dengan mengamati Persamaan (7.3), tanggapan alamiah itu dapat dihitung


dengan membuat rangsangan pada rangkaian itu sama dengan nol, atau
Ve sN t
iN 
R  sN L
iN(R + sNL) = Ve sN t (7.5)
dengan membuat sumber di ruas kanan sama dengan nol, maka ruas kiri
Persamaan (7.5) itu juga bernilai nol, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar
7.4. Tetapi, karena arus alamiah harus mengalir (iN ≠ 0), maka
R + sN L = 0 (7.6)
Atau
R
sN   (7.7)
L
Persamaan (7.6) dapat dituliskan sebagai
Z(sN) = 0 (7.8)
dan Z(sN) itu adalah impedansi dilihat dari arah sumber yang nilainya dibuat
sama dengan nol, sehingga dapat diperoleh nilai sN yang merupakan
frekuensi alamiah rangkaian itu. Nilai itu dikatakan juga sebagai nol fungsi
impedansi tersebut. Dalam hal ini hanya terdapat satu nol, sehingga
rangkaian itu dikatakan mempunyai persamaan sistem orde satu.
Arus tanggapan alamiah rangkaian itu adalah

226
Bab 7 Gejala Sentara

R
V  Lt
iN  e (7.9)
R
Menurut prinsip superposisi, arus keseluruhan dalam rangkaian merupakan
gabungan kedua komponen tersebut. Yang satunya sebagai akibat tegangan
pemaksa dan yang lain karena suatu tegangan terpasang yang besarnya sama
dengan nol, atau tepatnya karena suatu tegangan yang berhubungan dengan
perubahan tenaga tersimpan dalam rangkaian tersebut. Secara umum, arus
keseluruhan itu dapat ditulis sebagai
iT = iF + iN (7.10)
dengan iF adalah komponen arus terpaksa karena tegangan terpasang
eksponensial dan iN adalah komponen arus tanggapan alamiah. Karena
komponen arus tanggapan alamiah selalu berupa suatu fungsi yang teredam
dan muncul hanya sementara, arus keadaan mantapnya akan sama dengan
arus terpaksa tersebut. Masa sentara adalah masa selama tanggapan alamiah
masih berperan dalam tanggapan rangkaian tersebut.
Tampak bahwa secara fisik arus dalam rangkaian hanya dapat meningkat
secara bertahap. Ada perbedaan nilai antara arus yang sebenarnya dapat
mengalir segera setelah saklar ditutup dengan arus karena tegangan pemaksa
yang mengalir dalam rangkaian. Perbedaan ini hanya dapat diatasi oleh
komponen arus tanggapan alamiah karena tidak ada komponen tegangan luar
lain yang tersedia untuk mengatasi perbedaan tersebut. Pada sejumlah contoh
mengenai arus tanggapan alamiah dalam bab sebelum ini, rangkaian
bersangkutan mengatur dirinya dari suatu keadaan awal bertenaga menjadi
keadaan tanpa menyimpan tenaga. Dalam pembahasan di atas, arus
tanggapan alamiah memungkinkan rangkaian berawal dari keadaan tanpa
tenaga mencapai kesetimbangan bertenaga, atau keadaan mantap. Jadi, arus
tanggapan alamiah adalah arus pengatur yang mengalir bila tenaga yang
tersimpan dalam rangkaian terlalu rendah atau terlalu tinggi dibandingkan
terhadap karakteristik nilai arus terpaksanya.

R
t=0
+
v C

Gambar 7.5 Rangkaian untuk Contoh 7.1

227
Bab 7 Gejala Sentara

Contoh 7.1
Dalam rangkaian pada Gambar 7.5, v = 240e5t V, R = 10 ,
C = 0,01 F dan VC = –60 V pada saat t< 0. Saklar ditutup pada t = 0.
Tentukan arus tanggapan lengkap rangkaian tersebut.
Jawab
Arus tanggapan lengkap untuk t> 0 dapat ditulis sesuai dengan
Persamaan (7.4) sebagai

iT = iF + iN
Besar arus terpaksanya, menurut Persamaan (7.3) adalah
v v 240e5t
iF     8e5t A
Z R  1 10  20
sC
Arus tanggapan alamiahnya adalah
t

iN  I 0 e RC
 I 0e 10t A
Sehingga tanggapan lengkap rangkaian ini adalah
iT  8e5t  I 0e 10t A (7.11)

i
60

30 iT = iF + iN
22 iN

8 iF
0
t
Gambar 7.6 Lengkungan arus tanggapan lengkap dan komponennya
untuk Contoh 7.1

Untuk mendapatkan konstanta I0 perlu diketahui berapa iT pada saat


t = 0. Nilai iT tersebut diperoleh dengan memperhatikan bahwa
tegangan awal sebesar –60 V pada kapasitor tidak dapat secara
mendadak berubah pada saat saklar ditutup; R membatasi kecepatan
perpindahan muatan dari kapasitor tersebut. Oleh karena itu, pada

228
Bab 7 Gejala Sentara

saat t = 0+, tegangan antara R adalah 240 – (–60) = 300 V; arus


awalnya adalah
V  VC 300
  30 A.
R 10
Dengan memasukkan iT = 30A dan t = 0 ke Persamaan (7.11),
diperoleh
30 = 8e0 + I0e0 atau I0 = 22 A
Arus keseluruhan pada Persamaan (7.5) itu menjadi
iT = 8e5t + 22e–10t A
Lengkungan pada Gambar 7.6 menunjukkan arus keseluruhan dan
kedua komponennya. Dalam hal ini, kutub tegangan awal pada
kapasitor adalah sedemikian hingga memberikan tambahan arus
yang mengalir dalam rangkaian tersebut. Arus tanggapan alamiah
merupakan komponen arus karena membocornya muatan dalam
kapasitor yang menambah aliran komponen terpaksa yang
diharapkan.

vC
1200

vCF
160 vCT = vCF + vCN
0
220 vCN t

Gambar 7.7 Tegangan pada kapasitor pada Contoh 7.1

Pengertian lebih lanjut mengenai gejala sentara ini dapat diperjelas dengan
melukiskan variasi tegangan pada kapasitor, dalam contoh di atas, terhadap
waktu. Sebelum saklar ditutup, vC adalah –60 V. Tegangan VC setelah itu
dapat diperoleh dari persamaan
1
C
vC  idt  VC

Dengan menggunakan iT sebagai arus yang mengalir dan mengingat bahwa


C = 0,01 F, didapatkan
t

 
vC  100 8e5t  22e 10t dt  60  160e5t  220e 10t V.
0

229
Bab 7 Gejala Sentara

Dengan melukiskan vC terhadap waktu akan didapatkan suatu lengkungan


seperti yang diperlihatkan pada Gambar 7.7.
Tampak bahwa tegangan sebesar 160e5t V adalah tegangan yang terdapat di
antara kapasitor bila tegangan pemaksanya selalu terpasang dalam rangkaian
pada Gambar 7.5. Tegangan –220e–10t V adalah selisih antara tegangan yang
sebenarnya pada kapasitor dengan yang ditimbulkan oleh arus terpaksanya.
Arus tanggapan alamiah tersebut dapat dipandang sebagai arus pengosongan
kelebihan tegangan negatif yang dimiliki kapasitor untuk disalurkan melalui
rangkaian, sehingga tertinggal suatu tegangan positif yang sesuai pada
kapasitor. Terbukti bahwa jika tegangan kapasitor adalah +160 V pada saat
t = 0+, tidak akan ada kelebihan muatan sehingga tidak akan terdapat
komponen arus tanggapan alamiah dalam rangkaian tersebut I0 akan sama
dengan nol. Jika VC lebih besar daripada 160 V, arus tanggapan alamiahnya
akan mengalir dengan arah yang berlawanan, dan vC akan turun menuju
160e5t, nilai pemaksanya.

t=0 R

+

v L
  5V
+

Gambar 7.8 Rangkaian untuk Contoh 7.2

Contoh 7.2
Dalam rangkaian pada Gambar 7.8 diketahui bahwa
v = 10 cos(10t + 45) V
R = 10 Ω
L = 1 H.
Pada saat t< 0 saklar menghubungkan rangkaian RL seri itu dengan
sumber arus searah sebesar 5 V. Pada saat t = 0 saklar dipindahkan
dan rangkaian seri itu terhubung ke sumber tegangan v. Tentukan
arusnya sebagai fungsi waktu.
Jawab
Untuk t< 0 diandaikan bahwa sumber searah telah lama terpasang
sehingga arus yang mengalir dalam rangkaian tersebut telah
mencapai keadaan mantap dengan nilai
V 5
  0,5 A
R 10

230
Bab 7 Gejala Sentara

Arus tersebut merupakan arus awal dalam induktansi hingga saklar


dipindahkan. Arus keseluruhan untuk t> 0 dapat ditulis sebagai
iT = iF + iN

77
iF

0 t

iN
iT = iF + iN
7

Gambar 7.9 Arus tanggapan lengkap untuk rangkaian pada Contoh 7.2

Arus terpaksa ini akan dicari dengan menggunakan metode fasor.


Di sini v diwakili oleh fasor V = 10/45, dan impedansi R + sL oleh
10 + j10 = 10 2 /45. Fasor arus yang diperoleh adalah
V 1
I  / 0 A
Z 2
Bila dikembalikan ke bentuk fungsi waktu, arus terpaksanya adalah
iF = 0,707 cos 10t A
Karena fungsi impedansi mempunyai nol di s = –10, maka fungsi
tanggapan alamiahnya adalah
iN = I0e–10t A
Jadi, untuk t 0, arus tanggapan lengkapnya dapat ditulis sebagai
iT = 0,707cos 10t + I0e–10t A
Telah didapatkan bahwa pada saat t = 0+ arus awalnya adalah –0,5
A; jadi
–0,5 = 0,707 + I0
atau I0 sama dengan –1,207 A, sehingga arus tanggapan lengkapnya
untuk t 0 adalah
iT = 0,707cos 10t- 1,207e–10t A.

231
Bab 7 Gejala Sentara

Grafiknya dilukiskan pada Gambar 7.9. Dari grafik ini tampak


bahwa penambahan arus tanggapan alamiah ke arus terpaksanya
adalah sedemikian hingga arus dalam induktor berubah secara
sinambung pada saat saklar dipindahkan.
Dari Contoh 7.1 dan 7.2 itu tampak bahwa tanggapan lengkap selalu menuju
ke arah tanggapan terpaksanya.

7.2 Persamaan Sistem Orde Dua


Dalam rangkaian yang lebih rumit pun arus keseluruhan masih tetap dapat
ditulis sebagai hasil penjumlahan antara komponen terpaksa dan alamiahnya,
iT = iF + iN. Tetapi, jika pernyataan impedansinya memberikan lebih dari satu
nol, arus tanggapan alamiahnya akan memerlukan konstanta sebanyak jumlah
nol itu. Suatu rangkaian RLC seri seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7.10
memberikan persamaan integrodiferensial
di(t ) 1
v(t )  Ri (t )  L   i(t )dt (7.12)
dt C

i R
t=0
+
v L
 C

Gambar 7.10 Rangkaian RLC seri

Bila v(t) berupa fungsi eksponensial, maka demikian pula i(t), sehingga
Persamaan (7.12) itu dapat dituliskan sebagai
 1 
V ( s)   R  sL   I ( s) (7.13)
 sC 
dan
R 1
s2  s 
1 L LC
Z ( s)  R  sL   (7.14)
sC sLC
Jika koefisien redaman, α didefinisikan sebagai

232
Bab 7 Gejala Sentara

R
 (7.15)
2L
dan frekuensi resonansi tak-teredam, ω0, didefinisikan sebagai
1
0  (7.16)
LC
maka, untuk Z(s) = 0, dengan mengacu kepada dapat dituliskan
Z (s)  s 2  2s  02  0 (7.17)
dan dikenal sebagai persamaan karakteristik rangkaian itu.
Didefinisikan suatu perbandingan redaman, ζ, sebagai

  (7.18)
0
sehingga bentuk penyelesaian persamaan karakteristik itu akan bergantung
kepada nilai perbandingan redaman.
Nol-nol persamaan karakteristik itu diberikan oleh
z1, 2     2  02 (7.19)
Akan terdapat tiga kasus bergantung kepada nilai ζ:
2
1. Kasus sangat teredam. Jika ζ> 1, atau  R   1 , akan
 2L  LC
mempunyai dua nol. Jadi, dalam suku nol z1 dan z2, arus tanggapan
lengkapnya adalah
iT  iF  I1e z1t  I 2e z2t (7.20)
dengan I1 dan I2 adalah dua konstanta yang harus ditentukan, dan
rangkaiannya dikatakan sangat teredam.
2
2. Kasus kurang teredam. Jika ζ< 1, atau 
R  1
  , rangkaian itu
 2L  LC
dikatakan kurang teredam dan akan memberikan dua akar kompleks
dalam bentuk
z1, 2    jn
(7.22)
dengan j   1 dan ωn adalah frekuensi alamiah yang
didefinisikan sebagai
n  02   2 (7.23)

233
Bab 7 Gejala Sentara

dan arus tanggapan lengkapnya dapat ditulis sebagai


iT = iF + I0e–ωtcos (nt + ) (7.22)
dengan I0 dan  adalah dua konstanta yang harus ditentukan.
2
3. Kasus teredam kritis. Jika ζ = 1, atau  R   1 , dan
 2L  LC
memberikan
iT  iF  ( A  Bt )e z1t (7.23)
dengan A dan B adalah dua konstanta yang belum diketahui dan
rangkaian tersebut dikatakan dalam keadaan teredam kritis.
Bentuk tanggapannya masing-masing sebagai fungsi waktu ditunjukkan pada
Gambar 7.11.

f(t) f(t)
f(t)

0 t 0 t 0 t

(a) Sangat teredam (b) Kurang teredam (c) Teredam kritis

Gambar 7.11 Bentuk tanggapan menurut fungsi waktu

Penentuan konstanta-konstanta yang belum diketahui itu tidak cukup hanya


dengan mengetahui nilai iT pada t = 0 saja, tetapi diperlukan pula suatu
keadaan awal lain. Besaran awal kedua itu biasanya berupa kecepatan
di
perubahan iT, , pada saat t = 0.
dt
Rangkaian dengan dua nol tersebut dikenal sebagai sistem orde dua. Untuk
rangkaian dengan n buah nol, sistem orde n, dengan n konstanta yang harus
ditentukan dalam tanggapan alamiahnya dan mengandung paling sedikit n
unsur penyimpan tenaga dalam rangkaiannya.
Keadaan awal rangkaian itu diturunkan dari arus awal dalam induktornya
dan/atau tegangan awal pada kapasitornya.

Contoh 7.3
Dalam rangkaian pada Gambar 7.10 dengan R = 10 Ω, L = 1 H dan
1
C= F, tentukan arus tanggapan lengkapnya untuk t> 0 karena
9

234
Bab 7 Gejala Sentara

rangsangan v = 2et V. Saklarnya ditutup pada saat t = 0, dan pada


saat itu iL = 0,1 A dan vC = 1 V.
Jawab
Impedansi rangkaian dipandang dari sisi kiri saklar untuk s = 1
adalah
1
Z  R  sL   10  1  9  20 
sC
sehingga didapatkan
iF = 0,1et A
Nol rangkaian RLC seri ini ditentukan dari syarat Z(s) = 0, yang
merupakan persamaan karakteristik rangkaian itu, dan
pemecahannya memberikan
2
R  R  1
z1, 2      
2L  2 L  LC
(7.24)
z1,2 =54
atau
z1 = 9 dan z2 = –1
Karena itu,
iN = I1e–9t + I2e–t A
dan arus tanggapan lengkapnya menjadi
iT = 0,1et + I1e–9t + I2e–t A
(7.25)
Jika arus didiferensiasikan, diperoleh
d
iT  0,1et  9 I1e 9t  I 2 e t (7.26)
dt
Pada saat segera setelah saklar ditutup, arus yang mengalir pada
t = 0+ adalah 0,1 A dan tegangan pada kapasitornya adalah 1 V.
Menurut hukum Kirchhoff untuk tegangan pada saat itu
di
v  Ri  L  vC
dt
Pada saat t = 0+ itu v = 2 V di samping i = 0,1 A dan vC = 1 V. Jadi
di
2 = 10 × 0,1 + 1 +1
dt

235
Bab 7 Gejala Sentara

sehingga didapatkan
di
0
dt t 0
di
Jadi, nilai awal untuk adalah nol. Dengan memasukkan nilai
dt
di
i = 0,1 A ke Persamaan (7.11) untuk t = 0+ dan nilai = 0 ke
dt
Persamaan (7.12) untuk t = 0+, memberikan
0,1 = 0,1 + I1 + I2
0 = 0,1 – 9I1 – I2
sehingga didapatkan
I1 = 0,0125 A dan I2 = –0,0125 A
Maka
iT = 0,1et + 0,0125(e–9t – e–t) A

vC
vCF vCT = vCF + vCN
12

1
0
vCN t

11

Gambar 7.12 Bentuk gelombang tanggapan rangkaian pada Contoh 7.4

Contoh 7.4
Dalam rangkaian pada Gambar 7.10 diketahui bahwa R = 2 ,
L = 1 H dan C = 0,25 F. Tentukan tegangan di antara
kapasitansinya bila v = 12 V. Andaikan keadaan awalnya sama
seperti yang diberikan pada Contoh 7.3.
Jawab
Impedansi rangkaian ini untuk s = 0 adalah

236
Bab 7 Gejala Sentara

1
Z  R  sL  
LC
sehingga tidak ada arus yang mengalir dalam rangkaian tersebut.
Jadi diperlukan cara lain untuk menentukan vC.
Menurut teorema pembagi tegangan.
1
sC 1
vCF  v v
R  sL 
1 s LC  sRC  1
2

sC
Untuk s = 0,
vCF = v = 12 V
Nol rangkaian RLC seri ini, menurut Persamaan (7.24) adalah
z1, 2  1  j 3
Jadi, arus tanggapan alamiah yang diperoleh berbentuk
iN = I0e–tcos(nt + )
dengan σ = 1 dan n = 3 sehingga
iN  I 0e t cos(t 3   ) A
Karena itu
iN I
vCN   0 e t cos(t 3   ) V
sC sC
Dalam hal ini, nilai s tidaklah perlu dipersoalkan karena merupakan
I0
suatu konstanta, dan boleh diandaikan sama dengan A, suatu
sC
konstanta yang nilainya harus ditentukan berdasarkan keadaan
awalnya.
Tanggapan lengkap untuk tegangan di antara kapasitor menjadi
vC  vCF  vCN  12  Ae t cos(t 3   ) (7.27)
d
vC   Ae t cos(t 3   )  A 3e t sin(t 3   ) (7.28)
dt
Dengan mengingat bahwa hubungan volt-ampere pada kapasitor
adalah
1
C
vC  idt

237
Bab 7 Gejala Sentara

maka dengan mendiferensiasikannya sekali menghasilkan


d i
vC 
dt C
Untuk t = 0+ telah diketahui bahwa iL = 0,1 A, sehingga
d 0,1
vC   0,4
dt t 0  0,25
Dengan memasukkan kedua nilai awal yang telah ditentukan di atas
ke Persamaan (7.27) dan (7.28) didapatkan

1 = 12 + A cos 
0,4   A cos   A 3 sin 
yang darinya diperoleh

A = – 12,59 dan  = – 29,09


Jadi
vC  12  12,59et cos(t 3  29,09) V
Gambar 7.12 menunjukkan bentuk gelombangnya. Tampak pada
gambar itu adanya suatu osilasi sebelum vC mencapai nilai
mantapnya. Ini disebabkan karena selama masa sentara tersebut
terjadi suatu pertukaran tenaga di antara kedua unsur penyimpan
tenaga yang terdapat dalam rangkaian bersangkutan. Pertukaran
tenaga tersebut dapat terjadi bila redaman dalam rangkaian (dalam
hal ini diwakili oleh nilai resistansinya) lebih kecil dari suatu nilai
kritis yang ditentukan parameter rangkaian lainnya.

7.3 Sentara Pada Resonansi


Bila suatu rangsangan pemaksa yang dikenakan pada suatu rangkaian
berbentuk suatu fungsi eksponensial yang mengakibatkan impedansi
rangkaian sama dengan nol, maka metode yang dibahas di atas memerlukan
beberapa perubahan. Misalnya, rangkaian RL seri pada Gambar 7.1 diberi
R
rangsangan eksponensial v = Vest dengan s =  . Maka impedansi
L
rangkaian ini menjadi
Z(s) = R + sL = 0
dan komponen arus tanggapan terpaksanya menjadi

238
Bab 7 Gejala Sentara

R
 t R
Ve L  t
iF   e L
0
sehingga arus tanggapan lengkapnya
R R
 t  t
iT  iF  iN  e L
 I 0e L

Karena pada saat t = 0+, iT = 0, diperoleh


0 =  + I0
atau
I0 = –
Ternyata, baik komponen terpaksa maupun tanggapan alamiahnya bernilai
takhingga; arus tanggapan lengkapnya, yang merupakan selisih antara dua
komponen tersebut, tidak dapat ditentukan.
Untuk menentukan gejala sentara bila rangsangan pemaksanya mempunyai
bentuk sama seperti tanggapan alamiahnya – suatu keadaan yang dikenal
sebagai resonansi– haruslah digunakan proses limit yang serupa dengan
yang telah dilakukan untuk menentukan nol sistem orde dua. Andaikanlah
tegangan yang dipasangkan adalah v = V0est dengan s = s1 + s. Selanjutnya,
s dibuat mendekati nol sehingga s mendekati nilai s1 pada impedansi nol.
Tanggapan sentaranya dapat diperoleh dari proses limit tersebut.

s

s1 s 0

Gambar 7.13 Diagram tiang nol untuk sentara pada resonansi

Tinjau kembali rangkaian RL seri pada Gambar 7.1 dengan diagram tiang-nol
seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 7.13. Titik s bersesuaian dengan
tegangan yang dipasangkan. Jika s tidak sama dengan nol, maka
st
v V0 e
iF  
Z L( s  s1 )
dan
iN  Ae s1t
Arus tanggapan lengkapnya

239
Bab 7 Gejala Sentara

st
V e
iT  iF  in  0  Ae s1t
L s  s1
karena iT = 0 pada saat t = 0+ , didapatkan
V0
A
L( s  s1 )
sehingga
V0 e  e s1t
st

iT 
L s  s1
Dengan memasukkan s = s1 + s, menghasilkan
V0  e ( s1 s )t  e s1t 
iT   
L s 
Untuk limit s 0, pernyataan dalam tanda kurawal merupakan definisi
turunan
d s1t
s  te s1t
ds
Jadi,
R
V V  t
iT  0 te s1t  0 te L
L L
R
karena s1   . Meskipun komponen terpaksa maupun alamiah pada arus
L
tanggapan masing-masingnya telah diperlihatkan sama dengan takhingga,
selisihnya menghasilkan suatu tanggapan yang mula-mula meningkat secara
linear dari nol dan kemudian menyusut secara eksponensial.
Bila suatu tegangan sinusoida tiba-tiba dipasangkan ke suatu rangkaian LC
seri tanpa redaman, alur pikiran yang sama dapat diterapkan. Akan terjadi
tanggapan alamiah yang terdiri dari arus terpaksa dan arus alamiah yang juga
berbentuk sinusoida. Jika frekuensi kompleks s pada tanggapan pemaksanya
mendekati nilai nol rangkaian tersebut, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 7.14, baik tanggapan terpaksanya maupun tanggapan alamiahnya
menjadi takhingga. Selisih kedua tanggapan itu akan berbentuk t cos(nt + )
dan tanggapan lengkapnya dapat ditulis sebagai
iT = At cos(nt + ) (7.29)
dengan A dan  ditentukan dari keadaan awal dan tegangan pemaksanya.

240
Bab 7 Gejala Sentara

j
s
n

s 

n
s*

Gambar 7.14 Diagram tiang-nol untuk rangkaian orde dua dalam


keadaan resonansi

7.4 Sentara Rangkaian Terbuka


Dalam bagian lain sebelum ini telah dibahas gejala arus sentara yang
mengalir dalam impedansi bila suatu tegangan tiba-tiba dipasangkan. Sesuai
dengan prinsip kembaran, dapat diterapkan pula analogi lengkap untuk
persoalan tegangan sentara yang terjadi pada admitansi bila suatu arus tiba-
tiba disalurkan.

t=0
i R L

Gambar 7.15 Rangkaian sentara RL paralel

Gambar 7.14 memperlihatkan suatu rangkaian RL atau GL paralel yang


dihubungkan ke suatu sumber arus dan sebuah saklar tertutup. Karena
saklarnya tertutup, maka seluruh arus dari sumber akan mengalir melalui
saklar tersebut karena suatu saklar sempurna tidak mempunyai impedansi;
dengan demikian, tak ada arus yang mengalir dalam cabang G dan L. Pada
saat t = 0 saklar dibuka sehingga keluaran sumber haruslah terbagi antara G
dan L. Mula-mula, semua arus akan mengalir melalui G, karena tidak
mungkin terjadi suatu loncatan arus secara tiba-tiba melalui L. Tegangan
i
jatuh v  adalah tegangan awal yang terdapat di antara kutub-kutub
G

241
Bab 7 Gejala Sentara

I0
sumber i. Jika i = I0est, maka v pada saat t = 0+ adalah . Oleh karena itu
G
komponen terpaksa untuk tegangan tersebut adalah
i I e st
vF   0
Y 1
G
sL
Di samping tegangan terpaksa di antara Y karena arus yang dikenakan, atau
arus terpaksa, dapat pula terjadi suatu tegangan tanggapan alamiah vN;
tegangan tersebut dapat timbul karena ketiadaan arus luar, jika Y(s) = 0.
1 1
Dengan membuat G   0 , diperoleh s   ; jadi
sL GL
t

vn  Ae GL

Tegangan tanggapan lengkap di antara Y karena terbukanya saklar adalah


t
I 0 e st 
vT  v F  v N   Ae GL (7.30)
1
G
sL
I0
Konstanta yang tidak diketahui A, diperoleh dari keadaan awal vT  pada
G
saat t = 0+ sebagai
I0 I0 (7.31)
 A
G G 1
sL
Dengan menyelesaikan A pada Persamaan (7.31) kemudian menyisipkannya
ke dalam Persamaan (7.30) memberikan
 
I 0e 
st
I0 I 0   GL
t
vT      e (7.32)
1 G 1 
G  G  
sL  sL 
Tegangan tersebut timbul antara G dan antara L. Tampak adanya suatu
analogi antara hasil yang diperoleh di atas dengan yang didapatkan dari
Contoh 7.1, yang merupakan kembaran persoalan di atas.
Persoalan rangkaian terbuka lainnya dapat diselesaikan dengan cara yang
tepat sama seperti yang dilakukan untuk kembarannya.

242
Bab 7 Gejala Sentara

7.5 Keadaan Awal Dalam Rangkaian


Dalam bagian-bagian sebelum ini telah dibahas berbagai persoalan yang
menyangkut keadaan awal dalam rangkaian seri dan paralel sederhana.
Dalam masing-masing hal itu telah digunakan dua prinsip panduan: yang
pertama adalah bahwa tegangan di antara suatu kapasitor tidak dapat berubah
dengan seketika kecuali bila ada suatu arus yang takhingga besarnya
mengalir dalam rangkaian bersangkutan. Arus itu dibatasi nilainya oleh
adanya resistansi atau induktansi seri dalam rangkaian tersebut. Yang kedua,
arus yang melalui suatu induktor tidak dapat berubah secara mendadak
kecuali bila ada suatu tegangan yang takhingga; tegangan tersebut dibatasi
nilainya oleh hadirnya konduktansi dan kapasitansi simpang dalam rangkaian
bersangkutan. Segera setelah suatu saklar dibuka atau ditutup, dapat dihitung
keadaan awalnya dengan mengandaikan bahwa semua tegangan pada
kapasitornya, dan semua arus dalam induktornya tetap tidak berubah asalkan
unsur pembatas yang sesuai terdapat dalam rangkaian itu.
Keadaan awal dalam suatu rangkaian tergantung kepada sejarah rangkaian
tersebut sebelum t = 0– dan susunan rangkaian pada saat t = 0+, segera setelah
saklar itu bekerja. Dalam resistor sempurna, arus dan tegangannya
dihubungkan oleh hukum Ohm v = Ri. Jika suatu tegangan tiba-tiba
dipasangkan pada kutub suatu resistor, arusnya akan mempunyai bentuk
gelombang yang sama, tanpa beda fasa, dan besarnya berbeda dengan suatu
1
faktor skala . Arus dalam suatu resistor itu akan berubah secara mendadak
R
jika tegangannya berubah secara mendadak. Demikian pula, tegangan pada
resistor juga akan berubah dengan tiba-tiba jika arus yang mengalir di
dalamnya berubah dengan tiba-tiba.
Telah disebutkan bahwa arus tidak dapat berubah secara mendadak dalam
suatu induktor. Akibatnya, penutupan suatu saklar yang menghubungkan
suatu induktor ke suatu sumbertenaga tidak akan dapat menyebabkan arus
mengalir seketikaitu juga. Induktor itu akan berlaku seperti suatu rangkaian
terbuka yang tidak tergantung kepada tegangan di antara kutub-kutubnya.
Jika suatu arus dengan nilai I0 mengalir dalam suatu induktor pada saat saklar
ditutup, arus tersebut akan terus mengalir. Pada saat awal, induktor tersebut
dapat diandaikan sebagai suatu sumber arus sempurna sebesar I0.
Pada kapasitor juga telah diketahui bahwa tegangannya tidak dapat berubah
secara tiba-tiba. Jika suatu kapasitor yang tidak bermuatan dihubungkan ke
suatu sumber tenaga, arus akan mengalir kapasitor itu berperilaku setara
dengan suatu hubung-singkat. Hal tersebut sesuai dengan kesebandingan
q
antara tegangan dengan muatan dalam kapasitor, v  , sehingga muatan
C
pada saat awalnya bersesuaian dengan tegangan pada saat awalnya (atau

243
Bab 7 Gejala Sentara

bersesuaian dengan hubung-singkat). Kapasitor dengan muatan awal tak nol,


Q0
setara dengan suatu sumber tegangan dengan nilai V  dan Q0 adalah
C
muatan awalnya. Kesimpulan bahasan di atas diberikan pada Gambar 7.16.

Unsur dan Rangkaian


keadaan setara pada
awalnya t = 0+

R R

Rangkaian
L
terbuka

Hubung
C
singkat

L I0 I0

+ +
Q0 Q0
C V0 = V0 =
C C
 

Gambar 7.16 Rangkaian setara unsur-unsur dalam keadaan awalnya


dan rangkaian setaranya pada saat t = 0+

2V 2V
+  + 
t =0
+ +
2 4 2 4
6V 6V
 
0V 0V

(a) (b)

Gambar 7.17 Rangkaian untuk Contoh 7.5 beserta jawabannya

244
Bab 7 Gejala Sentara

Contoh 7.5
Gambarlah suatu rangkaian yang menyatakan keadaan awal untuk
rangkaian Gambar 7.17a.
Jawab
Dengan mengacu kepada Gambar 7.16, kapasitor yang dalam
hubungan seri dengan saklar dapat digantikan oleh suatu sumber
tegangan sebesar 2 V, dan dua kapasitor yang tidak bermuatan
lainnya digantikan oleh hubung-singkat. Rangkaian hasilnya
diberikan pada Gambar 7.17b. Dengan penyederhanaan lebih lanjut
(ditunjukkan dengan garis terputus-putus) arus yang mengalir
melalui sumber 6 V, pada saat t = 0+, adalah

62
i (0  )  3 A
4
3

2
t =0
+ +
6V 1 L1 L2 6V 1 1A
 1A 

(a) (b)

Gambar 7.18 Rangkaian untuk Contoh 7.6 beserta jawabannya

Contoh 7.6
Dalam rangkaian pada Gambar 7.18a diketahui bahwa arus awal
pada L1 adalah 1 A dan pada L2 adalah nol. Tentukan arus awal
yang mengalir melalui saklar pada saat saklar itu ditutup.
Jawab
Arus pada saat segera setelah saklar ditutup diperlihatkan pada
Gambar 7.18b sesuai dengan acuan yang diberikan pada Gambar
7.16. Pada gambar itu cabang yang mengandung L2 dihilangkan
karena merupakan rangkaian terbuka. Cabang RL1 digantikan oleh
sebuah sumber arus sempurna sebesar 1 A, suatu sumber arus yang
menghasilkan arus sebesar itu tanpa mempedulikan impedansi
luarnya.
Jadi arus awal melalui saklar adalah

245
Bab 7 Gejala Sentara

6
i (0  )  1  7 A
1
Dengan menerapkan prinsip kembaran, tegangan awal pada rangkaian
terbuka dapat dihitung seperti pada contoh-contoh di atas.

Soal-soal
7.1 Berdasarkan pertimbangan apa yang menyatakan bahwa tanggapan
lengkap merupakan jumlah antara tanggapan alamiah dan tanggapan
terpaksa?
7.2 Apa yang menentukan tanggapan alamiah? Dan apa yang
menentukan tanggapan terpaksa?
7.3 Apakah dimungkinkan untuk menentukan tanggapan alamiah
sebelum mengetahui tanggapan terpaksanya?
7.4 Dalam rangkaian pada Gambar 7.1 diketahui bahwa V = 12 V, R = 6
, L = 3 H dan i = 0 sebelum saklar dalam rangkaian ditutup.
7.5 Tentukan kecepatan pertambahan arus di/dt segera setelah saklar
ditutup?
7.6 Jika arus dalam rangkaian diukur dengan suatu alat ukur yang tingkat
ketelitiannya 2%, berapa detik setelah saklar itu ditutup gejala
sentara pada rangkaian tersebut diamati?
7.7 Dalam rangkaian pada Gambar 7.4 diketahui bahwa
v = 8 cos (30t + 10º) V, R = 2 , C = 0,067 F dan saklar ditutup pada
saat t = 0 dengan vC = 5 V sampai t = 0–.
a. Berapa besarkah arus awalnya?
b. Berapa besarkah arus terpaksanya?
c. Hitunglah tanggapan lengkap rangkaian untuk t> 0.
d. Lukislah i terhadap t.
7.8 Dalam Soal 7.6, untuk t berapakah tanggapan lengkapnya minimum?
(t  0)
7.9 Untuk rangkaian pada Gambar 7.19, saklar terletak di kedudukan a
dalam waktu yang cukup lama. Pada saat t = 0. saklar dipindahkan ke
kedudukan b. Hitung dan lukislah tanggapan lengkapnya.
7.10 Untuk rangkaian pada Gambar 7.20, tentukanlah vC untuk t> 0, jika
rangkaian telah berada dalam keadaan mantapnya pada saat saklar
dipindahkan dari kedudukan a ke kedudukan b pada saat t = 0, dan
100
nilai L adalah: (a). 0 H, (b). 2 H, (c). 4 H, dan (d). H.
21

246
Bab 7 Gejala Sentara

t=0
2
b +
2 0,5 F a
8V

Gambar 7.19 Rangkaian untuk Soal 7.9

b 10 
10 
a t =0
+ 
20  15 H
5V 10 V
 +

Gambar 7.20 Rangkaian untuk Soal 7.10

7.11 Tentukan arus yang mengalir melalui induktor pada Gambar 7.21
untuk t > 0, jika rangkaian telah berada dalam keadaan mantapnya
pada saat saklar ditutup ketika t = 0.
t=0

3

8A 1 5H
0,05 F

Gambar 7.21 Rangkaian untuk Soal 7.11

7.12 Untuk suatu rangkaian tertentu, andaikanlah bahwa iF = 10e–2t,


iN = A cos (5t + ), dan jika pada saat t = 0 : iT = 15 A, dan
di
 45 A s–1. Tentukan tanggapan lengkapnya untuk t> 0.
dt
7.13 Tentukan tanggapan lengkap rangkaian pada Gambar 7.22 pada saat t
0 bila saklarnya dibuka pada saat t = 0. Diketahui bahwa I = 1 A,
R = 0,125 , C = 2 F, L = 0,125 H, dan keadaan awalnya adalah:
vC = 0 dan iL = 0.

247
Bab 7 Gejala Sentara

+ 3
8t
8e V 0,005 F 5H

Gambar 7.22 Rangkaian untuk Soal 7.13

7.14 Dalam rangkaian pada Gambar 7.23 diandaikan bahwa iL = 3 A


dengan arah ke atas pada saat saklar ditutup, dan vC = 0. Tentukan
tanggapan lengkapnya untuk t> 0.

t=0
I R C L

Gambar 7.23 Rangkaian untuk Soal 7.14

7.15 Rangkaian pada Gambar 7.24 merupakan rangkaian yang penting


dalam perencanaan suatu sistem kendali. Dalam hal ini, C = 1 F,
R = 1 MΩ, dan tegangan awal pada kapasitor yang dihubung-seri itu
adalah V0 = 20 V. Tentukan arus tanggapannya setelah saklar ditutup.

t=0 R

C R
+ 

V0
Gambar 7.24 Rangkaian untuk Soal 7.15

7.16 Suatu tegangan sinusoida v(t) = 150 cos 20t volt pada saat t = 0
dikenakan ke rangkaian RL seri tanpa tenaga dengan R = 45 Ω dan
L=3H
a. Bagaimanakah pernyataan arus tanggapan terpaksanya?
b. Hitunglah nilai maksimum suku sentaranya.
c. Tulislah pernyataan arus sentaranya sebagai fungsi waktu.

248
Bab 7 Gejala Sentara

d. Mengapa suku arus sentara itu ada?


7.17 Ulangi Soal 7.11 untuk v(t) = 150 cos (20t + 30) V.
7.18 Ulangi Soal 7.11 untuk v(t) = 150 cos (20t – 30) V.
7.19 Suatu tegangan sinusoida v(t) = 100 sin 20t volt dikenakan ke suatu
rangkaian RL seri. Besar suku sentara pada saat t = 0+ adalah 0,4 A.
Di samping itu suku sentara itu diamati menyusut dengan suatu
konstanta waktu sebesar 0,5 s.
a. Hitunglah nilai R dan L. Jelaskan apakah nilai awal arus sentara
itu positif ataukah negatif.
b. Pada saat t sama dengan berapakah tegangan di antara induktor
maksimum? Berapakah nilai tegangan tersebut?
7.20 Suatu tegangan sinusoida dikenakan ke suatu rangkaian RC seri yang
awalnya tanpa tenaga. Tentukan arus tanggapan lengkap rangkaian
tersebut.

249
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus
Bolak-Balik

alam teknik elektro, daya merupakan suatu besaran yang penting.

D Ukuran komponen dan pengelompokan komponen dalam peralatan


elektronika terutama ditentukan karena kebutuhan untuk
menghilangkan tenaga listrik yang berubah menjadi panas. Hal
serupa berlaku pula pada motor listrik, mekanisme pengendalinya,
transformator, saklar, dan penghantar yang dipergunakan dalam bidang
konversi tenaga listrik. Pada umumnya, kegunaan suatu peralatan listrik
terutama berhubungan dengan keluaran daya yang dihasilkannya. Suatu
penguat audio harus menghasilkan daya yang cukup untuk menggerakkan
pengeras suara; saluran video dalam pesawat penerima televisi atau radar
harus mempunyai daya yang cukup untuk mengubah dengan cepat tenaga
yang tersimpan dalam kapasitor antara keping pembelok dalam tabung sinar
katodanya; antena radio harus mencatu pesawat penerima radio dengan daya
yang cukup dari sinyal radio yang diterimanya untuk mengatasi derau yang
ditimbulkan oleh rangkaiannya. Dari contoh di atas, jelaslah bahwa
perhitungan daya sangat diperlukan.
Dalam bab ini juga akan ditinjau hubungan daya untuk jala-jala yang
dirangsang oleh tegangan dan arus berulang, khususnya untuk tegangan dan
arus sinusoida. Daya sesaat adalah perubahan tenaga yang diserap oleh suatu
unsur rangkaian yang berubah sebagai fungsi waktu. Daya sesaat merupakan
suatu besaran penting dalam teknik karena nilai maksimumnya harus dibatasi
dalam semua peralatan fisik. Dengan alasan tersebut daya sesaat maksimum,
atau daya puncak, merupakan spesifikasi yang umum ditetapkan untuk
mencirikan kemampuan peralatan listrik. Dalam suatu penguat elektronika
misalnya, jika daya puncak yang telah ditetapkan pada masukannya
dilampaui, maka sinyal keluarannya akan cacat. Bahkan jika teraan
masukannya sangat dilampaui penguat tersebut dapat menjadi rusak.
Ukuran daya yang sangat penting, terutama untuk arus dan tegangan
berulang, adalah daya rata-rata. Daya rata-rata ini sama dengan kecepatan
rata-rata tenaga yang diserap oleh suatu unsur tidak bergantung pada waktu.
Daya tersebut antara lain adalah yang dipantau oleh perusahaan listrik dalam
menentukan daya listrik bulanan yang terpakai. Daya rata-rata yang dijumpai,
orde besarnya berkisar antara beberapa pikowatt, dalam sistem satelit
komunikasi, hingga beberapa gigawatt, dalam pusat pembangkit listrik untuk
mencatu suatu kota metropolitan.
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Pembangkitan dan transmisi tenaga listrik akan lebih efisien bila


menggunakan sistem fasa jamak (polyphase) yang menggunakan dua, tiga
atau lebih tegangan sinusoida. Di samping itu rangkaian dan mesin fasa
jamak mempunyai beberapa keunggulan; misalnya daya dalam rangkaian
fasa tiga adalah konstan, tidak berombak-ombak seperti halnya dengan yang
pada rangkaian fasa tunggal. Juga motor fasa tiga lebih mudah dijalankan
dibandingkan dengan motor fasa tunggal.
Hampir semua tenaga listrik yang dibangkitkan di dunia ini merupakan fasa
jamak dengan frekuensi 50 atau 60 hertz. Frekuensi baku yang dipakai di
Indonesia adalah 50 hertz. Pada umumnya, sistem fasa jamak tersebut
menggunakan tiga tegangan setimbang yang sama besarnya dan berbeda fasa
antara tegangan yang satu dengan yang lain sebesar 120º. Sumber tegangan
fasa tunggal yang telah dibahas dalam bab-bab sebelum ini dapat merupakan
bagian dari suatu sistem fasa tiga setimbang ini.
Pembahasan mengenai daya tersebut akan diawali dengan kajian mengenai
daya rata-rata, kemudian dilanjutkan dengan meninjau daya dalam unsur
rangkaian, daya kompleks, perbaikan faktor daya, dan akhirnya tentang
rangkaian fasa tiga.
Dengan menyelesaikan bab ini, pembaca diharapkan dapat
 mengenal dan memahami daya dalam rangkaian arus bolak-balik;
 mengenal dan menerapkan perbaikan faktor daya dalam teknik
elektro;
 mengenal teorema penyaluran daya maksimum;
 mengenal rangkaian fasa tiga.

8.1 Daya Rata-Rata


Seperti yang telah diuraikan dalam Bagian 5.3, jika suatu tegangan v
dikenakan pada suatu unsur yang di dalamnya mengalir arus i, maka daya
yang diberikan oleh sumber kepada unsur tersebut adalah
p  vi watt (8.1)
Daya vi tersebut dapat dihitung di bagian mana saja pada daur tegangan yang
dikenakan.
Dalam persoalan praktis, daya rata-rata lebih penting artinya daripada daya
sesaat. Misalnya, jika suatu masakan dipanasi dengan kompor listrik, maka
tenaga yang dilepaskan dalam waktu setengah jam lebih penting artinya
dibandingkan terhadap variasi tenaga yang diberikan oleh kompor selama
satu daur. Tenaga keseluruhan yang diberikan, dalam hal ini berupa panas,
adalah jumlah tenaga yang dilepaskan pada setiap diferensial selang waktu.
Tenaga keseluruhan = jumlah tenaga yang dilepaskan dalam
setiap selang dt selama satu periodeTdaya itu diberikan.

252
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Tenaga dalam suatu diferensial selang waktu dt adalah p dt, karena daya
didefinisikan sebagai aliran tenaga per satuan waktu. Tenaga keseluruhan
yang diberikan adalah jumlah semua luasan p dt seperti yang diperlihatkan
pada Gambar 8.13. Besarnya adalah
T
W   pdt joule (8.2)
0

Kedayagunaan kompor tersebut terutama ditentukan oleh berapa lama waktu


yang diperlukan untuk mencatu daya p. Tenaga keseluruhan W dibagi dengan
waktu yang diperlukan untuk melepaskannya disebut daya rata-rataP
selama selang waktu tersebut, atau secara matematika
-j5  j10  -j5  j10 

+
V0 10 
I
+

-
o
20/90 V Z0 10  (8.3)
-

(a) (b)

p(t)

0 dt t
T

Gambar 8.1 Lengkungan daya sesaat sebagai fungsi waktu

Dalam hampir setiap persoalan, daya rata-rata lebih penting artinya daripada
daya sesaat karena adanya kelembaman yang terdapat dalam setiap sistem.
Jika masakan dipanaskan, daya yang diberikan selama satu detik atau selama
satu daur arus bolak-balik kecil pengaruhnya terhadap perubahan tenaga
panas dalam masakan itu secara keseluruhan. Demikian pula, karena
kelembaman panas, suhu yang dicapai sebuah resistor bergantung pada daya
rata-rata yang terpakai selama beberapa menit, bukan daya sesaat pada suatu
bagian tertentu dalam daur arusnya. Dalam suatu motor listrik, daya rata-rata
yang diberikan kepada motor itulah yang menentukan keluarannya karena
pengaruh roda-gila pada motor tersebut memperhalus variasi torsi yang
berhubungan dengan daya sesaat yang diberikan pada kutub-kutubnya.
Sebagai contoh terakhir, suatu pemancar radar memancarkan pulsa-pulsa
pendek dengan daya puncak yang sangat tinggi. Daya rata-rata yang
dipancarkannya sangat kecil karena pulsa-pulsa tersebut dipisahkan oleh
suatu selang waktu yang cukup panjang. Kepekaan radar secara keseluruhan
ditentukan oleh kemampuannya dalam menyidik gema yang lemah dengan

253
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

latar belakang derau penerima radar itu sendiri. Kepekaan tersebut


bergantung pada daya rata-rata yang dipancarkan karena gema radar yang
diterima dalam suatu selang waktu tertentu dapat dirata-ratakan. Demikian itu
antara lain beberapa alasan untuk mempelajari cara-cara perhitungan daya
rata-rata dalam rangkaian arus bolak-balik.

8.2 Daya Dalam Unsur Rangkaian


Dengan suatu arus dan tegangan yang berubah arah dua kali setiap daur,
wajar jika daya yang diperoleh juga berubah menurut waktu. Tinjau
rangkaian pada Gambar 8.2 dengan tegangan bolak-balik
v  2V sin(t   ) (8.4)
dengan V sama dengan nilai efektif tegangan tersebut, dikenakan pada suatu
rangkaian dengan impedansi setara sebesar
Z /   R  jX (8.5)
Jika arus yang mengalir dalam rangkaian ini adalah
i  2I sin t (8.6)
maka daya sesaat yang diberikan sumber tegangan pada rangkaian ini adalah
-j10 

200 

+
I 5I
(8.7)
100/0o V j20 
-

Gelombang tegangan, arus, dan daya, yang telah diperlihatkan dalam Gambar
5.12 dan digambar kembali pada Gambar 8.3 dengan arusnya yang
memenuhi Persamaan (8.6).

+
v Z/= R + jX
-

Gambar 8.2 Rangkaian arus bolak-balik

Sebagaimana telah diuraikan dalam Bagian 5.3, kegunaan praktis arus dan
tegangan bolak-balik sebagai sarana penyaluran tenaga didasarkan pada
kenyataan bahwa nilai rata-rata waktu daya bolak-balik tidak sama dengan
nol. Daya rata-rata P digunakan untuk menunjukkan kemampuan penyaluran
daya dengan arus dan tegangan bolak-balik.

254
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Dengan menggunakan hubungan trigonometri, Persamaan (8.7) dapat ditulis


kembali sebagai
p  VI [cos  cos(2t   )] (8.8)
Daya sesaat tersebut terdiri dari dua komponen; komponen konstan VI cos Ɵ
dan komponen sinusoida menurut waktu VI cos(2ωt + Ɵ) yang frekuensinya
dua kali frekuensi tegangan atau arusnya. Jika diambil nilai rata-ratanya
menurut Persamaan (5.28), maka hanyalah suku konstan yang memberikan
andil. Oleh karena itu, daya rata-rata P yang diberikan pada rangkaian
tersebut adalah
P  VI cos  (8.9)
Bila daya diberikan pada sebuah suatu resistor, maka semuanya akan diubah
menjadi panas. Daya sesaat yang diserap resistor itu adalah
pR  ivR  i(iR)
Bila arus i yang mengalir itu adalah seperti yang diberikan oleh Persamaan
(8.6), maka
pR  2 I 2 R sin 2 t
(8.10)
 I 2 R(1  2 cos 2t ) W

i(t)
0 p(t) = v(t)i(t)
t

v(t)

Gambar 8.3 Gelombang tegangan, arus, dan daya yang dilukis terhadap
sumbu waktu

Hubungan antara fungsi waktu tegangan, arus, dan daya dalam resistor
diberikan dalam Gambar 8.3.
Karena suku kedua dalam Persamaan (8.10) akan sama dengan nol jika
diambil rata-ratanya, maka daya rata-rata rangkaian tersebut adalah

255
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

P  I 2R W (8.11)
Suatu hasil yang dapat ditulis langsung dari definisi arus efektif dalam
Bagian 5.4.
Dua unsur rangkaian lainnya, induktor dan kapasitor berpengaruh terhadap
daya sesaat tetapi tidak mempunyai andil dalam daya rata-ratanya. Jika arus
yang melalui sebuah induktor meningkat, maka tenaga yang diterima itu
dipindahkan dari rangkaian tersebut menjadi medan magnet, tetapi tenaga itu
akan dikembalikan lagi ke rangkaiannya jika arus dalam rangkaian tersebut
berkurang. Demikian pula halnya, jika tegangan antara suatu kapasitor
meningkat, maka tenaganya akan dipindahkan dari rangkaian menjadi medan
listrik dan akan dikembalikan lagi ke rangkaian tersebut jika tegangannya
berkurang. Pengaruh tersebut dapat dilihat secara analitis dengan menuliskan
pernyataan daya sesaat pX yang diterima oleh suatu reaktansi. Dengan
pernyataan arus seperti yang diberikan oleh Persamaan (8.6), untuk induktor

i(t)
p(t) = v(t)i(t)
0
t v(t)

Gambar 8.4 Tegangan, arus yang sefasa, dan daya hasilnya

di
p X  iv L  iL
dt
 2LI sin t cos t  I 2L sin 2t
2 (8.12)
 I X L sin 2t
2

Hubungan antara tegangan, arus dan daya dalam induktor ini, sebagai fungsi
waktu diperlihatkan pada Gambar 8.5.

256
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Daya sesaat untuk kapasitor dengan pernyataan arus seperti yang diberikan
oleh Persamaan (8.6) adalah
p X  ivC
1 2 2  I2
C
i idt  I sin t cos t  sin 2t (8.13)
C C
 I 2 X C sin 2t
dengan mengingat bahwa nilai reaktansi kapasitif adalah negatif.
Hubungan antara tegangan, arus dan daya dalam kapasitor diperlihatkan pada
Gambar 8.6.

v(t)

p(t) = v(t)i(t)
P
i(t)
0 t

Gambar 8.5 Tegangan, arus yang tertinggal 90o dari tegangan, dan daya
hasilnya

P
i(t)
0 t
p(t) = v(t)i(t)

v(t)

Gambar 8.6 Tegangan, arus yang mendahului 90o dari tegangan, dan
daya hasilnya

257
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Daya rata-rata yang mengalir dalam kedua unsur reaktif ini sama dengan nol.
Hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak disukai dalam segi penyaluran
daya tetapi tidak dapat dihindari. Daya dalam unsur reaktif tersebut
menentukan kapasitas generator dan ukuran komponen rangkaian lain yang
menerima tenaga keluar-masuk tersebut.
Nilai maksimum daya keluar-masuk dalam unsur rangkaian reaktif tersebut
dikenal sebagai daya reaktif yang didefinisikan sebagai Q:
Q  I2X (8.14)
Daya tersebut juga disebut sebagai daya tanpa-watt dan diukur dalam
volt∙ampere reaktif dengan singkatan var. Besaran tersebut banyak
dipergunakan dalam pembangkitan, distribusi dan penggunaan daya listrik.
Sebaliknya daya rata-rata yang diserap dalam unsur resistif disebut daya
aktif atau juga disebut sebagai daya nyata yang ditulis dengan lambang P dan
satuannya menurut SI adalah watt.
Jika X induktif, maka tandanya positif dan demikian pula halnya dengan daya
reaktif Q. Besar daya reaktif adalah nilai maksimum daya sesaat yang
mengalir keluar-masuk dalam suatu reaktansi. Tanda untuk daya reaktif sama
dengan tanda reaktansinya. Jika Q positif, besar maksimum arus yang
tertinggal dari besar maksimum tegangannya yang positif adalah 90º; jika Q
negatif arus itu mendahului tegangannya dengan 90º. Jadi Q yang negatif
berhubungan dengan X yang kapasitif.

8.3 Daya Kompleks


Jika suatu arus i mengalir dalam suatu rangkaian yang mengandung sebuah
resistansi R dan sebuah reaktansi X, seperti pada Gambar 8.2, maka tenaga
yang diberikan oleh sumber akan diubah menjadi panas dalam resistor
tersebut dan dipertukarkan antara sumber dengan medan dalam reaktansinya.
Daya rata-rata yang hilang dalam resistor, daya nyata P dalam rangkaian,
adalah
p  iv R
 I 2R
(Untuk selanjutnya, kecuali jika dinyatakan sebelumnya, semua tegangan dan
arus yang ditulis dengan huruf besar tanpa tikalas menyatakan nilai
efektifnya dan huruf kecil menyatakan nilai sesaatnya.) Dengan cara yang
sama, menurut Persamaan (8.12), (8.13) dan (8.14), daya reaktif adalah
i R
+

v C L

258
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Harus diperhatikan bahwa jika tegangan yang dikenakan dikalikan dengan


arus rangkaian, hasil kali VI tidak pernah muncul dalam daya nyata ataupun
aya reaktif. Karena
R
+

f(t)

-
C L
(8.16)
r(t)
+

maka
0,5 H 1H

(8.17)
i(t)
2H
+ +
v(t) = 4 cos(t + 15o) V v1(t) 0,5 F
- -
1F

Hasil kali tersebut dikenal sebagai volt∙ampere dalam rangkaian, yang


disebut daya semu. Daya semu tersebut diukur tanpa memandang sifat
impedansinya.
Volt∙ampere tersebut merupakan suatu besaran yang penting karena peralatan
arus bolak-balik seperti generator, transformator dan kabel biasanya lebih
banyak dinyatakan dalam volt∙ampere ketimbang dalam watt. Keluaran yang
diperbolehkan dibatasi oleh panas yang ditimbulkan, jadi dibatasi oleh daya
yang hilang dalam peralatan; kehilangan tersebut ditentukan oleh besarnya
tegangan dan arus tanpa memandang sifat impedansinya. Akibatnya, besar
kapasitas peralatan listrik yang dipasang untuk mencatu suatu beban tertentu
terutama ditentukan oleh volt∙ampere beban yang terpasang, jadi bukan oleh
daya rata-ratanya sendiri. Di samping ukuran kabel, dan turbin, kebutuhan
bahan bakar pada stasiun pembangkit terutama ditentukan oleh keluaran
dayanya dan bukan oleh volt∙ampere tersebut.
Dalam bentuk kompleks, tegangan dan arus pada Persamaan (8.4) dan (8.6)
dapat ditulis sebagai
4 2
a

+
v(t) = 220/0 o

-
8 j12  (8.18)
b

Dengan berpedoman pada persamaan Euler, Persamaan (8.9) dapat ditulis


kembali sebagai
p  VI cos 
 Re[VIe j ]
Selanjutnya dengan memeriksa Persamaan (8.18) tampak bahwa
VI *  VIe j
I* adalah kompleks sekawan I. Jadi
P  Re[VI *] (8.19)
dan hasil kali VI* merupakan daya kompleks yang bagian nyatanya adalah
daya rata-rata dan bagian khayalnya daya reaktif. Dengan memberikan
lambang S untuk mewakili daya kompleks tersebut, diperoleh
S  VI *  P  jQ (8.20)
Besar daya kompleks tersebut adalah

259
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

S  VI *  V I *  VI (8.21)
yang tentu saja sama dengan besar daya semu.
Dari Persamaan (8.20) tampak bahwa
Q  Im[S ]  VI sin  (8.22)
Perbandingan antara daya nyata atau daya aktif dengan daya semu disebut
faktordaya, yang sering ditulis dalam singkatan bahasa Inggrisnya pf(power
factor). Jadi
VI cos 
pf   cos  (8.23)
VI
Dengan cara yang sama didefinisikan faktor reaktif sebagai perbandingan
antara daya reaktif dengan daya semunya. Jadi,
VI sin 
faktor reaktif   sin  (8.24)
VI
Suatu rangkaian dengan arus yang mengalir di dalamnya tertinggal dari
tegangannya (yaitu suatu rangkaian induktif) dikatakan mempunyai faktor
dayatertinggal. Dan suatu rangkaian yang arusnya mendahului tegangannya
dikatakan mempunyai faktor daya mendahului.

I sin  I

 I cos  V
Gambar 8.7 Diagram fasor arus yang berbeda fasa dengan tegangannya

Pada Gambar 8.6 diperlihatkan diagram fasor untuk V dan I. Tampak bahwa
arus fasor dapat diuraikan menjadi dua komponen, I cos Ɵ dan I sin Ɵ.
Komponen I cos Ɵ sefasa dengan V dan hasil kalinya menghasilkan daya
nyata P. Sebaliknya, I sin Ɵ, yang berbeda fasa 90º dari V, menghasilkan
daya reaktif Q.
Sering kali lebih memudahkan untuk memahami daya kompleks dengan
meninjau segi tiga impedansinya seperti yang diperlihatkan pada Gambar
8.8a. Tampak bahwa beban pada diagram tersebut adalah beban yang bersifat
induktif (pf-nya tertinggal), 0º Ɵ 90º; karena X positif maka Q juga positif.

260
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Tentu saja, untuk beban kapasitif (pf-nya mendahului), 90º Ɵ 0º, X negatif
sehingga demikian pula nilai Q. Beban dengan faktor daya sama dengan satu
mensyaratkan Q = 0 karena Ɵ = 0º . Secara umum, dapat dituliskan
Q
  tan 1 (8.25)
P
Merujuk ke Persamaan (8.9) dan (8.22) diperoleh
P 2  Q 2  (VI ) 2 (sin 2   cos 2  ) (8.26)
 VI
dan dari segi tiga impedansi pada Gambar 8.8a melalui Gambar 8.8b
diperoleh segi tiga daya sebangunnya pada Gambar 8.8c.

Z ZI2 VI
X XI2 Q

  

R RI2 P

(a) (b) (c)

Gambar 8.8 Pembentukan segi tiga daya dari segi tiga impedansi

0,10 – j0,40 

+ + Beban 10 kW
V 230 V pf 0,70
- - tertinggal

Gambar 8.9 Rangkaian untuk Contoh 8.1

Contoh 8.1
Dalam keadaan kerja rata-rata, sekelompok motor induksi dengan
teraan 230 V, 50 Hz memerlukan daya 10 kW dengan faktor daya
tertinggal sebesar 0,70. Resistansi dan reaktansi induktif saluran
pencatunya secara keseluruhan (untuk dua kawat) berturut-turut
0,10 Ω dan 0,40 Ω seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.9.
Tegangan di ujung penerima (di antara beban) adalah 230 V.
Tentukan tegangan pengirim dan faktor daya di ujung pengirim
tersebut.
Jawab
Arus saluran pencatu, menurut Persamaan (8.9), adalah

261
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

10000
I
230  0,70
 62,1 A
Arus tersebut tertinggal dari tegangan penerimanya dengan sudut
fasa sebesar
cos 1 0,70  45,6
Dari kenyataan tersebut, sebenarnya metode fasor dapat langsung
diterapkan untuk menentukan tegangan pengirim dan sudut fasanya
terhadap arus, dan kosinusnya merupakan faktor daya di ujung
pengirim tersebut. Tetapi dalam hal ini akan digunakan suatu
metode yang menekankan penggunaan daya dan daya reaktif dalam
rangkaian tersebut.
Daya yang diserap beban adalah
Pb  10 000 W
dan dari Persamaan (8.26), daya reaktif beban adalah
Qb  230  6,212  100002
 10 200 var
Daya yang hilang dalam saluran, sesuai dengan Persamaan (8.11),
adalah
Ps  62,12  0,10
 387 W
dan daya reaktif yang dipertukarkan dalam saluran, menurut
Persamaan (8.15),
Qs  62,12  0,40
 1549 var
Daya dari ujung pengirim haruslah merupakan jumlah daya yang
diberikan ke beban dan daya yang hilang dalam salurannya, atau
Pp  10 000  387
 10 387 W
Dengan cara yang sama, daya reaktif dari ujung pengirim adalah
Q p  10 200  1549
 11 749 var
Volt∙ampere di ujung pengirim adalah

262
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

(VI ) p  103782  117492


 15 700 VA
atau sama dengan 15,7 kVA. Faktor dayanya
Pp
pf 
(VI ) p
10 387
  0,66
15 700
Faktor daya ini tertinggal karena Qp positif. Jadi, tegangan pengirim
adalah
(VI ) p
Vp 
I
15 700
  252,82 V
62,1
Pendekatan penyelesaian persoalan arus bolak-balik yang dilukiskan pada
Contoh 8.1 di atas sering dikenal sebagai metode volt∙ampere.

1,4 – j1,6  0,8 – j1,0 

0,5 kW +
pf 0,80 tertinggal Pr1, Qr1 Pr2, Qr2 P2, Q2
+ Beban 10 kW +
V1 = 460V G1 pf 0,70 G2 V2
- tertinggal -

Gambar 8.10 Rangkaian untuk Contoh 8.2

Contoh 8.2
Gambar 8.10 menunjukkan rangkaian setara suatu beban yang
dicatu oleh dua generator melalui saluran dengan impedansi seperti
yang diperlihatkan pada gambar tersebut. Daya yang diperlukan
beban adalah 10 kW dengan faktor daya tertinggal sebesar 0,80.
Sumber G1 bekerja pada tegangan 460 V dan memberikan daya
5 kW dengan faktor daya tertinggal sebanyak 0,80. Tentukan
tegangan kutub beban; dan juga tegangan kutub, daya, dan daya
reaktif keluaran generator G2.
Jawab
Persoalan ini dapat ditangani dengan mudah dengan menggunakan
metode volt∙ampere.
Arus dari generator G1:

263
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

P1
I1 
V1 cos 1
5000
  13,6 A
460  0,80
Pr1  P1  I12 R1
 5000  13,62  1,4  4740 W
Qr1  Q1  I12 X 1
 5000 tan(cos1 0,80)  13,62  1,6  3450 var
Q1 tersebut diperoleh dengan manipulasi trigonometri sederhana
yang memberikan Q = P tan Ɵ. Tegangan beban adalah
(VI ) r1
Vb 
I1
4640 2  3450 2
  432 V
13,6
Karena daya yang diperlukan oleh beban adalah 10 000 W dan
10 000 tan (cos–1 0,80) atau 7500 var, maka
Pr 2  10 000  4740  5260 W
Qr 2  7500  34500  4050 var
(VI ) r 2
I2 
Vb
5260 2  4050 2
  15,4 A
432
P2  Pr 2  I 22 R2
 5260  15,42  0,80  5450 W
Q2  Qr 2  I 22 X 2
 4050  15,42  1,0  4290 var
(VI ) 2
V2 
I2
5450 2  4290 2
  451 V
15,4

8.4 Perbaikan Faktor Daya


Telah diuraikan sebelumnya bahwa peralatan listrik yang dihubungkan untuk
memberikan keluaran tertentu ditentukan oleh kebutuhan volt∙ampere beban;
karena itu, keluarannya dipengaruhi langsung oleh faktor daya beban

264
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

bersangkutan. Umumnya, perusahaan listrik memberikan suatu aturan


tertentu dalam tarifnya yang menganjurkan para pelanggan meningkatkan
faktor daya pada beban terpasangnya. Dengan faktor daya yang tinggi, rugi-
rugi daya karena resistansi saluran akan berkurang. Alasannya sebagai
berikut: untuk memberikan daya yang sama besar diperlukan arus yang lebih
besar bila faktor dayanya lebih rendah daripada bila faktor daya beban itu
lebih tinggi. Rugi-rugi yang ditimbulkan resistansi saluran sebanding dengan
pangkat dua arus yang mengalir dalam saluran, karena itu, rugi-rugi ini akan
menjadi lebih kecil bila faktor dayanya tinggi. Perbaikan atau koreksi faktor
daya tersebut dapat dilakukan dengan memasang kapasitor yang dihubungkan
paralel dengan beban yang umumnya bersifat induktif seperti motor induksi,
alat las dan sebagainya. Perbaikan faktor daya tersebut dikenal sebagai
kompensasi fasa.
QL

I
+ Beban Qt
V QC C Pb,Qb S
-

Pt

QC

Gambar 8.11 Rangkaian dan diagram fasor untuk perbaikan faktor


daya

Sebenarnya, sudut fasa dapat dikurangi sehingga sama dengan nol, tetapi
dengan alasan ekonomi, dalam praktik faktor daya cukup dibuat mempunyai
nilai di antara 0,90 sampai dengan 0,95.
Andaikanlah bahwa beban pada Gambar 8.11 adalah tertentu dan daya
kompleks pada beban itu adalah Pb + jQb. Beban industri yang khas biasanya
berupa beban resistif dan induktif sehingga Qb bernilai positif. Tujuan
perbaikan faktor daya adalah memberikan suatu QC negatif ke jala-jala itu
sedemikian hingga dapat menghilangkan sebagian atau semua Qb nya. Hal ini
antara lain dapat dilakukan dengan menghubungkan sebuah kapasitor secara
paralel dengan beban tersebut sedemikian sehingga tegangan kutub pada
beban itu tetap tidak berubah. Karena

S  Pb  Qt  VI
2 2
(8.27)

265
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

dengan Qt = Qb + QC, maka tampak bahwa pengurangan Qt akan


memperkecil hasil kali VI sehingga untuk tegangan kutub tetap yang sama
dengan V, arus yang mengalir ke beban gabungan tersebut akan berkurang.
Dengan menggunakan Persamaan (8.23) dapat ditentukan faktor daya
sebelum diperbaiki dan juga nilai Qt yang diperlukan guna mendapatkan
faktor daya yang diinginkan. Jadi
QC  Qt  Qb (8.28)
Karena
QC  V 2 BC  V 2C (8.29)
maka besarnya kapasitansi kapasitor tersebut adalah
QC
C (8.30)
 V 2
Diagram fasor yang menunjukkan komponen daya kompleks untuk rangkaian
pada Gambar 8.11 itu diperlihatkan pada sebelah kanan rangkaiannya.

Contoh 8.3
Sebuah beban bekerja pada tegangan 220 V dengan frekuensi
50 Hz, P = 500 W dengan faktor daya tertinggal 0,707. Diinginkan
memperbaiki faktor daya tersebut sehingga menjadi 0,9 (tertinggal)
dengan menghubungkan beban itu dengan sebuah kapasitor
simpang seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.11a. Tentukan
berapa besar kapasitor tersebut.
Jawab
Dari persamaan Q = P tan Ɵ dengan Ɵ = cos–1pf, daya reaktif beban
sebelum perbaikan dilakukan adalah
Q  500 tan(cos1 0,707)
 500 var
Agar mencapai faktor daya sebesar 0,9 (tertinggal), daya reaktif
setelah pemasangan kapasitor diharapkan menjadi
Qt  500 tan(cos 1 0,9)
 242,16 var
Untuk itu diperlukan daya reaktif kapasitor sebesar
QC  244,16  500
 257,84 var
Jadi, besar kapasitansi kapasitor tersebut, menurut dengan
Persamaan (8.30), adalah

266
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

 257,84
C
 220 2  2  50
 16,96 F

8.5 Teorema Penyaluran Daya Maksimum


Suatu rangkaian dengan daya dan tenaga arus bolak-balik umumnya terdiri
dari suatu sumber dengan suatu rangkaian luar yang terhubung pada kutub
sumber tersebut. Rangkaian luar tersebut dapat hanya berupa sebuah beban
yang langsung dihubungkan ke kutub sumber, atau sebuah beban dengan
suatu rangkaian penghubung yang menghubungkan beban itu dengan sumber
tersebut. Dalam hal terakhir, rangkaian luar keseluruhan tersebut dapat
disederhanakan menjadi sebuah impedansi setara antara kutub sumber.
Impedansi setara ini adalah impedansi masukan atau impedansi titik
penggerak rangkaian luar tersebut
Impedansi masukan ini merupakan suatu besaran yang penting untuk menilai
pengaruh rangkaian luar terhadap suatu sumber; karena dalam analisis sifat
sumber lebih disukai untuk mewakili rangkaian luar dengan rangkaian yang
sesederhana mungkin. Sumber itu sendiri, sesuai dengan teorema Thévenin
(dan dengan pengandaian kelinearan yang mendasari teorema tersebut), dapat
dinyatakan sebagai suatu tegangan V0 yang dihubung seri dengan impedansi
Z0. Sesuai dengan hal itu, sumber dengan rangkaian luarnya dapat
disederhanakan menjadi seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.12.
Dalam rangkaian ini, misalkan
Z 0  R0  jX 0  Z 0 /  0
dan
Zi  Ri  jX i  Zi /  i
Besar arus I yang mengalir adalah
V0
I
Z0  Zi
(8.31)
V0

R0  Ri  j ( X 0  X i )
Karena itu, dari Persamaan (8.19), daya yang diserap beban adalah
P  Re[Vi I *]  Re[ Zi II*]  Re[ Zi I ]  I Re[ Zi ]
2 2

2
V0
P Ri (8.32)
( R0  Ri )  ( X 0  X i ) 2
2

267
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

atau
2
V0 Ri
P (8.33)
(| Z 0 | cos  0  | Z i | cos  ) 2  (| Z 0 | sin  0  | Z i | sin  ) 2
Selanjutnya, andaikan bahwa sumber tegangan dengan impedansinya adalah
tetap, dan dimungkinkan untuk mengubah-ubah nilai impedansi rangkaian
luarnya. Dengan mengubah nilai impedansi rangkaian luar diinginkan
penyaluran daya p maksimum ke rangkaian luar tersebut. Persyaratan
penyaluran daya maksimum bergantung pada macam perubahan yang
dilakukan terhadap impedansi rangkaian luar. Jika hanya reaktansi Xi yang
dapat diubah-ubah, Persamaan (8.32) menunjukkan bahwa P maksimum
tercapai jika
Xi  X0 (8.34)
Jika hanya resistansi Ri yang dapat diubah-ubah, maka dengan menyamakan
dP
sama dengan nol, seperti dalam Contoh 4.11. Persamaan (8.32)
dRi
menunjukkan bahwa P maksimum tercapai jika

Ri  R0  ( X 0  X i ) 2
2
(8.35)
Jika Ri dan Xi keduanya dapat diubah-ubah dengan bebas, maka nilai
optimumnya akan diberikan oleh Persamaan (8.36) untuk nilai reaktansinya,
Xi  X0
(8.36)
Ri  R0
Persamaan (8.36) tersebut diperoleh dengan menyisipkan Persamaan (8.34)
ke dalam Persamaan (8.35).
Suatu syarat yang agak umum adalah bahwa besar Zi dapat diubah-ubah
dP
tetapi sudut Ɵi haruslah tetap. Proses penyamaan menjadi nol pada
dZ i
Persamaan (8.33) menunjukkan bahwa P maksimum jika
Zi  Z0 (8.37)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa untuk penyaluran daya maksimum
dipersyaratkan bahwa
Zi  R0  jX 0 (8.38)
Zi sama dengan kompleks sekawan Z0. Dalam keadaan tersebut, dengan
menyisipkan Persamaan (8.38) ke dalam Persamaan (8.32) akan memberikan

268
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

V0
P (8.39)
4R0
Ternyata, hanya setengah dari tenaga yang dibangkitkan sumber yang diserap
beban, setengah lainnya hilang dalam impedansi sumber itu sendiri. Efisiensi
keseluruhan untuk rangkaian ini hanyalah 50%. Hal tersebut dengan mudah
tampak karena semua daya itu dipakai dalam R0 dan Ri. Karena kedua
resistansi ini sama besarnya dan mengalirkan arus yang sama pula, maka
keduanya menghabiskan daya yang sama besar.
Bila impedansi sumber yang dapat diubah-ubah sedangkan impedansi beban
yang tetap, maka untuk penyaluran daya maksimum hasilnya bukan
Z0 = RI – jXi.
Penyepadanan impedansi ini dikenal sebagai impedance matching.
Penyepadanan tersebut merupakan pertimbangan yang penting dalam
peralatan elektronika dan komunikasi, yang biasanya berhubungan dengan
daya yang rendah. Untuk peralatan sistem daya seperti generator, motor dan
saluran transmisi, penyepadanan impedansi tersebut tidak merupakan syarat
utama karena efisiensinya rendah.

+ Z0
V0 Z1
-

Sumber Beban

Gambar 8.12 Rangkaian setara suatu sumber tegangan dengan


bebannya

5 1H

+ R
20 cos t V
-
1 F

Sumber Beban

Gambar 8.13 Rangkaian untuk Contoh 8.4

269
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Contoh 8.4
Gambar 8.13 memperlihatkan sebuah rangkaian dengan sebuah
generator yang frekuensi sudutnya dapat diubah-ubah dan
impedansi dalamnya berupa sebuah resistansi 5 Ω yang
dihubungkan seri dengan induktansi 1H. Bebannya berupa
resistansi yang dapat diubah-ubah dalam hubungan seri dengan
sebuah kapasitansi sebesar 1 F. Atur nilai R dan ω sedemikian
hingga diperoleh penyaluran daya maksimum.
Jawab
Terlebih dulu dihitung impedansi sumber Z0 dan impedansi beban
Zi:
Z 0  5  j 
106
Zi  R  j 

Untuk penyaluran daya maksimum, Z0 dan Zi harus merupakan
kompleks sekawan. Jadi, diinginkan agar

 10 6 
5  j   R  j 
  
Dengan menyamakan masing-masing bagian, bagian nyata dan
bagian khayalnya, diperoleh
R=5Ω dan ω = 103 rad s–1
Untuk nilai-nilai dalam contoh tersebut daya yang diserap R maksimum dan
efisiensi keseluruhan sistem hanyalah 50%. Jika nilai R dinaikkan menjadi 10
 maka daya keluarannya akan berkurang menjadi 89% dari nilai daya
keluaran maksimumnya (selidiki kebenarannya), tetapi efisiensinya
I 2 Ri Daya pada beban
 2  (8.40)
I R0  I Ri Daya yang dibangkitk an
2

akan meningkat dari 50% menjadi 66,7%. Dalam beberapa hal mungkin
kenaikan efisiensi ini lebih dipentingkan daripada pencapaian daya
maksimum.
Sebuah bukti penting lainnya bahwa penyaluran daya maksimum tidak
dikehendaki adalah dalam sistem PLN kita. Tidak ada seorang pelanggan
tenaga listrik yang mau menggunakan seluruh daya yang dibangkitkan oleh
PLN, atau PLN sendiri ingin setengah dari daya yang dibangkitkannya hilang
dalam generatornya.

270
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

8.6 Rangkaian fasa tiga


Pewakilan skema untuk sistem fasa tiga setimbang diberikan dalam Gambar
8.14a. Tiga tegangan fasa tunggal ini tampak terhubung dalam bentuk Y;

a
Garis acuan
Vna
+
v

-
120º 120º
v
- n 120º
-
+
c v + b Vnc Vnb
(a) (b)

a b c
Vm

0
    t rad
 

-Vm

(c)

Gambar 8.14 Sistem tegangan fasa tiga setimbang

meskipun dimungkinkan juga untuk menyusun ketiga tegangan fasa tunggal


itu dalam bentuk ∆. Ketiga tegangan fasa tunggal itu dibangkitkan oleh
sebuah medan fluks berputar yang dimiliki bersama dalam tiga kumparan
identik yang terpisah 120º antara yang satu dengan yang lain dalam suatu
generator listrik fasa tiga. Bila salah satu ujung kumparan disambungkan
bersama-sama guna membentuk kutub n maka akan dihasilkan suatu
hubungan Y. Gambar 8.14b adalah diagram fasor sistem tegangan fasa tiga.
Diagram fungsi waktu pada Gambar 8.14c sesuai dengan masing-masing
tegangan fasa tunggal yang dibangkitkan oleh suatu generator fasa
setimbang.
Pada saat fasor-fasor pada Gambar 8.14b berputar dengan kecepatan sudut Ɵ
terhadap suatu garis acuan dengan arah yang berlawanan dengan arah putaran
jarum jam (arah positif), diperoleh diagram fungsi waktu seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 8.14c. Sesuai dengan diagram fasor, mula-mula

271
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

nilai maksimum untuk fasa a yang muncul, kemudian nilai maksimum fasa b
dan akhirnya nilai maksimum fasa c. Dengan alasan tersebut, tegangan fasa
tiga pada Gambar 8.14 dikatakan mempunyai urutan fasaabc. Urutan fasa
ini penting artinya dalam beberapa pemakaian tertentu. Misalnya, dalam
motor induksi fasa tiga, urutan fasa ini yang menentukan apakah motor
berputar searah atau berlawanan arah dengan putaran jarum jam.

Vbc

Vnc= |Vp|/120º

-Vna= Van Vna= |Vp|/0º


30º

120º

Vab Vca

Vnb= |Vp|/-120º

Gambar 8.15 Hubungan fasa dan besar antara tegangan saluran dan
tegangan fasa

Setiap sistem fasa tiga setimbang selalu dapat dianalisis menurut prosedur
yang berlaku untuk sistem fasa tunggal. Jadi, semua teknik yang telah
dikembangkan sebelum bab ini berlaku untuk sistem fasa tiga setimbang.
Penyusunan tegangan fasa tiga menjadi bentuk Y atau ∆ memerlukan
beberapa modifikasi dalam urusannya dengan pengaruh keseluruhannya.
Misalnya, tegangan yang terdapat antara setiap pasangan kutub saluran a, b,
dan c memberikan suatu hubungan yang berlainan dalam besar dan fasanya
terhadap tegangan yang terdapat antara salah satu kutub saluran dengan kutub
bersama n yang disebut netral. Himpunan tegangan pertama (Vab, Vbc, dan
Vca) disebut tegangan saluran dan yang kedua (Van, Vbn, dan Vcn) tegangan
fasa. Hubungan yang timbul antara tegangan saluran dengan tegangan fasa
ini dapat ditentukan dengan analisis hukum tegangan Kirchhoff. Dalam
hubungan tersebut, diagram fasor pada Gambar 8.14b dilukis kembali pada
Gambar 8.15 dalam nilai-nilai efektifnya. Selanjutnya, Vna dibuat berimpit
dengan sumbu mendatar dalam bidang kompleks. Penggunaan tikalas ganda
dalam hal ini merupakan cara yang memudahkan dalam analisis rangkaian
fasa tiga. Jika Vna menyatakan tegangan naik dari kutub n ke a, maka besaran
–Vna = Van mewakili tegangan naik dari a ke n.

272
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Nilai-nilai efektif tegangan fasa ini diperlihatkan pada Gambar 8.15 sebagai
Vna, Vnb, dan Vnc. Masing-masing tegangan fasa mempunyai besar yang sama
dan berselisih fasa 120º dengan tegangan fasa di sebelahnya.
Untuk mendapatkan besar dan sudut fasa tegangan saluran dari a ke b, yaitu
Vab, digunakan hukum tegangan Kirchhoff tegangan. Jadi, menurut Gambar
8.14a
Vab = Van + Vnb (8.41)
Persamaan tersebut menyatakan bahwa tegangan yang timbul dari a ke b
sama dengan tegangan dari a ke n (yaitu –Vna) ditambah dengan tegangan
dari n ke b. Jadi Persamaan (8.41) dapat ditulis sebagai
Vab = –Vna + Vnb (8.42)
Karena dalam suatu sistem yang setimbang setiap tegangan fasa mempunyai
besar yang sama, maka dapat ditulis
|Vna| = |Vnb| = |Vnc| = |Vp| (8.43)
dengan |Vp| menyatakan besar efektif tegangan fasa bersangkutan. Sesuai
dengan hal ini dapat dituliskan
Vna = |Vp|/0º (8.44)
Vnb = |Vp|/–120º (8.45)
Vnc = |Vp|/–240º = |Vp|/+120º (8.46)
Dengan menyisipkan Persamaan (8.44) dan (8.45) ke dalam Persamaan
(8.42) menghasilkan
Vab = –|Vp| + |Vp|/–120º = –|Vp| + |Vp|(cos 120º + jsin 120º)
 3 3
= –|Vp|  j  = 3 |Vp|/–150º (8.47)
 2 2
Demikian pula, dengan cara yang sama, didapatkan
Vbc = Vbn + Vnc = 3 |Vp|/–270º (8.48)
Dan
Vca = Vcn + Vna = 3 |Vp|/–30º (8.49)
Dari pernyataan ketiga tegangan saluran di atas, tampak bahwa ketiganya
masih membentuk suatu sistem tegangan fasa tiga setimbang yang besarnya
akar 3 kali tegangan fasanya. Jadi tegangan Vl diberikan oleh
Vl = 3 Vp (8.50)
yang berlaku untuk hubungan Y.
Setiap arus yang mengalir dari kutub saluran a (atau b atau c) harus sama
dengan yang mengalir melalui sumber tegangan fasa yang muncul antara
kutub n dengan a (atau n dengan b atau n dengan c). Oleh karena itu, dalam

273
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

suatu generator yang dihubungkan secara Y, arus salurannya sama dengan


arus fasanya, yaitu
Il = Ip (8.51)
dengan Il menyatakan nilai efektif arus saluran dan Ip menyatakan nilai
efektif arus fasanya.

Iaa’

a’
Iab Ibb’
b
a - + b’

Ibc
+ Beban fasa tiga
-
-
+ Icc’
Ica
c’
c

Gambar 8.16 Sumber fasa tiga dalam hubungan Δ

Andaikanlah ketiga sumber fasa tunggal pada Gambar 8.14a diatur kembali
sehingga membentuk suatu hubungan ∆ seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 8.16. Terhubungnya beban fasa tiga, menyatakan bahwa ada arus
yang mengalir dari sumber fasa tiga tersebut. Dari pengamatan terhadap
diagram tersebut dapat disimpulkan bahwa tegangan saluran dan fasa pada
sistem mempunyai besar yang sama, jadi
Vl = Vp (8.52)
untuk hubungan ∆. Diagram fasor hubungan ini diperlihatkan dalam Gambar
8.17. Jelas, dari Gambar 8.16 bahwa arus fasanya tidak sama dengan arus
salurannya. Dengan menerapkan hukum arus Kirchhoff pada salah satu
simpul kutub saluran, diperoleh
Iaa' = Ica + Iba = Ica – Iab (8.53)
dengan Iaa' menyatakan arus yang mengalir dalam saluran yang
menghubungkan a ke a'. Untuk menjalankan hubungan antara arus saluran
dengan arus fasanya, diandaikan sifat rangkaian beban adalah sedemikian
hingga menyebabkan ketiga arus fasa tersebut dapat dinyatakan sebagai
Iab = |Ip|/0º (8.54)
Ibc = |Ip|/–120º (8.55)
Ica = |Ip|/120º (8.56)

274
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Vca= |Vp|/120º

Iaa’ Ibb’

-Vna= Van Vab= |Vp|/0º


30º

120º

Vca

Vcc’= Ö|Ip|/-90º

Vbc= |Vp|/-120º

Gambar 8.17 Hubungan antara arus fasa dan arus saluran dalam
hubungan .

seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.17. Ketiga arus fasa ini diandaikan
sefasa dengan tegangan fasanya yang bersangkutan. Dengan menyisipkan
Persamaan (8.54) dan (8.55) ke dalam Persamaan (8.53) menghasilkan
 3 3
Iaa' = |Ip|/120º – |Ip| = |Ip|   j  = 3 |Ip|/150º (8.57)
 2 2 
Demikian pula
Ibb' = Iab – Icb = 3 |Ip|/30º (8.58)
dan
Icc' = Ibc – Iac = 3 |Ip|/–90º (8.59)

Jadi, himpunan arus fasa setimbang menghasilkan suatu himpunan arus


setimbang pula yang fasanya bergeser 30º dengan besarnya meningkat
dengan faktor akar 3. Jadi
Il = 3 Ip (8.60)
untuk hubungan ∆, dengan Il menyatakan besar efektif salah satu arus
salurannya.

275
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

8.7 Daya dalam sistem fasa tiga


Telah dibuktikan dalam Bagian 8.8 bahwa daya sesaat pada suatu sumber
sinusoida fasa tunggal juga berbentuk sinusoida dengan frekuensi dua kali
frekuensi sumbernya. Menurut Persamaan (8.48) pernyataan daya diberikan
oleh
p = VI cos  – VI cos (2t – ) (8.61)
Persamaan (8.61) sekarang dapat diterapkan pada setiap fasa dalam suatu
sistem fasa tiga setimbang. Satu-satunya perubahan yang diperlukan adalah
adanya pergeseran fasa 120º di antara fasa-fasanya itu. Sesuai dengan hal
tersebut, untuk masing-masing fasa dapat ditulis
pa = VpIp cos  – VpIp cos (2t – ) (8.62)
pb = VpIp cos  – VpIp cos (2t –  – 120º) (8.63)
pc = VpIp cos  – VpIp cos (2t –  – 240º) (8.64)
dengan fasa a dipilih sebagai fasa acuan, Vp dan Ip menyatakan nilai-nilai
efektif tegangan fasa, dan arus fasanya serta  menyatakan sudut impedansi
beban fasa tiga setimbang yang menyerap daya. Jadi, daya sesaat
keseluruhannya adalah
p = pa + pb + pc
= 3VpIp cos  – VpIp[cos (2t – ) + cos (2t –  – 120º)
+ cos (2t –  – 240º)] (8.65)
Hasil jumlah besaran dalam tanda kurung segi empat ternyata sama dengan
nol, sehingga besaran tersebut lenyap. Akibatnya, daya sesaat dalam suatu
sistem fasa tiga adalah konstan,
p = 3VpIp cos  (8.66)
dan daya rata-rata fasa tiga keseluruhan, secara matematika, dapat ditulis
sebagai
T
1
P =  pdt = 3VpIp cos  (8.67)
T0
sesuai dengan yang dilukiskan pada Gambar 8.18.
Untuk suatu sistem yang dihubungkan secara Y, dengan memasukkan
Persamaan (8.50) dan (8.51), Persamaan (8.67) menjadi
Vl
P= 3 I cos  3 VlIl cos  (8.68)
3 l
Dan untuk hubungan , dengan menggunakan Persamaan (8.52) dan (8.60)
didapatkan

276
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Il
P = 3Vl cos  3 VlIl cos  (8.69)
3
Tampak bahwa kedua pernyataan di atas menunjukkan bahwa daya dalam
suatu sistem fasa tiga adalah sama, baik untuk hubungan Y maupun  bila
dayanya dinyatakan dalam besaran-besaran saluran. Tetapi perlu diingat
bahwa  menyatakan sudut impedansi beban per fasa dan bukan sudut
antara Vl dengan Il.

Daya
p = pa + pb + pc

pa pb pc

0
t rad

Gambar 8.18 Daya dalam sistem fasa tiga

Kembali ke Gambar 8.18, tampak bahwa daya keseluruhan untuk sistem fasa
tiga adalah konstan dan menunjukkan suatu perbedaan mencolok bila
dibandingkan dengan sistem fasa tunggal yang dayanya berombak dengan
frekuensi dua kali frekuensi sumbernya. Hal ini merupakan salah satu
keunggulan sistem fasa tiga bila dibandingkan dengan sistem fasa tunggal.
Bila ada suatu beban besar yang harus dipikul dalam pemakaian industri atau
niaga yang lain, maka lebih banyak digunakan motor fasa tiga bila
dibandingkan dengan motor fasa tunggal.

a
a’
jX
Sumber
tegangan R
fasa tiga R
jX R
jX
c’ c b
b’

Gambar 8.19 Sistem beban fasa tiga setimbang dalam hubungan Y

277
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Pada masing-masing kaki dalam hubungan Y yang diperlihatkan pada


Gambar 8.19 terpasang sebuah impedansi yang sama besarnya dan
mempunyai nilai resistansi dan reaktansi yang sama per fasanya. Susunan
semacam ini disebut rangkaian beban fasa tiga setimbang. Andaikanlah suatu
sumber tegangan fasa tiga setimbang dengan tegangan saluran efektif sebesar
Vl dikenakan pada rangkaian beban tersebut. Dalam hal ini, tidak perlu
diketahui apakah sumber itu terhubung secara Y atau . Selanjutnya,
diandaikan pula bahwa impedansi beban pada masing-masing fasanya adalah
Za = Zb = Zc = R +jX = |Z|/ (8.70)
Dalam hubungan Y, arus a'a sama dengan arus fasa Ian. Untuk mendapatkan
Ian perlu ditentukan Van terlebih dahulu. Karena tegangan saluran telah
diketahui, sesuai dengan Persamaan (8.50), maka tegangan fasa Vp adalah
Vp = Vl 3 (8.71)

Vcn

Icn = Ic'c

Ibn = Ib'b

Van

Ian = Ia'a

Vbn

Gambar 8.20 Diagram fasor untuk sistem pada Gambar 8.19

Selanjutnya, dipilih tegangan jatuh dari a ke n, Van, sebagai fasor acuan yang
ditulis sebagai
Van = |Vp|/0º (8.72)
Karena sistem ini setimbang, maka dapat ditulis
Vbn = |Vp|/–120º (8.73)
dan
Vbn = |Vp|/–120º (8.74)
Masing-masing tegangan saluran ke netral dilukiskan dalam diagram fasor
pada Gambar 8.20. Arus saluran yang diperlukan dapat ditentukan sebagai
berikut:

278
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Van
Ia'a = Ian = (8.75)
Za
Vbn
Ib'b = Ibn = (8.76)
Zb
Vcn
Ic'c = Icn = (8.77)
Zc

a
a’

R jX
Sumber
tegangan R
jX
fasa tiga
R jX
c’ c b
b’

Gambar 8.21 Beban fasa tiga setimbang dalam hubungan 

Besaran fasor untuk arus juga telah diperlihatkan pada Gambar 8.20.
Daya yang dipergunakan dalam fasa a diberikan oleh
Pa = VpIp cos  (8.78)
dengan
X
 = tan–1 (8.79)
R
Daya ini juga dapat dihitung dari
Pa = Ian2R (8.80)
Karena daya yang dipergunakan dalam masing-masing fasa sama besarnya,
maka daya yang dikirimkan oleh sumber fasa tiga ke beban tersebut adalah
Pt = 3Pa (8.81)
Daya keseluruhan tersebut dapat pula dihitung berdasarkan besaran saluran
yang diketahui. Jadi, sesuai dengan Persamaan (8.68)
Pt = 3 VlIl cos  (8.82)
dan  di sini sama dengan  yang diperoleh menurut Persamaan (8.79).
Untuk impedansi yang dihubungkan secara , seperti pada Gambar 8.21,
diandaikan bahwa tegangan sumbernya tetap sama seperti pada hubungan Y.

279
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Karena dalam suatu hubungan  tegangan salurannya sama dengan tegangan


fasanya, secara sebarang Vab ditentukan sebagai tegangan acuan dan diagram
fasornya adalah seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.22.

Vca

Ic'c

Ibc
Ica

Vab

Ib'b Iab

Iab Ibc Ica

Ia'a

Vbc

Gambar 8.22 Diagam fasor untuk rangkaian pada Gambar 8.21

Pernyataan untuk arus fasa beban menjadi


Vab
Iab = (8.83)
Za
Vbc
Ibc = (8.84)
Zb
Vca
Ica = (8.85)
Zc
Arus saluran Ia'a diperoleh dengan menerapkan hukum arus Kirchhoff pada
simpul a. Jadi
Ia'a = Iab + Iac = Iab – Ica (8.86)
demikian pula
Ib'b = Iba + Ibc = Ibc – Iab (8.87)
Ic'c = Ica + Icb = Ica – Ibc (8.88)
Diagram fasor untuk arus itu juga diberikan pada Gambar 8.22

Contoh 8.5
Untuk suatu beban fasa tiga setimbang seperti yang diperlihatkan
pada Gambar 8.19, diketahui bahwa besar tegangan salurannya

280
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

adalah 173,2 V dengan impedansi sebesar 7,07 + j7,07  di


masing-masing fasanya. Hitunglah arus salurannya. Tentukan juga
berapa arus saluran itu bila beban tersebut dihubungkan secara .
Hitung pula daya yang diserap oleh beban tersebut dalam kedua
macam hubungan itu.
Jawab
Dalam hubungan Y, menurut Persamaan (8.75), (8.72) dan (8.81),
diperoleh
173,2
/ 0
3 100/ 0
Ia'a = Ian =  = 10/–45º A
7,07  j 7,07 10/ 45
dengan cara yang sama dapat dihitung
Ib'b =Ibn = 10/–165º A
Ic'c =Icn = 10/75º A
Dalam hubungan , menurut Persamaan (8.83),
173,2 / 0
Iab = = 17,32/–45º A
10/ 45
demikian pula
Ibc = 17,32/–165º A
Ica = 17,32/75º A
Arus salurannya menurut Persamaan (8.86) sampai dengan (8.88),
Ia'a = Iab – Ica = 17,32(0,707 – j0,707 – 0,259 – j0,966)
= 17,32(0,448 – j1,673) = 30/–75º A
Ib'b = 30/–195º A
Ic'c = 30/45º A
Tampak bahwa suatu impedansi beban yang dihubungkan secara 
menarik arus tiga kali lebih besar dibandingkan dengan arus yang
ditarik bila beban itu dihubungkan secara Y.
Daya keseluruhan hubungan Y, menurut Persamaan (8.82), adalah
Pt = 3  173,2  10  0,707 = 2121 W
karena
X 0,707
 = tan–1 = tan–1 = 45º.
R 0,707
Dan untuk hubungan :

281
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

Pt = 3  173,2  30  0,707 = 6363 W


Seperti halnya dengan arusnya, hubungan  tersebut menyerap
daya tiga kali lebih banyak bila dibandingkan terhadap daya yang
diserap oleh beban tersebut dalam hubungan Y dengan tegangan
yang sama.

Soal-Soal
8.1 Satu putaran suatu arus yang berulang diberikan oleh
i = 0,05 (1 – e–t) 0 t 1.
Jika arus ini mengalir dalam suatu resistor 15 , hitunglah daya rata-
ratanya.
8.2 Hitunglah daya semu untuk
a. suatu beban yang memerlukan arus efektif 30 A dari suatu saluran
dengan tegangan efektif 220 V
b. suatu beban yang terdiri dari sebuah resistor 100  yang
dihubungkan paralel dengan kapasitor 25 F yang terhubung ke
sumber 220 V 50 Hz.
8.3 Hitunglah faktor daya untuk
a. suatu beban yang merupakan kombinasi seri sebuah kapasitor 20
F dengan sebuah resistor 100  pada sistem 50 Hz.
b. beban kapasitif yang memerlukan arus efektif 50 A dan 5 kW pada
tegangan efektif 220 V
c. beban gabungan yang terdiri dari beban 5 kW dengan faktor daya
mendahului 0,85 yang dihubungkan paralel dengan beban 10 kW
dengan faktor daya tertinggal 0,9.
8.4 Untuk suatu rangkaian seri R dan L yang dihubungkan dengan suatu
sumber tegangan, diketahui  = 314 rad s–1, V = 115 V dan pf = 0,5
tertinggal. Tentukan berapa daya semu, daya rata-rata, daya reaktif
yang diberikan sumber, dan tentukan pula besar R dan L-nya.
8.5 Dalam rangkaian seperti yang diuraikan dalam Soal 8.4, R = 16 , L =
2 H dan diketahui pula bahwa  = 5 rad s–1 dan V = 100 V. Tentukan
berapa Z/, pf (mendahului atau tertinggal), I, PR, PX, S dan Vm.
8.6 Reaktansi induktif yang dihubungkan seri dengan Z dalam rangkaian
pada Gambar 8.17 mempunyai nilai sebesar 25 ohm. Sebuah voltmeter
yang mengukur tegangan antara Z memberikan penunjukan 179 volt
bila arus yang mengalir dalam Z tersebut adalah 4 ampere. Daya yang
diubah menjadi panas dalam rangkaian ini diketahui sebesar 320 watt.
a. Hitunglah faktor daya rangkaian ini.

282
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

b. Berapa resistansi rangkaian ini?


c. Apakah mungkin bahwa besar tegangan antara Z akan lebih besar
daripada tegangan sumbernya? Jelaskan dengan lengkap untuk Z
yang bersifat resistif, induktif, dan kapasitif.
d. Hitunglah komponen reaktif Z ini.
8.7 Untuk rangkaian pada Gambar 8.23, tentukan:

 = 314 rad/s 1 M 1 nF

Gambar 8.23 Rangkaian untuk Soal 8.7

a. R dan C seri setara yang memberikan impedansi yang sama.


b. Faktor daya untuk rangkaian paralel pada gambar tersebut dan
untuk bagian a.
c. Tegangan yang harus dikenakan untuk mendapatkan daya sebesar 1
watt untuk rangkaian paralel pada gambar tersebut, dan rangkaian
seri pada bagian a.
8.8 Suatu rangkaian terdiri atas sumber tegangan v dan beban Z. Diketahui
bahwa v = 311 cos (t + 15º) volt dan i = 30 cos (t – 56.4) ampere.
a. Berapakah daya semu yang diterima beban?
b. Berapakah faktor daya sistem?
c. Hitunglah P.
d. Hitung Z.
e. Lukislah suatu rangkaian dengan nilai resistansi dan komponen
lainnya yang mewakili Z.
8.9 Dua beban dihubungkan secara paralel pada suatu saluran dengan
tegangan efektif 20 kV. Beban pertama menarik 100 kVA dengan pf
0,6 mendahului dan beban kedua memerlukan 100 kW pada pf 0,8
tertinggal. Hitunglah besar daya nyata, daya reaktif, daya semu, dan
besar arus saluran yang mencatu kedua beban tersebut.
8.10 Buktikan bahwa Z0 yang diperlukan untuk memaksimumkan daya
yang diberikan ke suatu impedansi beban tertentu, Zi = Ri + jXi adalah
Z0 = –jXi. Berapakah efisiensinya?

283
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

8.11 Jika diketahui bahwa tegangan efektif Vab = 220/0º V adalah


tegangan saluran suatu sumber fasa tiga yang dihubungkan secara Y
dengan urutan fasa abc, hitunglah tegangan fasanya masing-masing.
8.12 Suatu beban yang dihubungkan seperti pada Gambar 8.19
dipasangkan pada tegangan efektif 220 V (antar saluran) dalam suatu
sistem fasa tiga. Jika impedansi masing-masing fasanya adalah
4/60º, tentukan daya keseluruhan yang diberikan kepada beban
tersebut.
8.13 Ulangi Soal 8.12 jika hubungan bebannya adalah seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 8.21.
8.14 Suatu tegangan fasa tiga 220 V dikenakan pada suatu beban
setimbang dalam hubungan  seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 8.21. Nilai efektif arus fasa yang diukur di antara titik a
dengan b adalah 10/–30º A.
a. Tentukan besar dan fasa arus salurannya dan lukislah diagram
fasor yang melukiskan tegangan saluran, arus fasa dan arus
salurannya.
b. Hitung daya keseluruhan yang diterima oleh beban tersebut.
c. Tentukan nilai resistif impedansi fasanya.
8.15 Beban yang dihubungkan secara Y pada Gambar 8.19 terdiri dari tiga
impedansi fasa yang masing-masingnya sebesar 15 +j20 ohm.
a. Tentukan arus fasor masing-masing salurannya.
b. Berapa daya yang diserap oleh beban.
c. Berapa jumlah fasor ketiga arus salurannya? Mengapa bernilai
demikian?
8.16 Ulangi Soal 8.15 bila beban tersebut dihubungkan secara  seperti
pada Gambar 8.21.
8.17 Sebuah generator fasa tiga 208 V mencatu daya keseluruhan sebesar
1800 W dengan arus saluran 10 A untuk tiga impedansi identik yang
dihubung secara Y. Tentukan komponen resistif dan reaktif ketiga
impedansi beban tersebut.
8.18 Ulangi Soal 8.17 jika ketiga beban itu dihubungkan secara .
8.19 Suatu beban setimbang yang dihubungkan secara Y mempunyai
impedansi sebesar 6/40º. dari saluran ke netral. Tegangan dari salah
satu salurannya ke netral adalah 220/30º V.
a. Berapakah arus yang mengalir dalam masing-masing
impedansi?
b. Hitunglah tegangan saluran ke netral pada fasa lainnya.
c. Hitunglah tegangan antar salurannya.

284
Bab 8 Daya Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik

8.20 Tiga buah resistor yang masing-masingnya sebesar 10 


dihubungkan secara Y di antara saluran 220 V. (Berarti pada suatu
sumber fasa tiga 220 V antar saluran.) Hitunglah arus fasa dan arus
salurannya serta berapa daya yang diserap oleh ketiga resistor
tersebut.
8.21 Ulangi Soal 8.21 jika ketiga resistor itu dihubungkan secara .
8.22 Tiga impedansi yang identik dihubungkan secara  di antara saluran
381 V. Salah satu tegangan antar salurannya adalah 381/60º V dan
salah satu arus fasanya adalah 6,35/200º A.
a. Tentukan tegangan dan arus lainnya dan tunjukkan hal itu dalam
diagram fasor.
b. Tentukan impedansi fasanya.
8.23 Tiga impedansi yang sama sebesar 20/30º dihubungkan secara  di
antara saluran fasa tiga dengan tegangan 381 V.
a. Lukis diagram rangkaiannya dengan semua nilai tersebut.
b. Hitung arus fasa dan arus salurannya.
c. Lukislah diagram fasor untuk tegangan dan arusnya.

285
Daftar Kata
admitansi
Perbandingan antara arus dengan teganganpada sepasang kutub pada
rangkaian listrik.
aktuator
Peralatan mekanik untuk menggerakkan atau mengendalikan suatu
mekanisme atau sistem.
akuisisi data
Sistem yang meliputi pengumpulan data dari hasil pengukuran dan
mengubahnya dalam bentuk digital guna disimpan, dianalisis, dan disajikan
dalam bentuk yang sesuai.
ammeter
Alat pengukur arus listrik.
analisis dimensi
Pengujian dimensi didasarkan atas kenyataan bahwa suatu persamaan analitis
harus mempunyai dimensi yang homogeny
antena
Alat transisi antara penyaluran gelombang elektromagnet ruang bebas dengan
gelombang elektromagnet terbimbing atau saluran transmisi.
arus listrik
Banyaknya muatan yang melewati suatu luas penampang tertentu per satuan
waktu
ASCII (American Standard Code for Information Interchange)
Sandi baku untuk pertukaran informasi merupakan rancangan sandi untuk
mewakili teks dalam abjad Latin.
awalan satuan
Menunjukkan kelipatan satuan.
bahan diamagnetik
Bahan yangkurang dipengaruhi magnet.
bahan feromagnetik
Bahanyang sangat kuat dapat ditarik oleh magnet.
bahan paramagnetik
Bahanyang tidak terlalu kuat ditarik oleh magnet.
bit (binart digit)
Angka biner.
BJT (bipolar junction transistor)
Daftar Kata

cache
Penyimpan sementara data yang sering dipergunakan dan disimpan dalam
RAM dengan kecepatan akses yang tinggi.
daya
Kecepatan perubahan tenaga yang dipergunakan, yaitu banyaknya kerja yang
dilakukan dalam satu satuan waktu.
dekoder
Rangkaian kombinasi digital yang mengubah suatu sandi biner dengan n
variabel masukan menjadi m saluran keluaran, satu untuk setiap unsur
informasi diskrit.
derau
Sinyal acak yang tidak ada hubungannya dengan sinyal masukan.
digit
Angka.
dimensi
Karakteristik fisik suatu benda.
diode
Komponen elektronika tak-linear kutub-dua yang memberikan resistansi yang
relatif rendah terhadap aliran arus pada suatu arah dan resistansi yang relatif
sangat tinggi pada arah aliran arus yang sebaliknya.
elektrodinamika
Bahasan yang berkaitan dengan arus listrik dan gaya yang ditimbulkannya.
elektromagnetika
Rekayasa dan ilmu yang berhubungan dengan interaksi antara medan magnet,
medan listrik, dan aliran arus listrik.
elektron valensi
Elektron yang orbitnya terletak pada kulit terluar.
elektron
Partikel bermuatan listrik negatif; satuan muatan listrik negatif.
elektronika
Cabang ilmu fisika yang mempelajari pemancaran, perilaku, dan dampak
elektron serta alat-alat yang menggunakannya.
elektrostatika
Bahasan yang berkaitan dengan muatan listrik dalam keadaan diam.
enkoder
Rangkaian kombinasi digital yang menerima m saluran masukan, satu untuk
setiap informasi diskrit, dan menghasilkan suatu sandi biner dengan n saluran
keluaran.
ergonomics
Studitentang rancangan tempat kerja.

288
Daftar Kata

ergonomi
Ilmu yang ‘menyesuiakan kerja untuk manusia,’ merupakan proses
perancangan atau pengaturan tempat kerja, produk, dan sistem sedemikian
hingga sesuai dengan orang-orang yang menggunakannya.
pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
Bantuan pertama yang diberikan kepada orang yang cedera akibat kecelakaan
sebelum ditangani tenaga medis dengan sasaran menyelamatkan nyawa,
menghindari cedera atau kondisi yang lebih parah, dan mempercepat
penyembuhan.
faktor dayamendahului
faktor dayatertinggal
Fasa arus dalam rangkaian bolak-balik yang mengalir di dalam unsur
tertinggal dari fasa tegangannya.
Fasa arus dalam rangkaian bolak-balik yang mengalir di dalam
unsurmendahuluifasa tegangannya.
FET (field effect transistor)
Transistor pengaruh medan.
flip-flop
Rangkaian sel biner yang dapat menyimpan satu bit informasi.
FTP (File Transfer Protocol)
Protokkol yang digunakan untuk saling mempertukarkan dan memanipulasi
file melalui jaringan.
fungsi jala-jala
Fungsi yang menguraikan perilaku suatu jala-jala melalui persamaan
diferensial yang menghubungkan variabel masukan dengan variabel
keluarannya.
galat
Kekeliruan, kesalahan, atau cacat
gangguan hubung singkat
Ganggunan yang terjadi bila dua atau lebih penghantar yang berbeda
tegangannya saling bertemu.
gangguan
Keadaan di luar keadaan normal seperti hubung-singkat, arus lebih, tegangan
lebih dan tegangan kurang serta perubahan frekuensi.
gardu induk
Instalasi listrik mulai dari tegangan ekstra tinggi, tegangan tinggi, dan
tegangan menengah, terdiri atas switchyard, peralatan hubung-
bagi(switchgear), berfungsi mengubah daya listrik dari tegangan ekstra tinggi
atau tegangan tinggi menjadi tegangan menengah, melakukan pengukuran,
pengawasan operasi serta pengaturan pengaman sistem daya listrik, dan
melakukan pengaturan daya ke gardu-gardu induk lainnya melalui saluran

289
Daftar Kata

tegangan tinggi dan gardu-gardu distribusi melalui saluran tegangan


menengah.
gayalistrik
Gaya yang timbul karena kedudukan muatan listrik.
gayamagnet
Gaya yang timbul karena kecepatan muatan listrik
hiperteks
Teks, yang diperagakan di komputer, dengan acuan (hyperlink) yang
langsung dapat ditampilkan kalau bagian itu diklik dengan mouse.
hipotesis
Sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori,
proposisi, dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan;
anggapan dasar.
HTTP(Hypertext Transfer Protocol)
Protokol transfer hiperteks untuk menelusuri sumber-sumber yang saling
terkait dalam dokumen yang disebut sebagai hiperteks.
hukum
Teori yang berulang-kali diterapkan dalam berbagai keadaan tanpa
menimbulkan kontradiksi.
HVDC (high voltage direct current)
Listrik arus searah tegangan tinggi yang digunakan untuk menyalurkan daya
listrik dengan jaraj yang sangat jauh.
PLN
Perusahaan Listrik Negara, perusahaan umum milik negara yang
menyediakan pasokan listrik di Indonesia.
IC (integrated circuit)
Rangkaian terpadu.
IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers)
Organisasi internasional nirlaba yang mewadahi profesional di bidang teknik
elektro.
IGBT(insulated-gate bipolar transistor)
transistor elektronika daya yang dikendalikan oleh tegangan yang
memberikan pengalihan dengan kecepatan tinggi.
impedansi
Perbandingan antara tegangan dan arus pada sepasang kutub pada rangkaian
listrik.
induktansi
Konstanta pembanding unsur rangkaian yang membutuhkan tegangan
sebanding dengan turunan waktu atau kecepatan perubahan arus yang
mengalir di dalamnya.

290
Daftar Kata

induktor
Benda fisik yang ciri utamanya adalah induktansi.
informasi
Besaran yang diperlukan oleh suatu sistem guna menyelesaikan suatu tugas.
instrumen biomedis
Instrumenuntukmengukur, menguatkan, mengolah, merekam, dan
menyimpan besaran-besar fisiologis guna membantu dokter mendiagnosis
penyakit, mempersiapkan pengobatan, dan mengembalikan fungsi-fungsi
tubuh agar bekerja sebagaimana mestinya.
instrumentasi
suatu himpunan peralatan (instrumen) dan penggunaannya untuk mengamati,
mengukur, dan mengendalikan.
Internet
Sistem global jaringan komputer yang saling terhubung. Sebenarnya Internet
adalah jaringan dari jaringan yang terdiri atas berjuta jaringan pribadi, publik,
akademik, bisnis, dan pemerintah.
ion
Partikel, atom atau molekul yang kehilangan atau mendapat tambahan
electron dan menjadi bermuatan listrik.
isolator
Bahan dengan resistivitas yang sangat tinggi.
jala-jala
Rangkaian yang rumit dan lebih umum sifatnya.
jarak
Ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat.
Jaringan komputer yang menghubungkan komputer dan peralatan tambahan
yang secara geografik terletak berjauhan.
JFET (junction field effect transistor)
Transistor pengaruh medan gerbang sambungan.
kalkulator
Peralatan yang mengandalkan campur tangan manusia, karena seseorang
harus memasukkan bilangan dan perintah selama perhitungan dilaksanakan.
kapasitansi
Konstanta pembanding unsur rangkaian yang memerlukan arus sebanding
dengan turunan waktu tegangan di antara kutub-kutubnya.
kapasitor
Benda fisik yang ciri utamanya adalah kapasitansi.
kecepatan
Jarak yang ditempuh sebuah benda dibagi dengan waktu tempuhnya.

291
Daftar Kata

kompensasi fasa
Perbaikan faktor daya dalam rangkain arus bolak-balik.
komputer
Peralatan yang secara otomatis melakukan semua langkah-langkah
perhitungan itu tanpa adanya campur tangan manusia.
konduktansi
Kebalikan resistansi.
konduktor
Bahan dengan resistivitas rendah.
lampu pijar
Lampu listrik yang menggunakan filamen yang berpijar dalam ruang hampa.
lampu tabung
Lampu yang memanfaatkan pengubahan tenaga listrik menjadi cahaya
melalui tumbukan elektron bebas dalam ruang hampa dengan atom-atom gas.
LAN (local area network)
Jaringan komputer yang terletak dalam suatu bangunan gedung atau dalam
kampus yang tidak terlalu jauh jangkauannya.
laser(light amplification by stimulated emission of radiation)
Pembangkit cahaya yang dapat menghasilkan cahaya dengan intensitas
tinggi, bersifat koheren dan monokromatis.
LED (light emitting diode)
Diode yang memancarkan cahaya.
masa sentara
Selang waktu setelah terjadinya pengalihan sampai tegangan atau arus dalam
rangkaian mengatur dirinya untuk mencapai keadaan mantap.
maser(microwave amplification by stimulated emission of radiation)
Alat untuk menghasilkan gelombangmikrodengan pancaran radiasi yang
terangsang.
mekatronika
Keterpaduan total antara sistem mekanik, sistem elektronik, sistem listrik,
komputer, sistem kendali, dan rekayasa molekuler (dari nanokimia dan
biologi).
model
Teknik pewakilan, secara mendekati, untuk suatu peralatan fisik yang rumit.
MOSFET (metal-oxide-semiconductor field effect transistor)
Transistor pengaruh medan gerbang semikonduktor oksida logam.
multimeter
Kombinasi antara miliammeter, voltmeter dan ohmmeter (mAVO-meter).

292
Daftar Kata

neutron
Partikel di dalam inti atom dengan massa yang sama seperti proton tetapi
tidak bermuatan listrik.
number
Bilangan.
ohmmeter
Alat pengukur resistansi listrik.
osilator
Peralatan elektronik yang menghasilkan osilasi listrik.
osiloskop
Alat yang dapat memperagakan variasi besaran listrik yang berubah-ubah
sebagai suatu tampilan di layar peraga.
PAL(Phase Alternating Line)
Bakuan sistem enkoding televisi analog yang digunakan dalam sistem
pemancar televisi.
PDA(personal digital assistant)
Komputer genggam.
pembanding
Rangkaian kombinasi digital yang dapat membandingkan dua bilangan
pembuang panas
Logam penghantar panas yang sangat baik untuk menyalurkan panas itu
untuk membantu mendinginkan peralatan yang dilindungi.
penguat
Peralatan yang menggunakan tenaga yang kecil untuk mengendalikan tenaga
yang lebih besar.
penyandian sumber
Proses untuk menghilangkan redundansi (redundancy) yang ada pada sinyal
sehingga hanya informasi dasar yang memang diperlukan untuk disalurkan.
penyearah
Alat untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah
penyearahan
Prosesuntuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah.
penyepadanan resistansi
Proses penyepadanan resistansi keluaran dengan resistansi beban
perangkat keras
komponen-komponen fisik komputer seperti unit pengolah utama (CPU),
peralatan penyimpan, peralatan masukan dan keluaran, dan sebagainya.
perangkat lunak
Program yang diperlukan oleh komputer untuk menjalankan komputer.

293
Daftar Kata

percepatan
Selisih kecepatan dibagi dengan selang waktu pengamatan.
pewakilan digital
Besaran tidak diwakili oleh besaran lain yang sebanding, melainkan oleh
lambang yang disebut angka.
PII (Persatuan Insinyur Indonesia)
Organisasi profesi yang menghimpun para sarjana teknik dan pertanian di
Indonesia.
potensiometer
Resistor yang dapat diubah-ubah dengan tiga kutub.
program counter
Register yang digunakan untuk menyimpan alamat letak penyimpan yang
mengandung perintah berikutnya untuk dilaksanakan.
protokol
Himpunan aturan yang mengatur urutan peristiwa yang berlangsung di antara
penggunanya.
proton
Partikel bermuatan listrik positif yang terdapat di dalam inti atom.
radar(radio detection and ranging)
Alat (yang memakai gelombang radio) untuk mendeteksi jarak, kecepatan,
dan arah benda yang bergerak atau benda yang diam (biasanya dipakai dl
penerbangan dan pelayaran).
rangkaian terpadu
komponen elektronika berupa sepotong chip semikonduktor monolit yang
mengandung unsur-unsur rangkaian aktif dan pasif lengkap dengan
interkoneksinya.
redundansi
Isi pesan yang dibawa oleh sinyal di luar informasi dasar yang disalurkan.
register
Sekumpulan flip-flop yang digunakan untuk menyimpan data.
Rekayasa(engineering)
Seni pemanfaatan sumber tenaga dan benda di alam untuk kebaikan umat
manusia.
rekayasa komputer
rekayasa yang meliputi perancangan dan pengembangan sistem perangkat
keras dan perangkat lunak yang mengendalikan perangkat keras itu.
rekayasa sistem
Rekayasa yang memanfaatkan prinsip-prinsip matematika untuk membuat
model dan menguraikan sistem yang kompleks serta meramalkan unjuk kerja
suatu sistem berdasarkan analisis rekayasa.

294
Daftar Kata

resinous
Zat alir listrik statik yang bersifat seperti damar.
resistansi masukan
Resistansi yang menunjukkan akibat yang dihasilkan oleh rangkaian terhadap
sumbernya.
resistansi titik-penggerak
Resistansi masukan.
resistansi
Konstanta pembanding unsur rangkaian yang memerlukan tegangan
sebanding dengan arus yang mengalir di dalamnya.
resistor
Benda fisik yang ciri utamanya adalah resistansi.
rheostat
Resistor yang dapat diubah-ubah dengan dua kutub.
robot
Manipulator yang dikendalikan secara otomatis, dapat diprogram kembali,
serba guna, yang dapat diprogram dalam tiga atau lebih sumbu, yang dapat
diam di suatu tempat atau bergerak untuk digunakan dalam aplikasi
otomatisasi industri.
saluran bawah tanah
Saluran yang menyalurkan daya melalui kabel yang ditanam atau diletakkan
dalam terowongan bawah tanah.
saluran trasnmisi
Sarana fisik untuk menyalurkan sinyal atau daya dari satu tempat ke tempat
yang lain.
saluran udara
Saluran yang menyalurkan daya listrik melalui kawat-kawat yang digantung
pada tiang atau menara transmisi melalui isolator keramik.
satuan
Bakuan atau acuan yang dapat menyatakan dimensi dalam bilangan.
SCADA (supervisory control and data acquisition)
Sistem pengolahan data terpadu yang berfungsi menyelia, mengendalikan,
dan mendapatkan data saat ini (secara real time).
SCR (Silicon controlled rectifier)
Penyearah silikon terkendali.
sel bahan bakar
Sumber tenaga listrik yang mengubah hidrogen dan oksigen menjadi listrik
dan air.

295
Daftar Kata

semikonduktor
Bahan yang resistivitasnya terletak dalam kawasan di antara yang dimiliki
oleh logam dan penghantar.
sensor
Transduser.
SI - Sistem Internasional (Système International d’Unités)
Himpunan satuan baku yang seragam dan dapat ditiru di mana pun di dunia.
siaran radio
Penyampaian informasi dalam satu arah dengan memanfaatkan gelombang
radio sebagai media.
simpul
Titikdalam rangkaian listrik dengan dua atau lebih unsur dan/atau sumber
bertemu.
sistem digital
Susunan peralatan yang dirancang untuk mengolah besaran fisik yang
diwakili dalam besaran digital, yaitu dengan nilai-nilai diskrit yang
perubahan antara suatu nilai dengan nilai berikutnya tidak sinambung
melainkan langkah-demi-langkah.
sistem tenaga listrik
Rangkaian instalasi tenaga listrik mulai dari pembangkitan, transmisi, dan
distribusi yang dioperasikan secara serentak dalam rangka penyediaan tenaga
listrik.
sistem
Himpunan benda atau bagian-bagian yang bekerja bersama-sama atau
terhubung sedemikian sehingga membentuk suatu keseluruhan.
SMTP (Simple Mail Transfer Protocol)
Protokol transfer warkat sederhana) yang digunakan untuk mengirimkan
warkat elektronik (electronic mail – email)
stack pointer
Digunakan untuk menunjukkan kedudukan data yang paling baru disimpan
atau penyimpanan yang tersedia berikutnya dalam stack.
stasiun pancar ulang
Stasiun yang menerima sinyal dengan antena penerima yang kemudian
dikuatkan dan dipancarkan kembali oleh antena pemancar.
sumber bebas
Sumber sempurna
sumber kelas dua
Sumber tegangan atau sumber arus yang tegangan atau arusnya merupakan
fungsi tegangan atau arus yang berada di bagian lain rangkaian.

296
Daftar Kata

sumber sempurna
Sumber tenaga listrik yang memberikan tegangan tetap atau arus tetap.
sumber tak bebas
Sumber kelas dua.
superkonduktor
Bahan yang tidak mempunyai resistansi yang dapat menghalangi aliran arus
listrik.
tabung elektron
Komponen elektronika yang memanfaatkan pancaran elektro di ruang hampa
udara.
tanggapan alamiah
Tanggapan rangkaian yang terjadi tanpa adanya sumber dari luar.
tegangan
tenaga yang diperlukan satu satuan muatan untuk bergerak dari suatu titik ke
titik lain karena pengaruh gaya listrik.
teknik kendali
Sistem elektronik yang dirancang untuk memberikan pengaturan secara cepat
dan tepat dapat bagian sistem yang lain.
teknikkomunikasi
rekayasa dan ilmu yang diperlukan untuk memancarkan informasi dari suatu
tempat ke tempat lain.
teknik tenaga listrik
rekayasa yang berhubungan dengan pembangkitan, penyaluran, dan distribusi
tenaga listrik.
telemetri
Transmisi data hasil pengukuran ke suatu tempat yang jauh dalam bentuk
sinyal listrik
televisi
Cara untuk menghasilkan kembali gambar diam dan gambar hidup dengan
menggunakan sinyal-sinyal elektronik.
tenaga terbarukan
Tenaga yang diperoleh dari sumber yang dapat ditangani sedemikian
sehingga tidak akan habis dalam kurun waktu hidup manusia.
tenaga
Kemampuan melakukan kerja; daya yang dapat menggerakkan sesuatu.
teori
Pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data
dan argumentasi; penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan
fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi; hipotesis yang
cukup teruji.

297
Daftar Kata

titik-hubung
Simpul.
transduser
Alat yang mengubah tenaga atau informasi dari suatu bentuk ke bentuk yang
lain.
transduser
Alatyang mengubah tenaga dari satu bentuk ke bentuk yang lain; alat yang
memberikan keluaran berguna dalam menanggapi hasil pengukuran tertentu.
transformator
Alat untuk menyalurkan tenaga listrik dari suatu rangkaian ke rangkaian yang
lain melalui medan magnet yang menghubungkan kedua rangkaian tersebut.
Transistor sambungan bipolar.
Transistor
Komponen elektronika dengan tiga kutub yang dapat mengendalikan arus
atau tegangan listrik dengan mengenakannya ke kutub yang ketiga.
transkonduktansi
Perbandingan arus diferensial pada keluaran terhadap tegangan diferensial
masukannya.
transponder
Alat yang bertugas sebagai penerima untuk memancar kembali dengan
frekuensi yang berbeda.
UPS (uninterruptible power supply)
Peralatan yang digunakan sebagai catu daya cadangan darurat yang dapat
memberikan daya listrik pada saat catu daya utamamengalami gangguan.
vitreous
Zat alir listrik statik yang bersifat seperti kaca.
voltmeter
Alat pengukur tegangan listrik.
WAN (wide area network)
zat alir (fluida)
Benda seperti air atau gas yang berubah bentuknya oleh pengaruh gaya geser;
zat yang mudah mengalir (spt zat cair dan gas).

298
Lampiran

A
A) Satuan Sistem Internasional

Satuan Sistem Internasional Dasar


Besaran Satuan Lambang
Panjang meter m
Massa kilogram kg
Waktu detik s
Arus listrik ampere A
Suhu kelvin K
Banyaknya substansi mole mol
Kuat cahaya kandela cd
Lampiran

Satuan Sistem Internasional Yang Diturunkan Dengan Nama


Khusus
Lamba
Besaran Satuan Hubungan asal
ng
Sudut bidang datar Radian rad m/m
Sudut ruang Steradian sr m2/m2
Frekuensi Hertz Hz s-1
Gaya Newton N kgms-2
Tekanan Pascal Pa Nm-2
Tenaga, kerja, Joule J Nm
banyaknya panas
Daya, pancaran fluks Watt W Js-1
Muatan listrik Coulomb C As
Potensial listrik, beda
potensial, tegangan, Volt V WA-1
gaya gerak listrik
Kapasitas listrik Farad F CV-1
Resistansi listrik ohm  VA-1
Konduktansi listrik siemens S AV-1
Fluks magnet weber Wb Vs
Kerapatan fluks tesla T Wbm-2
magnet
Induktansi henry H WbA-1
Suhu Celsius derajat Celsius ºC K
Fluks cahaya lumen Lm cdsr
Kuat penerangan lux lx lmm-2

300
Lampiran

B
B) Kostanta Fisika

Konstanta Lambang Besarnya

Muatan elektron e 1,602  10–19 C

Massa elektron me 9,109  10–31 kg

Kecepatan cahaya c 2,998  108 ms–1

Percepatan gravitasi g 9,807 ms–2

Bilangan Avogadro N 6,023  1023 mol–1

Konstanta Planck h 6,626  10–34 Js

Konstanta Boltzmann k 1,380  10–23 JK–1

Permeabilitas ruang bebas


o 4 10–7 Hm–1

Permitivitas ruang bebas o 8,850  10–12 Fm–1

Elektron-volt eV 1,602  10–19 J

301
Lampiran

C
C) Huruf Yunani

Huruf Huruf Huruf Huruf


Nama Nama
kapital kecil kapital kecil
  alfa   nu
  beta X  xi
  gamma   omikron
  delta   pi
  epsilon   rho
Z  zeta   sigma
  eta   tau
  theta   upsilon
  iota   fi
  kappa   khi
  lambda   psi
  mu   omega

302
Daftar Pustaka

Balanis, Constantine A. 1997. Antenna Theory: Analysis and Design. 2nd ed.
New York: John Wiley & Sons, Inc.
Behling, R. 1986. Computers and Information Processing. Boston: Kent
Publishing Company.
Bir, Attila, and Mustafa Kacar. 2006. Pioneers of Automatic Control Systems.
Manchester: Foundation for Science Technology and Civilation.
Buchmann, Isador. 2003. When was the Battery Invented? Battery
[Link].
Center for Disease Control and Prevention, National Institute for
Occupational Safety and Health. 2009. Electrical safety: Safety
and Health for Electrical Trades. Revised Edition. Washington:
Department of Health and Human Services.
Cisco Systems, Inc. Cisco Networking Academy Program. 2001. Cisco
Networking Academy Program: First-Year Companion Guide.
Second Edition. Indianapolis: Cisco Press.
Cogdell. J.R. 1990. Foundations of Electrical Engineering. Englewood
Cliffs: Prentice-Hall. Inc.
Couch, Leon W. 2002. Digital and Analog Communication Systems. Sixth
Ed. Upper Saddle River: Pearson Prentice-Hall.
Dorf. Richard C. editor-in-chief. 2005. The Engineering Handbook. 2nd ed.
Boca Raton: CRC Press LLC.
El-Hawary, M.E. 2000. Electrical Energy Systems. Boca Raton: CRC Press
LLC.
Energizer. 2004.
Gibson. Jerry. D. editor. 2002. The Communications Handbook. 2nd ed. Boca
Raton: CRC Press.
Hambley, Allan R. Electrical Engineering: Principles and Applications. 4th
ed. Upper Saddle River: Pearson Education, Inc.
Health and Safety Executive.1998. Electrical Safety and You. Caerphilly:
HSE Information Services.
Health and Safety Executive.1998. Five Steps to Risk [Link].
Caerphilly: HSE Information Services.
Health and Safety Executive.1998. Understanding Ergonomics at
[Link]. Caerphilly: HSE Information Services.
Pustaka Acuan

Hughes, Edward. 2005. Hughes Electrical and Electronic Technology. 9th ed.
Harlow: Pearson Education Limited.
Hutauruk, Prof. Ir. T.S. 1993. Transmisi Daya Listrik. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Irwin, J. David and D.V. Kerns, Jr. 1995. Introduction to Electrical
Engineering. Englewood Cliffs: Prentice-Hall. Inc.
Kadir. Abdul. 1995. Energi: Sumber Daya, Inovasi, Tenaga Listrik, dan
Potensi Ekonomi. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
Kraus, John D. 1998. Antennas. Singapore: McGraw-Hill International
Editions.
Kasatkin, A. and M. Perekalin. [Link] Electrical Engineering. Moscow:
Peace Publishers.
Kostenko, M. and L. Piotrovsky. Electrical Machines. Part One and Part
Two. Moscow: Peace Publishers.
Kuznetsov, M. Fundamentals of Electrical Engineering. Moscow: Peace
Publishers.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1977. Peraturan Umum Instalasi
Listrik Indonesia 1977 (PUIL 1977). Jakarta.
Mason, C.R. [Link] Art & Science of Protective Relaying. General
Electric.
Mismail, B. 1995. Rangkaian Listrik Jilid Pertama. Bandung: Penerbit ITB.
Mismail, B. 1997. Rangkaian Listrik Jilid Kedua. Bandung: Penerbit ITB.
Mismail, B. 1998. Rangkaian Logika Digital. Bandung: Penerbit ITB.
Nadarajan, Gunalan. 2007. Islamic Automation: A Reading of al-Jazari’s The
Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices (1206).
Manchester: Foundation for Science Technology and Civilation.
Panitia Revisi PUIL.2000. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL
2000). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Perusahaan Umum Listrik Negara. 1986 SPLN 66:1986. Standar Peralatan
Keselamatan Kerja. Jakarta: Departemen Pertambangan dan
Energi.
Perusahaan Umum Listrik Negara. 1993. SPLN 106:1993. Tanda
Keselamatan Kerja. Jakarta: Departemen Pertambangan dan
Energi.
Paul, C.R., S.A. Nasar, L.E. Unnewehr. 1992. Introduction to Electrical
Engineering. Second Edition. New York: McGraw-Hill, Inc.
Peebles, P.Z., T.A. Giuma. 1991. Principles of Electrical Engineering. New
York: McGraw-Hill Companies, Inc.

304
Pustaka Acuan

Petruzella, Frank D. 1996. Industrial Electronics. New York: McGraw-Hill


Companies, Inc.
Priyanto, Tonda. 2002. ‘The Journey of TelKom in Operating
Communications Satellites to Serve the Indonesia Archipelago.’
Online Journal of Space Communication.
PT. Cipta Adi Pustaka. 1996. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta.
Radio Shack Corporation. 2004. Radio Shack Product Support.
[Link]
Rechargeable Battery Recycling Corporation and National Geographic. 2004.
Battery Lesson Plan.
Rizzoni, Giorgio. 2007. Principles and Applications of Electrical
Engineering. 5th Edition. New York: McGraw-Hill Companies,
Inc.
Ridley, John. 1998. Health and Safety … in Brief. Woburn, MA.:
Butterworth-Heinemann.
Schweber, William. 2002. Electronic Communication Systems. Englewood
Cliffs: Prentice-Hall. Inc.
Schultz, Mitchel E. 2007. Grob’s Basic Electronics. 10th [Link]:
McGraw-Hill Co. Inc.
Smith, Ralph J., and Richard C. Dorf. 1992. Circuits, Devices, and Systems.
Fifth Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Theraja, B.L. 2002. Fundamentals of Electrical Engineering and Electronics.
New Delhi: S. Chand & Company, Ltd.
Tomasi, Wayne. 2004. Advance Electronic Communications Systems. Sixth
Edition. Upper Saddle River: Pearson Prentice-Hall.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang
Penghapusan Monopoli Penyelenggaraan Telekomunikasi.
Weedy, B.M. and B.J. Cory. 1998. Electric Power Systems. 4th ed.
Chichester: John wiley & Sons.
Wildi, Theodore. 2006. Electrical Machines, Drives, and Power Systems. 6th
ed. Upper Saddle River, N.J.: Pearson Education. Inc.
Young, Paul H. 2004. Electronic Communication Techniques. Fifth Edition.
Upper Saddle River: Pearson Prentice-Hall.
Zherebtsov, I. Fundamentals of Radio. Moscow: Foreign Language
Publishing House.

305
Pustaka Acuan

Zuhal. 1988. Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

306
Pustaka Acuan

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

307
Indeks

A D
admitansi, 137, 164 daur, 144
Admitansi pemindah, 194 Daya, 33
alat, 16 daya aktif, 258
ampere, 27, 35 daya kompleks, 259
Ampère, 9 daya puncak, 251
analisis dimensi, 30 daya rata-rata, 251, 253
arah acuan, 42 Daya rata-rata, 149
arah arus, 35 daya reaktif, 258
arus, 15 daya semu, 259
Arus bolak-balik, 35 Daya sesaat, 251
arus efektif, 149 daya tanpa-watt, 258
arus fasa, 274 De Forest, 10
Arus listrik, 34 deduksi, 19
arus negatif, 68 deka, 28
arus saluran, 274 denyut, 59
arus searah, 36 deret Fourier trigonometri, 199
arus tanggapan alamiah, 227 desi, 28
arus terpaksa, 225, 227 detik, 27
ato, 28 Diagram fasor, 160
atom, 11 dimensi, 30
awalan satuan, 28 Dimensi, 26
Du Fay, 6
B
Bardeen, 10
E
Baterai, 16 Edison, 10
beban, 40 eksa, 28
bentuk-gelombang, 53 elektrodinamika, 9
besaran saluran, 277 Elektrokardiogram, 175
blok, 176 Elektromagnetika, 2
Botol Leyden, 7 elektron, 6, 12
Brattain, 10 elektron bebas, 12
Elektronika, 3
C elektrostatika, 8
Euler, 154
Cara Maxwell, 111
Cavendish, 6 F
coulomb, 33
Coulomb, 6 faktor daya mendahului, 260
Indeks

faktor dayatertinggal, 260 gradien tegangan, 38


faktor mutu, 215 Gray, 6
faktor reaktif, 260
faktordaya, 260 H
farad, 57
Faraday, 10 hekto, 28
fasa jamak, 252 henry, 50
fasor, 133 Henry, 10, 50
femto, 28 hertz, 144
fluida, 16 Hertz, 10, 144
fluks, 39 hipotesis, 19
fotonika, 4 hukum, 19
Fourier, 176 Hukum Arus Kirchhoff, 68
Franklin, 7 Hukum Coulomb, 30
frekuensi, 144 Hukum Kirchhoff, 68
frekuensi alamiah, 226, 233 Hukum Ohm, 43
frekuensi daya-setengah, 209 Hukum Tegangan Kirchhoff, 70
frekuensi kompleks, 137
frekuensi pusat, 209 I
frekuensi resonansi, 178
frekuensi resonansi tak-teredam, impedansi, 137
233 Impedansi pemindah, 194
frekuensi sudut dasar, 199 induksi, 19
Fungsi eksponensial, 135 induktansi, 17, 42, 50
fungsi ganjil, 206 induktansi diri, 50
fungsi genap, 205 induktansi setara, 79
fungsi jala-jala, 176, 193 induktor, 50
fungsi pemaksa, 198 induktor linear, 52
Fungsi pemindah, 193 informasi, 1
Fungsi pemindah arus, 193 Insinyur Profesional, 20
fungsi pemindah tegangan, 193 inti, 14
fungsi tanggapan, 198 ion, 12
Isolator, 47
G
J
galat, 16
garis gaya, 39 jala-jala, 175
gaya, 29 jala-jala kutub-dua, 192
gaya gerak listrik, 37 jala-jala kutub-empat, 192
gaya gerak magnet, 56 jala-jala kutub-n, 192
gaya listrik, 14 jala-jala tangga, 196
gaya magnet, 14, 36 jalur, 209
gaya penggerak, 192 jalur pelewat, 209
Gelombang sinusoida, 143 Jembatan Wheatstone, 99
ggl, 37 joule, 32
ggm, 56 Joule, 32
giga, 28
Gilbert, 6

310
Indeks

K Massa, 14
Maxwell, 10
kandela, 27 Medan, 38
kapasitansi, 17, 42, 57 medan listrik, 38
kapasitansi setara, 77 medan magnet, 38
kapasitor, 57 mega, 28
kawasan frekuensi, 138 mendahului, 145, 167
keadaan awal, 225 meter, 27
keadaan mantap, 221 metode arus mata jala, 109, 183
kecepatan, 29 metode bilangan kompleks, 154
kecepatan sudut, 145 Metode fasor, 159
kelvin, 27 Metode tegangan simpul, 183
Kelvin, 25 Metode Tegangan Simpul, 105
kembaran, 120 metode volt∙ampere, 263
kenaikan tegangan resonansi, 215 mho, 46
kerja, 32 mikro, 28
kilo, 28 mili, 28
koefisien Fourier, 199 model fisik, 18
koefisien redaman, 232 model rangkaian, 17
kompensasi fasa, 265 mol, 27
komponen dasar, 199 Mole, 27
komponen harmonisa ke-n, 199 Molekul, 11
komponen reaktif, 161 Moore, 11
komponen resistif, 161 Morse, 10
komponen searah, 199 muatan listrik, 33
Komunikasi, 3
konduktansi, 46, 165
konduktor, 47
N
konstanta dielektrik spesifik, 61 nano, 28
konstantawaktu, 136 netral, 272
koreksi faktor daya, 265 neutron, 12
kuat medan gravitasi, 15 newton, 30
kuat medan listrik, 15 Nilai efektif arus sinusoida, 150
Kuat medan listrik, 38 nilai rata-rata, 148
kuat medan magnet, 15
kurang teredam, 233 O
kutub, 191
kutub masukan tak-terbalik, 95 ohm, 43
kutub masukan terbalik, 95 orde dua, 194
orde satu, 194
L ordinat rata-rata, 199

lebar-jalur, 209
Ø
M Ørsted, 9

Magnet alam, 9
masa sentara, 221, 223

311
Indeks

P rangkaian listrik, 47
rangkaian paralel, 73
parameter rangkaian, 42 rangkaian seri, 73
parameter terpusat, 15 rangkaian setara Norton, 120
parameter tersebar, 15 rangkaian setara Thévenin, 120
pasangan kutub keluaran, 192 rangkaian tiga kutub, 192
pasangan kutub masukan, 192 rangsangan pemaksa, 221
pecahan sinambung, 197 reaktansi, 161
Pembagi arus, 99 Rekayasa komputer, 3
pengali, 98 Rekayasa sistem, 3
penguat kerja, 95 reluktansi, 56
Penyaring, 209 reostat, 45
penyaring pelewat-jalur, 209 resinous, 7
penyaring pelewat-rendah, 211 resistansi, 17, 42, 43, 161
penyaring pelewat-tinggi, 209 resistansi keluaran, 126
penyaring penolak jalur, 212 resistansi masukan, 84
penyederhanaan rangkaian, 83 resistansi setara paralel, 75
Penyepadanan impedansi, 269 resistansi setara seri, 74
penyepadanan resistansi, 126 resistansi titik-penggerak, 84
perangsang, 193 resistivitas bahan, 47
Perbaikan faktor daya, 265 resistor, 15, 43
perbandingan redaman, 233 resistor linear, 45
percepatan, 29 resistor tak-linear, 45
periode, 144 resonansi, 178, 213, 239
permeabilitas, 56 resonansi paralel, 213
permitivitas, 61 rms, 149
persamaan Euler, 154
persamaan karakteristik, 233
Persamaan Newton, 30
S
persamaan sistem orde satu, 226 sangat teredam, 233
Persatuan Insinyur Indonesia, 19 satu daur lengkap, 149
persyaratan Dirichlet, 199 Satuan, 26
peta, 28 Satuan arus listrik, 27
pf, 260 Satuan kuat cahaya, 27
piko, 28 Satuan massa, 27
potensial, 37 Satuan panjang, 27
potensiometer, 45 Satuan waktu, 27
Prinsipsuperposisi, 115 sefasa, 167
proton, 12 senti, 28
pulsa, 59 setimbang, 252
Shockley, 10
R siemens, 46, 165
simpul acuan, 104
radian per detik, 145 sinyal, 175
radiasi, 13 sistem, 16
rangkaian, 15 Sistem Internasional, 26
rangkaian arus bolak-balik, 146 sistem orde dua, 234
rangkaian arus searah, 146 sistem orde n, 234

312
Indeks

Steinmetz, 133 teori, 19


sudut fasa, 145 tera, 28
sudut impedansi beban per fasa, 277 teredam kritis, 234
sumber, 40 tertinggal, 145, 167
Sumber arus sempurna, 41 tesla, 39
sumber arus yang dikendalikan Thales, 6
oleh arus, 42 Thomson, 12
sumber arus yang dikendalikan tikalas, 194
oleh tegangan, 42 titik penggerak, 193
sumber bebas, 41 titik potong, 209
Sumber kelas dua, 41 Transduser, 16
sumber sempurna, 41 transistor, 10
sumber tak bebas, 41
sumber tegangan sempurna, 41 U
sumber tegangan yang
dikendalikan oleh arus, 42 umpan-balik, 97
sumber tegangan yang unsur, 42
dikendalikan oleh tegangan, 42 unsur rangkaian, 25
suseptansi, 165 urutan fasa, 272

T V
tanda acuan, 42 variabel listrik, 25
tanggapan, 193 vitreous, 6
tanggapan alamiah, 223, 226 volt, 37
tanggapan amplitudo, 206 volt∙ampere, 259
tanggapan fasa, 206 volt∙ampere reaktif, 258
tanggapan frekuensi, 177, 206 Volta, 8, 37
Tanggapan lengkap, 223 Von Guericke, 6, 7
Tanggapan terpaksa, 223
tegangan, 15, 37 W
tegangan fasa, 272
tegangan imbas, 38 watt, 33
tegangan saluran, 272 weber, 39
Teknik kendali, 3 Weber, 39
Teknik tenaga, 2
tenaga, 1, 32 Y
Tenaga, 13
tenaga gerak, 13 yokto, 28
tenaga kimia, 13 yota, 28
tenaga listrik, 13
tenaga panas, 13 Z
tenaga pancar, 13
tenaga potensial, 13 zat alir, 16
teorema jala-jala, 175 zepto, 28
Teorema Norton, 122 zeta, 28
teorema pembagi tegangan, 82
teorema Thévenin, 121, 187

313
Biodata Penulis

Riwayat Hidup Singkat


Prof. Ir. Budiono Mismail, M.S.E.E., Ph.D.

Dilahirkan di Malang, pada 19 April 1947. Bulan


Maret 1973 lulus sebagai Sarjana Teknik di Jurusan
Teknik Telekomunikasi, Elektroteknik, Institut
Teknologi Bandung. Bekerja sebagai dosen
Fakultas Teknik.
Pada tahun 1979 mendapat kesempatan tugas
belajar pada Department of Power, School of
Electrical Engineering, The University of Colorado, Boulder, Colorado, USA
dan bulan Agustus 1980 mendapatkan gelar Master of Science Electrical
Engineering. Selama di Boulder, Colorado, ia juga mengikuti program
Summer Semester antara 16 Juni – 19 Agustus 1980 di The Economic
Institute sebagai special student. Antara tahun 1985 – 1989 melanjutkan
pendidikan program Doctor of Philosophy pada Department of Electrical
Power Engineering, School of Electrical Engineering and Computer Science,
The University of New South Wales, Sydney, Australia. Pernah mengikuti
International Executive Development Program di The University of New
England, Armidale, Australia, pada tahun 1994.
Budiono Mismail adalah Guru Besar di Universitas Brawijaya. Budiono
Mismail pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Komputer, Universitas
Brawijaya, Malang tahun 1991 – 1995, dan sebagai Dekan Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya tahun 1995 – 1998. Tahun 2000 sampai dengan 2004
bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada Kedutaan Besar
Republik Indonesia untuk Kerajaan Thailand di Bangkok. Juli sampai
Desember 2006 bertugas sebagai dosen detaser di Universitas Trunojoyo,
Madura. Dari 7 Juli 2007 sampai dengan 6 Juli 2009 menjabat sebagai Ketua
Program Studi Teknologi Informasi Dan Program Studi Rekayasa Perangkat
Lunak, Universitas Ma Chung, Malang.
Budiono Mismail menikah dengan Maskura Tutdaulia dan dikaruniai seorang
putri, Tantri Yuliandini (1975), dua orang putra, Dony Maulana (1978) dan
Aditya Pamungkas (1981).

Anda mungkin juga menyukai