0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan14 halaman

Identifikasi dan Rumusan Masalah Penelitian

Dokumen tersebut membahas tentang identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah penelitian kuantitatif. Termasuk didalamnya adalah cara mengidentifikasi masalah penelitian, memilih masalah yang layak diteliti, merumuskan masalah penelitian, mengkaji pustaka terkait, dan merumuskan hipotesis penelitian. Juga dibahas mengenai populasi dan sampel penelitian.

Diunggah oleh

ayu desi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan14 halaman

Identifikasi dan Rumusan Masalah Penelitian

Dokumen tersebut membahas tentang identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah penelitian kuantitatif. Termasuk didalamnya adalah cara mengidentifikasi masalah penelitian, memilih masalah yang layak diteliti, merumuskan masalah penelitian, mengkaji pustaka terkait, dan merumuskan hipotesis penelitian. Juga dibahas mengenai populasi dan sampel penelitian.

Diunggah oleh

ayu desi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

1Identifikasi, Pemilihan, dan Perumusan Masalah Penelitian


A. Identifikasi Masalah Penelitian
Dalam menentukan permasalahan penelitian, pertama-tama peneliti melakukan
identifikasi masalah. Dengan melakukan identifikasi, biasanya akan diperoleh
banyak masalah yang selanjutnya dapat dipilih beberapa alternatif yang akan
dikembangkan. Masalah yang diteliti adalah masalah yang memenuhi syarat
berikut;
a) Topik yang dipilih harus berada di sekitar peneliti, baik sekitar
pengalaman peneliti maupun di sekitar pengetahuan peneliti.
b) Topik yang dipilih harus topik yang paling menarik perhatian peneliti.
c) Topik yang dipilih terpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan
terbatas.
d) Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif.
e) Topik harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan kepustakaan yang
akan memberikan informasi tentang pokok masalah yang akan diteliti.
B. Pemilihan Masalah Penelitian
Setelah masalah dapat diidentifikasi, hal itu belum merupakan jaminan bahwa
masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Seringkali, dalam usaha
mengidentifikasi atau menemukan masalah masalah penelitian ditemukan lebih
dari satu masalah. Dari masalah-masalah tersebut dipilih salah satu, yaitu mana
yang paling layak dan sesuai untuk diteliti. Pertimbangan untuk memilih atau
menentukan apakah suatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti, pada dasarnya
dilakukan dari dua arah, yaitu:
a) Dari arah masalah
b) Dari arah peneliti
[Link] dari arah masalahnya
Dari arah masalah atau objektif, peneliti perlu mempertimbangkan apakah
masalah yang akan diangkat merupakan masalah yang menarik untuk diteliti?
Atau, masalah tersebut dapat memberikan kontribusi pada perkembangan
keilmuan dan praktik kerja bisnis. Dari sudut objektif ini, pertimbangan akan
dibuat atas dasar sejauh mana penelitian mengenai masalah yang bersangkutan itu
akan memberikan sumbangan kepada:
a) Pengembangan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoritis
penelitiannya.
b) Pemecahan masalah-masalah praktis.

[Link] dari arah peneliti


Pertimbangan dari arah peneliti atau subjektif adalah apakah peneliti memiliki
kemampuan, baik dari aspek keilmuan maupun dukungan dana (ekonomi untuk
kelancaran penelitian tersebut). Sesuai atau tidaknya suatu masalah untuk diteliti
terutama bergantung pada apakah masalah tersebut managable atau tidak oleh
calon peneliti. Kemampuan mengelola terutama dilihat dari lima segi, yaitu:
a) Biaya yang tersedia
b) Waktu yang dapat digunakan
c) Alat-alat dan perlengkapan yang tersedia
d) Bekal kemampuan teoritis, dan
e) Penguasaan metode yang diperlukan.
Selain dua pertimbangan tersebut di atas, peneliti juga perlu mempertimbangkan
hal-hal di bawah ini dalam melakukan pemilihan masalah:
a) Dapat dilaksanakan
b) Jangkauan penelitian
c) Keterkaitan
d) Nilai Teoritis
e) Nilai Praktis
Setelah dipilih dan dievaluasi problem harus dinyatakan dalam bentuk yang
dapat dipertanggungjawabkan untuk diteliti. Beberapa kriteria dalam pernyataan
problem riset kuantitatif, adalah sebagai berikut:
a) Problem menjelaskan dengan tepat apa yang akan diteliti.
b) Problem menanyakan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel
yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau pertanyaan yang implisit.
c) Problem seharusnya dinyatakan dalam cara dimana riset itu mungkin
dilakukan untuk menjawab pertanyaan.
[Link] Masalah Penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menyajikan rumusan masalah dan
hipotesis penelitian, terkadang sasaran penelitian juga dirumuskan secara
bersamaan.
Perumusan masalah adalah usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-
pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan dalam
pemecahannya. Fraenkel dan Wallen (1990:22) mengemukakan bahwa rumusan
masalah yang baik harus mencakup empat hal utama, yaitu:
a) Masalah harus feasible
b) Masalah harus jelas
c) Masalah harus signifikan
d) Bersifat etis
Berdasarkan pada empat pertimbangan utama dalam perumusan masalah di
atas, maka rumusan suatu masalah dapat dikelompokkan menjadi tiga macam,
yaitu:
a. Rumusan masalah deskriptif
Suatu permasalahan dikatakan bersifat deskriptif apabila tujuan
dari penelitian itu adalah hanya untuk mempertanyakan
keberadaan dari satu atau lebih variable independen. Dalam hal ini
peneliti tidak melakukan perbandingan antar variabel pada sampel
yang berbeda.
b. Rumusan yang Bersifat Komparatif
Permasalahan komparatif merupakan suatu permasalahan
penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel
atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda-beda.
c. Rumusan yang Bersifat Asosiatif
Rumusan yang bersifat asosiatif menggambarkan pola hubungan
antar dua variabel atau lebih. Pola hubungan itu bisa bersifat
simetris, kausal, dan interaktif.
1.2 Kajian Pustaka dan Hipotesis

A. Pengertian Kajian Pustaka

Pengkajian teori tidak akan terlepas dari kajian pustaka atau studi pustaka karena teori secara
nyata dapat diperoleh melalui studi atau kajian kepustakaan. Menurut Pohan dalam Prastowo
(2012: 81) kegiatan ini (penyusunan kajian pustaka) bertujuan mengumpulkan data dan
informasi ilmiah, berupa teori-teori, metode, atau pendekatan yang pernah berkembang dan
telah di dokumentasikan dalam bentuk buku, jurnal, naskah, catatan, rekaman sejarah,
dokumen-dokumen, dan lain-lain yang terdapat di perpustakaan. Kajian ini dilakukan dengan
tujuan menghindarkan terjadinya pengulangan, peniruan, plagiat, termasuk suaplagiat
Cara menyusun kajian pustaka Menurut cara penyajiannya, menurut Ratna dalam
Prastowo (2012: 83) kajian pustaka dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a) penyajian
sesuai dengan tahun penelitian; dan (b) penyajian disesuaikan relevansi, kedekatannya dengan
objek.

Penyusunan kajian pustaka meliputi beberapa langkah sebagai berikut:

1) Membaca karya-karya ilmiah hasil penelitian sebelumnya yang terkait.


2) Mencatat hasil intrepretasi terhadap bahan-bahan bacaan.
3) Menyusun kajian pustaka berdasarkan hasil analisis terhadap karya ilmiah sebelumnya
yang relevan.

Sumber kajian pustaka beberapa jenis sumber bacaan yang dapat digunakan untuk memperoleh
teori-teori yang relevan yaitu: Buku Teks, Jurnal, Periodical, Yearbook, Buletin, Circular,
Leaflet, Annual Review, Off Print, Reprint, Recent Advance, Bibliografi, Handbook, Manual.

B. HIPOTESIS

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana


rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Diakatakan
semntara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum
didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan


pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi diharapkan
dapat ditemukan hipotesis. Dalam hal ini perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan
hipotesis statistik. Hipotesis statistik ada bila penelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian
tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistik.

Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian.


Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu:
rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan) dan assosiatif
(hubungan). Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis
deskriptif, komparatif, dan assosiatif/hubungan.

1. Hipotesis deskriptif, adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah deskriptif;

2. Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap masalah komparatif,

3. Hipotesis assosiatif adalah merupakan jawaban sementara terhadap masalah


assosiatif/hubungan.

1.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peniliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan juga benda-benda alam yang
lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subjek yang dipelajari,
tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu.

Satu orangpun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai
berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disiplin pribadi, hobi, cara bergaul,
kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penilitian tantang cara bergaul
seorang Y maka cara bergaul itu merupakan sampel dari semua karakteristik yang dimiliki
seorang Y.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar, dan peniliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada
populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu. Untuk itu sampel yang diambil
dari populasi harus betul-betul representatif.
Bila sampel tidak representatif, maka ibarat orang buta disuruh meyimpulkan karakteristik
gajah. Satu orang memegang telinga gajah, maka orang itu menyimpulkan gajah seperti kipas.
Orang kedua memegang badan gajah, maka iya menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar.
Orang ketiga memegang ekornya, maka dia akan menyimpulkan gajah itu kecil seperti seutas
tali. Itu yang akan terjadi bila sampel tidak representatif, maka ibarat 3 orang buta itu membuat
kesimpulan yang salah tentang gajah.

[Link] Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai
cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural
setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan berbagai responden,
pada suatu seminar, diskusi, di jalan dll. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan
data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder. Selanjutnya bila dilihat dari
segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan
dengan interview (wawancara), kuisioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan
ketiganya.

[Link] (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan
juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan
jumlah respondennya sedikit atau kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri
pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan
dan tau keyakinan pribadi.

Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat
dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon.

1. Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti
atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh.
2. Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di mana penelitian
tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan
lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya
berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

2. Kuisioer (Angket)
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu
dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.
Selain itu, kuisioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar
di wilayah yang luas. Kuisioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan tertutup atau
terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau
internet.

Uma Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket


sebagai teknik pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan pengukuran dan penampilan
fisik.

1. Prinsip Penulisan Angket


Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu isi dan tujuan pertanyaan, Bahasa yang
digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka-negatif positif, pertanyaan tidak
mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan,
panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.
a. Isi dan tujuan Pertanyaan
Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk
pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat
pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus skala pengukuran dan jumalh
itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuisioner (angket) harus disesuaikan
dengan kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat
berbahasa Indonesia, maka angket jangan disusun dengan Bahasa Indonesia. Jadi
bahasa yang digunakan dalam angket harus mempertahakan jenjang pendidikan
responden, keadaan sosial budaya, dan “frame of reference” dari responden.
c. Tipe dan Bentuk Pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup (kalau dalam
wawancara : terstruktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya dapat menggunakan
kalimat positif atau negatif.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk
menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang sesuatu hal.
Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan
cepat dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadap
selutuh angket yang telah terkumpul. Pertanyaan atau pernyataan dalam angket
perlu dibuat kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban
setiap pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistis.
2. Penampilan fisik angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau
keseriusan responden dalam mengisi angket.

3. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila
dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuisioner. Kalau wawancara
dan kusioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka obervasi tidak terbatas pada orang,
tetapi juga obyek-obyek alam yang lain.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi
participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation,
selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan
menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.

[Link] ANALISIS DATA

Analisis data merupakan suatu tahapan yang kritis dalam proses penelitian bisnis dan
ekonomi. Tujuan utama dari analisis data ialah menyediakan informasi untuk memecahkan
masalah. Pada dasarnya proses pra-analisis menggunakan peralatan elektronik dan manual
untuk meyakinkan bahwa data yang dikumpulkan telah “dibersihkan” sebelum dianalisis.
Hasil yang diperoleh dari “pembersihan” ialah berkurangnya ketidaktepatan dan kesalahan
dalam data. Adapun tahapan dari pra-analisis meliputi: (1) penyuntingan data; (2)
pengembangan variabel; (3) pengkodean data; (4) cek kesalahan; (5) pembentukan struktur
data; (6) pra-analisis cek komputer; (7) tabulasi

1.6PENULISAN LAPORAN
[Link]-bagian Laporan

Laporan penelitian dalam ilmu-ilmu sosial biasanya mempunyai outline sebagai


berikut:

1. Halaman Judul
2. Kata Pengantar
3. Daftar Isi
4. Pendahuluan
5. Masalah dan Tujuan Penelitian
6. Metodelogi Penelitian
7. Pengolahaan Data dan Analisis
8. Hasil Penelitian
9. Ringkasan
10. Bibliografi dan Referensi (Daftar Rujukan)
11. Lampiran

B. Proses Penulisan

Pengorganisasian Laporan

Pada tahap ini tugas seorang peneliti ialah membuat seluruh bagian penelitiannya
menjadi satu-kesatuan yang saling berkaitan secara logis sehingga mudah diikuti dan dipahami
oleh pembacanya. Organisasi laporan penelitian yang baik dapat diperoleh dengan menyusun
skema laporan.

[Link] Laporan

Skema laporan memiliki dua fungsi utama: (1) menunjukkan urutan penyajian laporan,
dan (2) menunjukkan bagaimana bagian-bagian yang ada saling terkait.

Menulis Konsep Pertama


Peneliti sering kali menemui kesulitan pada saat memulai penulisan sebuah laporan
penelitian. Ide yang sudah ada menjadi sulit untuk diungkapkan dalam bentuk tulisan.
Beberapa saran yang dapat diterapkan:

a. Konsolidasikan waktu.
b. Jika menemukan kesulitan untuk memulai, letakkan pena di atas kertas dan biarkan
menulis apa pun yang ada di dalam benak.
c. Jangan melakukan koreksi atau revisi yang berlebihan pada konsep pertama.
d. Sebagian peneliti merasa lebih mudah menuangkan idenya ke dalam tape recorder dan
kemudian menuliskannya.

Pemeriksaan Tulisan

Salah satu cara untuk memperoleh objektivitas adalah dengan menyingkirkan draft
yang telah kita buat untuk sementara sebelum merevisinya. Tujuan utama dari revisi adalah
untuk menghilangkan masalah ketidakjelasan (vagueness).

1.7 Proposal Penelitian


Proposal adalah tawaran individu atau perusahaan untuk menghasilkan suatu produk atau
mengadakan jasa bagi calon pembeli atau sponsor. Tujuan proposal penelitian adalah (Cooper
Schindler, 2006: 104):

1. Menyajikan pertanyaan manajemen untuk diteliti dan mengaitkan kepentingannya.


2. Mendiskusikan upaya penelitian pihak lain yang sebelumnya sudah pernah mengerjakan
pertanyaan manajemen terkait
3. Mengusulkan data yang diperlukan untuk mengatasi pertanyaan manajemen dan
bagaimana data tersebut akan dikumpulkan, dianalisa dan ditafsirkan.
4.
Manfaat Proposal Penelitian
1. Manfaat bagi sponsor (Cooper dan Schindler, 2006: 104):
1) Proposal penelitian memungkinkan sponsor menilai ketulusan tujuan peneliti, kejelasan
desainnya, sejauh mana materi latar belakangnya relevan, dan kecocokan peneliti untuk
melaksanakan proyek.
2) Proposal memperlihatkan disiplin, organisasi dan logika peneliti, sehingga sponsor
dapat membandingkannya dengan proposal yang lain.
2. Manfaat bagi peneliti (Cooper dan Schindler, 2006: 106):
1) Proses penulisan proposal mendorong peneliti untuk merencanakan dan meninjau
langkah-langkah logis proyeknya.
2) Pengembangan proposal memberikan kesempatan untuk mengetahui kekurangan
dalam logika, kesalahan asumsi, atau bahkan pertanyaan manajemen yang tidak dibahas
secara memadai oleh tujuan dan desain penelitian yang bersangkutan.

Jenis-jenis Proposal Penelitian


Secara umum proposal penelitian dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Proposal Internal: dikerjakan oleh staf spesialis atau oleh departemen penelitian di dalam
perusahaan.
2. Proposal Eksternal: proposal yang disponsori oleh panitia dana bantuan Universitas, Badan
Pemerintahan, Kontraktor Pemerintah, Organisasi Nirlaba, atau perusahaan lainnya.
Proposal eksternal biasa diklasifikasikan menjadi dua:
1) Proposal permohonan (solicited proposal)
2) Proposal penawaran (unsolicited proposal)

1.8 Cara Sitasi yang benar dan legal


Sitasi merupakan penulisan pengarang yang diacu dalam badan tulisan. Sitasi
mencantumkan nama keluarga penulis dan tahun penerbitan di dalam kurung. Nomor halaman
juga dicantumkan jika anda memakai uraian dengan kata-kata sendiri yang mirip dengan
pendapat orang lain atau catatan. Adapun beberapa model sitasi menurut Baskoro (2013)
adalah sebagai berikut:

1. MLA (Modern Language Association)


2. APA (American Psycological Association)
3. Turabian
4. Chicago
5. IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers)

[Link] Dasar Penulisan Sitasi


Berikut merupakan beberapa pedoman dasar yang perlu diperhatikan dalam penulisan
sitasi sesuai dengan model APA (American Psycological Association):

1. Kutipan harus diletakkan di akhir kalimat, di dalam tanda baca.


2. Kutipan dapat dituliskan dengan cara (Cooper, 1999), atau (Cooper, 1999: 23) atau Cooper
(1999), atau Cooper (1999: 23) tergantung bagaimana cara mengutip, dan apakah
mencantumkan halaman referensi atau tidak.
3. Kutipan harus digunakan setiap kali anda mengutip pemikiran dan informasi berdasarkan
karya penulis yang dipublikasikan. Jika Anda menggunakan catatan atau kata-kata sendiri
yang sangat mirip dengan pernyataan sumber, Anda harus mencantumkan halaman
referensi. Halaman referensi dan tahun publikasi dipisahkan dengan titik dua.
4. Jika terdapat dua atau lebih penulis, gunakan penghubung (&) di dalam kurung. Contoh,
(Dunphy & Stace, 1990) atau Dunphy & Stace (1990).
5. Jika terdapat tiga penulis atau lebih, penulisan pertama kali sebutkan semua penulis,
kemudian untuk penulisan berikutnya cukup tuliskan nama penulis pertama diikuti dengan
et al. Contoh, Mc Taggart et al.
6. Jika sebuah publikasi tidak memiliki pengarang, gunakan nama organisasi sebagai
pengarang.
7. Jka Anda mengutip pernyataan yang telah dikutip oleh penulis lain, Anda perlu menyatakan
(Carini, dikutip dalam Patton, 1990).
8. Dua atau lebih kutipan harus dituliskan sesuai urutan abjad dan dipisahkan dengan tanda
titik koma. Contoh, (Abrahamson, 1991; Daniels, 1992).

Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Kuncoro, Mudrajad. 2009. Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi Edisi 3. Jakarta: Erlangga

Nazir, Moh. 2014. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Rahyuda, Ketut. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University Press

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta

Anda mungkin juga menyukai