PENGOLAHAN DATA GNSS UNTUK KEPERLUAN PENGADAAN
TDT ORDE-3 DALAM KEGIATAN PEMETAAN KADASTRAL
Dalam Modul ini terdiri atas 3 bagian :
Bagian A : Pengolahan Data GNSS
Bagian B : Konversi Koordinat dari
Koordinat Geografis ke TM3O
Bagian C : Penomoran Lembar Peta
Oleh :
Anindya Sricandra Prasidya, ST., [Link].
Dipersiapkan untuk :
Matakuliah Praktek Pemetaan Kadastral
Teknik Geomatika – DIII
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2016
BAGIAN A : PENGOLAHAN DATA GNSS
A. Editing header data RINEX
Data hasil pengamatan GNSS biasanya masih berupa raw data, agar bisa dilakukan
pengolahan, maka perlu dikonversi menjadi format RINEX. Pada praktikum sebelumnya
telah dijelaskan tentang konversi raw data menjadi RINEX. RINEX hasil konversi tersebut
seringkali belum terdapat informasi nama stasiun dan tinggi antenna, oleh karena itu perlu
ditambahkan pada file observasinya (*.15o) sebagai berikut :
B. Input file RINEX ke workspace
Data yang diinput pada pengolahan data GNSS dengan GEOGENIUS adalah file observasi
(*.YYo), navigasi (*.YYn) dan navigasi glonass (*.YYg). Inputnya dengan klik Insert Files
, kemudian cari direktori penyimpanan data RINEXnya. Klik select All, lalu klik add to
project sebagai berikut :
Hasil import files ini berupa bentuk jaring yang telah dilakukan pengamatan berikut nama
stasiunnya, tampilannya sebagai berikut :
Untuk data dengan jumlah sesi yang banyak, perlu dilakukan proses merge pada satu titik
tersebut, caranya klik kanan pada titik > Merge, kemudian pilih nama titik tujuan
penggabungan (merging).
C. Scanning baseline
Sebelum pengolahan baseline, lakukan scaning baseline yang berguna untuk pemilihan data
yang bersifat common dari kedua titik pada masing-masing data hasil perekaman GPS dan
GLONASS. Data yang dihilangkan tidak akan diikutkan (ignored) dalam pengolahan
baseline. Caranya sebagai berikut :
1. Klik kanan pada salah satu baseline, lalu klik scan
Cobalah lakukan variasi untuk scaning baseline :
Buat 1 project dengan semua baseline yang scan
dan 1 project dengan baseline yang tidak di scan
sama sekali.
Apa efeknya pada saat pengolahan baseline
maupun adjustment jaring ?
2. Pilih data yang kosong pada pertampalan pengamatan satelit dari dua stasiun yang ada,
lalu klik OK. Lakukan hal ini pada semua baseline.
3. Tetapkan salah satu titik sebagai titik fix, dengan cara klik kanan pada titik kemudian
pilih Fix.
D. Pengaturan parameter adjustment baseline
Sebelum pengolahan baseline, perlu dilakukan pengaturan parameter pengolahan sesuai
dengan kriteria yang telah ditetapkan. Pada GeoGenius, klik Process > Settings, maka
muncul tampilan berikut :
Cobalah lakukan variasi nilai untuk parameter :
- Mask angle
- Processing interval
- Orbit type
Apa efeknya pada saat pengolahan baseline
maupun adjustment jaring ?
Dalam hal ini selain bisa diatur interval waktu data yang akan diolah, tipe orbit, satelit
acuan, mask angle pada tab parameter, kita juga bisa diatur parameter koreksi troposfer dan
filter solusi terbaik.
E. Pengaturan sistem koordinat
Pengaturan sistem koordinat dimaksudkan untuk menentukan sistem koordinat tujuan pada
pengolahan baseline dan juga pengaturan sistem koordinat bagi workspace. Caranya klik
pada Project > System …, kemudian definisikan sistem koordinat yang akan dipakai.
Untuk melihat melakukan pengaturan pada sistem koordinat terpilih, klik pada Editor
sebagai berikut :
Kemudian klik OK.
F. Pengolahan baseline-baseline
Pengolahan baseline pada GeoGenius dilakukan dengan klik Process > Process project, atau
langsung klik icon .
Kemudian tunggu prosesnya hingga keluar elips kesalahan baseline dan ketelitian
pengolahan sebagai berikut :
Jika baseline berwarna hijau, maka solusi baseline fixed, adapun jika kuning maupun merah
maka solusi baseline float atau bahkan tidak ditemukan solusinya.
Dalam hal ini ketelitian horisontal bernilai 0,6 mm sedangkan ketelitian vertikal bernilai 1,6
mm.
G. Pengaturan parameter perataan jaringan (network)
Sebelum perataan jaring, perlu dilakukan pengaturan parameter perataan jaring sesuai
dengan spesifikasi yang diminta terkait dengan parameter Tau test, confidence level,
weighting, dan refraction. Pengaturan ini pada GeoGenius caranya dengan klik Adjust >
Settings, kemudian atur parameter pada setiap Tab nya.
Cobalah lakukan variasi nilai untuk parameter perataan :
- Tau Test
- Confidence level
- GPS/GLN Weighting
Apa efeknya pada saat adjustment jaring ?
Kemudian klik OK jika sudah selesai.
H. Pengolahan jaring secara jaring bebas (free/loose constraint)
Perataan jaring bebas diterapkan pada GeoGenius dengan cara klik Adjust > Adjust(Free),
kemudian tunggu sampai prosesnya selesai dan ellips kesalahan titik dan ketelitian
pengolahan muncul sebagai berikut :
Baseline berwarna biru artinya tidak ada yang tertolak saat uji statistik sesudah perataan
(post-adjustment), sedangkan ellips kesalahan titik adalah fungsi dari standar deviasi titik
yang juga merupakan ketelitian titik. Adapun ketelitian horisontal pada perataan jaring ini
adalah 3,2 mm dan ketelitian vertikalnya adalah 7,7 mm.
I. Pengolahan jaring secara jaring terikat (biased/full constraint)
Perataan jaring bebas diterapkan pada GeoGenius dengan cara klik Adjust > Adjust(Biased),
kemudian tunggu sampai prosesnya selesai dan ellips kesalahan titik dan ketelitian
pengolahan muncul sebagai berikut :
Baseline berwarna biru artinya tidak ada yang tertolak saat uji statistik sesudah perataan
(post-adjustment), sedangkan ellips kesalahan titik adalah fungsi dari standar deviasi titik
yang juga merupakan ketelitian titik.
Adapun ketelitian horisontal pada perataan jaring ini adalah 3,1 mm dan ketelitian
vertikalnya adalah 8,0 mm.
Titik ikat yang dipakai adalah BMBUS yang dianggap tidak memiliki kesalahan, sehingga
tidak muncul ellips kesalahan. Untuk input nilai koordinat titik ikat ini, cara klik kanan pada
titik kemudian pilih Properties, lalu pilih Tab Geo, dan masukkan koordinatya sebagai
berikut :
Kemudian klik Assign.
Dengan berbagai kombinasi parameter scaning baseline, parameter pengolahan baseline,
parameter perataan jaring, maka bisa menghasilkan jaring dengan ketelitian yang berbeda
sebagai berikut :
Kombinasi skenario 1 :
Kombinasi skenario 2 :
J. Reporting hasil pengolahan
Report hasil pengolahan bisa dimunculkan dengan klik Project > Report, pilih jenis report,
lalu klik Run. Ada beberapa pilihan report, antara lain :
1. Standard Project Report, berisi keterangan pengolahan secara umum.
2. Baseline overview, berisi keterangan pengolahan baseline yang telah dilakukan pada
setiap baseline.
3. OBS-File overview, berisi OBS-File yang dipakai pada pengolahan baseline dan
perataan jaring.
4. Coordinate overview, berisi keterangan nilai koordinat dalam sistem tertentu.
5. Distance overview, berisi keterangan panjang baseline dalam jarak asli maupun jarak
grid.
Selain itu, GeoGenius juga bisa melaporkan hasil perataan jaring. Caranya klik Adjust >
Report. Isinya sebagai berikut :
GeoGenius 2.00, Copyright (C) 1997 - 1999 by Spectra Precision terraSat GmbH,
4/30/2015,10:33:39
Statistics
Network Adjustment in WGS84.
Number of baselines 3
Number of terrestrial measurements 0
Geoidmodel None
Number of control points in WGS84 1
Number of adjusted points 3
Confidence level 1 Sigmas
Significance level for tau test 1.00 %
Standard error of unit weight 0.687
Number of iterations 1
1. Baselines Input in WGS84 (Components and [Link].)
sDX sDY sDZ
Baseline DX [m] DY [m] DZ [m]
[mm] [mm] [mm]
BMBUS- - -
-269.922 6.9 14.5 6.1
BOULEVARD 225.860 822.366
- - -
BMBUS-FKH 5.7 11.6 5.4
1154.658 454.825 190.279
-
BOULEVARD-FKH -884.748 632.085 5.5 11.5 5.0
228.948
Baselines which were rejected by the statistical test are marked.
2. WGS84 Control Points Input (Cart. Coordinates and
[Link].)
Point X [m] Y [m] Z [m] sX [mm] sY [mm] sZ [mm]
BMBUS -2200328.180 5924800.139 -856204.133 0.0 0.0 0.0
3. Adjusted Baselines in WGS84 (Components and
[Link].)
sDX sDY sDZ
Baseline DX [m] DY [m] DZ [m]
[mm] [mm] [mm]
BMBUS- - -
-269.917 3.5 7.4 3.2
BOULEVARD 225.868 822.365
- - -
BMBUS-FKH 3.3 6.7 3.0
1154.661 454.821 190.279
-
BOULEVARD-FKH -884.744 632.086 3.2 6.7 2.9
228.953
4. Baseline Corrections (Corrections and Normalized
Corrections)
Baseline vN [mm] vE [mm] vH [mm] vN/sN vE/sE vH/sH
BMBUS-BOULEVARD -0.9 -2.4 -9.0 -0.3 -0.9 -1.1
BMBUS-FKH 0.7 2.0 5.1 0.3 0.8 0.7
BOULEVARD-FKH 0.3 -1.5 -5.7 0.1 -0.6 -0.8
Baselines which were rejected by the statistical test are marked.
5. Adjusted Points in WGS84 (Cart. Coordinates and
[Link].)
sX sY sZ
Point X [m] Y [m] Z [m]
[mm] [mm] [mm]
- 5924800.13 -
BMBUS 0.0 0.0 0.0
2200328.180 9 856204.133
BOULEVAR - 5924574.27 -
3.5 7.4 3.2
D 2200598.097 1 857026.498
- 5924345.31 -
FKH 3.3 6.7 3.0
2201482.841 8 856394.412
6. Adjusted Points in WGS84 (Geogr. Coordinates and
[Link].)
ell.H orth.H geoid. sN sE sH
Point Lat [Deg] Lon [Deg]
[m] [m] H [m] [mm] [mm] [mm]
S7° 45' E110° 22' 164.2 164.24
BMBUS 0.000 0.0 0.0 0.0
58.80660'' 25.62545'' 48 8
BOULE S7° 46' E110° 22' 158.7 158.75
0.000 2.8 2.6 8.0
VARD 25.84746'' 36.44986'' 52 2
S7° 46' E110° 23' 165.9 165.92
FKH 0.000 2.6 2.5 7.2
05.05018'' 06.11925'' 28 8
7. Adjusted Points in Local System (Plane Coordinates
and [Link].)
Point N [m] E [m] ell.H [m] sN [mm] sE [mm] sH [mm]
BMBUS 0.000 0.000 164.248 0.0 0.0 0.0
BOULEVARD -830.737 331.666 158.751 2.8 2.6 8.0
FKH -191.828 1240.770 165.928 2.6 2.5 7.2
Radius of the Reference Sphere is 6372000.000 m.
System origin is point BMBUS.
8. Adjusted Points Error Ellipses
Point A [mm] B [mm] Angle [Deg]
BMBUS 0.0 0.0 0.0
BOULEVARD 3.1 2.2 40.0
FKH 3.0 2.1 42.1
BAGIAN B : KONVERSI KOORDINAT DARI
KOORDINAT GEOGRAFIS KE TM-3O
A. Ciri-ciri proyeksi TM-3O
Proyeksi Transverse Mercator 3o (TM-3o) telah ditetapkan sebagai proyeksi standar
untuk membuat peta pendaftaran dan peta dasar pendaftaran oleh Badan Pertanahan
Nasional melalui PMNA No. 3 Tahun 1997. Dalam menyediakan titik dasar teknik yang
nantinya dipakai sebagai dasar untuk semua kegiatan pemetaan kadastral, maka
diperlukan pengetahuan terkait proyeksi TM-3o ini. Adapun ciri-ciri proyeksi TM-3
adalah sebagai berikut :
1. Proyeksi transversal konform (bidang silinder memotong (secant) di dua meridian
2. Faktor skala (k) = 0,9999 dan lebar zone = 3o
3. Proyeksi meridian sentral dan ekuator masing-masing membentuk garis yang saling
tegak lurus
4. Tiap zona mempunyai sistem koordinat mempunyai sistem koordinat masing-masing
Sumbu X = Ekuator
Sumbu Y = Meredian sentral
Titik Nol = Perpotongan meridian sentral dengan ekuator
Absis semu (T): 200.000 m pada Meridian Tengah
Ordinat Semu (U): 1.500.000 m pada ekuator
Koordinat (X,Y) dinamakan koordinat sejati dan koordinat (T,U) dinamakan
koordinat semu.
5. Wilayah Indonesia :
1. Terdiri dari 16 Zona
2. Mulai dari Meredian 93o BT – 14o BT
3. Batas lintang 6o LU – 11o LS
4. Mulai dari Zona 46.2 – 54.1
6. Ellipsoid acuan WGS ‘84
B. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan proses transformasi/konversi
1. Ellipsoid acuan apa yang dipakai (berapa nilai ½ sumbu panjangnya (a) dan berapa
penggepengannya (1/f))
2. Nilai bujur (λ) yang akan ditransformasi harus sudah mengacu pada Meredian
Greenwich buka meridian Jakarta dsb.
3. Nilai bujur tersebut bisa menentukan nilai meridian tengah (B0) dan letak zona
4. Berdasarkan nilai φ,λ dari titik yang ditransformasi dapat diketahui :
a. Titik berada pada LU atau LS, jika LS maka nilai φ diberikan nilai negatif (-)
b. Titik berada di barat atau timur meridian sentral (B0)
C. Rumus yang dipakai :
X dan Y adalah absis dan ordinat sejati :
[ ] [ ] [ ]
[ ] [ ] [ ]
X’ dan Y’ adalah absis dan ordinat semu :
Dalam hal ini,
B = λ – B0 dapat bernilai positif atau negatif
( )
( ) ( ) ( ) }
( ) ( ) ( )
( ) ( )
( )
[ ]
[ ]
[ ]
[ ] ( )
[ ] { ( ) ( ) }
[ ] { ( ) }
D. Tahapan Perhitungan
1. Parameter ellipsoid WGS’84, a = 6378137,0 m dan 1/f = 1/298,257
2. Tentukan nomor zone titik yang ditransformasi :
Cari letak zona berdasarkan nilai bujur dan tabel pembagian zona. Adapun tabel
nomor zona dan nilai meridian tengah pada proyeksi TM 3° untuk wilayah Indonesia
disajikan sebagai berikut :
3. Tentukan nilai bujur meridian tengah.
4. Tentukan posisi titik yang ditransformasi berada di LU atau LS, jika LS berikan
tanda negatif pada nilai lintang
5. Tentukan titik berada pada barat atau timur meridian tengah (lihat apakah nilai λ >
B0 atau λ < B0)
6. Hitung harga koefisien [a0], [a1], [a2], [a3], [a4], dan [a5] dengan menggunakan
nilai lintang titik yang bertanda positif/negatif tadi.
7. Hitung dengan tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Formulir Hitungan Koordinat TM3 dari Koordinat Geodetik
FORMULIR HITUNGAN KOORDINAT TM3 DARI KOORDINAT
GEODETIK
Data diketahui
Nama Titik = P Meredian Tengah (B0) =
Lintang = -7.543388889 Zona =
Bujur = 110.4482806 Ellipsoid = WGS'84
N= a= 6378137
M= f= 0.0033528
b= e= 0.0818192
E0 = E2 =
E4 = E6 =
G=
[a1] = [a0] =
[a3] = [a2] =
[a5] = [a4] =
[a1]b = [a0] =
[a3]b3 = [a2]b2
[a5]b5 = [a4]b4
X= Y=
T' = X'p U' = Y'p
E. Contoh Soal
Sebuah titik P (7o 32’ 36.20” LS ; 110o 26’ 53.81” BT) terletak di atas ellipsoid
WGS’84. Hitunglah koordinat titik P tersebut pada peta TM-3o !
Jawaban menggunakan Rumus di sub-bagian C dan tabel 1. Hasilnya seperti berikut ini :
FORMULIR HITUNGAN KOORDINAT TM3 DARI KOORDINAT
GEODETIK
Data diketahui
Nama Titik = P Meredian Tengah (B0) = 109.5
Lintang = -7.543388889 Zona = 49.1
Bujur = 110.4482806 Ellipsoid = WGS'84
N= 6378504.95 a= 6378137
M= 6336535.82 f = 0.0033528
b= 0.948280556 e = 0.0818192
E0 = 6367449.138 E2 = -16038.52036
E4 = 16.83222598 E6 = -0.021800815
G= -834152.9898
[a1] = 110351.4322 [a0] = -834069.5745
[a3] = 5.446964059 [a2] = -126.4194338
[a5] = 0.000393704 [a4] = -0.015902374
[a1]b = 104644.1175 [a0] = -834069.5745
[a3]b3 = 4.644778904 [a2]b2 -113.6809075
5 4
[a5]b = 0.000301893 [a4]b -0.012859064
X= 104648.7626 Y= -834183.2683
T' = X'p 304648.7626 U' = Y'p 665816.7317
Koordinat P dalam peta TM-3o adalah 304648.7626 m ; 665816.7317 m.
F. Konvergensi Grid
-3
γ" = [ p ] · ∆ B" · 10
-3
γ" = [ q ] · X · 10
Dimana :
1. ∆B" = B – B0
2. X = absis titik di mana γ akan dihitung (dalam satuan meter)
3. Nilai koefisien [ p ] dan [ q] dapat diperoleh dengan bantuan Tabel.
G. Faktor Skala
a. Faktor Skala Titik
( )
Dimana,
X= absis titik yang bersangkutan
ko = 0,9999
r2 =162 N.M dihitung pada lintang geodetik titik yang bersangkutan.
b. Faktor Skala Garis
( )
Catatan :
(1). Rumus diatas digunakan untuk S< 2 000 m.
(2). X dihitung pada absis rata-rata titik ujung jarak proyeksi
(3). r (jari jari) dihitung pada lintang, rata-rata titik-titik ujung jarak ellipsoida
(4). Titik-titik ujung jarak harus terletak pada zone yang sama.
BAGIAN C : PENOMORAN LEMBAR PETA TM-3O
Sistem Pembegian Lembar Peta TM-3o dan Penomorannya (Prihandito, 2010) :
1. Setiap zona/blok diberi kode nomor ZZY sesuai dengan bloknya.
Misal diisi 48.2 untuk zona yang terbentang dari 105o-108o BT dan lintang 6o LU-11o LS
2. Satuan blok untuk peta skala 1 : 10.000 diperoleh dengan cara :
a. Membagi zona dari barat ke timur sebanyak 56 satuan dari selatan ke Utara 314
satuan yang disebut dengan satuan blok
b. Setiap satuan blok diberi kode 8 digit : [Link], Misal : 48.2.55313
c. XX = 01-56 = nomor satuan kolom (dari timut ke barat) , WW = 001-314 =
nomor satuan baris (dari selatan ke utara)
d. Nilai absis minimum pada satu zona TM-3O adalah (Xmin) = 32.000 m, (Xmax) =
368.000 m, (Ymin) = 282.000 m, (Ymax) = 2.166.000 m.
e. Satuan blok peta skala 1:10.000 berukuran 6000 m x 6000 m
3. Satuan blok untuk peta skala 1 : 2500 diperoleh dengan cara :
a. Membagi 1 blok (satuan blok) peta skala 1:10.000 menjadi 16 bagian, terdiri atas
4 kolom dan 4 baris yang dinamakan bagian satuan blok.
b. Ukuran sebuah bagian satuan blok peta skala 1:2500 adalah 1500 m x 1500 m
c. Diberi nomor 10 digit [Link], VV = 01-16. Misal : 48.2.55313.03
d. Nomor urut dari kiri ke kanan setiap barisnya hingga nomor terkecil ada pada
kolom kiri bawah dan terbesar ada pada kanan atas
e. Untuk memperoleh bagian satuan blok peta skala 1:2500 ini sebelumnya perlu
dicari batas Xmin, Xmax, Ymin, dan Ymax dari sebuah satuan blok peta skala
1:10.000
f. Nomor kolom = (Xp – Xmin)/1500
g. Nomor baris = (Yp – Ymin)/1500
h. VV = Nomor Kolom + ([Link] – 1).4
4. Satuan blok untuk peta skala 1 : 1000 diperoleh dengan cara :
a. Membagi 1 bagian satuan blok peta skala 1:2500 menjadi 9 bagian, terdiri atas 3
kolom dan 3 baris yang dinamakan 1 sel peta skala 1:1000
b. Ukuran sebuah sel adalah 500 m x 500 m
c. Sebuah sel diberi nomor sebanyak 11 digit, [Link].U ; U = 1-9.
Misal : 48.2.55313.03.9
d. Untuk memperoleh sebuah sel peta skala 1:1000 ini sebelumnya perlu dicari
batas Xmin, Xmax, Ymin, dan Ymax dari sebuah bagian satuan blok peta skala
1:2500.
e. Nomor Kolom = (Xp-Xmin)/500 ; Nomor Baris = (Yp-Ymin)/500
f. U = VV = Nomor Kolom + ([Link] – 1).