Terapi dengan Pendekatan Psikoanalitik
17 Mar
Sigmund Freud
Lahir di Freiberg, 6 Mei 1856 – meninggal di London, 23 September 1939 pada umur 83
tahun) adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang
ilmu psikologi.
Salah satu aliran utama dalam sejarah psikologi adalah teori psikoanalitik Sigmund
[Link] adalah sebuah model perkembangan keperibadian, filsafat tentang sifat
manusia, dan metode [Link] untuk di ingat bahwa Freud adalah pencipta
pendekatan psikodinamika terhadap psikologi, yang memberikan pandangan baru kepada
psikologi dan menemukan cakrawala-cakrawala [Link], misalnya membangkitkan minat
terhadap motivasi tingkah laku. Freud juga mengundang banyak kontroversi, eksplorasi,
penelitian dan menyajikan landasan tempat bertumpu system-sistem yang muncul kemudian.
Tujuan Pendekatan
Tujuan terapi psikoanalitik adalah adalah membentuk kembali struktur karakter individual
dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien. Proses terapeutik di
fokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak.
Pengalaman-pengalaman masa lampau di rekontruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan
dengan sasaran merekontruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif
dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengalaman intelektual
memiliki arti penting. Tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan
pemahaman diri lebih penting lagi.
Proses Terapi
Dengan analis dikonseptualkan dalam proses transferensi yang menjadi inti pendekatan
psikoanalitik, tranpernsi mendorong klien untuk mengalamatkan pada analis “urusan yang tak
selesai ”yang terdapat dalam hubungan klien dimasa lampau dengan orang yang berpengaruh.
proses pemberian treatman mencakup merekontruksi klien dan menghidupkan kembali
pengalaman-pengalaman masa lampaunya, setelah terapi berjlan dengan baik, perasaan-
perasaan dan konflik masa anak-anak klien mulai muncul kepermukaan dari ketaksadaran.
Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi harus
digarap. Proses transferensi melibatkan eksplorasi oleh klien atas kesejajaran- kesejajaran
antara pengalaman masa lampau dan pengalaman masa kini. Dimensi utama dari proses
penggarapan itu adalah hubungan transferensi, yang membutuhkan waktu untuk
membangunnya serta memerlukan tambahan waktu untuk memahami dan melarutkannya,
maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang panjang bagi keseluruhan proses
teurapeutik.
Sebagai hasil hubungan terapeutik, khususnya penggarapan situasi transferensi, klien
memperolah pemahaman terhadap psikodinamika tak sadarnya, kesadaran dan pemahaman
atas bahan yang direpresi merupakan landasan bagi proses pertumbuhan anlitik. klien mampu
memahami asosiasi antara pengalaman – pengalaman masa lampaunya dengan kehidupan
sekarang. Pendekatan psikoanalitik berasumsi bahwa kesadaran diri ini bisa secara otomatis
mengarah pada perubahan kondisi klien.
Penerapan : Teknik dan Prosedur Terapeutik
Tenik-tenik pada terapi psikoanalitik disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh
pemahaman intelektual atas tingkah laku klien dan untuk memahami berbagai gejala.
Kemajuan terapeutik berawal dari pembicaraan klien kepada katarsis, kepada pemahaman,
kepada penggarapan bahan yang tak disadari, kearah tujuan-tujuan pemahaman dan pendidikan
ulang intelektual dan emosioanal, yang diharapkan mengarah kepada perbaikan kepribadian.
kelima teknik dasar psikoanalitik adalah
1. asosiasi bebas
2. penafsiran
3. analisis mimpi
4. analisis dan penafsiran resistensi
5. analisis dan penafsiran transfernsi.
1. Asosiasi Bebas
Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien diminta melaporkan
segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya.
Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti
pikiran, harapan, dan lain-lain, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak
logis, menyakitkan, ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini
ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini
sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat
sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan
pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai katarsis.
Cara yang khas ialah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisis duduk
dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi-asosiasinya
mengalir bebas. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-
pengalaman masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Hal ini dilakukan guna
membantu klien dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis
menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas ini.
2. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi,
resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya terdiri atas tindakan-tindakan
analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku
yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh
hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi
bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-
penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangi bahan tak sadar pada pihak
klien.
3. Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak
disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak
terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan mengistimewa menuju
ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan
ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan.
Analisa terhadap mimpi ini biasanya dilandasi oleh konsep psikoseksual, serta termuat isu
gender. Contohnya adalah mimpi mengenai sebuah pohon dapat diinterpretasikan sebagai
keinginan untuk mengekspresikan dorongan seksual apabila diimipikan oleh laki-laki, atau
representasi dari keinginan untuk memiliki superioritas laki-laki bila dimimpikan oleh
perempuan. Dalam hal ini, pohon dipandang sebagai representasi dari alat kelamin laki-laki.
4. Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek psikoanalitik adalah
sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang
tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam
terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama
untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.
5. Analisis dan penafsiran transferensi
Sama hal nya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analisis
transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan
kembali masa lampaunya dalam terapi. Transference adalah saat pasien mengembangkan
reaksi emosional keterapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis
sebagai seseorang dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive
transference apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative
transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.
Contoh kasus yang biasa ditangani dan efeknya :
Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (GAD) ditandai oleh perasaan cemas,
sering kali dengan hal-hal kecil. Ciri utama GAD adalah rasa cemas. Orang dengan GAD
adalah pencemasan yang kronis. Mungkin mereka mencemaskan secara berlebihan keadaan
hidup mereka, seperti keuangan, kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Anak-
anak dengan gangguan ini mencemaskan prestasi akademik, atletik, dan aspek sosial lain dari
kehidupan sekolah. Ciri lain yang terkait adalah: merasa tegang, waswas, atau khawatir, mudah
lelah, mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi
kosong, iribilitas, ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur, seperti sulit untuk tidur, dan
tidur yang gelisah dan tidak memuaskan
Dari kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa orang tersebut (Rina) menderita gangguan anxiety
menyeluruh. Karena kita dapat menemukan beberapa ciri penyakit dari gangguan anxiety
menyeluruh.
Terapi yang digunakan untuk Gangguan Anxietas Menyeluruh
Pendekatan Psikoanalisis, karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar dari
konflik-konflik yang ditekan, sebagian besar psikoanalisis bekerja untuk membantu pasien
untuk menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hampir sama
dengan penanganan fobia.
Satu studi tanpa kontrol menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada
konflik interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara
yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini, sama dengan para terapi
behavioral mendorong penyelesaian masalah sosial.
Kelebihan Dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis
Kelebihan
Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat.
Dengan terapi ini terapis bisa lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena
prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak
disadarinya.
Kekurangan
Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang
Memakan banyak biaya bagi klien
Karena waktunya lama, bisa membuat klien menjadi jenuh
Diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk melakukan terapi
Daftar Pustaka
Corey Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT
Refika Aditama
[Link]
[Link]
Terapi Psikoanalisis (Sigmund Freud)
Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia
dan metode psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund
Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul karena tertahannya
ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan,
ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil. Selain itu,
Freud juga mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional yang
tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa
lima tahun pertama dalam kehidupannya.
Konsep-konsep utama terapi psikoanalisis ;
1. Struktur kepribadian
o Id (tidak memiliki kontak yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk
memperoleh kepuasan sehingga disebut sebagai prinsip kesenangan)
o Ego (disebut juga sebagai prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung
dengan duni nyata, ego juga memiliki peran untuk mengambil keputusan
dalam kepribadian. Ego menjadi penengah/penyeimbang antara id dan
superego)
o super ego (disebut sebagai prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi
oleh super ego akan merasa selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar)
2. Kesadaran & Ketidaksadaran
o Konsep ketidaksadaran
mimpi yang merupakan pantulan dari kebutuhan, kenginan dan konflik
yang terjadi dalam diri
salah ucap / lupa
sugesti pasca hipnotik
materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas
materi yang berasal dari teknik proyektif
3. Kecemasan
o Adalah suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang
akan terjadi/belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego,
dan superego. Kecemasan terdiri dari 3 jenis yaitu kecemasan neurosis yaitu
cemas akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas
akibat konflik antara kebutuhan nyata/realistis dan perintah superego, dan
yang ketiga adalah kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan
rasa takut misalnya kecemasan akan bahaya.
Tujuan terapi :
Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang
ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan
hal yang selama ini tidak disadarinya.
Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
Peran terapis :
Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam
melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar &
menafsirkan
Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien
Teknik – teknik dalam terapi psikoanalisa :
1. Asosiasi bebas :
Terapi asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu &
pelepasan emosi2 yg berkaitan dg situasi2 traumatik di masa lalu. Pasien secara bebas
mengungkapkan segala hal yang ingin dikemukakan, termasuk apa yang selama ini ditekan di
alam bawah sadar. Pasien mengungkapkan tanpa dihambat atau dikritik. Namun, ada hal
yang menjadi salah satu hambatannya yaitu pasien melakukan mekanisme pertahanan diri
saat mengungkapkan hal, sehingga tidak semua hal bisa terungkap. Maka, pasien diminta
untuk berbaring di dipan khusus dan psikoanalisnya duduk di belakang. Pasien dan
psikoanalis tidak berhadapan langsung, sehingga diharapkan pasien dapat mengungkapkan
pikirannya tanpa merasa terganggu, tertahan, atau terhambat oleh terapis.
2. Penafsiran
Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transferensi.
Dengan kata lain teknik ini digunakan untuk menganalisis teknik-teknik yang lainnya.
Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan
mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi,
asosiasi bebas, resistensi-resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.
3. Analisis Mimpi
Adalah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan
memberikan kepada pasien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud
menganggap bahwa mimpi merupakan jalan keluar menuju kesadaran karena pada saat tidur,
semua pemikiran yang ditekan di alam bawah sadar bisa muncul ke permukaan. Pada teknik
ini difokuskan untuk mimpi-mimpi yang berulang-ulang, menakutkan, dan sudah pada taraf
mengganggu.
4. Analisis Resistensi
Adalah dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Terapis harus bisa
menerobos kecemasan yang ada pada pasien sehingga pasien bisa menyadari alasan
timbulnya resitensi tersebut. Setelah klien bisa menyadarinya, pasien bisa menanganinya dan
bisa mengubah tingkah lakunya.
5. Analisis Transferensi/Pengalihan
Adalah teknik utama dalam terapi psikoanalis karena dalam teknik ini, masa lalu dihidupkan
kembali. Pada teknik ini diharapkan pasien dapat memperoleh pemahaman atas sifatnya
sekarang yang merupakan pengaruh dari masa lalunya.
Sumber :
Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
[Link]
doc
[Link]
[Link]
ipt