0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
405 tayangan13 halaman

Akar Penyebab Hipertensi pada Lansia

Faktor-faktor yang menyebabkan masalah hipertensi di wilayah tersebut antara lain pola makan tidak sehat yang mengandung garam dan lemak berlebih, merokok, kurangnya aktivitas fisik, pengetahuan masyarakat yang kurang tentang hipertensi, stress, lingkungan sosial ekonomi rendah, genetik, dan faktor umur. Program pengendalian hipertensi melalui posyandu setiap bulan berhasil menurunkan angka hipertens

Diunggah oleh

Agnes Intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
405 tayangan13 halaman

Akar Penyebab Hipertensi pada Lansia

Faktor-faktor yang menyebabkan masalah hipertensi di wilayah tersebut antara lain pola makan tidak sehat yang mengandung garam dan lemak berlebih, merokok, kurangnya aktivitas fisik, pengetahuan masyarakat yang kurang tentang hipertensi, stress, lingkungan sosial ekonomi rendah, genetik, dan faktor umur. Program pengendalian hipertensi melalui posyandu setiap bulan berhasil menurunkan angka hipertens

Diunggah oleh

Agnes Intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Akar Penyebab Masalah Hipertensi Rangkapan Jaya Baru

Akar penyebab masalah hipertensi diatas yaitu menggunakan Fishbone dengan analisis
Teori H.L. Blum disebabkan oleh faktor perilaku, genetik, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
1. Perilaku
a. Pola makan yang kurang baik
1) Konsumsi garam dan lemak yang berlebih
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada kader dan pasien hipertensi yang
berjumlah 10 orang pada masing-masing posbindu diketahui bahwa semuanya setiap hari
mengkonsumsi makanan yang asin seperti ikan asing dan mie instan dan juga makanan yang
berlemak seperti goreng-gorengan dan makanan yang bersantan tanpa dibarengi dengan konsumsi
buah dan sayur. Garam merupakan faktor penting dalam patogenesis hipertensi. Apabila asupan
garam kurang dari 3 g/hari, maka prevalensi hipertensinya rendah, sedangkan asupan garam antara
5-15 g/hari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%. Pengaruh asupan garam terhadap
hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah. Konsumsi
garam yang dianjurkan tidak boleh lebih dari 6 gram/hari yang setara dengan 110 mmol natrium
atau 2400 mg/hari (Irza, 2009). Konsumsi garam memiliki efek langsung terhadap tekanan darah.
Masyarakat yang mengkonsumsi garam yang tinggi dalam pola makannya juga adalah masyarakat
dengan tekanan darah yang meningkat 31 seiring bertambahnya usia. Natrium dan klorida yang
terdapat dalam garam dapur dalam jumlah normal dapat membantu tubuh mempertahankan
keseimbangan cairan tubuh untuk mengatur tekanan darah. Namun natrium dalam jumlah yang
berlebih dapat menahan air (retensi), sehingga meningkatkan volume darah yang mengakibatkan
jantung harus bekerja lebih keras untuk memompanya dan tekanan darah menjadi naik (Sustrani,
2006). Hal tersebut juga terjadi pada konsumsi lemak yang berlebih. Konsumsi pangan tinggi
lemak juga dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah yang dikenal dengan aterosklerosis.
Lemak yang berasal dari minyak goreng tersusun dari asam lemak jenuh rantai panjang
(longsaturated fatty acid). Keadaannya yang berlebih di dalam tubuh akan menyebabkan
penumpukan dan pembentukan plak di pembuluh darah. Pembuluh darah menjadi semakin sempit
dan elastisitasnya berkurang. Kandungan lemak atau minyak yang dapat mengganggu kesehatan
jika jumlahnya berlebih adalah kolesterol, trigliserida, low density lipoprotein (LDL) (Wahyudi,
2014).

2) Kebiasaan Merokok
Menurut hasil observasi dan wawancara kepada pasien hipertensi yang berjumlah 25 orang
diketahui bahwa 15 orang memiliki anggota keluarga yang merokok atau perokok aktif. Perokok
pasif lebih berbahaya dari pada perokok aktif. Sehingga apabila setiap hari terhirup asap rokoknya
maka gas CO mengikat hemoglobin dalam sel darah merah lebih kuat dibandingkan oksigen.
Akibanya, sel tubuh menjadi kekurangan oksigen dan akan berusaha meningkatkan oksigen
melalui konpensasi pembuluh darah dengan jalan menciut (spasme). Bila proses spasme
berlangsung terus menerus, akibatnya pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya
aterosklerosis. Aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah tersebut mengakibatkan tekanan
darah di dalam pembuluh menjadi tinggi. Selain itu, nikotin yang terkandung dalam asap rokok
menyebabkan perangsangan terhadap hormone adrenalin yang bersifat memacu jantung dan
tekanan darah (Sinaga, 2012).
Sitepoe mengatakan bahwa beberapa zat kimia dalam rokok bersifat kumulatif, sehingga
pada kurun waktu yang lama dosis racun akan mencapai titik toksin sehingga kelihatan gejala yang
ditimbulkannya. Akumulasi yang berlebihan ini lama-kelamaan dapat mengganggu tekanan darah
perokok hingga akhirnya terjadi hipertensi (Wahyudi. 2014).
b. Kurangnya aktivitas
Faktor makanan dan kurangnya aktivitas fisik yang memadai merupakan hal penting ke
dua sebagai penyebab kematian yang dapat dicegah, setelah penggunaan tembakau. Orang yang
kurang aktif berolahraga pada umumnya cenderung mengalami kegemukan. Olahraga isotonik
seperti bersepeda jogging, dan aerobik yang teratur dapat memerlancar peredaran darah sehingga
dapat menurunkan tekanan darah. Olahraga jaga dapat mengurangi atau mencegah obesitas,
mengurangi asupan garam kedalam tubuh. Garam akan keluar dari tubuh bersama keringat,
mengurangi depresi dan kecemasan, memperbaiki adaptasi terhadap stress, memperbaiki kualitas
tidur, dan menaikkan mood, serta percaya diri (Novian, 2013). Orang yang aktivitasnya rendah
berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Oleh karena itu, latihan fisik antara 30 -
45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi. Salah satu b entuk
latihan fisik adalah dengan berolahraga. Prinsip terpenting dalam olahraga bagi orang yang
menderita hipertensi adalah mulai dengan olahraga ringan yang dapat berupa jalan kaki ataupun
berlari-lari kecil (Widyaningrum, 2012).
c. Kurangnya Pengetahuan tentang Hipertensi
Berdasarkan wawancara terstruktur kepada kader kesehatan posbindu diketahui bahwa
pengetahuannya masih kurang. Kader kesehatan posbindu merupakan orang yang berperan untuk
mengoptimalkan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi permasalahan lansia
(Armiyati.,dkk, 2014). Sedangkan pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo,
2007).
d. Stress/gangguan emosional
Pada bulan September sampai dengan Januari 2015, terdapat pasien hipertensi yang
mengalami gangguan emosional yaitu sebagai berikut:
Berdasarkan grafik diatas menunjukan bahwa pada Januari 2015 terjadi penurunan
penderita hipertensi dengan gangguan emosional meskipun penderita hipertensi meningkat pada
januari. Hal tersebut dikarenakan dilakukannya pembinaan hipertensi oleh kader dengan cara
mengawasi minum obat dan selalu melakukan pemeriksaan tekanan darah setiap bulan. Stress atau
ketegangan jiwa seperti rasa tertekan, murung, rasa marah,dendam, rasa takut, dan rasa bersalah
dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung
berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (Ditjen P2PL).
Apabila stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan da rah yang menetap.
Meskipun dapat dikatakan bahwa stress emosional benar-benar meningkatkan tekanan darah untuk
jangka waktu yang singkat, reaksi tersebut lenyap kembali seiring dengan menghilangnya
penyebab stress tersebut. Hanya jika stress menjadi permanen, dan tampaknya tidak ada jalan
untuk mengatasinya atau menghindarinya, maka organ yang demikian akan mengalami hipertensi
sedemikian terus-menerus sehingga stress menjadi resiko (Armilawaty, 2007).
e. Lingkungan
Penduduk yang berada diwilayah kerja puskesmas Rangkapan Jaya Baru rata-rata memiliki
pekerjaan yaitu sebagai buruh atau ekonomi menengah kebawah. Rendahnya ekonomi penduduk
dapat menyebabkan stress dan pola makan serta gaya hidup yang kurang baik. Pola makan yang
tidak sehat dan gaya hidup tidak baik dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit lainnya. Selain
itu stress juga dapat memicu terjadinya hipertensi dikarenakan saraf simpatis merangsang kelenjar
anak ginjal melepaskan hormone adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih
kuat sehingga tekanan darah akan meningkat.
f. Genetik
Adanya faktor genetic pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai
risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler
dan rendahnya rasio antara potassium terhadap sodium. Individu dengan orang tua hipertensi
mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak
mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi (Irza, 2009).
1. Umur
Umur merupakan salah satu faktor risiko hipertensi yang tidak dapat dimodifikasi. Hal
tersebut dikarenakan bertambahnya umur maka risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar
sehingga prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40% dengan
kematian sekitar di atas 65 tahun. Pada usia lanjut hipertensi ditemukan hanya berupa kenaikan
tekanan diastolik sebagai bagian tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya
hipertensi. Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10- 30 tahun
(dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40
tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30- 50 tahun
dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun (Widyaningrum, 2012).

Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa terjadi peningkatan penyakit hipertensi pada
tahun 2013. Sedangkan pada tahun 2014 terjadi penurunan yang signifikan. Namun dari grafik
tersebut menunjukan bahwa penyakit hipertensi banyak diderita pada usia 20-44 tahun sebanyak
69 kasus tahun 2014.

Hipertensi pada usia diatas 45 tahun akan meningkatkan tekanan darah dikarenakan adanya
penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur
menyempit dan menjadi kaku. Dinding arteri akan mengalami penebalan. Secara umum, dengan
bertambahnya usia maka tekanan darah akan bertambah tinggi, baik tekanan darah sistolik maupun
tekanan darah diastolik. Peningkatan tekanan sistolik menunjukkan resiko yang lebih penting
daripada 38 peningkatan tekanan darah diastolik. Pada grafik diatas diketahui bahwa berkurangnya
jumlah hipertensi pada lansia (≥45 tahun). Hal tersebut menunjukan berjalannya program
pengendalian dan pencegahan penyakit hipertensi di puskesmas Rangkapan Jaya Baru dengan
menjalankan kegiatan posbindu setiap bulan disetiap RW.

2. Kegemukan/Obesitas
Berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada kebanyakan kelompok
etnik di semua umur. Prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dengan Indeks Massa Tubuh
(IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk wanita, dibandingkan dengan
prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang memiliki IMT <25 (status gizi normal
menurut standar internasional) (Cortas, 2008).
Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah,
terutama tekanan darah sistolik. Resiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal (Nugraheni, 2008). Hal
tersebut terjadi karena Ketidakseimbangan antara konsumsi karbohidrat dan kebutuhan energi,
dimana konsumsi terlalu berlebihan dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi akan
menimbulkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi dalam tubuh disimpan dalam bentuk
jaringan lemak. Pada keadaan normal, jaringan lemak ditimbun dalam beberapa tempat tertentu,
diantaranya di jaringan subkutan dan didalam jaringan usus (omentum). Jaringan lemak subkutan
didaerah dinding perut bagian depan (obesitas sentral) sangat berbahaya daripada jaringan lemak
di pantat yang akan menjadi resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler (Yuniastuti, 2007).
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa terjadi peningkatan penderita hipertensi yang
memiliki IMT lebih dari bulan desember 2014 sebanyak 16 orang menjadi 26 orang pada Januari
2015. Hal ini apabila tidak ditanagani akan menimbulkan masalah kesehatan lain seperti penyakit
kardiovaskuler.
g. Pelayanan Kesehatan
Puskesmas dalam meningkatkat pelayanan kesehatan terkait pencegahan hipertensi sudah
baik yaitu dengan melakukan kegiatan pemeriksaan tekanan darah setiap bulan di Posbindu dan
dapat menurunkan hipertensi pada lansia. Akan tetapi, hipertensi sudah bukan hanya dialami oleh
lansia saja, namun sudah dialami oleh remaja akibat dari perubahan gaya hidup, pola makan dan
kemajuan teknologi. Oleh karena itu tenaga kesehatan harus memperhatikan kesehatan remaja agar
terhindar dari penyakit degenaratif sejak dini dengan cara melakukan screening dan penyuluhan
hipertensi pada remaja.

B. Pengukuran Perubahan Perilaku


1. Tujuan
a. Tujuan Umum:
untuk mengetahui perilaku kader posbindu terkait pelaksanaan pencegahan penyakit
hipertensi. pengetahuan kader tentang hipertensi dan tindakan kader dalam pemeriksaan
tekanan darah.
b. Tujuan Khusus:
1) Untuk mengetahui pengetahuan kader tentang hipertensi di Posbindu
2) Untuk mengetahui perilaku kader kesehatan dalam pemeriksaan tekanan darah kepada
pasien posbindu.
2. Metode Pengukuran Perilaku
Pengukuran perubahan perilaku ini menggunakan metode observasi mengenai pelaksanaan
pemeriksaan tekanan darah kepada pasien posbindu dan wawancara kader posbindu terkait
hipertensi dengan desain studi Cross Sectional.
3. Definisi Operasional

4. Pembahasan dan Hasil

a. Hasil Observasi

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada 10 Posbindu diketahui bahwa, semua posbindu
menggunakan alat pengukuran tekanan darah yaitu berupa tensimeter digital. Saat pengukuran
tekanan darah pasien dalam 42 posisi duduk dan tangan diatas meja yang telah disediakan. Kader
posbindu dalam pemasangan manset masih kurang tepat, seharusnya Pasang mancet pada lengan
kanan pasien dengan posisi kain halus/ lembut ada di bagian dalam dan D-ring (besi) tidak
menyentuh lengan, masukkan ujung mancet melalui D-ring dengan posisi kain perekat di bagian
luar. Ujung bawah mancet terletak kira-kira 1–2 cm di atas siku. Posisi pipa mancet harus terletak
sejajar dengan lengan kanan pasien dalam posisi lurus dan relaks. Setelah dilakukan pengukuran
hasil pengukuran tersebut dicatat dan dilaporkan ke tenaga kesehatan. Namun pemeriksaan hanya
dilakukan satu kali pengukuran dan hasilnya tidak di informasikan ke pasien, kecuali pasien yang
bertanya maka baru akan diberitahu hasilnya Pencatatan data hasil pemeriksaan pasien dicatat
dibuku kunjungan pasien posbindu sehingga dapat mempermudah kader untuk membuat laporan
setiap bulan.

b. Hasil Wawancara

Menururut hasil wawancara dengan kader kesehatan yang berjumlah 3 orang dari setiap
posbindu yang didatangi yaitu sekitar 23 orang. Dari 23 orang kader kesehatan diketahui bahwa :
Pertanyaan 1: penyakit apa saja yang paling banyak diderita oleh orang yang datang ke posbindu?

Dari 23 orang mengatakan masalah kesehatan di posbindu yaitu penyakit hipertensi atau
darah tinggi dan asam urat.

Pertanyaan 2: Diketahuinya dia hipertensi atau tidak itu pada saat tekanan darah berapa?

43 Dari 23 Informan diketahui bahwa mereka semua menjawab hipertensi terjadi ketika
tekanan darah ≥140/90. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan kesakitan
yang tinggi. Hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada pembuluh darah yang
mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan
tubuh yang membutuhkannya. Seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik lebih
dari 140 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 90 mmHg. Hipertensi juga merupakan keadaan
dimana tekanan darah menjadi naik dan bertahan pada tekanan tersebut meskipun sudah relaks.
(Widiyaningrum, 2012).

Pertanyaan 3: Ciri-ciri atau gejala penyakit hipertensi seperti apa?

Dari 23 orang diketahui bahwa 15 orang mengatakan gejala hipertensi yaitu pusing, suka
marah-marah, dan pegal-pegal. 3 orang mengatakan bahwa gejala hipertensi yakni jantung kadang-
kadang suka berdebar-debar, cepet marah dan susah tidur. Sedangkan 5 orang mengatakan penykit
hipertensi gejalanya suka marah-marah saja. Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak
menimbulkan gejala. Masa laten ini menyelubungi perkembangan hipertensi sampai terjadi
kerusakan organ yang spesifik. Gejala-gejala hipertensi yang umumnya dijumpai antara lain: sakit
kepala, pusing, mudah marah, telinga berdenging, sulit tidur, sesak nafas, rasa berat di tengkuk,
mudah lelah, mata berkunang-kunang. Pada hipertensi berat atau menahun dan tidak diobati, bisa
timbul gejala antara lain: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, 44 nafas pendek,
gelisah, pandangan menjadi kabur, mata berkunang-kunang, mudah marah, telinga berdengung,
sulit tidur, rasa berat ditengkuk, nyeri didaerah kepala bagian belakang, nyeri didada, otot lemah,
pembengkakan pada kaki dan pergelangan tangan, keringat berlebih, kulit tampak pucat dan
kemerahan, denyut jantung yang kuat, cepat dan tidak teratur, impotensi, darah di urine, mimisan
(jarang di laporkan). Kadang pada hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan
koma karena pembengkakan otak. Keadaan yang disebut Ensefalopati Hipertensif ini memerlukan
penanganan medis secepat mungkin (Novian, 2013).

Pertanyaan 4: apakah bahaya dari penyakit hipertensi?

Dari 23 orang 18 orang mengatakan tidak tahu dan 3 orang mengatakan hipertensi dapat
menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Sedangkan 2 informan mengatakan hipertensi dapat
menyebabkan kematian jika tidak ditangani secepatnya. Hipertensi menyebabkan meningkatnya
risiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler seperti stroke, gagal
ginjal, serangan jantung, dan kerusakan ginjal (Widyaningrum, 2012). jika hipertensi apabila
sudah menimbulkan komplikasi pada jantung, penyumbatan pembuluh darah, hingga pecahnya
pembuluh darah diotak yang berakibat kematian. (Rahayu, 2012)

Pertanyaan 5: apa penyebab dari penyakit hipertensi?

Semua informan yang berjumlah 23 orang mengatakan hipertensi disebabkan oleh


masyarakat yang suka makan-makan yang asin seperti ikan asin dan goreng- gorengan. Black dan
Hawks (2005) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kejadian
hipertensi. Faktor risiko ini diklasifikasikan menjadi faktor yang tidak dapat di modifikasi dan
faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah riwayat keluarga
dengan hipertensi, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi
adalah nutrisi, stress, obesitas, dan zat berbahaya misalnya asap rokok dan konsumsi alkohol
berlebihan, serta aktivitas fisik (Rahayu, 2012).

Pertanyaan 6: cara pencegahan penyakit hipertensi?

Semua informan menjawab melarang memakan makanan yang asin dan meminum obat
antihipertensi yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Berbagai cara yang terbukti mampu untuk
mencegah terjadinya hipertensi, yaitu pengendalian berat badan, pengurangan asupan natrium
kloride, aktifitas alcohol, pengendalian stress, suplementasi fish oil dan serat The 5- year primary
prevention of hypertension meneliti berbagai faktor intervensi terdiri dari pengurangan kalori,
asupan natrium kloride dan alcohol serta peningkatan aktifitas fisik (Budisetio, 2011). Berdasarkan
hasil wawancara tersebut diketahui bahwa pengetahuan kader tentang hipertensi masih kurang baik
dalam memahami faktor risiko, bahaya hipertensi dan cara pencegahannya. Oleh karena itu, kader
kesehatan diberikan penyuluhan terkait hipertensi sehingga dalam penyampaian pesan kepada
penderita hipertensi tepat sasaran. Selain itu, kader kesehatan posbindu merupakan orang yang
berperan untuk mengoptimalkan upaya 46 promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi
permasalahan lansia (Armiyati.,dkk, 2014). Sehingga kader kesehatan harus mengetahui masalah
dan penyebab penyakit yang diderita oleh para lansia khususnya hipertensi. Alasannya yaitu
karena hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh pasien posbindu. Jadi,
perlu dilakukannya penyuluhan serta pelatihan kepada kader posbindu.

C. Rancangan kegiatan Intervensi


a. Latar belakang kegiatan intervensi
Seiring dengan terjadinya transisi epidemiologi saat ini, penyakit hipertensi bukan hanya
diderita oleh lansia saja tapi juga oleh remaja usia ≥18 tahun. Pada usia tersebut perlu dilakukan
pencegahan penyakit hipertensi secara dini agar terhindar dari penyakit hipertensi di usia muda.
Terjadi perubahan pola penyakit disebabkan seiring dengan perkembangan teknologi, perubahan
pola makan, gaya hidup serta kemajuan ekonomi suatu bangsa. Oleh karena itu perlu dilakukannya
upaya pencegahan penyakit hipertensi pada remaja. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara
diketahui bahwa di wilayah kerja puskesmas Rangkapan Jaya Baru terdapat program bina keluarga
remaja (BKR). BKR ini dibuat untuk meningkatkan derajat kesehatan remaja dan menangani
masalah-masalah pada remaja. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan seperti penyuluhan
kesehatan dan screening terkait penyakit hipertensi di BKR ini. Selain itu, di BKR ini ada Pusat
Informasi Kesehatan Remaja 47 (PIKER) yang dapat dijadikan remaja sebagai bagian
penyampaian informasi kepada teman sebayanya.
b. Jenis kegiatan
Screening hipertensi dan penyuluhan hipertensi
c. Deskripsi Kegiatan
Kegiatan ini dilakukan dengan cara screening hipertensi kepada remaja usia 17-20 tahun
dengan melakukan pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan menanyakan faktor
resiko yang mungkin terjadi/dialami oleh sasaran, selanjutnya di berikan konsultasi kesehatan.
Setelah itu dilakukan penyuluhan terkait hipertensi, bahaya hipertensi, gejala hipertensi, faktor
risiko terjadinya hipertensi, dan cara pencegahan penyakit hipertensi. Hal ini dilakukan agar
remaja tahu bahaya dari penyakit hipertensi apabila tidak ditangani atau di cegah sejak dini. Selin
itu saat kegiatan dapat dilakukan pemutaran video tentang hipertensi.
d. Judul kegiatan
Terapkan Pola Hidup Sehat agar terhindar dari penyakit Hipertensi sejak dini.
e. Tujuan Kegiatan
Untuk melakukan upaya pencegahan penyakit hipertensi sejak dini.
f. Sasaran kegiatan
Remaja usia 17 hingga 20 tahun di wilayah kerja puskesmas Rangkapan Jaya Baru
g. Pesan kegiatan
Hidup sehat, penyakit hipertensipun lewat
h. Waktu pelaksaan
Minggu, 15 Februari 2015
i. Tempat Pelaksanaan
Aula kelurahan Rangkapan Jaya Baru
j. Media yang digunakan
Berupa leaflet hipertensi yang menjelaskan tentang definisi hipertensi, gejala hipertensi,
penyebab hipertensi, bahaya hipertensi, dan cara pencegahannya. Selain itu dibuat juga video
bahaya hipertensi, faktor-faktor penyebab hipertensi dan cara pencegahannya.

D. Rancangan Media
1. Jenis Media : Leaflet
2. Deskripsi Media: Media cetak ini merupakan sebuah media yang digunakan dari bahan
kertas untuk menyampaikan pesan-pesannya. Unsur-unsur utama adalah tulisan (teks), gambar
visualisasi atau keduanya. Media cetak ini bisa dibuat untuk membantu fasilitator melakukan
komunikasi interpersonal saat pelatihan atau kegiatan kelompok. Media ini juga bisa dijadikan
sebagai bahan referensi (bahan bacaan) atau menjadi media instruksional atau
mengkomunikasikan teknologi baru dan cara-cara melakukan sesuatu (leaflet, brosur, buklet).
Leaflet ini berisi tentang definisi hipertensi, bahaya hipertensi, gejala hipertensi, faktor risiko
terjadinya hipertensi, dan cara pencegahan penyakit hipertensi. Sedangkan video berupa
perpaduan antara gambar, suara, dan tulisan.
3. Tujuan Media Promosi: untuk membantu pemateri atau narasumber dalam
menyampaikan materi kepada peserta penyuluhan.
4. Cara pembuatan: Pertama siapkan atau cari gambar dan materi yang dibutuhkan. Kedua,
buka Microsoft office publisher. Ketiga pilih desain yang akan digunakan. Keempat, materi dan
gambar di masukan agar terlihat menarik dan penulisannya 49 dipermudah bahasanya sehingga
dapat mempermudah sasaran untuk membacanya. Kelima, print leaflet.
5. Cara penggunaan: saat penyuluhan leaflet diberikan kepada peserta penyuluhan sehingga
saat pemateri/narasumber menjelaskan mereka mengerti dan mengetahui apa yang dijelaskan oleh
narasumber/pemateri. Selain itu dapat ditempel di mading PIKER sebagai bahan dalam
penyampaian informasi kepada yang lain yang tidak dapat hadir dalam penyuluhan.

Anda mungkin juga menyukai