100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
2K tayangan33 halaman

Komponen Dasar Social Case Work

[Ringkasan] Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Social Case Work merupakan metode pekerjaan sosial yang bertujuan untuk membantu individu mengatasi masalahnya dan mengembangkan potensinya melalui proses relasi individual. 2. Terdapat empat komponen utama dalam Social Case Work yaitu person, problem, place, dan process. Person merujuk pada individu yang membutuhkan bantuan, sedangkan problem merupakan masalah yang dihadapi individu tersebut. Place adalah le

Diunggah oleh

sri utari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
2K tayangan33 halaman

Komponen Dasar Social Case Work

[Ringkasan] Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Social Case Work merupakan metode pekerjaan sosial yang bertujuan untuk membantu individu mengatasi masalahnya dan mengembangkan potensinya melalui proses relasi individual. 2. Terdapat empat komponen utama dalam Social Case Work yaitu person, problem, place, dan process. Person merujuk pada individu yang membutuhkan bantuan, sedangkan problem merupakan masalah yang dihadapi individu tersebut. Place adalah le

Diunggah oleh

sri utari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Martabat dan harga diri seseorang, serta pentingnya individu dan keluarga secara

perorangan merupakan suatu asumsi filosofis yang tergantung dalam praktek


pekerjaan sosial yang memiliki asumsi nilai yang sangat kompleks, dan
dikhususkan pada tujuan keberfungsian sosial individu serta realisasi kelompok
merupakan tujuan utama dari metode pekerjaan sosial yang disebut Social Case
Work.

Istilah Social Case Work pertama kali ditemukan dalam suatu konferensi amal dan
corrections pada tahun 1909 oleh Mary K. Sinkovitch pada waktu itu istilah ini
kurang diminati dan dinggap sebagai suatu pekerjaan atau upaya yang kurang
memiliki harapan. Secara ilmiah Social Case Work pertama kali dikemukakan oleh
Mary Richmond pada tahun 1922 dan hingga saat ini metode ini masih terus
dikembangkan untuk memperoleh validasi praktek yang lebih mapan.

Pada tahun 1980, Social Case Work diakui sebagai salah satu metode pekerjaan
sosial yang dikembangkan oleh ribuan pekerja sosial dalam berbagai bidang
pelayanan sosial yang luas serta berbagai institusi pelayanan sosial. Bagaimana
juga dengan berbagai macam keterbatasan dan kelemahan-kelemahannya, metode
pekerjaan sosial dengan individu merupakan suatu metode yang banyak digunakan
dalam praktek pekerjaan sosial.

1. Definisi Social Case Work


Marry Richmon yang merupakan pelopor penggunaan metode casework secara ilmiah
mengatakan bahwa Social Case Work merupakan suatu proses yang bertujuan
untuk mengembangkan kepribadian seseorang melalui penyesuaian diri yang
dilakukan secara sadar, melalui relasi individu, antara orang dengan lingkungan
sosialnya.
Jeanette Regensburg (1938) menyatakan bahwa Social Case Work merupakan suatu
metode untuk mengukur realitas kemampuan kelayan dalam menghadapi dan
memecahkan masalahnya dan pekerja sosial berupaya untuk membantu
menjelaskan masalah yang dihadapi, dan membantunya untuk berpikir dalam cara
yang berbeda untuk memecahkannya.
Swithun Bowers (1949) mendefinisikan bahwa Social Case Work merupakan suatu seni
dimana pengetahuan-pengetahuan ilmiah tentang relasi antar manusia serta
keterampilan dalam hubungan tersebut digunakan untuk memobilisi kemampuan
individu serta sumber-sumber yang ada dalam masyarakat dalam rangka mencapai
suatu kesesuaian yang terbaik antara kelayan dengan seluruh atau sebagian dari
lingkungan totalnya.
Gordon Hamilton (1951) mengatakan bahwa ciri utama dari Social Case Work adalah
tujuannya adalah untuk mengelola pelayanan-pelayanan praktis serta memberikan
konseling sedemikian rupa untuk memunculkan serta menjaga kekuatan psikologi
kelayan.
Hellen Harris Periman (1967) mengatakan bahwa casework merupakan suatu proses yang
digunakan oleh lembaga-lembaga pelayanan kemanusiaan untuk membantu
individu dalam menghadapi berbagai masalah keberfungsian sosial secara lebih
efektif.
Florence Hollis (1972) mengatakan bahwa titik sentral dalam casework adalah
pemahaman tentang “person dalam situasinya” merupakan tuga utama, yaitu
person, situasi, dan interaksi diantaranya.
Smalley (1972) mengatakan bahwa Social Case Work merupakan metode untuk
mengikutsertakan kelayan dalam proses pertolongan melalui suatu proses relasi,
terutama relasi tatap muka, dalam menggunakan pelayanan sosial dalam rangka
mencapai kesejahteraannya sendiri.
Rex A. Skidmore (1982) mengatakan bahwa Social Case Work merupakan suatu proses
untuk membantu individu-individu dalam mencapai suatu penyesuaian satu sama
lain serta penyesuaian antara individu dengan lingkungan sosialnya. Social Case
Work merupakan suatu metode yang terorganisir dengan baik untuk membantu
orang agar dia mampu menolong dirinya sendiri serta ditujukan untuk
meningkatkan, memperbaiki, dan memperkuat keberfungsian sosialnya.

Dari beberapa definisi tersebut diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Social
Case Work merupakan suatu metode untuk membantu individu yang dilandasi oleh
pengetahuan ilmiah, pemahaman, dan penggunaan teknik-teknik secara terampil
yang ditujukan untuk memecahkan masalah atau mengembangkan potensi individu
dan kelompok semaksimal mungkin. Metode ini dilakukan dengan didasari oleh
suatu proses relasi yang bersifat individual, tatap muka. Metode ini merupakan
suatu metode ilmiah yang menggunakan landasan pemahaman perilaku manusi
ayang berasal dari ilmua pengetahuan ilmiah. Selain itu metode ini juga merupakan
suatu seni. Metode ini berupaya untuk mengkombinasikan elemen-elemen
psikologi maupun sosial dari kelayan.

2. Komponen Social Case Work


Dari beberapa definisi Social Case work tersebut di atas, dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa dalam proses casework pada dasarnya terkandung empat
komponen dasar, yaitu Person, Problem, Place, dan Process.
Person
Adalah seseorang yang menghadapi masalah yang datang ke suatu tempat dimana
terdapat tenaga ahli yang sesuai dengan karakteristik masalah yang dihadapinya.
Person ini menghadapi masalah dalam beberapa aspek kehidupan sosial
emosionalnya. Person yang datang ini, kemudian setelah dilakukan studi
pendahuluan yang diakhiri dengan kontrak kemudian memperoleh induksi peranan
sebagai kelayan. Kelayan dari pekerja sosial ini dipandang sebagai seorang
individu yang memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari orang lain, oleh
karena itu pekerja sosial perlu mengindividualisasikan kerakteristik, potensi-
potensi yang dimilikinya dan kemudian juga pelayanan-pelayanan yang akan
diberikannya. Esensi dari bantuan yang diberikan oleh pekerja sosial dalam
Casework adalah mengupayakan adaptasi semaksimal mungkin dengan lingkungan
sosialnya, serta memulihkan dan memperkuat kemampuan untuk menjalankan
fungsi sosialnya sebagai makhluk sosial. Dalam rangka mempengaruhi tingkah
laku kelayannya pekerja sosial perlu memiliki pemahaman mengenai kekuatan-
kekuatan dan arti dari tingkah laku tersebut. Beberapa hal di bawah ini sangat
penting bagi seorang pekerja sosial:
a. Tingkah laku manusian memiliki tujuan,
b. Tingkah laku manusia tergantung dari fungsionalitas struktur kepribadian,
c. Struktur dan keberfungsiang kepribadian merupakan produk dari peralatan
konstitusional dan pembawaan yang berinteraksi terus menerus dengan lingkungan
fisik, sosial, dan psikologisnya,
d. Seluruh fase kehidupan manusia dalam proses tersebut dibentuk pula oleh harapan
lingkungan atas peran dan status yang disandangnya.

Problem
Pada dasarnya Social Case Work mengarahkan prakteknya dalam rangka
mengembalikan, membangun, atau meningkatkan kekuatan individu. Pengertian
dioperasionalisasikan pada upaya untuk menguatkan atau membantu individu
untuk memobilisasi kekuatan-kekuatan, sumber-sumber yang dibutuhkan, dan
mengembangkan pendekatan-pendekatan alternative dalam berperilaku sesuai
dengan situasi.

Social Case Work mengarahkan upayanya untuk mencari pemecahan terhadap


masalah-masalah yang menghambat atau merintangi kemampuan individu dalam
berbagai peranan. Kesulitan dalam mengklasifikasikan masalah akan segera
muncul jika dipandang hubungannya dengan kebutuhan spesifik dari tiap individu.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan penghasilan, dan perubahan sosial pada
dasarnya dapat diklasifikasikan sebagai suatu masalah yang berada di luar control
individu. Masalah-masalah yang berkaitan dengan relasi interpersonalsudah dapat
diidentifikasidan diakui secara jelas. Konflik-konflik intrapsikis, gangguan-
gangguan keyakinan, dan kekacauan pribadi tetaplah menjadi suatu klasifikasi
yang luas tentang masalah yang menjadi perhatian dari Social Case Work.

Ada masalah-masalah yang bersifat environmental, ada masalah yang bersifat


interpersonal, dan ada juga maslah yang bersifat person dan intrapsikis, akan tetapi
sebagaian besar mengandung elemen-elemen sosial dan psikologis.
Dorothy Fahs Beck mengadakan suatu penelitian tentang masalah, dan
mengklasifikasikannyake dalam 3 komponen yang dapat membimbing dalam
memahami masalah:
a. Klasifikasi masalah-masalah kepribadian
b. Klasifikasi masalah-masalah lingkungan
c. Klasifikasi masalah-masalah yang berupa krisis.
Sedangkan Werner Boehm menjelaskan bahwa: istilah masalah sering kali tidak
jelas dan disamakan dengan “stress”. Perbedaan dari keduanya akan membantu
kita dalam mengidentifikasi masalah Stress merupakan tekanan yang
mengakibatkan ketidakberfungsian. Dengan demikian ketidak berfungsian inilah
yang dikatakan sebagai masalah.
Sophia A. Robinson, menjelaskan 5 (lima) asumsi dasar dari Social Case Work
yang dapat diaplikasikan dalam membantu memecahkan masalah klien.
a. Setiap individu harus dipandang sebagai seorang person yang memiliki harga diri
dan martabat.
b. Setiap perilaku, baik yang diterima maupun tidak diterima oleh masyarakat,
merupakan ekspresi dari kebutuhan setiap individu.
c. Setiap individu mampu dan bersedia berubah jika bantuan diberikan dalam jumlah
yang cukup dan dalam waktu yang tepat.
d. Jika bantuan yang diberikan sebelum masalah berkembang semakin serius, maka
tanggapan kelayan akan semakin baik.
e. Keluarga merupakan kekuatan pemberi pengaruh yang sangat penting dalam
pengembangan kepribadian, terutama dalam fase usia dini yang penting.
Place
Tempat dimana kelayan datang untuk meminta bantuan disebut badan sosial. Pada
dasarnya praktek pekerjaan sosial dengan individu atau Social Case Work
dilaksanakan dalam lingkup suatu badan sosial, sehingga pekerja sosialsangat
dipengaruhi oleh lembaga atau badan sosial dimana dia bekerja. Badan sosial
tersebut dapat memberikan bantuan yang berupa bantuan materiil, perubahan
situasional, konseling individu, bantuan psikologis, maupun bantuan-bantuan
perubahan elemen sosial psikologis case-by-case.
Ada tiga factor yang dapat membedakan setiap badan atau lembaga sosial tempat
dimana pekerja sosial melaksanakan praktek pertolongannya:
a. Dilihat dari sumber yang memberikan dukungan.
b. Dilihat dari sumber otoritas professional.
c. Dilihat dari fungsi khusus serta bidang usahanya.
Meskipun setiap lembaga sosial memiliki ciri tersendiri yang berbeda satu dengan
lainnya, akan tetapi pada dasarnya memiliki beberapa ciri utama sebagai berikut:
a. Lembaga tersebut dibentuk atas dasar kebutuhan yang ada dalam masyarakat
dalam rangka mencapai suatu tingkat keberfungsian sosial tertentu.
b. Setiap lembaga sosial tersebut menyusun program kerjanya sesuai dengan tuntutan
masyarakat tersebut.
c. Lembaga sosial tersebut memiliki struktur tugas dan jenjang komando yang jelas.
d. Lembaga sosial tersebut merupakan suatu organisme yang hidup dan mampu
mengadakan adaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan.
e. Pekerja sosial yang bekerja dalam lembaga tersebut, walaupun dipengaruhi oleh
kebijakan-kebijakan lembaga, akan tetapi dia memberikan pelayanan pertolongan
kepada kelayan secara terindividualisasi.
Process
Terdapat berbagai macam sistematika dalam menjelaskan tentang proses
pertolongan dalam praktek pekerjaan sosial. Pada dasarnya proses ini terbagi
menjadi 6 (enam):
a. Engagement, intake dan contract; suatu tahap awal dalam praktek pertolongan;
yaitu kontrak awal antara pekerja sosial dengan kelayan yang berakhir pada
kesepakatan untuk terlibat dalam keseluruhan proses.
b. Pengungkapan dan pemahaman masalah (assessment); merupakan suatu tahap
untuk mempelajari masalah-masalah yang dihadapi kelayan. Tahap ini berisi:
pernyataan masalah, assessment kepribadian, analisis situasional, perumusan
secara integrative dan evaluasi.
c. Perencanaan (planning); merupakan suatu pemilihan strategi, teknik dan metode
yang didasarkan pada proses assessment masalah.
d. Intervensi; merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan
perubahan berencana dalam diri kelayan dan situasinya.
e. Evaluasi; merupakan suatu penilaian terhadap pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan dalam planning, serta melihat kembali kemajuan-kemajuan yang telah
dicapai sehubungan dengan tujuan.
f. Terminasi/Disengagement; tahap ini dilakukan bila tujuan-tujuan yang telah
disepakati dalam kontrak telah dicapai dan mungkin sudah tidak dicapai kemajuan-
kemajuan yang berarti dalam pemecahan masalah.

3. Kerangka Praktek Social Case Work


Tujuan, nilai, sanksi, pengetahuan, dan metode yang digunakan merupakan inti
dari praktek Social Case Work. Tujuan merupakan penuntun bagi pelaksanaan
praktek. System nilai menentukan sikap dan pendekatan yang digunakan oleh
pekerja sosial. Sanksi merupakan mandate yang diberikan oleh masyarakat serta
merpakan sarana bagi pekerjaan sosial bagi untuk mengekspresikan dirinya dalam
tatanan struktur, hukum, dan penyertaan-penyertaan kebijakan. Pengetahuan akan
memberikan landasan terhadap fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip
praktek. Teknik merupakan gabungan antara ilmu pengetahuan ilmiah dan seni
mengaplikasikan teori kedalam praktek.

a. Tujuan
Dari definisi tentang Social Case Work seperti yang telah dibahas di muka, maka
Social Case Work memiliki sebagai berikut:
1) Untuk membantu individu dan kelompok untuk mengidentifikasi dan memecahkan
atau mengurangi masalah-masalah yang muncul akibat adanya kondisi
ketidaksesuaian antara dirinya dengan lingkungan.
2) Untuk mengidentifikasi bidang-bidang potensial munculnya ketidaksesuaian antara
individu, kelompok, dan lingkungan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya
ketidaksesuaian tersebut.
3) Untuk mengidentifikasi, menemukan dan memperkuat potensi individu, kelompok
dan masyarakat semaksimal mungkin.
b. Asumsi nilai dalam Social Case Work
Pekerjaan sosial yang mempraktekkan Social Case Work memilki asumsi yang
melekat tentang pentingnya harga diri dan martabat manusia serta memiliki
keyakinan bahwa hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat
merupakan titik sentral dalam kehidupan kehidupan manusia tersebut. Dengan
demikian pengakuan terhadap martabat dan harga diri seseorang serta penekanan
pada individu dan keluarga merupakan inti dari sosial (ISCW). Istilah Social Case
Work berarti suatu proses untuk mengembangkan kepribadian seseorang melalui
suatu penyesuaian diri secara sadar antara individu dengan individu lainnya.
Antara individu dengan lingkungan sosialnya. Perkembangan selanjutnya
menjelaskan bahwa Social Case Work tidak hanya memusatkan perhatian untuk
membatu individu dalam kaitannya dengan masyarakat, melainkan juga membantu
masyarakat dalam hubungannya dengan individu. Dengan demikian banyak nilai-
nilai yang menjadi dasar bagi praktek-praktek Social Case Work.

Pengakuan terhadap keunikan dari setiap individu dan setiap situasi atau penilaian
terhadap pemenuhan kebutuhan dan penyaluran kemampuan dari setiap individu,
memiliki implikasi pada kepedulian terhadap orang lain dan penerimaan terhadap
manusia secara menyeluruh. Nilai tersebut juga memiliki implikasi terhadap
pentingnya pemahaman tentang kepribadian manusia secara total. Tanggapan
terhadap kepribadian secara total merupakan suatu usaha keras dan sikap dari case
worker. Sebagai sikap, berarti suatu keterbukaan semaksimal mungkin terhadap
kepribadian, memberikan perhatian yang seimbang antara aspek baik dan buruk
dari kepribadian kelayan. Sebagai usaha keras, berarti membangun suatu gambaran
yang masuk akal tentang seseorang, bukan sekedar mencatat sejumlah intem yang
spesifik dari kelayan.

Memperlakukan seseorang sebagai person, berarti memperlakukan seseorang


dengan memperhatikan martabatnya serta dengan penuh pertimbangan. Tidak
menilai seseorang atas dasar perilakunya terhadap kita. Seorang person juga
merupakan makhluk rasional yang memiliki tujuan dan cara berperilaku yang
masuk akal, walaupun pada kenyataannya seringkali juga dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan internal dan eksternal. Memperlakukan seseorang sebagai
person, berarti menjunjung tinggi tujuan-tujuannya serta membantunya mencapai
atau memenuhi tujuan-tujuan tersebut. Dengan kata lain case worker tidak hanya
membantu kelayan mencapai tujuan-tujuannya saja, tetapi juga usaha-usahanya
dalam mencapai tujuan tersebut.

Nilai ini memiliki implikasi pada kepedulian case worker terhadap otonomi
kelayan. Kelayan harus dipandang sebagai person yang mampu mengambil
keputusan sendiri. Keadaan ini biasa disebut sebagai “Right of Self
Determination”. Konsep “self determination” kelayan ini mengacu pada hak
kelayan untuk menerima atau menolak bantuan yang diberikan, untuk
berpartisipasi secara aktif dalam proses kegiatan, serta haknya untuk tidak
menyerahkan kehidupannya.
Dari uraian tersebut diatas, dapat dijelaskan secara ringkas menganai asumsi-
asumsi nilai tentang manusia yang sangat mempengaruhi praktek pekerjaan sosial
dengan menggunakan metode Social Case Work:
1) Nilai tentang harga diri dan martabat individu. Nilai ini menjunjung tinggi
pemahaman yang mengatakan bahwa individu memiliki kemampuan untuk
memandu atau mengarahkan kegiatan atau perilakunya serta kemampuan untuk
menentukan tujuan-tujuan maupun cara mencapai tujuan tersebut.
2) Nilai tentang keunikan individu. Keyakinan tentang keunikan dan individualitas
mengarahkan pendekatan-pendekatan casework kepada penerimaan serta cara
pandang tentang perbedaan-perbedaan individu. Kekuatan dari hubungan antar
peranan adalah berawal dari perbedaan-perbedaan ini. Misalnya perkawinan,
diperkuat oleh kombinasi kekuatan antara suami istri, demikian pula dengan
asosiasi-asosiasi lain.
3) Nilai tentang kemandirian (self determination). Kemandirian ini mengacu kepada
hak untuk menetukan pilihannya sendiri tentang bantuan pekerja sosial, proses
yang dilalui serta tujuan-tujuan yang akan dicapai.

c. Prinsip-prinsip dalam Social Case Work


Felix P. Biestek dalam bukukan “The Social Case Work Relationship” yang
dikutip oleh Betty J. Picard, mengemukkan tentang prinsip-prinsip relasi case work
antara pekerja sosial dengan kelayan, sebagai berikut:
1) Individualisasi: setiap individu adalah unik. Setiapa individu memiliki harga diri
dan martabat pada keberadaannya, pengalaman hidup, lingkungan hidup yang
berbeda dari individu lain. Seseorang tidak pernah dipandang hanya merupakan
bagian dari suatu kerumunan yang sama dengan bagian yang lain. Oleh karena itu
pekerja sosial yang bekerja denga individu, harus memperhatikan kondisi ini. Jika
pekerja sosial tidak mampu melakukannya, maka kelayan berhak untuk menolak
bantuan yang diberikan oleh pekerja sosial. Pekerja sosial juga merupakan individu
yang mengetahui dan memahami dirinya sendiri serta untuk memandang orang
lain. Pengetahuan dan keterampilan pekerja sosial yang digunakan dalam konteks
kepribadian pekerja sosial itu sendiri. Jika pekerja sosial pemalu yang kurang
dalam pengetahuan diri dan pemahaman dirinya. Sekurang-kurangnya dia harus
mengakui tentang keinginannya untuk mengembangkannya.
1) Ekpresi emosional secara bertujuan: setiap individu memiliki kebutuhan untuk
mengekspresikan perasaannya. Haknya untuk menampilkannya, merupakan dasar
bagi pekerjaan sosial. Emosional dipandang sama pentingnya dengan pikiran atau
pengetahuan. Emosi negative pun sangat penting bagi individu, sama pentingnya
dengan emosi positif.
2) Keterlibatan emosional secara terkendali: setiap individu, menginginkan bahwa
seseorang akan dapat berhubungan dengan perasaannya. Pekerja sosial harus
mampu untuk ikut “merasakan” orang lain. Bukan hanya berbicara/berbincang-
bincang. Pekerja sosial tidak diharapkan mempunyai perasaan yang sama dengan
kelayan, tetapi dia harus mampu menunjukkan pemahaman yang sungguh-sungguh
tentang perasaan orang lain.
3) Penerimaan: setiap individu mempunyai keinginan untuk diterima sebagaimana
adanya bukan sebagai mana diharapkan. Pekerja sosial tidak melihat atau
membeda-bedakan suku, agama, ataupun latar belakang kehidupan sosial, ekonomi
ataupun budaya. Pekerja sosial harus memahami keadaan kelayan saat itu dan
mulai bekerja atau memulai kegiatan bantuannya berdasarkan pemahaman atau
keadaan saat itu. Hal ini tidak identik dengan pernyataan bahwa pekerja sosial
menyetujui segala sesuatu yang dilakukan oleh kelayan.
4) Sikap tidak menilai: larangan memberikan pendapat tentang kesalahan atau tak
bersalah. Kelayan mempunyai hak untuk mengemukakan situasi yang dihadapi
tanpa memperoleh tanggapan negative dari pekerja sosial. Hal ini memiliki
implikasi bahwa pekerja sosial tidak boleh memberikan penilaian pribadi terhadap
perilaku pelayan.
5) Menentukan diri sendiri: hal ini merupakan suatu yang agak sulit diberikan kepada
kelayan. Pekerja sosial yang dimintai tolong oleh kelayan, tentunya diharapkan
untuk memberikan pertolongan dan nasehat, tetapi hanya sebatas itu saja. Setiap
kelayan mempunyai hak untuk menerima atau menolak usul pertolongan yang
diberikan, untuk menerima dan menolak nasehat yang diberikan. Konsep yang
tidak terpisahkan dari prinsip ini adalah adanya alternative. Prinsip ini memiliki
implikasi terhadap pengambilan keputusan, atau membuat pilihan atas berbagai
alternative perilaku. Tidaklah tepat untuk mengemukakan prinsip itu tanpa adanya
alternative. Kegiatan pekerja sosial bersama kelayan, selalu mengembangkan
untuk melaksanakan prinsip ini, sehingga kelayan bebas memilih atau menentukan
cara pemecahan masalah yang paling sesuai.
6) Kerahasiaan: kelayan memerlukan kepastian bahwa pekerja sosial yang
dihubunginya dapat dipercaya, pekerja sosial harus meyakinkan kelayan bahwa
diskusi yang dilakukan dengan kelayan tentang masalahnya tidak akan
disebarluaskan kepada orang lain. Masalah yang diuraikan kelayan tidak akan
dijadikan bahan gunjingan, sehingga kelayan merasa aman dari ancaman-ancaman
lingkungan sosial yang berupa rasa malu, takut, merosotnya harga diri, atau
anggapan-anggapan negative tentang dirinya. Akan tetapi pekerja sosial tidak
teralu kaku dalam memegang prinsip ini. Dia diperbolehkan untuk mendiskusikan
masalah kelayan dengan supervisornya atau dengan sejawatnya dengan tujuan
untuk memberikan pertolongan yang sebaik mungkin kepada kelayan. Pekerja
sosial tidak dibenarkan membicarakannya secara luas kepada orang lain.
Ketujuh prinsip ini penting dan dapat digunakan pada banyak bentuk system
kelayan serta besarnya system tersebut, untuk mewujudkan relasi profesional
pekerjaan sosial secara memuaskan. Walaupun pada mulanya Felix D. Biestek
yang mengajukan prinsip-prinsip tersebut ditujukan untuk mengadakan relasi
secara individu dengan kelompok maupun masyarakat.
Penting untuk diketahui, bagaimana pentingnya ketujuh prinsip atau asa atau nilai
tersebut, pekerja sosial harus mengakui pula akan adanya dilemma nilai, terutama
dalam prinsip individualisasi. Walau pekerja sosial mengakui bahwa setiap
manusia itu berbeda satu dengan yang lainnya, tetapi pekerja sosial pun harus
mengakui bahwa konsep generalis pun mempunyai tempat pula dalam pemikiran
pekerjaan sosial. Setiap manusia tumbuh dan berkembang dalam pertahapan yang
sama. Demikian pula nilai-nilai, norma-norma, budaya akan selalu berbeda pada
tempat dan waktu yang berbeda. Kapankah ungkapan perasaan, kehilangaan
kegunaannya? Ide bahwa setiap orang memiliki perasaan dan perasaan tersebut
memainkan peranan yang besar dalam menghadapi masalah, , tetapi menggunakan
perasaan yang terlalu besar akan mengganggu terciptanya relasi yang membantu
antara pekerja sosial dengan kelayan.
Jadi ide tentang perlunya keterlibatan perasaan dalam memecahkan masalah harus
diharapkan pada ide bahwa keterlibatan perasaan yang terlalu besar justru akan
mengganggu terbentuknya relasi yang baik antara pekerja sosial dengan kelayan
dalam menghadap/memecahkan masalah.
Mungkin prinsip yang paling sulit untuk diwujudkan adalah prinsip menentukan
nasib sendiri. Mungkinkah pekerja sosial memberikan seseorang untuk memelihara
anaknya sendiri, sedangkan cara orang tersebut memelihara anak sangat tidak
memadai atau berbahaya? Dapatkah seorang pekerja sosial benar-benar
membolehkan seseorang memutuskan tentang penentuan nasibnya sendiri? Apakah
seseorang benar-benar mempunyai hak untuk memutuskan sendiri? Apakah dia
lebih baik hidup dengan menerima bantuan sosial? Ataukah bekerja dengan gaji
dibawah batas minimum?, ataukan pekerja sosial benar-benar memiliki posisi
untuk melindungi orang atau masyarakat, bekerja untuknya, membuat keputusan
untuk mereka? Ini merupakan beberapa pertannyaan penting yang sangat sulit
dijawab.
Akhirnya, nilai tentang kerahasiaan pun dipertanyakan. Jika kesejahteraan tersebut
dipandang sebagai hak. Jika kelayan dianjurkan untuk mencari pertolongan
tersebut?
d. Dasar pengetahuan
Teori-teori yang melandasi Social Case Work pada dasarnya berasal dari teori yang
melandasi pekerjaan sosial, serta berbagai teori lain tentang manusia dan
kemanusiaan. Dari berbagai disiplin ini kemudian dapat ditarik suatu
pengkhususan terutama yang berupa: psikologi dinamika, psikologi ego, dan
berbagai perkembangan teoritik dalam disiplin sosiologi, psikologi, psikiatri, serta
atropologi budaya.

Psikologi dinamis terutama dalam hal perkembangan kepribadian, struktur


kepribadiab serta fungsinya. Psikologi pavlov dan skinnermerupakan teori-teori
dari aliran yang lebih baru yang diperkenalkan dalam praktek pekerjaan sosial
dalam case work. Teori-teori perubahan perilaku bukan berkembang berdasarkan
teori perkembangan kepribadian, merupakan dari proses-proses perilaku operant
(operant behavior) terutama yang memfokuskan diri pada perilaku-perilaku yang
dapt diamati, dan diteliti.

Diposting 16th February 2017 oleh JUSTIN LASE


0

Tambahkan komentar
Social Case Work

Bimbingan sosial individu/perseorangan adalah suatu rangkaian pendekatan teknik pekerjaan


sosial yang ditujukan untuk membantu individu yang mengalami masalah berdasarkan relasi
antara pekerja sosial dengan seorang penerima pelayanan secara tatap muka.

Prinsip dasar pada bimbingan sosial perseorangan adalah:

a. Penerimaan, seorang pekerja sosial harus mau menerima dan menghormati penerima pelayanan
(klien) dalam setiap kondisi yang dialaminya.
b. Komunikasi, antara pekerja sosial dan klien harus saling memberi dan menerima informasi.
c. Individualisasi, pekerja sosial harus memahami, menerima bahwa klien sebagai pribadi yang
unik, dalam arti berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya.
d. Pertisipasi, pekerja sosial harus ikut serta secara langsung dalam membantu mengatasi
permasalahan klien.
e. Kerahasiaan, pekerja sosial harus mampu merahasiakan informasi yang diberikan oleh klien.
f. Kesadaran diri, sebagai manusia pekerja sosial menyadari akan respon klien serta motivasi dan
relasi bantuan profesional.
Pekerja sosial profesional yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman menggunakan
metode bimbingan sosial perorangan ini akan menghindari sejauh mungkin bias-bias
subyektifitas dan interest pribadi. Beberapa peranan pekerja sosial profesional yang menerapkan
bimbingan perorangan adalah:

a. Broker, membantu memberikan pelayanan sosial kepada klien.


b. Mediator, menghubungkan klien kepada sumber-sumber pelayanan sosial.
c. Public educator, memberikan dan menyebarluaskan informasi mengenai masalah dan pelayanan
sosial.
d. Advocate, membela klien memperjuangkan haknya memperoleh pelayanan atau menjadi
penyambung lidah klien agar lembaga respon memenuhi kebutuhan klien.
e. Outreach, pekerja sosial mendatangi atau menjangkau pelayanan.
f. Behavioral specialist, sebagai ahli yang dapat melakukan berbagai strategi atau teknis mengubah
perilaku seseorang.
g. Konsultan, memberikan nasehat kepada klien untuk memenuhi kebutuhan atau pemecahan
masalah.
h. Konselor, mencarikan alternatif yang dapat membantu klien dalam upaya mengatasi masalahnya.

Justin Lase

 Klasik
 Kartu Lipat
 Majalah
 Mozaik
 Bilah Sisi
 Cuplikan
 Kronologis

CPNS 2017 dan Hak Penyandang Disabilitas

Ranah Mikro, Mezo dan Makro dalam Praktek Pekerjaan Sosial

Mengusahakan Inklusifitas Disabilitas dengan Pendekatan Pekerja Sosial Makro


(Metode dan Teknik)

PERBANDINGAN KODE ETIK PEKERJA SOSIAL


Diskriminasi Terhadap Penyandang Disabilitas

Sejarah Perkembangan Profesi Pekerjaan Sosial

PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU - CASEWORK

PEKERJAAN SOSIAL : Pengertian Pekerjaan Sosial, Fokus Pekerjaan Sosial,


Tujuan Pekerjaan Sosial, Fungsi dan Tugas Pekerjaan Sosial

Pekerjaan Sosial dengan Kelompok - Group Work

Pekerja Sosial dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)

PERILAKU MALADAPTIF

Komunitas: Ciri Komunitas dan Aset Komunitas

Kebijakan Sosial dan Perencanaan Sosial


PEKERJAAN SOSIAL dan KARANG TARUNA

Praktek Pekerjaan Sosial Makro dan Pengembangan Masyarakat (CO/CD)

Pekerjaan Sosial Koreksional

Cara Menghadapi Kutu Kasur

DISABILITY IS A PART OF DIVERSITY - DISABILITAS ADALAH


KERAGAMAN

SOCIAL WORK AS EVIDENCE BASE PRACTICE

Menggagas Alternatif Model Kebijakan Pembangunan Kesejahteraan Sosial


Bagi Penyandang Disabilitas di Indonesia

Social Work Mix Model for Indonesia Inclusive Disability

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PULAU NIAS PROVINSI SUMATERA


UTARA
3

PENDEKATAN PEKERJAAAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT


MULTIKULTUR

INTERVENSI DALAM PEKERJAAN SOSIAL

17

MASALAH SOSIAL GAY DAN LESBIAN

Perbandingan dan Perbedaan Sistem Pemerintahan Sebelum dan Sesudah


Amandemen

KONSEP-KONSEP DASAR DARI NEGARA DAN PEMERINTAHAN

SISTEM EKONOMI INDONESIA

KECENDERUNGAN ANAK UNTUK DEKAT KEPADA AYAH ATAU


IBUNYA

KEPRIBADIAN

HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN PEKERJA SOSIAL

SISTEMATIKA KARYA ILMIAH

DEFINISI DAN MANFAAT PERLINDUNGAN SOSIAL

CPNS 2017 dan Hak Penyandang Disabilitas


Sebuah refleksi . . .

Pertengahan bulan Juli 2017, masyarakat Indonesia (khususnya yang berharap jadi PNS)
berbahagia karena dibukanya seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) setelah adanya
moratorium kurang lebih 3 tahun lamanya. Seleksi CPNS pada kesempatan ini diadakan oleh 2
lembaga pemerintahan yaitu Mahkamah Agung serta Kementrian Hukum dan Ham. Dalam
[Link], menteri PANRB Asman Abnur menyatakan formasi untuk kedua instasi tersebut
sebanyak 19.210 orang yang terdiri dari 1.684 CPNS untuk mahkamah Agung dan 17.526 kursi
untuk Kementrian Hukum dan Ham.

Kemenkumham melalui situs [Link] telah mengeluarkan pengumuman resmi


tentang pelaksanaan seleksi CPNS Kemenkumham Tahun Anggaran 2017. Sebanyak 21 jabatan
dibutuhkan oleh kemenkumhan dengan dengan 4 alokasi formasi yaitu: cumlaude, disabilitas,
papua/papua barat, dan umum.

Menariknya adalah adanya alokasi formasi seleksi CPNS Kemenkumham bagi penyandang
disabilitas. Yang lebih menariknya lagi dari 17.526 kursi yang dibutuhkan, formasi bagi
penyandang disabilitas hanya satu kursi saja. Kok hanya 1 kursi saja yaa ??? Miris…

UU Nomor 4 Tahun 1997 Pasal 14 menyatakan “Perusahaan negara dan swasta memberikan
kesempatan dan perlakuan yang sama kepada penyandang cacat dengan mempekerjakan
penyandang cacat di perusahaannya sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan
kemampuannya, yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah karyawan dan/atau kualifikasi
perusahaan”. Dalam bagian penjelasan pasal 14 UU Nomor 1997 menyebutkan “Perusahaan
harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang penyandang cacat yang memenuhi
persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan, untuk setiap 100 (seratus) orang
karyawan. Perusahaan yang menggunakan teknologi tinggi harus mempekerjakan sekurang-
kurangnya 1 (satu) orang”. Artinya dalam UU ini diatur bahwa penerimaan penyandang
disabilitas sekurang-kurangnya 1%.

Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 53 Ayat 1 menyebutkan “Pemerintah,


Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib
mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau
pekerja”. Hal ini jika diafiliasikan dengan Pasal 11, maka bisa dinyatakan bahwa seyogianya
penerimaan kerja bagi penyandang disabilitas sekurang-kurangnya 2%.

Penerimaan CPNS di Kemenkumham tahun 2017 ini yaitu 17.526 kursi. Dari jumlah yang
dibutuhkan, penyerapan CPNS penyandang disabilitas yang jika merujuk dari UU Nomor 8
Tahun 2016, seharusnya sekurang-kurangnya 356 kursi. Akan tetapi kenyataannya penerimaan
bagi formasi penyandang disabilitas hanya 1 kursi saja.

Masalah implementasi dan diskriminasi kerja bagi disabilitas sudah terjadi bertahun-tahun
lamanya sejak UU No.4 tahun 1997. Pemerintah melalui Kemenkumham harusnya lebih
memahami akan hal ini. Komitmen pemerintah dalam melaksanakan peraturannya
dipertanyakan. Undang-Undang dibuat untuk dilaksanakan bukan untuk jadi pajangan mencari
nama. Fungsi eksekutif pemerintahan dipertanyakan. Fungsi pengawasan melalui legislatif
dipertaruhkan. UU Nomor 8 Tahun 2016 ini baru disahkan kemarin lusa, harusnya masih segar
diingatan. Pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan dalam penerapannya, padahal tidak
bisa memberikan contoh nyata dalam implementasinya. Beberapa stakeholder terkait, harus bisa
mengawasi hal ini. Jangan memberi harapan palsu kepada penyandang disabilitas. Kalau bukan
pemerintah, siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi.
Salam Disabilitas...

Diposting 14th July 2017 oleh JUSTIN LASE


8

Lihat komentar

1.

Alan14 Juli 2017 11.55

ro, Mau nanya nih. Informasi resmi Kementrian Hukum dan Ham menyebutkan bahwa :
"Disabilitas adalah pelamar yang menyandang disabilitas/berkebutuhan khusus, dengan
kriteria mampu melakukan tugas, mengetik, menyampaikan buah pikiran dan berdiskusi."

Pengertian berkebutuhan khusus apa ya Bro ? Jika contohnya adalah orang lumpuh/tuli
yang mesti menggunakan kursi roda/alat bantu dengar, Berarti seseorang yg pincang tapi
tidak menggunakan tongkat dan bisa beraktivitas layaknya orang normal masih
dikategorikan disabilitas atau gimana yah ? mohon penjelasannya Bro. Makasih.

Balas

Balasan
1.

JUSTIN LASE14 Juli 2017 20.17

UU No8 2016 pasal 1 "Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang


mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka
waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami
hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan
warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Dari pengertian diatas ada 4 jenis disabilitas yaitu disabilitas fisik, intelektual
mental dan sensorik. Yang dimaksud dengan “Penyandang Disabilitas fisik”
adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku,
paraplegi, celebral palsy (CP), akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil. Yang
dimaksud dengan ”Penyandang Disabilitas intelektual” adalah terganggunya
fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, antara lain lambat
belajar, disabilitas grahita dan down syndrom. Yang dimaksud dengan
“Penyandang Disabilitas mental” adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan
perilaku, antara lain: a. psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar, depresi,
anxietas, dan gangguan kepribadian; dan b. disabilitas perkembangan yang
berpengaruh pada kemampuan. Yang dimaksud dengan “Penyandang Disabilitas
sensorik” adalah terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain
disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

Kalau dibaca di pasal 30 UU ini, profesi yang bisa menyatakan seseorang


disabilitas yaitu dokter atau tenaga kesehatan lainnya (mengenai kondisi
kesehatan); psikolog atau psikiater (mengenai kondisi kejiwaan); dan/atau pekerja
sosial (mengenai kondisi psikososial). Pengertian disabilitas pasal 1 di atas perlu
digaris bawahi bahwa dia mengalami disabilitas dalam jangka waktu yang lama
dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan
untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya
berdasarkan kesamaan hak.

Balas

2.

Alan15 Juli 2017 01.32

Jadi kesimpulannya seseorang pincang, tetap masuk kategori disabilitas?


Walaupun secara interaksi, komunikasi, dan mobilitas ybs mampu melakukannya.
Balas

Balasan

1.

JUSTIN LASE15 Juli 2017 09.19

kalau interaksi, komunikasi, mobilitas bagus sebenarnya justru tidak tergolong


disabilitas mas. Seseorang disebut disabiltas jika mengalami hambatan dan
kesulitan dalam berpartisipasi secara penuh, serta mengalaminya dalam waktu
yang lama.

meski demikian tetap dibutuhkan asesmen terlebih dahulu dari pekerja sosial,
dokter, dan/atau psikolog untuk menyatakan orang tersebut disabilitas atau bukan.
Biasanya juga kan kalau daftar PNS harus ada surat keterangan bahwa yang ybs
bersangkutan adalah penyandang disabilitas.

Balas

3.

Alan15 Juli 2017 12.20

Okey. Makasih atas informasinya.


Makasih Mas, sukses terus. .

Balas

4.

Unknown1 Agustus 2017 23.02

Pak, mau tnya nih. Utk cpns yg 2017 ini kan ad pnyandang disabilitas jg. Utk yg di
amputasi kan brrti trmasuk disabilitas ya? Tetapi kan ad yg di amputasi tetapi memakai
kaki palsu dan dpat berjalan normal sperti orang lain pada umumnya apakah trmasuk
disabilitas? Dulunya di amputasi karna kecelakaan. Untuk yg lainnya normal2 saja. Bisa
gak ya melamar yang bagian non disabilitas? Trims

Balas
5.

jiwox jasaseo8 September 2017 02.36

obat viagra
viagra asli

Balas

6.

supriadi18 September 2017 13.43

Sedih liatnya... Mna keadilan di negeri tercinta ini..

Balas
SOSIAL CASE WORK

Ada tiga metode pokok dalam pekerjaan sosial, yaitu metode bimbingan sosial perseorangan
(social case work), metode bimbingan sosial kelompok (social group work), dan yang terakhir
metode bimbingan sosial masyarakat (social community organization). Dimana masing- masing
metode memiliki cara berbeda dalam menggunakannya. Dan kali ini akan saya bemberkan
beberapa hal mengenai metode bimbingan sosial perorangan atau social case work. Untuk itu
langsung saja, simak paragraf berikut.

1. Pengertian Social Case Work menurut beberapa ahli, yaitu :

a. (BRENNAN & PARKER)


Mengatakan kalau bimbingan sosial perorangan adalah suatu metode membantu yang
diarahkan pada usaha mendorong dan menampilkan kemampuan individu dan juga perlu
mencoba untuk memperkecil tekanan lingkungan terhadap dirinya. Batasan tersebut
memperjelas bahwa dalam memberikan bantuan kepada seseorang yang terganggu fungsi
sosialnya akibat tekanan dari lingkungan, metode bimbingan sosial perorangan berupaya untuk
membantu dengan jalan mendorong dan mengoptimalkan kembali kemampuan yang ada. Dan
lebih lanjut Brennan dan Parker mengatakan bahwa social case work itu diarahkan kepada usaha
memberikan mobilitas dari kemampuan- kemampuan yang terdapat dalam diri in divide dan
sumber- sumber di dalam masyarakat yang cocok membantu individu tersebut dalam
memecahkan masalah apapun yang dihadapinya dalam lingkungan sosialnya.

b. (PEARLMAN)
Mengatakan kalau social case work adalah suatu proses yang diberikan oleh suatu badan
kesejahteraan sosial insane untuk membantu individu- individu supaya lebih efektif mengatasi
masalahnya didalam fungsi sosialnya. Batasan ini agak lebih lengkap dari batasan sebelumnya,
yakni didalam mem berikan bantuan pada seseorang yang mengalami masalah sosial diperlukan
kelengkapan komponen- komponen penting yang biasa dikenal dengan 4P yaitu orang yang
bermasalah atau klien (person), masalah (problem), lembaga atau badan sosial yang
mempekerjakan seorang peksos (place), dan serangkaian tahap bantuan (proses).

Dari batasan dua ahli diatas, dapat memberikan pengertian kepada kita bahwa inti dari
metode bimbingan sosial perorangan atau social case work itu terletak pada seseorang dengan
masalah yang disandangnya, yang datang kesuatu tempat/ badan/ bimbingan dimana disitu
dipekerjakan seorang profesional untuk membantu orang yang bermasalah tersebut melalui
suatu proses.

2. Tujuan Sosial Case Work


Tujuan dari social case work itu sendiri. Tujuan bimbingan sosial perseorangan tidak
terlepas dari tujuan dasar pekerjaan sosial yaitu membantu individu yang bermasalah agar
individu tersebut pada akhirnya dapat membantu dirinya sendiri. Tujuan social case work dapat
diperinci sebagai berikut :

a) Membantu klien yang diarahkan untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan dan jika perlu
memperkecil tekanan lingkungan terhadap dirinya
b) Mobilisasi kemampuan- kemampuan yang terdapat dalam diri individu dan sumber- sumber
yang ada dimasyarkat yang cocok untuk membantu individu tersebut memecahkan maslaah
apapun yang dihadapinya dalam kehidupan sosial sehari- hari.
c) Membantu individu- individu supaya lebih efektif mengatasi masalahnya yang terkait dengan
fungsi sosialnya.

3. Prinsip Sosial Case Work


Prinsip- prinsip dalam praktek bimbingan sosial perorangan (principles of casework practice)
tidak terpisah dari pada prinsip- prinsip umum pekerjaan sosial. Prinsip- prinsip social case work
ini dilaksanakan pada seluruh kegiatan dalam praktek case work dan dimulai pada saat pertama
terjadinya hubungan pekerjaan sosial dengan klien dan sebelum pekerjaan sosial mengetahui
klien secara luas.
Prinsip- prinsip bimbingan sosial perorangan (social case work) dibagi menjadi dua, yaitu :
 Prinsip- prinsip umum
Prinsip ini digunakan untuk semua bimbingan sosial perorangan yang dipergunakan bagi
semua macam pekerjaan bimbingan sosial perorangan. Macam- macam prinsip umum pada
social case work yaitu :
1. Prinsip penerimaan (the principle of acceptance)
2. Ialah bagaimanapun keadaannya klien, pekerja sosial harus dapat menerima menurut kenyataan
keadaannya secara wajar dan dihargai atau dihormati sebagi seorang manusia dnegan segala
sifat- sifat yang khusus.
3. Prinsip hubungan (the principle of communication)
4. Bahwa casework harus dapat menciptakan hubungan yang serasi dengan klien. Sehingga klien
mau dan bersedia mengemukakan segala kesukaran yang dialami dan terbuka hatinya untuk
menceritakan permasalahannya.
5. Prinsip individualisasi (the principle of individualization)
6. Ialah tiap- tiap klien haruslah dipandang sebagai suatu individu yang berdiri sendiri, yang tidak
sama dan berbeda dengan klien lainya. Perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan pengalaman
dan latar belakang kehidupannya.
7. Prinsip partisipasi (the principle of participation)
8. Bahwa klien sendiri yang akan ditolong oleh casework harus berpartisipasi secara aktif dalam
usaha- usaha pertolongan yang diberikan.
9. Prinsip kerahasiaan (the principle of confidentiallity)
10. Adalah menyangkut hubungan kerja sama antara casework dengan klien yang berkaitan dengan
segala pembicaraan dan keterangan- keterangan mengenai diri klien yang dikemukakannya,
maka casework harus dapat merahasiakan dan menyimpannya, serta caseworker tidak boleh
memberitahukan nya kepada siapapun tanpa mendapatkan persetujuan atau izin dari klien yang
bersangkutan.
11. Prinsip kesadaran diri pekerja sosial (the principle of caseworker self-awarnes)
12. Disini caseworker harus menyadari bahwa ia adalah pekerja sosial yang menghadapi klien dan
tak boleh menonjolkan motif pribadinya.

 Prinsip- prinsip khusus


Yang hanya dipergunakan sesuai dengan pelaksanaan tiap- tiap bimbingan sosial perorangan
mengingat perbedaan dari masalah yang dihadapi klien. Sedangkan pada prinsip khusus social
case work yaitu :
1. Merubah keadaan sekeliling dan mendorong ego (environmental modification and ego support)
2. Penjelasan efek dan arti tingkah laku (clarification of the effect and meaning of behaviour)
3. Mengungkapkan penyebab tingkah laku yang dilupakan (uncovering the forgetten causes of
behaviour)

4. Teknik Pertolongan Sosial Case Work


Teknik pertolongan dalam bimbingan sosial perorangan ini dilaksanakan setelah pekerja
sosial memahami situasi klien dan mempunyai pengertian yang dalam masalahnya mengenai
prosedur yang tertentu. Dan ada empat macam teknik yang digunakan dalam social case work,
seperti :
1. Merubah keadaan sekeliling (manipulation of the environment)
2. Ialah menolong klien dengan berusaha merubah keadaan sekitarnya yang menyebabkan klien
menderita sesuai dnegan masalah masing- masing klien.
3. Memberikan dorongan (supportive relationship)
4. Dimaksudkan agar klien dapat mengatasi kesulitan dan masalahnya sendiri.
5. Menjelaskan persoalan (clarification o f the problem)
6. Maksudnya adlah caseworker harus member penjelasan kepada klien mengenai kesukaran-
kesukaran atau masalah yang sebenarnya, berdasarkan keterangan yang ilmiah dan logis dan
bersifat objektif dan dapat dipahami oleh klien.
7. Interpretasi (interpretation )
8. Teknik ini hampir sama dengan teknik menjelaskan persoalan, perbedaannya bahwa interpertasi
diberikan lebih mendalam dan pada umumnya berhubungan dengan kesukaran dan penderitaan
emosional.

5. Tahap-tahap Proses Sosial Case Work


Tahap- tahap dalam proses social case work. Social case work mempunyai proses permulaan
dan akhir yang menggunkan merode ilmiah seperti pada kebanyakan profesi yang selalu dapat
diuraikan dengan langkah- langkah fungsionalnya.
Ada beberapa langkah yang digunakan dalam proses bimbingan sosial perorangan, yaitu:
1. Tahap pengumpulan data (fact finding)
2. Ini adalah langkah pertama sebelum pekerja sosial mulai bekerja. Pengumpulan data
dimaksudkan unutk memperoleh data mengenai klien yang akan digarap oleh pekerja sosial.
3. Tahap diagnosa
4. Dimana tahap ini pekerja sosial mulai menganalisa hasil pengumpulan data klien. Setelah bahan-
bahan yang terkumpulan dibahas unutk menentukan atau mengetahui apa yang harus diperbuat
inilah yang sangat sulit, sebab tidak jarang bahan- bahan- bahan keterangan yang terkumpul
ternyata tidak mencukupi kebutuhan penganalisaan. Penganalisaan ini kemusian diakhiri dengan
penyusunan suatu rencana.
5. Tahap treatment (penyembuhan)
6. Tahap ini adlaah pelaksanaan bantuan dalam rnagka bimbingan sosial perorangan. Treatment
harus dilakukan berturut- turut sesuai dnegan perencanaan yang disusun dalam tahap diagnosisa.

PERKEMBANGAN SOCIAL CASE WORK

Pengertian Social Case Work Rex A. Skidmore, dalam bukunya yang berjudul
“Introduction to Social Work” Tahun 1991, penerbit Prentice-hall international, inc.
menyebutkan bahwa menurut Mary Richmond yang merupakan pelopor penggunaan metode
case work secara ilmiah mengatakan bahwa social case work merupakan suatu proses yang
bertujuan untuk mengembangkan kepribadian seseorang melalui penyesuaian diri yang
dilakukan secara sadar, melalui relasi individual, antara orang dengan lingkungan sosialnya.

Dari pengertian diatas bahwa penulis tidak setuju dengan definisi yang dikemukakan oleh
Mary Richmond . Alasannya karena Social case work merupakan suatu metode pertolongan yang
terorganisir dengan baik untuk membantu orang agar dia mampu menolong dirinya sendiri serta
ditujukan untuk meningkatkan, memperbaiki, dan memperkuat keberfungsian sosialnya. Metode
ini dilakukan dengan relasi yang bersifat individual, Menggunakan landasan pemahaman
perilaku manusia yang berasal dari ilmu pengetahuan ilmiah. Berupaya mengkombinasikan
elemen-elemen psikologi maupun sosial klien.

Beberapa definisi Social Casework :


1. Mary Richmond :
“Social Casework terdiri dari proses-proses untuk mengembangkan kepribadian
melalui penyesuaian yang dipengaruhi secara sadar, individu per individu, antara
manusia dan lingkungan sosial mereka”
2. Jeanette Regensburg :
“Social Casework merupakan suatu metode untuk mengukur terhadap realita
kapasitas klien untuk menghadapi masalahnya, sedangkan pekerja sosial membantu
klien untuk menjelaskan apa masalahnya dan memungkinkan klien memikirkan cara-
cara yang berbeda untuk mengatasinya”.

3. Swithun Bowers :

“Social Casework adalah suatu seni dimana pengetahuan tentang ilmu hubungan
manusia dan keterampilan-keterampilan yang digunakan untuk memobilisasi
kapasitas-kapasitas dalam diri individu dan sumber-sumber dalam masyarakat yang
merupakan bagian dari lingkungan secara keseluruhan”.

4. Gordon Hamilton :

“Social Casework ditandai oleh tujuan untuk melaksanakan pelayanan-pelayanan


praktis dan memberikan konseling sebagai suatu cara untuk menumbuhkan dan
memelihara enerji psikologis klien secara aktif untuk melibatkannya dalam
penggunaan pelayanan ke arah pemecahan masalahnya”.

5. Helen Harris Perlman :

“Social Casework adalah suatu metode dalam pekerjaan sosial melalui mana bantuan
diberikan terhadap individu dan keluarga, kasus per kasus untuk mengurangi,
memecahkan, dan mencegah masalah-masalah yang mengganggu klien serta
keberfungsian hidup mereka sehari-hari”.

Beberapa unsur dari definisi Social Casework :


• Social Casework merupakan metode untuk menolong orang berdasarkan pada
pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan teknik-teknik secara terampil yang
diterapkan untuk menolong orang mengatasi masalahnya.
• Social Casework ditujukan untuk membantu individu dan keluarga yang mengalami
masalah eksternal dan lingkungan, selain masalah di dalam diri individu itu sendiri.
• Social Casework menggabungkan unsur-unsur psikologis dan sosial.

Sejarah Perkembangan Social Casework.

Berdasarkan perkembangan casework yang telah dijelaskan diatas maka penulis setuju, yang
mana bahwa casework menggunakan metode atau dasar-dasar psikologi karena manusia itu
diberikan kapasitas untuk berpikir, berdiri sendiri dan membuat pilihan agar dia bisa
memanfaatkan lingkungan hidupnya dimasyarakat,serta melihat bahwa manusia itu unik yang
mempunyai kapasitas untuk tumbuh dan berkembang juga membentuk sifat tatalaku yang sejajar
dengan lingkungan dimana ia berada.

Teknik Pertolongan dalam Social Case Work.


1. Merubah Keadaan Sekeliling (Manipulation of the environment).
2. Memberikan dorongan (Supportive Relationship).
3. Menjelaskan persoalan (clarification of the problem).
4. Interpretasi (Interpretation)

Berdasarkan pernyataan diatas penulis setuju terhadap tehnik yang di berikan, alasannya
karena tehnik tersebut memberikan kewenangan terhadap klien untuk memilih jalan keluar atas
permasalahan yang dihadapi. sendiri tanpa caseworker tidak memberikan jalan keluar tersebut
karena caseworker dapat menolong klien hanya dengan memberikan interpretasi saja atau
dengan tambahan yang lain, itu tergantung pada keadaan klien masing-masing. Alasan penulis
diperkuat oleh John Mcleod dalam bukunya Pengantar Konseling menyebutkan bahwa menurut
Carl Rogers yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia telah memiliki jawaban atas
persoalan yang dihadapinya, caseworker hanya bisa memberikan interpretasi tanpa memberikan
jawaban atau memberikan pilihan-pilihan yang akan diambil dalam keputusan klien tersebut.
SOCIAL GROUP WORK

SOCIAL GROUP WORK


DEFINISI
NASW
SGW ADALAH SUATU PELAYANAN KEPAD KELOMPOK DIMANA TUJUAN
UTAMANYA UNTUK MEMBANTU ANGGOTA-ANGGOTA KELOMPOK
MEMPERBAIKI PENYESUAIAN SOSIAL DAN MEMBANTU KELOMPOK MENCAPAI
TUJUANNYA
GISELA KONOPKA
SEBUAH PENDEKATAN YANG DENGAN LANGSUNG MENYADARKAN
INDIVIDU MELALUI PENGEMBANGAN KAPASITASNYA SAAT
MENGHUBUNGKAN DENGAN KELOMPOKNYA DAN DIA BELAJAR
MEMBERIKAN KONTRIBUSINYA KEPADA KELOMPOK
HARLEIGH [Link]
SUATU METODE DIMANA INDIVIDU2 YG TERIKAT DLM SATU KLP DIBANTU
PEKSOS DGN BIMBINGAN DLM MENGIKUTI KEGIATAN KLP, SHG DG
BIMBINGAN TSB INDIVIDU2 DPT BERGAUL DGN SESAMA ANGGOTA KLP DAN
DPT MENGAMBIL MANFAAT DARI PENGALAMAN2 PERGAULAN SESUAI DGN
KEBUTUHAN DAN KEMAMPUAN
ROBERT KLENK DAN ROBERT RYAN
MERUPAKAN SUATU METODE PEKSOS UNTUK MEMPERBAIKI DAN
MENINGKATKAN FUNGSI SOISAL INDIVIDU MELALUI PENGALANMAN2 KLP
YG DISUSUN SECARA SADAR DAN BERTUJUAN
MARGARET [Link]
METODA PEKSOS DIMANA PENGALAMAN2 KLP DIGUNAKAN SBG MEDIUM
PRAKTEK UTAMA UTK TUJUAN MEMPENGARUHI KEBERFUNGSIAN SOSIAL
,PERTUMUBUHAN ,PERUBAHAN ANGGOTA KELOMPOK
JADI :
Social Group Work adalah salah satu metode yang biasa digunakan Pekerja Sosial dalam proses
pertolongan kesejahteraan sosial kepada klien, dimana menggunakan media dan pengalaman
dalam kelompok untuk membantu klien dalam menemukan dan mencari solusi permasalahan
yang dialaminya, agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.
TUJUAN

A. PERBAIKAN, BILA ANGGOTA KLP MENGALAMI DISFUNGSI SOS


DLM LINGKUNGAN MRK, MAKA PENGALAMAN KLP DPT
DIJADIKAN PERBAIKAN
B. PENCEGAHAN, BILA ANGGOTA KLP TERANCAM OLEH
KERUSAKAN FUNGSI PERSONAL DAN SOSIAL , MAKA
PENGALAMAN KLP DPT DIDAYAGUNAKAN UTK MEMPERTAHAN
KAN SERTA MENINGKATKAN PELAKS FUNGSI SECARA BAIK
C. PERTUMBUHAN SOSIAL SECARA NORMAL,PENGALAMAN
KELOMPOK YG DIBIMBING PEKSOS MAMPU MEMBANTU
MEMPERLANCAR PERTUMBUHAN SOSIAL SECARA NORMAL
SERTA PELAKSANAAN FUNGSI2 SOSIAL SECARA LEBIH BAIK
D. PENINGKATAN KEMAMPUAN KEPRIBADIAN, PENGALAMAN
KOLEKTIF YG SALING TUKAR MENUKAR PENGALAMAN DLM
KELOMPOK
E. PENINGKATAN TG JAWAB SOS DAN PARTISIPASI WARGA MASY

KAPASITAS MANUSIA YANG DAPAT DIKEMBANGKAN MELALUI SOCIAL


GROUP WORK
Dengan menggunakan Social Group Work, ada beberapa kapasitas manusia (termasuk klien di
dalamnya), yang dapat dikembangkan, diantaranya :
 Mengatasi frustrasi melalui cara yang sehat dan konstruktif.
 Bekerja sama melalui tindakan-tindakan berpartisipasi di dalam kelompok.
 Membuat keputusan.
 Perkembangan Pribadi.
BEBERAPA TEKNIK DALAM SOCIAL GROUP WORK

1. Konfrontasi.
2. Interpretasi.
3. Atribusi.
4. Reinforcement (Memberikan Penguatan).
5. Pemberian Model.

PRINSIP- RRINSIP DALAM SGW


PEKSOS MEMPENGARUHI PROSES SUATU SISTEM DG CARA :

1. PENERIMAAN, MENERIMA ANGGOTA KLP APA ADANYA


2. RELASI, MEMBANTU ANGGOTA KLP DLM BERHUBUNGAN DG ANGGOTA
LAIN
3. KESEMPATAN DAN DUKUNGAN, MEMNATU ANGGOTA DLM MENERIMA
DIRINYA DAN ORANG LAIN
4. BATASAN PERILAKU, MEMBANTU KLP/INDV DALAM MEMBATASI
PERILAKU YG MERUGIKAN
5. MEMIMPIN, MEMIMPIN DLM PROSES DISKUSI
6. MERINGANKAN, MENGHILANGKAN KETEGANGAN, KONFLIK,RASA
BERSALAH DLL
7. INTERPRETASI, MEMAHAMI FUNGSI AGEN DLM HUBUNGANNYA
DENGAN TUGAS KELOMPOK
8. OBSERVASI DAN EVALUASI
9. PERENCANAAN DAN PERSIAPAN

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM SGW


 ADVOKASI
 MEDIATOR
 BROKER
 KONFERENSI

ASUMSI NILAI
KEYAKIAN AKAN MARTABAT MANUSIA, TANGGUNG JAWAB SOSIAL SEMUA
ORANG TERHADAP SESAMANYA , CINTA KASIH, PENGHARGAAN DAN
PERHATIAN THD ORANG LAIN.
KEYAKINAN BAHWA SETIAP ORANG MEMILIKI HAK YG SAMA DALAM
MEMPEROLEH AKSES THD SUMBER YG DIBUTUHKAN DALAM MENGHADAPI
RINTANGAN DAN MASALAH KEHIDUPANNYA
PERWUJUDAN NILAI DAPAT TERJADI JIKA ADA TANGGUNG JAWAB DR
ANGGOTA KELOMPOK MAUPUN MASYARAKAT
ARTINYA, NILAI TIDAK HANYA BERKENAAN DENGAN INDIVIDU TETAPI JUGA
NILAI TTG TANGGUNG JAWAB KELOMPOK DAN MASYARAKAT

Common questions

Didukung oleh AI

The Social Case Work process involves six stages: Engagement, Intake, and Contracting; Problem Assessment; Planning; Intervention; Evaluation; and Termination/Disengagement. These stages provide a structured approach to address clients' issues: Engagement establishes initial contact and agreement to work together; Assessment evaluates the client's issues and context; Planning develops strategies; Intervention implements planned actions; Evaluation reviews progress towards goals; and Termination concludes the process when goals are met. Together, these stages ensure comprehensive and adaptive client support .

The Social Case Work method prioritizes individual dignity and self-help by focusing its practice on respect for personal uniqueness, individual potential, and self-enabled problem-solving. It aims to empower individuals to mobilize their strengths and societal resources to resolve or mitigate their issues, thereby enhancing their social functionality and self-reliance. This approach underscores the importance of acknowledging and nurturing individual characteristics in social environments .

Ethical principles guiding Social Case Work include acceptance, communication, individualization, participation, confidentiality, and self-awareness. These principles ensure that the social worker respects and understands each client's uniqueness, maintains open yet confidential communication, and actively engages clients in the problem-solving process. They foster trust, encourage client autonomy, and prevent biases, significantly strengthening the client-social worker relationship by promoting dignity and mutual respect .

Social Case Work addresses the balance between individual change and societal expectations by focusing on helping individuals adapt through self-awareness and empowerment while understanding and negotiating societal demands. Practitioners work to strengthen individual capacities and self-reliance within broader social systems, encouraging a participative approach where individuals are personally involved in change processes that respect both their goals and societal roles .

Limitations and challenges faced by Social Case Work practitioners include difficulties in classifying individual-specific problems, managing environmental factors beyond individual control, and addressing deeply rooted intrapsychic conflicts. Practitioners also encounter issues with aligning diverse client needs within institutional constraints and sustaining resources for comprehensive intervention plans. These challenges require adaptive strategies and continuous professional development to ensure effective client engagement and progress .

Social Case Work integrates scientific knowledge and artistry by using evidence-based scientific principles to understand human behavior and apply them contextually and artistically to real-life situations. This integration employs both psychological and social elements, utilizing skilled techniques to address problems or develop potentials. The method allows for personalized strategies that leverage individual uniqueness while considering social dynamics, thus making the practice both a science and an art .

The core components of Social Case Work include the Person, Problem, Place, and Process. These components interrelate by focusing on a person facing issues who seeks help from a professional setting (Place) where structured methods (Process) are applied to address the issues (Problem). The 'Person' is key, as individual characteristics and social-emotional contexts influence the approach. Integration of these components aims for adaptation and enhancement of the individual's social functioning by aligning personal abilities and external resources .

Social Case Work evolved from its initial introduction as a concept by Mary K. Sinkovitch in 1909 during a charity and corrections conference. The method was largely developed and scientifically elaborated by Mary Richmond in 1922. Over time, despite its initial reception as having low prospects, Social Case Work gained recognition due to the efforts of thousands of social workers across diverse fields of social service. By 1980, it became widely accepted as a significant method in social work due to its systematic approach in aiding individuals to improve their social functioning .

Professional roles in Social Case Work—such as Broker, Mediator, Public Educator, Advocate, Outreach, Behavioral Specialist, Consultant, and Counselor—support its practice by providing tailored interventions. Each role contributes uniquely: Brokers connect clients to services; Mediators facilitate resource access; Educators share information; Advocates defend client rights; Outreach workers engage with the community; Behavior Specialists modify behavior; Consultants provide expert advice; Counselors offer problem-solving paths. These roles collectively enhance the effectiveness of social case work by ensuring clients receive comprehensive, personalized support .

Social Case Work combines social and psychological elements by viewing clients within their social contexts and addressing psychological perspectives on behavior. This integration ensures a holistic approach to problem-solving by considering how interpersonal and societal factors influence individual functioning. It leverages social resources and psychological insights to craft personalized interventions that promote emotional adjustment and improved social interactions, thereby optimizing client outcomes .

Anda mungkin juga menyukai