0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
447 tayangan27 halaman

Praktek Belajar di Apotek Omnia Farma

Laporan ini membahas tentang pelaksanaan Praktek Belajar Lapangan (PBL) di Apotek Omnia Farma Purwokerto selama periode 9-21 September 2019. Laporan ini mencakup sejarah, struktur organisasi, tugas dan fungsi Apotek Omnia Farma serta peraturan terkait pengelolaan obat di apotek.

Diunggah oleh

Nadia Krismanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
447 tayangan27 halaman

Praktek Belajar di Apotek Omnia Farma

Laporan ini membahas tentang pelaksanaan Praktek Belajar Lapangan (PBL) di Apotek Omnia Farma Purwokerto selama periode 9-21 September 2019. Laporan ini mencakup sejarah, struktur organisasi, tugas dan fungsi Apotek Omnia Farma serta peraturan terkait pengelolaan obat di apotek.

Diunggah oleh

Nadia Krismanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN (PBL)

APOTEK OMNIA FARMA PURWOKERTO


PERIODE 9 SEPTEMBER - 21 SEPTEMBER 2019

Disusun Oleh

RASTINAH
(164820145000037)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2019
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Praktek Belajar Lapangan (PBL) ini telah dilaksanakan pada tanggal 9
September sampai dengan 22 September 2019, telah di sahkan pada :

Hari :.................................................
Tanggal :.................................................

Pembimbing Lahan Dosen Pembimbing

Dra. Nurtanti Anjayani, Apt Desy Nawangsari M. Farm., Apt

Mengetahui,

Koordinator Praktek Belajar Lapangan Ketua Prodi Farmasi

Peppy Octaviani DM, M.H., [Link]., Apt. Ikhwan Yuda Kusuma. S. Farm., [Link]., Apt
Lembar Pengesahan
Laporan Belajar Lapangan
Apotek Omnia Farma Purwokerto

Nama : Rastinah
NIM : 164820145000037
Telah menyelesaikan Praktek Belajar Lapangan di Apotek Omnia Farma Pada Tanggal
9 September Sampai dengan 21 September 2019.

Mengetahui.

Apoteker Pembimbing, Dosen Pembimbing

(Dra. Nurtanti Anjayani, Apt) Desy Nawangsari, [Link]., Apt


KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulisan laporan
Pelaksanaan Praktek Belajar Lapangan ( PBL) di Apotek Omina Farma dapat
terselesaikan dengan baik.
Praktek Belajar Lapangan ini diselenggarakan dalam rangka memberikan bekal
pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam penggelolaan apotek kepada siswa
serta meningkatkan kemampuan dalam mengabdikan profesinya kepada masyarakat.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna.
Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
laporan ini sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan laporan ini dapat
bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Purwokerto, September 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Sejarah Apotek Omnia farma.....................................................................................
1.2 Struktur Organisasi Apotek Omnia Farma.................................................................
1.3 Pengertian Apotek......................................................................................................
1.4 Tugas dan Fungsi Apotek...........................................................................................
1.5 Peraturan Perundang-undangan..................................................................................
1.6 Pengelolaan Obat di Apotek Omnia Farma................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Pengkajian Resep.......................................................................................................
1.2 Pelayanan Resep.........................................................................................................
1.3 Copy Resep................................................................................................................
1.4 Kasus Swamedikasi....................................................................................................
1.5 Kasus resep.................................................................................................................
BAB III KESIMPULAN
1.1 Kesimpulan.................................................................................................................
1.2 Saran...........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENGELOLAAN OBAT DI APOTEK OMNIA FARMA
A. Sejarah Apotek Omnia Farma
Apotek Omnia Farma berdiri sejak tanggal 1 januari 2006. Nama Omnia
diambil dari nama putri terakhir dokter Muhammad Basalamah, [Link] yang
merupakan Pemilik Sarana Apotek (PSA). Kemudian setelah beberapa tahun
berdiri, kepemilikkan apotek berubah menjadi CV. Bina Afiat Sejahtera. Pada
awal pendirian Apotek Omnia Farma hanya memiliki 1 Apoteker Penanggung
Jawab apotek dan 1 TTK. Hingga saat ini Apotek Omnia Farma telah memiliki
banyak karyawan, diantaranya 3 orang Apoteker terdiri dari 1 Apoteker
Penanggung Jawab dan 2 (dua) Apoteker Pendamping, 5 Tenaga Teknis
Kefarmasian, 2 karyawan gudang yang merupakan lulusan SMF, 2 karyawan
reseptir dan 2 karyawan bagian keuangan.
B. Struktur Organisasi Apotek Omnia Farma

Direktur
CV. BINA AFIAT

APOTEKER PENANGGUNG JAWAB


Dra. NURTANTI ANJAYANI, Apt
SIPA NO : 19600517/SIPA_33.02/2016/2097

APOTEKER PENDAMPING
MARIANTI AVI LATHIFAH, S. Farm., Apt
SIPA NO : 19930806/SIPA_33.02/2017/2455

APOTEKER PENDAMPING
IBRAHIM, S. Farm., Apt
SIPA NO : 19901202/SIPA_0332.02/2018/1602

SATPAM KASIR SHOP TTK ADMIN GUDANG RESEPTIR


KEEPER KEUANGAN
C. Pengertian Apotek
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun
2009 Pasal 1 ayat 13 tentang pekerjaan kefarmasian, Apotek adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker.
Apotek merupakan salah satu tempat penyaluran sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat (pasien).
Perbekalan farmasi meliputi obat, bahan obat, obat asli indonesia/obat
tradisional, bahan obat asli Indonesia (bahan obat tradisional), alat
kesehatan dan kosmetik. Menurut UU Kesehatan RI Nomor 23 tahun 1992,
pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat,
pengolahan obat, pelayanan obat atau resep dokter, pelayanan informasi obat
serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
D. Tugas dan Fungsi Apotek
Menurut Peraturan Pemerintahan PP NO. 51 tahun 2009, tugas dan
fungsi apotek adalah :
1. Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker.
2. Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian.
3. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi
antara lain obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan kosmetika.
4. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluran obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi
obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
E. Peraturan Perundang-undangan
1. Menurut PP No. 26 tahun 1965 tentang apotik pasal 1. Yang di maksud
dengan apotik dalam Peraturan Pemerintah ini ialah suatu tempat
tertentu, dimana dilakukan usaha – usaha dalam bidang farmasi dan
pekerjaan kefarmasian.
2. Menurut UU No. 41 tahun 90 pasal 1 ayat 2, apotek adalah tempat
tempat dilakukannya pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan
bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan lainnya.
3. Menurut PERMENKES RI No.922/MENKES/PER/X/1993, apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat di lakukan pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat.
4. Menurut KEPMENKES RI No.1332/MENKES/SK/X/2002. Apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada
masyarakat.
5. Menurut Kepmenkes RI No. 1027/MENKES/SK/IX/2004, apotek adalah suatu
tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
6. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13, Apotek
adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian
oleh apoteker.
7. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 889/MENKES/PER /V/2011,
tentang Registrasi, izin prektek, dan izin kerja tenaga kefarmasian pasal 1
ayat 3, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
F. Pengelolaan Obat di Apotek Omnia Farma
Pengelolaan semua perbekalan farmasi yang ada di apotek “Omnia
Farma” meliputi : perencanaan, pengadaan, pemesanan barang, penerimaan
barang, pemeriksaan dan penyimpanan barang, penjualan dan penyerahan barang
kepada pasien.
1. Perencanaan
Perencanaan pengadaan barang di apotek “Omnia Farma”
merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga
barang dengan tujuan untuk mendapatkan jenis jumlah barang yang
sesuai dengan kebutuhan dan anggaran serta untuk menghindari adanya
kekosongan obat. Di apotek Omnia Farma menggunakan metode :
a. Metode epidemiologi adalah berdasarkan pada penyakit yang ada atau
yang paling sering mucul di masyarakat.
b. Berdasarkan permintaan dokter
2. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan
sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Pengadaan di Apotek “Omnia Farma” meliputi :
a. Jika PBF tidak datang maka barang dipesan melalui WA
b. Pemesanan obat di tanda tangani oleh apoteker penganggung jawab
c. Melihat obat yang fast moving
d. Slow moving
e. Ensefal mempakai emos
Berikut daftar nama PBF yang ada di apotek “Omnia Farma” :
1. PT. Bina San Prima
2. PT. Pingloka Distriniaga
3. PT. Anugerah Pharmindo Lestari
4. PT. Enseval Putera Megatrading
5. PT. Radiant Sentral Nutrindo
6. PT. Natural Nutrindo
7. PT. Langkah Insan Mandiri
8. PT. Antarmitra sembada
9. PT. Tiara Kencana
10. PT. Sehat Bersama Sejahtera
11. CV. Dian Mas
12. CV. Catra Upaya
13. CV. Trio Hutama
3. Penerimaan Brang
Di apotek “Omnia Farma” barang yang baru datang langsung dilakukan
pengecekan yang meliputi nama PBF dan apotek yang dituju, kesesuaian
jenis obat, nama, harga satuan , jumlah yang ada di dalam SP dan
faktur, no. Batch, serta ED.
Standar penerimaan barang di apotek “Omnia Farma” yaitu:
a) Cek nama apotek
b) Cek nama PBF
c) Cek kesesuaian obat dengan surat pesanan dengan faktur
d) Cek kondisi barang yang meliputi keadaan barang seperti bocor,
robek, pecah, retak, isi utuh atau tidak.
e) Cek jumlah barang yang di terima apakah sesuai dengan jumlah
yang di pesan atau tidak.
f) Cek no. Batch dan exp. Date apakah sesuai dengan faktur atau tidak.
g) Harga satuan
h) Diskon
i) Total harga
j) Bila semua sesuai maka tanda tangan di kolom penerima oleh apoteker
penanggung jawab atau apoteker pendamping, dan di lengkapi dengan
nama jelas dan tanggal penerimaan.
k) Kemudian diberi cap/stempel apotek.
l) Lalu barang di simpan.
4. Penyimpanan
Penyimpanan perbekalan farmasi di Apotek “Omnia Farma”
digolongkan berdasarkan:
1) Bentuk Sediaan (tablet, sirup, salep, injeksi, alat kesehatan dan lainnya)
yang disusun secara farmakologi.
2) Berdasarkan Alfabetis, yaitu diatur urut berdasarkan nama obat dari A-
Z.
3) Berdasarkan sifat obatnya yang meliputi penyimpanan obat
berdasarkan suhu yang telah ditentukan.
4) Berdasarkan FIFO (First in first out) artinya penyimpanan obat
berdasarkan obat yang datang lebih dulu dan dikeluarkan lebih dulu.
5) Berdasarakan FEFO (First Expired First Out) artinya penyimpanan
obat berdasarkan obat yang memiliki tanggal kadaluarsa lebih cepat
maka dikeluarkan lebih dulu.
6) Berdasarkan obat generik dan paten
5. Pemusnahan
Yang dimaksud pemusnahan obat adalah kegiatan untuk mengatur
jalannya pemusnahan obat yang ED ([Link]).
Dari hasil yang kami ketahui pemusnahan obat di Apotek Omnia
Farma dilakukan dengan cara yaitu:
1) Obat yang mendekati ED di jual cepat jika pasien nya mau jika tidak di
kembalikan ke PBF.
2) Pemusnahan obat narkotika dan psikotropika di saksikan oleh DINKES.
3) Untuk pemusnahan resep sudah 5 tahun dibakar, membuat berita acara
dan dikirimkan ke DINKES.
4) Untuk sediaan berbentuk tablet : digerus terlebih dahulu kemudian di
larutkan dengan air dan di timbun dalam tanah.
5) Untuk sediaan berbentuk sirup : di timbun dengan tanah
6. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah
persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan
atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan,
kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian di
Apotek Omnia meliputi :
a. Menggunakan kartus stok
b. Order berdasarkan barang yang fast moving
c. Order berdasarkan kebutuhan
7. Pencatatan dan Pelaporan
Untuk pencatatan di apotek omnia meliputi :
a. Buku pencatatan resep
b. Buku defecta
c. Buku pembelian
d. Buku penjualan
Sedangkan untuk pelaporan meliputi :
A. Pelaporan Psikotropika dan Narkotika
Untuk pelaporan psikotropika ke [Link]//
sebelum tanggal 10.
B. Pelaporan Prekursor
Untuk pelaporan prekursor ke DINKES tiap 1 bulan sekali
C. Pelayanan kefarmasian
Untuk pelaporan pelayanan Kefarmasian setiap 1 tahun sekali.
BAB II
PELAYANAN FARMASI KLINIK
A. Pengkajian Resep
Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker
pengelola apotek untuk menyiapkan dan/atau membuat, meracik, serta
menyerahkan obat kepada pasien (Syamsuni, 2006).
1. Skrining resep
a. Pemeriksaan kelengkapan administrasi resep yaitu:
 Nama dokter, izin praktek, paraf atau tanda tangan
dokter.
 Nama obat, jumlah obat, aturan pakai.
 Nama pasien, umur, berat badan, alamat.
 Tanggal resep.
 Tanda R
b. Pemeriksaan kesesuaian farmasetika:
 Bentuk sediaan, dosis.
 Cara penggunaan, lama penggunaan.
 Potensi.
c. Pertimbangan klinik
 Kesesuaian indikasi, efek samping.
 Interaksi, alergi
 Konsultasi dengan dokter penulis apabila ditemukan keraguan pada resep
atau obatnya tidak tersedia.
2. Menentukan Harga obat:
a. Menghargai resep.
b. Memberitahukan kepada pasien besarnya rupiah yang harus di bayar.
3. Menyiapkan obat:
a. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan pada resep.
1). Menghitung jumlah obat sesuai resep.
2). Mengambil jumlah obat yang dibutuhkan dengan memperhatikan:
a. Nama obat.
b. Tanggal ED.
c. Keadaan fisik obat.

b. Melakukan peracikan obat bila diperlukan.


c. Memberi etiket.
d. Memasukan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat yang
berbeda ( etiket dan embalase)
4. Penyerahan obat:
a. Pemeriksaan kembali mengenai nama pasien pada etiket, cara pakai, jenis
dan jumlah obat.
b. Memanggil nama pasien.
c. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien.
d. Menyerahkan obat di sertai pemberian informasi obat.
e. Menyerahkan obat kepada pasien.
f. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya.
g. Membuat salinan resep sesuai dengan asli dan paraf oleh apoteker (bila di
perlukan).
h. Menyimpan resep dan mendokumentasi.
B. Pelayanan Resep
Dalam resep harus memuat:
1. Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi dan dokter hewan.
2. Tanggal penulisan resep (inscriptio)
3. Tanda R/ pada bagian kiri pada setiap penulisan resep. Nama setiap obat atau
komposisi obat (invocatio)
4. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)
5. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep atau sesuai dengan perundang-
undangan yang berlaku (subscriptio).
6. Jenis hewan dan nama atau alamat pemilik untuk resep dokter hewan.
7. Tanda seru atau paraf dokter untuk resep yang mengandung obat melebihi dosis
maksimal (Anief, 2000).
Resep yang mengandung narkotika harus di tulis tersendiri yaitu
tidak boleh ada iterasi (ulangan), di tulis nama pasien tidak boleh tertulis m.i
yang artinya mihi ipsi = untuk dipakai sendiri, alamat pasien dan aturan pakai
harus jelas, tidak boleh di tulis sudah tau pakainya (usus cognitus). (Anief,
2010).

Untuk penderita yang segera memerlukan obatnya, dokter menulis


bagian kanan atas resep; cito, statim, urgent, P.I.M = pariculum in mora =
berbahaya bila ditunda. Resep ini harus di layani terlebih dahulu (Syamsuni,
2006).
C. Copy Resep
Copy resep ialah salinan tertulis dari suatu resep. Istilah lain dari copy resep
ialah apograph, exemplum, atau afischirift. Salinan resep selain memuat semua
keterangan yang ada dalam resep asli salinan resep harus memuat pula:
1. Nama dan alamat apotek.
2. Nama dan nomor S.I.K apoteker pengelola apotek.
3. Nomor SIA apoteker pengelola apotek
4. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotek.
5. Tanda det = detur untuk obat yang sudah di serahkan, atau tanda nedet ne
detur untuk obat yang belum di serahkan.
6. Nomor resep dan tanda pembuatan.
Dalam copy resep juga mencangkup hal:
a. Salin resep harus ditanda tangani Apoteker. Apabila pengelola apotek
berhalangan, penandatanganan atau paraf pada salinan resep dapat di lakukan
oleh apoteker pendamping atau apoteker pengganti dengan mencantumkan
nama terang dan status yang bersangkutan.
b. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik selama waktu 5
tahun.
c. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep
atau yang membuat penerima yang bersangkutan, petugas kesehatan atau
petugas lain yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Apoteker pengelola apotek, apoteker pendamping atau pengganti di izinkan
untuk menjual obat keras yang disebut daftar obat wajib apotek tanpa resep yang
telah di tetapkan oleh Menteri Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No.
922/MENKES/PER/X/1993 pasal 18 ayat 1 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek).
KASUS SWAMEDIKASI
1.
Tanggal 12-9-2019
Nama Pasien Tarsini
Jenis kelamin perempuan
Usia/BB 30 th
Alamat -
No. Telp -
Riwayat alergi tidak ada
Riwayat penyakit tidak ada
Keluhan diare baru 1 hari
Tindak lanjut/ saran apoteker Diberikan lodia 2 mg (diminum
pertama kali 2 tablet selanjutnya
setiap diare 1 tablet )

Pembahasan : Lodia 2 mg merupakan obat antidiare dengan kandungan


Loperamid HCl 2 mg. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati diare akut
dan kronis. Efek samping obat ini adalah Kembung, sukar BAB, mual,
muntah, nyeri perut, ruam kulit, letih, mengantuk, pusing

2.
Tanggal 13-9-2019
Nama Pasien Maria yuniati
Jenis kelamin perempuan
Usia/BB 60 th
Alamat -
No. Telp -
Riwayat alergi tidak ada
Riwayat penyakit tidak ada
Keluhan panas dan flu sudah 1
hari
Tindak lanjut/ saran apoteker Diberikan demacolin 3x1
sesudah makan

Pembahasan : Demacolin mengandung kombinasi obat berupa Paracetamol,


Pseudoephedrine HCl, dan Chlorpheniramine maleat. Obat ini digunakan
untuk mengatasi gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat,
gatal, berair dan bersin-bersin. Obat ini memiliki efek samping yaitu :
mengantuk, asam lambung, sakit perut, sesak nafas.

3.
Tanggal 13-9-2019
Nama Pasien M. Januar Arifin
Jenis kelamin laki-laki
Usia/BB 48 th
Alamat jl. Sokajaya No. 64
sokanegara PWT
No. Telp 081226475288
Riwayat alergi tidak ada
Riwayat penyakit tidak ada
Keluhan tangan kanan pegel-pegel
sudah 4 hari tetapi tidak
terkilir apapun
Tindak lanjut/ saran apoteker meloxicam 7,5 mg 1 x 1
sesudah makan

Pembahasan : Meloxicam 7,5 mg merupakan obat untuk mengurangi rasa


nyeri, bengkak, dan kaku pada sendi. Meloxicam sering digunakan untuk
mengobati arthritis dan asam urat. Obat ini termasuk ke dalam
golongan nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID). obat ini memiliki
efek samping yaitu : hipertensi, perdarahan pada saluran cerna, ulser, dan
gangguan pada ginja.

KASUS RESEP
1. Resep 1
Skrining Resep :
A. Pemeriksaan kelengkapan administrasi resep
Nama Dokter Ada
SIP Ada
Alamat Dokter Ada
Tanggal penulisan resep Ada
Tanda tangan/paraf penulis Tidak Ada
resep
Nama, umur, alamat pasien Ada
Nama obat, potensi obat, Ada
jumlah yang di minta
Cara pemakaian yang jelas Ada
Tanda R Ada

B. Pemeriksaan kesesuaian farmasetika:


Bentuk sediaan Ada
Dosis Obat Ada
Potensi Obat Ada
Stabilitas
inkompatibiltas
Cara dan lama pemberian

C. Pertimbangan klinik :
Adanya Alergi Ada
Efek Samping Tidak Ada
Interaksi
Kesesuaian

PEMBAHASAN :
Pasien alergi obat sulfdiazin dan dextromethorphan, sehingga dokter
mengganti obat antibiotik ciprofloxacin (antibiotik gol. Selain sulfadiazin)
sedagkan obat dextromethorphan tidak di berikan.

2. Resep 2
SKRINING RESEP :
A. Pemeriksaan kelengkapan administrasi resep
Nama Dokter Ada
SIP Tidak Ada
Alamat Dokter Ada
Tanggal penulisan resep Ada
Tanda tangan/paraf Tidak Ada
penulis resep
Nama, umur, alamat Ada
pasien
Nama obat, potensi obat, Ada
jumlah yang di minta
Cara pemakaian yang Ada
jelas
Tanda R Ada

B. Kesesuaian Farmasetis
Bentuk sediaan Ada
Dosis Obat Ada
Potensi Obat Ada
Stabilitas
inkompatibiltas
Cara dan lama
pemberian

C. Kesesuaian Klinis
Adanya Alergi Tidak Ada
Efek Samping Tidak Ada
Interaksi
Kesesuaian

PEMBAHASAN
Pada resep ini diberikan obat meloxicam 7,5 mg dan asam mefenamat 500 mg
secara bersamaan. Meloxicam merupakan obat golongan NSAIDs sedangkan
asam mefenamat juga merupakan gol. NSAID, efek samping yang ditimbulkan
pada meloxicam yaitu : hipertensi, perdarahan pada saluran cerna, ulser, dan
gangguan pada ginjal. Sedangkan asam mefenamat juga memiliki efek samping
adalah : pada saluran cerna yaitu dispepsia dan gejala iritasi pada mukosa
lambung. Sehingga kedua obat ini sebaiknya dihindari untuk mencegah efek
samping pada saluran cerna yang lebih besar.

3. Resep 3
SKRINING RESEP
A. Pemeriksaan kelengkapan administrasi resep
Nama Dokter Ada
SIP Tidak Ada
Alamat Dokter Ada
Tanggal penulisan resep Ada
Tanda tangan/paraf penulis Tidak Ada
resep
Nama, umur, alamat pasien Ada
Nama obat, potensi obat, Ada
jumlah yang di minta
Cara pemakaian yang jelas Ada
Tanda R Ada

B. Kesesuaian farmasetik
Bentuk sediaan Ada
Dosis Obat Ada
Potensi Obat Ada
Stabilitas
inkompatibiltas
Cara dan lama pemberian

C. Pertimbangan klinis
Adanya Alergi Tidak Ada
Efek Samping Tidak Ada
Interaksi
Kesesuaian

PEMBAHASAN
Pemberian asam mefenamat dan dexametason diminum secara
bersamaan. Asam mefenamat merupakan gol. Obat NSAIDs yang
mrmiliki efek antiinflamasi dan analgesik sedangkan dexametason
merupakan gol. Obat kortikosteroid yang memiliki efek antiradang. Pada
pemberian obat tersebut dapat meningkatkan resiko terjadinya perdarahan
dan ulser pada lambung. Sehingga pada penggunaan obat ini sebaiknya
dihindari.

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1. Apotek Omnia Farma merupakan salah satu Fasilitas Kesehatan yang bertugas
menjalankan fungsi pelayanan kepada masyarakat (Public Service) dalam
kesehatan.
2. Adanya Praktik Belajar Lapangan di Apotek Omnia Farma maka mahasiswa
dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman sehingga dapat menjalankan
tugas manajemen di Apotek Omnia Farma yang sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
3. Kegiatan PBL di Apotek Omnia meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
bagi mahasiswa mengenai perannya dalam hal Pekerjaan Kefarmasian di
Apotek Omnia Farma seperti pengelolaan obat yang meliputi perencanaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan
dan pelaporan. Dan Pelayanan Farmasi Klinik seperti pengkajian resep,
dispensing, pelayanan infomasi obat (PIO), Konseling, pelayanan kefarmasian
di rumah (home Pharmacy care), Pemantauan Terapi obat (PTO), dan
Monitoring efek samping obat (MESO).
B. Saran
a. Bagi praktikan/peserta PBL
Bagi peserta PBL hendaknya kita harus bekerja sama dalam
menjalankan tugas kita, saling menghormati dan menghargai agar apa yang
kita kerjakan membuahkan hasil yang baik bagi sesama.
b. Bagi Kampus
Kampus lebih memperpanjang lagi waktu PBL agar mahasiswa dapat
melakukan praktik dengan lebih terampil.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, M. 2000. Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Anief, M. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Syamsuni H.A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: EGC.
LAMPIRAN
Surat Pesanan Psikotropika Surat Pesanan Biasa

Etiket Obat Kwitansi


Plastik Pembungkus Obat Copy Resep

Surat Pesanan Prekursor Surat Pesanan Narkotika


Surat Pesanan Obat-obat Tertentu

Anda mungkin juga menyukai