0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan8 halaman

Kontroversi Legalisasi LGBT di Indonesia

Tulisan ini membahas kontroversi legalisasi LGBT di Indonesia dari sudut pandang HAM, keadilan, pandangan Islam, dan dampaknya bagi generasi penerus bangsa. Ada pendapat pro dan kontra terhadap legalisasi LGBT. Pendukung mengklaim sebagai hak asasi, sedang lawan menilai sebagai penyimpangan. Tulisan ini bertujuan mencari solusi dengan mempertimbangkan berbagai perspektif terkait isu ini.

Diunggah oleh

Estikomah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan8 halaman

Kontroversi Legalisasi LGBT di Indonesia

Tulisan ini membahas kontroversi legalisasi LGBT di Indonesia dari sudut pandang HAM, keadilan, pandangan Islam, dan dampaknya bagi generasi penerus bangsa. Ada pendapat pro dan kontra terhadap legalisasi LGBT. Pendukung mengklaim sebagai hak asasi, sedang lawan menilai sebagai penyimpangan. Tulisan ini bertujuan mencari solusi dengan mempertimbangkan berbagai perspektif terkait isu ini.

Diunggah oleh

Estikomah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONTROVENSI LEGALISASI LBGT DI INDONESIA DARI SEGI HAM,

KEADILAN, PANDANGAN ISLAM, DAN DAMPAK BAGI GENERASI


PENERUS BANGSA

Karya ini Disusun untuk Mengikuti

Lomba Esai Nasional Kelompok Penulis Media 2018

“Peran Pemuda sebagai Pemimpin Masa Depan dalam Mengatasi Permasalahan


Indonesia”

Disusun Oleh :

Estikomah

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

2018
KONTROVENSI LEGALISASI LBGT DI INDONESIA DARI SEGI HAM,
KEADILAN, PANDANGAN ISLAM, DAN DAMPAK BAGI GENERASI
PENERUS BANGSA

PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini Indonesia dimarakkan dengan sebuah pernyataan tentang


pelgalisasian LGBT (Lesbian, Gay,Biseksual,and Transgender). LGBT muncul
biasanya dari negara yang maju, seperti Amerika. Sehingga tidak menutup
kemungkinan munculnya kasus LGBT di Indonesia adalah sebagai tindak kriminalitas
demi memuaskan hawa nafsu. LGBT juga mulai berkembang di Indonesia melalui
kegiatan pengorganisasian yang dilakukan oleh kelompok wanita trasgender atau lebih
dikenal dengan waria. (Dacholfany,[Link]. 2016) menyatakan bahwa mobilisasi pria gay
dan wanita lesbian sudah terjadi di Indonesia pada tahun 1980-an, hal ini membuat
maraknya HIV pada tahun 1990-an. Dari ([Link]) jumlah penganut
homoseksual termasuk LGBT di Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat.
Peningkatan itu terjadi karena mereka lebih membuka diri atua mengaku. Mengutip data
Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada 2012, ada sekitar 1.095.970 laki-laki yang
berperilaku menyimpang. Jumlah ini naik 37% dari tahun 2009. Diyakini,jumlah
penganut homoseksual hingga 2017 sudah meningkat signifikan.

Sebagai gambaran umum tentang hak asasi LGBT di Indonesia, hukum nasional
dalam arti luas tidak memberi dukungan bagi kelompok LGBT walaupun
homoseksualitas sendiri tidak ditetapkan sebagai tindak pidana. Baik perkawinan
maupun adopsi oleh orang LGBT tidak diperkenankan. Tidak ada undang-undang anti-
diskriminasi yang secara tegas berkaitan dengan orientasi seksual atau identitas gender,
hukun Indonesia hanya mengakui keberadaan gender laki-laki dan perempuan tidak
untuk transgender. Namun sejumlah Perda melarang homoseksualitas sebagai tindak
pidana karena dipandang sebagai perbuatan yang tidak bermoral. (Soekanto, [Link]. 2004)

Adanya pelegalisasian LGBT di Indonesia menimbulkan pernyataan yang pro


dan kontra terhadap LGBT. Mereka yang pro dengan LGBT menyatakan bahwa negara
dan masyarakat harus mengkampanyekan prinsip non diskriminasi antara lelaki,
perempuan, transgender, heteroseksual, dan homoseksual. Pendukung LGBT
menggunakan pemenuhan hak asasi manusia sebagai dasar tuntutan mereka dengan
menyatakan bagwa orientasi seksual adalah hak asasi manusia bagi mereka. Begitu juga
sebaliknya, mereka yang kontra dengan LGBT akan menilai bahwa LGBT sebagai
bentuk penyimpangan dan tidak masuk dalam konsepsi HAM. Karena LGBT akan
membahayakan generasi masa depan Indonesia. Namun resolusi tentang pengakuan atas
hak-hak LGBT inilah yang dijadikan sebagai landasan tuntutan bagi kaum LGBT untuk
mrnuntut hak asasi mereka. Namun dengan demikian, berbicara tentang hk asasi
manusia, maka tidak akan terlepas dari hukum dan falsafah yang dianut suatu Negara.
Bagi Indonesia yang berlandaskan hukum dan Pancasila, maka negara dan penegakan
HAM pun akan disesuaikan dengan nilai-nilai dan falsafah yang dianut bangsa
Indonesia. Berdasarkan pemaparan diatas, LGBT menuai kontorvensi yang
menggambarkan adanya perdebatan legalisasi LGBT di Indonesia yang masih multi
tafsir (pro dan kontra), baik dari perspektif segi keadilan, hukum islam, dan HAM.
Sehingga tulisan ini bertujuan untuk mencari solusi untuk membahas fenomena LGBT
dan mengetahui dampak apa yang ditimbulkan dari pelegalisasian LGBT di Indonesia
untuk generasi emas bangsa Indonesia.

PEMBAHASAN

Berdasarkan Kamus Lengkap Psikologi (Chaplin, 2001), “Lesbian” adalah


homosekssualitas di kalangan wanita. “Gay” merupakan homoseksualitas di kalangan
pria. “Biseksual” yaitu keadaan merasa terarik sama kuatanya pada kedua jenis kelamin,
perembuan ataupun laki-laki. Menurut (Rahardjo, 2009 ) ada tiga jenis orientasi seksual
yaitu : (a) heteroseksual merupakan aktivitas seksual yang memilih pasangan seksual
dari lawan jenis; (b) Biseksual merupakan aktivitas seksual yang memilih pasangan
seksual dari sesama jenis dan lawan jenis; (c) Homoseksual, pada pria disebut Gay,
pada permpuan disebut dengan Lesbian. Pelegalisasian LGBT di Indonesia menuai
kontrovensi, dimana warganya mengajukan gagasan mereka untuk pro ataupun kontra
dengan LGBT. Berikut adalah berbagai pandangan LGBT dari segi HAM, keadilan, dan
pandangan Islam.
A. Pandangan LGBT dari segi HAM (Hak Asasi Manusia)

Menurut Mahfud MD (dalam Muladi 2005) mengartikan Ham sebagai ak yang


melekat pada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan hak tersebut
dibawa manusia sejak lahir di bumi sehingga bersifat kodrati, bukan merupakan
pemberian dari manusia ataupun negara. Dan merupakan kewajiban bagi setiap
negara untuk melindungi hak setiap warganya. Seperti diungkapkan oleh Bapak
John Locke dalam bukunya yang berjudul “Two Treatises On Civil Goverment”.
John Rawis berpendapat bahwa terdapat tiga hal yang merupakan solusi bagi
problem utama keadilan yaitu :

1. Prinsip kebebasan yang sebesar-besarnya bagi setiap orang


2. Prinsip perbedaan dimana perbedaan sosial ekonomi diatur agar memberikan
kemanfaatan bagi mereka yang kurang diuntungkan
3. Prinsip persamaan yang adil atas kesempatan.

Sedangkan Hak asasi manusia di Indonesia bersumber dan bermuara pada


Pancasila yang artinya hak asasi manusia mendapat jaminan kuat dari falsafah
bangsa yakni Pancasila. Bagi bangsa Indonesia melaksanakan hak asasi bukan
berarti dengan sebebas-bebasnya ,melainkan harus memperhatikan ketentuan
yang terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia. Dimana Indonesia
dikenal sebagai negara yang memiliki adat istiadat dan norma yang bermartabat.

LGBT merupakan sebuah penyimpangan dari kodrat dan fitrah manusia,


manusia sejatinya diciptakan dalam dua jenis yakni laki-laki dan perempuan
dengan tujuan agar menjadi pasangan. Konsepsi itu jelas dianut oleh UU No.1
Tahun 1974 tentang perkawinan. Perkawinan menurut pasal 1 UU tersebut
hanya antara pria dan wanita. Dengan begit, perkawinan sejenis bertentangan
dengan Hukum Indonesia.

B. LBGT dalam Segi Keadilan

Menurut Papilaya (dalam Miller, 1999) keadilan sosial dipahami sebagai


keadilan yang berkaitan dengan bagaimana seharusnya hal-hal yang enak untuk
didapatkan dan yang menntut pengorbanan, keuntungan, dan beban dalam
keidupan sosial dibagi dengan adil kpada semua anggota masyarakat.

Bentuk ketidakadilan sosial yang dialami dan dirasakan oleh kaum


LGBT yaitu stigma, diskriminasi, dan kekerasan. Abdurachman (2010)
mendefinisakan stigma sebagai perbedaan yang merendahkan, yang secara sosial
dianggap mendiskreditkan dan dikaitkan dengan berbagai stereotip negatif.
Diskriminasi adalah setiap pelecehan atau pengucilan didasarkan pada
pembedaan manusia atas dasar agama, ras, suku, etnik, kelompok, golongan,
status sosial ekonomi, jenis kelamin, penyimpangan, dan lain-lain. Sedangkan
menurut Papilaya (dalam Bagong,dkk. 2000) kekerasan adalah penggunaan
kekuatan fisik, kekuasaan atau yang lainnya yang menyyebabkan kerugian
psikologis, kelainan, perampasan hak, bahkan kematian.

Keadilan sosial bagi Kaum LGBT adalah bahwa Indonesia harus


mentaati pada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang telah
Indonesia sepakati dalam deklarasi Internasional PBB tentang hak-hak
[Link] dengan mewujudkan keadilan sosial dan tidak menindas
kelompok minoritas serta mengembankan budaya toleransi bisa ditempuh
melalui pendidikan.

C. LGBT menurut Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, fitrah manusia adalah berpasang-pasangan dan


mengatur tentang kecenderungan orientasi seksualnya didasarkan pada
pasangannya, dan mengembangkan keturunan antara suami dan istri melalui
pernikahan. Hal ini telah dijelaskan dalam Q.S An-Nisa : 1 dan Q.S Ar-Rum : 21
dimana dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa homoseksual (liwa@t) dan
penyimpangan seksual lainnya termasuk dosa besar karena bertentangan dengan
norma agama, susila, dan bertentangan dengan Sunnatullah dan fitrah manusia.
Dalam konteks perspektif hukum Islam tentang LGBT banyak ayat yang
melarang hubungan seksual sesama jenis. Seperti yang terkandung dalam Q.S
Asy-Syu’ara :165-166 dan beberapa hadits. Dengan begitu menurut hukum
Islam maka ulama sepakat bahwa homoseksual dan aktivitas sesama jenis adalah
haram. Bahkan pelaku homoseksual bisa mendapat hukuman yang berat sampai
pada hukuman mati. Dalam fFatwa MUI NO.57 Tahun 2014 tentang lesbian,
gay, sodomi, pencabulan, dengan tegas MUI memfatwakan bahwa pelaku
seksual sesama jenis hukumnya haram dan merupakan bentuk kejahatan, dan
dikenakan hukuman ta’zir sampai pada hukuman mati. Dalam Islam tidak ada
toleransi akan hukum HAM dan juga keadilan, dimana dalam Islam sekali
melanggar aturan yang bertentangan dengan agama maka hukumannya adalah
sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Sedangkan dalam pandangan keadilan dan
HAM masih ada toleransi. (Harahap. 2016)

D. Dampak dari LGBT di Indonesia

Menurut (Dacholfany,[Link]. 2016) dari Abdul Hamid El-Qudah menjelaskan


dampak-dampak sosial yang ditimbulkan dari LGBT adalah dari dampak kesehatan,
yakni dari 78% pelaku homoseksual terjangkit penyakit kelamin menular seperti
HIV/AIDS. Dan masih dengan dampak-dampak lainnya seperti dampak sosial,
pendidikan, dan keamanan.

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil yang dipaparkan penulis mencoba untuk berpendapat netral dengan
rencana pelegalisasian LGBT di Indonesia. Karena dalam Deklarasi Internasional yang
disampaikan oleh PBB untuk semua Perserikatan Bangsa-Bangsa, Indonesia menyetujui
dengan ditegakkannya hak asasi manusia dan melindungi hak setiap warga negaranya.
Bagi bangsa Indonesia melaksanakan hak asasi bukan berarti dengan sebebas-
bebasnya,melainkan harus memperhatikan ketentuan yang terkandung dalam pandangan
hidup bangsa Indonesia. Dimana Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki adat
istiadat dan norma yang bermartabat.

Begitu juga menurut keadilan bahwa LGBT ini juga termasuk manusia yang
butuh untuk dilindungi dinegara tempat mereka tinggali. Namun juga harus
menggunakan pedoman Ke-Tuhanan dalam setiap kehidupan. Karena segala alam
semesta beserta isinya, hanya Allah-lah yang mengatur segalanya. Tetap menjalankan
setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Begitu juga karena fitrah manusia
adalah hidup berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan dengan jalur
penikahan dann bertujuan untuk menghasilkan keturunan. Maka LGBT bukanlah
sebuah kesalahan yang harus dibenci, dicemooh, dikucilkan. Hal ini hanya butuh
toleransi masyarakat sehingga tidak terjadi adanya stigma dengan memberikan
sosialisasi dan pengetahuan terhadap masyarakat agar senantiasa menerima mereka
kaum LGBT dengan layak, dihargai, dan dihormati

Saran

Untuk dapat mewujudkan keadilan sosial tanpa menindas kelompok minoritas


maka pemerintah dapat mengembangkan budaya toleransi melalui pendidikan. Dan juga
harus memperbaiki rwgulasi dan sejumlah keijakan yang ramah serta pedul dengan
kaum LGBT sehingga kaum LGBT merasakan hak-hak mereka diberbagai sendi
kehidupan. Apapun yang terjadi, kaum LGBT juga manusia yang layak untuk dihormati
dan dihargai. Maka mereka akan mendapatkan keadilan sosial dan menjai sejahtera
secara fisik, psikis, dan psikologis.

DAFTAR PUSTAKA

Chaplin, J.P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Dacholgany, Ihsan. Khoirurrijal. 2016. Dampak LGBT dan Antisipasinya di


Masyarakat. 9

Faturochman. 1999. Keadilan Sosial : Suatu Tinjauan Psikologi. Buletin Psikologi. 7-1.
13-27

Harahap, Rustam,.D.K.A. 2016. LGBT di Indonesia : Perspektif Hukum Islam, HAM,


Psikologi dan Pendekatan Maslahah :26

Papilaya, J.O. 2016. Lesbian Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) dan Keadilan Sosial.
Jurnal Humaniora Yayasan Bina Darma. 3: 025-034

Rahardjo, Wahyu (2009). Homophobia dan Kita. Jurnal penelitian Psikologi, 14 : 11-23
Soekanto, Soerjono.2004. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada

Anda mungkin juga menyukai