Risiko BPH di RS PKU Muhammadiyah Sruweng
Risiko BPH di RS PKU Muhammadiyah Sruweng
SKRIPSI
Disusun Oleh :
Bisri Samsuri
A21601426
-------------------------------------------------------------------------
1. Mahasiswa STIKes Muhammadiyah Gombong
2. Dosen STIKes Muhammadiyah Gombong
3. Dosen STIKes Muhammadiyah Gombong
iii
Muhammadiyah Gombong Health Science Institute
S1 Nursing Study Program
Paper, February 2018
Bisri Samsuri1) Podo Yuwono 2) Irmawan Andri 3)
ABSTRACT
Background: BPH disease burden continues to increase from year to year. From
1990 to 2013 there was an increase in the incidence of BPH by 33.4% in the world
(Global Burden of Disease, 2013). The prevalence of BPH in PKU Muhammadiyah
Sruweng Hospital shows that during January to August 2017 both inpatient and
outpatient total of 157 patients of BPH.
Objective: the research to find out what risk factors affect the incidence of BPH
Research method: This research use descriptive analytic design. Sample of 36
respondents Sample taken with accidental sampling technique. Analysis of data using
chi square to determine the effect between variables and multiple linear regression to
determine the most dominant risk factors.
Research Finding: Age (p = 0,003), family history (p = 0,002), sexual frequency (p
= 0,04), smoking (p = 0,019) and Diabetes Mellitus (p = 0,039 ). Risk factors that did
not influence were obesity (p = 0,33), exercise (p = 0,05), diet (p = 0,084), and
alcohol consumption (p = 0,516). The most dominant risk factor is age
Conclusion: risk factors of BPH occurrence are age, family history, sexual
frequency, smoking and history of DM
Recommendation: Integrated health education is very important in the community
and Hospital both in patients with mild BPH and who do not suffer BPH as an effort
to prevent BPH
-------------------------------------------------------------------------
1. STIKes Muhammadiyah Gombong Students
2. Lecturer STIKes Muhammadiyah Gombong
3. Lecturer STIKes Muhammadiyah Gombong
References: 47(2002-2018)
iv
MOTTO
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Tingkat Kejadian Benign Prostate
Hyperplasia (BPH) di RS PKU Muhammadiyah Sruweng”. Adapun tujuan dari
penulisan skripsi adalah untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh derajat
Sarjana keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah
Gombong.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan
skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Rasa
terimakasih penulis ucapkan kepada pembimbing skripsi yaitu bapak Podo Yuwono,
[Link] selaku pembimbing I yang telah membimbing dengan penuh kesabaran dan
keikhlasan, serta tak lupa terima kasih sebanyak-banyaknya kepada bapak Irmawan
Andri Nugroho, [Link] selaku pembimbing II yang tak henti-hentinya memberikan
petunjuk dan masukan yang berharga demi selesainya skripsi ini. Ucapan terima
kasih juga penulis ucapkan kepada :
1. H. Hasyim Asy`ari (alm) dan Hj. Siti Fatimah yang telah memberikan doa restu
sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini
2. Isteriku tercinta Elina Haryanti, [Link] dan anak-anakku tersayang Muh.
Hasbi Ash Shidiqi Ramadhani, Bahir Bathlatun Zhafar yang telah memberikan
dukungan dan semangat hidup
3. Hj. Herniyatun, [Link], [Link], [Link] selaku Ketua STIKes Muhammadiyah
Gombong
4. Isma Yuniar, [Link] selaku ketua program studi S1 Keperawatan
5. Seluruh staf pengajar dan staf karyawan STIKes Muhammadiyah Gombong
6. Direksi dan seluruh staf karyawan RS PKU Muhammadiyah Sruweng yang telah
memberikan ijin belajar dan melakukan penelitian dan rela memberikan bantuan
kepada penulis selama melakukan penelitian
7. Teman-teman seperjuangan angkatan 2016 reguler B13 yang banyak
memberikan motivasi dan bantuan
vi
8. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu
9. Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
keperawatan.
Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
keperawatan.
Penulis
vii
DAFTAR ISI
viii
B. Saran 61
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 62
LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
x
Tabel [Link] Responden Menurut Tingkat Kejadian BPH dan diabetes
melitus ................................................................................................................... 46
Tabel [Link] regresi linear faktor risiko BPH ............................................ 47
xi
DAFTAR SKEMA
xii
DAFTAR LAMPIRAN
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan salah satu
penyakit tidak menular yang masih menjadi persoalan serius bagi pria. Benign
Prostate Hyperplasia (BPH) atau dikenal dengan pembesaran prostat jinak
menurut Kapoor (2012) merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel
stroma prostat yang akan menyebabkan pembesaran dari kelenjar prostat.
Pada pembesaran prostat jinak terjadi hiperplasia kelenjar perineutral yang
akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer (Sjamsuhidajat, 2017).
Mediator utama dalam pertumbuhan kelenjar prostat yaitu dehidrotestosteron
(DHT) yang merupakan metabolit testosteron yang dibentuk di dalam sel
prostat. Walaupun jarang menyebabkan kematian tetapi dapat menurunkan
kualitas hidup penderita secara signifikan.
Beban penyakit BPH terus mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun. Di dunia, diperkirakan 59 pria dari 100.000 penduduk menderita BPH.
Sejak tahun 1990 hingga 2013 tercatat peningkatan angka kejadian BPH
sebesar 33,4 % (Global Burden of Disease, 2013). Sementara itu, Office of
Health Economic Inggris telah mengeluarkan proyeksi prevalensi BPH bergejala
di Inggris dan Wales beberapa tahun ke depan. Pasien BPH bergejala yang
berjumlah sekitar 80.000 pada tahun 1991, diperkirakan akan meningkat menjadi
satu setengah kalinya pada tahun 2031 (Suryawisesa, et. al, 1998 dalam
Santoso,2015).
Berdasarkan (Global Burden of Disease (2013) Asia merupakan
benua terbanyak yang penduduknya menderita BPH. Jepang disebut sebagai
negara yang menyumbang angka kejadian BPH tertinggi se-Asia bahkan
dunia sebesar 110,029 dari 100.000 penduduk. Setelah Jepang, negara dengan
populasi BPH di urutan ke dua dan ke tiga menempati wilayah negara di Asia
tenggara yaitu Brunei Darussalam sebanyak 101,28 orang tiap 100.000
1
2
penderita yang memiliki orangtua menderita BPH memiliki resiko 4 kali lipat
lebih besar dibandingkan dengan yang normal. (Cooperberg, et al, 2013).
Faktor risiko karena gaya hidup berupa diet tinggi lemak dan
obesitas berpengaruh terhadap kejadian BPH. Sebuah penelitian pada
binatang percobaan menunjukkan makanan yang mengandung tinggi terbukti
meningkatkan distribusi dan aktivitas sel mast dan makrofag pada prostat (De
Nunzio, et al. 2011). Sementara itu, pada obesitas terutama obesitas sentral
berkaitan dengan sindroma metabolik. Sindroma metabolik merupakan suatu
kelompok kelainan metabolik meliputi obesitas, resistensi insulin, gangguan
toleransi glukosa, dislipidemia dan hipertensi (Sugondo, 2009). Pada obesitas
terjadi insulin resisten sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar
insulin yang diproduksi oleh pankreas, insulin menginduksi terjadinya
proliferasi jaringan prostat (Breyen and Sarma,2014).
Faktor risiko diduga sebagai penyebab terjadinya BPH adalah
aktifitas fisik berolahraga. Aktif berolahraga dapat menurunkan kadar
dehidrotestosteron sehingga dapat memperkecil resiko gangguan prostat,
selain itu berolahraga akan mengontrol berat badan agar otot lunak yang
melingkari prostat tetap stabil. Lain halnya dengan konsumsi alkohol, alkohol
dapat menghilangkan kandungan zink dan vitamin B6 yang penting untuk
prostat yang sehat. Zink sangat penting untuk kelenjar prostat. Prostat
menggunakan zink 10 kali lipat dibandingkan dengan organ yang lain. Zink
membantu mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah. Prolaktin
meningkatkan penukaran hormon testosteron kepada DHT. (Setyawan, 2016)
Faktor Risiko lain yaitu merokok dan perilaku seksual.
Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Djawa, et al (2014),
menemukan bahwa dari 40 responden yang diteliti, sebanyak 52,5 %
melakukan perilaku seksual tidak teratur menderita penyakit BPH, sedangkan
57,5% penderita BPH adalah perokok aktif. Kandungan zat rokok dapat
menimbulkan proliferasi sel prostat bahkan dapat mengakibatkan kanker.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 3 September
2017 di RS PKU Muhammadiyah Sruweng, menunjukkan bahwa selama
5
bulan Januari hingga Agustus 2017 baik dari rawat inap maupun rawat jalan
total pasien BPH sebanyak 157 pasien. Penderita di rumah sakit tersebut rata-
rata berusia 50 tahun ke atas. Berdasarkan wawancara yang dilakukan
terhadap 8 pasien BPH, 5 orang diantaranya mengetahui tentang BPH,
namun semua penderita mengatakan tidak mengetahui penyebab pasti
timbulnya penyakit tersebut dan mereka mengaku takut jika komplikasi yang
ditimbulkan akan membahayakan dirinya.
Berdasarkan uraian di atas mengenai faktor-faktor risiko terjadinya
BPH yang kemungkinan dapat dicegah sedini mungkin, maka penulis tertarik
untuk mengambil judul “Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Tingkat
Kejadian Benign Prostate Hyperplasia (BPH) di RS PKU Muhammadiyah
Sruweng”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini
adalah “Apakah Faktor Risiko yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat
diubah dapat mempengaruhi tingkat kejadian Benign Prostate Hyperplasia
(BPH) di RS PKU Muhammadiyah Sruweng?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Tujuan Umum
Untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang mempengaruhi tingkat
kejadian Benign Prostate Hyperplasia (BPH)
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis usia sebagai faktor risiko tingkat kejadian BPH
b. Menganalisis riwayat keluarga sebagai faktor risiko tingkat kejadian
BPH
c. Menganalisis obesitas sebagai faktor risiko tingkat kejadian BPH
d. Menganalisis olahraga sebagai faktor risiko tingkat kejadian BPH
6
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Untuk institusi rumah sakit, dapat digunakan sebagai informasi
berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya BPH
sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan perencanaan
dalam pengobatan dan pencegahan.
2. Untuk keperawatan profesional, sebagai bahan masukan bagi perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan BPH.
3. Untuk institusi pendidikan, sebagai bahan masukan pada program
penelitian dan pengembangan khususnya mengenai BPH.
E. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti, penelitian dengan judul “Faktor-Faktor Risiko
Yang Mempengaruhi Tingkat Kejadian Benigna Prostate Hyperplasia (BPH)
Di RS PKU Muhammadiyah Sruweng belum pernah dilakukan. Namun ada
beberapa penelitian yang serupa dengan penelitian ini, yakni:
1. Suryawan (2015) dengan judul “Hubungan Usia Dan Kebiasaan Merokok
Terhadap Terjadinya BPH di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar
Lampung Tahun 2015”. Penelitian ini menggunakan metode
observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik
7
Hasil uji statistik variabel umur diperoleh p value = 0,045, untuk besar
prostat diperoleh p value = 0,003, cairan irigasi p value = 0,044, dan
variabel lama operasi p = 0,000. Persamaan penelitian Santoso (2011)
dengan penelitian ini adalah variabel penelitian merupakan multivariate
yaitu mencari faktor-faktor dari adanya suatu penyakit, sedangkan
perbedaannya terletak pada topik penelitian, di mana penilitian Susanto
(2011) mengangkat tema penelitian tentang syndrome TURP pada pasien
BPH.
DAFTAR PUSTAKA
62
63
KEPADA
Yth. Bapak/Saudara
RSU PKU Muhammadiyah Sruweng
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Bisri Samsuri
NIM : A2. 1601426
adalah mahasiswa program studi sarjana Keperawatan Sekolah TGI Ilmu
Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Gombong, yang akan mengadakan
penelitian dengan judul ““Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Tingkat
Kejadian Benign Prostate Hyperplasia (BPH) Di RS PKU Muhammadiyah
Sruweng”.
Pada kesempatan ini saya mengajukan permohonan kepada
Bapak/Ibu/Saudara menjadi responden pada penelitian ini. Penelitian ini tidak
akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi Bapak/Ibu/Saudara. Kerahasiaan
informasi akan dijaga sepenuhnya. Apabila Bapak/Ibu/Saudara berkenan menjadi
responden penelitian ini, saya mohon Bapak/Saudara untuk menandatangani
lembar persetujuan ini.
Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Saudara sebagai responden saya
ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Bisri Samsuri
Peneliti
Lampiran 2
(Bisri Samsuri) ( )
Lampiran 3
No Responden:
Data Responden
1. Tanggal :
2. No. RM :
3. Usia :
4. Pendidikan :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. TGI Badan : ………m
8. Berat Badan : ………kg
9. BMI : ………kg/m2 (normal/obesitas*)
10. IPSS : BPH : IPSS Ringan/IPSS Sedang/IPSS Berat *)
Lembar Wawancara
“Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Tingkat Kejadian Benign
Prostate Hyperplasia (BPH) Di RS PKU Muhammadiyah Sruweng”
No Responden:
Data Responden
1. Apakah ada anggota keluarga Bapak/Saudara yang menderita BPH?
a. Ya
b. Tidak
No Responden:
Dalam 1 bulan terakhir, seberapa seingkah Anda: Skor
kadang (sekitar
Hampir selalu
< 1 setiap 5 x
Tidak pernah
> setengah
< setengah
Kadang-
50%)
1 Merasa masih ada sisa setelah BAK? 0 1 2 3 4 5
3 BAK terputus-putus? 0 1 2 3 4 5
Total Skor
Keterangan:
a. ringan: skor 0 – 7
b. sedang: skor 8 – 19
c. berat: skor 20 – 35
Lampiran 6 Data Responden
Crosstabs
N Percent N Percent N
Total
Percent
Crosstab
Kejadian BPH Total
RINGAN SEDANG BERAT
Count 7 5 1 13
<50 TAHUN
% within Usia 53,8% 38,5% 7,7% 100,0%
Usia
Count 2 9 12 23
> 50 TAHUN
% within Usia 8,7% 39,1% 52,2% 100,0%
Count 9 14 13 36
Total
% within Usia 25,0% 38,9% 36,1% 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cell (13,3%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,25.
Riwayat Keluarga * Kejadian BPH
Crosstab
Kejadian BPH
Count 8 5 2
TIDAK ADA RIWAYAT
% within Riwayat Keluarga 53,3% 33,3% 13,3%
Riwayat Keluarga
Count 1 9 11
ADA RIWAYAT
% within Riwayat Keluarga 4,8% 42,9% 52,4%
Count 9 14 13
Total
% within Riwayat Keluarga 25,0% 38,9% 36,1%
Total
Crosstab
Count 15
TIDAK ADA RIWAYAT
% within Riwayat Keluarga 100,0%
Riwayat Keluarga
Count 21
ADA RIWAYAT
% within Riwayat Keluarga 100,0%
Count 36
Total
% within Riwayat Keluarga 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,75.
Obesitas * Kejadian BPH
Crosstab
Kejadian BPH Total
RINGAN SEDANG BERAT
Count 4 7 3 14
TDK OBESITAS
% within Obesitas 28,6% 50,0% 21,4% 100,0%
Obesitas
Count 5 7 10 22
OBESITAS
% within Obesitas 22,7% 31,8% 45,5% 100,0%
Count 9 14 13 36
Total
% within Obesitas 25,0% 38,9% 36,1% 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,50.
Frekuensi Olahraga * Kejadian BPH
Crosstab
Count 5 8 3 16
FREK
% within Frekuensi 31,3% 50,0% 18,8% 100,0%
OLAHRAGA>3X
Frekuensi Olahraga
Olahraga Count 4 6 10 20
FREK < 3X % within Frekuensi 20,0% 30,0% 50,0% 100,0%
Olahraga
Count 9 14 13 36
Total % within Frekuensi 25,0% 38,9% 36,1% 100,0%
Olahraga
Chi-Square Tests
Count 7 10 4
FREK < 3X
% within frekuensi seksual 33,3% 47,6% 19,0%
frekuensi seksual
Count 2 4 9
FREK >3X
% within frekuensi seksual 13,3% 26,7% 60,0%
Count 9 14 13
Total
% within frekuensi seksual 25,0% 38,9% 36,1%
Crosstab
Total
Count 21
FREK < 3X
% within frekuensi seksual 100,0%
frekuensi seksual
Count 15
FREK >3X
% within frekuensi seksual 100,0%
Count 36
Total
% within frekuensi seksual 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,75.
pola makan TGI serat * Kejadian BPH
Crosstab
Kejadian BPH
RINGAN SEDANG
Count 6 4
FREK TGI
% within pola makan TGI serat 46,2% 30,8%
pola makan TGI serat
Count 3 10
FREK RDH
% within pola makan TGI serat 13,0% 43,5%
Count 9 14
Total
% within pola makan TGI serat 25,0% 38,9%
Crosstab
Kejadian Total
BPH
BERAT
Count 3 13
FREK TGI
% within pola makan TGI serat 23,1% 100,0%
pola makan TGI serat
Count 10 23
FREK RDH
% within pola makan TGI serat 43,5% 100,0%
Count 13 36
Total
% within pola makan TGI serat 36,1% 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (13,3%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,25.
merokok * Kejadian BPH
Crosstab
Kejadian BPH Total
RINGAN SEDANG BERAT
Count 7 11 4 22
< 12 BTG
% within merokok 31,8% 50,0% 18,2% 100,0%
Merokok
Count 2 3 9 14
> 12 BTG
% within merokok 14,3% 21,4% 64,3% 100,0%
Count 9 14 13 36
Total
% within merokok 25,0% 38,9% 36,1% 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,50.
konsumsi alkohol * Kejadian BPH
Crosstab
Kejadian BPH
RINGAN SEDANG
Count 7 9
TDK KONSUMSI ALKOHOL
% within konsumsi alkohol 30,4% 39,1%
konsumsi alkohol
Count 2 5
KONSUMSI ALKOHOL
% within konsumsi alkohol 15,4% 38,5%
Count 9 14
Total
% within konsumsi alkohol 25,0% 38,9%
Crosstab
Kejadian Total
BPH
BERAT
Count 7 23
TDK KONSUMSI ALKOHOL
% within konsumsi alkohol 30,4% 100,0%
konsumsi alkohol
Count 6 13
KONSUMSI ALKOHOL
% within konsumsi alkohol 46,2% 100,0%
Count 13 36
Total
% within konsumsi alkohol 36,1% 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (13,3%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 3,25.
Diabetes Mellitus * Kejadian BPH
Crosstab
Kejadian BPH
Count 7 6 3
TDK RIWAYAT DM
% within Diabetes Mellitus 43,8% 37,5% 18,8%
Diabetes Mellitus
Count 2 8 10
ADA RIWAYAT DM
% within Diabetes Mellitus 10,0% 40,0% 50,0%
Count 9 14 13
Total
% within Diabetes Mellitus 25,0% 38,9% 36,1%
Crosstab
Total
Count 16
TDK RIWAYAT DM
% within Diabetes Mellitus 100,0%
Diabetes Mellitus
Count 20
ADA RIWAYAT DM
% within Diabetes Mellitus 100,0%
Count 36
Total
% within Diabetes Mellitus 100,0%
Chi-Square Tests
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 4,00.
Regression
Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N
Correlations
Merokok 36 36
Diabetes Mellitus 36 36
Variables Entered/Removeda
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Coefficientsa