Rencana Aksi Nasional Adaptasi Iklim
Rencana Aksi Nasional Adaptasi Iklim
1 (Satu) Tahun
Rencana Aksi Nasional
Adaptasi Perubahan Iklim
2015
1
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
2
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Pengantar
Perubahan iklim telah telah menjadi isu penting tidak hanya di tingkat nasional namun
juga di tingkat daerah. Sebagai Negara kepulauan, Indonesia termasuk salah satu yang
paling rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Jika tidak ditangani dengan
baik, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi keberhasilan pembangunan sosial ekonomi
Indonesia. Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN API) disusun untuk
menjawab tantangan tersebut. Pada Februari 2014, RAN API diresmikan oleh BAPPENAS
sebagai salah satu alat harmonisasi dan operasionalisasi berbagai dokumen kebijakan
yang sudah ada.
i
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
ii
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Daftar Isi
Pengtantar ..................................................................................................... i
iii
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
4. Pengembangan Sistem Monitoring dan Evaluasi RAN API ................................... 14
4.1 Penyusunan Indikator RAN API ............................................................. 15
a. Indikator Ketahanan Pangan ............................................................ 15
b. Indikator Kemandirian Energi ........................................................... 16
c. Indikator Ketahanan Kesehatan ........................................................ 16
d. Indikator Ketahanan Ekosistem ........................................................ 17
e. Indikator Ketahanan Infrastruktur dan Perkotaan ................................ 17
f. Indikator Ketahanan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil .............................. 17
4.2 Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan ............................................... 18
Lampiran ........................................................................................................ 32
iv
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
1. Latar Belakang
1
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim sudah terjadi dan dirasakan
oleh masyarakat di seluruh dunia, yang memerlukan strategi, baik itu strategi jangka
pendek, menengah ataupun panjang. Hal tersebut dirasa perlu karena dampak perubahan
iklim diperkirakan akan meningkatkan kerugian ekonomi di kemudian hari. Di Indonesia,
dampak ekonomi dari perubahan iklim sangat besar walaupun masih sulit diperhitungkan
secara pasti. Penyusunan program aksi adaptasi perubahan iklim yang tertuang dalam
Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN API) bertujuan untuk menjamin atau
mengamankan pencapaian sasaran utama pembangunan serta meningkatkan ketahanan
(resilience) masyarakat, baik secara fisik maupun ekonomi dan sosial terhadap perubahan
iklim.
RAN API juga sudah merupakan dokumen perencanaan yang tersedia di berbagai
Kementrian/Lembaga yang memerlukan sinergi agar sasaran adaptasi dapat tercapai dan
ketahanan terhadap perubahan iklim dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, pengarusutamaan
isu adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan dan pembangunan nasional dan
daerah merupakan keniscayaan. Isu ini harus menjadi bagian yang terintegrasi dan tidak
terpisahkan dalam penyusunan rencana pembangunan nasional maupun sektoral yang
diturunkan dalam program-program rencana aksi yang terpadu dan berkesinambungan.
Penyusunan RAN API ini dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah rencana aksi nasional
untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, yang terkoordinir secara terpadu
dengan semua pemangku kepentingan yang terlibat, baik pemerintah, organisasi
kemasyarakatan, masyarakat dan swasta serta lainnya. Sedangkan tujuan dari adaptasi
perubahan iklim adalah terselenggaranya sistem pembangunan yang berkelanjutan dan
memiliki ketahanan yang tinggi terhadap dampak perubahan iklim.
Setahun setelah RAN API diterbitkan ada beberapa hal yang patut dicatat: 1) RAN API
telah menjadi salah satu studi kasus NAP yang dibahas dalam COP 20 di Lima, Peru; 2)
Beberapa daerah seperti Provinsi DKI Jakarta, Kota Blitar, serta Provinsi Sumatera Utara,
telah menjadikan RAN API sebagai rujukan dalam menyusun Rencana Aksi Daerah Perubahan
Iklim dan RPJMD; 3) RAN API juga telah diacu dalam penyusunan Rancangan Peraturan
Menteri KLHK tentang Adaptasi Perubahan Iklim; 4) Donor dan mitra pembangunan juga
telah menggunakan RAN API dalam menyusun rencana kegiatan mereka.
Sesuai dengan dokumen RAN API , terdapat 5 (lima) bidang ketahanan yang perlu
diperhatikan dalam proses perencanaan dan pembangunan, sebagai berikut:
1. Bidang Ketahanan Ekonomi
a. Sub-bidang Ketahanan Pangan
b. Sub-bidang Kemandirian Energi
2. Bidang Ketahanan Sistem Kehidupan
a. Sub-bidang Kesehatan
2
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
b. Sub-bidang Pemukiman
c. Sub-bidang Infrastruktur
3. Bidang Ketahanan Ekosistem
4. Bidang Ketahanan Wilayah Khusus
a. Sub-bidang Perkotaan
b. Sub-bidang Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
5. Bidang Pendukung Yang Memadai
Mengingat sumber daya dan kapasitas Pemerintah Daerah yang terbatas, maka Pemerintah
berinisiatif untuk melakukan kegiatan percontohan adaptasi perubahan iklim pada
daerah yang rentan berdasarkan RAN API. Pemilihan daerah percontohan ini dilakukan
berdasarkan pemetaan kajian kerentanan yang telah dilakukan oleh berbagai Kementrian/
Lembaga, Mitra Pembangunan dan Civil Society Organization yang bekerja sama dengan
pemerintah daerah. Lokasi percontohan tersebut terdiri atas 6 provinsi yaitu Sumatera
Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat serta 7
kota yaitu Bandar Lampung, Pekalongan, Semarang, Blitar, Malang, Batu dan Tarakan serta
Kabupaten Malang.
3
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
2. Integrasi RAN API
ke Dalam Perencanaan
Pembangunan
4
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
2.1 RAN API dalam RPJMN 2014-2019
Pada 8 Januari 2015, Presiden Republik Indonesia telah menetapkan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah 2014–2019 dengan visi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri
dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Berdasarkan 9 Agenda Prioritas (Nawa
Cita), Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim termasuk ke dalam misi ke-7 yaitu
mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi
domestik. Agenda prioritas tersebut berisi (a) peningkatan kedaulatan pangan, (b)
kedaulatan energi, (c) pelestarian sumber daya alam, lingkungan hidup dan pengelolaan
bencana, (d) pengembangan ekonomi maritim dan kelautan, (e) penguatan sektor
keuangan dan (f) penguatan kapasitas fiskal.
Dalam Buku I dokumen RPJMN 2015–2019, terutama pada Bab 6 tentang Agenda
Pembangunan Nasional, arah kebijakan dan strategi untuk mencapai sasaran dalam
penanganan perubahan iklim terdiri dari (a) mendorong pemerintah daerah menyusun
strategi/rencana aksi adaptasi berdasarkan dokumen RAN API dan kajian kerentanan
daerah, (b) melaksanakan upaya adaptasi berdasarkan dokumen RAN API terutama di
15 daerah rentan dan (c) meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat terkait
dengan perubahan iklim.
Secara Nasional, RAN API akan berada di bawah Tim Koordinasi Penanganan Perubahan
Iklim, khususnya Kelompok Kerja Adaptasi, yang dibentuk berdasarkan SK Menteri
PPN/Bappenas No Kep 38/[Link]/HK/03/2012 tentang pembentukan Tim Koordinasi
Penanganan Perubahan Iklim. Kelompok Kerja ini bertanggung jawab dalam sinkronisasi
rencana maupun implementasi program dan kegiatan terkait dengan adaptasi perubahan
iklim sehingga mempunyai fokus dan lokus yang lebih terarah.
Untuk pelaksanaan adaptasi perubahan iklim di daerah perlu disusun strategi adaptasi
daerah di tingkat provinsi yang penyusunannya merupakan tanggung jawab masing-
masing daerah melalui koordinasi dengan Kementrian Dalam Negeri. Strategi Adaptasi
Daerah disusun dengan melibatkan dinas teknis terkait dan sesuai dengan prioritas
pembangunan daerah berdasarkan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) dan masyarakat. Adapun pengaturan kewenangan pemerintahan pada level daerah,
baik provinsi maupun kabupaten/kota mengacu pada UU No 32 tahun 2004 dan PP 38
Tahun 2007. Penyusunan program dan rencana aksi adaptasi dalam beberapa bidang perlu
diselaraskan dengan pengaturan kewenangan sebagaimana dalam PP 38 tahun 2007.
5
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
6
2.2 Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2015
7
2.3 Pendanaan untuk RAN API
Dalam pelaksanaan RAN API, kementerian dan lembaga terkait seperti Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,
Kementerian Pertanian Pertanian, dan K/L teknis terkait telah mengimplementasikan
RAN API melalui mekanisme transfer dana dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan.
Selain itu juga ada beberapa kegiatan di area percontohan RAN API yang didukung
mitra pembangunan seperti JICA, ADB, UNDP atau Mercy Corps Indonesia. Sebagian
kegiatan adaptasi perubahan iklim yang dilaksanakan daerah menggunakan dana APBD.
Sesungguhnya masih banyak kegiatan adaptasi lain yang telah dilakukan oleh masyarakat
dan swasta yang tidak terdaftar dalam RAN API, dana yang mereka gunakan mungkin lebih
besar dari dana pemerintah. Sebagai contoh, dana yang digunakan masyarakat dan swasta
untuk menangulangi banjir tahun 2014 sudah lebih dari 5 triliun rupiah (Sumber: BNPB).
Jumlah dana keseluruhan yang digunakan untuk adaptasi belum dapat dihitung karena
belum ada batas yang jelas antara kegiatan rutin yang sudah ada dan kegiatan yang
khusus adaptasi, selain itu belum semua kegiatan adaptasi dilaporkan ke Pemerintah.
8
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
3. Sosialisasi RAN API
dan Lokakarya Daerah
Percontohan
9
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Implementasi RAN API dimulai dengan kegiatan “Sosialisasi RAN API” ke daerah,
dimaksudkan untuk memberikan pemahaman ke pemerintah daerah mengenai aksi-aksi
adaptasi perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional. Sedangkan kegiatan
“Lokakarya Daerah Percontohan RAN API” dimaksudkan sebagai pertemuan awal
rencana dan strategi implementasi RAN API 2015-2019.
10
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
perubahan iklim terutama untuk adaptasi perubahan iklim. Pada kesempatan tersebut,
Sekretariat RAN API juga menyampaikan kerangka implementasi RAN API untuk tahun
2014. Sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut menyampaikan
skema SIDIK.
Gambar 3. Suasana diskusi pada Saat Sosialisasi RAN API di Kota Malang 11
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
3.4 Sosialiasi RAN API di provinsi percontohan, Surabaya 17
November 2014
Sosialisasi RAN API dilaksanakan bersamaan dengan Diskusi Terarah Provinsi Jawa Timur
dalam merespon perubahan iklim. Pada acara tersebut, Sekretariat RAN API mewakili
Bappenas menyampaikan posisi RAN API dalam RPJMN 2015-2019 serta strategi dan
kerangka kerja RAN API itu sendiri. Dalam kesempatan ini, Badan Perencanaan dan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur menyampaikan paparan mengenai respon
RPJMD dan kesiapan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap kegiatan adaptasi perubahan
iklim. Selain itu, paparan dari BMKG di Surabaya, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur,
Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mengenai peran sertanya
dalam merespon perubahan iklim. Kegiatan sosialisasi ini mendapat dukungan pendanaan
dari Japan Intenational Coperation Agency (JICA).
12
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
3.6 Lokakarya Daerah Percontohan RAN API di Jakarta, 26 – 27
Februari 2015
Pelaksanaan lokakarya daerah percontohan RAN API dimaksudkan untuk mendorong
implementasi RAN API di 15 daerah percontohan yang telah ditentukan. Kegiatan ini
dibuka oleh Deputi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas yang dihadiri oleh
13 perwakilan daerah percontohan yaitu 6 provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Selatan,
Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat), 6 kota (Bandar Lampung, Pekalongan,
Semarang, Malang, Batu, Blitar, Tarakan) dan Kabupaten Malang. Pokok-pokok arahan yang
disampaikan antara lain (a) integrasi aksi adaptasi dalam RPJMD dan Renstra SKPD; (b)
Sinergi kegiatan yang dilaksanakan oleh kementerian/lembaga di lokasi daerah percontohan
RAN API; (c) Koordinasi implementasi kegiatan adaptasi di 15 daerah percontohan (pusat
– daerah dan antar daerah, serta mendukung peningkatan kapasitas, transfer teknologi
dan dukungan pendanaan; dan (d) Fasilitasi pelaksanaan kajian kerentanan di daerah
lain serta penyusunan strategi adaptasi perubahan iklim di daerah. Agenda pada hari
pertama dilanjutkan dengan presentasi dari Kementerian PPN/Bappenas, BNPB, BMKG,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian
Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada hari kedua, masing-masing perwakilan
13 daerah percontohan yang hadir menyampaikan program kerja yang sudah dilaksanakan,
yang sedang berjalan dan yang direncanakan untuk kemudian disinkronkan dengan
program dan kegiatan K/L.
Gambar 5. Deputi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas yang didampingi oleh
Direktur Lingkungan Hidup sedang Menyampaikan Arahan pada Acara Pembukaan Lokakarya
Daerah Percontohan RAN API
13
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
4. Pengembangan Sistem
Monitoring dan
Evaluasi RAN API
14
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Untuk memastikan pencapaian target dan sasaran RAN API ini perlu ada proses monitoring,
evaluasi dan pelaporan yang jelas dan terintegrasi mengingat aksi adaptasi perubahan
iklim merupakan program dan kegiatan yang dilakukan secara lintas sektoral. Dalam
hal ini, proses monitoring pelaksanaan kegiatan RAN API dilakukan oleh K/L terkait
namun secara berkala dilaporkan kepada Kementerian PPN/Bappenas. Dalam dokumen
RAN API, belum terdapat penjelasan sistem monitoring dan evaluasi (monev) yang akan
digunakan, sehingga dalam usaha penyempurnaan dokumen tersebut telah dimulai upaya
pengembangan Kerangka Kerja Monev RAN API. Pentingnya pengembangan kerangka
tersebut adalah untuk memastikan tercapainya tujuan utama RAN API, yaitu berkurangnya
dampak negatif dari perubahan ikim dan meningkatnya resiliensi sistem sosial ekonomi
dan ekologis terhadap perubahan iklim. Seperti yang diketahui faktor utama resiliensi iklim
adalah kemampuan absortif, adaptif dan transformatif. Kemampuan absortif ditentukan
oleh tingkat kerentanan suatu sistem, sedangkan kemampuan adaptif dan transformatif
ditentukan oleh kemampuan sistem untuk mengelola dirinya sendiri dengan potensi yang
dimiliki.
Dalam pengembangan sistem tersebut, metode yang rekomendasikan adalah result base
monitoring and evaluation yang perlu diterjemahkan ke dalam sebuah result chain yang
komprehensif, kemudian dilakukan penentuan indikator atau indeks yang akan digunakan.
Dalam rangka mengembangkan sistem monev RAN API ini, Sekretariat RAN API sedang
melakukan penyusunan indikator bidang RAN API dengan melibatkan tim ahli dan
pemangku kepentingan yang lain.
15
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
a. Indikator Ketahanan Pangan
Indikator untuk mengukur ketahanan pangan adalah:
1. Ketersediaan pangan, terdiri atas (a) jumlah produksi dan produktivitas, (b)
diversifikasi tanaman pangan, (c) luasan lahan gagal panen, (d) jumlah penduduk
rawan pangan per tahun, (e) tingkat ketersediaan cadangan pangan dan (f)
tersedianya infrastruktur, teknologi dan kelembagaan pasca panen.
2. Akses Pangan dan Penghidupan, terdiri atas (a) persentase penduduk hidup di
bawah garis kemiskinan, (b) jumlah dan kualitas sarana dan pra sarana yang
mendukung kelancaran distribusi pangan, (c) jumlah kelembagaan distribusi
pangan masyarakat, (d) PDB/PDRB Perikanan dan Pertanian serta (e) Harga bahan
pangan utama.
3. Pemanfaatan pangan, terdiri atas (a) prevalensi balita dengan berat badan rendah
dan gizi buruk, (b) persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih dan (c)
konsumsi pangan per kapita
16
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
dengan kesiapan pelayanan kesehatan tingkat pertama, (b) persentase kabupaten/
kota dengan akses pelayanan kesehatan tingkat lanjutan dan (c) persentase
ketersediaan vaksin dan obat di seluruh fasilitas farmasi kabupaten
5. Indikator kesehatan lingkungan yaitu presentase kabupaten/kota yang memenuhi
syarat kesehatan lingkungan
6. Penguatan sistem kewaspadaan dan pemanfaatan sistem peringatan dini, terdiri
atas (a) jumlah provinsi yang menggunakan sistem peringatan dini, (b) jumlah
desa yang mengembangkan Participatory Adaptation Climate Change Transformation
dalam menyusun rencana aksi adaptasi masyarakat untuk bidang kesehatan dan
(c) Tersedianya peta kerentanan iklim bidang kesehatan tingkat nasional
7. Regulasi, kapasitas kelembagaan dan IPTEK, terdiri atas (a) adanya kebijakan di
tingkat kabupaten dan provinsi yang berorientasi pada adaptasi perubahan iklim
di bidang kesehatan dan (b) jumlah produk/penelitian bidang kesehatan terkait
perubahan iklim
17
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
2. Indikator Peningkatan pengelolaan SDKP secara berkelanjutan, terdiri atas (a)
Jumlah pulau kecil dan luasan kawasan yang terfasilitasi rehabilitasi ekosistem
dan (b) Tersedianya peta kerentanan perubahan iklim untuk wilayah pesisir dan
pulau kecil
Keunggulan SIDIK adalah pendekatannya yang bebasis wilayah, dalam hal ini resiliensi
dilihat dengan basis kewilayahan sehingga sebaiknya tidak dilihat secara sektoral.
Meskipun RAN API disusun secara sektoral dengan kelima bidang utamanya, namun tujuan
utamanya adalah peningkatan resiliensi yang memerlukan informasi berbasis wilayah;
jadi SIDIK sangat berguna untuk proses monitoring dan evaluasi RAN API. Jika SIDIK
menggunakan indikator yang tepat dan data yang akurat, maka analisa kerentanan ini
akan menjadi tools yang sangat efektif. Mengingat hal tersebut, rencana Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membuat penyempurnaan SIDIK patut didukung
oleh berbagai pihak. Dalam menjalankan SIDIK Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan memerlukan kerja sama dengan BPS, BNPB, BIG, BMKG dan juga kementerian/
lembaga sektoral terkait.
18
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
5. Gambaran Umum
Daerah Percontohan
19
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
5.1 Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi penghasil beras terbesar ke-5 di Indonesia.
Menghadapi iklim ekstrim, Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Instruksi
Presiden Nomor 5 tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam
Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim. Untuk kepentingan strategis ini, Gubernur Sumatera
Utara menerbitkan Instruksi Gubernur tentang Adaptasi Iklim Ekstrim sebagai upaya
pengamanan produksi beras di Sumatera Utara tahun 2012–2020. Sebagai pelaksana
program di tingkat Provinsi Sumatera Utara, Dinas Pertanian menerapkan strategi dalam
rangka implementasi program adaptasi iklim ekstrim sebagai upaya pengamanan produksi
beras di Sumatera Utara.
Sasaran Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim di Sumatera Utara adalah (a) meningkatkan
produksi beras sebesar 3-5% per tahun, (b) mempertahankan status swasembada beras,
(c) meningkatkan indeks pertanian (IP) padi, (d) meningkatkan luas lahan dan luas tanam
dan (e) meningkatkan pendapatan petani. Sasaran program tersebut telah diturunkan
dalam induk program aksi adaptasi dan institusi pelaksana program sebanyak 22 program
dengan melibatkan dinas terkait maupun instansi vertikal seperti BMKG, BPTP, Bappeda,
Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, PU Pengairan (PSDA), Bakorluh, PT Pertani dan
kelompok masyarakat petani. Proses pemantauan evaluasi tersebut telah disusun dalam
bentuk laporan Implementasi Adaptasi Iklim Ekstrem sebagai upaya pengamanan produksi
beras di Sumatera Utara tahun 2010-2020 dengan mendapat pendampingan dari Japan
International Coperation Agency (JICA).
Berdasarkan pada bidang dalam RAN API, Sumatera Selatan mengusulkan usulan strategis
di bidang (a) ketahanan pangan berupa peningkatan produksi pertanian pasang surut
dan asuransi pertanian terutama di daerah pasang surut, (b) bidang ketahanan ekosistem
melalui keberlanjutan ketersediaan air, konservasi ekosistem serta keanekaragaman hayati
pesisir dan gambut, (c) bidang wilayah khusus dalam penataan ruang di kabupaten dan
kota pesisir, (d) bidang sistem kehidupan difokuskan ke wilayah pesisir dan (e) sistem
pendukung melalui penguatan informasi iklim dan PEP.
20
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
5.3 Provinsi Jawa Barat
Provinsi ini memiliki banyak kajian adaptasi di tingkat kabupaten/kota melalui berbagai
kerja sama dengan berbagai pihak (kerjasama KLH, ABD dan CCROM IPB), yaitu Kabupaten
Indramayu (2013), Kabupaten dan Kota Cirebon (2012), Kota Bandung, Kabupaten
Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi,
Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta. Selain itu ada beberapa kajian detail
terkait perubahan iklim seperti desa model adaptasi terhadap kenaikan muka air laut di
Pondok Bali, Kabupaten Subang.
Kegiatan pemerintah daerah dalam merespon dampak perubahan iklim telah tercermin
program dan kegiatan di SKPD yang ada, didukung dengan adanya tim koordinasi mitigasi
dan adaptasi perubahan iklim. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan melalui dukungan
APBD provinsi tahun 2015 adalah (a) kegiatan-kegiatan di bidang RAN API, (b) Penyusunan
Rencana Induk Adaptasi Perubahan Iklim di Jawa Barat dan (c) Fasilitasi dan Koordinasi
Mitigasi dan Adaptasi Perubahan iklim di OPD Pokja RAD GRK Jawa Barat.
Beberapa kegiatan di tahun 2015 terkait adaptasi perubahan iklim adalah (a) identifikasi
kerentanan/resiko dan upaya adaptasi perubahan iklim di Jawa Timur dan (b) Kajian
Dampak akibat adanya kebakaran hutan di wilayah Bromo Tengger dan Semeru dalam
upaya mendukung adaptasi perubahan iklim. Selain itu , mitra pembangunan seperti JICA,
Ministry of Environment Jepang serta APIK Program dari USAID telah melakukan diskusi
terarah pada tahun 2014 untuk implementasi tahun 2015 dan selanjutnya.
21
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
iklim di Bali. Sensitivitas digambarkan sebagai lokasi pertanaman padi. Kapasitas adaptasi
disetimasi dengan model regresi faktor-faktor sosial terkait produksi padi. Peta akhir
tersebut telah berhasil mengindikasikan daerah-daerah yang rentan terhadap penurunan
produksi padi karena perubahan iklim yaitu wilayah-wilayah di bagian timur laut, tengah,
barat dan Tabahan.
Hasil kajian ini dapat digunakan untuk pelaksanaan kebijakan seperti pelatihan pertanian,
karena dengan pelatihan pertanian dapat meningkatkan produksi padi lebih dari 4 kg
per are pembuat keputusan dapat meningkatkan kapasitas adaptasi petani padi dengan
memperkuat program pelatihan pertanian yang telah berkurang. Disamping itu hasil
kajian kapasitas adaptasi perubahan iklim akan digunakan untuk mengkaji kerentanan
produksi padi. Kajian ini memerlukan dua komponen lagi yaitu keterpaparan terhadap
dampak iklim dan sensitivitas terhadap dampak perubahan iklim. Untuk memanfaatkan
kajian kerentanan ini pada masa yang akan datang diperlukan kajian berkelanjutan dan
keterlibatan stakeholder. Pada umumnya petani yang kurang mampu harus mendapat
perhatian yang lebih banyak pada kajian kerentanan karena dari hasil yang diperoleh
mengindikasikan bahwa mereka rentan terhadap iklim terkini dan bahwa efek buruk
perubahan iklim akan menyebabkan mereka lebih menderita. Menyediakan informasi
iklim secara benar kepada petani dan mengembangkan peta kerentanan yang disesuaikan
dengan kebutuhan pengguna yang akan membantu untuk mendukung petani dan pembuat
keputusan dengan menyediakan informasi kerentanan yang komprehensif merupakan suatu
hal penting yang perlu dilakukan.
Beberapa program terobosan yang mendukung adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
yang sudah dimulai tahun 2008 adalah (a) Gerakan NTB Hijau yaitu sekolah hijau, hutan
cadangan energi dan ketahanan pangan dalam kawasan hutan, (b) Gerakan Permata yaitu
PER-lindungan MATA Air khususnya pada kawasan-kawasan yang terdapata sumber mata
air yang perlu dilindungi, (c) Pembentukan Desa Mandiri Energi dan (d) Gerakan Ruang
Hijau yaitu RUANG Hunian Ideal yang dibentuk dengan Jalan mantap, Air lestari dan
Utilitas yang memadai.
22
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
5.7 Kota Bandar Lampung
Kota Bandar Lampung merupakan ibu kota dari Provinsi Lampung dengan luas area berkisar
169,21 km2. Jumlah penduudk Kota Bandar Lampung di tahun 2013 mencapai nilai
7.596.115 jiwa yang tersebar di 13 kecamatan dan 98 kelurahan. Tim Kota Bandar Lampung,
dibawah skema Program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN) – Mercy
Corp Indonesia, sudah menyelesaikan kajian kerentanan dan risiko iklim serta perumusan
strategi ketahanan kota sejak 2010. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, dampak
perubahan iklim yang teridentifikasi sudah dan akan secara lebih parah dirasakan oleh kota
ini adalah banjir berulang, abrasi pantai dan peningkatan ketinggian permukaan air laut.
Melalui skema Program ACCCRN pula, Kota Bandar Lampung telah menerima pendanaan
untuk peningkatan kapasitas untuk implementasi beberapa proyek yang diturunkan dari
hasil kajian dan strategi yang dirumuskan. Pada pertenganan tahun 2014 lalu, Kota
Bandar Lampung baru saja melaksanakan diseminasi akhir proyek biopori yang terbilang
cukup berhasil melihat penerimaan warga yang cukup baik untuk melanjutkan kegiatan
serupa serta dukungan penuh dari pemerintah setempat untuk melakukan replikasi. Selain
itu, di tahun 2014 pula Kota Bandar Lampung juga melaksanakan studi Trash to Cash
yang terfokus pada studi kelayakan pengelolaan sampah melalui bank sampah agar dapat
menjadi barang yang bernilai ekonomis sekaligus mendukung konsep 3R (Reduce, Reuse
dan Recycle). Saat ini kota Bandar Lampung masih menjalankan proyek edukasi yang
berupaya menyisipkan materi perubahan iklim pada jenjang pendidikan sekolah dasar
dan sekolah menengah pertama di sekolah-sekolah terpilih di Kota Bandar Lampung.
Melalui kerja sama dengan Program ACCCRN, Kota Bandar Lampung akan terus memperkuat
kelembagaan agar dapat melakukan kaji ulang dan mengembangkan kajian kerentanan dan
risiko iklim serta merumuskan strategi ketahanan kotanya secara berkelanjutan.
23
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Sebagai salah satu daerah pesisir, Kota Pekalongan rentan pada banjor rob yang berdampak
juga pada produktivitas perikanan, pertanian dan terganngunya ekosistem mangrove.
Dalam rangka mendukung upaya pemerintah Kota Pekalongan dalam pengelolaan dan
Budidaya Perikanan yang Adaptif untuk Meningkatkan mata Pencaharian Masyarakat
Pesisir Kota Pekalongan. Kegiatan ini sejalan dengan strategi Terpadu Perubahan Iklim
Kota (ICCS) unttuk peningkatan ruang terbuka hijau dan taman kota untuk pengembangan
wisata mangrove dan gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon. Kegiatan ini sekaligus
mendukung pengembangan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove Kota Pekalongan
(PRPM) yang sudah lebih dulu ada. Proyek ini fokus terhadap alternatif media tanam
mangrove menggunakan bronjong bambu dengan pengenalan mata pencaharian yang
berkelanjutan lewat perikanan yang tahan rob dan banjir.
Semarang, di bawah kerangka kerja sama Program ACCCRN dari Mercy Corps Indonesia,
sudah menyelesaikan kajian kerentanan dan risiko iklimnya pada tahun 2010. Berdasarkan
hasil kajian kerentanan dan risiko iklim yang dilakukan, dampak perubahan iklim yang
saat ini dan diproyeksikan kedepannya akan dirasakan oleh Kota Semarang antara
lain badai, abrasi pantai, banjir yang terdiri atas banjir rob maupun banjir bandang,
kekeringan dan keterbatasan air bersih, penyakit bawaan iklim serta peningkatan tinggi
muka air laut yang diperparah dengan adanya pengamblasan tanah. Semenjak tahun 2010,
lewat skema pembiayaan dari Program ACCCRN dari Mercy Corps Indonesia, Kota Semarang
sudah melakukan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas dan implementasi beberapa
proyek percontohan yang diturunkan dari dokumen strategi ketahanan kotanya. Proyek-
proyek percontohan itu antara lain flood forecasting, early warning system and community
preparedness, studi kelayakan untuk ekspansi sistem pemanenan air hujan, rehabilitasi
mangrove dan pengembangan kegiatan perekonomian alternatif komunitas pesisir, dan
sistem informasi dan peringatan dini kesehatan untuk Dengue. Melalui Prgram ACCCRN,
Mercy Corps Indonesia akan terus memperkuat kelembagaan di Kota Semarang untuk dapat
mengkaji ulang dan mengembangkan kajian kerentanan dan strategi ketahanan kotanya
secara berkelanjutan. Saat ini Kota Semarang sudah memiliki Initiative for Urban Climate
Change and Environment (IUCCE) yang dibangun dari keberadaan Tim Kota ACCCRN, sebagai
lembaga think tank untuk membantu pemerintah kota untuk hal tersebut.
24
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
5.10 Kota Blitar
Kota Blitar terletak di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk 132.000 jiwa. Luas
wilayah dari Kota 32,58 km2 dan terbagi atas 21 Kelurahan. Sejak tahun 2010, Kota Blitar
sudah mengikuti kegiatan pelatihan dan workshop penyusunan kajian kerentanan dan
risiko iklim serta pelatihan penyusunan strategi ketahanan kota yang diselenggarakan
oleh Program ACCCRN – Mercy Corps Indonesia bekerja sama dengan APEKSI. Blitar telah
menyelesaikan kajian keretanan dan risiko iklimnya dan berdasarkan kajian tersebut,
dampak perubahan iklim yang dominan dirasakan di Kota Blitar adalah penyakit bawaan
iklim, penurunan produktivitas pertanian dikarenakan pola musim hujan yang berubah
serta genangan dan/atau banjir. Kota Bitar sudah menyelesaikan strategi ketahanan
kotanya dalam bentuk strategi terintegrasi antara adaptasi dan mitigasi, atau lebih
dikenal dengan istilah Integrated Climate Change Strategy (ICCS) dengan mengadopsi
pendekatan yang dikembangkan oleh GIZ dan kemudian diperkuat dengan pendekatan dan
metodologi perumusan kajian kerentanan dan risiko iklim serta strategi ketahanan kota
yang dikembangkan oleh Program ACCCRN.
Dampak nyata yang telah dirasakan oleh kota ini adalah penurunan produktivitas
buah belimbing yang merupakan salah satu komoditas utama hingga sampai hamper
50% (berdasarkan data tahun 2013). Perubahan iklim berdampak pada makin sulitnya
memprediksi pergantian musim dan berpengaruh pada manajemen air setempat.
Pertimbangan tersebut menjadi dasar pelaksanaan proyek “Peningkatan Pendapatan
Masyarakat Kelurahan Karangsari Melalui Peningkatan Produktivitas Buah Belimbing”.
Kota Malang, dengan bantuan dari KLH telah melakukan Kajian Risiko dan Adaptasi
Perubahan Iklim (KRAPI) di tahun 2012. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan
terhadap tiga sektor utama, yaitu pengelolaan air, kesehatan dan pertanian, Untuk sektor
pengelolaan air, Kota ,malang memiliki tingkat risiko banjir yang cukup tinggi dikarenakan
merupakan area bantaran dari lima aliran sungai.
Pada saat kajian dilakukan, 18,87% dari kawasan Kota Malang memiliki tingkat risiko banjir
yang sangat tinggi, nilai ini diproyeksikan dapat meningkat hingga 80,23% sekiranya
tidak dilakukan upaya signifikan dalam penanggulangan bajir. Disamping itu permasalahan
laten terkait sistem drainase dan jaringan penyediaan air bersih juga menjadi salah satu
tantangan di sektor pengelolaan air di kota ini. Permasalahan ketersediaan air bersih
juga menjadi tantangan yang dihadapi kawasan Malang Raya pada umumnya dan kota
25
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Malang pada khususnya dimana telah terjadi penurunan jumlah mata air dari 800 titik
menjadi hanya tingal 450 titik di wilayah ini di tahun 2011. Dalam upaya konservasi
sumber daya air, pemerintah daerah setempat harus mempertimbangkan kapasitas dari
DAS Brantas dimana upaya pembangunan harus menjadikan kondisi rill dan tantangan
yang dihadapi kawasan DAS Brantas sebagai pertimbangan utamanya. Sementara itu
di sektor kesehatan, keberadaan kawasan pemukiman kumuh dengan fasilitas sanitasi
yang minim di sepanjang bantaran sungai meningkatkan tingkat risiko penyakit bawaan
air mengingat tingginya potensi banjir di kawasan ini. Pemilihan lokasi dari fasilitas
kesehatan yang mumpuni perlu dipertimbangkan secara cermat agar cakupannya dapat
memfasilitasi kebutuhan seluruh kawasan. Isu lain yang terkait di kawasan Malang Raya,
dan khusunya di Kota Malang adalah masih minimnya perhatian terhadap relasi antara
perubahan (variabilitas) iklim terhadap insidensi penyakit demam berdarah, malaria
dan diare, meskipun kasus yang terjadi cukup tinggi. Kondisi baseline kajian tersebut
menjadi dasar dalam perumusan rencana aksi adaptasi bagi Kota Malang khususnya untuk
penanganan banjir, longsor, kekeringan dan dampak perubahan iklim di sektor kesehatan.
Sementara itu di sektor agrikultur, keberadaan lahan pertanian mengalami kompetisi yang
cukup tinggi dengan peruntukan lahan lainnya, seperti pemukiman. RTRW yang berlaku
saat ini sudah menunjukan upaya membatasi alih konversi lahan pertanian, khususnya di
Bakalan Krajan, untuk dapat diperuntukan sebagai lahan pertanian organik.
Sama halnya dengan Kota Malang, Kota Batu juga sudah melakukan kajian KRAPI,lewat
dukungan KLH di tahun 2012. Kajian KRAPI yang dilakukan uni mencakup kawasan Malang
Raya yang terdiri atas kawasan administrtif Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten
Malang. Berdasarkan kajian dampak iklim yang dilakukan terhadap tiga sektor utama,
yaitu pengelolaan air, kesehatan dan agrikultur, di sektor pengendalian air bahaya iklim
utama yang dihadapi kota ini adalah longsor dan banjir. Konservasi kawasan hutan
dirasa dapat menjadi upaya untuk mengurangi risiko longsor, disamping keberadaanya
yang juga dapat bermanfaat sebagai daerah tangkapan air bagi DAS Brantas. Sementara
itu untuk menanggulangi permasalahan banjir, sistem drainase dan jaringan air bersih
dipercaya perlu ditingkatkan kapasitas dan kualitas pelayananya. Sementara itu di sekor
kesehatan, sama halnya dengan Kota Malang, keberadaan kawasan kumuh dengan fasilitas
sanitasi kurang layak di bantaran sungai menjadi permasalahan utama yang harus segera
diatasi karena berpotensi meningkatkan risiko insidensi penyakit bawaan air ketika banjir
26
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
terjadi. Peningkatan akses yang merata terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang
memadai juga perlu diperhatikan oleh Pemerindah Daerah Kota Batu untuk mengurangi
dampak perubahan iklim di sektor kesehatan. Di sektor agrikultur sendiri, Kota Batu
sedianya memang dirancang sebagai pusat lumbung padi kawasan Jawa Timur dengan
pengembangannya mencoba mengadopsi pendekatan agroplitan. Namun demikian, sektro
agrikultur di kota ini menghadapi tantangan kompetisi lahan dengan aktivitas pariwisata,
sementara itu di sisi lain produktivitas buah apel, yang merupakan komoditas utama
kota ini, juga mengalami penurunan. Kajian lebih lanjut perlu dilakukan terkait dampak
perubahan iklim bagi lahan persawahan dan perkenbunan jagung sebagai dasar ilmiah
yang cukup kuat dalam merumuskan strategi adaptasi sektor agrikultur di kawasan ini.
Dalam isu sumber daya air, hulu Sungai Brantas memiilki peran yang besar dalam menjaga
ketersediaan kapasitas air di hilirnya. Permasalahannya adalah pembangunan kawasan
perkotaan di hulu ini akan mengakibatkan terjadinya perubahan peruntukan lahan yang
akan berdampak terhadap ketersediaan air. Perubahan peruntukan lahan akan mengurangi
daerah tangkapan air dan ketersediaan air tanah. Selain kebutuhan air yang meningkat
pembangunan kawasan perkotaan tersebut juga akan mempengaruhi sektor pertanian,
ekonomi dan kesehatan. Terkait dengan isu pertanian di Kabupaten Malang, seperti
diketahui merupakan pemberi kontribusi terbesar terhadap PDRB dan menjadi sumber
penghidupan utama masyarakat. Bagaimanapun, produktivitas pada sektor ini sangat
bergantung kepada kondisi iklim yang kemudian menjadi isu kunci terhadap hubungannya
dengan perubahan iklim, intensitas hujan yang menyebabkan banjir pada lahan pertanian,
perubahan pola musim, dan ketersediaan sumber air bagi lahan semakin menurun. Di sektor
27
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
kesehatan yang terdampak karena perubahan iklim, pada dasarnya variasi iklim, naiknya
temperatur dan kelembaban diyakini menjadi penyebab atas beberapa kasus penyakit.
Dalam hal ini seperti demam berdarah, malaria, dan diare. Status pada sektor kesehatan di
Kabupaten Malang khususnya dan Malang Raya pada umumnya, dapat meningkatkan atau
menurunkan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim.
Berdasarkan kajian Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Kelurahan Selumit Pantai merupakan
zona merah sarang nyamuk Aedes Aegipty dimana 92,45% total kawasan tidak bebas
jentik. Kerentanan terhadap sumber penyakit tropis ini tidak lepas dari dampak
perubahan iklim. Berdasarkan pertimbangan tersebut, bersama Program ACCCRN, Kota
Tarakan melaksanakan kegiatan “Topi Anti DBD (TAD) Pada Penampungan Air Sebagai
Upaya Preventif Pengendalian Vektor DBD di Kawasan Pemukiman Pesisir”. Kegiatan yang
dilaksanakan hingga pertengahan 2015 ini akan menjadi langkah preventif yang penting
karena peningkatan temperatur udara dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan
vector DBD dan kegiatan ini berkesesuaian pula dengan strategi adaptasi dokumen KRAPI
untuk sektor kesehatan. Fokus kegiatan ini adalah memberikan infrastruktur alternatif
untuk mendukung pengendalian vektor penular DBD, yaitu dengan alat Topi Anti DBD
yang berupa semacam penyaring atau penutup tendon air. Kelurahan Selumit Pantai
sendiri merupakan salah satu daerah yang mengalami kesulitan air bersih sehingga
hampir seluruh warga memiliki tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang
nyamuk. Dengan dilakukannya kegiatan ini, diharapkan dampak jangka panjangnya adalah
dapat menurunkan angka kejadian penyakit DBD sebagai salah satu bentuk ketahanan
masharakat dalam mengadapi bahaya perubahan iklim di sektor kesehatan.
28
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
6. Penutup dan
Tindak Lanjut
29
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
6.1 Tindak Lanjut
Setahun setelah diterbitkan, RAN API masih memiliki beberapa tantangan yang perlu
ditindak lanjuti. Masalah utama adalah korodinasi antar K/L dan koordinasi dengan
daerah, saat ini terdapat cukup banyak institusi yang memiliki inisiatif untuk melakukan
kegiatan adaptasi namun masih kurang terkoordinasi. Selain itu ada tantangan dalam
pengarusutamaan API dalam rencana pembangunan sektoral dan lintas sektoral. Belum
adanya indikator kinerja dan target yang terukur dalam RAN API serta terbatasnya
ketersediaan data dan informasi iklim yang akurat menyulitkan proses perencanaan
kegiatan dan anggaran terkait adaptasi perubahan iklim. Di samping tantangan yang
disebutkan, RAN API sebagai referensi perencanaan juga masih belum mejelaskan mengenai
konvergensi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana; bagaimana strategi
pemberdayaan masyarakat menuju resiliensi iklim; dan sinergi dengan RAN-GRK yang kini
tengah ditinjau ulang. Berikut terdapat beberapa rekomendasi untuk para pemangku
kepentingan dalam meningkatkan efektifitas RAN API. Rekomendasi ini diurutkan sesuai
urgensinya dalam satu tahun ke depan:
1. Berdasarkan hasil Lokakarya Daerah Percontohan, perlu dilakukan analisis lebih lanjut
mengenai sinkronisasi program dan kegiatan K/L dengan ketersediaan serta kebutuhan
program dan kegiatan API di daerah dengan acuan dokumen kajian kerentanan. Untuk
memastikan sinkronisasi tersebut perlu dilakukan penajaman program dan kegiatan
di tingkat nasional dan melakukan review terhadap dokumen kajian kerentanan di
daerah.
3. Perlu melakukan komunikasi dan koordinasi yang lebih efektif antar K/L dalam usaha
pencapaian sasaran dan target RAN API sebagai konsekuensi atas dileburnya DNPI dan
BP-REDD ke dalam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan dibentuknya
Ditjen Perubahan Iklim di dalamnya, serta restrukturisasi di beberapa kementerian
yang sedikit banyak akan mempengaruhi implementasi RAN API.
4. Antar K/L secara bersama perlu menyepakati sistem monitoring dan evaluasi yang akan
digunakan dalam RAN API dan bekerjasama dalam pengelolaan data dan informasi
untuk kajian risiko iklim, serta mempercepat implementasi di daerah percontohan RAN
API.
5. Melakukan penyusunan kajian kerentanan dan risiko iklim bagi provinsi yang belum
memiliki, hal ini dibutuhkan untuk memetakan kerentanan dan risiko iklim secara
30
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
nasional. Dengan ini diharapkan prioritas dan alokasi sumberdaya dalam perencanaan
dan implementasi RAN API dapat lebih tepat sasaran.
31
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Lampiran
32
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Struktur Tim Penanganan Perubahan Iklim
SK Menteri Bappenas No 38/[Link]/HK/03/2012
KOTA SEMARANG
Keputusan Walikota Semarang Nomor 050/109/2014 tentang Pembentukan Tim Pelaksana Strategi Ketahanan
Kota terhadap Perubahan Iklim Kota Semarang Masa Bakti 2014-2016
KEDUDUKAN
NO NAMA DINAS/INSTANSI
DALAM TIM
7 Ir. Suhardjono, [Link] Dinas PSDA dan ESDM Kota Semarang Anggota
10 Teti Indrawati W, ST Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang Anggota
12 Glory Nasarani, ST, MT, [Link] Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang Anggota
17 Drs. Joko Santosa, [Link] Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Anggota
Kota Semarang
21 Ir. Jawoto Sih Setyono, MDP Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Anggota
Teknik Universitas Diponegoro
34
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA TARAKAN
Keputusan Walikota Tarakan Nomor 660.1/HK-V/205/2014 tentang Kelompok Kerja Mitigasi dan Adaptasi
Perubahan Iklim Kota Tarakan Tahun 2014
NO JABATAN KEDUDUKAN DALAM TIM
1 Walikota Tarakan Penanggung Jawab
2 Sekretaris Daerah Kota Tarakan Ketua
3 Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Tarakan Wakil Ketua
4 Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Tarakan Sekretaris
5 Bappeda Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Infrastruktur dan Sumber Daya Alam
• Kasubid. Sumber Daya Alam
6 Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Pengendalian Pencemaran
• Kabid. Pengendalian Perusakan
• Kabid. Tata Lingkungan
7 Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Pencegahan dan Kesiapsiagaan
• Kabid. Kedaruratan, Logistik, dan Pemadam Kebakaran
8 Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Pengairan dan Sumber Daya Alam
• Kabid. Cipta Karya
9 Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Kebersihan
• Kasubbid. Air Limbah
10 Dinas Kesehatan Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Pengendalian Pencegahan Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan
• Kasi. Pengendalian Pencegahan Penyakit
• Kasi. Penyehatan Lingkungan
11 Dinas Kehutanan dan Pertambangan Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Kehutanan
• Kabid. Pertambangan dan Energi
12 Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Kelautan dan Pesisir
13 Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Tanaman Pangan dan Perkebunan
• Kabid. Bina Usaha dan Penyuluhan
14 Dinas Perhubungan Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Perhubungan Darat
• Kabid. Perhubungan Laut dan Udara
15 Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Tarakan Anggota
• Kabid. Informasi dan Dokumentasi
16 Bagian Pembangunan Kota Tarakan Anggota
• Kabag. Pembangunan
• Kasubag. Analisis dan Kajian Pembangunan
17 Direktur PDAM Kota Tarakan Anggota
35
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA TARAKAN
18 Kepala BMKG Kota Tarakan Anggota
19 Kepala BASARNAS Kota Tarakan Anggota
20 Akademisi Universitas Borneo Anggota
21 Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan Anggota
22 PT. Intracawood Mfg Anggota
23 PT. Medco E&P Tarakan Anggota
24 PT. Pertamina Asset 5-Tarakan Anggota
25 PT. Idec AWI Anggota
26 PT. Mustika Minanusa Aurora Anggota
27 Advokasi Konservasi Flora dan Fauna Tarakan Anggota
KOTA PROBOLINGGO
Keputusan Walikota Probolinggo Nomor 185.45/87/KEP/425.012/2014 tentang Komite Pengarah dan Komite
Teknis Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan Kota Probolinggo
NO KEDUDUKAN DALAM DINAS KEDUDUKAN DALAM KOMITE
A. KOMITE PENGARAH
1 Walikota Probolinggo Pelindung
2 Wakil Walikota Probolinggo Penanggung Jawab
3 Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Pengarah
4 Asisten Perekonomian dan Pembangunan Daerah Kota Probolinggo Wakil Pengarah
5 Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Ketua
6 Sekretaris Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Sekretaris
7 a. Kepala Dinas Kesehatan Kota Probolinggo Anggota
b. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Probolinggo
c. Kepala Dinas Perhubungan Kota Probolinggo
d. Kepala Dinas Pertanian Kota Probolinggo
e. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Probolinggo
f. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Probolinggo
g. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Probolinggo
h. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota
Probolinggo
B. KOMITE TEKNIS
1 Kepala Bidang Pelestarian, Pengendalian, dan Pengembangan Kapasitas Koordinator
Lingkungan Hidup pada Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
2 Kepala Bidang Fisik dan Prasarana pada Badan Perencanaan Wakil Koordinator
Pembangunan Daerah Kota Probolinggo
3 Kepala Subbidang Pelestarian dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sekretaris
pada Bidang Pelestarian, Pengendalian, dan Pengembangan Kapasitas
36
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA PROBOLINGGO
4 a. Kepala Bidang Tata dan Penataan Lingkungan Hidup pada Badan Anggota
Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
b. Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Kelistrikan pada
Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
c. Kepala Bidang Penanggulangan dan Penanganan Dampak
Pencemaran Lingkungan Hidup pada Badan Lingkungan Hidup Kota
Probolinggo
d. Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral pada Dinas Koperasi,
Energi Mineral, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Probolinggo
e. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
pada Dinas Kesehatan Kota Probolinggo
f. Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan pada Dinas Pertanian Kota
Probolinggo
g. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas
Pertanian Kota Probolinggo
h. Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Probolinggo
i. Kepala Bidang Advokasi dan Penyuluhan pada Badan Pemberdayaan
Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Probolinggo
j. Kepala Bidang Sosial dan Budaya pada Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kota Probolinggo
k. Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada Dinas
Perhubungan Kota Probolinggo
l. Kepala UPT Laboratorium Lingkungan Hidup pada Badan Lingkungan
Hidup Kota Probolinggo
m. Kepala UPT Informasi Pendidikan Lingkungan Hidup pada Badan
Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
n. Kepala UPT Pengelolaan Sampah dan Limbah pada Badan
Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
o. Kepala UPT Pengujian Kendaraan Bermotor pada Dinas Perhubungan
Kota Probolinggo
p. Kepala Subbagian Peraturan Perundang-Undangan pada Bagian
Hukum Sekretariat Daerah Kota Probolinggo
q. Kepala Subbidang Perencanaan dan Pengkajian Dampak Lingkungan
Hidup pada Bidang dan Penataan Lingkungan Hidup Badan
Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
r. Kepala Subbidang Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup pada
Bidang Pelestarian, Pengendalian, dan Pengembangan Kapasitas
Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo
s. Kepala Seksi Penataan Ruang dan Pengembangan Kota pada Bidang
Penataan Kota dan Penataan Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Kota
Probolinggo
t. Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan
Penanggulangan Bencana Daerah Kota Probolinggo
u. Kepala Bagian Teknis pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota
Probolinggo
v. Kepala Bidang Informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika
Kota Probolinggo
w. 14 (empat belas) orang Staf pada Bidang Pelestarian, Pengendalian,
dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan Badan Lingkungan Hidup
Kota Probolinggo
37
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA PEKALONGAN
Keputusan Walikota Pekalongan Nomor 050/046/2014 tentang Perubahan Kedua Lampiran Keputusan Walikota
Pekalongan Nomor 050.5/112/2010 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Pekalongan
NO JABATAN JABATAN DALAM TIM
A. KOMITE PENGARAH
1 Walikota Pekalongan Penanggungjawab I
2 Wakil Walikota Pekalongan Penanggungjawab II
3 Sekretaris Daerah Kota Pekalongan Ketua
4 Asisten II Sekda Kota Pekalongan Wakil Ketua
5 Kepala KLH Kota Pekalongan Sekretaris
6 a. Kepala DINDIKPORA Kota Pekalongan Anggota
b. Kepala BAPPEDA Kota Pekalongan
c. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan
d. Kepala DPU Kota Pekalongan
e. Kepala DISHUBPARBUD Kota Pekalongan
f. Kepala DPPK Kota Pekalongan
g. Kepala DISPERINDAGKOP UMKM Kota Pekalongan
h. Kepala Kantor Satpol PP Kota Pekalongan
B. KOMITE TEKNIS
1 Kepala BAPPEDA Kota Pekalongan Penanggung Jawab
2 Kepala KLH Kota Pekalongan Ketua
3 Kasubag. Tata Usaha pada KLH Kota Pekalongan Sekretaris
4 • Kepala Bagian Hukum Setda Kota Pekalongan Anggota
• Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kota Pekalongan
• Kabid Sarana dan Prasarana pada DINDIKPORA Kota Pekalongan
• Sekretaris pada DPPK Kota Pekalongan
• Kabid. Lalu Lintas pada DISHUBPARBUD Kota Pekalongan
• Kabid. Angkutan pada DISHUBPARBUD Kota Pekalongan
• Kabid. Kebersihan dan Persampahan pada DPU Kota Pekalongan
• Kabid. Anggaran pada DPPKAD Kota Pekalongan
• Kasubbid. Ekonomi pada BAPPEDA Kota Pekalongan
• Kasubbid. Pengendalian Program BAPPEDA Kota Pekalongan
• Kasi. Penyehatan Lingkungan pada DKK Kota Pekalongan
• Kasi. Bina Bangunan pada DPU Kota Pekalongan
• Kabag. Hubungan Langganan pada PDAM Kota Pekalongan
• Kasi. Usaha Tani pada DPPK Kota Pekalongan
• Kasubid. Pemberdayaan Masyarakat pada BPMP2AKB dan KP Kota
Pekalongan
• Kasi. Sarana dan Prasarana Pesisir dan Kelautan pada DPPK Kota
Pekalongan
• Kasi. Amdal pada KLH Kota Pekalongan
• Kasi. Monitoring dan Pemulihan Lingkungan pada KLH Kota Pekalongan
• Kasi. Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan pada KLH Kota Pekalongan
• Kasi. Perlindungan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana pada Kantor
Satpol PP Kota Pekalongan
38
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA PEKALONGAN
• Staf Bidang Perindustrian pada DISPERINDAGKOP dan UMKM Kota Anggota
Pekalongan
• Staf Bidang Kebersihan dan Persampahan pada DPU Kota Pekalongan
• 4 (empat) orang Staf pada KLH Kota Pekalongan
• Dosen Tetap Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat
pada UNIKAL
• Direktur Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Pekalongan
• Yayasan Bintari
• Ketua Kelompok Tani Muara Rejeki
• Ketua Kelompok Tani Layur
• Ketua Kelompok Tani Bumiku
• Ketua Kelompok Tani Mapan
KOTA CIREBON
Keputusan Walikota Cirebon Nomor 365.05/KEP.150-BAPPEDA/2014 tentang Pembentukan Tim Kota Perubahan
Iklim Kota Cirebon
NO NAMA SUSUNAN KEANGGOTAAN
1 Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cirebon Penanggung Jawab 1
2 Ir. Yoyon Indrayana, MT Penanggung Jawab 2
3 Abing Rijadi, ST Ketua
4 Eddy Soemarno, ST Anggota
5 Aty Hermawaty, ST Anggota
6 Novid Gumelar, ST, [Link] Anggota
7 DR. Dedi Supriyadi, API Anggota
8 Fina Amalia Purwantini, ST, [Link] Anggota
9 Hendra Irawan, ST Anggota
10 Sisca Octasari, ST, [Link] Anggota
11 Torikin, SKM Anggota
12 Listianingrum, ST, [Link] Anggota
KOTA PALEMBANG
Keputusan Walikota Palembang Nomor … Tahun 2014 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Perubahan Iklim
NO JABATAN / NAMA KEDUDUKAN
A. TIM PENGARAH
1 Walikota Palembang Tim Pengarah
2 Wakil Walikota Palembang Tim Pengarah
3 Sekretaris Daerah Kota Palembang Tim Pengarah
4 Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Tim Pengarah
Palembang
B. TIM PELAKSANA
1 Ir. H.M. Tabrani, MM Tim Koordinator
Kepala Bidang Lingkungan Hidup Kota Palembang
39
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA PALEMBANG
2 Ir. Reni Sefriany, MT Tim Koordinator
Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pemulihan Lingkungan Badan
Lingkungan Hidup Kota Palembang
3 Nyimas Ida Apriani, ST, MT Tim Koordinator
Kasubbid Pengendalian Kerusakan Badan Lingkungan Hidup Kota
Palembang
4 M. Yunus, [Link]., [Link] Tim Koordinator
Kasubbid Pemulihan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang
5 Nyimas Eviyani, [Link] Tim Koordinator
Kepala Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang
6 Yulia Mariska, ST Tim Koordinator
Staf Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang
7 Guto Febriano, ST Tim Koordinator
Staf Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang
8 Zuryati Tim Koordinator
Kepala Sub Bidang Perencanaan Program Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kota Palembang
9 M. Utih, SH Tim Koordinator
Kepala Seksi Rehabilitasi Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam
Kebakaran Kota Palembang
10 Drs. Yudi Asnandar, ST Tim Koordinator
Staf Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Bina
Marga dan Pengelolaan Sumber Daya Air Kota Palembang
11 Eni Amtatulusi, [Link] Tim Koordinator
Staf Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Bina
Marga dan Pengelolaan Sumber Daya Air Kota Palembang
12 Poppy Augustina L, ST, MT Tim Koordinator
Kepala Seksi Pengembangan dan Tata Ruang Permukiman Dinas Pekerjaan
Umum Cipta Karya dan Perumahan Kota Palembang
13 Zulkifli, ST, [Link] Tim Koordinator
Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Palembang
14 Ir. H. Bahrum, [Link] Tim Koordinator
Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan Dinas Pertanian, Perikanan, dan
Kehutanan Kota Palembang
15 Mumuh Muzakar, S. Hut Tim Koordinator
Kepala Seksi Bina Usaha Kehutanan dan Perkebunan Dinas Pertanian,
Perikanan, dan Kehutanan Kota Palembang
16 Zulfahmi, ST Tim Koordinator
Pengawas Taman Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan, dan Pemakaman
Kota Palembang
17 Ali Mukron, ST Tim Koordinator
Manager Produksi dan Pemeliharaan Perusahaan Daerah Air Minum Tirta
Musi Kota Palembang
18 Noveriansyah, ST Tim Koordinator
Kepala Shift IPA Ogan Bagian Produksi dan Pemeliharaan Perusahaan
Daerah Air Minum Tirta Musi Kota Palembang
19 Neni Trisia, ST, [Link] Tim Koordinator
Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Evaluasi Dinas Kebersihan Kota
Palembang
40
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA PALEMBANG
20 Edi Martha, SE Tim Koordinator
Kepala Seksi Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Kota Palembang
21 Aldrin, ST Tim Koordinator
Kepala Seksi Prasarana dan Perlengkapan Jalan Dinas Perhubungan Kota
Palembang
22 Dra. Wati Purnamasari, [Link] Tim Koordinator
Sekretaris Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan Kota
Palembang
23 Renny Indah Lestary, [Link], MM Tim Koordinator
Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Masyarakat Miskin Badan
Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan Kota Palembang
24 Agnes Indra Maharani, S. Hut, [Link] Tim Koordinator
Staf Balai Konservasi Sumber Daya Air Kementerian Kehutanan Republik
Indonesia
25 Ir. Erna Yuliwati, Ph.D Tim Koordinator
Lembaga Pengembangan Masyarakat Universitas Bina Dharma
26 Aang Kurniawan Tim Koordinator
Yayasan Pengembangan Inovasi Warga Mandiri Sejahtera
1 Drs. Edwin Effendi, M. Si Tim Sekretariat Penelitian
Kepala Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Palembang
2 Siti Emma Sumiatul, S. Sos, [Link] Tim Sekretariat Penelitian
Sekretaris Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang
3 Eka Gustini, ST, [Link], [Link] Tim Sekretariat Penelitian
Kepala Seksi Program dan Pelaporan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga
dan Pengelolaan Sumber Daya Air Kota Palembang
4 Armansyah, ST Tim Sekretariat Penelitian
Kepala Seksi Pembanunan Kebersihan Lingkungan Masyarakat
5 Khoidir Tim Sekretariat Penelitian
Staf Dinas Kesehatan Kota Palembang
6 Korlena, ST, MT Tim Sekretariat Penelitian
Staf Bidang Perencanaan Strategis dan Tata Ruang Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kota Palembang
7 Emil, ST Tim Sekretariat Penelitian
Staf Pengembangan dan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya
dan Perumahan Kota Palembang
8 RM. Najamuddin, SP Tim Sekretariat Penelitian
Pengawas Taman Dinas Penerangan Jalan Pertamanan dan Pemakaman
Kota Palembang
9 Andi Bungkar Jutawan, SE Tim Sekretariat Penelitian
Kepala Seksi Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam
Kebakaran Kota Pelambang
10 Vebri Al Tintani Tim Sekretariat Penelitian
Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan
11 Ekawati Tim Sekretariat Penelitian
Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan
41
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA BLITAR
Keputusan Walikota Blitar Nomor 188 / 978 / HK / 410.010.2 / 2014 tentang Kelompok Kerja Perubahan Iklim
Kota Blitar Tahun Anggaran 2014
JABATAN
NO NAMA JABATAN DALAM DINAS
DALAM TIM
4 Drs. EC. Setija Basuki Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Wakil Pengarah
Kota Blitar
6 Pande Ketut Suryadi, SH Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Blitar Wakil Ketua
7 Ir. Herlyn Krisnawati, MM Kabid. Perencanaan Prasarana Wilayah dan Tata Sekretaris
Ruang Bappeda Kota Blitar
42
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA BLITAR
10 a. Parminto, [Link]., [Link] Kabid Perencanaan Ekonomi dan Sosial Budaya Bidang
Bappeda Kota Blitar Implementasi dan
Advokasi
b. Bambang Sucipto Kabid Persampahan Badan Lingkungan Hidup Kota
Blitar
c. Denny Eko P., ST Kasubid Pengendalian Dampak Lingkungan Badan
Lingkungan Hidup Kota Blitar
d. dr. Dissie Laksomonowati Kasi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota
A Blitar
e. Ir. Fauzun Daroini Koordinator Penyuluh Pertanian – Dinas Pertanian
Kota Blitar
f. Ika Hadi Wijaya, SH Kasubag Peraturan perundang-Undangan Setda
Kota Blitar
g. Mujianto, [Link]., [Link] Kabid Komunikasi dan Informatika Dinas
Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kota
Blitar
h. Yuliana Amalia, [Link] Staf Dinas Kesehatan Kota Blitar
i. Dra. Tri Retno PDAM Kota Blitar
Ananingtyas
j. Tita Wulandari Radio Mayangkara
k. Drs. Eko Wihadi Karang Taruna Kota Blitar
l. Ny. Gatut Haririswanto Pokja III PKK Kota Blitar
11 a. Elly Tartati Ratni, S. Tp Kasubid Penelitian dan Pengembangan Bappeda Bidang Monitoring
Kota Blitar dan Evaluasi
b. Darul Efendi, SE Kasubag Potensi Bagian Perekonomian Setda Kota
Blitar
c. Gigih Mardana, [Link]., Kasubag Humas Bagian Humas dan Protokol Setda
[Link] Kota Blitar
d. Ainur Rofiqoh, [Link]., Kasubid Perencanaan Sosial Budaya Bappeda Kota
[Link] Blitar
e. Widhi Astuti, ST Kasi Pengendalian dan Monitoring Dinas Pekerjaan
Umum dan Perumahan
f. Suharto, [Link] Kasubid Penanggulangan Bencana Alam
Bakesbangpol dan BPD Kota Blitar
g. Iwan Buyung W. Forum Kota Hijau
h. Endang P. Pegiat Lingkungan Hidup
i. Sri Winarni, S. Pd, [Link] Forum Kota Sehat
j. Dedith Agung, ST Fasilitator P2KP
43
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA BANDAR LAMPUNG
Keputusan Walikota Bandar Lampung Nomor … tentang Pembentukan Tim Koordinasi Ketahanan Perubahan Iklim
Kota Bandar Lampung
JABATAN
NO NAMA JABATAN DALAM DINAS
DALAM TIM
2 Ir. Pola Pardede Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Wakil Ketua
Kota Bandar Lampung
3 Desti Mega Putri, SP, MT Kabid Fisik Prasarana Bappeda Kota Bandar Anggota
Lampung
7 Ery Adityawan, ST Staf Bidang Fisik Prasarana Bappeda Kota Bandar Anggota
Lampung
7 Ir. Andrya Yunila Hastuti,[Link] Kabid Ekonomi Bappeda Kota Bandar Lampung Anggota
8 Tony Ferdinansyah, ST,MT Kasi Evaluasi Rencana dan Pengembangan Kota Anggota
Dinas Tata Kota Bandar Lampung
44
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
KOTA BANDAR LAMPUNG
5 Chepi [Link], ST, MT, MPP Kasubid Tata Ruang dan LH Bappeda Kota Bandar Anggota
Lampung
7 Gunarti Kumarasari, ST Kasubag Administrasi dan Teknik PDAM Way Rilau Anggota
Kota Bandar Lampung
1 Dirmansyah, ST, MPSDA Kabid Statistik dan Penelitian Bappeda Kota Bandar Koordinator
Lampung
45
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
46
1 (Satu) Tahun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim