Sirup Ekstrak Temulawak sebagai Antioksidan
Sirup Ekstrak Temulawak sebagai Antioksidan
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Praktikum Fitofarmasi
Disusun Oleh:
Aniswatul Magfiroh (16020200014)
Eka Ferdianti Luvinda (16020200028)
M. Alwi Rizkillah (16020201047)
Pahri (16020200065)
Siti Mutmainah (16020200073)
Yakobus Ofaristo Pakae (16020200081)
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan praktikum ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari laporan praktikum
ini yaitu “Formulasi Sediaan Sirup Dari Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak
sebagai Antioksidan”. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih
memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, Apt., MS selaku Ketua STIKES Rumah Sakit
Anwar Medika yang telah memberikan bimbingan.
2. Ibu Yani Ambari, [Link]., [Link]., Apt selaku Kepala Program Studi S1
Farmasi, yang tekah memberikan bimbingan, sehingga dapat terselesaikan
penulisan laporan dengan baik.
3. Ibu Marthy Meliana A.J., [Link]., Apt selaku Dosen pembimbing
Fitofarmasi yang telah memberikan bimbingan sehingga penulisan laporan
dapat terselesaikan dengan baik.
4. Bapak Anggara Martha, [Link]., Apt selaku Dosen pembimbing Fitofarmasi
yang telah memberikan bimbingan sehingga penulisan laporan dapat
terselesaikan dengan baik.
5. Semua teman-teman S1 Farmasi angkatan 2016 yang telah ikut membantu
dalam menyelesaikan laporan ini.
Penulisan laporan praktikum ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, keterbatasan waktu dan kemampuan penulis, maka kritik dan saran yang
membangun senantiasa penulis mengharapkan semoga laporan praktikum ini
dapat berguna bagi penulis pada khususnya dan pihak lain yang berkepentingan
pada umumnya.
Sidoarjo, Juni 2019
Tim Penulis
i
DAFTAR ISI
1.3 Tujuan............................................................................................................ 2
ii
2.6.3 Uji Viskositas ....................................................................................... 15
iii
4.3 Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak ................. 26
iv
DAFTAR TABEL
v
DAFTAR GAMBAR
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1
atlanton, dan artumeron (Afifah, 2003). Kandungan kurkuminoid pada temulawak
mempunyai khasiat yaitu dapat digunakan sebagai antioksidan dan
hepatoprotektif, antikanker, gastroprotektif, antihiperglikemik dan antiinflamasi.
Kurkumin yang merupakan komponen utama dalam kurkuminoid dapat berfungsi
dalam aktivitas biologi sebagai antiinflamasi. (Devaraj dkk, 2014).
Dari latar belakang diatas, tentu kita akan mempertanyakan bagaimanakah
kestabilan fisik dan penerimaan konsumen terhadap sirup temulawak yang
dihasilkan. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk memformulasikan sirup
dengan bahan aktif kurkumin dari ekstrak etanol rimpang temulawak sebagai
antioksidan dan melakukan pengujian stabilitas fisik dan uji toksisitas terhadap
sirup yang dihasilkan sehingga tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
gambaran hasil uji stabilitas fisik dan hasil uji toksisitas formulasi sirup dari
bahan temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.).
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka dapat diketahui tujuan dari laporan
“Formulasi Sediaan Sirup Dari Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak sebagai
Antioksidan” antara lain:
1. Mengetahui formulasi sirup dari ekstrak etanol rimpang temulawak sebagai
antioksidan
2
2. Mengetahui uji stabilitas fisik sediaan sirup dari ekstrak etanol rimpang
temulawak sebagai antioksidan
3. Mengetahui cara uji aktivitas sediaan sirup dari ekstrak etanol rimpang
temulawak sebagai antioksidan
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4
daun terdapat semacam pita memanjang berwarna merah keunguan, pertulangan
daun menyirip berwarna hijau, daun pelindung banyak, yang panjangnya melebihi
atau sebanding dengan mahkota bunga dan berbentuk corong, pelepah daunnya
saling menutupi membentuk batang (Mursito, 2002).
5
Furanodienon, Germakonm, Isofuranogermakren, Limonen, Linalol, Mirsen, α-
Pinen, β- Pinen, Sabinen, β-Seskuifelandren, α- Terpineol, Trisiklen, Turmerol,
Ar-turmeron, α-Turmeron, βturmeron, Xantorizol dan Zingiberen
(Purnomowati,Yoganingrum,1997).
6
2. Kandungan Kurkuminoid Tanaman Temulawak
Salah satu kandungan utama temulawak adalah kurkuminoid. Kurkuminoid
merupakan bentuk campuran senyawa diarilheptanoid, yakni kurkumin,
demetoksi kurkumin, dan bisdemetoksi kurkumin dengan pigmen utama yakni
kurkumin (Cahyono dkk., 2011 ). Fraksi kurkuminoid dalam temulawak terdiri
dari dua komponen yaitu kurkumin dan desmetoksi kurkumin (Grafianita, 2011).
7
2.1.4 Bioaktivitas Tanaman Temulawak
Hasil penelitian Liang dkk., 1985 dalam Srijanto dkk., 2004 kurkuminoid
rimpang temulawak berkhasiat menetralkan racun, menghilangkan rasa nyeri
sendi, menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah pembentukan lemak dalam
sel hati dan sebagai antioksidan.
Antioksidan merupakan zat kimia yang secara bertahap akan teroksidasi
dengan adanya efek seperti cahaya, panas, logam peroksida atau secara langsung
bereaksi dengan oksigen. Ada dua macam anti oksidan, yaitu antioksidan alam
dan antioksidan sintesis. Sebagai contoh α tokoferol (vitamin E) merupakan
antioksidan alam yang terdapat dalam lemak dan minyak yang diperoleh dari biji
tanaman (Zapsalis,1985). Kurkumin yang terdapat pada temulawak juga adalah
antioksidan alam yang lain dimana aktifitasnya lebih besar dibanding dengan α
tokoferol jika diuji dalam minyak (Wahyudi, 2006).
Kurkumin sendiri merupakan molekul dengan kadar polifenol yang rendah
namun memiliki aktivitas biologi yang tinggi antara lain potensi sebagai
antioksidan (Jayaprakasha dkk., 2005 dan Jayaprakasha dkk., 2006). Selain
kurkumin, senyawa fenol yang terdapat pada temulawak bisa berfungsi sebagai
antioksidan karena kemampuannya meniadakan radikal-radikal bebas dan radikal
peroksida sehingga efektif dalam menghambat oksidasi lipida (Kinsella et al,
1993).
8
2.2.1 Metode Maserasi
Teknik ini dilakukan dengan cara merendam bahan-bahan tumbuhan yang
telah dihaluskan atau digiling dalam pelarut terpilih, kemudian disimpan untuk
jangka waktu tertentu. Penyimpanan biasa dilakukan pada suhu ruang (Handa et
al. 2008). Teknik ini biasanya digunakan jika kandungan senyawa organik yang
ada dalam bahanbahan tumbuhan tersebut cukup tinggi dan telah diketahui jenis
pelarut yang dapat melarutkan dengan baik senyawa-senyawa yang akan diisolasi.
Pelarut yang digunakan sebaiknya tidak mudah menguap, dan untuk mengekstrak
senyawa kimia tersebut dari bahan alam membutuhkan waktu yang cukup lama
(Dadang dan Prijono 2008).
Dari hasil ekstraksi di atas akan didapatkan filtrat (zat terlarut dalam
pelarut). Untuk mendapatkan filtrat yang baik, artinya tidak mengandung partikel-
partikel bahan tumbuhan baik partikel halus maupun kasar, namun hanya senyawa
kimia tumbuhan yang terlarut dalam pelarut, maka hasil ekstraksi sebaiknya
disaring menggunakan kertas saring. Kualitas hasil penyaringan sangat tergantung
pada jenis dan kualitas kertas saring yang digunakan (Dadang dan Prijono 2008).
Setelah didapatkan filtrat yang baik, langkah selanjutnya adalah
menguapkan pelarut. Penguapan dapat dilakukan secara alami artinya
membiarkan filtrat pada wadah terbuka, namun hal ini sangat berbahaya jika
dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama. Untuk mendapatkan hasil
penguapan pelarut yang cepat dan aman digunakan alat penguap yaitu rotary
evaporator. Alat ini bekerja secara sederhana yaitu menguapkan pelarut dan
menyisakan ekstrak tumbuhan dalam labu. Proses penguapan sangat tergantung
pada beberapa faktor, seperti suhu penangas, tekanan vakum, suhu air yang
bersirkulasi, dan putaran labu (Dadang dan Prijono 2008).
Setelah penguapan selesai, akan dihasilkan ekstrak tumbuhan yang mungkin
dapat berbentuk padatan (solid) atau cairan (liquid). Biasanya ekstrak yang
dihasilkan dari ekstraksi awal ini (ekstraksi dari bahan tumbuhan) disebut sebagai
ekstrak kasar (crude extract). Untuk mengetahui berat ekstrak yang didapat, berat
labu awal ditimbang terlebih dahulu, kemudian pada akhir proses penguapan
kembali dilakukan penimbangan. Selisih berat tersebut menunjukkan berat ekstrak
9
yang didapat. Dalam beberapa kegiatan, hasil penguapan dibiarkan terlebih dahulu
beberapa lama sebelum dilakukan penimbangan (Dadang dan Prijono 2008).
10
b. Parameter organoleptik
Organoleptik bertujuan sebagai pengenalan awal yang subyektif mungkin
dari ekstrak tanaman meliputi betuk, bau, dan rasa(Soetarno, 1997).
c. Parameter senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Kelarutan senyawa dalam pelarut tertentu bertujuan untuk menentukan
jumlah zat terlarut dalam pelarut methanol dan air identik dengan jumlah senyawa
yang terkandung secara gravimetric (Soetarno, 1997).
d. Parameter kimia kandungan ekstrak
Uji kandungan kimia ekstrak bertujuan untuk memberikan gambaran awal
komposisi kandungan kimia berdasarkan pada kromatogram (Soetarno,1997).
e. Parameter kadar kandungan kimia tertentu
Penetapan kadar kandungan tertentu bertujuan untuk memberikandata kadar
kandungan kimia sebagai senyawa identitas atau senyawa yang diduga
bertanggung jawab pada efek farmakologi (Soetarno,1997) .
11
b. Parameter rapat jenis
Rapat jenis adalah perbandingan zat di udara pada suhu 25OC terhadap
bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Rapat jenis suatu zat hasil yang
diperoleh dengan membagi bobot jenis zat dengan bobot jenis air dalam
piknometer, jadi rapat jenis tidak memiliki satuan, kecuali dinyatakan lain dalam
monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25OC (Saifuddin,dkk, 2011 :70).
c. Parameter kadar air
Tujuan dari penetapan kadar air adalah mengetahui batasan maksimal atau
rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan. Hal ini terkait dengan
kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian
menghilang kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya
tahan bahan selama penyimpanan (Dirjen POM, 2000: 35). Range kadar air
tergantung jenis ekstrak yang diinginkan, ekstrak kering kadar air <10%, ekstrak
kental 5-30%, ekstrak cair >30%. Kadar air yang cukup beresiko adalah lebih dari
10% (Saifuddin,dkk, 2011).
d. Penetapan kadar abu
Penetapan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan
mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai simplisia dan
ekstrak yang berasal dari tanaman secara alami maupun kontaminan selama
proses, seperti pisau yang digunakan telah berkarat. Prinsip penentuan kadar abu
ini yaitu sejumlah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organic
dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga tinggal unsure mineral dan
anorganik yang tersisa (Dirjen POM, 2000).
e. Parameter total bakteri dan total kapang
Uji angka lempeng total (ALT) bakteri adalah adanya pertumbuhan bakteri
aerob mesofillik setelah contoh diinokulasikan pada media adar lempeng dengan
cara tuang atau taburan dan diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Tujuan
Penetapan cemaran mikroba yaitu untuk menetapkan keberadaan dan jumlah
bakteri atau jamur penyebab penyakit atau perusak ekstrak sehingga bias dicegah
keberadaannya misalnya Salmonella thypi, [Link], Bacillus subtilis, Aspergillus
flavus (Djide, 2006: 74-75). Untuk menghitung total bakteri saja, dapat digunakan
medium NA (Nutrient Agar). Medium NA ini adalah medium yang mengandung
12
sumber nitrogen dalam jumlah yang cukup yaitu 3 gram ekstrak daging dan 5gram
pepton dalam 1000 ml air suling, tetapi tidak mengandung sumber
[Link] dari itu baik untuk pertumbuhan bakteri, tetapi untuk kapang
dan khamirpertumbuhan tidak begitu bagus (Djide, 2006: 23 ).
Jumlah kapang dan khamir dalam suatu contoh dapat dihitung dengan
metode cawan dalam medium Potato Dextrose Agar (PDA). PDA adalah media
yang mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah yang cukup, yang terdiri dari
20% ekstrak kentang dan 2% dekstrosa, sehingga baik untuk pertumbuhan kapang
dan khamir, tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. Waktu inkubasi
diamati pada hari ketiga sampai hari kelima (Ratu, 2010).
Menurut SK Dirjen POM No : 03726/B/SK/VII/89 tentang batasan
maksimum bakteri dalam makanan yaitu 106 koloni/g dan untuk kapang yaitu 104
koloni/g. Ini juga sesuai dengan standar uji cemaran mikroba menurut SNI 19-
2897-1992 yaitu standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman
untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen
Kesehatan RI sebesar <106 CFU/ml dan batas kontaminasi kapang yang masih
dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sebesar <104CFU/ml
(Lud.2010: 84).
f. Parameter Cemaran logam berat
Penentuan kadar logam berat As, Pb, Cd, atau HG atau jenis logam lain
dengan metode standar Spektroskopi Serapan Atom (SSA). Penetapan kadar
ketiga logam 24 berat ini dilakukan untuk mengetahui bahwa kadar logam berat
ekstrak dari ketiga daerah nilainya tidak melebihi nilai yang diperbolehkan,
karena berbahaya bagi kesehatan. Keberadaan tempat tumbuh, kondisi air, bahkan
peralatan ekstraksi yang digunakan juga berpotensi untuk menimbulkan
terdeteksinya keberadaan logam berat. Residu Pb tidak melebihi 10 mg/kg
ekstrak, residu Cd tidak melebihi 0.3 mg/kg (Lud.2010: 84).
13
antioksidan dari bahan alam. Besar aktivitas antioksidan pada ekstrak simplisia
bubuk temulawak ditunjukkan dengan semakin besarnya penurunan intensitas
warna ungu pada larutan yang dilakukan dengan mengamati penurunan
absorbansi pada panjang gelombang 515 nm. Pokorny et. al (2001) menjelaskan
bahwa penurunan absorbansi terjadi karena penambahan elektron dari senyawa
antioksidan pada elektron yang tidak berpasangan pada gugus hidrogen dalam
struktur senyawa DPPH.
14
dalam sirup adalah 64-66%, kecuali dinyatakan lain. Larutan gula yang encer,
merupakan medium pertumbuhan bagi jamur, ragi, dan bakteri (Anief,1994).
Ada tiga macam sirup yaitu:
1. Sirup simpleks mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25% b/v
2. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat
tambahan dan digunakan untuk pengobatan.
3. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau
penyedap lain. Tujuan pengembangan sirup ini adalah untuk menutupi rasa
tidak enak dan bau obat yang tidak enak (Anief, 1986).
2.6.2 Uji pH
Tingkat keasaman atau pH diukur dengan menggunakan pH meter . pH
meter dikalibrasi dengan cara dicelupkan dalam larutan buffer pH 7, kemudian
dibilas dengan aquadest. pH meter dicelupkan dalam sampel sirup, didiamkan
beberapa saat dan hasilnya dapat dilihat dari angka yang tertera di layarnya
(Mappa, T., dkk, 2013)
15
2.6.4 Berat Jenis (BJ)
Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan
massa jenis air murni. Uji untuk evaluasi ini biasanya menggunakan alat yang
dinamakan piknometer (Giancoli, 2001).
16
2.7.2 Natrium Sitrat
Nama resmi : NATRII CITRAS
Nama kimia : C6 H5 Na3O7
Sinonim : Natrium sitral
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk halus putih
Kelarutan : Mudah larut dalam air , sangat mudah larut dalamair mendidih ,
praktis tidak larut dalam etanol(95%)
Stabilitas : Natrium sitrat dihidrat adalah bahan yang stabil
Incompatibility: Larutan sedikit basa akan bereaksi dengan zatasam. tidak
cocok juga dengan basa, zat pereduksidan agen pengoksidasi.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Pendapar
Ph : 7 , 0 – 9,0
2.7.3 Sorbitol
Rumus molekul : C6H14O6
Berat molekul :182,17
pH : 4,5 – 7
Densitas : 1,49 g/cm3
Titik leleh : 110 – 112 oC
Pemerian : berbentuk kristal higroskopis, umumnya tidak berbau,
putih atau hampir tidak berwarna
Kelarutan : praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, larut dalam
25 bagian etanol 90 % dan 0,5 bagian air.
Penggunaan : sebagai pembasah 3 – 15 %, sebagai suspensi oral 70 %.
2.7.4 Sukrosa
Rumus Molekul : C11H22O11
Berat Molekul : 342,30
Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna; masa hablur atau berbentuk
kubus, atau serbuk hablur putih; tidak berbau, rasa manis,
stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus.
17
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
medidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform
dan dalam eter.
Titik Leleh : 1600ºC – 1680ºC
Khasiat : Pemanis dan pengental
Konsentrasi : 67 % w/w
OTT : Serbuk sukrosa mungkin saja terkontaminasi dengan logam
berat yang dapat menjadi inkompatibel dengan bahan penolong
seperti asam askorbat. Sukrosa juga mungkin saja
terkontaminasi sulfit yang pada konsentrasi sulfit tinggi
menyebabkan perubahan warna saat penyalutan tablet.
Stabilitas : Sukrosa mempunyai stabilitas yang bagus pada temperatur
ruangan dan kelembaban sedang, dapat menyerap 1% bau yang
dilepaskan ketika dipanaskan pada suhu 900ºC. Membentuk
karamel ketika dipanaskan diatas 1600ºC . Bisa disterilkan
dengan autoklaf atau penyaringan. Pada suhu 1100ºC – 1450ºC
dapat mengalami inversi menjadi dekstrosa dan fruktosa.
Inversi dipercepat pada suhu diatas 1300ºC dan dengan adanya
asam.
Penyimpanan : Wadah tertutup baik
pKa : 12,62
BJ : 1,2865 – 1,3471
18
Kelarutan : larut dalam 75 bagian etanol ( 95 % ), 50 bagian etanol
(90%), dan 1,8 bagian air.
Penggunaan : untuk pengobatan oral yaitu 0,02 – 0,5 %
2.7.7 Aquadest
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,2
Titik didih : 100oC
Titik leleh : 0oC
Tekanan : 22,1 MPa (218,3 atm)
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Kelarutan : larut dalam sebagian besar pelarut polar.
19
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
20
7. Essence Jeruk Perasa qs Qs
8. Aquadest Pelarut Add 100% Ad 100 mL
Serbuk Temulawak
Ekstrak Temulawak
21
2. Identifikasi Alkaloid
EkstrakTemulawak
3. Identifikasi Flavonoid
EkstrakTemulawak
Hasil
4. Identifikasi Terpenoid
EkstrakTemulawak
Hasil
5. Identifikasi Saponin
Ekstrak Temulawak
- Lapisan air pada fraksdi diatas diambil, lalu dikocok vertikal.
- Apabila terbentuk busa stsbil selama 10 menit berarti positif saponin
Hasil
22
3.4.3 Pembuatan Sirup Ekstrak Temulawak
EkstrakTemulawak
- Ditimbang ekstrak temulawak 3 gram
- Ditimbang asam sitrat dan natrium sitrat masing-masing 1 gram
- Asam sitrat dan natrium sitrat dilarutkan dalam aquadest dan kemudian
dicampurkan keduanya
- Ditimbang sukrosa 40 gram, kemudian dilarutkan dengan 50mL aquadest
panas
- Ditimbang natrium benzoat 0,2 gram, kemudian dilarutkan dengan
aquadest secukupnya
- Ditimbang sorbitol 30 gram
- Dapar sitrat + natrium benzoat + sukrosa cair, kemudian dicampur dalam
beaker glass
- Campuan diatas ditambahkan ekstrak temulawak dan sorbitol aduk ad
homogen
- Dimasukkan kedalam botol kemudian ditambahkan essence jeruk ad
tanda batas
Hasil
2. pH
Sirup Temulawak
23
3. Berat Jenis (BJ)
Sirup Temulawak
4. Viskositas
Sirup Temulawak
Hasil
Sirup Temulawak
Hasil
24
BAB IV
HASIL PENELITIAN
25
4.3 Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak
Tabel 4.2 Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak
No. Senyawa Hasil Warna
1. Flavonoid + Jingga
2. Saponin - Tidak Berbusa
3. Tannin - Kekuningan
4. Polifenol - Tidak Berwarna
26
4.5 Hasil Uji Aktivitas Sirup Ekstrak Rimpang Temulawak
Tabel 4.4 Uji Aktivitas Sirup Ekstrak Rimpang Temulawak
No. Hari Hewan Coba Bobot
Mencit Kontrol 15,1 gram
Mencit Uji (1) 26,5 gram
1. Senin Mencit Uji (2) 32,8 gram
Mencit Uji (3) 35,1 gram
Mencit Uji (4) 27,6 gram
Mencit Kontrol 13,2 gram
Mencit Uji (1) 25 gram
2. Selasa Pagi Mencit Uji (2) 32,8 gram
Mencit Uji (3) 34,7 gram
Mencit Uji (4) 29,6 gram
Mencit Kontrol 12,7 gram
Mencit Uji (1) 24,5 gram
3. Selasa Sore Mencit Uji (2) 33,5 gram
Mencit Uji (3) 34,2 gram
Mencit Uji (4) 28,3 gram
Mencit Kontrol 14,1 gram
Mencit Uji (1) 25,9 gram
4. Rabu Pagi Mencit Uji (2) 32,5 gram
Mencit Uji (3) 34,5 gram
Mencit Uji (4) 27,1 gram
Mencit Kontrol 13,3 gram
Mencit Uji (1) 25,2 gram
5. Rabu Sore Mencit Uji (2) 32,9 gram
Mencit Uji (3) 34,9 gram
Mencit Uji (4) 26,8 gram
27
BAB V
PEMBAHASAN
28
5.1.2 Standarisasi Ekstrak Temulawak
Standarisasi ekstrak temulawak yang pertama yaitu identifikasi alkaloid.
Langkah pertama yang dilakukan adalah diambil sampel sebanyak 3 ml dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Pengambilan sampel menggunakan gelas
ukur agar volume yang diambl sesuai dengan yang diharapkan. Digunakan tabung
reaksi karena alat ini adalah alat untuk mereaksikan sampel. Kedua, ditambahkan
5 ml HCl 2 M kemudian diaduk untuk mempercepat proses kelarutan ekstrak
dalam HCl. Penambahan HCl ini berfungsi untuk membentuk garam alkaloid,
karena alkaloid yang bersifat basa dapat larut dalam pelarut yang bersifat asam.
Penambaan HCl dilakukan dengan proses ekstraksi agar alkaloid dapat
terdistribusi secara optimal dalam larutan HCl yang bersifat polar. Ketiga,
ditambahkan 0,5 gram NaCl lalu diaduk dan disaring. Penambahan NaCl juga
bertujuan untuk mempercepat proses pembentukan garam alkaloid. Pengadukan
dilakukan untuk mempercepat reaksi dan membuat larutan menjadi lebih terlarut.
Kemudian disaring dengan tujuan untuk memisahkan filtrate dan residu yang
terdapat dalam larutan. Keempat, ditambahkan kembali HCl 2 M sebanyak 3 tetes
agar alkaloid lebih terdistribusi secara sempurna pada larutan HCl. Kelima, filtrat
dibagi menjadi 3 bagian dengan filtrat pertama sebagai blanko. Filtrat kedua
ditambahkan reagen mayer 3 tetes yang mengandung Hg2+ dan KI dengan hasil
positif alkaloid jika terdapat endapan putih. Sedangkan filtrat ketiga ditambahkan
regaen dragendrof 3 tetes yang mengandung ion Bi3+ dan HI dengan hasil positif
alkaloid jika terdapat endapan merrah bata.
Standarisasi ekstrak temulawak yang kedua yaitu identifikasi flavonoid.
Langkah pertama yang dilakukan adalah diuapkan 3 ml sampel ekstrak dengan
tujuan agar diperoleh ekstrak yang lebih kental. Kedua, dicuci dengan n-heksana
hingga jernih kemudian disaring. Penambahan larutan n-heksana dilakukan untuk
memisahkan senyawa non polar yang ada pada ekstrak. Proses penyaringan
berfungsi untuk memisahkan filtrat dan residu yang ada pada larutan. Ketiga,
filtrat dibagi menjadi 3 bagian, filtrat pertama sebagai blanko. Filtrat kedua
ditambahkan 0,5 ml larutan HCl pekat kemudian dipanaskan. Penambahan larutan
HCl pekat dalam uji ini digunakan untuk menghidrolisis flavonoid menjadi
aglikonnya. Proses pemanasan bertujuan untuk mempercepat proses reaksi dari
29
larutan tersebut. Filtrat ketiga ditambahkan 0,5 HCL dan logam Mg. Penambahan
larutan HCl dan logam Mg berfungsi untuk proses reduksi sehingga menghasilkan
larutan berwarna jingga yang menunjukkan bahwa larutan positif flavonoid.
Standarisasi ekstrak temulawak yang ketiga yaitu identifikasi terpenoid.
Langkah pertama yang dilakukan adalah diambil 5 tetes ekstrak temulawak.
Kedua, ditambahkan 1 tetes H2SO4 pekat dan 1 tetes asam asetat pekat.
Penambahan larutan tersebut bertujuan untuk membentuk ikatan kompleks antara
senyawa terpenoid dengan asam.
Standarisasi ekstrak temulawak yang keempat yaitu identifikasi saponin. Uji
ini menggunakan metode Forth yang dilakukan dengan mengambil 2 ml ekstrak
dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambah 10 ml aquadest dan
dikocok selama 30 detik. Pengambilan sampel menggunakan gelas ukur agar
volume yang diambl sesuai dengan yang diharapkan. Digunakan tabung reaksi
karena alat ini adalah alat untuk mereaksikan sampel. Penambahan auadest
berfungsi agar senyawa saponin dapat terlarut sempurna dalam larutan yang
kemudian dilakukan pengocokan hingga terbentuk busa dalam larutan. Uji positif
untuk saponin adalah dengan terbentuknya busa yang stabil.
Standarisasi ekstrak temulawak yang kelima yaitu tannin dan polifenol.
Langkah pertama yang dilakukan adalah diambil 3 ml sampel yang diesktraksi
dengan aquadest panas dan didinginkan. Pengambilan sampel menggunakan gelas
ukur agar volume yang diambl sesuai dengan yang diharapkan. Digunakan
aquades panas karena tannin memiliki kelarutan yang tinggi pada air panas
sehingga diharapkan tannin yang terlarut juga semakin banyak. Selain itu
aquadest panas juga berfungsi untuk memecah ikatan-ikatan pada tannin sehingga
dihasilkan bentuk monomer-monomer tannin yang bebas. Kemudian dilakaukan
pendinginan untuk mengendapkan senyawa-senyawa pengotor yang tidak larut.
Kedua, ditambahkan 5 tetes NaCl 10% dan disaring. Penambahan larutan NaCl
10% yaitu untuk mempercepat terbentuknya garam pada senyawa tannin.
Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan tujuan untuk memisakan filtrat yang
terbentuk dengan residu dari larutan. Ketiga, filtrat yang didapatkan dibagi
menjadi 3 bagian, filtrat pertama sebagai blanko. Filtrat kedua ditambahkan 3
tetes larutan FeCl3 yang berfungsi sebagai sumber atom pusat, dimana tanin
30
merupakan ligan yang membutuhkan atom pusat untuk membentuk kompleks
antara atom pusat Fe3+ dengan ligan tannin dengan hasil positif ditunjukkan
dengan larutan berwarna coklat kehitaman. Sedangkan filtrat ketiga ditambahkan
garam gelatin yang bertujuan untuk mengendapkan garam tersebut, karena jika
ikatan tanin dan gelatin semakin kuat endapan akan terbentuk dan hasil yang
didapatkan akan positif yang ditunjukkan dengan adanya endapan berwarna putih.
31
Evaluasi sirup yang kedua yaitu pengukuran pH. Pengujian ukuran pH pada
sediaan sirup temulawak dilakukan dengan mengambil sediaan sirup yang suah
dibuat. Kemudian dituangkan sedikit pada beaker glass yang sudah disiapkan.
Selanjutnya dicelupkan pH universal pada larutan yang berada dalam beaker
glass, lalu diamati perubahan warna yang ada pada kertas pH universal, terakhir
dicocokkan kertas tersebut pada indikator pH universal.
Evaluasi sirup yang ketiga yaitu pengujian viskositas. Pengujian viskositas
ini menggunakan viskositas kapiler dengan cara memasukkan sirup kedalam
viskositas kapiler secukupnya, kemudian dipasang bola hisap pada sisi viskositas
kapiler yang ada tanda batasnya, lalu dihisap cairan sampai melebihi tanda batas.
Langkah selanjutnya dilepaskan bola hisap dan diamati turunnya cairan yang ada
pada pipa tersebut, apabila cairan sudah menyetuh tanda batas maka nyalakan
stopwach, ketika cairan sudah sampai pada tanda batas yang kedua maka matikan
stopwach dan dicatat waktunya. Prinsip dari uji viskositas ini adalah ketika
semakin besar kecepatanya maka semakin kecil pula viskositasnya.
Evaluasi sirup yang keempat yaitu pengujian berat jenis (BJ). Pengukuran
bobot jenis menggunakan alat piknometer. Langkah pertama yaitu ditimbang
piknometer kosong untuk mengetahui berat dari piknometer tersebut. Langkah
kedua yaitu diisi piknometer dengan aquadest lalu ditimbang kembali. Langkah
ketiga diisi piknometer dengan larutan sampel dan timbang kemudian titutup
piknometer yaitu dengan menutup secara cepat pada tutup piknometer sampai
tidak ada gelembung. Terakhir dilakukan perhitungan untuk mengetahui BJ dari
sediaan sirup.
32
kedalam lambung mencit. Langkah selanjutnya diberikan sirup temulawak kepada
4 mencit uji dengan dosis masing – masing 1,3 mg; 4,9 mg; 8,8 mg; dan 9,6 mg.
Terakhir ditimbang bobot dari masing – masing mencit untuk mengetahui
efektivitas dari sirup yang dibuat.
33
III). Volume ekstrak cair lebih seikit dibandingkan dengan volume pelarut yang
digunakan karena pada saat proses maserasi pelarut etanol akan masuk kedalam
sel sehingga zat aktif yang ada di dalam serbuk simplisia akan ikut keluar bersama
pelarut tersebut dan menjadi larutan pekat (Sudjadi, 1986). Selain itu, pelarut
etanol awalnya juga digunakan untuk membasahi serbuk simplisia yang kering
sehingga membuat volume ekstrak cair yang dihasilkan lebih sedikit dari pelarut
yang digunakan karena terserap ke dalam serbuk simplisia rimpang temulawak.
Setelah diperoleh ekstrak cair yang masih mengandung pelarut etanol, maka
dilakukan proses penguapan menggunakan alat estilasi sederhana sehingga akan
diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental sendiri merupakan ekstrak yang telah
mengalami proses penguapan dan tidak mengandung cairan penyari lagi, tetapi
konsistensinya tetap cair dalam suhu kamar (FI edisi III). Hasil ekstrak kental
yang didapatkan yaitu sebanyak 30 mL, hasil tersebut sangat sedikit dikarenakan
pelarut etanol yang ada didalam ekstrak cair sudah mengalami penguapan
sehingga volumenya menjadi sedikit.
34
yaitu golongan flavon. Hasil tersebut sudah sesuai dngan literature yang ada
bahwa rimpang temulawak mengandung senyawa flavonoid.
2. Uji Saponin
Uji ini dilakukan untuk melihat adanya senyawa saponin yang ada pada
rimpang temulawak. Saponin adalah suatu golongan glikosida yang larut dalam
air dan mempunyai karakteristik, dapat membentuk busa apabila dikocok, serta
mempunyai kemampuan menghemolisis sel darah merah (Harbone, 1987).
Saponin juga memiliki toksisitas yang sangat tinggi. Menurut Yurleni (2018)
rimpang temulawak tidak mengandung senyawa saponin. Uji saponin ini
menggunakan metode Forth yang dilakukan dengan cara pengocokan. Hasil yang
didapatkan pada ekstrak etanol rimpang temulawak yaitu negatif karena tidak ada
busa yang terbentuk pada saat dilakukan pengocokan. Hal ini membuktikan
bahwa hasil uji dengan metode Forth ini sudah sesuai dengan literatur karena
menunjukkan hasil yang negatif terhadap saponin.
3. Uji Tannin
Uji ini dilakukan untuk melihat adanya senyawa tannin pada ekstrak
rimpang temulawak. Fungsi tannin dalam tumbuhan adalah sebagai penolak
hewan yang akan memakan tumbuhan tersebut. Adanya senyawa tannin
ditunjukkan dengan warna kehitaman atau lebih pekat pada larutan (Harbone,
1987). Untuk hasil yang didapatkan pada uji tannin ekstrak etanol rimpang
temulawak yaitu negatif karena larutan uji yang dihasilkan tidak menunjukkan
adanya warna yang lebih pekat. Menurut Yurleni (2018) rimpang temulawak tidak
mengandung senyawa tannin. Hal ini membuktikan bahwa hasil yang didapatkan
tersebut sudah sesuai dengan teori yang ada.
4. Polifenol
Uji ini dilakukan untuk melihat adanya senyawa polifenol pada ekstrak
rimpang temulawak. Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan dalam
tumbuhan. Senyawa ini memiliki tanda khas yaitu memiliki banyak gugus fenol
dalam molekulnya. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu
35
tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur. Adanya senyawa polifenol
ditunjukkan dengan warna hijau, biru, hingga hitam pada larutan (Harbone, 1987).
Untuk hasil yang didapatkan pada uji polifenol ekstrak etanol rimpang temulawak
yaitu negatif karena larutan uji yang dihasilkan tidak menunjukkan adanya warna
yang dipersyaratkan. Menurut Yurleni (2018) rimpang temulawak tidak
mengandung senyawa polifenol. Hal ini membuktikan bahwa hasil yang
didapatkan tersebut sudah sesuai dengan teori yang ada.
5. Terpenoid
Uji ini dilakukan untuk melihat adanya senyawa terpenoid pada ekstrak
rimpang temulawak. Adanya senyawa terpenoid ditunjukkan dengan perubahan
warna menjadi merah atau ungu untuk terpenoid golongan triterpenoid dan warna
hijau untuk golongan steroid. Menurut Yurleni (2018) rimpang temulawak
mengandung senyawa terpenoid dengan golongan triterpenoid. Untuk hasil yang
didapatkan pada uji ini yaitu larutan berwarna merah kehitaman yang
menunjukkan bahwa rimpang temulawak positif mengandung senyawa terpenoid
dengan golongan triterpenoid. Hasil tersebut juga sudah sesuai dengan teori yang
ada.
6. Alkaloid
Uji ini dilakukan untuk melihat adanya senyawa alkaloid yang ada pada
ekstrak rimpang temulawak. Adanya senyawa alkaloid ditunjukkan dengan
adanya endapan yang terbentuk pada larutan (Harbone, 1987). Untuk hasil yang
didapatkan pada uji alkaloid ekstrak etanol rimpang temulawak yaitu negatif
karena larutan uji yang dihasilkan tidak menunjukkan adanya endapan yang
terbentuk. Menurut Yurleni (2018) rimpang temulawak tidak mengandung
senyawa alkaloid. Hal ini membuktikan bahwa hasil yang didapatkan tersebut
sudah sesuai dengan teori yang ada.
36
percobaan ini dilakukan untuk melihat warna, rasa, dan bau dari sediaan sirup
yang telah dibuat. Sediaan berwarna kuning dengan rasa pahit manis dan bau khas
temulawak, hasil tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan sediaan yang kita
harapkan karena rasa dari sirup tersebut masih pahit sedangkan spesifikasi rasa
dari sediaan sirup yang kita harapkan yaitu manis. Hal ini dikarenakan konsentrasi
pemanis pada formulasi yang dibuat terlalu rendah sehingga belum bisa menutupi
rasa pahit dari temulawak. Kedua yaitu uji pH yang dilakukan untuk melihat
karakteristik kimia dari sediaan. Hasil pH yang didapatkan yaitu 4,2 sedangkan
menurut Koswara (2009) sediaan sirup temulawak stabil pada pH 4, hal ini
menunjukkan bahwa hasil evaluasi yang di dapatkan sudah sesuai dengan
literature karena pH yang dihasilkan tidak menunjukkan angka yang terlalu jauh
dengan literature yang ada. Ketiga yaitu uji BJ yang dilakukan untuk mengetahui
perbandingan relatif antara berat jenis sediaan sirup dengan berat jenis air murni.
Hasil BJ yang didapatkan yaitu 1,17 g/mL sedangkan menurut Ansel (2011) BJ
dari sediaan sirup yaitu 1,3 g/mL, hasil tersebut dikatakan sudah sesuai dengan
literature meskipun nilainya tidak sama persis tetapi selisihnya tidak jauh beda.
Keempat yaitu uji viskositas yang dilakukan untuk melihat kekentalan dari
sediaan sirup yang kami buat. Hasil viskositas yang didapatkan yaitu 11,76 cP
sedangkan menurut Martin et al (1993) viskositas dari sediaan sirup yaitu 5 cP –
15 cP, hal ini menunjukkan bahwa hasil evaluasi yang didapatkan sudah sesuai
dengan literature karena nilai viskositas yang dihasilkan berada dalam rentang
persyaratan. Dari semua evaluasi tersebut menunjukkan bahwa formulasi sediaan
eliksir yang kami buat telah berhasil karena nilai evaluasi yang di dapatkan sudah
hampir sesuai dengan teori yang ada.
37
tidak diberikan sirup temulawak sehingga tidak ada kenaikan bobot pada mencit
kontrol tersebut. Sedangkan pada mencit uji yang kedua menunjukkan adanya
peningkatan bobot dari mencit yaitu 32,8 gram; 32,8 gram; 33,5 gram; 32,5 gram;
dan 32,9 gram. Pada mencit yang kedua tersebut dosis yang diberikan adalah
dosis terapi dari sirup ekstrak temulawak yaitu 150 mg/kg BB mencit. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa sirup ekstrak temulawak yang kami buat telah
menunjukkan efektifitasnya sebagai antioksidan dikarenakan bobot mencit
tersebut tidak mengalami penurunan dibandingkan dengan mencit kontrol dan
mencit uji yang lain.
38
BAB VI
KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan data hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Formulasi dari sirup ekstrak rimpang temulawak antara lain ekstrak
temulawak (bahan aktif), asam sitrat dan natrium sitrat sebagai dapar sitrat,
sorbitol dan sukrosa sebagai pemanis, natrium benzoate sebagai pengawet,
essence jeruk sebagai pewarna dan perasa, dan aquadest sebagai pelarut.
2. Uji stabilitas fisik sediaan sirup ekstrak temulawak antara lain sediaan sirup
temulawak berwarna kuning dengan rasa pahit manis dan bau khas
temulawak dengan pH 4,2, nilai berat jenis (BJ) 1,17 g/mL, dan nilai
viskositas yaitu 11,76 cP. Dari semua evaluasi tersebut menunjukkan bahwa
formulasi sediaan eliksir yang kami buat telah berhasil karena nilai evaluasi
yang di dapatkan sudah hampir sesuai dengan teori yang ada.
3. Pada uji aktivitas antioksidan dihasilkan selama pengamatan pada mencit
kontrol bobotnya semakin menurun yaitu 15,1 gram; 13,2 gram; 12,7 gram;
14,1 gram; dan 13,3 gram. Sedangkan pada mencit uji yang kedua
menunjukkan adanya peningkatan bobot dari mencit yaitu 32,8 gram; 32,8
gram; 33,5 gram; 32,5 gram; dan 32,9 gram. Pada mencit yang kedua tersebut
dosis yang diberikan adalah dosis terapi dari sirup ekstrak temulawak yaitu
150 mg/kg BB mencit. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sirup ekstrak
temulawak yang kami buat telah menunjukkan efektifitasnya sebagai
antioksidan dikarenakan bobot mencit tersebut tidak mengalami penurunan
dibandingkan dengan mencit kontrol dan mencit uji yang lain.
39
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, E., dan Tim Lentera. 2003. Khasiat dan Manfaat Temulawak Rimpang
Penyembuh Aneka Penyakit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Ansel, Howard. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. Jakarta: UI
Press.
Arief Hariana. 2006. Tumbuhan obat dan khasiatnya. Penebar Swadaya : Jakarta
Hlm 73-74.
Campbell, N.A, J.B. Reece and L.G. Mitchell. 2003. Biologi. Alih Bahasa : L.
Rahayu, E.I.M Adil, N Anita, Andri, W.F Wibowo, W. Manalu. Penerbit
Erlangga. Jakarta
40
Dirjem POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Hal 1, 10-11.
Kinsella, J.E., Frankel, E., German, B. and Kanmer, J., 1993. Possible Mekanisme
for the Protective role of Antioxidants in Wine and Plant Foods. Journal
Food Technology. Vol 4:5-89
41
Koswara, S. 2009. Pewarna Alami : Produksi dan Penggunaannya. Jakarta :
Erlangga.
Kristiani, dkk., 2008. Buku Ajar Fitokimia Jurusan Kimia Laboratorium Kimia
Organik FMIPA. Surabaya : Universitas Airlangga.
Liang, O.B., Widjaja Y., dan Puspa S., 1985, Beberapa Aspek Isolasi, Identifikasi,
dan penggunaan Komponen – komponen Curcuma Xanthorriza Roxb dan
Curcuma Domestica Val, Proseding Simposium Nasional Temulawak.
Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, Bandung, Hal 85-92.
Mappa, T., H.J., E. and K.N., 2013, Formulasi Gel Ekstrak Daun Sasaladahan
(Peperomia pellucid L.) dan Uji Efektivitasnya Terhadap Luka Bakar pada
Kelinci (Oryctolagus cuniculus), Jurnal Ilmiah Farmasi, 2(2), pp.49–56.
Matin, A.W., et al. 1993. Farmasi Fisik Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press.
Oei BL, Apsarton Y, Puspa S, dan Widjaja T. 1985. Beberapa Aspek Isolasi,
Identifikasi, dan Penggunaan Komponen-Komponen Curcuma xanthorrhiza
Roxb. dan Curcuma domestica Vahl. Bandung: PT Darya Varia Laboratoria.
Peschel, D., Koerting, R. and Nass, N., 2006, Curcumin Induces Changes in
Expression of Genes Involved in Cholesterol Homeostasis, J. Nutr.
Biochem, 18 (1), 113-119.
42
Purnomowati,S., A. Yoganingrum. 1997. Tinjauan Literatur Temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb). Pusat Dokumentasi Dan Informasi Ilmiah,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Soetarno, S. dan Soediro, I.S., 1997, Standarisasi Mutu Simplisia dan Ekstrak
Bahan Obat Tradisional, Presidium Temu Ilmiah Nasional Bidang Farmasi.
43
LAMPIRAN
1. Perhitngan BJ
Berat Air : (Pikno + Air) – Pikno kosong
: 49,15 – 23,0
: 26,15 gram
Berat Sampel : (pikno + Sampel) – Pikno kosong
: 53,6 – 23,0
: 30,6 gram
BJ = Berat sampel = 30,6 gram = 1,17 g/cm3
Berat air 26,15 gram
2. Perhitungan Viskositas
t1 = 9,74 s
t2 = 10,02 s
t3 = 10,28 s
t rata-rata = 9,74+10,02+10,28 = 10,01 s
3
η=ρxt
= 1,17 g/cm3 x 10,01
= 11,76 cP
44
Lampiran 2. Kemasan Sekunder Sirup Ekstrak Temulawak
45
Lampiran 3. Etiket Sirup Ekstrak Temulawak
46
Lampiran 4. Brosur Sirup Ekstrak Temulawak
47
Kurkumin mengalami degradasi di bawah kondisi asam, basa, cahaya, dan pemanasan. pH sirup temulawak adalah 4.2, yang relatif stabil, mendekati pH optimal untuk kestabilan kurkumin . Namun, perlakuan pemanasan dapat menyebabkan penurunan kurkumin hingga 32% , sehingga pengendalian pH dan suhu sangat penting untuk mempertahankan kualitas produk sirup sebagai antioksidan efektif .
Rimpang temulawak mengandung berbagai senyawa kimia utama seperti kurkumin, serat, pati, kalium oksalat, dan berbagai minyak atsiri termasuk kamfer, xanthorrhizol, borneol, dan zingiberen . Kurkumin, sebagai komponen utama, berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, hepatoprotektif, antikanker, gastroprotektif, dan antihiperglikemik . Minyak atsiri seperti xanthorrhizol juga memberikan manfaat antimikroba dan antioksidan .
Kurkumin memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan α-tokoferol jika diuji dalam minyak . Aktivitas ini menunjukkan potensi kurkumin sebagai antioksidan ampuh untuk menangkal radikal bebas, menjadikannya komponen penting dalam suplemen kesehatan temulawak untuk perlindungan terhadap penyakit terkait oksidasi seperti kanker dan penyakit hati .
Kurkumin berfungsi sebagai bahan aktif antioksidan dalam formulasi sirup ekstrak rimpang temulawak . Kestabilan fisiknya diuji melalui parameter warna, rasa, pH, berat jenis, dan viskositas. Sirup temulawak memiliki pH 4.2, berat jenis 1.17 g/mL, dan viskositas 11.76 cP, yang mendekati nilai standar literatur . Kestabilan fisik ini menunjukkan bahwa formulasi sirup berhasil dan sesuai spesifikasi .
Pendekatan organoleptik melibatkan penilaian fisik menggunakan panca indra untuk menilai aspek warna, bau, rasa, dan bentuk sirup temulawak . Evaluasi ini penting untuk memastikan penerimaan konsumen terhadap produk, di mana rasa dan aroma harus sesuai harapan tanpa mengurangi efektivitas komponen aktif . Metode ini juga membantu dalam penyesuaian formulasi agar sensori produk memenuhi preferensi pasar .
Parameter standar ekstrak temulawak meliputi identifikasi alkaloid melalui reaksi garam alkaloid dengan HCl, penambahan NaCl untuk meningkatkan kelarutan, penetapan kadar air, kadar abu, dan uji total mikroba . Penggunaan parameter ini memastikan ekstrak bebas dari kontaminan, mempertahankan kualitas bioaktif, dan menentukan komposisi kimia untuk menjaga standar kualitas produk akhir .
Uji aktivitas antioksidan menggunakan model hewan mencit untuk mengevaluasi efektivitas sirup temulawak dalam mencegah penurunan bobot tubuh akibat stress oksidatif. Mencit uji yang diberikan sirup temulawak menunjukkan peningkatan bobot tubuh dibandingkan kontrol, membuktikan efektivitas sirup sebagai antioksidan .
Parameter non-spesifik seperti kadar air, kadar abu, dan cemaran mikrobiologis penting untuk memastikan keamanan dan stabilitas produk. Kandungan air yang tidak berlebihan mencegah pertumbuhan mikroba, sementara kadar abu memastikan tidak ada kontaminan mineral yang membahayakan . Penetapan parameter ini menjamin bahwa produk akhir aman bagi konsumen dan memiliki masa simpan yang baik .
Metode maserasi digunakan dengan merendam serbuk temulawak dalam etanol 96% sebagai pelarut. Etanol dipilih karena sifatnya yang non-toksik, netral, dan kemampuannya mencampur air pada segala perbandingan membuatnya efektif menarik komponen aktif dalam serbuk temulawak . Perendaman dilakukan selama 6 jam diiringi pengadukan untuk meningkatkan hasil ekstraksi, diikuti diam selama 18 jam sebelum disaring dan dilakukan destilasi untuk menguatkan ekstrak .
Ekstrak etanol dari temulawak mengandung kurkumin dan minyak atsiri yang aktif secara biologis . Proses ekstraksi ini meningkatkan ketersediaan zat aktif untuk penggunaan optimal. Uji toksisitas sirup dilakukan untuk memastikan bahwa konsentrasi bahan aktif tidak menimbulkan efek berbahaya pada konsumen, diverifikasi melalui pengamatan kesehatan pada model hewan uji .