0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan30 halaman

Penyakit Jantung Reumatik pada Anak

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit jantung reumatik (RHD). RHD disebabkan oleh reaksi autoimun terhadap infeksi streptokokus hemolitikus grup A. RHD sering mengenai anak usia 5-15 tahun dan merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit jantung pada usia dini. Faktor risiko RHD antara lain genetik, jenis kelamin, etnis, usia, gizi, dan serangan demam rematik se
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan30 halaman

Penyakit Jantung Reumatik pada Anak

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit jantung reumatik (RHD). RHD disebabkan oleh reaksi autoimun terhadap infeksi streptokokus hemolitikus grup A. RHD sering mengenai anak usia 5-15 tahun dan merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit jantung pada usia dini. Faktor risiko RHD antara lain genetik, jenis kelamin, etnis, usia, gizi, dan serangan demam rematik se
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


RHD atau yang lebih dikenal dengan Reumatik Heart Disease terdapat diseluruh
dunia. Lebih dari 100.000 kasus baru demam rematik didiagnosa setiap tahunnya,
khususnya pada kelompok anak usia 6-15 tahun. Cenderung terjangkit pada daerah
dengan udara dingin, lembab, lingkungan yang kondisi kebersihan dan gizinya kurang
[Link] dinegara maju insiden penyakit ini mulai menurun karena tingkat

 perekonomian lebih baik dan upaya pencegahan penyakit lebih sempurna. Dari data 8
rumah sakit di Indonesia tahun 1983-1985 menunjukan kasus RHD rata-rata 3,44 ℅ dari
seluruh jumlah penderita yang [Link] Nasional mortalitas akibat RHD cukup
tinggi dan ini merupakan penyebab kematian utama penyakit jantung sebelum usia 40
tahun.

1.2 Rumusan Masalah


 
a) Laporan Pendahuluan Penyakit RHD
 b)  Laporan Kasus penyakit RHD

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui lebih dalam hal-hal yang berhubungan dengan penyakit pada
anak-anak maupun dewasa yaitu Reumatik Heart Disease

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 1/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN

PENYAKIT RHD

1.  PENGERTIAN

Penyakit jantung reumatik merupakan proses imun sistemik sebagai reaksi terhadap
infeksi streptokokus hemolitikus di faring (Brunner & Suddarth, 2001).

Penyakit jantung reumatik adalah penyakit peradangan sistemik akut atau


kronik yang merupakan suatu reaksi autoimun oleh infeksi Beta Streptococcus
Hemolyticus Grup A yang mekanisme perjalanannya belum diketahui, dengansatu atau
lebih gejala mayor yaitu Poliarthritis migrans akut, Karditis, Koreaminor, Nodul
subkutan dan Eritema marginatum (Lawrence M. Tierney, 2002).

Penyakit jantung rematik adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada
katup jantung akibat serangan karditis rematik akut yang berulang kali (Arif Mansjoer,
2002).

Penyakit jantung rematik (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai
 jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung dan pembuluh darah
oleh organisme streptococcus hemolitic-β grup A (Sunoto Pratanu, 2000).

Penyakit jantung rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya rheumatic heart disease
(RHD) adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada katup jantung yang bisa

 berupa penyempitan atau kebocoran, terutama katup mitral sebagai akibat adanya gejala
sisa dari demam rematik.

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 2/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

2.  ETIOLOGI

Penyebab terjadinya penyakit jantung reumatik diperkirakan adalah reaksi autoimun

(kekebalan tubuh) yang disebabkan oleh demam reumatik. Infeksi streptococcus β 


hemolitikus grup A pada tenggorok selalu mendahului terjadinya demam reumatik baik
demam reumatik serangan pertama maupun demam reumatik serangan ulang.

Infeksi Streptococcus beta-hemolyticus grup A pada tenggorok selalu mendahului


terjadinya demam rematik, baik pada serangan pertama maupun serangan ulang.
Telah diketahui bahwa dalam hal terjadi demam rematik terdapat beberapa predisposisi
antara lain :

Faktor-faktor pada individu :

1.  Faktor genetik

Adanya antigen limfosit manusia ( HLA ) yang tinggi. HLA terhadap demam
rematik menunjkan hubungan dengan aloantigen sel B spesifik dikenal dengan antibodi
monoklonal dengan status reumatikus.

2.  Jenis kelamin

Demam reumatik sering didapatkan pada anak wanita dibandingkan dengan anak
laki-laki. Tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin,
meskipun manifestasi tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada satu jenis kelamin.

3.  Golongan etnik dan ras

Data di Amerika Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun ulang


demam reumatik lebih sering didapatkan pada orang kulit hitam dibanding dengan orang
kulit putih. Tetapi data ini harus dinilai hati-hati, sebab mungkin berbagai faktor
lingkungan yang berbeda pada kedua golongan tersebut ikut berperan atau bahkan
merupakan sebab yang sebenarnya.

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 3/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

4.  Umur

Umur agaknya merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya demam

reumatik / penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai anak umur
antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa ditemukan pada
anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur 3 tahun atau
setelah 20 tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan insidens infeksi
streptococcus pada anak usia sekolah. Tetapi Markowitz menemukan bahwa penderita
infeksi streptococcus adalah mereka yang berumur 2-6 tahun.

5.  Keadaan gizi dan lain-lain

Keadaan gizi serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan apakah
merupakan faktor predisposisi untuk timbulnya demam reumatik.

6.  Reaksi autoimun

Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian dinding sel
streptokokus beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katub mungkin ini

mendukung terjadinya miokarditis dan valvulitis pada reumatik fever.

7.  Serangan demam rematik sebelumnya.

Serangan ulang demam rematik sesudah adanya reinfeksi dengan Streptococcus


 beta-hemolyticus grup A adalah sering pada anak yang sebelumnya pernah mendapat
demam rematik.

Faktor-faktor lingkungan :

1.  Keadaan sosial ekonomi yang buruk

Mungkin ini merupakan faktor lingkungan yang terpenting sebagai predisposisi


untuk terjadinya demam reumatik. Insidens demam reumatik di negara-negara yang

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 4/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

sudah maju, jelas menurun sebelum era antibiotik termasuk dalam keadaan sosial
ekonomi yang buruk sanitasi lingkungan yang buruk, rumah-rumah dengan penghuni
 padat, rendahnya pendidikan sehingga pengertian untuk segera mengobati anak yang

menderita sakit sangat kurang; pendapatan yang rendah sehingga biaya untuk perawatan
kesehatan kurang dan lain-lain. Semua hal ini merupakan faktor-faktor yang
memudahkan timbulnya demam reumatik.

2.  Iklim dan geografi

Demam reumatik merupakan penyakit kosmopolit. Penyakit terbanyak didapatkan


didaerah yang beriklim sedang, tetapi data akhir-akhir ini menunjukkan bahwa daerah

tropis pun mempunyai insidens yang tinggi, lebih tinggi dari yang diduga semula.
Didaerah yang letaknya agak tinggi agaknya insidens demam reumatik lebih tinggi
daripada didataran rendah.

3.  Cuaca

Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan insidens infeksi saluran


nafas bagian atas meningkat, sehingga insidens demam reumatik juga meningkat.

[Link]

Demam reumatik adalah penyakit radang yang timbul setelah infeksistreptococcus


golongan beta hemolitik A. Penyakit ini menyebabkan lesi patologik jantung, pembuluh
darah, sendi dan jaringan sub [Link] reumatik dapat menyerang semua bagian
 jantung. Meskipun pengetahuan tentang penyakit ini serta penelitian terhadap kuman
Beta Streptococcus HemolyticusGrup A sudah berkembang pesat, namun mekanisme

terjadinya demam reumatik yangpasti belum diketahui. Pada umumnya para ahli
sependapat bahwa demam remautik termasuk dalam penyakit autoimun.

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 5/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

4.  MANIFESTASI KLINIK

Perjalanan klinis penyakit demam reumatik / penyakit jantung reumatik dapat dibagi

dalam 4 stadium.

Stadium I

Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus Grup
A.
Keluhan :

1.  Demam
2.  Batuk
3.  Rasa sakit waktu menelan
4.  Muntah
5.  Peradangan pada tonsil yang disertai eksudat.

Stadium II

Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus
dengan permulaan gejala demam reumatik, biasanya periode ini berlangsung 1 –  3
minggu, kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan
kemudian.

Stadium III

Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat ini
timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum dan
menifesrasi spesifik demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Gejala peradangan umum :

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 6/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

1.  Demam yang tinggi


2.  Lesu
3.  Anoreksia

4.  Berat badan menurun


5.  Kelihatan pucat
6.  Epistaksis
7.  Athralgia
8.  Rasa sakit disekitar sendi
9.  Sakit perut
10. Stadium IV

Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam reumatik tanpa
kelainan jantung / penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak
menunjukkan gejala apa-apa.

Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan katup jantung,
gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya kelainan. Pasa fase ini baik
 penderita demam reumatik maupun penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat

mengalami reaktivasi penyakitnya.

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 7/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

5.  PATHWAY

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 8/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

Ekspansin paru

Sumber : [Link]
[Link]  

6.  KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi pada Penyakit Jantung Reumatik (PJR) diantaranya
adalah gagal jantung, pankarditis (infeksi dan peradangan di seluruh bagian jantung),
 pneumonitis reumatik (infeksi paru), emboli atau sumbatan pada paru, kelainan katup
 jantung, dan infark (kematian sel jantung).

1.  Dekompensasi Cordis

Peristiwa dekompensasi cordis pada bayi dan anak menggambarkan terdapatnya


sindroma klinik akibat myocardium tidak mampu memenuhi keperluan metabolic
termasuk pertumbuhan. Keadaan ini timbul karena kerja otot jantung yang berlebihan,
 biasanya karena kelainan struktur jantung, kelainan otot jantung sendiri seperti proses
inflamasi atau gabungan kedua faktor tersebut.

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 9/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

Pada umumnya payah jantung pada anak diobati secara klasik yaitu dengan digitalis
dan obat-obat diuretika. Tujuan pengobatan ialah menghilangkan gejala (simptomatik)
dan yang paling penting mengobati penyakit primer.

1.  Pericarditis

Peradangan pada pericard visceralis dan parietalis yang bervariasi dari reaksi radang
yang ringan sampai tertimbunnnya cairan dalam cavum pericard

7.  PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan demam reumatik aktif atau reaktivasi kembali diantaranya adalah :

1.  Tirah baring dan mobilisasi (kembali keaktivitas normal) secara bertahap
2.  Pemberantasan terhadap kuman streptokokkus dengan pemberian antibiotic
 penisilin atau eritromisin. Untuk profilaksis atau pencegahan dapat diberikan
antibiotic penisilin benzatin atau sulfadiazine
3.  Antiinflamasi (antiperadangan). Antiperadangan seperti salisilat dapat dipakai

 pada demam reumatik tanpa karditis (peradangan pada jantung)

[Link] DIAGNOSTIK/PENUNJANG

   Pemeriksaan darah

a) LED tinggi sekali

 b) Lekositosis

c) Nilai hemoglobin dapat rendah

10

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 10/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

   Pemeriksaan bakteriologi

a) Biakan hapus tenggorokan untuk membuktikan adanya streptococcus.

 b) Pemeriksaan serologi. Diukur titer ASTO, astistreptokinase, anti hyaluronidase.

   Radiologi

Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung.

   Pemeriksaan Echokardiogram

Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi

   Pemeriksaan Elektrokardiogram

Menunjukan interval P-R memanjang.

9. Konsep Asuhan Keperawatan

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN REUMATIK


HEART DISEASE

A. Pengkajian
Data fokus:
Peningkatan suhu tubuh tidak terlalu tinggi kurang dari 39 derajat celcius namun tidak
terpola
Adanya riwayat infeksi saluran nafas.
Tekanan darah menurun, denyut nadi meningkat, dada berdebar-debar..
 Nyeri abdomen, Mual, anoreksia dan penurunan hemoglobin
Arthralgia, gangguan fungsi sendi
Kelemahan otot

11

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 11/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

Akral dingin
Mungkin adanya sesak.
Manifestasi khusus:

carditis:
a) takikardia terutama saat tidur ( sleeping pulse )
 b) kardiomegali
c) suara bising katup ( suara sistolik )
d) perubahan suara jantung
e) perubahan ECG (PR memanjang)
f) Precordial pain

g) Precardial friction rub


h) Lab : leukositosis, LED meningkat, peningkatan ASTO,.
Polyarthritis
 Nyeri dan nyeri tekan disekitar sendi Menyebar pada sendi lutut, siku, bahu,
lengan ( gangguan fungsi sendi )
 Nodul subcutaneous:
Timbul benjolan dibawah kulit, teraba lunak dan bergerak bebas,muncul sesaat,
 pada umumnya langsung diserap dan terdapat pada permukaan ekstensor persendian.
Khorea:
Pergerakan ireguler pada ekstremitas, involunter dan cepat, emosi labil dan
kelemahan otot.
Eritema marginatum:
a) Bercak kemerahan umum pada batang tubuh dan telapak tangan.
 b) Bercak merah dapat berpindah lokasi à tidak permanen
c) Eritema bersifat non pruritus

B. Diagnosis Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan adanya gangguan pada penutupan pada
katup mitral ( stenosis katup ).
2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan metabolisme
terutama perifer akibat vasokonstriksi pembuluh darah.

12

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 12/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

3. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada membran sinovial.


4. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penumpukan darah diparu
akibat pengisian atrium yang meningkat.

C. Rencana Tindakan Keperawatan


1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan adanya gangguan pada penutupan katup
mitral ( stenosis katup )
Tujuan: Penurunan curah jantung dapat diminimalkan.
Kriteria hasil: Menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas yang dapat diterima
(disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung (mis : parameter
hemodinamik dalam batas normal, haluaran urine adekuat). Melaporkan penurunan

episode dispnea,angina. Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
Intervensi dan rasional:

Intervensi Rasional

Kaji frekuensi nadi, RR, TD Memonitor adanya perubahan sirkulasi


secara teratur setiap 4 jam.  jantung sedini mungkin dan terjadinya
takikardia-disritmia sebagai
kompensasi meningkatkan curah

 jantung
Kaji perubahan warna kulit Pucat menunjukkan adanya penurunan
terhadap sianosis dan pucat.  perfusi perifer terhadap tidak
adekuatnya curah jantung. Sianosis
terjadi sebagai akibat adanya obstruksi
aliran darah pada ventrikel.

Batasi aktifitas secara adekuat. Istirahat memadai diperlukan untuk


memperbaiki efisiensi kontraksi
 jantung dan menurunkan komsumsi
O2 dan kerja berlebihan.

13

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 13/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

Berikan kondisi psikologis Stres emosi menghasilkan


lingkungan yang tenang. vasokontriksi yang meningkatkan TD
dan meningkatkan kerja jantung.

Kolaborasi untuk pemberian Meningkatkan sediaan oksigen untuk


oksigen fungsi miokard dan mencegah
hipoksia.
Kolaborasi untuk pemberian Diberikan untuk meningkatkan
digitalis kontraktilitas miokard dan
menurunkan beban kerja jantung.

2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan perubahan metabolism


terutama perifer akibat vasokonstriksi pembuluh darah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan , perfusi jaringan perifer efektif
Kriteria hasil : Klien tidak pucat, Tidak ada sianosis, Tidak ada edema
Intervensi dan rasional :
Intervensi Rasional
Selidiki perubahan tiba-tiba atau Perfusi serebral secara langsung
gangguan mental kontinyu, sehubungan dengan curah jantung dan
contoh: cemas, bingung, letargi,  juga dipengaruhi oleh elektrolit atau
 pingsan. variasi asam basa, hipoksia, atau emboli
sistemik.
Lihat pucat, sianosis, belang, kulit Vasokontriksi sistemik diakibatkan oleh
dingin atau lembab. Catat  penurunan curah jantung mungkin
kekuatan nadi perifer. dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit
dan penurunan nadi.
Pantau pernapasan, catat kerja Pompa jantung gagal dapat
 pernapasan. mencetuskan distress pernapasan.

14

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 14/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

3. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada membran sinovial


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, masalah nyeri teratasi.
Kriteria hasil : Skala nyeri 0-1, tanda-tanda vital dalam batas normal, klien tidak

mengeluh nyeri, tidak ada nyeri tekan dan klien tidak membatasi [Link]
tampak rileks
Intervensi dan rasional:
Intervensi Rasional
Kaji keluhan nyeri. Perhatikan Memberikan informasi sebagai
intensitas ( skala 1-10 ) dasar dan pengawasan intervensi

Pantau tanda-tanda vital (TD, Mengetahui keadaan umum dan


 Nadi, RR , suhu) memberikan informasi sebagai
dasar dan pengawasan intervensi
Pertahankan posisi daerah sendi Menurunkan spasme/ tegangan
yang nyeri dan beri posisi yang sendi dan jaringan sekitar
nyaman

Kompres dengan air hangat jika Menghambat kerja reseptor nyeri


diindikasikan
Ajarkan teknik relaksasi progresif Membantu menurunkan spasme
( napas dalam, Guid sendi-sendi, meningkatkan rasa
imageri,visualisasi ) kontrol dan mampu mengalihkan
nyeri.
Kolaborasi untuk pemberian Menghilangkan nyeri
analgetik

4. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penumpukan darah diparu


akibat pengisian atrium yang meningkat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah resiko kerusakan pertukaran
gas tidak terjadi.

15

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 15/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

Kriteria hasil : Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan


ditunjukkan oleh GDA/ oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress
 pernafasan. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan/situasi.

Intervensi dan rasional:

Intervensi Rasional

Auskultasi bunyi nafas, catat Menyatakan adanay kongesti


krekels, mengii.  paru/pengumpulan sekret
menunjukkan kebutuhan untuk
intervensi lanjut.
Anjurkan pasien batuk efektif, nafas Membersihkan jalan nafas dan
dalam. memudahkan aliran oksigen.

Pertahankan posisi semifowler, Menurunkan komsumsi


sokong tangan dengan bantal Jika oksigen/kebutuhan dan
memungkinkan meningkatkan ekspansi paru
maksimal.
Kolaborasi dalam pemberian Meningkatkan konsentrasi oksigen

oksigen tambahan sesuai indikasi. alveolar, yang dapat


memperbaiki/menurunkan
hipoksemia jaringan.
Kolaborasi untuk pemeriksaan Hipoksemia dapat menjadi berat
AGD selama edema paru
Menurunkan kongesti alveolar,
Kolaborasi untuk pemberian obat meningkatkan pertukaran gas.
diuretik.
Meningkatkan aliran oksigen dengan
Kolaborasi untuk pemberian obat mendilatasibjalan nafas kecil dan
 bronkodilator mengeluarkan efek diuretic ringan
untuk menurunkan kongesti paru

16

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 16/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

BAB III

KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN REUMATIC HEART DISEASE (RHD)

DI RUANG PENYAKIT DALAM

Klien R (50 thn) datang kerumah sakit dengan keluhan sesak, lemas, mual muntah, dan

tidak nafsu makan. Dari hasil pemeriksaan TD: 110/80 mmHg, HR: 115 x/menit, RR:
o
28 x/menit, S: 38,8 C. EKG segmen PR Elevasi, kketika di palpasi terjadi kardiomegali,
dan terdengar pericardial friction rub.

I.  PENGKAJIAN
1.  Identitas
a)   Nama Pasien : Ny . R
Tempat Tanggal Lahir : Purwakarta , 1 Januari 1966

Agama : Islam
Status perkawinan : Kawin
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Tanggal Masuk RS : 25 Oktober 2014
 No . RM : 0011223344
Ruang Penyakit Dalam : Penyakit Dalam

Diagnosa Medis : RHD


 b)  Keluarga Penanggung Jawab
 Nama : Tn . S
Hubungan : Suami
Umur : 55 Tahun

17

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 17/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan
Alamat : Ci teko , Purwakarta

2.  Riwayat Penyakit


a)  Keluhan Utama
Klien mengatakan pasien mengalami sesak, mual muntah dan
tidak nafsu makan , demam dan tubuh lemah
 b)  Riwayat Sekarang
klien mengatakan klien mengalami sesak 2 hari yang lalu, sesak

sering hilang timbul. Klien juga mengalami mual disertai muntah.


Klien juga mengalami anoreksia. Klien juga tampak lemas dan
tidak juga tidak banyak beraktivitas
c)  Riwayat penyakit dahulu
Keluarga klien mengatakan klien pernah mengalami sesak 2 tahun
yang lalu dan pernah di rawat di RS
3.  Riwayat kesehatan Keluarga
klien mengatakan keluarga tidak ada yang mengalami penyakit
yang sama seperti klien .
4.  Konsep diri
Sebelum sakit : klien tidak minder dengan dirinya dan bisa
 berperan/berinteraksi dengan masyarakat
Saat sakit : klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
dirumah dan membantu suami bekerja
5.  Pola kebiasaan

a)   Nutrisi
Klien mengatakan sebelum sakit klien makan 3 x sehari dengan
nasi, sayur mayur yang di masak setengah matang, kadang-
kadang dengan lauk. Klien tidak berpantang. Selama sakit klien
mengatakan nafsu makan berkurang.

18

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 18/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

 b)  Pola eliminasi


Sebelum sakit klien BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek
 berwarna kuning. BAK lancer 5-7x/hari.

Selama sakit, klien BAB 1x dalam sehari dengan konsistensi


encer tanpa ampas dan berwarna feses kuning. BAK lancar 5-
7x/hari dengan urine kuning jernih.
c)  Pola minum
Sebelum sakit klien minum satu hari 1500 sampai 2000 ml/hari.
Saat di kaji klien mengatakan sudah minum 600 ml air putih.
d)  Pola kebersihan

Sebelum sakit klien mandi 3x/hari menggunakan sabun dan


menggosok gigi dengan pasta gigi
Selama sakit klien hanya di seka, klien tampak kurang bersih.
e)  Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit klien tidur tidak ada gangguan pola tidur, tidur
malam pukul 21.00, tidur siang 1 sampai 2 jam dalam suasana
tenang.
Selama sakit klien kurang bisa tidur karena kesakitan, klien hanya
 bisa tidur 4-5 jam/24 jam, karena BAB yang terus menerus.
f)  Pola aktivitas
Sebelum sakit klien rajin membersihkan rumah dan memasak
untuk suami.
Saat sakit klien mengatakan tidak dapat beraktivitas seperti
sebelum sakit.

6.  Pemeriksaan Fisik


a.  Keadaan umum : Klien terlihat sesak dan lemah
 b.  Kesadaran : Somnolen
c.  Tanda-tanda Vital : TD : 130/90 mmHg,
 N : 115x/menit,

19

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 19/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

RR : 28x/menit,
0
S : 38,8  C
d.  Mata : anemis (-), sianosis (-). Sklera : putih Konjunctiva : merah

muda. Pupil : isokor  


e.  Hidung : sekret (-),
f.  Mulut : bersih, gigi lengkap, mukosa bibir lembab. 
g.  Leher : DVJ (-),Tenggorokan : sakit menelan (-). 
h.  Dada : - Bentuk : simetris - Gerakan : simetris Suara nafas dan lokasi
: murmur di seluruh lapang jantung, mengii (-), krekels minimal.
ronchi kasar (minimal) hampir di sebagian besar lapang [Link]

nafas : hidung Batuk : - Sputum : - Cyanosis : - Frekwensi nafas : 28


x/mnt. Nyeri dada : -, - Palpasi Suara jantung : S1 S2 tunggal,
murmur di seluruh lapang jantung. Edema : -
i.  Abdomen : distensi (-), peristaltik usus baik. 
 j.  Integumen :
- Warna kulit :sawo matang
- Akral :hangat, oedem (--)
- Turgor : baik  
k.  Estremitas

Atas 5 5

Bawah 5 5

7.  Spiritual

a.  Konsep tentang penguasa kehidupan: Allah SWT. 


 b.  Sumber kekuatan/harapan saat sakit: Allah SWT, tenaga
dokter dan perawat serta dukungan keluarga. 

20

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 20/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

c.  Ritual agama yg berarti/diharapkan saat ini: dapat


melaksanakan sholat dengan baik (selama dirawat klien sholat
di TT) 

d.  Sarana/peralatan/orang yg diperlukan dlm melaksanakan ritual


agama yg diharapkan saat ini: - 
e.  Upaya kesehatan yang bertentangan dgn keyakinan agama: - 
f.  Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dlm
menghadapi situasi sakit saat ini: sangat yakin Tuhan akan
membantu kesembuhan. 
g.  Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan:

sangat yakin. 
h.  Persepsi thd penyebab penyakit: tidak tahu 
8.  Analisa Data
 No Data Etiologi Problem
1 DS : Klien mengatakan Merangsang medulla Pola Nafas
mengalami sesak
oblongata Tidak Efektif
DO : RR : 28x/menit
Klien terlihat lemas
Kompensasi saraf simpatis

Jantung

Pengisian atrium kanan


meningkat

Penumpukan darah di paru

Gangguan fungsi alveoli

Ekspansi paru terganggu

21

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 21/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

2 DS : Klien mengatakan Streptococcus hemoliticus b Peningkatan


demam grup A (melepaskan suhu tubuh
DO : S : 38,8 C endotoksin di pharing dan

tonsil )

Pharyngitis dan tonsillitis

Tubuh mengeluarkan
antibody berlebihan tidak
dapat membedakan antibody

dan anti gen

Respon imunologi abnormal

RHD

Persendian

Peradangan pada membrane


sinoval

Polyarthritis / arthralgia

Hipertermia

22

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 22/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

3 DS : klien mengatakan GI Tract Gangguan


klien mual disertai kekurangan
muntah dan anoreksia Kerja lambung nutrisi

DO : klien tampak pucat meningkat kebutuhan


dan lemas nutrisi
HCL meningkat

Mual , anoreksia

II.  DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.  Pola nafas tidak efektif b/d ekspansi paru terganggu 


2.  Peningkatan suhu tubuh b/d peradangan pada membran sinoval 
3.  Gangguan kebutuhan nutrisi b/d mual muntah 

23

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 23/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

III.  INTERVENSI
 NO DX KRITERIA INTERVENSI IMPLEMENTASI
HASIL

1 1 Tujuan jangka 1. auskultasi bunyi [Link]


 pendek: nafas auskultasi bunyi
 perpindahan [Link] klien nafas
cairan ke area untuk posisi [Link]
interstitial dapat semifowler klien untuk posisi
diminimalkan [Link] semifowler
dengan  pemasangan [Link]

 pemberian terapi oksigenasi  pemasangan


dan perawatan [Link] oksigenasi
yang  pengetahuan tentang 4. memberikan
mendukung.  penyakitnya.  pengetahuan
Tujuan jangka [Link] dengan tentang
 penjang: Setelah tim medis.  penyakitnya
diberikan asuhan [Link]
keperawatan dengan tim medis.
selama 3 hari
 pertukaran gas
adekuat
Kriteria hasil:
sianosis tidak
ada, edema tidak
ada, vital sign

dalam batas
dapat diterima,
akral hangat,
suara nafas

24

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 24/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

 bersih, oksimetri
dalam rentang
normal..

 NO DX KRITERIA INTERVENSI IMPLEMENTASI


HASIL
2 2 Tujuan pendek : 1 . Observasi TTV 1. Mengobservasi
TTV
1x24 jam suhu 2. Lakukan kompres
2. Melakukan
tumbuh 3. Anjurkan klien kompres
3 . Menganjurkan
menurun. memakai baju tipis klien memakai
Tujuan panjang : 4 . Kolaborasi  baju tipis
4 . Berkolaborasi
3x24 jam suhu dengan tim medis
dengan tim medis
kembali normal
tubuh .
Kreteria hasil :
Secara subjektif
klien
mengatakan
suhu tubuh
kembali normal ,
Secara objek
suhu tubuh 37C

25

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 25/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

 NO DX KRITERIA INTERVENSI IMPLEMENTASI


HASIL
3 3 Tujuan pendek : [Link] asupan makan [Link] asupan

setelah klien. makan klien.


dilakukan [Link] makan [Link]
tindakan 1x sedikit-sedikit tapi makan sedikit-
24jam rasa mual sering. sedikit tapi sering.
 berkurang. [Link] makanan [Link]
Tujuan panjang : yang hangat. makanan yang
setelah [Link] makanan hangat.

dilakukan yang disukai klien. [Link]


tindakan [Link] makanan yang
keperawatan  pengetahuan tentang disukai klien.
3x24jam rasa nutrisi. [Link]
mual hilang [Link] dengan  pengetahuan
Kriteria hasil; tim ahli gizi tentang nutrisi
kebutuhan [Link]
nutrisi terpenuhi dengan tim ahli
gizi.

26

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 26/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

IV.  EVALUASI

DX1

S : klien mengatakan tidak merasa sesak


O : TD : 130 / 80 mmHG , N : 102 x/menit , RR : 21 x/menit S= 37 , klien
tampak segar
A : Masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan

DX 2
S : Klien mengatakan demam sudah turun
O : S : 37
A : masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan

DX 3

S : Klien mengatakan tidak merasa mual , dan porsi habis


O : TD :130 / 80 mmHG , N : 102 x/menit , RR : 21 x/menit S= 37, porsi makan
habis
A : Masalah Teratasi
P : Intervensi di hentikan

27

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 27/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang
mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung dan
 pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A.
Demam reumatik adalah suatu sindroma penyakit radang yang biasanya
timbul setelah suatu infeksi tenggorok oleh steptokokus beta hemolitikus golongan A,
mempunyai kecenderungan untuk kambuh dan dapat menyebabkan gejala sisa pada

 jantung khususnya katub.


Demam reumatik akut biasanya didahului oleh radang saluran nafas bagian atas
yang disebabkan oleh infeksi streptokokus beta-hemolitikus golongan A, sehingga
kuman termasuk dianggap sebagai penyebab demam reumatik akut.
Infeksi tenggorokan yang terjadi bisa berat, sedang, ringan, atau asimtomatik,
diikuti fase laten (asimtomatik) selama 1 sampai 3 minggu. Baru setelah itu timbul
gejala-gejala demam reumatik akut.

Seseorang yang mengalami demam rematik apabila tidak ditangani secara


adekuat, Maka sangat mungkin sekali mengalami serangan penyakit jantung rematik.
Infeksi oleh kuman Streptococcus Beta Hemolyticus group A yang menyebabkan
seseorang mengalami demam rematik dimana diawali terjadinya peradangan pada
saluran tenggorokan, dikarenakan penatalaksanaan dan pengobatannya yang kurah
terarah menyebabkan racun/toxin dari kuman ini menyebar melalui sirkulasi darah dan
mengakibatkan peradangan katup jantung. Akibatnya daun-daun katup mengalami
 perlengketan sehingga menyempit, atau menebal dan mengkerut sehingga kalau
menutup tidak sempurna lagi dan terjadi kebocoran.
Apabila diagnosa penyakit jantung rematik sudah ditegakkan dan masih
adanya infeksi oleh kuman Streptococcus tersebut, maka hal utama yang terlintas dari
Tim Dokter adalah pemberian antibiotika dan anti radang. Misalnya pemberian obat
antibiotika penicillin secara oral atau benzathine penicillin G. Pada penderita yang

28

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 28/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

allergi terhadap kedua obat tersebut, alternatif lain adalah pemberian erythromycin atau
golongan cephalosporin. Sedangkan antiradang yang biasanya diberikan adalah
Cortisone and Aspirin.

4.2 SARAN
Seseorang yag terinfeksi kuman streptococcus hemoliticus dan mengalami
demam reumatik, harus diberikan terapi yang maksimal dengan antibiotika, hal ini untuk
menghindari kemungkinanserangan kedua kalinya bahkan menyebabkan penyakit
 jantung reumatik

29

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 29/30


 

5/19/2018 Ma ka la h RHD - slide pdf.c om

DAFTAR PUSTAKA

2014 [Link]
keperawatan_9041.[Link] akses 2014 .
2011 [Link]
[Link] .Tanggal akses 30 oktober 2014 .

2012 [Link] .
Tanggal akses 30 oktober 2014 . jam

30

[Link] pdf.c om/re a de r/full/ma ka la h-rhd 30/30

Anda mungkin juga menyukai