0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan31 halaman

Laporan Kasus Tuberkulosis Paru 2019

Pasien wanita berusia 30 tahun datang dengan keluhan batuk berdarah selama 5 bulan. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya ronki pada kedua apex paru dan hasil mikroskopis dahak positif untuk BTA.

Diunggah oleh

radhiinathahir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan31 halaman

Laporan Kasus Tuberkulosis Paru 2019

Pasien wanita berusia 30 tahun datang dengan keluhan batuk berdarah selama 5 bulan. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya ronki pada kedua apex paru dan hasil mikroskopis dahak positif untuk BTA.

Diunggah oleh

radhiinathahir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEPARTEMEN ILMU LAPORAN KASUS

KESEHATAN MASYARAKAT SEPTEMBER 2019


DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

KEDOKTERAN KELUARGA

PUSKESMAS TAMALANREA

“TUBERKULOSIS PARU”

Disusun Oleh

IRENE SABILONIA BITTICACA

C 111 08 211J

DIAJUKAN SEBAGAI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN ILMU
KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Irene Sabilonia Bitticaca

NIM : C 111 08 211J

Periode Kepaniteraan : 5 Agustus – 28 September 2019

Judul Laporan Kasus : Tuberkulosis Paru Kasus Baru on Treatment

Kategori I

Telah menyelesaikan tugaslaporan kasus dalam rangka kepaniteraan klinik

kedokteran keluarga Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran

KeluargaFakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, September 2019

Pembimbing

Drg. A. Erny

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul...........................................................................................................i

Halaman Pengesahan...............................................................................................ii

Daftar Isi.................................................................................................................iii

Daftar Gambar.........................................................................................................vi

BAB I LAPORAN KASUS...............................................................................1

A. IDENTITAS PASIEN.......................................................................................1

B. ANAMNESIS...................................................................................................1

C. PEMERIKSAAN FISIK..................................................................................1

D. RESUME..........................................................................................................3

E. DIAGNOSIS.....................................................................................................4

F. ANJURAN PENATATALAKSAAN PENYAKIT...................................4

G. PROGNOSIS............................................................................................. 5

H. KONSELING....................................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................7

A. ANATOMI.....................................................................................................7

B. DEFINISI.....................................................................................................11

C. EPIDEMIOLOGI............................................................................................11

D. FAKTOR RESIKO........................................................................................11

E. KLASIFIKASI................................................................................................12

F. DIAGNOSIS DAN MANIFESTASI KLINIS................................................15

G. TATALAKSANA...........................................................................................19

H. EVALUASI PENGOBATAN........................................................................22

BAB III PENUTUP............................................................................................25

iii
KESIMPULAN......................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................27

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambar ParuLobusDextra dan Sinistra............................................10

Gambar 2. GambaranHilusParu.......................................................................10

v
BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. L

Umur : 30 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. PerintisKemerdekaan

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

B. ANAMNESIS

(Autoanamnesis, Tgl: 12 September2019)

Keluhan utama: Batuk

Riwayatperjalananpenyakit

Pasien datang ke Puskesmas Tamalanrea dengan keluhan batuk

dialami sejak 5 bulan yang lalu, terus menerus, ada dahak berwarna putih

sesekali, tidak ada batuk berdarah. Keluhan memberat 2 bulan terakhir.

Demam tidak ada. Mual tidakada, muntah tidak ada. Buang air kecil lancar.

Buang air besar lancar.

Demam saat ini tidak ada. Riwayat demam ada dialami selama 2 bulan

terakhir, disertai penurunan berat badan dari 48kg menjadi 42kg, mual dan

muntah tidakada. Pasien saat ini hanya mengeluhkan batuk sesekali.

o Riwayat Penyakit Sebelumnya:


 Riwayat terapi OAT tidak ada
 Riwayat DM tidak ada
 Riwayat hipertensi tidak ada

1
 Riwayat merokoktidakada
 Riwayat kontak penderita TB disangkal
 Riwayat asma dan penyakit jantung disangkal
 Riwayat penyakit infeksi sebelumnya tidak ada
 Riwayat alergi tidak ada
o Riwayat Penyakit Keluarga:
Pasien menyangkal memiliki keluarga dengan riwaya tkeluhan yang sama
o RiwayatLingkungan:
Di lingkungan sekitar pasien, pasien menyangkal memiliki tetangga
dengan riwayat keluhan yang sama.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaanumum

Sakit sedang / Gizi baik / Kompos mentis

Tanda-tanda vital

Tekanandarah : 110/70 mm/Hg

Pernafasan :22x/menit

Suhu : 36,7 0C

Nadi :80x/menit

Kepala : rambut hitam, lurus, sulit dicabut

Mata

Pupil : Bulat, isokor 2mm ODS

Konjungtiva : tidak anemis

Sklera : tidak ikterik

Telinga : otore tidak ada

Hidung : rhinorrhea tidak ada, epistaksis tidak ada

Mulut : stomatitis tidak ada, perdarahan ginggiva tidak ada

2
Bibir : tidak kering

Lidah : lidah kotor tidak ada

Tenggorokan : tidak hiperemis

Tonsil : T1/T1, tidak hiperemis

Leher

Kaku kuduk : tidak ada

Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran

Paru

Inspeksi :

- Bentuk :Pergerakan dada simetris kiri dan kanan saat statis dan
dinamis.
- Tidak ada iga gambang
- Massa tidak ada
- Tanda trauma tidak ada
- Tidak ada retraksi subcostal, intercostal, ataupun suprasternal
Palpasi :

- Nyeri tekan tidakada, pelebaran sela iga tidak ada


- Massa tidak teraba, krepitasi tidak teraba
- Vokal fremitus simetris pada kedua paru
Perkusi :

- Sonor pada kedua hemithorax


- Batas paru hepar : ICS VI dekstra anterior
- Batas paru belakang kanan : CV Th. X dekstra
- Batas paru belakang kiri : CV Th. XI sinistra

3
Auskultasi :

- Bunyi pernapasan vesikuler


- Bunyi tambahan: Ronkhi ada pada kedua apex paru, wheezing
tidak ada
Jantung

Inspeksi : tidak tampak iktus kordis

Palpasi : iktus kordis tidak teraba

Perkusi : batas atas jantung ICS II sinistra

batas kanan jantung ICS VI linea parasternalis dextra

batas kiri jantung ICS V linea axillaris anterior sinistra

Auskultasi : bunyi jantung I/II murni reguler, murmur tidak ada

Abdomen

Inspeksi : cembung, ikut gerak napas

Auskultasi : peristaltik ada, kesan normal

Palpasi : nyeri tekan tidak ada, lien tidak teraba, hepar tidak teraba

Perkusi : timpani

Ekstremitas : hangat, deformitas tidak ada, edema tidak ada

Kulit : tampakerosi, skuama, eritema dan ekskoriasi pada

daerah telapak tangan.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Mikroskopik Dahak: Sputum SPS BTA +

D. RESUME

Pasien datang ke Puskesmas Tamalanrea dengan keluhan batuk

dialami sejak 5 bulan yang lalu, terus menerus, ada dahak berwarna putih

4
sesekali, tidak ada batuk berdarah. Keluhan memberat 2 bulan terakhir.

Demam tidak ada. Mual tidak ada, muntah tidak ada. Buang air kecil lancar.

Buang air besar lancar.

Keadaan umum : sakit sedang / gizi buruk / kompos mentis

Paru:

Auskultasi:

- Bunyi pernapasan vesikuler

- Bunyi tambahan: Ronkhi ada pada kedua apex paru, wheezing

tidak ada

E. DIAGNOSIS

TB Paru kasus baru on treatment kategori I

F. ANJURAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT

a. Promotif : Menjelaskan tentang penyakit tuberculosis paru

b. Preventif : Rutin minum obat serta rutin kontrol sesuai jadwal,

memberikan edukasi serta masukan bagi penderita serta keluarga

mengenai TB dan bagaimana cara menanggulanginya secara

komprehensif, menyarankan pasien dan keluarga untuk menjauhi

faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko penularan TB seperti

lingkungan yang kurang bersih dan kurang ventilasi, lifestyle yang

buruk seperti merokok, makan yang tidak higienis, cara batuk yang

tidak benar serta meningkatkan kesadaran pasien dan keluarga untuk

selalu memakai masker.

c. Kuratif :

 Terapi Medikamentosa :

5
o Rawat Jalan dengan obat OAT KDT
 Terapi non medikamentosa :

o Pemakaian masker rutin


o Edukasi cara batuk yang benar
d. Rehabilitatif :-

G. PROGNOSIS : Dubia

H. KONSELING :

a. Rutin minum obat serta rutin kontrol sesuai jadwal

b. Memberikan edukasi serta masukan bagi penderita serta keluarga

mengenai TB dan bagaimana cara menanggulanginya secara

komprehensif

c. Menyarankan pasien dan keluarga untuk menjauhi faktor-faktor

yang dapat meningkatkan resiko penularan TB seperti lingkungan

yang kurang bersih dan kurang ventilasi, lifestyle yang buruk

seperti merokok, makan yang tidak higienis, cara batuk yang tidak

benar.

d. Meningkatkan kesadaran pasien dan keluarga untuk selalu

memakai masker.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI

Setiap paru-paru memiliki :

a. Apeks ; tumpul, menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 2,5cm di atas

clavicula

b. Permukaan costo-vertebral ; menempel pada bagian dalam dinding dada

c. Permukaan mediastinal ; menempel pada pericardium dan jantung

d. Basis pulmonis ; terletak pada diafragma

Batas-batas paru :

a. Apeks ; atas paru (atas costae) sampai dengan di atas clavicula

b. Atas ; dari clavicula sampai dengan costae II depan

c. Tengah ; dari costae II sampai dengan costae IV

d. Bawah ; dari costae IV sampai dengan diafragma

PULMO DEXTRA/PARU KANAN

Pulmo dextra sedikit lebih besar dari pulmo sinistra dan dibagi oleh

fissura obliqua dan fissura horizontalis pulmonis dextra menjadi tiga lobus

; lobus superior, lobus medius, dan lobus inferior. Fissura oblique berjalan

dari pinggir inferior ke atas dan ke belakang menyilang permukaan medial

dan costalis sampai memotong pinggir posterior sekitar 6,25cm di bawah

apex pulmonis. Fissura horizontalis berjalan horizontal menyilang

permukaan costalis setinggi cartilage costalis IV dan bertemu dengan

fissure obliqua pada linea axillaris media. Pulmo dextra mempunyai

7
sepuluh segmen, yaitu lima buah segmen pada lobus superior, dua buah

segmen pada lobus medial, dan tiga buah segmen pada lobus inferior.

Tiap-tiap segmen ini terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama

lobulus.

Diantara lobulus satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan

ikat yang berisi pembuluh darah getah bening dan saraf. Dalam tiap

lobulus terdapat sebuah bronkeolus. Di dalam lobulus, bronkeolus ini

bercabang-cabang yang disebut duktus alveolus. Tiap duktus alveolus

berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2-0,3mm.

Segmen pulmo dextra :

a. Lobu ssuperior :

- Segmen apicale

- Segmen posterior

- Segmen anterior

b. Lobus medius

- Segmen lateral

- Segmen medial

c. Lobusinferior :

- Segmen apicobasal

- Segmen mediobasal

- Segmen anterobasal

- Segmen laterobasal

- Segmen posterobasal

Hilus pulmonalis dextra terdiri dari :

8
a. A. Pulmonalis dextra

b. Bronchus principalus dextra ; bronchus lobaris superior, medius dan

inferior

c. Vv. Pulmonalis dextra

d. Nodule lymphideus

PULMO SINISTRA/PARU KIRI

Pulmo sinistra dibagi oleh fissure oblique dengan cara yang sama

menjadi dua lobus; lobus superior dan lobus inferior. Pada pulmo sinistra

tidak ada fissure horizontalis.

Segmen pulmo sinistra :

a. Lobus superior :

- Segmen apicoposterior

- Segmen anterior

- Segmen lingual superior

- Segmen lingual inferior

b. Lobu sinferior :

- Segmen apicobasal

- Segmen antero medial basal

- Segmen latero basal

- Segmen postero basal

Hilus pulmo sinistra :

a. A. pulmonalis sinistra

b. Bronchus principales sinistra

9
c. Vv. Pumonalis sinistra

d. Noduli lymphoideus

Pada pulmo sinistra terdapat incisura cardiac yang merupakan

lengkung untuk jantung (cardiac notch) dan impression cardiac yang lebih

besar, karena 2/3 jantung terletak di pulmo sinistra.

Gambar 1. LobusParuDextra dan Sinistra

10
Gambar 2. HilusParu

B. DEFINISI

Tuberkulosisadalahpenyakit yang disebabkan oleh


infeksiMycobacterium tuberculosis complex.

C. EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan WHO pada tahun 2015, prevalensinya mencapai 9,6

juta orang dengan kematian mencapai 1,5 juta jiwa dengan angka kematian

320 ribu jiwa diantaranya meninggal dengan positif HIV. Adapun 3 negara

dengan angka kejadian TB tertinggi di dunia adalah India, Indonesia, dan

China. Sedangkan di Indonesia tahun 2015 ditemukan sebanyak 330.910

kasus.

D. FAKTOR RESIKO

1. Konsentrasi/jumlahkuman yang terhirup

2. Lamanyawaktusejakterinfeksi

3. Usia dan jeniskelamin

4. Dayatahantubuhrendah

5. Komorbidpenyakit lain

11
E. KLASIFIKASI

1. Berdasarkan letak anatomi penyakit

- Tuberkulosis paru adalah kasus TB yang mengenai parenkim

paru. Tuberkulosis milier diklasifikasikan sebagai TB paru

karena lesinya yang terletak dalam paru.

- TB ektraparu adalah kasus TB yang mengenai organ lain selain

paru seperti pleura, kelenjar getah bening (termasuk

mediastinum dan/atauhilus), abdomen, traktus genitourinarius,

kulit, sendi, tulang dan selaput otak.

2. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak atau bakteriologi

Tuberkulosis paru BTA positif, apabila :

- Minimal satu dari sekurang-kurangnya dua kali pemeriksaan

dahak menunjukkan hasil positif pada laboratorium yang

memenuhi syarat quality external assurance (EQA). Sebaiknya

satu kali pemeriksaan dahak tersebut berasal dari dahak pagi

hari. Saat ini Indonesia sudah memiliki beberapa laboratorium

yang memenuhi syarat EQA.

- Pada negara atau daerah yang belum memiliki laboratorium

dengan syarat EQA, maka TB paru BTA positif adalah:

o Dua atau lebih hasil pemeriksaan dahak BTA positif, atau

o Satu hasil pemeriksaan dahak BTA positif dan didukung

hasil pemeriksaan foto toraks sesuai dengan gambaran TB

yang ditetapkan oleh klinisi, atau

12
o Satu hasil pemeriksaan dahak BTA positif ditambah hasil

kultur [Link] positif.

Tuberkulosis paru BTA negatif, apabila :

- Hasil pemeriksaan dahak negatif tetapi hasil kultur positif.

- Sedikitnya dua hasil pemeriksaan dahak BTA negatif pada

laboratorium yang memenuhi syarat EQA

- Dianjurkan pemeriksaan kultur pada hasil pemeriksaan dahak

BTA negatif untuk memastikan diagnosis terutama pada daerah

dengan prevalens HIV > 1% atau pasien TB dengan kehamilan

≥ 5%

ATAU

- Jika hasil pemeriksaan dahak BTA dua kali negatif di daerah

yang belum memiliki fasilitas kultur [Link]

Memenuhi kriteria sebagai berikut:

- Hasil foto toraks sesuai dengan gambaran TB aktif dan disertai

salah satu dibawah ini:

- Hasil pemeriksaan HIV positif atau secara laboratorium sesuai

HIV, atau

- Jika HIV negatif (atau status HIV tidak diketahui atau prevalens

HIV rendah), tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian

antibiotik spektrum luas (kecuali antibiotik yang mempunyai

efek anti TB seperti fluorokuinolon dan aminoglikosida)

13
Kasus Bekas TB:

- Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatifbilaada)dan

gambaranradiologiparumenunjukkanlesi TB yang tidakaktif,

ataufoto serial (dalam 2 bulan)menunjukkangambaran yang

menetap. Riwayatpengobatan OAT

adekuatakanlebihmendukung

- Pada kasusdengangambaranradiologimeragukan dan

telahmendapatpengobatan OAT 2 bulantetapi pada

fototoraksulangtidakadaperubahangambaranradiologi

3. BerdasarkanRiwayatSebelumnya

Hasil Hasil Pengobatan


PencatatanKasus
BTA Sebelumnya

Baru +/- -

Sembuh
Riwayat Kambuh +/-
Pengobatan lengkap
pengobatan
Gagal + Pengobatan gagal
sebelumnya
Lalai + Lalai berobat

Pindah +/- Masih dalam pengobatan

Lain-lain +/- Untuk semua kasus yang tidak

14
memenuhi kriteria diatas,

seperti:

 Pasien dengan riwayat

pengobatan tidak diketahui

sebelumnya

 Pasien dengan riwayat

pengobatan sebelumnya

tetapi tidak diketahui hasil

pengobatan

 Pasien yang datang

kembali untuk

pengobatan dengan

hasil dahak BTA

negatif atau

bakteriologis ekstraparu

TB negatif

4. Status HIV

Status HIV pasienmerupakanhal yang

pentinguntukkeputusanpengobatan. Akan dibahaslebihlanjut pada

pembahasan TB-HIV.

F. DIAGNOSIS

Gejala klinis TB dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala

lokal dan gejala sistemik. Bila organ yang terkena adalah paru maka

15
gejala lokal ialah gejala respiratori (gejala lokal sesuai organ yang

terlibat).

1. Gejalarespiratori :

- Batuk  2 minggu

- Batuk darah

- Sesak napas

- Nyeri dada

Gejala respiratori ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala

sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang

pasien terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus belum

terlibat dalam proses penyakit, maka pasien mungkin tidak ada

gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus dan

selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar.

2. Gejalasistemik :

- Demam

- Gejala sistemik lain adalah malaise, keringat malam,

anoreksia dan berat badan menurun

3. Gejala TB ekstraparu

Gejala TB ekstraparutergantungdari organ yang terlibat, misalnya

pada limfadenitis TB akanterjadipembesaran yang lambat dan

tidaknyeridarikelenjargetahbening. Pada meningitis TB

akanterlihatgejala meningitis. Pada pleuritis TB

terdapatgejalasesaknapas dan kadangnyeri dada pada sisi yang

ronggapleuranyaterdapatcairan.

16
Pemeriksaan Fisis

Pada pemeriksaan fisis kelainan yang akan dijumpai tergantung

dari organ yang terlibat. Pada TB paru, kelainan yang didapat tergantung

luas kelainan struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan

penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan.

Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama

daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2), serta daerah apeks lobus

inferior (S6). Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan antara lain suara

napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda

penarikan paru, diafragma dan [Link] pleuritis TB, kelainan

pemeriksaan fisis tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura.

Pada perkusi ditemukan redup atau pekak, pada auskultasi suara napas

yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat [Link]

limfadenitis TB, terlihat pembesaran kelenjar getah bening, tersering di

daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di

daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi cold abscess.

PemeriksaanBakteriologi

1. Sputum BTA

Bahanpemeriksaan :

- Sputum

- Cairan pleura

- Liquor cerebrospinalis

- Bilasanbronkus

- Bilasanlambung

17
Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and

Lung Disease) :

• Tidakditemukan BTA dalam 100 lapangpandang : (-)

• 1-9 BTA dalam 100 lapangpandang, ditulisjumlahkuman yang

ditemukan (scanty)

• 10-99 BTA dalam 100 lapangpandang : (1+)

• 1-10 BTA dalam 1 lapangpandang : (2+)

• >10 BTA dalam 1 lapangpandang : (3+)

2. Gene XPERT

3. Kultur

PemeriksaanRadiologi

 Gambaranradiologik yang dicurigaisebagailesiaktif :

- Bayanganberawan/ nodular di segmenapikal dan posterior

lobusatasparu dan segmen superior lobusbawah.

- Kaviti, terutamalebihdarisatu, dikelilingi oleh

bayanganopakberawanatau nodular.

- Bayanganbercakmilier.

- Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

 Gambaranradiologik yang dicurigailesi TB inaktif:

- Fibrotik

- Kalsifikasi

- Kompleksranke

- Penebalan Pleura

18
G. PENGOBATAN

Tujuan pengobatan TB adalah:

- Menyembuhkan pasien dan mengembalikan kualitas hidup dan

produktivitas

- Mencegah kematian karena penyakit TB aktif atau efek lanjutannya

- Mencegah kekambuhan

- Mengurangi transmisi atau penularan kepada orang lain

- Mencegah terjadinya resistensi obat serta penularannya

Pengobatan TB dengan obat anti tuberkulosis (OAT) terbagi menjadi

2 fase yaitu fase intensif dan fase lanjutan. Pada umumnya lama

pengobatan adalah 6-8 bulan.

19
Jenis – Jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) :

1. Lini pertama, yaitu :

- Isoniazid (H)

- Rifampisin (R)

- Pirazinamid (Z)

- Etambutol (E)

- Streptomisin (S)

2. Lini kedua, yaitu :

- Kanamisin

- Kapreomisin

- Amikasin

- Kuinolon

- Sikloserin

- Etionamid/Protionamid

- Para-Amino Salisilat (PAS)

Tabel jenis dan dosis OAT

Dosis yg
Dosis Dosis (mg) / kgBB /
Dosis dianjurkan
maks / hari
Obat (mg/kg (mg/kgBB/hari)
hari
BB/hari) Inter- 40-
Harian (mg) < 40 >60
mitten 60

R 8-12 10 10 600 300 450 600

H 4-6 5 10 300 300 300 300

20
Z 20-30 25 35 750 1000 1500

E 15-20 15 30 750 1000 1500

Sesuai
S* 15-18 15 15 1000 750 1000
BB

TabelDosisObat Anti TuberkulosisKombinasiDosisTetap

Fase intensif Fase lanjutan

2-3 bulan 4 bulan

BB Harian Harian 3x/minggu

(RHZE) (RH) (RH)

150/75/400/275 150/75 150/150

30-37 2 2 2

38-54 3 3 3

55-70 4 4 4

>71 5 5 5

a. PengobatanSuportif

1. Penderitarawatjalan

a. Makanmakanan yang bergizi, biladianggapperludapatdiberikan

vitamin tambahan (pada

prinsipnyatidakadalaranganmakananuntukpenderitatuberkulosi

s, kecualiuntukpenyakitkomorbidnya)

21
b. Bilademamdapatdiberikanobatpenurunpanas/demam.

Bilaperludapatdiberikanobatuntukmengatasigejalabatuk,

sesaknapasataukeluhanlain.

2. Penderitarawatinap

a. Indikasirawatinap :

TB parudisertaikeadaanataukomplikasiseperti:

- Batukdarah (profus)

- Keadaanumumburuk

- Pneumotoraks

- Empiema

- Efusi pleura masif / bilateral

- Sesaknapasberat (bukankarenaefusi pleura)

TB di luar paru yang mengancam jiwa :

- TB parumilier

- Meningitis TB

b. Pengobatansuportif / simtomatik yang

diberikansesuaidengankeadaanklinis dan indikasirawat

H. EVALUASI PENGOBATAN

Evaluasipasienmeliputievaluasiklinis, bakteriologi, radiologi, dan

efeksampingobat, sertaevaluasiketeraturanberobat.

Evaluasiklinis

- Pasiendievaluasisecaraperiodik.

- Evaluasiterhadapresponspengobatan dan

adatidaknyaefeksampingobatsertaadatidaknyakomplikasipenyakit.

22
- Evaluasiklinismeliputikeluhan, berat badan, pemeriksaanfisis.

Evaluasi bakteriologi (0 - 2 - 6 /8 bulan pengobatan)

 Tujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi dahak.

 Pemeriksaan dan evaluasi pemeriksaan mikroskopis.

- Sebelumpengobatandimulai

- Setelah 2 bulanpengobatan (setelahfaseintensif)

- Pada akhirpengobatan

 Bila ada fasilitas biakan, dilakukan pemeriksaan biakan dan uji

kepekaan.

Evaluasi radiologi (0 - 2 – 6/8 bulan pengobatan)

Pemeriksaan dan evaluasi foto toraks dilakukan pada:

 Sebelum pengobatan.

 Setelah 2 bulan pengobatan (kecuali pada kasus yang juga

dipikirkan kemungkinan keganasan dapat dilakukan 1

bulanpengobatan).

 Pada akhir pengobatan.

Evaluasi pasien yang telah sembuh

Pasien TB yang telah dinyatakan sembuh sebaiknya tetap dievaluasi

minimal dalam 2 tahun pertama setelah sembuh, hal ini dimaksudkan

untuk mengetahui kekambuhan. Hal yang dievaluasi adalah mikroskopis

BTA dahak dan foto toraks (sesuai indikasi/bila ada gejala).

23
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

PenyebabtuberkulosisadalahMycobacterium tuberculosis,

sejeniskumanberbentukbatangdenganukuranpanjang 1-4/um dan tebal 0,3-

0,6/um. Mycobacterium tuberculosistermasukfamiliMycobacteriaceaeyang

mempunyaiberbagai genus, diantaranyaadalahMycobacterium, dan salah

satuspeciesnyaadalahMycobacterium tuberculosis. Kuman

inimempunyaidindingsel lipoid sehinggatahanasam, oleh

karenaitukumaninidisebut pulasebagai Basil TahanAsam (BTA). Karena pada

umumnyaMycobacterium tahanasam, secarateoritis BTA

belumtentuidentikdengan basil TB. Namun, karenadalamkeadaan

normalpenyakitparu yang disebabkan oleh Mycobacterium lain

jarangsekalidalampraktik,sehingga BTA dianggapidentikdengan basil [Link]

TB sangatrentanterhadapsinarmatahari,

sehinggadalambeberapamenitsajaakanmati. Basil TB juga

sangatrentanterhadappanas, sehinggadalamwaktu 2 menitsajabasil TB yang

beradadalamlingkunganbasahsudahakanmatibilaterkena air bersuhu100°C.

Selainitu, kumaniniakanterbunuhdalambeberapamenitbilaterkena alcohol

70%,ataulisol 5%.

24
Proses terjadinyainfeksi oleh [Link],

sehingga TBparumerupakanmanifestasiklinis yang paling seringdibanding organ

lainnya. Penularanpenyakitinisebagianbesarmelaluiinhalasi basil yang

mengandungdroplet nuclei,khususnya yang didapatdaripasien TB

parudenganbatukberdarahatauberdahak yangmengandung basil tahanasam

(BTA). Apabilapasienmengadakanekspirasipaksaberupabatuk-batuk, bersin,

tertawakeras, akanmenyebabkankeluarnyapercikan-percikandahakhalus (droplet

nuclei), yang berukurankurangdari 5 mikron dan akanmelayang-layang diudara.

Ada beberapafaktor yang dapatmempengaruhitransmisiini. Pertama-

tamaialahjumlah basil dan virulensinya.

Dapatlahdimengertibahwasemakinbanyak basil dalamdahakseorangpenderita,

makinbesarlahbahayapenularan.

Faktor lain ialahcahayamatahari dan ventilasi. Karena basil TB

tidaktahancahayamatahari,

kemungkinanpenularandibawahterikcahayamataharisangatkecil. Denganventilasi

yang baik,

membuatadanyapertukaranudaradaridalamrumahdenganudarasegardariluar, dan

dapat juga mengurangibahayapenularanbagipenghuni-penghuni lain

yangserumah. Dengandemikian, bahayapenularanterbesarterdapat di perumahan-

perumahanyang berpenghunipadatdenganventilasi yang

jeleksertacahayamatahari yang [Link] yang sangatpadat dan

pemukiman di wilayah perkotaankemungkinanbesartelahmempermudah proses

penularan dan berperansekaliataspeningkatanjumlahkasus TB

25
DAFTAR PUSTAKA

1. KementrianKesehatan RI, DirektoratJendralPengendalianPenyakit dan


PenyehatanLingkungan. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberculosis.
Jakarta: KementrianKesehatan RI. ISBN: 978-602-235-733-9
2. KementrianKesehatan RI, DirektoratJendralPengendalianPenyakit dan
PenyehatanLingkungan. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberculosis.
Jakarta: KementrianKesehatan RI. ISBN: 978-602-235-733-9
3. KepMenKesNomor 364/MENKES/SK/V/2009
4. KementrianKesehatanRepublik Indonesia. 2011. Pedoman Nasional
PengendalianTuberkulosis.
5. PersatuanDokterParu Indonesia. 2013. PedomanDiagnostik dan
Penatalaksanaan TB di Indonesia. Jakarta: PDPI
6. Rab, T. 2010. IlmuPenyakitParu. Trans Info Media. Jakarta: 157-61
7. Fatiyya I. 2011, Pedomandiagnostik dan Penatalaksanaan di Indonesia,
PerhimpunanDokterParu Indonesia, [Link], Juli 2011.
8. International Standards of Tuberculosis Care, 2014

26

Anda mungkin juga menyukai