0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan38 halaman

Memahami Identitas dan Isu LGBT

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian LGBT yang meliputi lesbian, gay, biseksual dan transgender. Juga membahas penyebab dan ciri-ciri dari LGBT serta dampak dan cara mengatasi LGBT.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan38 halaman

Memahami Identitas dan Isu LGBT

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian LGBT yang meliputi lesbian, gay, biseksual dan transgender. Juga membahas penyebab dan ciri-ciri dari LGBT serta dampak dan cara mengatasi LGBT.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Golongan LGBT ini menggeliat dan kian mendapat tempat baik di Indonesia

maupun di seluruh dunia. Tercatat sudah 14 negara di dunia yang melegalkan

pernikahan sesama jenis. Pernikahan sesama jenis pertama kali dilegalkan di Belanda,

pada 2001. Menyusul Kanada, Afrika Selatan, Belgia, dan Spanyol. Kemudian

Argentina, Denmark, Islandia, Norwegia, Portugal, dan Swedia serta terakhir Perancis.

Di Amerika Serikat, perdebatan soal perkawinan sejenis belum sampai ke level

Mahkamah Agung dan masih terus dikembangakan. Namun ada sekitar 12 negara

bagian dan District of Columbia (DC) di Amerika telah melegalisasi pernikahan

sesama jenis.

Negara-negara yang menganggap LGBT sebagai kriminal tercatat baru 3

negara yaitu Russia, Ugandan, dan Macedonia. Sisanya, sebanyak 78 negara lebih

termasuk negara negara berpenduduk Islam seperti, negara-negara Timur Tengah,

Indonesia, Brunai dan Malaysia tidak mempunyai undang-undang anti LGBT

sehinggga negara-negara tersebut bisa dianggap negara yang membolehkan LGBT,

walaupun tidak melegalkan pernikahan sesama jenis.

Seiring dengan maraknya aktifitas kaum LGBT di negara-negara berpenduduk

muslim seperti Arab Saudi, Lebanon, Syria, Malaysia bahkan Indonesia, mereka

1
semakin memberanikan diri untuk menunjukan identitas. Masyarakat yang mayoritas

penduduknya muslim pun digiring kepada opini yang menganngap bahwa perilaku

tersebut adalah wajar dan harus dilindungi dari tekanan-tekanan pihak-pihak yang

menolaknya. Masyarakat terus diarahkan kepada opini kebebasan atau liberalisme serta

hak asasi. Menurut mereka kaum LGBT tersebut adalah seperti manusia yang juga

mempunyai hak untuk mendapat kehidupan di tengah masyarakat secara layak.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:

1. Apa pengertian LGBT?

2. Apa penyebab LGBT?

3. Apa saja ciri-ciri LGBT?

4. Bagaimana dampak dari LGBT?

5. Bagaimana cara mengatasi LGBT

C. Tujuan Pembahasan

Seperti rumusan masalah diatas, bahwa tujuan penulisan makalah ini dibuat yakni:

1. Untuk mengetahui pengertian LGBT.

2. Untuk mengetahui apa saja penyebab LGBT.

3. Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri dari LGBT

2
4. Untuk mengetahui apa saja dampak LGBT

5. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatatasi LGBT?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian LGBT

LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan

transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa

“komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah

disebutkan. Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman

“budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”.

1. Lesbian

Lesbi adalah sebuah hubungan emosional yang melibatkan rasa, cinta, dan

kasih sayang dua manusia yang memiliki jenis kelamin sama. Pemahaman ini sama

dengan pemaknaan kata homoseksual. Hanya, pada homoseksual belum mengacu

kepada jenis kelamin tertentu dan masih bersifat luas.

Sedangkan lesbi lebih dimaknai bahwa pelaku aktifitas sejenis tersebut berasal

dari kaum wanita. Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan

adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos

sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman

kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan

wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang, pada usia pubertas,

dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu

mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria. Pada proses

4
perkembangan remaja yang normal, biseksualitas bisa berkembang menjadi

heteroseksual (menyukai lawan jenis). Sebaliknya jika prosesnya abnormal, misalnya

disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka biseksualitas bisa

berkembang menjadi lesbian, dan obyek-erotisnya adalah benar-benar seorang wanita.

Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan lebih hebat dari

pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak didapatkan kepuasan

seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat daripada cinta homoseksual

diantar kaum pria.

Lesbianisme banyak distimulir oleh hormon eksogin dan faktor lingkungan.

Lantas apakah Lesbianisme merupakan sebuah gaya hidup ataukah abnormalitas

seksual? kami menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca, dan yang mesti di ingat

sebelum menyimpulkan adalah pada faktanya kaum lesbi menjadi sebuah gaya hidup

para wanita ketika issue gender semakin menguat. Menuduh mereka abnormalitas

seksual juga terlalu naif, karena lesbian Indonesia belum ada yang diteliti hormon

penyebabnya. Bisa jadi semakin banyaknya lesbian Indonesia karena

‘ketidakmampuan’ laki-laki menempatkan perempuan dalam tempat yang seharusnya.

Di kota kota besar, kehidupan kaum lesbi lebih mulai terbuka. Jika sebelumnya

para lesbi hanya berani sembunyi-sembunyi dalam melakukan aktifitasnya, kini

mereka sudah berani menunjukkan eksistensinya. Salah satunya dengan membentuk

organisasi yang mewadahi kaum lesbi tersebut.

Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh longgarnya penerapan norma susila

dimasyarakat. Selain juga karena makin tingginya rasa individualisme di kota – kota

5
besar. Apalagi pelaku seks bebas dikalangan mudah turut mempengaruhi

meningkatnya pertumbuhan kaum lesbi ini.

Di Indonesia, lesbianisme rupanya berkembang cukup pesat dalam wilayah

sosial kemasyarakatan. Kalau dulu, sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya, tapi

saat ini mereka berhimpun dalam wadah atau organisasi yang semua orang bisa

mengetahuinya. Lihat saja group-group lesbian yang bertebaran di facebook maupun

situs-situs dewasa lainnya.

Lesbianisme tergolong dalam abnormalisme seksual yang disebabkan adanya

partner seks yang abnormal. Lesbian berasal dari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah

sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada jaman kuno dihuni oleh

para wanita. Homoseksualitas (hubungan sejenis) di kalangan wanita disebut dengan

cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang pada usia pubertas, dalam diri individu

muncul predisposisi (pembawaan kecenderungan) biseksual yaitu mencintai seorang

teman putri, sekaligus mencintai teman seorang pria.

Pada umumnya cinta seorang lesbi sangat mendalam dan lebih hebat dari pada

cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian tidak didapatkan kepuasan seksual

yang wajar, cinta lesbian juga biasanya lebih hebat dari cinta homoseksual diantara

kaum pria (gay)

2. Gay

6
Gay adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang

homoseksual atau sifat-sifat homoseksual. Istilah ini awalnya digunakan untuk

mengungkapkan perasaan “bebas/ tidak terikat”, “bahagia” atau “cerah dan menyolok”.

Kata ini mulai digunakan untuk menyebut homoseksualitas mungkin semenjak akhir

abad ke-19 M, tetapi menjadi lebih umum pada abad ke-20. Dalam bahasa Inggris

modern, gay digunakan sebagai kata sifat dan kata benda, merujuk pada orang-orang

terutama pria gay dan aktivitasnya, serta budaya yang diasosiasikan dengan

homoseksualitas.

Pada akhir abad ke-20, istilah “gay” telah direkomendasikan oleh kelompok-

kelompok besar LGBT dan paduan gaya penulisan untuk menggambarkan orang-orang

yang tertarik dengan orang lain yang berkelamin sama dengannya. Pada waktu yang

hampir bersamaan, penggunaan menurut istilah barunya dan penggunaannya secara

peyoratif menjadi umum pada beberapa bagian dunia. Di Anglosfer, konotasi ini

digunakan kaum muda untuk menyebut “sampah” atau “bodoh” (misalnya pada

kalimat: “Hal tersebut sangat gay”). Dalam konteks ini, kata gay tidak memiliki arti

“homoseksual” sehingga bisa digunakan untuk merujuk benda tak bergerak atau

konsepsi abstrak yang tidak disukai. Dalam konteks yang sama, kata “gay” juga

digunakan untuk merujuk kelemahan atau ketidakjantanan. Namun, saat digunakan

dalam konteks ini, apakah istilah gay masih memiliki konotasi terhadap

homoseksualitas, masih diperdebatkan dan dikritik dengan kasar

Kata gay sampai di Inggris pada abad ke-12 M dari bahasa Perancis kuno gai, yang

dipastikan berasal dari sumber Jerman. Hampir sepanjang keberadaannya dalam

7
bahasa Inggris, kata gay diartikan sebagai “gembira”, “bebas/ tidak terikat”, “cerah dan

menyolok". Kata gay sangat umum digunakan menurut pengertian di atas dalam

berbagai percakapan dan literatur. Misalnya, masa optimisme pada tahun 1980an masih

sering dijuluki sebagai Gay Nineties. Judul balet Perancis tahun 1938, Gaîté Parisienne

(Parisian Gaiety atau "Keriangan penduduk Paris"), yang menjadi film Warner Bros.

tahun 1941 dengan judul The Gay Parisian, juga mengilustrasikan konotasi tersebut.

Barulah pada abad ke-20, kata tersebut mulai digunakan secara spesifik untuk

pengertian "homoseksual", meskipun sebelumnya sudah memiliki konotasi seksual.

Sebutan gay seringkali digunakan untuk menyebut pria yang memiliki

kecenderungan mencintai sesama jenis. Definisi gayyakni lelaki yang mempunyai

orientasi seksual terhadap sesama lelaki (Duffy & Atwater, 2005) Michael dkk (endal,

1998), mengidentifikasikan tiga kriteria dalam menentukan seseorang itu homoseksual,

yakni sebagai berikut :

a. Ketertarikan seksual terhadap orang yang memiliki kesamaan gender dengan

dirinya.

b. Keterlibatan seksual dengan satu orang atau lebih yang memiliki kesamaan

gender dengan dirinya.

c. Mengidentifikasi diri sebagai gayatau lesbian

Sebutan Gay seringkali digunakan untuk menyebut pria

3. Biseksual

8
Biseksualitas merupakan ketertarikan romantis, ketertarikan seksual, atau

kebiasaan seksual kepada pria maupun wanita. Istilah ini umumnya digunakan dalam

konteks ketertarikan manusia untuk menunjukkan perasaan romantis atau seksual

kepada pria maupun wanita sekaligus. Istilah ini juga didefinisikan sebagai meliputi

ketertarikan romantis atau seksual pada semua jenis identitas gender atau pada

seseorang tanpa mempedulikan jenis kelamin atau gender biologis orang tersebut, yang

terkadang disebut panseksualitas.

Biseksualitas adalah salah satu dari tiga klasifikasi utama orientasi seksual,

bersama dengan heteroseksualitas dan homoseksualitas, yang masing-masing

merupakan bagian dari Rangkaian kesatuan heteroseksual-homoseksual. Suatu

identitas biseksual tidak harus memiliki ketertarikan seksual yang sama besar pada

kedua jenis kelamin; biasanya, orang-orang yang memiliki ketertarikan pada kedua

jenis kelamin tetapi memiliki tingkat ketertarikan yang berbeda juga

mengidentifikasikan diri mereka sebagai biseksual. Biseksualitas umumnya

dikontraskan dengan homoseksualitas, heteroseksualitas, dan aseksualitas.

Biseksualitas telah teramati terdapat dalam berbagai golongan masyarakat

manusia dan juga pada kelompok hewan di sepanjang sejarah tertulis. Istilah

biseksualitas, sebagaimana hetero- dan homoseksualitas, diciptakan pada abad ke-19

M.

Biseksualitas merupakan ketertariksan romantis atau seksual pada pria dan

wanita. American Psychological Association menegaskan bahwa "orientasi seksual

9
merupakan suatu kontinum (rangkaian kesatuan). Dengan kata lain, seseorang tidak

pasti benar-benar heteroseksual atau homoseksual, tetapi bisa merasakan keduanya

dengan taraf yang bervariasi. Orientasi seksual berkembang sepanjang masa hidup

seseorang, orang-orang yang berbeda menyadari apakah mereka hetersoseksual,

biseksual, atau homoseksual pada titik-titik berbeda dalam hidup mereka.

Krafft-Ebing, salah seorang seksologis Jerman menyebut biseksual dengan

sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu

spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita

dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian

meninggalkan istilah psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari

biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu.

Menurut Freud (1905), biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan

feminitas, sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah

merupakan kombinasi dari maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas

dan homoseksualitas (dalam Storr, 1999).

Dalam pengertian umumnya, biseksual adalah orientasi seksual yang

mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat seksual

kepada pria dan wanita. Menurut Masters (1992), biseksual adalah istilah untuk orang

yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual

juga didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis,

emosional dan seksual kepada laki-laki dan perempuan (Robin & Hammer, 2000 dalam

Matlin, 2004).

10
4. Transgender

Menurut Yash (2003) Transgender adalah kata yang digunakan untuk

mendeskripsikan bagi orang yang melakukan, merasa, berfikir atau terlihat berbeda

dari jenis kelamin yang telah ditetapkan sejak lahir. Transgender tidak mengacu pada

bentuk spesifik apapun ataupun orientasi seksual orangnya. Seorang transgender dapat

saja mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, atau

biseksual.

Menurut Yash (2003) Transeksualisme adalah salah satu bentuk Gender

Dysphoria (kebingunan gender). Gender Dysphoria adalah sebuah term general bagi

mereka yang mengalami kebingunan atau ketidaknyamanan tentang gender-kelahiran

mereka.

Mereka yang merasakan ketidaknyamanan dengan gender-kelaminya, akan

melakukan operasi pergantian kelamin atau yang disebut dengan transgender. Namun

langkah mereka tidak hanya sampai disitu, setelah melakukan sebuah operasi

pergantian kelamin maka selanjutnya dilakukan sebuah pergantian identitas.

Mereka yang berani melakukan transgender atau operasi penggantian kelamin,

bukanlah termasuk pada kategori penyuka sesama jenis (homoseksual / lesbian) tetapi

karena memiliki kelainan pada orientasi seksualnya atau merasa terjebak pada jenis

kelaminnya tersebut. Salah satu penyebab transgender adalah 2 pengaruh hormonal

11
yang membentuk karakteristik kelamin manusia, dan ini bukanlah merupakan penyakit

mental.

Meski seorang transgender masih dipandang sebelah mata, dianggap tabu dan

mengundang kontroversi, namun beberapa diantara mereka berhasil diakui

keberadaannya dengan segudang prestasi yang berhasil mereka raih, mulai dari dunia

hiburan sampai ke ajang kecantikan dunia.

Banyak fenomena yang terjadi sekarang ini bisa di cermati sebagai contoh nyata

mengapa seseorang memilih untuk menjadi seorang waria, gay, lesbian, atau mungkin

transgender/transeksual. Salah satunya karena memang di dalam jiwa seorang lelaki

terdapat sifat lemah lembut seperti layaknya perempuan dan dia berniat untuk menjadi

seorang yang berkelakuan menyimpang dari identitas aslinya hanya untuk menunjukan

siapa dia sebenarnya. Alasan lain bisa karena kejadian masalalu dalam keluarga dimana

seorang ayah menelantarkan anak lelaki dan istrinya, hingga pada akhirnya anak lelaki

tersebut menjadi begitu membenci sosok laki-laki.

Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang

melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan

saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari

orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan

dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, atau

aseksual. Definisi yang tepat untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup:

12
 Tentang, berkaitan dengan, atau menetapkan seseorang yang identitasnya tidak

sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki atau

perempuan, melainkan menggabungkan atau bergerak di antara keduanya.

 Orang yang ditetapkan gendernya, biasanya pada saat kelahirannya dan

didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini salah

atau tidak sempurna bagi dirinya.

 Non-identifikasi dengan, atau non-representasi sebagai, gender yang diberikan

kepada dirinya pada saat kelahirannya.

 Pada hakikatnya, masalah kebingungan jenis kelamin atau yang lazim disebut

juga sebagai gejala transseksualisme ataupun transgender merupakan suatu

gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara

bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya ketidakpuasan

dengan alat kelamin yang dimilikinya. Ekspresinya bisa dalam bentuk

dandanan, make up, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi

penggantian kelamin (Sex Reassignment Surgery).

B. Penyebab LGBT

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang itu cenderung untuk

menjadi bagian dari LGBT antaranya adalah:

13
Anne Krabill Hersberger menjelaskan bahwa sampai saat ini, fakor penyebab

timbulnya seseorang menjadi LGBT belum dapat diketahui dengan pasti. Ada beberapa

teori yang yang mencoba menjelaskannya. Beberapa orang percaya bahwa perilaku

orientasi seks sejenis terjadi karena adanya perkembangan yang terhambat selama

pubertas. Ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya

hormon abnormal dalam tubuh seseorang yang belum teridentifikasikan. Ada juga yang

mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh faktor keturunan. Dan ada juga yang

mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh lingkungan, misalnya: kekacauan dalam

rumah tangga.

Secara garis besar, terdapat tiga kemungkinan faktor-faktor yang

mempengaruhi terbentuknya homoseksual sebagai berikut:

1) Faktor Biologis

Kombinasi/rangkaian tertentu di dalam genetik (kromosom), otak, hormon, dan

susunan syaraf diperkirakan mempengaruhi terbentuknya homoseksual.

Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra, [Link] mengemukakan bahwa berdasarkan kajian

ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari:

a. Susunan Kromosom

Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan

kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari

14
ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom

x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria.

Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap berkelamin

pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga

kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi.

Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis

kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.

b. Ketidakseimbangan Hormon

Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang

dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini

sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan

progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan

perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita.

c. Struktur Otak

Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay

females dan gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight

males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight

females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay

15
males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur

otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.

d. Kelainan susunan syaraf

Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan syaraf

otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan

susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.

Kaum LGBT pada umumnya merasa lebih nyaman menerima penjelasan bahwa

faktor biologis-lah yang mempengaruhi mereka dibandingkan menerima bahwa faktor

lingkunganlah yang mempengaruhi. Dengan menerima bahwa faktor biologis-lah yang

berperan dalam membentuk seksual maka dapat dinyatakan bahwa kaum LGBT

memang terlahir sebagai LGBT, mereka dipilih sebagai LGBT dan bukannya memilih

menjadi LGBT.

Walaupun demikian, faktor-faktor biologis yang mempengaruhi terbentuknya

LGBT ini masih terus menerus diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar di

bidangnya.

2) Faktor Lingkungan

Lingkungan diperkirakan turut mempengaruhi terbentuknya seksualitas. Faktor

lingkungan yang diperkirakan dapat mempengaruhi terbentuknya LGBT terdiri atas:

a. Faktor Budaya/Adat-istiadat

16
Dalam budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu terdapat ritual-ritual yang

mengandung unsur homoseksualitas, seperti dalam budaya suku Etoro yaitu suku

pedalaman Papua New Guinea, terdapat ritual keyakinan dimana laki-laki muda harus

memakan sperma dari pria yang lebih tua (dewasa) untuk memperoleh status sebagai

pria dewasa dan menjadi dewasa secara benar serta bertumbuh menjadi pria kuat.

Karena pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu

kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi masing-masing

orang dalam kelompok masyarakat tersebut, maka demikian pula budaya dan adat

istiadat yang mengandung unsur seksualitas dapat mempengaruhi seseorang. Mulai

dari cara berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan,

maupun pola pemikiran tertentu terutama yang berkaitan dengan orientasi, tindakan,

dan identitas seksual seseorang.

b. Faktor Pola asuh

Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi terbentuknya LGBT.

Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria

atau perempuan. Dan pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan

namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebut, meliputi:

 Kriteria penampilan fisik: pemakaian baju, penataan rambut, perawatan tubuh

yang sesuai, dan sebagainya.

17
 Karakteristik fisik: perbedaan alat kelamin pria dan wanita; pria pada umumnya

memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan wanta, pria pada

umumnya tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang mengandalkan tenaga/otot

kasar sementara wanita pada umumnya lebih tertarik pada kegiatan-kegiatan

yang mengandalkan otot halus.

 Karakteristik sifat: pria pada umumnya lebih menggunakan logika/ pikiran

sementara wanita pada umumnya cenderung lebih menggunakan perasaan/

emosi; pria pada umumnya lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang

membangkitkan adrenalin, menuntut kekuatan dan kecepatan, sementara

wanita lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat halus, menuntut

kesabaran dan ketelitian.

 Karakteristik tuntutan dan harapan: Untuk masyarakat yang menganut sistem

paternalistik maka tuntutan bagi para pria adalah untuk menjadi kepala keluarga

dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya. Dengan

demikian pria dituntut untuk menjadi figur yang kuat, tegar, tegas, berani, dan

siap melindungi yang lebih lemah (seperti istri, dan anak-anak). Sementara

untuk masyarakat yang menganut sistem maternalistik maka berlaku sebaliknya

bahwa wanita dituntut untuk menjadi kepala keluarga.

Jika dilihat secara universal, sistem yang diakui universal adalah sistem

paternalistik. Namun baik paternalistik maupun maternalistik, setiap orang

tetap dapat berlaku sebagai pria ataupun wanita sepenuhnya. Yang

18
membedakan pada kepala keluarga: pria dalam paternalistik dan wanita dalam

maternalistik adalah pendekatan yang digunakan dalam memenuhi tanggung

jawab mereka sebagai kepala keluarga.

Pola asuh yang tidak tepat, seperti contoh yang tidak asing yaitu: anak laki-laki

yang dikenakan pakaian perempuan, didandani, diberikan mainan boneka, dan

diasuh seperti layaknya mengasuh seorang perempuan, ataupun sebaliknya

dapat berimplikasi pada terbentuknya identitas homoseksual pada anak

tersebut. Mengapa demikian? Karena sejak dini ia tidak dikenalkan dan dididik

secara tepat & benar akan identitas seksualnya, dan akan perbedaan yang jelas

antara laki-laki dan perempuan.

 Figur orang yang berjenis kelamin sama dan relasinya dengan lawan jenis

Dalam proses pembentukan identitas seksual, seorang anak pertama-tama akan

melihat pada: orang tua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya;

anak laki-laki melihat pada ayahnya, dan anak perempuan melihat pada ibunya;

dan kemudian mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin

sama dengannya.

LGBT terbentuk ketika anak-anak ini gagal mengidentifikasi dan

mengasimilasi apa, siapa, dan bagaimana menjadi dan menjalani peranan sesuai

dengan identitas seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita.

Kegagalan mengidentifikasi dan mengasimilasi identitas seksual ini dapat

dikarenakan figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan

19
peranan identitas seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku.

Seperti: ibu yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional

dengan anak-anaknya, ayah tampil sebagai figur yang lemah tak berdaya; atau orang

tua yang homoseksual. Namun penting diketahui! Tidak semua anak yang dihadapkan

pada situasi demikian akan terbentuk sebagai homoseksual karena masih ada faktor

lain yang juga dapat mempengaruhi dan tentunya juga karena kepribadian dan karakter

setiap orang berbeda-beda.

C. Ciri-ciri LGBT

Seseorang yang memiliki kecendrungan LGBT akan memiliki ciri-ciri sebagai

berikut :

1. Lesbian

Orang yang menjadi lesbian tidak selalu mempunyai ciri yang kuat yang

membedakan dengan yang tidak lesbian. Ciri yang sering muncul misalnya:

a. Memposisikan diri sebagai maskulin atau biasa dikenal sebagai “ Buchi” (peran

pria pada pasangan lesbi) penampilannya sangat maskulin, punya hobi

maskulin, posesif, menunjukkan ketertarikan pada wanita

b. Sebaliknya ciri lesbi yang berperan sebagai feminim (Femmie), biasanya

penampilannya dingin, ketergantungan tinggi pada pasangannya, tidak mandiri,

sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya,

sentimentil, dan adem ayem saja dengan laki-laki.

2. Gay

20
Pria gay yang statusnya hidden akan sulit dikenali, karena penampilannya

layaknya pria kebanyakan. Bahkan akan lebih sulit lagi jika pria tersebut sedang

bersama wanita. Dari pengakuan sebagian besar gay, mereka mendapatkan keahlian

mengenali kawan sejenisnya itu karena jam terbang. Semakin tinggi jam terbang pria

gay tersebut, maka semakin besar peluang kebenaran “insting”nya.

a. Tatapan. Seorang pria akan menatap pria lain lebih lama dari pria biasa.

Biasanya lebih dari 3 detik, dan itu dilakukan berulang-ulang. Tentunya hal ini

akan dilakukan terhadap pria yang memang disukainya. Bahkan tatapan ini

akan diakhiri dengan senyuman. Bagi sebagian gay mengaku, tatapan mata

seorang gay terhadap pria itu sangat dalam dan terasa “menusuk”.

b. Wangi parfum lebih mencolok daripada wanita. Dan parfum yang digunakan

biasanya branded. Bahkan jika tidak mendapatkan parfum branded, yang aspal

bahkan jadi, yang penting baunya mendekati alias mirip-mirip.

c. Cara berpakaian yang lebih dandy, modis, matching dan update. Motif yang

dipakai biasanya garis garis lurus dan warnanya tidak terlalu eye-catching.

Namun beberapa ada juga yang suka tampil dengan warna-warna mencolok dan

ngejreng. Bahkan untuk kaos, lebih disukai yang ketat, sehingga

memperlihatkan lekuk tubuh lebih jelas. Termasuk kemeja juga dipilih ukuran

yang lebih ngepas biar kelihatan bentuk tubuhnya, apalagi jika didapatkan dari

hasil fitnes.

21
d. Tata rambut yang lebih klimis dan trendy. Selain penampilan, baju, dan wajah.

Tak kalah pentingnya adalah tatanan rambutnya, biasanya pria gay lebih klimis

dibanding pria heteroseksual. Umumnya mereka suka memakai produk rambut

jenis gel yang membuat lebih wet look dan terlihat fresh.

e. Cara bicara yang lebih sopan. Umumnya tata bahasa yang dipakai lebih ditata.

Bahkan pada kebanyakan gay, cara mereka bicara lebih kental huruf ‘s’ nya,

dan parahnya lagi kebanyakan suaranya cempreng. Hal ini akan sangat nampak

pada gay yang tingkat femininnya lebih tinggi. Makanya kalo kencan buta via

telpon, umumnya dapat dikenali dari suara cempreng dan agak lembut, maka

langsung bisa terdeteksi apakah pria itu gay atau bukan.

f. Gesture dan sikap. Pria gay , umumnya lebih menjaga sikap seperti cara berdiri,

cara duduk hingga cara berjalan. Ketika duduk, dapat dengan mudah dikenali

bagaimana pria gay menaruh tangan dan memposisikan atau menyilangkan kaki

dengan anggun.

g. Pria gay lebih berani dalam menunjukan sikap dan ketertarikan. Jika dia merasa

tertarik dengan anda, maka dia takkan ragu untuk mendekat menghampiri anda

dan mengajak kenalan.

3. Biseksual

 Biseksual mencakup ketertarikan romantis atau seksual pada semua identitas

gender atau memiliki ketertarikan seksual pada seseorang terlepas dari jenis

kelamin biologis atau gender orang tersebut.

22
 Potensi untuk tertarik secara romantika atau seksual pada orang-orang dengan

lebih dari satu jenis kelamin atau gender, tidak harus pada saat yang bersamaan,

tidak harus dengan cara yang sama, dan tidak harus dengan derajat ketertarikan

yang sama.

 Biseksual tidak menunjukkan perilaku di depan semua orang. Dia bisa normal

dengan lawan jenisnya, dan bertindak berbeda ketika dia berada disekitar

sesama jenisnya.

 Jika dia tidak nyaman dengan ide menjadi lesbian/gay atau biseksual, maka ia

juga bisa menggunakan kata-kata makian untuk lesbian/gay atau biseksual.

Atau, mungkin menghindari berbicara tentang topik biseksualitas.

4. Trasgender

Transgender (pondan) adalah asal tubuhnya lelaki, jiwanya jiwa wanita dan

karena itu mereka tertarik kepada lelaki. Secara umunya, homoseksual tidak dapat

dilihat daripada ciri-ciri tubuh maupun tingkah laku. Jika ada yang menyebut dirinya

homoseksual tetapi sissy (berwatakan lembut seperti wanita), maka secara jujur,

sebenarnya dia adalah transgender. Lelaki yang dianggap transgender dipengaruhi oleh

jiwanya, adalah jiwa wanita maka dia akan bertingkah laku dan bertutur secara

feminism, dan bila merasa bahwa dia adalah wanita maka dia akan mencintai lelaki

a. Seks Biologis

23
Mereka memiliki keambiguan 1 genital internal dan genital eksternal mereka.

Namun secara umum mereka tidak menampakkan kebingungan atas identitas gender

mereka. Fenomena inilah yang dinamakan interseksual.

b. Identitas gender

Transgender adalah orang yang mengadopsi peran dan nilai-nilai lawan jenis

kelamin biologisnya, misalnya seseorang yang secara biologis perempuan lebih

nyaman berpenampilan dan berperilaku seperti stereotipe laki-laki..

c. Ekspresi gender

Ekspresi gender dapat diartikan sebagai cara seseorang berperilaku untuk

mengkomunikasikan gendernya dalam budaya tertentu, misalnya dalam hal pakaian,

pola komunikasi dan ketertarikan. Ekspresi gender seseorang bisa saja tidak konsisten

dengan peran gender secara sosial dan mungkin juga tidak mencerminkan identitas

gendernya. Ekspresi gender menyangkut masalah kemaskulinan dan kefemininan.

Nilai-nilai maskulin dan feminin ini ditentukan oleh budaya, tapi prosesnya sendiri bisa

jadi sangat subjektif.

d. Ketertarikan (orientasi seksual)

Orientasi seksual mengacu pada jenis kelamin mana seseorang tertarik secara

emosional dan seksual. Ketertarikan ini bersifat tidak kasat mata. Artinya, hanya orang

itu sendiri yang bisa merasakan kepada siapa dia lebih tertarik. Kategori-kategori ini

meliputi ketertarikan pada jenis kelamin yang sama.

D. Dampak Dari LGBT

24
Setiap tindakan atau perbuatan pasti ada dampaknya. Demikian juga dalam hal

seksualitas, baik itu homoseksual (Lesbian/Gay), biseksual maupun transgender.

Untuk menjelaskan tentang dampak yang ditimbulkan oleh homoseksualitas, berikut

diuraikan tulisan Veronica Adesla, [Link] sebagai berikut:

 Dampak yang harus dihadapi dari lingkungan eksternal

Keberadaan kaum LGBT di tengah-tengah masyarakat dan di dalam

berinteraksi atau bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum,

norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang

berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan

terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak

memperbolehkan LGBT, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk

menghindari relasi dengan kaum homoseksual, menutup kesempatan bagi kaum

homoseksual untuk berkarya atau bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk

mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.

Situasi di atas berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam

dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang

sebelah mata, ada pula yang hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti

dikucilkan, disisihkan atau dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta

masyarakat.

25
Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum

homoseksual ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi

atau bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada kaum

homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat. Hal ini

dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat

dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum

homoseksual tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki

resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan

budaya dan nilai-nilai yang tidak sama.

 Resiko yang berasal dari perilaku sendiri / lifestyle

Seorang LGBT senantiasa berhadapan dengan adanya realitas gaya hidup

tertentu yang berlaku di kalangan kaum LGBT. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku,

dan kebiasaan tertentu baik itu dalam mengekspresikan orientasi seksual,

bersosialisasi, maupun menjalani hidup sehari-hari.

Gaya hidup tertentu pada kaum LGBT dapat beresiko buruk terhadap kesehatan fisik

maupun mental & emosional, seperti: berganti-ganti pasangan dalam berhubungan

seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak

menggunakan kondom); melakukan anal sex; minum-minuman keras & narkoba.

Gaya hidup demikian beresiko terhadap terganggunya kesehatan fisik, seperti:

STI’s (Sexual Transmitted Infections)/ STD’s (Sexual Transmitted Diseases) termasuk

26
HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan

berlebihan, depresi, merusak atau menyakiti diri sendiri, dan sebagainya.

E. Mengatasi LGBT

LGBT memiliki tingkatan. Tingkatan yang lebih rendah disebut hemofilia yaitu

pengalaman jatuh cinta kepada orang sejenis kelamin, tetapi cinta itu belum begitu

mendalam atau belum sampai pada permainan seksual setingkat hubungan seksual

pada suami-istri. Homifilia ini seringkali terjadi karena lingkup pergaulan yang hanya

terbatas pada teman-teman sejenis kelamin saja. Maka untuk mengobati homofilia ini

bisa dengan membuka pergaulan supaya menjadi lebih luas, memungkinkan pergaulan

yang kerap dan akrab dengan orang-orang dengan jenis kelamin yang lain. Secara

moral homofilia, walaupun memang salah, tidak layak dinilai sebagai tindakan yang

melawan moralitas secara berat. Apalagi bila keduanya, atau salah seorang, memang

menderita kelainan mental di bidang seksual. Mereka atau dia itu lebih layak dinilai

sebagai penderita kelainan daripada pelaku tindakan immoral.

Demikian juga yang sudah jauh ke taraf homoseksual, lesbianism, biseksual,

atau transgender telah sampai pada taraf permainan seksual setingkat dengan senggama

suami-istri. Maka mereka yang betul-betul bermental LGBT lebih layak dianggap

sebagai penderita kelainan daripada sebagai yang bertindak immoral. Ia lebih

membutuhkan pengertian penuh kasih daripada teguran yang mendakwa. Oleh

karenanya tindakannya juga tidak dapat disebut sebagai tindakan jahat, walaupun

secara objektif tidak biasa.

27
Sebagaimana telah uraikan dari atas bahwa seksualitas ini sebaiknya dilihat dari

sudut pandang bahwa ini adalah kelainan atau sebagai penyakit. Bila kita beranjak dari

sudut pandang tersebut maka ada harapan bahwa kelainan seksual ini bisa diobati.

Proses pemulihan ini terutama berasal dari sipenderita itu sendiri. Keinginan untuk

berubah dari kelainan seksual yang diidapnya.

1. Secara Psikologis

Untuk menganalisa cara mengatasi penderita homoseksualitas dan lesbianisme

secara psikologi, maka di sini saya mengungkapkan contoh kasus yang diuraikan oleh

Sawitri sebagai berikut:

 Studi Kasus (kasus S)

S, berusia 24 tahun, seorang mahasiswa teknik Sipil di salah satu perguruan

tinggi di Bandung, mengeluh bahwa dirinya merasa kurang dapat konsentrasi dalam

belajar, gairah belajar menurun, sehingga dua semester terakhir ini S merasa gagal

dalam ujian-ujiannya. S merasa penuh dengan keraguan dan tanda tanya yang selalu

mencekam dirinya, yaitu “Apakah dirinya seorang homoseksual?”

S adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dengan urutan kakak laki-laki (2 orang),

kemudian S dan adik yang bungsu perempuan. Perbedaan umur antar empat bersaudara

itu lebih kurang dua tahun. Sejak S berumur satu tahun, oleh orang tuanya S dititipkan

pada kakek atau neneknya. Setelah umur 6 tahun S kembali pada orangtuanya sendiri.

28
Kesan yang sangat mendalam pada 5 tahun pertama kehidupannya adalah

seringnya kakek dan nenek berselisih paham, dan bila perselisihan paham memuncak,

mereka melempar benda yang ada di dekatnya atau saling menyiramkan air. Kalau

keadaan sudah demikian, S bersembunyi ketakutan dan gemetar seluruh tubuhnya.

Setelah pertengkaran, biasanya nenek dan kakek saling tidak tegur sapa. Dalam

keadaan ini, maka nenek biasanya sangat baik terhadap S dan kemana nenek pergi, S

harus ikut. Bahkan pada saat nenek memasak dan membersihkan rumah pun S harus

berada dekat nenek. Untuk itu, S sering juga membantu nenek.

Setelah S dewasa, S baru sadar bahwa alasan orang tua menitipkan dirinya di

rumah nenek atau kakek sebetulnya untuk menurunkan frekuensi pertengkaran nenek

atau kakek. Tapi seingat S, pertengkaran antar mereka tidak mereda. Pribadi nenek

menurut S keras dan dominan, begitu pula dengan pribadi kakek yang juga sama-sama

keras.

Sekembalinya ke rumah orang tuanya pada umur 6 tahun, S merasakan pula

kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya dibandingkan dengan sikap

orang tua terhadap kedua kakak laki-lakinya. Orang tua S memiliki sebuah toko emas

dan keduanya sibuk dengan toko. Anak-anak lebih banyak dilepas tanpa pengawasan

yang cukup dan hanya dipercayakan pada pembantu rumah tangga.

Ibu bersikap lebih dominan dibanding ayah dan seringkali ibu lebih mampu mengambil

keputusan dalam urusan dagang. Menurut S, ayahnya agak lamban dalam bertindak

dan sering bersikap ragu-ragu. Kedua kakak S sangat nakal dan kasar tingkah lakunya

dalam bermain. Sedang S tidak suka pada tingkah laku kasar dan nakal, sehingga S

29
lebih suka bermain dengan adik perempuannya. S senang main masak-masakkan, main

ibu-ibuan dan sering memakai rok adiknya dalam permainan itu.

Pada waktu S kelas V SD, suatu hari S diajak oleh kakak laki-laki yang pertama

untuk melakukan onani bersama. Dan seingat S, pernah pula S atas anjuran kakaknya

tersebut mencoba melakukan relasi seks dengan adik perempuannya. Percobaan ini

dilakukan satu kali dan S merasa tidak berhasil.

Kemudian, pernah kakak pertama memaksa S melakukan oral seksual dengan

S atau melakukan onani bersama. Hal ini sering terjadi, sampai akhirnya kakak S

melanjutkan pelajaran di Jakarta, sedang S melanjutkan sekolah di Semarang. S tinggal

di rumah bibinya yang memiliki anak laki-laki sebaya dengan S dan tinggal satu kamar

dengan saudara sepupunya itu. Pada suatu saat, saudara sepupunya itu mencium S

sehingga akhirnya berkembang menjadi homoseksual. Dalam relasi ini S lebih sering

bersifat pasif. Setelah kira-kira satu tahun mengadakan relasi itu, saudara sepupunya

ini pindah ke kota. Namun, S segera mendapatkan teman pengganti, yaitu teman

sekelasnya sendiri. Tetapi, teman ini meninggal karena sakit. S merasa kesepian dan

pada saat munculnya kebutuhan seksual S melakukan onani. Dalam onani, S kadang-

kadang membayangkan wanita atau pria, tetapi menurut S lebih sering membayangkan

pria daripada wanita.

Setelah beberapa bulan S tidak mempunyai teman akrab, kemudian S

mendapatkan teman pria yang mau mengerti keadaan S dan tidak dapat merasakan

penderitaan S. Bahkan sering menasihati S untuk menghentikan tingkah laku

homoseksual tersebut dan mengatakan bahwa tingkah laku tersebut kurang baik.

30
Setelah lulus SMA, S pindah ke Bandung dan bersekolah di Bandung. Rasa

takut terhadap abnormalitas semakin meningkat karena S tidak pernah merasa tertarik

terhadap wanita. Apalagi pada tahun pertama S berkenalan dengan seorang pria satu

angkatan lebih tinggi. Dengannyalah S melakukan relasi homoseksual beberapa kali,

selama kurang lebih satu tahun. Atas kesadaran partnernya ini, S dinasehati oleh

partnernya untuk memutuskan hubungan mereka. S menerima keputusan ini dengan

harapan S dapat terlepas dari kebiasaann yang menurut S sendiri abnormal.

Pada suatu ketika, S memaksakan diri untuk mencari pacar dan kebetulan wanita ini

memang tertarik pada S dan bersedia menjadi pacarnya. S merasa senang karena ini

adalah kesempatan bagi S untuk melepaskan diri dari abnormalitasnya. Tetapi rupanya

S tidak tahan terhadap konsekuensi-konsekuensi sebagai pria yang punya pacar pada

saat-saat dibutuhkan dan lain-lain.

Tuntutan pacar akan ‘apel’ akhirnya menjadi beban bagi dirinya, pacar S sering

marah kalau S terlambat ‘apel’. S mulai tidak suka karena S paling takut kalau melihat

orang yang marah-marah dan hatinya menjadi tidak enak. Sejak kecil pun S takut

melihat orang bertengkar.

Kecuali itu, sejak remaja S suka mencoba resep masakan dari majalah. Ibu

mendorongnya untuk lebih menerampilkan diri pada bidang masak-memasak. Atas

kesukaannya ini, ayah S hanya berkomentar “Anak laki-laki koq senang masak, nanti

kalau besar mau jadi apa?!”

S juga merasa bahwa ia mudah tersinggung, tetapi walaupun tersinggung, S

tidak pernah menunjukkan kemarahannya pada orang lain melainkan memendamnya

31
saja. S merasa bahwa tindakan pacarnya pun sering menyinggung perasaannya,

sehingga rasa tidak tertarik pada pacarnya ini semakin berkembang dan dalam

kenyataannya, S juga tidak pernah mengalami rangsangan erotis kalau duduk

berdekatan dengan pacarnya. Sampai akhirnya, S merasa jenuh dan berat beban

mentalnya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan pacarnya. Akhirnya, ia pun

memberanikan diri untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya. Setelah lepas dari

pacar, ia merasa ringan.

Di Bandung S tinggal bersama kakak laki-laki nomor dua, yang bersekolah di

fakultas kedokteran. Hubungan dengan kakak nomor dua tidak akrab, kakak ini agak

mengacuhkan diri S. Pada permulaan tahun 1980 kakaknya pergi ke luar Jawa. Karena

merasa kesepian, akhirnya S mengajak temannya untuk menemaninya. Kebetulan

teman pria yang diajak adalah partner relasi homoseksual ketika S baru lebih kurang

satu tahun di Bandung.

Situasi rumah yang sepi memungkinkan S mengulangi relasi tersebut,

walaupun sebetulnya selama kurang lebih tiga tahun S berhasil menahan diri dalam

melakukan relasi homoseksualnya. Kalaupun kebutuhan seksualnya mendesak, S

hanya melakukan onani saja. Tetapi kemudian, temannya ini menyadarkan kembali

akan kesalahannya dan S pun berusaha untuk menghindari tingkah laku tersebut.

Akibatnya, muncullah konflik dalam jiwanya yang lebih ekstrim yang bersumber pada

keraguan identitas jenis kelaminnya (gender identity).

Untuk mengatasi konflik ini, S mencoba melakukan hubungan heteroseksual

dengan seorang wanita tuna susila, tetapi S tidak berhasil. Kegagalan ini menambah

32
tingkat ekstrenuitas ketegangan mentalnya sehingga sangat mempengaruhi

kemampuannya dalam konsentrasi. Ia pun menjadi kehilangan gairah belajar, karena

benaknya dipenuhi oleh tanda tanya.

Secara otomatis prestasi studinya menurun, hal ini mendorongnya untuk

berkonsultasi pada psikolog.

 Observasi Penampilan

S, berkulit sawo matang. Kesan fisik tingggi besar (tinggi ± 1,68 cm; berat ± 78

kg), tetapi mimik muka serta gerak-gerik halus dan hati-hati. Cara bicaranya sopan.

 Hasil Pemeriksaan Psikologi

Hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan beberapa data-data psikologi S yang

menonjol, sehubungan dengan perkembangan tingkah laku homoseksual sebagai

berikut:

1) Draw A. Man Test

 Gambar Wanita.

 Ketika diminta menggambar pria, terlihat kecenderungan efimisasi dari pada

ekspresi hasil gambar

2) Dari SSCT (Sacks Sentece Completion Test)

Sikap terhadap ayah:

33
 Saya rasa ayahku jarang memutuskan suatu persoalan secara baik dan tepat.

 Sekiranya ayahku hanya bermalas-malasan dan bekerja seenaknya saja.

 Saya ingin ayahku keras dan bertindak.

 Saya rasa, ayahku kurang tegas.

Sikap terhadap ibu:

 Ibuku seorang yang agak keras sifatnya dan dominan tapi dekat dengan saya.

 Ibuku dan saya dekat sekarang ini.

 Saya kira kebanyakan ibu berusaha melindungi anak-anaknya.

 Saya suka pada ibuku, tapi beliau terlalu menyalahkan ayah saya.

Sikap terhadap hubungan heteroseksual

 Apabila saya melihat seorang perempuan bersama seorang laki-laki, saya iri,

mengapa saya tidak semesra itu.

 Mengenai kehidupan perkawinan, perasaan saya adalah ngeri untuk

menghadapinya.

 Umpamakan saya mempunyai hubungan seksual, saya akan berusaha sebaik

mungkin.

 Kehidupan seksual saya merasa tidak normal.

Untuk SSCT, penulis (Sawitri – ed) memang sengaja hanya mengarahkan

perhatian pada ketiga macam sikap tersebut di atas. Dari pengetahuan terhadap ketiga

34
sikap S tersebut, dapat dilihat kecenderungan yang ekstrim terhadap kemungkinan

terbinanya tingkah laku homoseksual pada S

3) Wartegg Test:

Dari hasi Wartegg Test pun terlihat jelas akan kecenderungan efiminasi

(kecenderungan feminin) dalam memberikan responnya baik dalam keurutan gambar

maupun isi (content) dari gambar.

 Analisa Kasus

Latar belakang kehidupan jiwa S ditandai oleh masa kecil yang kurang bahagia.

Kejadian-kejadian yang impresif bagi S, bahkan dapat dikatakan bernilai traumatis,

pertengkaran-pertengkaran kakek dan neneknya, mengakibatkan rasa takut yang luar

biasa. Sehingga, sampai saat ini pun S tidak suka pada keributan-keributan,

pertengkaran-pertengkaran dan S tumbuh menjadi sangat perasa serta menyukai situasi

yang tenang. Nenek yang menjadi figur ibu adalah seorang dominan dan dalam suasana

pertengkaran dengan suaminya, nenek menarik S untuk memihak pada dirinya dengan

menjauhkan S dari kakek. Iklim relasi tersebut, memungkinkan S justru mengambil

figur nenek sebagai pemegang peranan dalam proses identifikasinya.

Demikian pula sekembalinya S ke rumah orang tuanya sendiri. Ketika umur 6

tahun, S menjumpai pola relasi orang tuanya yang juga tidak sehat. Ibu keras, dominan,

sering menyalahkan ayah di muka anak-anaknya. Ayah yang lamban, serta agak lemah

35
akhirnya menciptakan sikap S terhadap ayah yang negatif (jelas terlihat pada hasil tes

SSCT). Relasi dengan ayah menjadi tidak memuaskan bagi S, situasi relasi antara ayah

dan ibunya ini memungkinkan tokoh identifikasi terdahulu (nenek) beralih pada ibu.

Pengalaman demi pengalaman di atas membawa S pada situasi yang kurang

menguntungkan bagi perkembangan gender identity-nya. Penampilan yang halus dan

penurut mengundang kakak S untuk mengajak S onani bersama, bahkan mengadakan

hubungan oral seksual.

Pengalaman ini ditambah dengan pengalaman homoseksual baik di Semarang

maupun di Bandung yang menjadi faktor penguat bagi terbinanya tingkah laku

homoseksual. Tetapi, S belum mencapai homoseksual adjusment yang optimal karena

tampak bahwa konflik-konflik neurotis masih menyertai S.

Dapat disimpulkan bahwa S mengalami gangguan dalam perkembangan gender

identity, tetapi karena ganggguan tersebut belum S sadari sepenuhnya, maka masih ada

usaha-usaha S untuk melawan kondisi ini dengan mencoba berpacaran dengan wanita.

Ia mencoba mengadakan relasi heteroseksual dengan wanita tuna susila.

Kenyataan akan kegagalan dalam usaha tersebut tidak membantu S untuk

menerima keadaan dirinya dengan sepenuh hati, tetapi justru merupakan salah

satu keadaan yang menambah ketegangan mentalnya. Keluhan-keluhan psikis, seperti

gangguan konsentrasi, menurunnya gairah belajar, keraguan dan rasa tidak bahagia

merupakan manifestasi dari ketegangan mentalnya. Kalau melihat derajat ekstrimitas

tingkah laku homoseksualnya, S kiranya dapat dikelompokkan dalam kategori

36
homoseksual eksklusif dengan tipe pasif. Walaupun penampilan fisik umum S tampak

tinggi besar, tetapi apabila kita amati dengan cermat ciri-ciri efiminasi akan tampak.

 Treatment

Walaupun pendekatan psikoanalitis terhadap masalah LGBT banyak

mengungkapkan penyebab berkembangnya tingkah laku seksual, tetapi Freud sendiri

berpendapat bahwa harapan untuk menyembuhkan penderita seksual dengan

psikoanalisa sedikit sekali. Kalaupun psikoanalisa melakukan usaha penyembuhan,

maka hasilnya akan terbatas pada pencapaian self acceptance dan penyesuaian sosial

yang lebih baik (better social adjustment).

Apabila seorang LGBT merasa tidak bahagia, neurotis dan terganggu oleh

konflik, terhambat dalam kehidupan sosialnya, maka psikoanalisa akan membawa

mereka ke dalam kehidupan psikis yang lebih harmonis, tenang dan efisiensi

fungsional yang optimal. Freud percaya bahwa keinginan seksual untuk perubahan

tidak berdasar pada keinginannya sendiri (self motivation), tetapi hanya sebagai akibat

dari situasi tekanan sosial (external motivation) seperti tradisi-tradisi yang mengancam

pilihan obyek seksual mereka.

37
Jadi dalam hal ini, psikolog atau psikiater yang menangani penderita hendaknya

lebih memusatkan perhatiannya serta lebih bertujuan untuk meningkatkan

kesejahteraan serta ketenangan kehidupan perasaan mereka, daripada berharap bahwa

hasil penanganan akan merubah menjadi heteroseksual.

BAB III

KESIMPULAN

Hidup sebagai LGBT bukanlah pilihan. Seseorang menjadi LGBT tidaklah dari

dirinya sendiri tetapi lebih disebabkan karena ada faktor baik itu faktor biologis yaitu

susunan kromosom, ketidakseimbangan hormon, struktur otak dan juga kelainan

susunan syaraf serta faktor lingkungan yaitu: faktor budaya/adat-istiadat dan juga

faktor pola asuh.

Oleh karenanya sikap kita terhadap penderita LGBT janganlah menjauhi

mereka atau mengatakan bahwa sikap itu adalah sebagai sebuah kejahatan. Walaupun

dari sudut pandang etika sikap itu adalah tidak dibenarkan atau dianggap sebagai dosa,

namun harapan untuk pemulihan penderita LGBT tetap ada.

38

Anda mungkin juga menyukai