Memahami Identitas dan Isu LGBT
Memahami Identitas dan Isu LGBT
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Golongan LGBT ini menggeliat dan kian mendapat tempat baik di Indonesia
pernikahan sesama jenis. Pernikahan sesama jenis pertama kali dilegalkan di Belanda,
pada 2001. Menyusul Kanada, Afrika Selatan, Belgia, dan Spanyol. Kemudian
Argentina, Denmark, Islandia, Norwegia, Portugal, dan Swedia serta terakhir Perancis.
Mahkamah Agung dan masih terus dikembangakan. Namun ada sekitar 12 negara
sesama jenis.
negara yaitu Russia, Ugandan, dan Macedonia. Sisanya, sebanyak 78 negara lebih
muslim seperti Arab Saudi, Lebanon, Syria, Malaysia bahkan Indonesia, mereka
1
semakin memberanikan diri untuk menunjukan identitas. Masyarakat yang mayoritas
penduduknya muslim pun digiring kepada opini yang menganngap bahwa perilaku
tersebut adalah wajar dan harus dilindungi dari tekanan-tekanan pihak-pihak yang
menolaknya. Masyarakat terus diarahkan kepada opini kebebasan atau liberalisme serta
hak asasi. Menurut mereka kaum LGBT tersebut adalah seperti manusia yang juga
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Pembahasan
Seperti rumusan masalah diatas, bahwa tujuan penulisan makalah ini dibuat yakni:
2
4. Untuk mengetahui apa saja dampak LGBT
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian LGBT
LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan
transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa
“komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah
1. Lesbian
Lesbi adalah sebuah hubungan emosional yang melibatkan rasa, cinta, dan
kasih sayang dua manusia yang memiliki jenis kelamin sama. Pemahaman ini sama
Sedangkan lesbi lebih dimaknai bahwa pelaku aktifitas sejenis tersebut berasal
dari kaum wanita. Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan
adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos
sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman
kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan
wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang, pada usia pubertas,
mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria. Pada proses
4
perkembangan remaja yang normal, biseksualitas bisa berkembang menjadi
disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka biseksualitas bisa
Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan lebih hebat dari
pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak didapatkan kepuasan
seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat daripada cinta homoseksual
seksual? kami menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca, dan yang mesti di ingat
sebelum menyimpulkan adalah pada faktanya kaum lesbi menjadi sebuah gaya hidup
para wanita ketika issue gender semakin menguat. Menuduh mereka abnormalitas
seksual juga terlalu naif, karena lesbian Indonesia belum ada yang diteliti hormon
Di kota kota besar, kehidupan kaum lesbi lebih mulai terbuka. Jika sebelumnya
Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh longgarnya penerapan norma susila
dimasyarakat. Selain juga karena makin tingginya rasa individualisme di kota – kota
5
besar. Apalagi pelaku seks bebas dikalangan mudah turut mempengaruhi
sosial kemasyarakatan. Kalau dulu, sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya, tapi
saat ini mereka berhimpun dalam wadah atau organisasi yang semua orang bisa
partner seks yang abnormal. Lesbian berasal dari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah
sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada jaman kuno dihuni oleh
cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang pada usia pubertas, dalam diri individu
Pada umumnya cinta seorang lesbi sangat mendalam dan lebih hebat dari pada
cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian tidak didapatkan kepuasan seksual
yang wajar, cinta lesbian juga biasanya lebih hebat dari cinta homoseksual diantara
2. Gay
6
Gay adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang
mengungkapkan perasaan “bebas/ tidak terikat”, “bahagia” atau “cerah dan menyolok”.
Kata ini mulai digunakan untuk menyebut homoseksualitas mungkin semenjak akhir
abad ke-19 M, tetapi menjadi lebih umum pada abad ke-20. Dalam bahasa Inggris
modern, gay digunakan sebagai kata sifat dan kata benda, merujuk pada orang-orang
terutama pria gay dan aktivitasnya, serta budaya yang diasosiasikan dengan
homoseksualitas.
Pada akhir abad ke-20, istilah “gay” telah direkomendasikan oleh kelompok-
kelompok besar LGBT dan paduan gaya penulisan untuk menggambarkan orang-orang
yang tertarik dengan orang lain yang berkelamin sama dengannya. Pada waktu yang
peyoratif menjadi umum pada beberapa bagian dunia. Di Anglosfer, konotasi ini
digunakan kaum muda untuk menyebut “sampah” atau “bodoh” (misalnya pada
kalimat: “Hal tersebut sangat gay”). Dalam konteks ini, kata gay tidak memiliki arti
“homoseksual” sehingga bisa digunakan untuk merujuk benda tak bergerak atau
konsepsi abstrak yang tidak disukai. Dalam konteks yang sama, kata “gay” juga
dalam konteks ini, apakah istilah gay masih memiliki konotasi terhadap
Kata gay sampai di Inggris pada abad ke-12 M dari bahasa Perancis kuno gai, yang
7
bahasa Inggris, kata gay diartikan sebagai “gembira”, “bebas/ tidak terikat”, “cerah dan
menyolok". Kata gay sangat umum digunakan menurut pengertian di atas dalam
berbagai percakapan dan literatur. Misalnya, masa optimisme pada tahun 1980an masih
sering dijuluki sebagai Gay Nineties. Judul balet Perancis tahun 1938, Gaîté Parisienne
(Parisian Gaiety atau "Keriangan penduduk Paris"), yang menjadi film Warner Bros.
tahun 1941 dengan judul The Gay Parisian, juga mengilustrasikan konotasi tersebut.
Barulah pada abad ke-20, kata tersebut mulai digunakan secara spesifik untuk
orientasi seksual terhadap sesama lelaki (Duffy & Atwater, 2005) Michael dkk (endal,
dirinya.
b. Keterlibatan seksual dengan satu orang atau lebih yang memiliki kesamaan
3. Biseksual
8
Biseksualitas merupakan ketertarikan romantis, ketertarikan seksual, atau
kebiasaan seksual kepada pria maupun wanita. Istilah ini umumnya digunakan dalam
kepada pria maupun wanita sekaligus. Istilah ini juga didefinisikan sebagai meliputi
ketertarikan romantis atau seksual pada semua jenis identitas gender atau pada
seseorang tanpa mempedulikan jenis kelamin atau gender biologis orang tersebut, yang
Biseksualitas adalah salah satu dari tiga klasifikasi utama orientasi seksual,
identitas biseksual tidak harus memiliki ketertarikan seksual yang sama besar pada
kedua jenis kelamin; biasanya, orang-orang yang memiliki ketertarikan pada kedua
manusia dan juga pada kelompok hewan di sepanjang sejarah tertulis. Istilah
M.
9
merupakan suatu kontinum (rangkaian kesatuan). Dengan kata lain, seseorang tidak
dengan taraf yang bervariasi. Orientasi seksual berkembang sepanjang masa hidup
sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu
spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita
dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian
biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu.
feminitas, sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah
mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat seksual
kepada pria dan wanita. Menurut Masters (1992), biseksual adalah istilah untuk orang
yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual
emosional dan seksual kepada laki-laki dan perempuan (Robin & Hammer, 2000 dalam
Matlin, 2004).
10
4. Transgender
mendeskripsikan bagi orang yang melakukan, merasa, berfikir atau terlihat berbeda
dari jenis kelamin yang telah ditetapkan sejak lahir. Transgender tidak mengacu pada
bentuk spesifik apapun ataupun orientasi seksual orangnya. Seorang transgender dapat
biseksual.
Dysphoria (kebingunan gender). Gender Dysphoria adalah sebuah term general bagi
mereka.
melakukan operasi pergantian kelamin atau yang disebut dengan transgender. Namun
langkah mereka tidak hanya sampai disitu, setelah melakukan sebuah operasi
bukanlah termasuk pada kategori penyuka sesama jenis (homoseksual / lesbian) tetapi
karena memiliki kelainan pada orientasi seksualnya atau merasa terjebak pada jenis
11
yang membentuk karakteristik kelamin manusia, dan ini bukanlah merupakan penyakit
mental.
Meski seorang transgender masih dipandang sebelah mata, dianggap tabu dan
keberadaannya dengan segudang prestasi yang berhasil mereka raih, mulai dari dunia
Banyak fenomena yang terjadi sekarang ini bisa di cermati sebagai contoh nyata
mengapa seseorang memilih untuk menjadi seorang waria, gay, lesbian, atau mungkin
terdapat sifat lemah lembut seperti layaknya perempuan dan dia berniat untuk menjadi
seorang yang berkelakuan menyimpang dari identitas aslinya hanya untuk menunjukan
siapa dia sebenarnya. Alasan lain bisa karena kejadian masalalu dalam keluarga dimana
seorang ayah menelantarkan anak lelaki dan istrinya, hingga pada akhirnya anak lelaki
melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan
saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari
aseksual. Definisi yang tepat untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup:
12
Tentang, berkaitan dengan, atau menetapkan seseorang yang identitasnya tidak
didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini salah
Pada hakikatnya, masalah kebingungan jenis kelamin atau yang lazim disebut
dandanan, make up, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi
B. Penyebab LGBT
13
Anne Krabill Hersberger menjelaskan bahwa sampai saat ini, fakor penyebab
timbulnya seseorang menjadi LGBT belum dapat diketahui dengan pasti. Ada beberapa
teori yang yang mencoba menjelaskannya. Beberapa orang percaya bahwa perilaku
orientasi seks sejenis terjadi karena adanya perkembangan yang terhambat selama
pubertas. Ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya
hormon abnormal dalam tubuh seseorang yang belum teridentifikasikan. Ada juga yang
mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh faktor keturunan. Dan ada juga yang
mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh lingkungan, misalnya: kekacauan dalam
rumah tangga.
1) Faktor Biologis
Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra, [Link] mengemukakan bahwa berdasarkan kajian
ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari:
a. Susunan Kromosom
kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari
14
ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom
x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria.
pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga
kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi.
Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis
kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.
b. Ketidakseimbangan Hormon
Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang
dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini
sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan
progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan
c. Struktur Otak
Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay
females dan gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight
males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight
females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay
15
males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur
otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.
susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.
Kaum LGBT pada umumnya merasa lebih nyaman menerima penjelasan bahwa
berperan dalam membentuk seksual maka dapat dinyatakan bahwa kaum LGBT
memang terlahir sebagai LGBT, mereka dipilih sebagai LGBT dan bukannya memilih
menjadi LGBT.
LGBT ini masih terus menerus diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar di
bidangnya.
2) Faktor Lingkungan
a. Faktor Budaya/Adat-istiadat
16
Dalam budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu terdapat ritual-ritual yang
mengandung unsur homoseksualitas, seperti dalam budaya suku Etoro yaitu suku
pedalaman Papua New Guinea, terdapat ritual keyakinan dimana laki-laki muda harus
memakan sperma dari pria yang lebih tua (dewasa) untuk memperoleh status sebagai
pria dewasa dan menjadi dewasa secara benar serta bertumbuh menjadi pria kuat.
Karena pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu
orang dalam kelompok masyarakat tersebut, maka demikian pula budaya dan adat
dari cara berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan,
maupun pola pemikiran tertentu terutama yang berkaitan dengan orientasi, tindakan,
Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria
atau perempuan. Dan pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan
namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebut, meliputi:
17
Karakteristik fisik: perbedaan alat kelamin pria dan wanita; pria pada umumnya
memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan wanta, pria pada
paternalistik maka tuntutan bagi para pria adalah untuk menjadi kepala keluarga
demikian pria dituntut untuk menjadi figur yang kuat, tegar, tegas, berani, dan
siap melindungi yang lebih lemah (seperti istri, dan anak-anak). Sementara
Jika dilihat secara universal, sistem yang diakui universal adalah sistem
18
membedakan pada kepala keluarga: pria dalam paternalistik dan wanita dalam
Pola asuh yang tidak tepat, seperti contoh yang tidak asing yaitu: anak laki-laki
tersebut. Mengapa demikian? Karena sejak dini ia tidak dikenalkan dan dididik
secara tepat & benar akan identitas seksualnya, dan akan perbedaan yang jelas
Figur orang yang berjenis kelamin sama dan relasinya dengan lawan jenis
melihat pada: orang tua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya;
anak laki-laki melihat pada ayahnya, dan anak perempuan melihat pada ibunya;
dan kemudian mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin
sama dengannya.
mengasimilasi apa, siapa, dan bagaimana menjadi dan menjalani peranan sesuai
dengan identitas seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita.
dikarenakan figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan
19
peranan identitas seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku.
Seperti: ibu yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional
dengan anak-anaknya, ayah tampil sebagai figur yang lemah tak berdaya; atau orang
tua yang homoseksual. Namun penting diketahui! Tidak semua anak yang dihadapkan
pada situasi demikian akan terbentuk sebagai homoseksual karena masih ada faktor
lain yang juga dapat mempengaruhi dan tentunya juga karena kepribadian dan karakter
C. Ciri-ciri LGBT
berikut :
1. Lesbian
Orang yang menjadi lesbian tidak selalu mempunyai ciri yang kuat yang
membedakan dengan yang tidak lesbian. Ciri yang sering muncul misalnya:
a. Memposisikan diri sebagai maskulin atau biasa dikenal sebagai “ Buchi” (peran
sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya,
2. Gay
20
Pria gay yang statusnya hidden akan sulit dikenali, karena penampilannya
layaknya pria kebanyakan. Bahkan akan lebih sulit lagi jika pria tersebut sedang
bersama wanita. Dari pengakuan sebagian besar gay, mereka mendapatkan keahlian
mengenali kawan sejenisnya itu karena jam terbang. Semakin tinggi jam terbang pria
a. Tatapan. Seorang pria akan menatap pria lain lebih lama dari pria biasa.
Biasanya lebih dari 3 detik, dan itu dilakukan berulang-ulang. Tentunya hal ini
akan dilakukan terhadap pria yang memang disukainya. Bahkan tatapan ini
akan diakhiri dengan senyuman. Bagi sebagian gay mengaku, tatapan mata
seorang gay terhadap pria itu sangat dalam dan terasa “menusuk”.
b. Wangi parfum lebih mencolok daripada wanita. Dan parfum yang digunakan
biasanya branded. Bahkan jika tidak mendapatkan parfum branded, yang aspal
c. Cara berpakaian yang lebih dandy, modis, matching dan update. Motif yang
dipakai biasanya garis garis lurus dan warnanya tidak terlalu eye-catching.
Namun beberapa ada juga yang suka tampil dengan warna-warna mencolok dan
memperlihatkan lekuk tubuh lebih jelas. Termasuk kemeja juga dipilih ukuran
yang lebih ngepas biar kelihatan bentuk tubuhnya, apalagi jika didapatkan dari
hasil fitnes.
21
d. Tata rambut yang lebih klimis dan trendy. Selain penampilan, baju, dan wajah.
Tak kalah pentingnya adalah tatanan rambutnya, biasanya pria gay lebih klimis
jenis gel yang membuat lebih wet look dan terlihat fresh.
e. Cara bicara yang lebih sopan. Umumnya tata bahasa yang dipakai lebih ditata.
Bahkan pada kebanyakan gay, cara mereka bicara lebih kental huruf ‘s’ nya,
dan parahnya lagi kebanyakan suaranya cempreng. Hal ini akan sangat nampak
pada gay yang tingkat femininnya lebih tinggi. Makanya kalo kencan buta via
telpon, umumnya dapat dikenali dari suara cempreng dan agak lembut, maka
f. Gesture dan sikap. Pria gay , umumnya lebih menjaga sikap seperti cara berdiri,
cara duduk hingga cara berjalan. Ketika duduk, dapat dengan mudah dikenali
bagaimana pria gay menaruh tangan dan memposisikan atau menyilangkan kaki
dengan anggun.
g. Pria gay lebih berani dalam menunjukan sikap dan ketertarikan. Jika dia merasa
tertarik dengan anda, maka dia takkan ragu untuk mendekat menghampiri anda
3. Biseksual
gender atau memiliki ketertarikan seksual pada seseorang terlepas dari jenis
22
Potensi untuk tertarik secara romantika atau seksual pada orang-orang dengan
lebih dari satu jenis kelamin atau gender, tidak harus pada saat yang bersamaan,
tidak harus dengan cara yang sama, dan tidak harus dengan derajat ketertarikan
yang sama.
Biseksual tidak menunjukkan perilaku di depan semua orang. Dia bisa normal
dengan lawan jenisnya, dan bertindak berbeda ketika dia berada disekitar
sesama jenisnya.
Jika dia tidak nyaman dengan ide menjadi lesbian/gay atau biseksual, maka ia
4. Trasgender
Transgender (pondan) adalah asal tubuhnya lelaki, jiwanya jiwa wanita dan
karena itu mereka tertarik kepada lelaki. Secara umunya, homoseksual tidak dapat
dilihat daripada ciri-ciri tubuh maupun tingkah laku. Jika ada yang menyebut dirinya
homoseksual tetapi sissy (berwatakan lembut seperti wanita), maka secara jujur,
sebenarnya dia adalah transgender. Lelaki yang dianggap transgender dipengaruhi oleh
jiwanya, adalah jiwa wanita maka dia akan bertingkah laku dan bertutur secara
feminism, dan bila merasa bahwa dia adalah wanita maka dia akan mencintai lelaki
a. Seks Biologis
23
Mereka memiliki keambiguan 1 genital internal dan genital eksternal mereka.
Namun secara umum mereka tidak menampakkan kebingungan atas identitas gender
b. Identitas gender
Transgender adalah orang yang mengadopsi peran dan nilai-nilai lawan jenis
c. Ekspresi gender
pola komunikasi dan ketertarikan. Ekspresi gender seseorang bisa saja tidak konsisten
dengan peran gender secara sosial dan mungkin juga tidak mencerminkan identitas
Nilai-nilai maskulin dan feminin ini ditentukan oleh budaya, tapi prosesnya sendiri bisa
Orientasi seksual mengacu pada jenis kelamin mana seseorang tertarik secara
emosional dan seksual. Ketertarikan ini bersifat tidak kasat mata. Artinya, hanya orang
itu sendiri yang bisa merasakan kepada siapa dia lebih tertarik. Kategori-kategori ini
24
Setiap tindakan atau perbuatan pasti ada dampaknya. Demikian juga dalam hal
norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang
terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak
homoseksual untuk berkarya atau bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk
dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang
sebelah mata, ada pula yang hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti
dikucilkan, disisihkan atau dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta
masyarakat.
25
Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum
homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat
tertentu yang berlaku di kalangan kaum LGBT. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku,
Gaya hidup tertentu pada kaum LGBT dapat beresiko buruk terhadap kesehatan fisik
seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak
26
HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan
E. Mengatasi LGBT
LGBT memiliki tingkatan. Tingkatan yang lebih rendah disebut hemofilia yaitu
pengalaman jatuh cinta kepada orang sejenis kelamin, tetapi cinta itu belum begitu
mendalam atau belum sampai pada permainan seksual setingkat hubungan seksual
pada suami-istri. Homifilia ini seringkali terjadi karena lingkup pergaulan yang hanya
terbatas pada teman-teman sejenis kelamin saja. Maka untuk mengobati homofilia ini
bisa dengan membuka pergaulan supaya menjadi lebih luas, memungkinkan pergaulan
yang kerap dan akrab dengan orang-orang dengan jenis kelamin yang lain. Secara
moral homofilia, walaupun memang salah, tidak layak dinilai sebagai tindakan yang
melawan moralitas secara berat. Apalagi bila keduanya, atau salah seorang, memang
menderita kelainan mental di bidang seksual. Mereka atau dia itu lebih layak dinilai
atau transgender telah sampai pada taraf permainan seksual setingkat dengan senggama
suami-istri. Maka mereka yang betul-betul bermental LGBT lebih layak dianggap
karenanya tindakannya juga tidak dapat disebut sebagai tindakan jahat, walaupun
27
Sebagaimana telah uraikan dari atas bahwa seksualitas ini sebaiknya dilihat dari
sudut pandang bahwa ini adalah kelainan atau sebagai penyakit. Bila kita beranjak dari
sudut pandang tersebut maka ada harapan bahwa kelainan seksual ini bisa diobati.
Proses pemulihan ini terutama berasal dari sipenderita itu sendiri. Keinginan untuk
1. Secara Psikologis
secara psikologi, maka di sini saya mengungkapkan contoh kasus yang diuraikan oleh
tinggi di Bandung, mengeluh bahwa dirinya merasa kurang dapat konsentrasi dalam
belajar, gairah belajar menurun, sehingga dua semester terakhir ini S merasa gagal
dalam ujian-ujiannya. S merasa penuh dengan keraguan dan tanda tanya yang selalu
S adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dengan urutan kakak laki-laki (2 orang),
kemudian S dan adik yang bungsu perempuan. Perbedaan umur antar empat bersaudara
itu lebih kurang dua tahun. Sejak S berumur satu tahun, oleh orang tuanya S dititipkan
pada kakek atau neneknya. Setelah umur 6 tahun S kembali pada orangtuanya sendiri.
28
Kesan yang sangat mendalam pada 5 tahun pertama kehidupannya adalah
seringnya kakek dan nenek berselisih paham, dan bila perselisihan paham memuncak,
mereka melempar benda yang ada di dekatnya atau saling menyiramkan air. Kalau
Setelah pertengkaran, biasanya nenek dan kakek saling tidak tegur sapa. Dalam
keadaan ini, maka nenek biasanya sangat baik terhadap S dan kemana nenek pergi, S
harus ikut. Bahkan pada saat nenek memasak dan membersihkan rumah pun S harus
Setelah S dewasa, S baru sadar bahwa alasan orang tua menitipkan dirinya di
rumah nenek atau kakek sebetulnya untuk menurunkan frekuensi pertengkaran nenek
atau kakek. Tapi seingat S, pertengkaran antar mereka tidak mereda. Pribadi nenek
menurut S keras dan dominan, begitu pula dengan pribadi kakek yang juga sama-sama
keras.
kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya dibandingkan dengan sikap
orang tua terhadap kedua kakak laki-lakinya. Orang tua S memiliki sebuah toko emas
dan keduanya sibuk dengan toko. Anak-anak lebih banyak dilepas tanpa pengawasan
Ibu bersikap lebih dominan dibanding ayah dan seringkali ibu lebih mampu mengambil
keputusan dalam urusan dagang. Menurut S, ayahnya agak lamban dalam bertindak
dan sering bersikap ragu-ragu. Kedua kakak S sangat nakal dan kasar tingkah lakunya
dalam bermain. Sedang S tidak suka pada tingkah laku kasar dan nakal, sehingga S
29
lebih suka bermain dengan adik perempuannya. S senang main masak-masakkan, main
Pada waktu S kelas V SD, suatu hari S diajak oleh kakak laki-laki yang pertama
untuk melakukan onani bersama. Dan seingat S, pernah pula S atas anjuran kakaknya
tersebut mencoba melakukan relasi seks dengan adik perempuannya. Percobaan ini
S atau melakukan onani bersama. Hal ini sering terjadi, sampai akhirnya kakak S
di rumah bibinya yang memiliki anak laki-laki sebaya dengan S dan tinggal satu kamar
dengan saudara sepupunya itu. Pada suatu saat, saudara sepupunya itu mencium S
sehingga akhirnya berkembang menjadi homoseksual. Dalam relasi ini S lebih sering
bersifat pasif. Setelah kira-kira satu tahun mengadakan relasi itu, saudara sepupunya
ini pindah ke kota. Namun, S segera mendapatkan teman pengganti, yaitu teman
sekelasnya sendiri. Tetapi, teman ini meninggal karena sakit. S merasa kesepian dan
pada saat munculnya kebutuhan seksual S melakukan onani. Dalam onani, S kadang-
kadang membayangkan wanita atau pria, tetapi menurut S lebih sering membayangkan
mendapatkan teman pria yang mau mengerti keadaan S dan tidak dapat merasakan
homoseksual tersebut dan mengatakan bahwa tingkah laku tersebut kurang baik.
30
Setelah lulus SMA, S pindah ke Bandung dan bersekolah di Bandung. Rasa
takut terhadap abnormalitas semakin meningkat karena S tidak pernah merasa tertarik
terhadap wanita. Apalagi pada tahun pertama S berkenalan dengan seorang pria satu
selama kurang lebih satu tahun. Atas kesadaran partnernya ini, S dinasehati oleh
Pada suatu ketika, S memaksakan diri untuk mencari pacar dan kebetulan wanita ini
memang tertarik pada S dan bersedia menjadi pacarnya. S merasa senang karena ini
adalah kesempatan bagi S untuk melepaskan diri dari abnormalitasnya. Tetapi rupanya
S tidak tahan terhadap konsekuensi-konsekuensi sebagai pria yang punya pacar pada
Tuntutan pacar akan ‘apel’ akhirnya menjadi beban bagi dirinya, pacar S sering
marah kalau S terlambat ‘apel’. S mulai tidak suka karena S paling takut kalau melihat
orang yang marah-marah dan hatinya menjadi tidak enak. Sejak kecil pun S takut
Kecuali itu, sejak remaja S suka mencoba resep masakan dari majalah. Ibu
kesukaannya ini, ayah S hanya berkomentar “Anak laki-laki koq senang masak, nanti
31
saja. S merasa bahwa tindakan pacarnya pun sering menyinggung perasaannya,
sehingga rasa tidak tertarik pada pacarnya ini semakin berkembang dan dalam
berdekatan dengan pacarnya. Sampai akhirnya, S merasa jenuh dan berat beban
memberanikan diri untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya. Setelah lepas dari
fakultas kedokteran. Hubungan dengan kakak nomor dua tidak akrab, kakak ini agak
mengacuhkan diri S. Pada permulaan tahun 1980 kakaknya pergi ke luar Jawa. Karena
teman pria yang diajak adalah partner relasi homoseksual ketika S baru lebih kurang
walaupun sebetulnya selama kurang lebih tiga tahun S berhasil menahan diri dalam
hanya melakukan onani saja. Tetapi kemudian, temannya ini menyadarkan kembali
akan kesalahannya dan S pun berusaha untuk menghindari tingkah laku tersebut.
Akibatnya, muncullah konflik dalam jiwanya yang lebih ekstrim yang bersumber pada
dengan seorang wanita tuna susila, tetapi S tidak berhasil. Kegagalan ini menambah
32
tingkat ekstrenuitas ketegangan mentalnya sehingga sangat mempengaruhi
Observasi Penampilan
S, berkulit sawo matang. Kesan fisik tingggi besar (tinggi ± 1,68 cm; berat ± 78
kg), tetapi mimik muka serta gerak-gerik halus dan hati-hati. Cara bicaranya sopan.
berikut:
Gambar Wanita.
33
Saya rasa ayahku jarang memutuskan suatu persoalan secara baik dan tepat.
Ibuku seorang yang agak keras sifatnya dan dominan tapi dekat dengan saya.
Saya suka pada ibuku, tapi beliau terlalu menyalahkan ayah saya.
Apabila saya melihat seorang perempuan bersama seorang laki-laki, saya iri,
menghadapinya.
mungkin.
perhatian pada ketiga macam sikap tersebut di atas. Dari pengetahuan terhadap ketiga
34
sikap S tersebut, dapat dilihat kecenderungan yang ekstrim terhadap kemungkinan
3) Wartegg Test:
Dari hasi Wartegg Test pun terlihat jelas akan kecenderungan efiminasi
Analisa Kasus
Latar belakang kehidupan jiwa S ditandai oleh masa kecil yang kurang bahagia.
biasa. Sehingga, sampai saat ini pun S tidak suka pada keributan-keributan,
yang tenang. Nenek yang menjadi figur ibu adalah seorang dominan dan dalam suasana
pertengkaran dengan suaminya, nenek menarik S untuk memihak pada dirinya dengan
tahun, S menjumpai pola relasi orang tuanya yang juga tidak sehat. Ibu keras, dominan,
sering menyalahkan ayah di muka anak-anaknya. Ayah yang lamban, serta agak lemah
35
akhirnya menciptakan sikap S terhadap ayah yang negatif (jelas terlihat pada hasil tes
SSCT). Relasi dengan ayah menjadi tidak memuaskan bagi S, situasi relasi antara ayah
dan ibunya ini memungkinkan tokoh identifikasi terdahulu (nenek) beralih pada ibu.
maupun di Bandung yang menjadi faktor penguat bagi terbinanya tingkah laku
identity, tetapi karena ganggguan tersebut belum S sadari sepenuhnya, maka masih ada
usaha-usaha S untuk melawan kondisi ini dengan mencoba berpacaran dengan wanita.
menerima keadaan dirinya dengan sepenuh hati, tetapi justru merupakan salah
gangguan konsentrasi, menurunnya gairah belajar, keraguan dan rasa tidak bahagia
36
homoseksual eksklusif dengan tipe pasif. Walaupun penampilan fisik umum S tampak
tinggi besar, tetapi apabila kita amati dengan cermat ciri-ciri efiminasi akan tampak.
Treatment
maka hasilnya akan terbatas pada pencapaian self acceptance dan penyesuaian sosial
Apabila seorang LGBT merasa tidak bahagia, neurotis dan terganggu oleh
mereka ke dalam kehidupan psikis yang lebih harmonis, tenang dan efisiensi
fungsional yang optimal. Freud percaya bahwa keinginan seksual untuk perubahan
tidak berdasar pada keinginannya sendiri (self motivation), tetapi hanya sebagai akibat
dari situasi tekanan sosial (external motivation) seperti tradisi-tradisi yang mengancam
37
Jadi dalam hal ini, psikolog atau psikiater yang menangani penderita hendaknya
BAB III
KESIMPULAN
Hidup sebagai LGBT bukanlah pilihan. Seseorang menjadi LGBT tidaklah dari
dirinya sendiri tetapi lebih disebabkan karena ada faktor baik itu faktor biologis yaitu
susunan syaraf serta faktor lingkungan yaitu: faktor budaya/adat-istiadat dan juga
mereka atau mengatakan bahwa sikap itu adalah sebagai sebuah kejahatan. Walaupun
dari sudut pandang etika sikap itu adalah tidak dibenarkan atau dianggap sebagai dosa,
38