Teknik Dasar Lari Sprint dan Latihan
Teknik Dasar Lari Sprint dan Latihan
A. Pengantar
Nomor lari merupakan nomor yang disebut sebagai nonteknik, karena lari merupakan
aktivitas alami yang relatif sederhana jika dibandingkan dengan nomor lompat tinggi galah
atau nomor Lontar martil. Penekanan pada kecepatan dan daya tahan ditentukan oleh jarak
lomba, start jongkok dalam lomba lari sprint, pergantian tongkat pada lari estafet dan
adanya rintangan dalam nomor lari gawang dan halangan rintangan yang semuanya
membuat tuntutan teknik untuk para atlet harus dipersiapkan.
Nomor lari dalam cabang atletik memperlombakan jarak pendek atau lari sprint (100m,
200m,, dan 400), jarak menengah (800m,1500m, dan 3000m), jarak jauh (5000m dan
10000m), dan marathon (42.195km). Nomor-nomor tersebut diperlombakan untuk atlet
yang tergolong kategori diatas Junior. untuk tingkat Junior dan di bawahnya nomor
perlombaan lebih disesuaikan.
Kebutuhan yang relatif penting untuk lari sprint sangat beragam bergantung pada kategori
usia (Ballesteros, 1999), tetapi yang paling dibutuhkan untuk semua nomor dalam lari sprint
dan lari gawang adalah kecepatan sesuai dengan pengertiannya bahwa sprint yang berarti
lari dengan tolakan secepat-cepatnya.
1. Tujuan dasar lari
Tujuan dasar dalam semua nomor lari adalah untuk memaksimumkan kecepatan lari
rata-rata dalam perlombaan untuk mencapai tujuan atlet ini harus fokus pada
pencapaian dan mempertahankan kecepatan lari maksimal. Dalam nomor lari gawang
fokusnya sama, yaitu dengan tambahan kebutuhan untuk melewati gawang dengan
baik.
2. Aspek biomekanika
Kecepatan lari seseorang atlet ditentukan oleh panjang langkah dan frekuensi langkah
lari. Panjang langkah optimal ditentukan oleh sifat-sifat fisik atlet dan oleh daya
kekuatan yang dikerahkan setiap langkah lari. Kemampuan ini dipengaruhi oleh
kekuatan dan mobilitas. Frekuensi langkah-langkah bergantung pada Mekanika, Teknik,
dan koordinasinya
3. Struktur gerakan
Setiap langkah lari terdiri dari satu fase menopang (support phase) dan satu fase
melayang (flight phase). Semua langkah ini dapat dirinci menjadi fase topang depan dan
pasar dorong bagi kaki topang dan tahap ayunan depan dan tahap pemulihan bagi kaki
yang bebas. Dua bagian fase topang adalah sangat penting. Pada fase topang depan
adalah senyatanya terjadi suatu gerak perlambatan gerakan kedepan dari badan pelari.
Fase dorong adalah satu-satunya bagian dari langkah lari yang mempercepat gerakan
tubuh. Tujuannya adalah untuk mengarahkan bagian terbesar dan daya ke dalam tanah
dalam waktu sesingkat mungkin. Kemampuan ini diciptakan oleh kontraksi otot-otot kaki
dan di lepaskannya energi yang disimpan pada saat kaki di luruskan.
B. Mengajarkan teknik lari
Teknik berlari dapat di ajarkan dengan memperkenalkan kunci keterampilan yang berkaitan
dengan unsur semua lomba lari sprint, yaitu: reaksi, akselerasi, kecepatan maksimum dan
pemeliharaan kecepatan maksimum (decelaration speed).
Poin-poin penekanan
Meningkatkan kemampuan reaksi (menggunakan berbagai signal start dan posisi
start, seperti berbaring, duduk, berdiri).
Meningkatkan frekuensi langkah (dengan melatih gerakan lutut tinggi dan
memperpendek pendulum/handuk kaki bebas).
Menambah panjang langkah (dengan melatih gerak pelurusan penuh kaki topang).
Latihan-latihan tambahan dan latihan terfokus pada:
- Gerakan kaki mencakar (pawing action)
- Pelurusan badan penuh
- Gerakan lengan yang kuat namun relaks.
Suatu variasi permainan yang luas berkenaan dengan lari dan lari gawang.
Poin-poin yang harus di hindari:
- Hanya berkonsentrasi pada beberapa latihan dan drill saja
- Lari sprint dengan usaha ma umum tanpa variasi jarak
- Kelelahan ketika berlatih pada kecepatan maksimum
- Kontak rumit ketika lari sprint.
C. Latihan keterampilan dan latihan kondisi
Latihan ini harus di lakukan setelah melakukan latihan pemanasan umum dan latihan
peregangan serta harus dilakukan sekitar 10 menit.
Langkah 2:
Langkah 3:
Gunakan tahanan dan teman latih atau alat penahan.
Jangan melebih-lebihkan tahanan (beban).
Pastikan kaki topang di luruskan sepenuhnya dan kontak (dengan tanah)
sesingkat mungkin.
Tujuannya: mengembangkan fase dorong dan kekuatan khusus.
Langkah 4:
Langkah 5:
buatlah tanda untuk menandai daerah 6 m
Satu teman latih menunggu di ujung daerah.
Percepatlah lari bila pelari yang datang mencapai daerah.
Tujuannya: mengembangkan lari percepatan dan kecepatan
maksimum.
Langkah 6 :
Tandailah daerah 20 m.
Gunakan lari awalan 20-30 m.
Lari menembus daerah dengan kecepatan maksimum.
4. START JONGKOK (CROUCH START)
Posisi “bersediaa”;
Posisi “siaaap”
Gerakan dorong (drive)
Lari akselerasi.
5. Penempatan balok start dan pengaturannya
Tujuan: menempatkan balok start di sesuaikan dengan ukuran kaki dan kemampuan
pelari.
Karakteristik teknik :
Blok depan di tempatkan 1.5 panjang kaki di belakang garis start
Blok belakang di pasang 1.5 panjang kaki di belakang blok depan.
Blok depan biasanya di pasang lebih datar
Blok belakang biasanya di pasang lebih curam.
6. Posisi “siaaap”
Tujuan: bergerak masuk ke posisi start yang optimal dan di pertahankan.
Karakteristik teknik:
Lutut-lutut di tekan ke belakang.
Lutut kaki depan ada dalam posisi membentuk sudut siku-siku (90 derajat).
Lutut kaki belakang membentuk sudut antara 120-140 derajat.
Pinggang sedikit di angkat tinggi dari pada bahu. Tubuh sedikit condong ke
depan.
Bahu sedikit lebih maju ke depan dari kedua tangan.
7. Fase dorong/Drive
Tujuan: meninggalkan balok start dan untuk mempersiapkan langkah lari pertama.
Karakteristik teknik:
Badan di luruskan dan di angkat pada saat kedua kaki menekan keras pada
balok start.
Kedua tangan di angkat dari tanah bersamaan untuk kemudian diayun
bergantian.
Kaki belakang mendorong kuat, dorongan kaki depan sedikit tidak kuat
namun lebih lama.
Kaki belakang di Ayun ke depan dengan cepat sedangkan badan condong ke
depan.
Lutut dan pinggang keduanya di luruskan penuh pada saat akhir dorongan.
8. Fase lari percepatan
Tujuan: menambah kecepatan dan membuat gerakan transisi yang efisien ke
gerakan lari.
Karakteristik teknik:
Kaki depan di tempatkan dengan cepat pada telapak kaki untuk membuat
langkah pertama.
Condong badan ke depan di pertahankan.
Tungkai-tungkai bawah di pertahankan selalu paralel dengan tanah saat
pemulihan (recovery).
Panjang langkah dan frekuensi gerak langkah meningkat dengan setiap
langkah.
Badan di tegakkan dari sedikit setelah jarak 20 – 30 m.
9. Langkah-langkah pengajaran/pelatihan
Langkah 1: start dari posisi berbeda-beda
Tanda bergerak ke posisi lari dan melakukan lari percepatan (akselerasi).
Dapat di lakukan secara individu atau berpasangan (satu atlet mengejar atlet
yang lain).
Tujuan: meningkatkan konsentrasi dan akselerasi.
Langkah 2: start berdiri dengan suatu aba-Aba.
Gunakan suatu variasi tanda-tanda start: bisa melalui pendengaran
(audio/akustik), lewat pandangan (visual/optik) dan bisa lewat
sentuhan/rabaan (tactile/taktik).
Tujuan: mengembangkan konsentrasi dan reaksi.
Langkah 3: start berdiri dengan berbagai variasi
Start jatuh tanpa aba-aba
Start berdiri dari suatu posisi badan condong ke depan
Start berdiri dari berdiri atas 3 atau 4 titik
Tujuan:melatih mengangkat badan dan lari akselerasi.
Langkah 4: posisi “bersedia”
Tempatkan dan pasang balok start
Jelaskan dan demonstrasikan unsur-unsur kunci dari posisi awal.
Latihlah dengan di koreksi oleh pelatih atau mitra latih.
Tujuan: memperkenalkan posisi “bersedia”
Langkah 5: posisi “siap”
Jelaskan dan tunjukkan posisi “siap” pada start itu
Latihlah perubahan antara posisi “bersediaaa” dan “siapp” tanpa melakukan
lari ( start)
Koreksi oleh pelatih atau mitra latih.
Tujuan: memperkenalkan posisi “siaaap” pada start.
Langkah 6: urutan gerak keseluruhan
Lakukan start dan lari sprint 10 – 30 m dengan Aba-aba dan tanpa lawan lari.
Gunakan lintasan yang berbeda-beda, lurus, tikungan, dengan dan tanpa
lawan lari.
Atur variasi lama waktu antara “siaaap” dan tembakan pistol.
Tujuan: merangkaikan fase-fase sebagai suatu urutan gerak keseluruhan
(penuh).
F. Lari jarak menengah dan jarak jauh
Struktur langkah lari jarak menengah dan jarak jauh mirip seperti langkah pada sprint
dengan beberapa perbedaan berikut.
Posisi kaki pada saat sentuh tanah bervariasi dengan langkah lari.
Ayunan kaki bebas ke depan dengan sudut lutut terbuka (tungku bawah hampir
paralel dengan tanah).
Pelurusan pinggang, tungku dan kaki pada fase dorong dapat penuh (jarak
menengah) atau tidak penuh (jarak jauh).
Angkatan lutut lebih rendah.
Gerakan lengan sedikit atau tanpa pelurusan siku.
1. Penempatan kaki
Tujuan: guna mencapai gerakan kaki yang efisien.
Karakteristik teknik :
Bagian luar dan Tumit kontak pertama dalam lomba lari yang lebih jauh,
lebih lambat (1 – 3).
Bagian tengah (bahkan telapak) kaki kontak duluan dalam lomba lari yang
lebih pendek, lebih cepat
Kaki mengulir sampai pada ujung Jar-jari kaki untuk bertolak
2. Start berdiri
Tujuan: agar start secara efektif dari suatu posisi berdiri
Karakteristik teknik:
Kaki depan di tempatkan tepat pada garis dengan kaki lain kira-kira selebar
bahu, di letakkan di belakangnya.
Berat badan di bebankan pada kaki depan.
Lengan ada dalam posisi untuk di sinkronkan dengan kaki.
Dorongan ada pada kaki depan.
G. Pengukuran denyut nadi
Tujuan: menghitung denyut nadi guna membantu dengan pembebanan yang benar dalam
latihan aerobik.
Karakteristik teknik:
Pembuluh nadi terdapat pada pergelangan tangan atau leher.
Jari telunjuk atau jari tengah di gunakan untuk mengukur, bukan ibu jari.
Denyut nadi di hitung selama 10 detik, kemudian di kalikan 6 menunjukan denyut
nadi jantung permenit atau 6 detik kemudian di kalikan 10 Menunjukkan denyut
nadi permenit.
Denyut nadi di ambil selama 6 atau 10 detik pada saat akhir suatu beban (latihan)
5 perencanaan pelatihan
Lari pendek
Lari jarak menengah
Lari jarak jauh – maraton
Sprint
Sprint pendek (short sprint)
100-200-100gw-110gw-4x100
Sprint panjang
400-400gw - 4x 400
7. Parameter tes
Parameter adakah suatu yang harus ada. Hal ini di peroleh dari tes yang di sebut tes parameter.
Jalan cepat
Topang depan
Karateristik teknik:
Topang belakang
Karakteristik teknik:
Karakteristik teknik:
Kaki depan mendarta dengan llembut pada tumit, sedangkan kaki belakang dalam posisi
tumit diangkat
Kedua lutut di luruskan
Kedua lengan berayun secara bergantian.
1. Penempatan kaki
Tujuan: menempatkan kaki dengan benar untuk panjang langkah optimum.
Karateristik teknik:
Kaki-kaki ditempatkan sebaris dengan jari jari kaki menunjuk lurus
kedepan
Sentuhan di lakukan pada tumit dan diikuti oleh gerakan menggulir
sepanjang sisi luar bola kaki
Dorongan berasal dari bola kaki dan diikuti oleh menggulingnya ujung
ibu jari kaki.
2. Gerakan pinggang
Tujuan: memutar pingggul secara layak menjamin penempatan kaki dan panjang
langkah optimum.
Karakteritik teknik :
Gerakan kesamping pada pinggul dapat kelihatan namun tidak harus di
lebih-lebihkan.
Fleksibelitas pinggul adalah penting.
3. Gerakan lengan
Tujuan: mempertahankan momentum ke depan dan seimbang.
Karakteristik teknik:
Badab bagian atas harus tetap relaks
Bahu turun guna memberi keseimbangan turunnya pinggul yang
berlawanan
Sudut siku 90 derajat dan di pertahankan dekat dengan badan
Kedua tangan harus tidak bergerak lebih rendah dari pinggang atau lebih
tinggi daripada bahu.
4. Langkah langkah pengajaran
A. Berjalan alami
B. Lomba jalan cepat
C. Berjalan di atas garis
D. Latihan mobilitas khusus
E. Jalan cepat di variasi kan
F. Jalan cepat jarak jauh
Dasar-dasar lompat
A. Teori
Pertama kali melihat 4 Nomor lompat dalam atletik mungkin nampak sangat berbeda satu
dengan yang lain dari sudut pandang teknik mulai dari lompat jauh lompat jangkit lompat
tinggi sampai lompat tinggi galah.
Sasaran
Tujuan dalam nomor lompat adalah untuk memaksimalkan ukuran jarak capai atau
tinggi lompatan dalam lompat jangkit tujuannya untuk memaksimalkan jarak dari 3
lompatan yang berurutan dengan lompat tinggi galah atau dibentuk untuk
menggunakan sebuah galah.
Aspek biomekanika
Jarak dan tinggi lompatan di tunjukkan oleh 3 parameter:
A) Kecepatan saat bertolak
B) Sudat tolakan
C) Tinggi titik pusat massa saat bertolak
Struktur gerakan
A) Awalan
B) Bertolak
C) Melayang
D) Pendaratan
B. Mengajarkan teknik melompat
Nomor lompat termasuk dalam klasifikasi jenis keterampilan yang bersifat kombinasi check
list artinya ada gerakan siklis yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan asiklik sehingga
dapat memanfaatkan metode bagian maupun keseluruhan.
Nomor lompat konsentrasi gerakannya ada pada unsur-unsur berikut:
Bertumpu dari lari awalan
Gerakan di dalam fase melayang
Pendaratan.
1. Latihan teknik dan latihan fisik
Latihan-latihan lari umum dan drill
Lari khusus
Meloncat-loncat
Jingkat-jingkat
Lompat gawang
2. Permainan
Berbagai kotak dan benda-benda lain diatur dalam hal yang telah diberikan tanda.
para atlet bergerak bebas di dalam area melompat setiap benda yang ia jumpai.
3. Keamanan dan organisasi
Adalah penting untuk menjamin bahwa semua area awalan adalah aman
utamanya pada tempat-tempat bertolak faktor bertumpu
Tempat pendaratan harus digali sebelum digunakan dan dibersihkan dari
batu-batuan.
C. Lompat jauh
Rangkaian lompat jauh secara keseluruhan
Awalan
Tolakan
Melayang
Mendarat
Fase awalan
Tujuan: untuk mengetahui kecepatan maksimal yang terkontrol
Fase bertolak
Tujuan: guna memaksimalkan kecepatan vertikal dan guna memperkecil hilangnya
kecepatan horizontal.
Karakteritik teknik:
Panjang awalan bervariasi anatar 10 langkah samapi 20 langkah
Teknk lari sama dengan teknik sprinter
Kecepatan awalan meningkat secara terus-menerus sampai papan tolakan.i
Fase melayang
Teknik duduk luncur (sail)
Tujuan: Mendarat dengan efisien
Karakteristik teknik :
Dalam posisi menolak atau take off tungkai bebas di pertahankan
Badan tetap tegak keatas dan vertikal
Tungkai tolakan mengikuti Selama waktu melayang
Tungkai tumpuan di bengkokkan dan di tarik kedepan dank e atas mendekati
akhir gerak melayang.
Baik tungkai bebas maupun tungkau tumpu di lurskan kedepan untuk
mendarat.
Teknik menggantung (hang)
Tujuan:Mendarat dengan efisien.
Karakteristik teknik:
Tungkai bebas di turunkan oleh gerak putaran pada sendi pinggang.
Pinggang di dorong kedepan
Tungkai penumpu adalah parallel dengan tungkai bebas
Lengan ada dalam posisi ke atas dan k belakang
Karakteristik teknik:
Kaki tumpu adalah aktif dan cepat dengan gerak ‘ke bawah dan ke belakang’
Tungkai depan di luruskan hampir sepenuhnya.
Ayunan kedua lengan di manfaatkan bila mungkin
Paha tungkai bebas lebih tinggi dari pada horizontal
Posisi Togok (batang tubuh) adalah tegak.
Tungkai bebas di luruskan ke depan-bawah.
Hindarkan terjadinta hang atau hitch kick yang di modifikasi terlampau dini ,
dengan mengusahakan agar kedua paha terbuka lebar sebelum take off
Usahakan supaya kedua kaki tidak di angkat ke atas terlampau awal dengan
melkukan gerakan sedikit lamban
Usahakan untuk memperbaiki landing yang tegak , dengan cara
menenkukkan kedua kaki sebelum di luncurkan ke muka
Usahakan untuk memperbaiki posisi jatuh ke pit tidak ke belakang dengan
cara memperhatikan menekukknya lutut sewaktu kaki menyentuh pasir
sekaligus diserati gerakan tangan kedepan.
Langkah-langkah pengajaran/pelatihan
1. Lompat berirama
2. Lompat jangkit secara ganda
3. Lompat jangkit dengan menuju papan tolakan
4. Petak lompat jangkit
5. Lompat jangkit dari awalan sedang(medium)
6. Gerak keseluruhan dari awalan penuh
Peraturan dalam cabang lompat jangkit
Lompatan harus sedemikian rupa, sehingga atlet tadi selalu Mendarat lagu
dengan kaki yang sama
Langkah kaki harus sedemikian rupa, sehingga atlet tadi selalu berlawanan
dengan kaki yang di pakai melompat dapat menyentuh tanah terlebih
dahulu
Jika si pelompat menyentuh tanah pada saat melompat menggunakan kaki
yang tidak di gunakan untuk. Melompat, maka di hitung dis
E. Lompat tinggi
Tentukan titik tertinggi di atas mistar yang bias anda lompati. perbaiki posisi
take off dan usahakan untuk melakukan pengangkatan tubuh secara vertikal
yang efisien.
Dalam loncatan yang mengunakan teknik straddle :
- Untuk mencegah jatuhnya mistar karena tersentuh kaki yang
memimpin, lakukan ayunan sejauh mungkin ke samping atas
- Untuk mencegah agar pinggul tidak terlalu rendah, usahakan agar
kepala serendah mungkin( mengarah ke bawah)
- Untuk menghindarkan jatuhnya mistar karena tersentuh kaki yang
menggantung, usahakan untuk menganggkat lutut setinggi mungkin
pada saat melintas mistar.
Dalam loncatan yang mengunakan teknik flop :
- Perhatikan bagian terendah pinggul
- Usahakan untuk menekuk kedua lutut sebelum melintasi
mistar, sehingga pantat tidak menyentuh mistar
- Hindarkan terbentuknya posisi V dengan pinggul jauh di
bawah mistar , dengan mengangkat kaki lebih tinggi.
Fase Mendarat
Tujuan: menghindari cedera
Karakteristik teknik
Kepala di tarik ke dada
Mendarat pada bahu dan punggung
Lutut di pisahkan untuk pendaratan
1. Berlari melengkung/menikung
2. Lari di tikungam dengan bertolak
3. Lompat gaya gunting
4. Gaya flop dari awalan berdiri
5. Gaya flop awalan lutut tinggi
6. Rangkaian gerak keseluruhan lompat tinggi
Tinggi mistar harus di ukur mulai dari dasar sampai ke bagian terendah dari sisi
atas mistar tersebut
Seorang peloncat boleh mulai meloncatu mistar yang di pasang paling rendah
pada ketinggian minimum atau lebih tinggi dari itu setelah itu, boleh memilih
ketinggian mistar sesuka hati nya
Semarang peloncat di anggap gagal ketika
1. Menyentuh mistar sampai jatuh
2. Menyentuh mistar dengan dua kaki langsung di angkat
3. Menyentuh dasar atau daerah landing setelah melampaui I ang yang tegak
lurus dengan salah satu bagian tubuh tanpa berhasil melewati mistar.
F. Lompat tinggi galah
Tujuan umum :
Memproyeksikan pusat gravitasi (gaya berat) tubuh si peloncat di udara dengan
mengalihkan gerakan linier ke gerakan angulerdi bantu oleh galah
Mengoptimalkan kecepatan lari, kakuatan otot dari tenaga sewaktu take off, serta
energi kinetic yang di salurkan ke dalam galah, sehingga di peroleh loncatan setinggi
mungkin.
Lompat tinggi galah terdiri dari beberapa fase
Dalam fase awalan dan penancapan galah, perlompat melakukan lari percepatan
sampai kecepatan maksimum yang terkontrol dan mengatur penempatan galah siap
untuk bertolak
Dalam fase tolakan dan penetrasi, energi dari lari awalan di pindahkan ke galah
Dalam fase mengguling ke belakang dan memutar, energi disimpan pada galah
kemudian di manfaatkan untuk mengangkat badan perlompat. Hal ini di bantu oleh
gerakan otot tambahan.
Fase melewati mistar adalah selesainya lompatan dan di mulai nya persiapan untuk
Mendarat dengan aman.
Fase lari awalan
Tujuan: memperkecil gangguan terhadap lari awalan dan mempersiapkan suatu
penancapan galah yang efektif.
Karakteristik teknik :
Tangan-tangan terpisah selebar bahu. Tangan kanan lebih tinggi memegang
galah.
Kedua lengan di bengkokan, tangan kanan dekat dengan Pinggang
Ujung galah ada di atas tinggi kepala
Siku lengan kiri menunjukan ke samping
Badan bagian atas tegak
Fase penancapan galah
Tujuan: memposisikan galah dalam persiapan untuk bertolak sambil meminimalkan
hilangnya kecepatan.
Karakteristik teknik :
Ujung galah di turunkan secara teratur dan lembut pada tiga langkah awalan
terakhir
Penancapan galah di mulai pada kontak kaki kiri dua langkah terakhir
dengan dorongan galah ke depan
Lengan kanan di angkat cepat, tangan mendorong dekat kepala saat kontak
kaki kanan
Badan tegak dengan bahu bidang menghadap kotak
Fase tolakan/penetrasi
Bertolak
Tujuan: memindahkan energi maksimal ke galah
Karakteristik teknik :
Kaki penancapan aktif dan pada telapak kaki kesuluruhan
Badan sepenuhnya di luruskan dengan lengan kanan di luruskan penuh ke
atas
Tangan (kanan) lebih atas langsung di atas atau di depan kaki tolak
Paha tungkai bebas di Ayun aktif ke depan
Penetrasi
Karakteristik teknik :
Karakteristik teknik :
Badan bergerak dari posisi bentuk huruf ‘L’ ke bentuk huruf ‘T’
Lengan kanan di luruskan, lengan kiri di tekuk dengan Siku ada di
sebelah kanan galah
Pinggang melewati dekat galah
Putaran di mulai dengan tarian kedua lengan
Badan berputar untuk menghadap mistar
Fase melewati mistar/ pendaratan
Melewati mistar
Tujuan: mencapai ketinggian maksimum setelah melepaskan galah dan melewati
mistar.
Karakteristik teknik :
Mendorong galah dengan lengan kanan
Mistar di lewati dalam posisi melengkung atau di bengkokan
Badan di luruskan seterah melewati mistar
Mendarat pada punggung
Dasar-dasar lempar
A pengantar
Tujuan nomor lempar adalah untuk mengukur maksimal jarak tempuh alat.
Aspek biomekanika
Jarak di tentukan oleh sejumlah parameter, ada tiga parameter pelepasan yang paling
penting bagi atlet dan pelatih adalah :
Tinggi
Kecepatan
Sudut, dan unik lempar cakram dan lembing ada
Kualitas aerodinamik alat
Faktor-faktor lingkungan
Struktur gerakan
Pada nomor lempar ada empat fase utama :
Persiapan
Pembentukan momentum
Pengantaran/pelepasan
Pemulihan (recovery)
Dalam fase persiapan, atlet memegang alat untuk memulai fase pembentukan
momentum.
Dalam fase pembentukan momentum bertujuan untuk meningkatkan kemungkinan
kecepatan pelepasan alat melalui percepatan dan bersama sama mencapai suatu
tingkatan yang optimal.
Dalam fase lepasnya alat, kecepatan disimpan, di tingkatkan dan di pindahkan dari
tubuh atlet ke alat dan alat itu di lepaskan. Ciri umum posisi power yang efektif
dalam nomer lempar adalah :
Tengangan otot di seluruh tubuh
Suatu sikap berdiri yang seimbang dengan kedua kaki di tanah
Berat badan ada di atas kaki kanan, Tumit kanan di angkat
Tumit kanan dan jari – jari kaki kiri sebaris
Condong badan ke belakang menghadap arah lemparan
Sebagai tambahan posisi kuat yang efektif
Urutan koordinasikan dengan baik dan gerakan berturut-turut dari semua sendi-
sendi yang terlibat saat melempar. Kaki, lutut, Pinggang, bahu, lengan dan tangan.
Suatu pelurusan pilinian pada tungkai kanan menggunakan otot-otot kuat dari
tungkai kiri untuk mengangkat badan
Suatu penguatan tungkai kiri untuk mempercepat sisi kanan tubuh dan
menghasilkan gerakan vertikal.
Suatu tegangan busur atau posisi terpilih menyebabkan tekanan tinggi dalam tubuh,
bahu dan lengan yang dapat di gunakan untuk menghasilkan daya percepatan
Suatu gerakan menghambat dari tubuh bagian atas bahwa gerakan memutar tubuh
dihentikan pada sisi kiri memungkinkan sisi kanan untuk melakukan gerak
percepatan
1. Mengajarkan teknik melempar
Metode berantai di gunakan untuk mengajarkan nomor-nomor lempar.
Unsur yang di tetapkan:
Pengantar pada peralatan ( keamanan dan Pegangan)
Pangantaran /delivery ( menggunakan lemparan depan)
Posisi power
Pemulihan /recovery
Pembentukan momentum
Fase persiapan
Poin-poin penekanan antara lain:
Kecepatan optimum dalam fase pembentukan momentum
Meningkatkan kecepatan dalam posisi power dan pelepasan
Suatu posisi power yang betul
Aktifitas berturut-turut dari sendi-sendi yang terlibat dalam gerakan akhir
memuncak dengan kecepatan maksimum di pindahkan ke alat
Meluruskan seluruh tubuh saat pelepasan alat
Pengembangan teknik dengan alat sedikit lebih ringan dari pada berat alat
untuk lomba
Suatu variasi yang luas akan latihan, peralatan, gerakan lempar dan situasi
[Link]-poin yang harus di hindari
Pengantar teknik lomba di perlukan untuk atlet pemula yang belum
mencapai persyaratan fisik yang layak
Alat yang ukurannya tidak layak, beratnya atau kualitas aerodinamikanya
Pengantar terhadap unsur-unsur teknik baru sebelum prestasinya
memuaskan dari yang telah di perkenalkan
Gerakan melempar yang berlebihan bagi atlet yang belum memperoleh
tingkat kekuatan yang layak pada otot-otot abdomen/perut dan tungkai.
2 latihan teknik dan latihan fiaik
Gerakan memecut
Gerakan menolak
Gerakan melempar
Gerakan lempar kebelakamg
[Link]
Peralatan harus di pelihara dan di simpan di tempat yang aman. Sebelum mengajar
periksa keamanan alat yang sudah di perbaiki
Saat mengambil alat lempar, tidak ada yang melakukan lemparan, alat Lembing di
bawa secara vertikal
Awal latihan harus di bawah arahan pelatih
Semua pelempar harus berdiri jauh ke belakang dari garis lemparan apabila mereka
sedang menunggu giliran lempar
Pelempar harus meyakinkan bahwa tak seorang ada di sektor lemparan sebelum
melakukan lemparan
Setelah melempar, pelempar harus menunggu semua selesai melempar atau di
perintahkan untuk mengumpulkan peralatan oleh pelatih
Kondisi yang basah menciptakan peluang terjadinya kecelakaan dan harus di ambil
tindakan ekstra peringatan, terutama untuk alat yang melesat setelah jauh
[Link] atlet harus ada dalam pengawasan oelatih
Pelempar yang kadal harus di tempatkan di sisi kiri dan atlet pelempar yang tidak
kidal di tempatkan di sisi kanan grup
Manfaatkan formulir khusus pengaturan
b. Lempar lembing
Fase awalan pelempar di ppelempar fase irama lima langkah terjadi percepatan
sebagai persiapan pelempar menuju fase pelepasan lembing
Fase pelepasan di hasilkan kecepatan tambahan dan di transfer ke lembing sebelum
di lepaskan
Dalam tahapan pemulihan, pelempar menahan dan menghindari kesalahan.
1. Pegangan/grip
Tujuan: memegang lembing dengan kuat dan nyaman
Karakteristik teknik :
Pegangan dengan ibu jadi dan telunjuk
Pegangan dengan ibu jari dan jari tengah
Pegangan dengan telapak dan jari tangan
Lembing di letakkan secara diagonal di tangan
Telapak tangan menghadap ke atas
Pegangan tangan rileks
Karakteristik teknik:
Dengan aktif dan datar dari seluruh telapak kaki kiri (tidak kehilangan
kecepatan)
Lutut kanan mengayun ke depan (bukan ke atas)
Badan condong ke belakang tungkai dan Togok menyusul lembing
Bahu kiri dan kepala menghadap ke arah lempar poros lengan dan poros
bahu lempar paralel
Langkah implus lebih panjang daripada langkah pelepasan
Penempatan kaki
Karakteristik teknik :
Posisi power
Karakteristik teknik :
Karakteristik teknik :
Langkah-langkah pengajaran/pelatihan
Lemparan ke depan
Lemparan dengan berdiri
Irama 3 langkah dan lempar
5 langkah dan lempar
Awalan Penarikan
Rangkaian lempar lembing secara keseluruhan
6. Peraturan dalam lempar lembing
Lembing di lempar kan dari belakang lengkungan sebuah lingkaran yang
memiliki radius 8 meter
Lembing harus di pegang pada bagian yang di beri lapisan, dengan satu
tangan
Gaya non ortodoks, seperti hurling atau slinging, tidak di ijinkan
Lemparan di anggap sah jika ujung metal dari lembing menghujam ke
tanah lebih dahulu sebelum bagian yang lain.
C. Tolak peluru
Karakteristik teknik :
Jangan memegang peluru terlampau ke ujung jari, terutama kalau jari-jari tangan
anda kuat.
Untuk memperbaiki pegangan seorang atlet yang salah , suruhlah ia memungut
peluru itu dari tanah , dengan cara ini biasanya pegangan atlet tadi akan baik dan
efisien
Perbaiki posisi tangan yang memegang peluru tadi tangan sedemikian rupa letaknya
sehingga peluru akan menyentuh tulang selangka dekat dagu
2. Fase persiapan / preparation
Tujuan : mempersiapkan tahap keluncuran
Karakteristik teknik :
Pelempar mulai dengan berdiri tegak di bagian belakang lingkaran dengan punggung
menghadap balok panahan
Togok di bungkukkan ke depan paralel dengan tanah
Badan seimbang dalam topang tunggal
Tungkai topang di bengkokan sedangkan tungkai bebas di tarik ke arah punggung
lingkaran
3. Fase luncurkan / glide
Tujuan : mengawali percepatan dan menempatkan badan untuk aksi tolakan akhir.
Karakteristik teknik :
Badan. Bergerak dan kaki depan menuju ke Tumit, panggil tidak duduk
Tungkai bebas di dorong rendah ke balok penahan
Tungkai topang di luruskan di atas Tumitnya
Tungkai topang memelihara kontak dengan landasan selama gerak luncurkan
Bahu di jaga tetap bidang terhadap bagian belakang lingkaran
Penempatan kaki
Karakteristik teknik :
Luncurkan pada Tumit kaki kanan dan Mendarat pada bola kaki
Kaki kanan di tempatkan pada titik pusat lingkaran lempar
Kaki Mendarat hampir serentak, kaki kanan lebih dahulu
Kaki kiri Mendarat pada bola kaki bagian dalam
4. Fase pengantaran/delivery
Tujuan: memelihara kecepatan peluru dan memulai gerak percepatannya yang utama
Karakteristik teknik :
Berat badan di tumpukan pada bola kaki kanan, lutut kanan di tekuk
Tumit kaki kanan dan jari-jari kaki kiri di tempatkan segaris (“posisi Tumit – ibu jari “)
Pinggang dan bahu terpilin
Kepala dan lengan kiri di kunci di belakang
Siku kanan membentuk sudut 90 derajat dengan togok
Fase pengantaran
Percepatan utama
Karakteristik teknik :
Tungkai kanan di luruskan dengan gerakan memelintir yang eksplosif sampai
pinggang kanan menghadap bagian depan lingkaran lempar
Tungkai kiri hampir di luruskan dan di tahan, mengangkat badan (dan
mempengaruhi sudut lepas).
Gerakan memilin togok di blok oleh lengan kiri dan bahu
Siku kanan di putar dan di angkat dalam arah lemparan
Berat badan di transfer dari tungkai kanan ke kiri
Karakteristik teknik :
pengarahan dari lengan tolak di mulai setelah tungkai dan tubuh di luruskan
sepenuhnya
Lengan kiri di tekuk dan di tempatkan dekat dengan togok
Percepatan di teruskan dengan pergelangan tangan yang di regangkan Sebelumnya
(ibu jari bawah, jari-jari memutar keluar setelah peluru di lepaskan)
Kaki-kaki dalam kontak dengan landasan untuk pelepasan
Kepala di belakang kaki kiri sampai lepasnya peluru
5. Fase pemulihan/recovery
Tujuan : menyeimbangkan pelempar dan menghindari kesalahan
Karakteristik teknik :
Tungkai dengan cepat berganti setelah peluru lepas
Tungkai kanan di tekuk
Badan bagian atas di rendahkan
Tungkai kiri mengayun ke belakang
Pandangan mata ke bawah
6. Langkah-langkah pengajaran /pelatihan
Perkenalan
Berdiri selebar bahu, memutar dengan lutut bengkok, berhenti memutar lempar,
seperti latihan sebelumnya tapi melangkah ke depan dengan bola kaki, pelihara
kontak dengan landasan
Tolakan dari satu langkah
Tolakan dari posisi powerr
Meluncur
Rangkaian keseluruhan
7. Peraturan dalam cabang tolak peluru
Tolak peluru di lakukan dari sebuah lingkaran diameter 2.13 meter dengan sebuah
stopboardterpasang di depannya
Tolakan di lakukan setinggi bahu dengan menggunakan satu tangan
Peluru harus di pegang sedekah mungkin ke dagu dan tidak di pundak ya
D. Lempar cakram
Dalam fase Ayunan L, di mulai dari gerakan pelempar masuk ke posisi untuk
memutar.
Dalam fase memutar, gerakan cakram di percepat dan badan bagian bawah
berputar mendahului bagian atas badan, menghasilkan awal tegangan
Dalam fase melepas cakram di peroleh tambahan kecepatan dan di pindahkan
ke cakram sebelum di lepaskan
Dalam fase pemulihan, pelempar menahan dan menghindari pelanggaran.
1. Pegangan/grip
Tujuan : untuk memegang cakram dengan kokoh untuk percepatan dan untuk
menanamkan gerak rotasi yang benar pada saat cakram dilepaskan.
Karakteristik teknik :
Cakram di pegang pada sendi akhir dari jari – jari
Jari-jari di jika selebar pada pinggiran cakram
Pergelangan tangan rileks dan lurus
Cakram bersandar 0ada dasar telapak tangan
Ibu jari menempel pada cakram
Usahakan untuk tidak memulai dengan bahu,tetapi dengan kepala dan lutut
kiri
Pada saat tangan yang memegang cakram akan bergerak, usahakan supaya
pinggul tetap berada lebih ke depan di bandingkan dengan tubuh bagian
atas.
Untuk menghindarkan posisi yang kaku pada saat start usahakan agar
tangan yang memgang cakram tetap bergantung di belakang stelah
ayunanpendahuluan yang terakhir.
Perhatikan dan segera perbaiki setiap penyimpangan dari garis lurus yang di
tarik melintasi lingkaran.
3. Memutar
Tujuan:percepatan gerak pelempar dan cakram dan untuk mempersiapkan bagian
tanpa penopang
Karakteristik teknik :
1. Bagian 1
Lutut kiri, lengan kiri dan bola kaki di putar secara aktif dan serentak searah
dengan lemparan
Berat badan di pindahkan di atas kaki kiri yang di tekuk
Bahu lempar di upayakan ada di belakang badan
Tungkai kanan diayun rendah dan lebar melewati lingkaran lempar.
2. Bagian 2 : tanpa penopang
Tujuan mempercepat pelempar dan cakram dan membangun awal tegangan di
togok.
Karakteristik teknik :
Kaki kiri mendorong ke depan ketika jari-jarinya menunjuk ke arah
lemparan
Lompatan datar dengan pelurusan yang tak penuh dari tungkai
pendorong
Lengan lempar di atas tinggi panggul dan di belakang badan
Kaki kanan Mendarat dengan aktif pada bola kaki, memutar ke dalam
seperti biasa
Lengan kiri di tahan menyilang dada
Tungkai kiri melintas lutut kanan dalam perjalanan ke lingkaran tempat
bagian depan
Penempatan kaki
Karakteristik teknik :
Kaki di tempatkan lebih lebar dari bahu, putaran ke kiri pada bola kaki
kiri
Tungkai kanan mengayun keluar menuju pusat lingkaran
Kaki kanan di tempatkan pada bola kaki di tengah lingkaran, kaki kiri
Mendarat secara cepat setelah kaki kanan
Posisi power meliputi separuh dari lingkaran (posisi Tumit-jari)
[Link] pengantaran
Transisi
Karakteristik teknik :
Posisi power
Percepatan utama :
Karakteristik teknik :
[Link] pemulihan
Karakteristik teknik :
Perkenalan
Lemparan ke depan dari berdiri
Lemparan berdiri menyamping
Lemparan berdiri dari posisi power
Lemparan satu putaran
Rangkaian keseluruhan
7. Peraturan dalam cabang lempar cakram
Cakram di lempar dari dalam lingkaran yang berdiameter 2,5 meter
Cakram harus di lempar hanya dengan satu tangan saja, tetapi tidak ada
pembatasan-pembatasan lain lagi.
E. Lontar martil
Dalam fase Ayunan, gerakan martil di awali dengan pelontar gerak ke posisi untuk berputar
Dalam fase memutar, pelontar dan martil bergerak di percepat dengan 3 atau 4 putaran
Dalam fase pengantaran kecepatan tambahan di hasilkan di pindahkan ke martil sebelum di
lontarkan
Tindakan ada fase pemulihan khusus dalam Lontar martil, pelontar tetap ada dalam posisi
melontar
1. Pegangan/grip
Tujuan menahan tarian dan guna memastikan arah lemparan yang benar.
Karakteristik teknik :
Pelempar tangan kanan memegang Pegangan martil dengan tangan kiri
Pegangan di letakkan di bagian tengah dari jari-jari tangan
Tangan kanan menutup tangan kiri
Pegangan di tutup dengan menyilang kan ibu jari atau memegang nya secara
paralel
Pegangan kuat namun rileks
Cegahlah kebiasaan salah yang sering di lakukan para atlet yaitu menyilangkan
ibu jari
Selalu mengenakan sarung tangan pada tanngan kiri untuk melindungi jari-jari.
2. Fase mengayun
Posisi start
Tujuan: mengawali percepatan martil
Karakteristik teknik :
Alternatif untuk memulai mengayun
Martil tergeletak di landasan di belakang pelontar sisi kanan dan di tarik ke kiri
dan ke atas
Ayunan di mulai dengan suatu gerakan bandul dari martil di bandul dari martil di
antara dan di samping kedua tungkai pelontar
Tujuan : percepatan martil dan mempersiapkan untuk melakukan gerak putar pertama.
Karakteristik teknik :
Hindarkan posisi lengan yang menekuk pada waktu menarik martil ke jurusan
dalam
Usahakan menempatkan titik terendah martil tetap di sebelah kanan
Perbesar radius ayunan martil ini untuk menjaga agar tangan tetap pasif dan
usahakan supaya gerakan ini di lakukan oleh tubuh
Tangan hendaknya bergerak dalam orbit yang lebar untuk mencegah agar radius
martil tidak terlalu pendek
Gerakan pingggul hendaknya berlawanan arah dengan gerakan martil.
3. Putaran
Transisi
Tujuan : merangkaikan Ayunan-Ayunan dengan putaran pertama dan mempercepat
gerakan pelontar dan martilnya.
Karakteristik teknik :
Lutut-lutut di tekuk, togok tegak, lengan di luruskan
Gerakan kaki di mulai pada saat martil mencapai titik terendah dari orbit
putarannya
Poros putaran pada Tumit kaki kiri, dorongan berasal dari kaki kanan, mata
terfokus kepada martil
Sisi kanan badan di putar secara aktif melingkari siswi kiri yang di tetapkan
4. Fase putaran pertama
Tujuan : mengembangkan awal tegangan (dalam topang tunggal) dan percepatan martil
(pada topang ganda).
Karakteristik teknik :
Putaran Tumit-bola kaki
Poros pada Tumit kaki kiri, dorongan dari kaki kanan
Pergantian dari Tumit ke bola kaki (pada pinggiran sepatu).
Lanjutkan dengan putaran poros yang cepat pada bola kaki kiri. Dekat, gerakan
memutar rendah dan kaki / tungkai kanan melingkari tungkai kiri
Tempatkan kaki kanan di landasan secara cepat dan halus
5. Fase pemutaran kedua
Tujuan : mengembangkan awal tegangan (dalam topang tunggal) dan percepatan
martil(pada topang ganda).
Karakteristik teknik :
Putaran Tumit bola kaki (1/3 putaran Tumit, 2/3 putaran kaki)
Berat badan ada pada tungkai kiri yang terus di tekuk
Badan nampak duduk melawan martil
Poros bahu dan lengan membentuk suatu segi tiga
Panggul bergerak mendahului bahu selama kaki kanan tapak yang menyebabkan
awal tegangan.
6. Fase putaran ketiga
Tujuan: mengembangkan awal tegangan (dalam topang tunggal) dan percepatan martil
(pada topang ganda)
Karakteristik teknik :
Putaran Tumit-bola kaki
Tinggi dan titik rendah pada orbit berkurang dari putaran ke putaran
Kecepatan putaran meningkat dari putaran ke putaran
7. Fase pengantaran martil
Tujuan: mentransfer kecepatan dari pelontar ke martil
Karakteristik teknik :
Kedua tungkai di luruskan secara cepat saat martil mencapai titik rendah dari
orbit putarannya
Dorongan kaki/tungkai kanan aktif, memutar panggul kanan ke depan
Sisi sebelah kiri di blok ketika poros panggul menunjuk ke arah lemparan
Lengan bergerak ke atas dan ke kiri dalam gerakan tali cambuk
Martil di lepaskan pada saat poros bahu menunjuk ke arah lemparan