0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan36 halaman

Metode VLF-EM dalam Geofisika Terapan

Dokumen tersebut membahas metode Very Low Frequency EM (VLF-EM) untuk survei geofisika, mencakup teori dasar, peralatan pengukuran, hasil pengukuran dan aplikasi, serta pengembangan metode ini. Metode ini memanfaatkan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh pemancar radio untuk mendeteksi konduktivitas bawah permukaan dan mencitrakan struktur geologi."

Diunggah oleh

Lutfiana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan36 halaman

Metode VLF-EM dalam Geofisika Terapan

Dokumen tersebut membahas metode Very Low Frequency EM (VLF-EM) untuk survei geofisika, mencakup teori dasar, peralatan pengukuran, hasil pengukuran dan aplikasi, serta pengembangan metode ini. Metode ini memanfaatkan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh pemancar radio untuk mendeteksi konduktivitas bawah permukaan dan mencitrakan struktur geologi."

Diunggah oleh

Lutfiana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Very Low Frequency EM

(VLF – EM) Method

Kuliah ke – 6
MK Geofisika Terapan
[Link] Bahri

(Source :Travis Crosby, 2004)


• Pendahuluan
• Teori Dasar
• Peralatan Pengukuran
• Hasil Pengukuran & Aplikasi
• Future Work

(Source :Travis Crosby, 2004)


Pendahuluan
Metoda VLF-EM ini pada dasarnya memanfaatkan medan
elektromagnetik yang dibangkitkan oleh pemancar radio berfrekuensi
sangat rendah (15–30 KHz) dengan daya sangat besar yang pada awalnya
digunakan untuk keperluan sistem navigasi kapal selam.

Metoda VLF-EM ini dalam pelaksanaan pengukuran di lapangan hanya


menggunakan sinyal dari satu frekuensi saja (single frequency).

Medan EM yang diukur oleh alat ukur VLF-EM adalah medan kompleks
total (HR) yang terdiri dari komponen real (inphase), imajiner (quadrature),
total-field, dan tilt-angle.

Besar nilai yang terukur keempat komponen tersebut akan sangat


tergantung kepada nilai konduktivitas benda bawah permukaannya.

(Source :Travis Crosby, 2004)


Kegiatan suvey geofisika yang menggunakan sinyal radio
VLF-EM dimulai sejak tahun 1960-an untuk penyelidikan
prosfek mineral konduktif (McNeill dan Labson, 1987; Paal,
1965), memetakan patahan dan pemetaan kontaminasi
airtanah dikombinasikan dengan metoda resistivitas (Benson
dkk., 1997), studi kebencanaan dan lingkungan (Jeng dkk.,
2004), pemetaan sistem rekahan di bawah permukaan untuk
studi zona mineralisasi emas (Tijani dkk., 2009), studi pasca
pondasi (Ofomola dkk., 2009), sedangkan interpretasi VLF-
EM dengan memaanfaatkan struktur anomali 3D dengan
menggunakan teknik filter linier diperkenalkan oleh (Djeddi
dkk., 1998).

(Source :Bahri, AS., 2010)


Bosch & Müller (2001) mensintesakan penggunaan
metoda VLF-EM untuk berbagai keperluan,
diantaranya; memetakan pencemaran, eksplorasi
air bawah tanah yang dikombinasikan dengan
metoda VES (Nandakumar dkk., 1983),
delineasi zona sedimentasi (Oskooi, dan Pedersen,
1995), dan lain sebagainya.

(Source :Bahri, AS., 2010)


Kelemahan Metoda (single survey):
• Instrumen juga merekam banyak noise
• Kondisi bawah permukaan kemungkinan
tidak cukup memperlihatkan kontras
anomali
• Overlapping anomali sulit dibedakan
dalam tahap interpretasi

Reconciliation of multiple data sets often


provides a more true interpretational picture.
(Source :Bahri, AS., 2010)
• 42 transmitting stations worldwide (15-30 kHz, 10-20 km ).
• At distance, EM field behaves as a plane wave with predictable
magnetic and electrical components.
• Eddy currents are generated when field passes through a buried
conductor, creating a secondary magnetic field.
Penjalaran Gelombang VLF-EM

(Source :Travis Crosby, 2004)


Medan elektromagnetik primer sebuah pemancar radio VLF-EM memiliki komponen
medan listrik vertikal Epz dan komponen medan magnetik horizontal yang tegak
lurus terhadap arah perambatan pada sumbu-x (Bosch dan Mullёr, 2001).

Medan elektromagnetik HPy yang dipancarkan antena pemancar radio VLF-EM


selanjutnya akan diterima stasiun penerima dalam empat macam perambatan
gelombang, yaitu; gelombang langit, gelombang langsung, gelombang pantul
dan gelombang terperangkap. Adapun yang paling sering dimanfaatkan dan
terukur sewaktu pengukuran data VLF-EM di daerah survey adalah gelombang
langit.

Jika di bawah permukaan terdapat suatu medium yang bersifat konduktif, maka
komponen medan magnetik dari gelombang elektromagnetik primer akan
menginduksi medium tersebut sehingga akan menimbulkan medan listrik induksi,
ESx. Medan listrik induksi tersebut akan menimbulkan medan elektromagnetik baru
yang disebut medan elektromagnetik sekunder, HS, yang mempunyai komponen
horizontal dan vertikal.

Medan magnetik ini mempunyai bagian yang sefase (in-phase) dan berbeda fase
(out-of-phase/quadrature) dengan medan primernya. Adapun besar medan
elektromagnetik sekunder sangat tergantung dari sifat konduktivitas
benda di bawah permukaannya
Penjalaran Gelombang VLF-EM

Distribusi Medan Primer dan Sekunder Elektromagnetik


VLF (Bosch dan Muler, 2001) 11
(Source :Bahri, AS., 2010)
Akusisi Data VLF
Teori Dasar
• Hukum Maxwel

  H  J  D / t •E = intensitas medan listrik (Volt/meter),


•B = densitas flux magnetik (Weber/meter2),
•H = intensitas medan magnet
  E  B / t (Ampere/meter),
•J = rapat arus konduksi (Ampere/meter2),
•D = densitas flux listrik (Coulomb/meter2),

B  0 •t = waktu (detik)


•q =muatan listrik (Coulomb).

D  q

13
(Source :Bahri, AS., 2010)
Fase dan Polarisasi

Hubungan amplitudo dan fase Polarisasi elips Pada bidang


gelombang P dan gelombang S elektromagnetik

inphase  R cos  total _ field  R


 2( H z / H x ) cos  
quadrature  R sin    1/ 2 tan 1  
 1 (H z / H x ) 
2

14
(Source :Bahri, AS., 2010)
Formulasi VLF-EM

HR  HP  HS
it i (t  )
HR  HP e  HS e

0  0  0 
     
 H Ry    H Py    H Sy 
     
 H Rz   0   H Sz 
15
(Source :Bahri, AS., 2010)
Koreksi Topografi Baker-Myers

R1 %  R2 %
R(1, 2)  ( )  TC
2

Efek topografi pada nilai VLF terukur


16
(Source :Bahri, AS., 2010)
Filter Fraser
Fn  (M n 2  M n3 )  (M n  M n1 )

•Data observasi

•Data terfilter
•Fraser

•Keadaan
•sebenarnya
17
(Source :Bahri, AS., 2010)
Karos-Hjelt Filter

KHn  -0.102M n-3  0.059 M n-2 - 0.561M n-1  0.561M n 1 - 0.059 M n 2  0.102 M n 3

•Rapat arus equivalent, dihitung dengan menggunakan filter Karous-


18
Hjelt :a) inphase dan b) quadrature
(Source :Bahri, AS., 2010)
•Karos-hjelt Filter

•Line 1

•Line 2

•Line 3

19
Peralatan Pengukuran VLF-EM

Scintrex ABEM-WADI VLF-EM


Envi-Geophysical VLF-EM

(Source :Travis Crosby, 2004)


Scintrex
Envi-Geophysical VLF-EM
UTAM 2004 Travis Crosby

SE
Seismic Tomogram NW Velocity (m/s)
150 3500
Fault Alluvium/Colluvium
3300
3100
2900
Relative Elev (m)

100 2700
2500
2300
2100
1900
50 Weathered
1700
Bedrock
1500
Unweathered 1300
Bedrock 1100
0 900
50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550
Distance (m)

SE
VLF Data (Karous & Hjelt Filtered) NW Current Density
100 13
11
9
Relative Elev (m)

? 7
5
3
1
50 -1
-3
-5
-7
-9
-11
-13
0 -15
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550
Distance (m)
(Source :Travis Crosby, 2004)
Test Profile
N
?
?

Legend
Water Well
Mapped Fault, dotted
where inferred
Seismic or VLF Line
VLF Detected Fault
600 m
Seismic Detected Fault
(Source :Travis Crosby, 2004)
VLF Data (Karous & Hjelt Filtered)
SE NW
Water Well Stream Current Density
100
10

8
Relative Elev (m)

2
50
0

-2

-4

-6

0 -8
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700
Distance (m)

(Source :Travis Crosby, 2004)


Other VLF Studies: Ore Deposits
• Survey area 90 km northeast of Yellowknife, NW Territories, Canada.
• Original defined strike limits Ag-Pb-Au banded sulfide lens was 160 m.
• VLF survey complementing other data sets suggested a greater strike
length of 400 m.

Data from: Fugro


Airborne Surveys

VLF
(Source :Travis Crosby, 2004)
Field Measurement: Bribin III
(2004), VLF (1 & 2)
•Goa
Bribin

•VLF (1)
•VLF (2)
Bribin III: VLF (1)

• U31 New
Borehole

•Lower surface topography


Bribin III: VLF (2)
Lintasan 1 U Lintasan 2 U
100 100
Frek-1 Frek-1
Frek-2 90 90 Frek-2
7 [Link].(Frek-1) 7 [Link].(Frek-1)
7 [Link].(Frek-2) 80 80 7 [Link].(Frek-2)

70 70

60 60

50 50

Tilt (%)

Tilt (%)
40 40

30 30

20 20

10 10

0 0

-10 -10

-20 -20
600 550 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200
Jarak (meter) Jarak (meter)

•Gambar 4a. Data tilt lintasan 1 untuk dua band •Gambar 5a. Data tilt lintasan 2 untuk dua band
frekuensi yang berbeda beserta kurva rerata frekuensi yang berbeda beserta kurva rerata
bergeraknya. bergeraknya

260

220
240
Lintasan 1 U Lintasan 2 U
200 220
-20 -20
180 200

160 -40 180


-40
160
meter

meter

140 -60
-60
•% 140
•%
120
-80
100 120
-80
-100
80 100

-100 60 -120 80
50 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 325 350 375 400 425 450 475 500 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050
meter meter
40 60

•Gambar 4b. Kontur arus ekivalen data lintasan 1. 20


•Gambar 5b. Kontur arus ekivalen data lintasan 2. 40

0 20

-20 0

-20
VLF Result
Lintasan 3 U Lintasan 4 U
100 Frek-1
Frek-1 70 Frek-2
90 Frek-2
7 [Link].(Frek-1)
7 [Link].(Frek-1) 60 7 [Link].(Frek-2)
80 7 [Link].(Frek-2)
50
70

60 40

50 30
Tilt (%)

Tilt (%)
40 20

30 10

20 0
10
-10
0
-20
-10
-30
-20 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 Jarak (meter)
Jarak (meter)

•Gambar 6a. Data tilt lintasan 3 untuk dua band •Gambar 7a. Data tilt lintasan 4 untuk dua band
frekuensi yang berbeda beserta kurva rerata frekuensi yang berbeda beserta kurva rerata
bergeraknya. bergeraknya. •%
•%
150
260
250 140
Lintasan 3 U 240 Lintasan 4 U
130
230
-20 220 -20 120
210
200 110
-40
190 -40
180 100
meter

-60 170
meter

160 -60 90
150
-80 140
80
130 -80
70
120
-100
110 60
-100
100
-120 90 50
50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 1100 80
meter -120
70 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 40
60 meter
50 30
40
20
•Gambar 6b. Kontur arus ekivalen data •Gambar 7b. Kontur arus ekivalen data
30
20 10
10

lintasan 3. 0
-10 lintasan 4 0

-20 -10
VLF Result
Lintasan 5 U
100
Frek-1
Frek-2 90
7 [Link].(Frek-1)
7 [Link].(Frek-2) 80

70

60

50

Tilt (%)
40

30

20

10

-10

-20
1200 1100 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0
Jarak (m eter)

•Gambar 8a. Data tilt lintasan 5 untuk dua band frekuensi yang berbeda beserta kurva rerata bergeraknya.

Lintasan 5 U
•%
-20
220

-40 200

180
meter

-60
160
-80
140

-100 120

100
-120
50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050
80
meter
60

40

20

•Gambar 8b. Kontur arus ekivalen data lintasan 5 0

-20
Stack of VLF slice

•W

•Gambar 9a. Interpretasi posisi sungai bawah tanah dalam perspektif tiga dimensi.
Slice view of VLF results
Sungai Bawah Permukaan Bribin
Sungai Bawah Permukaan Seropan
Future Work
• To augment seismic refraction tomography studies by conducting
smaller scale, higher resolution VLF to detect normal and antithetic
faults bounding larger colluvial wedge structures.

(Source :Travis Crosby, 2004)


Future Work
• To augment seismic refraction tomography studies by conducting
smaller scale, higher resolution VLF to detect normal and antithetic
faults bounding larger colluvial wedge structures.
• Multi-electrode, high-resolution, 2-D, DC resistivity imaging of
colluvial wedges for comparison with seismic tomograms.

(Source :Travis Crosby, 2004)

Anda mungkin juga menyukai