BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pengertian Bronkitis
Bronkitis adalah kondisi peradangan pada daerah trakheobronkhial, peradangan
tidak meluas sampai alveoli (Depkes RI, 2005). Definisi lebih lanjut bronkitis adalah
suatu peradangan pada bronkus, bronkhiali, dan trakhea (saluran udara ke paru-paru).
Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi
pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau
penyakit paru-paru) dan usia lanjut, bronkitis bisa menjadi masalah serius (Arif, 2008).
2. Klasifikasi Bronkitis
Bronkitis seringkali diklasifikasikan sebagai akut atau kronik, penjelasannya
sebagai berikut :
1. Bronkitis akut adalah serangan bronkitis dengan perjalanan penyakit yang singkat
(beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Bronkitis akut pada
umumnya ringan. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama
jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan. Disebabkan oleh
karena terkena dingin (musim dingin), hujan, kehadiran polutan yang mengiritasi
seperti rhinovirus, influenza A dan B, coronavirus, parainfluenza dan respiratory
synctial virus , infeksi akut, dan ditandai dengan demam, nyeri dada (terutama disaat
batuk), dyspnea, dan batuk (Depkes RI, 2005).
5
6
2. Bronkitis kronik merupakan kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik
berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-
turut, tidak disebabkan penyakit lainnya (PDPI, 2003). Sekresi yang menumpuk
dalam bronchioles mengganggu pernapasan yang efektif. Merokok atau pemejanan
terhadap terhadap polusi adalah penyebab utama bronkitis kronik. Pasien dengan
bronkitis kronik lebih rentan terhadap kekambuhan infeksi saluran pernapasan
bawah. Kisaran infeksi virus, bakteri, dan mikroplasma dapat menyebabkan episode
bronkitis akut. Eksaserbasi bronkitis kronik hampir pasti terjadi selama musim
dingin. Menghirup udara yang dingin dapat menyebabkan bronchospasme bagi
mereka yang rentan (Smeltzer dan Bare, 2001)
3. Etiologi
Secara umum penyebab bronkitis dibagi berdasarkan faktor lingkungan dan faktor
host/penderita. Penyebab bronkitis berdasarkan faktor lingkungan meliputi :
a. Infeksi virus : influenza virus, parainfluenza virus, respiratory syncytial virus
(RSV), adenovirus, coronavirus, rhinovirus, dan lain-lain.
b. Infeksi bakteri : Bordatella pertussis, Bordatella parapertussis, Haemophilus
influenzae, Streptococcus pneumoniae, atau bakteri atipik (Mycoplasma
pneumoniae, Chlamydia pneumonia, Legionella)
c. Jamur
d. Noninfeksi : polusi udara, rokok, dan lain-lain.
7
Sedangkan faktor penderita meliputi usia, jenis kelamin, kondisi alergi dan
riwayat penyakit paru yang sudah ada. Penyebab bronkitis akut yang paling sering
adalah infeksi virus yakni sebanyak 90% sedangkan infeksi bakteri hanya sekitar <
10% (Jonsson J et al., 2008).,
4. Patofisiologi
Asap mengiritasi jalan napas, mengakibatkan hipersekresi lendir dan inflamasi.
Karena iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel
globet meningkat jumlahnya, fungsi sillia menurun, dan lebih banyak lendir yang
dihasilkan dan akibatnya bronchioles menjadi menyempit dan tersumbat. Alveoli yang
berdekatan dengan bronchioles dapat menjadi rusak dan membentuk fibrosis,
mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar, yang berperan penting dalam
menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Pasien kemudian menjadi lebih rentan
terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan bronchial lebih lanjut terjadi sebagai akibat
perubahan fibrotic yang terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya, mungkin terjadi
perubahan paru yang irreversible, kemungkinan mengakibatkan emphysema dan
bronchiectasis (Smeltzer dan Bare, 2001).
5. Penatalaksanaan
Pengobatan bronkitis lini pertama adalah tanpa penggunaan antibiotik. Obat yang
diberikan biasanya untuk penurun demam, banyak minum terutama sari buah-buahan
(Ngastiyah, 2014). Terapi simptomatik seperti analgesik dan antipiretik dapat
digunakan untuk mengatasi pegal, demam, atau sakit kepala. Aspirin, paracetamol atau
8
ibuprofen dapat digunakan sesuai kondisi dan keperluan pasien (Widagdo, 2012). Obat
penekan batuk tidak diberikan pada batuk yang banyak lendir, karena batuk diperlukan
untuk mengeluarkan sputum. Bila ditemukan wheezing pada pemeriksaan fisis, dapat
diberikan bronkodilator β2-agonis, tetapi diperlukan evaluasi yang seksama terhadap
respon bronkus untuk mencegah pemberian bronkodilator yang berlebih (Rahajoe,
2012).
Bila batuk tetap ada dan tidak ada perbaikan setelah 2 minggu maka perlu dicurigai
adanya infeksi bakteri sekunder dan antibiotik boleh diberikan, asal telah disingkirkan
adanya asma atau pertusis. Pemberian antibiotik yang serasi untuk [Link] dan
[Link] sebagai bakteri penyerang sekunder misalnya amoksisilin, kotrimoksazol
dan golongan makrolid (Ngastiyah, 2014).
Pada pasien yang dirawat di rumah sakit, pemberian antibiotik biasanya
menggunakan rute intravena. Antibiotik parentral diberikan saat pasien relatif tidak
stabil dan kemudian secara oral bila keadaan pasien sudah stabil untuk menyelesaikan
terapi (Rudolph, 2006). Terapi antibiotika pada bronkitis akut tidak dianjurkan kecuali
bila disertai demam dan batuk yang menetap lebih dari 6 hari, karena dicurigai adanya
keterlibatan bakteri saluran napas seperti S. pneumoniae, H. influenzae. Untuk batuk
yang menetap > 10 hari diduga adanya keterlibatan Mycobacterium pneumoniae
sehingga penggunaan antibiotika disarankan. Lama terapi dengan antibiotik selama 5-
14 hari sedangkan untuk bronkitis kronik optimalnya selama 14 hari (Depkes, 2005).
9
Di bawah ini adalah standar yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu standar dari
BPOM RI tahun 2008 tentang pedoman pemilihan antibiotik dan dosis bronkitis.
Tabel I. Pedoman Pemilihan Antibiotik dan Dosis Bronkitis (BPOM RI, 2008)
Jenis Penyebab tersering Pilihan Dosis
infeksi antimikroba
Bronkitis Virus Tidak -
akut memerlukan
Streptococcus pneumoniae, Amoksisilin / Amoksisilin = Dws : 250-500mg tiap 8 jam
Haemophilus influenzae ampisilin, (infeksi berat/berulang 3gram tiap 12 jam),
eritromisin Anak <10 th : 125-250mg tiap 8 jam (infeksi
Mycoplasma pneumoniae Eritromisin berat dpt diberikan 2x lebih tinggi)
Ampisilin = Dws : 0,25 – 1 gram tiap 6 jam
diberikan 30 menit sebelum makan, Anak <10
th : ½ dosis dewasa
Eritromisin = Dws & Anak > 8 th : 250-
500mg tiap 6 jam (4x sehari) atau 0,5-1 gram
tiap 12 jam (infeksi berat dpt dinaikkan
sampai 4 gram per hari), Anak 0-2th : 125mg
tiap 6 jam, Anak 2-8th : 250mg tiap 6 jam
(infeksi berat dapat digandakan).
Eksaserbasi Streptococcus pneumoniae, Amoksisilin / Amoksisilin = Dws : 250-500mg tiap 8 jam
akut Haemophilus influenzae ampisilin, (infeksi berat/berulang 3 gram tiap 12 jam),
bronkitis eritromisin, Anak <10 th : 125-250mg tiap 8 jam (infeksi
kronis kotrimoksazol berat dpt diberikan 2x lebih tinggi)
Ampisilin = Dws : 0,25 – 1 gram tiap 6 jam
diberikan 30 menit sebelum makan, Anak <10
th : ½ dosis dewasa
Eritromisin = Dws & Anak > 8 th : 250-500
mg tiap 6 jam (4x sehari) atau 0,5-1 gram tiap
12 jam (infeksi berat dpt dinaikkan sampai 4
gram per hari), Anak 0-2th : 125mg tiap 6
jam, Anak 2-8th : 250mg tiap 6 jam (infeksi
berat dapat digandakan).
Kotrimoksazol = Dws : 960mg tiap 12 jam
(infeksi berat dpt ditingkatkan menjadi
1,44gram tiap 12 jam), 480mg tiap 12 jam bila
pengobatan lebih dari 14 hari. Anak/bayi 6
minggu-5 bln : 120mg tiap 12 jam, 6 bln-5th
: 240mg tiap 12 jam, 6 -12th : 480mg tiap 12
jam.
10