100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
182 tayangan37 halaman

Proses Inisiasi Kredit Bank

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian kredit, filosofi dan prinsip pemberian kredit, manajemen perkreditan, jenis-jenis kredit, dan dasar hukum perkreditan. Dibahas pula mengenai pihak ketiga yang terlibat dalam proses perkreditan serta prinsip-prinsip pemberian kredit seperti 5C, 3R, dan prinsip kehati-hatian.

Diunggah oleh

aribj
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
182 tayangan37 halaman

Proses Inisiasi Kredit Bank

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian kredit, filosofi dan prinsip pemberian kredit, manajemen perkreditan, jenis-jenis kredit, dan dasar hukum perkreditan. Dibahas pula mengenai pihak ketiga yang terlibat dalam proses perkreditan serta prinsip-prinsip pemberian kredit seperti 5C, 3R, dan prinsip kehati-hatian.

Diunggah oleh

aribj
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

CREDIT / FINANCING

INITIATION PROCESS
DASAR PERKREDITAN
Dasar Perkreditan

PENGERTIAN KREDIT
Pengertian Kredit (UU 10/98 ps 21 ayat 11)
Penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak
lain yang mewajibkan para peminjam untuk melunasi setelah jangka waktu
tertentu dengan pemberian bunga.

Unsur – unsur yang ada:


1. Peminjam yang memerlukan pinjaman
2. Yang meminjam
3. Kepercayaan dari yang meminjam
4. Kesanggupan membayar kemabli
5. Tenggang waktu tertentu
6. Risiko
7. Bunga yang harus dibayar
Dasar Perkreditan

FILOSOFI PEMBERIAN
KREDIT
Pemberian Kredit Oleh Bank Dinilai Berhasil, jika
1. Kredit yang diberikan dapat dilunasi pokok & bunganya sesuai
kesepakatan
2. Usaha debitur bertambah maju
3. Kondisi lingkungan sosial sekitarnya berkembang

Prinsip Pemberian Kredit


1. Tepat waktu
2. Tepat jumlah
3. Tepat guna
4. Tidak melanggar ketentuan & prosedur yang berlaku
Dasar Perkreditan

FILOSOFI PEMBERIAN
KREDIT
Faktor Penentu Keberhasilan
1. SDM / analis yang berkualitas
2. Ada prosedur pemberian kredit yang jelas
3. Prosedur tersebut dilaksanakn secara konsekuen & konsisten
4. Faktor eksternal mendukung / kondusif
Dasar Perkreditan

MANAJEMEN PERKREDITAN
Pengelolaan kredit yang dijalankan bank meliputi perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, sedemikian rupa sehingga
kredit tersebut berjalan dengan baik sesuai kesepakatan antar bank dengan
debitur.

Mengapa MP penting ?
1. Kredit adalah asset terbesar pada neraca bank
2. Merupakan sumber income utama berupa bunga
3. Kredit penuh risiko sehingga bisa menjadi NPL
Dasar Perkreditan

MANAJEMEN PERKREDITAN
Manajemen Perkreditan meliputi:
1. Pembagian / persetujuan kredit
2. Pemeliharaan / supervisi kredit
3. Penyehatan kredit yang bermasalah (non performing loan)
4. Administrasi kredit
Dasar Perkreditan

MANFAAT KREDIT
1. Bagi Debitur
Meningkatkan usaha debitur
2. Bagi Bank
Memperoleh pendapatan bunga, provisi dan feebase
3. Bagi Pemerintah
• pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional
• pengendalian moneter
• menciptakan lapangan kerja
• meningkatkan pendapatan negara dari pajak
4. Bagi Masyarakat Luas
• menyerap pengangguran
• menciptakan manusia yang profesional
• lembaga penyimpan dana yang relatif aman
Dasar Perkreditan
DASAR HUKUM
PERKREDITAN
1. UU PERBANKAN NO.7/1992 yang diubah menjadi NO.10/1998
a. adanya perubahan yang mendasar mengenai kegiatan bank selain
konvensional juga berdasarkan prinsip syariah
b. komisaris terlibat lebih jauh dalam manajemen bank dan masuk dalam
tanggund renteng atas permasalahan bank (pasal 37 ayat 3,e)
2. SK BI 27/162 TH 1995 : BI mewajibkan setiap Bank memiliki Kebijakan
Perkreditan Bank (KPB)
a. Prosedur-prosedur
b. Organisasi
c. Pejabat dilingkungan kredit
Dasar Perkreditan
DASAR HUKUM
PERKREDITAN
3. SE BI 31-1995 & PBI 31/150-1998 tentang restrukturisasi kredit
4. PBI 2/12/DPNP TH 2000, tentang resiko pengelolaan aktiva tetap (ATMR)
5. SE BI 5/21/DPNP – 2003, tentang penerapan manajemen risiko
6. Paket Januari 2005 Bank Indonesia
Dasar Perkreditan

PIHAK KE 3
Pihak ke 3 (tiga) yang terlibat dalam perkreditan
Akuntan Publik
Mengaudit keuangan baik untuk calon debitur maupun debitur untuk
meyakinkan bank bahwa operasional sesuai kaidah formal
Notaris
Yang membuat akte PK, pengikatan agunan, dan accesoir lainnya, dsb
BPN
Badan Pertahanan Nasional yang melaksanakan pelaksanaan HT atas agunan
tanah/rumah dan pengecekan keabsahan bukti kepemilikan agunan
Dasar Perkreditan

PIHAK KE 3
Konsultan Management
Membantu membuat proposal permohonan kredit, restrukturisasi, dsb
Konsultan Appraisal
Yang melakukan penilaian atas barang agunan (yang berbentuk material)
Assuransi/Broker
Yang membantu bank dalam pengamanan agunan bila terjadi kehilangan,
kerusakan, kebakaran dapat diganti atas kerugian bank.
Law Firm
Membantu bank bila berada dalam proses ligitasi atau untuk penagihan NPL
Dasar Perkreditan

PIHAK KE 3
DJPL (PUPN)
Membantu bank dalam menjual/mengeksekusi barang agunan bila kredit
dalam keadaan macet
Kepolisian
Membantu bank bila bank dalam kesulitan karena adanya penipuan,
penggelapan atau pencurian atas barang agunan
Kehakiman
Membantu dalam penyelesaian debitur dalam litigasi
PRINSIP PEMBERIAN
KREDIT
Prinsip Pemberian Kredit

PRINSIP 5 C
Character
Meneliti karakter calon debitur apakah bisa dipertanggung jawabkan, misal :
penjudi, pemabuk, penipu, jujur, ulet, kreatif dsb, sebelum diberi kredit.
Penilitian bisa dari BI, internal atau pihak lain (eksternal)
Capacity
Meneliti kemampuan calon debitur dalam menjalankan usaha atau
kemampuan manajemen. Cara meneliti dari manajemen usaha yang saat ini
dipimpinnya apakah baik (effisien/laba) / tidak.
Capital
Meneliti kemampuan modal calon debitur dalam menjalankan usaha. Hal ini
akan menentukan solvabilitas usaha cadeb. Bisa diperoleh dari laporan
keuangannya atau catatan lainnya yang bisa diyakini bank.
Prinsip Pemberian Kredit

PRINSIP 5 C
Condition
Meneliti kondisi pasar dari usaha debitur ybs, apakah usah tersebut masih
cukup baik prospeknya secara mikro/makro. Perlu dianalisa segi
pemasarannya yang bergantung pada pesaing/persaingan, harga, permintaan,
pangsa pasar, peraturan pemerintah, kondisi ekonmi, dsb.

Collateral
Meneliti kemampuan calon debitur dalam menyediakan jaminan/agunan baik
material maupun immaterial, untuk menjamin bank bila ternyata gagal
memenuhi kewajiban kreditnya.
Biasanya bank akan memberikan kredit dibawah nilai agunannya.
Prinsip Pemberian Kredit

3R
Pemberian kredit harus memenuhi syarat 3R :
Repayment
Kredit yang dipinjam harus mampu dikembalikan oleh hasil usahanya (bukan
hasil yang lain)

Return
Apakah usaha akan menjadi tumbuh dengan bantuan kredit tersebut
(bukannya malah bankrut)

Risk Bearing Ability


Sampai sejauh mana usaha tersebut dapat menanggung dan mengatasi risiko
yang bakal timbul
Prinsip Pemberian Kredit

CSR
CSR (Company Sosial Responsibility)
BI menetapkan agar bank dalam pemberian kredit harus dapat
memberikan dampak pengembangan lingkungan yang positif
Prinsip Pemberian Kredit

PRINSIP KEHATI-HATIAN
1. Tujuan spekulasi
2. Melanggar undang-undang, norma ketertiban umum dan susila
3. Pengusaha yang belum berpengalaman dalam usaha tersebut
4. Tanpa infomasi yang cukup
5. Memerlukan keahlian yang khusus yang tidak dimiliki oleh bank
6. Melunasi kredit bermasalah kredtur lain, kecuali bila dengan maksud
untuk mengamankan kepentingan bank
7. Kredit kepada kandidat politik, untuk kampanye parpol, dan
sejenisnya
8. Kredit untuk perdagangan senjata api
9. Kredit kepada debitur bermaslah atau macet lainnya, kecuali untuk
mengamankan bank
JENIS KREDIT
Jenis Kredit

MENURUT TUJUAN
Kredit Konsumtif
Kredit yang digunakan untuk konsumsi pembelian barang/jasa untuk
kepuasan langsung individu peminjam

Kredit Produktif
Kredit yang digunakan untuk usaha atau pengembangan usaha debitur yang
terdiri:
1. Kredit investasi
Digunakan untuk pembelian barang modal (bangunan, mesin, kendaraan,
dsb)
2. Kredit modal kerja
Digunakan untuk membiayai modal kerja (aktiva lancar), misal :
pembelian bahan baku, piutang, sewa gedung, dsb
Jenis Kredit
MENURUT CARA
PENGUANGANNYA
Kredit Cash
Kredit yang diberikan secara tunai pindah buku ke rekening debitur saat
setelah ditanda tangani PK (syarat kredit)

Kredit non Cash


Kredit yang diberikan tidak secara tunai setelah ditanda tangani PK (syarat
kredit). Terdiri dari:
1. Bank Garansi
2. Letter of Credit (L/C)
Jenis Kredit
MENURUT JANGKA
WAKTU
Kredit Jangka Pendek
Kredit yang dilunasi dalam waktu max 1 tahun umumnya untuk membiayai
modal kerja

Kredit Jangka Menengah


Kredit yang harus dilunasi dalam waktu 1 sd 3 tahun, bisa berupa kredit
modal kerja atau investasi

Kredit Jangka Panjang


Kredit yang dilunasi dalam waktu diatas 3 tahun, umunya untuk investasi
Jenis Kredit
MENURUT CARA
PENARIKAN & PELUNASAN
Kredit Sekaligus
Kredit yang penarikannya secara sekaligus dan pelunasannya bisa dicicil atau
sekaligus pada akhir jangka waktu yang diperjanjikan

Kredit Rekening Koran


Kredit yang penyediaan dananya/penarikannya dilakukan dengan pemindah
bukuan melalui rekening debitur sedangkan penarikannya dilakukan melalui
cek/bilyet

Kredit Bertahap
Kredit yang penarikannya secara bertahap (2-5 kali), umumnya untuk investasi
sesuai progress fisik
Jenis Kredit

MENURUT AGUNAN
Kredit Tanpa Agunan
Kredit yang diberikan semata karena kepercayaan, tanpa adanya agunan
apapun. Misal : hutang dagang sesama pengusaha, antar teman/keluarga, dsb

Kredit Dengan Agunan


Kredit yang diberikan dengan dijamin agunan yang terdiri dari:
1. Agunan immaterial / personal guarantee
2. Agunan material:
• Barang bergerak (mobil, mesin, dsb)
• Barang tidak bergerak (tanah, rumah, kapal, mesin, dsb)
KEBIJAKAN PERKREDITAN
BANK
Kebijakan Perkreditan Bank

PORTOFOLIO KREDIT
YANG SEHAT
Bank harus senantiasa mengusahakan / menjaga agar semua jenis kredit dan
sejenisnya diatas serta aktiva produktif lainnya yang diberikan bank selalu
dalam kondisi yang sehat

Aktiva produktif
1. Jenis-jenis Kredit
2. Surat Berharga
3. Commercial Papper
4. Factoring
5. Jaminan Bank
Kebijakan Perkreditan Bank

PRINSIP KEHATI-HATIAN
Setiap KPB bank harus secara jelas mencantumkan prinsip kehati-hatian yang
meliputi ; kebijaksanaan pokok perkreditan cara penilaian suatu kredit,
profesionalisme dan integrasi pejabat kredit

1. Kebijakan Pokok Perkreditan (KPP)


• Sistem & prosedur perkreditan yang sehat, mulai dari persetujuan,
pencairan sampai ke admin dokumentasi kredit.
• Plafondering
• Tata cara penyelesaian agunan, dsb

2. Pokok-pokok pengaturan pemberian kredit


• BMPK
• Tata cara konsorsium
• Proses pencairan sesuai ketentaun, dsb
Kebijakan Perkreditan Bank

PRINSIP KEHATI-HATIAN
3. Sektor ekonomi, segmen pasar dan debitur beresiko tinggi
4. Kredit yang perlu dihindari
• Tujuan spekulasi
• Tanpa informasi keuangan yang cukup
• Memerlukan keahlian khusus, dan bank tidak memiliki
• Telah diyakini berpengalaman dalam usaha dimaksud
• Kredit usaha yang bermasalah
• Melanggar UU lainnya (penyelundupan, narkoba, dsb)

5. Tata cara penilaian kredit sesuai PBI 31/1/UPPB 12 Nov 1998 tentang
kwalitas kredit
• Lancar
• Dalam Perhatian Khusus
• Kurang Lancar
• Diragukan
• Macet
Kebijakan Perkreditan Bank

PRINSIP KEHATI-HATIAN
6. Profesionalisme & integritas
• Technical Skill yang memadai
• Moral dan etika perkreditan yang profesional, jujur dan memahami
ketentuan bank
• Integritas & tangging jawab yang tinggi
• Selalu meningktakan mutu pengetahuan bank
Kebijakan Perkreditan Bank

KETENTUAN BI
Ketentuan BI mengenai prinsip kehati-hatian:
1. BMPK (Batas Maximum Pemberian Kredit) : batasan memberi kredit
kepada pihak terkait bank max 20% (individual) & 25% (perusahaan
terkait) dari modal bank
2. LDR (Loan Deposit Ratio) : ratio antara Kredit terhadap DPK ditentukan
antar 70-90%
3. CAR (Capital Adequancy Ratio) : ratio antara modal/equity terhadap
ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Resiko)
Kebijakan Perkreditan Bank

KETENTUAN BI
Ketentuan BI mengenai prinsip kehati-hatian:
1. BMPK (Batas Maximum Pemberian Kredit) : batasan memberi kredit
kepada pihak terkait bank max 20% (individual) & 25% (perusahaan
terkait) dari modal bank
2. LDR (Loan Deposit Ratio) : ratio antara Kredit terhadap DPK ditentukan
antar 70-90%
3. CAR (Capital Adequancy Ratio) : ratio antara modal/equity terhadap
ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Resiko)
Kebijakan Perkreditan Bank

ORGANISASI &
MANAJEMEN PERKREDITAN
 Wajib mencantumkan struktur organisasi kredit berikut jobdesc,
wewenang dan tanggung jawab yang jelas
 Berbagai bentuk struktur organisasi perkreditan bank, disesuaikan
dengan aktivitas dan kondisi bank sendiri
 Yang penting sesuai ketentuan BI harus ada unit kerja yang mengurus
Risk (credit risk management), Kebijakan Perkreditan Bank, dan Kredit
Bermasalah (NPL), dan Compliance (Kepatuhan)
Kebijakan Perkreditan Bank

KEBIJAKAN PERSETUJUAN
KREDIT
• Konsep hubungan total
• Batas wewenang perkreditan
• Tanggung jawab pejabat pemutus
• Proses persetujuan kredit
• Perjanjian kredit (formal, bentuk)
• Pencairan Kredit
Kebijakan Perkreditan Bank

ADMINISTRASI,
DOKUMENTASI & MONITORING
 Harus memiliki sistem pengadministrasian kredit yang baik, mudah untuk
mencari kembali, tidak mudah hilang

 Monitoring & Pengawasan diperlukan dalam rangka pengawasan sejak


persetujuan, pencairan, pembangunan, operasional dan pelunasan

 Bank harus memiliki sistem monitoring yang sistematik atas gejala kredit
akan bermasalah
Kebijakan Perkreditan Bank

PENYELAMATAN &
PENYELESAIAN KREDIT
Setiap kredit yang bermasalah harus ditangani secara tersendiri oleh unit
kerja khusus
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai