SOP Jam Kerja dan Kewajiban Karyawan
SOP Jam Kerja dan Kewajiban Karyawan
Pasal 2
WAKTU / JAM KERJA
1) Senin - Jumat (5 HK) : Pkl. 09.15 s/d 17.00 BBWI
2) Sabtu (1 HK) : Pkl. 09.15 s/d 12.00 BBWI
3) Hal-hal lain diluar ketentuan ayat 1 dan 2 diatas, akan diatur dan disesuaikan dengan
kebutuhan dan kebijakan perusahaan.
Pasal 3
KERJA LEMBUR
1) Pada dasarnya kerja lembur adalah sukarela bagi karyawan kecuali hal-hal berikut :
a. Dalam hal-hal yang bersifat force majeur seperti kebakaran dan sebagainya.
b. Dalam hal ada pekerjaan-pekerjaan yang apabila tidak segera diselesaikan akan
membahayakan kesehatan atau keselamatan orang.
c. Dalam hal-hal apabila pekerjaan tidak diselesaikan akan menimbulkan kerugian bagi
perusahaan atau dapat mengganggu kelancaran pelayanan.
d. Dalam hal terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan dengan segera, karyawan
harus bekerja atas panggilan darurat, dan bagi karyawan yang mengabaikan perintah
lembur dapat dikenai sanksi.
e. Dalam hal telah mendapatkan instruksi, penugasan dan persetujuan dari Direksi
Perusahaan.
2) Perhitungan upah lembur akan disesuaikan dengan atas dasar penilaian akan situasi,
kondisi, tingkat kesulitan dan kewajaran waktu dari pekerjaan.
4) Bagi karyawan yang melakukan kerja lembur 4 jam berturut-turut akan memperoleh hak
tambahan uang makan atau ekstra fooding.
5) Hal-hal lain diluar ketentuan ayat 1,2,3 dan 4 diatas, akan diatur dan disesuaikan dengan
kebutuhan dan kebijakan perusahaan.
Pasal 6
LARANGAN BAGI KARYAWAN
Larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap karyawan antara lain:
1) Meninggalkan perusahaan atau pekerjaannya selama jam kerja tanpa memberitahukan atasan atau
petugas berwenang yang ditunjuk (yang dalam hal ini kepala seksi, kepala bagian atau yang lebih
tinggi atau bagian personalia).
2) Melanggar kesopanan maupun sopan santun dalam pergaulan dan/atau minum-minuman yang
sifatnya memabukkan dilingkungan perusahaan.
3) Melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.
4) Mengadakan rapat-rapat/pertemuan-pertemuan dilingkungan perusahaan tanpa ijin dari pimpinan
perusahaan.
5) Membawa
6) orang lain/luar masuk dalam lingkungan perusahaan tanpa ijin pihak atasan yang
[Link] (tidak masuk bekerja tanpa alasan).
7) Mengedarkan daftar sokongan, menempel/memasang poster/spanduk dilingkungan perusahaan
tanpa ijin pimpinan perusahaan.
8) Mempengaruhi karyawan lain untuk tidak melakukan kewajibannya.
9) Menggunakan alat-alat perusahaan tanpa ijin atasan yang berwenang dan menyerahkan tugas kerja
kepada orang lain tanpa persetujuan atasan.
10) Menjalankan kendaraan/alat-alat perusahaan dengan mengabaikan syarat-syarat keselamatan
kerja.
11) Membawa keluar barang-barang milik perusahaan atau barang-barang milik orang lain/ ketiga
tanpa ijin atasan yang berwenang.
12) Menyalahgunakan waktu kerja untuk kepentingan komersial pribadi.
13) Mempengaruhi karyawan lain untuk melanggar ketentuan-ketentuan perusahaan.
14) Membuat isu-isu yang dapat menimbulkan terjadinya kerusakan dalam lingkungan perusahaan dan
atau merugikan perusahaan.
15) Mengabaikan kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh perusahaan.
16) Menjalankan kendaraan perusahaan secara kebut-kebutan/tidak mengindahkan sopan santun baik
di jalan raya, maupun di area PD. Pakat Beusaree.
17) Menggunakan kemudahan, perkakas dan keterangan-keterangan perusahaan untuk kepentingan
diri sendiri atau pihak lain tanpa ijin pimpinan perusahaan.
18) Dengan sengaja atau karena lalai mengakibatkan dirinya dalam keadaan sedemikian, sehingga ia
tidak dapat menjalankan perusahaannya.
19) Berkelahi dilingkungan perusahaan.
SOP – Hal. 3/11
20) Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan dan memalsukan dokumen yang berhubungan
dengan kepentingan perusahaan.
21) Mabuk, madat, memakai obat bius atau narkotika atau obat terlarang lainnya di lingkungan
perusahaan.
22) Melakukan perbuatan asusila di lingkungan perusahaan.
23) Melakukan tindakan kejahatan misalnya: mencuri, menggelapkan, menipu, memperdagangkan
barang-barang terlarang baik dalam lingkungan perusahaan maupun diluar lingkungan perusahaan.
24) Menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam atasan, keluarga atasan atau teman sekerja
termasuk dalam pengertian menganiaya adalah siapapun yang menyerang terlebih dulu seorang
karyawan dalam waktu dinas apapun persoalannya, begitu pula mereka yang hendak menghindari
tindakan disipliner melakukan diluar perusahaan.
25) Membujuk atasan atau teman sekerja untuk melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan
hukum dan kesusilaan.
26) Dengan sengaja atau ceroboh merusak, merugikan atau membiarkannya dalam keadaan bahaya
milik perusahaan.
27) Dengan sengaja atau ceroboh merusak, merugikan atau membiarkan diri atau teman sekerjanya
dalam keadaan bahaya.
28) Membongkar/membocorkan rahasia perusahaan atau mencemarkan nama baik perusahaan dan
keluarganya yang seharusnya dirahasiakan.
29) Melakukan/mengadakan permainan judi dalam lingkungan perusahaan.
30) Karyawan yang menyalahgunakan kepercayaan perusahaan dengan menerima sesuatu suapan baik
dalam bentuk uang maupun barang atau jasa yang merugikan kepentingan perusahaan atau diluar
pengetahuan perusahaan.
31) Menjalankan kendaraan perusahaan dalam keadaan mabuk.
32) Mencemarkan nama baik perusahaan.
33) Mengambil bagian atau menganjurkan setiap penghentian kerja, mogok atau memperlambat
pekerjaan.
34) Berniaga, menjalankan pekerjaan untuk pihak ketiga dan atau menjalankan pekerjaan lain bersifat
apapun juga tanpa ijin direksi.
35) Menyelenggarakan langsung atau tidak langsung pembelian untuk perusahaan dan usaha-usaha
lain di segala lapangan yang bersangkutan dengan usaha perusahaan dan oleh karenanya bisa
mendapat keuntungan bagi diri sendiri.
36) Membuka usaha yang sejenis dengan usaha yang dijalankan oleh perusahaan sehingga merugikan
perusahaan.
37) Membawa senjata tajam, senjata api atau barang berbahaya lainnya didalam lingkungan
perusahaan.
38) Menyalahgunakan kedudukan/jabatan untuk kepentingan pribadi.
39) Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 38 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.
Pasal 7
TINDAKAN DISIPLIN
Termasuk pelanggaran disiplin adalah setiap perbuatan memperbanyak, mengedarkan,
mempertontonkan, menempelkan, menawarkan, menyimpan, memiliki tulisan atau rekaman yang berisi
anjuran atau hasutan untuk melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 diatas.
1) Setiap karyawan yang melakukan pelanggaran peraturan dan tata tertib perusahaan dapat
dikenakan tindakan disiplin.
2) Tingkatan hukuman disiplin (tindakan disipliner) :
a. Teguran tertulis;
b. Peringatan tertulis I (pertama)
c. Peringatan tertulis II (kedua)
d. Peringatan tertulis III (ketiga) atau hukuman administratif
e. Skorsing
f. Pemutusan hubungan kerja (PHK)
3) Jenis pelanggaran disiplin yang dapat dikenakan hukuman disiplin, ketentuan pelaksanaannya
ditetapkan sebagai berikut:
a. TEGURAN TERTULIS.
1. Karyawan diberikan pengarahan dan dicatat oleh perusahaan.
g. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 3 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.
Pasal 8
GANTI RUGI
Karyawan diwajibkan membayar ganti rugi kepada perusahaan apabila:
1. Menghilangkan/merusak barang-barang milik perusahaan.
2. Karena kurang hati-hati atau karena kesalahan karyawan yang bersangkutan menimbulkan
kerugian bagi perusahaan.
3. Karyawan tidak mentaati kewajiban/peraturan perusahaan, sehingga menimbulkan kerugian bagi
perusahaan.
4. Pengendara diwajibkan membayar ganti rugi kepada perusahaan apabila:
a. Kerusakan kendaraan, kehilangan/kerusakan beton dan/atau bahan baku dan atau hasil
produksi, klaim dari pihak ketiga akibat kecelakaan disebabkan karena kesalahan pengendara.
b. Terjadi kehilangan/kerusakan beton dan atau bahan baku dan atau hasil produksi dalam
perjalanan.
c. Kerusakan-kerusakan, kehilangan perlengkapan kendaraan, denda-denda dan tangkapan
disebabkan karena kesalahan pengendara, maka resikonya menjadi beban pengendara sendiri.
d. Pelaksanaan/pembayaran ganti rugi akan dilakukan oleh perusahaan.
e. Dalam hal karyawan telah berkali-kali menimbulkan kerugian bagi perusahaan ia tidak terlepas
dari kemungkinan dikenakan tindakan disiplin.
5. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 4 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.
Pasal 9
BENTUK HUKUMAN
Bentuk hukuman yang sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 tersebut diatas ditetapkan sebagai berikut :
1. Tegoran tertulis.
Berupa pemotongan “hak prestasi” sebesar 25% (sepuluh persen) berlaku per program/kegiatan.
2. Peringatan Tertulis I.
Berupa pemotongan tunjangan jabatan sebesar 20% (dua puluh persen) berlaku selama 6 (enam)
bulan.
3. Peringatan Tertulis II
Berupa pemotongan tunjangan jabatan sebesar 30% (tiga puluh persen) berlaku selama 9
(sembilan) bulan.
4. Peringatan Tertulis III
Berupa pemotongan tunjangan jabatan sebesar 50% (limapuluh persen) berlaku 12 (dua belas)
bulan atau pemberian sanksi administratif berupa penundaan kenaikan tingkat golongan selama
masa peringatan dan akan dievaluasi pada periode penilaian berikutnya.
5. Pejabat yang berwenang memberikan hukuman adalah:
6. DireksiBerwenang menghukum karyawan yang menjabat tenaga pelaksana sampai dengan kepala
divisi dan staf (sederajt kepala divisi) sepanjang mengenai hukuman disiplin (tindakan indisipliner)
antara lain:
a. Hukuman administratif
b. Skorsing
c. Pemutusan hubungan kerja
7. Kepala Sumber Daya Manusia atas nama Direksi.
Apabila dipandang perlu juga mengikutsertakan atasan langsung dan tidak langsung dari karyawan
yang bersangkutan berwenang menghukum karyawan yang menjabat tenaga pelaksana sampai
BAB III
PEMBINAAN DAN DIKLAT
Pasal 10
PEMBINAAN
1. Pembinaan karyawan menurut prestasi kerja dengan tujuan agar para karyawan dapat lebih berdaya
guna dan berhasil guna dalam melaksanakan kewajibannya.
2. Sistem pembinaan dilaksanakan melalui penilaian kerja.
3. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 2 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.
Pasal 11
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT)
Dalam rangka pembinaan, perusahaan memberi kesempatan kepada karyawan untuk dapat mengikuti
pendidikan dan pelatihan, baik diselenggarakan di perusahaan (in house) maupun di luar perusahaan
(publik)
Pasal 12
TUNJANGAN ATAU AKOMODASI LAINNYA
Kepada karyawan (dalam kondisi khusus) disamping “hak prestasi” dapat diberikan tunjangan atau
akomodasi lainnya. Sesuai dengan kondisi perusahaan pemberian tunjangan atau akomodasi lainnya
dapat berbentuk tunjangan umum, tunjangan jabatan, tunjangan pengobatan, akomodasi kunjungan kerja
dan lain sebagainya yang diatur dengan aturan tersendiri.
BAB IV
KESEJAHTERAAN
Pasal 13
TUNJANGAN HARI RAYA (THR)
Tunjangan hari raya akan diberikan apabila kondisi keuangan perusahaan memungkinkan.
Pasal 14
PERJALANAN DINAS ATAU KUNJUNGAN KERJA
Untuk kepentingan Perusahaan, Direksi dapat memerintahkan karyawan untuk melaksanakan perjalanan
dinas, baik didalam negeri maupun diluar negeri.
Pasal 16
TEMPAT TINGGAL KARYAWAN
Perusahaan tidak berkewajiban menyediakan tempat tinggal bagi karyawan.
Pasal 17
PELAYANAN KESEHATAN
Perusahaan tidak berkewajiban menyediakan pelayanan kesehatan, namun perusahaan akan
menyediakan fasilitas kesehatan sesuai dengan kemampuan perusahaan.
Pasal 18
FASILITAS PERIBADATAN
Pengusaha memberikan kesempatan kepada karyawan untuk melaksanakan ibadah sesuai agama
masing – masing serta menyediakan sarana peribadatan sesuai dengan kemampuan perusahaan.
Pasal 20
HARI LIBUR RESMI
Hari libur resmi adalah hari libur yang ditentukan oleh Pemerintah dan biasanya diumumkan oleh
Departemen Agama. Semua karyawan berhak atas hari libur resmi sesuai dengan ketetapan pemerintah
yang berlaku, kecuali bagi karyawan yang sifat pekerjaannya atas keadaan darurat memaksa untuk
masuk kerja.
Pasal 21
HAK CUTI BAGI KARYAWAN
1. Sesuai dengan ketentuan karyawan dapat menjalani cuti menurut jenisnya, yaitu cuti dalam
tanggungan perusahaan.
2. Jenis cuti dalam tanggungan perusahaan adalah:
a. Cuti tahunan
b. Cuti bersalin dan atau cuti keguguran
c. Cuti sakit
d. Cuti khusus.
3. Karyawan dapat menjalani dispensasi karena alasan penting sesuai ketentuan yang berlaku.
BAB V
JAMINAN SOSIAL
Pasal 22
JAMSOSTEK
1. Apabila kondisi perusahaan memungkinkan, Perusahaan akan mengikutkan program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja kepada semua karyawan berdasarkan Peraturan Pemerintah yang berlaku yang terdiri:
a. Jaminan Kecelakaan Kerja
b. Jaminan Kematian
c. Jaminan Hari Tua
d. Jaminan pemeliharaan Kesehatan Tenaga Kerja diatur tersendiri sesuai dengan kemampuan
Perusahaan
Pasal 23
KECELAKAAN KERJA
1. Yang dimaksud dengan kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang menimpa seorang karyawan pada
saat:
a. Karyawan tersebut meninggalkan rumah atau tempat tinggalnya untuk menunju tempat kerja
dengan melalui jalan yang biasa dilaluinya
b. Karyawan bekerja atau berada ditempat kerja
c. Karyawan dalam perjalanan pulang ke rumah atau tempat tinggalnya dengan melalui jalan yang
biasa dilaluinya
2. Jika terjadi kecelakaan atas diri seorang karyawan, maka perusahaan akan berpegang pada
ketentuan – ketentuan yang berlaku.
3. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 2 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan
BAB VI
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Pasal 24
KESEHATAN DAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN
Dalam memelihara kesehatan dan kebersihan lingkungan ini, karyawan juga diwajibkan untuk selalu
menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan Perusahaan agar kesehatan karyawan dan kebersihan
lingkungan Perusahaan dapat terpelihara.
Pasal 25
PERLENGKAPAN KERJA
1. Perlengkapan kerja akan disediakan oleh perusahaan bagi karyawan yang membutuhkan
perlengkapan kerja untuk melakukan pekerjaannya atau untuk memelihara kesehatannya atau untuk
menghindarkan terjadinya kecelakaan kerja.
2. Seorang karyawan harus selalu menggunakan perlengkapan kerja yang telah disediakan dan harus
memelihara perlengkapan kerja yang dipercayakan padanya.
3. Perusahaan tidak akan bertanggungjawab terhadap sesuatu mengenai kesehatan dan keselamatan
seorang karyawan bila seorang karyawan tidak mengindahkan petunjuk kesehatan dan keselamatan
kerja atau tidak menggunakan perlengkapan kerja yang telah disediakan.
BAB VII
TATA CARA PENYELESAIAN KELUHAN KARYAWAN
Pasal 26
TATA CARA PENYELESAIAN KELUHAN KARYAWAN
Karyawan berhak untuk menyampaikan keluhannya secara pribadi dengan melalui cara – cara
penyampaian keluhan yang berlaku. Tata cara penyampaian keluhan di perusahaan adalah sebagai
berikut:
1. Karyawan wajib untuk menyampaikan keluhannya terlebih dahulu kepada kepala kerjanya, baik
berupa keluhan lisan maupun tertulis.
2. Bila Kepala Kerjanya dalam satu minggu belum dapat memberikan penyelesaiannya, maka karyawan
dapat menyampaikan keluhan yang sama kepada Kepala Bagiannya namun dengan kewajiban untuk
memberitahu lebih dahulu kepada atasannya langsung.
3. Jika seorang kepala bagian dalam waktu dua minggu belum dapat menyelesaikan keluhan ini, maka
karyawan (setelah memberitahu kepala bagiannya) dapat menyampaikan keluhan yang sama kepada
Bagian SDM.