0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan11 halaman

SOP Jam Kerja dan Kewajiban Karyawan

SOP mengatur hari kerja, jam kerja, dan ketentuan kerja lembur di PD. Pakat Beusaree. Hari kerja normal adalah Senin-Sabtu dan jam kerja Senin-Jumat adalah 09.15-17.00, Sabtu 09.15-12.00. Kerja lembur hanya boleh dilakukan atas dasar kebutuhan perusahaan. SOP juga mengatur kewajiban dan larangan bagi karyawan serta hak-hak mereka.

Diunggah oleh

Novri Zal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan11 halaman

SOP Jam Kerja dan Kewajiban Karyawan

SOP mengatur hari kerja, jam kerja, dan ketentuan kerja lembur di PD. Pakat Beusaree. Hari kerja normal adalah Senin-Sabtu dan jam kerja Senin-Jumat adalah 09.15-17.00, Sabtu 09.15-12.00. Kerja lembur hanya boleh dilakukan atas dasar kebutuhan perusahaan. SOP juga mengatur kewajiban dan larangan bagi karyawan serta hak-hak mereka.

Diunggah oleh

Novri Zal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ADMINISTRASI UMUM

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PD. PAKAT BEUSAREE
BAB I.
HARI KERJA DAN WAKTU KERJA
Pasal 1
HARI KERJA
Hari Kerja Normal atau Reguler pada PD. Pakat Beusaree adalah hari Senin s/d Sabtu

Pasal 2
WAKTU / JAM KERJA
1) Senin - Jumat (5 HK) : Pkl. 09.15 s/d 17.00 BBWI
2) Sabtu (1 HK) : Pkl. 09.15 s/d 12.00 BBWI
3) Hal-hal lain diluar ketentuan ayat 1 dan 2 diatas, akan diatur dan disesuaikan dengan
kebutuhan dan kebijakan perusahaan.

Pasal 3
KERJA LEMBUR
1) Pada dasarnya kerja lembur adalah sukarela bagi karyawan kecuali hal-hal berikut :
a. Dalam hal-hal yang bersifat force majeur seperti kebakaran dan sebagainya.
b. Dalam hal ada pekerjaan-pekerjaan yang apabila tidak segera diselesaikan akan
membahayakan kesehatan atau keselamatan orang.
c. Dalam hal-hal apabila pekerjaan tidak diselesaikan akan menimbulkan kerugian bagi
perusahaan atau dapat mengganggu kelancaran pelayanan.
d. Dalam hal terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan dengan segera, karyawan
harus bekerja atas panggilan darurat, dan bagi karyawan yang mengabaikan perintah
lembur dapat dikenai sanksi.
e. Dalam hal telah mendapatkan instruksi, penugasan dan persetujuan dari Direksi
Perusahaan.

2) Perhitungan upah lembur akan disesuaikan dengan atas dasar penilaian akan situasi,
kondisi, tingkat kesulitan dan kewajaran waktu dari pekerjaan.

3) Perhitungan upah per jam akan diatur dalam ketentuan tersendiri.

4) Bagi karyawan yang melakukan kerja lembur 4 jam berturut-turut akan memperoleh hak
tambahan uang makan atau ekstra fooding.

5) Hal-hal lain diluar ketentuan ayat 1,2,3 dan 4 diatas, akan diatur dan disesuaikan dengan
kebutuhan dan kebijakan perusahaan.

SOP – Hal. 1/11


BAB II
PERATURAN DAN TATA TERTIB
Pasal 4
KEWAJIBAN BAGI KARYAWAN
Kewajiban yang harus ditaati oleh setiap karyawan antara lain:
1) Mentaati ketentuan jam kerja.
2) Melakukan check in pada waktu masuk kerja dan check out pada waktu pulang kerja (mengisi dan
menandatangani “Absensi Karyawan”).
3) Melaksanakan tugas/pekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuh pengabdian, kesadaran dan
bertanggung jawab.
4) Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan perusahaan.
5) Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kekompakan dan persatuan untuk menciptakan suasana
kerja yang baik sesuai dengan harapan perusahaan.
6) Menyimpan rahasia perusahaan dan/atau rahasia-rahasia jabatan dengan sebaik-baiknya.
7) Menggunakan dan memelihara barang-barang milik perusahaan dengan sebaik-baiknya, serta
menjaga pemborosan waktu dan material.
8) Segera melaporkan kepada atasannya, apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan
atau merugikan perusahaan, terutama dibidang keamanan, keuangan dan materiil.
9) Bertindak dan bersikap tegas, tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannnya.
10) Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya.
11) Memberikan bimbingan kepada bawahannya dalam melaksanakan tugasnya.
12) Memberikan kesempatan dan dorongan kepada bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja
dan mengembangkan kariernya.
13) Berpakaian rapi dan sopan (berkemeja dan bersepatu), serta bersikap dan bertingkah laku sopan
santun terhadap masyarakat dan sesama karyawan.
14) Mentaati perintah baik secara struktural maupun fungsional dari atasan yang berwenang dan/atau
orang lain yang ditunjuk olehnya.
15) Memperhatikan dengan sebaik-baiknya setiap tindakan disipliner yang diterima.
16) Selalu menggunakan atau membawa kartu tanda pengenal karyawan pada saat melaksanakan
tugas resmi di lapangan.
17) Bersikap sopan, jujur dan selalu mentaati perintah atasan dalam melakukan pekerjaannya serta
selalu meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.
18) Selalu menggunakan alat-alat keselamatan kerja dan selalu mencegah terjadinya tindakan atau
keadaan yang dapat menimbulkan bahaya seperti misalnya kebakaran, kecelakaan kerja dan
sebagainya dalam perusahaan.
19) Tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak atau merugikan nama baik perusahaan, pimpinan
atau teman sekerja dan harus memelihara kerjasama yang baik diantara karyawan untuk
menciptakan ketenangan kerja dan memelihara ketertiban dalam perusahaan.
20) Menggunakan, menjalankan atau menyimpan dengan baik semua peralatan atau mesin-mesin,
bahan-bahan atau surat-surat berharga milik perusahaan yang dipercayakan kepadanya.
21) Bertanggung jawab atas semua barang atau harta milik perusahaan yang dipercayakan kepadanya
dan harus segera melaporkan kehilangan atau kerusakan yang terjadi terhadap barang-barang
atau harta milik perusahaan tersebut kepada kepala kerjanya dan atau petugas berwenang yang
telah ditunjuk, untuk dipertimbangkan penggantinya.
22) Tetap berada ditempat kerja masing-masing selama jam kerja, kecuali untuk keperluan dinas yang
telah mendapat persetujuan dari kepala unit kerjanya dan harus melaporkan diri kepada kepala
unit kerjanya masing-masing bila datang terlambat atau apabila hendak pulang lebih awal.
23) Menjaga kebersihan dan keamanan kantor beserta fasilitasnya, sesuai dengan dengan “Daftar
Piket Rutin” yang telah disusun dan disepakati bersama sebelumnya.
24) Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 23 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

SOP – Hal. 2/11


Pasal 5
HAK-HAK KARYAWAN
1) Untuk saat ini sampai dengan waktu yang tidak ditetapkan, karyawan PD. Pakat Beusaree belum
memiliki upah tetap atau gaji tetap.
2) Untuk saat ini sampai dengan waktu yang tidak ditetapkan, upah karyawan adalah hanya berupa
pembagian atas keuntungan perusahaan per program/kegiatan. Untuk selanjutnya upah ini disebut
sebagai “hak prestasi”.
3) Karyawan berhak mendapatkan “hak prestasi” yang dihitung berdasarkan nilai atas kapasitas,
kapabilitas dan frekuensi aktifitas dari karyawan serta disesuaikan dengan kebijakan perusahaan.
4) Karyawan berhak mendapatkan pembayaran “hak prestasi” tepat pada waktunya. Perusahaan
berkewajiban memberikan klarifikasi resmi apabila terjadi keterlambatan pembayaran oleh pihak
perusahaan.
5) Karyawan berhak mendapatkan perlindungan hukum secara adil.
6) Karyawan berhak menolak pekerjaan yang diberikan apabila membahayakan pekerja itu sendiri
atau orang lain.
7) Karyawan berhak atas jenjang karir yang ada di perusahaan sesuai dengan kemampuan dan
prestasi kerjanya.
8) Karyawan berhak mangajukan pendapat yang bersifat membangun/positif yang bertujuan untuk
memajukan perusahaan dan kesejahteraan karyawan melalui prosedur yang baik dan benar.
9) Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 8 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

Pasal 6
LARANGAN BAGI KARYAWAN
Larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap karyawan antara lain:
1) Meninggalkan perusahaan atau pekerjaannya selama jam kerja tanpa memberitahukan atasan atau
petugas berwenang yang ditunjuk (yang dalam hal ini kepala seksi, kepala bagian atau yang lebih
tinggi atau bagian personalia).
2) Melanggar kesopanan maupun sopan santun dalam pergaulan dan/atau minum-minuman yang
sifatnya memabukkan dilingkungan perusahaan.
3) Melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.
4) Mengadakan rapat-rapat/pertemuan-pertemuan dilingkungan perusahaan tanpa ijin dari pimpinan
perusahaan.
5) Membawa
6) orang lain/luar masuk dalam lingkungan perusahaan tanpa ijin pihak atasan yang
[Link] (tidak masuk bekerja tanpa alasan).
7) Mengedarkan daftar sokongan, menempel/memasang poster/spanduk dilingkungan perusahaan
tanpa ijin pimpinan perusahaan.
8) Mempengaruhi karyawan lain untuk tidak melakukan kewajibannya.
9) Menggunakan alat-alat perusahaan tanpa ijin atasan yang berwenang dan menyerahkan tugas kerja
kepada orang lain tanpa persetujuan atasan.
10) Menjalankan kendaraan/alat-alat perusahaan dengan mengabaikan syarat-syarat keselamatan
kerja.
11) Membawa keluar barang-barang milik perusahaan atau barang-barang milik orang lain/ ketiga
tanpa ijin atasan yang berwenang.
12) Menyalahgunakan waktu kerja untuk kepentingan komersial pribadi.
13) Mempengaruhi karyawan lain untuk melanggar ketentuan-ketentuan perusahaan.
14) Membuat isu-isu yang dapat menimbulkan terjadinya kerusakan dalam lingkungan perusahaan dan
atau merugikan perusahaan.
15) Mengabaikan kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh perusahaan.
16) Menjalankan kendaraan perusahaan secara kebut-kebutan/tidak mengindahkan sopan santun baik
di jalan raya, maupun di area PD. Pakat Beusaree.
17) Menggunakan kemudahan, perkakas dan keterangan-keterangan perusahaan untuk kepentingan
diri sendiri atau pihak lain tanpa ijin pimpinan perusahaan.
18) Dengan sengaja atau karena lalai mengakibatkan dirinya dalam keadaan sedemikian, sehingga ia
tidak dapat menjalankan perusahaannya.
19) Berkelahi dilingkungan perusahaan.
SOP – Hal. 3/11
20) Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan dan memalsukan dokumen yang berhubungan
dengan kepentingan perusahaan.
21) Mabuk, madat, memakai obat bius atau narkotika atau obat terlarang lainnya di lingkungan
perusahaan.
22) Melakukan perbuatan asusila di lingkungan perusahaan.
23) Melakukan tindakan kejahatan misalnya: mencuri, menggelapkan, menipu, memperdagangkan
barang-barang terlarang baik dalam lingkungan perusahaan maupun diluar lingkungan perusahaan.
24) Menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam atasan, keluarga atasan atau teman sekerja
termasuk dalam pengertian menganiaya adalah siapapun yang menyerang terlebih dulu seorang
karyawan dalam waktu dinas apapun persoalannya, begitu pula mereka yang hendak menghindari
tindakan disipliner melakukan diluar perusahaan.
25) Membujuk atasan atau teman sekerja untuk melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan
hukum dan kesusilaan.
26) Dengan sengaja atau ceroboh merusak, merugikan atau membiarkannya dalam keadaan bahaya
milik perusahaan.
27) Dengan sengaja atau ceroboh merusak, merugikan atau membiarkan diri atau teman sekerjanya
dalam keadaan bahaya.
28) Membongkar/membocorkan rahasia perusahaan atau mencemarkan nama baik perusahaan dan
keluarganya yang seharusnya dirahasiakan.
29) Melakukan/mengadakan permainan judi dalam lingkungan perusahaan.
30) Karyawan yang menyalahgunakan kepercayaan perusahaan dengan menerima sesuatu suapan baik
dalam bentuk uang maupun barang atau jasa yang merugikan kepentingan perusahaan atau diluar
pengetahuan perusahaan.
31) Menjalankan kendaraan perusahaan dalam keadaan mabuk.
32) Mencemarkan nama baik perusahaan.
33) Mengambil bagian atau menganjurkan setiap penghentian kerja, mogok atau memperlambat
pekerjaan.
34) Berniaga, menjalankan pekerjaan untuk pihak ketiga dan atau menjalankan pekerjaan lain bersifat
apapun juga tanpa ijin direksi.
35) Menyelenggarakan langsung atau tidak langsung pembelian untuk perusahaan dan usaha-usaha
lain di segala lapangan yang bersangkutan dengan usaha perusahaan dan oleh karenanya bisa
mendapat keuntungan bagi diri sendiri.
36) Membuka usaha yang sejenis dengan usaha yang dijalankan oleh perusahaan sehingga merugikan
perusahaan.
37) Membawa senjata tajam, senjata api atau barang berbahaya lainnya didalam lingkungan
perusahaan.
38) Menyalahgunakan kedudukan/jabatan untuk kepentingan pribadi.
39) Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 38 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

Pasal 7
TINDAKAN DISIPLIN
Termasuk pelanggaran disiplin adalah setiap perbuatan memperbanyak, mengedarkan,
mempertontonkan, menempelkan, menawarkan, menyimpan, memiliki tulisan atau rekaman yang berisi
anjuran atau hasutan untuk melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 diatas.
1) Setiap karyawan yang melakukan pelanggaran peraturan dan tata tertib perusahaan dapat
dikenakan tindakan disiplin.
2) Tingkatan hukuman disiplin (tindakan disipliner) :
a. Teguran tertulis;
b. Peringatan tertulis I (pertama)
c. Peringatan tertulis II (kedua)
d. Peringatan tertulis III (ketiga) atau hukuman administratif
e. Skorsing
f. Pemutusan hubungan kerja (PHK)
3) Jenis pelanggaran disiplin yang dapat dikenakan hukuman disiplin, ketentuan pelaksanaannya
ditetapkan sebagai berikut:
a. TEGURAN TERTULIS.
1. Karyawan diberikan pengarahan dan dicatat oleh perusahaan.

2. Karyawan diberitahu bahwa ia akan dikenakan tindakan disipliner tingkat selanjutnya,


apabila ia melakukan pelanggaran lain.

SOP – Hal. 4/11


3. Peringatan ini akan dihapuskan apabila selama 3 (tiga) bulan ia tidak melakukan
pelanggaran.
4. Tindakan ini digunakan untuk pelanggaran sejenis tidak terbatas pada contoh-contoh
dibawah ini :
(i) Meninggalkan perusahaan atau pekerjaannya selama jam kerja dan atau pulang cepat
tanpa ijin atasan (yang dalam hal ini kepala seksi, kepala bagian atau yang lebih
tinggi).
(ii) Melanggar kesopanan atau sopan santun dalam pergaulan dan atau minum-minuman
yang sifatnya memabukkan dilingkungan perusahaan.
(iii) Melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.
(iv) Tidak memelihara dengan baik alat-alat yang menjadi tanggung jawabnya.
Lebih dari 14 (empat belas) kali dalam satu bulan tidak melakukan check in atau check
out.
(v) Mengadakan rapat-rapat/pertemuan-pertemuan dalam lingkungan perusahaan tanpa
seijin pimpinan perusahaan.
(vi) Tidak melaporkan kepada atasan, adanya hal-hal yang tidak wajar.
(vii) Membawa orang lain/luar masuk dalam lingkungan perusahaan tanpa ijin pihak
atasan.
(viii) Menimbulkan pemborosan waktu kerja dan material perusahaan.

b. PERINGATAN TERTULIS (PERTAMA)


1. Karyawan diberikan peringatan tertulis I, dan dicatat oleh perusahaan.
2. Karyawan diberitahukan bahwa peringatan ini akan dihapuskan apabila selama 6 (enam)
bulan ia tidak melakukan pelanggaran.
3. Tindakan ini digunakan untuk pelanggaran ringan berikutnya sesudah karyawan mendapat
tegoran tertulis. Juga dapat dikenakan langsung untuk pelanggaran sejenis, tidak terbatas
pada contoh-contoh dibawah ini :
(i) Berkali-kali merusak/menghilangkan perkakas kerja
(ii) Mangkir
(iii) Tidak melaksanakan tugas dengan baik
(iv) Mengedarkan daftar sokongan, menempel/memasang poster atau spanduk di
lingkungan perusahaan tanpa ijin pimpinan perusahaan
(v) Mempengaruhi karyawan lain untuk tidak melakukan kewajiban
(vi) Menggunakan alat-alat perusahaan tanpa ijin atasan yang berwenang
(vii) Menjalankan kendaraan/alat-alat milik perusahaan dengan mengabaikan syarat-syarat
keselamatan kerja.
(viii) Membawa keluar barang-barang milik perusahaan atau barang-barang milik orang
lain/ketiga tanpa ijin atasan yang berwenang
(ix) Menyalahgunakan waktu kerja untuk kepentingan komersiil pribadi
(x) Mempengaruhi karyawan lain untuk melanggar ketentuan-ketentuan perusahaan
(xi) Membuat isu-isu yang dapat menimbulkan terjadinya keresahan dalam lingkungan
perusahaan dan atau merugikan perusahaan

c. PERINGATAN TERTULIS II (KEDUA)


1. Karyawan diberikan peringatan tertulis II, dan dicatat oleh perusahaan.
2. Karyawan diberitahu bahwa peringatan ini akan dihapuskan apabila selama 9 (sembilan)
bulan ia tidak melakukan pelanggaran.
3. Dalam hal yang menyangkut karyawan tidak melakukan tugas-tugasnya dengan baik, pada
karyawan akan diberitahukan bahwa pelanggaran sejenis berikutnya sebagai sanksi akan
dikenakan hukuman administrative.
4. Tindakan ini dipakai untuk pelanggaran ringan berikutnya apabila karyawan berada pada
tingkat peringatan tertulis I.

d. PERINGATAN TERTULIS III (KETIGA) ATAU HUKUMAN ADMINISTRATIF


1. Karyawan diberikan peringatan tertulis ketiga, dan dicatat oleh perusahaan.
2. Karyawan diberitahukan bahwa ini adalah peringatan terakhir dan pelanggaran berikutnya
akan mengakibatkan ia diskorsing atau bahkan diberhentikan.
3. Dalam hal pelanggaran yang menyangkut hal karyawan yang tidak melaksanakan tugas-
tugas dengan baik, ia akan dijatuhi hukuman administratif.
4. Peringatan tertulis ketiga ini digunakan untuk pelanggaran ringan berikutnya sesudah
karyawan berada pada tingkat peringatan tertulis kedua. Juga dapat dikenakan langsung
pada pelanggaran sejenis tidak terbatas pada contoh-contoh dibawah ini:
(i) Menolak perintah yang layak dari atasan dan atau orang lain yang ditunjuk olehnya.
(ii) Mengabaikan kewajiban-kewajiban seperti:
(iii) Berulang-ulang datang terlambat walaupun telah diperingatkan tentang kemungkinan

SOP – Hal. 5/11


pemecatan
(iv) Berkali-kali mangkir tanpa alasan yang kuat
(v) Menolak melakukan pemeriksaan kesehatan
(vi) Tidak cakap melakukan pekerjaan walaupun sudah dicoba untuk
ditempatkan/dipekerjakan pada bagian lainnya.
(vii) Menjalankan kendaraan perusahaan secara kebut-kebutan/tidak mengindahkan sopan
santun di jalan raya.
(viii) Menggunakan kemudahan, perkakas dan keterangan-keterangan perusahaan untuk
kepentingan diri sendiri atau pihak lain.
(ix) Dengan sengaja atau karena lalai mangakibatkan dirinya dalam keadaan sedemikian
sehingga ia tidak dapat menjalankan pekerjaannya.
(x) Melanggar ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perusahaan dan
perjanjian kerja, sedangkan kepadanya telah diberikan peringatan I (pertama) dan II
(kedua)
(xi) Berkelahi dilingkungan perusahaan.

e. SKORSING (PEMBEBASAN TUGAS)


Skorsing (pembebasan tugas) dapat dikenakan pada:
1. Karyawan yang dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan yang dapat mengakibatkan
pemutusan hubungan kerja. Dalam hal ini juga untuk menunggu proses ijin pemutus
hubungan kerja.
2. Karyawan yang melakukan pelanggaran mempunyai tingkat yang sama dengan peringatan
terakhir, dengan pertimbangan bahwa dengan pemberian sanksi ini diharapkan lebih efektif
untuk memperbaiki disiplin kerja.
3. Lamanya masa skorsing maksimal 6 (enam) bulan dengan upah 75%.

f. PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA


Pemutusan hubungan kerja dapat digunakan untuk pelanggaran yang tidak terbatas pada
contoh-contoh dibawah ini:
1. Pada saat melamar pekerjaan atau waktu mengadakan perjanjian kerja, memberikan
keterangan palsu atau dipalsukan.
2. Mabuk, madat, memakai dan mengedarkan obat bius atau narkotika/psikotropika
dilingkungan perusahaan maupun diluar lingkungan perusahaan.
3. Melakukan perbuatan asusila dilingkungan perusahaan.
4. Melakukan tindakan kejahatan misalnya: mencuri, menggelapkan, menipu,
memperdagangkan barang terlarang baik dalam lingkungan perusahaan maupun diluar
lingkungan perusahaan.
5. Menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam atasan, keluarga atau teman kerja.
Termasuk dalam pengertian menganiaya adalah siapapun yang menyerang terlebih dulu
seorang karyawan dalam waktu dinas apapun persoalannya, begitu pula mereka yang
hendak menghindari tindakan disipliner perusahaan melakukan di luar dinas.
6. Membujuk atasan atau teman sekerja untuk melaksanakan sesuatu yang bertentangan
dengan hukum atau kesusilaan.
7. Dengan sengaja atau ceroboh merusak, merugikan atau membiarkannya dalam keadaan
bahaya barang milik perusahaan.
8. Dengan sengaja atau ceroboh merusak atau membiarkan diri atau teman sekerjanya dalam
keadaan bahaya.
9. Membongkar/membocorkan rahasia perusahaan atau mencemarkan nama baik atasan
atau teman sekerja dan keluarganya yang seharusnya dirahasiakan, kecuali untuk
kepentingan Negara.
10. Melakukan/mengadakan permainan judi dalam lingkungan perusahaan.
11. Karyawan yang menyalahgunakan kepercayaan perusahaan dengan menerima sesuatu
suapan baik dalam bentuk uang maupun barang atau jasa yang merugikan kepentingan
perusahaan atau diluar pengetahuan perusahaan.
12. Bagi pengemudi truk yang mengalami kecelakaan sehingga menimbulkan kerugian
terhadap perusahaan minimal 10 (sepuluh) kali gaji pengemudi yang bersangkutan, dan
dalam kasus tersebut pengemudi di pihak yang salah.
13. Menjalankan kendaraan perusahaan dalam keadaan mabuk.
14. Mencemarkan nama baik perusahaan.
15. Mengambil bagian atau menganjurkan setiap penghentian kerja mogok atau
memperlambat pekerjaan.
16. Berniaga, menjalankan pekerjaan untuk pihak ketiga dan atau menjalankan pekerjaan lain
bersifat apapun juga tanpa ijin direksi.
17. Menyelenggarakan langsung atau tidak langsung pembelian untuk perusahaan dan usaha-
usaha lain di segala lapangan yang bersangkutan dengan usaha perusahaan dan oleh

SOP – Hal. 6/11


karenanya bisa mendapat keuntungan bagi diri sendiri.
18. Menyalahgunakan kedudukan/jabatan untuk kepentingan pribadi.
19. Membuka usaha yang sejenis dengan usaha yang dijalankan oleh perusahaan sehingga
merugikan perusahaan.
20. Pengendara yang mengalami perampokan atas hasil produksi perusahaan atau barang
angkutan yang menjadi tanggung jawabnya sampai 3 (tiga) kali kejadian dan atau yang
terbukti ikut terlibat baik secara langsung/tidak langsung dalam kejadian tersebut.
21. Pelanggaran berat terhadap Undang-Undang Republik Indonesia.

g. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 3 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

Pasal 8
GANTI RUGI
Karyawan diwajibkan membayar ganti rugi kepada perusahaan apabila:
1. Menghilangkan/merusak barang-barang milik perusahaan.
2. Karena kurang hati-hati atau karena kesalahan karyawan yang bersangkutan menimbulkan
kerugian bagi perusahaan.
3. Karyawan tidak mentaati kewajiban/peraturan perusahaan, sehingga menimbulkan kerugian bagi
perusahaan.
4. Pengendara diwajibkan membayar ganti rugi kepada perusahaan apabila:
a. Kerusakan kendaraan, kehilangan/kerusakan beton dan/atau bahan baku dan atau hasil
produksi, klaim dari pihak ketiga akibat kecelakaan disebabkan karena kesalahan pengendara.
b. Terjadi kehilangan/kerusakan beton dan atau bahan baku dan atau hasil produksi dalam
perjalanan.
c. Kerusakan-kerusakan, kehilangan perlengkapan kendaraan, denda-denda dan tangkapan
disebabkan karena kesalahan pengendara, maka resikonya menjadi beban pengendara sendiri.
d. Pelaksanaan/pembayaran ganti rugi akan dilakukan oleh perusahaan.
e. Dalam hal karyawan telah berkali-kali menimbulkan kerugian bagi perusahaan ia tidak terlepas
dari kemungkinan dikenakan tindakan disiplin.
5. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 4 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

Pasal 9
BENTUK HUKUMAN
Bentuk hukuman yang sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 tersebut diatas ditetapkan sebagai berikut :
1. Tegoran tertulis.
Berupa pemotongan “hak prestasi” sebesar 25% (sepuluh persen) berlaku per program/kegiatan.
2. Peringatan Tertulis I.
Berupa pemotongan tunjangan jabatan sebesar 20% (dua puluh persen) berlaku selama 6 (enam)
bulan.
3. Peringatan Tertulis II
Berupa pemotongan tunjangan jabatan sebesar 30% (tiga puluh persen) berlaku selama 9
(sembilan) bulan.
4. Peringatan Tertulis III
Berupa pemotongan tunjangan jabatan sebesar 50% (limapuluh persen) berlaku 12 (dua belas)
bulan atau pemberian sanksi administratif berupa penundaan kenaikan tingkat golongan selama
masa peringatan dan akan dievaluasi pada periode penilaian berikutnya.
5. Pejabat yang berwenang memberikan hukuman adalah:
6. DireksiBerwenang menghukum karyawan yang menjabat tenaga pelaksana sampai dengan kepala
divisi dan staf (sederajt kepala divisi) sepanjang mengenai hukuman disiplin (tindakan indisipliner)
antara lain:
a. Hukuman administratif
b. Skorsing
c. Pemutusan hubungan kerja
7. Kepala Sumber Daya Manusia atas nama Direksi.
Apabila dipandang perlu juga mengikutsertakan atasan langsung dan tidak langsung dari karyawan
yang bersangkutan berwenang menghukum karyawan yang menjabat tenaga pelaksana sampai

SOP – Hal. 7/11


dengan kepala seksi dan staf (sederajat seksi), sedangkan untuk karyawan yang menjabat kepala
bagian dan staf sederajat kepala bagian yang berwenang menghukum adalah direksi sepanjang
mengenai hukuman disiplin (tindakan indisipliner):
a. Tegoran tertulis
b. Peringatan tertulis I (pertama)
c. Peringatan tertulis II (kedua)
d. Peringatan tertulis III (ketiga)
e. Hukuman disiplin yang berupa hukuman administratif, skorsing dan pemutusan hubungan kerja
ditetapkan dengan surat keputusan direksi.
8. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 7 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

BAB III
PEMBINAAN DAN DIKLAT
Pasal 10
PEMBINAAN
1. Pembinaan karyawan menurut prestasi kerja dengan tujuan agar para karyawan dapat lebih berdaya
guna dan berhasil guna dalam melaksanakan kewajibannya.
2. Sistem pembinaan dilaksanakan melalui penilaian kerja.
3. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 2 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan.

Pasal 11
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT)
Dalam rangka pembinaan, perusahaan memberi kesempatan kepada karyawan untuk dapat mengikuti
pendidikan dan pelatihan, baik diselenggarakan di perusahaan (in house) maupun di luar perusahaan
(publik)

Pasal 12
TUNJANGAN ATAU AKOMODASI LAINNYA
Kepada karyawan (dalam kondisi khusus) disamping “hak prestasi” dapat diberikan tunjangan atau
akomodasi lainnya. Sesuai dengan kondisi perusahaan pemberian tunjangan atau akomodasi lainnya
dapat berbentuk tunjangan umum, tunjangan jabatan, tunjangan pengobatan, akomodasi kunjungan kerja
dan lain sebagainya yang diatur dengan aturan tersendiri.

BAB IV
KESEJAHTERAAN
Pasal 13
TUNJANGAN HARI RAYA (THR)
Tunjangan hari raya akan diberikan apabila kondisi keuangan perusahaan memungkinkan.

Pasal 14
PERJALANAN DINAS ATAU KUNJUNGAN KERJA
Untuk kepentingan Perusahaan, Direksi dapat memerintahkan karyawan untuk melaksanakan perjalanan
dinas, baik didalam negeri maupun diluar negeri.

SOP – Hal. 8/11


Pasal 15
DETASIR (PENEMPATAN KERJA)
Perusahaan dapat menempatkan (detasir) karyawan di seluruh site atau lokasi kerja perusahaan untuk
melaksanakan tugas perusahaan.

Pasal 16
TEMPAT TINGGAL KARYAWAN
Perusahaan tidak berkewajiban menyediakan tempat tinggal bagi karyawan.

Pasal 17
PELAYANAN KESEHATAN
Perusahaan tidak berkewajiban menyediakan pelayanan kesehatan, namun perusahaan akan
menyediakan fasilitas kesehatan sesuai dengan kemampuan perusahaan.

Pasal 18
FASILITAS PERIBADATAN
Pengusaha memberikan kesempatan kepada karyawan untuk melaksanakan ibadah sesuai agama
masing – masing serta menyediakan sarana peribadatan sesuai dengan kemampuan perusahaan.

Pasal 20
HARI LIBUR RESMI
Hari libur resmi adalah hari libur yang ditentukan oleh Pemerintah dan biasanya diumumkan oleh
Departemen Agama. Semua karyawan berhak atas hari libur resmi sesuai dengan ketetapan pemerintah
yang berlaku, kecuali bagi karyawan yang sifat pekerjaannya atas keadaan darurat memaksa untuk
masuk kerja.

Pasal 21
HAK CUTI BAGI KARYAWAN
1. Sesuai dengan ketentuan karyawan dapat menjalani cuti menurut jenisnya, yaitu cuti dalam
tanggungan perusahaan.
2. Jenis cuti dalam tanggungan perusahaan adalah:
a. Cuti tahunan
b. Cuti bersalin dan atau cuti keguguran
c. Cuti sakit
d. Cuti khusus.
3. Karyawan dapat menjalani dispensasi karena alasan penting sesuai ketentuan yang berlaku.

BAB V
JAMINAN SOSIAL
Pasal 22
JAMSOSTEK
1. Apabila kondisi perusahaan memungkinkan, Perusahaan akan mengikutkan program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja kepada semua karyawan berdasarkan Peraturan Pemerintah yang berlaku yang terdiri:
a. Jaminan Kecelakaan Kerja
b. Jaminan Kematian
c. Jaminan Hari Tua
d. Jaminan pemeliharaan Kesehatan Tenaga Kerja diatur tersendiri sesuai dengan kemampuan
Perusahaan

SOP – Hal. 9/11


2. Iuran untuk program Jamsostek ini akan ditanggung bersama oleh perusahaan dan karyawan yang
besarnya iuran masing – masing berdasarkan atas peraturan yang berlaku.
3. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 2 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan

Pasal 23
KECELAKAAN KERJA
1. Yang dimaksud dengan kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang menimpa seorang karyawan pada
saat:
a. Karyawan tersebut meninggalkan rumah atau tempat tinggalnya untuk menunju tempat kerja
dengan melalui jalan yang biasa dilaluinya
b. Karyawan bekerja atau berada ditempat kerja
c. Karyawan dalam perjalanan pulang ke rumah atau tempat tinggalnya dengan melalui jalan yang
biasa dilaluinya
2. Jika terjadi kecelakaan atas diri seorang karyawan, maka perusahaan akan berpegang pada
ketentuan – ketentuan yang berlaku.
3. Hal-hal lain diluar ayat 1 s/d 2 diatas, akan diatur sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan
perusahaan

BAB VI
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Pasal 24
KESEHATAN DAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN
Dalam memelihara kesehatan dan kebersihan lingkungan ini, karyawan juga diwajibkan untuk selalu
menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan Perusahaan agar kesehatan karyawan dan kebersihan
lingkungan Perusahaan dapat terpelihara.

Pasal 25
PERLENGKAPAN KERJA
1. Perlengkapan kerja akan disediakan oleh perusahaan bagi karyawan yang membutuhkan
perlengkapan kerja untuk melakukan pekerjaannya atau untuk memelihara kesehatannya atau untuk
menghindarkan terjadinya kecelakaan kerja.
2. Seorang karyawan harus selalu menggunakan perlengkapan kerja yang telah disediakan dan harus
memelihara perlengkapan kerja yang dipercayakan padanya.
3. Perusahaan tidak akan bertanggungjawab terhadap sesuatu mengenai kesehatan dan keselamatan
seorang karyawan bila seorang karyawan tidak mengindahkan petunjuk kesehatan dan keselamatan
kerja atau tidak menggunakan perlengkapan kerja yang telah disediakan.

BAB VII
TATA CARA PENYELESAIAN KELUHAN KARYAWAN
Pasal 26
TATA CARA PENYELESAIAN KELUHAN KARYAWAN
Karyawan berhak untuk menyampaikan keluhannya secara pribadi dengan melalui cara – cara
penyampaian keluhan yang berlaku. Tata cara penyampaian keluhan di perusahaan adalah sebagai
berikut:
1. Karyawan wajib untuk menyampaikan keluhannya terlebih dahulu kepada kepala kerjanya, baik
berupa keluhan lisan maupun tertulis.
2. Bila Kepala Kerjanya dalam satu minggu belum dapat memberikan penyelesaiannya, maka karyawan
dapat menyampaikan keluhan yang sama kepada Kepala Bagiannya namun dengan kewajiban untuk
memberitahu lebih dahulu kepada atasannya langsung.
3. Jika seorang kepala bagian dalam waktu dua minggu belum dapat menyelesaikan keluhan ini, maka
karyawan (setelah memberitahu kepala bagiannya) dapat menyampaikan keluhan yang sama kepada
Bagian SDM.

SOP – Hal. 10/11


BAB VIII
PENUTUP
Pasal 27
PENUTUP
Demikian Ketentuan Umum Standar Operasional Prosedur PD. Pakat Beusaree Kab. Aceh Barat ini
disusun dan disahkan agar dapat dijalankan sebagaimana mestinya

Meulaboh, Agustus 2019


PD. Pakat Beusaree Kab. Aceh Barat

FAJAR HENDRA IRAWAN


Direktur Utama

SOP – Hal. 11/11

Anda mungkin juga menyukai