0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan9 halaman

Metode Skrining Diabetes Melitus

Teks ini membahas metode skrining dalam penyakit diabetes mellitus. Ia menjelaskan bahwa skrining bertujuan untuk deteksi dini penyakit sebelum gejala klinis muncul agar tatalaksana dapat dilakukan lebih awal. Karakteristik baik skrining adalah ekonomis, cepat, mudah, bebas risiko, dan dapat mendeteksi penyakit secara valid dan reliabel. Diabetes merupakan salah satu penyakit yang dap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan9 halaman

Metode Skrining Diabetes Melitus

Teks ini membahas metode skrining dalam penyakit diabetes mellitus. Ia menjelaskan bahwa skrining bertujuan untuk deteksi dini penyakit sebelum gejala klinis muncul agar tatalaksana dapat dilakukan lebih awal. Karakteristik baik skrining adalah ekonomis, cepat, mudah, bebas risiko, dan dapat mendeteksi penyakit secara valid dan reliabel. Diabetes merupakan salah satu penyakit yang dap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Metode Skrining dalam Penyakit Diabetes Mellitus

Jessica Nathalia
102016087
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara nomor 6, Jakarta - Indonesia
jessica.2016fk087@[Link]

ABSTRAK

Skrining adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk deteksi dini dari suatu penyakit
sebelum menimbulkan gejala klinis pada pasien agar dapat dilakukan tatalaksana lebih awal
sebelum terjadinya komplikasi. Karakteristik skrining yang baik adalah ekonomis, cepat, mudah,
bebas dari risiko dan ketidaknyamanan, dapat diterima di masyarakat, valid, reliabel. Faktor-
faktor yang mempengaruhi skrining tersebut baik atau tidak adalah sensitifitas dan spesifisitas.
Hanya beberapa penyakit yang dapat dilakukan tindakan skrining, salah satunya adalah DM.
Tindakan skrining pada kasus DM yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan kadar GDS (Gula
Darah Sewaktu), GDP (Gula Darah Puasa). Pencegahan penyakit DM dapat dibagi menjadi tiga
yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.

Kata kunci: skrining, sensitifitas, spesifisitas, diabetes melitus

ABSTRACT

Screening is an examination aimed at early detection of a disease before causing clinical


symptoms in the patient so that treatment can be carried out earlier before the occurrence of
complications. Good screening characteristics are economical, fast, easy, free from risks and
inconveniences, acceptable in the community, valid, reliable. The factors that influence
screening are good or not are sensitivity and specificity. Only a few diseases can be performed
by screening actions, one of which is DM. The usual screening procedure for DM cases is
examining levels of GDS (Blood Sugar During), GDP (Fasting Blood Sugar). Prevention of DM
disease can be divided into three, namely primary prevention, secondary prevention, and tertiary
prevention.

Keywords: screening, sensitivity, specificity, diabetes mellitus

1
Pendahuluan

Pemeriksaan skrining sangat penting dalam dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat. Istilah
uji skrining dipakai untuk mendapatkan suatu test yang mampu menapis atau mendeteksi secara
dini kemungkinan seseorang tanpa keluhan menderita suatu penyakit tertentu pada sekelompok
populasi. Penelitian uji diagnostik dan skrining mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk
menilai validitas dan reliabilitas suatu test dalam mendeteksi kemungkinan adanya suatu
penyakit secara lebih dini. Salah satu penyakit yang perlu dilakukan uji skrining adalah Diabetes
Mellitus (DM).1

Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya
peningkatan kadar gula darah. Jenis diabetes mellitus yang paling sering adalah DM tipe 2 yang
disebabkan karena tubuh kurang sensitif terhadap insulin. Penyakit ini biasanya timbul pada saat
pasien sudah dewasa atau usia lanjut. Hal ini terjadi karena kurangnya jumlah reseptor insulin
pada permukaan sel. Faktor risiko penyakit ini adalah usia, genetik, obesitas (berat badan), gaya
hidup. Gejala klinis DM yaitu adanya rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil terutama
pada malam hari, banyak makan, serta terdapat penurunan berat badan yang cepat. Selain itu,
terdapat keluhan lain seperti kesemutan, lemah, gatal, penglihatan terganggu, dan lain-lain.2

Pengertian Skrining

Tes skrining adalah sebuah cara untuk mengetahui atau mengidentifikasi apakah seseorang yang
masih asimptomatik menderita suatu penyakit atau tidak. Tanpa skrining, diagnosis suatu
penyakit hanya bisa ditegakkan setelah muncul tanda dan gejala. Namun, sebuah penyakit telah
ada jauh sebelum tanda dan gejala muncul yang sebenarnya dapat diketahui apabila dilakukan
skrining.3

Tujuan Skrining

Tujuan skrining untuk mendapatkan keadaan penyakit dalam keadaan dini untuk memperbaiki
prognosis, karena pengobatan dilakukan sebelum penyakit mempunyai manifestasi klinis.
Program skrining sangat dibutuhkan karena adanya isu yang mendasari yaitu penemuan gejala
penyakit secara dini akan lebih baik dibandingkan dengan dalam waktu yang lama, pencegahan

2
sebelum terjadinya penyakit akan lebih baik dibandingkan dengan sudah terjadinya penyakit,
pencegahan membutuhkan biaya yang lebih ringan.4

Jenis Skrining

Terdapat beberapa jenis skrining yaitu mass screening, selective screening, case finding, single
disease, multiphasic screening. Mass screening adalah skrining secara massal pada masyarakat
tertentu. Selective screening adalah skrining secara selektif berdasarkan kriteria tertentu,contoh
pemeriksaan ca paru pada perokok, pemeriksaan ca serviks pada wanita yang sudah menikah.
Case finding screening adalah upaya dokter atau tenaga kesehatan untuk menyelidiki suatu
kelainan yang tidak berhubungan dengan keluhan pasien yang datang untuk kepentingan
pemeriksaan kesehatan. Single disease screening adalah skrining yang dilakukan untuk satu jenis
penyakit. Multiphasic screening adalah skrining yang dilakukan untuk lebih dari satu jenis
penyakit, contohya yaitu pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Seksual).5

Karakteristik Skrining

Tes skrining harus memenuhi karakteristik tertentu supaya bisa disebut sebagai tes yang baik.
Karakteristik atau ciri-ciri ini juga merupakan alasan atau latar belakang untuk melaksanakan
suatu penelitian uji skrining. Beberapa syarat tes skrining dapat dikatakan baik adalah ekonomis,
cepat, mudah, bebas dari risiko dan ketidaknyamanan, dapat diterima di masyarakat, valid,
reliabel. Ekonomis berarti biaya yang diperlukan untuk melakukan suatu test skrining murah.
Cepat berarti waktu yang diperlukan dari sampel diambil sampai didapatkan hasil membutuhkan
waktu yang tidak lama. Mudah dikerjakan mempunyai makna suatu tes tidak memerlukan suatu
spesialisasi atau keahlian khusus untuk mengerjakan. Suatu test dinyatakan mudah jika bisa
dikerjakan oleh tenaga medis dengan pelatihan yang relatif singkat. Bebas dari risiko dan
ketidaknyamanan mempunyai makna yaitu suatu tes tidak memerlukan tindakan invasif dan
proses penerapannya sedikit atau minimal menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien. Salah
satu pengertian ketidaknyamanan adalah timbulnya rasa sakit (nyeri) saat test dikerjakan.
Semakin tidak ada rasa nyeri dan tidak ada tindakan invasif maka semakin baik suatu test
skrining.1,3

Dapat diterima di masyarakat mempunyai arti tes skrining tidak bertentangan dengan norma dan
etika yang berlaku di masyarakat. Validitas suatu tes menunjukkan kemampuan (ketepatan) suatu

3
tes untuk mendapatkan nilai yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penilaian terhadap
validitas meliputi dua aspek yaitu ketepatan menilai kondisi sakit disebut sensitifitas dan
ketepatan untuk menilai kondisi tidak sakit disebut spesifisitas. Reliabilitas suatu tes
menunjukkan konsistensi (kesamaan) hasil ukur bila dikerjakan lebih dari sekali terhadap pasien
(subjek pengamatan) yang sama pada kondisi yang sama pula.1,3

Sensitifitas dan Spesifisitas

Sensitifitas dan spesifisitas adalah dua komponen atau ratio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan suatu uji skrining atau diagnostik untuk membedakan individu-individu yang
mendapat penyakit dengan yang tidak mendapat penyakit. Sensitifitas adalah kemampuan untuk
mengetahui secara benar siapa yang sakit. Spesifisitas adalah kemampuan untuk mengetahui
secara benar siapa yang tidak sakit. Komponen ini diperoleh dengan membandingkan hasil yang
didapat dengan prosedur diagnostik yang telah dikenal. Sensitifitas merupakan kemampuan suatu
tes untuk memberikan gambaran positif pada orang yang benar-benar sakit yang dinyatakan
dalam persen.3,6

Subjek yang sakit dengan tes positif


x 100
jumlah orang sakit yang mendapat tes

Dengan sensitifitas saja belum dapat mengetahui secara benar keadaan suatu penyakit. Oleh
karena itu, perlu diketahui konsep spesifisitas. Spesifisitas merupakan kemampuan suatu tes
untuk memberikan gambaran negatif bila subjek yang diperiksa adalah bebas dari penyakit yang
dinyatakan dalam persen.3,6

Subjek yang tidak sakit dengan tes negatif


x 100
jumlah orang yang tidak sakit yang di tes

Nilai duga (predictive value) dipengaruhi oleh tiga hal yaitu sensitifitas, spesifisitas, dan
prevalensi penyakit dari populasi yang dilakukan tes. Terdapat nilai duga positif atau Positive
Predictive Value (PPV) dan nilai duga negatif atau Negative Predictive Value (NPV). PPV
adalah proporsi pasien yang tesnya positif dan betul menderita sakit. Dengan kata lain “Jika tes
seseorang positif, berapa probabilitas dia betul-betul menderita penyakit?”3,6

a
Rumus: PPV = (a+b)

4
NPV adalah proporsi pasien yang tesnya negatif dan betul-betul tidak menderita sakit. Bisa juga
dikatakan “Jika tes seseorang negatif, berapa probabilitas dia betul-betul tidak menderita
penyakit?” 3,6

d
Rumus: NPV = (c+d)

Jika sensitifitas tinggi maka nilai duga negatif tinggi. Sebaliknya jika spesifisitas tinggi maka
nilai duga positif tinggi. Makin tinggi prevalensi penyakit dalam populasi, makin tinggi pula
PPV. Dengan demikian cara utama untuk menaikkan hasil dalam sebuah skrining adalah dengan
menargetkan tes pada kelompok orang yang berisiko tinggi menderita penyakit.3,6

Tabel 1. Contoh hasil tes skrining.3

Karakteristik Penyakit yang Perlu Dilakukan Skrining

Tidak semua penyakit cocok untuk dilakukan skrining, terdapat beberapa karakteristik penyakit
yang sebaiknya dipenuhi untuk dapat dilakukan skrining. Karakteristik penyakit yang cocok
untuk dilakukan skrining yaitu penyakit serius dan dengan konsekuensi berat, pengobatan lebih
efektif pada tahap awal, penyakit dengan detectable preclinical phase yang lama, prevalensi
penyakit tinggi pada populasi. Penyakit serius dan dengan konsekuensi berat adalah penyakit
yang mendapat perhatian di masyarakat, peningkatan kejadian penyakit tersebut menimbulkan
masalah dan keresahan pada masyarakat. Penyakit seperti ini biasanya memiliki konsekuensi

5
(akibat) menimbulkan kecacatan dan kematian. Beberapa contoh penyakit dengan karakteristik
seperti ini adalah kanker, diabetes melitus, tekanan darah tinggi dan HIV-AIDS.1,4

Pengobatan lebih efektif pada tahap awal berarti probabilitas untuk sembuh besar, tidak
mengalami kecacatan dan kematian jauh lebih tinggi jika terdeteksi dan diobati pada tahap awal
(preklinis) dibandingkan tahap lanjut. Salah satu contoh penyakit lebih efektif diobati pada tahap
awal adalah kanker payudara dimana bila terdeteksi dan diobati pada tahap awal akan
menurunkan mortalitasnya sehingga sangat cocok dilakukan skrining. Berbeda halnya dengan
kanker pankreas, walaupun ditemukan dan diobati pada tahap awal tetapi survivor rate dari
penyakit ini tidak berbeda dengan yang ditemukan dan diobati pada tahap lanjut. 1,4

Penyakit dengan detectable preclinical phase yang lama artinya memiliki waktu periode
subklinis atau preklinis (belum timbul tanda dan gejala) yang panjang, tetapi sudah terjadi
perubahan di dalam tubuh (patologi anatomi) yang memungkinkan penyakit tersebut terdeteksi.
Semakin lama detectable preclinical phase maka semakin banyak kesempatan untuk menemukan
pada stadium yang lebih dini. Dengan kata lain semakin lama detectable preclinical phases uatu
penyakit, maka semakin baik untuk diskrining. 1,4

Prevalensi penyakit tinggi pada populasi merupakan persyaratan yang sangat penting untuk
mejamin efektifitas hasil skrining. Semakin tinggi prevalensi suatu penyakit di populasi maka
kemungkinan untuk benar sakit pada orang-orang dengan hasil tes positif semakin tinggi.
Dengan kata lain, jika skrining dilakukan pada populasi dengan prevalensi suatu penyakit tinggi,
maka jumlah hasil positif palsu akan semakin sedikit. Hal ini akan sangat bagus karena akan
menghasilkan nilai prediktif test positif (NPP) yang lebih tinggi. 1,4

Skrining pada DM

Pemeriksaan penyaring ditujukan pada mereka yang mempunyai risiko DM namun tidak
menunjukkan adanya gejala DM. Selain itu juga bertujuan untuk menemukan pasien dengan
DM, TGT (Ttoleransi Glukosa Terganggu) maupun GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu)
sehingga dapat ditangani lebih dini. Pasien dengan TGT dan GDPT juga disebut sebagai pasien
prediabetes. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah
sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila pada pemeriksaan penyaring didapatkan hasil
peningkatan kadar glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnosis diabetes, maka perlu dilakukan

6
pemeriksaan lanjutan untuk mengkonfirmasi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa ulang
atau dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Pemeriksaan penyaring untuk tujuan penjaringan
masal (mass screening) tidak dianjurkan mengingat biaya yang mahal. Pemeriksaan penyaring
dianjurkan dikerjakan pada saat pemeriksaan untuk penyakit lain (misalnya pada pasien dengan
sindrom metabolik) atau general check-up.7

Tabel 2. Pemeriksaan skrining GDS dan GDP.7

Penyuluhan dan Pencegahan Penyakit

Pencegahan Primer terhadap Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu upaya yang ditujukan pada kelompok
yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapat
DM dan kelompok intoleransi glukosa. Faktor risiko diabetes melitus sama dengan faktor risiko
untuk intoleransi glukosa dibagi menjadi dua yaitu faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi dan
faktor risiko yang bisa dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi antara lain ras
dan etnik, riwayat keluarga dengan DM, umur. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi antara lain
berat badan lebih atau obesitas, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi (>140/90 mmHg).7,8

Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien
yang telah terdiagnosis DM sebagai deteksi dini. Tindakan pencegahan sekunder dilakukan
dengan pengendalian kadar glukosa sesuai target terapi serta pengendalian faktor risiko penyulit
yang lain dengan pemberian pengobatan yang optimal. Lakukan upaya rehabilitasi sesegera
mungkin sebelum kecacatan menetap.7,8

Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang mengalami penyulit
untuk mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup.
Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi antar

7
disiplin yang terkait, terutama di RS rujukan dan memerlukan kerjasama yang baik dari para ahli
untuk menunjang keberhasilan pencegahan tersier.7,8

Pencegahan primer dilakukan dengan tindakan penyuluhan dan pengelolaan yang ditujukan
untuk kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan intoleransi glukosa. Materi
penyuluhan yang biasa dilakukan pada kasus DM meliputi antara lain program penurunan berat
badan, latihan jasmani, menghentikan kebiasaan merokok, pada kelompok dengan risiko tinggi
diperlukan intervensi farmakologis. Penurunan berat badan dapat dilakukan dengan cara diet
sehat, jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal, karbohidrat kompleks
merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan
glukosa darah yang tinggi setelah makan, komposisi diet sehat mengandung sedikit lemak jenuh
dan tinggi serat larut. Latihan jasmani yang dianjurkan yaitu latihan yang dikerjakan sedikitnya
selama 150 menit per minggu dengan latihan aerobik sedang atau 90 menit per minggu dengan
latihan aerobik berat.7,8

Program penyuluhan sekunder memegang peranan penting untuk meningkatkan kepatuhan


pasien dalam menjalani program pengobatan sehingga mencapai target terapi yang diharapkan.
Penyuluhan dilakukan pada pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada pertemuan
berikutnya.7,8

Upaya penyuluhan pada pencegahan tersier dilakukan kepada pasien dan keluarga. Materi
penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup
yang optimal.7,8

Kesimpulan

Skrining atau deteksi dini merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini
suatu penyakit sebelum menimbulkan gejala klinis pada pasien. Skrining dapat dikatakan sebagai
metode yang baik untuk deteksi penyakit apabila sensitifitas dan spesifisitasnya baik. Terdapat
beberapa penyakit yang dapat dilakukan skrining, salah satunya adalah DM (Diabetes Melitus).
Pada kasus DM, terdapat beberapa jenis skrining yang dapat dilakukan yaitu GDS (Gula Darah
Sewaktu) dan GDP (Gula Darah Puasa). Pencegahan pada kasus DM dapat dibagi menjadi tiga
yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.

8
Daftar Pustaka

1. Putra IWGAE, Sutarga IM, Kardiwinata MP, Suariyani NLP, Septarini NW, Subrata
DIH. Penelitian uji diagnostik dan skrining [monograf internet]. 2016 [diakses pada 15
Juli 2019]. Tersedia di:
[Link]
[Link]
2. Kementrian Kesehatan RI. Info datin pusat data dan informasi data kementrian kesehatan
RI [monograf internet]. 2014 [diakses pada 15 Juli 2019]. Tersedia di:
[Link]
3. Siswosudarmo R. Tes diagnostik [monograf internet]. 2017 [diakses pada 15 Juli 2019].
Tersedia di: [Link]
[Link]
4. Rajab W. Buku ajar epidemiologi untuk mahasiswa kebidanan. Jakarta: EGC; 2008.
h.157-158.
5. Sastroasmoro S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: SagungSeto; 2011.
h.228-30.
6. Syahril. Diagnostic dan screening [monograf internet]. 2005 [diakses pada 15 Juli 2019].
Tersedia di: [Link]
7. Decroli E. Diabetes mellitus tipe 2 [monograf internet]. 2019 [diakses pada 15 Juli 2019].
Tersedia di:
[Link]
8. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes
mellitus tipe 2 di Indonesia 2015. Jakarta: PB Perkeni; 2015. h. 61-64

Anda mungkin juga menyukai