PROPOSAL PENELITIAN
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PELAKSANAAN SDIDTK ( STIMULASI DETEKSI
INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG)
OLEH TENAGA KESEHATAN
Oleh :
KRISTIANTI
NIM: P1337424518131
PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN MAGELANG
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2019
9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) adalah
suatu upaya pemantauan dan penjaringan melalui kegiatan pemeriksaan
pertumbuhan, perkembangan dan mental emosional pada anak untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan dan mencegah terjadinya
gangguan yang menetap dari pertumbuhan, perkembangan dan mental
emosional pada balita dan anak prasekolah.
Kegiatan ini termasuk salah satu program pokok puskesmas yang
dilakukan menyeluruh dan terkoordinasi, diselenggarakan dalam bentuk
kemitraan antara keluarga (orangtua, pengasuh anak dan anggota keluarga
lainnya), masyarakat (kader, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat)
dengan tenaga profesional. Manfaat Dilaksanakannya kegiatan SDIDTK
adalah untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang
pada balita dan anak pra sekolah sehingga dapat dilakukan intervensi sedini
mungkin untuk mengatasi penyimpangan tumbuh kembang tersebut.
Mengingat pentingnya kegiatan SDIDTK yaitu untuk menemukan
secara dini adanya penyimpangan dan mencegah terjadinya gangguan yang
menetap dari pertumbuhan, perkembangan dan mental emosional pada balita
dan anak prasekolah, sehingga apabila tidak dilakukan SDIDTK dapat
menghambat perkembangan yang seharusnya bisa diintervensi lebih dini
10
apabila ditemukan lebih awal sehingga periode emas untuk memberikan
intervensi dan stimulasi dini pada anak tersebut dapat digunakan secara
maksimal. Efek dilakukan kegiatan SDIDTK adalah menemukan secara dini
adanya penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan sehingga dapat
dilakukan intervensi sedini mungkin agar penyimpangan pertumbuhan dan
perkembangan yang dialami tidak menjadi kecacatan yang menetap. Kegiatan
SDIDTK tidak hanya dilakukan pada anak yang dicurigai mempunyai masalah
saja, tetapi harus dilakukan pada semua balita dan anak prasekolah secara
rutin setahun 2 kali sehingga pertumbuhan perkembangan anak optimal
(Soetjiningsih,2012).
Persentase pelayanan anak balita di Jawa Tengah tahun 2017 sebesar
86,2 %. Target pencapaian program SDIDTK di Kabupaten Banyumas adalah
80 % . Rata – rata cakupan SDIDTK balita dan anak pra sekolah pada Dinas
Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2017 adalah 61,5% dan tahun 2018
menurun menjadi 46,9% serta masih dibawah target. Cakupan SDIDTK
tertinggi di Puskesmas Kabupaten Banyumas tahun 2016 adalah 104% dan
terendah 3,06%. Tahun 2017 yang tertinggi adalah 112,3% dan terendah
13,9%. Cakupan SDIDTK di Puskesmas I Purwokerto Timur sebesar 97,4%.
Adapun dengan cakupan tersebut masih ditemukan adanya balita stunting di
wilayah kerja Puskesmas I Purwokerto Timur
Studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 15 bidan, dari 15
bidan tersebut 5 bidan mengatakan melakukan SDIDTK dengan alat yang
terbatas, 5 bidan mengatakan tugas bidan sangat banyak dan 5 bidan
11
mengatakan tidak melakukan SDIDTK secara lengkap karena keterbatasan
waktu. Secara Umum hasil studi pendahuluan menunjukkan hasil sebagai
berikut : Pelaksanaan SDIDTK tidak dilakukan secara lengkap meliputi
penimbangan berat badan,pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar
kepala, penilaian motorik kasar, motorik halus bicara dan bahasa serta
sosialisasi dan kemandirian, Peralatan yang digunakan untuk deteksi
penyimpangan perkembangan jumlahnya terbatas. Tugas Bidan di Puskemas
sangat banyak yaitu memberikan pelayanan kepada ibu,bayi, balita, anak
prasekolah dan remaja juga sebagai pelaksana program lain yang terkait
dengan kesehatan ibu dan anak, termasuk pembuatan laporan, Dalam
pelaksanaan SDIDTK, tidak ada umpan balik hasil supervise dari kepala
puskesmas maupun petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas telah melakukan berbagai
upaya dalam mengembangkan pelaksanaan SDIDTK di Puskesmas,antara lain
: Pelatihan SDIDTK bagi tenaga kesehatan (bidan) di Puskesmas Kabupaten
Banyumas sebanyak 248 bidan, Monitoring dan evaluasi tahunan pelayanan
SDIDTK balita dan anak prasekolah, Pengadaan buku pedoman SDIDTK,
Pengadaan formulir SDIDTK anak. Namun menurut Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas, target program SDIDTK masih belum terpenuhi, hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor individu meliputi
pengetahuan, umur, pendidikan, faktor organisasi meliputi sumber
daya/peralatan, supervisi dan faktor psikologis meliputi sikap,beban kerja,
dan motivasi.
12
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk
meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tenaga kesehatan dalam
pelaksanaan SDIDTK balita dan anak prasekolah di Puskesmas Kota
Administratif Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten Banyumas.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari Latar belakang di atas tentang pelayanan SDIDTK,
menunjukkan hasil sebagai berikut : Pelaksanaan SDIDTK tidak dilakukan
secara lengkap meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan,
pengukuran lingkar kepala, penilaian motorik kasar, motorik halus bicara dan
bahasa serta sosialisasi dan kemandirian, Peralatan yang digunakan untuk
deteksi penyimpangan perkembangan jumlahnya terbatas, Tugas Bidan di
Puskemas sangat banyak yaitu memberikan pelayanan kepada ibu, bayi, balita,
anak prasekolah dan remaja juga sebagai pelaksana program lain yang terkait
dengan kesehatan ibu dan anak, termasuk pembuatan laporan, Dalam
pelaksanaan SDIDTK, tidak ada umpan balik hasil supervise dari kepala
puskesmas maupun petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Oleh
karena ada pertentangan teori dan juga hasil penelitian sebelumnya serta
adanya fenomena yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Administratif
Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten banyumas, Peneliti merasa
perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor- faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan SDIDTK oleh Tenaga Kesehatan”
13
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Faktor- Faktor yang mempengaruhi
Pelaksanaan SDIDTK di wilayah kerja Puskesmas Kota Administratif
Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas kabupaten Banyumas
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi karakteristik tenaga kesehatan pelaksana
SDIDTK yang meliputi tingkat pendidikan , lama bekerja, Pelatihan
tentang SDIDTK
b. Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang
SDIDTK
c. Untuk mengidentifikasi beban kerja tenaga kesehatan ( Dokter, Bidan,
Perawat, Petugas Gizi )
d. Untuk mengidentifikasi ada atau tidak nya monitoring dan evaluasi
terhadap kegiatan SDIDTK
e. Menganalisis hubungan antara karakteristik tenaga kesehatan tentang
tingkat pendidikan dengan pelaksanaan SDIDTK
f. Menganalisis hubungan antara karakteristik Pelatihan SDIDTK
dengan pelaksanaan SDIDTK
g. Menganalisis hubungan antara karakteristik tenaga kesehatan tentang
lama bekerja dengan pelaksanaan SDIDTK
h. Menganalisis hubungan antara pengetahuan tenaga kesehatan dengan
pelaksanaan SDIDTK
14
[Link] hubungan antara beban kerja tenaga kesehatan dengan
pelaksanaan SDIDTK
[Link] hubungan antara monitoring dan evaluasi dengan
pelaksanaan SDIDTK
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam
melakukan penelitian di bidang kebidanan khususnya yang berhubungan
dengan SDIDTK.
2. Bagi Instansi
Bagi Instansi terkait di sini adalah Puskesmas Kota Administratif
Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten Banyumas untuk
mengetahui Identifikasi Tenaga Kesehatan mengenai Tingkat Pendidikan,
Lama Bekerja, dan Tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan pelatihan
tentang SDIDTK yang nantinya dapat mempengaruhi pelaksanaan
SDIDTK di wilayah kerja Puskesmas Kota Administratif Purwokerto yang
meliputi 7 Puskesmas Kabupaten Banyumas
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Ruang lingkup waktu Proposal penelitian ini dikerjakan sejak bulan
Desember 2018. Pelaksanaan penelitian hingga ujian hasil penelitian
dijadwalkan bulan Desember sampai bulan Maret 2019.
15
2. Ruang lingkup tempat Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas
Kota Administratif Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten
Banyumas yang berada di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.
3. Ruang lingkup materi Penelitian ini materi kebidanan yaitu tentang
kesehatan anak membahas tentang analisis pelaksanaan program SDIDTK
balita dan anak pra sekolah di Puskesmas DKK Banyumas dan jaringannya
melalui pendekatan pengorganisasian dan penggerakkan.
16
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
1. Pengertian
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan
berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang
membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak
menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai
dengan usianya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah
sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan
struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan
satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara
dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara
simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan,
perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf
pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan
sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi.
Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia
yang utuh.
17
2. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak.
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang
saling berkaitan.
a. Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan.
Setiap pertumbuhan disertai denganperubahan fungsi. Misalnya
perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai
pertumbuhan otak dan serabut saraf.
b. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan
perkembangan selanjutnya.
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap
perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai
contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri.
Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan
bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat.
Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan
menentukan perkembangan selanjutnya.
c. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang
berbeda.
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai
kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun
18
perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing
anak.
d. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan
pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar,
asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat
dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
e. Perkembangan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum
yang tetap, yaitu:
1) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian
menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).
2) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak
kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang
mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
3) Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur
dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik,
misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran
sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri
sebelum berjalan dan sebagainya.
19
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh Kembang Anak.
Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan
perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-
faktor tersebut antara lain:
a. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang
anak.
1) Ras/etnik atau bangsa.
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak
memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
Keluarga.
2) Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,
pendek, gemuk atau kurus.
3) Umur.
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa
prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
4) Jenis kelamin.
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih
cepat daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas,
pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
5) Genetik.
20
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu
potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa
kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak
seperti kerdil.
b. Faktor luar (ekstemal).
1) Faktor Prenatal
a) Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir
kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
b) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan
kongenital seperti club foot.
c) Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Amlnopterin, Thalldomid
dapat menyebabkan kelainan congenital seperti palatoskisis.
d) Endokrin
Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia,
kardiomegali, hiperplasia adrenal.
e) Radiasi
Paparan radium dan sinar Rontgen dapat
mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina
21
bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan
kongential mata, kelainan jantung.
f) Infeksi
lnfeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH
(Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks)
dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli,
mikros efali, retardasi mental dan kelainanjantung kongenital.
g) Kelainan imunologi
Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan
golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk
antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui
plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan
menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan
hiperbilirubinemia dan Kem icterus yang akan menyebabkan
kerusakan jaringan otak.
h) Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi
plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.
i) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan
salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
2) Faktor Persalinan
22
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala,
asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
3) Faktor Pasca Persalinan
a) Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan
yang adekuat.
b) Penyakit kronis/ kelainan kongenital, Tuberkulosis, anemia,
kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi
pertumbuhan jasmani.
Lingkungan fisis dan kimia.
c) Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut
hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak
(provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya
sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb,
Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap
pertumbuhan anak.
d) Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak
yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu
merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam
pertumbuhan dan perkembangannya.
e) Endokrin
23
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid
akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
f) Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan
makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan,
akan menghambat pertumbuhan anak.
g) Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat
mempengaruhi tumbuh kembang anak.
h) Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi
khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan,
sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain
terhadap kegiatan anak.
i) Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan
menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan
pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang
menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.
4) Aspek-aspek perkembangan yang dipantau.
24
a) Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang
berhubungan dengan kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar
seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
b) Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang
berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan
yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan
oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang
cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan
sebagainya.
c) Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang
berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons
terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah
dan sebagainya.
d) Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri,
membereskan mainan selesai bermain}, berpisah dengan
ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya, dan sebagainya.
e) Periode Tumbuh Kembang Anak.
Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling
berkaitan dan berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi
25
sampai [Link] kembang anak terbagi dalam
beberapa periode yaitu Masa prenatal, Janin dalam
kandungan,Masa bayi 0-12 bulan, Masa anak Balita 12 - 60
bulan, Masa pra sekolah 60- 72 bulan.
B. SDIDTK.( Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang)
1. Pengertian
SDIDTK adalah pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi,deteksi dini dan
intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada masa 5 tahun
pertama kehidupan. Diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara
keluarga,masyarakat dengan tenaga profesional (kesehatan,pendidikan dan
sosial). Indikator keberhasilan program SDIDTK adalah 90% balita dan
anak pra sekolah terjangkau oleh kegiatan SDIDTK pada tahun 2010.
Tujuan agar semua balita umur 0–5 tahun dan anak prasekolah umur 5-6
tahun tumbuh dan berkembang secara optimal.
2. Ruang Lingkup Kegiatan SDIDTK
Kegiatan SDIDTK ( Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh kembang )yang meliputi :
a. Stimulasi dini yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar
perkembangan kemampuan gerak, bicara, bahasa, sosialisasi dan
kemandirian anak berlangsung secara optimal sesuai usia anak
26
b. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu
melakukan skrining atau mendeteksi sejak dini terhadap kemungkinan
adanya penyimpangan tumbuh kembang anak balita
c. Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi dengan memanfaatkan
plastisitas otak anak untuk memperbaiki bila ada penyimpangan
tumbuh kembang dengan tujuan agar pertumbuhan dan perkembangan
anak kembali kejalur normal dan penyimpangannya tidak menjadi lebih
berat
d. Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila
masalah penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi meskipun
sudah dilakukan intervensi dini
3. Umur anak dalam pendeteksian SDIDTK
Tidak semua umur anak bisa dilakukan pendeteksian. Anak bisa
dideteksi ketika memasuki umur 0 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12
bulan, 15 bulan, 18 bulan, 21 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42
bulan, 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan, dan 72 bulan. Usia ini
adalah standar usia yang telah ditetapkan.
Jadwal atau waktu pendeteksian anak yaitu :
a. Anak umur 0 – 1 tahun = 1 bulan sekali
b. Anak umur > 1 – 3 tahun = 3 bulan sekali
c. Anak umur > 3 – 6 tahun = 6 bulan sekali
27
Jika umur si anak belum memasuki usia standar pemeriksaan
maka jangan dilakukan pendeteksian, namun tunggu si anak mencapai usia
yang ditentukan. Misal jika si anak lahir tanggal 12 Agustus 2009, maka
waktu yang tepat untuk pendeteksiannya adalah :
a. Hitung umur si anak saat ini, dalam contoh anak lahir tanggal 12
Agustus 2009 maka saat ini (12 Juni 2013) usia si anak adalah 46 bulan.
Dalam standar usia pendeteksian, 46 bulan tidak termasuk standar usia
pendeteksian, sedangkan menurut standar usia adalah 48 bulan. Maka si
anak baru bisa di deteksi 2 bulan kedepan atau 60 hari kedepan yaitu
pada tanggal 11 atau 12 Agustus 2013.
b. Satu bulan dihitung 30 hari.
c. Toleransi kelebihan usia anak pada saat pendeteksian dari usia standar
adalah 29 hari kedepan.
4. Tenaga yang melakukan stimulasi
Stimulasi perlu dilakukan menurut aturan yang benar seperti
anjuran para ahli, stimulasi yang salah dapat menyebabkan pembentukan
anak yang menyimpang. Oleh karena itu stimulasi sebaiknya dilakukan
oleh orang-orang terdekat dengan anak yang telah mendapat pengertian
tentang cara memberi stimulasi yang benar, misal: ayah, ibu, pengasuh,
anggota keluarga lain dengan menggunakan timbangan dacin, metelin,
KMS , petugas kesehatan menggunakan timbangan, mikrotois (alat
pengukur tinggi badan ), Pita Pengukur Lingkar Kepala, Tabel BB/TB,
28
Grafik Lingkar kepala dan kelompok masyarakat tertentu, misal kader
kesehatan atau kader pendidikan.
5. Prinsip-prinsip dasar dalam menstimulasi anak
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan para pendidik,
pengasuh dan orang tua, yaitu:
a. Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar sesuai petunjuk
tenaga kesehatan yang menangani bidang tumbuh kembang anak.
b. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang
terhadap anak.
c. Selalu menunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru
tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
d. Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
e. Dunia anak dunia bermain, oleh karena itu lakukanlah stimulasi dengan
cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang
menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman.
f. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
g. Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada
disekitar kita.
h. Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.
6. Jenis Skrining / Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang
Jenis kegiatan deteksi atau disebut juga skrining, dalam SDIDTK
adalah sebagai berikut :
29
a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dengan cara mengukur Berat
Badan (BB), Tinggi Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK).
b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu meliputi
1) Pendeteksian menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP)
2) Tes Daya Lihat ( TDL )
3) Tes Daya Dengar ( TDD )
c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional yaitu menggunakan :
1) Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME)
2) Check List for Autism in Toddlers (CHAT) atau Cek lis Deteksi
Dini Autis
3) Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
C. Tingkat Pendidikan
1. Pengertian Tingkat Pendidikan
Tingkat atau jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang
berkelanjutan, yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan
peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan
bahan pengajaran (Ihsan, 2016).
Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
menjelaskan bahwa indikator tingkat pendidikan terdiri dari jenjang
pendidikan dan kesesuaian jurusan. Jenjang pendidikan adalah tahapan
pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta
30
didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan,
yaitu terdiri dari:
a. Pendidikan dasar
Jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama
masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan
menengah.
Pendidikan dasar terdiri dari :
1) Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah
2) SMP atau MTs
Menurut Ihsan (2016) Pendidikan dasar diselenggarakan
untuk memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam
masyarakat, berupa pengembangan sikap, Pengetahuan, dan
keterampilan dasar
b. Pendidikan Menengah
Jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan
menengah terdiri dari:
1) SMA dan MA
2) SMK dan MAK
Menurut Ihsan (2016) Pendidikan menengah dalam
hubungan kebawah berfungsi sebagai lanjutan dan perluasan
pendidikan dasar. Adapun dalam hubungan keatas mempersiapkan
31
peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi ataupun memasuki
lapangan kerja.
c. Pendidikan tinggi
Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang
mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Pendidikan tinggi terdiri atas:
1) Akademik
2) Institut
3) Sekolah Tinggi
Menurut Ihsan (2016) Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan
dari pendidikan menengah, yang diselenggarakan untuk menyiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan/ atau profesional yang dapat menerapkan,
mengembangkan dan/ atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi
dan/atau kesenian.
Dari uraian diatas jenjang persekolahan atau tingkat-tingkat
yang ada pada pendidikan formal dimengerti bahwa pendidikan
merupakan proses yang berkelanjutan. Oleh karena itu setiap jenjang
atau tingkat pendidikan itu harus dilaksanakan secara tertib, dalam
arti tidak bisa terbalik penempatannya. Setiap jenjang atau tingkatan
mempunyai tujuan dan materi pelajaran yang berbeda-beda.
32
Perbedaan luas dan kedalaman materi ajaran tersebut jelas akan
membawa pengaruh terhadap kualitas lulusannya, baik ditinjau dari
segi pengetahuan, kemampuan, sikap maupun kepribadiannya.
Manusia memerlukan pengetahuan, ketrampilan, penguasaan
teknologi, dan dapat mandiri memalui pendidikan. Produktivitas
kerja memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan penguasaan
teknologi. Sehingga dengan adanya tingkat pendidikan karyawan
maka kinerja karyawan akan menjadi lebih baik dan tujuan dari
perusahaan akan tercapai dengan sempurna (Uyoh, 2006).
2. Faktor yang Memperngaruhi Tingkat Pendidikan
Faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan menurut
Hasbullah (2003) adalah sebagai berikut
a. Ideologi
Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama
khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan
pengetahuan dan pendidikan.
b. Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan
seseorang mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
33
c. Sosial Budaya
Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan
pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya.
d. Perkembangan IPTEK
Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui
pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.
e. Psikologi
Konseptual pendidikan merupakan alat untuk
mengembangkan kepribadian individu agar lebih bernilai.
Menurut Green (2008) bahwa tingkat pendidikan seseorang akan
berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang
datang dari luar, mereka yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan
memberi respon yang rasional daripada mereka yang berpendidikan
rendah. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi diharapkan lebih
peka terhadap kondisi keselamatannya, sehingga lebih baik dalam
memanfaatkan fasilitas keselamatan (Green, 2008)
D. Masa Kerja
1. Definisi Masa Kerja
Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga
kerja itu bekerja disuatu tempat (Tarwaka,2010). Masa kerja merupakan
salah satu alat yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang,
34
dengan melihat masa kerjanya kita dapat mengetahui telah berapa lama
seseorang bekerja dan kita dapat menilai sejauh mana pengalamannya
(Bachori, 2006).
Siagian (2008) menyatakan bahwa masa kerja menunjukan
berapa lama seseorang bekerja pada masing-masing pekerjaan atau
jabatan. Kreitner dan Kinicki (2014) menyatakan bahwa masa kerja
yang lama akan cenderung membuat seorang pegawai lebih merasa
betah dalam suatu organisasi, hal ini disebabkan diantaranya karena
telah beradaptasi dengan lingkungan yang cukup lama sehingga seorang
pekerja akan merasa nyaman dengan pekerjaannya. Penyebab lain juga
dikarenakan adanya kebijakan dari instansi atau perusahaan mengenai
jaminan hidup di hari tua.
Pengalaman untuk kewaspadaan terhadap kecelakaan
bertambah sesuai dengan usia, masa kerja di perusahaan dan lamanya
bekerja ditempat kerja yang bersangkutan. Tenaga kerja yang baru
biasanya belum mengetahui secara mendalam pekerjaan dan
keselamatannya, selain itu tenaga kerja baru mementingkan selesainya
sejumlah pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Dalam suatu
perusahaan pekerja-pekerja baru yang kurang pengalaman sering
mendapat kecelakaan sehingga perhatian khusus perlu diberikan kepada
mereka. Lama kerja seseorang dapat dikaitkan dengan pengalaman
yang didapatkan di tempat kerja. Semakin lama seorang pekerja
35
semakin banyak pengalaman dan semakin tinggi pengetahuannya dan
ketrampilannya. Masa kerja yang lebih lama menunjukkan pengalaman
yang lebih seseorang dibandingkan dengan rekan kerja lainnya,
sehingga sering masa kerja/pengalaman kerja menjadi pertimbangan
sebuah perusahaan dalam mencari pekerja. (Rivai, 2009).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi masa kerja masa kerja
Menurut Hani (2017), faktor-faktor yang mempengaruhi masa
kerja diantaranya:
a. Tingkat kepuasan kerja
b. Stres lingkungan kerja
c. Pengembangan karir
d. Kompensasi hasil kerja
3. Kategori Masa Kerja
Masa kerja menurut Hani (2017) dikategorikan menjadi dua,
meliputi:
a. Masa kerja kategori baru ≤3 tahun
b. Masa kerja kategori lama > 3 tahun
E. Pelatihan SDIDTK
1. Pengertian Pelatihan SDIDTK
36
Pelatihan SDIDTK adalah serangkaian aktivitas individu dalam
meningkatkan keahlian dan pengetahuan secara sistematis dalam
pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas
melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan
tumbuh kembang pada masa 5 tahun pertama kehidupan
2. Tujuan Pelatihan SDIDTK
a. Semua balita umur 0 – 5 tahun dan anak prasekolah umur 5 – 6 tahun
mendapatkan pelayanan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh
kembang agar tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi
yang dimilikinya.
b. Terselenggaranya kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak baik di fasilitas kesehatan, PAUD dan Lembaga
Sosial
3. Latar Belakang Pelatihan SDIDTK
Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar
10% dari seluruh populasi, maka sebagai calon generasi penerus bangsa,
kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian
serius yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi yang memadai serta
terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi dan
intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang sehingga dapat tumbuh
dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya dan
mampu bersaing di era global (Depkes RI, 2012). Program Stimulasi,
37
Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) merupakan revisi
dari program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) yang telah dilakukan
sejak tahun 1988 dan termasuk salah satu program pokok Puskesmas.
Kegiatan ini dilakukan menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan
dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan
anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, organisasi profesi, lembaga
swadaya masyarakat) dengan tenaga professional. Pemerintah telah
melakukan beberapa upaya dalam mendukung pelaksanaan SDIDTK. Salah
satu program pemerintah untuk menunjang upaya tersebut adalah
diterbitkannya buku Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.
Upaya lain yang dilakukan adalah pelatihan SDIDTK bagi tenaga kesehatan
baik di kabupaten, kota maupun di Puskesmas (Irmawati, 2007). Melalui
kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan pertumbuhan anak
seperti gizi buruk dapat dicegah, karena sebelum anak jatuh dalam kondisi
gizi buruk, penyimpangan pertumbuhan yang terjadi pada anak dapat
terdeteksi melalui kegiatan SDIDTK. Selain mencegah terjadinya
penyimpangan pertumbuhan, kegiatan SDIDTK juga mencegah terjadinya
2 penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional
(Depkes RI, 2012). Deteksi dini melalui kegiatan SDIDTK sangat diperlukan
untuk menemukan secara dini penyimpangan pertumbuhan,
penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional pada
anak sehingga dapat dilakukan intervensi dan stimulasi sedini mungkin
38
untuk mencegah terjadinya penyimpangan pertumbuhan, penyimpangan
perkembangan dan penyimpangan mental emosional yang menetap.
Kegiatan SDIDTK tidak hanya dilakukan pada anak yang dicurigai
mempunyai masalah saja tetapi harus dilakukan pada semua balita dan
anak pra sekolah secara rutin setahun 2 kali (Depkes RI, 2012)
a. Kriteria Peserta Pelatihan SDIDTK
Penanggung jawab Program SDIDTK di Puskesmas adalah
seorang tenaga kesehatan yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas dan
bertanggung jawab mengelola program dan pencapaian tujuan
program SDIDTK di Puskesmas dan jaringannya, termasuk
meningkatkan cakupan sesuai target tahunan yang telah ditetapkan.
b. Waktu Pelaksanaan SDIDTK
Pelatihan SDIDTK dilakasnakan setiap 1 tahun sekali
c. Dana pelatihan SDIDTK
Dana Pelatihan di bebankan pada Dana APBN ( BOK ) tahun
yang berjalan
d. Materi Pelatihan SDIDTK
Materi Pelatihan meliputi :
1) Pertumbuhan dan perkembangan anak
2) Penerapan SDIDTK di puskesmas
3) Deteksi dini tumbuh kembang anak ,yang meliputi :
a) Deteksi dini gangguan pertumbuhan
b) Deteksi Dini penyimpangan perkembangan
39
40
F. Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manula, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,
telingan, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan
sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar
pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga),
dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek
mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda – beda (Notoatmodjo,
2010).
2. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari
pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang disadari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan ([Link] dan Dewi M, 2014:12)
Secara Garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recaal) sesuatu yang spesifik dari seluruh
1
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab
itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,
menyatakan, dan sebagainya ([Link] dan Dewi M, 2014:12-13)
b. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut
harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang
diketahui tersebut (Notoatmojo, 2010:51)
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek
yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain (Notoatmojo, 2010:51)
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan
dan/ atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara
komponen – komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau
objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah
sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat
membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat
2
diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut
(Notoatmojo,2010:51)
e. Sistensis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk
merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari
komponen – komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain,
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi – formulasi yang telah ada (Notoatmojo,2010:51-52)
[Link] (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.
Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau norma – norma yang berlaku di masyarakat
(Notoatmojo,2010:52)
3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut ([Link] dan Dewi M, 2014:14-15) Cara memperoleh
pengetahuan adalah sebagai berikut :
a. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan
1) Cara coba salah (Trial and Error)
3
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan
mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba ini salah ini
dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil
maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut
dapat dipecahkan.
2) Cara kukuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-
pimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli agama,
pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang
menerima mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu
atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris
maupun penalaran sendiri.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi masa lalu.
b. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular
atau disebut metode penelitian.
4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
4
Menurut ([Link] dan Dewi M, 2014:16-18) Faktor- faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah :
a. Faktor Internal
1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang
terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita – cita
tertentu yang menentukan manusia untuk membuat dan mengisi
kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal
yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidup. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga
perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi
untuk sikap berperan serta dalam membangun (Nursalam, 2003)
pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi.
2) Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003),
pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan
5
bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara
mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak
tantangan.
3) Umur
Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia
adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai
berulang tahun. Sedangkan menurut Hunclock (1998) semakin
cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dan berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan
masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang
yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari
pengalaman dan kematangan jiwa.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor Lingkungan
Menurut [Link] yang dikutip dari (Nursalam,2003)
lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia
dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
perilaku orang atau kelompok.
2) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.
5. Kriteria Tingkat Pengetahuan
6
Menurut penelitian Setyasari Putri (2013) Tingkat pengetahuan
dengan menganalisa jawaban yang benar sesuai kunci jawaban diberikan
nilai 1 dan bila jawaban salah atau tidak sesuai diberikan nilai 0, dengan
rumus :
Ʃ = x/y x 100
Keterangan :
Ʃ : hasil prosentase
x : jumlah jawaban benar
y : total item pertanyaan
Menurut Arikunto (2006) dikutip dalam ([Link] dan Dewi M,
2014:18) Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan
dengan skala yang bersifat kualitatif :
a. Baik : Hasil presentase 76-100%
b. Cukup : Hasil presentase 56-75%
c. Kurang : Hasil presentase >56%
Cara untuk mendapatkan tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner.
G. Beban Kerja
Beban kerja adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing
jenis pekerjaan dalam jangka waktu tertentu. (Moekijat, 2010). Salah satu
7
metode perhitungan tenaga kesehatan adalah metode estimasi beban kerja
yaitu suatu metode penyusunan kebutuhan berdasarkan Indicator of
Staff Needed (ISN). Metode ISN ini adalah metode untuk menetapkan jumlah
tenaga berdasarkan jenis kegiatan dan volume pelayanan pada suatu unit
atau institusi. Dengan metode estimasi beban kerja setiap tenaga kesehatan
mempunyai beban kerja efektif sekitar 80% dari waktu kerja sebulan. Waktu
kerja normal perminggunya (6 hari kerja) adalah 37,5 jam sehingga jumlah
jam kerja rata-rata dalam satu hari adalah 6,25 jam. Jadi jumlah jam kerja
dalam satu bulan (24 hari kerja) adalah 6,25 jam x 24 hari = 150 jam
perbulan. Dimana waktu kerja waktu efektif adalah waktu yang sungguh-
sungguh digunakan secara efektif oleh tenaga kesehatan dalam
melaksanakan tugasnya yaitu 80% dari waktu kerja sebulan 150 jam (0,8 x
150 jam = 120 jam/bulan).
Berdasarkan uraian tersebut maka apabila beban kerja seorang
tenaga kesehatan dengan tugas dan fungsi tertentu berada pada ukuran
standar 120 sampai 150 jam perbulan berarti tidak diperlukan tambahan
tenaga pada tugas yang sama. Tetapi apabila beban kerja tenaga kesehatan
dengan tugas dan fungsi-fungsi tertentu berada dibawah ukuran standar
maka tenaga kesehatan tersebut perlu diberikan tugas tambahan sehingga
beban kerja dapat maksimal. Penambahan tenaga kesehatan hanya
diperlukan jika beban kerja melebihi standar dan tidak bisa lagi dibagi dengan
tenaga lain pada unit tersebut
8
1. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja
Terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi beban kerja setiap
tenaga kesehatan yaitu:
a. Tugas Pokok Tenaga Kesehatan
Tugas Pokok adalah tugas yang harus dikerjakan oleh seorang
tenaga kesehatan berdasarkan prosedur tetap yang ada pada
puskesmas. Rincian tugas pokok tenaga kesehatan di puskesmas
sebagai berikut :
1) Tugas Pokok Tenaga Dokter
Melakukan pelayanan umum, melakukan tindakan medik
dan UGD, kunjungan pada pasien rawat inap, menerima dan
melakukan rujukan, melaksanakan penyuluhan kesehatan kepada
masyarakat, melakukan catatan medik, dan membuat rencana
kerja tahunan.
2) Tugas Pokok Tenaga Bidan
Melaksanakan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak,
melaksanakan pelayanan KB, melaksanakan pertolongan
persalinan normal perawatan nifas (PNC), melaksanakan
pelayanan kesehatan bayi dan anak.
3) Tugas Pokok Perawat
9
Melaksanakan asuhan keperawatan dan evaluasi
keperawatan, dan melakukan kunjungan pembinaan individu/
keluarga/ masyarakat
4) Tugas Pokok Tenaga Pelaksana Gizi
Melaksanakan pelayanan gizi, melatih kader gizi,
menyusun standar dietik dan informasi gizi, pemberian vitamin,
membuat pencatatan dan laporan, menghitung stok Yodiol,
membuat laporan posyandu, membuat jadwal puskesmas keliling.
b. Tugas Tambahan
Tugas tambahan merupakan bagian dari pekerjaan dan
dikerjakan seperti halnya tugas utama. Namun akan menjadikan
beban kerja meningkat jika tugas tambahan lebih banyak sehingga
menjadikan tanggungan pekerjaan yang harus dikerjakan menjadi
lebih besar. Dapat juga terjadi sebaliknya yakni dengan tugas
tambahan beban kerja meningkat tetapi tetap sesuai dengan standar
karena tingkat produktivitas menjadi lebih optimal. Tugas tambahan
tenaga kesehatan pada puskesmas sebagai berikut :
1) Tugas Tambahan Tenaga Dokter
Membuat Laporan kegiatan bulanan, menghadiri
pertemuan, melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan
manajemen puskesmas, melakukan kordinasi lintas program,
melakukan supervisi program.
10
2) Tugas Tambahan Tenaga Bidan
Membuat laporan kegiatan bulanan, melakukan bimbingan
teknis pada Bidan di desa , menghadiri pertemuan.
3) Tugas Tambahan Perawat
Membuat Laporan kegiatan bulanan, menghadiri
pertemuan, membimbing siswa perawat.
4) Tugas Pokok Tenaga Pelaksana Gizi
Membuat laporan kegiatan bulanan, menghadiri
pertemuan (rapat, seminar, pelatihan), penyuluhan
c. Waktu Kerja
Waktu kerja adalah lamanya seseorang bekerja dalam
seharinya. Setiap tenaga kesehatan mempunyai waktu kerja normal
tiap minggunya 37,5 - 40 jam, sehingga jumlah jam kerja rata-ratanya
dalam satu hari adalah 6,25 – 6,67. Jadi dalam satu bulan jumlah jam
kerja adalah 150 –160 jam (24 hari kerja). Dimana waktu kerja efektif
adalah waktu yang sungguh-sungguh digunakan untuk bekerja secara
efektif oleh tenaga kesehatan yaitu 80% dari waktu kerja sebulan (150
jam) atau sama dengan 0,8 x 150 jam =120 jam perbulan. ( Depkes RI,
1999). Jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan
adalah sama dengan jumlah keempat waktu berikut :
1) Waktu yang sungguh-sungguh dipergunakan untuk bekerja, yakni
waktu yang di pergunakan dalam kegiatan-kegiatan yang langsung
11
berhubungan dengan produksi yang disebut waktu lingkaran (cycle
time atau cyclical time) atau waktu baku /dasar.
2) Waktu yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang tidak
langsung berhubungan dengan produksi yang disebut waktu
bukan lingkaran (Non Cyclical Time).
3) Waktu untuk menghilangkan kelelahan (Fatique Time).
4) Waktu untuk keperluan pribadi (Personal Time).
H. Monitoring
1. Pengertian monitoring
Monitoring adalah pengawasan kegiatan secara rutin untuk menilai
pencapaian program terhadap target melalui pengumpulan data mengenai
input, proses dan output secara regular dan terus-menerus. Evaluasi adalah
suatu proses untuk membuat penilaian secara sistematik, untuk keperluan
pemangku kepentingan, mengenai suatu kebijakan, program, upaya atau
kegiatan berdasarkan informasi dan hasil analisis yang dibandingkan
dengan relevansi, efektifitas biaya dan keberhasilan. Data pemantauan
yang baik sering menjadi titik awal bagi suatu evaluasi. Secara ringkas,
evaluasi adalah piranti untuk menjawab “Apakah tujuan tercapai atau tidak
dan mengapa?”. Evaluasi pencapaian kegiatan dilakukan secara berkala
(tahunan, tiga- atau lima-tahunan) yang dibandingkan dengan target, serta
identifikasi masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan untuk perbaikan
untuk perioda berikutnya.
12
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang mulai dari
tingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota, dan Puskesmas dan jaringannya.
Di bawah ini diuraikan aspek pokok Monitoringdan evaluasi upaya
program SDIDTK di setiap tingkat, yang masih perlu dijabarkan lebih lanjut.
2. Tingkatan Monitoring
a. Tingkat Pusat.
1) Melakukan Monitoring dan evaluasi serta bimbingan teknis
program SDIDTK dalam pelayanan kesehatan anak.
2) Melakukan pembahasan program SDIDTK dalam rapat konsolidasi
teknis program kesehatan keluarga.
3) Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk memberikan
advokasi, asistensi dan fasilitasi kepada Pemerintah Daerah.
4) Mengadakan pertemuan evaluasi tahunan program SDIDTK
b. Tingkat Propinsi
1) Melakukan Monitoring dan evaluasi serta bimbingan teknis
program SDIDTK dalam pelayanan kesehatan anak.
2) Memasukan pembahasan SDIDTK dalam raker kesehatan daerah
(Rakerkesda) Program Kesehatan keluarga.
3) Menggunakan hasil Monitoringdan evaluasi untuk:
a) Advokasi kepada penentu kebijakan
b) Melakukan asistensi dan fasilitasi kepada kabupaten/kota
dan layanan kesehatan terkait.
13
4) Mengadakan pertemuan secara evaluasi tahunan program SDIDTK
c. Tingkat Kabupaten/Kota
1) Melakukan Monitoringdan evaluasi, serta bimbingan teknis
program SDIDTK dalam pelayanan kesehatan anak.
2) Memasukan pembahasan SDIDTK dalam Rakerkesda Program
Kesehatan keluarga.
3) Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk:
a. Advokasi kepada penentu kebijakan.
b. Asistensi dan fasilitasi kepada layanan dan jejaringnya.
4) Mengadakan pertemuan evaluasi tahunan program SDIDTK.
d. Tingkat Puskesmas
1) Melakukan Monitoring melalui PWS KIA.
2) Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk melakukan
bimbingan teknis kepada jaringan dan (Posyandu,PAUD dll) dan
untuk advokasi kepada penentu kebijakan.
3) Pertemuan evaluasi secara berkala:
a. Puskesmas dan jaringannya tiap bulan (Minilokakarya);
b. Puskesmas dengan lintas sektor tiap triwulan.
14
Pertemuan bulanan di tingkat puskesmas (lokakarya mini) dapat
dimanfaatkan untuk memonitor pelaksanaan kegiatan DDTK di posyandu,
puskesmas pembantu, puskesmas, Pos Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) dan sebagainya
Dalam memonitor hasil kegiatan DDTK, laporan bulanan kegiatan
DDTK diolah dan dianalisa, sehingga setiap puskesmas akan mempunyai
data hasil kegiatan DDTK per desa, per bulan yang mellputi cakupan
kontak pertama DDTK; dan jumlah anak yang tingkat perkembangannya
sesuai dan yang menyimpang.
Evaluasi kegiatan DDTK anak di puskesmas dan jaringannya
dilaksanakan dengan cara mengkaji data sekunder laporan tahunan hasil
kegiatan DDTK, diantaranya dengan membandingkan hasil cakupan
DDTK anak tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.
Evaluasi kegiatan SDIDTK dilakukan akhir tahun dengan
mengolah dan menganalisa laporan tahunan Puskesmas. Data yang dilihat
adalah data cakupan kontak pertama SDIDTK, cakupan SDIDTK bayi 4
kali setahun, cakupan balita dan anak pra sekolah 2 kali setahun dan
persentase anak yang tingkat perkembangannya sesuai (S), meragukan (M)
atau dengan penyimpangan (P). Evaluasi kegiatan SDIDTK di Puskesmas
dan jaringannya dilakukan dengan cara mengkaji data sekunder laporan
tahunan hasil kegiatan SDIDTK, diantaranya dengan membandingkan
hasil cakupan SDIDTK tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.
15
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep/kerangka berfikir merupakan dasar pemikiran pada
penelitian yang dirumuskan dari fakta-fakta observasi dan tinjauan pustaka.
Uraian dalam kerangka konsep menjelaskan hubungan dan keterkaitan antar
variable penelitian. Kerangka konsep penelitian dituliskan dalam bentangan
variable bebas dan terikat dengan didukung semua variable pengganggu dalam
bentuk bagan, sehingga jelas hubungan antar variabelnya. (Setiawan, Ari &
Saryono,2011:54-55)
Kerangka konsep pada penelitian ini adalah :
1 .Karakteristik Tenaga
Kesehatan,Dokter,Bidan,Petugas
Gizi, meliputi tingkat pendidikan,
Lama bekerja, Pelatihan tentang
SDIDTK
Pelaksanaan SDIDTK
2. Tingkat pengetahuan Tenaga
Kesehatan
3. Beban Kerja Tenaga
Kesehatan,Dokter,Bidan,Perawat,
Variabel Independent
Petugas Gizi
4. Monitoring dan Evaluasi
Variabel Independen Variabel Dependent
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
16
B. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian.
Hipotesis dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variable yaitu
variable bebas dan variable terikat. Hipotesis berfungsi untuk menentukan
kearah pembuktian, artinya hipotesis ini merupakan pertanyaan yang harus
dibuktikan. (Notoatmodjo,2014:84).
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian antara lain
hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variable x dan variable y,
sedangkan hipotesis nol yaitu menyatakan tidak ada perbedaan antara dua
variable, atau tidak adanya pengaruh variable x terhadap variable y. (Setiawan,
Ari & Saryono, 2011:60-61).
Ha (Hipotesis Alternatif) merupakan hipotesis kerja yang menyatakan
adanya hubungan, pengaruh antara variabel X dan Y, atau ada perbedaan
antara dua kelompok (Arikunto, 2013:113).Ho (Hipotesis Nol/Nihil)
merupakan hipotesis statistik yang menyatakan tidak adanya pengaruh antara
variabel X dan Y, atau tidak ada perbedaan antara dua variabel (Arikunto,
2013:112).
Dalam penelitian ini hipotesis alternatif nya adalah
1. Ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan meliputi tingkat pendidikan
dengan pelaksanaan SDIDTK,
2. Ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan meliputi lama bekerja
dengan pelaksanaan SDIDTK,
17
3. Ada hubungan karakteristik tenaga kesehtan meliputi pelatihan tentang
SDIDTK dengan pelaksanaan SDIDTK
4. Ada hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan dengan
pelaksanaan SDIDTK,
5. Ada hubungan beban kerja tenaga kesehatan dengan pelaksanaan
SDIDTK,
6. Ada hubungan monitoring evaluasi dengan Pelaksanaan SDIDTK.
C. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah analitik
korelasi (Correlation) hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala
satu dengan gejala yang lain, atau variabel satu dengan variabel yang lain
(Notoatmodjo, 2012:47). Penelitian analitik korelasi yang berusaha untuk
membuktikan apakah ada hubungan Karakteristik tenaga kesehatan meliputi
umur, lama bekerja, pengetahuan dan beban kerja tenaga, monitoring evaluasi
dengan Pelaksanaan SDIDTK.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional adalah
suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor
resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data
sekaligus pada suatu saat (point of approach), artinya; tiap subjek penelitian
hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap
status/karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo,2012
: 37-38).
18
D. Variabel Penelitian
Variable merupakan gejala yang menjadi focus dalam penelitian.
Variable menunjukkan atribut dari sekelompok orang atau objek yang
mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu.
(Setiawan, Ari & Saryono, 2011: 100)
1. Variable bebas (Independent)
Variable bebas merupakan variable yang menjadi sebab timbulnya
atau berubahnya variable dependent (terikat). Sehingga variable
independent dapat dikatakan sebagai variable yang mempengaruhi.
(Setiawan, Ari & Saryono, 2011:100)Variable independent dalam
penelitian ini adalah Karateristik Tenaga Kesehatan meliputi tingkat
pendidikan, lama bekerja, pelatihan SDIDTK, tingkat pengetahuan
tentang SDIDTK, Beban Kerja Tenaga Kesehatan, Monitoring dan
Evaluasi
2. Variable Terikat (Dependent)
Variable Dependent merupakan variable yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat karena adanya variable independent (bebas)
(Setiawan, Ari&Saryono,2011:101)Variable dependent dalampenelitian ini
adalah Pelaksanaan SDIDTK oleh Tenaga Kesehatan
19
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Alat ukur Skala Kriteria
(instrument)
Tingkat Tingkat pendidikan kuisioner ordinal 1. Rendah :
Pendidikan yang di tenpuh dan SD,SMP,S
di selesaikan oleh MA (
tenaga kesehatan menengah
dibuktikan dengan ke bawah )
mendapatkan ijazah 2. Tinggi :
Diploma,Se
kolah Tinggi
Lama Jumlah jangka waktu kuisioner Ordinal 1. Baru : ≤
bekerja bekerja dari pertama 3 tahun
kali bekerja sampai 1. Lama
sekarang. :>3 tahun
(Noerdiansah, 2010)
Pelatihan Salah satu metode kuisioner Ordinal 1. Sudah :
SDIDTK untuk meningkatkan Petugas
kapasitas kesehatan
perawat,bidan,petuga yang sudah
s gizi dalam mendapat
menerapkan SDIDTK pelatihan
sehingga kualitas dan SDIDTK
kompentensi tetap minimal 5
terjaga tahun
terakhir
2. Belum :
petugas
kesehatan
yang belum
mendapat
pelatihan /
sudah
mendapat
pelatihan
lebih dari 5
tahun
terakhir
20
Tingkat Adalahkemampuan Kuesioner Ordinal Parameter:
pengetahuan responden untuk Skor yang
menjawab benar didapatkan
pertanyaan tentang dari jawaban
SDIDTK meliputi responden
pengertian SDIDTK, yang benar
Cara melakukan sesuai
SDIDTK berdasarkan dengan
kelompok umur kunci
jawaban dari
pertanyaan
dalam
kuesioner
1 = Kurang
bila skor
<56%
2 = Sedang
bila 56% -
75%
3 = Baik
bila skor
76% -100%
Beban Kerja Beban Kerja adalah kuisioner Ordinal 1. Se
beban tenaga su
kesehatan tentang ai
tugas yang harus di d
laksanakan sesuai e
dengan tupoksi ( n
tugas pokok dan g
fungsi )di buktikan a
dengan suatu Surat n
Keputusan / Surat tu
penugasan p
o
ks
i
2. Tid
a
Monitoring Pengawasan Kuisioner Ordinal k
dan Evaluasi pelaksanaan kegiatan se
SDIDTK yang di su
sertai penilaian ai
pelaksanaan kualitas tu
21
dilihat dari cakupan p
o
ks
i
d
a
n
a
d
a
tu
g
as
ta
m
Pelaksanaan Tenaga Kesehatan Kuisioner Ordinal b
SDIDTK melakukan a
pemeriksaan h
SDIDTK sesuai a
dengan jenis deteksi n
tumbuh kembang se
yang harus dilakukan la
in
tu
p
o
ks
i
1. Baik :
Bila
dilakukan
monitoring
dan Evaluasi
setiap 3 dan
6 bulan
sekali
2. Kurang :
Bila tidak
22
dilakukan
Monitoring
dan Evaluasi
Setiap 3 dan
6 bulan
sekali
1. Baik bila
tenaga
kesehatan
melakukan
pemeriksaan
sesuai
dengan jenis
tumbuh
kembang
yang harus
dilakukan
2. Kurang.
bila tenaga
kesehatan
tidak
melakukan
pemeriksaan
sesuai
dengan jenis
tumbuh
kembang
yang harus
dilakukan
F. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu penelitian
Penelitian ini rencananya akan dilakukan pada bulan sampai Maret 2019.
23
2. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan Puskesmas dalam wilayah kerja Kotip
Purwokerto Kabupaten Banyumas
G. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2015;h.61)
Populasi dalam penelitian ini adalah Tenaga kesehatan yang
melakukan SDIDTK (Dokter, Perawat, Bidan, Petugas Gizi) di Puskesmas
dalam wilayah kerja Kota Administrtif Purwokerto Kabupaten yang
meliputi 6 Puskemas Kabupaten Banyumas sebanyak 103 orang dengan
rincian sebagai berikut:
No Nama Puskesmas Dokter Bidan Perawat Petugas Gizi
1 Purwokerto Utara 1 2 6 4 1
2 Purwokerto Utara 2 3 4 3 2
3 Purwokerto Timur 1 3 9 6 1
4 Purwokerto Timur 2 3 4 5 1
5 Purwokerto Barat 3 11 5 2
6 Purwokerto Selatan 4 11 6 1
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
24
oleh populasi. Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul
representative (mewakili) (Sugiyono, 2015;h.62)
Berdasarkan perhitungan jumlah sampel dalam penelitian ini dapatdihitung
menggunakan rumus Slovin yaitu :
n = N / (1 + (N x e²)
Keterangan :
N :Jumlah sampel minimal
N : Jumlah populasi
E :Error margin, misalnya derajat kepercayaan 95 % maka tingkat
kesalahan adalah 5%
Sehingga dapatkan perhitungan sampel yang akan digunakan
dalampenelitian ini yaitu :
n = N / 1+ Ne²)
n = 103/1+ 103 x 0,05²
n = 103/ 1 + 103 x 0,0025
n = 103/ 1 + 0,26
n = 103/1,26
n = 82,4
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 82 orang
3. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun
penentuan Sampelnyamemperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam
25
populasi. Dalam Penelitian ini populasi terbagi ke dalam empat bagian (
Dokter, Bidan, Perawat, dan petugas Gizi) yang masing - masing
berjumlah :
Dokter : 18 orang
Bidan : 48 orang
Perawat : 29 orang,
Petugas Gizi : 8 orang
Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masing bagian
tersebut ditentukan kembali dengan rumus
n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan
Dokter : 18 /103 x 82 =14,3 di bulatkan menjadi 14
Bidan : 48 /103 x 82 = 38,2 di bulatkan menjadi 38
Perawat : 29 /103 x 82 = 23
Petugas Gizi : 8 /103 x 82 = 7,3 di bulatkan menjadi 7
Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 14 + 38 + 23 + 7 =
82 sampel.
Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah
heterogen (tidak sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam profesi tenaga
kesehatan sehingga besaran sampel pada masing-masing strata atau
kelompok diambil secara proporsional
H. Teknik penentuan sampel (teknik sempling)
26
Teknik penentuan sampel adalah teknik pengambilan sempel.
Untuk menentukan sampel dalam penelitian terdapat berbagai teknik
sampling yang digunakan (Sugiyono, 201;h.62)
Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya maka
sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi dan
eksklusi. Kriteria inklusi yaitu kriteria atau ciri-ciri yang perlu di penuhi
setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan
kriteria eksklusif merupakan ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat
diambil sampel (Notoatmodjo, 2010;h.130).
Kriteria Inklusi = tenaga kesehatan tersebut bersedia menjadi responden
Kriteria eksklusi = tenaga kesehatan yang tidak berada di tempat
I. Teknik Pengumpulan dan Jenis Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:
a. Persiapan
Meminta rekomendasi prodi untuk perizinan penelitian. Pada
saat prosedur administrasi, peneliti mengurus surat studi pendahuluan
penelitian di Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes
Semarang untuk dilanjutkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas
dalam rangka untuk memperoleh ijin penelitian, kemudian peneliti
menyampaikan surat studi pendahuluan di Puskesmas I Purwokerto
Timur dan Puskesmas II Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas.
27
b. Pelaksanaan
1) Peneliti memohon ijin kepada Kepala Puskesmas yang wilayahnya
akan digunakan sebagai sampel dan setelah mendapat ijin peneliti
menemui bidan koordinator untuk meminta data yang diperlukan.
2) Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan penelitian kepada
bidan koordinator.
3) Peneliti melakukan proses pengambilan data dengan
mengumpulkan dan berdasarkan catatan buku laporan mengenai
pelaksanaan SDIDTK di Puskesmas serta memberikan kuesioner
kepada responden.
4) Memindahkan data kedalam format pengumpulan data.
5) Memindahkan data dari format pengumpulan data ke dalam format
pengolahan data atau master table
2. Jenis Data
Berdasarkan sumber datanya, maka pengumpulan data dapat berasal
dari sumber data primer dan sumber data sekunder.
1. Data primer
Data primer merupakan data yang secara langsung diambil dari
obyek atau obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi
(Korumpis,2012 : 14 ) Dari penelitian ini menggunakan kuesioner untuk
mendapatkan data tentang:
a. Tingkat pendidikan tenaga kesehatan
b. Lama bekerja tenaga kesehatan
c. Pelatihan SDIDTK yang pernah diikuti tenaga kesehatan
28
d. Tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentangSDIDTK (Stimulasi
Dini Intervensi Dini Tumbuh Kembang) .
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang secara tidak langsung didapatkan
dari obyek penelitian (Korumpis,2012:14). Dalam penelitian ini data
sekunder yang digunakan yaitu diambil dari Profil Kesehatan Kabupaten
Banyumas, Data berupa Laporan kesehatan Anak dan Gizi dari
Puskesmas wilayah Kota Administratif Purwokerto Kabupaten Banyumas
J. Instrumen/ alat Penelitian
Instrument penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data. Instrument penelitian ini dapat berupa: kuesioner (daftar
pertanyaan), formulir observasi, formulir-formulir lain yang berkaitan dengan
pencatatan data dan sebagainya. (Notoatmodjo,2018:87)
Instrument dalam penelitian ini menggunakan lembar kuesioner yang
berisi pertanyaan yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan tentang
SDIDTK. Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup yaitu
dengan simbol-simbol atau kode tertentu, biasanya dalam bentuk angka untuk
setiap jawaban yang diberikan responden (Imron, 2010)
Variable independent dalam penelitian ini adalah Karateristik Tenaga
Kesehatan meliputi tingkat pendidikan, lama bekerja, pelatihan SDIDTK,
tingkat pengetahuan tentang SDIDTK, Beban Kerja Tenaga Kesehatan,
Monitoring dan Evaluasi
29
menggunakan kuesioner sejumlah 13 pertanyaan.
Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner tingkat pengetahuan tentang SDIDTK
Pernyataan [Link]
Pengertian SDIDTK 1
Ruang Lingkup SDIDTK 2,3
Jenis Skrining SDIDTK 4,5,6
Pelaksanaan SDIDTK 7,8,9,10,11,12,13
Tabel 3.4 Kisi-kisi kuisioner Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan SDIDTK
Pernyataan [Link]
Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan 1,2,3,4,5,6,
SDIDTK
Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner tingkat pengetahuan tentang SDIDTK
No. Soal
Pokok Bahasan
Favourable unvourable
Pengertian SDIDTK 1
Ruang Lingkup SDIDTK 2,3
Jenis Skrining SDIDTK 4,5, 6
30
Pelaksanaan SDIDTK 7,12, 8,9,10,11
K. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas
Validitas adalah indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar
mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2013;h.211).
Dalam penelitian ini menggunakan instrument lembar kuesioner
pengetahuan tenaga kesehatan tentang SDIDTK. Menurut Notoatmodjo
(2012;h.164) syarat penting yang berlaku pada kuesioner yaitu keharusan
sebuah kuesioner untuk valid dan reliable. Validitas merupakan suatu
ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu
instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas
tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berati mempunyaai
validitas rendah (Arikunto, 2010)
Cara mengukur validitas suatu instrument (dalam penelitian ini
kuesioner) dilakukan dengan cara melakukan korelasi antara skor
masing-masing variable dengan skor totalnya. Suatu variable
(pertanyaan) dikatakan valid bila skor variable tersebut berkorelasi secara
signifikan denagn skor totalnya. Untuk mengetahui apakah nilai korelasi
tiap-tiap pertanyaan itu signifikan maka perlu dilihat pada table nilai
product moment (Notoatmodjo,2012;h.164).
Macam-macam validitas yaitu validitas kontruk, validitas isi, dan
validitas eksternal. Untuk menguji validitas kontruk dapat menggunakan
31
pendapat dari ahli (judgement expert), instrumen dikonstruksikan tentang
aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu.
Untuk instrumen yang berbentuk tes, maka pengujian validitas isi
dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan
materi pelajaran yang diajarkan. Validitas eksternal instrumen diuji
dengan cara membandingkan antara kinerja yang ada pada instrumen
dengan fakta empiris yang terjadi dilapangan.(Sugiono,2007)
Dalam penelitian ini untuk uji validitas kuisioner digunakan dengan
cara menggunakan pendapat ahli (judgement expert), Kuisioner ini akan
dikonsultasikan kepada para pembimbing sebagai [Link] ahli diminta
pendapatnya tentang kuesioner yang telah disusun, jumlah ahli yang
digunakan minimal 1 orang yang sesuai dengan lingkup yang diteliti.
Para ahli disini adalah dosen atau bidan. Dari judgement expert tersebut,
apabila ada beberapa pertanyaan yang harus direvisi, kemudian telah
dilakukan perbaikan pada pertanyaan tersebut.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas memilki berbagai nama lain seperti keterpercayaan,
kehandalan, kestabilan. Tujuan pengujian realiabilitas adalah untuk
melihat, apakah instrument penelitian merupakan instrument yang
handal dan dapat dipercaya. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana
hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan
pengukuran dua kali atau lebih terhadapa gejala yang sama, dengan
menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012;h.168).
32
Menurut Sugiyono (2009: 183-184), pengujian reliabilitas instrument
dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal
dilakukan dengan test-retest(stability), equivalent, dan gabungan
keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji dengan
menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrument dengan
teknik tertentu. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji realibilitas karena
keterbatasan waktu sehingga tidak dilakukan uji realibilitas.
L. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data
1. Teknik pengolahan data
Pengolahan data merupakan hal yang penting dalam sebuah
penelitiankarena data yang diperoleh oleh peneliti masih mentah, belum
memberikan informasi dan belum siap untuk disajikan,
untukmemperolehhasil dan kesimpulan yang baik, maka diperlukan
pengolahan data(Notoatmodjo,2018:171)
Proses pengolahan data ini melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Memeriksa data (Editing)
Editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian
seperti formulir atau kuesioner. Hasil wawancara, angket, atau
pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing)
terlebih dahulu. Apabila terdapat jawaban-jawaban yang belum
lengkap bisa dilakukan pengambilan data ulang bila memungkinkan,
33
tetapi bila tidak memungkinkan, maka data yang belum lengkap tadi
tidak dimasukkan kedalam pengolahan data (Notoatmodjo,2018:176)
Peneliti melakukan pengecekan ulang saat responden selesai
mengisi kuesioner terutama bila ada identitas yang belum lengkap
seperti nama yang belum lengkap, alamat, atau tulisan yang tidak jelas
dibaca, sehingga saat dilakukan olah data, data sudah lengkap dan
tidak ada kesalahan.
b. Scoring
Skoring pada penelitian ini yaitu :
Pada pengetahuan :
Jika jawaban benar =1
Jika jawaban salah =0
Pada Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan SDIDTK :
Ya =1
Tidak =2
Pada Pelaksanaan SDIDTK
Dilaksanakan =1
Tidak Dilaksanakan =2
c. Memberi Kode (Coding)
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya
dilakukan peng”kodean” atau “Coding” yakni mengubah data
34
berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
Koding atau pemberian kode ini sangat berguna dalam memasukkan
data (data entry). (Notoatmodjo,2018:177)
Coding angka diberikan pada masing-masing jawaban dengan kode
berupa angka. Jawaban yang benar sesuai kunci jawaban diberikan
kode 1 dan bila jawaban salah atau tidak sesuai kunci jawaban maka
diberikan kode 0. Kuesioner yang dibagikan tidak ada bentuk
pertanyaan negative karena akan menyulitkan responden. Kategori
tingkat pengetahuan diberi kode 0 untuk tingkat pengetahuan kurang,
kode 1 untuk tingkat pengetahuan sedang, dan kode 2 untuk tingkat
pengetahuan [Link] adalah mengubah data berbentuk kalimat
atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
d. Memasukkan data (Data Entry) atau Processing
Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden
yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan kedalam
program atau software computer. (Notoatmodjo,2018:177).
Data-data yang asli kemudian dientry terlebih dahulu supaya
lebih mudah saat melakukan uji statistic, dimulai dari kode
[Link] di sajikan dalam bentuk tabel frekwensi kumulatif dan
prosentase.
e. Pembersihan data (Cleaning)
35
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden
selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-
kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan,
dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
(Notoatmodjo,2018:177-178)
Setelah data masuk maka dilakukan pengecekan kembali untuk
melihat adanya kesalahan saat entry dengan cara mencocokkan
kembali menggunakan kuesioner. Setelah itu dilakukan pembuatan
tabel distribusi frekuensi dari masing-masing variabel untuk
mengetahui kesalahan saat memasukkan data.
2. Analisis Data
Setelah dilakukan pengumpulan maka komponen variable
penelitian yang dapat dilakukan analisis adalah :
a. Analisis Univariat (Analisis Diskriptif)
Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian. Bentuk
analisis univariat tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik
digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar deviasi. Pada
umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi
dan presentase dari setiap variable. (Notoatmodjo,2018:182)
Dalam penelitian ini menggunakan analisis univariate untuk
Mendiskripsikan karakteristik Tenaga Kesehatan (umur,tingkat
36
pengetahuan,lama kerja), beban kerja dan monitoring evaluasi dengan
pelaksanaan SDIDTK oleh Tenaga Kesehatan ( Dokter, Perawat,
Bidan dan Petugas Gizi)
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariate yang dilakukan terhadap dua variable yang
diduga berhubungan atau berkorelasi.(Notoatmodjo,2018:183) Analisis
bivariate dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik
Tenaga Kesehatan (tingkat pendidikan, lama bekerja, pelatihan
SDIDTK, tingkat pengetahuan), beban kerja dan monitoring evaluasi
dengan pelaksanaan SDIDTK oleh tenaga kesehatan (Dokter, Perawat,
Bidan dan Petugas Gizi) di Puskesmas dalam Wilayah Kerja Kota
administratif Purwokerto Kabupaten Banyumas
Pada penelitian ini menggunakan skala data kategorik (ordinal),
sampel tidak berpasangan, jumlah sampel 82 responden,hipotesis
assosiatif, maka uji statistiknya adalah Kendal Tau dengan α = 0,05
hipotesis diterima apabila hasil p value ≤ 0,05 maka ada hubungan
karakteristik tenaga kesehatan meliputi Tingkat pendidikan dengan
pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan
meliputi lama bekerja dengan pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan
karakteristik tenaga kesehatan meliputi Pelatihan SDIDTK dengan
pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan Pengetahuan Tenaga kesehatan
dengan pelaksanaan SDIDTK, Ada Hubungan Beban Kerja dengan
pelaksanaan SDIDTK, Ada hubungan Monitoring dan Evaluasi dengan
37
Pelaksanaan [Link] diolah menggunakan program atau
software computer.
M. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data
1. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan menggunakan komputerisasi. Menurut
Notoatmodjo (2012; h.176-177) rancanga analisis data hasil penelitian
dirumuskan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Editing atau mengedit data
Merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian
formulir atau kuesioner. Dalam penelitian semua responden menjawab
semua pertanyaan yang di kuesioner. Yang sebelumnya dilakukan
skoring terlebih dahulu.
b. Scoring
Skoring pada penelitian ini yaitu :
Pada pengetahuan :
Jika jawaban benar =1
Jika jawaban salah =0
Pada Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan SDIDTK :
Ya =1
Tidak =2
Pada Pelaksanaan SDIDTK
38
Dilaksanakan =1
Tidak Dilaksanakan =2
c. Coding
Coding adalah mengubah data berbentuk kalimat atau huruf
menjadi data angka atau bilangan.
Pada pengetahuan :
1. Baik, 76-100% diberi kode =2
2. Cukup, 56-75% diberi kode =1
3. Kurang, nilai <56% diberi kode =0
d. Tabulating
Tabulating adalah membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan
penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti
e. Data Entry (memasukkan data)
Memasukkan data yang telah dilakukan coding ke dalam program
komputerisasi. Dalam penelitian ini menggunakan perangkat komputer.
2. Analisa Data
a. Analisa Univariate
Menurut Notoatmodjo (2012 hal.182) analisis univariate
bertujuan untuk menjelaskan atau mendiskripsikan karakteristik setiap
variable penelitian. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-
rata, median dan standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini
39
hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap
variable.
b. Analisa Bivariate
Analisa bivariate apabila telah dilakukan analisis univariate
hasilnya akan diketahui karakteristik atau distribusi setiap variable, dan
dapat melanjutkan anlisis bivariate (Notoatmodjo, 2012 hal.183).
Menganalisis data secara bivariat untuk menguji hubungan
antara karakteristik tenaga kesehatan tentang tingkat pendidikan
dengan pelaksanaan SDIDTK, hubungan antara karakteristik Pelatihan
SDIDTK dengan pelaksanaan SDIDTK, hubungan antara
karakteristik tenaga kesehatan tentang lama bekerja dengan
pelaksanaan SDIDTK, hubungan antara pengetahuan tenaga kesehatan
dengan pelaksanaan SDIDTK dengan Kendal Tau dengan α = 0,05
hipotesis diterima apabila hasil p value ≤ 0,05 maka ada hubungan
karakteristik tenaga kesehatan meliputi Tingkat pendidikan dengan
pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan
meliputi lama bekerja dengan pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan
karakteristik tenaga kesehatan meliputi Pelatihan SDIDTK dengan
pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan Pengetahuan Tenaga kesehatan
dengan pelaksanaan SDIDTK, Ada Hubungan Beban Kerja dengan
pelaksanaan SDIDTK, Ada hubungan Monitoring dan Evaluasi dengan
Pelaksanaan [Link] diolah menggunakan program atau software
computer. (Sugiyono,2017;hal.153)
40
N. Etika Penelitian
1. Informed Consent (Lembar persetujuan Menjadi Responden)
Informed Consent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Semua
informasi harus ada dalam informed consent tersebut sehingga responden
dapat memutuskan bersedia ataupun menolak untuk menjadi sampel
penelitian. (Setiawan, Ari&Saryono,2011:130-131)
Pada penelitian ini dijelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan
penelitian, bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh responden, dan
apa keuntungan serta kerugiannya, kemudian menjelaskan kriteria inklusi
dan kriteria eksklusi. Setelah responden mengerti dan bersedia menjadi
responden, informed consent tersebut diberikan kepada responden,
kemudian responden akan memutuskan sendiri untuk bersedia ataupun
menolak untuk menjadi responden.
2. Anonymity
Anonymity yaitu tidak mencantumkan nama responden pada
lembar observasi. Hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data
atau hasil penelitian yang akan disampaikan. (Setiawan,
Ari&Saryono,2011:131)
Dalam penelitian ini pada format pengkajian nama responden tidak
ditulis dengan nama lengkap, namun dengan menggunakan inisial.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
41
Confidentiality adalah semua informasi yang telah dikumpulkan
dijaminkerahasiaannyaoleh peneliti. (Setiawan, Ari&Saryono,2011:131)
Setiap orang mempunyai hak-hak dasar individu termasuk privasi
dan kebebasan individu dalam memberikan informasi. Setiap orang berhak
untuk tidak memberikan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Oleh
sebab itu, peneliti tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas
dan kerahasiaan identitas subjek. Peneliti cukup menggunakan coding
sebagai pengganti identitas responden. (Notoatmodjo,2018:203)
Dalam penulisan identitas responden seperti nama ditulis dengan
menggunakan inisial dan peneliti juga merahasiakan riwayat responden
ataupun hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan kepada responden
O. Jadwal Penelitian
Tabel 3. 2. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Oktober November Desember Januari Februari Maret
1 Penyusunan
proposal
2 Sidangproposal
3 Perizinan
4 Pelaksanaan
penelitian
5 Pengolahan data,
analisis dan
penyusunan laporan
6 Sidang hasil
42
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. 2016. Profil Kesehatan Kabupaten
Banyumas Tahun 2016. Banyumas: Dinkes Kabupaten Banyumas
Dahlan, Muhammad Sopiyudin. 2014. Satistitik untuk Kedokteran dan Kesehatan.
Jakarta : Epidemiologi Indonesia.
43
Kemenkes RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Diakses dari
[Link]
indonesia/[Link]. pada tanggal 2 September
2018.
Kemenkes RI. 2012. Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil. Jakarta : Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes RI. 2016. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Kementrian
Kesehatan dan JICA (Japan International Cooperation Agency), 1997.
Mahmud. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Mustika Setia.
Meneg PP. 2013. Angka Kematian Ibu di Indonesia Tertinggi. (online) Diakses
dari http;//[Link] [Link], pada tanggal 12 September 2018).
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, S. 2014. Promosi Kesehatan, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Sugiyono, 2017. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
Wawan A.,M Dewi. 2011. Teori Pengukuran, Sikap, dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta : Nuha Medika
Kementrian Kesehatan [Link] Pelaksanaan Stimulasi,Deteksi dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak
Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional
44
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Evaluasi dan
Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Tinjauan PP Nomor. 39 Tahun 2006, Paparan Direktorat Otonomi Daerah
Bappenas di Hotel Takashimaya, Lembang,10 Februari 2011.
Kementrian Pendidikan RI.2003. UU sistem pendidikan Nasional tahun 2003
Ikhsan, F. 2016. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Aulia, S. A. 2016. Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Motivasi Kerja Terhadap
Produktivitas Kerja Karyawan.
Depatemen tenaga kerja . UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
45