0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan77 halaman

Faktor Pengaruh Pelaksanaan SDIDTK

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Proposal penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Kota Administratif Purwokerto dan tujuannya adalah mengidentifikasi faktor-faktor tersebut.

Diunggah oleh

DPA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan77 halaman

Faktor Pengaruh Pelaksanaan SDIDTK

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Proposal penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Kota Administratif Purwokerto dan tujuannya adalah mengidentifikasi faktor-faktor tersebut.

Diunggah oleh

DPA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PELAKSANAAN SDIDTK ( STIMULASI DETEKSI
INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG)
OLEH TENAGA KESEHATAN

Oleh :
KRISTIANTI
NIM: P1337424518131

PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN MAGELANG


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2019

9
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) adalah

suatu upaya pemantauan dan penjaringan melalui kegiatan pemeriksaan

pertumbuhan, perkembangan dan mental emosional pada anak untuk

menemukan secara dini adanya penyimpangan dan mencegah terjadinya

gangguan yang menetap dari pertumbuhan, perkembangan dan mental

emosional pada balita dan anak prasekolah.

Kegiatan ini termasuk salah satu program pokok puskesmas yang

dilakukan menyeluruh dan terkoordinasi, diselenggarakan dalam bentuk

kemitraan antara keluarga (orangtua, pengasuh anak dan anggota keluarga

lainnya), masyarakat (kader, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat)

dengan tenaga profesional. Manfaat Dilaksanakannya kegiatan SDIDTK

adalah untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang

pada balita dan anak pra sekolah sehingga dapat dilakukan intervensi sedini

mungkin untuk mengatasi penyimpangan tumbuh kembang tersebut.

Mengingat pentingnya kegiatan SDIDTK yaitu untuk menemukan

secara dini adanya penyimpangan dan mencegah terjadinya gangguan yang

menetap dari pertumbuhan, perkembangan dan mental emosional pada balita

dan anak prasekolah, sehingga apabila tidak dilakukan SDIDTK dapat

menghambat perkembangan yang seharusnya bisa diintervensi lebih dini

10
apabila ditemukan lebih awal sehingga periode emas untuk memberikan

intervensi dan stimulasi dini pada anak tersebut dapat digunakan secara

maksimal. Efek dilakukan kegiatan SDIDTK adalah menemukan secara dini

adanya penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan sehingga dapat

dilakukan intervensi sedini mungkin agar penyimpangan pertumbuhan dan

perkembangan yang dialami tidak menjadi kecacatan yang menetap. Kegiatan

SDIDTK tidak hanya dilakukan pada anak yang dicurigai mempunyai masalah

saja, tetapi harus dilakukan pada semua balita dan anak prasekolah secara

rutin setahun 2 kali sehingga pertumbuhan perkembangan anak optimal

(Soetjiningsih,2012).

Persentase pelayanan anak balita di Jawa Tengah tahun 2017 sebesar

86,2 %. Target pencapaian program SDIDTK di Kabupaten Banyumas adalah

80 % . Rata – rata cakupan SDIDTK balita dan anak pra sekolah pada Dinas

Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2017 adalah 61,5% dan tahun 2018

menurun menjadi 46,9% serta masih dibawah target. Cakupan SDIDTK

tertinggi di Puskesmas Kabupaten Banyumas tahun 2016 adalah 104% dan

terendah 3,06%. Tahun 2017 yang tertinggi adalah 112,3% dan terendah

13,9%. Cakupan SDIDTK di Puskesmas I Purwokerto Timur sebesar 97,4%.

Adapun dengan cakupan tersebut masih ditemukan adanya balita stunting di

wilayah kerja Puskesmas I Purwokerto Timur

Studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 15 bidan, dari 15

bidan tersebut 5 bidan mengatakan melakukan SDIDTK dengan alat yang

terbatas, 5 bidan mengatakan tugas bidan sangat banyak dan 5 bidan

11
mengatakan tidak melakukan SDIDTK secara lengkap karena keterbatasan

waktu. Secara Umum hasil studi pendahuluan menunjukkan hasil sebagai

berikut : Pelaksanaan SDIDTK tidak dilakukan secara lengkap meliputi

penimbangan berat badan,pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar

kepala, penilaian motorik kasar, motorik halus bicara dan bahasa serta

sosialisasi dan kemandirian, Peralatan yang digunakan untuk deteksi

penyimpangan perkembangan jumlahnya terbatas. Tugas Bidan di Puskemas

sangat banyak yaitu memberikan pelayanan kepada ibu,bayi, balita, anak

prasekolah dan remaja juga sebagai pelaksana program lain yang terkait

dengan kesehatan ibu dan anak, termasuk pembuatan laporan, Dalam

pelaksanaan SDIDTK, tidak ada umpan balik hasil supervise dari kepala

puskesmas maupun petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas telah melakukan berbagai

upaya dalam mengembangkan pelaksanaan SDIDTK di Puskesmas,antara lain

: Pelatihan SDIDTK bagi tenaga kesehatan (bidan) di Puskesmas Kabupaten

Banyumas sebanyak 248 bidan, Monitoring dan evaluasi tahunan pelayanan

SDIDTK balita dan anak prasekolah, Pengadaan buku pedoman SDIDTK,

Pengadaan formulir SDIDTK anak. Namun menurut Dinas Kesehatan

Kabupaten Banyumas, target program SDIDTK masih belum terpenuhi, hal ini

dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor individu meliputi

pengetahuan, umur, pendidikan, faktor organisasi meliputi sumber

daya/peralatan, supervisi dan faktor psikologis meliputi sikap,beban kerja,

dan motivasi.

12
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk

meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tenaga kesehatan dalam

pelaksanaan SDIDTK balita dan anak prasekolah di Puskesmas Kota

Administratif Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten Banyumas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari Latar belakang di atas tentang pelayanan SDIDTK,

menunjukkan hasil sebagai berikut : Pelaksanaan SDIDTK tidak dilakukan

secara lengkap meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan,

pengukuran lingkar kepala, penilaian motorik kasar, motorik halus bicara dan

bahasa serta sosialisasi dan kemandirian, Peralatan yang digunakan untuk

deteksi penyimpangan perkembangan jumlahnya terbatas, Tugas Bidan di

Puskemas sangat banyak yaitu memberikan pelayanan kepada ibu, bayi, balita,

anak prasekolah dan remaja juga sebagai pelaksana program lain yang terkait

dengan kesehatan ibu dan anak, termasuk pembuatan laporan, Dalam

pelaksanaan SDIDTK, tidak ada umpan balik hasil supervise dari kepala

puskesmas maupun petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Oleh

karena ada pertentangan teori dan juga hasil penelitian sebelumnya serta

adanya fenomena yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Administratif

Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten banyumas, Peneliti merasa

perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor- faktor yang

mempengaruhi pelaksanaan SDIDTK oleh Tenaga Kesehatan”

13
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor- Faktor yang mempengaruhi

Pelaksanaan SDIDTK di wilayah kerja Puskesmas Kota Administratif

Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas kabupaten Banyumas

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengidentifikasi karakteristik tenaga kesehatan pelaksana

SDIDTK yang meliputi tingkat pendidikan , lama bekerja, Pelatihan

tentang SDIDTK

b. Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang

SDIDTK

c. Untuk mengidentifikasi beban kerja tenaga kesehatan ( Dokter, Bidan,

Perawat, Petugas Gizi )

d. Untuk mengidentifikasi ada atau tidak nya monitoring dan evaluasi

terhadap kegiatan SDIDTK

e. Menganalisis hubungan antara karakteristik tenaga kesehatan tentang

tingkat pendidikan dengan pelaksanaan SDIDTK

f. Menganalisis hubungan antara karakteristik Pelatihan SDIDTK

dengan pelaksanaan SDIDTK

g. Menganalisis hubungan antara karakteristik tenaga kesehatan tentang

lama bekerja dengan pelaksanaan SDIDTK

h. Menganalisis hubungan antara pengetahuan tenaga kesehatan dengan

pelaksanaan SDIDTK

14
[Link] hubungan antara beban kerja tenaga kesehatan dengan

pelaksanaan SDIDTK

[Link] hubungan antara monitoring dan evaluasi dengan

pelaksanaan SDIDTK

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam

melakukan penelitian di bidang kebidanan khususnya yang berhubungan

dengan SDIDTK.

2. Bagi Instansi

Bagi Instansi terkait di sini adalah Puskesmas Kota Administratif

Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten Banyumas untuk

mengetahui Identifikasi Tenaga Kesehatan mengenai Tingkat Pendidikan,

Lama Bekerja, dan Tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan pelatihan

tentang SDIDTK yang nantinya dapat mempengaruhi pelaksanaan

SDIDTK di wilayah kerja Puskesmas Kota Administratif Purwokerto yang

meliputi 7 Puskesmas Kabupaten Banyumas

E. Ruang Lingkup Penelitian

1. Ruang lingkup waktu Proposal penelitian ini dikerjakan sejak bulan

Desember 2018. Pelaksanaan penelitian hingga ujian hasil penelitian

dijadwalkan bulan Desember sampai bulan Maret 2019.

15
2. Ruang lingkup tempat Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas

Kota Administratif Purwokerto yang meliputi 7 Puskesmas Kabupaten

Banyumas yang berada di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.

3. Ruang lingkup materi Penelitian ini materi kebidanan yaitu tentang

kesehatan anak membahas tentang analisis pelaksanaan program SDIDTK

balita dan anak pra sekolah di Puskesmas DKK Banyumas dan jaringannya

melalui pendekatan pengorganisasian dan penggerakkan.

16
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

1. Pengertian

Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan

berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang

membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak

menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai

dengan usianya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah

sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan

struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan

satuan panjang dan berat.

Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh

yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara

dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara

simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan,

perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf

pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan

sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi.

Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia

yang utuh.

17
2. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak.

Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang

saling berkaitan.

a. Perkembangan menimbulkan perubahan.

Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan.

Setiap pertumbuhan disertai denganperubahan fungsi. Misalnya

perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai

pertumbuhan otak dan serabut saraf.

b. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan

perkembangan selanjutnya.

Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap

perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai

contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri.

Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan

bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat.

Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan

menentukan perkembangan selanjutnya.

c. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang

berbeda.

Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai

kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun

18
perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing

anak.

d. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.

Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan

pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar,

asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat

dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.

e. Perkembangan mempunyai pola yang tetap.

Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum

yang tetap, yaitu:

1) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian

menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).

2) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak

kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang

mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).

Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

3) Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur

dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik,

misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran

sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri

sebelum berjalan dan sebagainya.

19
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh Kembang Anak.

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan

perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-

faktor tersebut antara lain:

a. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang

anak.

1) Ras/etnik atau bangsa.

Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak

memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.

Keluarga.

2) Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,

pendek, gemuk atau kurus.

3) Umur.

Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa

prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

4) Jenis kelamin.

Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih

cepat daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas,

pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

5) Genetik.

20
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu

potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa

kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak

seperti kerdil.

b. Faktor luar (ekstemal).

1) Faktor Prenatal

a) Gizi

Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir

kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.

b) Mekanis

Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan

kongenital seperti club foot.

c) Toksin/zat kimia

Beberapa obat-obatan seperti Amlnopterin, Thalldomid

dapat menyebabkan kelainan congenital seperti palatoskisis.

d) Endokrin

Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia,

kardiomegali, hiperplasia adrenal.

e) Radiasi

Paparan radium dan sinar Rontgen dapat

mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina

21
bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan

kongential mata, kelainan jantung.

f) Infeksi

lnfeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH

(Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks)

dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli,

mikros efali, retardasi mental dan kelainanjantung kongenital.

g) Kelainan imunologi

Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan

golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk

antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui

plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan

menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan

hiperbilirubinemia dan Kem icterus yang akan menyebabkan

kerusakan jaringan otak.

h) Anoksia embrio

Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi

plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.

i) Psikologi ibu

Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan

salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

2) Faktor Persalinan

22
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala,

asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.

3) Faktor Pasca Persalinan

a) Gizi

Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan

yang adekuat.

b) Penyakit kronis/ kelainan kongenital, Tuberkulosis, anemia,

kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi

pertumbuhan jasmani.

Lingkungan fisis dan kimia.

c) Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut

hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak

(provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya

sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb,

Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap

pertumbuhan anak.

d) Psikologis

Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak

yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu

merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam

pertumbuhan dan perkembangannya.

e) Endokrin

23
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid

akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

f) Sosio-ekonomi

Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan

makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan,

akan menghambat pertumbuhan anak.

g) Lingkungan pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat

mempengaruhi tumbuh kembang anak.

h) Stimulasi

Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi

khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan,

sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain

terhadap kegiatan anak.

i) Obat-obatan

Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan

menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan

pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang

menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

4) Aspek-aspek perkembangan yang dipantau.

24
a) Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang

berhubungan dengan kemampuan anak melakukan

pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar

seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.

b) Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang

berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan

yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan

oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang

cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan

sebagainya.

c) Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang

berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons

terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah

dan sebagainya.

d) Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan

dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri,

membereskan mainan selesai bermain}, berpisah dengan

ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan

lingkungannya, dan sebagainya.

e) Periode Tumbuh Kembang Anak.

Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling

berkaitan dan berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi

25
sampai [Link] kembang anak terbagi dalam

beberapa periode yaitu Masa prenatal, Janin dalam

kandungan,Masa bayi 0-12 bulan, Masa anak Balita 12 - 60

bulan, Masa pra sekolah 60- 72 bulan.

B. SDIDTK.( Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang)

1. Pengertian

SDIDTK adalah pembinaan tumbuh kembang anak secara

komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi,deteksi dini dan

intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada masa 5 tahun

pertama kehidupan. Diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara

keluarga,masyarakat dengan tenaga profesional (kesehatan,pendidikan dan

sosial). Indikator keberhasilan program SDIDTK adalah 90% balita dan

anak pra sekolah terjangkau oleh kegiatan SDIDTK pada tahun 2010.

Tujuan agar semua balita umur 0–5 tahun dan anak prasekolah umur 5-6

tahun tumbuh dan berkembang secara optimal.

2. Ruang Lingkup Kegiatan SDIDTK

Kegiatan SDIDTK ( Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini

Tumbuh kembang )yang meliputi :

a. Stimulasi dini yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar

perkembangan kemampuan gerak, bicara, bahasa, sosialisasi dan

kemandirian anak berlangsung secara optimal sesuai usia anak

26
b. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu

melakukan skrining atau mendeteksi sejak dini terhadap kemungkinan

adanya penyimpangan tumbuh kembang anak balita

c. Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi dengan memanfaatkan

plastisitas otak anak untuk memperbaiki bila ada penyimpangan

tumbuh kembang dengan tujuan agar pertumbuhan dan perkembangan

anak kembali kejalur normal dan penyimpangannya tidak menjadi lebih

berat

d. Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila

masalah penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi meskipun

sudah dilakukan intervensi dini

3. Umur anak dalam pendeteksian SDIDTK

Tidak semua umur anak bisa dilakukan pendeteksian. Anak bisa

dideteksi ketika memasuki umur 0 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12

bulan, 15 bulan, 18 bulan, 21 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42

bulan, 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan, dan 72 bulan. Usia ini

adalah standar usia yang telah ditetapkan.

Jadwal atau waktu pendeteksian anak yaitu :

a. Anak umur 0 – 1 tahun = 1 bulan sekali

b. Anak umur > 1 – 3 tahun = 3 bulan sekali

c. Anak umur > 3 – 6 tahun = 6 bulan sekali

27
Jika umur si anak belum memasuki usia standar pemeriksaan

maka jangan dilakukan pendeteksian, namun tunggu si anak mencapai usia

yang ditentukan. Misal jika si anak lahir tanggal 12 Agustus 2009, maka

waktu yang tepat untuk pendeteksiannya adalah :

a. Hitung umur si anak saat ini, dalam contoh anak lahir tanggal 12

Agustus 2009 maka saat ini (12 Juni 2013) usia si anak adalah 46 bulan.

Dalam standar usia pendeteksian, 46 bulan tidak termasuk standar usia

pendeteksian, sedangkan menurut standar usia adalah 48 bulan. Maka si

anak baru bisa di deteksi 2 bulan kedepan atau 60 hari kedepan yaitu

pada tanggal 11 atau 12 Agustus 2013.

b. Satu bulan dihitung 30 hari.

c. Toleransi kelebihan usia anak pada saat pendeteksian dari usia standar

adalah 29 hari kedepan.

4. Tenaga yang melakukan stimulasi

Stimulasi perlu dilakukan menurut aturan yang benar seperti

anjuran para ahli, stimulasi yang salah dapat menyebabkan pembentukan

anak yang menyimpang. Oleh karena itu stimulasi sebaiknya dilakukan

oleh orang-orang terdekat dengan anak yang telah mendapat pengertian

tentang cara memberi stimulasi yang benar, misal: ayah, ibu, pengasuh,

anggota keluarga lain dengan menggunakan timbangan dacin, metelin,

KMS , petugas kesehatan menggunakan timbangan, mikrotois (alat

pengukur tinggi badan ), Pita Pengukur Lingkar Kepala, Tabel BB/TB,

28
Grafik Lingkar kepala dan kelompok masyarakat tertentu, misal kader

kesehatan atau kader pendidikan.

5. Prinsip-prinsip dasar dalam menstimulasi anak

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan para pendidik,

pengasuh dan orang tua, yaitu:

a. Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar sesuai petunjuk

tenaga kesehatan yang menangani bidang tumbuh kembang anak.

b. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang

terhadap anak.

c. Selalu menunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru

tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.

d. Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.

e. Dunia anak dunia bermain, oleh karena itu lakukanlah stimulasi dengan

cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang

menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman.

f. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.

g. Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada

disekitar kita.

h. Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.

6. Jenis Skrining / Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang

Jenis kegiatan deteksi atau disebut juga skrining, dalam SDIDTK

adalah sebagai berikut :

29
a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dengan cara mengukur Berat

Badan (BB), Tinggi Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK).

b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu meliputi

1) Pendeteksian menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan

(KPSP)

2) Tes Daya Lihat ( TDL )

3) Tes Daya Dengar ( TDD )

c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional yaitu menggunakan :

1) Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME)

2) Check List for Autism in Toddlers (CHAT) atau Cek lis Deteksi

Dini Autis

3) Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)

C. Tingkat Pendidikan

1. Pengertian Tingkat Pendidikan

Tingkat atau jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang

berkelanjutan, yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan

peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan

bahan pengajaran (Ihsan, 2016).

Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

menjelaskan bahwa indikator tingkat pendidikan terdiri dari jenjang

pendidikan dan kesesuaian jurusan. Jenjang pendidikan adalah tahapan

pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta

30
didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan,

yaitu terdiri dari:

a. Pendidikan dasar

Jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama

masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan

menengah.

Pendidikan dasar terdiri dari :

1) Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah

2) SMP atau MTs

Menurut Ihsan (2016) Pendidikan dasar diselenggarakan

untuk memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam

masyarakat, berupa pengembangan sikap, Pengetahuan, dan

keterampilan dasar

b. Pendidikan Menengah

Jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan

menengah terdiri dari:

1) SMA dan MA

2) SMK dan MAK

Menurut Ihsan (2016) Pendidikan menengah dalam

hubungan kebawah berfungsi sebagai lanjutan dan perluasan

pendidikan dasar. Adapun dalam hubungan keatas mempersiapkan

31
peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi ataupun memasuki

lapangan kerja.

c. Pendidikan tinggi

Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang

mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang

diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Pendidikan tinggi terdiri atas:

1) Akademik

2) Institut

3) Sekolah Tinggi

Menurut Ihsan (2016) Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan

dari pendidikan menengah, yang diselenggarakan untuk menyiapkan

peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki

kemampuan akademik dan/ atau profesional yang dapat menerapkan,

mengembangkan dan/ atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi

dan/atau kesenian.

Dari uraian diatas jenjang persekolahan atau tingkat-tingkat

yang ada pada pendidikan formal dimengerti bahwa pendidikan

merupakan proses yang berkelanjutan. Oleh karena itu setiap jenjang

atau tingkat pendidikan itu harus dilaksanakan secara tertib, dalam

arti tidak bisa terbalik penempatannya. Setiap jenjang atau tingkatan

mempunyai tujuan dan materi pelajaran yang berbeda-beda.

32
Perbedaan luas dan kedalaman materi ajaran tersebut jelas akan

membawa pengaruh terhadap kualitas lulusannya, baik ditinjau dari

segi pengetahuan, kemampuan, sikap maupun kepribadiannya.

Manusia memerlukan pengetahuan, ketrampilan, penguasaan

teknologi, dan dapat mandiri memalui pendidikan. Produktivitas

kerja memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan penguasaan

teknologi. Sehingga dengan adanya tingkat pendidikan karyawan

maka kinerja karyawan akan menjadi lebih baik dan tujuan dari

perusahaan akan tercapai dengan sempurna (Uyoh, 2006).

2. Faktor yang Memperngaruhi Tingkat Pendidikan

Faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan menurut

Hasbullah (2003) adalah sebagai berikut

a. Ideologi

Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama

khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan

pengetahuan dan pendidikan.

b. Sosial Ekonomi

Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan

seseorang mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

33
c. Sosial Budaya

Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan

pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya.

d. Perkembangan IPTEK

Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui

pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.

e. Psikologi

Konseptual pendidikan merupakan alat untuk

mengembangkan kepribadian individu agar lebih bernilai.

Menurut Green (2008) bahwa tingkat pendidikan seseorang akan

berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang

datang dari luar, mereka yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan

memberi respon yang rasional daripada mereka yang berpendidikan

rendah. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi diharapkan lebih

peka terhadap kondisi keselamatannya, sehingga lebih baik dalam

memanfaatkan fasilitas keselamatan (Green, 2008)

D. Masa Kerja

1. Definisi Masa Kerja

Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga

kerja itu bekerja disuatu tempat (Tarwaka,2010). Masa kerja merupakan

salah satu alat yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang,

34
dengan melihat masa kerjanya kita dapat mengetahui telah berapa lama

seseorang bekerja dan kita dapat menilai sejauh mana pengalamannya

(Bachori, 2006).

Siagian (2008) menyatakan bahwa masa kerja menunjukan

berapa lama seseorang bekerja pada masing-masing pekerjaan atau

jabatan. Kreitner dan Kinicki (2014) menyatakan bahwa masa kerja

yang lama akan cenderung membuat seorang pegawai lebih merasa

betah dalam suatu organisasi, hal ini disebabkan diantaranya karena

telah beradaptasi dengan lingkungan yang cukup lama sehingga seorang

pekerja akan merasa nyaman dengan pekerjaannya. Penyebab lain juga

dikarenakan adanya kebijakan dari instansi atau perusahaan mengenai

jaminan hidup di hari tua.

Pengalaman untuk kewaspadaan terhadap kecelakaan

bertambah sesuai dengan usia, masa kerja di perusahaan dan lamanya

bekerja ditempat kerja yang bersangkutan. Tenaga kerja yang baru

biasanya belum mengetahui secara mendalam pekerjaan dan

keselamatannya, selain itu tenaga kerja baru mementingkan selesainya

sejumlah pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Dalam suatu

perusahaan pekerja-pekerja baru yang kurang pengalaman sering

mendapat kecelakaan sehingga perhatian khusus perlu diberikan kepada

mereka. Lama kerja seseorang dapat dikaitkan dengan pengalaman

yang didapatkan di tempat kerja. Semakin lama seorang pekerja

35
semakin banyak pengalaman dan semakin tinggi pengetahuannya dan

ketrampilannya. Masa kerja yang lebih lama menunjukkan pengalaman

yang lebih seseorang dibandingkan dengan rekan kerja lainnya,

sehingga sering masa kerja/pengalaman kerja menjadi pertimbangan

sebuah perusahaan dalam mencari pekerja. (Rivai, 2009).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi masa kerja masa kerja

Menurut Hani (2017), faktor-faktor yang mempengaruhi masa

kerja diantaranya:

a. Tingkat kepuasan kerja

b. Stres lingkungan kerja

c. Pengembangan karir

d. Kompensasi hasil kerja

3. Kategori Masa Kerja

Masa kerja menurut Hani (2017) dikategorikan menjadi dua,

meliputi:

a. Masa kerja kategori baru ≤3 tahun

b. Masa kerja kategori lama > 3 tahun

E. Pelatihan SDIDTK

1. Pengertian Pelatihan SDIDTK

36
Pelatihan SDIDTK adalah serangkaian aktivitas individu dalam

meningkatkan keahlian dan pengetahuan secara sistematis dalam

pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas

melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan

tumbuh kembang pada masa 5 tahun pertama kehidupan

2. Tujuan Pelatihan SDIDTK

a. Semua balita umur 0 – 5 tahun dan anak prasekolah umur 5 – 6 tahun

mendapatkan pelayanan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh

kembang agar tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi

yang dimilikinya.

b. Terselenggaranya kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini

Tumbuh Kembang Anak baik di fasilitas kesehatan, PAUD dan Lembaga

Sosial

3. Latar Belakang Pelatihan SDIDTK

Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar

10% dari seluruh populasi, maka sebagai calon generasi penerus bangsa,

kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian

serius yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi yang memadai serta

terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi dan

intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang sehingga dapat tumbuh

dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya dan

mampu bersaing di era global (Depkes RI, 2012). Program Stimulasi,

37
Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) merupakan revisi

dari program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) yang telah dilakukan

sejak tahun 1988 dan termasuk salah satu program pokok Puskesmas.

Kegiatan ini dilakukan menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan

dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan

anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, organisasi profesi, lembaga

swadaya masyarakat) dengan tenaga professional. Pemerintah telah

melakukan beberapa upaya dalam mendukung pelaksanaan SDIDTK. Salah

satu program pemerintah untuk menunjang upaya tersebut adalah

diterbitkannya buku Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan

Intervensi Dini Tumbuh Kembang di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

Upaya lain yang dilakukan adalah pelatihan SDIDTK bagi tenaga kesehatan

baik di kabupaten, kota maupun di Puskesmas (Irmawati, 2007). Melalui

kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan pertumbuhan anak

seperti gizi buruk dapat dicegah, karena sebelum anak jatuh dalam kondisi

gizi buruk, penyimpangan pertumbuhan yang terjadi pada anak dapat

terdeteksi melalui kegiatan SDIDTK. Selain mencegah terjadinya

penyimpangan pertumbuhan, kegiatan SDIDTK juga mencegah terjadinya

2 penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional

(Depkes RI, 2012). Deteksi dini melalui kegiatan SDIDTK sangat diperlukan

untuk menemukan secara dini penyimpangan pertumbuhan,

penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional pada

anak sehingga dapat dilakukan intervensi dan stimulasi sedini mungkin


38
untuk mencegah terjadinya penyimpangan pertumbuhan, penyimpangan

perkembangan dan penyimpangan mental emosional yang menetap.

Kegiatan SDIDTK tidak hanya dilakukan pada anak yang dicurigai

mempunyai masalah saja tetapi harus dilakukan pada semua balita dan

anak pra sekolah secara rutin setahun 2 kali (Depkes RI, 2012)

a. Kriteria Peserta Pelatihan SDIDTK

Penanggung jawab Program SDIDTK di Puskesmas adalah

seorang tenaga kesehatan yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas dan

bertanggung jawab mengelola program dan pencapaian tujuan

program SDIDTK di Puskesmas dan jaringannya, termasuk

meningkatkan cakupan sesuai target tahunan yang telah ditetapkan.

b. Waktu Pelaksanaan SDIDTK

Pelatihan SDIDTK dilakasnakan setiap 1 tahun sekali

c. Dana pelatihan SDIDTK

Dana Pelatihan di bebankan pada Dana APBN ( BOK ) tahun

yang berjalan

d. Materi Pelatihan SDIDTK

Materi Pelatihan meliputi :

1) Pertumbuhan dan perkembangan anak

2) Penerapan SDIDTK di puskesmas

3) Deteksi dini tumbuh kembang anak ,yang meliputi :

a) Deteksi dini gangguan pertumbuhan

b) Deteksi Dini penyimpangan perkembangan


39
40
F. Pengetahuan

1. Pengertian

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manula, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,

telingan, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan

sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar

pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga),

dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek

mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda – beda (Notoatmodjo,

2010).

2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat

penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari

pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang disadari oleh

pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari

oleh pengetahuan ([Link] dan Dewi M, 2014:12)

Secara Garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recaal) sesuatu yang spesifik dari seluruh

1
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab

itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang

dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,

menyatakan, dan sebagainya ([Link] dan Dewi M, 2014:12-13)

b. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut

harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang

diketahui tersebut (Notoatmojo, 2010:51)

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek

yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

diketahui tersebut pada situasi yang lain (Notoatmojo, 2010:51)

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan

dan/ atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara

komponen – komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau

objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah

sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat

membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat

2
diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut

(Notoatmojo,2010:51)

e. Sistensis (synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari

komponen – komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain,

sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi – formulasi yang telah ada (Notoatmojo,2010:51-52)

[Link] (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.

Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau norma – norma yang berlaku di masyarakat

(Notoatmojo,2010:52)

3. Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut ([Link] dan Dewi M, 2014:14-15) Cara memperoleh

pengetahuan adalah sebagai berikut :

a. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

1) Cara coba salah (Trial and Error)

3
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan

mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba ini salah ini

dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam

memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil

maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut

dapat dipecahkan.

2) Cara kukuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-

pimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli agama,

pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang

menerima mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu

atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris

maupun penalaran sendiri.

3) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya

memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan

permasalahan yang dihadapi masa lalu.

b. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular

atau disebut metode penelitian.

4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

4
Menurut ([Link] dan Dewi M, 2014:16-18) Faktor- faktor yang

mempengaruhi pengetahuan adalah :

a. Faktor Internal

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita – cita

tertentu yang menentukan manusia untuk membuat dan mengisi

kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal

yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas

hidup. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga

perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi

untuk sikap berperan serta dalam membangun (Nursalam, 2003)

pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah

menerima informasi.

2) Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003),

pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan

5
bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara

mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak

tantangan.

3) Umur

Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia

adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai

berulang tahun. Sedangkan menurut Hunclock (1998) semakin

cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan

lebih matang dan berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan

masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang

yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari

pengalaman dan kematangan jiwa.

b. Faktor Eksternal

1) Faktor Lingkungan

Menurut [Link] yang dikutip dari (Nursalam,2003)

lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia

dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan

perilaku orang atau kelompok.

2) Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat

mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.

5. Kriteria Tingkat Pengetahuan

6
Menurut penelitian Setyasari Putri (2013) Tingkat pengetahuan

dengan menganalisa jawaban yang benar sesuai kunci jawaban diberikan

nilai 1 dan bila jawaban salah atau tidak sesuai diberikan nilai 0, dengan

rumus :

Ʃ = x/y x 100

Keterangan :

Ʃ : hasil prosentase

x : jumlah jawaban benar

y : total item pertanyaan

Menurut Arikunto (2006) dikutip dalam ([Link] dan Dewi M,

2014:18) Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan

dengan skala yang bersifat kualitatif :

a. Baik : Hasil presentase 76-100%

b. Cukup : Hasil presentase 56-75%

c. Kurang : Hasil presentase >56%

Cara untuk mendapatkan tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner.

G. Beban Kerja

Beban kerja adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing

jenis pekerjaan dalam jangka waktu tertentu. (Moekijat, 2010). Salah satu

7
metode perhitungan tenaga kesehatan adalah metode estimasi beban kerja

yaitu suatu metode penyusunan kebutuhan berdasarkan Indicator of

Staff Needed (ISN). Metode ISN ini adalah metode untuk menetapkan jumlah

tenaga berdasarkan jenis kegiatan dan volume pelayanan pada suatu unit

atau institusi. Dengan metode estimasi beban kerja setiap tenaga kesehatan

mempunyai beban kerja efektif sekitar 80% dari waktu kerja sebulan. Waktu

kerja normal perminggunya (6 hari kerja) adalah 37,5 jam sehingga jumlah

jam kerja rata-rata dalam satu hari adalah 6,25 jam. Jadi jumlah jam kerja

dalam satu bulan (24 hari kerja) adalah 6,25 jam x 24 hari = 150 jam

perbulan. Dimana waktu kerja waktu efektif adalah waktu yang sungguh-

sungguh digunakan secara efektif oleh tenaga kesehatan dalam

melaksanakan tugasnya yaitu 80% dari waktu kerja sebulan 150 jam (0,8 x

150 jam = 120 jam/bulan).

Berdasarkan uraian tersebut maka apabila beban kerja seorang

tenaga kesehatan dengan tugas dan fungsi tertentu berada pada ukuran

standar 120 sampai 150 jam perbulan berarti tidak diperlukan tambahan

tenaga pada tugas yang sama. Tetapi apabila beban kerja tenaga kesehatan

dengan tugas dan fungsi-fungsi tertentu berada dibawah ukuran standar

maka tenaga kesehatan tersebut perlu diberikan tugas tambahan sehingga

beban kerja dapat maksimal. Penambahan tenaga kesehatan hanya

diperlukan jika beban kerja melebihi standar dan tidak bisa lagi dibagi dengan

tenaga lain pada unit tersebut

8
1. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja

Terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi beban kerja setiap

tenaga kesehatan yaitu:

a. Tugas Pokok Tenaga Kesehatan

Tugas Pokok adalah tugas yang harus dikerjakan oleh seorang

tenaga kesehatan berdasarkan prosedur tetap yang ada pada

puskesmas. Rincian tugas pokok tenaga kesehatan di puskesmas

sebagai berikut :

1) Tugas Pokok Tenaga Dokter

Melakukan pelayanan umum, melakukan tindakan medik

dan UGD, kunjungan pada pasien rawat inap, menerima dan

melakukan rujukan, melaksanakan penyuluhan kesehatan kepada

masyarakat, melakukan catatan medik, dan membuat rencana

kerja tahunan.

2) Tugas Pokok Tenaga Bidan

Melaksanakan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak,

melaksanakan pelayanan KB, melaksanakan pertolongan

persalinan normal perawatan nifas (PNC), melaksanakan

pelayanan kesehatan bayi dan anak.

3) Tugas Pokok Perawat

9
Melaksanakan asuhan keperawatan dan evaluasi

keperawatan, dan melakukan kunjungan pembinaan individu/

keluarga/ masyarakat

4) Tugas Pokok Tenaga Pelaksana Gizi

Melaksanakan pelayanan gizi, melatih kader gizi,

menyusun standar dietik dan informasi gizi, pemberian vitamin,

membuat pencatatan dan laporan, menghitung stok Yodiol,

membuat laporan posyandu, membuat jadwal puskesmas keliling.

b. Tugas Tambahan

Tugas tambahan merupakan bagian dari pekerjaan dan

dikerjakan seperti halnya tugas utama. Namun akan menjadikan

beban kerja meningkat jika tugas tambahan lebih banyak sehingga

menjadikan tanggungan pekerjaan yang harus dikerjakan menjadi

lebih besar. Dapat juga terjadi sebaliknya yakni dengan tugas

tambahan beban kerja meningkat tetapi tetap sesuai dengan standar

karena tingkat produktivitas menjadi lebih optimal. Tugas tambahan

tenaga kesehatan pada puskesmas sebagai berikut :

1) Tugas Tambahan Tenaga Dokter

Membuat Laporan kegiatan bulanan, menghadiri

pertemuan, melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan

manajemen puskesmas, melakukan kordinasi lintas program,

melakukan supervisi program.

10
2) Tugas Tambahan Tenaga Bidan

Membuat laporan kegiatan bulanan, melakukan bimbingan

teknis pada Bidan di desa , menghadiri pertemuan.

3) Tugas Tambahan Perawat

Membuat Laporan kegiatan bulanan, menghadiri

pertemuan, membimbing siswa perawat.

4) Tugas Pokok Tenaga Pelaksana Gizi

Membuat laporan kegiatan bulanan, menghadiri

pertemuan (rapat, seminar, pelatihan), penyuluhan

c. Waktu Kerja

Waktu kerja adalah lamanya seseorang bekerja dalam

seharinya. Setiap tenaga kesehatan mempunyai waktu kerja normal

tiap minggunya 37,5 - 40 jam, sehingga jumlah jam kerja rata-ratanya

dalam satu hari adalah 6,25 – 6,67. Jadi dalam satu bulan jumlah jam

kerja adalah 150 –160 jam (24 hari kerja). Dimana waktu kerja efektif

adalah waktu yang sungguh-sungguh digunakan untuk bekerja secara

efektif oleh tenaga kesehatan yaitu 80% dari waktu kerja sebulan (150

jam) atau sama dengan 0,8 x 150 jam =120 jam perbulan. ( Depkes RI,

1999). Jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan

adalah sama dengan jumlah keempat waktu berikut :

1) Waktu yang sungguh-sungguh dipergunakan untuk bekerja, yakni

waktu yang di pergunakan dalam kegiatan-kegiatan yang langsung

11
berhubungan dengan produksi yang disebut waktu lingkaran (cycle

time atau cyclical time) atau waktu baku /dasar.

2) Waktu yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang tidak

langsung berhubungan dengan produksi yang disebut waktu

bukan lingkaran (Non Cyclical Time).

3) Waktu untuk menghilangkan kelelahan (Fatique Time).

4) Waktu untuk keperluan pribadi (Personal Time).

H. Monitoring

1. Pengertian monitoring

Monitoring adalah pengawasan kegiatan secara rutin untuk menilai

pencapaian program terhadap target melalui pengumpulan data mengenai

input, proses dan output secara regular dan terus-menerus. Evaluasi adalah

suatu proses untuk membuat penilaian secara sistematik, untuk keperluan

pemangku kepentingan, mengenai suatu kebijakan, program, upaya atau

kegiatan berdasarkan informasi dan hasil analisis yang dibandingkan

dengan relevansi, efektifitas biaya dan keberhasilan. Data pemantauan

yang baik sering menjadi titik awal bagi suatu evaluasi. Secara ringkas,

evaluasi adalah piranti untuk menjawab “Apakah tujuan tercapai atau tidak

dan mengapa?”. Evaluasi pencapaian kegiatan dilakukan secara berkala

(tahunan, tiga- atau lima-tahunan) yang dibandingkan dengan target, serta

identifikasi masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan untuk perbaikan

untuk perioda berikutnya.


12
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang mulai dari

tingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota, dan Puskesmas dan jaringannya.

Di bawah ini diuraikan aspek pokok Monitoringdan evaluasi upaya

program SDIDTK di setiap tingkat, yang masih perlu dijabarkan lebih lanjut.

2. Tingkatan Monitoring

a. Tingkat Pusat.

1) Melakukan Monitoring dan evaluasi serta bimbingan teknis

program SDIDTK dalam pelayanan kesehatan anak.

2) Melakukan pembahasan program SDIDTK dalam rapat konsolidasi

teknis program kesehatan keluarga.

3) Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk memberikan

advokasi, asistensi dan fasilitasi kepada Pemerintah Daerah.

4) Mengadakan pertemuan evaluasi tahunan program SDIDTK

b. Tingkat Propinsi

1) Melakukan Monitoring dan evaluasi serta bimbingan teknis

program SDIDTK dalam pelayanan kesehatan anak.

2) Memasukan pembahasan SDIDTK dalam raker kesehatan daerah

(Rakerkesda) Program Kesehatan keluarga.

3) Menggunakan hasil Monitoringdan evaluasi untuk:

a) Advokasi kepada penentu kebijakan

b) Melakukan asistensi dan fasilitasi kepada kabupaten/kota

dan layanan kesehatan terkait.

13
4) Mengadakan pertemuan secara evaluasi tahunan program SDIDTK

c. Tingkat Kabupaten/Kota

1) Melakukan Monitoringdan evaluasi, serta bimbingan teknis

program SDIDTK dalam pelayanan kesehatan anak.

2) Memasukan pembahasan SDIDTK dalam Rakerkesda Program

Kesehatan keluarga.

3) Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk:

a. Advokasi kepada penentu kebijakan.

b. Asistensi dan fasilitasi kepada layanan dan jejaringnya.

4) Mengadakan pertemuan evaluasi tahunan program SDIDTK.

d. Tingkat Puskesmas

1) Melakukan Monitoring melalui PWS KIA.

2) Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk melakukan

bimbingan teknis kepada jaringan dan (Posyandu,PAUD dll) dan

untuk advokasi kepada penentu kebijakan.

3) Pertemuan evaluasi secara berkala:

a. Puskesmas dan jaringannya tiap bulan (Minilokakarya);

b. Puskesmas dengan lintas sektor tiap triwulan.

14
Pertemuan bulanan di tingkat puskesmas (lokakarya mini) dapat

dimanfaatkan untuk memonitor pelaksanaan kegiatan DDTK di posyandu,

puskesmas pembantu, puskesmas, Pos Pendidikan Anak Usia Dini

(PAUD) dan sebagainya

Dalam memonitor hasil kegiatan DDTK, laporan bulanan kegiatan

DDTK diolah dan dianalisa, sehingga setiap puskesmas akan mempunyai

data hasil kegiatan DDTK per desa, per bulan yang mellputi cakupan

kontak pertama DDTK; dan jumlah anak yang tingkat perkembangannya

sesuai dan yang menyimpang.

Evaluasi kegiatan DDTK anak di puskesmas dan jaringannya

dilaksanakan dengan cara mengkaji data sekunder laporan tahunan hasil

kegiatan DDTK, diantaranya dengan membandingkan hasil cakupan

DDTK anak tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

Evaluasi kegiatan SDIDTK dilakukan akhir tahun dengan

mengolah dan menganalisa laporan tahunan Puskesmas. Data yang dilihat

adalah data cakupan kontak pertama SDIDTK, cakupan SDIDTK bayi 4

kali setahun, cakupan balita dan anak pra sekolah 2 kali setahun dan

persentase anak yang tingkat perkembangannya sesuai (S), meragukan (M)

atau dengan penyimpangan (P). Evaluasi kegiatan SDIDTK di Puskesmas

dan jaringannya dilakukan dengan cara mengkaji data sekunder laporan

tahunan hasil kegiatan SDIDTK, diantaranya dengan membandingkan

hasil cakupan SDIDTK tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

15
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep/kerangka berfikir merupakan dasar pemikiran pada

penelitian yang dirumuskan dari fakta-fakta observasi dan tinjauan pustaka.

Uraian dalam kerangka konsep menjelaskan hubungan dan keterkaitan antar

variable penelitian. Kerangka konsep penelitian dituliskan dalam bentangan

variable bebas dan terikat dengan didukung semua variable pengganggu dalam

bentuk bagan, sehingga jelas hubungan antar variabelnya. (Setiawan, Ari &

Saryono,2011:54-55)

Kerangka konsep pada penelitian ini adalah :

1 .Karakteristik Tenaga
Kesehatan,Dokter,Bidan,Petugas
Gizi, meliputi tingkat pendidikan,
Lama bekerja, Pelatihan tentang
SDIDTK
Pelaksanaan SDIDTK
2. Tingkat pengetahuan Tenaga
Kesehatan
3. Beban Kerja Tenaga
Kesehatan,Dokter,Bidan,Perawat,
Variabel Independent
Petugas Gizi
4. Monitoring dan Evaluasi

Variabel Independen Variabel Dependent

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

16
B. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian.

Hipotesis dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variable yaitu

variable bebas dan variable terikat. Hipotesis berfungsi untuk menentukan

kearah pembuktian, artinya hipotesis ini merupakan pertanyaan yang harus

dibuktikan. (Notoatmodjo,2014:84).

Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian antara lain

hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variable x dan variable y,

sedangkan hipotesis nol yaitu menyatakan tidak ada perbedaan antara dua

variable, atau tidak adanya pengaruh variable x terhadap variable y. (Setiawan,

Ari & Saryono, 2011:60-61).

Ha (Hipotesis Alternatif) merupakan hipotesis kerja yang menyatakan

adanya hubungan, pengaruh antara variabel X dan Y, atau ada perbedaan

antara dua kelompok (Arikunto, 2013:113).Ho (Hipotesis Nol/Nihil)

merupakan hipotesis statistik yang menyatakan tidak adanya pengaruh antara

variabel X dan Y, atau tidak ada perbedaan antara dua variabel (Arikunto,

2013:112).

Dalam penelitian ini hipotesis alternatif nya adalah

1. Ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan meliputi tingkat pendidikan

dengan pelaksanaan SDIDTK,

2. Ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan meliputi lama bekerja

dengan pelaksanaan SDIDTK,

17
3. Ada hubungan karakteristik tenaga kesehtan meliputi pelatihan tentang

SDIDTK dengan pelaksanaan SDIDTK

4. Ada hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan dengan

pelaksanaan SDIDTK,

5. Ada hubungan beban kerja tenaga kesehatan dengan pelaksanaan

SDIDTK,

6. Ada hubungan monitoring evaluasi dengan Pelaksanaan SDIDTK.

C. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah analitik

korelasi (Correlation) hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala

satu dengan gejala yang lain, atau variabel satu dengan variabel yang lain

(Notoatmodjo, 2012:47). Penelitian analitik korelasi yang berusaha untuk

membuktikan apakah ada hubungan Karakteristik tenaga kesehatan meliputi

umur, lama bekerja, pengetahuan dan beban kerja tenaga, monitoring evaluasi

dengan Pelaksanaan SDIDTK.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional adalah

suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor

resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data

sekaligus pada suatu saat (point of approach), artinya; tiap subjek penelitian

hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap

status/karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo,2012

: 37-38).

18
D. Variabel Penelitian

Variable merupakan gejala yang menjadi focus dalam penelitian.

Variable menunjukkan atribut dari sekelompok orang atau objek yang

mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu.

(Setiawan, Ari & Saryono, 2011: 100)

1. Variable bebas (Independent)

Variable bebas merupakan variable yang menjadi sebab timbulnya

atau berubahnya variable dependent (terikat). Sehingga variable

independent dapat dikatakan sebagai variable yang mempengaruhi.

(Setiawan, Ari & Saryono, 2011:100)Variable independent dalam

penelitian ini adalah Karateristik Tenaga Kesehatan meliputi tingkat

pendidikan, lama bekerja, pelatihan SDIDTK, tingkat pengetahuan

tentang SDIDTK, Beban Kerja Tenaga Kesehatan, Monitoring dan

Evaluasi

2. Variable Terikat (Dependent)

Variable Dependent merupakan variable yang dipengaruhi atau

yang menjadi akibat karena adanya variable independent (bebas)

(Setiawan, Ari&Saryono,2011:101)Variable dependent dalampenelitian ini

adalah Pelaksanaan SDIDTK oleh Tenaga Kesehatan

19
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Alat ukur Skala Kriteria


(instrument)
Tingkat Tingkat pendidikan kuisioner ordinal 1. Rendah :
Pendidikan yang di tenpuh dan SD,SMP,S
di selesaikan oleh MA (
tenaga kesehatan menengah
dibuktikan dengan ke bawah )
mendapatkan ijazah 2. Tinggi :
Diploma,Se
kolah Tinggi

Lama Jumlah jangka waktu kuisioner Ordinal 1. Baru : ≤


bekerja bekerja dari pertama 3 tahun
kali bekerja sampai 1. Lama
sekarang. :>3 tahun
(Noerdiansah, 2010)

Pelatihan Salah satu metode kuisioner Ordinal 1. Sudah :


SDIDTK untuk meningkatkan Petugas
kapasitas kesehatan
perawat,bidan,petuga yang sudah
s gizi dalam mendapat
menerapkan SDIDTK pelatihan
sehingga kualitas dan SDIDTK
kompentensi tetap minimal 5
terjaga tahun
terakhir
2. Belum :
petugas
kesehatan
yang belum
mendapat
pelatihan /
sudah
mendapat
pelatihan
lebih dari 5
tahun
terakhir

20
Tingkat Adalahkemampuan Kuesioner Ordinal Parameter:
pengetahuan responden untuk Skor yang
menjawab benar didapatkan
pertanyaan tentang dari jawaban
SDIDTK meliputi responden
pengertian SDIDTK, yang benar
Cara melakukan sesuai
SDIDTK berdasarkan dengan
kelompok umur kunci
jawaban dari
pertanyaan
dalam
kuesioner
1 = Kurang
bila skor
<56%
2 = Sedang
bila 56% -
75%
3 = Baik
bila skor
76% -100%

Beban Kerja Beban Kerja adalah kuisioner Ordinal 1. Se


beban tenaga su
kesehatan tentang ai
tugas yang harus di d
laksanakan sesuai e
dengan tupoksi ( n
tugas pokok dan g
fungsi )di buktikan a
dengan suatu Surat n
Keputusan / Surat tu
penugasan p
o
ks
i
2. Tid
a
Monitoring Pengawasan Kuisioner Ordinal k
dan Evaluasi pelaksanaan kegiatan se
SDIDTK yang di su
sertai penilaian ai
pelaksanaan kualitas tu
21
dilihat dari cakupan p
o
ks
i
d
a
n
a
d
a
tu
g
as
ta
m
Pelaksanaan Tenaga Kesehatan Kuisioner Ordinal b
SDIDTK melakukan a
pemeriksaan h
SDIDTK sesuai a
dengan jenis deteksi n
tumbuh kembang se
yang harus dilakukan la
in
tu
p
o
ks
i

1. Baik :
Bila
dilakukan
monitoring
dan Evaluasi
setiap 3 dan
6 bulan
sekali

2. Kurang :
Bila tidak
22
dilakukan
Monitoring
dan Evaluasi
Setiap 3 dan
6 bulan
sekali

1. Baik bila
tenaga
kesehatan
melakukan
pemeriksaan
sesuai
dengan jenis
tumbuh
kembang
yang harus
dilakukan
2. Kurang.
bila tenaga
kesehatan
tidak
melakukan
pemeriksaan
sesuai
dengan jenis
tumbuh
kembang
yang harus
dilakukan

F. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu penelitian

Penelitian ini rencananya akan dilakukan pada bulan sampai Maret 2019.

23
2. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan Puskesmas dalam wilayah kerja Kotip

Purwokerto Kabupaten Banyumas

G. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2015;h.61)

Populasi dalam penelitian ini adalah Tenaga kesehatan yang

melakukan SDIDTK (Dokter, Perawat, Bidan, Petugas Gizi) di Puskesmas

dalam wilayah kerja Kota Administrtif Purwokerto Kabupaten yang

meliputi 6 Puskemas Kabupaten Banyumas sebanyak 103 orang dengan

rincian sebagai berikut:

No Nama Puskesmas Dokter Bidan Perawat Petugas Gizi

1 Purwokerto Utara 1 2 6 4 1
2 Purwokerto Utara 2 3 4 3 2
3 Purwokerto Timur 1 3 9 6 1
4 Purwokerto Timur 2 3 4 5 1
5 Purwokerto Barat 3 11 5 2
6 Purwokerto Selatan 4 11 6 1

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki


24
oleh populasi. Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul

representative (mewakili) (Sugiyono, 2015;h.62)

Berdasarkan perhitungan jumlah sampel dalam penelitian ini dapatdihitung

menggunakan rumus Slovin yaitu :

n = N / (1 + (N x e²)

Keterangan :

N :Jumlah sampel minimal

N : Jumlah populasi

E :Error margin, misalnya derajat kepercayaan 95 % maka tingkat

kesalahan adalah 5%

Sehingga dapatkan perhitungan sampel yang akan digunakan

dalampenelitian ini yaitu :

n = N / 1+ Ne²)

n = 103/1+ 103 x 0,05²

n = 103/ 1 + 103 x 0,0025

n = 103/ 1 + 0,26

n = 103/1,26

n = 82,4

Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 82 orang

3. Proportionate Stratified Random Sampling


Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun

penentuan Sampelnyamemperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam

25
populasi. Dalam Penelitian ini populasi terbagi ke dalam empat bagian (

Dokter, Bidan, Perawat, dan petugas Gizi) yang masing - masing

berjumlah :

Dokter : 18 orang

Bidan : 48 orang

Perawat : 29 orang,

Petugas Gizi : 8 orang

Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masing bagian

tersebut ditentukan kembali dengan rumus

n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan

Dokter : 18 /103 x 82 =14,3 di bulatkan menjadi 14

Bidan : 48 /103 x 82 = 38,2 di bulatkan menjadi 38

Perawat : 29 /103 x 82 = 23

Petugas Gizi : 8 /103 x 82 = 7,3 di bulatkan menjadi 7

Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 14 + 38 + 23 + 7 =

82 sampel.

Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah

heterogen (tidak sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam profesi tenaga

kesehatan sehingga besaran sampel pada masing-masing strata atau

kelompok diambil secara proporsional

H. Teknik penentuan sampel (teknik sempling)

26
Teknik penentuan sampel adalah teknik pengambilan sempel.

Untuk menentukan sampel dalam penelitian terdapat berbagai teknik

sampling yang digunakan (Sugiyono, 201;h.62)

Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya maka

sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi dan

eksklusi. Kriteria inklusi yaitu kriteria atau ciri-ciri yang perlu di penuhi

setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan

kriteria eksklusif merupakan ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat

diambil sampel (Notoatmodjo, 2010;h.130).

Kriteria Inklusi = tenaga kesehatan tersebut bersedia menjadi responden

Kriteria eksklusi = tenaga kesehatan yang tidak berada di tempat

I. Teknik Pengumpulan dan Jenis Data

1. Teknik Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:

a. Persiapan

Meminta rekomendasi prodi untuk perizinan penelitian. Pada

saat prosedur administrasi, peneliti mengurus surat studi pendahuluan

penelitian di Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes

Semarang untuk dilanjutkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas

dalam rangka untuk memperoleh ijin penelitian, kemudian peneliti

menyampaikan surat studi pendahuluan di Puskesmas I Purwokerto

Timur dan Puskesmas II Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas.

27
b. Pelaksanaan

1) Peneliti memohon ijin kepada Kepala Puskesmas yang wilayahnya

akan digunakan sebagai sampel dan setelah mendapat ijin peneliti

menemui bidan koordinator untuk meminta data yang diperlukan.

2) Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan penelitian kepada

bidan koordinator.

3) Peneliti melakukan proses pengambilan data dengan

mengumpulkan dan berdasarkan catatan buku laporan mengenai

pelaksanaan SDIDTK di Puskesmas serta memberikan kuesioner

kepada responden.

4) Memindahkan data kedalam format pengumpulan data.

5) Memindahkan data dari format pengumpulan data ke dalam format

pengolahan data atau master table

2. Jenis Data

Berdasarkan sumber datanya, maka pengumpulan data dapat berasal

dari sumber data primer dan sumber data sekunder.

1. Data primer

Data primer merupakan data yang secara langsung diambil dari

obyek atau obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi

(Korumpis,2012 : 14 ) Dari penelitian ini menggunakan kuesioner untuk

mendapatkan data tentang:

a. Tingkat pendidikan tenaga kesehatan

b. Lama bekerja tenaga kesehatan

c. Pelatihan SDIDTK yang pernah diikuti tenaga kesehatan


28
d. Tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentangSDIDTK (Stimulasi

Dini Intervensi Dini Tumbuh Kembang) .

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang secara tidak langsung didapatkan

dari obyek penelitian (Korumpis,2012:14). Dalam penelitian ini data

sekunder yang digunakan yaitu diambil dari Profil Kesehatan Kabupaten

Banyumas, Data berupa Laporan kesehatan Anak dan Gizi dari

Puskesmas wilayah Kota Administratif Purwokerto Kabupaten Banyumas

J. Instrumen/ alat Penelitian

Instrument penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk

pengumpulan data. Instrument penelitian ini dapat berupa: kuesioner (daftar

pertanyaan), formulir observasi, formulir-formulir lain yang berkaitan dengan

pencatatan data dan sebagainya. (Notoatmodjo,2018:87)

Instrument dalam penelitian ini menggunakan lembar kuesioner yang

berisi pertanyaan yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan tentang

SDIDTK. Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup yaitu

dengan simbol-simbol atau kode tertentu, biasanya dalam bentuk angka untuk

setiap jawaban yang diberikan responden (Imron, 2010)

Variable independent dalam penelitian ini adalah Karateristik Tenaga

Kesehatan meliputi tingkat pendidikan, lama bekerja, pelatihan SDIDTK,

tingkat pengetahuan tentang SDIDTK, Beban Kerja Tenaga Kesehatan,

Monitoring dan Evaluasi

29
menggunakan kuesioner sejumlah 13 pertanyaan.
Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner tingkat pengetahuan tentang SDIDTK

Pernyataan [Link]

Pengertian SDIDTK 1

Ruang Lingkup SDIDTK 2,3

Jenis Skrining SDIDTK 4,5,6

Pelaksanaan SDIDTK 7,8,9,10,11,12,13

Tabel 3.4 Kisi-kisi kuisioner Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan SDIDTK

Pernyataan [Link]

Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan 1,2,3,4,5,6,

SDIDTK

Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner tingkat pengetahuan tentang SDIDTK

No. Soal
Pokok Bahasan
Favourable unvourable

Pengertian SDIDTK 1

Ruang Lingkup SDIDTK 2,3

Jenis Skrining SDIDTK 4,5, 6

30
Pelaksanaan SDIDTK 7,12, 8,9,10,11

K. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

Validitas adalah indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar

mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2013;h.211).

Dalam penelitian ini menggunakan instrument lembar kuesioner

pengetahuan tenaga kesehatan tentang SDIDTK. Menurut Notoatmodjo

(2012;h.164) syarat penting yang berlaku pada kuesioner yaitu keharusan

sebuah kuesioner untuk valid dan reliable. Validitas merupakan suatu

ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu

instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas

tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berati mempunyaai

validitas rendah (Arikunto, 2010)

Cara mengukur validitas suatu instrument (dalam penelitian ini

kuesioner) dilakukan dengan cara melakukan korelasi antara skor

masing-masing variable dengan skor totalnya. Suatu variable

(pertanyaan) dikatakan valid bila skor variable tersebut berkorelasi secara

signifikan denagn skor totalnya. Untuk mengetahui apakah nilai korelasi

tiap-tiap pertanyaan itu signifikan maka perlu dilihat pada table nilai

product moment (Notoatmodjo,2012;h.164).

Macam-macam validitas yaitu validitas kontruk, validitas isi, dan

validitas eksternal. Untuk menguji validitas kontruk dapat menggunakan


31
pendapat dari ahli (judgement expert), instrumen dikonstruksikan tentang

aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu.

Untuk instrumen yang berbentuk tes, maka pengujian validitas isi

dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan

materi pelajaran yang diajarkan. Validitas eksternal instrumen diuji

dengan cara membandingkan antara kinerja yang ada pada instrumen

dengan fakta empiris yang terjadi dilapangan.(Sugiono,2007)

Dalam penelitian ini untuk uji validitas kuisioner digunakan dengan

cara menggunakan pendapat ahli (judgement expert), Kuisioner ini akan

dikonsultasikan kepada para pembimbing sebagai [Link] ahli diminta

pendapatnya tentang kuesioner yang telah disusun, jumlah ahli yang

digunakan minimal 1 orang yang sesuai dengan lingkup yang diteliti.

Para ahli disini adalah dosen atau bidan. Dari judgement expert tersebut,

apabila ada beberapa pertanyaan yang harus direvisi, kemudian telah

dilakukan perbaikan pada pertanyaan tersebut.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas memilki berbagai nama lain seperti keterpercayaan,

kehandalan, kestabilan. Tujuan pengujian realiabilitas adalah untuk

melihat, apakah instrument penelitian merupakan instrument yang

handal dan dapat dipercaya. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana

hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan

pengukuran dua kali atau lebih terhadapa gejala yang sama, dengan

menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012;h.168).

32
Menurut Sugiyono (2009: 183-184), pengujian reliabilitas instrument

dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal

dilakukan dengan test-retest(stability), equivalent, dan gabungan

keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji dengan

menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrument dengan

teknik tertentu. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji realibilitas karena

keterbatasan waktu sehingga tidak dilakukan uji realibilitas.

L. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data

1. Teknik pengolahan data

Pengolahan data merupakan hal yang penting dalam sebuah

penelitiankarena data yang diperoleh oleh peneliti masih mentah, belum

memberikan informasi dan belum siap untuk disajikan,

untukmemperolehhasil dan kesimpulan yang baik, maka diperlukan

pengolahan data(Notoatmodjo,2018:171)

Proses pengolahan data ini melalui beberapa tahap, yaitu:

a. Memeriksa data (Editing)

Editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian

seperti formulir atau kuesioner. Hasil wawancara, angket, atau

pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing)

terlebih dahulu. Apabila terdapat jawaban-jawaban yang belum

lengkap bisa dilakukan pengambilan data ulang bila memungkinkan,

33
tetapi bila tidak memungkinkan, maka data yang belum lengkap tadi

tidak dimasukkan kedalam pengolahan data (Notoatmodjo,2018:176)

Peneliti melakukan pengecekan ulang saat responden selesai

mengisi kuesioner terutama bila ada identitas yang belum lengkap

seperti nama yang belum lengkap, alamat, atau tulisan yang tidak jelas

dibaca, sehingga saat dilakukan olah data, data sudah lengkap dan

tidak ada kesalahan.

b. Scoring

Skoring pada penelitian ini yaitu :

Pada pengetahuan :

Jika jawaban benar =1

Jika jawaban salah =0

Pada Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan SDIDTK :

Ya =1

Tidak =2

Pada Pelaksanaan SDIDTK

Dilaksanakan =1

Tidak Dilaksanakan =2

c. Memberi Kode (Coding)

Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya

dilakukan peng”kodean” atau “Coding” yakni mengubah data

34
berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.

Koding atau pemberian kode ini sangat berguna dalam memasukkan

data (data entry). (Notoatmodjo,2018:177)

Coding angka diberikan pada masing-masing jawaban dengan kode

berupa angka. Jawaban yang benar sesuai kunci jawaban diberikan

kode 1 dan bila jawaban salah atau tidak sesuai kunci jawaban maka

diberikan kode 0. Kuesioner yang dibagikan tidak ada bentuk

pertanyaan negative karena akan menyulitkan responden. Kategori

tingkat pengetahuan diberi kode 0 untuk tingkat pengetahuan kurang,

kode 1 untuk tingkat pengetahuan sedang, dan kode 2 untuk tingkat

pengetahuan [Link] adalah mengubah data berbentuk kalimat

atau huruf menjadi data angka atau bilangan.

d. Memasukkan data (Data Entry) atau Processing

Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden

yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan kedalam

program atau software computer. (Notoatmodjo,2018:177).

Data-data yang asli kemudian dientry terlebih dahulu supaya

lebih mudah saat melakukan uji statistic, dimulai dari kode

[Link] di sajikan dalam bentuk tabel frekwensi kumulatif dan

prosentase.

e. Pembersihan data (Cleaning)

35
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden

selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-

kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan,

dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

(Notoatmodjo,2018:177-178)

Setelah data masuk maka dilakukan pengecekan kembali untuk

melihat adanya kesalahan saat entry dengan cara mencocokkan

kembali menggunakan kuesioner. Setelah itu dilakukan pembuatan

tabel distribusi frekuensi dari masing-masing variabel untuk

mengetahui kesalahan saat memasukkan data.

2. Analisis Data

Setelah dilakukan pengumpulan maka komponen variable

penelitian yang dapat dilakukan analisis adalah :

a. Analisis Univariat (Analisis Diskriptif)

Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian. Bentuk

analisis univariat tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik

digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar deviasi. Pada

umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi

dan presentase dari setiap variable. (Notoatmodjo,2018:182)

Dalam penelitian ini menggunakan analisis univariate untuk

Mendiskripsikan karakteristik Tenaga Kesehatan (umur,tingkat

36
pengetahuan,lama kerja), beban kerja dan monitoring evaluasi dengan

pelaksanaan SDIDTK oleh Tenaga Kesehatan ( Dokter, Perawat,

Bidan dan Petugas Gizi)

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariate yang dilakukan terhadap dua variable yang

diduga berhubungan atau berkorelasi.(Notoatmodjo,2018:183) Analisis

bivariate dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik

Tenaga Kesehatan (tingkat pendidikan, lama bekerja, pelatihan

SDIDTK, tingkat pengetahuan), beban kerja dan monitoring evaluasi

dengan pelaksanaan SDIDTK oleh tenaga kesehatan (Dokter, Perawat,

Bidan dan Petugas Gizi) di Puskesmas dalam Wilayah Kerja Kota

administratif Purwokerto Kabupaten Banyumas

Pada penelitian ini menggunakan skala data kategorik (ordinal),

sampel tidak berpasangan, jumlah sampel 82 responden,hipotesis

assosiatif, maka uji statistiknya adalah Kendal Tau dengan α = 0,05

hipotesis diterima apabila hasil p value ≤ 0,05 maka ada hubungan

karakteristik tenaga kesehatan meliputi Tingkat pendidikan dengan

pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan

meliputi lama bekerja dengan pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan

karakteristik tenaga kesehatan meliputi Pelatihan SDIDTK dengan

pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan Pengetahuan Tenaga kesehatan

dengan pelaksanaan SDIDTK, Ada Hubungan Beban Kerja dengan

pelaksanaan SDIDTK, Ada hubungan Monitoring dan Evaluasi dengan

37
Pelaksanaan [Link] diolah menggunakan program atau

software computer.

M. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data

1. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan menggunakan komputerisasi. Menurut

Notoatmodjo (2012; h.176-177) rancanga analisis data hasil penelitian

dirumuskan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a. Editing atau mengedit data

Merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian

formulir atau kuesioner. Dalam penelitian semua responden menjawab

semua pertanyaan yang di kuesioner. Yang sebelumnya dilakukan

skoring terlebih dahulu.

b. Scoring

Skoring pada penelitian ini yaitu :

Pada pengetahuan :

Jika jawaban benar =1

Jika jawaban salah =0

Pada Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan SDIDTK :

Ya =1

Tidak =2

Pada Pelaksanaan SDIDTK


38
Dilaksanakan =1

Tidak Dilaksanakan =2

c. Coding

Coding adalah mengubah data berbentuk kalimat atau huruf

menjadi data angka atau bilangan.

Pada pengetahuan :

1. Baik, 76-100% diberi kode =2

2. Cukup, 56-75% diberi kode =1

3. Kurang, nilai <56% diberi kode =0

d. Tabulating

Tabulating adalah membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan

penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti

e. Data Entry (memasukkan data)

Memasukkan data yang telah dilakukan coding ke dalam program

komputerisasi. Dalam penelitian ini menggunakan perangkat komputer.

2. Analisa Data

a. Analisa Univariate

Menurut Notoatmodjo (2012 hal.182) analisis univariate

bertujuan untuk menjelaskan atau mendiskripsikan karakteristik setiap

variable penelitian. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-

rata, median dan standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini

39
hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap

variable.

b. Analisa Bivariate

Analisa bivariate apabila telah dilakukan analisis univariate

hasilnya akan diketahui karakteristik atau distribusi setiap variable, dan

dapat melanjutkan anlisis bivariate (Notoatmodjo, 2012 hal.183).

Menganalisis data secara bivariat untuk menguji hubungan

antara karakteristik tenaga kesehatan tentang tingkat pendidikan

dengan pelaksanaan SDIDTK, hubungan antara karakteristik Pelatihan

SDIDTK dengan pelaksanaan SDIDTK, hubungan antara

karakteristik tenaga kesehatan tentang lama bekerja dengan

pelaksanaan SDIDTK, hubungan antara pengetahuan tenaga kesehatan

dengan pelaksanaan SDIDTK dengan Kendal Tau dengan α = 0,05

hipotesis diterima apabila hasil p value ≤ 0,05 maka ada hubungan

karakteristik tenaga kesehatan meliputi Tingkat pendidikan dengan

pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan karakteristik tenaga kesehatan

meliputi lama bekerja dengan pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan

karakteristik tenaga kesehatan meliputi Pelatihan SDIDTK dengan

pelaksanaan SDIDTK, ada hubungan Pengetahuan Tenaga kesehatan

dengan pelaksanaan SDIDTK, Ada Hubungan Beban Kerja dengan

pelaksanaan SDIDTK, Ada hubungan Monitoring dan Evaluasi dengan

Pelaksanaan [Link] diolah menggunakan program atau software

computer. (Sugiyono,2017;hal.153)

40
N. Etika Penelitian

1. Informed Consent (Lembar persetujuan Menjadi Responden)

Informed Consent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Semua

informasi harus ada dalam informed consent tersebut sehingga responden

dapat memutuskan bersedia ataupun menolak untuk menjadi sampel

penelitian. (Setiawan, Ari&Saryono,2011:130-131)

Pada penelitian ini dijelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan

penelitian, bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh responden, dan

apa keuntungan serta kerugiannya, kemudian menjelaskan kriteria inklusi

dan kriteria eksklusi. Setelah responden mengerti dan bersedia menjadi

responden, informed consent tersebut diberikan kepada responden,

kemudian responden akan memutuskan sendiri untuk bersedia ataupun

menolak untuk menjadi responden.

2. Anonymity

Anonymity yaitu tidak mencantumkan nama responden pada

lembar observasi. Hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data

atau hasil penelitian yang akan disampaikan. (Setiawan,

Ari&Saryono,2011:131)

Dalam penelitian ini pada format pengkajian nama responden tidak

ditulis dengan nama lengkap, namun dengan menggunakan inisial.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

41
Confidentiality adalah semua informasi yang telah dikumpulkan

dijaminkerahasiaannyaoleh peneliti. (Setiawan, Ari&Saryono,2011:131)

Setiap orang mempunyai hak-hak dasar individu termasuk privasi

dan kebebasan individu dalam memberikan informasi. Setiap orang berhak

untuk tidak memberikan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Oleh

sebab itu, peneliti tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas

dan kerahasiaan identitas subjek. Peneliti cukup menggunakan coding

sebagai pengganti identitas responden. (Notoatmodjo,2018:203)

Dalam penulisan identitas responden seperti nama ditulis dengan

menggunakan inisial dan peneliti juga merahasiakan riwayat responden

ataupun hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan kepada responden

O. Jadwal Penelitian

Tabel 3. 2. Jadwal Penelitian

No Kegiatan Oktober November Desember Januari Februari Maret

1 Penyusunan
proposal
2 Sidangproposal

3 Perizinan

4 Pelaksanaan
penelitian
5 Pengolahan data,
analisis dan
penyusunan laporan
6 Sidang hasil

42
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. 2016. Profil Kesehatan Kabupaten


Banyumas Tahun 2016. Banyumas: Dinkes Kabupaten Banyumas

Dahlan, Muhammad Sopiyudin. 2014. Satistitik untuk Kedokteran dan Kesehatan.


Jakarta : Epidemiologi Indonesia.

43
Kemenkes RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Diakses dari
[Link]
indonesia/[Link]. pada tanggal 2 September
2018.

Kemenkes RI. 2012. Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil. Jakarta : Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2016. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Kementrian
Kesehatan dan JICA (Japan International Cooperation Agency), 1997.

Mahmud. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Mustika Setia.

Meneg PP. 2013. Angka Kematian Ibu di Indonesia Tertinggi. (online) Diakses
dari http;//[Link] [Link], pada tanggal 12 September 2018).

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Notoatmodjo, S. 2014. Promosi Kesehatan, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.


Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Sugiyono, 2017. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta

Wawan A.,M Dewi. 2011. Teori Pengukuran, Sikap, dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta : Nuha Medika

Kementrian Kesehatan [Link] Pelaksanaan Stimulasi,Deteksi dan


Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak

Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional

44
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Evaluasi dan
Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan

Tinjauan PP Nomor. 39 Tahun 2006, Paparan Direktorat Otonomi Daerah


Bappenas di Hotel Takashimaya, Lembang,10 Februari 2011.

Kementrian Pendidikan RI.2003. UU sistem pendidikan Nasional tahun 2003

Ikhsan, F. 2016. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

Aulia, S. A. 2016. Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Motivasi Kerja Terhadap


Produktivitas Kerja Karyawan.

Depatemen tenaga kerja . UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

45

Anda mungkin juga menyukai