BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Hakikat IPA
Carin & Sund (1985: 6) mendasarkan tiga elemen dasar science yaitu
human attitude, processes or methods, dan product.
a. Human attitude, adalah suatu keyakinan, atau nilai-nilai, seperti membuat
keputusan setelah memperoleh cukup data yang berkaitan dengan
problemnya.
b. Science processes or methods, adalah cara dalam penyelidikan
untukmemecahkan masalah. seperti membuat hipotesis, merancang
dalam melakukan atau melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data,
menyusun data, mengevaluasi data, mengukur, dan sebagainya.
c. Science product, adalah berupa fakta, prinsip, hukum, teori, dan
sebagainya.
Berdasarkan Collete dan Chiappetta (1994: 105), hakikat IPA
merupakan: 1) science as a way of thinking; 2) science as a way of
investigating; 3) science as a body of knowledge, and (4) science and its
interactions with technology and society.
a. IPA sebagai cara berpikir (a way of thinking)
IPA ditandai dengan proses bepikir. IPA merupakan aktivitas manusia
ditandai dengan proses berpikir yang berlangsung di dalam pikiran
orang-orang yang berkecimpung di dalam bidang itu. Kegiatan mental
para ilmuan memberikan gambaran tentang rasa ingin tahu dan hasrat
12
manusia untuk memahami fenomena alam. Kegiatan tersebut dipandang
sebagai kegiatan yang kreatif dimana ide-ide, penjelasan-penjelasan dari
suatu gejala alam yang merupakan objek dari kajian IPA disusun didalam
pikiran. Pemikiran serta argumentasi inilah yang bekerja memberikan
rambu-rambu yang penting dalam hubungannya dengan hakikat IPA.
b. IPA sebagai cara penyelidikan (a way of investigating)
IPA mengenal banyak metode yang berarti menunjukan usaha manusia
dalam menyelesaikan masalahnya. Metode yang digunakan tersebut
berdasar pada observasi dan prediksi atau metode lain seperti kegiatan
eksperimen yang fokus pada hubungan sebab akibat.
c. IPA sebagai kumpulan pengetahuan (a body of knowledge)
Dalam IPA, kumpulan tersebut dapat berupa fakta, konsep, prinsip,
hukum, teori maupan model dari hasil penemuan-penemuan atau
kegiatan ilmiah dari para ilmuan selama berabad-abad dikumpulkan dan
disusun secara sistematik menjadi kumpulan pengetahuan.
d. science and its interactions with technology and society.
IPA dilakukan secara kolaborasi yang dilakukan oleh banyak individu
yang bekerja sebagai tim dalam konteks sosial yang dipengaruhi oleh
masyarakat dan ketersediaan teknologi. Akibatnya, IPA, teknologi dan
masyarakat berpengaruh satu sama lain.
Menurut Puskur (2006: 6), hakikat IPA terdiri dari empat unsur
utama, yaitu sikap, proses, produk, dan aplikasi yang merupakan ciri-ciri
IPA yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sikap IPA, yaitu
13
rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta
hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat
dipecahkan melalui prosedur yang benar.
IPA sebagai proses diartikan sebagai semua kegiatan ilmiah untuk
menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan
pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan sebagai hasil proses, berupa
pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau diluar sekolah ataupun
bahan bacaan untuk penyebaran dissiminasi pengetahuan. Sedangkan
sebagai prosedur diartikan sebagai cara untuk mengetahui suatu riset atau
biasa disebut metode ilmiah (Trianto, 2010:137).
IPA dipandang sebagai suatu proses yaitu bagaimana manusia untuk
memahami gejala alam, maka dari itu diperlukan cara tertentu yang
sifatnya sangat analitis, lengkap, cermat serta dapat menghubungkan
gejala alam yang satu dengan gejala alam yang lain. Selain itu IPA
dipandang sebagai produk merupakan upaya manusia untuk memahami
gejala alam.
Dari beberapa literatur tentang hakikat ilmu pengetahuan alam (IPA)
maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan kumpulan ilmu
pengetahuan yang disusun secara sistematis bahwa IPA sebagai produk
dan proses untuk menghasilkan sikap ilmiah dalam mengkaji fenomena
atau persoalan alam. Melakukan kerja ilmiah yang diiringi sikap ilmiah
serta memiliki pengetahuan yang banyak maka dapat diperoleh produk
IPA yang dapat berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori.
14
2. Pembelajaran IPA
Syaiful Sagala (2003: 61), mengemukakan bahwa pembelajaran
adalah proses membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan yang
merupakan penentu utama keberhasilan, sedangkan IPA menurut Carin &
Sund (1985: 4), menjelaskan sains adalah sebuah sistem pengetahuan
tentang alam semesta melalui kumpulan data hasil observasi dan
penyelidikan.
Makna pembelajaran dalam konteks IPA yang sesuai hakikat IPA
yaitu produk, proses, sikap, dan teknologi.
Sains sebagai produk yang dapat menghasilkan fakta-fakta, konsep,
prinsip, teori, dan hukum. Sains sebagai proses berarti bahwa sains
merupakan suatu proses untuk mendapatkan pengetahuan. Sains
sikap artinya dalam proses mendapatkan produk terkadung sikap-
sikap ilmiah dan sains sebagai teknologi berarti bahwa sains
mempunyai keterkaitan dengan perkembangan teknologi yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Carin & Sund, 1993: 2).
Pembelajaran IPA juga tentu memiliki tujuan, berdasarkan Lampiran
Permendikbud No. 68 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum SMP/MTs disampaikan tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan IPA menekankan pada pemahaman tentang
lingkungan dan alam sekitar beserta kekayaannya yang dimilikinya
yang perlu dilestarikan dan dijaga dalam perpektif biologi, fisika,
dan kimia. Integrasi berbagai konsep dalam mata pelajaran IPA
menggunakan pendekatan trans-disciplinarity di mana batas-batas
disiplin ilmu berbaur dan/atau terkait dengan permasalahan-
permasalahan yang dijumpai di sekitarnya. Dengan keterpaduan ini,
pembelajaran IPA akan lebih kontekstual yang berpusat pada siswa
(student centered) bukan lagi pembelajaran yang berpusat pada guru
(teacher centered) (Depdiknas No. 68, 2013: 97).
Pembelajaran IPA diharapkan mampu mengajak peserta didik untuk ikut
aktif (student centre). Pembelajaran juga disampaikan secara kontekstual
15
untuk mempermudah siwa dalam mempelajari konsep dan dapat
mengembangkan keterampilan ataupun sikap ilmiahnya.
Menurut Bambang Sutedjo (2009: 7), manfaat dalam membelajarkan
secara terpadu diantaranya yaitu:
a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
b. Meningkatkan minat dan motivasi.
c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus.
Berdasarkan penjabaran pembelajaran IPA di SMP/MTs,
pembelajaran IPA di SMP/MTs IPA diajarkan secara terpadu artinya IPA
diajarkan secara holistik karena pada pembelajaranya IPA mengkaji
persoalan dan fenomena alam sehingga pengajarannya harus secara
holistik yaitu antara bidang kajian biologi, fisika, dan kimia dan
sebagainya hingga terbentuk pembelajaran yang kontektual dimana
pembelajaran berpusat pada siswa (student centered) (Nain Anggraeni,
2011: 12).
Berikut beberapa model keterpaduan menurut Fogarty (1991: xv)
diantaranya yaitu fragmented, connected, nested, sequenced, shared,
webbed, threaded, integrated, immaread, dan networked. Selain itu,
menurut Nain Anggraeni (2011: 13), dari beberapa model keterpaduan
menurut fogarty terdapat empat diantaranya potensial untuk diterapkan
pada pembelajaran IPA seperti integrated, shared, webbed, dan connected.
Keempat model keterpaduan tersebut dideskripsikan seperti pada tabel 1,
diadopsi dari Fogarty dalam Nain Anggraeni (2011: 14).
16
Tabel 1. Empat Model Keterpaduan Fogarty.
Model Karakteristik Kelebihan Keterbatasan
Integrated Membelajarka - Pemahaman - KD-KD yang
n konsep pada terhadap konsepnya beririsan
beberapa KD konsep lebih tidak selalu dalam
yang beririsan utuh satu semester atau
atau tumpang (holistik) satu kelas yang sama
tindih - Lebih efisien - Menuntut wawasan
- Sangat dan penguasaan
kontekstual materi yang luas
- Sarana-prasarana,
misalnya buku belum
mendukung
Shared Membelajarka - Pemahaman - KD-KD yang
n semua terhadap konsepnya beririsan
konsep dari konsep utuh tidak selalu dalam
beberapa KD, - Efisien satu semester atau
dimulai dari - kontekastual satu kelas yang sama
konsep yang - Menuntut wawasan
beririsan dan penguasaan
sebagai unsur materi yang luas
pegikat - Sarana-prasarana,
misalnya buku belum
mendukung
Webbed Membelajarka - Pemahaman - KD-KD yang
n beberapa KD terhadap konsepnya beririsan
yang berkaitan konsep utuh tidak selalu dalam
tema melalui sebuah - Konstektual satu semester atau
tema - Dapat dipilih satu kelas yang sama
tema-tema - Tidak mudah
menarik menemukan tema
pengait yang tepat
Connected Membelajarka - Melihat Kaitan antara bidang
n sebuah KD, permasalaha kajian sudah tampak
konsep-konsep n tidak hanya tetapi masih didominasi
pada KD dari satu oleh bidang kajian
tersebut bidang kajian tertentu.
dipertautkan - Pembelajaran
dengan konsep dapat
pada KD yang mengikuti
lain KD-KD
dalam
standar isi
17
Pembelajaran IPA yang diharapkan pada penelitian ini adalah
pembelajaran IPA yang mampu mengajak peserta didik untuk ikut aktif
dalam setiap proses pembelajaran (student centre) salah satu solusinya
yaitu dengan menggunakan model pembelajaran POE. Hal ini dapat
terlihat dari sintaks atau langkah-langkah model pembelajaran POE.
Pembelajaran IPA dengan model POE melibatkan siswa aktif berfikir
(predict), menyelidiki konsep (observe) hingga penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari (explain) yang dipadu secara holistik antara bidang
kajian fisika maupun biologi sehingga terbentuk pembelajaran yang
kontekstual yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa (student
centered). Selain itu penelitian ini menggunkan model keterpaduan fogarty
yaitu connected, connected adalah salah satu model keterpaduan yang
potensial diterapkan di SMP. Hal ini dikarekan pada penelitian ini
pembelajaran sudah mengaitkan antar bidang kajian lain yaitu biologi,
namun masih didominasi oleh bidang kajian tertentu yaitu fisika.
3. Model POE
a. Pengertian Model Pembelajaran POE
Model pembelajaran POE (Predict-Obiserve-Explain) adalah model
pembelajaran yang diperkenalkan oleh White dan Gustone. Menurut White
& Gunstone dalam Wu-Tsai (2005: 113-119), POE dikembangkan untuk
menemukan kemampuan memprediksi siswa dan alasan mereka dalam
membuat prediksi tersebut mengenai gejala sesuatu yang bertujuan untuk
mengungkap kemampuan siswa dalam melakukan prediksi. White dan
18
Gunstone (1992: 58), menyatakan bahwa POE sebagai model yang efektif
untuk memperoleh dan meningkatkan konsep sains peserta didik. Hasil
penelitian Liang (2011: 64), juga menunjukan bahwa kegiatan POE dapat
digunakan oleh guru untuk merancang kegiatan belajar yang dimulai
dengan sudut pandang siswa.
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran POE
Prosedur POE (predict-observe-explain) adalah meliputi prediksi
siswa dari hasil demonstrasi (predict), melakukan eksperimen (observe),
mendiskusikan alasan dari prediksi (hasil demonstrasi) yang mereka buat
dan terakhir menjelaskan hasil prediksi dari pengamatan mereka (explain).
Metode saintifik yang lain yaitu menganalisis dan membuat kesimpulan.
Kompetensi siswa tersebut sudah harus mampu menjadikan mereka paham
dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan yang nyata.
Seperti menurut Teerasong et all. (2007: 137), model POE memberikan
kesempatan bagi siswa untuk menghasilkan pengetahuan konseptual
mereka sendiri melalui rekonsiliasi dan negosiasi antara pengetahuan awal
dan pengetahuan baru. Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran ini
mensyaratkan pada siswa untuk mengungkapkan prediksinya lalu
melakukan pengamatan atau observasi dan pada akhirnya siswa diminta
untuk menjelaskan kembali prediksi yang telah dibuatnya telah sesuai atau
tidak dengan hasil pengamatan yang telah dilakukannya.
Paul Suparno (2007: 102), menyatakan bahwa POE adalah singkatan
dari Prediction, Observation, dan Explanation. Model POE menggunakan
19
tiga langkah utama metode ilmiah, pertama adalah prediction yaitu
memprediksi, membuat dugaan terhadap suatu peristiwa. Setelah suatu
persoalan disajikan biasanya melalui demonstrasi. Demonstrasi akan
membuat seorang sains bergairah dan lebih memperkarya pengetahuan
tentang konsep dasar. Keuntungan demonstrasi dapat membimbing siswa
berfikir sebab mereka dapat memfokuskan perhatian dalam suatu kejadian
konkrit dan dapat membuat siswa bertanya tentang konsep kunci pokok
yang ditemu dalam eksperimen, maka siswa diminta untuk membuat
dugaan dengan apa yang akan terjadi. Proses memberikan dugaan ini siswa
juga diharapkan memberikan penjelasan atau alasan mengenai dugaan
yang diberikan. Dalam memprediksi guru menekankan untuk tidak
membatasi gagasan dan konsep yang muncul dari pikiran siswa karena
semakin banyak dugaan muncul dari pikiran siswa guru dapat mengerti
bagaimana konsep serta pengertian siswa tentang persoalan yang diajukan,
guru juga dapat mengetahui miskonsepsi terjadi pada pikiran siswa,
sehingga ini akan sangat penting untuk guru dapat membuat penjelasan
dengan konsep yang benar.
Langkah kedua dalam pembelajaran POE menurut Paul Suparno
(2007: 103), adalah observation. Dugaan yang diberikan siswa dengan
alasan yang diberikan harus dibuktikan dengan mempraktikannya,
melihatnya dalam kenyataan seperti melakukan percobaan (observe) untuk
membuktikan apakah prediksi yang diberikan benar atau tidak.
20
Langkah ketiga dalam model POE menurut Paul Suparno (2007:
102), adalah membuat penjelasan (explaination) pada langkah ini dugaan
siswa ternyata terjadi dalam eksperimenya atau percobaannya, jika ini
terjadi siswa akan semakin yakin akan konsepnya. Siswa setelah itu
merangkum apa yang ditemukannya dan kemudian menguraikan atau
menjelaskan dengan lebih lengkap. Siswa akan menemukan pengertian
seperti konsep yang benar, namun jika dugaannya tidak benar atau tidak
tepat, siswa akan dibantu guru dalam memberikan penjelasan dan siswa
juga akan dibantu untuk mengubah dugaannya, dan membenarkan dugaan
yang keliru sehingga siswa mengalami perubahan konsep dari konsep yang
belum benar menjadi konsep yang benar. Siswa diharapkan tidak akan
mudah melupakan konsep-konsep yang telah mereka selidiki, dari suau
kesalahan kebanyakan siswa tidak akan mudah cepat melupakan sesuatu
hal.
Pembelajaran POE (predict-observe-explain) dilandasi dari teori
pembelajaran konstruktivisme. Teori belajar konstruktivisme utamannya
adalah menekankan pengetahuan baru yang dibangun di atas pengetahuan
yang ada/yang telah dimiliki oleh siswa (Paul Suparno, 2007: 102).
Menurut teori ini, peserta didik membuat hubungan antara apa yang
mereka sudah tahu dan materi yang mereka pelajari. Setelah membuat
hubungan konseptual antara konsep baru dan yang sudah mereka miliki,
pengetahuan dibangun dalam pikiran peserta didik melalui proses asimilasi
dan akomodasi, seperti yang diusulkan oleh Jean Piaget.
21
Gagasan dari Piaget dipilih menjadi dua domain yakni domain
operative knowledge dan figurative knowledge. Operative knowledge yang
meliputi: mengklasifikasi, memprediksi, mensubstasikan,
menghipotesiskan, berfikir yang operasional dan mengontrol variabel.
Operative knowledge ini erat hubungannya dengan keterampilan proses,
sedangkan figurative knowledge erat kaitannya dengan psychologis siswa
yaitu bakat dan IQ (Wayan Memes, 2000: 11).
Teori Piaget konstruktivisme dipandang erat kaitannya dengan POE
(Predict-Observe-Explain) hal ini dikarenakan siswa akan secara aktif
mengkonstruksi pemahamannya sendiri maupun secara sosial, bukan
sebagai proses dimana gagasan guru dipindahkan kepada siswa. Menurut
Paul Suparno (1997: 49), secara garis besar prinsip kontruktivisme adalah
sebagai berikut:
1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal
maupun secara sosial.
2) Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya
dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk bernalar.
3) Siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi
perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap serta
sesuai dengan konsep ilmiah.
Pembelajaran dengan Model POE (predict-observe-explain) ini
menggunakan 3 langkah utama, yaitu:
22
1) Prediction (prediksi)
Prediksi suatu proses membuat dugaan terhadap suatu peristiwa.
Dalam membuat dugaan, siswa akan diminta guru memberikan alasan dari
dugaannya, yaitu mengapa ia memilih prediksi tersebut. Pada proses ini
siswa diberikan kebebasan seluas-luasanya untuk menyusun dugaan
dengan alasannya, guru tidak membatasi pemikiran siswa sehingga banyak
gagasan dan konsep muncul dari pemikiran siswa, karena semakin banyak
dugaan yang muncul dari pemikiran siswa, guru akan dapat mengerti
bagaimana konsep dan pemikiran siswa tentang persoalan yang diajukan
(Paul Suparno, 2007: 102).
Prediksi yang dibuat siswa tidak dibatasi oleh guru, sehingga guru
juga dapat mengerti miskonsepsi apa yang banyak terjadi pada diri siswa.
Hal ini penting bagi guru dalam membantu siswa untuk membangun
konsep yang benar. Kadang kala pengetahuan yang dibawa dari
pengalaman luar sekolah yang bersifat “miskonsepsi” akan menyulitkan
siswa dalam mengadakan assimilasi ataupun akomodasi dengan
pengetahuan yang diberikan di kelas. Sebagai contoh miskonsepsi yang
dibawa oleh siswa ke dalam kelas adalah sebagai berikut: “ada dua buah
benda yang mempunyai massa yang berbeda. Kedua benda itu dijatuhkan
dari ketinggian yang sama. Manakah dari kedua benda itu yang lebih
dahulu jatuh? (a) benda yang massanya lebih besar, (b) benda yang
massanya lebih kecil, (c) kedua benda itu akan bersamaan jatuh (Wayan
Memes, 2000: 8).
23
Miskonsepsi siswa yang dibangun atas dasar akal sehat pada
umumnya sangat kuat mengendap dan sulit diubah dalam proses
pembelajaran menjadi konsep ilmiah. Untuk mengubah ini maka perlu
dirancang suatu proses pembelajaran yang melibatkan adannya konflik
kognitif dengan siswa diajak untuk melakukan eksperimen di laboratorium
(Wayan Memes, 2000: 9). Jadi dalam tahap model POE yaitu memprediksi
siswa akan dijak memprediksi yaitu memberi dugaan dari suatu
demonstrasi yang diberikan guru, harapannya siswa akan mengalami
konflik kogniitif pada tahap ini. Dugaan yang diberikan siswa guru akan
tahu miskonsepsi yang diberikan siswa agar miskonsepsi berubah menjadi
konsep ilmiah.
2) Observation (observasi atau pengamatan)
Observasi merupakan keterampilan ilmiah yang mendasar. Siswa
dalam melakukan observasi menggunakan semua indra. Tahap ini siswa
diajak untuk melakukan percobaan atau eksperimen, tujuannya yaitu untuk
menguji kebenaran prediksi yang mereka sampaikan. Siswa mengamati
apa yang terjadi, yang terpenting dalam langkah ini adalah konfirmasi atas
prediksi mereka.
Tahap pertama setelah konflik kognitif terjadi, tahap selanjutnya
yaitu membuktikan dugaannya dengan melakukan suatu ekspeimen.
Dengan melakukan eksperimen diharapkan akan ada proses
ketidakseimbangan antara konsep yang baru dihayati dengan miskonsep
yang dibawa dari luar (dibangun atas dasar akal sehat). Mereka
24
mengadakan pengulangan pegamatan, membuat pengukuran,
menganalisis, menafsirkan data yang selanjutnya berakhir dengan menarik
kesimpulan (Wayan Memes, 2000: 9).
3). Explanation (eksplanasi)
Eksplanasi yaitu pemberian penjelasan terutama tentang kesesuaian
antara dugaan dengan hasil eksperimen pada tahap observasi. Apabila hasil
prediksi tersebut sesuai dengan hasil observasi dan setelah mereka
memperoleh penjelasan tentang kebenaran prediksinya, maka siswa
semakin yakin akan konsepnya. Akan tetapi, jika dugaannya tidak tepat
maka siswa dapat mencari penjelasan tentang ketidaktepatan prediksinya.
Siswa akan mengalami perubahan konsep dari konsep yang tidak benar
menjadi benar. Disini, siswa dapat belajar dari kesalahan, dan biasanya
belajar dari kesalahan tidak akan mudah dilupakan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam model pembelajaran POE menurut Kunia Novita Sari
(2014: 77) adalah sebagai berikut:
a) Masalah yang diajukan sebaiknya masalah yang memungkinkan
terjadi konflik kognitif dan memicu rasa ingin tahu.
b) Prediksi harus disertai alasan yang rasional. Prediksi bukan sekedar
menebak.
c) Demonstrasi harus bisa diamati dengan jelas, dan dapat memberi
jawaban atas masalah.
d) Siswa dilibatkan dalam proses eksplanasi.
25
Aktivitas Guru dan Siswa dalam model pembelajaran POE (predict-
observe-explain) dapat dilihat pada tabel di bawah ini, aktivitas guru dan
siswa dalam model pembelajaran POE (diadaptasi dari Liew, 2004: 9).
Tabel 2. Aktivitas Guru dan Siswa dalam Model Pembelajaran POE
(Predict- Observe-Explain).
Langkah Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Pembelajaran
Tahap 1 Memberikan apersepsi Memberikan prediksi
Meramalkan terkait materi yang akan
berdasarkan permasalahan
(Predict) di bahas. Bisa melalui yang diambil dari
demonstrasi pengalaman siswa, atau
buku yang memandu suatu
peristiwa atau
fennnomena yang kan
dibahas
Tahap 2 Sebagai falilator dan Mengobservasi dengan
Mengamati mediator melakukan eksperimen
(Observe) atau percobaan untuk
membuktikan prediksi
yang telah dibuat,
kemudian mencatat hasil
pengamatan
Tahap 3 Memfasilitasi jalannya Mendiskusikan fenomena
Menjelaskan diskusi yang telah diamati secara
(Explain) konseptual-matematis,
membandingkan hasil
observasi dengan prediksi
sebelumnya bersama
kelompok masing-masing.
Mempresentasikan hasil
observasi di
kelas, serta kelompok lain
memberikan tanggapan,
sehingga diperoleh
kesimpulan
dari permasalahan yang
sedang dibahas.
Menurut Obimita Ika P. (2011: 31) pembelajaran POE memiliki beberapa
kriteria seperti:
26
1) mempunyai prosedur yang sistematis sesuai metode ilmiah,
2) model POE merupakan kegiatan pembelajaran berbasis
laboratorium,
3) kegiatan pembelajaran di mulai dari sudut pandang siswa,
4) pembelajaran bersifat konstruktif.
c. Karakteristik dan Manfaat Pembelajaran POE
POE (Predict-Observe-Explain) hampir sama dengan struktur model
berfikir induktif yang memiliki elemen-elemen dasar yakni:
1) Membentuk konsep yang terdiri dari:
a) Mengkalkulasikan dan membuat daftar.
b) Mengelompokkan.
c) Membuat tabel dan kategori.
2) Interpretasi data, yang terdiri dari:
a) Mengidentifikaasi hubungan yang penting.
b) Mengeksplorasi menghubungkan pola-pola dari suatu
hubungan-hubungan.
c) membuat dugaan dan kesimpulan.
3) Penerapan prinsip, terdiri dari:
a) Memprediksi konsekuensi, menjelaskan fenomena asing.
b) Menjelaskan atau mendukung prediksi.
c) Menguji kebenaran (verivikasi) prediksi Joyce et al (2009).
27
Menurut Warsono dan Hariyanto (2012: 93), menjelaskan beberapa
manfaat yang diperoleh dari penggunaan model pembelajaran POE adalah
sebagai berikut:
(1) dapat digunakan untuk menggali gagasan awal yang dimiliki oleh
siswa dapat dilihat dari hasil prediksi yang dibuat siswa;
(2) memberikan informasi kepada guru tentang pemikiran siswa
melalui yang dibuat siswa;
(3) membangkitkan diskusi baik antara siswa dengan siswa maupun
antara siswa dengan guru;
(4) memberikan motivasi kepada siswa untuk menyelidiki konsep
yang belum dipahami untuk membuktikan hasil prediksinya;
(5) membangkitkan rasa ingin tahu siswa untuk menyelidiki.
Penilaian yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran
ini terjadi selama proses pembelajaran berlangsung serta tugas yang
dikerjakan oleh siswa. Melalui penilaian aktivitas siswa pada pelaksanaan
model pembelajaran POE, dapat diketahui efisiensi, keefektifan, dan
produktivitas proses pembelajaran dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan (Kurnia Novita Sari, 2014: 79). Keberhasilan pengajaran tidak
hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari
segi prosesnya (Nana Sudjana, 2012: 65). Oleh karena itu, penilaian proses
dan juga hasil belajar pada pembelajaran dengan model POE dapat
mendukung keberhasilan pembelajaran melalui penilaian hasil belajar
28
siswa dengan tidak mengabaikan proses yang terjadi di dalamnya selama
pembelajaran berlangsung.
Penilaian pada penggunaan model POE meliputi penilaian proses
yang dilakukan pada proses pembelajaran dan juga penilaian hasil yang
dilakukan pada akhir pembelajaran. Penilaian proses melalui pengamatan
aktivitas siswa dan hasil melalui tes formatif akan menciptakan
pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil tetapi juga proses
yang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran (Kurnia Novita
Sari, 2014: 78).
Keterampilan proses memprediksi, mengamati, dan menjelaskan
terdapat dalam lingkup pembelajaran POE (Obimita Ika P., 2011: 32).
Terdapat beberapa indikator dari ketiga keterampilan proses tersebut,
diantaranya:
(a) Mempredisi
(i) Mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang
belum diamati,
(ii) Mengumpulkan/menggunakan fakta yang relevan
(iii) Menghubungkannya dengan pola-pola.
(b) Mengamati
(i) Menggunakan sebanyak mungkin indera.
(ii) Menggunakan pola-pola hasil pengamatan.
29
(c) Menjelaskan
(i) Mengetahui bahwa ada lebih dari satu kemungkinan
penjelasan dari satu kejadian,
(ii) Menyadari bahwa satu penjelasan perlu diuji kebenarannya
dengan memperoleh bukti lebih banyak dalam pemecahan
masalah.
d. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran POE
Setiap model pembelajaran yang dilaksanakan pada proses
pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-
masing. Begitu pula dengan model pembelajaran POE. Menurut Yupani,
Garminah, dan Mahadewi (2013: 3) kelebihan dan kekurangan model POE
adalah sebagai berikut:
1) Kelebihan Model Pembelajaran POE
a) Merangsang peserta didik untuk lebih kreatif khususnya dalam
mengajukan prediksi, dari prediksi yang dibuat siswa guru
menjadi tahu konsep awal yang dimilki siswa.
b) Membangkitkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan
penyelidikan, membuktikan hasil prediksinya.
c) Dapat mengurangi verbalisme dengan melakukan eksperimen .
d) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik, sebab peserta didik
tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati peristiwa yang
terjadi.
30
e) Dengan cara mengamati secara langsung peserta didik akan
memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori
(dugaan) dengan kenyataan. dengan demikian peserta didik akan
lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
2) Kekurangan Model Pembelajaran POE
a) Memerlukan persiapan yang lebih matang terutama berkaitan
dengan persoalan yang disajikan serta eksperimen dan
demonstrasi yang akan dilakukan serta waktu yang diperlukan
karena biasanya waktu yang dibutuhkan lebih banyak.
b) Ketika melakukan eksperimen dibutuhkan alat-alat dan bahan-
bahan yang memadai bagi siswa.
c) Dituntut kemampuan dan keterampilan yang lebih bagi guru
untuk melakukan kegiatan eksperimen dan demonstrasi, serta
dituntut untuk lebih profesional.
d) Memerlukan kemauan dan motivasi yang baik dari guru yang
bersangkutan sehingga berhasil dalam proses pembelajaran..
Penelitian ini menggunakan model pembelajaran POE karena masih
dijumpai peserta didik pada pembelajaran IPA di sekolah kesulitan dalam
melakukan eksperimen, jarang melakukan eksperimen atau percobaan
membuat peserta didik tidak terlihat keterampilan prosesnya, selain itu
peserta didik hanya diberikan informasi-informasi (teacher centre) atau
latihan soal saja dikarenakan model pembelajaran yang dipakai belum
variatif yang digunakan disekolah sehingga pemahaman terhadap konsep
31
peserta didik masih kurang, model pembelajaran POE memilki prosedur
untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep, langkah pertama
pada prosedur POE yaitu predict.
Predict atau menduga peserta didik menyusunnya dari hasil
demonstrasi. Demonstrasi akan membuat seorang sains bergairah dan lebih
memperkarya pengetahuan tentang konsep, dimana model POE
memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menghasilkan
pengetahuan konsep sehingga secara aktif peserta didik mengkonstruksi
pemahamnnya sendiri.
Prosedur kedua pada pembelajaran POE, akan membuat peserta
didik menglami konflik kognitif setelah menyusun prediksi, karena pada
langkah observe hasil prediksi yang peserta didik susun dibuktikan dengan
melakukan eksperimen.
Langkah ketiga pada model POE adalah membuat penjelasan
(explain), pada tahap ini dugaan peserta didik ternyata terjadi dalam
eksperimennya, jika ini terjadi peserta didik akan semakin yakin dengan
konsepnya. Langkah-langkah POE merupakan beberapa langkah utama
dari metode ilmiah.
4. Keterampilan Proses
IPA dapat dijelaskan sebagai kumpulan pengetahuan dan cara-cara
untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan. IPA kombinasi dari
dua unsur utama yaitu proses dan produk. IPA sebagai proses meliputi
keterampilan proses dan sikap ilmiah yang perlu untuk mengembangkan
32
suatu pengetahuan. Sedangkan IPA sebagai produk berupa kumpulan
berupa fakta-fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori dan hukum
(Depdiknas, 2014: 1).
Keterampilan proses sains menurut Depdiknas (2014: 2) adalah
keterampilan yang digunakan peserta didik untuk menyelidiki dunia
sekitar mereka serta untuk membangun konsep suatu ilmu pengetahuan.
Sedangkan produk IPA diperoleh melalui suatu proses berpikir dan
bertindak dalam menghadapi atau merespons masalah-masalah yang ada di
lingkungan, yang dikenal sebagai proses ilmiah. Proses IPA yang
dikembangkan para ilmuwan dalam mencari pengetahuan dan kebenaran
ilmiah itulah yang kemudian disebut sebagai keterampilan proses IPA.
Menurut Zubaidah dalam Depdiknas (2014: 2) menyatakan bahwa
keterampilan proses IPA digolongkan menjadi dua, yaitu keterampilan
proses dasar (basic skills) dan keterampilan proses terintegrasi (integrated
skills). Keterampilan proses baik keterampilan proses dasar maupun
keterampilan proses terintegrasi harus dilatihkan kepada peserta didik pada
pembelajaran IPA, dengan demikian peserta didik tidak hanya menerima
informasi tetapi dapat dapat melakukan pencarian informasi terkait dengan
hal yang dipelajarinya.
Keterampilan proses dasar berdasarkan Depdiknas (2014: 3) terdiri
dari:
33
a. Mengamati
Mengamati yaitu kegiatan melibatkan alat indra. Seperti melihat,
mencium, meraba, mendengar dan merasakan. Tahap ini siswa
belajar untuk mengumpulkan petunjuk.
b. Menggolongkan/ mengklasifikasi
Menggolongkan ialah memilih berbagai objek atau peristiwa
berdasarkan persamaan sifat khususnya, sehingga akan diperoleh
kelompok sejenis dari objek atau peristiwa. Pada kegiatan
menggolongkan siswa dikembangkan kemampuan menghimpun
hasil pengamatan dan menyajikannya dalam tabel tabel
pengamatan.
c. Mengukur
Mengukur adalah membandingkan suatu yang diukur dengan
satuan ukuran tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya. Pada
kegiatan mengukur diperlukan suatu alat ukur.
d. Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan adalah kegiatan menyampaikan data yang
diperoleh dari fakta-fakta yang ditemukan, konsep maupun prinsip
ilmu pengetahuan menggunakan berbagai bentuk seperti laporan
tertulis, audio, visual, atau audio visual.
34
e. Menginterpretasi data
Menginterpretasi data yaitu memberi makna pada data yang
diperoleh dari pengamatan, karena sebuah data tidak akan berarti
apa-apa sebelum diartikan.
f. Memprediksi
Memprediksi yaitu menduga sesuatu yang akan terjadi
berdasarkan pola-pola peristiwa atu fakta yang sudah terjadi.
Prediksi dilakukan mengenal kesamaan berdasarkan pengetahuan
yang sudah ada, mengenal kejadian dari suatu peritiwa
berdasarkan pola kecenderungan.
g. Menggunakan alat
Menggunakn alat yaitu kegiatan merangkai dan memanfaatkan
alat. Menggunakan alat juga harus dengan fungsinya.
h. Melakukan percobaan
Melakukan percobaan adalah keterampilan untuk melakukan
pengujian terhadap ide-ide dari fakta-fakta, konsep, dan prinsip
ilmu pengetahuan sehingga diperoleh informasi yang diterima atau
ditolak.
i. Menyimpulkan
Menyimpulkan adalah keterampilan memutuskan keadaan suatu
objek berdsarkan dari fakta, konsep, prinsip yang diketahui.
Keterampilan terintegrasi diantaranya berdasarkan Depdiknas (2014:
5):
35
a. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah adalah proses memfokuskan masalah yang
diteliti yang dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Masalah
dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dijawab dengan melakukan
pengamatan atau percobaan
b. Mengidentifikasi variabel
Mengidentifikasi variabel merupakan suatu kegiatan menentukan
jenis variabel dalam suatu penelitian. Variabel merupakan obyek
pnelitian, atau apa saja yang dapat menjadi titik perhatian suatu
penelitian.
c. Mendeskripsikan hubungan antar variabel
Mendeskripsikan hubungan antar variabel merupakan proses
menjelaskan cara penelitian yang dilaksanakan, dan jenis data
yang harus dikumpulkan.
d. Mengendalikan variabel
Mengendalikan variabel adalah kegiatan mengatur variasi atau
macam-macam suatu varabel percobaan
e. Merumuskan hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara, dari peneliti
terhadap permasalahan peneliti yang telah dirumuskan. Hipotesis
dirumuskan berdasarkan hasil kajian teori yang relevan. Jawaban
sementara tersebut kemudian diuji kebenarannya melalui
penyelidikan atau percobaan.
36
f. Merancang penelitian
Merancang penyelidikan adalah kegiatan ilmiah yang mencakup
beberapa keterampilan proses IPA seperti: (1) membuat
pertanyaan-pertanyaan (merumuskan masalah), (2) merumuskan
hipotesis, (3) memilih alat bahan serta merancang cara kerja
percobaan untuk menguji hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5)
menganalisis data, (6) membuat kesimpulan.
g. Melakukan percobaan
Keterampilan proses melakukan percobaan dilakukan untuk
membangun konsep-konsep, prinsip-prinsip IPA, membangun
teori baru, atau menerapkan teori.
h. Memperoleh dan menyajikan data
Data dari hasil percobaan dicatat dan disusun secara sistematis
kemudian disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar
disesuaikan menurut jenis datanya.
i. Menganalisis data
Data percobaan yang telah disusun kemudian dianalisis sebelum
ditarik kesimpulannya. Menganalisis data disebut juga dengan
menginterpretasikan data. Hasil interpretasi data kemudian
dibandingkan dan diintegrasikan dengan teori yang relevan sesuai
permasalahan yang diselidiki, atau juga dibandingkan dan
diintegrasikan dengan temuan peneliti lain yang relevan.
37
Menurut Patta Bundu (2006: 5), proses sains sangat penting dikuasai
siswa. menurut Samiawan, dkk. (1985) dalam Patta Bundu (2006),
perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat sehingga tidak
mungkin lagi mengerjakan fakta dan konsep kepada siswa, siswa
sebenarnya akan lebih mudah memahami konsep yang abstrak jika belajar
melalui benda-benda yang kongkrit dan langsung melakukannya sendiri,
dan penemuan ilmu pengetahuan sifat kebenarannya relatif, proses belajar
mengajarpun perkembangan konsepnya tidak bisa dipisahkan dari
pengembangan sikap dan nilai. Hal itulah yang menjadikan keterampilan
proses menjadi wahana pengait antara pengembangan konsep dan
pengembangan sikap dan nilai.
Pengkajian sains dari segi proses atau biasa disebut dengan
keterampilan proses sains (science process skills) atau juga dapat disebut
proses sains. Proses sains adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji
fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu atau
mengembangkan ilmu, dengan keterampilan proses siswa akan
mempelajari sains sesuai dengan apa yang para ahli sains lakukan, yaitu
seperti melalui pengamatan, klasifikasi, inferensi, merumuskan hipotesis,
dan melakukan eksperimen (Patta Bundu, 2006: 6).
Penguasaan proses sains merupakan perubahan dalam proses
dimensi afektif dan psikomotor yaitu sejauh mana siswa mengalami
kemajuan dalam proses sains yang meliputi observasi, klasifikasi,
kuantifikasi, inferensi, dan komunikasi serta proses sains lainnya. Hasil
38
belajar sains akan menghasilkan kesan yang lama, tidak mudah untuk
dilupakan, dan juga akan dapat digunakan sebagai dasar untuk
memecahkan masalah yang akan dihadapi siswa dalam kehidupannya
(Patta Bundu, 2006: 13)
Cain & Evan (1990) dalam Patta Bundu (2006:13), mengemukakan
bahwa agar sukses dalam pembelajaran sains maka proses sains harus
dikembangkan, yaitu sebagai berikut: mengobservasi, mengklasifikasi,
mengukur, menggunakan hubungan spasial, mengkomunikasikan,
memprediksi, menginferensi, menyusun definisi operasional,
memformulasi hipotesis, menginterpretasi data, mengontrol variabel, dan
melakukan eksperimen. Tujuh jenis keterampilan (mengobservasi,
mengklasifikasi, mengukur, menggunakan hubungan spasial,
mengkomunikasikan, memprediksi, menginferensi) adalah merupakan
keterampilan proses dasar (basic skills), sedangkan yang lain dari itu
adalah merupakan keterampilan proses terintegrasi (integrated skills).
Pengelompokan keterampilan proses sains, diadopsi dari Patta
Bundu (2006: 23):
39
Tabel 3. Keterampilan Proses.
Basic skills (Keterampilan dasar) Integrated skills (Keterampilan
terintegrasi)
- Observing (Mengamati) - Controling variable
- Using space relationship (mengontrol variabel)
(Menggunakan hubungan ruang) - Menafsirkan data
- Using number (menggunakan - Formulating hypothesis
angka) (menyusun hipotesis)
- Classfying (mengelompokan) - Defining operationally
- Measuring (mengukur) (menyusun definisi operasional)
- Communicating - Experimenting (melakukan
(mengkomunikasikan) percobaan)
- Predicting (Meramalkan)
- Iinferring (Menyimpulkan)
-
Keterampilan proses pada penelitian ini mengukur keterampilan
proses dasar, diantaranya yaitu: mengamati, memprediksi diharapkan akan
terlihat pada prosedur POE yaitu predict, melakukan percobaan yaitu
prosedur POE observe, menyimpulkan dan mengkomunikasikan yaitu
sebagai implementasi dari langkah POE yaitu menjelaskan (Explain).
Indikator-indikator yang akan dinilai pada tiap aspek diantarannya yaitu
diadaptasi dari Patta Bundu (2006) dan Depdiknas (2014), terlihat dalam
tabel 4.
40
Tabel 4. Keterampilan Proses pada Penelitian
Aspek Indikator
1. Memprediksi a. Menggunakan pengetahuan awal sebagai
landasan membuat prediksi yang akan di
uji
b. Menggunakan pola
c. Menghubungkan pola yang ada
d. Memperkirakan peristiwa yang terjadi
2. Mengamati a. Menggunakan beberapa alat indera
b. Mengumpulkan fakta yang relevan dan
memadai
c. Mengidentifikasi data dan kejadian yang
nyata
d. Mengurutkan secara teratur suatu obyek
atau peristiwa
3. Melakukan a. Menentukan alat dan bahan yang
Percobaan digunakan
b. Menggunakan alat dan bahan sesuai
dengan fungsinya
c. Aktif atau terlibat dalam setiap kegiatan
percobaan
d. Mencatat setiap hasil pengamatan atau
gejala yang diamati
4. Membuat a. Kesimpulan sesuai dengan tujuan
Kesimpulan percobaan
b. Membandingkan dengan prediksi
(Prediksi sesuai/tidak)
c. Kesimpulan sesuai dengan hasil
percobaan
d. Kesimpulan menggunakan kalimat yang
jelas dan mudah dimengerti
5. Komunikasi a. Mempresentasikan laporan secara
sistematis
b. Menjelaskan hasil percobaan dan prediksi
c. Mendiskusikan hasil percobaan dengan
teman
d. Penulisan laporan (LKPD) lengkap/Jelas.
5. Pemahaman Konsep
Menurut Addison Wesley Longman (2001) dalam Lorin W.
Anderson & David Krathwohl (2010: 105), siswa dikatakan memahami
bila mereka mampu mengkonstruksi makna dari pesan-pesan pembelajaran
41
yang diajarkan, baik yang sifatnya lisan, tulisan, ataupun grafis yang
penyampainnya melalui pengajaran, buku, ataupun internet, contoh-contoh
pesan pembelajarannya seperti demonstrasi di kelas. Siswa memahami
ketika mereka menghubungkan pengetahuan baru danpengetahuan lama
mereka, pengetahuan konseptual menjadi dasar untuk memahami.
Pengetahuan konseptual dalam Anderson & Krathwohl (2010: 70),
mencakup pengetahuan tentang kategori, klasifikasi, dan hubungannya
antara dua atau lebih kategori. Pengetahuan konseptual meliputi skema,
model, dan teori ini mempresentasikan pengetahuan manusia tentang
bagaimana suatu materi kajian ditata dan distrukturkan, informasi serta
bagian-bagian tersebut juga saling berkaitansecara sistematis dan dapat
berfungsi bersama. Misalnya seperti dicontohkan Anderson & Krathwohl
(2010: 71), model mental untuk menjelaskan mengapa harus ada musim,
boleh jadi mencakup ide-ide tentang bumi, matahari, melainkan ide-ide
tentang hubungan-hubungan antara bumi dan matahari dan kaitan antara
hubungan-hubungan tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan pemahaman adalah
proses atau perbuatan yang tertanam didalam pikiran dan mempunyai
makna sehingga dapat mengerti betul secara mental, filosofis, maksud,
implikasi, maupun aplikasi-aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Anderson & Krathwohl (2010:106), menyebutkan terdapat 7 proses
kognitif diantaranya yaitu: remembering (mengingat), understanding
(memahami), applying (menerapkan), analysing (menganalisis),
42
evaluating (mengevaluasi), dan creating (mencipta). Sedangkan menurut
Nuryani (2005: 156), pemahaman mencakup 7 proses kognitif secara lebih
khusus yaitu diantaranya: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh
(examplifying), mengklarifikasikan (classifying), meringkas
(summarizing), menarik inferensi (infering), membandingkan (comparing),
menjelaskan (explaining).
Anderson & Krathwol (2010: 105-114), menjabarkan 7 proses
kognitif memahami, diantanya yaitu:
a) menafsirkan (interpreting),
Menafsirkan terjadi ketika siswa dapat mengubah informasi dari satu
bentuk ke bentuk lain (Anderson & Krathwohl, 2010: 106).
Menafsirkan berupa pengubahan kata-kata menjadi kata-kata lain,
gambar dari kata-kata, kata-kata jadi gambar, angka jadi kata-kata,
kata-kata jadi angka, dan semacamnya.
b) memberikan contoh (examplifying),
proses kognitif mencontohkan menjadi terjadi manakala peserta didik
memberikan contoh tentang konsep atau prinsip umum.
Mencontohkan melibatkan proses identifikasi ciri-ciri pokok dari
konsep atau prinsip umum.
c) mengklarifikasikan (classifying),
proses kognitif mengklasifikasikan terjadi ketika peserta didik
mengetahui bahwa misalnya (suatu contoh) yang telah disebutkan
termasukdalam kategori tertentu (misalnya, konsep atau prinsip).
43
Mengklsifikasikan adalah proses kognitif yang melengkapi proses
mencontohkan. Jika ketika mencontohkan dimulai dengan konsep atau
prinsip umum yang mengharuskan untuk ditemukan contohnya,
sedangkan mengklasifikasikan dimulai dengan contoh tertentu dan
mengharuskan siswa menemukan konsep atau prinsip umum.
Mengklasifikasi juga memiliki nama lain diantaranya yaitu
mengkategorikan dan mengelompokan.
d) meringkas (summarizing),
proses kognitig meringkas atau merangkum terjadi ketika peserta
didik mengemukakan satu kalimat yang mempresentasikan informasi
yang sudah diterimanya.
e) menarik inferensi (infering),
f) membandingkan (comparing),
proses kognitif membandingkan melibatkan proses mendeteksi
persamaan atau perbedaan dari dua atau lebih objek, peristiwa, ide,
bahkan masalah atau situasi.
g) menjelaskan (explaining).
Proses kognitif menjelaskan berlangsung ketika peserta didik mampu
membuat model sebab-akibat dalam sebuah sitem.
Berikut ini beberapa kata kerja operasional untuk proses kognitif
pemahaman yaitu menjelaskan, menyimpulkan, membedakan, menyatakan
kembali, mengidentifikasi, menggambarkan, mendeskripsikan, mengubah,
merumuskan, memberi contoh, memprediksi, dan sebagainya.
44
Pemahaman dibedakan kedalam 3 hal menurut Nana Sudjana (2010:
24), yaitu: (a) Pemahaman terjemahan, (b) pemahaman penafsiran (c)
pemahaman ekstrapolasi. Pemahaman terjemahan adalah kemampuan
untuk memahami suatu ide yang dinyatakan dengan cara lain. Misalnya
siswa dapat menerapkan prinsip-prinsip listrik dengan merangkai alat yang
benar. Pemahaman penafsiran adalah keterampilan untuk memahami ide
yang dinyatakan dengan menyusunya dengan bentuk yang lain. Misalnya
dalam bentuk grafik, diagram, dsb. Pemahaman ekstrapolasi adalah
keterampilan untuk meramalkan kelanjutan dari kecenderungna yang ada
dari suatu kata tertentu dengan mengemukakan akibat, konsekuensi,
implikasi, dsb.
Pemahaman konsep menurut Anderson (2010: 71), cakupannya
sangat luas. Pemahaman konsep adalah ketika siswa dan mampu
menghubungkan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang
sudah mereka miliki sebelumnya.
Pemahaman konsep sangatlah penting karena pemahaman konsep
didasarkan pada kenyataan kondisi alam dan kondisi alam sangatlah
kompleks sehingga perlu pengelompokan atas dasar keragaman objek,
peristiwa, maupun proses.
Pemahaman konsep adalah proses atau perbuatan yang tertanam
didalam pikiran dan mempunyai makna sehingga dapat mengerti betul
secara mental, filosofis, maksud, implikasi, maupun aplikasi-aplikasi
dalam kehidupan sehari-hari siswa dan mampu menghubungkan antara
45
pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang sudah mereka miliki
sebelumnya, sehingga siswa mempunyai pengertian yang mendalam,
mampu menjelaskan kejadian atau peristiwa yang dialaminya, serta
mampu menafsirkan arti yang tersirat.
Dalam penelitian ini, pemahaman konsep berkaiatan dengan
pengetahuan konseptual yang diharapkan akan terlihat ketika siswa
mengamati demonstrasi guru dan dengan menggunakan model POE
pengetahuan konseptual peserta didik dapat terlihat dari jawaban prediksi
peserta didik yaitu prosedur predict pada pembelajaran POE, ketika
memprediksi peserta didik juga harus menyertakan alasan prediksi yang
mereka buat sehingga guru akan mengetahui pengetahuan konseptual
siswa. Pemahaman konsep peserta didik diharapkan akan terlatih dengan
baik karena siswa memahami ketika mereka menghubungkan pengetahuan
baru dan pengetahuan lama mereka, karena pengetahuan konseptual
menjadi dasar untuk peserta didik dapat memahami konsep.
6. Kajian Materi
A. Tekanan
Tekanan dan gaya saling berhubungan, tapi keduannya berbeda.
Tekanan didefinisikan sebagai gaya persatuan luas, dimana gaya F
dipahami sebagai magnitudo yang bekerja pada arah tegak-lurus terhadap
bidang seluas A (Dauglas C. Giancoli, 2014: 328). Sedangkan menurut
Mohamad Ishaq (2007: 304), pada dasarnya konsep tekanan dalam fluida
tidak memiliki perbedaan mendasar dengan konsep tekanan pada zat padat.
46
Selain itu menurut Bambang Murdaka Eka Jati (2013: 405), tekanan
biasannya dibahas pada bab fluida dalam fisika dasar, fluida disebut juga
zat alir, adalah zat yang dapat mengalir. Bentuknya dapat berupa zat cair
atau gas. Berbeda dengan partikel, partikel merupakan zat yang tidak dapat
mengalir. Zat alir memiliki sifat mekanika seperti halnya partikel, hanya
saja disebutka untuk alasan yang praktis ditampilkan berbeda dengan
mekanika fluida. Misalnya besaran massa (pada mekanika partikel) diubah
menjadi massa jenis (pada mekanika fluida). Demikian pula pada besaran
gaya (pada mekanika partikel) ditampilkan sebagai besaran tekanan (pada
mekanika fluida), dimana tekanan adalah gaya persatuan luas.
Di dalam buku Bambang Murdaka Eka Jati (2013: 424),
menyebutkan mekanika fluida digunakan penerapannya didalam medis.
Berikut ini dipaparkan peristiwa pada mekanika fluida yang terjadi pada
dunia medis, juga dipisahkan menjadi dua bagian seperti mekanika fluida
yang dipisahkan menjadi fluida berbentuk gas dan berbentuk cair. Bagian
pertama fluida dalam medis fluida yang berbentuk gas yang dicontohkan
pada respirasi (pernapasan). Bagian kedua, fluida berbentuk cair yang
dicontohkan pada aliran darah didalam pembuluh darah. Masing-masing
akan dibahas selanjutnya pada salah satu penerapan tekanan pada zat cair
dan tekanan pada zat gas.
1. Tekanan Zat Padat
Pada umumnya materi dapat di bedakan menjadi tiga wujud, yaitu
padat, cair dan gas. Benda padat memiliki sifat mempertahankan bentuk
47
dan ukuran yang tetap. Jika gaya bekerja pada benda padat, benda tersebut
tidak langsung berubah bentuk atau volumenya (Asnal Effendi, 2012:
12.1). Ciri-ciri suatu zat dapat dilihat dari susunan dan gerakan partikel-
partikel penyusun suatu zat. Zat padat memiliki ciri partikel-partikelnya
tersusun sangat rapat, sehingga partikel-partikel penyusunnya tidak bebas
bergerak.
Hubungan antara tekanan, gaya dan luas bidang tekan, dapat
dirumuskan sebagai berikut:
⃑ ............................................. (1)
Keterangan :
P = Tekanan (N/m2)
= Gaya tekan (N)
A = Luas bidang tekan (m2)
Satuan tekanan dalam Sistem Internasional (SI) adalah N/m2.
Satuan ini juga disebut pascal (Pa) Mohamad Ishaq (2007: 305). 1 Pa = 1
N/m2. Besar gaya tekan benda sama dengan gaya berat benda tersebut:
= ⃑⃑ = m.g ....................................... (2)
Keterangan:
⃑⃑ = gaya berat (N)
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Dengan demikian, persamaan diatas menjadi:
48
⃑
⃑ ...................................... (3)
Berdasarkan hubungan tersebut, semakin besar berat suatu benda,
tekanannya semakin besar. Semakin kecil luas permukaan suatu benda,
tekanannya semakin besar. Berikut beberapa Faktor-faktor yang
berpengaruh pada tekanan benda padat adalah gaya, luas bidang tekan dan
tekanan :
a. Makin kecil luas permukaan atau luas bidang sentuh gaya, makin
besar tekanannya
b. Makin besar suatu gaya, makin besar tekanannya
Berdasarkan perumusan di atas tekanan berbanding terbalik dengan
luas bidang tekan. Itulah sebabnya penerapan konsep tekanan dalam
kehidupan sehari-hari dapat kita jumpai seperti pisau, paku, dan pasak.
Alat-alat tersebut perlu di buat runcing atau tajam untuk memperoleh
tekanan yang besar (Asnal Effendi, 2012: 12.2). Selain itu berikut adalah
penerapan adanya tekanan zat padat di kehidupan sehari-hari di adaptasi
dari buku IPA SMP:
a) Unta, mempunyai telapak kaki yang lebar. Karena habitat unta adalah
di daerah berpasir.
b) Bebek, mempunyai telapak kaki yang lebar. Karena habitat bebek
adalah di daerah becek dan berair.
49
c) Telapak kaki gajah besar, agar luas bidang sentuh menjadi lebih besar
sehingga tekanannya menjadi kecil. Dengan demikian memudahkan
gajah berjalan di atas tanah dengan menopnag seluruh berat badannya.
d) Ujung paku yang lebih runcing akan memiliki tekanan yang lebih
besar dibanding dengan ujung paku yang tumpul. Hal ini dikarenakan
dengan luas bidang tekan paku yang runcing lebih kecil, sehingga
memiliki nilai tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
tekanan pada paku yang tumpul.
e) Pisau yang tajam akan lebih mudah memotong buah dibanding dengan
pisau yang kurang tajam.
f) Tidur di atas kasur lebih nyaman daripada tidur di atas papan, karena
seluruh berat badan ditopang secara merata oleh seluruh permukaan
badan yang bersentuhan dengan kasur sehingga tekanannnya pada
kasur menjadi kecil.
Selain itu, terdapat beberapa penerapan tekanan zat padat dalam
kehidupan sehari-hari yaitu dalam sistem tubuh manusia, tekanan zat
padat ada pada salah satu organ sistem pencernaan manusia yaitu rongga
mulut yang di dalamnya ada macam-macam gigi, hal ini dikarenakan
perbedaan struktur gigi. Gigi secara garis besar terdiri dari dua buah
bagian, yaitu mahkota dan akar. Mahkota yaitu bagian gigi yang dapat
terlihat dalam mulut, sedangkan akar yaitu bagian yang tertanam dalam
tulang rahang (Ratmini, 2011: 142), jumlah gigi tetap menurut
Tomasowa (1995) dalam Ratmini (2011: 142) adalah 32, atau 8 gigi pada
50
setiap sisi rahang, jika diperinci setiap sisi rahang mempunyai 2 gigi seri,
1 gigi taring, dan 5 geraham. Gigi geraham sesuai bentuknya dibagi
menjadi 2 geraham kecil dan 3 geraham besar.
Berikut bentuk-bentuk gigi dan fungsinya menurut Ratmini (2011: 142):
a) Gigi seri, berfungsi untuk memotong makanan. Bentuknya seperti
pahat.
b) Gigi taring, berfungsi untuk mencabik dan dan merobek makanan.
Gigi taring bentuknya lancip.
c) Gigi geraham, berfungsi menggiling, mengunyah dan menghaluskan
makanan. Gigi geraham memiliki permukaan yang berlekuk dan
berbenjol-benjol.
Berdasarkan bentuk dan fungsi gigi pada sistem pencernaan
manusia, gigi dapat dihubungkan dengan tekanan sebagai penerapannya
dalam kehidup sehari-hari, diantaranya karena ada 3 macam gigi, yaitu
seri, taring dan geraham. Jika diamati dari bentuknya, permukaan gigi
geraham bentuknya agak membesar pada bagian atas dengan permukaan
bergelombang atau berlekuk dan berbenjol-benjol dan lebih lebar karena
berfungsi untuk mengunyah, menggiling dan menghaluskan makanan
(Ratmini, 2011: 142), sehingga tekanan yang digunakan lebih kecil, gigi
seri bentuknya menyerupai pahat dan lebih sempit dibanding gigi geraham
karena berfungsi untuk memotong makanan sehingga tekanan yang
digunakan lebih besar dibandingkan gigi geraham, sedangkan gigi taring
bentuknya runcing atau lancip dan lebih sempit dibanding gigi seri karena
51
berfungsi untuk merobek makanan sehingga tekanan yang digunakan
lebih besar dibandingkan gigi seri.
Jika kita bandingkan, maka dapat dikatakan bahwa gigi geraham
memiliki luas permukaan yang lebih besar dari gigi seri dan gigi taring.
Hal inilah yang menyebabkan kedalaman gigitan gigi itu berbeda. Ilustrasi
tersebut menggambarkan adanya prinsip tekanan pada sistem tubuh
manusia. Selain tekanan, uraian di atas menyebutkan beberapa besaran
lain, yaitu seperti luas permukaan dan berat.
2. Tekanan Zat Cair – Hukum Pascal
Sifat partikel zat cair terus-menerus bergerak ke segala arah. Pada
saat bergerak, partikel-partikel itu menumbuk partikel-partikel lain dan
dinding wadah fluida dengan gaya yang besarnya bergantung pada massa
dan percepatan partikel tersebut. Benda cair tidak mempertahankan bentuk
tetap, melainkan mengambil bentuk seperti tempat yang di tempatinya,
dengan volume yang tetap, sedangkan gas tidak memiliki bentuk dan
volume tetap melainkan akan terus berubah dan mmenyebar memenuhi
tempatnya. Karena keduanya memiliki kemampuan untuk mengalir. Zat
memiliki kemampuan untuk mengalir disebut dengan zat cair atau fluida
(Asnal effendi, 2012: 12).
Jika tekanan ditambahkan pada fluida, misalnya dengan sebuah
piston maka tekanan tambahan tersebut akan diteruskan semua arah tanpa
berkurang. Sifat ini diamati oleh Blaise Pascal (1623-1662) adalah seorang
sarjana Perancis, berkesimpulan bahwa gaya yang menekan zat cair di
52
dalam ruang tertutup akan di teruskan ke segala arah dengan asama rata.
Hal itu selanjutnnya dinyatakan sebagai Hukum Pascal yang berbunyi:
“Tekanan yang di berikan kepada zat cair di dalam ruang tertutup di
teruskan sama besar ke segala arah” (Mohamad Ishaq, 2007: 306). Seperti
misalnya pada gambar berikut:
Gambar 1. Percobaan Hukum Pascal
Sumber: Catur Agus Ariyanto. 2013.
Sebuah alat suntik telah diberi lubang identik dibeberapa tempat
seperti gambar. Kemudian di isi air hingga penuh. Jika kemudian air
didalam suntikan diberi tekanan dengan menekan penghisap,
bagaimanakah jarak pancaran air yang keluar dari setiap lubang? ternyata,
air akan memancar keluar melewati lubang-lubang kecil yang ada di dasar
tabung. Kekuatan pancaran akan sama ke segala arah. Hal ini sesuai
dengan hukum Pascal yang berbunyi “Tekanan yang diberikan pada zat
cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar.”
Gambar 2. Percobaan Hukum Pascal
Sumber : Asnal Effendi. 2012.
53
Berdasarkan gambar, Hukum Pascal dapat diterangkan dengan kerja
penekan hidrolik juga. Alat itu berupa bejana tertutup yang dilengkapi
dengan dua buah pengisap yang luas penampangnya berbeda, masing-
masing luasnya A1 dan A2 (A1 < A2). Pada pengisap yang penampangnya
A1 di kerjakan gaya F1 tekanan di teruskan oleh zat cair lewat pipa
penghubung ke prengisap A2 dengan gaya F2 Karena tekanan pada kedua
pengisap sama maka :
P1 = P2 . . . . . . . . . . . . . . . (4)
. . . . . . . . . . . . . . . (5)
Keterangan:
P1 : tekanan bejana 1 (Pa)
P2: tekanan bejana 2 (Pa)
F1: gaya angkat bejana 1 (N)
F2: gaya tekan bejana 2 (N)
A1 : luas permukaan bejana 1 (m2)
A2 : luas permukaan bejana 2 (m2)
Menurut Raymond A. Sarway dan John W. Jewett, Jr (2009: 643)
Sebuah penerapan penting dari Hukum Pascal adalah dongkrak hidrolik
seperti gambar (gambar 2). Sebuah gaya dengan besar F1 diberikan pada
sebuah piston kecil pada luas daerah A1. Tekanan tersebut diteruskan ke
benda cair yang tidak dapat ditekan kesebuah piston yang lebih besar
luasanya A2. Oleh karena tekanan harus sama dikedua sisinya, maka P=
F1/A1 = F1/A2. Maka gaya F2 lebih besar dari pada pada gaya F1 sebesar
faktor A1/A2. Dengan merancang suatu dongkrak hidrolik dengan luas
daerah yang tepat A1 dan A2, maka sebuah gaya keluaran yang lebih besar
54
dapat diwujudkan hanya dengan menggunakan gaya masukan yang lebih
kecil. Remhidrolik, dongkrak hidrolik, dan mesin pengangkat (forklift).
Selain itu, Hukum Pascal banyak diterapkan pada beberapa
peralatan, diantaranya diadopsi dari Asnal Effendi (2012: 12.6):
a. Pompa hidrolik
b. Dongkrak hirolik
c. Rem hidrolik
d. Mesin pengepres kapas (kempa)
e. Mesin pengangkat mobil hidrolik
f. Aliran darah pada tubuh kita berada dalam suatu ruang tertutup. Darah
mengalir melalui suatu pembuluh darah. Jika orang yang sehat
(normal), yaitu memiliki pembuluh darah yang sehat bersih tanpa ada
penghambat. Sehingga orang yang normal aliran tekanan darahnya
pun stabil. Tetapi jika orang yang misalnya terkena penyakit tekanan
darah tinggi karena kelebihan kolesterol, maka pembuluh darahnya
akan lebih menyempit. Sehingga jantung akan bekerja lebih keras
yang bahkan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah.
Berdasarkan Bambang Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro
Priyambodo (2013: 428-429), besarnya tekanan tekanan darah bergantung
pada besarnya hambatan (misalnya kolesterol atau plak) selama darah
mengalir. Besarnya tekanan darah diukur dengan spygmomanometer atau
tensimeter, dasarnya adalah tekanan yang diberikan oleh pembuluh darah
dan berarah tegaklurus terhadap arah aliran darah.
55
.
4
4
3 3
2 1
Gambar 3. Bagan Tekanan pada Pembuluh Darah Arteri
Sumber: (Bambang Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro Priyambodo, 2013:
432)
Keterangan gambar:
1. Pipa pembuluh darah
2. Tekanan hidrostatis darah
3. Tekanan darah sistol dan diastol
4. Plak sebagai penghambat aliran darah
Penyempitan pembuluh darah dapat mengakibatkan tekanan darah menjadi
tidak normal (tekanan darah tinggi). Hal ini berkaitan dengan hubungan
penyempitan pembuluh darah dengan tekanan darah. Dalam Bambang
Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro Priyambodo (2013: 432), Ketika
panjang pembuluh darah naik maka jejari pembuluh darah mengecil
karena mengalami penyempitan, kelihatan bahwa tekanan darah P akan
membesar. Sedangkan apabila P tekanan turun, maka pembuluh darah
harus dilebarkan (r membesar)
3. Tekanan Zat Gas – Hukum Boyle
Zat gas memiliki partikel penyusun yang hampir sama dengan zat
cair, yang secara terus-menerus bergerak ke segala arah. Tekanan gas
dapat terjadi di ruang tertutup. Hal ini berhubungan dengan Hukum Boyle.
56
Robert Boyle (1627-1691) telah melakukan penelitian untuk
mengetahui hubungan antara tekanan dan volume gas pada suhu yang
konstan. Dari hasil penelitiannya, ia menyatakan bahwa: “Hasil kali
tekanan dan volume gas dalam ruangan tertutup adalah tetap/konstan”.
Secara matematis dapat ditulis:
P.V = konstan atau P1.V1=P2.V2 . . . . . . . . . . . . . . . (6)
Keterangan:
P1 : tekanan 1 (Pa)
V1 : volume 1 (m3)
P2 : tekanan 2 (Pa)
V2 : volume 2 (m3)
Berdasarkan persamaaan tersebut, Boyle mendapat dua kesimpulan, yaitu:
a. Jika tekanan diperbesar, volume udara semakin kecil, tetapi hasil kali
tekanan dengan volume harganya selalu konstan.
b. Jika tekanan dinaikkan dua kali tekanan semula maka volume gas
menjadi setengah volume mula-mula. Jika volume menjadi sepertiga
volume mula-mula maka tekanannya naik tiga kali lipat.
Hukum Boyle dijelaskan juga oleh Bambang Murdaka Eka Jati dan Tri
Kuntoro Priyambodo (2013: 450-451) bahwa Hukum Boyle ini berkaitan
juga dengan gas ideal. Gas ideal adalah gas yang memilki 5 sifat berikut:
(1) Semua massa partikel gas dianggap senilai
(2) Volume gas terlalu kecil dibanding jarak antar partikel gas, sehingga
volume dan geometri partikel gas diabaikan
(3) Tidak terjadi gaya tarik antar partikel gas
(4) Kelajuan gerak partikel gas ke segala arah, didalam wadah, sama
57
(5) Tumbukan gas dengan dinding wadah bersifat lenting sempurna
Dari ke lima sifat gas ideal itu, sifat (1), (2), (3) memperlihatkan
bahwa molekul gas dianggap sebagi titik partikel. Adapun sifat gas ideal
yang keempat, bisa dibuktikan oleh bentuk wadah yang tidak berubah.
Artinya, partikel gas yang menumbuk semua bagian dinding wadah
berkebolehjadian sama. Sifat kelima, bisa dibuktikan bahwa dinding
wadah tidak ditempeli partikel-partikel gas yang bergerak didalam wadah.
Persamaan yang menghubungkan ketiga peubah keadaan pada gas ideal
dikenal dengan Hukum Boyle-Gaylussac. Hukum ini dapat digunakan juga
untuk membuktikan kelakuan gas didalam wadah secara eksperimen.
Eksperimen dilakukan dengan mengukur nilai semua tekanan (P), volume
(V), suhu (T) dan kemudian dioperasikan PV/T. Selanjutnya berdasar
kelima sifat gas ideal dipenuhi PV/T = R (Bambang Murdaka Eka Jati
&Tri Kuntoro Priyambodo (2013: 450). Hubungan pada keempat peubah
itu dalam dinyatakan dalam kaitan
PV = nRT ..................................................... (7)
Persamaan tersebut disebut Hukum Boyle-Gaylussac. Jika mol gas (n) di
dalam wadah itu tetap, maka berlaku PV = C, dimana C adalah tetapan.
Berikut adalah penerapan Hukum Boyle di kehidupan sehari-hari:
a. Pompa air
b. Pompa udara
c. Pompa sepeda
58
Selain itu, terdapat penerapan tekanan zat gas, berdasarkan Hukum
Boyle yaitu mekanisme respirasi sebagai salah satu contoh tekanan gas
dalam kehidupan sehari-hari didukung oleh Bambang Murdaka Eka Jati
dan Tri Kuntoro Priyambodo (2013: 425), paru-paru kita tersusun oleh 4
komponen, yaitu pleura parietalis (otot terluar), pleura viseralis (otot
bagian dalam), intrapleural (rongga antara pleura parietalis dengan pleura
viseralis), dan intraalveular (berada di dalam pleura viseralis yang
didalamnya terdapat gelembung alveoli). Prinsip kerja paru-paru dapat
disetarakan dengan gerak piston yang melibatkan 2 pelat dan 1 pegas
seperti gambar 4.
Plat A Plat B
Pegas
intrapleural Ruang udara
(a) (b)
Gambar 4.(a) Gambar Komponen Paru-paru, (b) Gerak piston yang
Setara dengan Respirasi.
Sumber: (Bambang Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro Priyambodo
2013: 425).
Pada peristiwa ini, gerak maju mundur pada piston setara dengan
peristiwa respirasi (inspirasi dan ekspirasi), pelat A setara dengan pleura
viseralis atau pleura viserol dan pelat B setara dengan pleura parietalis,
sedangkan ruang udara setara dengan intrapleural, dan pegas setara dengan
elastisitas pleura viseralis dan pleura parietalis. Adanya kesetaraan gerak
59
paru-paru saat respirasi dengan gerak piston berarti respirasi melibatkan
juga sejumlah hukum. Hukum tersebut diantarannya adalah hukum Boyle
(Bambang Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro Priyambodo, 2013: 426).
Hukum Boyle, tentang hubungan tekanan dan volume pada gas ideal.
Hukum ini menyatakan, bahwa gas ideal pada suhu dan jumlah mol gas di
dalam wadah yang tetap, maka tekanan gas (P) berbanding terbalik dengan
volumenya (V), secara matematis ditulis PV = tetapan. Berhubung istilah
gas ideal yaitu gas dalam wadah ketika tekanannya rendah juga berhubung
proses respirasi pada paru-paru tidak melibatkan tekanan yang besar,
sehingga hukum Boyle berlaku pada peristiwa respirasi. Ketika inspirasi
(menarik nafas), volume dalam paru-paru meningkat (V>>) tetapi tekanan
gas pada intrapleural menurun (P<<), berarti pada mekanisme inspirasi P
berbanding terbalik engan V, sehingga berlaku hukum Boyle (Bambang
Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro Priyambodo, 2013: 427).
Sebaliknya ketika mekanisme ekspirasi volume udara pada paru-paru
merosot (V<<), tetapi tekanan gas pada intrapleural meningkat (P>>),
maka terjadi pula hukum Boyle pada mekanisme ekspirasi (Bambang
Murdaka Eka Jati dan Tri Kuntoro Priyambodo, 2013: 427). Sehingga
dalam sistem tubuh manusia, tekanan zat gas berdasarkan Hukum Boyle
berlaku di sistem pernapasan manusia, dimana terjadi proses ekspirasi dan
inspirasi. Udara dari lingkungan luar dapat masuk ke dalam paru-paru
karena terdapat perbedaan tekanan antara lingkungan luar dengan tekanan
dalam paru-paru. Secara umum, inspirasi terjadi karena rongga paru-paru
60
yang berkontraksi dan mengembang sehingga terjadi peningkatan ukuran
rongga. Peningkatan ukuran rongga dada ini menyebabkan tekanan di
dalam paru-paru menurun sehingga lebih kecil dari pada tekanan di
lingkungan luar. Perbedaan tekanan ini menyebabkan udara terhisap
masuk ke dalam paru-paru. Ketika otot-otot rongga dada mengalami
relaksasi, maka ukuran rongga dada pun mengalami penurunan sehingga
menyebabkan tekanan di dalam paru-paru meningkat dan menjadi lebih
tinggi daripada tekanan di lingkungan luar. Hal ini mendorong udara
keluar dari dalam paru-paru sehingga terjadilah apa yang disebut dengan
ekspirasi.
Penelitian ini menggunakan materi tekanan kelas VIII semester
genap tahun ajaran 2015/2016, materi tekanan dilakukan selama 3 kali
pertemuan dengan 2x40 menit pada setiap pertemuan. Pertemuan pertama
materi I yaitu tekanan pada zat padat, materi II yaitu tekanan pada zat cair
berdasarkan hukum Pascal, dan terakhir materi III yaitu tekanan pada zat
gas berdasarkan hukum Boyle. Pada setiap materi diajarkan juga
penerapan tekanan dalam kehidupan sehari-hari berupa beberapa bidang
kajian IPA yang lain, sehingga pembelajaran bersifat kontekstual artinya
pembelajaran berpusat pada siswa (student centre).
B. Penelitian yang relevan
Penelitian oleh Kurnia Novita Sari (2014) tentang “Keefektifan
Model Pembelajaran POE (predict-observe-explain) terhadap Aktivitas
dan Hasil Belajar IPA Materi Perubahan Sifat Benda pada Siswa Kelas V
61
SD Negeri Kejambon 4 Kota Tegal’’. berdasarkan penelitian ditunjukan
aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan model POE lebih tinggi dari
pada aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran
konvensional. Begitupun pada hasil belajar IPA siswa dengan penerapan
model POE lebih tinggi dari pada hasil belajar IPA siswa dengan
penerapan model pembelajaran konvensional.
Penelitian yang dilakukan oleh Obimita Ika Permatasari (2011)
tentang Keefektifan Model Pembelajaran predict-observe-explain (POE)
Berbasis Kontekstual dalam Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar
Siswa SMP Kelas VIII. Diperoleh peningkatan pemahaman pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan
model POE berbasis konstektual lebih efektif untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar. Pada uji keefektifan model pembelajaran yang
digunakan adalah nilai post-test kelas eksperimen yang dibandingkan
dengan KKM mata pelajaran IPA. Hal ini menunjukan bahwa model
pembelajaran POE berbasis kontekstual efektif digunakan dalam
pembelajaran IPA.
Penelitian yang dilakukan oleh Pt. Sudiadnyani, Dw. Nym. Sudana,
Ni Nym (2013). Garminah tentang Pengaruh model pembelajaran predict-
observe-explain (POE) terhadap pemahaman konsep IPA siswa di
kelurahan banyuasri. Data pemahaman konsep dikumpulkan dengan tes
pemahaman konsep berbentuk pilihan ganda yang disertai penjelasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep IPA kelompok
62
siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran predict-
observe-explain (POE) berada pada kualifikasi sangat baik. Penelitian juga
menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pemahaman
konsep IPA kelompok siswa yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran predict-observe-explain (POE) dan kelompok siswa yang
belajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
Penelitian oleh Herni Budiati, Sugiyarto, dan Sarwanto (2012)
tentang Pengaruh model pembelajaran POE (prediction, observation, and
explanation) menggunakan eksperimen sederhana dan eksperimen
terkontrol ditinjau dari keterampilan metakognitif dan gaya belajar
terhadap keterampilan proses sains. Penelitian ini menyimpulkan model
pembelajaran POE menggunakan metode eksperimen terkontrol lebih baik
dalam mempengaruhi keterampilan proses sains dibandingkan metode
eksperimen sederhana.
Berdasarkan penelitian relevan yang disusun peniliti terdapat
beberapa kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-
sama menggunakan model pembelajaran POE dan akan dilihat
pengaruhnya terhadap pemahaman konsep seperti penelitian yang
dilakukan oleh Pt. Sudiadnyani, Dw. Nym. Sudana, Ni Nym (2013),
selain itu terdapat pula kesamaan dengan penelitian yang dilakukan Herni
Budiati, Sugiyarto, dan Sarwanto (2012) tentang Pengaruh model
pembelajaran POE (prediction, observation, and explanation) terhadap
keterampilan proses sains, kesamaan yang lain yaitu pada penelitian yang
63
dilakukan oleh Obimita Ika Permatasari (2011), dimana penelitian yang
dilakukan Obimita Ika Permatasari menggunakan materi IPA tekanan.
Berbeda dengan beberapa penelitian relevan yang disusun, belum
ada penelitian tentang pengaruh model pembelajaran POE terhadap
keterampilan proses IPA dan pemahaman peserta didik terhadap konsep,
sehingga akan dilakukan penelitian mengenai pengaruh model
pembelajaran POE terhadap keterampilan proses IPA dan pemahaman
konsep kelas VIII SMP N 1 Banguntapan.
Model pembelajaran POE dengan prosedur POE yaitu predict-
observe-explain, langkah-langkah ini akan terlihat secara tersirat konflik
kognitif pada peserta didik dan pengetahuan konseptual yang dimilki
peserta didik, karena setelah peserta didik menduga suatu fenomena hasil
dugaan peserta didik akan dibuktikan melalui eksperimen atau percobaan,
setelah hasil prediksi dan percobaannya dibuktikan peserta didik
menjelaskan (explain) hasil prediksi dan percobaannya di depan kelas,
dengan demikian peserta didik akan semakin yakin dengan konsepnya.
Selain itu, ketiga langkah pada pembelajaran POE akan tersirat pula
beberapa aspek keterampilan proses dasar didalamnya seperti
memprediksi, mengamati, melakukan percobaan, menyimpulkan dan
mengkomunikasikan.
C. Kerangka Berfikir
Melalui model pembelajaran POE peserta didik akan aktif berfikir
tentang suatu persoalan peristiwa atau gejala IPA tidak hanya menimbun
64
informasi yang diberikan guru dan dari demonstrasi guru kemudian
memprediksikan atau menduga apa yang akan terjadi dari gejala atau
femenena. Prosedur menduga pada pembelajaran POE, guru akan
mengetahui pengetahuan konsep awal peserta didik, lalu dicobakan
(observe) untuk membuktikan hasil prediksinya, tahap ini diharapkan
terjadi konflik kognitif, predict atau menduga dan observe adalah
merupakan aspek keterampilan proses, hasil prediksi dan observasi atau
percobaannya kemudian dijelaskan (explain), menjelaskan merupakan
implementasi dari keterampilan proses yaitu mengkomunikasikan. Bagan
kerangka berfikir dengan model pembelajaran POE dapat digambarkan
sebagai berikut:
65
- Pembelajaran masih Belum ada penelitiaan:
berpusat pada guru
- Peserta didik masih
kebingungan melakukan tersirat tersirat
praktikum
- Keterampilan proses Predict Memprediksi
belum digunakan sebagai
hasil belajar
- Proses pembelajaran
masih diarahkan hanya
Observe Mengamati,
mengahapal informasi
Melakukan
percobaan, dan
Akibat Explain Menyimpulkan
tersirat
- Pemahaman konsep dan
keterampilan proses rendah Mengkomunikasikan
terjadi konflik sebagai implementasi
kognitif, dari Explain
(Pemahaman (Menjelaskan)
Konsep)
Solusi
Model Pembelajaran yang dapat melatih pemahaman konsep dan
keterampilan proses IPA
Gambar 5. Kerangka Berpikir
66
D. Hipotesis
Berdasarkan teori yang telah dijelaskan dan hasil penelitian yang
relevan, maka diajukan beberapa hipotesis antara lain:
1. Terdapat pengaruh model pembelajaran POE terhadap pemahaman
konsep peserta didik kelas VIII SMP N 1 Banguntapan.
2. Terdapat pengaruh model pembelajaran POE terhadap keterampilan
proses IPA peserta didik kelas VIII SMP N 1 Banguntapan.
3. Terdapat pengaruh model pembelajaran POE terhadap pemahaman
konsep dan keterampilan proses IPA peserta didik kelas VIII SMP N 1
Banguntapan.
67