ANALISIS SOAL MENGGUNAKAN
PROGRAM ANATEST
ANALISIS SOAL MENGGUNAKAN PROGRAM ANATEST
Mata Pelajaran : Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI)
Soal yang dianalisis adalah soal ujian sekolah kelas X-4C SMK Negeri 23 Kota Tangerang,
dalam satu kelas terdapat 32 siswa.
1. Tampilan awal program Anates yaitu mengisikan jumlah subjek (siswa kelas X-4C SMK
Negeri 23 Kota Tangerang)
2. Jumlah butir soal yang dianalisis yaitu 35 butir soal Ujian Sekolah Keterampilan
Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) yang mempunyai 4 pilihan jawaban (a,b,c,
dan d).
3. Input data dilakukan dengan memasukkan kunci jawaban pada kolom kunci dan nama
peserta tes pada kolom nama subyek. Kemudian input butir jawaban peserta tes. Setelah
selesai input data disimpan.
4. Apabila ingin melihat penyekoran dari data peserta tes klik kembali ke menu utama,
klik penyekoran data, maka akan keluar tampilan seperti berikut:
Skor 1 menunjukkan jawaban benar. Warna kuning menunjukkan skor yang diperoleh
oleh masing-masing peserta tes.
5. Apabila ingin melakukan pembobotan jawaban, maka dari menu utama klik ganti bobot.
Pada analisis ini bobot jawaban tiap butir soal adalah 2, maka nilai skor asli akan
dikalikan 2.
6. Untuk melakukan analisis data dari menu utama klik olah semua data otomatis, sehingga
output data menjadi seperti berikut:
a. SKOR DATA DIBOBOT
Menunjukkan hasil jawaban peserta didik yang menjawab benar dan salah, skor asli, dan
skor bobot pada masing-masing peserta tes.
b. RELIABILITAS TES
Menunjukkan besar nilai rata-rata, simpangan baku, korelasi, dan nilai reliabilitas tes
0,86. Tes dinilai handal apabila koefisien sekurang-kurangnya 0,80, sedangkan
reliabilitas instrumen ini sebesar 0,86 maka tes ini reliabel atau mempunyai nilai
reliabilitas yang baik.
c. KELOMPOK UNGGUL atau ANSOR
Hasil dari 27% dari 30 peserta tes pada kelompok unggul (kelompok atas) menunjukkan
terdapat 4 peserta tes yang menjawab soal dengan jumlah benar tertinggi yaitu Labib,
Usman, Teguh, dan Rohmat.
Sedangkan hasil dari dari 27% dari 13 peserta tes yaitu kelompok ansor (kelompok
bawah) menunjukkan terdapat 4 peserta tes yang menjawab soal dengan jumlah benar
terendah yaitu Afif, Masruri, Abdullah, dan Mashuri.
d. DAYA PEMBEDA
Daya beda suatu butir soal merupakan perbedaan proporsi menjawab butir dengan benar
antara kelompok atas dan kelompok bawah.
Daya pembeda sebesar 0 terjadi karena proporsi menjawab benar kelompok atas dan
kelompok bawah sama besarnya. Besar nilai d adalah dari -1 sampai dengan +1. Namun
hanya harga positif saja yang mempunyai arti semakin besar indeks daya beda (semakin
mendekati 1) maka item butir tersebut mampu membedakan kelompok atas dan
kelompok bawah.
Item > 0,5 dianggap sebagai item yang mempunyai daya beda yang baik. Hasil analisis
anates terlihat bahwa butir nomor 2, 4, 5, 14, 17, 19, 21, dan 23 mempunyai indeks daya
beda ≥ 0,5 sehingga item butir tersebut mempunyai daya beda yang baik.
e. TINGKAT KESUKARAN
Tingkat kesukaran merupakan rasio antara peserta yang menjawab benar dengan
banyaknya item butir soal. Klasifikasi tingkat kesukaran:
0,00 – 0,30 = sukar
0,31 – 0,70 = sedang
0,71 – 1,00 = mudah
Hasil analisis menggunakan anates adalah sebagai berikut:
Kategori Nomor Butir
3, 6, 7 ,9, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 20, 21, 22, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32,
Sangat mudah
33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40
Mudah 4, 14, 17, 23
Sedang 2, 16, 19, 24
Sukar 1 dan 25
Sangat sukar 8
f.
f. KORELASI SKOR BUTIR dengan SKOR SOAL
Hasil output Anates menunjukkan terdapat beberapa butir yang tidak dapat dihitung
karena nilai korelasi 0,000. Selain itu ada juga terdapat beberapa butir yang tidak dapat
menampilkan hasil hanya muncul kode NAN.
Korelasi Butir Soal
Signifikan 11, 24, 36
Sangat signifikan 3, 4, 5, 7, 10, 14, 17, 21, 23, 26, 27, 28, 32, 38
0,000 1, 2, 6, 8, 15, 16, 19, 22, 25, 29, 30, 31, 33, 40
NAN 9, 12, 13, 18, 20, 34, 35, 37, 38
g. PENGECOH
Pengecoh pada masing-masing butir dapat dilihat pada output Anates berikut.
KESIMPULAN
Kriteria butir soal yang baik adalah sebagai berikut:
1. Daya beda minimal 0,30 (cukup)
2. Tingkat kesukaran sedang ( 0,31-0,70)
3. Koefisien reliabilitas
4. Validitas soal tersebut harus valid
5. Pengecoh berfungsi jika ada satu saja yang memilih jawaban pengecoh.
ANALISIS BUTIR SOAL DENGAN ANATES
A. Pendahuluan
Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas hasil pembelajaran sebagai bagian
dari peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui sistem penilaian. Dalam
penilaian pembelajaran siswa di sekolah, guru memberikan suatu evaluasi untuk
mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang telah dikuasai oleh siswa selama proses
belajar mengajar mengenai materi yang disampaikan.
Keberhasilan pelaksanakan kegiatan evaluasi ditentukan oleh tepat atau tidaknya
pelaksanaan ujian. Dalam melaksanakan ujian diperlukan instrumen penilaian hasil
belajar. Untuk ujian tertulis maka instrumennya adalah butir-butir soal tertulis. Idealnya
sebelum suatu tes dipergunakan maka tes tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagi
tes yang baik, maka tes yang bersangkutan perlu diuji cobakan. Namun sebelum diuji
cobakan tes tersebut harus memperlihatkan indikator-indikator sebagai tes yang baik.
Dalam hal ini dilakukan suatu analisis butir soal.
Analisis butir soal adalah pengkajian tes agar diperoleh perangkat pertanyaan yang
memiliki kualitas memadai. Analisis yang dilakukan atas dasar uji coba dinamakan analisis
empiris. Ada beberapa analisis butir soal, yaitu analisis tingkat kesukaran soal dan analisis
daya pembeda disamping validitas dan reliabilitas. Menganilisis tingkat kesukaran soal
artinya mengkaji soal dari segi kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal mana yang
termasuk mudah, sedang dan sukar. Sedangkan menganalisis daya pembeda artinya
mengkaji soal tes dari segi kesanggupan tes tersebut dalam membedakan siswa yang
termasuk kategori kuat/tinggi prestasinya. Sedangkan validitas dan reliabilitas
mengkajikesulitan dan keajegan pertanyaan tes.
Berdasarkan analisis butir soal tersebut kami ingin mengetahui tigkat
kesukaran,daya pembeda, reliabilitas, validitas dan butir soal mana yang perlu diperbaiki
melalui uji coba soal yang diberikan kepada siswa
B. Landasan Teori
Sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus harus memenuhi
persyaratan tes, yaitu memiliki:
1. Validitas
2. Reliabilitas
3. Objektivitas
4. Praktikabilitas
5. Ekonomis
Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan
suatu alat ukur dalam melakukan fungsiu kurnya (Azwar 1986).
Suatu skala atau instrument pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila
instrument tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai
dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.
Metode pengujian validitas menjadi tiga macam, yaitu validitas isi, validitas kriteria, dan
validitas konstruk.,
1. Validitas Isi (content validity)
Pengujian validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah butir THB mengukur
secara tepat keadaan yang ingin diukur.
2. ValiditasKriteria (criterion related validity)
Pengujian validitas yang dilakukan dengan membandingkan THB dengan kriteria
tertentu di luar THB.
3. Validitas Konstruk (construct validity)
Pengujianvaliditas yang dilakukan dengan melihat kesesuaian konstruksi butir yang
ditulis dengan kisi-kisinya.
Metode pengujian validitas isi,
1. Menelaah butir instrumen
2. Meminta pertimbangan ahli
3. Analisis korelasi butir-total
Koefisien Reliabilitas
Reliabilitas tes adalah ketetapan suatu tes apabila diberikan pada subjek yang sama,
untuk mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil. Untuk mengetahui
besarnya koefisien reliabilitas ( XX’) suatu tes dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Dalam
teori tes klasik yang penting adalah menemukan besarnya skor sesungguhnya pada peserta tes
dalam suatu kerangka tes tertentu. Besarnya skor sesungguhnya ini merupakan suatu ukuran
bagi kemampuan sesungguhnya dari seorang peserta tes. Namun di dalam pelaksanaannya
yang dapat diamati adalah skor tampak, besarnya skor sesungguhnya maupun skor kesalahan
keduanya tidak dapat di amati secara langsung. Oleh karena itu yang dapat dilakukan adalah
melakukan estimasi koefisien reliabilitas berdasarkan skor tampak melalui beberapa metode
tertentu yang akan disajikan berikut ini.
1. Metode Test retest
Alasan digunakan cara ini karena suatu tes yang reliabel tentu akan menghasilkan skor
tampak yang relatif sama apabila dikenakan dua kali dalam waktu yang berbeda. Semakin besar
variasi perbedaannya berarti semakin sulit untuk mempercayai bahwa tes itu memberikan hasil
ukur yang konsisten.
Untuk memperoleh koefisien reliabilitas dengan tes retest dari suatu tes X dilakukan
dengan cara menghitung koefisien korelasi antara skor tampak tes yang pertama dan skor
tampak pada tes yang kedua. Koefisien korelasi ini menunjukkan koefisien reliabilitas dari tes
X. Dalam penggunaan metode ini harus diperhatikan kemungkinan adanya perubahan kondisi
subjek antara tes yang pertama dan tes yang kedua.
2. Bentuk Paralel
Pada cara ini tes yang akan dicari koefisien reliabilitasnya harus ada tes paralelnya, yaitu
tes lain yang sama tujuan ukurnya dan setara isi butirnya baik secara kualitas maupun
kuantitasnya. Dalam bahasa sederhana kita harus punya tes yang sama.
Sebenarnya, dua tes yang paralel hanya ada secara teoritik, tidak benar-benar paralel
secara empirik. Dari segi praktis dua tes yang memenuhi syarat-syarat dan asumsi tertentu
dapat dianggap paralel. Untuk membuat dua tes menjadi paralel, penyusunannya haruslah
didasarkan pada suatu spesifikasi yang sama. Spesifikasi ini meliputi antara lain tujuan ukur,
batasan objek ukur dan operasionalisasinya, indikator indikator perilakunya, banyaknya butir,
format butir dan jika perlu meliputi taraf kesukaran butir.
Bila telah diperoleh dua tes yang paralel maka estimasi koefisien reliabilitasnya
dilakukan dengan mengenakan dua tes tersebut bersamaan dengan kelompok subjek. Masin g-
masing tes akan menghasilkan distribusi skor tampak dari seluruh subjek, dengan menghitung
korelasi antara kedua distribusi skor tersebut akan diperoleh koefisien reliabilitas. Dua tes yang
paralel menghasilkan skor berkorelasi tinggi satu sama lain disebut tes yang reliabel dan
koefisien korelasinya merupakan koefisien reliabilitas tes yang bersangkutan.
Walaupun pendekatan reliabilitas bentuk paralel dapat menghilangkan masalah
penentuan tenggang waktu yang tepat, sedangkan kelemahan utama dalam pendekatan ini
terletak pada sulitnya menyusun dua tes yang paralel itu sendiri dan menyusun suatu tes yang
memenuhi syarat kualitas yang baik saja tidaklah mudah apalagi menyusun dua tes yang setara.
3. Metode Internal Konsistensi
Salah satu yang digunakan dalam metode ini adalah menghitung koefisien reliabilitas
dengan rumus KR-20 rumus ini sangat tepat digunakan untuk menghitung koefisien reliabilitas
t es bentuk objektif yang mempunyai skor dikotomi ( 0 dan 1)
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kartono.2009. Pengembangan Asesmen Pembelajaran Matematika. Semarang: Unnes.